Seindah Namamu,, Cinta (Part 3 of 3)

Cast                 : Jung Amor, Lee Sungmin, Kim Ryeowook

~> FF ini murni buatan saya, say no to plagiat!!!

~~~~~

Apel pagi dimanfaatkan oleh Kepala sekolah untuk memberikan pengarahan kepada siswa. Biasanya, apel pagi jarang dilakukan dan kali ini pasti ada hal penting yang harus disampaikan. Siswa-siswi sudah mulai gelisah karena telah cukup lama berdiri apalagi panas matahari mulai terasa menyengat kulit.

Barisan sudah mulai terlihat tak beraturan, tiba-tiba saja terdengar kegaduhan dari salah satu barisan. Segerombolan murid tampak mengerumuni sesuatu. Belakangan baru diketahui jika ada siswa yang jatuh pingsan.

 ~~~~~

“Sudah sadar?” Sungmin menutup pintu klinik sekolah. Ia duduk di kursi, tepat di samping tempat tidur. Amor menatap Sungmin, wajahnya masih tampak pucat “Seharusnya kamu tidak usah ikutan kegiatan apel pagi..” kata Sungmin lagi.

“Aku tidak apa-apa” ujar Amor “Hanya pusing sedikit..” lanjutnya.

“Aku antar kau pulang sekarang..”

“Tidak usah!” tolak Amor “Aku mau ke kelas..” Amor segera turun dari tempat tidur.

“Kamu harus istirahat”

“Kenapa harus istirahat?” Tanya Amor dingin “Jangan perlakukan aku seperti orang yang sedang sekarat!! Aku baik-baik saja..” kata Amor kesal, ia segera keluar dari klinik sekolah.

@@@

Disebuah café. Amor duduk seorang diri, dia mengambil tempat di sudut ruangan agar tak mudah diperhatikan orang lain. Ia menatap selembar tiket ditangannya. Beberapa hari yang lalu Sungmin memberikan tiket itu padanya. Sungmin meminta Amor untuk menemaninya menyaksikan konser group band kesayangannya.

“Mianhae” Tanya seorang gadis cantik, ia menghampiri Amor

“Ah..” Amor menatap Hyo Rin yang langsung duduk di hadapannya.

“Eonni, mianhae. Aku telat” kata Hyo Rin “Tapi, ada apa meminta bertemu denganku?”

“Oh,…” Amor menyodorkan tiket yang terus dipegangnya kepada Hyo Rin

Hyo Rin memperhatikan tiket yang telah berpindah tangan itu “Eonni wae??” Tanya Hyo Rin yang memang tak mengerti maksud Amor.

“Bisakah kamu menggantikanku..” jawab Amor

“Eonni, maksudmu??” kerut di dahi Hyo Rin semakin bertambah.

@@@

Tidak disangka-sangka, rencana Amor ternyata berjalan dengan lancar bahkan boleh dibilang sukses. Pemandangan baru dan segar terjadi di sekolah, Sungmin tampak dekat dengan Hyo Rin. Tentu saja semua orang semakin heran, pasalnya baru-baru ini Sungmin dikabarkan dekat dengan Amor tapi realitanya Sungmin justru terlihat mesra dengan Hyo Rin.

Hari demi hari, kedua orang itu semakin lengket bak perangko. Gossip kedekatan Sungmin dan Hyo Rin semakin santer dibicarakan di sekolah bahkan sudah diyakini seratus persen bahwa kedua orang itu memang telah berstatus sepasang kekasih.

Dari kejauhan, Amor hanya dapat melihat kedekatan Sungmin dan Hyo Rin. Ia tersenyum lega, rencananya benar-benar sukses tanpa hambatan.

 ~~~~~

Ryeowook menghampiri Sungmin yang sedang melamun. Penyakit Sungmin sepertinya kumat lagi.

“Sungmin-a!”

“Hmm..”

“Benarkah?”

“Mwo?” Sungmin balik bertanya

“Gosip tentang…”

“Aku dan Hyo Rin?” Sungmin langsung memotong ucapan Ryeowook

“Jadi?” Ryeowook menatap Sungmin dengan serius “Kalian benar-benar telah …”

“Wae?”

“Anio, aku hanya penasaran. Semua orang membicarakan hal itu”

“Aku dan Hyo Rin..” Sungmin terdiam, matanya terlihat lain “Kami masih dalam tahap pendekatan. Sudah cukup?”

“Lalu Amor?” Ryeowook terlihat bingung “Bagaimana dengan Amor? Apa hubungan kalian telah berakhir?”

Ryeowook semakin kebingungan ketika Sungmin hanya menggeleng kepalanya pelan

“Andwae-yo? Ah, apa yang sebenarnya terjadi? Hubungan kalian sedang bermasalah? Aku semakin tak ngerti..” Ryeowook terus mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan.

“Molla” jawab Sungmin, ia tersenyum aneh.

“Ya!! Ige mwoya???” Ryeowook tersentak

“Wae??” Sungmin beranjak dari kursinya “Bukankah Hyo Rin gadis yang cantik?” Sungmin mengerlingkan mata sambil tersenyum misterius.

“Ini gila. Benar-benar gila, Ya!! Lee Sungmin, nappeun!!” Ryeowook bergumam. Sungmin berlalu tanpa memperdulikan ucapan Ryeowook yang semakin didera rasa penasaran.

@@@

Setiap sore, seperti biasanya Amor duduk di beranda di teras rumahnya. Di tangannya tak ketinggalan sebuah buku yang selalu siap dibacanya. Tapi ada yang berbeda, kali ini perhatian Amor tak tertuju pada buku itu. Amor memandangi rumah di seberang jalan itu, matanya menari-nari liar di sekitar pekarangan rumah Sungmin, mungkin saja ada Sungmin yang melintas walaupun cuma sebentar.

“Sudah lama sungmin tidak main ke sini” komentar Ny. Jung, ia meletakan minuman di sisi Amor lalu beranjak pergi.

Amor hanya tersenyum hambar. Tidak bisa dipungkiri kalau Amorpun merasakan hal yang sama, entah mengapa ia sangat merindukan sosok itu. Sungmin benar-benar telah berlalu dari hidup Amor, bahkan melebihi apa yang dipikirkan Amor sebelumnya.

Setiap pagi digonceng Sungmin ke sekolah, ke toko buku bahkan ke pantai bersama-sama. Tapi semua itu kini telah habis di bawa angin, itu hanyalah menjadi sebagian kecil kenangan Amor bersama Sungmin.

Sungmin benar-benar menjadi sosok yang misterius, di sekolah dia terlihat sangat bahagia bersama dengan Hyo Rin. Meskipun ada sesuatu yang hilang dari dalam diri Amor, tapi setidaknya ia boleh lega melihat Sungmin bahagia.

@@@

Seperti biasanya Amor memasuki gerbang sekolah dan disambut dengan senyuman selamat pagi dari penjaga gerbang. Amor berjalan sedikit santai, ia merasa hidupnya telah kembali normal seperti sebelum-sebelumnya. Kembali menjadi gadis aneh di mata para siswa, tak perlu takut untuk diperhatikan oleh mereka.

Baru beberapa menit bahagia dengan hidupnya, pikirannya mendadak berubah. Ternyata ia tak sepenuhnya bisa hidup seperti sediakala. Tatapan mata para siswa yang berpapasan dengannya terasa aneh, sama seperti yang pernah ia alami beberapa bulan yang lalu.

Amor mempercepat langkah kakinya, pikirannya telah diselimuti oleh segudang Tanya ketika memandangi para siswa yang cengar-cengir ketika menatapnya, entah apa yang mereka bicarakan. Amor berusaha keras untuk menghindari sorotan mata ratusan siswa yang terus menghujaninya. Sesampai di kelas, teman-temannya pun ikut-ikutan menatapnya dengan aneh seperti siswa lain yang ditemui diluar sana, Amor melangkah menuju ke tempat duduknya sambil tertunduk.

“Jadi dia..” bisik-bisik mereka.

“Iya. kalian lihat sendirikan?”

“Aigoo, berani-beraninya”

“Nappeun yeoja! Tidak tahu malu..”

Bisik-bisik tak sedap menghujani telinga Amor. Ada perasaan aneh dihatinya, yang semakin diliputi tanda Tanya. Apakah yang telah terjadi? Amor segera meninggalkan kelas. Dari kejauhan Amor melihat Sungmin dan Hyo Rin yang begitu sangat mesra.. sama seperti hari-hari sebelumnya.

Amor menghampiri Sungmin ketika Hyo Rin telah pergi

“Mwo?” Tanya Sungmin melihat kedatangan Amor

“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Amor “Semua orang menatapku dengan aneh…” gumam Amor.

“Mian. Aku tak tahu!!” jawab Sungmin dingin.

“Ah, ne” gumam Amor “Kudengar, kau telah berpacaran dengan Hyo Rin?”

“Dia gadis cantik yang sangat menyenangkan” lanjut Sungmin, ada sesuatu yang terjadi pada perasaan Amor yang mendadak jadi tidak nyaman melihat tatapan Sungmin yang lain dari biasanya.

“Syukurlah, sepertinya kamu menyukainya?” kata Amor.

Sungmin terdiam, ia menatap Amor cukup lama.

“Geurae. Gomawo, aku memang sangat menyukainya” kata Sungmin sambil tersenyum.

Kali ini Amor yang terdiam. Amor tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, kali ini hatinya terasa perih mendengar perkataan Sungmin

“Waeyo?” Tanya Sungmin melihat Amor yang mematung begitu saja.

“Aku…”

“Semoga kamu bahagia” Sungmin menatap Amor tajam. Ia lalu pergi meninggalkan Amor yang terus berada dalam kebingungan dan perasaan aneh yang telah menambah ketidaknyamanan dalam dirinya.

@@@

Dihari kedua tatapan-tatapan itu tak berubah. Mereka terus mengekori Amor dan tentu saja dengan bisik-bisik yang tak sedap. Amor akhirnya tahu penyebab dari semua itu, ketika ia melewati mading. Ya, lagi-lagi mading yang menjadi pemicu utamanya.

Alangkah terkejutnya Amor, ia tak percaya saat memandang foto yang terpampang di mading. Dalam foto itu jelas-jelas terlihat dirinya sedang dirangkul atau lebih tepatnya dipeluk Sungmin dari belakang, mungkin ada yang memotret mereka ketika Sungmin menyatakan perasaannya beberapa bulan yang lalu di teman belakang sekolah.

Tiba-tiba saja ada yang menarik tangan Amor. Amor hanya dapat mengikuti saat Hyo Rin membawanya menjauh dari kerumunan siswa ke tempat yang lebih sunyi.

“Hyo Rin-a, mianhae. Foto itu…” kata Amor dengan gugup, yang ada dibenaknya pasti Hyo Rin ingin memastikan kebenaran foto itu.

“Foto yang benar-benar menakjubkan. Fantastis!” kata Hyo Rin, wajahnya terlihat sedikit sinis.

“Itu tak seperti yang kamu kira” kata Amor “Aku bisa menjelaskan semuanya”

“Eonni, apa yang ingin eonni katakan?” Tanya Hyo Rin “Foto itu telah menceritakan segalanya. Jadi aku tak perlu penjelasan apapun”

“Anio. Aku dan Sungmin…”

“Sudahlah eonni” kata Hyo Rin memotong perkataan Amor “Aku tahu semuanya..”

“Mwoya?” Amor tak mengerti

“Semua rencana eonni, untukku dan juga Sungmin. Tadinya aku sempat marah dan kecewa” ujar Hyo Rin “Tapi yang lebih kecewa adalah Sungmin ketika yang datang malam itu adalah aku.. aku memutuskan untuk menolong Sungmin”

“Mian, aku tak mengerti”

“Eonni, kau benar-benar tak bisa merasakannya?? Apa kau mengira selama ini aku dan Sungmin… aish,, babo” gumam Hyo Rin kehabisan akal.

Hyo Rin menarik nafas panjang.

“Aku senang jika memang itu yang terjadi antara aku dan Sungmin, tapi hal itu sangat tidak mungkin bagi Sungmin. Aku membantunya, untuk mengetahui bagaimana perasaanmu terhadap Sungmin. Tapi eonni, kau malah menyemangati kami” ujar Hyo Rin.

“Hyo Rin-a.. mianhae, tapi aku…”

“Eonni, tidak pernah terbayangkankah dibenakmu bagaimana sakit hatinya Sungmin saat itu?” Tanya Hyo Rin “Saat yang datang itu adalah aku bukan eonni.. orang yang benar-benar sangat berarti bagi Sungmin” ucapan Hyo Rin membuat air muka Amor semakin berubah

“Hyo Rin, kamu..”

“Aku tahu” potong Hyo Rin “Siapa sebenarnya orang yang ada di hati Sungmin. Aku tahu. Tapi Eonni, lihat apa yang telah eonni lakukan? Justru membuatnya menderita, sungguh aku tak pernah melihat wajah yang sesedih itu. Kenapa dengan mudahnya eonni ingin melepasnya?” wajah Hyo Rin terlihat kesal.

“Hyo Rin-a sebenarnya aku..”

“Aku memang menyukai Sungmin bahkan rasa sukaku mungkin melebihi apa yang eonni rasakan untuknya, tapi bukan seperti ini yang aku inginkan. Dia lebih memilih eonni dan aku sangat menghargai perasaannya” kata Hyo Rin “Seandainya aku mendapat kesempatan untuk berada disisinya, aku bersumpah, aku tak akan pernah membiarkan dia pergi..!!!” Hyo Rin berkata dengan lantangnya.

“Mianhae Hyo Rin-a!!” Amor berkata lirih, ia hanya dapat memandangi kepergian Hyo Rin tanpa dapat berbuat apa-apa. “Mianhaeyo”

@@@

Amor duduk dengan gelisah. Sebelumnya Amor telah mencoba untuk membaca tapi pikirannya benar-benar tidak bisa terkonsentrasi, ia bingung apa yang harus dia lakukan karena pandangan teman-teman sekelasnya membuat tubuhnya jadi mati rasa.

“Masih pura-pura tak tahu..” bisik-bisik itu kembali terdengar dengan jelas di telinga Amor.

“Jelas-jelas foto itu adalah dia dan Sungmin.. tapi lihat sikapnya”

“Sangat memalukan…”

Telinga Amor mulai panas mendengar dirinya sedang dibicarakan dengan oleh teman-teman sekelas. Perasaan kesal saling bertumpang tindih di dalam hati Amor.

“Dasar yeoja tak tahu malu..”

“Apa sih hebatnya dia, apa mungkin Sungmin berhalusinasi”

“BRAAKK!!!”

Seisi kelas langsung terlonjak kaget ketika Amor memukul meja. Mata mereka langsung tertuju pada Amor yang terlihat tak dapat lagi memendam kemarahannya.

“Mwo… aku kira cewek super aneh seperti aku akan terhindar dari perhatian kalian. Ternyata aku salah, kalian tampak sangat bersemangat. Apa semua itu sebegitu menariknya untuk dibahas?” Amor sangat marah, nafasnya memburu karena menahan emosi. Boleh dibilang, ini pertama kalinya Amor banyak bicara di depan umum.

“Baiklah, tampaknya kalian memang ingin tahu lebih banyak. Akan kukatakan.. aku dan Sungmin memang berpacaran!!” seru Amor dengan lantang “Masih belum puas?” Tanya Amor “Tanyakan saja apa yang ingin kalian ketahui karena saat ini aku sedang berbaik hati?” Amor menatap teman-temannya yang tak berani berkutik.

“Kenapa kalian tidak bisa menghargai orang lain? Meskipun aku cewek super aneh atau alien sekalipun di mata kalian tapi aku juga punya hati sama seperti kalian. Kalian pikir enak menjadi bahan omongan, bagaimana perasaan kalian jika itu adalah kalian?” Amor begitu geram “Ani, sebenarnya kalian sadar atau tidak, kalian itu lebih aneh dari aku??” Amor menatap semua yang ada di kelas. Cukup lama tak ada yang berani bersuara, mereka hanya tertunduk tak berani menatap mata Amor yang terlihat garang.

Amor berlari meninggalkan kelas. Air mata sudah membasahi pipinya. Ia tak perduli apa yang dipikirkan teman-temannya tentang dirinya saat ini karena hatinya benar-benar telah berantakan. Kemana lagi tempatnya untuk menyendiri jika bukan ke taman belakang sekolah, satu-satunya tempat yang sering ia kunjungi yang membebaskan dirinya dari jeratan dunia luar yang begitu kejam.

Langkah Amor terhenti karena tempat yang menjadi tempat favoritnya telah di duduki oleh orang lain, Sungmin. Baru saja Amor mau menghindar tapi Sungmin sudah menyadari keberadaan Amor. Sungmin berjalan menghampiri Amor yang langsung tertunduk, tak berani melihat wajah itu.

“Mian…” kata itu yang pertama kali keluar dari mulut Amor “Mianhae..” kata Amor lagi, ia terus menunduk. Tak ada kata lain yang ingin disampaikan selain kata maaf, karena Amor sadar telah banyak membuat kesalahan pada Sungmin. Sungmin merangkul Amor dengan lembut ke dalam pelukannya.

“Jangan lakukan itu lagi..” kata Sungmin dengan lembut “Jangan pernah berusaha untuk membuatku bahagia. Karena aku tahu apa yang bisa membuatku bahagia” kata Sungmin pelan. Amor hanya mengangguk mendengar perkataan Sungmin.

@@@

Langkah pelan Amor saat memasuki kelas, ia takut pada reaksi teman-temannya dan akan berbuat sesuatu pada Amor karena perkataan Amor yang begitu kasar, meskipun menurut Amor itu wajar saja karena merekapun telah keterlaluan.

Benar saja, belum sempat Amor duduk dan baru meletakkan tas, ia sudah dikelilingi oleh teman-teman  sekelasnya. Jantung Amor mulai berdegub kencang, ia merasa akan mendapat masalah lagi kali ini.

“Amor-a..”

“Amor ragu-ragu. Ia merasa jantungnya yang lemah mulai tak kuat untuk menahan segala prasangka dalam hatinya.

“Maafkan kami” ucapan itu membuat Amor terkejut, ia menatap mereka dengan kurang yakin “Selama ini kami memang sudah sangat keterlaluan..”

“Ne, aku terus memikirkan masalah ini membuatku merasa sangat buruk..” tambah yang lain. Denyut jantung Amor kembali normal.

“Sebenarnya..” ucapan Amor terputus “Aku senang, aku juga minta maaf” kata Amor, ia meminta maaf atas perkataannya kemarin. Mungkin saja ada yang tersinggung.

Ekspresi wajah Amor yang semula tersenyum bahagia tiba-tiba berubah, ia langsung memegangi dadanya. Rasa sakit yang luar biasa kembali menyerangnya. Sakitnya benar-benar tak tertahankan, membuat Amor tak bertenaga, meja menjadi tempatnya untuk bertopang.

“Amor waeyo??” teman-teman Amor memegangi Amor, mereka terlihat khawatir melihat Amor yang seperti itu.

“Ani.. aku, aku tidak kenapa-napa..” kata Amor menahan rasa sakit “Ini.. Cuma maag biasa..” ujar Amor.

Ia menyeret tasnya dan berjalan dengan sedikit tertatih-tatih akibat rasa sakit yang semakin luar biasa itu. Ia meninggalkan teman sekelasnya yang diliputi tanda Tanya serta kekhawatiran terhadapnya.

Sesampai di toilet, Amor langsung mengeluarkan botol obat dari dalam tasnya dengan tangan yang gemetar. Sakit itu semakin menjadi-jadi, Amor menumpahkan butir-butir obat ke telapak tangannya. Beberapa butir obat terjatuh ke lantai akibat tangannya yang gemetaran.

“Ani.. mereka, tidak boleh tahu…andwae” ujar Amor lalu menelan butir-butir obat itu. Cukup lama Amor berada di dalam toilet, meredam rasa sakit yang terus menderanya. Ia baru keluar setelah rasa sakit itu sedikit mereda, walaupun tidak hilang total. Amor berjalan sempoyongan, ia melirik jam tangannya.

Waktu telah mengatakan bahwa ia telah terlambat hampir 30 menit pada jam pelajaran Matematika. Karena kepala yang masih pening serta sakit di perut dan dada yang belum benar hilang, Amor tak lagi memperhatikan sekitarnya bahkan pandangan para siswa ketika melihatnya yang sempoyongan.

“Mian..” kata Amor karena ia menyenggol seseorang.

“Amor?” Amor menatap sosok yang disenggolnya, Sungmin “Kenapa kamu di sini?” Tanya Sungmin

“Aku.. dari toilet” kata Amor, menahan rasa sakit “Aku ke kelas dulu” Amor segera meninggalkan Sungmin.

Sungmin memunguti sesuatu yang terjatuh saat bersenggolan dengan Amor. Sungmin mengamati botol obat yang sedang dipegangnya.

“Obat? Kemasannya beda dari yang biasanya..” gumam Sungmin, ia memperhatikan obat tersebut yang memang sedikit berbeda dari obat yang biasa di konsumsi Amor. Ia segera menyusuli Amor dan mengembalikan obat itu tanpa banyak bertanya meskipun sebenarnya ada yang ingin ditanyakan mengenai obat itu, ia tahu betapa berbahayanya kalau obat itu hilang.

@@@

Sungmin berlari-lari menyusuri koridor rumah sakit. Kedua orangtuanya terlihat tergesa-gesa di belakang Sungmin. Mereka baru mendapat kabar bahwa Amor dilarikan ke rumah sakit. Kedua orangtua Amor sudah terlihat dari jauh, wajah mereka menyiratkan kecemasan yang dalam.

“Bagaimana dengan Amor?” Tanya Ny. Lee

“Masih koma..” Ny. Jung berkata dengan mimik yang sedih.

“Koma??” Sungmin bertanya-tanya dalam hati “Apa begitu parah? Rasanya kemarin dia masih…” gumam Sungmin lagi, “Sebenarnya.. ada apa??” Sungmin tak lagi bisa membendung rasa keingintahuannya, ia langsung melontarkan pertanyaan pada Tn  dan Ny Jung. Kedua orang itu saling melepas pandang dengan begitu sedih

“Amor memang menderita kelainan jantung sejak kecil, jantungnya begitu lemah” ujar Tn. Jung “Dan setahun lalu, Amor divonis menderita kanker hati..” kata pria itu lirih. Baik Tn dan Ny. Lee maupun Sungmin begitu terkejut mendengar kabar itu.

“Ka.. kanker.. hati..??” bisik Sungmin, ia mendapat kejutan dasyat.

“Memang Amor sudah menjalani berbagai macam pengobatan, tapi ternyata sel kankernya sudah menyebar. Kankernya sudah di stadium akhir..” lanjut Ny. Jung menahan tangis “Kenapa.. kenapa.. ini harus terjadi pada anakku?? Aku harus bagaimana? Kasihan Amor..” tangisnya pecah dipelukan suaminya.

Sungmin berjalan menjauh dengan lesuh, meninggalkan kedua orangtuanya maupun orangtua Amor yang larut dalam kepedihan. Pikiran Sungmin kosong dan kacau balau mendengar berita mengejutkan yang tak terbayangkan sebelumnya.

Ia melarikan motornya dengan kecepatan tinggi, tak terpikirkan maut yang siap menantinya setiap waktu. Entahlah, tapi hatinya benar-benar terluka dan dadanya sesak menahan kepahitan. Tak sadar, ia telah tiba di pantai, tempatnya dan Amor melepas penat. Sungmin berlari kencang dipesisir pantai.

“AAAARRGGGG..!!!!” Teriak Sungmin sekuat tenaga. Berkali-kali ia berteriak sehingga suaranya menggema. Ia tersungkur dan terbaring lemas di pasir, tak perduli jika ombak telah membasahi dan memainkan sekujur tubuh. Ada air mata yang mengalir dikedua belah pipinya.

@@@

Sungmin memasuki kamar tempat Amor dirawat, Amor menoleh kepadanya dengan lemah. Sungmin menghampiri Amor yang sedang terbaring.

“Sungmin-a..” sapa Amor dengan suara yang begitu lemah. Ia tersenyum tipis pada Sungmin. Pemuda itu tak membalas sapaan Amor, ia hanya terdiam seribu bahasa. Ada banyak hal yang terus mengganggu pikirannya.

“Ryeowook dan Hyo Rin baru saja pergi..” ujar Amor “Kau tidak bertemu dengan mereka??” Tanya Amor

“Kenapa kau berbohong?” Sungmin menatap Amor “Kenapa aku masih terus dibohongi olehmu?” ia mengulang pertanyaannya.

“Sungmin..”

“Kenapa tak pernah cerita jika kamu.. kanker itu..” Sungmin tak mampu berkata-kata.

“Mianhae Sungmin-a” kata Amor lirih “Aku tak mau membebani siapapun, melihatmu sedih..”

“Kau membuatku begitu buruk” ujar Sungmin, ada air mata yang keluar dari matanya “Aku takut kamu hilang dari pandanganku.. bagaimana jika aku mengetahui semua ini setelah kamu…” Sungmin terdiam, tak bisa lagi melanjutkan perkataannya.

Tak disadari air mata Amorpun ikut mengalir, hatinya perih melihat Sungmin yang menangis dihadapannya.

“Aku tak akan pergi Sungmin-a..” kata Amor “Bukankah pernah kukatakan, kamu tak boleh menyukaiku. Karena aku.. karena aku tak ingin kau menyesal dan sedih.. aku tak ingin melihatmu seperti ini…”

“Aku tak pernah menyesal dengan semua yang kulakukan, terutama karena menyukaimu” potong Sungmin “Akupun pernah berkata bahwa aku akan tetap bersamamu.. karena aku benar-benar menyukaimu, apa adanya kamu..” ujar Sungmin lirih.

“Iya..” Amor menghapus air matanya “Sungmin-a, maukah kau berjanji satu hal padaku?”

Sungmin menatapnya, meminta Amor melanjutkan perkataannya.

“Kamu tidak akan menangis lagi. Aku akan sangat sedih jika melihatmu meneteskan air mata..” ujar Amor lemah, ia masih memamerkan senyum tipisnya pada namja itu.

“Baiklah” kata Sungmin “Aku janji” katanya lagi dengan senyum mengembang di wajahnya, ia mengecup kening Amor dengan lembut.

@@@

Langkah Amor begitu lemah saat memasuki kelas, kondisinya memang belum benar-benar baik tapi ia memaksa ke sekolah. Ia baru saja duduk dan langsung dikerumuni oleh teman-temannya

“Bagaimana keadaanmu?”

“Aku sudah tidak apa-apa”

“Kamu masih terlihat pucat, seharusnya kamu masih istirahat dirumah..”

“Anio, gwaenchana” ujar Amor

“Amor-a, Cha Seonsaengnim telah mendaftarkanmu untuk lomba itu”

“Lomba apa?” Tanya Amor

“Apresiasi seni..”

“MWO,, MWORAGO??”

Amor terkejut bukan main ketika mendengar kabar itu.

~~~~~

Sementara itu di kelas Sungmin…

“Jadi?” Tanya Ryeowook

“Mwo?” Sungmin balik bertanya

“Keadaan Amor?” Ryeowook memandangi Sungmin, ia terlihat sedikit kesal mengingat akhir-akhir ini Sungmin sedikit telmi alias telat mikir.

“Sudah lebih baik.” Kata Sungmin “Dia sudah kembali bersekolah, sebenarnya kedua orang tuanya memintanya untuk tetap istirahat tapi dasar gadis keras kepala..” gerutu Sungmin.

“Benarkah?” Ryeowook tertawa pelan “Tapi aku tak menyangka kalau separah itu..” Ryeowook bergumam.

“Aku takut kalau sampai terjadi sesuatu dengannya..”

“Sungmin-a. Jangan terlalu memikirkan yang tidak-tidak,” bujuk Ryeowook melihat wajah Sungmin yang berubah sedih “Aigo, tingkahmu seperti orang yang mulai kehilangan ingatan” celoteh Ryeowook.

“YAA!!” geram Sungmin kesal.

“Syukurlah, kalian sudah lebih baik. Setidaknya aku tak perlu mendapat tontonan gratis karena kelakuan anehmu..” Sungmin tertawa renyah mendengar penuturan Ryeowook yang begitu jujur.

“Tapi masih ada yang mengganjal di hatiku..”

“Ada lagi??” Tanya Ryeowook, ia kembali kesal.

“Amor memang sudah banyak berubah. Dia jadi begitu baik dan tak lagi mengabaikan aku” kata Sungmin “Tapi aku ragu dengan perasaannya terhadapku” katanya pelan.

“Mwo?”

“Karena…” Sungmin terdiam “Amor tak pernah mengatakan sepatah katapun tentang perasaannya padaku. Misalnya ‘joh-ahe.. atau ‘saranghae’, atau apapun itu..” Sungmin melanjutkan perkataannya “Aku tak nyaman jika ternyata aku terlalu memaksakan perasaanku padanya, dan sangat memalukan pikirku..”

“Aishh..” Ryeowook menggeleng heran “Yaa~ Memangnya kata-kata itu begitu penting bagimu? Rasa sayang dan cinta tidak selamanya harus ditunjukkan dengan kata-kata. Tapi dengan setiap perbuatan atau tingkah laku juga dapat mewakili perasaan seseorang..”

“Maksud kamu?”

“Itu kamu yang lebih tahu” kata Ryeowook “Selama ini kamu yang dekat dengan Amor jadi kamu sendiri yang bisa menyimpulkan kalau dia itu suka padamu atau tidak..”

“Molla…” ujar Sungmin sambil menggeleng

“Aduuh dasar Sungmin blo’on!!” Ryeowook sangat kesal “Dengar baik-baik.. kamu lihat, si Amorkan selama ini sudah baik dan perhatian terhadapmu. So, kamu artikan sendiri apa maksud dari senyumannya, tatapan matanya atau semua yang dia lakukan terhadap kamu. Tidak mungkin kau tak merasakan semua itu?” Ryeowook menatap Sungmin dengan kesal. Sungmin hanya mengangguk-angguk mencoba memahami perkataan Ryeowook.

@@@

Di kamar yang selalu sunyi seperti biasanya, Amor berguling-guling di tempat tidur sambil mengerang kesakitan. Tangannya menekan bagian tubuh yang terasa sakit, keringatpun sudah membasahi sekujur tubuhnya padahal udara malam terasa begitu dingin.

Amor membuka membuka tas dan mengambil botol kecil yang berisi obat. Dengan tergesa-gesa ia menelan obat-obat itu. Beberapa menit menunggu, sakitnya bukan mereda tapi semakin bertambah parah. Amor terus mengerang kesakitan, ia berusaha agar suaranya tidak terdengar sampai keluar kamar.

Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi dan menyiksa. Amor bergelut di tempat tidur menahan sakit sampai-sampai ia terjatuh dari tempat tidur. Gadis itu terus mengerang, air mata mulai keluar dari bola matanya yang indah, yang tertutupi oleh sorot mata yang penuh penderitaan. Ada sesuatu yang hangat terasa mengalir dari lubang hidungnya, Amor merangkak menuju ke kamar mandi. Ia terbatuk-batuk, dan serasa tak akan berhenti. Darah berceceran dari hidung dan mulut Amor di lantai kamar. Ia terus berusaha untuk merangkak meskipun pada akhirnya hanya menyerah diambang pintu kamar mandi.

“AMOR!!!” Pekik kedua orangtuanya saat memasuki kamar Amor dengan tergesa-gesa. Mereka berlari menggapai Amor. “Amor, kamu kenapa sayang?” Tanya Ny. Lee dengan ketakutan.

“Sakit.. sa, sakit eomma..appa” Amor mengerang kesakitan.

“Iya sayang. Kita segera ke rumah sakit..” ujar Tn. Jung

“Eomma.. sakit..” ringis Amor “Sakit…” ia menangis

“Sayang, kamu.. kamu harus kuat!!” kata Ny. Jung sambil menangis penuh dengan kepanikan “Kamu akan segera sembuh, kamu pasti bisa Nak..” kata wanita itu lagi. Tn. Jung segera membopong Amor

@@@

Setelah seminggu Amor beristirahat di rumah sakit, ia akhirnya tetap memaksakan diri kembali bersekolah. Wajahnya terlihat berseri-seri meskipun masih tampak pucat. Amor begitu bersemangat saat memasuki sekolah. Hampir kepada semua orang yang dijumpainya, ia tersenyum. Amor kembali disambut dengan gembira oleh teman-teman kelasnya.

Pastinya, Amor menjadi bahan obrolan bukan karena gossip yang kembali menimpa dirinya tetapi karena perubahan sikapnya yang lebih ramah dan murah senyum. Jauh berbeda dengan Amor yang dulu, sifatnya yang pendiam, tertutup dan serba misterius kini telah lenyap. Penilaian orang terhadapnya perlahan mulai berubah.

~~~~~

Sepulang sekolah, Amor tampak berdiri di depan gerbang. Ia sedang menunggu Sungmin. Tak berapa lama kemudian Sungmin datang sambil mengendarai motor besarnya itu, Amor langsung naik ke motor Sungmin.

“Kita ke pantai!!” ajak Amor

“Pantai?” Tanya Sungmin bingung.

“Iya. Pantai” jawab Amor.

“Amor-a, kamu belum boleh banyak beraktivitas” ujar Sungmin “Kita pulang saja ya, ke pantainya kalau kamu sudah lebih baik” tolak Sungmin dengan halus.

“Sihreo!!” tolak Amor “Sekarang ini aku butuh udara segara. Aku bosan bolak-balik rumah dan rumah sakit” Amor memberikan alasan yang memang cukup masuk akal.

“Tapi..” tampaknya Sungmin masih keberatan.

“Jebal..” kata Amor sambil memohon, Sungmin terdiam.

~~~~~

Ombak saling berkejar-kejaran, sepertinya mereka sedang berlomba siapa yang akan terlebih dahulu tiba di garis pantai. Amor memandangi ombak-ombak yang menggambarkan keriangan itu, pandangan mata Amor terlihat begitu tenang. Sesekali Sungmin yang duduk disebelahnya, menoleh kepadanya.

“Kita pulang saja..” kata Sungmin.

“Sebentar lagi” tolak Amor sambil terus menatap ombak

“Sudah hampir dua jam kita di sini” kata Sungmin berusaha untuk mengingatkan Amor “Kamu juga masih sakit, tidak baik jika terkena banyak angin”

“Sungmin-a, aku masih ingin di sini..”

“Amor, kita bisa ke sini lain kali. Asal kau sembuh, kapanpun kau minta, aku akan menemanimu..” kata Sungmin.

Amor hanya terdiam. Sorotan matanya yang terlihat tenang sepertinya mulai memancarkan kesedihan.

“Pemandangan yang indah” ujar Amor, Sungmin menoleh sekilas padanya lalu memandangi pemandangan indah yang sedang disuguhkan pada mereka “Aku takut,.. aku tak akan melihat pemandangan seindah ini lagi..” Amor bergumam pelan.

“Mwo..?” Sungmin bertanya karena ucapan Amor kurang begitu jelas di dengarnya.

“Anio” jawab Amor “Lupakan saja!” katanya lagi.

“Kudengar seharian ini kamu bikin kehebohan lagi?” Tanya Sungmin, Amor menatapnya tak mengerti “Semua bilang kamu seperti bukan dirimu, sifatmu sangat berubah. Bahkan mereka tak nyangka kalau kamu bisa tersenyum” Sungmin kembali menatap Amor yang hanya tersenyum tipis.

“Tidak” kata Amor dengan senyuman yang tetap terlihat diwajahnya “Aku hanya mencoba melakukan apa yang tak pernah aku coba. Ternyata mereka baik dan perduli padaku. Aish, aku menyesal kenapa tidak dari dulu aku seperti ini, pikiranku selalu negative terhadap mereka..” Amor menarik nafas panjang.

“Biar terlambat asal kau pernah mencobanya daripada tidak sama sekali” kata Sungmin “Lagipula ini baru permulaan, kamu masih punya banyak waktu untuk lebih memperbaikinya” Sungmin berusaha untuk menguatkan Amor.

“Jeongmal?” gumam Amor “Gwaenchana. Setidaknya itu bisa merubah semua tanggapan buruk mereka tentang aku karena aku nggak mau di cap anak aneh selamanya”

“Geurae” Sungmin membenarkan ucapan Amor “Ah, kau terlihat sangat menyukai laut” ujar Sungmin

“Ne, sangat suka” jawab Amor “Memandang birunya laut membuatku tenang. Kamu tahu, laut itu menggambarkan perasaan manusia”

Amor menatap Sungmin, kemudian pemuda itu hanya menggeleng pelan.

“Tentu saja, kadang tenang.. kadang bergelombang bahkan kita tak akan tahu apa yang sedang disembunyikan oleh laut, seperti sebuah misteri. Begitu juga dengan hati manusia, kamu tak akan benar-benar memahami seseorang apalagi menerka jalan pikirannya. Semua bersumber dari hati, dari perasaan” ujar Amor.

“Benar juga..” Sungmin mengangguk.

“Dan aku percaya, laut adalah penghubung perasaan manusia, dimanapun manusia itu berada..”

Amor menatap Sungmin dengan senyuman yang tak pernah pudar. Sungmin terdiam, ia terus memandangi Amor dengan pandangan terkesima. Memang benar kata orang, Amor telah berubah. Entah mengapa kali ini dia merasa Amor tersenyum dengan tulus, wajahnya tampak bersinar, ia merasa ada damai dari senyuman Amor. Sungmin membalas senyuman itu.

@@@

Keesokan hari…

Semua siswa diminta berkumpul di lapangan. Siswa kelas X dan XI sudah berbaris dengan rapi, hanya barisan kelas XII yang masih tampak amburadul. Amor dan teman-temannya segera berbaris karena seorang guru terus memelototi mereka. Sementara itu kepala sekolah sudah mulai berbicara beberapa menit lalu…

“Omo, lama sekali. Kakiku mulai pegal”

“Iya. Langsung ke intinya saja” gerutu mereka.

Amor hanya tersenyum mendengar ocehan-ocehan itu, ia tetap mendengarkan pesan yang sedang disampaikan oleh Kepala sekolah, sampai tiba-tiba rasa itu kembali menerjang Amor.

“A.. aaa..” Pekik Amor, tangannya langsung memegangi bagian tubuhnya yang sakit.

“Amor-a, gwaenchanayo?” Tanya teman-temannya panik saat melihat Amor mengerang kesakitan. Sakit yang luar biasa membuat Amor tak bisa berbicara, ia hanya mengerang menahan sakit yang tiada ampun baginya.

“Amor, kita ke klinik saja!!”

“Andwae..” tolak Amor “Nan.. gwaenchana..” ujar Amor, ia berusaha keras untuk menyembunyikan kesakitannya. Mereka terus memegangi Amor, jelas-jelas pandangan cemas terlihat dari mata mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Baiklah anak-anak!” suara kepala sekolah menggema di seluruh lapangan “Pemenang lomba apresiasi seni kali ini berasal dari sekolah kita. Akhirnya sekolah kita kembali mengukir prestasi dan semua ini berkat murid yang sangat berbakat,…Jung Amor..!!!” Tepuk tangan riuh ketika pak Kepala sekolah menyebutkan nama Amor sebagai pemenang lomba tersebut.

“Ya! kau dengar itu? Amor-a.. kau menang!!!”

“Je, jeongmal??” Tanya Amor, ia masih bisa merasakan kebanggaan di sela-sela sakitnya.

Amor berusaha melangkah ketika diminta untuk maju ke podium, keringat sudah membasahi wajahnya. Ia hampir terjatuh dan langsung di topang oleh teman-temannya.

“Amor..??” mereka memandangi Amor dengan cemas.

Amor tersenyum, berusaha untuk meyakinkan mereka. Ia melepaskan pegangan mereka dengan pelan. Amor melangkah keluar dari barisan, semua siswa bertepuk tangan riuh. Tak ada yang tahu selain teman-teman sekelasnya, dibalik langkah Amor yang terlihat tegar, ia sedang menahan rasa sakit. Kepala sekolah menyerahkan piala kepada Amor. Gadis itu tersenyum, bibirnya benar-benar pucat pasi.

“Gamsahamnida” ujar Amor “Ini semua.. berkat teman-teman. A, aku ber—terima,,kasih…”

 Amor berkata dengan susah payah, semua siswa terlihat serius menanti ucapan Amor

“Ternyata Tuhan.. Dia..begitu baik dan.. sayang padaku, memberikan orang.. orang yang.. yang sayang padaku—dan.. dan menyadarkanku tentang arti…kehidupan.” Kata Amor, ia menghela nafas.

Keringat terus membasahinya

“Aku beruntung.., gamsa..hamni..da…” ucapan Amor terputus, gadis itu terbatuk-batuk.. cukup lama sehingga mereka mulai bertanya-tanya akan kesehatannya, Sungmin mulai merasa ada yang janggal. Dengan lemah Amor mengangkat piala yang dipegangnya. Semua murid langsung bertepuk tangan riuh.

“AMOOORR..!!!” Sungmin berteriak kencang melihat tubuh Amor yang ambruk di podium. Riuh tepuk tangan berganti dengan kepanikan. Guru-guru dan siswa berlari menghampiri Amor. Sungmin meletakkan kepala Amor di pangkuannya.. pemandangan itu tak lebih dari sebuah kepanikan besar.

@@@

Tn dan Ny. Jung baru saja keluar dari ruangan tempat Amor di rawat. Wajah mereka terlihat begitu lesuh dan letih, menyiratkan kesedihan yang begitu dalam. Terlebih lagi mata mereka yang sembab, sisa air mata masih terlihat jelas di wajah mereka.

“Masuklah Sungmin..” ujar Tn. Jung.

Sungmin segera memasuki ruangan itu. Ia begitu sedih melihat banyak selang yang terpasang di sekujur tubuh Amor. Sungmin berdiri di sisi tempat tidur Amor. Ia memandangi Amor yang tertidur begitu pulas, wajahnya terlihat begitu tenang.

Mata Amor yang semula terpejam, kini mulai terbuka dengan perlahan. Ia menatap Sungmin dengan matanya yang sayup, ada segaris senyum yang hampir tak terlihat di bibirnya. Air mata Sungmin mengalir dengan sendirinya. Amor memberi kode dengan lemah, Sungmin segera mendekatkan wajahnya ke wajah Amor.

“Ka.. kamu.. sudah.. ja, janji” Bisik Amor “T, tidak ..akan.. menangis..” lanjut Amor dengan begitu pelan dan tersendat-sendat.

“Amor-a, eotteohke? aku takut..” ujar Sungmin menahan tangis, cukup lama ia terdiam.

Tubuh pemuda itu sedikit terguncang karena tangisan, Sungmin menatap Amor

“Aku takut. Kamu akan meninggalkanku, aku takut jika itu akan terjadi.. aku takut jika tidak bisa melihatmu lagi.. aku takut sekali…” ujar Sungmin.

“Jangan.. jangan menangis Sungmin-a..” kata Amor “A.. aku.. tak suka.. lihat.. kamu.. kamu mena..ngis…”

Sungmin menghapus air matanya.

“Baiklah. Tapi kamu juga harus berjanji, kamu tak akan meninggalkanku” kata Sungmin, tatapan Amor begitu lemah “Kamu harus kuat.. kamu harus lebih sering menemaniku ke pantai” ujar Sungmin, ia tersenyum memberikan semangat kepada Amor.

Amor mengangguk lemah..

“Sungmin-a. Aku ada.. yang—mau kukatakan..” bisik lemah Amor “Na.. nado.. saranghaeyo” katanya dengan lirih.

“Aku tahu. Aku tahu” ujar Sungmin

“S..syu..kurlah..!!” Amor berkata pelan dan tersenyum.

Ia terus memandangi Sungmin dan terus tersenyum. Cukup lama senyuman itu ditujukan pada Sungmin,, dan air mata kembali mengalir di pipi Sungmin. Ia membuang pandangannya dari wajah Amor, tubuh Sungmin terguncang, ia hanya terisak menahan tangis karena ia telah berjanji tak akan menangis di hadapan Amor, tapi air mata yang deras telah membanjiri wajahnya.

Dengan perlahan Sungmin melipatkan kedua tangan Amor. Ia menutup mata Amor yang masih terbuka tampak sendu seakan tak ingin melepaskan Sungmin dari pandangannya untuk terakhir kalinya, senyumpun masih terlihat jelas di wajah Amor. Sungmin mengecup lembut dahi Amor, cukup lama dengan air mata yang terus berurai.

@@@

Pipitku telah terbang bebas

Tapi bukan dengan sayap yang patah

Ia terbang dengan sayap cintanya

Menari indah di cakrawala hatiku…

                        Walau ragamu telah hancur

                        Tapi hatimu tak pernah jauh dari hatiku

                        Walau aku tak bisa merengkuhmu lagi

                        Tapi jiwamu akan terus bertakhta dalam ingatanku

                        Karena kau tetap Amorku… cintaku…

Sungmin melipat kertas yang ada di tangannya, ia lalu memasukan kertas itu ke dalam botol. Setelah menutup botol itu, Sungmin langsung melempar botol itu sekuat tenaga ke tengah ombak yang langsung meraih botol tersebut.

“Aku tak akan mengucapkan salam perpisahan padamu.. tapi sampai jumpa kembali” Bisik Sungmin lirih “Kenangan tentangmu seindah namamu… cinta..” Sungmin menatap botol itu yang kian jauh di bawa ombak.

Angin sore yang lembut, menyampaikan pelukan hangat Amor kepada Sungmin. Perasaan Sungmin berubah menjadi begitu tenang, ia menatap birunya laut yang tenang, seperti suasana hatinya saat ini. Dan ia yakin seseorang yang jauh telah menerima pesan hatinya itu.

~ The End ~

p style=”text-align:justify;”

Iklan

42 thoughts on “Seindah Namamu,, Cinta (Part 3 of 3)

  1. lovelyminbi berkata:

    ugh.. tetep keren sampek akhir… tapi ceritanya kecepetan… jadi yang tadinya pengen nangis malah gak bisa nangis… hiks..

    gomawo udah bikin cerita keren kayak gini chingu… :’)

  2. Vinda berkata:

    pertamanya berharap ada keajaiban biar amor sembuh, tapi trnyata nggak -.-
    kasian umin :3 tp ff nya bagus !

  3. Na berkata:

    Jadi? Amor beneran meninggal? O.O
    omo~ kenapa sad ending bgni eon T.T
    Feel.a kerasa bgt, apalagi smbil dgerin 7 years of love nya Kyuhyun T_T

  4. ziana berkata:

    daebak…tp koq sad ending thor bener2 menyayat hati kisahnya..nyampe bercucuran air mt bcnya jadi terbyg sdhnya ditgl org yg disyg….huhuhuhuhuhuhu

  5. inggarkichulsung berkata:

    so sad Amor nya meninggal.. Sungmin oppa memenuhi janjinya dgn Amor untuk tdk menangisi dirinya

  6. iebefishy berkata:

    yak so sad pukpuk minppa masih ada aku di sini *plaakkk #digetok donghae
    ceritamu slalu daebak, tapi kurng panjang chingu mian 🙂

  7. mimi berkata:

    parah amat yak penyakitnya amor. . .
    authornya mau bikin setragis-tragisnya nich. . . .
    hadewh! ..
    tp daebak .. .
    bkin nyesek yg baca

    • marchiafanfiction berkata:

      itulah,, maklum waktu awal2 bikin begitu tp ke sini2 , so pake bahasa indonesia yg baku dan benar hahahah

      tra usah perkenalkan lagi , ko pu Osok senja sudah sangat jelas memperkenalkan siapakah dirimu itu hahahahahahahaha

      ________________________________

  8. gyueonni berkata:

    nangis bacanya, eh telat y? huhu^^ tp bnran ini bkin nangis thor. mnrut aku cerita ini bisa buat siapa ja slain pacar
    hiks.. keren.. (nangis di samping kyu /ngarep)

  9. shin ji wook berkata:

    Ahh Ryeowook oppa sok bgt tua, ah eonni ff mu selalu mengalihkan duniaku wkwk~ eonni daebak !!

  10. shatia berkata:

    Alurnya terlalu kecepetan jadi pas bagian sedihnya kurang mengena..tapi over all bagus..aku suka dengan rasa cinta Sungmin yang tulus terhadap Amor, walaupun mereka gak bisa bersama tapi setidaknya disisa hidupnya Amor pernah mengalami rasa cinta yang buat dia bahagia..

  11. hikmah berkata:

    yah… akhirnya amor meninggalkan sungmin,#sungmin kau hrs tetap kuat# (T_T) …. walaupun sad ending tp tetep keren eonni… daebak……

  12. kyureeya berkata:

    yaa eonnie..sbnarnya aq bharap happy ending..
    tp tak sprti yang q harapkan..
    tp tenang Minnie oppa, wlpun amor meninggalkanmu
    masih ad aq… #peluk oppa…

  13. Widya Choi berkata:

    Ksian liat amor n sungmin. Tp ini mgkin yg tbaik..tlebih unk amor. Cz dy trlu lama sakit jd skrg dy mgkin udh tenang. Dy udh prgi dg bhgia..aplg sungmin slu ad dsisi ny huhuhu.. 😢😢😢

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s