I Hate You, But I bla bla bla (2 of 2)

Main Cast       : Cho Kyuhyun (Suju), Song Nara (Fiction)

-> FF ini murni buatanku, say no to plagiat!!!

~~~~~

“Nara-ya, apa kau tak bosan? Menyerah saja”

“Sihreo! Kau menyuruhku untuk mengalah pada namja itu”

Minji kembali menceramahiku. Kejadian bola basket, Kyuhyun tak terima baik. Dasar iblis, dia malah mengejarku. Membuat sekolah siang itu memanas karena adu mulut kami yang sengit. Untuk kesekian kalinya kami di seret ke ruang guru untuk dihujani oleh desisan pedis Shin Seonsaengnim.

“Itu sangat memalukan Nara” Minji menyisir kasar rambutnya dengan jemari tangannya. Dia terlihat lebih frustasi dibandingkan aku “Mengapa kau tak berpikir untuk berdamai saja dengan Kyuhyun oppa?”

“Mwoya? Berdamai?”

Aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan konyol Minji.

“Sihreo!! Sekalipun Einstein yang memohon padaku untuk berdamai dengannya, tak akan aku lakukan”

“Nara-ya, itu artinya tak mungkin”

“Aigo, kau pintar sekali Minji-ya”

Minji memanyunkan bibirnya. Aku tahu dia kehabisan kata-kata untuk menyadarkanku.

“Aku tak ingin berdamai dengan orang seperti itu. Dia itu sangat sombong dan sok berkuasa—apa bagusnya dia bertingkah begitu?”

Minji memelototiku. Sepertinya dia sedang berusaha untuk memberitahukanku sesuatu melalui sorot matanya itu.

“Lalu—apa bagusnya kau?”

Suara yang sangat familiar terdengar di telingaku. Akhirnya aku mengerti maksud tatapan Minji. Cho Kyuhyun telah berada di kelas kami bersama beberapa orang lainnya—sepertinya sesama pengurus osis.

“Aku tak ingin menjelaskan apapun padamu. Setidaknya, aku jauh lebih baik dibandingkan denganmu”

“Dasar gadis sinting..”

Aku hanya tersenyum mendengar dengusan kekesalan Kyuhyun.

“Kyuhyun-a, kita di sini bukan untuk melihatmu berperang dengannya. Aigo, mengapa kalian selalu seperti ini? Berdamai sajalah”

“Sihreo!!”

Aku dan Kyuhyun kompak menangkis ucapan Sungmin, kurasa dia sekelas dengan evil itu.

~~~~~

Tak berapa lama, sepeninggal pengurus-pengurus osis yang sibuk berbicara sejak tadi di depan kami.

“Aku harus ikut. Aku harus mendapatkan hadiahnya jadi harus aku pemenangnya”

“Ehm, Minji-ya. Hadiahnya apa?”

Aku tak bisa memungkiri jika sangat tertarik mendengar ‘sesuatu’ dan ujung-ujungnya terkait dengan ‘hadiah’.

“Molla” Minji menggeleng “Pastinya sesuatu yang menarik” lanjutnya lagi.

“Oh” gumamku pelan.

“Kau juga ikut daftarkan Nara-ya?”

“Anio” sudah kuputuskan untuk tak mengikuti itu. Hadiahnya belum jelas, aku tak mau membuang waktuku.

Bulan Februari. Aku tak tahu tapi mungkin sudah menjadi tradisi di sekolah ini. Setiap bulan Februari selalu diadakan lomba menulis puisi. Kata mereka untuk menyemarakkan hari valentine dan dimalam valentine selalu ada pesta dansa di sekolahku—terdengar aneh namun menarik, meskipun aku tak tertarik mengikuti lomba itu.

#####

Sudah setengah jam lebih aku duduk sendiri, di sebuah tempat, tepatnya di pojok sebuah café. Bukan kebiasaanku untuk tampak dungu seperti ini. Sebelumnya aku sudah janjian dengan Minji di sini dan tak tahu mengapa dia belum juga datang.

Lalu, tiba-tiba saja hal itu kembali mengusikku. Kejadian siang tadi telah menggangguku terlalu jauh.

Flash back..

Tampaknya aku satu-satunya siswa yang masih tinggal di dalam kelas. Kuputuskan untuk menyelesaikan tugasku sekarang juga dan ketika sadar, kelas telah kosong. Minji hanya mengabariku lewat sms jika dia pulang duluan—dasar gadis bodoh, kau bisa mengatakan langsung padaku sebelum keluar kelas tadikan?

Segera aku meninggalkan kelas setelah membereskan semua peralatan sekolahku. Koridor sekolah begitu lenggang—lagi-lagi aku murid yang mungkin saja terakhir keluar dari sekolah ini. Langkah kakiku terhenti ketika mataku menangkap Kyuhyun yang sedang berdiri beberapa meter di depanku. Namja itu sedang bersandar di dinding dengan kedua tangan yang tersembunyi di dalam saku celananya. Garis wajahnya yang tampan terlihat jelas. Aish, apa yang sedang kupikirkan?

Kembali kulangkahkan kakiku yang sempat terhenti tadi. Tak kuperdulikan Kyuhyun yang tampak begitu tenang, tak sedikitpun ia menoleh padaku yang semakin dekat ke arahnya. Ketika aku akhirnya benar-benar melewatinya, Kyuhyun tak bergeming sedikitpun.

“Ehm..!!”

Kyuhyun berdehem pelan. Apa sekarang tenggorokannya sedang gatal? Tapi sepertinya batuk pelan itu terdengar seperti sebuah kode. Aku tetap melangkah.

“Yaa~ kau, berhenti di situ”

Akhirnya dia benar-benar bersuara. Langkahkupun terhenti. Aku berbalik, menatapnya yang masih setia dengan posisinya itu. Kyuhyun memiringkan kepalanya, ia menatapku. Tubuhnya beringsut, ia melangkah mendekatiku yang masih mematung di tempat.

“Wae?” aku mengamati namja yang kini tepat berada di hadapanku.

Namja itu tak bersuara. Ia terus menelusuri wajahku dengan tatapannya yang tajam. Aku tak tahu mengapa dia menatapku sedalam dan seaneh itu. Meskipun malu untuk mengakuinya tapi saat ini aku benar-benar gugup dan mulai salah tingkah dihujani oleh tatapan namja yang kubenci itu.

“Yaa! Mengapa menatapku seperti itu?” semoga saja kegugupanku tak terbaca olehnya. Apakah ada yang salah dengan penampilanku hari ini? Aku rasa tidak. Kyuhyun masih terus menatapku dan membuatku tak tahan lagi “Kau membuang-buang waktuku”

“Ya!! Yaa!!!” namja itu meneriakiku ketika aku hendak pergi.

“Katakan!”

“Mwoya?”

Haissh, mengapa dia balik bertanya padaku? Dasar bodoh.

“Yaa~ bukankah kau menungguku karena ingin mengatakan sesuatu?” aku menatapnya “Ppalli! Aku tak punya banyak waktu..”

“Mwo? Kau berlebihan sekali”

Kyuhyun tertawa. Ia sedang mengejekku.

“Lalu mengapa kau masih terus mencegahku?”

“Nara-ya..”

Dia menyebut namaku. Ini kedua kalinya ia memanggilku dengan begitu lembut. Dadaku mulai berdebar aneh ketika tatapan matanya yang lembut mengarah kepadaku. Aku tak tahu apa ini? Aku harus waspada pada namja yang satu ini karena aku tak bisa membaca suasana ini, aiissshh.

“Apa kau—kau tak ingin mengatakan sesuatu padaku?”

Pertanyaannya membuatku kebingungan.

“Ya~ Cho Kyuhyun. Kau pulanglah!”

Namja itu mungkin mulai kehilangan kesadaran atau karena kelelahan. Sikapnya yang abnormal semakin menjadi-jadi saja. Kyuhyun menangkap tanganku ketika untuk kesekian kalinya kau hendak meninggalkannya.

Wajah Kyuhyun yang begitu dekat dengan wajahku membuatku gugup. Aku bahkan dapat merasakan hembusan nafasnya di permukaan kulit wajahku. Tatapan matanya yang aneh dan sulit kumengerti, aku merasakan dadaku sesak. Sulit sekali mendapatkan oksigen.

“Song Nara, kau yakin tak ada yang ingin kau sampaikan padaku?”

Suaranya yang berat, wajahnya yang berubah sedemikian seriusnya. Aku terdiam mencoba mengingat beberapa kejadian yang telah lalu—rasanya aku tak pernah ingin menyampaikan apapun pada evil ini.

“Cho Kyuhyun. Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”

Aku menepis tangannya dengan kasar. Kyuhyun terdiam cukup lama, ia menatapku. Seulas senyum terlukis di bibirnya. Ia akhirnya tertawa pelan, tak bersuara. Tangannya menyisir kasar rambut coklatnya. Kyuhyun menatapku dan tertawa lagi. Kurasa dia memang gila.

“Dasar kau gadis bodoh. Mengapa bersikap seperti ini?”

“Kau ingin menjelaskan apa padaku? Katakan saja dengan jelas! Jangan membuatnya berbelit-belit seperti ini. Aku tak bisa memahami perkataan namja sinting sepertimu” hatiku mulai memanas melihat sikapnya “Tolong, bersikaplah yang normal”

Kyuhyun menatapku sejenak dan ia kembali tertawa. Seluruh darahku telah memanas melihat tingkahnya itu.

“Ya! Apa kau ini benar-benar seorang gadis?”

Dia menatapku dari kaki sampai kepala. Apa-apaan kau? Sedang meragukan genderku? Nappeun!

“Sikapmu tak seperti kebanyakan gadis lainnya. Kau sangat kasar, aneh sekali—kau bahkan sangat membenciku!”

Mwo? Dia memang sudah gila.

“Yaa! Aku memang membencimu! Ara?”

“Kau bisa membuat kesabaranku habis” Kyuhyun menerjangku dengan sorot matanya yang galak.

“Kau yang membuatku begini! Sejak awal, kau membuatku membencimu! Lalu mengapa kau protes? Mengapa tak terima dengan sikapku terhadapmu? Bukankah sejak awal kau yang memperlakukanku dengan buruk?”

Nafasku tak teratur. Aku mengungkapkan semua kekesalanku. Sikap Kyuhyun membuatku sangat kebingungan. Aku tak tahu sebenarnya apa yang dia inginkan? Memamerkan sedikit sikap lembutnya lalu menerjangku dengan kasar. Menyiksaku? Sampai kapan?

Ia memandangku.

“Yaa!! Aku bersikap seperti itu karena kau…”

Kyuhyun kembali bungkam. Aku penasaran dengan kelanjutan kalimatnya. Sepertinya ia tak berniat untuk meneruskan kalimat itu. Kyuhyun kembali menatapku—tatapannya yang tampak sedih. Sedih? Benarkah yang kulihat? Apakah itu mungkin? Mengapa harus terlihat sedih? Aigo, molla! Jika lama-lama bersamanya maka aku akan ikut gila seperti dia.

“Aish,, kau membuatku frustasi saja..”

Kyuhyun menggaruk kasar kepalanya. Ia berpaling dan meninggalkanku yang diam mematung, tak mengerti situasi saat ini.

Flash back end.

Memikirkan kejadian itu, kurasa Kyuhyun yang membuatku frustasi. Aku hampir gila. Dia benar-benar ingin membunuhku dengan perlahan.

“Kau tampak frustasi sekali Nara-ya”

Aku menatap Minji yang entah sejak kapan telah duduk manis di hadapanku. Bahkan kedatangan Minjipun tak aku sadari.

“Molla..” jawabku malas.

“Sudah kubilang. Jangan memaksakan diri, lihatlah kau sekarang. Memprihatinkan”

“Ya!! berhenti mendikteku” mulut Minji tak akan diam jika tak kuhentikan “Nappeun! Kau membuatku kering karena menunggumu? Setengah jam lamanya, Minji-ya”

“Mianhae. Aku lupa”

“Mworago?”

“Mianhae”

Keterlaluan. Dia yang mengajakku ke café dan dia justru melupakannya.

“Nara-ya, cukha-hae..”

Minji tersenyum manis padaku. Aku justru tak mengerti, tak ada yang spesial tapi mengapa gadis bodoh ini menyelamatiku?

“Mwoya?”

“Ya~  molla-yo?”

Aku hanya menggeleng pelan. Minji mendegus.

“Song Nara. Kau ini type yang aneh..” Minji meremas rambutnya, kesal “Kau tak melihat apa yang tertulis di papan pengumuman?”

“Ani” aku kembali menggeleng.

“Nara-ya, kau pemenang lomba menulis puisi itu. Bukankah itu hal yang luar biasa?”

Minji tersenyum sumringah tapi aku justru terkejut bukan kepalang. Aku? Memenangkan lomba menulis puisi? Apakah mungkin? Bahkan aku tak mendaftarkan diri untuk lomba seperti itu, lalu tiba-tiba namaku keluar sebagai pemenang. Mustahil.

Aku menyadari sesuatu. Dengan sekejap aku menatap Minji. Bola mataku yang melebar, Minji mengerti apa maksud tatapanku. Semua itu tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin, kecuali gadis bodoh ini…

“Mianhae” Minji memohon dengan suaranya yang melemah.

Sudah kuduga. Gadis bodoh!!

“YAAA!!!”

Minji menutup telinga, berusaha menghalau suaraku yang memekak ke gendang telinganya. Pengunjung café yang lainnya ikut mengarahkan pandangannya ke arah kami.

“Babo, apa kau gila?” aku benar-benar tak tahu harus berkata apa lagi pada si stupid  ini “Kau ingin membunuhku, huhh??”

“Nara-ya, mianhae.. tapi kata-katamu terlalu berlebihan. Aku hanya mendaftarkan namamu dan memasukkan puisimu pada panitia, itu tak akan membuatmu mati”

“Nappeun! Ulahmu yang membuatku akan cepat mati.. Yaa!! Apa kau tahu jika tubuhku akan meledak sekarang?”

“Aigo,, kau tak perlu semarah ini Nara-ya..”

Minji berusaha membujukku. Aku hanya memandanginya, ingin rasanya menelan gadis bodoh itu hidup-hidup. Aku menarik nafas dalam-dalam, menstabilkan peredaran darah dan kerja sarafku yang kacau berantakan.

Kuraih gelas yang berisi coklat hangat di hadapanku, menyeruputnya dalam-dalam. Kembali lagi menarik nafas dan menghempasnya.

“Nara-ya… apa kau marah karena hal itu?”

Tatapan Minji sedang menyelidikiku.

“Omona. Kejadian yang sudah bertahun-tahun berlalu, kau masih belum melupakannya?” Minji tertawa pelan, seperti sedang menyindirku “Nara-ya, lupakan saja. Itu hanya kejadian yang terjadi secara kebetulan, tak lebih dari itu. Kau masih mengingat namja itu, apa kau yakin dia juga akan teringat padamu? Aigo, kejadian sepintas lalu tapi membuatmu bertahun-tahun seperti ini.. kau gila Nara-ya”

Minji menghabiskan minumannya dalam sekali teguk. Dia terlihat sangat frustasi. Entah mengapa kali ini aku tak dapat melawannya. Mulutku seakan malas untuk berargumen dengan Minji. Yang aku lakukan justru mengeluarkan permen lollipop dari dalam tasku, mengulumnya.

Mungkin perkataan Minji ada benarnya, aku memang gila. Kejadian itu bisa terjadi pada siapapun, bukan hanya padaku—tapi mengapa itu sangat membekas dan sulit sekali melupakannya, termasuk melupakan anak lelaki itu.

Aku tak bisa melupakan kejadian 7 tahun lalu. Aku dan Minji masih duduk di bangku sekolah dasar. Kami baru saja pulang dari sekolah ketika mendapati segerombolan anak nakal sedang mengeroyoki seorang anak dan meninggalkan anak lelaki itu dalam keadaan yang lumayan parah.

Ah, pikiranku seperti kembali ke masa itu. Saat tanpa sadar, aku yang merasa iba, menghampiri anak lelaki itu. Membersihkan luka di wajahnya, membalut lengannya yang terluka dengan sapu tanganku. Bola matanya yang bulat terus menatapiku, sesekali terdengar ringisannya ketika aku menyentuh lukanya.

Tak terjadi percakapan apapun saat itu. Anak laki-laki itupun pergi tanpa suara, setelah memberikanku sebuah permen—permen lollipop. Itulah mengapa aku menyukai permen itu.

Aku tak pernah bertemu dengannya sejak kejadian itu tapi seperti magnet—aku terus memikirkan anak misterius itu. Aku, menyukai orang yang tak aku kenal. Itu lucu, tapi kenyataannya begitu. Hanya mampu menulis isi hatiku. Dan si bodoh Minji, justru menyerahkan tulisanku tentang cinta pertamaku itu pada panitia lomba. Aargghh.

#####

14 Februari.

Aku sudah berpakaian rapi. Malam ini pesta dansa di sekolahku. Aku tak bermaksud pergi, tapi Minji memaksaku. Ya, lagi-lagi karena Minji. Alasannya mudah, karena aku adalah pemenang lomba jadi aku diharuskan untuk hadir. Masa bodoh. Sayangnya, aku tak bisa menolak paksaan Minji.

Selama berlangsungnya pesta, tak sedikitpun aku beranjak dari tempat dudukku. Aku hanya memandangi mereka yang begitu menikmati pesta malam valentine itu. Akhirnya kepala sekolah membacakan pengumaman pemenang lomba—namaku terdengar membahana di dalam ruangan.

Aku baru beranjak dari tempatku semula setelah diminta untuk maju ke podium utama. Cho Kyuhyun ada di sana. Ia bersama dengan beberapa pengurus osis. Kepala sekolah berbicara panjang lebar tentang puisiku yang inilah, itulah.. dan lain sebagainya. Pujian, kurasa begitu tapi aku tak merasa tersanjung sedikitpun. Aku benar-benar bosan dan ingin meninggalkan tempat ini.

Sepertinya aku melamunkan banyak hal, setelah sadar tiba-tiba saja Kyuhyun telah berdiri untuk mengatakan sesuatu.

“Selamat untukmu, bebek jelek”

Mworago? Yaa! Ini di depan seluruh siswa. Kyuhyun masih mengataiku seperti itu. Setidaknya dia harus berlaku sopan. Mengapa dia terus saja mencari masalah denganku?

“Baiklah. Aku cukup terkejut dengan keputusan yang diambil—membuat Song Nara-ssi menjadi pemenang lomba”

Aku membulatkan mataku—memelototinya yang berdiri beberapa meter, di sampingku. Dia hanya menatapku sekilas, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada seluruh siswa di hadapan kami. Kau kira aku ingin mengikuti lomba sialan ini??

“Terlalu lucu” Kyuhyun tersenyum sangat tipis. Darahku telah mendidih, dia benar-benar tak bisa membiarkanku untuk hidup normal “Tulisan merupakan identitas. Menceritakan dan juga menggambarkan tentang apa yang dirasakan si penulis itu sendiri. Orang ini, hanya berani menceritakan isi hatinya pada selembar kertas. Orang seperti ini sangat kasihan. Seharusnya jika menyukai seseorang, sebaiknya katakan saja. Bukankah begitu, bebek jelek?”

Tatapan Kyuhyun kembali terarah kepadaku yang telah kehilangan pikiran. Seluruh tubuhku bergetar hebat mendengar ucapan Kyuhyun, ia sedang menghinaku—menginjak-injak harga diriku.

Aku menulis itu, bukan untuk dipamerkan di depan umum. Akupun tak ingin melampiaskan perasaanku hanya pada selembar kertas. Aku tak ingin begitu tapi aku tak bisa. Hanya itulah caraku, karena aku tak pernah bertemu dengan orang itu.

Dan kini, Kyuhyun membuat diriku nampak bodoh dihadapan semua orang. Apakah salah jika aku menyukai seseorang? Bahkan orang yang tak aku kenal? Aku merasakan kesakitan yang luar biasa dalam hatiku karena perlakuan Kyuhyun.

PPLAAAKKK!!!

Aku menampar Kyuhyun. Tak bisa lagi mulutku untuk berkata. Sesak yang kurasa membuat air mataku mengalir begitu saja. Suasana yang riuh mendadak mencekam. Aku hanya memandangi Kyuhyun dengan air mata yang masih mengalir. Andwae. Aku tak bisa lama-lama di tempat ini, semuanya membuatku serasa mati.

Aku berlari meninggalkan ruangan tempat berlangsungnya pesta. Menjauhi tempat itu adalah yang terbaik yang bisa kulakukan saat ini.

“Nara!”

Kyuhyun menarik tanganku. Aku menepis kasar tangannya.

“Kau masih belum puas menyiksaku? Wae??”

“Mianhae..”

Aku terkejut. Kyuhyun sedang meminta maaf padaku. Akhirnya aku hanya bisa tersenyum tawar.

“Kyuhyun-a, sekarang kau membuatku sangat buruk. Araseo?”

Lagi-lagi Kyuhyun menangkap tanganku. Aku kembali menepisnya.

“Mengapa kau bersikap seperti itu padaku, Nara-ya??”

Kyuhyun menatapku lekat. Aku terdiam, menatapnya cukup lama—mencari keseriusan dan maksud dari perkataannya yang sangat membingungkanku.

“Cho Kyuhyun. Apa maksudmu?” Aku tertawa pelan “Bertanya seperti itu kau membuatku benar-benar tampak buruk. Apa kau merasa sangat tertindas karenaku? Yaa! Harusnya itu adalah pertanyaanku!”

Namja itu memegangi pundakku dengan kedua tangannya. Aku sangat terkejut dengan tindakannya, melihat sinar matanya yang dingin—serasa menembus kulit di tubuhku.

“Sedikitpun—kau sungguh tak…” Kyuhyun terdiam, ia terlihat menarik nafasnya dalam-dalam dan matanya kembali menerjangku “Kau benar-benar membenciku? Huhh??”

“Yaa!! Kau mau apa sebenarnya?” Kyuhyun membuatku tersiksa dengan memeras otakku untuk memikirkan maksud-maksud tersembunyi dari tiap perkataannya. Aku lelah.

“Nara-ya, lihat aku! Kau sungguh tak ingin mengatakan apapun padaku?” Kyuhyun terus menerjangku dengan hal-hal yang tampak rumit bagiku—aku tak mengerti.

Aku hanya memandanginya. Kulepaskan cengkraman Kyuhyun di pundakku.

“Kyuhyun-a, berhenti membuat hal-hal yang begitu rumit” aku membalikkan tubuhku, aku tak tahan untuk berlama-lama di sini.

“Aku mengerti!” seruan Kyuhyun menghentikan langkahku. Pemuda itu berjalan menghampiriku. Ia meraih tanganku dan meletakkan sesuatu di tanganku, sebuah kotak yang dibaluti dengan kertas cantik juga pita penghias yang mempermanis kotak kado itu “Setidaknya, kau masih berhak untuk ini” dia tersenyum tipis.

Aku memandangi kado itu, bergantian memandangi wajahnya. Ah, tentu saja aku berhak—aku pemenang lomba itu. Tanpa suara dengan segera kutinggalkan Kyuhyun yang masih mematung di tempatnya.

Kurapatkan jaket yang menyelimuti tubuhku. Dingin malam, kupikir lebih dingin lagi hatiku. Belakangan ini namja evil itu semakin meningkatkan volume penyiksaannya terhadapku. Dia aneh. Keabnormalannya semakin menjadi-jadi.

Apa maksudnya bersikap seperti itu? Seolah-olah menempatkanku disudut tergelap dan memposisikan dirinya sebagai objek derita—aigo, it’s bullshit. Dalam hal apapun, akulah yang menderita.

Kutelusuri trotoar, berbaur dengan pejalan kaki lainnya. Jalan dimalam hari begitu ramai. Sudah berapa lama aku berjalan, itu cukup baik—semakin jauh dari namja evil itu akan membuat kondisiku membaik.

Ah, benar-benar dingin. Kusembunyikan kedua tanganku di dalam saku jaket, kotak kado itu tersentuh olehku. Aku memandangi kado yang baru saja kukeluarkan dari dalam saku jaket. Memandang dari segala sudut, akhirnya rasa penasaran yang menuntutku untuk segera mencari tahu isi kado tersebut.

“Ige mwoya?”

Ciih, apanya yang menarik? Lomba yang begitu heboh dibicarakan dan hadiahnya adalah sesuatu yang seperti ini? Apakah ini benar-benar—lollipop?

Mataku memandang tak percaya pada isi kotak di tanganku—seberapapun mencoba meyakinkan diri akan apa yang aku lihat tapi isinya sungguh hanya beberapa buah permen lollipop.

“Yaa!! Cho Kyuhyun,, kau ingin membuatku gila rupanya”

Aku benar-benar sudah diambang batas. Sejurus kemudian aku hanya terdiam, lollipop, dipikirpun hal itu menyurutkan kemarahanku. Aku suka permen itu tapi apa tak berlebihan jika hadiahnya hanyalah lollipop. Aish, aku bisa membelinya kapan saja.

Ah, aku hanya bisa menarik nafas. Permen itu, aku mengingat kembali kejadian beberapa tahun lalu—tentang anak lelaki itu. Sekian menit dan aku menyadari permen-permen itu tak sendirian. Detik selanjutnya detak jantungku seakan terhenti, ketika memandangi benda yang baru saja kukeluarkan dari kotak itu.

~~~~~

Akhirnya aku tiba di tempat terakhir kali bertemu dengan Kyuhyun. Berlari seperti itu, aku benar-benar kehilangan tenagaku. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling tempat itu, sunyi—tak ada siapapun, Kyuhyun tak terlihat di situ.

Pikiranku sangat kalut. Bagaimana mungkin benda itu ada padanya?

Mataku tertanam pada sebuah kursi panjang di sekitar situ, dengan gontai kulepaskan beban tubuhku di atas kursi itu. Memandangi langit malam kota Seoul. Diam seribu bahasa, pikiranku buntu. Aku tak bisa menarik satu kesimpulanpun dari semua yang aku alami—ini, sungguh membingungkanku.

“Mengapa kau masih di sini?”

Seketika aku menoleh pada pemilik suara yang begitu familiar di telingaku itu. Entah sejak kapan dia telah berdiri di situ—Cho Kyuhyun.

“Ah,, kau masih ingin bertengkar denganku??”

Kyuhyun memamerkan senyumannya yang paling kubenci—tapi kali ini, mulutku tak bisa digerakkan. Tiba-tiba saja, aku tak bernafsu untuk meladeninya. Lebih tepatnya, aku kehilangan seluruh kata-kataku karena pikiranku yang kacau balau.

Aku beranjak dari tempat dudukku, melangkah gontai menghampirinya yang hanya diam di tempatnya. Memandangi wajahnya dari jarak dekat bukan hal baru bagiku. Sebelumnya pernah kulakukan tapi kali ini jantungku sungguh tak bisa bekerja dengan baik.

“Wae? Akhirnya kau benar-benar ingat apa yang harus kau katakan padaku” Dia tersenyum, lembut dan hangat.

“Ini…” mulutku terasa berat. Apakah mungkin tapi,, aku tak yakin dan aku harus memastikannya sendiri “Bagaimana kau, maksudku—dari mana kau memiliki ini?”

Aku memandangi sebuah sapu tangan yang masih kupegang, secara bergantian memandangi evil berwajah tampan itu.

Kyuhyun terdiam. Dia hanya memandangiku dengan sorot matanya yang tenang dan begitu hangat. Dia berbeda sekali dengan biasanya.

“Aku sedang bertanya padamu” kataku mencoba mengingatkannya “Sapu tangan itu..bagaimana bisa ada padamu?”

Aku sangat penasaran. Meskipun kejadian itu sudah bertahun-tahun berlalu, tapi jelas sekali aku mengingat setiap detail dari sapu tangan yang kupegang saat ini—karena sapu tangan ini kusulam sendiri, sebelum akhirnya kujadikan pembalut luka di lengan seorang anak laki-laki. Anak lelaki yang membuatku menyukai permen lollipop, terlebih membuatku terpaut bertahun-tahun lamanya pada anak misterius itu.

Namja itu tak mengeluarkan sepatah katapun. Ia justru semakin menyiksaku dengan memamerkan senyumannya yang kini mulai menyilau di mataku.

“Yaa!! Cho Kyuhyun. Kau tuli??”

Aku benar-benar kesal. Bahkan dia tak bereaksi sedikitpun. Tunggu,, apakah mungkin jika anak laki-laki itu adalah…ah, itu tak mungkin. Tentu saja. Tepisku dalam hati.

“Apa kau ingat sekarang?”

Pertanyaan Kyuhyun mengusir keyakinan dalam hatiku. Dia memandangiku dengan pasti. Jantungku berdetak kasar. Tak mungkin. Ini tak mungkin, dia pasti sedang mempermainkanku.

“Kyuhyun-a, kau sedang berbohong padaku, benarkan?”

Namja itu menarik nafas panjang.

“Kau sangat keterlaluan, Nara-ya..” dia menggeleng prihatin.

“Yaaa!! Apa kau berharap agar aku mempercayaimu? Setelah semua perlakuanmu terhadapku? Kau masih ingin mengakui jika kau adalah…”

“Itu karena aku kesal!!”

Kyuhyun memotong ucapanku. Aku terkejut. Dia memandangiku.

“Aku sangat kesal” Kyuhyun terdiam “Selama ini aku tak ingin terlibat dengan gadis manapun karena kau, seorang gadis yang tak pernah kukenal sebelumnya, bahkan saat itu namamu aku tak tahu. Berharap untuk dapat bertemu denganmu suatu saat dan ketika kesempatan itu datang aku bahkan tak tahu harus menyembunyikan kegembiraanku dengan cara apa”

Untuk pertama kalinya aku mendengarnya berbicara panjang lebar. Aku hampir tak mempercayai semua yang kudengar.

“Sekali melihatmu, aku langsung bisa mengenalimu tapi kau malah sebaliknya. Itu membuatku sangat marah Song Nara” jelas sekali sinar mata Kyuhyun yang memendam kecewa “Jadi, sekarang kau mengerti mengapa pertama kali bertemu aku bersikap seperti itu padamu? Aku marah karena kau tak mengenaliku…karena aku merasa tampak bodoh, seperti idiot yang bertahun-tahun menantikanmu yang tak pasti”

Apakah aku sedang bermimpi? Seseorang, tolong bangunkan aku sekarang juga!

“Aku hampir menyerah menunggumu ketika aku memutuskan hal yang gila, tapi hal gila itu justru membawamu padaku” Kyuhyun mendesah pelan.

Mulutku hanya terkatup rapat—sangat rapat. Aku tak tahu harus berkata apa, syok rasanya dengan semua ini, mengetahui kenyataan bahwa anak lelaki tak kukenal yang menjadi cinta pertamaku, kini berdiri di hadapanku.

“Kupikir aku tak punya harapan lagi untuk bertemu denganmu. Lalu ide aneh itu melintas di kepalaku. Kau tahukan bagaimana yeoja-yeoja itu terhadapku?”

Omo~ dia bahkan masih sempat memamerkan kesombongannya.

“Aku tahu apa yang ada dibenak mereka tentang aku. Cho Kyuhyun yang tampan, Cho Kyuhyun yang pintar, Cho Kyuhyun yang kaya” Kyuhyun menatapku lekat. Aku terdiam, menatapnya cukup lama—mencari keseriusan dan maksud dari perkataannya yang sangat membingungkanku.a raya—ehm, dan tentu sangat popular”

Aishh, kau melupakan satu hal. Cho Kyuhyun yang sombong dan menyebalkan.

“Yaa! Tak usah kau jelaskan itu padaku, kau bermaksud untuk pamer padaku? Nappeun”

“Song Nara—aku mengatakan yang sebenarnya. Araseo?” Kyuhyun memandangiku dengan sorot matanya yang terlihat sebal. Kyuhyun menarik nafas, mengambil jeda untuk melanjutkan perkataannya “Alangkah baiknya jika ada seorang yeoja yang melihatku apa adanya—dan melupakan hal-hal lain yang melekat padaku, hanya melihatku sebagai seorang murid biasa, hanya seorang Cho Kyuhyun”

Aku mendengus pelan. Mendengar namamu saja, mereka begitu histeris. Apa itu yang kau maksud untuk melihatmu sebagai murid biasa? It’s impossible.

“Yaa~ apa kau tahu aku memutuskan hal gila? Aku hanya akan jatuh cinta pada gadis yang memperlakukanku berbeda—gadis yang menamparku. Itulah janjiku”

DEG. Jantungku berhenti sejenak.

“Aku mempertaruhkan kehidupan asmaraku, keputusan yang kupilih adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin mengingat semua yeoja begitu mengagumiku—aku ragu terhadap keputusan itu”

Aigo, dasar sinting. Itu memang dirimu, Cho Kyuhyun yang sombong, angkuh dan menyebalkan.

“Ospek itu—aku melihatmu” Kyuhyun menatapku tajam “Aku malu mengakui ini, tapi saat itu jantungku serasa berhenti tapi kau malah membuat kesalahan fatal dengan tidak mengenaliku”

Gelap malam tak menyembunyikan rona merah di pipi namja itu. Aku tahu dia sedang mengatakan yang sebenarnya, aku dapat melihatnya begitu malu saat ini.

“Lalu ketika kau menamparku. Aish, dasar yeoja babo.. apa kau tahu itu sangat sakit? Darimana kau mendapatkan tenaga itu? Aku merasa seperti ditampar oleh badak” dia mengerang sambil memegangi pipinya dengan ekspresi menyebalkan.

“YAAA!! Kau mengataiku apa?? Badak??”

Kenyataan bahwa namja itu adalah orang yang diam-diam telah mengalihkan seluruh duniaku dan bahwa diapun adalah cinta pertamaku, bagaimana perasaanku tak perlu ditanyakan lagi! Aku benci warna pink tapi mengetahui fakta tentang Kyuhyun, entahlah, tapi semua yang kulihat mendadak berwarna pink.

Namun, dari sekian banyaknya namja di dunia ini, mengapa orang itu haruslah Kyuhyun? Dia memiliki mulut yang pedis, juga keangkuhan dan kenarsisannya yang telah melebihi batas normal—aku menyesal untuk itu.

“Kau memang tak akan pernah berubah” aku memandanginya geram. Aku pikir aku tetap harus pergi dari hadapan si sombong yang semakin songong ini.

Kyuhyun menarikku kasar. Aku hampir meninju wajah tampannya dan aksiku terhenti. Aku tertegun, namja itu—dia, memelukku.

“Gomawo. Aku senang bahwa orang itu adalah kau” aku tak bergeming, Kyuhyun berbicara lembut di telingaku “Sejak kau menamparku, kau sudah menjadi milikku. Selamanya tak akan berubah. Itulah janjiku sebagai seorang pria yang ingin terus berada di sisimu”

“Kyuhyun-a…” mulutku tak dapat berkata-kata.

Dia melonggarkan dekapannya, menatapku tapi tidak dengan tatapan sinis menyebalkannya—sinar matanya begitu lembut. Jantungku berdetak sangat kencang, aku kehilangan kontrol. Ketika sentuhan bibirnya yang hangat dan lembut terasa di bibirku, aku tak bisa merasakan pijakan kakiku, dadaku menghangat—menyebar ke seluruh tubuhku.

Ciuman manis itu berakhir.

Happy valentine…”

Kyuhyun tersenyum, wajahnya memang sungguh sangat tampan. Aish, aku malu sekali.

Happy valentine too…” balasku.

Namja itu kembali merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya yang hangat. Dia memelukku sangat erat. Aku sangat bahagia tapi namja ini benar-benar narsis. Dia bahkan tak memberiku kesempatan untuk mengatakan isi hatiku, perasaanku padanya—aku rasa dia begitu percaya diri. Aigo,, itulah dirimu Kyuhyun-a… tapi itu tak penting lagi karena hatiku memang telah terpaut padamu, jauh sebelum ini.

 #####

*Autor POV*

Pagi cerah. Ringtone handphone yang bernyanyi riang terdengar di dalam sebuah kamar. Sudah hampir setengah jam lalu handphone itu terus bernyanyi tapi tampaknya tak dihiraukan oleh pemiliknya.

Pintu kamar terbuka, seorang wanita terlihat di sana. Ia memasuki kamar. Memandangi seorang gadis yang tertidur lelap. Wanita itu menggeleng melihat putrinya yang masih tertidur. Ia lalu menyingkap tirai jendela di kamar itu, membiarkan cahaya matahari menerobos masuk ke dalamnya.

“Nara-ya!!” ia memanggil anak gadisnya yang tidur seperti orang tak tahu diri “Apa kau berniat untuk menghabiskan hari ini di tempat tidur?”

Ia terus mengomeli Nara.

“YAA!! Song Nara!!”

Teriakan wanita itu akhirnya membuat tubuh Nara mulai bergerak.

“Eomma,, mengapa kau begitu berisik?” Nara menutupi telinganya dengan bantal “Biarkan aku menikmati hari liburku, Eomma-ya..” Nara kembali menarik selimut.

“Yaa! Yaa!!” Wanita itu menarik selimut anaknya “Bagaimana ada anak gadis yang pemalas sepertimu?” katanya sambil memukul-mukul pelan dadanya.

Nara beringsut. Ia segera duduk dengan malas-malasan, memandangi Ibunya dengan kesal.

“Eomma~ dari senin sampai sabtu aku terus bekerja keras, hari ini satu-satunya hari untukku beristirahat. Apa kau tahu bagaimana tertekannya aku di perusahaan? Seharusnya kau mengasihaniku”

“Omo~ berhenti mencari alasan”

Wanita itu segera berlalu dari kamar anaknya. Sementara itu Nara kembali melempar tubuhnya di atas kasur. Handphonenya kembali berbunyi

“Yeoboseyo..” jawab Nara dengan malas-malasan. Detik selanjutnya ia langsung terlonjak, matanya terbuka lebar—kantuknya terusir secara tragis.

~~~~~

Hampir sejam Nara mondar-mandir di Incheon Airport. Wajahnya terlihat gusar, memandangi kerumunan orang di pintu kedatangan. Nara menekuk wajahnya, kesal. Kakinya yang telah pegal memaksanya untuk menghampiri tempat duduk di sekitar situ.

“Apa sekarang dia sedang mengerjaiku?” Nara bergumam dalam hati “Aish, dasar kau namja sialan. Awas saja jika bertemu denganmu, Cho Kyuhyun”.

Gadis itu menggeram, mengepal tangannya. Pagi harinya yang menyenangkan setelah dirusak oleh Ibunya, kembali di rusak oleh namja menyebalkan, si evil narsis.

Bagaimana Nara tidak kesal, Kyuhyun menelepon—memberikan kabar yang membuatnya terlonjak girang.

“Menyuruhku menjemputmu di bandara… Cho Kyuhyun, apa kau tidak begitu keterlaluan untuk terlalu jauh mempermainku seperti ini?”

Nara sangat geram. Nara begitu girang ketika pagi itu Kyuhyun mengatakan ia telah berada di bandara dan meminta Nara untuk menjemputnya. Ya, setelah 6 tahun lamanya berada di New York karena kuliah dan tentu saja karena mengurusi perusahaan keluarganya, Kyuhyun akhirnya kembali ke Seoul. Gadis itu tengah berpikir jika kini Kyuhyun pasti hanya sedang mengerjainya saja.

“Nara-ya…”

Nara berbalik. Mendapati namja dengan potongan tubuhnya yang perfect sedang berdiri tak jauh darinya, ia menyeret koper. Cho Kyuhyun. Ia tampak semakin tampan. Kyuhyun melepas kaca mata hitamnya, memamerkan sinar matanya yang lembut pada kekasihnya. Gadis-gadis yang berlalu lalang tampak kikuk dan terpesona dengan kehadiran makhluk bening seperti Cho Kyuhyun.

Nara menghampiri Kyuhyun yang terus menghujaninya dengan senyuman mautnya. Ia berdiri di hadapan Kyuhyun, hanya berjarak dua langkah.

PPLLAAAAKK!!!!

Tamparan keras di wajah Kyuhyun membuat pria tampan itu tertegun. Ia memandangi Nara dengan syok.

Tindakan Nara yang ekstrim turut menarik perhatian orang-orang yang berada di sekitar situ tapi tak dihiraukan oleh Nara dan Kyuhyun yang harus mengumpulkan seluruh rohnya yang berpencar akibat perlakuan Nara yang diluar perkiraannya.

“Yaa!! Song Nara, apa yang barusan kau lakukan—huhh?” mulut Kyuhyun yang semula terkunci akhirnya dapat digerakan. Jelas sekali kebingungan yang terpancar dari raut wajah Kyuhyun. Ia memandangi Nara yang tampak santai. “Kau baru saja memukul pria yang begitu kau cintai. Apa ini penyambutanmu terhadap pacarmu? Bertahun-tahun tak melihatku, kukira kau merindukanku sangat banyak”

“Aishh”

Nara mendengus, memandangi Kyuhyun dengan sorot matanya yang tak percaya. Ia begitu heran melihat sikap kekasihnya yang tak kunjung membaik—Kyuhyun masih begitu angkuh, terlebih rasa percaya dirinya yang over.

Gadis itu hanya menarik nafas. Ia meneliti wajah Kyuhyun yang sedang meminta penjelasan lebih banyak atas sikap kasarnya. Ya, ia paham betul—seperti itulah Cho Kyuhyun yang ia kenal.

“Aku hanya mencoba mengingatkanmu bahwa dulu, pada tanggal yang sama kau pernah menjanjikan sesuatu padaku”

Nara tersenyum, dan senyumannya kian mengembang. Kyuhyunpun tersenyum dan akhirnya tertawa tanpa suara. Tiba-tiba saja Nara, mengecup pipi Kyuhyun dan langsung memeluk kekasihnya itu.

Happy valentine..”

Kyuhyun membalas pelukan Nara.

“Gomawo.. happy valentine too” ia terus membekap tubuh Nara dalam dekapannya, waktu seakan terhenti di sekitar mereka. Membiarkan dua orang itu saling melepas rindu.

~ The End ~

Iklan

484 thoughts on “I Hate You, But I bla bla bla (2 of 2)

  1. zamadia berkata:

    ouuh trnyt mrk tmn lama toh. dan nara itu ga igt sma seklai klo anak kecil yg ia tlg kmrin itu kyu. utg dia ga nyesel nolongin kyu. krn tingkah kyu itu ngeselin

  2. SG~ berkata:

    Bikin iri hhnmmm..
    Suka sama alurnya..nggak berlebihan, nggak terlalu berat juga..syuuukaaa..eonni jjang!!

  3. FitriFitri berkata:

    Boleh di coba tuh nampar cowok sapa tau jadi jatuh cinta kayak FTV kkkkk aku pernah praktekin nyiram pak guru yang ku suka eh boro-boro cinta pfftttt aku malah kudu selesain soal kimia -,- beda real life sama fantasy tapi tetep aja nyengir bahagia karna kyuhyun nara berakhir bersama :*

  4. parkyunsu berkata:

    aihhh suka sama ff ini. ngena di hati. suka sama keromantisan kyuhyun di akhir, sama lucu pas mereka berantem terus. good thor👍

  5. noebita berkata:

    Kyu evil ternyata cinta pertamanya nara. Gokil jalan ceritanya. Nara hobinya ngegampar kyu. Kan kasihan pipinya mending dikecup aja. Hhhh buset deh ldr selama 6 tahun, lebih lama dari kredit motor ya thoorr. Hahaha

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s