Seindah Namamu,, Cinta (Part 1 of 3)

Author            : Lauditta Marchia T

Cast               : Jung Amor, Lee Sungmin, Kim Ryeowook

Desclaimer     : FF ini murni buatan saya, say no to plagiat!!!

#Author POV#

Diantara seribu tawa

Hanya ada satu tangisan

Diantara seribu kebahagiaan

Hanya ada satu kesedihan

Diantara seribu suka cita

Hanya ada satu duka nestapa

Hanya aku, aku dan aku

Pipit yang kesepian dan terluka…

 

“Sungmin-a!!”

“Wae?” Sungmin bertanya pada Ryeowook yang baru nongol di dalam kelas. Kedatangan Ryeowook membuat Sungmin yang semula sibuk membaca buku, terhenti.

“Aku?? Anio!” jawab Ryeowook yang langsung duduk di samping Sungmin. Mata Ryeowook tertuju pada sebuah diary coklat mungil bergambar panda di tangan Sungmin.

“Ah,, isinya puisi..”

“Aigo, aku tak menyangka kau memiliki bakat tersembunyi” Ryeowook terlihat kagum memandangi sungmin lekat.

“Ani” tepis Sungmin “Aku menemukan diary ini di gerbang” Sungmin melanjutkan ucapannya.

“Geuraeseo?”

“Ne. Siapapun pemiliknya, dia menulis puisi dengan baik” Sungmin memamerkan senyum manisnya..”

“Jeongmal?” alis Ryeowook saling bertaut “Aku rasa yang namanya puisi itu selalu saja sama” katanya kemudian sambil tersenyum sinis.

“Aigo, lihat dirimu. Kau selalu saja menarik kesimpulan dengan tergesa-gesa” Sungmin menimpuk kepala Ryeowook dengan diary, membuat namja itu sedikit meringis kesakitan “Tadinya aku juga berpikir begitu, tapi puisi yang ditulis di diary ini rasanya sedikit berbeda” ujar Sungmin ia kembali membuka halaman diary mungil itu.

Terbang bebas dibawa permadani cakrawala

Memang menyenangkan

Berenang dibirunya samudra luas

Memang mengasyikan

Apalagi menjelajahi alam liar

Sangat menantang

Tapi…

Semua itu hanya dapat kulihat tanpa dapat kurasa

Lewat bola Kristal mungil

Dalam kamarku…

“Hmm… tulisannya memang menarik” gumam Ryeowook

Sungmin tersenyum puas

“Tapi, sedikit aneh” senyuman Sungmin memudar.

“Mwo?”

“Ani. Hanya saja sepertinya orang yang menulis puisi-puisi ini termasuk dalam tipe orang yang kesepian..”

“Kamu benar. Kedua puisi yang telah kubaca tadi rasanya benar-benar menggambarkan kesendirian dan seperti terbuang. Apa benar-benar begitu??”

“Ne” Ryeowook mengangguk mendengar penjelasan Sungmin “Yaa~, mau apa kamu??” Ryeowook mencengkeram tangan Sungmin ketika Sungmin hendak membuka diary itu kembali.

“Waeyo?” Tanya Sungmin kaget

“Diary itu bukan milikmu, jadi kamu tidak boleh macam-macam atau membaca isinya tanpa seijin dari pemiliknya” Ryeowook menceramahi Sungmin seperti biasanya, maklumlah sepertinya Ryeowook punya bakat untuk menjadi orang bijak dan selalu membuat Sungmin kesal “Sebaiknya, kamu kembalikan diary itu, pasti pemiliknya sedang kebingungan mencari..” lanjutnya lagi

“Araseo. Akan kukembalikan, ara?” dengus kesal Sungmin.

“Tapi siapa pemiliknya?”

“Ngg…” Sungmin mengamati diary yang sedang di pegangnya, membolak-balik diary itu sambil berusaha mencari tahu identitas pemiliknya “Amor…” katanya lagi.

“Amor?” Ulang Ryeowook

“Jung Amor. Itu nama ya? Kedengaran aneh” ujar Sungmin

“Sama sekali tak aneh” Timpal Ryeowook “Karena itu nama yang indah..”

“Indah?”

Sungmin tertawa terkekeh.

“Ya~ Sungmin-a.. molla-yo?” Ryeowook menatap Sungmin yang terlihat ling lung “Aishh,, babo. Sungmin-a, kata Amor itu berasal dari bahasa latin yang artinya cinta..”

“Omona.. uri Ryeowook sangat hebat?”

Ryeowook sambil tersenyum bangga mendengar pujian Sungmin.

“Sekarang kamu kembalikan diary itu”

“Ne, araseo. Tapi gimana caranya, diary ini nggak ada identitas lainnya selain nama” gumam Sungmin “Masa iya, aku harus ke semua kelas sambil nanya eh tahu tidak yang namanya Amor?”

“Ah, itu sih deritamu!” ujar Ryeowook sambil menepuk pundak Sungmin.

@@@@

Bel tanda istirahat meraung panjang sehingga terdengar diseluruh penjuru sekolah dan diikuti oleh para siswa yang riang, kegirangan berhamburan dari kelas mereka. Tidak terkecuali kelas XII-1 yang baru saja menyudahi pelajaran bahasa inggris mereka di Lab Bahasa. Mereka berjalan menuju ke kelas sambil bercanda dengan masing-masing gerombolan, sesekali terdengar cekikikan anak-anak perempuan yang entah sedang membicarakan apa. Beberapa meter dibelakang mereka, seorang gadis berjalan seorang diri. Ia memperhatikan sekitarnya tanpa banyak bicara dan sesekali tangannya yang putih sibuk merapikan rambutnya yang terlihat sedikit awut-awutan.

“Ya~, kalian tahu tidak anak kelas X-6, anggota tim basket itu..?” celoteh beberapa cewek yang berjalan di depan.

“Ah ya.. namja keren itu’kan?” Tanya seorang diantara mereka

“He-em..” diiyakan oleh anggukan kepala “Cute banget..”

“Sepertinya ada yang naksir dengan namja itu.. siapa ya namanya?”

“Sungmin!!” jawab seseorang “Wae,, tidak boleh?”

“Naksir boleh saja. Tapi ingat umur, masa kamu mau memacari anak tingkat pertama, gengsi ah..”

“Sungmin cute dan keren, kalian tak tertarik sedikitpun? Yaa~ apa kalian masih pantas dikatakan normal?”

Mereka hanya mencibir, diselingi oleh derai tawa gadis-gadis itu.

@@@

Esok hari.

KRIIINGG… bel berbunyi, lebih tepatnya seperti amukan dasyat yang memaksa seluruh penghuni sekolah untuk masuk ke dalam kelas. Penjaga gerbang bergegas untuk menutup pintu gerbang sekolah.

Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan gerbang, tampak seorang yeoja yang turun dengan tergesa-gesa dari dalam mobil. Tangannya memegang beberapa buku. Si penjaga gerbang yang tadinya hendak mengunci gerbang langsung mengurungkan niatnya, ia menunggu gadis itu masuk terlebih dahulu dan barulah gerbang sekolah di tutup. Perlakuan itu sungguh sangat ganjil dan tidak semua siswa mendapat perlakuan yang istimewa seperti itu, cukup menandakan kalau gadis itu memiliki sesuatu sehingga ia disegani oleh Penjaga gerbang.

“Gomawo ajeossi” ujar gadis yang berpenampilan biasa-biasa saja, tidak terlihat sesuatu yang menonjol dari dalam dirinya.

“Gwaenchana” jawab pria paruh baya itu sopan “Agassi, tumben telat?”

“Ne ajeossi, entahlah hari ini aku bangun kesiangan..” katanya tersipu malu

“Araseo, sebaiknya segera menuju ke kelas,”

“Ne, gomawo ajeossi” gadis itu segera meninggalkan tempat itu. Ia mempercepat langkahnya, karena seluruh koridor sekolah sudah tampak lenggang.

 Tiba-tiba saja seseorang menabraknya sehingga membuat buku-buku yang dipegangnya jatuh berserakan di lantai.

“Mian..” Ujar gadis itu. Dengan cekatan ia memungut buku-buku di lantai tanpa memberi kesempatan kepada orang yang telah menyebabkan kecelakaan kecil itu untuk menolong dirinya “Mianhae..” katanya lagi lalu berlari meninggalkan seseorang yang hanya berdiri termangu.

“Aneh.. kenapa dia yang meminta maaf? Membuatku terlihat bersifat buruk” gumam orang itu, yang ternyata adalah Sungmin.

Sungmin baru saja hendak beranjak saat matanya menangkap secarik kertas yang berada tak jauh dari kakinya. Sungmin segara memungut kertas itu. “Puisi?” Ia lalu membaca isi kertas itu…

Kicauan pipit itu terdengar merdu

Bahkan sangat merdu..

Selalu terdengar seperti senandung yang indah

Tak pernah ada yang mengerti

Tak pernah ada yang tau

Pernahkah terpikir bahwa yang didengar tak selalu nyanyian?

Bagaimana jika itu adalah sebuah ratapan?

Pipit kecil yang tak berdaya

Terkurung dalam sangkar nan elok rupawan

Ya, memang tak ada yang bisa membedakan antara nyanyian sukacita dan ratapan

Maka.. aku akan selalu seperti ini. Sunyi

 

Sungmin terdiam, ada sesuatu yang melintas di dalam kepalanya

“Puisi seperti ini, rasanya…” gumamnya menerawang mencoba mengingat sesuatu. Ia kembali mengamati kertas yang masih dipegangnya “by… Jung Amor…” Nama yang tertera pada sudut kanan bawah kertas itu membuat Sungmin mengangguk paham, matanya terlihat berbinar-binar “Geurae. Dia rupanya..” gumamnya lagi sambil tersenyum.

~~~~~

Sungmin memasuki kelas dan langsung mengambil posisi duduk di sebelah Ryeowook

“Aku sudah tahu cewek yang bernama Amor…”

“Jung Amor, kelas XII-1” Potong Ryeowook.

Ryeowook tersenyum melihat tatapan Sungmin yang sedang meminta penjelasan darinya.

“Cewek pendiam dan sangat tertutup. Tidak banyak bicara dan bergaul dengan teman-temannya, karena itu tak banyak yang mau mendekatinya. Yeoja itu dianggap sosok yang penuh misteri karena begitu banyak rahasia yang disimpannya… dan semua itu membuat Amor dicap sebagai yeoja paling aneh seantero sekolah” kata Ryeowook, dengan lancarnya ia memerincikan sifat Amor

Sungmin menyimak dengan baik.

“Oh ya satu lagi. Yeoja itu,, lebih suka bersahabat dengan ajeossi penjaga gerbang, juga ajeoma pemilik warung ramyeon di depan sekolah” kata Ryeowook lagi.

Sungmin hanya termangu memandangi Ryeowook..

“Wae?” Ryeowook heran melihat Sungmin terus menatapnya tak berkedip “Ah,, Jong woon sunbae yang memberitahuku. Dia sekelas dengan Amor” ujar Ryeowook, ia mengerti arti tatapan Sungmin.

“Tadinya kupikir kamu udah menjadi detektif sungguhan” kata Sungmin.

Ia tahu betul jika Ryeowook sangat suka membaca komik ataupun novel yang berbau detektif atau penyelidikan, makanya Ryeowook sangat terobsesi untuk menjadi tim penyidik. Ryeowook tersenyum simpul menanggapi komentar dari sahabatnya, Sungmin.

@@@

Disebuah kamar yang tertata rapi, seorang gadis terlihat sangat sibuk, wajahnya mulai panik. Tangannya dengan cekatan menyusuri buku-buku yang berjejer rapi di rak, membuka kas-kas kecil pada meja belajarnya. Tak puas karena sesuatu yang dicarinya, bahkan ia menuangkan seluruh isi tas sekolahnya ke atas kasur.

“Aish..” dengusnya “Rasanya, aku menaruhnya di dalam tas. Kenapa tiba-tiba hilang?” katanya lagi tanpa berniat menghentikan pencariannya “Aduh.. dimana diary itu?? Eotteohke??” ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri sembari mencoba mengingat tempat terakhir ia melihat benda yang dicarinya itu. Terdengar suara pintu yang berderik saat dibuka. Seorang wanita setengah baya masuk ke dalam kamar.

“Amor-a..” panggil wanita itu. Beberapa saat ia terdiam melihat anaknya yang sibuk sendiri “Apa yang kamu cari sayang?” ia bertanya. Wanita itu duduk ditempat tidur, tak jauh dari tempat Amor mengais-ngais bukunya.

“Anio. Bukan apa-apa” jawab Amor. Ia masih saja terus mencari tanpa memperdulikan keberadaan mamanya.

“Obatnya, sudah diminum?”

Amor terdiam memandangi sejenak

“Ne..” jawab Amor. Nada bicaranya terkesan muak. Ia beranjak dari tempat tidur dan untuk kesekian kalinya ia kembali menyusuri deretan buku yang berjejer rapi di rak buku.

“Amor-a, ada tetangga baru yang menempati rumah di seberang jalan” kata wanita itu “Eomma sudah mengundang keluarga baru itu untuk makan malam dengan kita, hitung-hitung sebagai perkenalan. Jangan lupa untuk turun, ikut makan malam,”

“Eomma,, aku belum mandi” jawab Amor tanpa ekspresi. Ia masih saja terlihat sibuk. Perlahan, wanita itu beranjak.

“Gwaenchana, kamu mandi dulu” kata wanita itu “Jangan lupa makan malamnya” tambahnya lagi sebelum menutup pintu kamar. Gadis itu memandang pintu kamarnya yang telah kembali senyap, matanya yang jernih memandang dengan kosong.

 ~~~~~

Ny. Jung tampak berlari pelan ketika mendengar bel di rumahnya berbunyi. Ia segara membuka pintu. Wajah penuh senyuman menanti dibalik pintu itu.

Tak menunggu lama untuk kedua keluarga itu akrab, mereka sedang berbincang-bincang disalah satu ruangan yang ada di rumah tersebut.

 “Aigo, sungguh tampan” Ny. Jung memandangi dua orang anak laki-laki yang duduk manis. Anak pertama yang meskipun memiliki tinggi badan yang telah melewati Ayahnya, tapi dari wajahnya yang polos menggambarkan keremajaannya. Sedangkan anak yang satunya lagi tampak masih duduk di bangku sekolah dasar, tubuhnya terlihat padat berisi dan menggemaskan.

“Ne, ini anak kami” jawab Ny. Lee “Lalu, bukankah kalian memiliki seorang putri?”

“Ah ne,, sepertinya dia belum turun.” Kata Ny. Jung, matanya terus menatap ke lantai dua “Anak itu memang jarang keluar kamar, terus berdiam diri dalam kamarnya” dia tampak malu mengatakan sifat yang dimiliki anaknya.

Kedua keluarga itu segera menikmati hidangan malam yang telah dipersiapkan oleh Ny. Jung. Sesekali terdengar teguran kecil Ny. Lee kepada putra bungsunya, anak itu memang sangat nakal dan gaduh. Kurang lebih sejam kemudian, mereka kembali melanjutkan obrolan mereka di ruang tamu. Cukup lama obrolan itu, entah berbagai macam hal telah mereka bicarakan. Sementara itu, seseorang tampak terlihat bosan. Sesekali ia ikut-ikutan tertawa walaupun tak begitu menikmati obrolan para orang tua. Ny. Lee tampak menyadari sesuatu, matanya terlihat mengamati sekelilingnya.

“Sungjae-ya..” kata Ny. Lee, ia mencari sosok putra bungsunya yang entah sejak kapan telah raib.

“Waeyo?” Tanya Tn. Lee.

“Sungjae.. Sungjae tak ada?” Ny. Lee balik bertanya “Aigo, kemana anak bandel itu” ia tampak kesal.

“Biarkan saja, namanya juga anak-anak. Dia pasti tak jauh dari sini”

“Anio.. anak itu tidak bisa dibiarkan sendiri. Entah sudah berapa banyak perabot yang rusak dibuatnya” Ny. Lee tampak gusar “Sungmin!!! Cepat cari adikmu!!!” wanita itu memberi perintah kepada putra sulungnya yang langsung menyambut perintah itu tanpa banyak bicara “Jangan lama-lama!!” wanita itu kembali memperingatkan Sungmin.

“Ara” jawab Sungmin, ia terlihat lebih bersemangat. Setidaknya ia bisa menghindari percakapan orang-orang tua yang terasa sangat membosankan dan tidak sesuai dengan seleranya.

Dalam hitungan detik Sungmin sudah berada di lantai dua rumah itu.

“Sungjae-ya..” Sungmin memanggil-manggil adiknya “Sungjae-ya, eodie..??” kata Sungmin, ia mengamati dengan seksama setiap sudut ruangan yang ia lewati.

“Apa mungkin sembunyi di dalam sini ?” Sungmin berdiri di depan ruangan yang pintunya tertutup rapat.

Tertinggal ruangan itu yang belum diperiksa olehnya. Ia masuk ke dalamnya, mengamati ruangan yang ternyata adalah kamar tidur. Kamar yang sangat rapi dengan koleksi buku yang begitu banyak.

Sungmin terkagum-kagum mengamati koleksi buku yang ada mulai dari komik, novel, sastra, ensiklopedi dan masih banyak buku-buku mengenai ilmu pengetahuan, semua koleksi yang termasuk cukup lengkap seperti di perpustakaan.

Tanpa terasa namja itu mulai keasyikan melihat dan membuka buku-buku yang dirasanya menarik, bahkan ia sudah melupakan tugas utamanya untuk mencari adiknya itu. Sesuatu berbunyi, perhatian Sungmin segera teralih.

Seorang gadis baru saja keluar dari sebuah ruangan yang tampaknya adalah kamar mandi. Sungmin terkejut memandangi sosok gadis itu, Amor. Rambutnya masih diselimuti oleh handuk. Tampaknya Amor belum menyadari keberadaan Sungmin di dalam kamarnya.

“Eotteohke?” gumam Sungmin yang mulai gusar.

Amor duduk di depan meja riasnya. Ia terlihat merapikan diri, dan untuk kesekian lamanya, akhirnya Amor melihat dari pantulan cermin riasnya, Sungmin yang masih terpaku kehilangan reaksi.

“Annyeong..” sapa Sungmin, ia tampak gugup dan tak tahu harus berkata apa. Secepat kilat Amor berdiri, ia berbalik kepada Sungmin. Tangannya dengan refleks meraih parfum dan langsung melempar parfum itu sehingga mengenai jidat Sungmin.

“Nugu??” Amor terlihat khawatir “Kenapa kamu bisa masuk ke dalam kamar ini dengan sembarangan?!!”Amor mulai marah.

“Mianhae..” kata Sungmin, menahan rasa sakitnya. Tangannya terus memegangi jidatnya yang memar “Sungmin imnida. Aku tak sengaja masuk ke kamar ini. Aku sedang mencari adikku” kata Sungmin. Amor terdiam, mendadak ia jadi teringat obrolan teman-temannya mengenai sosok yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan oleh cewek-cewek, Sungmin.

“Keluar!!!” ujar Amor dingin “Pergi..!!” Amor siap melayangkan sesuatu yang baru dipegangnya.

“I, iya aku keluar!” Sungmin sesegera mungkin keluar dari kamar. Ia menutup pintu kamar Amor dengan lega.

“Hyung..” Sungmin tersentak kaget mendengar suara Sungjae. Ia menatap anak kecil yang berdiri tepat dihadapannya.

“Kamu rupanya…” Sungmin menarik nafas lega.

“Hyung, apa yang kamu lakukan di dalam sana?” Sungjae bertanya sambil memandang penuh selidik pada pintu yang tertutup itu.

“Mencarimu” ujar Sungmin “Dasar nakal, kemana saja kamu? katanya lagi, ia terlihat sebal mengingat peristiwa yang baru saja menimpanya boleh dibilang akibat ulah adiknya yang tiba-tiba saja menghilang.

“Sebenarnya… Hyung, kau tak sedang mencariku. Iya’kan?”

Kening Sungmin terlihat berkerut, tak mengerti akan maksud ucapan Sungjae yang terus memandanginya dengan penuh kecurigaan

“Hyung, kau pasti sedang menggoda gadis di dalam sana?” lanjut Sungjae. Ucapan Sungjae membuat Sungmin semakin geram.

“YAA!! Lee Sungjae!! Jangan sembarangan” Sungmin menjewer telinga Sungjae “Akan kulaporkan kau pada eomma!!”

“Aaauuuw..!!!” teriak Sungjae meringis kesakitan. Ia segara berlari melepaskan diri dari Sungmin “Weee, Sihreo!! Aku yang akan melaporkanmu pada eomma dan appa, jika hyung mengintipi seorang gadis!!” Sungjae menjulurkan lidah dan langsung berlari meninggalkan Sungmin.

“Aishh,, babo!! Yaa~ anak nakal!!” geram Sungmin, kesal.

@@@

Amor memainkan makanan yang ada di piringnya dengan sendok yang dipegangnya. Ia terlihat tidak berselera untuk menyentuh sarapannya. Amor segera beranjak dari tempat duduk, kedua orang tuanya menatapnya heran.

“Aku pergi..” kata Amor

“Amor-a kamu belum sarapan sama sekali” ujar Ny. Lee khawatir.

“Aku kenyang” jawab Amor cuek

“Kenyang?” Tn. Jung memandangi Amor “Bagaimana mungkin jika makanan itu sama sekali tidak kamu sentuh?” tanyanya heran.

“Appa,, perutku sudah penuh!!” Amor kembali mengulangi perkataannya.

“Lalu, obatnya sudah…”

“Lagi-lagi obat!!” Amor memotong ucapan eomma-nya, ia terlihat sangat kesal. Amor segera meninggalkan kedua orang tuanya yang hanya bisa saling berpandangan, bingung.

 ~~~~~

“Agassi..” supir keluarga Lee terlihat menghampiri Amor yang baru saja keluar dari rumah “Mobilnya sudah siap..” katanya lagi.

“Anio ajeossi. Aku mau naik bus saja..”

“Agassi??”

“Hari ini aku ingin naik bus, jadi tidak usah mengantarku ke sekolah” Amor tersenyum pada Tn. Park, sopir keluarganya.

“Tapi agassi,, saya bisa dimarahi Tuan dan Nyonya..” Tn. Park tampak cemas

“Kenapa semua orang di rumah ini harus selalu mematuhi peraturan!!” Amor mulai dongkol “Ajeossi, tidak usah khawatir, biar aku yang tanggung jawab kalau eomma dan appa memarahimu. Araseo?”

“Ba, baik Agassi..” Tn. Park tidak dapat berbuat apa-apa selain melihat kepergian majikan kecilnya. Amor berjalan menjauhi rumahnya.

Brrmmm… Bbrrrmm..

Suara motor tepat disamping Amor

“Sepertinya kita bersekolah di tempat yang sama..”

Amor menatap Sungmin yang terus mengikutinya dengan motor besar berwarna hitam mengkilat yang dikendarainya.

“Taksi..!!” Amor menyetop taksi yang lewat, lalu segera menaiki taksi itu. Ia mengurungkan niatnya naik bus mengingat namja tetangga barunya yang terus mengikutinya. Sungmin memandangi taksi yang telah menjauh.

@@@

“Nih…” Sungmin menyodorkan minuman dingin pada Ryeowook dan langsung disambutnya dengan sukacita. Sungmin duduk disebelah Ryeowook. Mata Sungmin mengawasi setiap sudut kantin yang belum terlalu ramai “Wookie-ya..” kata Sungmin menyudahi minumannya “Coba tebak siapa yang jadi tetanggaku?” Ryeowook menatap Sungmin, berusaha menebak jalan pikiran Sungmin.

“Song Hye Gyo?” tebak Ryeowook “Mariah Carey??” tebaknya lagi dengan asal-asalan. Sungmin hanya menggeleng-geleng kepala.

“Amor…” jawab Sungmin

“Anak kelas tiga yang aneh itu?” Tanya Ryeowook. Ia tertawa antara takjub dan tak percaya.

“Iya. Aku mengalami kejadian memalukan”

“Jeongmal?” Ryeowook sedikit memajukan tubuhnya. Sungmin langsung memulai ceritanya tentang apa yang terjadi pada dirinya pada saat makan malam di rumah keluarga Jung.

“Jadi, memar dijidat kamu itu akibat lemparan botol parfum?” Ryeowook tertawa terpingkal-pingkal. “Yaa~ Lee Sungmin, tindakanmu sangat konyol” Ryeowook kembali tertawa renyah memamerkan suaranya yang melengking tinggi.

“Ya~ sudah kubilang, aku tidak sengaja.. tidak S-E-N-G-A-J-A..!!!” ulang Sungmin dengan kesal. “Tapi syukurlah yang dipegangnya botol parfum, jika saat itu adalah sebuah pisau maka…” Sungmin tiba-tiba aja merasa seluruh tubuhnya merinding. Ryeowook terus saja tertawa terbahak-bahak, sepertinya ia telah terkena kutukan untuk terus-menerus tertawa.

@@@

Bunyi-bunyi aneh terdengar dari dalam kamar Sungmin. Namja tampan itu tengah mengetik artikel yang akan dimuat di mading edisi minggu depan. Selain aktif sebagai anggota tim basket, Sungmin juga termasuk dalam pengurus mading. Sungmin menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia menatap layar LCD-nya dengan cermat, jangan sampai ada kesalahan dalam penulisan artikel itu.

Pemuda itu berjalan menghampiri jendela kamarnya, matanya tertuju pada jendela kamar di lantai dua pada rumah yang berhadapan langsung dengan rumahnya. Ia terus memperhatikan jendela kamar yang tertutup, sepertinya tidak ada aktivitas yang terjadi di dalamnya.

“Sunyi sekali…” Sungmin bergumam “Menggambarkan watak penghuninya” mata Sungmin tertuju pada beranda yang ada di teras rumah Amor. Ia menangkap sosok Amor yang sedang membaca dengan asyik. Tanpa banyak berpikir, Sungmin segara berlari keluar kamar. Beberapa detik kemudian ia sudah berada di halaman rumahnya. Sungmin maju mendekati pagar, kedua tangannya memegang pagar rumahnya. Ia terus mengawasi Amor yang sepertinya tidak menyadari kalau dirinya sedang diawasi.

“Sunbae…” Sungmin sedikit mengeraskan suaranya agar bisa terdengar sampai di rumah seberang jalan itu. Amor menoleh pada Sungmin “Kamu, masih ingat akukan?” kata Sungmin. Amor menatapnya lagi, pandangannya tampak kesal “Eh tunggu, tunggu.. Yaa.!!!” ujar Sungmin saat melihat Amor masuk ke dalam rumahnya tanpa memperdulikan keberadaan Sungmin.

“Hmm.. kau lagi-lagi menggoda cewek di depan rumah” tanpa disadari Sungjae sudah berada disitu, kedua tangannya memegang robot mainan edisi terbaru. Sungmin menatap Sungjae yang selalu ikut campur dengan urusannya.

“Sok tau!!” kata Sungmin sambil mendorong pelan kepala adiknya, ia lalu kembali ke dalam rumah.

 ~~~~~

Amor kembali melanjutkan bacaannya di dalam kamarnya setelah sempat terganggu dengan kehadiran Sungmin. Amor menghela nafas, pikirannya masih tertuju pada namja yang belakangan ini menjadi tetangga barunya.

 “Amor-a…” Ny. Jung membuka pintu kamar anaknya. Ia menghampiri Amor yang selalu saja asyik dengan buku bacaannya “Kamu sudah makan?” Tanya wanita itu.

“Belum..” jawab Amor pendek.

“Jam segini kamu belum makan?” Ny. Jung terlihat panik. Amor hanya menatap eomma-nya tanpa merasa bersalah “Lalu.. bagaimana dengan obatnya, sudah kamu minum?” Amor diam, ia tak menjawab pertanyaan itu “Amor,, bagaimana kalau nanti kamu…” Ny. Jung terlihat sangat cemas “Ah sudahlah, sebentar lagi appa pulang. Hari ini jadwal check up kamu!!” ujar Ny. Jung. Amor terlihat tenang. Ia hanya menatap wanita itu keluar dari dalam kamar, ia kembali membaca buku.

 @@@

“Baiklah anak-anak..” Kim Seonsaengnim, guru matematika, menatap para siswa setelah ia selesai menulis di papan tulis “Sampai disini materi kita hari ini” ujar Kim Seonsaengnim, seluruh siswa memperlihatkan wajah ceria mereka setelah sempat memudar dalam dua jam terakhir ini selama jam pelajaran Kim Seonsaengnim “Ingat!! Tugas di kumpul selasa depan, tidak ada kata terlambat. Araseo??!!” katanya dengan penuh ketegasan.

“Ne..!!” para siswa tampak kompak menjawab pertanyaan Kim Seonsaengnim.

“Baiklah..” Kim Seonsaengnim segera meninggalkan ruang kelas.

 “Yaa~..” Ryeowook menoleh pada Sungmin “Gwaenchanayo? Dari awal pelajaran kamu tak konsen” tambah Ryeowook lagi.

Sungmin hanya diam, ia terlihat tak bersemangat untuk membalas pertanyaan Ryeowook

“Beruntung Kim Seonsaengnim tidak mencium gelagat anehmu..” Ryeowook menggeleng-geleng penuh keprihatinan “Sebenarnya ada apa?” ia masih begitu penasaran.

“Molla” jawab Sungmin singkat “Aku lagi pusing, sangat pusing..”

“Di lempar pakai apa lagi oleh yeoja aneh itu?” Tanya Ryeowook sambil tertawa.

“YAA!!!..” Sungmin jengkel “Ini karena mading. Aku sudah menyelesaikan artikel yang diminta. Tapi tadi pagi, mendadak Choi Seonsaengnim bilang jika temanya diganti!!” Sungmin mengeluarkan segala uneg-unegnya.

“Sungmin-a, babo..” kata Ryeowook “Kamukan tak harus terpaku dengan satu topik saja. Kamu bisa cari informasi lain. Yaa~ apa gunanya internet? Seperti hidup di zaman Josoen saja,, gaptek!”

Sungmin hanya diam memikirkan ucapan-ucapan Ryeowook. Beberapa lama ia termenung, sampai akhirnya matanya tiba-tiba berbinar-berbinar dan kepalanya terangguk-angguk.

“Aigo uri wookie,, gomawo”

“Mwo?” Sungmin hanya tersenyum, membiarkan Ryeowook hanyut lebih dalam pada rasa penasarannya.

@@@

Amor turun dari mobil. Ia segara memasuki gerbang sekolah dan disambut dengan senyuman ajoessi penjaga gerbang. Amor merasakan sesuatu yang membuatnya risih, sepanjang jalan saat memasuki lingkungan sekolah, siswa-siswi yang berpapasan dengannya selalu memandang kepadanya. Ini aneh, karena sebelumnya tidak pernah ia diperhatikan oleh para siswa bahkan keberadaannya sering tidak dianggap. Amor menatap dirinya dari kaki dan seterusnya, rasanya pun tidak ada yang aneh dengan penampilannya hari ini. Tapi kenapa semua orang terus-terusan menatapnya?

Beberapa meter di depannya, ada segerombolan siswa yang berdesak-desakan mengerumuni mading. Rasa penasaran membawa Amor untuk ikut-ikutan menerobos sekumpulan siswa itu. Alangkah terkejutnya Amor manakala mendapati puisi-puisinya terpajang di mading. Amor segera menjauh, ia masuk ke kelas dengan perasaan yang berantakan.

“Aneh.. bagaimana mungkin puisi-puisi itu bisa ada disitu?” gumam Amor di dalam hati “Atau, jangan-jangan ada yang menemukan diary itu? Ya, aku yakin pasti seseorang telah menemukan diaryku” tebak Amor “Aish, eotteohke? Semua orang sepertinya telah membaca tulisan-tulisanku, nan eotteohke…” batin Amor berkecamuk dasyat “Tapi, tapi siapa? nugu?.. berani-beraninya dia,.. aargh..!!” Amor kesal. Ia berteriak kesal di dalam pikirannya, ia merasa benar-benar telah kehilangan kesabaran dan pikirannya telah buntu.

@@@

Sore hari yang cerah, cuaca yang sangat baik untuk melaksanakan aktivitas. Sungmin berlari pelan keluar dari dalam rumahnya sambil melakukan gerakan senam kecil. Matanya melirik pada rumah di seberang jalan itu. Senyum mekar langsung tersungging dari bibir Sungmin saat melihat Amor sedang menyirami bunga-bunga yang tumbuh di pekarangan rumahnya.

Beberapa saat kemudian, Ny. Lee terlihat keluar dari rumah. Ia membawa sesuatu.

“Eomma, eodiga?” Tanya Sungmin

“Oh mau ke situ” ujar wanita itu sambil menoleh ke arah rumah keluarga Jung “Pamanmu mengirimkan banyak makanan,” lanjutnya lagi.

“Baiklah, serahkan padaku” Kata Sungmin dengan cepat dan langsung merampas bungkusan yang dipegang ibunya. Wanita itu menatap Sungmin dengan heran.

“Wae, tak biasanya kamu seperti ini??” gumam Ny. Lee, Sungmin hanya tersenyum manis pada wanita itu “Geurae, lakukan dengan baik” tambah wanita itu lalu kembali ke dalam rumah.

“Beres!!” teriak Sungmin.

Ia langsung menuju ke rumah Amor. Amor masih asyik menyirami bunga-bunga itu

“Sunbae” sapa Sungmin mencoba sopan pada seniornya. Amor menoleh “Ada titipan” kata Sungmin lagi. Amor segera melepas slang air yang dipegangnya. Ia membuka pintu pagar tanpa banyak bicara.

“Gomawo” jawab Amor dengan ekspresi yang datar “Orangtuaku lagi keluar, nanti kusampaikan” kata Amor menjelaskan.

“Oh, gwaenchana” kata Sungmin “Ya~ mengapa aku jarang melihatmu di sekolah?” Tanya Sungmin.

“Begitu?” Amor balik bertanya. Ia kembali melakukan aktivitasnya semula.

“Nih cewek diajak ngobrol tak ada reaksi?” Sungmin berujar dalam hati “Ah, sudah lihat mading?” Sungmin terdiam, tatapan mata Amor seolah-olah sedang menyuruhnya untuk bungkam.

“Tidak usah dibahas” kata Amor dingin. Sungmin hanya menatapi gadis yang seolah tak menganggap keberadaannya.

@@@

 

Tim basket baru saja menyudahi latihan rutin mereka. Sungmin mengambil botol air minumnya dan langsung membasahi kerongkonganya yang kering. Ia segera duduk di samping Ryeowook yang sedang membetulkan tali sepatunya.

“Ke kelas!” ajak Ryeowook

“Aku akan menyusul..” jawab Sungmin

“Okelah” kata Ryeowook sambil menenteng tas bawaannya “Tapi jangan lama-lama, sebentar lagi pergantian jam pelajaran” tambah Ryeowook sebelum pergi. Sungmin tersenyum simpul.

Sungmin beristirahat hampir seperempat jam dan akhirpun pergi meninggalkan lapangan basket. Suara-suara dan tawa yang tertangkap oleh telinga Sungmin, membuatnya penasaran. Sungmin mengintip tanpa bermaksud apa-apa. Tampak olehnya penjaga sekolah sedang memangkas tanaman hias yang sudah tak beraturan lagi. Pria paruh baya itu tidak sendirian, ia ditemani oleh Amor. Keduanya terlihat asyik bercengkrama, tak jarang tawa berderai dari mulut mereka.

Di sudut lain, Sungmin terpaku. Ia  terkejut dengan perasaan kagum melihat tawa lebar yang menghiasi wajah Amor.

“Siapa sebenarnya kamu?” gumam Sungmin. Ia begitu heran melihat Amor yang terlihat seperti dua orang yang berbeda. Banyak pertanyaan yang telah menumpuk dalam kepalanya.

 ~~~~~

Para siswa berhamburan keluar dari dalam gerbang sekolah karena jam pelajaran telah usai. Amor berdiri di dekat gerbang sekolah, ia sedang menunggu  Tn. Park, supirnya. Awalnya Amor terlihat tenang-tenang saja, tapi lama-kelamaan ia mulai gelisah. Sesekali matanya melirik pada jam tangannya, lima belas menit…tiga puluh menit… bahkan satu jam berlalu tapi jemputan belum juga datang. Sekolah sudah tampak senyap.

Pada saat yang sama, Sungmin keluar dari gerbang sekolah bersama motor besarnya itu. Sungmin berhenti tepat di depan Amor.

“Aku akan mengantarmu” tawar Sungmin.

“Aku sedang menunggu Park ajeossi” tolak Amor mentah-mentah. Matanya tampak tenang, tapi pandangannya terus mengawasi sekitarnya “Waeyo?” Tanya Amor karena Sungmin tak beranjak dari tempat itu.

“Ani, aku sedang menunggu Wookie”

Kedua orang itu terdiam untuk beberapa waktu.

“Ya~ sepertinya Park ajeossi tak datang” Sungmin memecah suasana

“Anio. Dia pasti datang” jawab Amor, namun hatinya mulai was-was.

“Geurae, kita tunggu 15 menit lagi. Jika Park ajeossi tak muncul, pilihanmu adalah ikut denganku” Amor terlihat terkejut “Setuju?” Tanya Sungmin.

“Tapi aku..”

“Oke setuju!!” potong Sungmin, ia tak memberikan kesempatan bagi Amor untuk menolak ajakannya. Amor hanya diam dan berdoa agar sopirnya itu cepat datang.

Sudah 10 menit berlalu, belum juga kelihatan. Amor semakin gelisah, sebaliknya Sungmin terlihat sangat tenang.

“Waktunya habis!” kata Sungmin sambil melirik pada jam tangannya. Ia segera menghidupkan motornya.

“Ya~ bukankah kamu sedang menunggu seseorang?”

“Ani, sepertinya Wookie telah pulang lebih dahulu” Sungmin menarik nafas “Tunggu apa lagi?” Tanya Sungmin

“Aku naik taksi saja!!” kata Amor menolak dan tampak setengah memohon agar tidak dipaksa ikut bersama Sungmin. Sungmin terdiam beberapa saat sambil menatap Amor. Akhirnya Sungmin turun dari motornya..

“Kenapa masih diam?” Sungmin memegang tangan Amor

“Yaa!! Ige mwoya?” Amor tampak ketakutan “Sihreo!!” teriak Amor menolak.

Sungmin mendudukkan Amor di motor. Ia pun segera naik ke motornya dan langsung tancap gas sehingga mau tak mau membuat Amor berpegang pada Sungmin agar tidak terjatuh. Sepanjang perjalanan kedua orang itu hanya diam. Wajah Amor Nampak kesal.

“Yaa!!” gumam Amor “Eodiga?” Amor mendelik, karena Sungmin tak berbelok ke jalan yang seharusnya tapi tetap lurus “Aku mau dibawa kemana? Turunkan aku..” Amor cemas.

“Cerewet…” kata Sungmin

“Sihreo!!” teriak Amor. “Turunkan aku sekarang juga, atau aku akan lompat!!” kata Amor mengancam.

“Lakukanlah!!” kata Sungmin dan langsung menambah kecepatan motornya. Pegangan Amor semakin mengencang.

~~~~~

Deburan ombak berkejar-kejaran dan akhirnya pecah menjadi buih yang memutih. Burung-burungpun berkicau dengan riang di atas ombak. Di pasir putih, Sungmin dan Amor duduk sambil memandangi birunya hamparan laut dihadapan mereka.

“Yaa~ mengapa membawaku ke tempat ini?” Tanya Amor

“Refreshing” jawab Sungmin pendek.

“Aku mau pulang!” Amor baru saja hendak berdiri tapi Sungmin menahan pergelangan tangannya sehingga Amor kembali terduduk.

Sungmin menyodorkan diary mungil berwarna coklat. Amor terkejut melihat benda yang sangat dikenalnya berada di tangan Sungmin. Secepat kilat tangan Amor menyambar diary yang sudah lama hilang itu

“Mianhae” kata Sungmin lagi.

“Mwo,, mworago??” Amor hampir kehilangan kata-kata “Lalu, mading itu? Kamu??” ia memandangi Sungmin, meminta kejelasan.

“Ne” jawab Sungmin tegas.

“KAMU??!!! YAA!! NAPPEUN!!!!” Kemarahan Amor terlihat dengan jelas dari bola matanya yang membelalak “Berani-beraninya.. Dasar kamu orang aneh..” ujar Amor, ia berjalan meninggalkan Sungmin.

Sungmin berlari menyusuli Amor dan langsung menarik pergelangan tangan Amor.

“Kamu yang aneh..!”

Amor terkejut.

“Apa kamu tak sadar kalau orang-orang disekitarmu selalu menganggapmu aneh? Kamu tak punya teman, seorang penyendiri.. semua menjauhimu. Kamu pikir itu karena apa?” Sungmin menatap Amor, pandangan Sungmin terlihat penuh dengan rasa emosi.

“Aku tak butuh semua itu!! Orang seperti aku tidak memerlukan semua hal yang kamu ucapkan!!” tegas Amor.

“Ya~ kamu yeoja egois” ujar Sungmin “Kamu terlalu egois, bahkan terhadap dirimu sendiri. Kamu yang membiarkan dirimu berada diposisi itu, mungkin saja masih ada yang ingin menjadi sahabatmu tapi sikapmu yang memaksa mereka untuk keluar dari lingkunganmu” kata Sungmin lagi “Bahkan kamu sendiri tak sadar akan potensimu, tidakkah kamu tahu betapa banyak yang menyukai puisi buatanmu? Yeoja babo!!!” geram Sungmin.

Amor terdiam untuk sesaat.

“Puisi?” Amor tersenyum sinis pada Sungmin “Kamu bilang itu puisi? Tahu apa kamu tentang aku??”

Tatapan Amor semakin sinis

“Kamu tak usah menjelaskan panjang lebar pendapat orang tentang aku, karena aku tahu siapa aku sebenarnya. Amor yang sebenarnya.. Amor yang tidak membutuhkan orang lain, siapapun itu!!!” kata Amor dengan tegas.

“Amor-a, aku perduli” kata Sungmin, “Aku perduli denganmu. Apa yang salah kalau aku ingin bersahabat denganmu?” Sungmin mengulangi perkataannya. Matanya menatap Amor dengan tatapan yang dingin.

“Ne..” tukas Amor “Semuanya salah, karena pada akhirnya semua itu akan terasa menyakitkan..” jawab Amor.

“Terserah..” tutur Sungmin “Aku tidak perduli apapun alasan kamu. Tapi aku tetap ingin menjadi orang yang ada di dekatmu, aku ingin menjadi orang pertama yang bersahabat denganmu.  Karena aku perduli padamu!” kata Sungmin dengan penuh ketegasan. Amor hanya terdiam mendengar perkataan Sungmin yang begitu tegas, dan terasa sangat tulus.

@@@

“Ya~ Sungmin-a, akhir-akhir ini sepertinya kamu terlihat akrab dengan yeoja aneh itu” kata Ryeowook

“Jeongmal?” Sungmin balik bertanya “Tapi dia benar-benar susah untuk didekati” ujar Sungmin.

“Ya semua yang dilakukan tak selalu berjalan mulus, butuh usaha dan kegigihan!” kata Ryeowook lagi, ia berusaha untuk meyakinkan Sungmin. “Tapi gossip kedekatanmu dengan Amor semakin ramai diperbincangkan”

“Dasar yeoja, selalu jadi biang gossip” gerutu Sungmin.

“Yaa~ kamu masih bisa berkata begitu?” Ryeowook menatap Sungmin dengan sorot mata tak percaya “Sungmin-a, mereka semua patah hati karena berita itu” lanjutnya dengan miris.

“Jeongmal??”

“Aish,, michin” Ryeowook tampak kesal “Tapi kenapa kamu gencar mendekati yeoja itu?” Tanya Ryeowook, ia sangat ingin tahu.

“Molla!”

Jawab Sungmin, tatapan Ryeowook sedang meminta penjelasan yang lebih

“Aku hanya merasa dia itu sangat menarik. Ibaratnya seperti koin, mempunyai dua sisi yang berbeda. Yeoja itu memiliki dua sifat yang sangat bertolak belakang. Dan aku sangat penasaran dengannya”

“Sungmin-a, caramu mendeskripsikannya terdengar seperti Amor mempunyai kepribadian ganda” ujar Ryeowook, Sungmin tersenyum misterius.

“Andwae! Aku sangat yakin, Amor itu tidak seperti yang orang-orang pikirkan. Menurutku dia itu gadis yang menyenangkan dan tentu saja baik hati” tambah Sungmin. Ia tersenyum.

Ryeowook mengibaskan tangannya di wajah Sungmin yang tak berkutik, hanya diam dengan senyumannya yang terlihat aneh.

“Yaa~ Sungmin-a!!?” Sungmin tersentak mendengar teriakan Ryeowook yang mengeras di telinganya “Kau menyukai yeoja aneh itu?” Tanya Ryeowook dengan serius.

“Mwo??” Sungmin kembali terlonjak mendengar pertanyaan Ryeowook. Tapi akhirnya ia hanya terdiam memikirkan ucapan sahabatnya itu. Mungkin saja yang dirasakan itu hanya rasa ‘perduli’ seperti yang dikatakannya pada Amor. Atau, mungkin Ryeowook telah menyadarkannya apa arti dari rasa ‘perduli’ yang dirasakannya itu.

 ~~~~~

Bel istirahat baru saja berbunyi. Sungmin berjalan seorang diri di koridor yang ramai oleh lalu lalang para siswa. Tadinya ia berdua dengan Ryeowook, tapi Ryeowook bertujuan mengembalikan buku di perpustakaan. Pada saat yang sama, anak kelas XII-1 baru saja keluar dari kelas. Mata Sungmin tertuju pada seorang gadis yang juga berjalan seorang diri. Sungmin mengendap-endap dan akhirnya sampai dibelakang gadis itu, Amor. Amor tampaknya tidak menyadari kehadiran Sungmin.

“YAA..!!!!” sapa Sungmin dengan keras sambil menyentuh pundak Amor dari belakang.

Tampak jelas Amor yang tersentak dasyat. Matanya melotot saking kagetnya, mendadak saja sekujur tubuh gadis itu terasa lemas dan akhirnya ia terkulai begitu saja. Sungmin tampak kaget, linglung tak mengerti dengan situasi yang terjadi. Ia mulai ketakutan.

~ to be continue ~

Iklan

40 thoughts on “Seindah Namamu,, Cinta (Part 1 of 3)

  1. lovelyminbi berkata:

    annyeooong…
    i’m new reader in here… kkkk…
    bi imnida.. bangapta.. *perasaan gak ada yang tanya*

    ceritamu keren banget… kkkk… tapi agak loncat ya ceritanya? atau hanya perasaan ku aja? aku suka sama caramu njelasin perkalimatnya. bener deh, keren banget..

    ah, karena belum baca part 2 sama 3nya, jadi tunggu comment dariku lagi ya.. bangapta.. kalo bisa mampir di blogku juga.. 🙂 gomawo..

  2. Vinda berkata:

    Annyeong, aku reader baru dsini. Salam kenal ya ^^

    aaa ini ff ada wookie nya. suka deeh ❤
    lalalaaa~ *loncat ke chapter berikutnya*

  3. Anhkyu berkata:

    whoa kereen thor!!!
    😀
    kyk’a da kjdian yank nybabin amor kek gtu yea thor!!
    pnya kpribadian gnda,,
    ming krank ajar bgeud ngagetin amor mpe pngsan gtu,,
    tuh amor jg lebeh amat,,
    d kgetin gtu doank mpe pngsan..
    yea udh deh q mao bca part 2 dlu,,

  4. Na berkata:

    kek.a alur.a terlalu cepet deh eon… terus jg kek.a bahasa yg di pake itu campuran y? soal.a baku sm tidak baku jd satu. agak aneh aja gt bacanya .__.
    tapi tetep ok kok..Na suka ceritanya. yg td cuma masukan aja loh eon^^

  5. ziana berkata:

    wah lg asyik2nya baca koq malah TBC …….makin penasaran aza,ada apa dgn amor sebnrnya dia sakit ya thor???????

  6. yuri berkata:

    aku suka peran wookie sama sungminnie di ff ini…
    kalau amor nya, aku penasaran banget tor, dia kenapa sih? kog ga mau dekat gitu sama orang”? ada kelainan ya? atau trauma?

  7. inggarkichulsung berkata:

    Amor nya sakit apa ya dan ia sangat penyendiri dan kesepian.. Smg usahanya Sungmin oppa untuk berteman dengannya berhasil.. Aduh Amor nya terkulai lemas kenapa ya..

  8. iebefishy berkata:

    jadi pengen liat jidat sungmin yg benjol kena botol minyak wangi hihihi
    tak lanjut dulu dech 🙂

  9. liza berkata:

    “untung botol parfum bukan pisau” oh wookie kenapa pikirannya hardcore gitu hahaha. betewey ini si Amornya kenapa yaaaa?

  10. shin ji wook berkata:

    Ahh eonni akhirnya aku ketemu ff yg castnya ryeowook oppa, walaupun bukan cast utamanya tp gakpapalah, penasaran sama lanjutannya~

  11. yuni berkata:

    Kayanya amor punya penyakit jantung yah ?? D kagetin langsung lemes gitu …

    Suka sama jalan ceritanya

    Lanjoottt ^^

  12. Mega Hardianty berkata:

    OMG amor kenapa? Kok cuman gara2 kaget bisa langsung pingsan? Apa jangan-jangan dia mengidap pnyakit serius? Hmm, pengen baca next part dulu,:D
    keep writing! Hwaiting!

  13. shatia berkata:

    Sungmin usianya lebih muda dari Amor?! berondong dong..hehehe
    Sebenarnya Amor sakit apa, kenapa harus selalu minum obat, jangan-jangan sikapnya yang aneh hanya untuk menutupi penyakitnya..makin penasaran..

  14. kyureeya berkata:

    Eonnie apakah amor sakit jantung..??
    kyaknya iy,cz dkgetin lgsung pingsan.. #sok tau..hihii
    baiklah kita terbang next story berikutny,,
    #ingin tau ap yang dlakukan lee sungmin
    kajja…kajjaa…

  15. Widya Choi berkata:

    Jiahhh sungmin brondong manis dunk klo gt hihihi. Kykny sungmin sk am amor deh 😉😉..
    Omo itu knp amor? Kok mlah pingsan..

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s