I Fell In Love, My Trouble Maker Girl (Part 5)

ImageCast             :

–  Choi Siwon as Siwon Parris Francaise

–  Samantha (Fiction)

–  Lee Donghae as Donghae Chartier Francaise

–  Cho Kyuhyun as Kyuhyun Edmund Francaise

–  Lee Hyukjae

–  Aline Guibert (Fiction)

–  Other cast

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

 

~~~~~

 

Sam terlihat tak tenang di dalam kamar tidurnya, ia mencoba untuk menutup matanya tapi tak berhasil. Mencoba melakukan kegiatan laintapi kegelisahannya tak urung hilang. Ia mulai membayangkan jika saja Ji Hye dan Min Ji masih belum kembali ke korea secara tiba-tiba siang tadi, mungkin saja banyak hal yang dapat dilakukan bersama.

Sam memutuskan untuk keluar dari kamarnya, koridor rumah mulai sepi mengingat malam yang telah larut. Ia melangkah menuju salah satu balkon. Mungkin dengan melihat bintang, pikirannya akan menjadi tenang. Langkah Sam terhenti saat matanya menangkap sosok Siwon yang telah berada di balkon.

“Larut malam begini, mengapa masih ada seorang gadis yang berkeliaran?” kata-kata Siwon menghentikan langkah kaki Sam yang hendak berlalu “Mengapa belum tidur?” Siwon menoleh, ia menatap Sam yang masih berdiri di ambang pintu. Gadis itu terdiam cukup lama, ia kemudian melangkah dan berdiri di samping Siwon. Kepalanya menengadah melihat ribuan bintang di atas sana.

“Tak bisa tidur” kata Sam “Bagaimana keadaanmu?” tanya Sam tanpa menatap pada Siwon. Siwon menoleh sekilas pada gadis itu.

“Baik, tak ada yang perlu dicemaskan” Matanya kembali menatap bintang “Pertama kalinya aku ke balkon ini” kata Siwon, Sam menoleh padanya, ucapan Siwon terasa janggal di telinga Sam untuk orang yang telah lahir dan tumbuh besar di rumah itu sendiri, tapi tidak mengherankan melihat ukuran rumah yang begitu besar “Aku sering melihatmu di tempat ini, ternyata pemandangan dari sini terlihat sangat baik” kata Siwon, matanya seakan tak mau melepaskan kilauan ribuan bintang yang terasa begitu dekat.“Benar” kata Sam. Ia tersenyum menatap bintang-bintang di langit itu.

Siwon yang menoleh pada gadis itu tertegun melihat senyuman manis yang tersungging di bibirnya, sorot mata juga wajah yang begitu cerah ketika memandangi ribuan bintang itu .

“Sangat cantik bukan?” pertanyaan Sam membuat Siwon tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya.

“Eh, apa?” Siwon sedikit terbata.

“Bintang-bintang itu” kata Sam .

“Ah, ya…” Siwon menganggguk, ia merasa lega.

“Cahaya yang benar-benar memukau” decak Sam. Ia terdiam beberapa saat, sepertinya sedang memikirkan sesuatu “Tak semua bintang itu memiliki cahaya” gumam Sam

“Apa maksudmu?” Siwon tak mengerti.

“Bintang nyata dan juga bintang semu” kata Sam “Bintang nyata, bintang yang menghasilkan cahayanya sendiri. Lalu bintang semu, yang tak menghasilkan cahayanya sendiri tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang nyata” kata Sam, Siwon menatap gadis itu “Aku juga ingin seperti bintang-bintang itu, selalu tampak indah di mata, tak perduli itu nyata atau semu. Yang terlihat hanyalah keindahan. Meskipun demikian, jika disuruh memilih, aku tetap ingin menjadi bintang yang nyata agar dapat berbagi cahaya dengan yang lain. Bukankah itu sangat menyenangkan?” Sam menatap mata Siwon, gadis itu tersenyum manis dan lagi-lagi Siwon terpaku menatap senyuman manis itu.

“Aku rasa—aku akan kembali ke kamar” kata Siwon yang mencoba mengatasi kegugupannya.

“Baiklah” Sam terlihat sangat santai.

“Terima kasih” Siwon berhenti sejenak dan mengucapkan kata itu. Sam menoleh pada pria itu, “Terima kasih sudah menggantikanku dipertandingan itu” kata Siwon, ia menatap Sam yang hanya tersenyum tipis menerima ungkapan Siwon. Lalu ia benar-benar meninggalkan Sam yang kembali memandangi ribuan bintang itu.

 

~.o0o.~

 

Aline tampak sedang membereskan buku-bukunya. Jam pelajaran baru saja usai, kelas telah hampir kosong ditinggalkan oleh penghuni kelas.

“Pulang?” tanya Sam, Aline menggeleng pelan

“Aku mau berlatih dulu. Dua hari ini aku tak berlatih” kata Aline.

“Baiklah, aku pulang duluan” kata Sam yang hanya dijawab oleh anggukan kepala Aline. Sam lalu meninggalkannya. Setelah selesai mengemasi buku pelajarannya, Aline pun langsung meninggalkan ruang kelas. Gadis itu akan berlatih seperti biasanya di ruang musik.

Setelah sampai di ruang musik, Aline segera membuka pintu ruangan. Ia baru saja menutup pintu dan hendak melangkah, seketika itu juga langkah kakinya terhenti. Aline tertegun menatapi Hyukjae. Pemuda itu tengah memandangi tempat Aline biasanya duduk. Tangannya sedang menggenggam sebuah minuman kaleng, Aline hanya diam dan wajahnya terlihat sangat terkejut. Hyukjae tampaknya tidak menyadari kedatangan Aline. Setelah sekian lama, Hyukjae yang tak sengaja menoleh langsung terperanjat melihat Aline yang masih mematung di tempatnya.

“Apa..” kata Aline gugup “…yang kau lakukan?” ia melanjutkan pertanyaannya yang tak sanggup disebutkan sekaligus. Keduanya saling bertatapan—cukup lama.

“Kau…” Hyukjae pun sama gugupnya “Kau, sejak kapan?” tanyanya lagi.

“Mengapa berdiri di situ?” Aline dengan raut wajahnya yang penasaran. Matanya tertuju pada minuman kaleng yang dipegang oleh Hyukjae “Lalu, minuman itu… kau..” Aline berkata dengan sangat terbata-bata, ia tak mampu bersuara lebih lagi. Hyukjae yang mematung hanya dapat memandangi Aline, kembali saling berpandangan.

“Ah, ini…” gumam Hyukjae pelan, otaknya sedang berputar-putar untuk mencari sebuah alasan “Aku bangun dari tidur dan—tiba-tiba saja merasa haus. Lalu aku melihat minuman ini ada di sini” kata Hyukjae memberikan alasan. “Baiklah, maaf—aku akan meletakannya kembali” kata Hyukjae lagi setelah melihat tatapan mata Aline yang tampaknya masih ragu dengan penuturan Hyukjae “Sebaiknya aku kembali tidur..” cepat-cepat Hyukjae meletakan minuman yang dipegangnya lalu berjalan menuju tempat persembunyiannya “Hampir saja ketahuan” bisik Hyukjae dalam hati, ia lalu berbaring di kursi panjang yang terletak di balik lemari itu. pikirannya sedang menari-nari. Hyukjae langsung terduduk dengan tiba-tiba, ia terkejut melihat Aline yang telah berdiri disitu.

“Maaf..” kata Aline dengan pipi merona, “Bukankah sedang haus..” Aline menyerahkan minuman kaleng itu pada Hyukjae lalu dengan tergesa-gesa meninggalkan Hyukjae yang tak sempat mengucapkan sepatah katapun. Hyukjae lalu tersenyum sambil membuka minuman itu.

Hyukjae tertawa pelan lalu meneguk minuman yang baru diberikan oleh Aline—minuman yang sebenarnya adalah pemberiannya untuk gadis itu.

***

Dihari lain, Aline baru saja sampai di sekolah elit tempatnya menimbah ilmu. Seperti biasanya, ia selalu diantar oleh sopir. Baru saja ia hendak membuka pintu mobil, ketika perhatiannya tertuju pada sebuah motor besar berwarna hitam mengkilat yang berhenti tak jauh dari tempat mobilnya berhenti. Motor yang dikendari oleh seorang siswa dan juga ada seorang siswi yang duduk di belakangnya.

Dada Aline kembali berdesir aneh saat melihat sang pengendara motor melepaskan helm yang menutupi wajahnya—ya, pengendara itu adalah Hyukjae. Rambut Hyukjae yang sedikit berantakan karena helm itu tak membuatnya kehilangan ketampanan, justru semakin membuatnya terlihat begitu cool, Aline terkesima melihat wajah Hyukjae.

Aline terdiam, perhatiannya teralih pada gadis yang duduk di belakang Hyukjae. Suasana hatinya yang semula terasa hangat mendadak berubah, hatinya tiba-tiba terasa pedih melihat gadis yang datang bersama Hyukjae adalah Sam. Dada Aline serasa sesak menyaksikan Hyukjae yang menatap Sam dengan lembut, tertawa pada Sam bahkan dengan tangannya mengelus rambut Sam. Mereka terlihat bahagia di mata Aline.

Seharian pikiran Aline terganggu, ia tak bisa berkonsentrasi memikirkan pemandangan yang disaksikan pagi tadi. Meskipun telah berjanji pada Sam, tapi Aline masih merasa perih membayangkan kenyataan itu—membayangkan bahwa sosok yang mulai mengambil hatinya ternyata bersama dengan orang lain, sahabatnya.

Aline yang tak tahu hubungan sesungguhnya antara Hyukjae dan Sam membuatnya terus-terusan cemburu pada Sam. Dengan pikiran yang kalut, gadis itu segera menuju ke ruang musik. Ia lalu memainkan biolanya, mencoba mencari ketenangan dengan memainkan alat musik kesayangannya itu.

Aline menghentikan permainan biolanya. Gadis itu merasa aneh, tak ada alasan baginya untuk bersikap seperti itu—ia juga merasa takut jika Hyukjae mengetahuinya. Mata aline tertuju pada lemari yang di belakangnya merupakan tempat persembunyian Hyukjae. Gadis itu meletakan biola yang dipegangnya, dengan perlahan ia melangkah menuju tempat itu, meskipun terlihat ragu tapi ia tetap saja melangkah. Tak ada siapapun di situ, kursi panjang itu terlihat kosong.

Ia lebih mendekati tempat itu, mengamati sekelilingnya lalu dengan perlahan duduk di kursi panjang tersebut. Akine terdiam cukup lama dan dengan pasti ia mencoba melakukan hal yang biasanya dilakukan oleh Hyukjae. Gadis itu berbaring di kursi tempat yang digunakan oleh Hyukjae untuk tidur.

Selang satu jam, pintu ruang musik kembali terbuka. Hyukjae menengok dengan pelan. Ia mengamati dengan seksama keadaan di dalam ruangan yang kosong itu, khawatir jika Aline kembali memergokinya. Ia segera meletakan minuman kaleng yang dibawanya, lalu seperti biasanya Hyukjae segera menuju ke tempat persembunyiannya. Alangkah terkejutnya Hyukjae mendapati tempat itu tak kosong seperti biasanya. Hyukjae terpaku dan tertegun melihat Aline yang tertidur di kursi panjang itu, cukup lama ia mematung menyaksikan Aline yang begitu lelap.

Dengan perlahan, Hyukjae mendekati Aline. Ia berusaha agar gadis itu tak terbangun. Hyukjae berjongkok tepat di depan kursi panjang itu, ia terus mengamati Aline. Pelan-pelan Hyukjae mengangkat kaki Aline yang masih memijaki lantai dan meletakannya di kursi. Tatapan Hyukjae beralih ke wajah gadis itu. Hyukjae tersenyum. Berhati-hati Hyukjae melepaskan kaca mata yang masih dikenakan oleh Aline lalu meletakan kaca mata itu di sisi Aline.

Ia kembali menatap wajah Aline lekat-lekat. Tangannya dengan lembut membelai wajah Aline. Hyukjae tak jenuh-jenuh menatap Aline, bahkan dadanya berdesir hangat dengan senyuman yang mengembang di bibirnya. Ia seperti tak rela untuk melepaskan tatapannya. Hyukjae mendekatkan wajahnya ke wajah Aline—ia hampir saja mencium bibir Aline tapi kemudian pemuda itu terdiam cukup lama menatap bibir yang cerah itu, ia kembali tersenyum lalu kecupan itu beralih ke kening Aline.

***

Aline tersentak kaget. Ia baru terbangun dari tidurnya yang panjang.

“Aku ketiduran. Kenapa bisa begitu nyenyak?” kata Aline, ia kemudian terdiam “Ah, mimpi itu?” gumam Aline bahkan jantungnya kembali berdetak dengan kencang membayangkan mimpi yang dialaminya “Tidak. Itu tak mungkin. Aline, sadarlah” Aline segera menepisnya lalu segera meninggalkan ruangan itu. Ia tak tahu jika itu bukanlah sebuah mimpi yang biasa.

 

~.o0o.~

 

Malam gelap gulita kembali menyelimuti alam. Setelah seharian penuh melakukan aktivitas, saatnya untuk berhenti. Melepaskan segala kejenuhan dan kepenatan seharian yang telah menguras seluruh tenaga bahkan pikiran. Mungkin itu yang terjadi pada kebanyakan orang di kota-kota metropolitan, tapi tidak demikian halnya dengan aktivitas di kediaman Francaise. Kesibukan demi kesibukan masih terus berlanjut.

Banyak orang yang berdatangan ke rumah mewah itu. Bahkan mereka baru keluar ketika matahari telah benar-benar tenggelam. Tuan Francaise mengadakan meeting dengan relasi dan orang-orang kepercayaan dalam perusahaan yang dipimpinnya. Tidak seperti biasanya, meeting yang selalu dilaksanakan di kantor pusat itu dialihkan ke rumah.

Lain hal dengan Nyonya Francaise yang terlihat sedang duduk manis di sebuah ruangan. Beberapa orang pelayan berdiri siap melayaninya. Nyonya Francaise itu tak sendiri, Sam bersamanya. Sam yang secara kebetulan berpapasan dengan Nyonya Francaise, diminta oleh nyonya rumah yang cantik itu untuk menemaninya minum teh. Gadis itu tak memiliki alasan lain untuk menolak, hanya tersenyum sebagai tanda persetujuan.

“Teh ini sangat baik untuk kesehatan dan kecantikan” kata Nyonya Francaise, ia meneguk minuman itu dengan begitu anggun. Sam melakukan hal yang sama. “Oh ya, bagaimana.. apa kau senang dengan gaun-gaun itu?” Nyonya Francaise menatapi Sam.

“Maaf?” Sepertinya Sam tak menyimak dengan baik pertanyaan Nyonya Francaise.

“Gaun-gaun yang beberapa waktu yang lalu” kata Ny. Francaise “Aku sendiri yang memilih untukmu. Ini pertama kalinya, tak ada anak perempuan di rumah ini” wanita itu tersenyum manis.

“Ah.. itu, ya.. sangat indah” kata Sam “Terima kasih Nyonya” katanya lagi. Nyonya Francaise menatap gadis itu, ia tertawa pelan sepertinya merasa lucu mendengar perkataan Sam.

“Jangan memanggilku dengan sebutan itu, seperti menempatkanmu sebagai pelayan di rumah ini” kata Nyonya Francaise “Bahkan Hyukjae tak memanggilku dengan sebutan itu. Panggil saja bibi” katanya lagi dengan senyuman manisnya.

“Iya… bibi..” Sam terdengar sedikit canggung.

“Seperti itu” Nyonya Francaise tertawa anggun “Aku harap kau senang tinggal di sini, jika ada yang salah, jangan sungkan-sungkan untuk membicarakannya denganku” katanya lagi. Sam hanya tersenyum menanggapi kebaikan hati Nyonya Francaise.

“Tentu saja” kata Sam, berusaha menyenangkan hati nyonya rumah itu.

“Kau benar-benar gadis yang cantik” Nyonya Francaise tersenyum, ia memandangi wajah Sam “Sayang sekali aku tak memiliki anak perempuan. Tapi tak apa, ada kau di sini” kata Nyonya Francaise, tatapan matanya terlihat begitu sendu. Sam tersenyum manis.

“Nyonya..” kata seorang lelaki ber-jas rapi, ia menghampiri Nyonya Francaise lalu menyerahkan sesuatu yang mirip seperti sebuah agenda. Nyonya Francaise menerima dan mengamati benda yang diserahkan itu “Jadwal selama dua minggu ke depan. Beberapa meeting dan peresmian perusahaan baru, juga kunjungan kerja ke beberapa negara” Pria itu menjelaskan dengan begitu santun. Nyonya Francaise hanya mengangguk-angguk. Sam hanya terdiam memikirkan betapa sibuknya keluarga itu, hampir tak ada waktu yang terbuang. Juga jarang berada di rumah karena pekerjaan-pekerjaan mereka.

“Kapan tanggal 23?” tanya Nyonya Francaise.

“Dua hari lagi, Nyonya” jawab pria itu.

“Batalkan semua janji pada tanggal 23” kata Ny. Francaise “Tolong persiapkan pesta yang meriah. Aku tak boleh melewatkan hari ulang Donghae” kata Nyonya Francaise.

“Ulang tahun Donghae?” bisik Sam dalam hati.

“Undang semua relasi bisnis, semua yang bekerja di perusahaan juga teman-teman sekolah Donghae, tanpa terkecuali” Nyonya Francaise memberikan perintah.

“Baik Nyonya, saya mengerti” pria itu membungkukkan badan lalu berlalu dari hadapan Nyonya Francaise dan Sam.

“Sam juga harus hadir di pesta itu” Wanita itu memandangi Sam yang telah berniat jahat untuk kabur seperti biasanya, Sam hanya tersenyum—terpaksa.

 

~.o0o.~

 

“Kau sangat konyol, Sam” Aline tertawa pelan.

“Mengapa tertawa?”

“Ucapanmu terdengar sangat tidak masuk akal” kata Aline.

“Mengapa? Aku hanya tak ingin menghadiri pesta itu. Satu-satunya alasan yang terlintas di kepalaku—hanya berpura-pura sakit” kata Sam.

“Jangan bermain-main, itu bisa menjadi kenyataan” kata Aline “Sebaiknya jangan melakukan apapun, cukup hadir saja. Setidaknya kau bisa menghormati mereka—yeah, dengan menghadiri pesta itu”

“Mungkin begitu” kata Sam lemas “Tapi tetap saja, aku tak ingin” katanya lagi. Tatap mata Aline seolah memperingatkannya kembali.

“Siwontero sekolah sudah heboh, mereka terus membicarakan pesta ulang tahun Donghae” kata Aline

“Tak usah melihat terlalu jauh” kata Sam, ia memberi kode agar Aline memperhatikan siswa-siswi di kelas “Tak ada topik lain yang mereka bicarakan selain gaun apa yang harus dipakai, perancang siapa yang harus merancang pakaian mereka, lalu aksesoris mahal yang dipesan dari negara tetangga, belum lagi make up agar terlihat sempurna di pesta itu. Sepertinya mereka telah melupakan hal-hal lain di dunia ini selain pesta ulang tahun Donghae”

“Selalu sama setiap tahunnya” bisik Aline “Mereka selalu menantikan pesta yang digelar oleh keluarga Francaise, seperti sebuah ajang untuk berlomba-lomba menarik perhatian keluarga milioner itu”gadis itu menggeleng-geleng pelan.

“Aline” tegur Donghae yang telah berdiri di dekat mereka. Aline menatapi Donghae dengan penuh tanda tanya. Donghae lalu menyerahkan sesuatu pada Aline—sebuah undangan.

“Setidaknya ada kau di pesta itu, aku tak akan terlalu bosan” ujar Sam.

“Entahlah” Aline terdiam. “Aku tak pernah menghadiri pesta-pesta seperti ini” kata gadis itu “Kau tahukan bagaimana perlakuan kebanyakan orang padaku? Itu yang membuatku tak betah berada di tengah-tengah orang banyak”

“Sebaiknya kau datang” kata Donghae “Aku bosan mendengar pertanyaan-pertanyaannya. Dia selalu bertanya apa mungkin kau akan hadir di pestaku. Sangat aneh, kenapa hanya menanyakanmu? Sepertinya sangat berharap jika kau datang” gumam Donghae, ia segera berlalu dari hadapan Sam dan Aline. Kedua gadis itu hanya saling pandang, tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Donghae.

“Barusan dia bilang apa?” tanya Aline yang masih bingung dengan perkataan Donghae.

“Tak tahu” Sam hanya menggeleng pelan. Ia juga merasa heran melihat Donghae yang meracau tak jelas.

Ponsel Sam tiba-tiba berbunyi, gadis itu segera mengeluarkan ponsel dari saku rok seragamnya. Raut wajah Sam langsung berubah melihat tulisan ‘Ibu’ di layar ponselnya—sedang memanggil. “Sebentar” kata Sam pada Aline.

Ia lalu berjalan keluar kelas. Dengan berat hati menerima panggilan itu.

“Ada apa?” tanya Sam, nada bicaranya terdengar sangat tidak menyenangkan.

Hanya ingin menanyakan kabarmu, apa ada yang salah?” terdengar suara seorang wanita dari seberang sana.

“Seperti bukan Ibuku” Sam tertawa sinis “Katakan saja, ada apa menelponku?” tanya gadis itu.

Kau benar-benar sedang bersekolah?

“Mengapa begitu tertarik?” Sam balik bertanya.

Bagaimana keadaan Ayahmu dan juga Hyukjae?

“Tanyakan langsung pada mereka” kata Sam “Jangan berputar-putar lagi. Ada apa menelponku?” penekanan nada Sam yang terasa sangat dingin.

Sam. Mau sampai kapan kau bermain-main?” wanita itu menarik nafas “Sebaiknya kau kembali sesegera mungkin. Jangan lari begitu saja, Sam

“Sudah kuduga” Sam tersenyum kecut “Aku tidak pernah lari. Perjanjiannya selama satu tahun dan aku masih punya banyak waktu tersisa” kata Sam santai.

Sam, kau tak boleh seperti itu. Aku mengerti dengan perasaanmu tapi seharusnya kau berpikir yang jernih jika kau tidak segera kembali maka…

“Sudahlah” Sam memotong perkataan Ibunya “Menelponku hanya karena ini? Sebaiknya jangan memaksaku, atau selamanya aku akan menghilang” Ia lalu mengakhiri pembicaraan itu begitu saja.

Sam menarik nafas panjang, pembicaraan singkat dengan Ibunya telah membuat suasana hatinya berubah. Gadis itu segera berjalan—pergi, tapi tak kembali ke dalam kelas. Pikirannya terasa kosong. Ia tiba di taman sekolah, lalu duduk begitu saja di salah satu bangku yang ada di taman itu.

Hubungan Sam dengan Ibunya tak berjalan baik. Sam yang sedang melamun tak menyadari jika Hyukjae sedang memperhatikannya. Hyukjae menghampiri Sam, lalu duduk di samping gadis itu.

“Ada apa dengan wajah itu?” tanya Hyukjae, Sam menoleh sekilas pada Hyukjae “Kau terlihat seperti seseorang yang sedang frustasi” ujar Hyukjae, ia menatap wajah Sam yang tak bersemangat.

“Apa kau berpikir, jika Ibu kita benar-benar Ibu yang baik?” Sam bergumam pelan.

“Jadi karena ini…” Hyukjae menarik nafas.

“Ciih.. yang seperti itu, apa benar-benar seorang Ibu?” Sam tertawa pelan, ia sedang menertawakan dirinya “Dia bahkan tak perduli bagaimana perasaanku melihat teman-temanku dengan bangga bercerita tentang Ibu mereka yang hebat dan baik hati. Aku benar-benar membencinya, Hyukjae” desis Sam.

Hyukjae hanya termenung mendengar keluhan Sam. Ia menatap Sam, merasa iba pada gadis itu. Hyukjae mendekatinya, merangkul Sam ke dalam pelukannya, gadis itu hanya diam seperti patung. Hanya sorot matanya yang tampak begitu pedih.

“Ibu kita juga sangat hebat Sam. Aku yakin, semua Ibu memiliki hati yang lembut. Ibu hanya tak dapat menunjukannya pada kita” Hyukjae berkata pelan, seperti berbisik di telinga Sam “Setidaknya, kau tumbuh bersama seorang Ibu. Jangan terlalu membencinya” kata Hyukjae, ia mencium puncak kepala Sam.

Kedua orang itu tak perduli dengan keterkejutan siswa-siswi yang kebetulan berada di taman, terkejut menyaksikan Hyukjae memeluk Sam dengan mesra lalu mendaratkan ciuman yang lembut di ubun-ubun Sam. Sam terlalu sedih untuk memperdulikan sorot mata juga bisik-bisik aneh di sekitarnya. Sayangnya, kedua orang itu tak tahu jika di sudut lain, seorang gadis hanya mematung menyaksikan adegan itu dengan raut wajah yang lebih sedih lagi. Aline, gadis itu berpaling dengan kepala yang tertunduk. Untuk kesekian kalinya, Aline tersalahpahami.

 

~.o0o.~

 

Sejak pagi, Sam terus memperhatikan gerak-gerik Aline. Kembali ia merasakan perubahan sikap Aline. Gadis itu selalu menghindari Sam. Setiap kali berbicara, Aline tidak menatap wajah Sam. Merasa penasaran, Sam mengikuti Aline ketika gadis itu menuju ke perpustakaan sekolah. Ia lalu menghampiri Aline yang sedang memilih buku di sebuah rak.

“Kau akan datangkan ke pesta, nanti malam?” tanya Sam. Aline terkejut melihat Sam.

“Aku.. aku tak tahu” Aline tak berani menatap wajah Sam.

Sam mendesah kasar “Ada apa lagi denganmu?” ia semakin tak mengerti dengan sikap Aline yang selalu berubah.

“Apa maksudmu?” tanya Aline gugup.

“Kau tahu dengan sangat jelas, Aline” tegas Sam.

“Tidak, tidak terjadi apa-apa” kata Aline lalu bergegas meninggalkan Sam. Ia tak sanggup menatap mata Sam. Sam tak tinggal diam, ia menyusuli Aline lalu mencengkeram tangan gadis itu.

“Jelas-jelas kau sedang berbohong?” Sam menatap tajam pada Aline “Ada apa denganmu, Aline? Mengapa setiap kali kau selalu menghindariku?” Sam mulai kehilangan kesabarannya. Aline hanya diam.

“Maafkan aku Sam” kata Aline, dahi Sam berkerut mencoba memahami perkataan Aline “Meskipun sudah berjanji padamu, tapi setiap kali melihatmu bersamanya—tetap saja dadaku terasa sesak. Aku sangat iri padamu Sam” kata Aline.

“Apa maksudmu?” Sam semakin berhati-hati menyimak tutur kata Aline.

“Maaf” Aline berkata dengan pelan “Aku juga tak ingin seperti orang bodoh—tapi setiap kali melihatmu bersama orang itu, aku…” ia menarik nafas panjang, ada keraguan untuk melanjutkan kalimatnya.

Beberapa menit berlalu. Masih di ruang perpustakaan, disebuah tempat dalam ruangan itu. Sam memandangi Aline yang duduk di hadapannya, gadis itu hanya tertunduk. Buku-buku yang hendak dibacanya, hanya tergeletak begitu saja di atas meja.

“Jelaskan padaku, kalimat apa yang baru saja kudengar?” tanya Sam, dengan nada bicara yang dingin tapi terdengar sangat penasaran. Wajah Aline semakin berubah warna.

“Aku minta maaf Sam” Aline semakin tak berani mengangkat wajahnya “Aku tahu, kau pasti akan marah padaku”

“Aku tak ingin mendengarkan itu” tepis Sam “Katakan soal—orang itu” pancing Sam. Aline tertunduk, lemas. Ia mencoba mengumpulkan segenap keberaniannya sebelum membuka mulut.

“Percayalah Sam” Aline mencoba meyakinkan Sam, ia kembali tertunduk ketika melihat tatapan Sam “Kau tahukan, bagaimana orang-orang menganggapku di sekolah? Aku yang seperti itu, hampir tak ada yang menyadari keberadaanku. Meskipun begitu, aku masih sama normalnya dengan mereka, mengagumi orang-orang itu. Awalnya hanya ikut-ikutan, lama kelamaan jadi kebiasaanku mengamati orang itu. Bagiku, tak masalah hanya memperhatikan dari jarak jauh. Lalu semua mendadak berubah sejak kedatanganmu. Aku tak tahu, setiap kali melihatnya tertawa dan sorot mata yang seperti itu memandangmu, membelai rambutmu, juga melakukan semua hal denganmu—aku…” Aline terdiam, ia menarik nafas lagi “Sam, aku pasti sudah gila tapi dunia seperti runtuh di atas kepalaku saat menyaksikan semua itu. Aku benar-benar bodoh” kata Aline pelan. Sam terpaku.

“Yang kau maksudkan dengan orang ituHyukjae?” Sam menatap Aline tajam. Gadis itu hanya tertunduk tak berani menatap mata Sam “Oh God!! Kau menyukainya, Aline?” Sam tertawa tak percaya menyadari kenyataan itu.

I’m so sorry, Sam” Aline menatap penuh harap pada Sam “Aku merasa menjadi orang yang jahat. Kau sahabat terbaik yang pernah kumiliki, tapi apa yang kulakukan padamu? Maafkan aku—aku merasa bersalah padamu dan hanya bisa menghindarimu”

“Aline”

“Aku tak berani berbicara denganmu, sampai aku menuntaskan perasaanku terlebih dahulu”

“Aline” Sam mencoba menenangkan Aline “Dengarkan aku” katanya lagi membuat Aline terdiam “Sepertinya kau belum menjadi sahabatku, kau bahkan tak mengenalku” ucapan Sam membuat Aline lemas dan rasa bersalah semakin menderanya “Baiklah. Aku akan melupakan semuanya—dan sebagai gantinya, mungkin kita perlu berkenalan untuk awal yang baru” Sam mengerlingkan matanya. Ia mengulurkan tangannya pada Aline.

“Apa yang kau…?” Aline terlihat tak mengerti dengan jalan pikiran Sam. Aline membalas uluran tangan Sam, meskipun dengan segudang teka-teki di kepalanya.

“ Aku—Samantha Lee” Sam berkata dengan penuh ketegasan. Aline yang awalnya kebingungan, lalu terdiam sejenak sebelum akhirnya bola mata gadis itu melebar.

“Lee?” kata Aline mengulang nama belakang Sam. Sam mengangguk pasti dengan senyuman yang mengembang “Apa.. maksudnya…?” Aline tampak takut melontarkan pertanyaan itu, sekaligus takut mendengar jawabannya.

“Dasar gadis aneh” Sam tertawa melihat ekspresi Aline yang kaku “Lee Hyukjae dan Samantha Lee. Kau tak merasakan ada kesamaan?” Aline hanya mematung membuat tawa Sam meledak “Benar-benar bodoh. Hei gadis bodoh, apa aku sedemikian gilanya hingga berpacaran dengan saudara kandungku?” tawa Sam berderai lagi. Kali ini ekspresi keterkejutan yang dasyat tak terhindarkan dari wajah Aline.

“K, kau—dan Hyukjae” Aline terlihat begitu gugup.

“Kau masih belum mengerti?” Sam memelankan volume suaranya saat para siswa yang berada di perpustakaan memandang kesal padanya karena merasa terganggu dengan suara dan tawanya yang menggelegar “Orang itu adalah kakakku” Sam kembali berbisik dengan penuh canda, memperjelas kekeliruan yang sedang terjadi.

“Kakak?” Aline semakin syok, otaknya terus berputar-putar “Jadi, yang kau maksudkan dengan hubungan istimewa itu…”

“Ketika seseorang sedang berbicara sebaiknya dengarkan sampai tuntas, dan juga jangan menduga-duga jika belum tahu kenyataan sebenarnya” kata Sam “Itulah kebiasaan burukmu” Sam mendikte keburukan Aline.

“Aku benar-benar ingin menghilang” Aline menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, wajah yang terlihat merah merona saking malunya. Sam hanya tersenyum.

“Aku tak menyangka kau menyukai Hyukjae, seharusnya aku menyadarinya dari awal” gumam Sam. Aline kembali tersipu-sipu malu.

“Jangan ceritakan kejadian ini padanya,” kata Aline ragu-ragu “Tapi jika kau tak ingin melihatku di sekolah ini, silahkan saja” ujar Aline.

“Jangan khawatir” kata Sam “Meski tak kau katakan, aku akan tetap tutup mulut. Aku bukan tipe orang yang romantis juga bukan tipe yang pintar dalam hal-hal percintaan seperti ini—kemungkinan aku adalah wabah yang mematikan. Jika aku ikut campur, berarti itulah akhir yang menyedihkan dari setiap kisah cinta” Sam berkata sambil bercanda.

“Mengapa tak pernah menceritakannya padaku?” tanya Aline yang belum sembuh dari rasa penasarannya.

“Kau tak pernah bertanya” Singkat, padat dan jelas jawaban Sam “Kedua orang tua kami bercerai. Aku tinggal bersama Ibuku di Korea. Sejak berpisah dua belas tahun yang lalu, ini pertama kalinya aku dan Hyukjae bertemu lagi” Sam menjelaskan ketika mata Aline yang sedang meminta penjelasan yang lebih.

“Benarkah?” Aline terperanjat mengetahui jarak pertemuan itu. Sam tersenyum, sangat tipis.

“Jangan beritahu mereka tentang hubunganku dan Hyukjae. Aku cukup puas membuat mereka panas—ah, kau tak termasuk dalam hitungan” kata Sam sambil tertawa, “Kau akan datangkan?” tanya Sam. Aline hanya menjawab dengan sebuah senyuman.

***

Malam berlangsungnya pesta ulang tahun Donghae yang ke-17. Kediaman keluarga konglomerat itu mulai ramai, mobil-mobil mewah beriringan memasuki kediaman keluarga Francaise. Ratusan orang memasuki rumah mewah itu, orang-orang dengan pakaian formal dan mereka terlihat sangat elegan.

Disebuah ruangan yang sangat luas, orang-orang sudah terlihat memenuhi ruangan yang tampak mewah dengan desain interior yang megah juga hiasan-hiasan yang nilainya tak terbayangkan. Suasana yang meriah, permaian musik yang disuguhkan seperti sedang berlangsung konser musik, banyak yang tak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan berdansa.

Donghae berpakaian jas lengkap—jas yang sepertinya sangat mahal, ia tampak sibuk menyapa para undangan yang memberikan selamat padanya, ia tersenyum ramah pada semua yang datang. Beberapa gadis di sekolahnya begitu gencar menarik perhatian Donghae. Pemandangan yang sama terjadi di sudut lain, di tempat Siwon, Hyukjae dan juga Kyuhyun berada.

Gadis-gadis sedang menarik perhatian mereka—Kyuhyun pun memiliki penggemar yang usianya tak berbeda jauh dengannya. Tuan dan Nyonya Francaise tampak sibuk, mereka sedang berbincang-bincang dengan relasi-relasi bisnis yang sengaja di undang. Ruangan mewah tempat jamuan besar terjadi tampak semakin ramai, begitu banyak pelayan yang siap melayani para tamu undangan, mereka menawarkan minuman.

Tidak demikian yang terjadi di dalam kamar Sam. Gadis itu hanya duduk melamun di sebuah sofa sambil membaca majalah. Ia sedang mempertimbangkan untuk ikut hadir atau tidak, akhirnya dalam hitungan menit Sam telah bertukar pakaian. Ia telah siap untuk keluar kamar ketika seorang pelayan wanita memasuki kamarnya.

“Nona, anda diminta oleh Nyonya untuk segera ke ruang pesta” kata pelayan itu dengan penuh hormat.

“Aku baru mau pergi” kata Sam.

Pelayan itu memandanginya dengan heran, seorang gadis yang akan menghadiri pesta besar yang dipenuhi oleh orang-orang terpandang dan gadis itu hanya mengenakan celana jeans dengan sobek-sobekan yang mempertontonkan pahanya yang putih, juga kemeja hitam biasa sebagai atasannya. Pakaian yang lebih cocok dikenakan sewaktu ke swalayan.

Pelayan itu menepuk tangan pelan, tak lama kemudian beberapa orang memasuki kamar Sam sambil membawa begitu banyak gaun. Sam hanya melongo tanpa dapat berbuat apa-apa saat diseret oleh orang-orang itu.

Kembali ke tempat pesta…

Donghae yang telah bosan dan merasa wajahnya mulai pegal karena terus-terusan tersenyum, mundur dan segera menghampiri Siwon, Hyukjae dan Kyuhyun.

“Ibumu selalu membuat kejutan” ujar Hyukjae.

“Ibu tak pernah melewatkan ulang tahun kami” kata Siwon, seumur hidupnya juga adik-adiknya selalu dilewati dengan pesta.

“Aku benci saat-saat seperti ini” keluh Donghae sambil melirik gadis-gadis yang begitu heboh, terus saja memandangi Siwon, Donghae dan Hyukjae.

“Setidaknya, kau mengajak salah satu dari mereka untuk berdansa” goda Hyukjae “Aku sangat heran padamu dan Siwon, kalian selalu menganggurkan gadis-gadis itu”

“Kau menyuruhku menghampiri serigala-serigala betina itu?” sindir Donghae.

“Sayangnya, Ibu akan menggantungku jika aku melakukannya” Kyuhyun mengeluh, mengingat dirinya sangat ingin berdansa.

“Ibu tak ingin melihatmu dewasa lebih awal” kata Siwon, ia meneguk minumannya.

Anne, Caron, Cleo dan Fleur terlihat diantara tamu-tamu yang lain. Mereka berpakaian begitu baik, keempat gadis itu lalu menghampiri Donghae yang sedang bersama-sama dengan Hyukjae, Siwon dan Kyuhyun. Bergantian menyalami Donghae sebagai ucapan selamat ulang tahun, Donghae hanya tersenyum tipis. Gadis-gadis itu segera menjauh, sesekali berbalik pada pemuda-pemuda tampan itu, tertawa sambil berbisik sama seperti gadis-gadis lainnya—sedang memamerkan pesona mereka.

“Sepertinya kau mempunyai teman dansa?” Hyukjae tersenyum tipis pada Siwon. Siwon tak menggubris sedikitpun. Ia bahkan hanya menoleh sekilas pada Anne. Hyukjae kembali mengambil minuman yang ditawarkan oleh pelayan.

Hyukjae sedang mengamati para tamu undangan, saat itu matanya tertuju pada seorang gadis yang berada di tengah-tengah tamu undangan lainnya. Seorang gadis yang sedang kebingungan. Hyukjae terpaku menatapi gadis itu, Donghae yang menyadari keterpakuan Hyukjae segera mencari tahu.

“Ada apa?” tanya Siwon yang turut heran melihat perubahan tingkah Hyukjae.

“Orang yang belakangan ini membuat Hyukjae kehilangan pikirannya” kata Donghae sambil mengarahkan pandangan pada Aline.

Aline yang selalu berpenampilan sederhana dengan rambut yang selalu diikat seadanya, kali ini menggerai rambut indahnya yang panjang. Tak ada kaca mata menghiasi wajahnya. Aline begitu anggun dengan gaun pesta senada dengan warna kulitnya, ia terlihat jauh berbeda dan mempesona, hampir tak di kenali. Hyukjae hanya tertegun menyaksikan gadis yang disukainya itu.

“Bukankah dia, teman sekelasmu?” gumam Siwon.

“Aline Guibert. Dia seperti itu karena Aline,” Donghae mengamati Hyukjae yang masih belum berkutik. Aline menghampiri Donghae, ia menjadi salah tingkah melihat Hyukjae disitu.

“Itu…” gumam Aline, “Selamat ulang tahun” katanya gugup, ia menyalami Donghae.

“Terima kasih” jawab Donghae. Aline yang sekilas memandangi Hyukjae, langsung membuang muka ketika menyadari Hyukjae sedang tersenyum padanya.

“Maaf tapi, sepertinya, aku tak melihat Sam..” kata Aline dengan berhati-hati. Jantungnya mulai berdetak kencang merasakan tatapan tajam yang terus menghujaninya.

“Aku juga tak melihatnya” jawab Donghae sambil mencari sosok Sam.

“Mudah-mudahan saja dia tak kabur” kata Siwon.

“Kabur?” Aline terkejut.

“Gadis itu, selalu kabur setiap kali ada pesta di rumah ini” kata Hyukjae tetap menatap tajam pada Aline.

Aline mulai kesal, ia telah berniat akan memarahi Sam jika gadis itu tak muncul di pesta—bagi Aline, dibutuhkan keberanian juga berpikir berulang-ulang kali bahkan sampai harus melakukan konsultasi terlebih dahulu untuk memutuskan pergi ke pesta atau tidak.

“Ah, sepertinya kali ini dia tak bisa kabur” kata Kyuhyun. Siwon, Hyukjae, Donghae dan Aline langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Kyuhyun.

Bukan hanya kelima orang itu, bahkan perhatian semua orang tiba-tiba tertuju pada Sam yang sedang menuruni tangga. Waktu seakan terhenti. Sam menggunakan gaun yang sangat indah, gaun hitam yang mempertontonkan bahunya yang mulus, gaun sebatas lutut itupun dengan sempurna mempertontonkan kaki indahnya yang memakai sepatu dengan hak yang lumayan tinggi. Rambut panjangnya yang digulung seadanya, tak ketinggalan beberapa aksesories sederhana dan elegan menghiasi rambutnya. Ia semakin terlihat sempurna dengan rias wajah yang minimalis. Ia menuruni tangga dengan begitu anggun dan mempesona, seperti bidadari yang sedang turun dari langit. Gadis jelita itu telah menghipnotis semua orang dengan pesonanya yang luar biasa.

Hyukjae tersenyum bangga melihat Donghae dan Siwon yang tak berkutik dengan mata yang hampir tak berkedip menyaksikan kedatangan Sam yang sangat sempurna menarik perhatian. Aline sangat senang, ia segera menghampiri Sam yang telah bergabung dengan semua orang—mereka masih terus menatapnya. Terlihat Tuan dan Nyonya Francaise sedang menjelaskan sesuatu ketika tamu-tamu yang bersama kedua orang itu bertanya pada mereka sambil mengarahkan pandangan pada Sam.

“Sam..”

“Aline. Benarkah kau Aline?” Sam memandangi Aline yang terlihat begitu cantik, ia memeluk Aline “Syukurlah, kau ada di sini”

“Kau sukses menarik perhatian” bisik Aline sambil tertawa “Lihat, bahkan mereka tak tenang melihat kedatanganmu” kata Aline. Sam dan Aline memandangi Fleur, Anne, Caron dan Cleo yang sedang memperhatikan kedua orang itu, wajah mereka terlihat sangat tak menyenangkan sama seperti biasanya.

“Mereka pasti kesal. Seorang pelayan yang mendapat perhatian penuh” Sam kembali berbisik. Kedua gadis itu tertawa pelan.

“Benar-benar pemandangan yang indah” Kyuhyun berdecak memandangi Sam dan Aline yang tertawa bahagia. Siwon, Donghae dan Hyukjae hanya diam. Di dalam hati, mereka membenarkan perkataan Kyuhyun.

Pesta terus berlanjut. Semakin malam, semakin meriah pula pesta di rumah tersebut. Tuan Lee, Ayah Hyukjae dan Sam, juga turut hadir dalam pesta tersebut. Ia sesekali mengamati Sam, merasa cemas jika Sam akan membuat masalah.

Saat diminta untuk berdansa, banyak pasangan yang segera turun dan berdansa. Para gadis sudah berdiri, berdesak-desakan—berharap Siwon, Donghae ataupun Hyukjae mengajak mereka untuk berdansa. Donghae yang sedari tadi hanya diam dan minum akhirnya melangkah pada kerumunan gadis-gadis itu. Gadis-gadis yang menanti, mereka semakin histeris melihat kedatangan Donghae.

“Dia banyak membuat perubahan” kata Siwon. Hyukjae dan Kyuhyun mengangguk. Selama ini Donghae tak pernah sekalipun mengajak seseorang untuk berdansa—sama halnya dengan Siwon.

Dugaan Siwon, Hyukjae dan Kyuhyun meleset karena Donghae tak meminta seorangpun diantara gadis-gadis itu untuk berdansa, ia justru menerobos barisan mereka. Donghae berjalan menuju tempat Sam dan Aline. Donghae langsung memegangi pergelengan tangan Sam membuat gadis itu terkejut.

“Apa yang dia lakukan?” gumam Hyukjae penasaran.

“Ada apa?” tanya Sam yang terkejut.

“Jangan banyak tanya” Donghae tak melepaskan tangan Sam. Ia menarik Sam, mereka bergabung dengan orang-orang yang sedang berdansa.

“Hei!” Sam semakin terkejut saat Donghae menyentuh pinggang Sam yang ramping. “Apa-apaan kau?” Sam berusaha melepaskan diri dari Donghae tapi Donghae memegangnya sangat erat.

“Anggap saja hadiah ulang tahun darimu” bisik Donghae di telinga Sam. Sam memperhatikan sekelilingnya, begitu banyak yang sedang memperhatikan mereka. Para gadis yang memandanginya kesal.

“Aku akan membunuhmu setelah ini” bisik Sam kesal. Donghae hanya tersenyum.

“Jangan banyak berkhayal” kata Donghae, ia menarik tubuh Sam sehingga keduanya semakin rapat. Sam tak dapat berbuat apa-apa selain terus membisikan ancaman-ancamannya pada Donghae.

Sementara itu, Hyukjae, Siwon dan Kyuhyun masih tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mereka tak menyangka jika orang yang akan diajak berdansa oleh Donghae adalah Sam, si pembuat onar. Siwon pun terus memperhatikan mereka, sorot matanya terlihat begitu aneh. Ia kemudian mengalihkan pandangannya, meneguk habis minuman dalam gelas yang dipegangnya.

Tak menunggu lama, Hyukjae memisahkan diri dari Siwon dan Kyuhyun yang tak mengeluarkan suara sedikitpun. Ia menghampir Aline yang hanya duduk termenung. Aline terkejut melihat Hyukjae yang telah berdiri di hadapannya, ia tersenyum sambil mengulurkan tangan pada Aline, meminta gadis itu untuk berdansa dengannya. Aline tak berkedip.

“Bolehkah, menemaniku berdansa?” tanya Hyukjae begitu sopan.

Aline terkesima cukup lama, gadis itu terlihat ragu tapi akhirnya menyambut tangan Hyukjae. Hyukjae menuntun gadis itu ke lantai dansa. Dada Aline sesak karena kegugupannya, ketika Hyukjae dengan lembut memeluknya, mengiringinya berdansa seirama dengan musik yang sedang mengalun.

“Aku ingin bertanya sesuatu” kata Hyukjae

“A, apa?” tanya Aline, ia terlihat sangat gugup.

“Kau kemanakan gadis berkacamata itu?” Aline tertawa pelan mendengar gurauan Hyukjae. Keduanya terhanyut dalam alunan musik.

Anne, Fleur, Caron juga Cleo hanya memandangi Aline bersama Hyukjae yang saling pandang dengan senyum mekar. Lalu bergantian menatap Donghae dan Sam yang juga masih berada di lantai dansa. Wajah keempat gadis itu begitu kesal menyaksikan pemandangan itu.

“Apa ini?” kesal Fleur “Mengapa hanya kita yang tak berdansa?”

“Aku tak mengira, kedatanganku ke sini hanya untuk menyaksikan ini” Caron mencibir, sorot matanya terlihat begitu iri.

“Mengapa dua gadis menyebalkan itu bisa berada disini?” sambung Cleo.

“Sudah cukup, jangan mengoceh terus” Anne semakin kesal mendengar keluhan-keluhan ketiga gadis yang bersamanya itu.

“Kau kesal karena Siwon tak mengajakmu berdansa bukan?” Caron memandangi Anne yang hanya diam seribu bahasa “Bahkan dia tak memandangmu” kata Caron. Tatapan mereka tertuju pada Siwon yang hanya menyendiri sambil terus-terusan minum dan berulang kali memandangi orang-orang yang sedang berdansa.

“Aku mulai sangsi, benarkah dia menyukaimu?” Fleur menatap Anne penuh curiga. Anne diam, sorot mata yang benar-benar kesal dan terus mengikuti pandangan mata Siwon yang tertuju pada orang-orang yang semakin terlena di lantai dansa—sesuatu yang membuat Siwon terus menatap kesana.

Selesai berdansa, Sam dan Aline kembali bergabung. Keduanya terlihat riang, berbicara sambil bercanda hingga tak jarang derai tawa menghiasi wajah mereka yang begitu cerah. Terlalu asyik, Sam dan Aline tak menyadari jika Caron, Fleur, Anne dan Cleo telah merencanakan sesuatu. Keempat gadis itu dengan saling pandang penuh arti, menghampiri Aline dan Sam. Fleur tiba-tiba saja menyirami Sam dan Aline dengan minuman yang berada di tangannya.

“Apa ini?” Sam masih terkejut mendapati pakaiannya basah, begitu juga dengan Aline.

“Ough.. sorry, kejadian yang tak direncanakan” kata Fleur. Mereka tersenyum puas melihat kekesalan Sam dan Aline.

“Kau pikir, kami sama bodohnya dengan kalian?” Sam menatap gadis-gadis itu “Dari sekian banyak orang, mengapa justru aku dan Aline? Apakah tidak aneh?” Sam tersenyum sinis.

“Kau menuduh kami?” tanya Anne

“Aku tak mengatakan apapun” tepis Sam “Sepertinya sejak tadi kalian terus menganggur. Jadi, karena itu kalian menyusun rencana yang—sangat konyol. Darimana kalian mendapatkan ide ini? Film? Belajarlah dengan baik, ini terlalu kekanak-kanakan” Sam tertawa pelan membuat kekesalan berbalik pada keempat gadis itu.

“Benarkah?” senyum sinis Fleur, ia maju selangkah “Berbicara seperti itu pada kami, sangat tidak pantas. Kau, juga orang aneh ini?” tatapannya tertuju pada Aline yang bungkam “Alien dan pelayan rendahan. Persahabatan yang sangat sepadan”

“Sebaiknya kita pergi Sam” ujar Aline yang mendapatkan firasat buruk jika terus berlama-lama di tempat itu.

“Aku juga tak mau melakukan hal-hal yang tak berguna” kata Sam. Ia memiliki pendapat yang sama dengan Aline untuk segera menghindari gadis-gadis itu.

“Gadis sombong” Caron menatap tajam pada Sam “Seorang pelayan sepertimu, seharusnya tahu bagaimana memperlakukan majikannya” sindirnya. Anne yang sedari tadi hanya diam juga ikut-ikut tersenyum mengejek.

“Kau merasa sebagai majikanku?” tanya Sam, ia tertawa merasa lucu dengan ucapan  Caron.

“Seperti anjing yang hanya menjilati kaki majikan untuk mendapatkan makanan. Tapi rasanya, kau lebih buruk dari anjing itu” kata-kata Fleur terdengar begitu tajam, Sam hanya tersenyum santai “Orang-orang yang tak berpendidikan, apa kau menggunakan wajahmu sebagai umpan? Bersikaplah yang baik—seharusnya Ibumu mengajarkan sopan santun padamu..”

“Ciih…” dengus Sam “Tapi, bisakah kalian tidak membawa Ibuku turut serta dalam kekesalan kalian?” Sam tersenyum sinis, matanya memandang tajam pada mereka, tatapan itu sedang memperingatkan mereka.

“Mengapa?” tatap Fleur, ia sepertinya mendapat cela untuk mengejek Sam “Aku tak mengada-ada. Kau tak akan liar seperti ini jika kedua orang tuamu mengajarimu sopan santun!” Kata Fleur dengan nada yang meninggi.

PLAK!

Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Fleur.

PLAK!

Tamparan itu terulang lagi.

“Ap.. apa yang kau lakukan?” Fleur mendelik menatap Sam. Ia memegangi pipinya yang merah dan begitu perih. Sam memandang diam pada gadis itu.

Tampaknya kejadian itu telah menyita perhatian banyak orang. Anne, Caron, Cleo bahkan Aline yang berada di situ masih terpaku, mereka tak menyangka jika Sam akan melayangkan tamparan yang keras ke wajah Fleur.

“Sam” Aline memegangi tangan Sam, wajahnya terlihat ketakutan.

“Sudah kubilang, jangan sekali-kali menyebutkan kedua orangtuaku—di hadapanku” kata Sam, sorot mata yang dingin memandangi keempat gadis yang masih terkejut itu. Tatapan itu membuat mereka bergidik sampai-sampai lidahpun terasa kaku.

“Cukup Sam!” Hyukjae telah berada di situ, ia langsung mencengkeram tangan Sam dan membawa gadis itu pergi, bersama-sama dengan Siwon dan Donghae yang berjalan di belakang. Aline menyusuli mereka, meninggalkan orang-orang yang penasaran dengan kejadian barusan.

Hyukjae terus menarik tangan Sam disepanjang koridor rumah, membawa Sam menjauh dari ruangan tempat berlangsungnya pesta. Sam menepis tangan Hyukjae dengan kasar.

“Apa yang kau lakukan tadi?” Hyukjae menatap Sam.

“Kau ingin memarahiku lagi?” gadis itu balik bertanya pada Hyukjae. Kedua Francaise dan juga Aline tak dapat berbuat apa-apa selain menyaksikan Hyukjae dan Sam yang terlibat dalam ketegangan.

“Pikirkan Sam, kau baru saja membuat masalah dengan menampar Fleur” Hyukjae kesal melihat tingkah Sam, ia kehabisan berpikir. Tuan Lee berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri mereka, wajahnya yang tegang sedang menahan emosi.

“Ayah” ujar Hyukjae pelan. Sam menatap pria itu.

“Sam” mata Tuan Lee terlihat berkilat-kilat “Apakah kau hidup hanya untuk membuat banyak masalah?”

“Apa yang salah?” Sam begitu dingin “Aku tidak melakukan sesuatu yang salah”

“Setelah semua yang kau lakukan tadi, kau masih tak mengakuinya?” Tuan Lee mendelik “Lihatlah, kelakukanmu!”

“Mengapa hanya menekanku?” kata Sam, “Hanya menganggapku salah, sepertinya tak ada satupun yang benar dengan diriku—kalian sangat hebat” dengus Sam, ia tertawa pelan.

“Sam, sudahlah Sam” ujar Hyukjae, ia mulai cemas melihat situasi yang memanas.

“Kau selalu seperti ini! Seperti berandalan. Apa kau dilahirkan hanya untuk membuat kami tak bisa tidur memikirkan semua tingkah lakumu?”

“Maka tak perlu dilahirkan!” ucapan Sam membuat semuanya terkejut.

“Sam?” Tuan Lee menatap Sam, ia semakin marah.

“Jika begitu menyiksa, mengapa tak membunuhku?” Sam menatap Tuan Lee dengan tatapan marah “Cukup membunuhku” kalimat menakutkan itu keluar dari bibir Sam.

PLAK!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Sam. Semua yang berada disitu terkejut melihat Tuan Lee menampar Sam. Tamparan yang cukup keras.

“Ayah?” Hyukjae terperanjat. Ia tak menyangka jika Ayahnya akan menampar Sam mengingat dirinya tak pernah mendapat tamparan dari Ayahnya. Aline tampak gugup. Siwon dan Donghae hanya bisa menutup mulut rapat-rapat.

“Kau benar-benar di luar batas, Sam” Tuan Lee menatap Sam, ia sendiri hampir tak percaya jika dengan tangannya akan memukul putrinya yang telah lama terpisah darinya. “Mengapa.. mengapa bisa seperti ini, kau?” Pria itu terlihat begitu syok.

Sam menoleh, ia menatap Ayahnya dengan tatapan yang begitu dingin. Ia Hanya diam. Diam untuk beberapa saat.

“Mengapa bertanya padaku?” tanya Sam “Mengapa baru bertanya? Bukankah sebelumnya tak pernah ingin tahu? Kalau hanya ingin mendengar jawaban dariku, seharusnya tanyakan dari dulu. Aku seperti ini karena siapa? Karena aku mempunyai orangtua seperti kalian! Karena aku benci terlahir sebagai anak kalian!” kata-kata yang begitu sadis hanya diucapkan dengan ekspresi yang dingin, terlihat jelas kebencian itu di mata Sam.

“Sam~” tegur Hyukjae yang terperanjat mendengar kata-kata yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan Donghae dan Siwon terperangah, begitupun Aline yang hampir meneteskan air mata.

“Kau?” Tuan Lee hampir tak dapat berkata-kata, seperti petir menyambar tubuhnya ketika mendengar kata-kata Sam. Sorot mata Sam yang penuh dengan kebencian terlihat menyambar-nyambar.

“Hanya memikirkan diri sendiri. Jika ingin bertanya, seharusnya lakukan itu sebelum kalian memutuskan berpisah” kata Sam, Hyukjae terdiam. Ia merasakan ucapan Sam ada benarnya karena ia pun cukup merasakan dampak dari perceraian kedua orang tua mereka “Ayah tak pernah tahu, bagaimana aku tumbuh bersama Ibu. Jika seperti itu, Ayah dan Ibu tak berhak mendikteku. Sama sekali tidak berhak menyalahkanku. Aku—terlalu sakit karena kalian” kata Sam pelan. Kebencian yang selama ini dipendam, keluar begitu saja. Tatapan itu begitu beku, tak terlihat pernah ada kebahagiaan di sana bahkan setetes air matapun tak tampak di mata Sam, hanya ada ribuan dendam.

Sam meninggalkan semua orang yang masih terdiam dalam keterpakuan. Seperti patung yang tak dapat bergerak, hanya saling memandangi, menunggu sampai suasana sedikit mencair. Tak berapa lama kemudian, seseorang datang menemui mereka. Kepala pelayan itu diutus oleh Nyonya Francaise untuk meminta Donghae dan lainnya yang tidak berada di tempat pesta agar segera kembali. Tuan Lee juga pergi, sepertinya ia akan merenung di kamarnya. Hyukjae, Siwon, Donghae juga Aline mengikuti kepala pelayan itu dari belakang.

Siwon berjalan paling belakang, pikirannya masih terbayang dengan kejadian tadi, ia satu-satunya yang terpaku di pintu ruangan tempat pesta berlangsung, memandangi kemeriahan, memandangi juga Donghae yang menyapa para tamu meski raut wajahnya masih terlihat tegang. Keadaan tidak sama seperti sebelumnya, meski senyuman tampak di wajah Donghae, Hyukjae bahkan Aline tapi ketegangan masih tersimpan di sana.

Siwon memilih untuk tidak bergabung dalam kemeriahan yang masih berlangsung dalam ruangan itu, ia segera menjauh. Menyusuri koridor, melewati begitu banyak ruangan dalam rumahnya yang besar dan megah itu. Tanpa disadari, langkah kaki membawanya menuju ke salah satu taman di kediamannya, danau indah yang masih begitu tenang seperti biasanya. Bukan danau itu yang berada dalam pandangan Siwon tapi seseorang yang berdiri tak jauh dari danau itu. Siwon mengamati Sam yang hanya termenung memandangi permukaan wajah danau yang tenang.

Keadaan yang berbeda dengan danau tenang itu, suasana hati Sam justru sedang berkecamuk. Terlihat jelas dari matanya. Gadis itu tiba-tiba saja terduduk lemas di rerumputan membuat Siwon tersentak, ia ingin menghampiri Sam tapi niat itu diurungkannya, mungkin itu bukan hal terbaik yang harus dilakukan. Sam duduk begitu saja, termangu seperti orang bodoh.

Sam benar-benar seorang gadis yang begitu keras dan berbeda dengan gadis-gadis lainnya, boleh dibilang saat ini, semua orang tak mampu membayangkan apa yang sedang dirasakan gadis itu—tapi, lihatlah, tak setetespun air mata mengalir di wajahnya. Kemarahan Sam mulai terlihat, nafasnya tak beraturan, tersengal-sengal seperti sedang menahan emosi. Tangannya memegang dadanya yang kembali terasa sesak. Dengan kuat ia menekan dadanya, seperti ada benda yang berat sedang menindihnya—sangat menyesakan. Siwon hanya terpaku menyaksikan Sam yang terlihat begitu menderita—seperti orang yang sedang sekarat.

 

~.o0o.~

 

Aline tersandar lemas di tempat duduknya. Matanya hanya memandangi teman-teman sekelasnya yang lalu lalang di depannya. Wajah riang, derai tawa juga ekspresi-ekspresi itu masih sama dengan hari-hari sebelumnya dan gadis itu hanya mengamati mereka. Ia menengok ke samping, tempat duduk Sam yang masih kosong.

Kejadian semalam masih terbayang-bayang jelas dalam ingatannya, kejadian yang sangat mengejutkan dirinya. Tak terbayangkan sebelumnya, mendengar kata-kata Sam yang begitu di luar pikiran. Kata-kata itu seperti sedang menceritakan betapa berat beban yang dirasakan Sam meskipun Aline sendiri tak pernah tahu apa yang telah dialami oleh sahabatnya itu. Juga tatapan dan sinar mata Sam yang sarat kebencian, gadis itu seperti telah dirasuki oleh kebenciannya—Aline selalu merinding membayangkan ekspresi dingin dan menakutkan Sam yang seperti seorang pembunuh berdarah dingin.

Teka-teki tentang Sam semakin bertambah dalam pikiran Aline. Ia memang telah cukup akrab dengan Sam tapi bagi Aline, Sam tetap seperti sebuah misteri, di balik sikapnya yang luar biasa—sangat berbeda dari kebanyakan orang, masih ada yang terselubung dan itu masih menjadi pertanyaan bagi Aline.

Belum habis otak Aline mencoba mencari tahu dengan menerka-nerka seperti apa sebenarnya Sam itu, Aline kembali tertegun melihat Sam yang baru memasuki kelas. Wajah ceria juga begitu cerah, ekspresi yang begitu bahagia—sangat kontras dengan kejadian semalam. Dipikiran Aline, Sam akan muncul dengan wajah kusut, ekspresi yang begitu putus pengharapan dan ingin mati, tapi tidak demikian. Lagi-lagi Aline kembali membenarkan pikirannya tentang Sam, gadis itu memang sangat aneh dan misterius.

“Hai” sapa Sam seperti biasanya, tak ada yang berubah dari raut wajahnya. Ia segera duduk lalu membuang nafas seperti habis berlarian “Tak ada yang anehkan?” tanya Sam, ia menyadari ketika tatapan Aline yang terpaku padanya.

“Apakah.. tidak apa-apa?” Aline mencoba mengkonfirmasikan perasaan Sam pasca kejadian semalam.

“Apa yang sedang kau tanyakan?” Sam balik bertanya dengan tenang “Apa aku sedang membuat masalah? Kau bertanya seperti sesuatu telah menimpaku” Sam tertawa pelan—ekspresi yang familiar di mata Aline. Aline kembali berdecak heran, seperti tidak pernah ada kejadian semalam bagi Sam. Sikap Sam terlihat normal seperti biasanya tapi menurut Aline justru sebaliknya—ia melihat sisi abnormal Sam. Bagaimana mungkin Sam bisa berekspresi seperti itu? Setelah kejadian yang cukup menyentakan itu terjadi.

“Ah, tidak” geleng Aline pelan. Sepertinya Aline sudah salah mencemaskan Sam. Sam memang sangat luar biasa dan berbeda dengan manusia lain pada umumnya “Menakjubkan” gumam Aline yang sepertinya sibuk sendiri dengan decak-decak keheranannya.

~.o0o.~

 

Senja yang cerah kembali menjemput, saat itu Sam baru saja pulang. Ia hendak memasuki rumah mewah keluarga Francaise, saat dirinya berpapasan dengan Ayahnya, Tuan Lee. Sejak kejadian di malam pesta ulang tahun Donghae, Sam memang tak pernah bertatap muka dengan Ayahnya.

Tak berapa lama kemudian, mereka telah berada di sebuah ruangan yang begitu nyaman tapi tak senyaman suasana hati Sam dan mungkin juga Tuan Lee. keduanya hanya duduk saling berhadapan dan belum ada suara yang terdengar.

“Maafkan Ayah”

Sam yang diam seribu bahasa begitu tertegun mendengar penuturan Tuan Lee yang langsung memecah kesunyian.

“Meskipun sikapmu tidak terkendali tapi apa yang bisa dilakukan oleh orang tua seperti kami? Dulu, kau putri kecil kami yang begitu manis tapi apa yang telah kami lakukan padamu?” tatapan Tuan Lee begitu dalam, sepertinya penuh dengan rasa bersalah “Selama ini aku terus merenung. Sepertinya aku lupa, sejak dulu kau tak pernah benar-benar bahagia—semua yang kau miliki membuat Ayah dan Ibu tak tenang. Kami selalu berusaha bagaimana caranya agar kau tak menderita dengan semua itu. Kami terlalu sibuk dengan diri kami sendiri, memikirkan yang terbaik untuk kau dan juga Hyukjae tapi kami lupa dengan perasaan kalian, kami terus berusaha untuk melakukan yang terbaik tapi justru perpisahan adalah akhirnya”

Sam terdiam.

“Kau yang seperti ini membuatku sadar kegagalan kami sebagai orang tua. Ibumu, meskipun bersikap seperti itu tapi aku yakin ia merasakan hal yang sama” kata Tuan Lee, Sam semakin terenyuh meskipun ekspresi wajahnya tak ada yang berubah “Kau benar Sam, mungkin saja jika memiliki orang tua yang lebih baik, kau tak akan seperti ini. Saat itu Ayah dan Ibu benar-benar cemas begitu mengetahui jika kau…”

“Meskipun masih begitu kecil, tapi aku mengerti apa yang Ayah dan Ibu upayakan saat itu” kata Sam memotong ucapan Ayahnya “Meskipun sedikit terisolir dari teman-teman dan merasa aneh karena semua yang kalian lakukan saat itu, aku benar-benar mencoba untuk mengerti—tapi perceraian kalian… lalu Ibu yang seperti itu membuatku benar-benar tak bisa menerima semuanya, terlalu sakit karena merasa tak normal juga membuatku merasa bukan seperti manusia” Sam berkata pelan, sorot matanya sedang ikut bercerita tentang penderitaan-penderitaannya.

“Hyukjae—anak itupun mengalami trauma karena kejadian itu” Tuan Lee berkata dengan lirih “Dia mencoba untuk melupakan banyak hal, melihatnya seperti itu, Ayah tak pernah menceritakan apapun padanya—bahkan tentang kau” mata pria itu terlihat begitu sayu. Sam membisu, terlihat tenang.

“Begitu sudah baik” Sam menarik nafas “Tidak menceritakan pada Hyukjae, itu sudah baik. Aku juga tak berharap ada yang tahu” Sam menatap Ayahnya. Lelaki paruh baya itu hanya diam.

“Sam” Tuan Lee menatap putrinya cukup lama, ia terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya “Lalu, tidakkah kau…”

“Jangan memintaku untuk kembali” Sam memotong ucapan Ayahnya, ia sepertinya sudah tahu apa yang hendak dikatakan oleh pria itu “Ibu pernah mengatakan hal yang sama. Jika sudah waktunya, aku pasti segera kembali. Saat ini aku benar-benar ingin menikmati hidupku walau cuma sesaat. Jika masih menganggap aku putrimu, harap Ayah mengerti” kata Sam. Sorot matanya menyembunyikan banyak hal.

“Sungguh menyesal tidak bisa membesarkan kalian dengan sewajarnya” Tuan Lee menarik nafas, ia terlihat begitu terbeban “Baiklah. Lakukan apa yang ingin kau lakukan” katanya lagi lalu berlalu dari hadapan Sam, meninggalkan gadis itu seorang diri dalam ruangan tersebut.

 

~.o0o.~

 

“Sam” Aline menghampiri Sam, ia langsung duduk di sebelah gadis itu. “Kau melihatnyakan?” tanya Aline. Sam membuka mata dan menatap pada Aline.

“Apa?”

“Tentu saja Siwon dan Anne” kata Aline. Ia mencoba mengingatkan Sam akan pemandangan yang mereka jumpai di kafe sebelum akhirnya kedua gadis itu lebih memilih menuju kantin yang tak begitu ramai “Apa kau tak menyadari perubahan atmosfer di sekolah ini?”

Sam hanya diam menunggu ucapan Aline, tatapan  matanya menandakan bahwa dirinya tak mengerti apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.

“Akhir-akhir ini Siwon dan Anne terlihat semakin dekat. Sebelumnya kedua orang itu bahkan tak pernah saling bertegur sapa lalu tiba-tiba mereka sering terlihat bersama-sama. Apa menurutmu ini tak aneh?”

“Apanya yang aneh?” tanya Sam tenang.

“Hanya merasa aneh melihat kedekatan mereka. Apa mereka akan benar-benar bertunangan? Mungkin saja sebelum Siwon ke universitas mereka akan bertunangan” Aline sedang mengira-ngira.

“Siapa yang tahu” ujar Sam santai, terlihat ia tak begitu tertarik dengan topik itu.

“Meskipun tampak serasi tapi tetap saja aku merasa aneh. Kau tak merasa penasaran melihat Anne yang tiba-tiba begitu berambisi terhadap Siwon? Lalu sikap Siwon yang tak berubah, ia selalu bersikap seperti biasanya bahkan sedikit dingin meskipun Anne akhir-akhir ini memberikan banyak perhatian padanya. Sebelumnya ada yang mengatakan jika Siwon pernah mengungkapkan perasaannya pada Anne dan seharusnya Siwon bahagia jika keadaan yang berlangsung seperti sekarang. Bukankah mereka sangat mencurigakan?”

“Sama sekali tidak” Sam kembali menjawab dengan santai “Mungkin saja Anne hanya berpura-pura tidak menyukai Siwon—gadis itukan seperti rubah betina. Lalu Siwon, aku tak tahu” Sam tersenyum tipis.

Rumor tentang kedekatan Siwon dan Anne sedang hangat-hangatnya dibicarakan. Sebelumnya, kedua orang itu dikatakan akan bertunangan tapi semua masih misteri mengingat sifat Siwon dan Anne yang cukup misterius—lalu, mendadak Anne tiba-tiba mendekati Siwon.

“Ah, kau benar” kata Aline. Ia terdiam sejenak lalu akhirnya kembali sibuk mencoba mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru pada jam pelajaran sebelumnya. Gadis itu terlihat begitu serius—sangat serius.

“Ada apa dengan ekspresimu itu?” tanya Sam yang heran melihat raut wajah Aline yang berubah-rubah. Tak jarang dahinya mengkerut dengan alis yang hampir saling bertemu.

“Aku merasa soal yang diberikan sangat rumit. Kalau seperti ini, nilai fisikaku bisa hancur” keluh Aline. Sam menoleh pada buku Aline. Ia menarik buku itu “Ada apa?” Aline memperhatikan Sam yang sedang menuliskan sesuatu di bukunya.

“Kerjakan dengan cara ini” kata Sam sambil menyodorkan buku pada Aline.

Meskipun sedikit bingung dan hanya diam menatap Sam, Aline akhirnya mengikuti apa yang dikatakan oleh Sam. Gadis itu kembali berusaha untuk memecahkan soal tersebut, tak beberapa lama wajahnya kembali berbinar-binar.

“Kau bisa menjawabnya bukan?” Sam tersenyum simpul.

“Luar biasa. Aku bahkan tak menyangka bisa mengerjakan soal ini” tatapan Aline terlihat begitu bangga.

“Masalahnya terletak pada, bagaimana caramu memandang suatu masalah” kata Sam “Ubah cara pikirmu dan kau pasti akan menemukan begitu banyak hal baru. Belajarpun seperti itu. Mungkin terasa jenuh tapi pasti ada sisi yang sangat menarik” Sam tersenyum. Kata-katanya membuat Aline tertegun.

“Benar-benar diluar dugaan” ujar Aline “Tapi—aku merasa kau bukan orang biasa” Aline memandangi Sam dengan tatapan penuh selidik.

“Lalu?” Sam tersenyum kecut.

“Kau tahukan, jika Hyukjae itu termasuk dalam golongan orang jenius?”

“Benarkah?” pertanyaan Sam membuat dahi Aline semakin berkerut.

“Aku tak yakin kau tak tahu itu. Aku rasa kau pasti memiliki kemampuan seperti Hyukjae”

“Apa itu?” Sam tersenyum manis memandangi Aline.

“Jenius!” Tiba-tiba saja Sam tertawa keras mendengar ucapan Aline, kata yang begitu menggelitik Sam “Mengapa tertawa sekeras itu? Jika tidak, mana mungkin kau bisa melakukan hal tadi. Kau begitu baik dengan rumus-rumus itu” Aline tampak kesal melihat tawa Sam yang kian menjadi-jadi.

“Jangan bercanda” kata Sam sambil menatap Aline “Hyukjae boleh saja jenius tapi bukan berarti aku juga. Lagipula Hyukjae tak pernah menunjukan jika dirinya jenius, jadi itu belum bisa dipastikan kebenarannya. Dan juga, hampir seumur hidup aku tak pernah belajar—bagaimana aku menjadi jenius?” tawa Sam.

“Bagaimana dengan soal fisika itu?”

“Sebenarnya aku malas mengakuinya tapi sejak kecil Ibuku memberikan guru les khusus untuk mata pelajaran hitung-hitungan padaku. Akan sangat memalukan jika putri seorang ilmuwan ternyata sangat bodoh. Itulah satu-satunya kemampuanku dari sekian banyak mata pelajaran” Sam mencoba memberikan penjelasan pada sahabatnya “Sudahlah jangan dibahas lagi. Sepertinya guru akan segera masuk” kata Sam lagi sambil mengamati suasana kelas yang mulai sunyi, mempersiapkan diri untuk mata pelajaran selanjutnya.

“Matematika” Aline berkata lesuh mengingat jam pelajaran yang akan mereka hadapi selanjutnya “Ah, sepertinya hari ini guru baru itu mulai mengajar” kata Aline sambil menatap Sam. Guru matematika sebelumnya telah pensiun.

“Rasanya aku bisa membayangkan seperti apa orangnya” kata Sam pelan. Gadis itu lalu tersenyum membayangkan rupa dan bentuk guru matematika yang baru. “Mari kita hitung berapa jumlah helai rambut di kepalanya” kata Sam lagi sambil tertawa.

“Aku rasa begitu” Aline ikut tertawa “Banyak yang bilang kalau guru baru itu lulusan Harvard. Aku selalu membayangkan akan sangat bahagia jika bisa masuk ke Harvard” kata Aline.

“Kau benar-benar tertarik pada Harvard” tawa Sam pelan.

“Tentu saja. Aku sangat ingin berkuliah di Harvard, universitas swasta paling bergengsi dan terbaik di dunia” Aline sepertinya sangat mengharapkan jika dirinya benar-benar bisa ke universitas itu “Pamanku tinggal di Cambridge, Massachusetts—setiap kali ke Amerika, aku pasti menyempatkan diri untuk mengunjunginya karena rumahnya tak begitu jauh dari Harvard. Lalu aku akan merengek pada Paman untuk membawaku mengelilingi Harvard” Aline mengingat saat-saat menyenangkan itu.

Suasana kelas lebih sunyi ketika guru telah memasuki kelas. Seorang lelaki dengan postur tubuh yang cukup baik, ada kaca mata tipis menghiasi wajahnya. Guru baru itu jauh dari apa yang dibayangkan oleh Sam dan Aline. Ia terlihat seperti baru berada di awal umur 30-an. Rambut coklat gelapnya yang tertata rapi begitu juga dengan penampilannya. Ia menatap para siswa. Guru itu cukup menarik perhatian para siswi. Ia tampak begitu dewasa, tersenyum ramah pada murid-murid di awal perjumpaan mereka.

Sam yang biasanya tetap tenang dan santai kali ini tak terlihat seperti itu. Raut wajahnya langsung berubah melihat sosok yang berdiri di depan kelas tersebut. Wajah yang sedikit tegang dan mata yang hampir tak berkedip.

“Hei Sam, bukankah dia guru yang cukup menarik?” Aline berbisik pada Sam yang hanya diam “Lihat dirinya, seperti seorang guru yang ideal” puji Aline. Di belakang, Donghae hanya mencibir mendengar perkataan Aline.

“Ideal?” tanya Donghae pada dirinya sendiri “Huhh, yang benar saja” dengusnya lagi.

Kibum, nama guru baru itu. Setelah memperkenalkan diri, ia segera memulai memberikan materi dan penjelasan-penjelasan pada siswa-siswi. Semua begitu serius dan menyimak dengan baik apa yang disampaikan. Cara mengajarnya yang baik membuat siswa-siswi memahami apa yang disampaikan. Guru menguasai matematika dengan sangat baik, bahkan ia tak terlihat membawa buku sejak memasuki kelas tadi.

Donghae menyadari kegelisahan Sam. Ia terus mengamati tingkah Sam sejak tadi. Sam tak terlihat tenang, meskipun tak seperti kebanyakan orang yang jika sedang gelisah dapat langsung tertebak, tapi bahasa tubuhnya membuat Donghae menyadari sejak kedatangan Kibum, Sam berubah. Sam memandangi buku pelajarannya. Donghae terus memperhatikan Sam, lalu bergantian menatap pada guru baru itu—ada yang aneh.

“Pertemuan pertama sepertinya berlangsung dengan baik. Hari ini sampai di sini, kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya” guru bernama Kibum itu memandangi siswa-siswi dengan senyum ramahnya. Sepertinya ia akan mengakhiri perjumpaan pertama sekaligus sebagai perkenalan dengan para siswa itu.

Tiba-tiba saja mata guru itu tertuju pada Sam, wajahnya langsung berubah drastis. Guru itu terkejut dan langsung terpaku, sementara Sam sendiri hanya memalingkan wajah dengan raut yang serba salah.

“Apa kabar?” Sam akhirnya berdiri, badannya sedikit membungkuk memberikan hormat. Guru Kibum semakin terkejut melihat tingkah Sam, mulutnya tak dapat mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya menatapi mata Sam yang memandanginya tajam, seperti sebuah isyarat yang sedang disampaikan oleh Sam.

Semua orang di dalam kelas menjadi begitu heran melihat tingkah kedua orang itu. Donghae juga Aline yang hanya diam dan memandang dengan rasa penasaran, melihat Sam dan juga guru baru itu saling melempar pandang penuh misteri.

Siswa-siswi mulai berhamburan keluar kelas. Sam segera berdiri dan langsung menghampir guru Kibum yang hendak keluar kelas. Guru matematika itu begitu heran memandangi siswi yang berdiri di hadapannya itu. Sam terlihat sedang mengucapkan sesuatu dan akhirnya bersama-sama dengan Kibum keluar dari kelas. Terlihat jika ada sesuatu yang hendak mereka bicarakan. Aline dan Donghae yang terus memperhatikan semakin penasaran.

Hanya sekitar 5 menit kemudian, Sam kembali memasuki kelas.

“Apa yang terjadi?” tanya Aline.

“Tidak ada” jawab Sam pendek.

“Hei Sam, bisakah kau menjelaskan pada kami. Pemandangan apa yang baru saja kami saksikan?” kali Donghae ikut berbicara, “Tingkahmu dan guru baru itu begitu aneh. Kalian sudah saling kenal bukan?”

“Kibum?” Sam menatapi Donghae juga Aline.

“Tentu saja” kata Donghae lagi setelah mendengar Sam yang menyebutkan nama guru itu dengan begitu enteng.

“Ada apa diantara kalian?” Aline tak bisa berlama-lama menanti jawaban dari Sam.

“Aku cukup lama mengenalnya. Kibum pernah bekerja dengan Ibuku” jawab Sam dengan begitu santai “Argh, sepertinya Ibu benar-benar tak membiarkanku tenang disini. Sial, memata-mataiku lewat Kibum!” geram Sam. Aline dan Donghae hanya saling pandang melihat kegeraman Sam.

***

“Hyukjae, kau mengenal Kibum?” tanya Donghae, mengawali percakapan. Ia bersama Siwon dan Hyukjae sedang berada di dalam mobil yang melaju menuju tempat tinggal mereka.

“Kibum?” Hyukjae berusaha mengingat si pemilik nama yang baru saja di sebutkan Donghae “Sepertinya tidak. Siapa dia?” tanya Hyukjae.

“Guru matematika. Tadi, kali pertama mengajar di kelas” kata Donghae “Karena Sam mengenali orang itu, jadi ku pikir kau juga mengenalinya”

“Sam—mengenalnya?” tanya Hyukjae penasaran.

“Menurut Sam, dia pernah bekerja sama dengan Ibumu” ujar Donghae.

“Mungkin saja. Sam hidup bersama Ibu, kalau dia berkata seperti itu, aku rasa dia benar mengenali Kibum yang kau sebutkan itu” kata Hyukjae lagi.

“Tapi ada yang sedikit mengganjal” Donghae terlihat sedang berpikir.

“Apa?” tanya Siwon, sepertinya akhir-akhir ini ia juga sering penasaran dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan Sam. Cukup mengherankan.

“Sejak guru itu memasuki kelas, Sam langsung gelisah” kata Donghae “Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah. Selama jam pelajaran, Sam terlihat tak tenang. Sama halnya dengan guru itu, ketika menyadari keberadaan Sam—ia bahkan lebih terkejut lagi dari Sam. Mereka saling bertatapan, aneh. Setelah jam pelajaran usai, kedua orang itu segera keluar kelas—entah membicarakan apa” Donghae sedang mengingat kejadian tadi.

Really?” Hyukjae turut merasa heran “Apa lagi yang dikatakan Sam?”

“Hanya kesal karena menganggap Kibum akan menjadi mata-mata Ibumu” ujar Donghae. Mereka bertiga kembali terdiam, dan berpikir. Benar saja jika seperti itu, Sam pasti tidak akan senang karena ia sangat membenci Ibunya.

***

Jarum jam sudah menunjukan pukul dua dini hari. Donghae tiba-tiba saja terbangun dan setelah itu matanya sulit untuk di pejamkan lagi. Kantuknya telah hilang. Ia mengambil sebuah buku di atas meja di samping tempat tidurnya, lalu mulai membaca buku. Hampir setengah jam berlalu, Donghae justru semakin tak bisa tidur. Ia akhirnya turun dari kasur empuknya lalu berjalan menuju pintu.

Donghae tersentak kaget bukan main ketika membuka pintu kamar dan mendapati sosok wanita bergaun biru selutut tengah melintas di hadapannya. Gaun yang tampak halus dan juga rambutnya melambai-lambai dipermainkan angin. Tanpa menunggu lama Donghae langsung menutup kembali pintu kamarnya, tiba-tiba saja merasa seluruh bulu badannya meremang. Sekian menit jantung Donghae masih berdetak kencang “Tunggu dulu~” raut wajahnya tiba-tiba saja berubah, ia seperti mengingat sesuatu. Tanpa pikir panjang lagi, ia akhirnya kembali membuka pintu kamarnya perlahan-lahan dan menengok keluar. Wanita itu masih terlihat berjalan di sepanjang koridor yang telah senyap. Dengan segala keberanian, Donghae mengikuti langkah wanita itu.

“Sam?” Donghae tertegun. “Hei Sam!” panggilnya. Seakan tak mendengarkan panggilan Donghae, gadis itu terus saja melangkah. “Sam, mengapa malam-malam begini masih berkeliaran. Kau membuatku kaget” kata Donghae. Sam yang diam membuat Donghae semakin kesal. Ia langsung berjalan mendahului dan berniat menghadang Sam.

Gadis itu terus melangkah maju seperti tak melihat keberadaan Donghae. Donghae akhirnya menyadari keanehan itu. Ia menatap lekat-lekat wajah Sam. Bibir terkatup rapat juga tatapan kosong dari matanya yang sangat sayu.

“Sam” panggil Donghae. Ia melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Sam. Matanya tak berkedip sama sekali, ia seperti sedang tak sadarkan diri “Anak ini… berjalan dalam tidur?” Donghae bergumam tak percaya. “Ah, sepertinya aku mengerti sekarang tentang rumor hantu di sepanjang koridor. Rupanya kau! Jadi, inipun yang menjadi penyebab keberadaanmu di kamar Siwon saat itu?” Donghae menatapi wajah Sam yang tak bereaksi sedikitpun “Mau kemana dia?” Donghae bergumam pelan. ia hanya mengikuti kemana langkah kaki Sam.

Sementara itu, ada juga orang lain yang tak tidur di malam itu. Siwon sedang berdiri di balkon, tempat yang sering di datangi Sam. Ia memandangi bintang dan meresapi kebisuan malam, tak jarang matanya memandangi danau kecil yang berada di taman, di bawah sana. Sepertinya ia tak bisa tidur, lalu datang ke balkon. Siwon baru saja hendak beranjak dari situ ketika matanya melihat seorang gadis bergaun tidur biru sedang berjalan di bawah sana.

“Sam?” Siwon sedikit terperanjat mengenali gadis itu “Apa yang dilakukannya?” gumamnya dalam hati. Matanya terus mengawasi Sam. Ia semakin tersentak melihat Sam yang langsung rebah di rerumputan. Baru saja hendak berpaling menyusuli Sam, tapi niat itu langsung di urungkan begitu saja ketika melihat Donghae yang berjalan pelan menghampiri Sam. Donghae duduk di dekat Sam, mengamati wajah Sam.

“Benar-benar gadis aneh…” katanya pelan. Ia hanya memandangi wajah Sam yang tertidur pulas. Ia segera mengangkat tubuh Sam ke dalam pelukannya.

Siwon yang menyaksikan adegan itu langsung mengalihkan pandangannya. Beberapa detik, ia kemudian kembali memandangi Donghae yang telah berjalan sambil menggendong Sam. Siwon hanya terdiam, tatapan matanya terlihat begitu aneh terus mengekori Donghae dan Sam yang tak sadarkan diri dalam pelukan Donghae.

 

~.o0o.~

 

Sam berjalan pelan ketika memasuki kelas, ia menghampiri Aline yang telah disibukan dengan buku-buku yang terbuka di hadapannya. Aline memang selalu seperti itu, hanya sibuk belajar.

“Apa kau selalu seperti ini?” tanya Sam. Aline menoleh, memandangi Sam yang telah duduk di tempatnya.

“Aku tak punya pilihan lain” jawab Aline sambil tersenyum “Selain biola, tidak ada lagi yang bisa kuandalkan”

“Kukira kau selalu berada dalam dua puluh besar peringkat teratas di sini?” Sam memandangi Aline. Ia cukup heran mendengar pengakuan Aline, berkata seperti itu bagi Sam terasa sedikit tidak wajar mengingat prestasi yang dimiliki Aline “Apakah itu bukan termasuk sesuatu yang membanggakan? Sekolah ini sangat terkenal dengan kedisiplinan dan mutu pendidikan yang berkualitas, banyak orang-orang hebat yang bersekolah di sini. Jika kau selalu berhasil menempatkan dirimu di posisi itu, bukankah itu sangat luar biasa?” ujar Sam.

“Ah, yang kau katakan itu terlalu berlebihan Sam. Aku bahkan hampir tak bisa menyelesaikan soal fisika waktu itu jika kau tak membantuku” ia mengingatkan Sam pada kejadian beberapa waktu lalu “Aku merasa tidak mempunyai kemampuan, untuk itu aku selalu berusaha sekuat tenaga. Meskipun sudah berusaha, tetap saja aku merasa itu tidak cukup. Aku rasa manusia selalu seperti itu, tidak pernah puas dan selalu saja merasa kurang” kata Aline sambil tertawa.

“Kau benar, tapi bukankah begitu lebih baik?” Sam tersenyum tipis “Kalau cepat merasa puaspun tidak begitu baik. Jika seperti itu maka tak akan berusaha lagi. Lalu, akan terpuruk kerena pemikiran diri sendiri, mengira kitalah yang terhebat tanpa menyadari bahwa justru kita telah tertinggal jauh di belakang” gumam Sam.

“Bravo” kata Aline, ia tertawa mendengar perkataan Sam yang sepertinya mengandung banyak arti “Kau juga jangan santai seperti ini, ujian semester tinggal seminggu lagi. Kau lihatkan, hampir semua siswa meningkatkan intensitas belajar mereka? Kau harus tahu betapa mengerikannya ujian di sekolah ini” Aline terlihat bergidik ngeri.

“Seberapa mengerikan?” Sam terlihat penasaran.

“Pengawasan selama ujian itu sangat ketat. Lihatlah, begitu banyak kamera yang terpasang di seluruh pelosok sekolah, bahkan di kelas kita ada lebih dari empat kamera yang siap mengintai dari sudut manapun” Aline memandangi kamera-kamera yang terpasang di dalam kelas “Jangankan untuk menyontek atau bertanya pada orang lain, untuk menggerakan kepalapun akan terasa sulit. Suasana yang tegang terasa seperti sebuah pedang yang siap memenggal kepalamu. Jika ketahuan melanggar, hukumannya pun sangat berat—tak akan ada peringatan pertama, kedua atau ketiga, cukup membereskan lokermu” Aline menjelaskan tragedi ketika siswa-siswi yang kedapatan melakukan pelanggaran saat ujian, dikeluarkan dari sekolah.

“Begitu rupanya” gumam Sam.

“Kau boleh melakukan apa saja di tempat dudukmu tapi jangan coba-coba berbicara dengan teman atau kedapatan membawa konsep. Bahkan tak  ada yang berani keluar kelas sekalipun ingin sekali ke kamar kecil, mereka lebih baik menahan diri daripada keluar dan tak boleh masuk ke dalam kelas lagi. Gerak-gerik itu bisa di ketahui” kata Aline, sepertinya ia sedang memberikan peringatan pada Sam yang selalu bertingkah aneh saat kelas sedang berlangsung.

“Baiklah, aku mengerti” Sam mengangguk-angguk. Ia memang tahu jika peraturan sekolah sangat ketat tapi ia baru tahu jika apa yang ada dipikirannya masih belum cukup.

***

Jam pelajaran telah usai. Siswa-siswi telah berbondong-bondong meninggalkan ruang kelas mereka. Area sekolah yang semula tenang mendadak menjadi riuh dengan para siswa yang langsung meramaikan lingkungan sekolah tersebut. Gerbang utama sekolah telah terbuka lebar, kendaraan-kendaraan mewah berbaris rapi meninggalkan area sekolah. Demikian halnya dengan Sam, sepeda yang selalu setia menemaninya terlihat keluar dari gerbang sekolah. Gadis itu dengan lincah mengayuh pedal sepedanya.

Baru beberapa waktu meninggalkan sekolah, Sam yang semula melarikan sepedanya dengan kencang mendadak mengurangi kecepatan sepedanya. Gadis itu merasa ada yang sesuatu yang tidak beres. Beberapa meter di depan sana, ada sekelompok pemuda dengan seragam sekolah yang berbeda dengan Sam. Mereka saling menatap seperti sebuah kode ketika melihat kedatangan Sam. Seolah tak ada apa-apa, Sam melanjutkan perjalanannya.

Seseorang langsung memegang kemudi sepeda Sam ketika Sam bermaksud melewati mereka. Sam memandangi para siswa asing yang telah mengeruminya.

“Apa?” tanya Sam “Aku sedang terburu-buru” kata Sam. Mereka semakin mengawal ketat Sam ketika gadis itu hendak meninggalkan tempat itu “Wah, ada apa ini?” Sam tersenyum sinis memandangi wajah-wajah di hadapannya itu.

“Tidak salah lagi, dia orangnya” kata seseorang. Mereka mengamati Sam dengan wajah yang begitu beringas “Hei, apa kau tak mengenali kami?” laki-laki itu mendekatkan wajahnya pada Sam. Sam menatap balik wajah-wajah itu, cukup lama sampai akhirnya ia menarik nafas dan kembali tersenyum tipis.

“Oh, apa kabar?” sapa Sam. Ia ingat jika orang-orang itu yang beberapa bulan lalu pernah dihajarnya di klub malam. Siswa-siswa hidung belang yang mencoba merayunya dan langsung mendapat pukulan hebat dari Sam, meskipun saat itu Sam mabuk berat tapi ia mampu mengingat wajah-wajah mengesalkan itu “Apa kalian tak terlalu terlambat jika hanya untuk meminta biaya pengobatan?” ujar Sam.

“Ternyata benar, gadis ini sangat sombong”

“Jadi dia yang berani-beraninya mengganggu sepupuku?” tiba-tiba saja seseorang keluar dari kumpulan siswa-siswa itu. “Kau benar-benar cari perkara dengan menampar Fleur”

Oh God, jadi sepupu yang kau maksudkan—gadis itu?” Sam tertawa nyaring, seperti tak ada rasa takut “Kalian benar-benar type yang sama” Sam berkata dingin, tawanya entah telah hilang dimana. Ia balik menatap dengan sadis.

“Kali ini kau tak akan lolos” mereka menyeringai memandangi si cantik Sam.

“Maaf tapi aku sedang tak ingin berurusan dengan kalian” kata Sam.

Kontan saja mereka langsung menyeret Sam dari sepedanya. Dua orang berbadan tegap telah mengapitnya dan mencengkeram erat lengan gadis itu.

“Aku benar-benar tak ingin berurusan dengan kalian” tegas Sam.

“Baiklah, kita lihat sampai sejauh mana gadis ini akan bertahan dengan kesombongannya” kata seseorang “Hanya ada satu pilihan, berlutut dan jangan mencari masalah dengan Fleur dan teman-temannya. Jika menyerah katakan saja karena kami tak akan berhenti” kata pemuda yang mengaku sebagai sepupu Fleur. Ia langsung mendaratkan tamparan yang keras di pipi Sam.

Sementara itu Aline yang sedang berada dalam mobilnya, mendapati pemandangan itu ketika ia hendak pulang. Berulang-ulang tamparan terus mengenai wajah Sam, membuat wajahnya yang putih dan mulus terlihat merah. Gadis itu mengangkat wajahnya, senyuman sinis tersungging dari bibirnya yang berdarah akibat terluka.

“Hanya seperti ini?” kata Sam akhirnya, “Akhir-akhir ini aku sedang kesal, kebetulan sekali kalian ada di sini” gadis itu memandang tajam dengan sorot mata yang aneh dan dingin.

***

Hyukjae dan Siwon masih terlihat di dalam gedung sekolah, kedua orang itu sedang berbincang-bincang di dekat tangga, di hall sekolah. Ransel yang telah menggelayut di bahu kedua orang itu, meskipun sedang bercerita tapi tangan Siwon tak hanya diam, tangannya dengan lincah memainkan bola basket yang sedang dipegangnya.

Tak berapa lama kemudian, Donghae berlari-lari pelan menuruni tangga lebar dan berputar-putar itu. Hyukjae melirik arlojinya ketika melihat kedatangan Donghae.

“Mengapa begitu lama?” tanya Hyukjae.

“Ada sesuatu yang tertinggal di kelas” Donghae memberikan alasannya. Ketiga orang itu baru saja hendak bersiap-siap meninggalkan tempat itu ketika mata mereka tertuju pada Aline yang berlari-lari, ia terlihat begitu tergesa-gesa menghampiri ketiga pemuda itu.

“Aline?” Hyukjae bertanya heran melihat Aline yang tiba-tiba berhenti di hadapan mereka. Nafasnya belum teratur.

“Tidak ada waktu lagi” kata Aline, wajahnya terlihat begitu panik “Sam dalam masalah!” ucapan Aline membuat Hyukjae, Siwon dan Donghae tersentak.

“Apa maksudmu?” tanya Hyukjae, cemas.

“Aku melihat Sam dipukuli siswa-siswa dari sekolah lain” mendengar perkataan Aline ketiga pemuda itu langsung bergegas, dan langsung masuk ke dalam mobil. Demikian halnya dengan Aline.

***

Dua buah mobil mewah berhenti di sebuah tempat. Siwon, Hyukjae, Donghae dan Aline terlihat keluar dari dalam kedua mobil tersebut. Mereka terlihat begitu tergesa-gesa. Keempat orang itu langsung terhenti melihat pemandangan yang tengah di suguhkan pada mereka. Sekitar lima orang siswa telah terbaring tak berdaya, mereka terlihat begitu berantakan dengan luka dan wajah lebam—mereka meringis kesakitan.

Satu-satunya yang masih berdiri dengan tegak adalah Sam. Seragam dan juga rambut yang berantakan menjelaskan perkelahian yang baru usai. Hyukjae, Siwon, Donghae dan Aline langsung bergegas menghampiri Sam.

“Sam” Hyukjae tampak terkejut melihat darah segar yang mengalir dari sela bibirnya, “Kau tak apa-apa?” tanya Hyukjae, tangannya menyeka darah di bibir Sam. Secepatnya, Sam langsung menepis tangan Hyukjae. Keempat orang itu hanya memandangi Sam. Gadis itu segera meraih sepedanya yang tergeletak begitu saja, dan segera menaiki sepeda tersebut.

“Kalian—jangan muncul dihadapanku lagi!” Sam menatapi siswa-siswa yang tak berdaya itu. Sorot mata yang tajam dengan pancaran kemarahan yang masih tersisa—kata-kata itu seperti sebuah peringatan keras kepada siswa-siswa nakal itu. Ia lalu mengayuh pedal sepedanya. Tak perduli pada Siwon, Hyukjae, Donghae dan Aline yang begitu khawatir. Mereka tak dapat melakukan apa-apa kecuali memandangi kepergian Sam.

***

Malam hari di kediaman Francaise. Donghae membuka pintu sebuah ruangan. Ia lalu melangkah memasuki ruangan yang luas itu, langkahnya terhenti melihat Sam yang sedang tertidur pulas di tempat tidurnya—ia sedang berada di dalam kamar Sam, entah apa tujuannya mengunjungi kamar Sam. Tangannya sedang membawa sesuatu. Pemuda itu segera mendekati Sam, ia lalu duduk di tepi tempat tidur Sam. Memandangi wajah Sam yang begitu polos ketika sedang tertidur.

Ia lalu meletakan benda yang dibawanya—perlengkapan obat-obatan. Pemuda itu mulai membersihkan dan mengobati luka di wajah Sam. Donghae melakukannya dengan berhati-hati agar gadis itu tidak terbangun. Ia benar-benar memperlakukan Sam dengan lembut. Akhirnya selesai sudah Donghae mengobati Sam. Donghae hanya memandangi wajah Sam—tatapan itu tampak menyiratkan sesuatu.

“Seperti ini” Donghae mulai mengucapkan sesuatu “Gadis aneh. Kau tertawa, marah, keributan yang sering kau buat—kau memiliki banyak ekspresi. Apa lagi yang belum kami lihat? Kadang kau begitu mengesalkan”

Donghae bergumam sambil tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Ia membayangkan banyak keanehan Sam.

“Tapi—melihatmu yang seperti ini. Kau yang terlalu kuat seperti tak ada yang bisa mengalahkanmu, caramu marah lalu menyikapi isi hatimu sangat bertolak belakang justru terlihat sangat menakutkan. Sebenarnya siapa kau? Gadis aneh sepertimu, lancang sekali membuatku selalu memikirkanmu?” Donghae menarik nafas kesal, ia kembali terdiam “Jika kau ingin marah, tertawa atau melakukan apapun, cukup datang saja padaku—sepertinya aku ikut menjadi aneh karena kau” Donghae berkata pelan.

Donghae segera beranjak, ia lalu keluar dari kamar Sam setelah menyelimuti tubuh Sam. Sepeninggal Donghae, Sam langsung membuka matanya, perkataan Donghae telah didengarnya.

 

~ to be continue ~

 

Iklan

234 thoughts on “I Fell In Love, My Trouble Maker Girl (Part 5)

  1. jamurhinee05 berkata:

    wkkwkk betapa malunya donghae kalau di tahu sam mendengar perkataannya…eiiii ada yang cemburu nih kayaknya liat sam sama donghae.. aduh apakah alin sama hyukjae pacaran.. mereka serasi bgt..
    wahhh flur dtampar sam wahh siapasuruh berurusan sama sam.. ihhh anne deketin siwon karena siwon liatin sam terus pas dansa sama donghae. dia pasti gak mau orang dsekitarnya berpaling darinya. padaha dia sudah menolaknyak.apkah siwon bersama sama anne karena dia tau donghae menyukai sam dia mengalah.. apakah kalau donghae tau siwon menyukai sam apa dia akan mengalah buT siwon…..

  2. Gita berkata:

    Makin penasaran sama kehidupan sam banyak sekali kemisteriusan hidup sam.. Kisah hidup dia sama ibunya.. Sama guru kibum.. Sam benci sam ibunya tapi di satu sisi dia juga satang sama ibunya.. Ckck membinggunkan..
    Uwahh nangis gua pas baca tuan lee nampar sam.. Menghayati banget

  3. kyunie berkata:

    nyesek bgt wkt sam ngutarain perasaanny d dpn ayahnya…tp,sbnrny ada apa sh sm kel lee?kykny ada sesuatu yg bnr2 besar yg bkin hyuk ma sam aneh.wlwpn hyuk gk trlalu kntara,tp smw kelakuan dy yg berkebalikan sm IQ yg dy pny,d dukung sm kt2 ayahnya,ckup menjelaskan kalo hyuk jg sdkt bnyk tw apa yg bkin sam ky gni,cm dy gk inget krn trauma yg dy alami..
    kr2 apa peran kibum d kehdpan sam sblmny ya?kyk gk sesimple yg dblg sam dh..
    sbnrny,yg suka sam itu siwon apa hae ya?apa 22nya?wew!trus kr2 sam sk ma sp?mengingat dy th cuek bin ajaib..wkwkwk..
    tmbh lama tmbh ketagihan bca nya,hehe

  4. Cho Sarang berkata:

    Ada cerita apa yang terjalin antara sam dan kibum ? Lagi – lagi sam bertingkah misterius lagi. Akhirnya…sam bisa juga mengeluarkan amarahnya

  5. elficannie berkata:

    entah kenapa ngerasa persahabatan sam sama aline itu sweet banget, entah kenapa setiap kali sam ngutarain apa yg dia rasain itu tuh rasanya nyess banget, kerenn bgt ceritanya bener-bener bikin masuk ke dalam cerita

  6. My labila berkata:

    ternyata benar minuman yang selalu aline dapatkan secara misterius dr seseorang yaitu hyukaje,sam itu penuh dengan mistery, waktu sam di marahi ayahnya dan aku baca ceritanya sam tentang keluarganya aku jadi sedih, sepertinya donghae menyukai sam daebakk dan sepertinya juga siwon menyukai sam #BagaimanaIni

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s