I Fell In Love, My Trouble Maker Girl (Part 2)

ImageCast             :

–  Choi Siwon as Siwon Parris Francaise

–  Samantha (Fiction)

–  Lee Donghae as Donghae Chartier Francaise

–  Cho Kyuhyun as Kyuhyun Edmund Francaise

–  Lee Hyukjae

–  Aline Guibert (Fiction)

–  Other cast

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

 ~~~~~

Hening, begitulah suasana perpustakaan sekolah. Deretan lemari yang menjulang tinggi hampir mengenai langit-langit dan berbaris dengan rapi di dalam ruangan yang berukuran sangat luas. Buku-buku yang berderet teratur rapi di tempatnya. Perpustakaan sekolah itu memang sangat lengkap, buku apapun dapat ditemukan disitu, sekalipun itu edisi terbaru yang belum tentu ada di tempat lain. Pihak sekolah maupun dewan sekolah selalu melengkapi kebutuhan siswa dan memfasilitasi mereka dengan sangat lengkap.

Donghae terlihat mondar-mandir di depan sebuah rak, tangannya menunjuk deretan buku. Mata Donghae begitu serius memperhatikan judul buku demi buku, ia langsung terpekik girang ketika menemukan buku yang dicarinya. Dengan cekatan Donghae segera memisahkan buku tersebut dari buku-buku lain.

“Akhirnya ketemu juga” ujar Donghae seraya menghampiri Hyukjae yang juga sibuk dengan buku bacaannya. Hyukjae dan Siwon yang berada di meja, tepat di sudut perpustakaan.

“Bukankah perpustakaan di rumahpun tak kalah lengkap dengan di sini?” Hyukjae menatap Donghae dengan heran “Kenapa kau begitu heboh?” tanyanya lagi.

“Aku lupa dimana meletakan buku itu, sudah hampir sebagian halaman kuselesaikan. Syukurlah aku menemukannya di perpustakaan sekolah” katanya lagi, memberikan alasan mengapa ia tampak kasak-kusuk karena sebuah buku.

Mereka kembali terdiam, sibuk dengan bacaan masing-masing. Terkecuali Siwon yang sedang tak berminat untuk membaca. Siwon hanya duduk di jendela memandangi keluar sana, entah apa yang dilihatnya. Para siswa di bawah sana atau mereka yang berkeliaran di gedung lain sekolah itu? Apapun terpantau oleh mata Siwon dari ruang. Mungkin saja ia tengah memandangi langit biru dengan awan cerah disekelilingnya. Sedikitpun Siwon tak perduli dengan percakapan Donghae dan Hyukjae, apalagi telinganya yang telah dipasangi oleh earphone.

“Ssstt..” Bisik Donghae, ia memberi kode pada Hyukjae sambil mengarahkan pandangannya pada Siwon yang terus saja memandang keluar sana “Apa yang terjadi?”

“Tidak ada” kata Hyukjae sambil mengangkat pundaknya tanda tak tahu alasan yang lain.

“Siwon tak berbicara sedikitpun sejak pagi” kata Donghae “Lihat saja, seharian dia hanya sibuk dengan earphone itu” imbuhnya lagi.

“Entahlah, tapi bukankah dia selalu seperti itu?” bisik Hyukjae “Aku rasa dia masih kesal dengan kejadian kemarin” tebaknya.

“Maksudmu?”

“Lihat saja tengkuknya, masih terlihat lebam bekas pukulan Sam” kata Hyukjae. Keduanya memperhatikan memar yang masih berbekas di daerah yang dimaksud.

“Aku masih penasaran, sebenarnya apa yang terjadi dengan kedua orang itu?” bisik Donghae berhati-hati. Hyukjae hanya menggeleng “Kenapa adikmu itu bisa berada di kamar Siwon?” tanya Donghae lagi, sepertinya ia kurang puas.

“Aku tak tahu. Siwon sendiri tak tahu sejak kapan Sam berada di situ” kata Hyukjae sambil terus menatapi Siwon “Sedangkan Sam, dia tidak perduli jika aku bertanya tentang itu, kalau terus mendesaknya—dia hanya menggeleng tak merasa bersalah dan berakhir dengan hilangnya kesabaranku” ujar Hyukjae.

“Gadis itu sepertinya kurang waras” desis Donghae cuek.

“Sejak dulu Sam memang sudah sangat menyebalkan karena kelakuannya yang tidak seperti anak seusianya” kilah Hyukjae “Aku tahu seperti apa Sam. Meskipun begitu, sepertinya Sam yang sekarang benar-benar berbeda dan aku hampir tak mengenalinya” gumam Hyukjae, matanya menerawang jauh.

“Tentu saja, setiap orang pasti mengalami perubahan. Apalagi kalian terpisah selama dua belas tahun, kau tak tahu apa yang dia alami selama dua belas tahun kalian tak bersama” kata Donghae sambil beranjak “Aku mau ke kelas dulu” katanya lagi. Hyukjaepun ikut beranjak, ia segera menyentuh pundak Siwon yang begitu serius dan membisu.

“Kelas” kata Hyukjae ketika Siwon menoleh kearahnya.

Tanpa banyak bicara Siwon menuruti ucapan Hyukjae, keduanya segera berjalan menyusuli Donghae. Ketiga orang itu meninggalkan perpustakaan, mereka berjalan beriringan. Donghae dan Hyukjae tampak bercakap-cakap sambil sesekali tersenyum tipis, sedangkan Siwon tetap diam. Mulut Siwon tertutup rapat, hanya tangannya yang sesekali membetulkan letak earphone.

Ketiga orang itu selalu mendapat perhatian dari para siswa, mereka memang terlihat sangat mencolok diantara siswa yang lain. Mereka tak perduli akan panggilan genit, decak kagum para gadis yang begitu menggilai mereka atau tatapan iri murid laki-laki yang menyadari akan ke-perfect-kan ketiga orang itu, mulai dari style, postur tubuh dan wajah, kekayaan yang luar biasa bahkan status sosial yang begitu mem-backup mereka dengan baik.

Mereka hampir berpisah di depan pintu kelas Donghae ketika dari arah berlawanan tampak Sam yang juga berjalan menuju ke kelas. Donghae dan Hyukjae langsung menoleh pada Siwon. Siwon menatap Sam dengan tajam, hanya sekilas lalu memandang ke arah lain. Seakan kejadian itu tidak pernah terjadi. Begitu juga dengan Sam yang semakin dekat, matanya terus menatap pada ketiga orang itu tanpa berkedip, ia tampak seperti biasanya, tak perduli bahkan bola matanya yang coklat terlihat begitu lugu dan polos. Sam segera melangkah masuk ke dalam kelas. Tak lama, Donghaepun menyusul masuk ke dalam kelas.

Donghae menatap Sam yang baru saja duduk d itempat duduknya dengan pandangan sinis, Sam yang tak mau kalah balik menatap Donghae.

“Ciih…” dengus Sam. Ia terlihat kesal. Kejadian awal yang mempertemukan Sam dan Donghae memang telah membuat kedua orang itu selalu bersitegang ketika bertemu. Sam terdiam. Ia tampaknya sedang memikirkan sesuatu

“Siwon” hal itulah yang sedang ada dalam kepala Sam “Anak tertua dikeluarga Francaise” Sam kembali terdiam, tiba-tiba saja raut wajahnya berubah aneh “Arrgg… kenapa bisa ada kejadian seperti itu—memalukan” keluh Sam dengan wajah yang kusuk dan tampak stress “Tunggu dulu… kenapa tiba-tiba aku bisa berada di kamar Siwon? Apa dia yang…” Sam memandang pada alam fantasinya yang begitu heboh, ia langsung menggertak dan menepis khayalan yang membuatnya hampir muntah “Tidak. Itu tidak mungkin. Lalu, kenapa.. kenapa aku bisa berada disitu?” Sam kembali menggeleng, rupanya iapun memikirkan kejadian itu. Sepertinya pertemuan awal Sam dengan ketiga kakak beradik Francaise bukanlah pertemuan yang biasa-biasa, selalu diawali dengan kejadian yang menghebohkan.

“Dasar, orang aneh” sinis Donghae dari bangku belakang, sedari tadi ia memperhatikan Sam yang sibuk dengan dirinya sendiri.

***

KRRIIIIIINNGGG!

Bel jam istirahat berbunyi panjang, meraung dengan keras ke seluruh penjuru sekolah. Tak berapa lama, suasana koridor dan sekitar lingkungan sekolah yang tadinya sepi mendadak riuh oleh para siswa.

Beberapa orang siswi langsung menuju ke tempat duduk Anne. Mereka tertawa riang membahas sesuatu yang membuat mereka berekspresi seperti itu. Meskipun tak berniat menguping, Sam dapat mendengar dengan jelas percakapan kumpulan siswi itu.

“Kemana saja kau seminggu ini?” tanya seorang siswi pada siswi lainnya.

“Hongkong” jawab siswi itu “Ayahku melebarkan perusahaan di sana, sebagai pewaris tunggal aku diharuskan untuk hadir dalam upacara peresmian sekaligus peluncuran produk baru di sana” ia berkata dengan bangga.

“Liburan lalu, aku juga kesana” kata seorang lainnya “Tapi hanya beberapa hari, aku harus memaksimalkan waktu liburan dengan baik”

“Anne, bagaimana denganmu?”

Gadis itu hanya tersenyum mendengar pertanyaan temannya.

“Pembicaraan mereka sangat membosankan. Apa sekolah ini isinya hanya anak-anak kaya seperti mereka yang selalu memamerkan kekayaan milik orang tua mereka?” gumam Sam dalam hati. Ia akhirnya menyadari bahwa desas-desus yang mengatakan bahwa tempatnya bersekolah saat ini merupakan sekolah yang seluruh penghuninya adalah anak-anak orang kaya, pejabat atau orang yang berstatus sosial tinggi dan bukan sembarang orang yang bisa bersekolah di situ. Semua itu adalah benar adanya.

“Hei lihat~” kata seseorang. Mereka lalu memperhatikan Donghae terlena dengan buku bacaannya “Donghae benar-benar keren, otaknya sudah sepintar itu tapi lihatlah dia selalu terlihat dengan buku-bukunya” puji gadis itu.

Donghae segera meninggalkan kelas ketika melihat Hyukjae dan Siwon sudah menunggunya di luar kelas, pandangan mata kumpulan gadis tersebut masih terus mengikuti Donghae, Hyukjae dan Siwon.

“Lihat juga saudaranya, Siwon” kata yang lainnya “Aku hampir tak bisa bernafas jika melihat Siwon” kata-katanya sangat berlebihan.

“Aku menantikan olimpiade, dengan begitu aku bisa melihat aksi Siwon”

“Mereka bertiga selalu saja bersama” Mereka menatapi Siwon, Hyukjae dan Donghae yang berjalan menjauh “Keluarga Francaise memang sangat mengagumkan, Ayahku selalu berusaha untuk menjaga hubungan dengan Francaise Group. Sejauh ini Francaise masih urutan pertama di Perancis dan termasuk dalam urutan ke-4 terkaya di dunia” Sam yang mendengar pembicaraan mereka langsung tersedak.

What?” pekik Sam dalam hati “Mereka sekaya itu? Luar biasa!” lanjutnya lagi.

“Tentu saja. Ditambah lagi, keluarga itu memiliki putra-putra yang gemilang seperti Siwon dan Donghae. Adik mereka, Kyuhyun, sudah menyita perhatian meskipun ia masih kecil tapi potensi yang ia miliki sudah terlihat dengan jelas. Dia yang menciptakan software game yang paling diminati saat ini”

“Mereka benar-benar pangeran masa kini” decak kagum para siswi itu “Benar-benar menjadi dambaan hati” lanjutnya lagi, Anne hanya tersenyum mendengar itu.

“Tapi Anne, bukankah Siwon itu sangat menarik?”

“Menarik?”

“Gosip yang beredar, kalian telah dijodohkan”

“Benarkah?” siswi yang lain tampak histeris. Anne hanya tersenyum tipis dengan sorot mata yang aneh.

“Kau dan Siwon memang sangat serasi” puji mereka “Tapi berhati-hatilah, seisi sekolah sedang gempar dengan pesaing barumu” mereka melirik sinis pada Sam. Sam yang mendengar ucapan itu, merasakan sesuatu yang tak nyaman dari tatapan-tatapan itu.

“Benarkah?” tawa Anne pelan.

“Tentu saja. Mereka selalu membicarakan gadis yang dikatakan sebagai pesaing terberatmu. Sebenarnya apa yang mereka lihat darinya? Asal-usul keluarganyapun belum jelas” kata mereka lalu tertawa mengejek.

Damn” geram Sam dalam hati. Ia tahu betul siapa yang sedang mereka bicarakan saat ini. Sam hanya balik melempar pandangan tak sedap kepada mereka.

BRRUUGGH.

Sam menoleh, sepertinya kumpulan siswi tadi sedang membuat masalah baru. Seorang gadis sedang sibuk membereskan buku yang berserakan di lantai, mereka dengan sengaja membuat buku yang dipegang gadis berkacamata itu berserakan. Ya, lagi-lagi gadis berkacamata itu yang sepertinya menjadi objek keisengan di kelas.

“Hai Aline. Aku rasa, kacamatamu kurang tebal untuk melihat kami” kata seseorang “Kenapa masih menabrakku?”

Gadis bernama Aline itu terlihat tak mengubris ledekan teman-teman sekelasnya, ia segera menjauh setelah mengambil semua buku-bukunya.

“Aline” panggil yang lainnya, Aline yang hampir keluar kelas, menoleh kepada mereka “Kudengar perusahaan Ayahmu hampir bangkrut? Oh, mungkin kau butuh bantuan kami untuk segera mengganti kacamatamu, sudah berapa lama kau tidak mengganti kacamatamu itu dengan yang baru?” ledeknya lagi.

Aline langsung meninggalkan kelas tanpa berkata apa-apa. Siswi-siswi itu tertawa terbahak-bahak. Sam yang menyaksikan kejadian itu merasa kesal, ia heran karena gadis bernama Aline itu tampaknya tak berniat membalas perlakuan kasar mereka.

“Tak usah dihiraukan” tiba-tiba saja beberapa telah berada didekatnya, mengajak Sam berbicara.

“Aku?” Sam mencoba meyakinkan kalau gadis-gadis itu memang sedang berbicara kepadanya.

“Iya. Begitulah sifat mereka”

“Maksudmu, Anne?”

“Ya, dia dan kawan-kawannya. Lalu Aline, hanyalah satu diantara puluhan sasaran empuk mereka”

“Gadis berkacamata itu?” gumam Sam

“Desas-desus yang mengatakan perusahaan keluarga mereka tengah diujung tanduk, tapi aku rasa itu mustahil. Aku tahu seperti apa keluarga mereka, Ayahku bahkan tak segan-segan membangun hubungan kerjasama dengan Guibert Company” kata gadis itu “Aline memang sedikit pendiam, tak banyak yang tahu bahwa Ibunya berasal dari keluarga kerajaan Thailand”

“Itu sangat menjelaskan mengapa wajahnya begitu oriental” ujar Sam sambil mengangguk-angguk.

“Lalu Anne. Anne memang tidak selalu mengeluarkan ejekan tapi tatapannya itu adalah ejekan. Mereka anak-anak dari keluarga yang masih termasuk dalam urutan 10 besar terkaya di Negara ini, jadi mereka membentuk kelompok sendiri”

Sam mengangguk-angguk pelan.

“Seperti yang kau dengar tadi, kata orang Anne dijodohkan dengan Siwon. Tapi kami sendiri tidak tahu seperti apa tanggapan Anne, dia sangat misterius. Ada desas-desus lain yang mengatakan bahwa ia pernah menolak Siwon”

“Menolak Siwon?” Sam sedikit kaget.

“Mereka memang terlihat sangat serasi tapi kami tak tahu akan kebenaran kabar itu. Lihat saja, Anne yang selalu terlihat misterius dan siapapun tak akan bisa menebak isi hati si pangeran es, Siwon”

“Anne sepertinya berbeda dengan teman-temannya” terka Sam, ia memperhatikan Anne yang selalu tersenyum tipis.

“Anne memang tak memiliki mulut sepedis teman-teman sekelompoknya tapi mungkin saja ia sama dengan mereka”

“Maksudmu?” Sam tampaknya belum mengerti

“Dari tatapan mata Anne, terlihat jelas bahwa dia sangat tidak suka jika ada yang mencoba untuk menyainginya. Ia memang hanya tersenyum, tak  ada yang tahu seperti apa sifat Anne yang sebenarnya karena sejak kepindahannya, dia selalu yang menjadi nomor satu, belum pernah ada seorangpun yang bisa menandinginya jadi mulailah berhati-hatilah”

“Terutama kau”

“Sam” Sam menyebutkan namanya, mengingat mereka sedikit canggung untuk memanggilnya.

“Semua mengatakan bahwa kau adalah pesaing baru bagi Anne, jadi sebaiknya kau berhati-hati”

~.o0o.~

Sudah hampir pukul sepuluh malam, mata Sam belum juga terpejam. Kantuknya mendadak hilang begitu saja. Sam hanya memandangi langit-langit kamarnya yang begitu tinggi. Ornament dan interior serta lukisan cupid di langit-langit kamar cukup menjelaskan perpaduan antara nuansa eropa klasik dan modern, sangat elegan istana.

Sam hanya berguling-guling, begitu gelisah di tempat tidurnya yang empuk. Ia berjalan menuju meja rias yang tak pernah ia gunakan sama sekali. Tangannya meraih sebuah foto dalam bingkai mungil dengan motif lucu. Ia memandangi dua gadis cantik berwajah oriental yang berfoto di samping kiri dan kanannya.

 “Min Ji. Ji Hye. Aku sangat merindukan kalian berdua, di sini benar-benar sangat membosankan” keluh Sam. Ia menarik nafas panjang, matanya jauh menerawang.

Sam kembali meletakan foto itu pada tempatnya, ia berjalan-jalan di dalam kamarnya berharap kantuk segera datang. Lima belas menit kemudian, Sam keluar dari kamarnya. Ia berjalan menyusuri koridor rumah yang begitu panjang dengan puluhan atau entah berapa pintu yang terkunci tanpa berniat ingin tahu apa yang ada di balik pintu itu. Bagi Sam, rumah keluarga Francaise memang seperti istana tapi terasa sangat membosankan.

Tak terasa, Sam telah berada di luar rumah. Ia duduk disebuah bangku taman, yang terletak sekitar 100 meter dari kediaman keluarga Francaise. Lampu taman yang indah serta bintang-bintang yang begitu ramai membuat Sam sedikit terhibur. Area kediaman Francaise memang sungguh sangat luas, entah ada berapa taman di sekitarnya. Belum lagi bangunan-bangunan yang terpisah dari rumah utama keluarga Francaise, seperti berbagai arena pelatihan fisik atau olahraga, tentu saja karena Siwon sangat menggemari olahraga.

Sam memandangi bentangan danau kecil, mungkin saja danau itu adalah sebuah danau buatan untuk memperindah taman itu. Bagi keluarga Francaise segala sesuatu dapat dilakukan, mengingat timbunan harta yang tidak terbayangkan berapa jumlahnya—sangat memungkinkan mereka untuk melakukan apapun.

Awesome” Sam tersenyum memandangi kerlip ribuan bintang di atas sana. Cukup lama Sam duduk di taman itu, ia akhirnya memilih kembali ke dalam rumah mengingat udara malam yang semakin dingin, sesekali ia merapatkan jaket yang melapisi tubuhnya agar terasa lebih hangat.

Langkahnya terhenti seketika, di depan sana ada seseorang yang membuat langkah kakinya terhenti. Sam menatapi Siwon yang juga berdiri tak jauh, ia masih mengenakan seragam sekolah serta tas punggung yang masih menggelayut manja di pundaknya. Kedua orang itu saling bertatapan sejenak. Siwon kembali melangkah.

“Itu…” Sam memberanikan bersuara. Siwon yang telah berjalan melewatinya kembali terhenti, kedua orang itu saling membelakangi dalam jarak beberapa meter “Masalah itu… maaf” kata Sam lagi, ia berkata dengan begitu tenang tak merubah sedikitpun paras wajahnya.

Keduanya terdiam sejenak lalu akhirnya Siwon kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti, meninggalkan Sam yang hanya diam. Tak ada lagi yang perlu ia katakan, Sam menarik nafas panjang. Setidaknya beban rasa bersalahnya sedikit berkurang meskipun ia sendiri masih kesal dan tak mengerti mengapa dirinya bisa berada di kamar Siwon. Memar di wajah Siwonlah yang membuatnya mengucapkan kata maaf.

***

Edhy sang supir dengan sigap membuka pintu mobil dan mempersilahkan ketiga anak muda itu untuk masuk. Setelah menutup pintu mobil, Edhy segera melarikan mobil menjauhi rumah mewah tersebut, melewati barisan pepohonan yang rapi di sepanjang jalan yang terus menukik.

Donghae menemukan sebuah amplop biru mungil di dalam tasnya.

“Lagi-lagi surat dari penggemar” kata Hyukjae

“Sangat menjijikan” ujar Donghae, ia lalu membuang amplop itu lewat jendela mobil tanpa membuka isi amplop tersebut.

“Jangan sembarangan membuang sampah” Siwon memperingati adiknya. Donghae mendengus pelan.

Mereka sedang berbincang-bincang ketika sebuah sepeda melaju dengan kencang menuruni jalan itu, membuat perhatian ketiga orang itu langsung teralih pada sang pengemudi sepeda.

“Sam?” Hyukjae terperanjat kaget begitu juga dengan Donghae dan Siwon melihat si pengendara sepeda itu adalah Sam. Bagaimana mungkin mereka tak terkejut, mobil yang mereka tumpangi berlari dengan kecepatan di atas rata-rata tapi tiba-tiba saja sebuah sepeda melesat dengan kencang mengalahkan kecepatan mobil.

“Dia” Siwon hampir tak dapat berkata apa-apa karena masih terkejut.

Semua terkejut melihat seorang gadis melarikan sepedanya dengan gila-gilaan. Sam telah berada di depan mobil yang ditumpangi mereka.

“Dia mempunyai lebih dari satu nyawa?” Donghae tak yakin melihat tingkah Sam yang seolah-olah memiliki nyawa cadangan.

Sam menoleh kebelakang, ke arah mobil yang ditumpangi oleh Hyukjae, Siwon dan Donghae. Ia tersenyum sinis. Ia mengangkat jempol dan langsung membalikan jempolnya ke bawah.

“Apa-apaan gadis itu?” geram Donghae yang tak terima melihat Sam mengejek mereka. Sam kembali melesat dengan kecang.

“Dia itu, benar-benar adikmu?” tanya Siwon pada Hyukjae, mengingat tingkah Sam yang sedikit tidak wajar dan berbeda dengan Hyukjae yang lumayan santun.

“Dasar anak itu, kebiasaan tak pernah hilang” Hyukjae terlihat semakin kesal “Dia bisa dimarahi Ayah kalau tahu masih saja seperti itu”

“Sungguh keterlaluan!” Donghae tak bisa menahan emosi “Aku heran kau mempunyai Saudara seperti dia”

“Waktu kecil, Sam pernah mengalami koma selama seminggu karena kecelakaan” ucapan Hyukjae membuat raut wajah Siwon dan Donghae langsung berubah seketika, Donghae yang sedari tadi sibuk mengomeli Sam ikut terdiam “Ia bersepeda lalu tertabrak oleh mobil yang melaju kencang. Kejadian itu membuat hubungan kedua orang tuaku bertambah parah. Ayah menyalahkan Ibu yang tak serius menjaga Sam. Ibuku adalah orang yang keras kepala seperti Sam” kata Hyukjae pelan, kenangan masa lalu begitu menyakitkan, tersirat dari raut wajahnya yang sedih “Sam memang keras kepala tapi itu dulu sekali. Aku tak tahu, bagaimana dia bisa tumbuh menjadi seperti itu. Sepertinya Ibu benar-benar menelantarkannya” gumam Hyukjae membuat kesimpulan.

“Kau tidak boleh berkesimpulan seperti itu tentang Ibumu” kata Siwon “Mungkin saja ada alasan lain yang menjadikan Sam seperti itu” kata Siwon, ia begitu dewasa.

“Entahlah, aku mengerti kenapa Ibu meminta Ayah mengasuh Sam untuk sementara waktu. Ia sendiri pasti tak tahan dengan sifat Sam” ujar Hyukjae.

“Sudahlah Hyukjae. Semua masih bisa berubah, pergunakan waktumu sebaik mungkin untuk Sam” Siwon berkata dengan bijak, Donghae mengangguk menyetujui ucapan Siwon. Hyukjae tersenyum sebagai pengganti kata terima kasih kepada dua sahabat yang bagaikan saudara baginya.

***

Sam baru saja masuk ke dalam kelas, ia segera meletakan tas sekolahnya. Sam memeriksa laci mejanya, mungkin saja ada sesuatu yang diletakan di laci meja mengingat banyak anak-anak iseng di sekolah itu apalagi sebelumnya Sam telah mendapat peringatan agar lebih berhati-hati terhadap Anne, hanya berjaga-jaga saja siapa tahu Anne memang berniat menjahatinya.

Dari arah pintu, Aline berjalan dengan sedikit tergesa-gesa, seperti biasanya. Seorang gadis dengan sengaja menggaet kaki Aline. Dengan sigap Sam memegang tangan Aline agar tak terjatuh.

“Hati-hati” kata Sam pelan.

“Terima kasih” ujar Aline, ia tersenyum dengan tulus kepada Sam. Sam dan Aline menoleh sekilas pada si gadis pelaku yang menatap kedua orang itu dengan sinis, ia segera menghampiri teman-temannya yang lain dan entah apa yang ia katakan sehingga mereka kembali menatap ke arah Sam dan Aline, tentu saja dengan tatapan-tatapan dingin dan angkuh mereka.

Aline segera duduk. Ia duduk tepat di sebelah Sam, hanya jalan yang memisahkan tempat duduk kedua orang itu.

“Aku Aline” kata Aline menyapa Sam.

“Sam” balas Sam sambil tersenyum, “Sepertinya kau tidak pernah berusaha untuk membalas perbuatan mereka” ujar Sam.

“Aku malas berurusan dengan mereka” kilah Aline “Tidak ada gunanya, mereka selalu saja mencari kesalahan orang lain, dengan begitu bahan ejekan selalu saja ada”

“Begitu” kata Sam, ia menarik nafas panjang “Kalau saja aku yang berada diposisimu, pasti akan lain ceritanya” kata Sam.

“Maksudmu?” Tanya Aline yang tak mengerti maksud akan ucapan Sam. Sam hanya tersenyum tak terlihat niatnya untuk membalas rasa penasaran Aline. Senyuman manisnya terlihat sangat misterius.

Jam pelajaran telah dimulai. Semua siswa memperlihatkan keseriusan mereka dalam mengikuti pelajaran, memang terlihat berbeda dan sangat tenang. Donghae diminta untuk menyelesaikan sebuah soal di depan kelas, sebuah soal perhitungan yang sangat rumit. Tak berapa lama, ia berhasil menyelesaikan soal dan guru membenarkan jawaban yang ditulisnya. Donghae tersenyum puas, ia segera kembali ke tempat duduknya, menatapi Sam sambil tersenyum kecut.

Crazy” ledek Sam. Tiba-tiba saja ponsel di saku seragam sekolahnya bergetar, dengan cekatan Sam mengeluarkan ponsel. Ia segera membaca pesan singkat yang diterimanya, wajahnya tersenyum dengan sumringah mengetahui pesan itu dari sahabatnya Min Ji dan Ji Hye yang berada di Seoul.

Terlalu asyik membalas pesan yang datang bertubi-tubi membuat Sam tak lagi memperhatikan pelajaran. Jari tangannya dengan lincah menekan tuts-tuts ponsel, ia terlihat sangat sibuk. Donghae yang duduk tepat di belakangnya, hanya menggeleng-geleng kepala melihat perbuatan Sam yang sangat tidak diperbolehkan di sekolah yang terkenal dengan kedisiplinannya itu. Guru yang sedang mengajarpun akhirnya mengetahui tingkah Sam yang mencurigakan.

“Sam. Kerjakan soal nomor 102!” perintah sang guru. Sam terlonjak kaget, suara guru begitu menggelegar di ruang kelas yang begitu hening.

Donghae girang, ia puas melihat Sam yang sedikit kelabakan. Sam memandangi seisi kelas yang terus menatapnya aneh, tatapan mereka terlihat sangat meremehkan. Dengan gontai, setelah sekian menit tertahan di tempat duduknya, Sam segera melangkah ke depan kelas.

Ia menoleh, wajah-wajah yang menanti jawaban apa yang hendak ditulisnya. Berharap ada suatu kejadian lucu saat itu. Apalagi Donghae yang begitu sinis dan pandangan matanya terlihat sangat meremehkan Sam. Begitu juga kawan-kawan Anne, wajah mereka terlihat senang melihat Sam berdiri di depan kelas, dari raut wajah mereka dapat ditebak bahwa mereka sangat yakin Sam akan dipermalukan di depan kelas jika ia tak berhasil menjawab soal yang diberikan dengan benar.

“Kuharap kau bisa menghindari itu” timpal Donghae dalam hati. Ia yakin Sam tidak akan sanggup menyelesaikan soal itu.

Sam segera menulis dengan jenuh di white board. Semua begitu serius memperhatikannya, hanya semenit Sam telah kembali ke tempat duduknya. Guru memandangi Sam bergantian memandangi jawaban yang telah ditulisnya, sesekali guru itu membetulkan letak kacamatanya.

“Jawabannya benar!” ucapan guru membuat Donghae yang sedari tadi melamun terlonjak kaget. Ia segera menoleh jawaban yang tertulis di papan tulis dan mencocokan dengan jawabannya.

“Benar?” gumam Donghae “Hmm.. tentu saja, soal ini tingkat kerumitannya sangat rendah” kata Donghae berusaha menghibur diri mengingat perkiraannya meleset. Siswa yang lain ikut menoleh pada Sam begitu juga dengan Donghae. Sam terlihat santai, ia tak memperdulikan tatapan-tatapan itu, ia bahkan balik menoleh kepada mereka seperti sedang bertanya ‘Apa yang sedang kalian lihat?’.

***

Sepulang sekolah. Sam berjalan gontai menuju tempatnya memarkir kendaraan murahan satu-satunya di sekolah tersebut, ya, sepeda. Para siswa yang entah dengan sengaja atau secara kebetulan saja menatapnya, langsung berbisik-bisik melihat Sam yang siap mengayuh pedal sepedanya.

Sebuah mobil berhenti di sampingnya, tampak wajah Aline setelah kaca mobil diturunkan.

“Pulang denganku” Aline menawarkan kebaikan hatinya

Thank, tapi aku punya kendaraan sendiri” kata Sam dengan bangga memamerkan sepedanya tersebut.

“Bagasi mobil ini cukup untuk menyimpan sepedamu. Aku bisa mengantarmu”

“Tidak, aku lebih suka bersepeda” tolak Sam dengan halus.

“Baiklah” ada sedikit kekecewaan di wajah Aline “Dimana kau tinggal?”

“Tidak begitu jauh” kata Sam “Percayalah kau tidak ingin tahu bagaimana dan dengan siapa aku tinggal” kata Sam lagi. Aline menatapnya bingung, ia masih tak mengerti maksud dari ucapan Sam.

Sam mengayuh sepedanya dengan perlahan, ia masih di area sekolah. Ia masih memikirkan peringatan teman sekelasnya akan Anne, bisa saja Anne dan komplotan dengan sengaja menggenjetnya dengan mobil mewah mereka. Sebuah mobil berjalan dengan lambat, seakan mengimbangi laju sepeda Sam.

“Heran, kenapa sepeda ini bisa diijinkan masuk ke dalam sekolah?” seorang gadis berujar dengan begitu santai dari dalam mobil. Salah satu teman Anne. “Apa-apaan sekolah ini? Aku harus melapor pada Ayah. Sungguh menggenaskan!” katanya sambil menutup kaca jendela mobil mewahnya. Mobil itupun melaju, Sam hanya diam memandangi mobil yang semakin jauh. Gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat terganggu.

~.o0o.~

Sore hari yang cerah, langit orange yang seperti lukisan. Sam melangkah pelan disepanjang garis pantai. Ia memandangi laut dihadapannya, ombak yang saling berlomba menuju tepian pantai dan pecah menjadi buih ketika akhirnya bertemu dengan pasir putih.

Sam memunguti batu-batu kecil yang menurutnya memiliki bentuk yang lucu dan menarik, membiarkan kakinya yang indah dipermainkan oleh air. Mata Sam menerawang jauh, memandangi laut yang terbentang bagaikan permadani di hadapannya. Raut wajah Sam terlihat begitu serius, entah apa yang sedang dipikirkannya. Sesuatu yang telah menguras habis ekspresi ceria Sam, mata coklatnya yang indah terlihat sangat sedih, sering sekali ia menarik nafas panjang seperti sesuatu yang dipikirkannya adalah beban yang sangat berat. Sam kembali menyusuri bibir pantai.

Sementara itu disebuah kamar, diantara puluhan kamar di rumah keluarga Francaise. Siwon sedang memandangi keluar jendela, sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi Siwon. Hyukjae dan Donghae justru sibuk bermain game.

“Kyuhyun masih sering bermain di pantai?” Siwon membuka percakapan.

“Ada apa?” Donghae balik bertanya, ia tetap fokus dengan game yang sedang dimainkannya bersama Hyukjae “Aku tak tahu” sambungnya lagi.

“Bukan apa-apa” gumam Siwon “Belakangan ini aku sering sekali melihat seseorang di pantai” kata Siwon lagi.

“Aku harus beritahu Ibu, Kyuhyun selalu ke pantai!” kata Donghae, ia langsung menarik sebuah kesimpulan atas penuturan Siwon.

Siwon kembali memandangi pantai di bawah sana. Ia lalu beranjak dari situ dan segera duduk tak jauh dari tempat Hyukjae dan Donghae, tangannya meraih sebuah buku yang terletak begitu saja di sofa.

“Argh! Sial!” Hyukjae berteriak kesal ketika akhirnya ia dikalahkan oleh Donghae.

“Jangan coba-coba untuk menantangku” wajah Donghae menyeringai bangga “Jangan lupakan taruhan itu. Aku pemenangnya” katanya lagi.

“Iya” jawab Hyukjae, ia merengut lemas. Ia segera meletakan stick game dan langsung duduk di sofa yang sama dengan Siwon. “Kalian tahu, ada desas-desus aneh yang sedang beredar di rumah ini” kata Hyukjae

“Apa lagi?” Donghae menatap muak pada Hyukjae.

“Ada hantu di rumah ini!” kata Hyukjae.

“Hantu?” Tanya Donghae. Siwon yang sedang membacapun ikut menatapi Hyukjae, seakan meminta penjelasan dari ucapannya barusan.

“Jadi kalian tak pernah mendengar kabar itu?” Donghae dan Siwon hanya diam memandangi Hyukjae “Semua sedang gempar membicarakannya terutama para pelayan. Akhir-akhir ini beberapa pelayan sering melihat hantu wanita di rumah ini”

“Omong kosong apa lagi” keluh Donghae “Sejak lahir aku sudah tinggal di rumah ini, tak pernah sekalipun aku melihat hal-hal aneh seperti yang kau katakan itu”

“Ya” Siwon membenarkan ucapan Donghae.

“Akupun begitu” ujar Hyukjae “Tapi itulah yang sedang gempar dibicarakan para pelayan. Hantu wanita yang tengah malam berkeliaran di sepanjang koridor di rumah ini dan bukan cuma seorang saja yang menyaksikannya tapi beberapa pelayan mengalami hal yang sama”

“Mereka pasti bermasalah dengan mata mereka” ujar Donghae “Kalian percaya dengan kabar itu?”

“Aku tak tahu” jawab Hyukjae “Aku memang belum pernah melihatnya tapi ada baiknya untuk berjaga-jaga” lanjut Hyukjae. Siwon hanya diam saja, tak memberikan tanggapan. Ia hanya berpikir.

“Darimana kau tahu cerita itu?” tanya Donghae “Kau seperti biang gosip di rumah ini” ledek Donghae.

“Kalian harus sedikit bergaul dengan para pelayan. Kabar apapun pasti aku tahu, yang ter-update sekalipun!” kata Hyukjae bangga. Sifat Hyukjae yang sedikit playboy dan ramah pada wanita membuatnya cepat akrab dengan para pelayan.

Ketiga orang itu menghabiskan waktu menanti jam makan malam dengan melakukan hal-hal yang biasanya mereka lakukan seperti bermain game, membaca buku, atau bercakap-cakap. Tak terasa waktu telah menunjukan pukul tujuh malam ketika seorang pelayan mengetuk pintu kamar Siwon dan masuk dengan sikap yang begitu santun.

“Tuan muda, waktunya untuk makan malam” kata pelayan tersebut, “Tuan dan Nyonya sedang menuju ke ruang makan” kata pelayan itu tegas dengan tak meninggalkan rasa hormatnya.

Beberapa saat kemudian mereka telah berada di ruang makan, semua sudah berkumpul. Mata ketiga orang yang baru datang itu langsung tertuju kepada Sam yang duduk tenang. Sam menatapi mereka dengan tatapannya yang tajam, ia terus memperhatikan ketiga orang itu sampai mereka mengambil posisi masing-masing.

“Ayah dan Ibu akan melakukan perjalanan bisnis selama sebulan” kata Tuan Francaise.

“Sebulan? Lama sekali” desah Kyuhyun

“Jadwal itu sudah dipadatkan, sedikitnya ada empat belas perusahaan yang harus kami kunjungi dibeberapa Negara” terang Nyonya Francaise.

“Jadi kami memberikan pengawasan penuh kepada Lee, sekretaris dan juga kepala pengurus rumah tangga” ujar Tuan Francaise.

“Jangan khawatir” Tuan Lee menyanggupi permintaan pria itu.

“Lusa kami sudah harus bertolak” kata Nyonya Francaise “Masih ada beberapa hal yang harus kami urus besok, jadi keberangkatan ditunda sehari. oh ya Sam, apa yang kau inginkan?” wanita itu menatap Sam.

“Aku?” Sam tak mengerti.

“Sesuatu yang kau inginkan?” Nyonya Francaise dengan paras cantik dan begitu lembut, ia sangat baik memperlakukan Sam. Ia memang senang akan kedatangan Sam mengingat tidak satupun anak perempuan ada dikeluarga itu.

“Tidak, terima kasih” Sam memamerkan senyuman manisnya.

Donghae yang semula terlihat kesal, ekspresinya sedikit berubah manakala melihat senyum menawan Sam, begitu tulus. Di sisi lain, Siwonpun sempat menikmati pemandangan indah itu, ia kembali melanjutkan menyantap makanan penutup yang dihidangkan. Memang terasa lain melihat senyuman tadi, Sam yang mulai mereka kenal dengan sifat pemberontak bisa tersenyum begitu manis dan tulus, siapapun yang melihatnya akan merasa kagum bahkan Hyukjae sendiri merasakan sisi lain dari saudarinya itu.

~.o0o.~

 

SMA Lycée Louis-le-Grand, pukul delapan pagi.

Siwon, Hyukjae dan Donghae baru saja meninjau seluruh area sekolah yang sangat luas. Ketiganya merupakan dewan siswa, pemeriksaan lingkungan sekolah adalah hal rutin setiap hari dilakukan oleh dewan siswa yang totalnya berjumlah sepuluh orang, menjaga kemungkinan adanya siswa sekolah lain yang menyusup atau masih ada siswa yang berkeliaran diluar jam pelajaran di sekolah yang terkenal dengan kedisiplinannya yang begitu ketat.

Dewan siswa termasuk kelompok elit di sekolah, mereka setingkat di atas Osis. Anggota dewan berhak ikut dalam setiap rapat komite sekolah, memberikan usul atau mengambil keputusan yang dinilai mampu memajukan sekolah. Semua kegiatan yang akan dilaksanakan harus dilaporkan dan disetujui oleh 70% anggota dewan siswa. Banyak siswa yang berharap bisa menjadi dewan siswa, tapi perekrutan bukanlah dilakukan terhadap sembarang orang. Semua dilihat dari prestasi dan pengaruh siswa tersebut diantara siswa lainnya bahkan yang lebih penting lagi status sosialpun menjadi pengaruh utamanya, makanya tak heran jika seluruh anggota dewan siswa adalah anak dari keluarga-keluarga yang mempunyai pengaruh paling besar di kota itu.

“Semuanya clear” ujar Siwon

“Syukurlah, aku lelah sekali” kata Hyukjae sambil memegang-megang lehernya yang terasa pegal.

“Ya, hari ini tidak ada pelanggar aturan yang terjaring” kata Donghae.

Mereka sedang memeriksa di area taman yang berada di depan gedung utama sekolah, taman yang hijau dan sarat dengan pepohonan serta bangku-bangku taman sering menjadi tempat nongkrong siswa-siswi.

“Lihat” ujar Hyukjae. Ia menatap ke arah gerbang sekolah yang berdiri kokoh dan terkunci rapat “Sepertinya ada yang terlambat” lanjutnya lagi, mereka memang hanya sekitar 100 meter dari gerbang utama.

“Berani sekali datang jam begini” Donghae menatap pada arloji di pergelangan tangannya.

“Penjaga tidak akan mungkin membiarkan siswa yang terlambat masuk” kata Siwon menyambut ucapan Hyukjae dan Donghae “Para penjaga sangat terkenal dengan kegarangan mereka bahkan siswa sekolah lain enggan berurusan dengan para penjaga” lanjutnya lagi. Memang para penjaga di sekolah itu diwajibkan untuk bersikap tegas tanpa belas kasihan sehingga mereka sangat ditakuti oleh para siswa.

“Hei, bukankah itu Sam?” ujar Donghae, mereka kembali memperhatikan dengan seksama siswa yang terlambat dan berada di luar gerbang sekolah.

“Sam?” Hyukjae terlonjak melihat orang yang berada di luar sana adalah Sam “Astaga, apa yang dia lakukan?”

“Sepertinya kau harus memberitahunya 103 peraturan yang pantang dilanggar seluruh siswa di sekolah ini kepada Sam” kata Siwon.

“Mau cari masalah?” kata Donghae

“Dasar anak itu!” geram Hyukjae, bayangkan saja jika ada yang tahu Hyukjae dan Sam bersaudara, Hyukjae adalah salah satu anggota dewan siswa, dimana seluruh anggota terkenal sadis dalam memberikan ganjaran kepada siswa yang melakukan pelanggaran, sementara itu Sam dengan giatnya menciptakan banyak pelanggaran.

“Kau benar-benar harus memberitahu padanya Hyukjae, saat ini masih belum ada yang tahu kalian bersaudara. Jika tidak, kau tahu sendiri akan seperti apa nantinya, tidak ada pilih kasih. Hukuman tetap hukuman” ujar Siwon.

“Sebaiknya telepon Sam” kata Donghae “Suruh saja dia pulang, percuma dia datang jika gerbang telah terkunci. Biarpun menangis air mata darah sekalipun, penjaga tak akan membiarkannya masuk. Kalian ingatkan beberapa minggu lalu kita mengalami hal itu, bahkan penjaga tak sudi untuk mendengar alasan kita” Donghae mengingatkan peristiwa keterlambatan mereka beberapa waktu lalu dan akhirnya membuat ketiganya kembali ke rumah.

“Tentu saja aku ingat, itu karena kau penyebab utamanya. Terlambat lima belas menit” ujar Siwon.

“Para penjaga memang menyeramkan, bahkan status sosialpun tak ada pengaruh bagi mereka” Hyukjae berdecak kagum “Sebaiknya aku memang harus menghubu…” Hyukjae tak dapat melanjutkan perkataannya, tangannya yang baru saja hendak mengeluarkan ponsel dari saku celananya langsung terhenti seketika. Begitu juga dengan Siwon dan Donghae, bahkan buku peraturan sekolah yang dipegang Donghae terlepas begitu saja dari tangannya.

Mereka terlihat mematung melihat Sam bersepeda dengan ceria melewati mereka, melihat Sam telah berada di lingkungan sekolah. Bagaimana mungkin mereka tidak syok, sedari tadi mereka sibuk membahas ketegasan dan kekejaman para penjaga sekolah dan tanpa disadari bagaimana prosesnya, kapan dan mengapa, tiba-tiba saja Sam telah bersiul-siul dengan ceria mengendarai sepedanya melewati ketiga orang itu.

“Pagi yang cerah” Sam melambaikan tangannya dan kembali bersepeda menuju tempatnya biasa memarkirkan sepedanya itu.

Siwon, Hyukjae dan Donghae yang setelah sekian menit mematung, saling berpandangan heran. Tanpa berkata apa-apa ketiganya langsung bergegas menghampiri penjaga gerbang yang telah membiarkan seorang siswa pelanggar peraturan lolos, kejadian langkah sepanjang berdirinya sekolah itu.

“Mengapa anda membiarkan siswa itu masuk?” tanya Siwon.

“Ini bahkan telah lewat jauh dari jam dimulainya pelajaran?” Hyukjae juga penasaran.

“Maksud kalian, Sam?” tanya si penjaga. Siwon, Hyukjae dan Donghae kembali saling berpandangan dengan heran.

Sejak kapan para penjaga perduli dengan identitas siswa-siswi, bahkan dia menyebutkan nama Sam dengan akrab.

“Memangnya siapa lagi yang anda biarkan lolos setelah melanggar peraturan?” tanya Donghae kesal. Ia masih mengingat jelas peristiwa yang menimpa mereka beberapa waktu yang lalu.

“Kalian tak akan mau mendengar cerita itu” ujar si penjaga dengan mimik yang aneh membuat ketiga orang itu semakin penasaran “Gadis yang malang” tambahnya lagi sambil berlalu dari hadapan Siwon, Donghae dan Hyukjae, penjaga itu kembali kedalam ruang jaganya.

“Apa Sam telah memukul kepalanya?” Donghae berpikir keras.

“Tidak mungkin, Sam tidak akan setega itu” tepis Hyukjae.

“Lalu, racun apa yang telah diberikan Sam kepada orang itu?” Donghae tampak tak puas. Hyukjae hanya menggeleng, mereka kembali ke kelas masing-masing dengan perasaan yang kacau balau.

***

Seorang pelayan kafe mengantarkan pesanan ke meja tempat Aline dan Sam duduk. Keduanya langsung menyambut minuman yang telah mereka nantikan.

“Bagaimana caranya kau masuk ke area sekolah?” tanya Aline. Ia penasaran mengingat pagi ini Sam datang terlambat dan tiba-tiba saja sudah berada di area sekolah.

“Bagaimana lagi? lewat gerbang utama” kata Sam, ia baru saja menghabiskan se tengah dari isi gelasnya.

“Gerbang utama?” gumam Aline “Bagaimana mungkin? Pintu pagar tutup tepat pada waktunya, jangan harap para penjaga bisa berbaik hati. Mengingat tampang mereka, membuatku merinding” ujar Aline

“Merinding. Rasanya mereka begitu lugu” Sam tersenyum misterius “Lugu dan polos seperti bayi” lanjutnya lagi. Aline hanya berusaha untuk mencerna setiap perkataan yang keluar dari mulut Sam.

“Kau lihat itu” kata Aline, matanya tertuju pada meja yang tak jauh dari tempat mereka. Disitu ada beberapa orang gadis, tentu saja Sam dapat mengenali mereka. Mereka adalah teman sekelasnya.

“Aku tidak melihat Anne bersama mereka” Sam mencari sosok Anne diantara ketiga gadis itu.

“Dia memang sedikit misterius” ujar Aline.

“Dasar remaja, mudah ditebak apa yang mereka sedang bicarakan” kilah Sam, seolah dirinya tak termasuk dalam kalangan remaja.

“Gadis berambut pirang itu adalah Fleur, dia sangat tergila-gila kepada Hyukjae” kata Aline, Sam memandangi gadis yang dimaksud Aline. Gadis yang begitu menyukai saudaranya, Hyukjae.

“Benarkah?” Sam heran “Hyukjae. Benarkah gadis itu menyukai Hyukjae?” Sam  tertawa.

“Sepertinya kau kenal Hyukjae?” Aline menatap Sam

“Aku?” gumam Sam “Aku hanya merasa sikapnya begitu konyol, dulu dan sekarang sepertinya masih sama. Sudahlah, ini bukan sesuatu yang penting” kata Sam sambil tertawa, ia begitu heran ada juga orang yang menjadi fans fanatik Hyukjae.

“Mungkin kau tidak sadar, tapi Hyukjae itu memiliki banyak penggemar” kata Aline, tawa Sam semakin menjadi-jadi. Ia merasa ucapan Aline begitu lucu “Kenapa kau tertawa seperti itu?” Aline semakin kebingungan “Menurut survey, dia sama kerennya dengan kakak beradik Francaise—apalagi mereka tinggal bersama. Sifatnya memang sedikit playboy, tapi karena keramahannya membuat para gadis tergila-gila padanya” lanjut Aline

“Tunggu sebentar” Sam berusaha menstabilkan dirinya yang rasanya tak dapat berhenti tertawa “Darimana kau tahu hal sedetail itu tentang Hyukjae?”

“Ayolah Sam, aku memang jarang bergaul. Tapi semua orang tahu tentang Siwon, Hyukjae dan Donghae. Ketenaran mereka bukan cuma di sekolah ini, tapi telah merambah ke sekolah lain” kata Aline “Siapapun tahu tentang mereka. Mereka dijuluki pangeran masa kini oleh para gadis. Mungkin karena kau siswa baru, belum begitu mengenal tradisi di sini, rumor yang ada di sekeliling orang-orang populer”

“Apapun itu, aku tak perduli” kata Sam cuek “Bagaimana dengan dua orang lainnya, selain Fleur itu?” Tanya Sam memandangi dua gadis lainnya.

“Caron dan Cleo. Sama-sama menyukai Donghae, mereka berlomba untuk mencari perhatian Donghae”

“HAHH?” Sam terperanjat setengah mati “Apa mereka masih waras? Bagaimana mungkin mereka memperebutkan orang gila seperti Donghae?” Sam menggeleng prihatin.

“Hei,, ada apa denganmu? Sepertinya kau tidak begitu menyukai aura Francaise?”

“Hanya sedikit alergi” jawab Sam.

“Apa yang mereka lakukan hingga kau sepertinya sangat tidak menyukai mereka?” Aline memandangi Sam dengan alis yang saling bertaut“Jika ada yang tahu, mereka bisa menganggapmu gila dengan membenci orang-orang itu!” kata Aline

“Jangan dipikirkan” tepis Sam. “Lalu bagaimana dengan Francaise yang satunya lagi?” tanya Sam

“Maksudmu Siwon?”

“Tentu. Sepertinya ia tidak begitu menarik perhatian dibandingkan dengan Hyukjae dan Donghae itu?”

“Kau memang gila” Aline tertawa pelan mendengar pertanyaan Sam, baginya pertanyaan itu sedikit tidak masuk akal “Justru Siwonlah yang mempunyai pengaruh paling kuat diantara kedua orang itu, sikap serta image pangeran es yang melekat padanya justru semakin hari semakin menambah penggemarnya, coba lihat di internet, puluhan atau entah berapa banyak situs yang menampung fans site keluarga Francaise, terutama Siwon”

“Benar begitu?” Sam kurang yakin.

“Tentu saja. Kau tahukan rumor yang beredar mengenai Anne dan Siwon?” tanya Aline, Sam hanya mengangguk pelan “Itulah yang membuat sahabat-sahabat Anne tak berani untuk menaruh hati pada Siwon, mereka sepertinya takut terhadap Anne” kata Aline lagi. Kedua orang itu segera meninggalkan kafe ketika merasa sudah cukup bosan berada ditempat itu.

“Oh ya, dimana toilet?” tanya Sam.

“Lurus saja, lalu belok kiri” kata Aline

“Oke, thank. Kau ke kelas saja” kata Sam

“Aku mau ke ruang musik” kata Aline. Sam segera menuju ke toilet, sesuai dengan petunjuk yang diberikan Aline. Sekolah baru itu belum begitu familiar bagi Sam, ia masih tersesat dan salah masuk kelas saking banyaknya ruangan di dalam sekolah itu.

Aline yang berjalan seorang diri menyusuri koridor sekolah, berharap agar ia segera sampai di ruang musik. Aline melirik jam tangannya, masih tersisa waktu baginya untuk berlatih. Aline memang rutin berlatih di ruang musik, ia sangat mahir dalam bermain biola. Aline sangat mencintai biola.

Langkah Aline terhenti ketika di depan sana, dari arah yang berlawanan tampak Cleo, Fleur dan Caron sedang berjalan menuju tempatnya berdiri.

“Apa kalian sering mendengar suara aneh di ruang musik?” tanya Caron.

“Apa mungkin itu suara biola, kenapa telingaku sakit mendengar musik itu?” timpal Fleur “Anehkan? seharusnya terdengar merdu”

Cleo memegang tangan Aline ketika Aline hendak pergi dari ketiga gadis itu “Apa ini bisa disebut tangan seorang pemain biola?”

“Apa yang kalian inginkan?” tanya Aline.

“Kalau saja ada yang lebih berharga dari apa yang kami punya, mungkin aku akan mempertimbangkan pertanyaanmu” Fleur tertawa meremehkan Aline, sikap ketiga gadis itu benar-benar angkuh dan sombong.

“Aku harus pergi” ujar Aline

“Bagaimana kalau aku menginginkan tangan ini” Fleur kembali menangkap pergelangan tangan Aline “Tangan ini sepertinya selalu beruntung dalam setiap pertunjukan musik tahunan sekolah” kilah Fleur.

Fleur memang tak bisa bersaing dengan Aline dalam setiap audisi musik tahunan sekolah, Aline selalu unggul dibandingkan Fleur. Hal ini semakin membuat Fleur membenci Aline, iri melihat Aline dapat memainkan biolanya dengan baik bahkan mampu menghipnotis juri. Fleur semakin mengencangkan cengkeramannya ketika Aline berusaha untuk menepis tangan Fleur.

“Aku heran, mengapa gadis aneh sepertimu selalu beruntung? Atau mungkin semua juri telah kau sogok?”

“Mana mungkin dia melakukan itu, berapa banyak uang yang harus dia keluarkan untuk menyogok semua juri” kata Cleo sinis “Bukankah perusahaan mereka diambang kehancuran?” lanjutnya lagi.

“Tentu saja, wajahnya yang memelas seperti ini yang membuat juri tak tega. Kasihan sekali” sambung Caron.

“Benar-benar kasihan”

Caron, Fleur dan Cleo segera menoleh kepada pemilik suara yang baru saja mereka dengar.

“Sam?” Aline memandangi Sam yang tak jauh, entah sejak kapan dia berada di situ. Gadis itu terlihat santai bersandar di dinding, kedua tangannya disembunyikan di dalam saku jas seragam sekolahnya.

Hallo~ sepertinya ada suara-suara aneh” kata Cleo setengah mengejek.

“Ough, bukankah dia yang dikata-katai sebagai pesaing baru Anne?” tambah Fleur. “Ciih, yang benar saja!” ia sedang mengejek Sam.

Segaris senyum tergambar jelas di bibir Sam, perlahan gadis itu menoleh ke arah mereka. Sam melangkah mendekati Fleur, Caron dan Cleo yang sedang mengeroyok Aline.

“Coba katakan lagi” Sam tersenyum manis dihadapan mereka. Ketiga gadis itu sejenak terdiam, mereka dapat melihat dengan jelas sosok yang ada di hadapan mereka itu.  Melihat dengan jelas garis bahkan lekuk-lekuk di wajah Sam yang begitu indah dan membuat wajah gadis itu sangat mempesona. Mata, alis, hidung, bibir, dagu, semua terlihat begitu sempurna.

“Kalian benar-benar kasihan. Sangat malang!” timpal Sam “Memalukan sekali, hanya karena kekayaan orang tua, lalu begitu sombong. Sangat rendah” kata Sam, ia memegang tangan Fleur yang masih mencengkeram pergelangan tangan Aline.

Sam melepaskan cengkraman Fleur. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan ketiga gadis itu, Aline segera berlari menyusuli Sam, sesekali Aline menoleh kepada ketiga gadis di belakang sana yang tampak masih sedikit bingung dan akhirnya mempertontonkan raut ketidaksenangan mereka.

~.o0o.~

Let’s go” ajak Donghae pada Hyukjae dan Siwon yang telah menantinya, Donghae segera melempar kunci mobil kepada Siwon dan langsung disambut baik oleh Siwon. Ketiga anak muda itu hendak menuju sebuah klub malam tempat mereka biasa menghabiskan waktu di luar rumah dengan berkumpul bersama rekan-rekan mereka. Mereka lebih memilih untuk mengendarai mobil sendiri daripada diantar oleh Edhy, supir khusus untuk ketiga orang itu.

Sekitar sejam di perjalanan, akhirnya mereka memarkirkan mobil disebuah area parkiran yang luas dan telah dipadati oleh puluhan mobil dan motor mewah. Siwon, Hyukjae dan Donghae segera melangkah masuk ke dalam gedung itu. Bukan sembarangan klub. Klub itu adalah klub yang paling terkenal. Di dalamnya tempat berkumpul anak-anak muda dari kalangan atas. Kedatangan ketiga pemuda tampan itu mendapat banyak perhatian dari para gadis, seperti biasanya mereka selalu menantikan kemunculan Hyukjae, Siwon dan Donghae.

Suasana bising telah terdengar ketika memasuki ruangan luas yang telah dipadati, lampu yang gemerlap dengan musik yang mengalun serta beberapa orang DJ yang tengah asyik mempertontonkan kelihaian mereka. Ketiga orang itu segera menerobos para pengunjung yang telah memenuhi dance floor. Anak-anak muda yang bergaya elegan dengan masing-masing fashion, mereka terlihat begitu style dan berkelas, menari dengan asyik mengikuti musik yang dimainkan. Ada juga yang hanya berdiri atau duduk menikmati minum di meja bartender.

“Tempat biasa?” tanya Donghae dengan suara yang keras mengimbangi musik dan keriuhan didalam klub. Ketiga orang itu memang selalu memilih kelas VIP yang lebih pribadi dan santai agar tidak terlalu bising. Mereka segera menaiki tangga menuju ke lantai dua.

“Di sini saja” kata Siwon, kali ini mereka memilih duduk disebuah sofa yang masih kosong, tidak seperti biasanya di dalam ruangan khusus yang biasanya mereka tempati, kelas VIP, mereka lebih memilih untuk bergabung dengan keramaian. Hyukjae memanggil pelayan klub, mereka langsung memesan minuman yang tidak terlalu memabukan.

“Malam ini sepertinya lebih ramai dibandingkan sebelumnya” kata Donghae memperhatikan klub yang begitu ramai. Tempat yang mereka pilih memang sangat strategis, sehingga seluruh penjuru klub yang begitu luas dapat dipantau dari tempat mereka duduk, termasuk dance floor di lantai satu, para kaum muda yang penuh sesak menari dengan lincah. Banyak wajah-wajah yang mereka kenal, tentu saja, klub itu memang dikunjungi oleh anak-anak kalangan atas termasuk para siswa di tempat Siwon, Hyukjae dan Donghae bersekolah, tak jarang sesekali mereka melambai tangan membalas lambaian tangan dari beberapa teman mereka.

“Hai Hyukjae” sapa beberapa orang gadis cantik dengan penampilan modis, mereka menghampiri Hyukjae, Siwon dan Donghae.

Ladie.” Hyukjae menyambut mereka dengan riang, bergantian ia memeluk para gadis itu.

“Lama tak jumpa” kata seorang diantaranya

“Hanya sedikit kesibukan” jawab Hyukjae ramah. Ia memang cukup dikenal karena sifat playboy yang membuatnya cepat akrab dengan para gadis, hampir semua pengunjung tetap klub mengenalinya.

“Bagaimana kalau kami bergabung di sini?” kata seorang gadis berambut panjang “Sepertinya kalian tidak punya teman berbicara” katanya lagi sambil mengamati sofa yang hanya diduduki Hyukjae, Donghae dan Siwon.

Hyukjae menengok sejenak pada Siwon dan Donghae yang menoleh ke arah lain, mereka seperti tidak memperhatikan kehadiran para gadis itu, sikap mereka begitu acuh. Hyukjae lalu membisikan sesuatu pada gadis-gadis itu, dan tak berapa lama mereka akhirnya pergi.

“Kau sangat terkenal di sini” kata Siwon. Hyukjae hanya tersenyum sambil meneguk minumannya.

“Kalian tak ingin dance?” tanya Hyukjae yang langsung berdiri. “Baiklah, kalau tertarik silahkan bergabung” kata Hyukjae lagi melihat Siwon dan Donghae yang tetap diam, acuh tak acuh. Hyukjae akhirnya meninggalkan kedua orang itu, ia langsung bergabung dengan para gadis di dance floor.

Donghae tersenyum datar, keduanya mengamati Hyukjae yang asyik menari sambil bercengkrama dengan beberapa gadis cantik. Siwon dan Donghae tak lagi heran melihat tingkah Hyukjae, dia memang paling mudah beradaptasi dengan yang namanya kaum hawa, jurusnya untuk menarik perhatian begitu banyak.

Mata Donghae tertuju pada empat orang gadis yang baru saja masuk ke dalam klub, keempat gadis itu berdiri sejenak mengamati suasana klub.

“Anne dan kawan-kawan juga datang” kata Donghae. Anne, Fleur, Caron dan Cleo,  keempat gadis itu langsung menuju ke meja bartender, memesan minuman dan tak berapa lama kemudian mereka langsung menuju dance floor, menari dengan riang “Kau tak ingin bergabung?” pancing Donghae “Sepertinya kesempatan yang baik” lanjutnya lagi.

Siwon hanya diam, ia segera menghabiskan sisa minuman di dalam gelasnya.

“Jangan berkata apa-apa lagi” kata Siwon, ia menatap Donghae dengan kesal. Donghae hanya bisa menuruti keinginan Siwon, tatapan mata Siwon telah membuat Donghae tahu akan suasana hati Siwon yang tiba-tiba tak bersahabat.

Hyukjae yang telah bermandi keringat datang menghampiri Donghae dan Siwon, ia langsung duduk melepas lelah. Tangannya meraih minuman yang baru saja diantar pelayan.

“Hari ini sangat menggembirakan” Hyukjae terlihat girang “Sayang sekali, kalian hanya duduk seperti ini” kata Hyukjae lagi. Donghae dan Siwon hanya tersenyum tipis menanggapi Hyukjae yang berusaha memanas-manis mereka berdua.

Sementara itu Anne, Caron, Cleo dan Fleur yang telah lelah menari, kembali ke meja bartender memesan minuman dan langsung membasahi kerongkongan mereka yang kering.

“Kalian lihatkan, siapa yang sedang menari tadi?” pancing Fleur.

“Lee Hyukjae”

“Aku baru saja mau mendekatinya, tetapi dia tiba-tiba menghilang” Fleur terlihat kecewa.

“Kenapa harus memasang wajah seperti itu?” ledek Anne, tangannya sibuk menggoyang gelas yang dipegangnya, memainkan es batu di dalam gelas itu.

“Dimana ada Hyukjae, disitulah Siwon dan Donghae berada” kata Cleo.

“Tentu, sejak kapan mereka terpisah?” lanjut Caron.

“Sepertinya di lantai dua” kata Anne.

“Bagaimana kalau kita menuju ke tempat mereka dan ikut bergabung dengan mereka?” usul Fleur. Caron dan Cleo tampak berbinar-binar menyambut usul Fleur.

“Silahkan saja” kata Anne dingin membuat keceriaan di wajah ketiga kawannya berkurang “Aku lebih suka di sini” kata Anne lagi. Cleo, Fleur dan Caron hanya memandangi Anne dengan kesal tanpa dapat berbuat apa-apa. Mereka kembali memesan minuman.

“Semuanya” kata Cleo meminta perhatian ketiga temannya “Lihat siapa yang baru saja datang” katanya lagi. Fleur, Caron dan Anne segera menengok kearah yang dimaksud Cleo.

Mata mereka tertuju kepada seorang gadis yang baru saja tiba, adalah Sam. Sam yang berpenampilan casual dan terlihat modis dengan celana jeans biru pendek yang mempertontonkan paha dan betis yang mulus, dipadu dengan kemeja putih yang hampir memperlihatkan perutnya yang tipis dan ramping, lengan kemeja yang panjang dilipat sembarangan sebatas siku. Kaki indahnya ditutupi oleh sepatu bot hitam sebatas betis dengan hak 10 centi. Tak ketinggalan aksesoris berwarna hitam dan senada yang membuat penampilannya semakin menarik, susunan gelang di pergelangan tangannya, anting unik yang menjuntai di telinganya dan sebuah kalung panjang dengan mainan mawar hitam yang bergelayut di leher jenjangnya yang indah. Rambut coklat berkilau Sam yang kali ini dibuat sedikit bergelombang dibiarkan terurai begitu saja. Penampilan Sam yang begitu casual dan santai tapi tak meninggalkan kesan elegan.

Tak sedikit mata yang ikut memperhatikan Sam selain Anne dan sahabat-sahabatnya. Mereka mungkin baru saja melihat sosok Sam yang memang baru menginjakan kaki di tempat itu. Para gadis yang bertanya-tanya siapakah wajah asing itu, juga para lelaki yang terkesima dan terpesona dengan kehadiran gadis cantik seperti Sam.

Sam melangkah menuju bartender, ia segera duduk dan langsung memesan minuman. Tak tanggung-tanggung Sam menghabiskan isi gelasnya, dan meminta untuk ditambah lagi. Beberapa pria sempat mengajak Sam untuk menari tapi ditolak begitu saja oleh Sam yang terlalu sibuk menghabiskan minuman. Merasa diperhatikan, Sam menoleh pada Anne, Fleur, Caron dan Cleo yang berada tak jauh darinya. Sam mengangkat gelas yang di pegangnya ke arah keempat gadis yang sedang menatapnya, seperti tanda untuk bersulang. Sam kembali meneguk minuman dengan santai, entah sudah berapa gelas minuman yang dihabiskan.

Semakin malam, suasana klub semakin memanas. Semakin ramai pengunjung yang datang. Musik yang mengalunpun semakin memacu adrenalin. DJ yang dengan lincah memamerkan keahlian mereka. Setelah menghabiskan satu gelas lagi minumannya, Sam menuju ketengah-tengah dance floor dan langsung bergabung dengan pengunjung lainnya. Sam mulai menari, menggerakkan tubuhnya sesuai dengan musik.

“Tunggu sebentar” kata Caron, mereka sedari tadi sibuk memperhatikan Sam. Jelas-jelas ketidaksenangan terpancar dari wajah mereka. Caron segera meninggalkan teman-temannya, ia berjalan diantara kumpulan ramai muda-mudi yang terus menari. Beberapa saat kemudian, Caron terlihat berbincang-bincang dengan beberapa orang lelaki yang duduk di tempat lain. Entah apa yang mereka perbincangkan, Caron sepertinya sedang serius mengatakan sesuatu sambil menunjuk pada Sam yang semakin asyik menari dan tampak cuek dengan orang-orang di sekelilingnya yang mulai memperhatikan dirinya. Pemuda-pemuda itu tersenyum aneh, Caron akhirnya meninggalkan kumpulan pemuda kaya bertampang bajingan itu, ia kembali ke kelompoknya dan membisikan sesuatu kepada teman-temannya itu. Wajah mereka langsung sumringah, mereka bersulang seperti sedang merayakan sesuatu.

Sedari tadi Hyukjae sibuk mengajak kedua orang itu untuk turun menari. Siwon dan Donghae berulang kali menolak ajakan Hyukjae, mereka sedang tidak berselera untuk menari, hanya memandangi keadaan sekitar yang semakin larut semakin ramai.

Come on, guys! kalian tidak seperti biasanya” kata Hyukjae

“Berapa kali harus aku katakan, saat ini aku sangat tidak berminat” ujar Donghae, ia mulai terlihat jengkel.

“Kau saja Hyukjae, aku merasa nyaman berada di sini” sambung Siwon memberikan alasan yang selalu sama setiap kali ke klub malam.

“Sudahlah, aku memilih untuk menemani kalian” Kata Hyukjae. Mereka akhirnya hanya memandangi suasana panas yang terjadi di bawah sana. “Sepertinya sesuatu yang seru sedang berlangsung” ujar Hyukjae lagi.

Siwon, Hyukjae dan Donghae ikut mengamati apa yang sedang berlangsung. Para pengunjung yang riuh, mereka tampak begitu heboh. Di tengah-tengah kerumunan orang yang sedang menari, ada sedikit tempat kosong dan di situ terlihat seorang gadis sedang asyik menari. Gadis itu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya dengan lincah dan sangat gemulai, rambut coklatnya yang seakan ikut menari menggeliat dengan liar namun indah.

“Whuuaah… lihat itu!” tunjuk Hyukjae, ia begitu terkesima menatap gadis itu. “Lihat tariannya itu, sangat hebat. Seksi” Siwon dan Donghaepun ikut memandangi gadis yang menari dengan sangat baik dan telah menarik perhatian seisi klub. Mata mereka hampir tak berkedip menatap gadis itu.

Sepertinya ketiga orang itu belum menyadari bahwa sosok gadis seksi itu adalah orang yang sangat mereka kenal, siapa lagi kalau bukan Sam.

Sam terus saja menari, ia tak begitu perduli akan tatapan orang-orang yang terus memperhatikannya. Semakin hebat ia memamerkan jurus-jurus mautnya, bahkan rambut indahnyapun ikut dipermainkan sedemikian rupa. Sampai akhirnya mata Hyukjae, Siwon dan Donghae bertambah membelalak ketika melihat Sam dengan jemarinya menyisir rambutnya yang sedikit berantakan dan telah menggerayangi wajahnya.

“SAM?” pekik ketiga orang itu bersama-sama. Mereka terlonjak kaget, terdiam beberapa saat lalu saling berpandangan.

“Bagaimana dia bisa?” gumam Donghae tak percaya.

“Mau kemana?” Siwon memegang tangan Hyukjae yang baru saja mau pergi.

“Kemana lagi?” Hyukjae balik bertanya. “Ada apa?” tanya Hyukjae lagi, ketika pegangan Siwon semakin kuat seolah menyuruhnya untuk kembali duduk.

“Jangan” kata Siwon “Jangan di tempat ini. Kau sendiri tahu seperti apa sifat Sam. Apa mungkin dia akan mendengarkanmu? Kalian bisa membuat keributan di tempat ini. Sebaiknya bicarakan saja di rumah”

Hyukjae terdiam, dia memikirkan ucapan Siwon. Hyukjae kembali duduk di tempatnya, ucapan Siwon tidak satupun yang meleset, jika ia tetap memaksa bisa saja akan terjadi keributan di klub. Hyukjae memilih bersabar dan hanya bisa memantau Sam dari jauh.

Sementara itu Sam yang lelah telah memilih kembali ke meja bartender, lagi-lagi ia memesan minuman dan menghabiskan dalam sekali teguk.

“Hai cantik” beberapa orang pemuda telah berdiri mengelilingi Sam. Pemuda-pemuda yang sebelumnya diajak bicara oleh Caron. Sam tak menoleh sedikitpun kepada mereka, ia kembali memesan minuman “Gadis secantik dirimu, sangat tak pantas untuk duduk sendirian di sini” katanya lagi

“Bagaimana kalau kami menemanimu?” kata seorang lagi. Mereka dengan gencar terus menggoda Sam. Sam tak memberikan reaksi atau sepatah katapun. “Mau kemana?” orang itu langsung menangkap pergelangan tangan Sam ketika gadis itu hendak pergi dari hadapan mereka.

“Lepaskan” kata Sam pelan.

“Gadis angkuh. Tidak lihat jika kami sedang berbicara denganmu?” kata seorang pemuda yang sepertinya adalah pemimpin di kelompok itu.

“Apa hubungannya denganku?” Suara Sam yang lembut terdengar begitu sabar.

“Bukankah sudah kukatakan, sebaiknya kau temani kami minum” kata orang itu.

“Lepaskan tanganku” kata Sam, ia terus mengulangi perkataan yang sama.

“Gadis ini benar-benar sombong. Tapi tak apa, orang sepertimu adalah typeku” kata pemuda itu “Satu lagi, jangan harap aku akan membiarkanmu lolos” katanya sambil mencengkeram tangan Sam dengan erat.

“Sudah kukatakan, lepaskan tanganku kalau…”

“Kalau?” tanya pemuda itu memotong ucapan Sam yang sedikitpun tak pernah menoleh untuk menatap orang-orang itu. Sam tersenyum tipis,

“Baiklah” kata Sam sambil berbalik dan menatap pemuda yang memegang tangannya, segaris senyuman tergambar di bibirnya.

BUUUGGHH!

Sebuah bedebam keras terdengar, menyusul dengan tumbangnya pemuda yang telah menyulut emosi Sam. Pemuda itu tak bangun lagi. Teman-teman pemuda itu sejenak terdiam, mereka bahkan tak langsung menolong rekannya yang telah tak sadarkan diri. Pengunjung klub yang lainpun ikut terkejut, Sam baru saja melepaskan pukulan dan membuat seorang pemuda kalah telak. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya Sam kembali menarik perhatian. Gadis itu segera meninggalkan kumpulan pemuda yang mencoba merayunya.

“Ada apa?” Donghae melihat Hyukjae yang terus melongo ke bawah sana, matanya dengan jelalatan mencari tahu keributan yang terjadi di lantai satu.

“Sepertinya ada yang berkelahi” kata Hyukjae.

“Persaingan sering membuat orang gelap mata” Siwon menanggapi ucapan Hyukjae “Aku ke toilet dulu” kata Siwon, ia meninggalkan Hyukjae dan Donghae berdua.

“Kau tidak melihat Sam?” tanya Hyukjae, matanya terus mencari sosok Sam. Hyukjae telah kehilangan jejak Sam.

“Aku tak tahu,” jawab Donghae “Tenang saja, Sam itu bukan gadis normal. Dia pasti akan pulang dengan selamat” Donghae yang berusaha menghibur tapi justru terdengar seperti sedang mengejek. Hyukjae hanya manggut-manggut tak jelas, ia juga membenarkan ucapan Donghae.

Sementara itu, Siwon baru saja keluar dari sebuah bilik di dalam toilet. Ia segera menuju ke sebuah wastafel dan langsung membasuh wajahnya dengan air setelah menggulung lengan kemeja yang dikenakannya. Siwon memandangi wajahnya di kaca, ia terlihat diam seperti biasanya. Sekian lama memandangi dirinya dengan pikiran yang entah berada dimana, Siwon kembali membasuh wajahnya berkali-kali, ia segera mematikan kran air.

Baru saja Siwon hendak meninggalkan toilet ketika telinganya menangkap sesuatu. Siwon memperjelas pendengarannya. Suara seseorang yang terbatuk-batuk dengan sesekali terdengar gumaman yang tak begitu jelas. Siwon menjadi penasaran mengingat suara yang didengarnya adalah suara wanita. Seorang wanita yang berada di toilet pria. Ia melangkah mendekati sebuah bilik dimana suara itu semakin jelas terdengar.

“Siapa di dalam?” tanya Siwon sambil mengetuk pintu bilik itu. Tak ada suara yang menyahut, hanya batuk yang terdengar berulang-ulang “Kau tidak apa-apa?”ia terlihat sedikit khawatir. Suara batuk itu hilang, sekian detik hingga menit “Maaf.. kau tidak apa-apa?” Siwon mengulangi pertanyaan yang sama, ia sempat panik karena mendadak bilik itu menjadi hening. Pintu terbuka dengan keras dan langsung mengenai kepala Siwon.

Siwon meringis kesakitan, ia memegangi kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing akibat benturan keras itu. “Sam?” Siwon semakin terkejut melihat sosok yang keluar dari dalam bilik itu.

Mata Sam tampak begitu sayu, ia tampak tak bisa berdiri dengan baik. Keadaan Sam tidak begitu baik, Sam telah mabuk. Ia memesan minuman dengan kadar alkohol yang tinggi, tak tahu berapa gelas telah ia habiskan.

“Sam?” Siwon memandangi Sam yang hampir limbung.

“Kau mengenaliku?” Sam memandangi Siwon. Matanya yang indah terlihat begitu sayu “Oh.. tentu.. kau Siwon Francaise? Ya, ya, ya.. apa kabar?” Tanya Sam lagi, ia menatap Siwon lekat-lekat.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku?” Sam terlihat semakin tak sadar dengan apa yang diperbuat dan dikatakan. Sam terdiam, cukup lama. Siwon mengamati Sam yang diam, gadis itu tertunduk.

“Hei.. kau tidur?” Siwon mendesah tak percaya “Bangun! kau tak boleh tidur di sini”  kata Siwon sambil menggoyang pundak Sam, ia heran melihat gadis itu seperti tertidur padahal ia sedang berdiri. Tanpa diperhitungkan ketika Sam memeluk Siwon. Siwon terkejut, Sam semakin mempererat pelukannya membuat Siwon panik dan sedikit salah tingkah “H..hei, apa yang kau lakukan?” Siwon berusaha untuk melepaskan diri dari Sam tapi pelukan gadis itu begitu kuat.

“Ibu” Sam bergumam pelan “Ibu” ia mengulang ucapannya, Siwon memperjelas apa yang barusan didengarnya dari mulut Sam “Ibu.. Ibu..” Sam mengigau tak jelas, berulang kali Sam memanggil Ibunya. Siwon terdiam, ia tak lagi berusaha melepaskan pelukan Sam.

“Kau mabuk berat” kata Siwon pelan. Ia melihat sosok lain Sam, sosok yang tidak seperti Sam yang biasanya. Pemuda itu merasa Sam adalah orang yang begitu kesepian dan mempunyai masalah yang ditutupi dengan perbuatannya yang ajaib.

Tanpa berpikir panjang, Siwon membopong Sam yang telah tak sadarkan diri, tak berapa lama mereka sudah berada di luar klub. Ia segera meletakan Sam di dalam mobil, lalu menelpon seseorang dan dalam beberapa menit Hyukjae dan Donghae yang menyusulinya di parkiran.

“Apa yang terjadi?” tanya Hyukjae melihat Sam yang tak sadarkan diri.

“Dia mabuk berat” kata Siwon “Sebaiknya kita pulang sekarang” kata Siwon, ia masuk ke dalam mobil dan disusul oleh Donghae dan Hyukjae. Mobil yang mereka kendarai akhirnya meninggalkan parkiran Klub.

***

Siwon dan Hyukjae sedang membahas sesuatu di dalam kelas ketika Donghae datang menghampiri mereka. Donghae langsung mengambil posisi di dekat kedua pemuda itu.

“Apa yang kau katakan pada Sam?” Siwon menatapi Hyukjae.

“Tidak—maksudku aku belum mengatakan apapun padanya” jawab Hyukjae “Aku tak mungkin berbicara dengan orang yang tak sadar”

“Hari ini Sam tak terlihat di kelas” kata Donghae

“Sepertinya dia benar-benar mabuk berat” gumam Siwon mengingat kejadian semalam.

“Tadi pagi aku ke kamarnya, dia masih tidur. Sangat sulit untuk membangunkannya, padahal aku sudah meminta bantuan beberapa pelayan” kata Hyukjae memberikan penjelasan “Untung saja Ayah tidak tahu peristiwa semalam” Hyukjae bergumam pelan, ia bergidik membayangkan jika Ayahnya mengetahui apa yang telah Sam lakukan.

“Kau pasti tak menyangka sikap adikmu seperti itu” ujar Donghae, ia menatapi Hyukjae yang berkali-kali menarik nafas panjang.

“Aku tak heran kalau dia keras kepala” kata Hyukjae “Tapi sungguh tak terbayangkan jika dia benar-benar memiliki sifat seperti itu, biang masalah. Aku pikir setelah sekian tahun terpisah, aku bisa bertemu dengan Sam yang bersikap manis seperti anak gadis seusianya” keluh Hyukjae.

“Apa yang Ibumu lakukan?” Hyukjae memandangi Siwon, ia merasa bingung karena tiba-tiba saja Siwon bertanya tentang Ibunya “Maksudku, apakah Ibumu tidak mengetahui sikap Sam? Maaf, mungkin terdengar sedikit kasar” Siwon memperjelas pertanyaan.

“Mungkin saja ucapanmu ada benarnya. Bisa saja Ibuku mengira Sam sama seperti anak gadis lainnya tanpa mengetahui sisi Sam yang lain atau mungkin Ibu justru tak tahu lagi bagaimana mengatasi Sam” Hyukjae berprasangka “Ibuku seorang ilmuwan, dia dibayar untuk meneliti sebuah proyek besar dan membuatnya dan Sam menetap di sana. Ibu adalah type orang yang gila kerja, jika sudah bekerja dia akan lupa segalanya. Pasti tak banyak waktu yang diluangkan untuk Sam” kata Hyukjae,

“Tapi, apakah Ibumu…” Donghae terlihat sedikit ragu untuk melanjutkan pertanyaannya.

“Sejak bercerai, Ibu tak pernah menikah lagi. Sepertinya pekerjaan telah menguras habis waktunya bahkan berpikir untuk menikah lagi sudah tak sempat” kata Hyukjae, ia berhasil menebak apa yang ingin ditanyakan oleh Donghae “Mungkin ini salah satu penyebabnya mengapa Sam bisa tumbuh seperti itu. Dia pasti sangat kesepian, semua yang dia lakukan adalah sebagai pelampiasan. Aku rasa, Sam bersikap seperti itu untuk menarik perhatian Ibu” Hyukjae melanjutkan perkataannya sambil menerawang ke dalam ingatan masa lalunya. Siwon dan Donghae tampak menyimak dengan baik semua ucapan Hyukjae.

“Sepertinya kau benar-benar memahami Sam” tutur Donghae

“Kami memang lama baru bisa bertemu lagi, meskipun begitu, aku masih ingat Sam kecil. Satu lagi, bukankah aku ini kakak gadis keras kepala itu?” Hyukjae tersenyum “Siwon, mengapa kau tiba-tiba bertanya tentang Ibuku?” Ia heran dengan perilaku aneh Siwon yang tiba-tiba ingin tahu tentang orang lain.

“Tidak” jawab Siwon “Bukan apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja,” Siwon memperjelas statement yang ia keluarkan mengingat tatapan Hyukjae yang terlihat belum yakin.

“Begitu” Hyukjae bergumam pelan “Baiklah, aku keluar dulu” kata Hyukjae, ia meninggalkan Donghae dan Siwon di dalam kelas.

“Sepertinya Hyukjae begitu terburu-buru?” gumam Donghae. Siwon segera melirik jam tangannya, ia tersenyum tipis seakan tahu apa yang sedang dikejar Hyukjae.

“Dia sedang menuju ruang musik” kata Siwon

“Hyukjae belajar musik? Sejak kapan?” Donghae justru terkejut.

“Tidak” jawab Siwon, lagi-lagi ia tersenyum melihat keheranan Donghae “Aku juga tak tahu karena dia tak pernah mengatakan apapun padaku” kata Siwon

“Lalu?”

“Aku selalu mengamatinya, setiap jam yang sama Hyukjae selalu ke ruang musik. Dan kejadian ini sudah berlangsung hampir tiga minggu” kata Siwon

“Tiga minggu?” Donghae sedikit terperangah “Apa yang dia lakukan di sana, jika dia tak belajar musik?” Donghae semakin heran. Siwon hanya menatap Donghae, tatapannya mengatakan bahwa dia sendiri tak tahu apa-apa.

“Pastinya, tidak mungkin Hyukjae melakukannya tanpa ada sebuah alasan. Pikirkanlah, kira-kira apa yang bisa membuat Hyukjae seperti itu?” pancing Siwon.

“Sesuatu yang menarik” gumam Donghae sambil terus berpikir “Pasti ia menemukan sesuatu yang menarik sampai rela membuang waktunya” Siwon tersenyum mendengar penuturan Donghae, tampaknya ia memiliki pendapat yang sama dengan Donghae.

***

Hyukjae mengendap-endap ketika masuk ke dalam ruang musik. Tak ada ramai siswa di dalam ruangan itu, yang terdengar hanyalah suara biola yang mengalun lembut. Hyukjae melangkah hati-hati ke sudut lain di ruangan itu, ia memilih duduk di pojok dan bersembunyi dibalik sebuah lemari hingga keberadaannya tidak diketahui.

Sesekali Hyukjae mengamati gadis berkacamata yang memainkan biola itu, Aline. Gadis itu sangat serius dan menjiwai permaian biolanya. Tiga minggu lalu, Hyukjae yang tanpa sengaja melewati ruang musik yang pintunya tak terkunci rapat dan saat itu terdengar alunan indah biola, suara merdu biola membuat Hyukjae tertarik dan mengintip Aline yang selalu serius ketika bermusik. Sejak saat itu, secara diam-diam Hyukjae selalu mencuri dengar setiap kali Aline berlatih, tentunya tanpa sepengetahuan Aline.

Hyukjae menghempaskan tubuhnya di kursi panjang itu, begitulah yang selalu ia lakukan. Menikmati alunan musik yang dimainkan Aline. Hyukjae merasa permainan biola Aline begitu indah dan merdu. Tampaknya ada sesuatu yang dinanti-nantikan oleh Hyukjae.

Alunan biola Aline tak terdengar lagi. Tak lama kemudian suara biola terdengar kembali, lagu yang dimainkan oleh Aline begitu familiar di telinga Hyukjae. Selama ini, setiap selesai berlatih, Aline selalu menutupnya dengan lagu yang sama, sepertinya itu adalah lagu kesukaannya. Aline memainkan lagu itu dengan sangat merdu penuh penghayatan. Hyukjae memandangi langit-langit ruang musik, pikirannya melayang-layang, Hyukjae memiliki kenangan akan lagu yang sedang mengalun merdu itu.

Ingatan Hyukjae serasa kembali ke masa lalu. Saat dia dan Sam masih begitu kecil. Hampir disetiap malam ketika Ibunya tak sedang bekerja, Ibunya memainkan lagu yang sama seperti yang dimainkan Aline saat ini. Masih jelas kenangan itu, alunan merdu piano Ibu dikawali olehnya dan Sam yang duduk manis di samping kiri dan kanan Ibunya. Kejadian yang telah sangat lama berlalu, sisa kenangan manis sebelum kedua orang tuanya berpisah. Bagi Hyukjae kenangan itu terlalu berharga untuk dilupakan. Itulah mengapa Hyukjae selalu mencuri waktu ke ruang musik, menantikan lagu penutup yang selalu dimainkan Aline. Lagu yang membuatnya ingat bahwa dulu ia pernah merasakan bahagia dengan keluarga yang utuh.

***

Sore hari di kediaman keluarga Francaise, tepatnya di sebuah taman tak jauh dari istana Francaise. Hyukjae, Siwon dan Donghae sedang menikmati waktu santai mereka—lalu, tatapan mereka terali pada Sam sedang mengayuh sepeda. Gadis itu semakin mendekati mereka, Sam mengurangi kecepatannya,

“Darimana saja dia?” tanya Donghae pelan.

Hari sudah hampir gelap ketika Sam baru saja pulang. Gadis itu masih lengkap dengan seragamnya. Entah dikemanakan jas seragam sekolahnya itu, hanya menyisahkan kemeja putih di dalamnya. Ada lagi yang membuat ketiga pemuda itu begitu penasaran. Penampilan Sam yang sedikit berantakan, kemeja putihnya tak terlihat putih lagi, telah kotor oleh sesuatu.

“Sepertinya terjadi sesuatu” bisik Siwon pelan. ketiga orang itu terus menatapi Sam yang semakin dekat.

“Sam!” panggil Hyukjae. Gadis itu menoleh, ia menghentikan laju sepedanya “Apa yang terjadi, mengapa penampilanmu seperti itu?” Hyukjae tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.

“Katakan pada Ayah untuk bersiap-siap menerima panggilan dari sekolah” jawab Sam santai.

“Apa yang terjadi?” Hyukjae terlihat panik. Siwon dan Donghaepun begitu penasaran.

“Aku berkelahi dan sepertinya aku telah membunuh seseorang”

“Apa?” ujar Hyukjae. Ia tersentak kaget, sama kagetnya dengan Donghae dan Siwon “Barusan kau bilang apa?” Hyukjae meminta Sam menjelaskan sesuatu yang baru saja mereka dengar. Sam terdiam sejenak menatapi satu persatu wajah di depannya.

“Aku bercanda” kata Sam sambil tertawa setengah terbahak-bahak melihat ekspresi ketiga orang itu. Hyukjae yang tadinya lemas semakin lemas melihat tingkah Sam, mereka terus menatapi Sam yang berusaha meredakan tawanya. “Hanya saja koma atau mungkin patah tulang” lanjut Sam, lagi-lagi ketiga orang itu terkejut.

“Sam, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Hyukjae “Kau terus saja bermain-main dengan kami” Hyukjae tak dapat menyembunyikan kekesalannya. Sam terdiam lagi.

“Dasar bodoh!!” kata Sam “Aku ini seorang gadis, mana mungkin aku bisa melakukan hal itu? Apalagi sampai membunuh seseorang” kata Sam lagi dengan raut wajah yang baru “Tapi mengenai perkelahian, anggap saja ucapanku benar” tatapan mata Sam terlihat begitu dingin dan nyaris tanpa segaris senyum di bibirnya, ekspresi cerianya tadi begitu cepat berubah. Bahkan Siwon, Donghae dan Hyukjaepun bergidik ngeri melihat tingkah Sam yang dalam sekejap bisa berubah dengan drastis.

“Apa benar yang ia katakan tadi?” gumam Siwon, mereka menatapi Sam yang telah meninggalkan mereka.

“Entahlah, seperti yang ia katakan. Dia sedang mencandai kita” Hyukjae menarik nafas panjang.

“Tapi kau lihatkan, ia begitu berantakan” tuding Donghae.

“Donghae, aku tak tahu” kata Hyukjae “Karena aku benar-benar tak bisa mengerti jalan pikiran Sam, bagiku dia seperti seorang adik yang ajaib” Hyukjae menggeleng-geleng kepalanya.

“Lebih tepatnya, mungkin—alien..” tambah Donghae.

“Jangan berkata sembarangan” Siwon menegur Donghae akan perkataannya. Tapi mereka memang benar-benar tak bisa memahami gadis dengan sikap dan sifat seajaib Sam. Dia benar-benar terselebung oleh misteri.

~ to be continue ~

Iklan

273 thoughts on “I Fell In Love, My Trouble Maker Girl (Part 2)

  1. dhikaayuw berkata:

    haha…..q setuju kalo sam dibilang ajaib….krakternya lucu tpi wlaupun troublemaker tpi prestasiny dsekolah pun bgus jdi gak jlek2 bgt lah sfatny…justru malahan antik….q suka bgt sama karakterny..

    keep fighting n writting…
    we lov u

  2. Tata berkata:

    Sam, what a perfect girl, tapi aku suka pendeskripsian nya.
    Untungnya aline buat hyuk.
    Anne kenapa nolak Siwon ya?
    Kak seriusan deh ini cerita bagus jadi novel.

  3. Sukma A berkata:

    hai unnie..
    aku readers baru.. aku suka banget sama ceritanya. maaf aku belum bisa ngasih kritik dan saran apa apa. baca dulu sampe tamat boleh kan? hehe
    semangat terus nulisnya un..

  4. sy_pyeol berkata:

    Sam berkelahi dng siapa??? Spertinya ad romance antara aline dan hyukjae. Untung aj sam ktemu siwon di bar. Sepertinya bnyak hal misterius tentang Sam. Mnutupi semua kelemahan dng tingkah ajaibnya. Spertinya mulai ad romansa antara kk beradik francise dng sam. Pnasaran sam nnti sama siapa?? Setiap moment dy selalu bertemu siwon.tpi yg pertama melihat donghae. Siwon sdah mnyukai anne…wahhh bikin penasaran..

  5. @R_ELFIna berkata:

    Suka banget sama Sam. Menurutku dia lebih misterius dibandingkan Anne. Sam bertingkah rada tidak wajar tapi itu cara membuatnya senang. Banyak sesuatu yang tersembunyi dari diri Sam.

  6. lee dee dee berkata:

    Tuch kan donghae sepemikiran samma aq kalo sam itu Alien hahahahah.but aq ketawa” pas bayangin siwon,donghe ama hyukjae mlongo berjamaah

  7. Yiatri2499 berkata:

    Anneyong eonni-ya…:)
    bingung mau komentar apa…
    Tpi ceritanya benar-benar seru yg didukung alurnya yg enak dan mudah dimengerti…
    Penyusunan katanya juga enak, gak kaku….
    Jdi gak bca next chapter dan karya eonni yg lainnya;)
    Fighting eon!!!

  8. bebygyu berkata:

    kelakuan ama silkap samantha imizing yah kaganyangka si setan yadong punya saudara yang punya kelakuan ajaip kaya begono hahahaaha

  9. Hana berkata:

    banyak kejutan nih dr Sam, bener” gadis ajaib.
    trharu sm hyuk jae, dia rela nunggu lama cm krn pengen denger ahir prmainan biola Aline yg bs ngingetin dia pd sang Ibu, so sweet.

  10. Widya Choi berkata:

    Entah knp q mlah pnsaran am ap yg d katakan sam dg pnjga gerbang skolah itu..kok kyk ny pnjga skolh ny jd luluh gt..pdhl kan dy garang aplg klo sm siswa yg trlmbat…hahaha si sam bnr2 ssuatu dah.
    Y walaupn dy sdikit nyebelin tp prestasi bljarny kykny bgus. Liat aj noh guru am donghae plus murid2 yg lain aj sampe cengo liat jawaban sam yg bnar d dpn kls. Pdhl td dy kykny g mrhatiin pljaranny hahaha..
    N itu aplg. Ap sam bnr2 brklahi…aduhhh ini cwek sstu bgt y 😂😂😂😂

  11. riankyu berkata:

    bnyak bnget misterinya sam it.. jga knpa dngan ibunya sam.. haa bingung gw.. tpi tingkah sam d sni bkin gw gk bsa ngomong. . tempramen buruk bnget.. tpi d lhat dri pas dy mnjwab d dpan kyknya dy thu pntar.. hmm msih bnyak rahasia yg blum trungkap.. bdw gw ska ff ini.. puannnjangg bngett.. bikin puas bca 1 part itu..

  12. jamurshinee05 berkata:

    wahhhseprrinyamemggadiayang aib. apa yang bisa xia lkuin berkehi. xi selalubijin ketiga orang itumelongo terkejut akan tingkahnya yang terduga.. waah kereeenn kol zam pinter erkelHi..seprtinya akn makin seru

  13. Gita berkata:

    Jadi penyebab sam mempunyai sifat yg kyak gtu gara” kurang perhatian dr ibunya..
    Aku penasaran sama sifat siwon.. Kyaknya dia pendiam diantara yg lainnya

  14. Ken berkata:

    Aku suka bgt sma karakternya Sam. Dia bner2 kuat dan ngga takut apa2. Tapi aku yakin dibalik sifatnya yg nakal itu dia punya beban berat.

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s