I Hate You, But I bla bla bla (1 of 2)

Main Cast       : Cho Kyuhyun (Suju), Song Nara (Fiction)

-> FF ini murni buatan saya, say no to plagiat!!!

~~~~

Gomawo, hari ini aku masih bisa menikmati pagi yang cerah. Namaku Song Nara. Baru beberapa bulan aku menjadi murid di SMA bergengsi ini, yup, aku murid di tingkat pertama. Aku hanya memandangi aktivitas siswa-siswi di kelasku, sampai akhirnya segerombolan siswi terlihat kasak-kusuk di depan kelasku. Mata mereka tertuju ke arah yang sama, entah apa yang telah menarik perhatian mereka. Ekspresi yang seperti itu, dengan senyuman dan pipi yang merona.. entahlah, aku mulai penasaran.

“Minji-ya, ada apa?”

Aku menatap sahabatku, Minji. Dia baru saja masuk ke dalam kelas.

“Para Sunbae yang…”

“Berkelahi??” aku memotong perkataan Minji sebelum ia sempat menyelesaikannya.

“Anio” jawab Minji Singkat “Mereka baru saja melewati kelas kita” katanya lagi.

Minji menatapku, ia merasakan kebingunganku. Untuk apa harus bertingkah seheboh itu, pikirku.

“Diantara mereka ada Kyuhyun oppa…” Minji tersenyum genit.

“Ya! Bertingkah seperti itu hanya karena namja itu?” tak masuk akal, aku terus saja bergumam.

“Aigo Nara-ya, aku rasa kau tahu siapa Cho Kyuhyun itu?”

Minji menerjangku dengan tatapan heran—menuntut pengakuan dariku, tentang namja bernama Cho Kyuhyun. Aku hanya mendengus pelan.

“Omo~ Nara-ya! Cho Kyuhyun, ketua Osis kita. Popular, kaya, sangat pintar dan tentunya—sangat tampan” Minji sepertinya tak puas dengan reaksiku. Dia memutuskan untuk mendeskripsikan namja itu sedikit lebih detail padaku.

“Ara” malas sekali mendengar celoteh Minji “Kau tak usah menjelaskan panjang lebar padaku. Tentu saja aku sedikit tahu tentang evil, ehm maksudku namja sombong itu”

“YA! Song Nara!!”

Aku menutup kupingku mendengar teriakan Minji. Tampaknya ia tak terima atas ucapanku barusan.

“Kau berani berkata seperti itu untuk Kyu oppa yang tampan dan sempurna??”

“Mwo?? Sempurna??” aku kembali mendengus, membuang tatapanku “Minji-ya, sebaiknya periksakan dirimu ke psikiater” tatapanku beralih padanya.

Minji hanya mengigit bibir bawahnya, kesal melihat tingkahku. Aku melipat kedua tanganku, tak kubiarkan Minji untuk melakukan pembelaan pada stupid namja itu. Apa-apaan dia? Sempurna? Aish, pantas saja dia bisa sesombong itu karena pengagumnya yang memujinya dengan brutal dan tak masuk akal—termasuk sahabatku, Minji yang malang.

~~~~~

Cho Kyuhyun. Mendengar nama itu, hanya ada ratusan dan mungkin ribuan keburukan yang terlintas dalam pikiranku. Aku sangat membenci sunbae kami yang bernama Cho Kyuhyun itu. Well, tak bisa kupungkiri jika dia itu memiliki wajah yang tampan, basic keluarga yang sangat baik—keluarganya sangat kaya raya, semua yang ada padanya, daya tarik fisik mampu membuat para yeoja memujanya sekaligus membuat namja lain iri padanya.

Awalnya ketika baru terdaftar sebagai murid sekolah ini, akupun sangat mengagumi namja itu. Kekaguman itu tak bertahan lama, berubah 180º dan aku menjadi satu-satunya siswi berlabel ANTI Cho Kyuhyun.

Flash Back…

“Siapa namamu?”

Senior tampan itu, Cho Kyuhyun. Dia menatapku tajam.

“Nara, Song Nara..” aku dapat merasakan kegugupan dari suaraku.

Rasanya aku tak sanggup mengangkat beban kepalaku. Selain karena terus dihujani tatapan tajam Kyuhyun, ada ratusan mata yang juga tengah menatap ke arahku. Ya! Ini hari terakhir Ospek dan aku membuat kesalahan dengan datang terlambat. Kini aku hanya bisa merutuki diriku yang berdiri di hadapan ratusan siswa peserta ospek yang berbaris rapi di lapangan sekolah dan tentunya di hadapan para sunbae—panitia ospek.

Tapi ini bukan kesalahan yang aku sengaja, bagaimanapun mereka harus tahu alasan keterlambatanku. Di saat Appa harus mendapat tugas keluar kota, Eomma tiba-tiba jatuh sakit dan aku harus mengurus adikku, Hana.

“Ternyata kau punya nama juga…” Kyuhyun menatapku aneh.

“Sunbaenim, sebenarku aku…”

“Diam kau!!” aku sangat terkejut ketika Kyuhyun menghardikku kasar “…bebek jelek…”

Aku dibuat lebih terkejut ketika mendengar kata-kata yang menyakitkan itu. Bebek jelek? Benarkah kau menyebut itu padaku? Tak sadar, aku terus menatapnya, rasanya tak percaya jika kata-kata kasar itu keluar dari mulut orang setampan Kyuhyun.

Dia berjalan memutariku, menatapku dari ujung rambut hingga ujung kakiku. Gugup bercampur syok yang aku rasa. Tatapan matanya yang dingin dan—aneh, membuat tubuhku serasa mengecil. Langkah kakinya terhenti, ia berdiri tepat di sampingku, matanya menatap seluruh murid baru yang berbaris di hadapan kami.

“Kalian. Kuberitahu satu hal—berapa kali harus kukatakan jika aku sangat membenci orang-orang yang tidak disiplin!”

Aku tertunduk ketika tatapannya tertuju kepadaku. Aku akui, aku salah tapi ini bukan sesuatu yang dengan sengaja kulakukan.

“Jangan berpikir kalian bisa seenaknya, sekolah sangat tidak mentolerir ketidakdisiplinan” suara namja itu terdengar lantang dan tegas “dan—akupun tidak dapat mentolerir hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh bebek jelek ini”

Mendengarnya mengulangi kata itu membuat hatiku perih, dadaku mulai penuh. Aku memang tak secantik gadis-gadis lain tapi bukan berarti kau dapat mengataiku begitu. Bebek jelek? Bahkan Eomma dan Appa tak pernah melakukannya padaku.

“Kau,, bebek jelek..”

Dia menatapku tajam. Tolong, tolong hentikan perkataan itu. Aku rasa itu sangat keterlaluan jika pemicunya adalah keterlambatanku, kau tidak berhak melakukan itu padaku. Tolong jangan permalukan aku di depan semua orang, aku tak ingin awal hariku di sekolah ini menjadi hal yang paling kubenci—aku terus berbisik, setengah berdoa di dalam hati. Tolong jangan membuatku menggila karena kau tak tahu siluman apa yang bersemayan dalam diriku.

“Aku benci gadis bodoh sepertimu”

Huuhh? Gadis bodoh?? Yaa! kau bahkan belum mengenalku, bagaimana mungkin kau mengataiku bodoh? Aku tahu kau pintar tapi seharusnya kau tahu bahwa tak satu orangpun bisa melengserku dari posisi pertama, sejak TK hingga saat ini. Bahkan mungkin saja aku lebih darimu. Rasanya aku mulai tak menyukaimu, Cho Kyuhyun.

“Kau, bebek jelek. Apa saja isi kepalamu??” dia mulai mendorong-dorong kepalaku dengan telunjuknya. Dadaku semakin sesak, “..mengapa kau datang terlambat? Ah, tentu saja—gadis sepertimu hanya menghabiskan malam dengan menelepon kekasihmu.. bebek jelek, kau harus ingat ini, orang-orang type sepertimu adalah orang-orang yang tak berguna…” telunjuknya tak henti-hentinya mendorong pelan kepalaku. Aku tak tahan lagi…

PPLLAAAKKK..!!!!!

Semua orang tak bergeming. Cho Kyuhyun mematung, ia lalu memegangi pipinya yang merah karena tamparan kerasku. Matanya yang tajam menatapku dengan berkilat-kilat. Aku tak perduli lagi. Aku benar-benar telah membencimu. Nafasku memburu, semua yang kutahan meledak begitu saja.

“Yaa~ siapa kau??” giliranku yang menatapnya, aku tak dapat mengedipkan mataku. Aku sudah terlalu emosi  “Bebek jelek… gadis bodoh.. hhuuhh”

Aku tersenyum tipis, mendengus sesaat sambil membuang wajahku. Lalu kembali kuselidiki wajah namja bermulut bahkan berhati iblis itu.

“Apa kau mengenalku? Anio. Yaa! Nappeun. Bagaimana kau bisa mengatakan semua itu padaku? Sangat jelas, jika kau tak berpikir sama sekali—tentu saja, stupid..”

Aku membalikkan perlakuannya, kuketuk-ketuk telunjukku di dahinya. Aku dapat melihatnya yang mematung dengan bola mata yang kian melebar menatapku. Juga semua yang menyaksikan kami tak bergeming.

“Aigo~ kau memiliki wajah yang sangat tampan…” kudekatkan wajahku ke wajahnya, menatapnya sangat lekat. Aku tahu dia terkejut dan mungkin saja marah. Aku bisa merasakan keterkejutannya ketika kujepit bibirnya dengan tanganku, sedikit meramas—maksudku meramas bibir namja itu sedikit lebih keras “..kau harus menyekolahkan mulutmu, sangat tak imbang dengan wajahmu yang tampan. Sayang sekali…”

Aku membuang senyuman termanis yang pernah kumiliki pada namja sialan itu. Aku mengebas kedua tanganku dan berpaling meninggalkannya yang mematung dan semua saksi mata yang ikut mematung.

Tiba-tiba saja Kyuhyun menghentikanku dengan memegangi pergelangan tanganku. Dia menarikku kasar dan detik selanjutnya, aku dibuatnya tak bergeming ketika dia menyentuh bibirku, melumatnya pelan. Seperti mimpi ketika mendapati diriku dicium oleh seniorku yang kejam, Cho Kyuhyun, dihadapan ratusan pasang mata.

Seluruh tenagaku hilang, bahkan aku tak mampu untuk mendorong tubuhnya. Tubuhku terasa lemas. Aku syok stadium akhir. Setelah puas menciumku menyiksaku, Kyuhyun menghentikan aksinya.

“Itu,, caraku menyekolahkan mulutku…” ia berkata gamblang, memamerkan evil smirk-nya.

Mendadak mataku serasa berkabut, lemas, aku menguatkan diriku sendiri agar tak ambruk hanya untuk menambah daftar memalukan hari ini. Sifatnya melebihi evil manapun, dia bahkan masih bisa memamerkan senyum menyebalkannya itu setelah…setelah merampas ciuman pertamaku yang sangat berharga. Andwae!!!

PLLAAAKKK!!!

Tamparan kedua kembali kulayangkan ke wajahnya sebelum akhirnya berlari meninggalkan tempat itu.

Flash Back End

#####

Sore ini hujan turun lagi, sialnya aku keluar tanpa payung. Aku hanya berdiri di emperan sebuah toko buku menunggu hujan mereda. Hana, adikku—karena dialah aku harus berada di tempat ini disaat seharusnya aku sedang menikmati coklat panas, menghangati tubuhku. Ya, aku harus membeli sebuah buku untuk Hana, tepatnya komik bergambar. Hana pandai sekali mencari alasan, merengek dan memaksa Eomma untuk menyuruhku melakukan keinginannya.

Hujan sepertinya tak akan berhenti dalam waktu dekat, jika menunggu hingga benar-benar reda, aku rasa akan kemalaman sampai di rumah. Setelah membulatkan tekad, aku segera berlari meninggalkan emperan toko tempat berteduhku.

Jarak rumahku tak begitu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki tapi jika kulakukan dalam kondisi sekarang—rasanya tak mungkin, aku tak ingin mempersulit keadaan dengan membuat diriku sakit karena kehujanan. Aku berlari menuju halte bus terdekat.

Byuuurrr….

“Aaaahhh!!!”

Sebuah mobil mewah berwarna biru metalik melintas dengan kecepatan tinggi, mencipratkan genangan air padaku.

“Yaaaa!!!!” teriakku. Tampaknya pengemudi mobil tersebut menyadari kesalahannya, ia menghentikan laju mobilnya itu. Segera kuhampiri mobil sial yang membuatku basah kuyup. Kugedor-gedor kasar kaca mobilnya, tak perduli jika pada akhirnya akan retak atau pecah. Aku terlajur emosi.

“Yaa!! Turunkan kaca mobilmu!” tak ada reaksi dari si pengemudi. Kupikir dia tuli, padahal teriakanku sudah dibatas maksimal “Kau buta? Huhh—apa kini kau takut? Dasar pengecut!!”

Jangankan menurunkan kaca mobil, sang pengemudi justru langsung meninggalkanku tanpa sebuah kata maaf. Aku hanya bisa menahan amarah dalam dadaku yang rasanya semakin membengkak. Awas saja kau, semoga tak terjadi sesuatu padamu di jalanan, pengemudi brengsek!! Tak bermaksud untuk menyumpahinya tapi dalam hati masih terus merutuki orang gila itu.

#####

Desak-desakan dalam bus. Seperti biasanya, dipenuhi oleh orang-orang yang akan berangkat ke tempat kerja mereka masing-masing dan juga siswa-siswi dari berbagai sekolah—terlihat jelas dari seragam yang mereka kenakan, termasuk aku.

Aku segera turun dari bus yang kutumpangi ketika sampai di depan sekolahku. Bersama-sama dengan murid-murid lain, berbondong-bondong melewati gerbang sekolah—memasuki kawasan sekolahku yang sangat luas itu.

Morning Nara..”

Minji sedang berlari pelan menghampiriku. Kami berjalan beriringan.

“Tak seperti biasanya. Kali ini kau datang lebih cepat” aku melirik pada jam tanganku, Minji selalu saja datang menjelang detik-detik akhir gerbang sekolah akan ditutup.

“Yaa~~ bukankah ini pagi yang baik?” Minji membekap mulutku. Agaknya ia tak ingin orang lain mengetahui kartu buruknya. Babo, tanpa kuberitahu—merekapun telah mengetahuinya.

“Araseo..” aku menyingkirkan tangannya yang hampir membuatku kehabisan nafas.

Suara klakson mobil dari arah belakang kami, menyuruh kami untuk menyingkir. Dengan sigap Minji menarik tanganku, membiarkan mobil itu melewati kami.

“Aigo,, mobil yang sangat bagus. Andai aku bisa mengendarai mobil seperti itu ke sekolah” tatapan Minji tak lepas dari mobil yang berjalan sedikit lambat di depan kami.

“Mimpi..” aku tersenyum, mendengus pelan.

“Sepertinya aku baru pertama kali melihat mobil itu di sekolah kita. Siapapun pengemudinya, kuharap penampilannya sebaik mobil yang dikendarainya”

Aku hanya tertawa tanpa suara mendengar celoteh yeoja di sampingku itu. Mendadak aku mengingat sesuatu, mataku memandangi mobil itu dengan seksama—tak salah lagi.

“Wae?” Minji tampak heran ketika aku menyerahkan tasku kepadanya.

“Jangan banyak tanya, kau pegang saja tasku”

Aku segera menghampiri mobil biru metalik yang telah tenang di tampat parkirnya.

DUK..DUK..DUK..!!!

Dengan sekuat tenaga kutendang mobil yang beberapa waktu lalu telah membuatku basah kuyup, terlebih lagi saat itu aku tampak bodoh karenanya.

“Nara-ya,, apa yang kau lakukan?” Minji menarik tanganku, kutepis pelan dan kembali melanjutkan aksiku “Song Nara!! Apa kau sudah gila?? Bagaimana jika pemiliknya marah?”

“Anio. Aku tak peduli” kutatap Minji dan tersenyum tipis “Sebaiknya kau menyingkir, Minji-ya”

“Nara-ya,, tapi kau akan…”

“YAA!!”

Kami sama-sama terkejut mendengar bentakan seseorang, dia baru saja keluar dari dalam mobil mewahnya itu.

“Apaan-apaan kau?”

Kupandangi wajah namja, si pengemudi liar itu. Aku mendengus, membuang muka dengan kesal. Kembali kutatap dia yang seperti tengah bergulat dengan amarahnya—Cho Kyuhyun. Lagi-lagi kau sedang mencari masalah denganku. Ya!! kau berurusan dengan orang yang salah.

“Oh,, jadi kau rupanya pengemudi brengsek itu???”

“Waeyo?” Ia menatapku “Apa aku melakukan sesuatu yang buruk padamu, bebek jelek?” nadanya terdengar sangat santai. Aku semakin geram.

Omona, Kyuhyun memang menyebalkan. Apakah dia hanya berpura-pura menanyakan itu? Apakah aku yang basah kuyup dan tampak konyol saat itu tak membekas sedikitpun di otaknya itu? Nappeun.

“Yaa~ apa kau tak merasa berhutang sesuatu padaku?”

“Aku? Berhutang padamu??” ia menatapku tajam “Tak mungkin!” Ia melipat kedua tangannya di dadanya. Gayanya sedang menjelaskan jika orang kaya sepertinya tak mungkin berhutang—terlihat jelas dari sikap angkuh dan tatapan matanya. Sungguh menyebalkan.

“Baiklah. Kuperjelas saja..” tampaknya si evil itu tak mengerti—dasar bodoh “Sebaiknya kau minta maaf padaku, right now!!!”

“Mwo? Mworago??” ia terkejut “Minta maaf?? Padamu??”

Kyuhyun tertawa. Ia memamerkan seringaiannya yang paling kubenci itu.

“Yaa~ aku, Cho Kyuhyun, pantang untuk meminta maaf. Apalagi pada bebek jelek sepertimu. Araseo??”

“Michin. Kuberitahu, kau sama sekali tak pantas menjadi ketua osis..”

“Nara-ya, sebaiknya kita ke kelas saja”

“Kau saja yang pergi, aku masih banyak urusan dengan orang gila ini” aku mematahkan ajakan Minji untuk menjauh dari tempat itu. Minji hanya menekukkan wajahnya.

“Bebek jelek. Murid tingkat pertama, sebaiknya kau jangan bertingkah aneh..” kata Kyuhyun, terdengar seperti sedang mengancamku.

“Waeyo? Apa kau sedang memintaku untuk hormat pada senior? Senior sepertimu sangat tak layak untuk dihormati!”

DUK..DUK..DUK…!!!

Aku menendang mobil milik si sinting itu.

“Yaa!! Yaa!! Yaa!!, aissh,, kau benar-benar mengerikan!” Kyuhyun menatapku marah, ia terlihat sangat frustasi “Jangan seenaknya. Kau bahkan tak ada harganya jika dibandingkan mobil ini” ia sedikit bergumam.

“Apa kau bilang?”

“Kau tak sebanding dengan mobilku. Seberapapun mahalnya mobil ini, semua akan membelinya. Berbeda denganmu, meskipun menjualmu dengan potongan diskon yang sangat besar bahkan gratis sekalipun—kurasa tak akan ada yang berminat”

“YAAA…!!!” omo, uratku menegang mendengar perkataan sadis yang keluar dari bibir Kyuhyun. Kau sedang menghargaiku? Aaargghh!!!

“Ya! Cho Kyuhyun, minta maaf padaku sekarang juga” aku berkata dengan tenang, mencoba menjinakkan amarah dalam dadaku.

“Sihreo!” tolaknya mentah-mentah “Kau pikir aku ini Ayahmu?”

Kini amarahku sudah tak dapat dikendalikan lagi.

“NAPPEUN!!!” teriakanku mengagetkannya.

~~~~~~~

Aku memasuki kelasku yang tercinta. Kedatanganku langsung disambut oleh para yeoja yang mengerumuni tempat dudukku. Aku baru saja kembali dari ruang guru. Kupingku masih memerah karena mendengar ceramah panjang Shin seonsaengnim. Ya, aku dan lelaki brengsek itu—kami dihujani oleh omelan, nasihat dan tak jarang bentakan dari guru yang terkenal galak itu. Semua karena keributan yang terjadi pagi tadi. Bahkan Kyuhyun masih mengelak dan terus menyalahkanku. Aku rasa aku sangat terpojok, Shin seonsaengnim lebih berat padanya—tentu saja, dia memanfaatkan jabatannya yang adalah ketua osis. Dasar, kau iblis.

“Ya~ mengapa kau ribut dengan Kyuhyun oppa??”

Gadis itu menatapku dengan bola matanya yang bulat, seingatku dia bernama Miran. Maklum saja, kami belum begitu dekat mengingat kami baru beberapa bulan sekelas.

“Itu karena Nara…”

“Minji-ya,, aku tak ingin kau mengulangi kejadian menyebalkan itu”

Aku mencegah Minji untuk berkomentar terlalu banyak. Jika mengingat kejadian itu, darahku serasa mendidih.

“Nara-ya, please…..”

Oh, gadis berambut ikal dengan bando noraknya, namanya belum kuhafal. Dia terlihat yang paling antusias.

“Anio” jawabku singkat “Aku sangat membenci namja gila itu..”

“Waeyo?”

Aish,, dasar yeoja. Kalau kubilang benci ya benci. Masih menanyakan alasannya juga? Bukankah kalian ikut menyaksikan kejadian ospek yang maha dasyat itu? Apakah itu tak cukup membuat kalian mampu menyimpulkan akar kebencianku?

Gosh, tentu saja—mata mereka telah tertutupi oleh pesona orang yang bernama Cho Kyuhyun itu sehingga akal mereka tak mampu menerima jika ada satu yeoja yang membencinya, yeah that’s me. Malang sekali mereka.

“Aku tak menyukai namja brengsek, sombong, angkuh, tak tahu diri seperti Kyuhyun—terlebih, semua hal yang ada pada namja gila itu sangat membuatku naik darah..” geramku, mereka tampak tak terima aku mengatakan itu tentang idola mereka, terlihat jelas dari wajah mereka. Berpikirlah yang realistis, itu adalah fakta.

#####

“Kau juga pergikan?” Minji menatapku

“Aku tertarik, tapi—sepertinya tidak cukup untuk membuatku pergi”

“Nara-ya..”

“Evil itu juga pergikan?” tanyaku

“Tentu. Kyuhyun oppa adalah pengurus osis” tampaknya Minji tahu betul siapa yang sedang kubicarakan “Aigo,, rasanya aku tak sabar lagi..” dia tampak sangat senang.

“Itulah sebabnya kukatakan jika aku tak akan pergi dengan kalian..alasan pertama”

“YA!! Song Nara.. apa kau bercanda??” Minji menatapku tajam “Nara-ya,, kau harus pergi! Araseo?”

“Sihreo!!!”

“Nara-ya, kumohon. Jika kau tak pergi maka akupun tak akan dibolehkan pergi oleh Eomma”

“Alasan kedua, aku tak ingin pergi karena aku hanya sebagai tiket bagimu. Dasar kau bocah licik”

“Nara, jebal” Minji terus memohon padaku “Kapan lagi aku bisa menikmati masa SMA-ku, lagipula hanya tiga hari”

“Mwo? Tiga hari? Sihreo!!” tolakku mentah-mentah “Kau akan membuatku mati jika harus melihat wajah evilnya  tiga kali 24 jam. Andwae!”

#####

“Eomma” aku menatap ibuku yang tengah asyik menonton televisi bersama Appa dan Hana, “Aku mau ikut camping” lanjutku dengan malas.

“Mworago?”

Eomma menatapku, cukup lama. Tentu dia heran melihatku yang tiba-tiba ingin ikut camping, mengingat tak pernah sekalipun aku ikut serta dalam acara sejenis itu. Haissh,, aku malas mengakuinya tapi bocah tengik itu berhasil memaksaku dengan seribu satu cara.

“Tak perlu cemas. Ini program sekolah, tak hanya murid tapi banyak guru yang ikut serta” aku mencoba menjelaskan pada Eomma, wajahnya tampak cemas untuk melepasku. Aigo Eomma, putrimu hanya akan camping bukan pergi berperang.

“Baiklah,, tapi hanya jika Appa juga mengijinkanmu”

Dasar Eomma, selalu saja banyak syarat yang keluar dari mulutnya.

“Appa..” gantian aku memandangi Appa yang selalu fokus pada acara kesayangannya di tv.

“Ne..” jawaban singkat Appa membuatku sedikit senang tapi sebal, bagaimanapun keinginanku pergi bukan dari lubuk hatiku yang paling dalam tapi karena Minji

#####

“Jam 07.15”

Aku sangat cemas melihat jam tanganku. Ini sudah sangat terlambat dari waktu yang ditentukan. Hari ini kami akan camping sekolah dan aku sudah telat 15 menit dari waktu seharusnya. Sekuat tenaga aku berlari memasuki area sekolah. Beberapa bus telah terparkir disana, aku sedikit lega, setidaknya aku tak ketinggalan angkutan tapi sepertinya mereka telah siap berangkat karena semua murid telah berada dalam bus. Hanya beberapa orang yang masih terlihat berdiri di luar, termasuk Cho Kyuhyun.

Kyuhyun menatapku yang tengah berlari-lari ke arah mereka. Ia memangku tangannya. Aku tahu sesuatu yang tak menyenangkan akan terjadi, firasatku sangat tajam.

“Aigo,, lihat siapa yang baru saja datang..” ia berdecak menyebalkan “Ya!! cepat ke sini!!!”

Aku menghampiri dia. Nafasku masih belum beraturan.

“Ya~ bebek jelek. Jam berapa ini?” Kyuhyun menatapku tajam “Di rumahmu tak ada jam? Aish, dasar kuno”

“Mianhae, aku…”

“Scot jump 50 kali”

“Mwo?” bukan main terkejutnya aku mendengar seruan entengnya “Ya! Tapi aku…”

“100 kali!!” serunya lagi membuat mataku serasa akan melompat keluar karena syok, dia bahkan tak memberikanku kesempatan untuk memberikan sedikit alasan “Aku tidak suka orang yang membangkang”

Mataku perih, terlalu kuat lototanku tapi hanya itu yang bisa kulakukan tanpa bisa bersuara, aku tak ingin namja sinting itu menambahkan jumlah scot jump yang harus kulakukan. Dengan lunglai, sebal, marah dan penuh emosi aku menjalani hukumanku. Dia terus mengawasiku, mengelilingku seperti seorang pengawas—berulang kali meneriakiku ketika aku mengambil jeda atas hukumanku agar dapat menghirup oksigen lebih banyak lagi.

“..98..99..100..”

Aku berhasil menyelesaikan hukumanku.

“Tunggu apa lagi?”

Aku hanya mencibir dan segera naik ke bus, bergabung dengan Minji.

“Ya! Song Nara. Mengapa kau..”

Minji tak jadi melanjutkan aksi protesnya karena dengan segera ku arahkan telunjukku kepadanya. Kau seharusnya tutup mulut untuk sementara waktu, aliran darahku dan juga emosiku masih labil—tak baik jika kau mencercaku, Minji-ya.

#####

Hari kedua camping sekolah. Aku tak sabar menunggu besok karena aku sudah tak tahan dengan kegiatan yang tak ada asyiknya sama sekali. Huhh, setiap hari harus melihat kelakuan iblis Kyuhyun yang sangat tak masuk akal dan juga tingkah para yeoja pemuja Cho Kyuhyun Yang Mulia Agung, nappeun—mereka sungguh sangat terlalu,, ehm.. over.

Saat ini kami diminta berbaris sesuai dengan kelas dan entah apa maksudnya, Kyuhyun menunjukku menjadi ketua. Bukankah sudah ada ketua kelas? Mengapa masih harus aku? Aku rasa dia sedang merencanakan sesuatu padaku, aku sangat yakin itu.

Kami baru saja membersihkan lingkungan sekitar tempat kami camping, evil itu menyuruh kelas kami untuk membersihkan di sepanjang aliran sungai, banyak sampah yang berserakan di situ.

“Siapa ketua di kelompok ini?”

Kyuhyun berhenti di depan barisan kelas kami. Ah, bukankah itu artinya aku? Dengan malas ku acungkan tanganku.

“Oh, jadi kau..”

Ciih,, apa-apaan sikap itu? Bukankah kau sendiri yang menunjukku sebagai ketua?

“Yaa~ apa saja yang kalian kerjakan. Apa kalian tak punya mata? Masih banyak sampah yang tertinggal.. kerjakan dengan teliti, dasar tak becus”

Dasar, Kyuhyun sedang memulai rentetan omelannya.

“Yaa~ sunbaenim yang terhormat..” aku mengangkat suara “Kami sudah melakukan tugas kami, aku rasa…”

“Geurae?” Kyuhyun memotong penjelasanku “Ini tanggung jawabmu sebagai ketua kelompok. Sekarang juga, kembali ke sungai itu dan angkat sampah-sampah yang masih tertinggal!”

Rasanya ingin melempar namja sialan itu dengan batu gunung. Aku sangat kesal begitu juga dengan teman-teman sekelasku, dari wajah mereka terpancar kelelahan bahkan terdengar sungutan.

“Kalian semua. Aku tidak meminta kalian..” ujar Kyuhyun ketika melihat kami dengan malas-malasan hendak menuju lokasi tadi “Aku hanya meminta Song Nara—seorang diri..”

“Mwo??” mataku mendelik “Mworago??” huhh, apa kau sedang bercanda denganku?

“Sudah kukatakan ini tanggung jawabmu”

“Ya! nappeun…”

“Apa kau masih ingin membangkang?”

Aku hanya bisa terdiam melihat dia sedang memamerkan evil smirk-nya padaku.

~~~~~

Akhirnya, aku benar-benar kembali ke sungai. Menyusuri aliran sungai dengan teliti untuk memunguti sampah-sampah yang sebenarnya hampir tak ada. Aku tahu, ini adalah siasatnya untuk menyiksaku. Firasatku benar, aku sudah menyadari sejak awal. Dasar kau licik Cho Kyuhyun.

Matahari sudah hampir terbenam ketika aku beranjak dari sungai, seluruh tubuhku terasa dingin.

“Mengapa kau berhenti?”

Aku menatap Kyuhyun yang entah sejak kapan telah berada di tempatnya berpijak.

“Kau ingin membunuhku?” aku hanya menatap marah padanya “Ya~ untuk apa kau di sini?”

“Aku hanya memastikan hasil kerjamu”

“Tak perlu khawatir. Aku, sangat pintar dalam hal ini” aku tersenyum sambil membulatkan mataku.

“Molla..” jawabnya singkat “Aku tak percaya ada yang bisa dikerjakan oleh yeoja jutek, sombong dan sinis sepertimu”

“Michin..”

“Sangat mengherankan, mengapa ada type yeoja seperti ini. Aigo, kau harus bersiap-siap untuk menjadi perawan tua karena tak ada satupun namja yang akan mendekatimu”

Aish, dasar brengsek. Kau sedang meramal masa depanku?

“Ya~ dasar kau lelaki gila. Harusnya kau sadar diri, kau tak lebih baik dariku”

Kyuhyun hanya tersenyum. Senyumnya yang manis tapi sayang sekali mengingat sifat evilnya itu. Dia berjalan menghampiriku, menatapku lekat. Membuatku mulai salah tingkah. Ya! Song Nara, apa kau masih menyimpan sisa-sisa kekaguman pada namja yang telah membuat hidupmu suram? Andwae!! Aku tak perlu berdebar karena iblis ini.

“Nara-ya..” ia memanggilku, baru kali aku mendengar dia menyebut namaku seperti itu. Suaranya terdengar sangat lembut—bahkan sinar matanya yang sedang menatapku, terasa hangat. Seperti bukan Cho Kyuhyun yang ku kenal “Seperti para yeoja itu,, kau juga menyukaiku, benarkan?”

Tuuiiing… pandanganku berkabut setelah mendengar ucapan penuh kepercayaan diri yang sangat berlebihan, Kyuhyun. Menyukaimu?

“Mworago? Ya! Cho Kyuhyun, tak ada dalam kamusku untuk menyukai lelaki sepertimu. Jadi jangan menciptakan fitnah yang menyeramkan seperti itu, ara?”

Kyuhyun hanya menatapku. Aku tak dapat mengartikan tatapannya itu, hanya saja ada yang janggal. Untuk sejenak Kyuhyun terdiam—sampai akhirnya ia kembali tersenyum, sangat sinis.

“Anio. Aku tak benar-benar serius mengatakan itu. Hanya untuk memastikan saja, syukurlah jika memang seperti itu karena aku tak ingin disukai oleh yeoja menyeramkan seperti dirimu”

Kyuhyun bertongkak pinggang di hadapanku, sikap angkuhnya itu. Ia kembali menatapku.

“Atau mungkinkah..kau sedangkan mengatakan yang sebaliknya? Omo, atau kau sedang berpikir jika aku menyukaimu??”

What?? Rasa percaya dirinya sangat luar biasa untuk mengatakan itu. Kyuhyun tertawa lebar, ia menyeringai menatapku.

“Dasar gila..”

Namja itu menangkap pergelangan tanganku ketika aku hendak menghadiahinya sebuah tamparan. Kyuhyun mencengkeram tanganku kuat. Aku menarik tanganku agar terlepas dari cengkramannya tapi Kyuhyun belum mengijinkan hal itu terjadi.

“Lepaskan!!

Semakin keras saja cengkramannya. Pergelangan tanganku terasa sakit.

“Lepas…” aku menarik kasar dan berhasil lepas tapi.. “Aaahh…!!!”

Omo, tubuhku kehilangan keseimbangan. Aku akan jatuh.

“Awas!!!”

Aku mendengar Kyuhyun berteriak juga merasakan tangannya meraih tubuhku dengan kuat. Sepertinya kami berdua sama-sama terjatuh.

Beberapa detik berlalu. Aku membuka mataku perlahan.

DEG. Jantungku berdegub kencang saat mendapati diriku dalam dekapan Kyuhyun. Aku terdiam, sama halnya dengan Kyuhyun. Detik selanjutnya aku segera melepaskan diri dari namja itu, aku takut jika ia sampai mendengar detak jantungku yang terdengar mulai ekstrim itu.

“Gwaenchana?”

Kyuhyun menatapku, terlihat kecemasan dari sinar matanya. Aku tak dapat berkata apa-apa karena syok yang mendera.

“Nara-ya,, gwaenchanayo??” Kyuhyun mengulangi pertanyaannya. Ia memegangi pundakku dengan kedua tangannya.

“Ne?” seperti tersadar dari hipnotis panjang “Ani… aku tak apa-apa..” jawabku dengan sedikit terbata.

“Sebaiknya kita segera kembali”

Kali ini aku menuruti perkataan Kyuhyun tanpa banyak perlawanan. Seperti baru saja dihipnotis. Perasaanku masih kacau. Kejadian tadi, membuatku merasa terganggu.

#####

Samar-samar suara peluit, aku mendengarnya—tak begitu jelas di telinga. Aku membuka mataku dan mendapatiku seorang diri dalam kemah. Jika si evil Kyuhyun itu tahu, aku bisa kena damprat habis-habisan. Aku berusaha bangun dan langsung ambruk begitu saja. Seluruh tubuhku terasa tanpa tenaga, suhu panas tubuh berlomba dengan keringat aneh yang membasahi tubuhku bahkan kepalaku terasa sangat pusing. Sepertinya aku terlalu lama di air, ya itu kejadian kemarin sore—evil itu sungguh ingin menyiksaku.

“Nara-ya, kau masih disini?” Minji menunjukkan wajahnya “Kyu oppa memanggilmu”

“Anio. Minji-ya,, aku…”

“Ppalli!! Tampaknya Kyu oppa lagi dalam kondisi yang kurang baik, sejak tadi marah-marah terus”

Sudah tentu begitu, evil itu selalu marah tak jelas. Tak pernah ada kondisi baik dalam dirinya, aku rasa dia sangat bermasalah dengan sarafnya. Minji kembali meninggalkanku.

Yeoja babo itu tak menyadari kondisi kesehatanku, dia sangat bodoh.

Aku memaksakan diri ke tempat dimana semua orang telah berkumpul. Tulang-tulangku terasa nyeri, aku sulit untuk berjalan dan hampir tak merasakan pijakan kakiku sendiri. Kepalaku sangat pusing,, apa mungkin seseorang tengah meletakkan sesuatu yang sangat berat di sana, sesuatu yang tak nampak oleh mataku—berat sekali kurasa. Ini kondisi terburuk yang pernah kurasakan.

Tanpa suara aku bergabung dengan teman-temanku. Mereka hanya menatapku, juga namja sinting itu. Dari raut wajahnya, aku tahu jika sejak tadi dia sedang mengumpulkan kekuatan dan kata-kata untuk menyerangku.

“Bebek jelek, tak bisakah kau bangun pagi?!!!”

Kyuhyun membentakku dengan sangat kasar. Aku hanya diam, keadaanku saat ini tak memungkinkan untuk berperang dengannya. Hanya saja kejadian kemarin sore kembali terlintas dalam benakku, aku tak menyangka jika evil itu mampu bersikap lembut dan mencemaskan orang lain.

“Ya!! Harusnya, kau tahu dan mengerti jika kau harus memberikan contoh yang baik bagi anggota-anggotamu!!!”

Dia terus menyerangku. Ketua? Aku tak meminta itu. Kau seenaknya saja memberikan tanggung jawab itu padaku, demi kesenanganmu untuk menyiksaku—seperti ini. Dasar otakmu busuk.

“Kau sudah lalai—dan aku tak dapat mentolerir itu. Sekarang juga, kuperintahkan kau untuk lari kelilingi tempat ini, 5 kali putaran”

Mwo? 5 kali? Dengan kondisiku saat ini, kurasa itu tak mungkin.

“Tapi, aku sedang tidak…”

“Sekarang!!!” bentakannya membuatku kaget “Dan renungi semua perbuatanmu..”

Mulutku terkatup rapat, sudah tak ada kekuatan di sana untuk mematahkan sikap arogannya. Aku tak punya pilihan lain, selain menuruti perintah Kyuhyun. Aku melakukannya. Berlari mengelilingi lapangan sebanyak 5 kali. Kepalaku benar-benar pusing, berat sekali, seperti berlari dengan memikul beban puluhan kilo. Samar suara Kyuhyun yang berteriak melihatku yang berlari pelan, tak sesuai keinginannya. Pusing sekali, mengapa semua yang terlihat di depanku tiba-tiba berputar? Apa ini, mengapa begitu samar dan mulai gelap? Ini baru putaran kedua,, artinya masih ada…

~~~~~

Saat membuka mata, aku telah berada dalam bus. Sepertinya kami sedang dalam perjalanan kembali ke Seoul. Minji yang duduk di samping, menatapku dengan cemas.

“Nara-ya,, gwaenchana?”

“Waeyo?” kepalaku masih pusing.

“Kau minum dulu” Minji menyodorkan sebotol air padaku “Kau pingsan. Aku sangat cemas, mengapa kau tak bilang jika kau sakit?”

Babo, kau sedang memarahiku? Bukankah tadi aku sedang berusaha untuk menjelaskan kondisiku padamu? Kau malah menyela kata-kataku. Bodohnya lagi, dari raut wajahku kau seharusnya tahu apa yang aku alami—baboya.

“Bagaimana keadaanmu?”

Kyuhyun telah berdiri di samping tempat duduk Minji. Malas sekali melihatnya, aku menoleh, memandangi hijau pepohonan dari balik jendela bus yang tengah melaju kencang. Aku dapat melihat dengan ekor mataku, Kyuhyun menyerahkan sesuatu pada Minji. Iapun berlalu.

“Kau, minumlah obat ini”

Minji menyodorkan obat padaku—itu, obat yang diberikan oleh Kyuhyun. Aku menolak tapi tatapan Minji memaksaku untuk mengambilnya.

“Kyu oppa, dia yang paling cemas saat melihatmu tak sadarkan diri”

Ucapan Minji membuatku menoleh seketika padanya. Bukannya apa, tapi terdengar seperti Minji sedang membesar-besarkannya.

“Ya~ mengapa menatapku begitu?” Minji kesal, ia tahu jika aku tak pernah meyakini apapun yang keluar dari mulutnya “Aku berkata yang sesungguhnya. Aneh, kecemasan Kyuhyun oppa yang terlihat berlebihan. Entahlah, sepertinya ada sesuatu yang tak beres..”

Tatapan Minji tertuju padaku. Dia menatapku dengan curiga.

“Minji-ya, itu karena dia merasa bersalah lalu bersikap seperti itu” gumamku. Aku kembali menoleh pada pemandangan di luar, membiarkan Minji dengan segala dugaannya yang tak kupahami itu. Tentu dia cemas, jika aku sakit maka tak ada orang yang bisa dimarahinya habis-habisan.

#####

“Kau sudah sembuh?”

Minji bersama beberapa teman sekelasku, menghampiriku yang baru saja meletakkan beban tubuhku di atas tempat duduk.

“Ne”

Setelah empat hari lamanya aku tak masuk sekolah, kejadian saat camping membuatku harus beristirahat di rumah. Kurasa, sudah baik-baik saja keadaanku.

“Ya~ kalian sudah dengar kabar itu?”

“Mwoya?”

Mereka tampaknya tengah bersiap untuk membahas sesuatu—entahlah. Aku cukup menjadi pendengar saja.

“Ne. Aku sudah mendengarnya. Tapi,, aku tak yakin dengan desas-desus itu..” Minji terlihat berpikir dengan serius.

“Jeongmaliya? Aigo,, aku penasaran ingin tahu tapi akupun takut jika mengetahui kebenarannya.. aku harap orang itu adalah aku”

“Michin!”

Mereka memandangi Yo Hee dengan kesal. Anio, aku tak tahu apa yang menjadi bahan pembicaraan mereka. Membingungkan melihat ekspresi juga keseriusan di wajah mereka. Baru empat hari tak bersekolah, rasanya aku telah ketinggalan banyak hal.

“Andwae!! Kyu oppa…”

Kyuhyun? Apakah pembicaraan serius diantara mereka tentang namja evil itu? Aigo.

“Kalian, tak bisakah kalian berhenti membahas evil itu?”

Aku menatap tajam pada mereka dan tatapan mereka lebih tajam kepadaku. Dasar sinting, mereka tak rela jika aku akan mulai mencerca pangeran mereka itu.

“Kau jangan menambah kefrustasian kami Nara-ya” Minji memohon “Kami sudah sangat gila memikirkan gadis yang disukai Kyuhyun oppa”

“Mwoya?” tak sadar aku mengigiti bibir bawahku, terlalu kesal dengan ekspresi yang dipamerkan gadis-gadis gila ini. Mereka sangat berlebihan.

“Ya! Nappeun! Kalian hidup hanya untuk membahas hal-hal tak penting tentang namja itu? Apa kalian masih waras? Michin!!”

“Song Nara, molla-yo?”

Hanya seulas senyum untuk menjawab pertanyaan Minji. Molla.

“Tentang rumor di sekitar Kyuhyun oppa, apa kau juga tak tahu?” giliran Yo Hee yang memberikan tatapan prihatinnya. Lupakan, aku tak butuh simpati kalian.

“Nara-ya, kita semua tahu tentang kehidupan sempurna Kyuhyun oppa. Ketampanannya, kekayaannya, kepintarannya—semua hal yang membuatnya sangat popular. Kau tahu berapa banyak gadis-gadis cantik yang menggilai Kyuhyun oppa? Meskipun begitu, tak satupun dari mereka yang ditanggapi Kyuhyun oppa. Dia pernah mengatakan, tak ingin memacari siapapun. Kyuhyun oppa tak ingin terlibat dengan yeoja manapun”

Wajah Minji tampak murung, ia menekuk wajahnya. Aku tahu dia sangat menyesal dengan keputusan Kyuhyun. Tak penting sekali.

“Ya! Lalu apa masalahnya jika itu keinginannya? Bukankah itu lebih baik? Setidaknya, tak perlu ada wanita yang harus bengkak hati karena orang itu?” kilahku “Kalian sampai seheboh itu? Dasar aneh”

“Mwo? Aneh?”

Mata Minji terlihat memicing.

“Tentu saja aneh. Tiba-tiba terdengar jika Kyuhyun oppa sedang menyukai seorang gadis, itu sangat aneh. Mungkinkah dia telah merubah keputusannya? Memikirkan gadis beruntung itu, aku akan gila” Minji melemas, begitu juga dengan yang lainnya.

“Kalian telah kehilangan kewarasan, malang sekali. Kalian sendiri yang bilang itu adalah desas-desus,, sebuah rumor. Artinya kebenarannya belum bisa dipastikan” sungguh prihatin nasib gadis-gadis bodoh itu “Jika itu benar, justru yeoja yang ditaksir namja evil itu yang patut dikasihani”

“Waeyo?”

“Pikirkan jika kalian punya pacar seperti pria mengerikan itu. Sifatnya yang sangat arogan, membayangkannya saja aku sudah tak sanggup.. hhiiiiiiiii…”

Mereka hanya melengos. Kesal. Tentu, sangat kesal padaku.

~~~~~

Atmosfer aneh yang tercipta dalam kelas, terasa tak nyaman di kulitku. Aku beranjak dari tempat duduk, meninggalkan yeoja-yeoja itu. Sepertinya aku membuat sakit hati mereka bertambah parah, ne, aku berkata sesuai kenyataan. Tak ada yang ditambah-tambahkan ataupun dikurangi.

Berjalan seperti ini rasanya lebih baik. Aku tak perlu disuguhkan tontonan yang begitu mendramatisir para yeoja di kelasku. Dunia sedikit tidak adil. Membenci Kyuhyun, itulah aku tapi aku selalu melihat segala sesuatu secara rasional. Meskipun benci dan sangat sebal terhadap Kyuhyun tidak serta merta mataku tertutup untuk segala kebaikan yang ada dalam dirinya.

Tampan, tak usah dijelaskan—dia memilikinya. Kaya raya, tentu saja, keluarga chaebol—aku tak sedang ingin menghitung kekayaannya. Satu saja kekurangannya, sifat iblisnya itu.

Lalu, tentang rumor itu—yeoja yang disukainya. Benarkah itu? Apa orang sejenis Kyuhyun bisa menyukai seseorang? Orang egois itu, dia lebih memikirkan dirinya sendiri. Huhh, gadis seperti apa yang menarik perhatiannya?

Jamkkanman, mengapa aku tiba-tiba perduli? Sesuatu yang sangat tak penting. Mengapa aku harus berpikir keras tentang hal bodoh itu. Andwae, buang-buang waktu saja. Tak sadar tapi aku telah kesal, wajahku terasa panas, sepanas isi hatiku. Aish, mungkin cuaca siang ini ikut mempengaruhi suasana hatiku.

BRUGH.

Sesuatu dengan keras menimpa kepalaku. Terkejut. Aku meringis memegangi kepalaku. Sebuah bola basket telah terpental. Mataku mengikuti bola sialan yang menggelinding dan secara refleks aku menangkap benda bulat itu. Hari ini aku sangat sial.

“Ya!! bebek jelek! Apa yang kau lakukan? Berikan bola itu, ppalli!!”

Kekesalanku belum reda ketika diteriaki oleh Kyuhyun. Ah, dia dan teman-temannya sedang bermain basket. Sengaja atau tidak sengaja, bola ini jelas-jelas telah membuat kepalaku terbentur keras.

“Mwoya?”

“Suaraku kurang keras atau telingamu memang tuli?”

Aku hanya tertawa pelan memandangi namja itu.

“Cho Kyuhyun! Kepribadianmu sangat buruk. Bukankah seharusnya kau meminta maaf terlebih dahulu padaku?” aku tersenyum, melempar dengusan sinisku “Bahkan etika dasar seperti itu tak kau miliki. Babo”

Wajah Kyuhyun yang putih mulai memerah. Aku tak perduli itu pengaruh panas siang hari atau karena aku telah memancing emosinya.

“Dasar wanita..”

Kyuhyun ikut tertawa.

“Aku pernah menegaskan padamu bahwa aku tak akan meminta maaf pada siapapun—apalagi pada gadis sepertimu”

“Araseo. Lalu, lupakan soal bola basket ini”

Sesaat aku segera berlalu tanpa melepaskan bola basket yang masih kupegang.

“Ya! Kau, bebek jelek..!”

Langkah kakiku terhenti. Aku membalikkan tubuhku.

“Waeyo? Kau menginginkan ini?” aku memainkan bola itu “Baiklah. Akan kuberikan”

Aku mengumpulkan nafas dan tenaga. Dengan sekuat tenaga yang ada, kulemparkan bola di tanganku. Tampaknya Kyuhyun sangat terkejut sehingga tak mampu menghindari bola yang melayang kencang ke arahnya.

BBUGGHH!!!

Suara itu terdengar indah di telingaku. Suara bola basket berpadu dengan wajah tampan Cho Kyuhyun—aigo, merdu sekali.

“Setidaknya kau tak perlu memohon, dan lagi—aku sedang berbaik hati padamu”

Kulemparkan senyumanku, menurutku itu senyuman terbaikku. Tentu, aku sangat bahagia saat ini.

“YAA!! MICHIN!! KAU GILA?”

Kyuhyun—dia sangat marah.

“Andwae..” aku mengelak tuduhannya “Aku akan pergi..sunbaenim”

Rasanya aku benar-benar tak dapat menyembunyikan tawaku. Tak aku perdulikan teriakan Cho Kyuhyun yang terus memanggilku.

~ to be continue ~

Iklan

480 thoughts on “I Hate You, But I bla bla bla (1 of 2)

  1. Fafairfa berkata:

    Haloooo..new reader in here ^^

    Izin mampir kerumahmu dan membaca cerita yg authornim tulis yaaa 🙂

    Hahahahaha..daritadi aku ga berhenti ketawa ngebaca cerita ini, astagaaaa..benar2 dua orang ini ga bisa banget dipertemukan..selalu ada perang dunia..hahaha

    Aku lanjut baca part selanjutnya yaaa ^^

  2. My labila berkata:

    ffnya seru. aku reader baru salam kenal dan ijin baca ya…..sebenarnya aku udah baca tadi malam, aku baru komentarnya hari ini maafin ya. .

  3. cho_hyuri berkata:

    Bwaaahahahahahaaaaaaaa……..
    Pasangan absurd, gila lucu banget pasangam satu ini.
    Kyu aku tau cwe yang kau suka itu nara iyalan, makanya selalu cari masalah sama nara. Eiyyy kyuuu……
    Kiyooo…..
    Eonni nae tedaphen majo. ? (Gak tau tulisanya bener apa nggak) 😂😂😂

  4. zamadia berkata:

    kyuhyun itu nyebelinnya minta ampun ya 😃 udh gt kurang ajar jg. hahahaha
    tpi siapa ya yg dia suka ?

  5. Yoon berkata:

    Omo ceritanya nano nano yahh
    Pertemuan pertamany aja sudah kyak gitu😱
    Kyuhyun kejam amat sma nara awas aja klo nembak klo aq jd nara bkal aq siksa? Dulu hhaha

  6. esakodok berkata:

    yakin 1000 persen kalo kyuhyun cinta sama nara..dia sengaja ngerjain nara biar dapat perhatian…hahahhaha

  7. jidatseksehpcy berkata:

    jht bener lu cho, tukan jadi kena gampar 2x 😂 rasakan 😂 ,kenapa kyuhyun suka bgt ngerjain nara (?) jan jan cwek yg kyuhyun suka itu nara -, .. entahlah kita liat dichapt 2 aja :v

  8. FitriFitri berkata:

    Aigoo si kyu kkkk pinter modus. Sok sokan ngebully Nara tapi lain di kata lain dihati eaaa duuh… Ini soswit, sinara lagi belagu sok benci tapi dia tetep terpengaruh juga kan sama rumor kyuhyun demen cewekk wkekekekk 😀

  9. Yeni rachma berkata:

    Haloo kakak,aku reader baru…bahasa ff nya g ribet,mudah dmengerti…d part 1 aja udah gregeet bgt…lanjut ke part 2..cuus…fighting untuk authornyaa

  10. itisyahri berkata:

    Hahahahaha ya ampun aku ngakak dari awal baca ff ini.. Gila si nara luar biasa banget weehhh hahahaha aku suka banget sama ff ini thor

  11. nissa kim jw berkata:

    Ya ampuuun akhirnya ktmu jg ni ff dlu prnh bacatrs ingt lgi tpi lupa judul sama pnulisnya
    Suka bngt sma karakternya nara

  12. noebita berkata:

    Nara dikerjain habis habisan sama kyu. Kyu sih sempurna tapi dia songong banget, yg blom terkena dampak kesongongannya jelas aja memuja muja kyu terus. Apa mungkin kyu berbalik jadi cinta ma bebek jelek? Makan tuh karma, karna benci ma cinta tu emang beda tipis

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s