I Fell In Love, My Trouble Maker Girl (Part 4)

ImageCast             :

–  Choi Siwon as Siwon Parris Francaise

–  Samantha (Fiction)

–  Lee Donghae as Donghae Chartier Francaise

–  Cho Kyuhyun as Kyuhyun Edmund Francaise

–  Lee Hyukjae

–  Aline Guibert (Fiction)

–  Other cast

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

~~~~~

Sam yang sedang berjalan di luar gedung sekolah, mendapati Aline yang duduk termenung di bangku taman. Perlahan Sam menghampiri gadis tersebut. Ia langsung duduk di samping Aline, gadis itu terkejut, ia tak bisa menghindar.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Sam.

“Tidak. Hanya duduk” jawab Aline pelan, ia tak berani menatap Sam.

Kedua gadis itu terdiam, cukup lama.

“Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Aline” ujar Sam.

“Apa maksudmu?” tanya Aline gugup.

“Aku sangat terganggu dengan sikapmu. Katakan saja, apa yang membuatmu tidak nyaman?” ujar Sam “Mendadak sikapmu berubah.”

“Ti, tidak—itu mungkin hanya perasaanmu saja”“Saat tiba di sekolah ini, harapanku sangat tipis akan suasana sekolah yang selalu kuinginkan. Tak banyak yang mau bergaul denganku. Semua yang mendekatiku memiliki maksud dan tujuan tertentu. Sorotan setiap hari, kau tak akan mengerti.” Sam terdiam, pikirannya melambung jauh “Di sini, hanya kau satu-satunya orang yang mau berteman denganku—dan tulus. Aku bukan seseorang  memiliki perasaan yang begitu sensitif seperti umumnya para gadis, aku tak menyadari kesalahan apa yang telah kubuat padamu” kata Sam, terdengar lantang dan tegas. Aline terdiam.

“Sam. Kau tidak salah—sama sekali tak ada, akulah yang telah menempatkanmu pada posisi itu, sedikit membencimu karena kekecewaanku—juga rasa iri” Aline terdiam lagi.

“Katakan saja”

“Jangan dibahas lagi, itu akan membuatku malu” ujar Aline. Ia lalu menatap Sam “Maafkan aku, Sam. Aku memang terlalu bodoh sehingga diperdayai oleh perasaan itu. Justru karena kepindahanmu ke sekolah ini membuatku memiliki seorang sahabat” kata Aline. Sam tersenyum.

~.o0o.~

 

Kelas XI-1 sudah tampak sunyi, para siswa telah duduk rapi tanpa suara ketika seorang guru masuk ke dalam kelas tersebut. Guru tersebut segera mengeluarkan laptop yang dibawanya disusul oleh masing-masing siswa, ia lalu menjelaskan setiap materi.

Satu jam kemudian.

“Sam…” Aline memanggil Sam dengan setengah berbisik. Wajah Aline tampak cemas melihat Sam yang telah tertidur pulas, “Sam. Apa yang kau lakukan?” panggil Aline berkali-kali, ia tak sanggup membayangkan apa yang akan diterima Sam jika ketahuan tertidur di dalam kelas ketika jam pelajaran tengah berlangsung. Donghae yang menyadari kepanikan Aline bahkan ikut membantu dengan menendang-nendang kaki kursi Sam dari belakang.

“Hei Sam!” panggil Donghae. Gadis itu sedikitpun tak bergerak, ia seperti orang mati.

Donghae dan Aline kembali terpaku pada sang guru, keduanya berusaha membuat kejadian itu tak disadari oleh guru, meskipun debar jantung mereka semakin kencang sambil terus menyimak penjelasan yang sedang diberikan.

“… tentunya kitapun tidak usah berpatok pada IQ tinggi karena itu bukan sebagai penentu utama kesuksesan seseorang, karena faktor yang mendasari kesuksesan seseorang itu beragam, seperti SQ dan EQ” guru terus memberikan penjelasan “Bukan berarti kalian mengabaikan IQ, setidaknya kita harus memahami dan mengenal IQ. Sejarah telah mencatat bahwa banyak orang ber-IQ tinggi yang berpengaruh dan membuat perubahan besar bagi peradaban manusia. Contohnya si jenius Alberth Einstein, jika orang normal memiliki IQ 90-110 maka Alberth memiliki IQ 160, yang memberikan banyak pengaruh pada kehidupan manusia..”

Kelas tampak senyap, hanya terdengar suara guru laki-laki itu di dalam kelas.

“Beruntung kita memiliki siswa-siswa ber-IQ diatas rata-rata, sehingga membuat nama sekolah ini menjadi yang pertama di negara ini. Tentunya dengan harapan mereka bisa memanfaatkan potensi besar dalam diri mereka untuk memberikan perubahan baru seperti yang telah dilakukan oleh jenius-jenius lainnya” kata guru tersebut, ia begitu bersemangat dan menyebutkan jumlah siswa ber-IQ lebih di sekolah itu, matanya ikut tertuju pada Donghae. Suasana kelas yang tadinya sunyi mendadak sedikit gaduh “Jangan berisik!” ujar guru tersebut.

“Pak..” seorang siswa ikut berbicara “Sepertinya bapak keliru dalam mengkalkulasi siswa ber-IQ di atas rata-rata yang saat ini terdaftar sebagai siswa di sekolah ini. Bukankah bapak melebihkan satu orang dari jumlah seharusnya?” ujar siswa tersebut, semua siswa ikut mengangguk, bahkan Donghae sendiri merasa penasaran. Guru tersebut menatap para siswa yang penasaran, ia bahkan tak menyangka melihat ekspresi itu.

“Hyukjae” Guru menyebutkan sebuah nama, kelas mendadak sunyi. Sepertinya raut wajah mereka sedang mencoba untuk mencerna apa yang baru saja disampaikan oleh guru “Lee Hyukjae” ulang guru tersebut, seisi kelas terlihat sangat terkejut begitu juga dengan Donghae, ia lebih kaget dibandingkan yang lainnya “Tentu saja kalian tak akan menduga bahwa ia adalah siswa yang jenius, entah mengapa dia bertindak seperti seseorang yang biasa-biasa saja dengan prestasi yang sangat standard, bahkan kami, dewan guru merasa heran. Jelas-jelas dia memiliki IQ 160, hanya berbeda tipis dengan Donghae”

Kelas kembali ribut. Aline yang mendengar nama Hyukjae dengan debar-debar halus di dadanya juga ikut terkejut. Donghae yang masih syok hanya terdiam, memikirkan betapa selama ini mereka telah tumbuh bersama dan ada sisi Hyukjae yang tak diketahui orang lain. Ia juga tak mengerti, selama ini sikap Hyukjae sangat biasa, tak menunjukan kalau dirinya adalah sosok yang jenius, ia sepertinya menghindari semua potensi dalam dirinya.

“Aku harap tidak ada lagi suara yang terdengar di kelas ini..” kata guru, kelas kembali senyap dalam hitungan detik “Topik seperti ini memang sangat menarik untuk dibicarakan. Menurut kalian, siapakah orang terpandai atau manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia?” tanya guru.

Semua siswa berebutan untuk menyatakan pendapat masing-masing. Nama-nama para jenius mulai terdengar di dalam kelas seperti Leonardo Da Vinci, Johann Wolfgang Von Goethe, Jon Stuart Mills, Alberth Einstein, Mozart, Thomas Alfa Edison, Isaac Newton dan sederet nama terkenal lainnya, bahkan nama Donghae sempat disebutkan sehingga membuat Donghae tersenyum simpul tanpa arti.

“Menurutku, yang terjenius yang pernah ada di dunia adalah Leonardo Da Vinci” ujar seorang siswa “Alberth Einstein sebagai prototype jenius memiliki IQ 160, bagaimana dengan Da Vinci, Universal Genius itu memiliki IQ 220. Kalian bisa bayangkan sejenius apa orang itu” kata siswa tersebut. Semua terdiam, ada yang mengangguk setuju.

“Baiklah” kata guru “Ada yang lain, yang mungkin bisa membantah pendapat Steve?” tanya guru tersebut. Semua diam. Donghae hanya melamun, sepertinya ia masih memikirkan Hyukjae.

Akhirnya apa yang ditakuti Aline dan Donghae benar-benar terjadi. Mata guru itu tertuju pada Sam yang begitu pulas tertidur. Aline semakin panik. Ia tak bisa berbuat apa-apa ketika sang guru menghampiri Sam. Cukup lama guru itu berdiri di samping Sam, menunggu Sam yang tak kunjung sadar, siswa lain hanya memandangi Sam. Terlihat Fleur, Caron, Anne dan Cleo sangat senang karena Sam berada di pintu masalah.

Akhirnya Donghae menendang dengan keras kaki kursi yang di duduki oleh Sam. Gadis itu perlahan sadar dari mimpinya, ia menoleh pada Donghae dengan tatapan yang penuh kekesalan. Rambut Sam terlihat berantakan.

“Begitu banyak orang jenius, tapi orang bodohpun tak kalah banyaknya” perkataan guru tersebut seakan menyindir Sam. Sam menoleh, ia tampaknya baru sadar jika guru telah berada tepat di sampingnya. “Tidak seorangpun yang boleh tidur di kelas ini, bahkan kau tidak menyimak pelajaran yang sedang berlangsung” kata guru tersebut, mulutnya tak berhenti mengomel. Bahkan ketika ia berdiri di depan kelas, ia masih saja terus menyinggung Sam. Sam tak sedikitpun menunjukan rasa penyesalannya.

“Aku, bukannya tidak memperhatikan pelajaran” Sam bersuara, seluruh siswa langsung memandanginya, “Hanya saja, mataku tiba-tiba tertutup—begitu saja” katanya lagi. Para siswa tampak bergidik melihat keberanian Sam yang diluar batas.

“Kau?” guru tersebut memandangi Sam, bola matanya seperti mau melompat dari kelopak matanya.

“Aku tak setuju jika Da Vinci adalah sosok terjenius yang pernah ada” katanya lagi, semua siswa langsung kasak-kusuk, mereka berbisik-bisik sambil terus menghujani Sam dengan tatapan aneh.

“Baiklah. Jelaskan alasanmu” kata guru dengan sorot mata yang aneh, ia merasa jika perkataan Sam hanyalah sebuah modus untuk menutupi kesalahannya.

“William James Sidis. Dialah manusia terjenius sesungguhnya yang pernah dimiliki dunia” kata Sam mantap, “William Sidis, seorang Yahudi Rusia yang beremigrasi ke Amerika. Sidis lahir tanggal 01 April 1898 dan wafat pada tanggal 17 July 1944 diusianya yang terbilang cukup muda, 46 tahun. Memiliki IQ yang ‘out of scale’ yaitu mencapai kisaran 250 sampai 300. Ia bisa makan sendiri dengan menggunakan sendok pada usia delapan bulan. Pada usia belum genap dua tahun, Sidis sudah menjadikan majalah New York Times sebagai teman sarapan paginya. Sejak itu namanya menjadi langganan headline. Ia menulis beberapa buku sebelum berusia delapan tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Diusia delapan tahun, Sidis mengajari dirinya sendiri bahasa Latin, Yunani, Rusia, Perancis, Jerman, Ibrani, Armenia dan Turki. Ia menyelesaikan SD dalam tujuh bulan dan sekolah menengah enam minggu, diusia yang ke sebelas tahun Sidis sudah diterima di Universitas Harvard sebagai murid termuda. Harvard sangat terpesona dengan kejeniusannya, ketika Sidis memberikan ceramah tentang jasad empat dimensi di depan para professor matematika di klub matematika”

Sam memberikan penjelasan dan didengar dengan seksama oleh seisi kelas.

“Sidis mengerti 200 jenis bahasa di dunia dan bisa menerjemahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah bahasa secara keseluruhan dalam sehari. Keberhasilan Sidis adalah keberhasilan sang Ayah, Boris Sidis yang seorang psikolog handal berdarah Yahudi. Boris sendiri lulusan Harvard, murid psikolog ternama William James, yang namanya diberikan kepada anaknya, William James Sidis. Boris menjadikan anaknya sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi kejahatan, kriminalitas dan penyakit. Semua orang mengatakan bahwa Sidis akan menjadi ilmuwan matematika paling berpengaruh dimasa depan tapi siapa sangka jika William Sidis kemudian meninggal pada usia 46 tahun karena pendarahan otak—saat dimana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktifnya. Sidis justru meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin. Sangat ironis bukan?”

Semua orang hening. Mereka berdecak kagum mendengar penjelasan Sam.

“Jangan mengira karena jenius bisa mendapatkan segalanya. Kehidupan Sidis tidaklah bahagia. Popularitas dan kehebatannya pada bidang matematika membuatnya tersiksa. Beberapa tahun sebelum meninggal, Sidis sempat mengatakan kepada pers bahwa ia membenci matematika—sesuatu yang telah melambungkan namanya. Dalam kehidupan sosial, Sidis juga sedikit memiliki teman bahkan ia juga sering diasingkan oleh rekan sekampus. Tidak pernah memiliki seorang pacar ataupun pasangan hidup. Gelar sarjananya tidak pernah selesai, ditinggal begitu saja. Ia kemudian memutuskan hubungan dengan keluarganya, mengembara dalam kerahasiaan, bekerja dengan gaji seadanya, mengasingkan diri. Ia berlari jauh dari kejayaan masa kecilnya yang sebenarnya adalah proyeksi sang Ayah. Pada akhirnya Sidis menyatakan dirinya sebagai hasil dari percobaan sang Ayah yang membuatnya mengasingkan diri, tidak dari percobaan sang Ayah, media pers dan publik yang menjadikan Sidis sebagai berita sehingga Sidis tidak mempunyai privasi sampai menghembuskan nafas terakhir. Itulah mengapa namanya tenggelam dan kurang dikenal, ia tidak memiliki apa-apa yang bisa disumbangkan bagi peradaban manusia padahal Sidis lahir di abad ke-20 dan sejarah hampir tidak mencatat apa-apa tentang dia. Meskipun demikian, gelar manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia tetap layak diberikan kepada William James Sidis”

“Aku baru tahu ada manusia sejenius itu” tanggap seorang siswa dengan decak kagumnya.

“Kepandaian tidak menentukan kontribusi dan pengaruh yang kita berikan bagi sesama” kata Sam lagi, raut wajahnya terlihat sangat serius. “Dampak bagi umat manusia hanya datang dari keinginan untuk melakukan dan mengembangkan potensi yang kita miliki. Itulah yang menentukan tingginya puncak hidup seseorang. Kebanyakan kita tidak dilahirkan sebagai orang jenius, namun kita adalah makhluk yang diciptakan sesuai dengan gambaran Tuhan, kepada masing-masing kita diberikan kemampuan yang unik—sejatinya, dari cerita Sidis, kita bisa mengambil pelajaran. Aku rasa masing-masing dapat menyimpulkannya” katanya lagi dengan sorot matanya yang tajam dan langsung mengakhiri cerita panjangnya.

Para siswa hanya bisa mengangguk pelan, begitu juga guru yang sebelumnya merasa marah dengan perilaku Sam. Donghae, Aline dan siswa lainnya yang menatapi Sam yang telah membisu di meja belajarnya—bahkan matanya yang sayup tampak mulai menutup kembali dengan perlahan dan pasti. Dasar Sam!

~.o0o.~

Hampir pukul sembilan malam, suara berisik dan sahut-sahutan terdengar dari sebuah ruangan di kediaman Francaise. Suara itu berasal dari sebuah bangunan yang terpisah dari kediaman utama keluarga Francaise—bangunan yang berisi fasilitas olahraga yang sangat lengkap, tempat yang dibuat khusus bagi putra tertua keluarga Francaise, Siwon yang menyukai bidang olahraga.

Tampak dua orang berbadan tegap dan tinggi saling berhadapan. Kedua orang itu memakai masker atau pelindung wajah, sarung tangan dan baju jaket yang terbuat dari bahan yang kuat dan berwarna putih. Di tangan mereka terdapat sebuah pedang yang cukup panjang, pedang yang berbentuk langsing, lentur dan ringan.

Cukup lama mereka beradu ketangkasan pedang, saling berlomba untuk menjadi juara. Gerakan tubuh serta pedang yang begitu lincah mengatakan mereka seperti pemain anggar yang professional. Sampai akhirnya pedang salah satu diantaranya terlepas. Kedua orang itu saling berhadapan dengan dada yang naik turun menandakan nafas mereka yang masih belum teratur. Si pemenang langsung melepas pelindung wajahnya.

“Kau sangat lumayan” kata Siwon. Wajahnya basah karena keringat bahkan rambut hitamnya pun ikut basah.

“Ya, tetap saja tidak bisa menandingimu” Hyukjae lalu melepaskan pelindung wajahnya. Ia langsung berbaring. Siwon ikut berbaring di sampingnya.

“Kau benar-benar tak berminat pada klub olahraga?” tanya Siwon yang merasa kemampuan Hyukjae patut diacungi jempol.

“Kau tahukan, aku paling tidak suka jika tubuhku berkeringat seperti ini?” kata Hyukjae. Siwon tertawa pelan mendengar penuturan Hyukjae yang begitu jujur.

“Lalu bagaimana dengan klub lainnya?” tanya Siwon “Kau satu-satunya siswa yang tak terdaftar di klub manapun” gumamnya lagi.

“Aku suka yang seperti ini” kata Hyukjae “Menurutku, aku bukan satu-satunya di sekolah” katanya. Siwon sedikit mengernyitkan kening lalu kemudian tersenyum simpul.

“Tentu saja” katanya lagi “Kedua-duanya adalah kakak beradik Lee” Hyukjae tertawa mendengar perkataan Siwon.

Sejak kedatangan Sam, Hyukjae tidak lagi menyandang status sebagai satu-satunya siswa yang tidak mengikuti kegiatan klub manapun.

“Di sini rupanya” Donghae baru saja datang. Ia masih lengkap dengan pakaian seragamnya.

“Darimana saja kau seharian ini?” tanya Hyukjae yang langsung merubah posisinya—duduk. Siwon melakukan hal yang sama dengan Hyukjae.

“Klub matematika” kata Donghae. Ia segera menghampiri kedua orang itu dan langsung duduk bersama mereka. Donghae menatap tajam pada Hyukjae, seolah-olah ingin menggali apa saja isi kepala Hyukjae.

“Ada apa?” tanya Hyukjae “Tatapanmu itu..” katanya lagi yang menyadari tatapan tajam yang sedang ditujukan padanya. Donghae terus saja mengamati Hyukjae.

“Benarkah kau hanya seorang siswa playboy—dan bodoh?” gumam Donghae.

“Apa kau yakin tidak terjadi sesuatu padamu?” Hyukjae sedang mempertanyakan kewarasan Donghae yang dirasanya mulai memudar.

“Aku heran bagaimana bisa selama ini kau menyembunyikannya dari kami, bertingkah seperti orang bodoh, sangat bangga memamerkan nilai standarmu dan pasrah menerima kemarahan Paman Lee atas nilai-nilaimu yang buruk. Kau sangat hebat” kata Donghae “Kau berhasil mengelabui kami”

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Hyukjae tak mengerti.

“Aku rasa kau sedang menyembunyikan banyak hal, apa lagi yang tidak kami ketahui?” Donghae terus menghujani tatapan tajamnya pada Hyukjae—sorot matanya penuh dengan berbagai macam kecurigaan.

“Ada apa?” tanya Siwon yang sepertinya mulai penasaran “Aku bahkan tak bisa mengerti apa yang sedang kau bicarakan?” tanyanya lagi. Donghae terdiam menatap Siwon, lalu beralih lagi pada Hyukjae.

“Aku semakin salut. Bahkan Siwonpun tak mengetahuinya” kata Donghae “Benarkah kau hanya bisa mengencani para gadis? Bagaimana bisa kau betah dengan omelan paman padahal kau bisa melakukan yang lebih dengan otakmu yang brilliant—jenius??”

“Apa ini?” tanya Siwon yang semakin penasaran.

“Itulah yang ingin aku tahu” kata Donghae “Bagaimana bisa Hyukjae bertingkah seperti itu, tenang dengan prestasi yang hampir nihil, bahkan telingaku panas karena selalu mendengar ocehan Paman Lee. Seharusnya kau bisa melakukan hal yang lebih—bahkan luar biasa dengan IQ 160-mu itu” kata Donghae, terlihat takjub.

“APA?” Siwon terkejut. Wajahnya yang selalu berekspresi datar langsung berubah mendengar penuturan Donghae. Ini pertama kali Siwon terkejut berat dalam sejarah hidupnya.

“Aku sama terkejutnya denganmu Siwon, ketika Pak Hugo menyebut nama Hyukjae” kata Donghae. Donghae dan Siwon hanya memandangi Hyukjae yang terdiam.

“Benarkah?” tanya Hyukjae “Aku tak mengira jika memiliki IQ sebesar itu” katanya sambil tertawa pelan dan santai. Siwon dan Donghae semakin heran melihat tingkah Hyukjae yang sepertinya tidak tahu apa-apa.

“Apa yang kau katakan?”

“Selama ini aku merasa bisa memahami dan mengerti setiap pelajaran” kata Hyukjae.

“Lalu mengapa kau justru membuat Paman Lee selalu naik pitam melihat nilai-nilai burukmu itu, seharusnya kau…” kata Donghae terputus.

“Aku bisa saja mendapatkan nilai yang sangat baik bahkan sempurna sekalipun aku tak pernah belajar. Cukup menuangkan semua yang ada di kepalaku, maka semuanya akan beres—itu hanya jika aku mau. Tapi entah mengapa seluruh tubuh ini seperti berontak dan tak menginginkan hal itu” kata Hyukjae. Ia terdiam cukup lama.

“Apa maksudmu?” tanya Donghae.

“Entahlah. Sepertinya ada yang terlewatkan begitu saja dan aku tak tahu apa itu” kata Hyukjae “Aku merasa tak menginginkan semua itu. Begini sudah cukup” kata Hyukjae lagi.

“Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiranmu, Hyukjae” gumam Siwon.

“Akupun tak tahu—sampai sekarang tak mengerti ada apa sebenarnya denganku” kata Hyukjae pelan “Aku hanya merasa lebih baik seperti ini. Hanya seseorang yang banyak membuat wanita menangis, membuat sedikit keonaran bahkan mungkin mencatat namaku dalam agenda hitam sekolah karena ulahku, menenggelamkan diri dalam kumpulan siswa-siswa yang tak memiliki prestasi. Aku suka seperti itu” kata Hyukjae.

“Seperti sosok yang hanya mengandalkan wajah untuk menarik perhatian dan mengencani para gadis” kata Donghae. Hyukjae tertawa mendengar kata-kata itu. Donghae dan Siwonpun tertawa pelan karena merasa bahwa Hyukjae adalah orang yang benar-benar aneh.

“Rasanya aku baru bisa melihat kemiripan antara kau dan Sam” kata Siwon sambil menatapi Hyukjae yang terlihat penasaran “Aneh dan gila” kata Siwon lagi. Tawa langsung berderai di dalam ruangan itu.

~.o0o.~

Aline memasuki ruang musik, seperti biasanya. Ruangan yang begitu luas tampak sangat sunyi dan lenggang. Suasana seperti inilah yang diinginkan oleh Aline. Ia segera melangkah menuju tempat duduknya yang selalu sama dari hari ke hari, dan juga pemandangan yang sama setiap harinya—sebuah minuman kaleng dari seseorang yang misterius telah terletak di situ.

Alunan suara biola yang terdengar begitu merdu mulai mengalun indah memenuhi seisi ruangan, memberi warna dalam kesunyian yang sedang berlangsung. Karya demi karya dari komponis-komponis terkenal dimainkan oleh Aline. Gadis itu terlihat sangat menjiwai setiap gesekan biolanya yang mengeluarkan harmoni yang begitu indah.

GUBRAGGH!

Suara keras mengalihkan perhatian Aline yang baru saja hendak beralih ke lagu berikutnya. Tak berapa lama disusul oleh ringis kesakitan seseorang, terdengar dari balik lemari disalah satu sudut ruangan. Merasa penasaran dengan kKyuhyunuhan yang sedang berlangsung, Aline segera menghampiri tempat yang menjadi sumber keributan. Dengan langkahnya yang pelan dan pasti ia hampir sampai di balik lemari, suara seseorang yang sedang meringis kesakitan terdengar lebih jelas di telinga Aline.

“Ka, kau?” Aline terkejut mendapat Hyukjae yang sedang menahan rasa sakitnya. Hyukjae dengan raut wajah kesakitan itu juga terkejut mengetahui Aline telah berdiri di situ. Aline hanya terpaku memandangi Hyukjae yang duduk begitu saja di lantai tak jauh dari kursi yang selalu menjadi tempatnya berbaring, di dekatnya ada beberapa buku besar dan tebal yang berserakan dilantai. “Apa.. yang kau lakukan di sini?” tanya Aline yang semakin gugup memandangi Hyukjae. Matanya tertuju pada kening Hyukjae yang terlihat memar dan luka, sepertinya ia tertimpa buku yang terjatuh dari atas lemari ketika sedang asyik berbaring di kursi panjang itu.

“Tak bisakah kau menolongku terlebih dahulu?” Hyukjae masih meringis kesakitan, tangannya terus memegangi keningnya.

Beberapa menit kemudian, Aline memasuki ruang musik dengan terburu-buru, tangannya memegang sesuatu. Langkahnya terhenti sejenak, lalu akhirnya kembali berjalan dengan pelan ke balik lemari. Hyukjae telah duduk di kursi itu sambil terus memegangi keningnya yang luka.

“Apa yang kau lakukan?” Hyukjae memandangi Aline yang masih berdiri mematung.

Gadis itu segera duduk di samping Hyukjae, ia meletakan salep dan plester yang baru saja diambilnya di klinik sekolah. Aline yang semula hanya diam dan tampak sangat ragu untuk mengobati Hyukjae akhirnya dengan perlahan berusaha untuk membantu Hyukjae setelah menyadari tatapan Hyukjae yang begitu tajam seakan menyuruhnya untuk cepat-cepat menolong pemuda itu.

Tanpa banyak suara Aline segera mengobati Hyukjae. Ketika mengoleskan salep, Ia terlihat gugup saat jemarinya menyentuh kening Hyukjae yang terasa begitu lembut, apalagi jarak keduanya yang begitu dekat membuat jantung Aline semakin berdebar kencang—gadis itu merasa hampir mati dibuatnya. Dengan sisa tenaga yang ada, Aline melakukan langkah terakhir yaitu membalut luka Hyukjae dengan plester.

Hyukjae yang terus menatapi Aline, menyunggingkan senyuman ketika menyadari wajah Aline yang begitu pucat pasi. Ia langsung mencengkeram pergelangan tangan Aline membuat gadis itu terlonjak.

“Tanganmu begitu gemetar” kata Hyukjae sambil tersenyum “Sepertinya aku orang yang menakutkan bagimu” katanya lagi dan terus memamerkan senyuman mautnya itu. Secepat kilat Aline menarik tangannya sehingga terbebas dari cengkeraman Hyukjae. Gadis itu bahkan segera berdiri, berusaha untuk menjaga jarak antara dirinya dan Hyukjae.

“Apa.. apa yang kau lakukan di tempat ini?” Aline bertanya dengan gugup dan terbata.

“Tadinya tidur sebelum tertimpa buku-buku sialan itu” umpat Hyukjae, ia tampak kesal “Tempat ini sangat nyaman dan rahasia—tapi sepertinya sekarang bukan lagi rahasia” Hyukjae memandangi Aline yang berdiri bagaikan patung.

“Sejak kapan…” gumam Aline “Sejak kapan kau terus berada di sini?” tanya gadis itu.

“Hmm…” Hyukjae berpikir sejenak “Aku tak ingat lagi sudah berapa lama aku tertidur di sini—pastinya sebelum kedatanganmu, ini tempat favoriteku selama hampir tiga tahun berada di sekolah ini” kata Hyukjae lagi dengan menambahkan sedikit bumbu kebohongan mengingat dirinya mulai menyukai ruang musik karena keberadaan Aline.

“Benarkah?” Aline bertanya dengan suaranya yang hampir tidak kedengaran “Jadi, selama ini…” ia kembali bergumam. Hyukjae tersenyum tipis.

“Tidak perlu cemas, bukankah selama ini aku tidak pernah mengganggumu? Kau bahkan tidak akan pernah tahu tentang keberadaanku jika tidak terjadi insiden tadi. Jadi, cukup berlatih dengan baik—jangan memikirkan apapun. Ok?” ujar Hyukjae.

“Baik..” kata Aline, gadis itu lalu berbalik dengan pelan hendak meninggalkan Hyukjae “Itu..” tiba-tiba saja ia mengurungkan niatnya dan kembali menatapi Hyukjae.

“Ada apa?”

“Aku.. aku hanya ingin bertanya..” kata Aline “Apakah kau tidak pernah melihat hal yang aneh?”

“Aneh? Seperti apa?”

“Seseorang yang selalu meletakan minuman kaleng di tempatku berlatih. Mungkinkah, kau pernah melihatnya?” tanya Aline, ia sedang berharap menemukan sebuah jawaban.

“Benarkah ada kejadian itu?” Hyukjae tersenyum tipis.

“Kau tidak pernah tahu?”

Hyukjae terdiam.

“Aneh. Aku bahkan tidak mengetahui ada kejadian seperti itu jika kau tak mengatakannya” kata Hyukjae yang lagi-lagi melontarkan sebuah kebohongan “Sepertinya aku terlalu nyenyak sehingga tak menyadarinya” katanya lagi tanpa rasa berdosa.

“Begitu…” gumam Aline pelan, suaranya terdengar sedikit kecewa “Baiklah..” katanya lagi dan kembali melangkah dengan gontai

“Aline…”

Gadis itu menoleh seketika pada Hyukjae. Ia sudah cukup terkejut dengan perjumpaannya dengan Hyukjae yang secara tiba-tiba, ditambah lagi barusan ia mendengar pemuda itu menyebut namanya.

“Namamu.. Aline, benarkan?” Hyukjae berlagak baru tahu. Aline mengangguk, Seperti mimpi baginya, ia tak menyangka Hyukjae mengetahui namanya “Permainan biolamu sangat baik” puji Hyukjae. Lagi-lagi Aline merasa semakin melayang-layang karena Hyukjae, ia terdiam cukup lama.

~.o0o.~

Ruang kelas begitu sepi, para penghuninya telah menghilang, meninggalkan Donghae yang terlalu terlena dengan buku tebal bacaannya. Sudah hampir lima belas menit yang lalu dering bel istirahat telah berbunyi tapi Donghae sedikitpun tak beranjak dari dalam kelas.

Beberapa orang siswa terlihat kembali memasuki kelas, lalu duduk ditempat masing-masing. Mereka begitu sibuk dengan diri sendiri. Cleo dan Caron yang baru tiba di dalam kelas langsung tersipu melihat Donghae yang sangat serius membaca.

“Hai…” sapa Cleo. Donghae melirik sekilas pada kedua gadis yang telah berdiri di dekatnya. “Sepertinya kau tidak meninggalkan kelas ini?” tanyanya. Kedua gadis itu bahkan tak sungkan-sungkan untuk mengapit Donghae.

“Seharusnya kau mencoba makanan di kafe” ujar Caron “Hari ini mereka mempekerjakan chef terkenal dari Itali”

“Benarkah?” tanya Donghae yang sepertinya tak benar-benar serius untuk mengeluarkan pertanyaan itu.

Caron dan Cleo terus saja berceloteh riang, keduanya sedang berusaha untuk menarik perhatian Donghae. Sam dan Aline yang baru masuk, hanya saling memandang dan tersenyum sinis melihat tingkah Caron dan Cleo yang dinilai terlalu berlebihan.

“Apa kau tidak merasa begitu panas?” Sam memandangi Aline.

“Hmm?” Aline bergumam tak mengerti.

“Aneh, AC-nya tidak mati” kata Sam “Ah, mungkin saat ini banyak setan yang berkeliaran di dekat sini” kata Sam sambil menoleh ke belakang, tepat dimana Caron dan Cleo yang sedang mengapit Donghae. Kedua gadis itu terlihat kesal mengetahui Sam sedang mempermainkan mereka. Aline hanya tersenyum.

“Buku apa yang sedang kau baca?” tanya Cleo yang langsung merampas buku yang dipegang Donghae.

“Kembalikan” ujar Donghae pelan, ia sedikit kehilangan kesabaran melihat ulah Caron dan Cleo.

“Ternyata kita punya hobi yang sama” kata Caron, ia mengambil buku yang berada di tangan Cleo “Bukankah kita berdua sangat berjodoh, Donghae?” Caron tersenyum manis—setiap senyuman yang keluar mengandung begitu banyak arti.

“Jangan paksakan dirimu” kata Sam yang sepertinya tahu niat Caron untuk membuka buku yang dibaca Donghae.

“Apa maksudmu?” Caron terlihat kesal “Tidakah kau tahu? Akupun sangat suka membaca seperti yang dilakukan Donghae?” dengus gadis itu.

Caron langsung membuka buku itu lembar demi lembar, ia sedang berusaha untuk berpura-pura mengerti dan tahu betul apa yang dibaca Donghae demi menarik perhatian si tampan itu. Tak sampai hitungan menit, raut wajah Caron berubah drastis.

Keringat sebesar biji jagung mengalir di dahinya, ia begitu pucat dengan bola mata yang hampir putih melihat isi buku itu. Meskipun otaknya sudah berpacu diambang maksimal tapi ia sama sekali tak mengerti isi buku itu, bahasa yang dipakai bahkan begitu banyak angka di dalamnya membuat gadis itu seperti berada lingkaran hipnotis.

“Bukunya… sangat bagus. Sepertinya aku sedang tidak enak badan” kilah Caron yang tak tahu lagi harus berkata apa, mengingat memang kepalanya hampir pecah bahkan seisi ruangan tampak berputar-putar dalam pandangannya sehabis melihat buku aneh yang menurutnya bagaikan sebuah buku kutukan.

“Itu akibatnya jika kau mengabaikan teguran orang lain” Sam menoleh pada Caron dan Cleo “Bagaimana mungkin kau bisa memahami isinya jika kau tak mengerti terlebih dahulu apa judul yang tertera di sampul depannya” katanya lagi dengan senyum mengejek.

“Apa yang kau katakan?” Cleo semakin kesal “Lalu bagaimana denganmu? Kau hanya bisa mengkritik, apa kau juga memahami isi buku ini?” Cleo menatap tajam pada Sam.

“Tidak” jawab Sam “Karena aku tak mengerti jadi aku memperingatkanmu untuk tidak melakukan sesuatu yang sangat mustahil”

Sam berkata dengan sangat santai, tak perduli pada kekesalan Caron dan Cleo.

“Tapi, jika kalian benar-benar tak puas, mungkin Donghae bisa memberitahukan maksud buku itu—tapi rasanya sulit dia mau melakukannya. Ah, atau.. bagaimana jika kalian bertanya langsung saja pada Professor Celesty?” usul Sam.

Donghae yang semula hanya diam langsung memandangi Sam, sorot mata yang tampak terkejut.

“Apa? Siapa?” Caron dan Cleo tampaknya tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Sam. Gadis itu menarik nafas panjang.

“Sangat memprihatinkan” ledek Sam lagi sambil menggeleng kepala,  darah Cleo dan Caron mendidih. Donghae segera berdiri, ia berusaha melepaskan diri dari apitan kedua gadis itu, dan langsung memegang pergelangan tangan Sam. “Ada apa?” Sam  memandangi Donghae.

“Kau tidak lupa dengan janji kitakan?” Donghae langsung menarik Sam keluar kelas tanpa memberikan kesempatan pada gadis itu untuk bertanya lebih lanjut. Cleo dan Caron terlihat jelas semakin kesal dan geram melihat adegan barusan. Aline hanya tersenyum tipis, puas melihat kekesalan kedua gadis itu.

Dilain tempat, Sam melepaskan genggaman tangan Donghae. Ia memandangi Donghae dengan kesal atas perbuatan Donghae yang membawanya dengan paksa keluar dari dalam kelas saat ia sedang seru-serunya mempermainkan Cleo dan Caron.

“Apa yang kau lakukan?” selidik Sam “Kupikir tidak pernah terjadi kesepakatan apapun diantara kita?” Sam menatap Donghae lekat-lekat.

“Jangan melihatku seperti itu” Donghae menepuk pelan kepala Sam dengan buku yang di pegangnya “Kepalaku hampir pecah mendengar ocehan kalian. Sebagai gantinya, tidak ada salahnya aku menggunakanmu untuk melarikan diri dari kedua makhluk itu” kata Donghae.

“Ah, tuan-tuan muda Francaise yang terhormat—sepertinya sudah menjadi tabiat kalian untuk memperlakukan semua orang dengan sesuka hati” sindir Sam. Donghae hanya terdiam.

“Ah,” tiba-tiba saja Donghae langsung menoleh pada Sam, menatapnya sangat tajam “Menurutku, kau tidak sepenuhnya tak tahu menahu tentang buku ini. Benarkan?” Donghae menatapi Sam dengan penuh rasa curiga.

“Kau bicara apa?” Sam balik bertanya “Tentu saja aku tak mengerti!” katanya tegas.

“Kau memperingatkan Caron dan Cleo. Sepertinya kau tahu jika mereka tak akan mengerti karena buku ini ditulis dalam bahasa asing. Jika kau tak tahu, bagaimana mungkin kau menyebutkan nama penulis buku ini?” ujar Donghae “Kau bahkan tak menyentuh buku ini sama sekali” Donghae terus menatapi Sam penuh selidik.

“Aku memang tak menyentuh buku itu, tapi aku melihatnya sekilas” kata Sam.

“Yang benar saja, Sam” Donghae tertawa pelan, ada nada ketidakpercayaan di situ.

“Tentu saja aku tahu” kilah Sam “Hanya dengan melihat sampulnya, aku tahu buku itu begitu familiar” lanjutnya lagi

“Aku masih belum yakin dengan semua perkataanmu” tuding Donghae.

“Tak mungkin kau tak pernah mendengar cerita tentang Ibuku dari Hyukjae” ujar Sam sambil menatap tajam pada Donghae “Kau tahukan jika Ibuku adalah seorang ilmuwan? Hampir semua buku yang ditulis oleh Professor Celesty ada di ruang kerja Ibuku. Tentu saja aku sangat familiar meskipun aku hanya melihat sampulnya—kau tak pernah merasakan betapa repotnya membersihkan tumpukan buku-buku itu” sindir Sam.

Gadis itu segera berlalu meninggalkan Donghae yang hanya diam terpaku memandangi kepergian Sam.

~.o0o.~

Matahari pagi yang cerah dan hangat kembali bersinar. Segala aktivitas telah dimulai, sama halnya dengan aktivitas yang terjadi di sebuah sekolah bergengsi. Berbaris-baris mobil mewah memasuki kawasan sekolah yang begitu luas. Bangunan sekolah yang mulai ramai dipadati oleh siswa-siswi. Ada yang berbeda dengan keadaan sekolah dibanding hari-hari biasanya. Sekolah terlihat lebih ramai, biasanya hanya siswa sekolah tersebut yang bebas berkeliaran di kawasan sekolah tapi kali ini mereka kedatangan tamu, beberapa jenis seragam yang berbeda juga wajah-wajah asing terlihat hampir disetiap pelosok sekolah. Hari ini adalah tepat dimana pelaksanaan olimpiade olahraga dimulai. Sekolah tersebut merupakan tuan rumah.

Kafe sekolah lebih padat dibandingkan hari-hari sebelumnya. Perut yang begitu kosong membawa Sam menuju kafe, ia menatap kafe yang ramai. Wajah-wajah siswa asing banyak menghiasi sudut-sudut kafe.

Setelah melihat ada tempat yang kosong, Sam segera melangkah menuju tempat tersebut. Seorang pelayan segera menghampiri Sam ketika gadis itu telah duduk dengan nyaman di tempat tersebut dan tanpa banyak berpikir Sam langsung menyebutkan pesanannya tanpa terlebih dahulu melihat menu yang ditawarkan, setiap harinya kafe selalu menyediakan menu-menu yang berbeda agar siswa-siswi tidak merasa bosan.

Who’s the girl?” tanya seorang murid laki-laki, sepertinya ia berasal dari sekolah yang berbeda, juga Negara yang berbeda. Ia dan beberapa temannya terlihat berkumpul bersama dengan beberapa murid laki-laki yang berasal dari sekolah yang sama dengan Sam, juga ada 4 sekawan Fleur, Anne, Caron dan Cleo yang tergabung dengan kumpulan itu. Mereka duduk disebuah tempat yang tak begitu jauh dari Sam.

Who?” tanya Anne.

The girl who sits alone in that place” kata anak lelaki itu dengan pandangan yang ditujukan pada Sam. Para gadis itu saling berpandangan dan melempar senyum tak sedap.

Why?” tanya Fleur “You seem so interested in her?

I think I’ve seen her” ia terus menatapi Sam yang terlihat begitu menikmati makanan yang baru saja diantar oleh pelayan kafe.

Stop it” kata seorang lagi “Vlad, you always said that if see a pretty girl” lanjutnya lagi memberikan penjelasan pada Fleur akan sikap buruk temannya itu

You know, that girl so bad” kata Caron.

She only lowly waiter in a rich family’s house in this state—so poor but very proud” kata Cleo sambil memandang sinis pada Sam “Her attitude really comes from a different level with us” lanjutnya lagi. Ia sepertinya begitu senang menjelek-jelekan Sam, melihat Sam yang tak bereaksi seperti biasanya.

Look at, if she knew we were mocking her, she would still like that” Cleo ikut memberikan tanggapan.

Sementara itu Sam terlalu asyik menghabiskan makan siangnya sehingga tak menyadari kedatangan Donghae. Lagi-lagi membuat perhatian Cleo, Caron, Fleur dan Anne teralih kepadanya karena kedatangan Donghae yang bahkan tak ragu-ragu langsung duduk di hadapan Sam.

“Kau makan seperti itu membuat orang lain berpikir jika kau tak makan berhari-hari lamanya” kata Donghae setengah mengejek, gadis itu hanya diam. “Aku tak melihatmu dipembukaan olimpiade” Donghae menatap Sam, mencoba dengan topik yang berbeda.

“Haruskah aku hadir?” tanya Sam dengan cuek “Habiskan saja makananmu” kata Sam. Donghae menatap Sam dengan kesal. Ia kemudian benar-benar mengikuti perintah Sam untuk diam dan hanya makan.

Tak beberapa lama kemudian.

“Aku harus kembali ke kelas” kata Donghae sehabis makan “Bagaimana denganmu?” ia bertanya pada Sam yang duduk termenung dan hanya menggeleng pelan. “Baiklah” kata Donghae sambil beranjak dari tempat duduknya.

“Donghae, aku tak punya uang—tagihannya sangat mahal” kata Sam. Donghae tertegun dan memandanginya dengan bingung “Aku tak punya uang dan tolong bayarkan semua makanan ini” Sam mengulangi perkataannya dengan lebih terperinci.

“Kau?” Donghae terlihat lebih heran “Bagaimana mungkin makan sebanyak ini ketika tak memiliki uang di dompetmu?”

“Karena lapar” jawab Sam “Jangan terlalu pelit. Uangmu tak akan habis meskipun membayar makan siang semua orang di kota ini selama sepuluh tahun berturut-turut” kata Sam dengan kesal.

“Gadis ini!” dengus Donghae “Baiklah” katanya lagi sambil berlalu.

Sam hanya memandangi Donghae dari jauh, melihat Donghae membayar semua tagihan sambil sesekali melempar pandangan pada Sam.

Hanya beberapa menit setelah kepergian Donghae, gadis itupun segera beranjak dari tempat duduknya. Langkah kakinya terhenti, sepertinya ia memikirkan sesuatu. Sam kembali berbalik, perlahan dan pasti ia menuju ke tempat Fleur, Anne, Caron, Cleo dan teman-teman beda negaranya itu. Mereka memandangi Sam yang telah berdiri dihadapan mereka dengan heran.

“Apa yang kau lakukan?” Fleur mendengus kesal melihat Sam. Keempat gadis itu beradu pandang dengan Sam dengan durasi yang cukup panjang. Sam lalu berpaling menatapi cowok-cowok itu, ia lalu tersenyum manis membuat mereka terkesima.

Hi” sapa Sam ramah.

Hi” mereka membalas sapaan Sam—sedikit canggung.

I think you guys didn’t come from this state” kata Sam.

Keempat gadis itu hanya memandangi Sam, tatapan heran mengetahui Sam yang sepertinya dapat berbicara bahasa inggris. Dipikiran mereka, apa yang bisa diketahui oleh pelayan rendahan seperti Sam

What country?” tanya Sam.

Spain” kata salah seorang diantara mereka. Sam tersenyum memandangi ketiga siswa asing itu.

Terakhir kali ke Spanyol, aku sempat mengunjungi kota Segovia” kata Sam yang langsung berbahasa Spanyol terhadap siswa-siswa itu.

Mereka yang sempat kaget hanya memandanginya heran. Sementara itu Anne, Fleur, Caron dan Cleo semakin terkejut, mereka terperanjat mendengar kata-kata yang dikeluarkan Sam.

Benarkah?” mereka langsung menanggapi Sam dengan senyuman yang kembali mekar.

Tentu saja. Segovia benar-benar kota wisata yang sangat indah” kata Sam sambil tersenyum “Kalau punya kesempatan, aku ingin mengunjunginya lagi” Sam berkata dengan begitu fasih membuat keempat gadis yang duduk disitu hanya diam terpaku memandangi Sam yang bercakap-cakap dengan siswa asing itu.

Aku tak menyangka bisa bertemu dengan seseorang yang betul-betul memahami Spanyol” siswa itu memandangi Sam dengan berbinar-binar.

Ah, tentang semua yang dikatakan gadis-gadis terhormat ini sepertinya terlalu berlebihan. Kalian tahukan, mereka gadis-gadis cantik dengan bibir yang penuh racun, juga sangat naïf.” kata Sam dengan penuh senyuman sambil sesekali menatapi keempat gadis yang hanya bingung mendengar percakapan itu—tak mengerti “Tidak semua orang bisa menerima perbedaan. Kalau begitu aku permisi dulu, senang jumpa kalian” kata Sam berpamitan.

Jangan bosan mengunjungi Spanyol” kata seorang lagi “Mungkin kita bisa bertemu” katanya lagi. Sam hanya tersenyum tipis dan akhirnya benar-benar pergi.

Sam yang baru keluar dari kafe terlihat lebih bersemangat setelah mengisi perutnya yang kosong. Koridor-koridor bahkan ruangan-ruangan yang ada di seluruh sekolah tampak lebih ramai dari biasanya. Sam hanya melangkah santai sambil sesekali mengamati perubahan-perubahan sesaat yang terjadi di sekolahnya itu.

“SAM!”

Sam terlonjak kaget mendengar namanya diteriaki dengan begitu kencang. Ia segera menoleh pada sumber suara yang hampir saja membuatnya menjadi penderita jantungan. Sam begitu terkejut dengan matanya yang langsung mendelik mendapati dua orang gadis oriental yang cantik.

“Ji Hye? Min Ji?” Sam terpaku memandangi dua gadis yang melambaikan tangan mereka pada Sam. Tak menunggu lama ketiga gadis itu langsung berpelukan melepas rindu.

Sam bersama dua orang temannya yang baru datang dari Seoul sedang berjalan-jalan menyusuri lingkungan sekolah yang luas. Sesekali Sam menjelaskan ketika ditanya oleh Ji Hye dan Min Ji. Kedua gadis itu terlihat jelas begitu terkagum-kagum dengan seisi sekolah elit itu.

“Sekolah yang luar biasa, sungguh hebat” Ji Hye berdecak kagum.

“Kau sangat beruntung” kata Min Ji “Mendadak aku iri padamu, Sam” katanya lagi sambil mencibir.

“Aku masih lebih merindukan Korea” kata Sam “Sekolah ini memang mewah tapi aku selalu bermasalah dengan orang-orang di sini” kata Sam sambil berbisik pelan.

“Kau selalu membuat masalah dimanapun kau berada Sam” Min Ji memandangi Sam dengan kesal, ia merasa prihatin dengan sifat Sam yang tak pernah berubah. Sam hanya mendengus mendengar perkataan Min Ji.

“Tapi aku hampir tak percaya melihat kalian di sini” ujar Sam. Kedua gadis itu hanya saling melempar senyum.

“Kami sudah merencanakannya sejak lama” kata Min Ji.

“Ketika tahu bahwa sekolah barumu adalah tuan rumah bagi ajang olimpiade olahraga ini, aku dan Min Ji langsung menyusun rencana untuk ikut sebagai tim supporter” terang Ji Hye.

“Kenapa tak memberitahuku lebih dulu?” tanya Sam.

“Jika diberitahu, itu bukan lagi kejutan” kata Min Ji “Kami ingin bertemu denganmu, juga ingin melihat langsung suasana sekolah elit yang dibicarakan orang. Dan ternyata sekolah ini benar-benar hebat” Min Ji tersenyum ceria, matanya terus memperhatikan keadaan disekitarnya.

Sam terus memperkenalkan sekolah barunya bagi Ji Hye dan Min Ji. Sampailah mereka di taman sekolah, ketiganya langsung duduk di sebuah kursi panjang.

“Sekolah ini begitu luas, aku tak mampu lagi” Min Ji memijit-mijit kakinya. Sepertinya mulai kelelahan mengitari area sekolah yang belum sebagian dijajaki.

“Kalau begitu jangan lakukan lagi” ujar Sam “Kalian terlalu memaksa” katanya lagi. Sam sebelumnya telah memperingati Min Ji dan Ji Hye untuk tidak mengelilingi seluruh sekolah, tapi kedua gadis itu tetap bersikeras terhadap keinginan mereka.

Ji Hye dan Min Ji harus berbesar hati mendengar omelan Sam yang begitu panjang. Meskipun dengan sungutan, kedua gadis itu hanya mengikuti kemauan Sam. Mereka kembali berbincang-bincang, tak jarang Sam selalu mempertanyakan keadaan dan situasi di tempat asal kedua sahabatnya itu.

Perhatian ketiga gadis itu terganggu. Sekelompok siswi terlihat begitu berisik, mereka sedang mengikuti Donghae dan Hyukjae yang kebetulan sedang berjalan di sekitar taman. Kedua siswa keren itu sedang membahas sesuatu sehingga tak memperdulikan kebisingan yang ditimbulkan oleh para gadis yang terus mengekori mereka dan berharap diberi perhatian walau Cuma sekilas.

Begitu juga yang terjadi pada Ji Hye dan Min Ji. Mata mereka langsung tertanam pada sosok Donghae dan Hyukjae, memandang dengan terkesima, melihat dua makhluk super keren yang dikelilingi para gadis.

“Sam” ujar Min Ji “Bisakah kau jelaskan pada kami lebih detail tentang mereka?” ia berkata dengan mata yang sendu tetap menatap kedua pemuda itu.

Please… bahkan aku sampai muak membahas tentang mereka dengan kalian” Sam tampak kesal. Min Ji dan Ji Hye menatapnya bingung, otak mereka belum connect dengan perkataan Sam. Sementara itu Donghae dan Hyukjae akhirnya menyadari keberadaan Sam, kedua orang itu segera menghampiri Sam sehingga membuat Ji Hye dan Min Ji semakin terkesima menyaksikan langsung kedua sosok itu dari dekat.

“Di sini rupanya” ujar Hyukjae kepada Sam.

“Kau mencariku?” tanya Sam. Ji Hye dan Min Ji hanya mampu menatap, mulut mereka serasa tersumbat.

“Ya, seharian aku tak melihatmu—bahkan di kelasmu” kata Hyukjae “Sepertinya aku sangat merindukanmu” kata Hyukjae penuh canda, ia tersenyum mekar.

Perkataan Hyukjae membuat Ji Hye dan Min Ji terlonjak, kontan saja kedua gadis itu langsung memalingkan wajah mereka pada Sam.

“Siapa yang kau maksudkan?” tanya Sam dengan nada yang sedikit keterlaluan. Ia bahkan tak memperdulikan tatapan harap dari kedua sahabatnya yang sedang meminta penjelasan atas kata-kata mesra yang baru saja dilontarkan Hyukjae terhadap Sam.

“Tentu saja kau, Samantha Lee!” kata Hyukjae lantang. Sam terdiam, ia memandangi Hyukjae dengan tajam.

“Ough.. kau hampir membuatku muntah, Hyukjae” Sam berkata dengan mimik wajah yang terlihat ingin muntah. Hyukjae hanya tertawa pelan.

“Hyukjae?” gumam Ji Hye dan Min Ji bersama-sama. Kedua gadis itu begitu tertegun memandangi Hyukjae lalu Donghae “Yang kau maksudkan, dia itu?” Min Ji bahkan tak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.

“Kenalkan sahabat-sahabatku, Ji Hye dan Min Ji” kata Sam sambil tersenyum “Dan kalian berdua, dia adalah kakakku, Hyukjae” Sam kembali memandangi Ji Hye dan Min Ji yang mematung dan terkesima.

“Hyukjae” Hyukjae mengulurkan tangan pada kedua gadis itu dan langsung di sambut oleh keduanya, secara bergantian menyebutkan nama mereka. Mata Ji Hye dan Min Ji seakan tak mau melepaskan pemandangan indah yang ada dihadapan mereka.

“Lalu kau?” gumam Ji Hye, matanya tertuju pada Donghae yang hanya diam di samping Hyukjae.

“Donghae” akhirnya Donghae menyadari kebingungan yang terpancar dari mata itu, ia lalu memperkenalkan dirinya.

Lagi-lagi untuk kesekian kalinya, Ji Hye dan Min Ji yang secara refleks berpaling menatap Sam. Sam memandangi kedua sahabatnya itu dengan kesal dan kemudian mengangguk, sepertinya Sam sudah tahu maksud dari tatapan Ji Hye dan Min Ji—kedua gadis itu kembali terlonjak.

“Apakah kalian siswa pertukaran pelajar?” tanya Hyukjae “Bahasa perancis kalian sangat baik” puji Hyukjae.

“Ah, tidak. Kami hanya datang untuk memberikan dukungan bagi kandidat-kandidat dari sekolah kami” kata Min Ji “Kebetulan kami bersekolah di sekolah international. Bahasa Perancis termasuk salah satu bahasa pengantarnya”

“Kalian?” Hyukjae bergumam pelan, ia memandangi Sam, Ji Hye dan Min Ji dengan tatapan aneh.

“Kami bersahabat sejak Sam tinggal di Korea” Ji Hye memberikan penjelasan. Hyukjae mengangguk-angguk pelan.

“Aku mengerti sekarang” Donghae juga mengangguk pelan seperti yang dilakukan oleh Hyukjae “Tak mungkin gadis ini bisa begitu akrab dengan orang lain dalam waktu yang cukup singkat” kata Donghae pelan sambil memandangi Sam. Sam menatapnya galak.

“Pantas saja begitu akrab. Kalian bertiga pasti begitu kompak di kelas” kata Hyukjae sambil tersenyum. Ji Hye dan Min Ji saling memandang aneh.

“Kami berdua mana mungkin bisa sekelas dengan Sam jika…”

“Jika kami berbeda sekolah” kata Sam memotong ucapan Min Ji, ia menatap Min Ji sejenak. Sepertinya ada yang tak ingin diberitahukan oleh Sam kepada Hyukjae dan Donghae sehingga ia dengan cepat menutupi ucapan Min Ji “Kami bertetangga dan berteman sejak kecil tapi sayangnya kami tak bisa bersekolah di tempat yang sama” kata Sam menjelaskan kembali.

“Masing-masing orang mempunyai jalan hidup yang berbeda” kata Ji Hye dengan begitu mantap “Sekalipun kami berteman akrab. Bukan begitu?” ia memandangi Sam dan Min Ji yang tersenyum tipis, penuh arti.

***

Sehabis makan malam bersama dengan keluarga Francaise—Sam, Ji Hye dan Min Ji segera menuju ke kamar Sam. Mereka terlihat begitu bahagia karena dapat bertemu sehingga Ji Hye dan Min Ji memilih untuk berada di kamar yang sama dengan Sam.

“Ini benar-benar luar biasa” kata Ji Hye, ia merebahkan dirinya di kasur yang sangat empuk. “Aku tak menyangka bisa menginjakan kaki di rumah seperti ini”

“Aku bahkan sangat terkejut mengetahui ada rumah semewah ini” kata Min Ji, ia terus berdecak kagum “Aku tak menyangka jika keluarga Francaise yang kau sebut-sebutkan itu begitu kaya raya—rasanya seperti mimpi”

“Tentu saja, mereka berada di urutan pertama terkaya di Perancis dan urutan keempat terkaya di dunia” ujar Sam.

“Benarkah itu?” Ji Hye menggeleng tak percaya “Aku tak bisa membayangkan seberapa besar kekayaan mereka”

“Sebaiknya jangan mencoba untuk membayangkan apalagi mencari tahu, jika kau tak ingin mati seketika” ucapan Sam membuat Ji Hye kesal “Apa yang kau lihat mungkin hanya sebagian kecil dari harta mereka. Mereka adalah group raksasa yang jaringannya tersebar di seluruh dunia”

“Meskipun begitu Tuan dan Nyonya Francaise sangat baik hati, mereka terlihat sangat ramah” puji Min Ji “Aku benar-benar iri padamu Sam. Tinggal di istana seperti ini juga di kelilingi oleh pangeran-pangeran tampan” Min Ji menatapi Sam dengan penuh rasa iri.

“Seharusnya kau mengatakan dengan sangat detail pada kami agar kami dapat menyiapkan diri” keluh Ji Hye.

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Sam.

“Kau bahkan hanya mengeluhkan tentang perilaku-perilaku buruk kakak beradik Francaise—ceritamu membuatku dan Min Ji begitu membenci mereka” kata Ji Hye kesal.

“Aku menceritakan apa yang aku rasakan” Sam berkata dengan cuek.

“Kau sangat keterlaluan Sam” ujar Min Ji “Setidaknya beritahu kami, siapa dan seperti apa kakak beradik Francaise itu, juga tentang kakakmu—kami hampir mati melihat mereka yang seperti malaikat” kekesalan Min Ji terlihat dengan jelas.

Sam hanya memandangi kedua sahabatnya itu yang dinilai sangat berlebihan.

“Terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya, juga memiliki wajah yang tampan” ujar Ji Hye yang sepertinya sedang melamunkan wajah Donghae, ia terdiam beberapa saat “Begitu juga dengan Kyuhyun. Meskipun masih kecil, tapi wajah tampannya itu tidak bisa disembunyikan. Terkadang dunia memang tidak adil” Ji Hye menyeringai lebar.

“Kau terlihat seperti sedang mengasihani dirimu sendiri” sindir Sam dengan tawanya yang terdengar menyakitkan.

“Tapi… bukankah menurut ceritamu, keluarga Francaise memiliki tiga orang putra?” tanya Min Ji, Sam menggangguk pasti  “Kalau begitu, seorang lagi tidak terlihat di saat makan malam tadi. Siwon, benarkan?” tebak Min Ji.

Ia dan Ji Hye sudah menghafal betul nama-nama yang sering disebutkan Sam jika mereka bercakap-cakap lewat telepon. Sam selalu mengeluhkan tingkah anak-anak Francaise.

“Oh, dia” gumam Sam “Belakangan ini memang jarang ikut makan malam bersama—dia salah satu perwakilan dari sekolah kami dalam olimpiade. Seharusnya kalian berdua sudah melihatnya” Sam menatap kedua sahabatnya yang hanya diam

“Jadi, dia bersekolah di tempat yang sama?” tanya Ji Hye.

“Aku tak percaya kalian tak melihat orang itu—jika memang benar dugaanku, teriakan para gadis di tengah pembukaan olimpiade seharusnya juga ikut menarik perhatian kalian”

“Sam. Kami baru tiba dan tersesat jadi tak sempat mengikuti upacara pembukaan” Min Ji memberikan alasan yang sangat masuk akal “Untung kami bertemu denganmu” katanya lagi.

“Begitu rupanya” gumam Sam.

“Yang kau maksudkan itu…”

“Siwon” Sam menyebutkan nama itu “Dia putra sulung di keluarga ini dan juga teman sekelas Hyukjae” kata Sam.

“Katakan, seperti apa dia?” Min Ji yang tiba-tiba saja mendesak.

“Aku tak tahu, nanti juga kalian akan melihatnya” elak Sam.

“Tapi menurut ceritamu tadi.. tentang teriakan para gadis, aku rasa dia…”

“Aku mau tidur” Sam memotong perkataan Ji Hye “Jangan ada yang bersuara” kata gadis itu sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ji Hye dan Min Ji hanya saling memandang dan tersenyum penuh arti, keduanya lalu ikut berbaring bersama Sam.

~.o0o.~

“Aline!” Sam melihat Aline yang berjalan tak jauh di depan mereka, langsung saja menyerukan nama gadis itu. Aline menatapi Sam yang berjalan menghampirinya, juga Ji Hye dan Min Ji “Aku tak melihatmu saat pulang sekolah kemarin?”

“Oh” Aline mengangguk pelan “Tiba-tiba saja Ibu menelpon memintaku untuk pulang lebih awal. Maaf tidak sempat memberitahumu” kata Aline.

“Jangan cemas” gumam Sam, ia lalu teringat sesuatu “Aline, kenalkan sahabat-sahabatku, Ji Hye dan Min Ji” katanya. Mereka saling berjabat tangan.

“Ah ya, Sam sering bercerita tentang korea juga tentang kalian” kata Aline sambil tersenyum kalem “Aku sangat senang bisa berjumpa dengan kalian”

“Sam juga melakukan hal yang sama—ia selalu menceritakan tentang sahabat baiknya di sini” ujar Min Ji.

“Sangat senang, akhirnya Sam bisa memiliki seorang sahabat. Tadinya kami sempat khawatir” Ji Hye mengerlingkan mata. Aline tertawa pelan, ia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Ji Hye.

Beberapa waktu berlalu mereka telah tiba disebuah ruangan yang sudah mulai sesak dipenuhi oleh para siswa. Hampir tidak ada bangku lagi yang kosong, semua telah terisi. Ruangan berukuran luas itu begitu ramai karena teriakan-teriakan para siswa yang memanggil-manggil nama jagoan mereka. Begitu banyak spanduk yang terpampang yang menyemangati kandidat dari masing-masing sekolah. Beberapa menit lagi pertandingan anggar akan dimulai. Sam, Ji Hye, Aline dan Min Ji termasuk diantara ratusan siswa yang berada di ruangan yang akan dilangsungkan pertandingan itu.

“Begitu ramai!” kata Min Ji dengan volume yang keras mengimbangi kebisingan yang terjadi dalam ruangan itu.

“Aku mulai bermasalah dengan pendengaranku” keluh Sam. Ia sedari tadi memamerkan wajah kesalnya mengingat sebenarnya betapa ia tak ingin menyaksikan pertandingan-pertandingan tapi karena bujuk rayu dan paksaan dari Ji Hye dan Min Ji membuatnya tak bisa berkutik. Aline hanya tertawa melihat tingkah Sam.

“Salah satu tujuan kami ke sini karena ingin menyaksikan ini” kata Ji Hye, matanya menatap tajam pada Sam

“Lakukan sesukamu. Lagipula kita sudah berada di sini” ujar Sam lagi.

“Aku heran  jika tak ada masalah dengan pita suara mereka” Aline terlihat begitu heran. Murid-murid memang begitu antusias, mereka terus menyerukan yel-yel juga teriakan-teriakan histeris.

Suasana kembali riuh ketika seluruh peserta memasuki tempat pertandingan. Apalagi saat dua orang peserta yang telah berhadapan dengan segala perlengkapan di tubuh masing-masing mulai dari kaki sampai dengan kepala. Teriakan yang semakin histeris. Yang bertanding kali ini adalah tuan rumah dengan lawan mereka yang berasal dari Negara lain. Siswa-siswi tuan rumah menyeru-nyerukan nama Siwon dengan riuh.

“Siwon?” gumam Ji Hye “Apakah dia Siwon yang kau maksudkan?” tanyanya pada Sam. Matanya tertuju pada dua orang yang saling berhadapan itu, tak dapat melihat wajah mereka karena telah ditutupi oleh pelindung wajah.

“Tidak salah lagi. Aku berharap lawannya adalah benar-benar seimbang” gumam Aline “Siwon itu sangat hebat dalam bidang ini. Dia tidak hanya menguasai satu cabang olahraga tapi beberapa sekaligus. Dalam setiap pertandingan, Siwon jarang mengalami kekalahan—bahkan hampir tak pernah” kata Aline menjelaskan pada Ji Hye dan Min Ji.

“Sungguh?” Ji Hye dan Min Ji hampir tidak yakin mendengar penuturan yang dilontarkan oleh Aline. Mata mereka tetap tertanam pada kedua peserta yang terlihat begitu pandai dan lihai memakai pedang.

“Dia sangat hebat. Bukan hanya kemampuan, bahkan sikapnya yang begitu tenang dalam segala situasi dapat membuat mental lawan jatuh. Itulah sebabnya Siwon dijuluki dewa olahraga” penjelasan Aline membuat Ji Hye dan Min Ji berdecak kagum. Sementara pertandingan terus berjalan dan semakin memanas.

Gemah gempita kembali terdengar—tepatnya para siswa tuan rumah yang bersorak girang menyaksikan kemenangan yang diraih oleh Siwon. Riuh yang terdengar menandakan suka cita yang dirasakan, para gadis yang semakin gila-gilaan meneriaki nama Siwon.

Siwon lalu melepaskan pelindung kepalanya dan memberi hormat. Kontan saja teriakan para gadis semakin keras menyaksikan Siwon. Sementara itu Ji Hye dan Min Ji yang lagi-lagi dibuat terpukau dan kaku seperti patung setelah melihat Francaise yang satunya lagi. Mata kedua gadis itu terbuka dengan lebar menyaksikan keberadaan Siwon yang hanya memandangi para penonton dengan sorot matanya yang tajam dan dingin, garis wajah yang begitu tegas dan sangat tenang seperti anak sungai tetapi sangat menghanyutkan, hampir tak terlihat segaris senyumpun di wajahnya.

“Diakah?” gumam Ji Hye hampir tak percaya.

“Sudah kubilang, dia pasti berhasil menarik perhatian kalian” ledek Sam pada Ji Hye dan Min Ji.

“Apa kau gila?” Ji Hye terlihat kesal “Melihat wajah seindah itu mana mungkin tak tertarik, aku paham dengan teriakan gadis-gadis itu. Hanya orang-orang abnormal saja yang tak merasakannya” Ji Hye balik memandangi Sam.

“Hentikan tatapan itu” ujar Sam yang tiba-tiba merasa terintimidasi.

“Dia seperti lukisan yang hidup. Tubuh yang proposional juga wajah yang sempurna” decak kagum Min Ji “Perfect

 “Ough! Aku benar-benar iri padamu” ujar Ji Hye, ia menatap Sam “Kau tinggal di istana megah juga dikelilingi pangeran-pangeran tampan. Dunia benar-benar tak adil” lagi-lagi kata itu keluar dari mulut Ji Hye—sepertinya menjadi kalimat favorite baginya “Mereka memiliki wajah yang sebegitu tampannya, populer juga memiliki latar belakang yang begitu hebat. Terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya—aku akan gila jika memikirkan keberuntungan itu” Ji Hye hanya menggeleng-geleng.

Sam, Aline, Ji Hye dan Min Ji masih terus menyaksikan pertandingan demi pertandingan yang berlangsung. Perut yang mulai lapar membuat keempat gadis itu segera meninggalkan tempat pertandingan, mereka segera menuju ke kafe meskipun akhirnya keluar dari kafe dalam hitungan detik karena hampir tak ada tempat lagi, mereka beralih ke kantin sekolah. Mereka lalu mengambil tempat dan memesan makanan.

“Siapa gadis-gadis tadi?” tanya Ji Hye mengingat kejadian barusan saat berpapasan dengan Anne, Fleur, Caron dan Cleo ketika hendak ke kantin.

“Empat sekawan yang sangat sombong dan menyebalkan” kata Aline.

“Ah, pantas saja. Aku tak suka dengan tatapan mata mereka” gumam Min Ji.

“Mereka seharusnya mendapat pelajaran yang pantas” ujar Ji Hye “Jika kau tak menahanku tadi” katanya lagi dengan menatap kesal pada Sam.

“Jangan mencari masalah” kata Sam “Sudah kukatakan kebanyakan siswa yang bersekolah di sini memiliki latar belakang yang sangat baik—termasuk gadis-gadis tadi”

“Kemana kita sekarang?” Aline mengalihkan topik mereka.

“Aku masih ingin menyaksikan pertandingan berikutnya” kata Ji Hye.

“Bagaimana dengan perpustakaan?” Min Ji memberikan usul “Aku ingin melihat perpustakaan lengkap yang kau ceritakan itu, Sam”

“Ide bagus. Kebetulan aku ingin mencari ketenangan” kata Sam cuek.

Mereka langsung mengubah tujuan ke perpustakaan. Sepanjang jalan Ji Hye dan Min Ji terus mendesak untuk menceritakan tentang gadis-gadis sombong yang mereka temui tadi—wajah Sam tak terlihat menyenangkan. Meskipun Sam menolak, mereka berhasil membuat Aline banyak bercerita, apalagi ketika menyinggung tentang Anne yang dikatakan sebagai calon tunangan Siwon, Ji Hye dan Min Ji hampir tak percaya dan memberikan banyak komentar. Beberapa kali Sam memberikan peringatan agar tak melanjutkan pembicaraan itu, mereka terlalu asyik sampai-sampai tak menyadari jika ditempat lain tak jauh dari situ, Siwon sedang memperhatikan mereka.

“Aku mohon, jangan bicarakan itu lagi” kata Sam kesal.

“Kami tak sedang membahasnya denganmu” Min Ji memberikan komentarnya.

“Kalian memang tak membahasnya denganku, tapi bisakah suara kalian tak terdengar olehku?” tatap Sam dengan sorot matanya yang dingin “Telingaku sudah berdengung. Jika kalian lanjutkan lagi, mungkin gendang telingaku pecah” keluh Sam sambil mendahului Ji Hye, Aline dan Min Ji.

Sam berjalan di depan ketiga sahabat baiknya itu, mulutnya kali ini tak bisa diam. Ia terus mengoceh, menyerukan ketidaksenangannya. Terlalu kesal, sepertinya Sam tidak memperhatikan ada peringatan untuk berhati-hati karena lantai yang baru saja di pel—pasti cukup licin. Tentu saja, karena tiba-tiba Sam terpeleset dan oleng—dia kehilangan keseimbangan.

“SAM!” teriak ketiga sahabatnya yang terkejut dan ngeri melihat Sam yang dengan pasti akan terjatuh, ditambah lagi Sam tepat akan menuruni tangga. Ji Hye, Min Ji dan Aline terlihat sangat ketakutan membayangkan Sam yang akan menggelinding seperti bola menuruni tangga itu.

Siwon yang menyaksikan kejadian itu, dengan secepat kilat berlari menghampiri Sam yang kali ini hampir menyentuh lantai. Siwon segera menarik tangan Sam dengan sekuat tenaga, ia berhasil mendekap Sam tapi keadaan berbalik, Siwonpun mulai kehilangan keseimbangan. Siwon lalu mendorong tubuh Sam sehingga terjatuh di lantai dekat sahabat-sahabatnya yang masih tertegun.

Sam meringis kesakitan, tapi rasa sakitnya mendadak hilang. Mata indahnya terkejut menyaksikan tubuh Siwon yang terjatuh dan terguling-guling menuruni tangga. Aline, Ji Hye dan Min Ji hanya mematung menyaksikan peristiwa yang memacu adrenalin itu.

“Siwon…” Sam berkata dengan pelan. Tanpa pikir panjang, gadis itu segera berlari menuruni tangga menghampir Siwon yang hanya tergeletak sambil meringis kesakitan. “Siwon!” Sam menyentuh Siwon. Siwon hanya menatapnya lalu dengan susah payah berusaha untuk duduk, “Siwon kau, terluka?” wajah Sam terlihat cemas saat membantu Siwon untuk duduk. Lelaki itu hanya terdiam.

“Kau tak apa-apa?” Tanya Siwon, ia menatap Sam. Gadis itupun kembali terdiam. Ji Hye, Min Ji dan Aline segera menghampiri keduanya.

“Apa kau gila?” Sam yang terlihat marah membuat Siwon tertegun “Apa yang barusan kau lakukan?” tanya Sam lagi.

“Sam…” Aline mencoba untuk memperingatkan Sam untuk tidak marah-marah.

“Gadis bodoh!” Ji Hye terlihat kesal “Apa ini rasa terima kasihmu kepada seseorang yang telah menolongmu?” katanya mulai memarahi Sam.

“Aku tidak memintanya menolongku” kata Sam bersikeras “Apa kau merasa memiliki kulit sekuat besi? Tak akan hancur meskipun jatuh dari ketinggian?” Sam menatap Siwon dengan penuh kemarahan, bahkan nafasnya terlihat tak stabil.

Siwon hanya diam memandangi dengan bingung, juga heran karena Sam yang tiba-tiba saja marah.

“Sam! Kau benar-benar mulai gila” Min Ji menggeleng pelan.

“Sudahlah” kata Siwon, ia segera berdiri “Aku tak apa-apa” katanya lagi dengan tatapan tajamnya yang begitu tenang, tak terlihat lagi ada kesakitan di sana.

“Sebaiknya kau memang tidak apa-apa” Sam berkata dengan tegas, ucapannya terdengar begitu dingin dan kejam. Ia segera berlalu meninggalkan mereka yang masih tertegun dan tak dapat berbuat apa-apa terhadap Sam.

“Benarkah tak apa-apa?” Tanya Aline yang juga cemas “Mungkin sebaiknya, kita ke klinik” kata Aline.

“Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir” kata Siwon lalu pergi meninggalkan Ji Hye, Min Ji dan Aline yang hanya memandangi kepergian Siwon yang sedikit tertatih.

***

Keesokan paginya di sekolah, Sam baru saja memasuki ruang kelasnya. Ia segera duduk ditempat duduknya. Hanya terlihat beberapa bangku yang belum terisi oleh tuannya. Sam memandangi para siswa yang terlihat begitu serius membicarakan sesuatu, wajah mereka terlihat putus asa dan kesal. Bukan hanya siswa di kelasnya, Sam juga merasakan hal yang sama dengan siswa-siswi lain. Saat memasuki area sekolah, banyak gerombolan-gerombolan siswa yang terbentuk dan mereka terlihat sangat serius dengan wajah yang sedikit muram bahkan ada yang terlihat begitu kecewa—tak tahu apa yang membuat mereka bertingkah tak biasanya itu.

“Sstt…” Sam memberi kode pada Aline. Gadis berkacamata itu menoleh dengan penuh tanya “Apa kau tak merasa, tingkah mereka begitu aneh?” Sam mengamati para siswa.

“Hari ini final pertandingan anggar” kata Aline.

“Apa mungkin mereka terlalu tegang?” gumam Sam “Khawatir seperti itu rasanya terlalu berlebihan. Sebaiknya mereka memberikan dukungan daripada menunjukan kekhawatiran yang justru dapat menurunkan semangat” ujar Sam

“Tentu. Seharusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena Siwon yang bertanding” kata Aline.

“Lalu, apa mereka benar-benar bodoh?” Sam berkata dengan nada yang aneh, ia sangat heran melihat perilaku para siswa itu.

“Seharusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan tapi bagaimana jika Siwon tak bisa mengikuti pertandingan final itu? Apa mungkin mereka masih bisa tenang?” tatap mata Aline yang terlihat dalam.

“Tak bisa mengikuti…” Sam bergumam pelan, “Apa yang kau maksudkan?” Sam kurang mengerti akan maksud perkataan Aline.

“Siwon tiba-tiba pingsan saat latihan pagi tadi” kata Aline lesuh “Dia cedera” katanya lagi.

“Lalu?” gumam Sam yang masih kebingungan. Aline menatapnya tajam.

“Gadis aneh! Bukankah sudah kubilang dia cedera!” Aline terlihat kesal.

“Kau lebih aneh dariku, Aline” kata Sam “Aku hanya bertanya dan kau tak perlu marah seperti itu” Sam pun mulai kehilangan kesabaran.

“Kau masih tak mengerti?” Aline menatap Sam, sinar mata yang hampir tidak percaya “Siwon seperti itu karena kau!” kata Aline

“Aku?” Sam bergumam sangat pelan.

“Siwon, karena menolongmu kemarin, lalu cedera” ucapan Aline membuat Sam tertegun. Gadis itu langsung terdiam, sepertinya ada sesuatu yang tiba-tiba menyumbat mulutnya.

Tanpa pikir panjang Sam segera berlari meninggalkan ruang kelas. Aline mengikutinya dari belakang. Gadis itu segera memasuki klinik sekolah. Ia membuka pintu beberapa kamar perawatan untuk memastikan penghuninya. Akhirnya gadis itu menemukan apa yang dicarinya.

“Sam?” Hyukjae menatapnya heran.

Sam hanya terdiam, ia memandangi Siwon yang sedang diperiksa oleh dokter. Kesadarannya sudah pulih, selain Hyukjae tampak juga Donghae di situ.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Donghae, ia menatap serius pada sang dokter.

“Siwon butuh istirahat”

“Lalu, pertandingan itu…” Donghae tak dapat melanjutkan perkataannya.

“Aku akan bertanding” kata Siwon.

“Siwon, masih ada pemain lainnya yang bisa menggantikanmu” Hyukjae berusaha untuk memperingatkan Siwon.

“Aku tak apa-apa” kata Siwon “Aku akan bertanding” katanya lagi, ia berusaha untuk bangun.

“Jangan keras kepala, Siwon!” tegur dokter “Kau tidak dalam keadaan yang baik. Beristirahatlah dan biarkan orang lain menggantikanmu, menang atau kalah adalah dua hal yang pasti terjadi dalam setiap pertandingan. Kau hanya membutuhkan istirahat, bukan menang atau kalah—atau selamanya kau tak bisa melakukan aktivitas-aktivitasmu itu”

Siwon terdiam mendengar perkataan dokter, ia merasa ucapan dokter adalah benar sehingga membuatnya mengurungkan niatnya.

“Aku…” tiba-tiba saja Sam yang sedari tadi diam mulai berbicara “Aku, akan bertanggung jawab terhadapmu!” kata Sam sambil menatap Siwon dengan sorot matanya yang tajam.

Siwon tertegun mendengar penuturan itu, bahkan semua yang berada di dalam bilik itupun ikut terkejut, mereka diam seperti patung.

“Sam, apa maksudmu dengan bertanggung jawab itu?” Tanya Hyukjae, ia dan Donghae bergidik mendengar pernyataan Sam yang membuat mereka berpikir negatif.

“Aku akan menggantikannya mengikuti pertandingan itu!” Sam berkata dengan sangat tegas dan tak terbantahkan. Semua orang hanya memandangi Sam, mereka masih mematung. Ruangan itu terasa sepi dan mencekam.

Beberapa jam kemudian.

Hyukjae terlihat mondar-mandir di dalam kamar rawat tempat Siwon beristirahat. Tersisa mereka berdua, Donghae dan Aline memilih untuk menyaksikan jalannya pertandingan yang telah berlangsung beberapa waktu yang lalu—menyaksikan Sam yang menggantikan posisi Siwon.

“Duduklah” kata Siwon, sedari tadi ia membaca buku tapi terganggu melihat tingkah Hyukjae “Aku mulai pusing melihatmu mondar-mandir di hadapanku” katanya lagi.

“Ini gila, Siwon” Hyukjae menatap Siwon “Bagaimana mungkin kau membiarkan Sam menggantikanmu?” Hyukjae jelas-jelas terlihat gusar.

“Mengapa?” tanya Siwon “Sekalipun aku tak setuju, Sam tak mungkin akan menerimanya begitu saja. Aku tak ingin beradu mulut dengan adikmu itu” ujar Siwon yang sepertinya mengerti betul dengan watak Sam.

“Iya, tapi tetap saja… akh, aku hampir gila memikirkannya” geram Hyukjae “Kita bahkan tak tahu, apa dia bisa memegang pedang dengan benar? Ough, aku tak sanggup membayangkan Sam sedang merusak jalannya pertandingan itu” keluh Hyukjae yang bergidik ngeri memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Sam.

Siwon hanya tersenyum sangat tipis menyaksikan kepanikan Hyukjae.

Braak!

Hyukjae dan Siwon cukupterkejut mendengar suara pintu yang dibuka secara tiba-tiba. Kedua pemuda itu memandangi Donghae yang berdiri tak jauh dari mereka. Raut wajah yang begitu aneh, juga nafas yang tersengal-sengal seperti sehabis berlari jarak jauh.

“Donghae?” Hyukjae begitu heran melihat Donghae.

“Pertandingan…” kata Donghae sambil menatap tajam pada Siwon dan Hyukjae secara bergantian. Siwon langsung berhenti membaca.

“Ada apa??” Tanya Hyukjae “Apa yang terjadi dengan pertandingannya??”

“Pertandingan itu… Sam…” gumam Donghae pelan, pikirannya terlihat kacau. Hyukjae dan Siwon pun terlihat tegang menantikan kelanjutan ucapan Donghae.

“Sudah kuduga..” Hyukjae langsung lemas “Sam pasti membuat kekacauan, aku sudah mengira jika kita akan…”

“Menang” Donghae melanjutkan perkataan Hyukjae. Hyukjae dan Siwon begitu terkejut mendengar perkataan Donghae, tatapan keduanya yang berharap Donghae segera menjelaskan maksud ucapannya itu “Kita memenangkan pertandingan itu” Donghae mengulangi dengan lebih jelas. Siwon dan Hyukjae tertegun.

“Benarkah?” tanya Siwon, matanya berbinar-binar.

“Tunggu dulu, kau yakin tidak salah dengan informasi yang kau bawa?” Hyukjae meragukan perkataan Donghae.

“Kau meragukan Sam?” Donghae balik menatap Hyukjae.

“Bukan begitu, hanya saja aku tak yakin jika Sam tahu tentang anggar” kilah Hyukjae

“Pertanyaanmu sudah terjawab” kata Donghae “Dia sangat hebat, bahkan tak memberikan kesempatan pada lawan untuk mendapatkan angka. Seharusnya kalian menyaksikan sendiri” Donghae berdecak kagum. Dengan berapi-api Donghae menceritakan kelihaian Sam memainkan pedangnya juga gerak tubuhnya, Hyukjae dan Siwon hanya tertegun.

~ to be continue ~

Iklan

266 thoughts on “I Fell In Love, My Trouble Maker Girl (Part 4)

  1. Yiatri2499 berkata:

    Eonni!!!!!
    You’re so so daebak!!!
    Aku suka pengarang cerdas sepertimu…
    Menulis yg tidak sekedar berhayal tapi juga memuat refensi
    fighting! Fighting!

  2. Widya Choi berkata:

    Hmmm kykny hyuk jg sk deh am aline. Curiga saya jgn2 tu minuman unk aline dr hyuk haha
    Omo…serius menang…ahhhhh sam kau mbuat ku kagum
    Aigo sbnrny wnita sprti ap kau ini sam. Gmn dy bs main pedang bhkn smpe menang gt. Hyuk aj sbg kk ny nympe g pcya gt hahaha

  3. riankyu berkata:

    hohoho ini smkin mncurigakan.. sam jeniuss amat.. brpa kli yah IQ.x.. sam smpurna bnget deh.. tpi ngomong” siwon kyknya udh mlai lirik sam nih.. hyukjae sma aline jga udh mlai trcium bau jatuh cinta d antra mrka… hehehe

  4. jamurshinee05 berkata:

    waaahhhh untuk kesekian kalinya sam membuat tigaorang dan se isi sekolah kagum akan dirinya ..apa lagi yggaksam lakuin semaua sm busa lakuin..seenarnya sia sam seenarnya penuh dengan rahasia akan dirinya..
    dan kakaknya sendiripun tak mengenali adiknya..
    aku jd penasaran pas sam bertNding dn melihat espresise isi sekolah.. bisa falshback kakh tentang pertandingannya… dan aku penasaran gmna raut gengnya anneyang gigit jari…

  5. kyunie berkata:

    ya ampun,apa sh yg gk bs dlakuin sam?!
    udh jenius,keren,bs sgla macem n tau sgla mcm pula!!!daebak!!!

  6. Cho Sarang berkata:

    What… Sam menangi pertandingan anggar,serius tuch ? Bener – bener dech nech cewek. Apa ada yang gak bisa dilakuin sam?

  7. elficannie berkata:

    entah kenapa mikir kayanya si sam juga sama pinternya kaya si hyukjae, sumpahh suka bgt sama karakternya si sam dia itu tuh bandel karena ada yg di sembunyiin jdi dia berusaha nutupin dengan nyari masalah

  8. My labila berkata:

    sam sepertinya dia jenius banget, sam keren dia bisa menang pertandingan anggar, benar2 perempuan ajaib.

  9. My labila berkata:

    sam sepertinya dia jenius banget, sam keren dia bisa menang pertandingan anggar, benar2 perempuan ajaib. sepertinya itu minuman untuk aline dari hyukjae

  10. My labila berkata:

    sam sepertinya dia jenius banget, sam keren dia bisa menang pertandingan anggar, benar2 perempuan ajaib. sam penuh dengan mistery, sepertinya itu minuman untuk aline dari hyukjae

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s