Seindah Namamu,, Cinta (Part 2 of 3)

Cast                    : Jung Amor, Lee Sungmin, Kim Ryeowook

Desclaimer     : FF ini murni buatan saya, say no to plagiat!!!

~~~~~

Sungmin termenung, sedari tadi ia duduk di bangku panjang di halaman rumahnya.. Masih terbayang kejadian siang tadi, sesuatu yang membuat Sungmin terkejut. Saat ia bermaksud mengejutkan Amor tapi justru dialah yang mendapat kejutan hebat ketika Amor jatuh pingsan.

Semakin cemas, ketika kedua orangtua Amor datang ke sekolah dan langsung membawa Amor pulang. Tn dan Ny. Jung, terlihat jelas penuh dengan ketakutan.

“Ini semua salahku” gumam Sungmin dalam hati, ia merasa sangat bersalah “Wae?,  kenapa dia pingsan begitu saja, rasanya aku tak melakukan hal yang buruk. Ani, kecuali penyebabnya karena dikagetkan.. Jinjja-yo?” Perasaan Sungmin tidak tenang, ia benar-benar telah terusik.

Sungmin melirik ke rumah Amor. Rumah itu terlihat sama seperti biasanya, sunyi. Hanya terlihat Park ajeossi yang sedang mencuci mobil. Sungmin segera menghampiri pria yang asyik bersiul pelan itu.

“Ajeossi..” panggil Sungmin

“Ah, sungmin-a” kata lelaki itu “Wae?”

“Sepertinya sepi?” Tanya Sungmin, ia mencoba mengintip ke dalam rumah keluarga Jung.

“Ne,” kata pria itu. “Tuan dan Nyonya serta Agassi sedang ke rumah sakit”

 “Rumah sakit??” Tanya Sungmin “Siapa yang sakit??”

“Itu sudah rutin, check up” ujar Park ajeossi

“Check up, siapa yang sakit??” ulang Sungmin

“Agassi..”

“Amor, wae?”

“Kamu tak tahu jika agassi sedang sakit?” Sungmin hanya menggeleng “Kasihan sekali agassi. Sejak lahir udah mengalami kelainan jantung. Agassi sangat lemah makanya sering sakit-sakitan, sering sekali jatuh pingsan”

“Jadi..” Mendadak rasa bersalah itu semakin dalam merasuki diri Sungmin.

“Tuan dan Nyonya sangat sayang dan selalu melindungi Agassi. Tapi perlindungan mereka itu terlalu berlebihan”

Pria itu terlihat menarik nafas panjang, mengambil jeda dari ceritanya. Wajahnya terlihat sedih.

“Agassi tidak bisa tumbuh seperti gadis normal lainnya. Kegiatannya sangat dibatasi, semua itu dengan alasan kesehatan. Tapi, Agassi sangat tertekan” kisah Park ajeossi “Setiap hari harus minum obat dari dokter dan rutin memeriksa kesehatan ke rumah sakit” Park ajeossi menyudahi ceritanya, ia menggeleng-geleng prihatin. Sungmin terdiam seribu bahasa, pikirannya kembali berkecamuk.

@@@

Duduk termenung, itulah yang akhir-akhir ini dilakukan Sungmin. Memang kepalanya serasa mau pecah karena memikirkan Amor. Belakangan ini banyak kejadian yang membuat Sungmin sedikit merasa bersalah, tapi tak jarang Sungmin tersenyum jika mengingat hal-hal lain tentang yeoja misterius itu.

Sungmin tampaknya tidak menyadarinya bahwa Ryeowook baru saja kembali dari ruang guru. Ryeowook mengamati lekat-lekat sahabatnya yang selalu saja melamun dan tak jarang tersenyum tanpa sebab seperti orang gila.

“Sungmin-a.. Sungmin..” Ryeowook menggeleng kepala sambil berdecak “Sungmin-a, kasihan kamu. Sepertinya telah terinfeksi virus cinta”

Ryeowook tersenyum penuh arti

“LEE SUNGMIN!!” teriak Ryeowook, sontak saja Sungmin terlonjak kaget mendengar teriakan itu.

“YAA!!” Sungmin mengucek-ngucek telinganya yang masih berdengung “MICHIN!!”

Ryeowook yang terkekeh, tampak jelas jika Sungmin hampir kehilangan nyawanya karena lengkingan Ryeowook yang mengalahkan lengkingan delapan oktaf Mariah Carey.

“Omona, uri Sungmin yang malang. Biar aku membantumu, akan kuberikan obat manjur” Ryeowook mengambil posisi tepat dihadapan Sungmin “Kamu pikirkan semuanya dengan baik-baik, jika kamu sudah yakin seratus persen dengan perasaan kamu, secepatnya utarakan supaya kamu tidak menyesal kemudian.. tentunya, jiwamu tidak terganggung seperti saat ini!!”

Sungmin hanya mengangguk-angguk mendengar nasehat Ryeowook

“Jamkkanman,, sebenarnya yang kamu bilang obat manjur itu apa? Lalu,, untuk siapa?” Tanya Sungmin polos.

“Aigo, babo” Ryeowook terlihat kesal, ia menatap Sungmin tak percaya sambil memegangi belakang lehernya yang terasa tegang “Yaa~ molla-yo?? Aku sedang membicarakanmu” kata Ryeowook. Ia beranjak dari kursi dan pergi dari hadapan Sungmin yang sepertinya masih belum connect dengan ucapan Ryeowook.

“Wookie-ya!! Eodieyo??” Sungmin meneriaki Ryeowook yang semakin jauh. Ryeowook tak mengubris teriakan Sungmin “Memangnya, aku sakit apa?” Sungmin bertanya pada dirinya sendiri “Dasar sinting!!” kesal Sungmin.

@@@

Bayang-bayang wajah Amor masih terus bersarang di kepala Sungmin. Sungmin sudah berusaha keras untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapinya itu, tapi ia belum terlalu beruntung. Entahlah, apa yang telah terjadi, tapi wajah Amor masih selalu melintas dalam benaknya.

Di meja makanpun, Sungmin tampak seperti orang ling lung dan hilang ingatan. Kedua orangtuanya hanya saling berpandangan melihat sikap Sungmin yang belakangan ini memburuk.

“Sungmin-a..” Ny. Lee memanggil Sungmin dengan begitu lembut. Ia dan suaminya tak jemu-jemunya saling berpandangan melihat Sungmin yang sama sekali tak bereaksi “Sungmin!!” ulang Ny. Lee, ia sedikit menambahkan volume suaranya.

“Eh, ya.. eomma wae?” Tanya Sungmin, sadar.

“Gwaenchana? Dari tadi melamun terus?”

“Ah, anio” elak Sungmin sambil menyuapi makanan ke dalam mulutnya.

“Eomma, andwae-yo?” Sungjae menatap ibunya yang tak dapat mengartikan pertanyaannya “Hyung sedang memikirkan Amor noona,, sepertinya hyung sedang jatuh cinta..” timpal Sungjae dengan mulut penuh makanan. Sungmin membelalakkan matanya pada Sungjae yang tampak tak perduli.

“Yaa!!, anak kecil!!” Sungmin mendorong kepala adiknya “Tutup mulutmu, dasar dongsaeng kurang ajar!!” geram Sungmin. Kedua orangtua mereka hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya yang menggemaskan.

@@@

“Anak-anak..” Cha seonsaengnim menatap murid-murid XII-1 “Beberapa minggu kedepan akan dilaksanakan lomba apresiasi seni kalangan SMA/sederajat se-korea selatan. Saya sangat berharap kalian bisa mengambil bagian karena sangat berguna bagi pengembangan kalian. Jadi, mulai sekarang kalian dapat mempersiapkan diri” Cha seonsaengnim menyudahi penjelasannya, Ia menatap para siswa yang sedang merundingkan ucapan wanita muda itu “Baiklah, kalian boleh istirahat. Selamat siang!!” ujar Cha seonsaengnim sebelum keluar dari kelas.

Para siswa segera membenahi perlengkapan belajar mereka dan langsung keluar kelas.

Kelas seketika sepi, hanya tersisa beberapa orang termasuk Amor yang masih terlihat sibuk membenahi buku. Amorpun segera meninggalkan ruangan, ia menuju ke tempat favoritnya, taman belakang sekolah.

Gadis itu memang senang sekali menyendiri di taman itu, karena tempatnya yang tak begitu ramai di datangi oleh siswa lain. Ia dapat dengan leluasa melakukan apapun yang dia inginkan tanpa mendapat perhatian berlebihan dari siswa-siswi di sekolah itu, boleh dibilang itu adalah tempat terfavoritnya sekaligus tempat rahasia baginya.

Amor sangat terkonsentrasi dan menikmati buku yang sedang dibacanya. Ya, suasana yang sangat tenang dan sejuk memang memberikan dukungan penuh bagi Amor untuk menikmati hobby-nya itu. Bahkan ia tak menyadari keberadaan Sungmin yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya.

“Sejak kapan kau di situ?” Amor menatap Sungmin sekilas

“Lima menit yang lalu..”

“Waeyo?” Tanya Amor cuek “Apa yang membuatmu ke sini? Rasanya tidak ada yang menarik di tempat ini..” lanjut Amor sambil terus membaca.

“Jeongmal??” Sungmin memperhatikan sekitar situ “Kamu benar, memang tidak ada yang menarik disini” katanya lagi membenarkan ucapan Amor “Lalu, mengapa kamu sering ke tempat ini??” Sungmin membalikkan pertanyaan Amor.

“Sering?” Amor bertanya “Sejak kapan kamu mengintai apa yang selalu aku lakukan?” tanyanya lagi.

“Ani..” jawab Sungmin.

“Di sini sangat tenang. Tidak berisik” kata Amor lagi, karena Sungmin terus menatapnya seolah-olah menunggu penjelasan darinya.

Mereka kembali terdiam, tidak ada topik yang mereka bicarakan lagi. Keduanya sunyi, membisu dan tetap terfokus pada apa yang sedang dikerjakan. Mulut mereka serasa dibungkam. Amor membaca buku dengan tenang dan Sungmin hanya memandang lurus ke depan dengan sorot mata yang menyimpan banyak hal.

“Joh-ahe..” kata Sungmin memecah kesunyian diantara mereka. Raut wajah Amor tampak berubah. Kedua orang itu membisu untuk kesekian lamanya.

“Wae?” Tanya Amor akhirnya dengan ekspresi datarnya itu, ia terus membaca buku.

“Nan joh-ahe..” Sungmin mengulang perkataannya. Amor menoleh pada Sungmin, beberapa saat ia menatap Sungmin yang masih memandang lurus ke depan. Lalu Amor kembali membaca buku yang dipegangnya.

“Berapa umurmu?” Tanya Amor santai

“Ne???” gumam Sungmin tak mengerti

“Kamu tak malu dengan teman-temanmu?” Tanya Amor “Aku dua tahun lebih tua dari kamu. Kau tak buta’kan? Di sekolah ini banyak yeoja cantik yang kata orang, sangat menyukaimu. Yaa~ aku ini sunbaemu” kata Amor lagi. Ia terlihat sibuk membalik lembar-lembar kertas dari buku yang sedang dibacanya.

“Yang aku suka itu kamu” Sungmin menatap Amor “Bukan mereka..!” lanjutnya lagi. Amor menutup buku yang sedang dibacanya.

“Lalu kenapa kamu menyukaiku?” Amor membalas tatapan Sungmin “Hal apa yang kamu temui padaku sehingga membuatmu tertarik?” Tanya Amor lagi “Sepertinya kamu tak cukup bodoh untuk menilai orang. Kamupun tahu apa yang mereka katakan tentang aku. Gadis penyendiri, aneh, tak punya teman, tak suka bergaul.. norak!! Kenapa juga kamu masih bisa menyukai orang seperti aku? Wae??” Tanya Amor santai.

“Karena kamu adalah kamu!!” jawab Sungmin lantang “Aku menyukaimu karena semua sifatmu, aku suka apa adanya kamu. Orang lain bisa berkata apapun tentang kamu tapi aku punya pendapat sendiri” kata Sungmin lagi, ia menatap Amor “Kalau boleh memilih akupun tak ingin menyukai orang dengan sifat seburuk kamu, tapi aku punya hati. Dan hatiku berpendapat lain tentang kamu”

“Lee Sungmin, kamu sadar apa yang kamu katakan?” Tanya Amor, tatapan matanya tampak lain.

“Entahlah, aku justru berharap kamu akan menyadarkanku bahwa yang aku rasakan itu salah” kata Sungmin tegas “Bahwa salah jika Aku menyukai Amor si yeoja penyendiri, yeoja aneh yang tak punya teman, yeoja yang tak suka bergaul,.. bahwa aku menyukaimu itu adalah salah?”

Tatapan Sungmin yang terlihat sangat serius membuat Amor terdiam

“Bagaimanapun caranya atau berulang kali dan sekeras apapun aku berpikir, tetap saja hatiku berkata lain. Aku sungguh menyukai semua yang ada pada dirimu.. semuanya!!”

“Andwae. Kamu tak boleh menyukaiku!!” seru Amor.

“Waeyo?” Tanya Sungmin “Kenapa tak bisa?” ulangnya lagi.

“Kamu akan menyesal, suatu saat nanti..” ujar Amor.

Ada sesuatu yang menyeruak memaksa keluar dari dalam hati Amor

“Kamu tak tahu siapa aku.. tentang aku, kamu tak tahu apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti aku…” kata-kata Amor terputus.

Sungmin sudah terlebih dahulu merangkul pundak Amor dari belakang dengan kedua tangannya.

“Aku tak perduli. Siapa kamu yang sebenarnya… aku tidak perduli jika suatu saat nanti aku akan menyesal, meskipun saat ini aku tak mengerti bagaimana mungkin dan dengan alasan apa kamu mengatakan bahwa aku akan menyesal dengan perasaanku”

Sungmin berkata dengan pelan, hampir seperti berbisik. Terdengar lembut di telinga Amor

“Aku tak perduli dan aku tak mau tahu, karena aku menyukaimu. Aku berharap, aku bisa bersamamu dalam keadaan apapun.. selalu..” ujar Sungmin, suaranya terdengar jelas di telinga Amor.

Gadis itu terdiam. Ia tak dapat berkata apa-apa. Amor hanya diam dan terpaku membiarkan Sungmin memeluknya dari belakang. Keduanya membisu bagai patung, terdiam dengan sesuatu yang ada dibenak masing-masing.

@@@

“Ada apa lagi?” Tanya Ryeowook yang baru saja duduk di samping Sungmin “Menekuk wajahmu seperti itu, bukankah kau baru saja jadian dengan yeoja aneh idamanmu itu?” kata Ryeowook.

Sungmin hanya memamerkan senyuman tipis yang tersungging dari bibirnya.

“Mwo?”

“Wookie-ya!!” Sungmin menatap Ryeowook dengan serius “Kenapa rasanya semua begitu sia-sia??”

“Molla…” Ryeowook menggeleng tak paham.

“Kamu tahukan apa yang aku rasakan terhadap yeoja itu,? Aishh,, ini membuatku sangat frustasi” Sungmin meremas rambutnya kasar “Aneh, aku merasa bertepuk sebelah tangan. Meskipun Amor menanggapiku. Ia sama sekali tidak memperdulikan keberadaanku dan… dan hubungan ini mungkin tidak berarti apa-apa bagi dia.. aku seperti orang bodoh dalam lingkaran setan, tak bisa keluar dari perasaanku” keluh Sungmin

“Ya~ seperti bukan dirimu! Mengapa begitu putus asa?” Ryeowook menepuk pundak Sungmin.

“Anio, gadis itu membuatku patah hati, sangat menyakitkan jika ia tak benar-benar menganggapku ada”

Ryeowook hanya menggeleng prihatin melihat kondisi Sungmin yang memburuk akibat penyakit cinta.

@@@

Amor meletakkan buku di rak. Ia memilih buku yang lain untuk menggantikan buku yang baru saja disimpannya itu. Setelah menemukan buku yang dicari, Amor langsung membuang diri di kasur empuknya. Tak menunggu lama, tangannya langsung membuka halaman buku yang sedang dipegangnya itu.

Cukup lama ia terlena dengan bacaannya itu, hampir setengah jam berlalu. Lalu, ada sesuatu yang lain dirasakan olehnya, perlahan namun pasti rasa yang tak nyaman itu semakin kuat menggerogoti dadanya.

Rasa sakit seperti mengobrak-abrik isi perutnya. Amor dengan segera membuka laci mejanya, tangannya yang mulai gemetaran meraih sebuah botol obat dan langsung menelan beberapa butir obat. Gadis itu tampak menekan kuat dada dan perutnya yang masih terasa perih. Lama kelamaan sakit itu mulai meredah.

Amor memandang botol obat yang telah kosong itu, ia lalu meletakan kembali ke tempat semula. Sakit seperti ini memang sudah sering dialami oleh Amor dan cukup dengan menelan obat-obat itu sakitnya akan hilang. Setelah yakin tak ada yang bermasalah lagi dengan tubuhnya, gadis itu kembali membaca buku yang tadi sempat tertunda.

“Amor-a..” Ny. Jung membuka pintu kamar Amor “Sungmin mencarimu..”

“Ne eomma..” Amor menutup buku dan langsung keluar dari dalam kamar. Ia segera menemui Sungmin yang sedang menunggunya di beranda, di teras rumah Amor. Gadis itu langsung mengambil posisi duduk di sebelah Sungmin

“Chukha-hae..” kata Amor

“Ne?” Sungmin tak paham atas ucapan selamat Amor.

“Bukankah kalian menang tanding basket kemarin?”

“Ah itu.. Gomawo” Sungmin tersipu “Kamu sudah lihat pengumuman di mading?” tanyanya mengalihkan pokok pembicaraan.

Amor menggeleng pelan.

“Perlombaan apresiasi seni..”

“Itu..” kata Amor “Ara. Cha seonsaengnim sudah memberitahukannya pada kami beberapa hari yang lalu..” kata Amor pelan.

“Geurae, kamu ambil bagian?”

“Lomba itu?” Tanya Amor dan hanya dijawab dengan anggukan pendek Sungmin “Andwae..” jawab Amor tak kalah pendeknya.

“Wae?” Sungmin tampak tak mengerti dengan jalan pikiran Amor

“Sihreo..!” jawab Amor enteng.

Sungmin terdiam, ia tak berniat untuk menanyakan lebih lanjut pada Amor karena melihat ekspresi Amor yang sepertinya benar-benar tidak tertarik dengan perlombaan itu.

@@@

Amor berjalan dengan terburu-buru. Seperti biasanya, tangannya tampak memegang beberapa buku yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan. Tanpa sengaja seseorang menabraknya.

“Mian..” kata orang itu lalu pergi. Memang Amor tidak begitu menonjol diantara para siswa sehingga dirinya tak begitu menarik perhatian siswa lain.

Saat melewati lapangan basket, banyak siswa yang berkumpul disekitar situ. Mereka sedang menonton tim basket yang sedang berlatih. Kebanyakan penontonnya para yeoja, entah apa yang membuat mereka begitu ceria dan penuh dengan semangat.

“Oppaaaaa…!!!” teriak cewek-cewek itu

“Sungmin oppa..!!”

Mereka terus saja meneriaki nama Sungmin.

“Omoo.. oppa saranghae..” kata yang lainnya.

Langkah Amor terhenti. Ia melihat ketengah-tengah lapangan. Anak-anak basket sedang berlari-larian mengiring bola. Ya, Sungmin memang terlihat dengan jelas di mata Amor. Sungmin yang berlari mengiringi bola dan menyeringai lebar saat berhasil mencetak angka. Rambutnya telah basah oleh keringat. Tapi entah kenapa, kali ini Sungmin memang tampak mempesona di mata Amor, gadis itu terdiam sambil sesekali mengucek matanya.

“Aigo, sungmin benar-benar tampan!!” Amor menangkap ocehan cewek-cewek yang tadi

“Kenapa dia terlihat begitu bersinar? Semoga sungmin menjadi namja chingu’ku..” katanya dengan genit.

“Jangan mimpi” timpal yang lain

“Iya, cuci mukamu. Sepertinya kamu kehilangan kesadaran” sambung cewek yang lain “Namja setampan Sungmin mana mungkin melirik kita, aku berani taruhan gadis yang dipilihnya itu pasti sangat cantik..” katanya lagi.

“Aish”

“Tapi, banyak yang berkata jika Sungmin sedang dekat dengan Hyo Rin..”

“Hyo Rin?”

“Ne, Song Hyo Rin. Anak X-2”

“Menurutku mereka cocok. Hyo Rin itu cantik. Pasti mereka akan menjadi pasangan yang serasi” kata seseorang memberi komentar

“Aish, nappeun. Aku semakin iri dengan Hyo Rin. Kalau saja Sungmin membuka mata hatinya, dia pasti sadar kalo aku lebih baik dari Hyo Rin”

“Ciihh, mustahil..”

“Omo,, andai aku secantik gadis bernama Hyo Rin itu..”

“Tentu saja bisa”

“Geuraeseo?” gadis itu bertanya penuh semangat.

“Ne, asal kamu mau operasi plastik..” Gadis-gadis itu tertawa cekikikan.

Amor segera menjauh dari kumpulan itu dan tentu saja menjauh dari lapangan basket.

Taman belakang sekolah, tempat satu-satunya yang menjadi tujuan Amor ketika ia ingin menyendiri. Amor duduk ditempat yang biasa di dudukinya, di tangannya telah tersedia buku yang siap diembatnya.

“Aku tak menyangka jika Sungmin sepopuler itu dikalangan para yeoja” bisik Amor “Dasar babo. Tentu saja dia popular”

Amor menertawai kebodohannya yang mempertanyakan kepopuleran Sungmin

“Tapi, mengapa aku?” perasaan bimbang mulai merasuki hati Amor.

 “Jjagi-ya..!!” sapa Sungmin membuyarkan lamunan Amor “Dugaanku tak meleset. Tempat ini benar-benar favoritmu ya?” Sungmin tertawa pelan.

Amor hanya menatap wajah Sungmin yang masih berkeringat. Kostum basket yang dipakainyapun terlihat basah. Sungmin meneguk air mineral yang sedang dipegangnya, sisa airnya ditumpahkan ke wajahnya.

“Ada yang aneh?” Tanya Sungmin karena sadar terus diperhatikan oleh Amor.

“Eh, Anio..” elak Amor. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada buku yang terbuka di pangkuannya “Kamu tahu anak kelas X-2 yang bernama Song Hyo Rin?” Tanya Amor.

“Oh, Ne,. Waeyo?”

“Gadis yang sungguh cantik. Benarkan?” pancing Amor

“Iya” jawab Sungmin singkat. Jawaban Sungmin membuat Amor yakin jika rencananya akan berjalan dengan sukses.

“Gadis cantik itu.. tapi mengapa kamu tidak memacarinya saja?” Tanya Amor. Sungmin tersenyum memandangi Amor

“Karena yang ada di mataku adalah kamu. Hanya kamu yang berada dalam jangkauan pandangan mataku” kata Sungmin sambil terus tersenyum “Jangan berpikir yang bukan-bukan..” Sungmin berdiri, ia lalu mengacak-acak rambut Amor.

Sungmin pergi meninggalkan Amor yang terdiam membisu. Meskipun Sungmin begitu muda, tapi sikap dan pembawaannya yang seperti itu membuatnya tampak lebih dewasa dibandingkan Amor.

@@@

Ny. Jung masuk ke dalam kamar Amor, seperti biasanya ia mendapati Amor yang sedang membaca. Amor menatap sekilas kepada Ibunya yang duduk ditempat tidur.

“Besok kita ke rumah sakit”

“Sihreo! Besok ada kelas tambahan” jawab Amor, ia tetap fokus pada buku bacaannya.

“Amor-a, kamu sudah terlambat beberapa hari dari schedule chek up kamu!”

“Eomma, jangan seperti ini terus!!” Amor menatap Ny. Jung dengan tatapan kesal “Kenapa aku tidak boleh seperti mereka?”

“Sayang… eomma tahu dan mengerti perasaanmu” Ny. Jung terlihat memelas “Tapi mau gimana lagi, kamu tak punya pilihan lain. Kondisi kamu yang membuatmu tidak bisa seperti mereka..”

“Araseo…” ujar Amor dengan malas “Aku tak mau dipaksa ke dokter terus-terusan. Sekali-kali aku ingin melakukan sesuatu yang menjadi pilihanku, bukan pilihan appa dan eomma!!”

“Baiklah” kata Ny. Jung menyerah “Tapi jangan salahkan siapapun jika penyakitmu kumat” ujar Ny. Jung, ia segera beranjak dari kamar Amor “Oh ya, obat kamu??” Tanya Ny. Jung

“Ada…” Jawab Amor malas. Ia menatap mamanya.

Ny. Jung dan akhirnya benar-benar pergi dari kamar Amor. Meninggalkan Amor dengan pikirannya yang terus melayang.

@@@

Pelan-pelan Sungmin membuka pintu kamar Amor yang masih tertutup. Ia menatap seisi kamar yang selalu terlihat rapi. Sungmin hendak mengembalikan buku yang dipinjamnya, Ny. Jung menyuruh Sungmin untuk mengantar langsung ke kamar Amor.

“Amor..” panggil Sungmin pelan “Amor-a…” panggil Sungmin lagi karena tidak ada sahutan “Kemana?” Tanya Sungmin saat melihat kamar Amor yang kosong. Sungmin menoleh pada pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.

“Amor.. kamu disitu?” Sungmin menghampiri kamar mandi dengan hati-hati, tetapi tidak terdengar ada tanda-tanda kalau seseorang sedang berada di dalam situ. Cukup lama ia berdiri di depan pintu kamar mandi, karena tak ada sahutan akhirnya ia memilih untuk mengintip ke dalam kamar mandi.

“AMOOR..!!!” pekik Sungmin. Ia mendapati Amor terkulai lemas di dalam kamar mandi, seluruh tubuh dan pakaiannya basah kuyup karena air yang dibiarkan mengalir.

“Amor!!” Sungmin terlihat ketakutan, ia menyeka darah yang keluar dari hidung Amor. Di sela-sela bibirnya pun ada darah, denyut nadi Amor sangat lemah “Amor.. apa yang terjadi???” Sungmin benar-benar panik, ia segera membopong tubuh Amor yang begitu lemah.

~~~~~

Sungmin terlihat gelisah di depan sebuah ruangan di dalam rumah sakit. Mimik wajahnya jelas-jelas menunjukkan rasa cemas yang luar biasa. Bahkan tangannya masih menggenggam novel yang diambilnya di rak buku sebelum ia menemukan Amor dalam keadaan tak sadarkan diri.

Pemuda tampan itu baru menyadari ada secarik kertas yang menyembul dari balik halaman-halaman novel yang dipegangnya. Merasa penasaran, pemuda itu segera menarik kertas itu. Lalu membuka kertas yang terlipat rapi, dengan perlahan ia duduk di kursi yang tersedia di sekitar situ.

Dunia ini begitu indah

Sekiranya itulah kata mereka

Apa baiknya dunia yang indah ini bagiku?

Jika itu hanyalah menjadi milik mereka

Aku bosan… aku lelah

Lelah tinggal di dunia terasing

Sayap ini telah patah,

Terbang mencari dunia yang kuinginkan

Terus mencari… tapi tak kunjung kutemukan

Aku iri dengan pipit-pipit itu

Ingin rasanya aku bebas seperti mereka

Riang beterbangan di birunya langit

Meskipun sayap-sayap ini telah remuk

Meskipun pada akhirnya aku harus mengorbankan segalanya

Yang paling berharga sekalipun… aku rela…

Ada sesuatu yang tiba-tiba mengusik hati Sungmin ketika menyudahi membaca coret-coret milik Amor. Perasaan itu bercampur aduk menjadi satu.

“Apa semua ini…?” ketakutan berkecamuk dalam diri Sungmin “Andwae!! Tidak mungkin Amor akan senekat itu.. ini pasti hanya perasaanku saja” Sungmin membuang jauh hal-hal yang membuat pikirannya semakin tak tentram.

Bersamaan dengan itu, seorang dokter baru saja keluar dari ruang tempat Amor mendapat tindakan lanjut.

“Dokter!!” Mereka menghampiri dokter “Dokter… bagaimana kondisi anak kami. Dia akan baik-baik sajakan Dok?” Tanya Tn. Jung.

“Sebaiknya kita berbicara di ruangan saya..” ajak dokter. Kedua orangtua Amor mengikuti Pak Dokter dengan cemas. Mereka sampai di sebuah ruangan

“Silahkan duduk..”

“Gamsahamnida!”

“Saat ini pasien sudah mulai stabil. Kalau saja dia tidak segera dilarikan ke rumah sakit, nyawanya akan sangat terancam” ujar dokter “Sebenarnya, keadaan pasien menurun drastis. Kondisinya memburuk..”

“Apa maksud dokter?”

“Apa yang terjadi?” dokter balik bertanya “Kenapa pasien tidak lagi mengkonsumsi obat-obat itu?”

“Amor rutin meminum obatnya”

“Sebenarnya, pasien bisa separah ini karena dalam waktu yang cukup lama tidak mengkonsumsi obat itu lagi” kata dokter “Seharusnya dia tahu seberapa pentingnya obat itu bagi kesehatannya. Dan kalau sampai dia mengacuhkan semua itu, dapat dipastikan hanya ada satu kesimpulan..”

“Mworago?”

“Dia—sengaja tidak meminum obat itu lagi…”

“Maksud dokter?”

“Kalian tahu sendiri kemungkinan terburuknya, dan saya rasa nona Amorpun sangat mengerti dengan kondisi tubuhnya. Jadi, ini merupakan sebuah keteledoran yang memang disengaja olehnya..”

Kedua orang tua Amor sangat terkejut mendengar perkataan dokter. Ny. Jung kembali berlinang air mata tak menyangka putrinya nekat ingin mengakhiri penderitaannya itu. Sungmin yang diam-diam menguping pembicaraan merekapun tak kalah syok, ia hanya bisa diam.. kepalanya menggeleng tak percaya.

~~~~~

“Sungmin..” Ny. Jung menoleh pada Sungmin yang baru saja masuk ke dalam ruangan tempat Amor di rawat “Ayo, silahkan masuk..” katanya

“Ne ajumma..”

Ny. Jung menyuapi makanan ke mulut Amor. Wajah Amor masih terlihat pucat, tubuhnya pun masih sangat lemah.

“Eomma..” Amor menggeleng saat Ny. Jung hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

“Ajumma…” panggil Sungmin pelan “Sebaiknya istirahat dulu, ajumma tampak letih sekali..”

“Gwaenchana sungmin-a..”

“Biar saya yang menjaga Amor di sini..”

“Hmm,, eotteohke?” Ny. Jung sedikit ragu “Baiklah” katanya lagi menyetujui tawaran Sungmin. “Eomma tinggal dulu ya?” Amor mengangguk pelan “Maaf jadi merepotkan kamu lagi..” kata Ny. Jung sebelum pergi

“Gwaenchana..”

Sepeninggal Ny. Jung..

“Bagaimana perasaanmu?” Tanya Sungmin.

“Lumayan”

“Mau minum?” Tanya Sungmin lagi. Amor menggeleng. Mereka terdiam “Sebenarnya, apa yang ada dipikiranmu..?” suara Sungmin sedikit berubah

“Mwo?” Tanya Amor tak mengerti

“Aku kecewa padamu” Amor menatap Sungmin penuh tanya “Kamu sengaja melakukan semua ini..” kata Sungmin lagi.

“Sengaja??” Tanya Amor sinis “Ige mwoya?” tanyanya lagi, wajahnya begitu dingin.

“Obat itu” jawab Sungmin “Obat itu sudah lama habis. Seharusnya kamu terus mengkonsumsi obat itu, tapi kamu sengaja mendiamkannya bahkan dari kedua orangtuamu”

“Kamu tahu rupanya..” Amor tersenyum kecut “Mungkin saja dengan habisnya obat itu, semua juga selesai..”

“Yaa!! Jung Amor!! Aku tak menyangka kamu punya pikiran sepicik itu!!” Sungmin memandangi Amor

“Terserah apa mau kamu katakan. Tapi itu lebih baik bagiku” kilah Amor “Sudah kukatakan, kamu tak tahu apapun tentang aku” sindir Amor

“Aku tahu!!” ujar Sungmin lantang “Semuanya tentang kamu. Termasuk tentang penyakitmu. Bagaimana mungkin aku tidak tahu tentang kamu jika yang ada di kepalaku hanya kamu” kata Sungmin.

Amor terdiam.

“Hanya itu?” Tanya Amor, segaris senyuman terlihat di bibirnya yang begitu pucat “Aku tidak akan mudah menyerah jika hanya karena jantung sialan ini!! Ah, sudahlah… nan gwaenchana.  Kamu memang tidak mengenalku dengan baik. Jangan terlalu memaksakan dirimu, akhirnya kamu yang akan tersakiti..” kata Amor pelan.

“Terserah!!” kata Sungmin “Tapi kamu benar-benar egois. Kamu hanya sibuk memikirkan dirimu sendiri, memikirkan penderitaanmu sedangkan orang-orang di sekitarmu tak kau perdulikan..”

“Eomma?? Appa???” Tanya Amor “Bagi mereka, aku hanyalah boneka yang seenaknya saja melakukan apapun yang mereka inginkan, tanpa ada kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Apa artinya aku bagi mereka?? Nothing!!” Amor mulai emosi.

“Lalu bagaimana dengan aku?” Tanya Sungmin.

Amor menatap mata Sungmin yang terlihat sedih

“Apa aku sebegitu tak berartinya di matamu?” tanyanya lagi, Amor memalingkan wajah. Ia tak sanggup menatap mata Sungmin “Tak tahukah kamu seberapa takutnya aku ketika menemukanmu pingsan? Aku benar-benar takut jika kamu tiba-tiba pergi. Apa kamu masih tak yakin padaku? betapa aku sangat menyayangimu. Aku hampir gila jika memikirkan semua ini..” Sungmin mengeluarkan semua uneg-uneg yang ditimbun dalam hatinya.

“Sungmin-a..” ada sesuatu yang mengiris-ngiris di hati Amor, hatinya terasa pedih. Air mata mengalir dari bola mata Amor.

“Dunia ini tak sekejam dugaanmu. Kalau kamu menyadarinya, ada hal indah yang patut kamu perjuangkan. Cinta dari semua orang yang benar-benar menyayangimu.. kamu masih ingatkan? Ajeossi penjaga gerbang, ajumma pemilik warung ramyeon, mereka selalu menanyakan keadaanmu”

Sungmin menarik nafas panjang

“Selama ini tanganku telah terulur bagimu tapi kamu yang enggan meraihnya.. makanya kamu bisa jatuh, seperti saat ini” kata Sungmin pelan, ia menatap Amor dengan lembut.

“Mian.. mianhae” hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulut Amor. Sungmin memeluk Amor dengan penuh kasih sayang membuat Amor merasa lebih nyaman di dalam pelukannya.

@@@

Hari pertama Amor kembali ke sekolah setelah sempat terbaring lemah di rumah sakit selama seminggu. Kelas yang hiruk pikuk sepeninggal guru. Semua murid langsung melepas rasa jenuh mereka.

“Eh.. ada gossip baru!” seorang yeoja menghampiri kumpulan yeoja lainnya yang terlihat asyik bercerita, mereka duduk tak jauh dari tempat Amor sehingga Amor cukup jelas mendengar pembicaraan mereka.

“Gosip apa?”

“Min Ji, anak kelas XII-3.. kudengar dia berpacaran dengan hobae’nya di klub drama”

“Jinjayo??”

“Ne, dia memacari anak tingkat dua”

“Sepertinya fenomena pacaran dengan namja yang lebih muda sedang trend”

“Bagiku terasa aneh.. bukannya dimanja-manja tapi malah seperti lagi menjaga adik…”

“Buatku itu bukan masalah” ujar seorang lagi “Kalau cinta sudah bicara, kalian bisa apa? Kalian pasti sering dengarkan kata ‘cinta itu buta’.. artinya cinta itu tidak mengenal perbedaan..termasuk umur” kata gadis itu dengan berapi-api

“Aku setuju. Ada yang bersuami  yang 20 tahun lebih muda darinya” kata seorang lagi menyetujui pendapat temannya “Trus apa masalahnya kalau Cuma beda 2 atau 5 tahun? Bereskan?”

“Tidak untukku!!”

“Kamu benar” katanya “Tapi aku mengerti perasaanmu, sebagai anak tertua kamu pasti sudah bosan menjaga adik-adikmu.. lalu jika kamu memiliki pacar yang lebih muda, bisa disangka kamu sedang menjaga adikmu juga.. iya’kan?”

“YAA!!!!”

Siswi-siswi itu tertawa terbahak-bahak melihat wajah seorang diantara mereka mulai memerah. Di sudut lain, percakapan telah mengusik hati Amor, ia kembali merasa minder, minder akan kebersamaannya dengan Sungmin.

Amor terkejut melihat kemunculan Sungmin di kelasnya. Kontan saja, kedatangan Sungmin langsung menarik perhatian teman-teman sekelas Amor. Sungmin berjalan menghampiri tempat Amor duduk. Ia meletakkan sebuah novel di atas meja Amor.

“Ini..??” Amor memandangi Sungmin, meminta penjelasan darinya.

“Novel terbaru” ujar Sungmin “Aku yakin, novel ini belum ada di koleksi bukumu”

Amor memandangi novel yang baru saja dibawa Sungmin, ada segaris senyum di bibirnya mengingat itu memang novel terbaru dengan limited edition. Tiba-tiba saja Amor sadar jika beberapa pasang mata yang ada di kelas masih tetap mengawasinya dan Sungmin. Tatapan mereka yang seolah ingin tahu dan  mereka saling berbisik-bisik membuat Amor gerah dan risih.

Amor semakin salah tingkah ketika wajah Sungmin dengan perlahan namun pasti mendekati wajahnya. Apalagi melihat ekspresi teman-teman sekelasnya yang langsung berubah drastis.

“Ini hadiah untukmu..” Sungmin berbisik pelan di telinga Amor, ia begitu dekat sampai-sampai nafasnya terasa di kulit Amor.

Ia tersenyum manis sambil menatap mata Amor, Amor langsung memalingkan wajahnya. Sungmin akhirnya pergi meninggalkan Amor dan tentu saja mata-mata yang penuh dengan rasa penasaran.

“Bukankah itu Sungmin?” ujar seseorang membuka keheningan

“Ya~ apa hubungan kalian?” Tanya yang lainnya juga

“Ani..” elak Amor “Dia, seorang chingu..” kata Amor dengan gugup.

“Benarkah? Semesra itu??” mereka memandangi Amor dengan sinis.

 “Kami hanya bertetangga..” kata Amor. Tak tahan dengan perlakuan teman-teman sekelasnya, gadis itu langsung berlari meninggalkan ruang kelas yang telah penuh oleh suara tawa.

~ to be continue ~

Iklan

22 thoughts on “Seindah Namamu,, Cinta (Part 2 of 3)

  1. lovelyminbi berkata:

    uwooh… saya kembali…
    mianhhae sbelumnya.. entah kenapa waktu baca part 2 ini yang terlintas ‘sungmin’ itu bukan sungmin.. tapi donghae.. *padahal biasku sungmin*
    wkwkwk…

    ceritanya bagus.. seneng bacanya.. berasa baca novel yang udah di bukuin.. hanyut banget.. hahaha.. *lebay mulai*
    mianhae.. ya…

  2. Anhkyu berkata:

    whoa yank udh jdian tuuuhh,,,
    😀
    gg nyngka s amor nekat bgeud deh,,
    ksian tuh umin’a,,
    brncana buat bnuh dri gge,,
    ckckck
    amor malu2 kcing tuh,,
    aq fkir tmend2 amor bkal mrah gtu ma amor,, gra2 dket ma umin thor,. eeeh gg tau nya mlah d ktwain,
    🙂
    ending nya bkal sad or hppy yea??
    mmpunk udh pnsaran q mau lnjt dlu deh,,
    🙂

  3. inggarkichulsung berkata:

    Ommo Amor sakit kelainan jantung, Sungmin oppa kaget banget pas menemukan Amor pingsan di kamar mandi.. Smg Amor nya tdk minder berpacaran dgn Sungmin dan bs menerima nya apa adanya krn Sungmin oppa begitu mencintainya.. So sweet

  4. iebefishy berkata:

    jangan menyerah minppa,,, lanjutkan 🙂
    amor tak ush minder kan cinta itu buta jadi butuh mata hati buat ngelliatnya *loch 🙂

  5. mimi berkata:

    dah bc dr part 1
    mf br bs smpt coment part 2
    mmmm setuju ma yg d katakan umin waktu d rumah sakit .. .
    menyentuh bgt. .

  6. neezhaa berkata:

    Aduuch amora ayo cumungut kakaks..hehe
    tnang ad minnie oppa eoh…jngn putus asa memang terkadang perlakuan dunia terasa kejam..hahaha *plakk mlah curhat..

  7. Gina berkata:

    Dasar cwe tukang gosip, huh sebel.
    Amor jgn minder, seharusnya kamu bangga bisa dapetin sungmin. Aq jg mw. Hehe

  8. yuni berkata:

    Semangat sungmin untuk meyakinnkan amor kalw cintamu tulus kepadanya (9’̀⌣’́)9 #ahayy bahasanya

    Untuk Amor jangan minder dong … ^^

  9. Widya Choi berkata:

    Ksian amor dy ngidap pnykit jntung.. pntes aj dy pingsan pas d kagetin sungmin. Tp knp dy g ma minum obat2ny. Ap amor udh pesimis am ksembuhanny.
    Ayo sungmin prjuangkn cintamu. Yakin kn amor..
    Toh klo cinta kan emg g knal usia..yg pnting kalian yg mnjalani bukan org lain. Jd g ush dgrin ap kt tetangga 😄😄

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s