Along Time (Part 1)

Cast   :

–  Cho Kyuhyun

–  Kang Da In (Fiction)

–  Lee Donghae

–  Kim Kibum

–  Park Sangmi (Fiction)

–  May (Fiction)

–  Other Suju’s Member

~>FF ini murni buatan saya, say no to plagiat!!!

~~~~~

Mianhae,, maaf..aku tak bisa menepati janjiku pada tuan..” wanita itu tersenyum dibalik kesakitannya.

Seorang gadis tersentak bangun dari tidurnya, tangannya meraih air di meja dan meminum habis dalam sekali teguk.

“Mimpi apa itu..” ia bergumam tak paham tapi sorot matanya terlihat begitu penasaran.

~~~~~

Dua orang siswi dengan tubuh tinggi semampai terlihat berjalan menyusuri koridor sekolah. Siswi yang satu memiliki rambut ikal dan dijepit seadanya, seorang lagi berambut hitam lurus yang dibiarkan terurai sebatas pinggang. Kedua gadis itu berjalan tanpa segaris senyumpun di wajah mereka, mungkin itu alasan mengapa siswa-siswi yang lain tak ada yang berani menghalangi jalan mereka.

“YAA!!” Bentak gadis berambut lurus panjang pada seorang anak laki-laki yang terus menatapi mereka “Mau sarapan ya?!” seketika anak itu lari, melihat tinju yang ditujukan kearahnya.

“May, jangan keterlaluan begitu” Ujar gadis berambut ikal. Berbeda dengan wajahnya yang sedari tadi terlihat garang, gaya bicaranya sangat halus dan lembut.

“Sangmi-ya. Apa kau tak melihat caranya memandangi kita?” gadis itu tampak kesal “Mereka harus diberi pelajaran”

“Tapi May..”

“Aigo, sikapmu yang lunak seperti itu akan membuatmu menjadi bahan permainan mereka. Arasseo?”

Langkah kaki kedua yeoja itu terhenti, dihadapan mereka berdiri tiga orang namja. Mereka saling bertatapan cukup lama—seperti ada kilatan listrik akibat dari adu pandang tersebut.

“Geurae.. begini rupanya kerjaan anak-anak kelas J. Apakah ini tak terlalu pagi untuk membuat kekacauan di sekolah?” Salah satu diantara namja itu berkata dengan nadanya yang mengejek.

“Kyuhyun-a… kau tak perlu heran dengan sikap mereka” seorang namja lainnya menanggapi, Lee Donghae “Kelas buangan, isinya saja preman” Ia tersenyum sinis.

“Yaa~.. jaga mulut kalian, kalau tidak..” May yang paling tidak sabaran baru saja hendak menendang ketiga namja itu tapi dicegah oleh Sangmi.

“Hentikan” Namja yang sedari tadi berdiam akhirnya ikut bicara “Kalian jangan terlalu kasar memperlakukan wanita” ia memandangi Kyuhyun dan Donghae dengan tatapannya yang tenang.

“Kibum-a, sebenarnya kau ada di pihak mana?”

Kibum seperti tak memperdulikan lototan Kyuhyun. Ia justru memandangi Sangmi dan May.

“Mianhae. Kuharap kalian memaklumi sikap dua orang ini—semua hanya karena kami memang tak tahan melihat yeoja bodoh seperti kalian” perkataan Kibum dibarengi dengan tawa kedua sahabatnya.

Sangmi berusaha mati-matian memegangi May yang sepertinya sangat bersemangat untuk menghajar ketiga musuh bebuyutan mereka.

“Jamkkanman..” Kyuhyun bergumam “Sepertinya ada yang kurang? Ah, ya.. dimana sipendek itu?”

“Waeyo??”

Seorang yeoja baru saja bergabung dengan May dan Sangmi. Tubuh gadis berambut sebahu itu memang lebih pendek dari kedua sahabatnya. Matanya menatap ketiga namja itu dengan sangat beringas.

“Wae? Ada perlu apa mencariku?” gadis itu mempertegas pertanyaannya.

“Aigo~ sepertinya tak ada yang bisa mengalahkan rekor ratu kesiangan” sindir Donghae

“Tampaknya kalian bermasalah dengan pendengaran kalian??”

“Lalu, kurasa kau bermasalah dengan tinggi badanmu!!”

Sebuah tendangan keras bersarang di wajah Donghae disusul dengan tendangan berikutnya yang mendarat tepat di perut Donghae. Ia hanya bisa meringis kesakitan sambil menatap kesal pada gadis yang sudah membuatnya menderita.

“May!! Apa kau tahu seperti apa rasanya?”

“Mianhae, tapi aku tak suka kalian menghina kami!!” tegas May. Ketiga gadis itu langsung meninggalkan Kyuhyun, Kibum dan juga Donghae yang masih meringis sakit.

~~~~~

Da In, May dan Sangmi tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian yang baru saja mereka lalui. Ketiga gadis itu memang sudah sangat kompak sejak lama. Da In yang memiliki tubuh lebih pendek dari kedua sahabatnya. Sesuai dengan sifatnya yang kasar, Da In sangat senang melakukan sesuatu yang tidak biasanya bagi anak gadis sepertinya, hobinya tak jauh-jauh dari hal-hal yang berbau ekstrim seperti mendaki, panjat tebing, arung jeram dan lain sebagainya.

Lalu May, gadis berambut hitam panjang, berdarah campuran karena Ayahnya berasal dari negeri tirai bambu. Satu hal yang membuatnya ditakuti, May sangat mahir dalam kungfu.

Sedangkan Sangmi, gadis berambut ikal itu, mungkin dia yang terlihat paling waras diantara kedua sahabatnya. Walaupun tampang Sangmi terlihat galak tapi hatinya sangat baik dan lembut, tapi jangan sampai membuatnya marah Karena Sangmi bisa berubah menjadi lebih menakutkan dibandingkan Da In dan May.

Ketiga gadis manis itu sudah dikenal oleh seantero sekolah karena keliaran dan keonaran yang sering mereka sebabkan dan makin genaplah sudah daftar hitam mereka mengingat mereka berasal dari kelas XI-J. Kelas yang sudah dicap oleh semua siswa maupun guru sebagai kelas ternakal dan menghasilkan berandalan kelas kakap. Jarang sekali ada guru yang tahan berlama-lama di kelas itu, Kalaupun ada mereka telah memiliki iman dan kesabaran tingkat dewa untuk menangani kelakukan siswa-siswi kelas J yang tak punya harapan.

“Waeyo? Salah bantal?” Tanya May, melihat Da In memijat-mijat lehernya

“Anio” Jawab Da In singkat “Aku lelah melihat anak-anak kelas A tadi”

“Tentu saja. Tinggi badanmu mengharuskanmu terus mendongak kepada mereka”

“Yaa~ mwoya?” Lirik Da In marah “Aku sangat kesal dengan mereka. Jangan harap karena duduk di kelas A lalu seenaknya. Siapa mereka huhh? Sok kecakepan”

“Da In-a. Aku pikir mereka memang cakep” potong Sangmi “Tapi aku, lebih memilih Kibum. Dia tampak kalem dibandingkan Kyuhyun dan Donghae”

“Kalem????” May menatap Sangmi cukup lama “Yang seperti itu kau bilang kalem? Omo~ Sangmi-ya, mereka sama sombong dan menyebalkan. Sok kepintaran!”

“Tapi May, nyatanya mereka memang pintarkan? Buktinya mereka bisa duduk di kelas A. Kau tentu tak lupa, posisi peringkat dari tiga orang itu di sekolah” kata Sangmi lagi.

“Yaa! Yaa! Kalian bisa diam tidak? Kepalaku semakin pusing mendengar celoteh kalian” Da In menutupi telinganya “Aku lapar. Lebih baik mengisi perut”

Mata Da In tertuju pada café sekolah. Ia segera melangkah masuk diikuti oleh Sangmi dan May.

May baru saja mau duduk tetapi lengannya keburu ditarik Da In, mereka menuju ke tempat lain.

“Ajeossi!” panggil Da In. Ia memberikan kode pada ajeossi pemilik café, pria tua itu hanya mengangguk. Sepertinya ia sudah tahu selera ketiga yeoja itu.

“Da In-a, mengapa kau menarikku kasar? Duduk disana jugakan sama saja, setidaknya tak perlu membuang tenaga untuk datang ke meja ini” keluh May.

“Yaa~ itu sudah ditempati dan aku tak mau bergabung dengannya” Da In melirik tempat tadi.

“Jeongmal? Tak ada seorangpun disitu” May melirik ke tempat yang disebut oleh Da In.

“Kalian tak melihatnya? Wanita yang duduk di situ”

“Da In-a, tak ada siapapun di situ. Jangan bercanda seperti itu!!” Sangmi mulai gusar.

“Aigo~ kau pikir aku sedang bercanda” geram Da In “Yaa~ jangan melihat ke arahnya, sepertinya dia menyadari itu. Aku tak suka tatapan matanya”

“Kang Da In. hentikan! Kau membuat bulu romaku merinding” Sangmi memegangi lehernya, ia terlihat bergidik ngeri.

Kedatangan ajeossi mengantarkan makanan mereka mencairkan suasana yang semula tegang. Tak menunggu lama langsung saja diserobot oleh ketiga gadis itu.

“Yaa~ apa kau masih melihat wanita itu?” Tanya May dengan mulut penuh makanan.

“Ne” jawab Da In santai “Sayang sekali. Kalian harusnya bisa melihat itu”

“SIHREO!!” teriak May dan Sangmi histeris.

“Aku sangat bersyukur untuk tidak diberikan mata mengerikan seperti milikmu Da In-a!” May bergidik ngeri

“Tapi—mengapa kau tak merasa takut sedikitpun?” pertanyaan Sangmi hanya dijawab Da In dengan tatapan “Kau serius tak merasa takut? Mereka bisa saja menggangumu”

“Mengganggu? Ani. Selama aku tak mengusik mereka maka mereka akan melakukan hal yang sama—tak ada yang perlu ditakutkan” Jawab Da In enteng

#####

Pukul 9 pagi. Hampir seluruh koridor sekolah tampak sunyi, semua penghuni sekolah telah memulai aktivitas belajar dan mengajar sejak pagi hari tadi. Da In satu-satunya manusia yang memecahkan kesunyian sekolah yang dikenal dengan kedisiplinannya yang tinggi, ia terlihat santai tanpa rasa takut akibat keterlambatannya yang sudah sangat kelewatan.

Gerbang sekolah memang telah dikunci sejak bel masuk berbunyi tapi Da In selalu saja lolos mengingat kelihaiannya melompati pagar setinggi apapun, dan semua orang sudah tahu itu, tapi tak satupun yang sanggup menghalanginya. Mereka sudah lelah berurusan dengan Da In.

Suasana gaduh di dalam kelas XI-J sudah didengar Da In dari luar meskipun ada Leeteuk, guru sejarah mereka yang sedang memberikan materi. Mata Leeteuk yang cipit kian melebar melihat Da In yang masuk kelas dan duduk dengan santainya.

“Kang Da In!!!” Hardik Leeteuk seonsaengnim “Seenaknya saja kau menyelonong masuk tanpa permisi. Kau tak lihat ada guru di depan kelas ini??”

Da In segera meraih tasnya dan berjalan keluar kelas tanpa memperdulikan Leeteuk saengnim yang sudah bersiap untuk menerkamnya.

Yeoja itu mengetuk pintu

“Selamat pagi seonsaengnim!” katanya lagi memberi salam lalu kembali melangkah ke dalam kelas.

“Yaa!! Eodiega??”

“Ada apa lagi? Aku sudah memberikan salam. Apa ada yang salah dengan itu?”

Guru itu mulai kehabisan kesabaran.

“Kau, mengapa tiada hari tanpa berlambat?”

“Saengnim, kelinci saya mati!”

“Mwo?” Leeteuk memandang berang pada Da In “Aigo, kau memang selalu beralasan. Bukankah kemarin kau juga mengatakan hal yang sama?”

“Seonsaengnim..” Da In balik menatap Leeteuk dengan rasa kesal “Sebaiknya kuperjelas saja. Kemaren yang mati itu anak kelinci, hari ini induknya menyusul”

“Omo~ jangan-jangan besok kelinci jantannya juga ikut-ikutan mati!!” Ledek seorang siswa, Heechul. Kelas semakin ricuh.

“YYAAA!!! Diam kau!!!” Gertak Da In diikuti oleh gerakan tangannya yang melempar buku pada Heechul.

“Berhenti!!” teriak Leeteuk saengnim “Da In, kembali ketempat dudukmu” perintahnya pada Da In. Dengan sabar, Leeteuk melanjutkan materi yang sempat tertunda.

Sementara itu Da In sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh May dan Sangmi.

“Hari ini kau datang lebih cepat sejam. Wae?” Sangmi melirik jam tangannya yang baru menunjukkan pukul 9 pagi.

“Si Teuki itu dari tadi gelisah menantimu” Ejek May

“Sepertinya, manusia pra sejarah itu menyukaimu Da In-a” kata Sangmi

“Yaa~ Michin!!” dengus Da In

“Geurae, aku pikir dengan melihatmu, seonsaengnim dapat mengobati rasa rindunya pada anjing pudel miliknya”

“Babo! Kalian menyamakanku dengan anjing pudel? Hooo, aigo” Da In menatap kesal pada kedua sahabatnya.

“Kau sama imutnya dengan anjing pudel itu. Akui saja” May kembali melontarkan ledekannya

“Nappeun!!” Da In menjitak kepala kedua sahabatnya itu, May dan Sangmi hanya meringis pelan sambil tertawa “Seonsaengnim hanya kesal padaku. Dia tahu aku dalang dibalik hilangnya anjing kesayangannya”

“Tentu. Apalagi anjing itu justru kau berikan pada Yesung sebelum dia pindah sekolah” Sangmi bergumam “Yesung yang malang. Sampai sekarang dia pasti tak menyangkan jika anjing yang dipeliharanya itu anjing curian”

Tawa tanpa rasa berdosa ketiga gadis itupun berderai memenuhi seisi kelas.

“YAAAA.!!!”

Teriakan kelas Leeteuk seonsaengnim membuat ketiganya terlonjak kaget, siswa yang lain langsung menyumbat lubang telinga mereka agar teriakan itu tak berakibat fatal pada pendengaran mereka

“Kalian pikir ini dimana??” kemarahan Leeteuk sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

“Aigo, seonsaengnim—jika kau marah-marah seperti itu maka kau akan semakin bertambah tua, lihat saja wajahmu mulai keriput” Ujar Da In santai diikuti dengan anggukan kepala Sangmi dan May.

“Yaa!! Kau mengatakan apa?” mata Leeteuk menyala-nyala dengan api kemarahan, kata tua adalah hal yang paling sakral bagi guru yang satu ini.

Leeteuk memperhatikan wajah siswa siswi kelas J tersebut

“Baiklah. Aku rasa kalian tak memerlukan penjelasanku lagi. artinya, kalian semua bisa menjawab setiap pertanyaan dengan benar”

“Sihreo!! Itu tak adil” protes para siswa. Leeteuk tidak menghiraukan keluhan-keluhan yang didengarnya

“Megantrophus paleo javanicus.. apa artinya itu, Da In??” tatap mata Leeteuk tertuju pada Da In (#nih author dah kehabisan ide mau ngasih pertanyaan apa,, hehehe#)

“Naega?” Da In tersedak pelan, telunjuknya mengarah pada dirinya sendiri meminta penjelasan

“Iya, kau!!” ulang Leeteuk “Ayo lekas jawab!!!”

“Ngg.. hmm…” Dahi Da In tampak berkerut “Ngg,, geurae.. kemungkinan besar artinya—mega gadis tropis anaknya pa’ leo yang tinggal di Jawa akhirnya ketemu sama nicus” jawab Da In “Eotteohke? Aku tahu pasti benar” Da In begitu antusias.

(#Mian readers, jawabannya juga ngaco. Author lagi kumat sarapnya#)

“Omona! Brilliant!!” puji Sangmi

“Aku tak menduga dengan kapasitas otakmu yang terbatas, kau masih menyimpan kejutan itu!” timpal May.

Da In tersenyum sumringah melihat wajah kedua sahabatnya yang tampak haru dan bangga pada dirinya. Sementara itu Leeteuk saengnim yang hanya menyeka keringatnya yang mulai bercucuran, ia terlihat kesal.

“Sangmi, jawab pertanyaan yang tadi!!” tatapan Leeteuk beralih kepada Sangmi

“Seonsaengim, jawabanku sama dengan milik Da In. Kau ingin aku mengulang itu??”

Leeteuk membanting buku yang dipegangnya di atas meja

KKRRRIIIIINGGG…

Mulut Leeteuk baru saja hendak melontarkan kemurkaannya ketika bel panjang tanda istirahat berbunyi, semua siswa langsung berteriak histeris dan berhamburan keluar kelas meninggalkan guru malang itu yang tampak bengong dengan raut wajah terlihat blo’on.

#####

“Gwaenchana?” Sangmi menyadari ada yang berbeda pada Da In

“Anio” jawab Da In singkat “Hanya saja, belakangan ini aku selalu memimpikan hal yang aneh”

“Mimpi aneh?” ulang May “Mwo? Hantu??” lanjut May “Itu hal biasa bagimu”

“Hooii, bukan itu!!” Da In tampak kesal

“Lalu?” Sangmi semakin penasaran

Da In merengut. Ia menarik nafas panjang.

“Aku memimpikan hal yang sama setiap malam” Tanya Da In

“Jeongmal?”

“Kau sedang berbicara tentang apa?” Tanya May mulai penasaran seperti halnya Sangmi

“Molla, tapi aku selalu melihat sebuah padang rumput yang sangat luas, sejauh mata memandang. Bunga-bunga liar yang tumbuh di sekitarnya dan aroma segar rerumputan..” Da In lalu terdiam sejenak “Dan, dan.. aish, itu tampak aneh bagiku!!”

“Itu hanya mimpi. Semua orang juga memimpikan hal seperti itu” gerutu Sangmi

“Aku merasa aneh karena sepertinya aku merasa tahu tentang tempat itu, padahal seumur hidup aku belum pernah ke tempat seperti itu, jangankan begitu, lokasinya dimana akupun tak tahu”

“Aigo, kau begitu heboh dengan mimpi itu” protes May.

“Yaa! Yaa! Kuminta kalian mendengarkan dulu” lototan Da In membuat May dan Sangmi terdiam “Dalam mimpi itu, aku juga melihat seorang pria—badannya tinggi dan tegap. Dia tampak gagah dengan pakaian yang dikenakannya. Melihat cara berpakaiannya aku tahu dia bukan dari kalangan biasa tapi seorang yangban”

(#Yangban : bangsawan#)

“Mwo?”

“Yangban? Kau sedang berbicara apa? Saat ini kau masih mengatakan tentang bangsawan..lucu sekali” May tertawa, ia menatap Da In dengan tatapan mengejek.

“Nappeun, kalian dengar saja” geram Da In “Aku heran tapi perasaanku sangat yakin tentang orang itu. Aku sangat yakin, dia seorang pejabat kepolisian dari dinasti Joseon”

“MWORAGO??” Sangmi dan May begitu kompak memamerkan keterkejutan mereka.

“Kau bilang—dinasti Joseon??” ulang Sangmi. Ia tak yakin dengan apa yang didengarnya.

Da In mengangguk. Membenarkan Sangmi bahwa tak ada yang keliru dengan pendengarannya.

“Hebat sekali..Da In-a, kau tak terlalu berlebihan memasukkan dinasti Joseon ke dalam mimpimu?” May berdecak heran.

“May-a, aku tak sedang berbohong. Araseo?” gadis itu begitu kesal karena ucapannya diragukan oleh kedua sahabatnya “Juga, samar-samar aku bisa lihat mulutnya yang digerakkan, ia sedang mengatakan sesuatu tapi aku tak bisa mendengar dan mengartikan gerakan bibirnya itu. Lebih menyebalkan, wajahnya tak bisa kulihat dengan jelas”

“Da In-a, aku rasa orang itu bukan berasal dari jaman Joseon. Mungkin saja dia seorang aktor yang sedang shooting drama saeguk” tebak Sangmi (#drama Saeguk : kerajaan/drama kolosal/historical#)

“Ani. Tidak seperti itu, aku sangat yakin. Aku bisa merasakannya”

“Lalu apa hubungannya denganmu?” tanya May

“Molla. Mimpi itu sudah menyingkirkan mimpi-mimpi indahku dua minggu belakangan ini”

“Da In-a, apakah mungkin yang kau lihat dalam mimpimu itu adalah roh penasaran yang meminta bantuanmu?” tebak May

“Ah gila kamu May” Da In memegangi tengkuknya. Kali ini dia merinding mendengar ucapan May.

“Itukan masih kemungkinan” kilah May

“Ne, tapi itu mustahil May” Da In mengelak “Coba dipikir, dia itu dari zaman yang berbeda dengan kita dan seandainya jika tebakanmu benar, untuk apa dia mencariku? Apa hubungannya aku dengan dia?”

“Iya May, Da In benar” timpal Sangmi “Lagipula, apa tak kelamaan jika hanya ingin meminta bantuan lalu muncul di jaman serba modern ini? Kenapa tak dari dulu-dulu saja? Dan kenapa harus Da In?”

“Wah, wah.. pagi-pagi sudah obral gigi”

Entah sejak kapan ketiga namja kelas A musuh besar mereka sudah berada dihadapan mereka.

“Kyuhyun-a, apalagi yang harus mereka obral, otak saja mereka tak punya” timpal Donghae

“Aku tak ingin kalian mengusik ketenangan kami” Da In mulai kesal

“Mengusik? Apakah ucapanmu tak salah?” tatap sinis Donghae “Kalianlah mesin keributan yang selalu mengusik ketenangan dan kenyamanan sekolah”

Kibum hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Donghae.

“Tentu saja seperti itu. Tong kosong nyaring bunyinya” Kyuhyun tersenyum memojokkan ketiga yeoja yang mulai naik darah.

“Aigo, apa kalian terbaik?”

“Kau tahu jawabannya” terang Kyuhyun “Bukan salah kami jika terlahir dengan otak jenius dan cemerlang berbeda dengan kalian, IQ sudah jongkok, merayap pula” sindirnya.

“Benarkah?” Da In balik bertanya “Lalu bagaimana dengan pernyataan banyak orang tentang manusia jenius yang tak jauh berbeda dengan orang sinting?”

Jelas sekali Da In tak ingin dikalahkan.

“Sebaiknya kita pergi dari hadapan orang-orang sinting ini” Ajak Sangmi yang dari tadi hanya diam.

Kyuhyun, Donghae dan Kibum hanya memandangi kepergian tiga yeoja musuh berat mereka itu.

#####

“Aku pulang…”

Da In menghempaskan diri di sofa. Ia menatap langit-langit rumahnya dan termenung

“Ah, rumah ini sepi sekali” gerutu Da In Sambil bangkit dari duduknya.

“Agassi”

Da In mendapati Han ajumma telah berdiri di situ, wanita itu adalah pelayan di rumah Da In.

“Tuan dan Nyonya menelepon menanyakan kabar Agassi”

“Begitu. Kapan mereka pulang?”

“Tuan dan nyonya akan melanjutkan perjalanan mereka ke Moskow”

“Mwo??!!” Da In terkejut mendengar penuturan sang ajumma, maklumlah kedua orang tuanya yang mempunyai hobby bepergian ke luar negeri dan suka lupa pulang. Da In segera menuju ke kamar tidurnya sambil menghentak-hentakan kakinya, kesal.

#####

Donghae, Kyuhyun dan Kibum tengah bercakap-cakap di depan kelas mereka yang berada di lantai tiga.

“Donghae-ya! berhenti memamerkan wajah lesuhmu itu. Kau membuatku tak berselera”

“Jeongmal? Omo~ aku tak menyangka kau sangat berselera padaku” goda Donghae, menatap Kyuhyun dengan sorot mata tak percaya.

“Michin” desis Kyuhyun

“Hubunganku dengan Chae Young berakhir” gerutu Donghae

“Putus lagi?” Kyuhyun begitu bersemangat mendengar penuturan Donghae.

“Ah, sudahlah. Yeoja tak cuma dia saja” Elak Donghae berusaha menghibur diri sendiri “Patah satu tumbuh seribu. Benarkan, Kibum-a?”

“Dasar sinting” Ledek Kibum.

Kyuhyun hanya tertawa melihat Donghae yang senang sekali menggoda Kibum yang pendiam.

“Kalian..” tunjuk Donghae kepada segeromboloan cewek yang sedang main basket di lapangan “Kelas gangster lagi main basket” Ejek Donghae.

“Jago juga mereka” kata Kyuhyun. Ketiganya memperhatikan tiga cewek musuh mereka. May, Da In dan Sangmi terlihat sangat bersemangat dalam bermain basket.

“Gila..” gumam Donghae

“Nugu?” Tanya Kibum

“Aku..” jawab Donghae

“Syukurlah, akhirnya kau sadar juga” balas Kyuhyun

“Kyuhyun-a, eotteohke? Sepertinya aku mulai menyukai May” ucapan Donghae kontan saja membuat Kibum dan Kyuhyun menoleh padanya secara refleks.

“Mworago?”

“Kau mengatakan, May??”

“Jangan memandangiku seperti itu” ujar Donghae, matanya terus mengawasi May “Rambut panjangnya yang terikat bagaikan kain sutra, kulitnya seperti salju. Matanya yang agak sipit dan galak itu sangat menantang dan.. dan keringat ditubuhnya itu—aigo, dia begitu seksi” ucapan Donghae membuat Kyuhyun dan Kibum ingin muntah.

“Kau gila!” ejek Kibum

“Hentikan pikiranmu. Apa kau tak takut dengan yeoja menyeramkan itu?” tanya Kyuhyun “Dia bisa membuat tubuhmu tercerai berai. Sadarlah Lee Donghae”

“Sihreo!” tolak Donghae “Apapun akan kulakukan karena cinta itu butuh pengorbanan. Meski nyawa taruhannya”

Kibum mendorong kepala Donghae. Ia dan Kyuhyun langsung meninggalkan Donghae

“Aku serius..” kata Donghae, ia segera menyusuli Kyuhyun dan Kibum.

~~~~~

Sementara itu, di lapangan basket dengan cuaca yang cukup terik membuat Da In, May dan Sangmi segera melarikan diri ke café sekolah.

“Eotteohke? Aku lupa membawa uang” Da In meraba-raba saku celana olahraganya yang kosong. Begitu juga dengan Sangmi dan May.

Beberapa saat kemudian setelah sekian lama memikirkan cara untuk mendapatkan uang, akhirnya pikiran mereka tertuju pada Shindong, murid kelas tetangga mereka yang memiliki badan segede kuda nil. Dia begitu menikmati makanannya setelah sebelumnya berhasil menghabiskan empat porsi.

Shindong begitu gugup ketika menyadari dirinya tengah diperhatikan oleh tiga yeoja yang paling ditakuti di sekolah. Dengan tergesa-gesa ia menghampiri Da In dkk.

“I, ini…” Shindong menyodorkan selembar uang dengan nominal yang cukup memuaskan.

Nice!” seru Sangmi

“Okelah” Da In mengebas-ngebas uang itu “Gomawo Shindong-a. Tak perlu cemas, tiket surga kelas VVIP sudah berada di tanganmu, para malaikat pasti sudah mencatat perbuatan baikmu hari ini”

Shindong terdiam, ia memandangi uang yang kini telah berpindah tangan. Tatapannya terlihat sangat tak rela, ia masih memikirkan beberapa porsi makanan yang dapat dipesannya dengan uang itu.

“Waeyo?” May memandangi Shindong yang belum juga beranjak “Jadi, kau ingin segera menggunakan tiket VVIP itu?” ia memamerkan tangannya yang telah mengepal kuat. Detik selanjutnya, Shindong sudah tak terlihat lagi.

#####

Di dalam kelas XI-J yang begitu hiruk pikuk. Da In, May dan Sangmi sedang mendiskusikan sesuatu. Ini merupakan pemandangan yang tidak lazim.

“Tumben kalian tak ikutan?” tegur Heechul

“Iya. Biasanya kalian paling semangat. Habis kesambet” goda Sungmin beraksi dalam perang kertas dengan murid lain.

“Kesambet tornado!” ledek Ryeowook, diikuti oleh tawa murid sekelas.

“BUGGHH!!!” sebuah sepatu melayang menghantam wajah Ryeowook

“Iya, efek tornado membuat sepatuku melayang” balas Da In

“Da In-a, kau tega sekali” ringis Ryeowook

“Diam kau!!” hardik Da In “Sekarang bawa sepatuku ke sini!” perintah Da In

“Sihreo! Kau juga punya kaki untuk melangkah kesini”

“Ppalli!!” kembali Da In menggertak Ryeowook. Ryeowook segera memungut sepatu itu dan menyerahkan pada Da In

“Hati-hati kalau ngomong, dipikir dulu” celetuk Da In

“Dia tak mungkin bisa berpikir” Sangmi bergumam “Semua hal yang kau ucapkan tak sempat masuk ke otaknya—nyangkut duluan di rambut” sindir Sangmi

“Wookie-ya, mengapa kau masih memelihara sarang lebah itu? Bonding sana biar pikiranmu juga ikutan lurus” sambung May ikut menyindir namja yang berambut brekele dasyat itu.

(#Author minta maap yee,, kali ini lagi ngebayangin Wookie dengan rambut keriting kriwil-kriwil, brekele dasyat gitu hohoho#)

“Aish, aku tak tahan dengan kecoak-kecoak ini” May beranjak, ia hendak keluar dari kelas.

Da In turut serta setelah terlebih dahulu mendorong kepala Ryeowook.

“Sejak kapan kalian bertobat?” Tanya Ryeowook pada Sangmi yang masih membereskan buku-bukunya. Sangmi tak bereaksi.

“Ini milikmu, benarkan?”

Sangmi menyodorkan beberapa sachet shampoo kepada Ryeowook

“Segera keramas rambutmu. Jika tidak kau lakukan, kita semua bisa mati tegang” ujar Sangmi “Wookie-ya, kau tak menyadari jika sedari tadi jika kau lewat kucing dan anjing milik penjaga sekolah langsung sempoyongan—mabuk tak jelas”

“Jangankan kucing dan anjing, burung-burung saja terbang hanya dengan sayap sebelah..” tambah Heechul

“Waeyo?” Sangmi bertanya dengan wajah polosnya yang tak mengerti maksud Heechul.

“Sangmi-ya.. mereka bertingkah seperti itu karena sayap sebelahnya lagi buat menutupi hidung mereka” kata Heechul sambil mempraktekkan gayanya. Semua langsung tertawa terbahak-bahak.

“Nappeun. Itu hanya akal-akalanmu saja” elak Ryeowook yang tampak malu “Sangmi-ya, gomawo.. sudah tiga minggu aku tak keramas karena kehilangan shampoo ini”

“Terselip di sarang lebahmu” Sangmi mengarahkan telunjuknya pada rambut Ryeowook. Sangmi segera keluar kelas, menyusuli May dan Da In.

“Wae?” gumam May saat melihat segerombolan siswa berdiri di depan sebuah kelas. Ketiga gadis itu menatap dengan rasa ingin tahu dari kejauhan, ketika kumpulan siswa itu membubarkan diri dan tak lama setelah itu tampak seorang wanita yang terisak-isak ditemani oleh beberapa orang guru, mereka baru saja keluar dari kelas yang menjadi pusat perhatian tadi.

“Apa yang terjadi?” Tanya May pada seorang siswa yang kebetulan lewat

“Ehm,, itu Ibunya Na Young. Katanya, sudah empat hari Na Young tak pulang” siswa itu segera pergi setelah memberikan penjelasan yang diminta oleh May.

“Siapa gadis bernama Na Young itu?” Tanya May

“Na Young” gumam Sangmi “Dia anak tingkat tiga, termasuk yeoja popular di sekolah ini”

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….!!!

Sebuah jeritan panjang begitu memekakkan telinga membuat Da In secara refleks menyumbat lubang telinganya.

“Oii, Da In-a!” May menepuk pundak Da In. Ia dan Sangmi menatap heran pada Da In

“Wae?” Tanya Sangmi

Da In menurunkan kembali kedua tangannya yang menempel di telinga

“Teriakan tadi membuat gendang telingaku hampir pecah”

“Teriakan?” May tampang bingung “Siapa yang berteriak?”

“Omona! Teriakan sedasyat itu tak kalian dengar? Sebaiknya periksakan telinga kalian”

Sangmi dan May hanya menatap Da In dengan terheran-heran.

“Kenapa kalian masih disini??”

Ketiga yeoja itu terkejut karena Jung Seonsaengnim atau lebih sering dipanggil dengan Miss Jung sudah berdiri dihadapan mereka. Miss Jung, guru yang cukup tegas. Miss Jung belum menikah walaupun umurnya tak mudah lagi, mungkin itulah salah satu penyebab sikapnya yang cukup menyeramkan.

“Tunggu apa lagi? Cepat masuk kelas!!!” ketiga gadis itu segera berhamburan menuju tempat duduk mereka

“Kumpulkan tugas kalian. Sekarang juga!” Miss Jung yang galak itu menatap seisi kelas J dengan kacamatanya yang sudah berada di ujung hidung. “Maju ke depan satu per satu!!” katanya lagi setelah tahu tak satupun yang mengindahkan tugas yang ia berikan. Miss Jung telah siap dengan rotan yang setia menemaninya selama 18 tahun mengajar di sekolah itu.

PAAKK.. PAAKK…

Suara rotan yang terdengar seperti nyanyian ejekan ketika mengenai tubuh setiap siswa. Suara itu terdengar berulang-ulang sampai puluhan kali hingga seluruh siswa kebagian jatah dan kembali ke tempat duduk mereka dengan wajah yang meringis kesakitan.

“Kalian sangat keterlaluan. Tak satupun dari kalian yang pernah mengindahkan tugas yang aku berikan. Apa kalian ingin mati? Huhh?”

“Miss Jung, kami terlalu lelah..”

“Harap dimaklumi. Ini bukan kelas sembarangan. Kami mempunyai jam terbang lebih tinggi, jadi menempatkan kami di urutan kelas tersibuk di sekolah ini” jawab seorang siswa dengan cuek

“Aigo, Kalian sungguh tak punya masa depan. Coba kalian lihat siswa-siswi di kelas A”

“Yaa~ Miss Jung yang terhormat. Kami hanya berbicara tentang kelas ini, jangan seenaknya menyebutkan kelas lain dihadapan kami—terutama kelas A” geram Da In.

Seluruh kelas begitu antusias. Mereka bertepuk tangan menyambut baik ucapan Da In. Miss Jung memandangi seisi kelas, ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan kesal.

#####

Keringat mengalir di tubuh Da In, wajahnya terlihat tidak tenang. Sesekali erangan tak jelas keluar dari mulutnya, Da In tersentak, ia terbangun dari tidurnya. Tangannya meraih segelas air yang terletak di meja, di samping tempat tidurnya.

“Mimpi itu lagi..” desah Da In “Sial, apa maksud semua ini?” Da In tampak mendongkol. Baru saja ia meletakkan kepalanya di bantal, ketika telinganya menangkap sesuatu

“Suara itu” Ia tampak penasaran, dengan segera dan perlahan Da In keluar dari kamarnya. Suara itu terdengar jelas, seperti isak tangis seseorang.

Da In  terus mempertajam pendengarannya, menuju ke sumber suara tersebut. Ia menuruni anak tangga, ia yakin suara itu berasal dari ruang tamu karena semakin dekat dengan ruang tamu, semakin jelas pula tangisan itu terdengar.

Klik

Da In menyalakan lampu, tapi tak ada siapapun di situ bahkan suara tangis itu pun seketika itu juga hilang. Ia segera kembali ke kamarnya samBil berkomat-kamit tak jelas dengan ekspresi wajah yang sangat kesal.

#####

Saat memasuki kelas, Da In sudah mendapati Sangmi dan May sedang duduk memandangi sebuah kotak yang dilapisi dengan kertas kado berwarna pink dan dihiasi oleh pita merah polkadot yang tampak cantik.

“Wah hebat!” Da In meletakan tas dengan tergesa-gesa dan langsung bergabung dengan kedua sahabatnya yang masih terpukau memandangi kado itu “Punya siapa?”

“Molla. Sudah ada di sini sejak semula” kata Sangmi “Tak jelas dari siapa dan untuk siapa..”

“Bagaimana jika ini untukmu” todong May

“Aku?” Da In balik bertanya “Aku merasa tak memiliki fans…”

“Nado” tambah May “Sepertinya kita harus extra berhati-hati”

“Wae?” dengan wajah polosnya Sangmi memberikan tanggapan.

“Aish, kau apakan otakmu itu?” May memandangi Sangmi dengan kesal “Apa kau berpikir ada orang yang berbaik hati, apalagi memberikan hadiah seperti ini pada kita? Pikirkan reputasi kita di mata mereka, aku berani bertaruh jika mereka justru menaruh kutuk atas kita”

“Jadi, malaikat mana yang telah mengantarkan hadiah ini?” gumam Sangmi penuh haru, membuat May dan Da In menatapnya dengan tatapan aneh, serasa ingin muntah.

“Jamkkanman—bagaimana jika hadiah ini untukmu, Sangmi-ya” Kata Da In

“Aku??” Sangmi tampak terkejut

“Ne” Da In mengiyakan pertanyaan Sangmi “Bukannya selama ini, Hyukjae anak tingkat tiga sedang mengejar-ngejarmu?”

Sangmi dengan penuh keyakinan ia mulai membuka pita lalu kertas kado yang mulai disobeknya. Mereka bertiga saling berpandangan, tampaknya mulai tak sabar menanti isi kado tersebut. Sangmi membuka kotak yang telah menarik perhatian mereka..

KKRROOGGG…!!!!!

KKYYAAAA!!!!!!

Selang beberapa detik, kelas XI-J langsung kacau. Keributan yang terdengar lebih dari Biasanya. Semua siswa tampak histeris. Penyebabnya adalah makhluk hijau bermata besar yang melompat keluar dari dalam kotak misterius itu.

“Aaahhh… katak!!!” teriak Sangmi, ia tersentak saat makhluk itu melompat ke lengannya “Hiiiiiii… Hushh!!” Sangmi mengibaskan lengannya sehingga katak itu terpental.

Suasana kelas bertambah gaduh karena sang katak yang mungkin hampir terkena serangan jantung karena mendengar teriakan histeris seisi kelas, melompat kesana kemari mencari tempat perlindungan dan berusaha menyelematkan diri. Di sudut kelas, Sungmin, Ryeowook dan Heechul tampak tertawa terpingkal-pingkal melihat kejadian yang mengocok perut mereka.

Akhirnya sang katak tahu tempat persembunyian yang paling aman, ia melompat dengan tepat dan hilang dalam rambut brekele Ryeowook. Ryeowook masih tertawa ngakak, tampaknya ia tak menyadari apa yang telah terjadi

“Waeyo? Apa kalian tak merasa ini sangat lucu?” Tanya Ryeowook disela-sela tawanya ketika melihat Heechul dan Sungmin yang langsung diam dan hanya menelan ludah.

“I, itu…” tunjuk Sungmin dengan gugup ke rambut Ryeowook.

“Mwoya?” Tanya Ryeowook “Aish, aku tahu—tapi aku tak bisa menyembunyikan karismaku” kata Ryeowook yang tampaknya salah kaprah tentang tatapan Sungmin dan Heechul.

KKROOGG..

Terdengar erangan penderitaan atau lebih tepatnya erangan minta tolong sang katak yang tampaknya menyesali keputusannya.

“Suara apa itu?” Tanya Ryeowook “Rasanya sangat familiar..” gumamnya lagi.

“A, ada katak… di.. di rambutmu Wookie-ya..” Akhirnya dengan susah payah Heechul dapat mengatakan maksud hatinya

“Ooo, katak…” gumam Ryeowook santai, masih dengan tawa yang setengah mampus. Beberapa detik kemudian ia terdiam “MWO?? KATAK??” Jerit Ryeowook yang baru sadar setelah mencerna baik-baik ucapan Heechul yang sebelumnya masih berputar-putar di rambut keritingnya itu. “Yaa!! Apa yang kau lihat? Bantu aku, ppalli!!”

“Ta, tapi..”

“Heechul-a!!” Ryeowook tampak tersiksa, tapi rasanya sang katak lebih tersiksa.

“Kau serius? Aku jijik dengan makhluk hijau bermata longgar itu” desis Heechul.

“Yaa~” Ryeowook mulai tak sabaran “Katakan, siapa yang begitu setia bersahabat denganmu sejak masih orok?”

“Itu,, kau Wookie-ya..”

“Mentraktirmu makan ramyeon sepuluh mangkuk, mengalahkan rekor Shindong?”

“Kau juga..” Heechul tampak lemas

“Yang menolongmu mendapatkan Soo Jin?”

“Wookie-ya..” Heechul tak sanggup mendengar Ryeowook menyebut hal-hal yang membuatnya tak memiliki pilihan lain selain menolong namja bersuara tajam melengking itu untuk mengeluarkan katak malang dari dalam rimbunan rambutnya.

“Ppalli.. jika tidak, jangan salahkan aku untuk menaruh kutuk padamu—panuan  empat belas turunan”

“Astajim Wookie! Kutuk sampai segitunya?” protes Heechul “Oke deh…” dengan berat hati Heechul menyanggupi permintaan Ryeowook. Ia mulai mengacak-acak rambut Ryeowook. Pertama, sebuah sikat gigi yang ditemukan oleh Heechul

“Nih..” Heechul menyodorkan permen pada Ryeowook

“Gomawo, kau baik sekali hari ini, kebetulan sudah lama aku tak makan permen” Ujar Ryeowook dan langsung mengunyah permen itu membuat Heechul ingin muntah, tampaknya Ryeowook tak tahu kalau permen yang terimanya bukan murni pemberian Heechul tapi justru didapat Heechul dari dalam kelebatan rambut Ryeowook. Mungkin saja permen itu sudah kadaluarsa saking lamanya tak ditemukan..

“Rambut apa gudang..” gerutu Heechul.

Heechul terdiam, tangannya memegang sesuatu dan.. “Hhiiiihhh…” Ia segera membuang katak yang dipegangnya, katak itu tak bergerak, mungkin dia masih syok karena medan yang tempuhnya cukup berat atau mungkin, bisa saja si katak tengah mengheningkan cipta, berdoa sejenak mengucap syukur karena bisa keluar dengan selamat setelah sempat putus harapan untuk menemukan jalan keluar. Kalau memang seperti itu, mudah-mudahan saja sang katak ikut mendoakan kebaikan Heechul yang telah ikut andil dalam proses penyelamatannya (#Author ngelantur#)

Da In berjalan menghampiri katak itu, lalu memegang katak tersebut. Da In tak menunjukkan rasa takut atau jijik sekalipun, berbeda dengan May dan Sangmi yang sudah ikut bergabung dengan siswa yang lain di pojokan kelas.

“Ulah siapa ini??” Tanya Da In, sorotan matanya yang tajam tampak memendam murka yang bisa meledak kapan saja. Pengangan Da In tampaknya tidak begitu kuat sehingga katak itu terlepas. Mata seluruh siswa mendelik kaget.

KRROOOGG

Suara sang katak yang tepat berada di pundak Miss Jung yang kebetulan lewat dan mampir ke kelas itu karena mendengar kegaduhan yang terjadi.  Miss Jung tampak tegang, ia menatap para siswa dan katak yang masih berada di pundaknya secara bergantian. Ada keringat yang mengucur deras di wajahnya. Sesaat kelas tampak hening, dan – BRUUGG, Miss Jung terkulai lemas tak sadarkan diri.

~~~~~

Siang hari yang udaranya terasa membakar kulit, para siswa kelas XI-J tampak sedang berbaris rapi, diluar kebiasaan mereka. Bukan karena ada upacara atau apel, tapi karena sedang menjalankan hukuman yang diberikan karena ulah mereka yang membuat Miss Jung harus dilarikan ke rumah sakit.

Leeteuk tampak sabar mengawasi murid-muridnya, mungkin ia pun berpikir bahwa mereka tersebut sudah sepantasnya mendapat sanksi akibat perbuatan yang cukup membuat Leeteuk merasa malu sebagai wali kelas. Sementara itu para siswa sudah mulai merasakan pegal karena harus berdiri dengan sebelah kaki sambil menjewer kuping masing-masing.

“Pegal…” keluh May

“Nado!” ujar Da In

“Saengnim.. apa kami sudah boleh kembali ke kelas?” sungut Sangmi

“Jangan berisik!!” bentak Leeteuk “Jangan ada yang merubah posisi”

“Sial!!” gumam Da In

“Da In??” Tanya May heran ketika melihat Da In mengumpat tak jelas. Tampaknya May tidak perlu menunggu penjelasan dari Da In, karena ia pun sudah mengerti apa yang membuat Da In dongkol

“Rupanya, semua ini…” May mulai emosi, tak jauh dari tempat mereka dihukum – Kyuhyun, Donghae dan Kibum tengah menertawakan mereka.

“Dasar namja iblis, kalian akan menyesal bahwa hari ini pernah terjadi” ujar Da In

~ to be continue ~

Iklan

248 thoughts on “Along Time (Part 1)

  1. sa hyun berkata:

    Awalnya gue kira critanya ini mirip ama drakor naughty kiss. Stlh gue bca trus, crtanya mlh bedaaaa bgt. Bgaikan alien buruk rupa dibndingkn ama kyuhyun super duper guantengg.
    Author mmng ‘TERBAIK’..

    • marchiafanfiction berkata:

      sa hyun… bahkan cerita ini ditulis sebelum adanya drama naughty kiss, kira2 10 atau 11 tahun lalu (jaman es-em-pe) pake latar indo, tp diubah ke bentuk ff sekitar tahun 2012 lalu, dan gak ada yg diganti kecuali cast…jd bisa sebagai pembanding buat sy. seperti apa tulisan jadul sy dan tulisan terupdate wkwkwk

  2. mitarashi8899 berkata:

    Jadi ini tulisan jadulnya ya kkk coz kentara banget dari bahasanya yang ga baku and typo nya byk bgt udh gitu byk bgt kalimat timpang nya tapi seruuuu… Ni ff comedy horor ya kkkk… Itu trio macan seru bgt #readDaInMaySangMi

  3. reni oktaviani berkata:

    penasran.. sebenernya apa yang ada di mimpi da in.. trus rambut wookie sampe segitunya ya.. hahaha..

  4. Widya Choi berkata:

    Njirrrrrr koplak bgt ini hahahaha…
    Musuh bebuyutan kykny mrka y.. aduh wookie besok sini bonding am gw y hahaha. Biar g brekele lg tu rambut.
    Itu si da in bs liat hntu y….

  5. Sylla berkata:

    Kak tega amat rambutnya wookie kok digondrongin sih kan kasihan😯..
    Btw kak, part 1 nya aja udah bikin merinding part selanjutnya apa lebih serem lagi😦??

  6. cho_hyuri berkata:

    Eonni sepertinya kau memang suka dengan bermacam genre, dan genre yang satu ini sangaaaaaaatttt……
    LUCU bwahahahaaaa….
    Aku ketawa bacanya gila, waw Da-in bisa liat setan. Heheeee…..
    Tambah keren.😱👍👍👍

  7. zamadia berkata:

    kak maaf ya klu aku ga lanjutin baca ff ini. krn genrenya kurang sesuai sma seleraku. maaf ya

  8. sulistyowatifitria berkata:

    Nunggu pw the moon’s sister baca2 ff yang lain dulu ^_^
    sebner nya agak ngimana gitu eyd sama typo nya bikin mikir2 lagi buat dapet kata yang sesuai, haha. Tapi disitu keseruannya membaca sambil berpikir 😀
    Part 1 masih banyak misteri agak binggung juga nebak nya hihi 😀

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s