I Fell In Love, My Trouble Maker Girl (Part 6)

Image

Cast             :

–  Choi Siwon as Siwon Parris Francaise

–  Samantha (Fiction)

–  Lee Donghae as Donghae Chartier Francaise

–  Cho Kyuhyun as Kyuhyun Edmund Francaise

–  Lee Hyukjae

–  Aline Guibert (Fiction)

–  Other cast

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

 ~~~~~

Empat hari sebelum ujian

“Aneh” gumam Donghae. “Bukankah ini sudah kedua kalinya?” Donghae menatapi Siwon dan Hyukjae yang ikut berpikir.

“Lagi-lagi kasus Sam tak dilimpahkan pada dewan siswa. Pihak guru menangani langsung. Apa mungkin karena terlalu serius hingga tak diberikan pada dewan siswa untuk menanganinya?” Hyukjae ikut bertanya.

“Mungkin saja seperti itu. Para orang tua dari siswa-siswa yang dipukuli Sam sampai datang ke sekolah ini. Sebenarnya masalah ini cukup berat mengingat berkaitan langsung dengan nama baik sekolah kita” kata Siwon menanggapi pertanyaan Hyukjae juga Donghae “Tapi seberat apapun kasus itu, mereka tak berhak untuk tidak mengikutsertakan dewan siswa dalam pengambilan keputusan, mereka sama sekali tak berhak untuk menangani langsung. Jika seperti itu, lalu untuk apa adanya dewan siswa di sekolah ini?” kata Siwon.

“Dunia benar-benar sempit. Aku tak mengira jika direktur sekolah kita, Nyonya Evelyn adalah sahabat Ibuku. Mereka bersahabat baik ketika masih bersekolah di sekolah ini” Hyukjae menggeleng “Aku benar-benar tak percaya ketika direktur mengatakan jika Ibu telah menitipkan Sam padanya sehingga masalah Sam cukup di tangani oleh guru. Meskipun seperti itu, seharusnya dewan siswa turut berperan tapi karena yang memintanya adalah direktur, apa yang bisa kita perbuat? Dan juga, aku rasa Sam akan semakin membenci Ibu mengingat orang-orang Ibuku berada di dekatnya, mengawasinya” gumam Hyukjae.***

Pukul sembilan malam, Siwon baru saja keluar dari dalam gedung sekolah. Di luar gedung, Edhy telah menanti—siap mengantar tuan muda itu kembali ke rumah. Mobil yang ditumpangi oleh Siwon segera meninggalkan area sekolah. Siwon hanya memandangi barisan pohon di sepanjang jalan menuju ke jalan utama. Pohon-pohon yang dihiasi oleh lampu-lampu kecil sehingga membuat pohon-pohon itu terang benderang, bercahaya dengan indah di sepanjang jalan akses sekolah elit tersebut.

Tuan muda yang satu ini memang sangat pendiam, hanya earphone yang setia menemaninya dalam perjalanan pulang. Mereka telah berada di jalan utama, kendaraan yang ramai lalu lampu-lampu pada pepohonan di sepanjang jalan juga lampu-lampu di setiap gedung yang berdiri membuat malam di kota itu terasa hangat. Tiba-tiba saja mata Siwon tertuju pada seorang gadis yang berjalan seorang diri di sepanjang trotoar yang cukup padat di lalui oleh para pejalan kaki.

“Sam?” gumam Siwon. Ia merasa heran melihat keberadaan Sam, juga semakin heran karena tak melihat sepeda yang selalu bersama Sam. “Tolong berhenti” kata Siwon. Edhy mengikuti perintah tuannya itu, setelah mengatakan sesuatu pada Edhy, mobil itupun akhirnya pergi meninggalkan Siwon.

Siwon segera mengikuti Sam. Ia berjalan beberapa meter di belakang Sam dan terus mengamati Sam yang sesekali merapatkan baju hangat yang dipakainya. Gadis itu berjalan dengan gontai, tak jarang ia bertabrakan dengan pejalan kaki lain. Tak berapa lama, Sam masuk ke dalam sebuah restaurant. Siwon memandangi papan nama restaurant tersebut, jelas-jelas itu adalah restaurant masakan korea. Siwon ikut masuk ke dalam restaurant itu, ia memilih tempat duduk yang tak jauh dari Sam sehingga dapat mengamati gadis itu. Ketika seorang pelayan menghampiri Siwon, pemuda itu hanya tersenyum lalu memesan air mineral—ia memang tidak terbiasa masuk ke restaurant pinggir jalan seperti itu.

Satu jam telah berlalu, Sam masih tak beranjak dari tempat duduknya. Tak ada makanan yang dipesannya. Di mejanya hanya ada beberapa botol minuman yang telah kosong, gadis itu hanya meminum soju (minuman beralkohol khas korea). Sudah hampir lima botol soju telah dihabiskan oleh Sam. Gadis itu sudah mulai terlihat mabuk. Siwon yang cemas melihat Sam yang terus minum, akhirnya menghampiri gadis itu.

“Sam” ia berdiri dihadapan Sam. Gadis itu mengangkat kepalanya, memandangi Siwon. Sam kembali tertidur. “Kau mabuk lagi” kata Siwon. Ia segera mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.

Siwon akhirnya membawa Sam keluar dari restaurant itu. Siwon menuntun dan membantu Sam yang telah sempoyongan, ia memegang erat tubuh Sam dan menopang gadis itu agar tak terjatuh. Kedua orang itu berjalan di sepanjang trotoar. Siwon berhenti sejenak ketika melewati taman, ia segera mendudukan Sam di sebuah bangku yang ada di taman tersebut. Pemuda itu lalu duduk di samping Sam.

“Kau benar-benar gemar mabuk” Siwon mulai kesal melihat Sam yang sungguh tak perduli dengan kesulitan yang sedang mereka alami “Bagaimana jika aku tak melihatmu tadi? Apa yang akan terjadi? Apa kau benar-benar bisa pulang dengan keadaan yang seperti ini? Lalu paman Lee” Siwon hanya menarik nafas panjang, ia tak dapat berbuat apa-apa selain memandangi Sam yang masih mabuk berat.

Tiba-tiba saja Sam memegangi kemeja Siwon dengan kedua tangannya. Siwon terkejut karena sejak awal Sam hanya diam dan tidur. Matanya yang sayu memandangi Siwon. Keterkejutan Siwon semakin hebat ketika gadis itu dengan kuat menarik kemeja Siwon dan ketika dengan tiba-tiba gadis itu mencium Siwon. Mata Siwon hanya terbuka lebar, ia masih sangat terkejut sehingga tak mampu berbuat apa-apa, hanya mematung saat bibir gadis itu menyentuh bibirnya. Sam mengakhiri ciuman itu, ia mengangkat wajahnya dan memandangi Siwon yang telah beku seperti patung.

“Kau—sangat berisik, tuan muda” kata Sam. Gadis itu kembali tak sadarkan diri, dengan cekatan Siwon meraih Sam kedalam pelukannya ketika gadis itu hampir saja terjatuh di rerumputan. Siwon masih terpaku karena belum bisa menghilangkan kekagetannya atas peristiwa yang baru lewat, ia hanya diam seribu bahasa sambil sesekali memandangi Sam yang tertidur pulas dalam pelukannya. Wajah tampannya yang mulus terlihat sedikit memerah.

~.o0o.~

Setelah sarapan pagi—Siwon, Hyukjae, Donghae dan Sam segera meninggalkan ruang makan. Mereka segera berjalan keluar dimana sopir telah menunggu untuk mengantar mereka ke sekolah. Sam berjalan lebih lama dibandingkan ketiga pemuda yang telah mendahuluinya lima menit yang lalu, semua karena Sam kembali ke kamarnya untuk mengambil laptop. Tak tahu dari mana dan sejak kapan, Siwon telah berjalan di sampingnya.

“Bukankah kau bersama dengan Hyukjae dan Donghae?” Sam terlihat heran melihat Siwon yang masih berada di rumah.

“Ada yang harus kuperiksa” kata Siwon. Sam mengamati sebuah map yang sedang di pegang Siwon.

Sepertinya itu sesuatu yang menyangkut dengan perusahaan keluarga Francaise. Siwon yang berada di posisi pewaris utama telah ikut andil dalam perusahaan, ia telah banyak belajar sejak kecil. Anak-anak keluarga Francaise telah mendapat private untuk mempersiapkan diri mereka dimasa mendatang baik tentang manajemen dan banyak hal lain yang menyangkut dengan Francaise group.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Siwon.

“Ada apa?” tanya Sam yang merasa heran dengan pertanyaan Siwon.

“Semalam kau mabuk berat” kata Siwon.

“Bagaimana kau tahu?” Sam tampak kaget.

“Kau tak ingat?” tanya Siwon. Sam hanya diam, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Aku bahkan tak tahu bagaimana caranya aku pulang. Hal terakhir yang ku ingat adalah restaurant itu—ternyata aku benar-benar mabuk berat” Sam berdecak, ia merasa bangga pada dirinya yang dirasa meskipun telah mabuk berat tetapi masih bisa mencapai rumah. Itu yang ada di kepala Sam. “Tapi, sepertinya ada sesuatu yang terlewatkan?” gumam Sam pelan, lagi-lagi ia berusaha untuk mengingat-ingat.

“Ternyata kau benar-benar lupa” Siwon tersenyum tipis sekali—senyuman yang hampir tak kelihatan, ia berjalan mendahului Sam. Ia merasa geli dan lucu melihat tingkah Sam “Dasar gadis aneh, padahal aku hampir tak bisa tidur memikirkan kejadian itu, berpikir apa yang harus kukatakan jika bertemu denganmu karena kupikir, aku akan seperti patung jika bertatap muka denganmu—tapi syukurlah, karena kau tak mengingat kejadian itu. Aku sangat lega” katanya dalam hati. Siwon tertawa tipis, ia sepertinya sedang menertawakan dirinya sendiri.

***

Bel yang berbunyi terdengar hampir di seluruh pelosok sekolah. Kantin, kafe, hall, perpustakaan, semua ruangan pelengkap untuk fasilitas sekolah juga koridor-koridor bahkan seluruh area sekolah mendadak sepi karena semua siswa telah berada di dalam kelas. Ini adalah hari pertama pelaksanaan ujian. Siswa-siswa tampak duduk dengan rapi dan sangat tenang. Mereka sama sekali tak berkutik, ketika guru pengawas memasuki kelas dan membagikan soal semua belum bergerak. Mereka mulai meraih soal yang ada di hadapan mereka ketika kembali bel berbunyi dan seluruh siswa dengan serentak mulai mengerjakan soal ujian.

Sunyi senyap dan suasana yang sangat mencekam, itulah yang sedang berlangsung di sekolah tersebut. Siswa-siswi hanya terfokus untuk mengerjakan soal masing-masing. Tak ada yang berani menengok kiri dan kanan atau bahkan bertanya pada teman di sebelah mereka. Seperti itulah yang terjadi hampir di semua kelas baik di tingkat terendah sampai tertinggi, termasuk juga di kelas Sam.

Ujian baru berlangsung kurang lebih tujuh menit ketika mendadak terdengar sebuah lagu yang mengalun dengan cukup keras di dalam kelas. Bunyi itu berasal dari ponsel Sam. Gadis itu segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku seragamnya. Sepertinya ia lupa mematikan ponsel.

“Bisakah kau non aktifkan ponsel itu?” guru pengawas memandangi Sam. Bukan hanya guru tapi seluruh siswa di kelas itu ikut memperhatikan Sam, bunyi ponsel telah membuyarkan konsentrasi mereka. Aline memberi kode agar Sam segera mematikan ponselnya.

“Bisakah aku menerima panggilan ini?” Sam balik bertanya membuat semua semakin memandanginya heran, baru kali ini ada siswa yang berani melakukan tawar menawar dengan pengawas saat ujian berlangsung “Ini panggilan yang sangat penting” Sam menambahkan penjelasannya. Sementara ponsel itu terus berbunyi berulang-ulang kali. Guru pengawas itu memandangi Sam cukup lama.

“Bisa saja tapi silahkan terima telepon di luar kelas” kata guru itu.

“Ah, terima kasih” Sam bernafas lega.

“Tapi, setelah itu harap jangan kembali ke dalam kelas lagi” kelegaan Sam sirna mendengar kelanjutan ucapan guru pengawas tersebut “Ada peraturan yang berlaku di sini. Kau bebas menerima telepon itu di luar kelas dan setelah itu sebaiknya jangan kembali ke kelas atau segera matikan ponsel itu dan lanjutkan ujiannya. Hanya itu pilihanmu, segera tetapkan pilihan karena suara ponsel telah mengganggu seluruh siswa di kelas ini” suara lantang sang guru mempertegas ucapannya. Sam terdiam sejenak, ia tampak berpikir.

“Baiklah, sepertinya tidak akan ada pilihan ketiga” kata Sam.

Ia segera keluar dari tempat duduknya. Siswa-siswi dan guru pengawas semakin terkejut melihat tindakan nekat Sam, begitu juga dengan Donghae dan Aline yang terpaku dan tak percaya melihat Sam yang berjalan keluar dari kelas. Semua saling melempar pandang dengan ekspresi masing-masing, ada yang hanya menggeleng melihat tingkah Sam. Pertama kalinya kejadian itu terjadi dalam sejarah berdirinya sekolah mereka.

Sementara itu, di luar kelas Sam terlihat sibuk bercerita dengan seseorang yang sedang menelponnya. Raut wajahnya tampak sangat serius.

“Hanya lima bulan lagi. Jangan katakan apapun, akan ku persiapkan semuanya” kata Sam mengakhiri pembicaraan panjang yang telah berlangsung kurang lebih lima belas menit. Ia tampak menarik nafas panjang, kepalanya sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Telepon itu tampaknya bukan membawa kabar yang menyenangkan.

~.o0o.~

 

Tak terasa sudah hari terakhir pelaksanaan ujian. Semua siswa sangat khidmat mengikuti ujian. Hanya saja ada satu hal yang selama ujian begitu menarik perhatian dan langsung menjadi bahan pembicaraan seluruh siswa. Satu-satunya yang pernah terjadi sepanjang sejarah berdirinya sekolah terkenal itu.

Semua siswa yang berkumpul ditiap-tiap tempat diseluruh pelosok sekolah selalu membicarakan hal tersebut. Di perpustakaan Siwon, Donghae dan Hyukjae sedang duduk di sebuah tempat—mereka terlihat begitu serius membicarakan sesuatu.

“Syukurlah, hari-hari menegangkan berakhir juga” Hyukjae menarik nafas lega.

Siwon yang membaca hanya sesekali melirik dan tersenyum sangat tipis mendengar keluh kesah yang tak henti-hentinya keluar dari mulut Hyukjae. Terasa lucu mendengar keluhan yang keluar dari seorang yang termasuk jenius seperti Hyukjae, ya tapi begitulah Hyukjae. Padahal Donghae dan Siwon tahu jika Hyukjae sangat mampu menyelesaikan soal-soal itu tapi entah setan apa yang telah merasukinya sehingga membuatnya berlagak seperti orang bodoh.

“Akhir-akhir ini sepertinya ada fenomena baru di sekolah kita” gumam Siwon.

“Ah ya, kalian mendengarnya jugakan?” ujar Donghae “Akhirnya kalian percaya, aku tak mungkin berbohong. Lagipula hampir semua orang membicarakan hal itu”

“Tapi… mengapa Sam bisa seperti itu?” Hyukjae menerawang.

“Entahlah” jawab Donghae, ia hanya menggeleng “Di hari pertama Sam lebih memilih menerima telepon dan meninggalkan kelas di menit ketujuh berlangsungnya ujian. Kalian tahukan peraturan apa yang ada di sekolah ini? Semua siswa di kelasku terperangah, bahkan ada yang tersedak mendengar jawaban enteng Sam dan langsung meninggalkan kelas. Apa benar-benar ada sesuatu yang lebih penting daripada ujian?” kata Donghae.

Rupanya perilaku ajaib Sam yang merupakan sesuatu yang sangat mustahil bagi siswa-siswi lainnya telah membuat Sam diperbincangkan.

“Mungkinkah sesuatu yang buruk telah terjadi?” Siwon menatap Hyukjae.

Hyukjae hanya menggeleng karena merasa tak ada sesuatu yang sedang terjadi terhadap keluarga mereka.

“Lalu berturut-turut selama masa ujian Sam terus bertingkah aneh. Sepertinya sehabis menerima telepon itu sikapnya mendadak berubah. Aku sangat penasaran sebenarnya apa yang dia dengar sehingga membuatnya jadi malas tahu seperti itu” gumam Donghae “Sam tak pernah bertahan lebih dari sepuluh menit di dalam kelas. Ponselnya selalu berbunyi dan dengan segera ia meninggalkan kelas. Jika tidak seperti itu, justru dia yang keluar dari kelas dengan alasan ingin menghubungi seseorang. Hanya di hari keempat Sam bertahan dalam kelas tapi selang beberapa menit dia justru telah tertidur nyenyak di meja belajarnya. Kalian juga tahukan, pengawas tak akan menegur kecuali saat kau menengok atau mengobrol dengan teman di sebelahmu” Donghae terus menjelaskan hal-hal ganjil yang baru-baru ini menggemparkan sekolah.

“Kurang dari sepuluh menit? Kau tak sedang mengada-ada?” tanya Siwon yang meragukan perkataan Donghae “Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan detik bahkan menit dengan begitu yakin? Apa setiap kali Sam bergerak kau langsung melihat pada jam dan mencatatnya?” tanya Siwon yang merasa aneh.

“Aku tak bohong. Bukan hanya aku, hampir seluruh siswa melakukan hal itu. Setiap kali melihat gerak-gerik aneh Sam maka secara spontan kami akan melirik pada jam dinding—bahkan guru pengawas melakukan hal yang sama” kata Donghae. Ia kesal dengan tudingan Siwon “Lalu hari ini, hari terakhir ujian. Sam tiba-tiba saja mengatakan dia ingin ke toilet. Waktunya memecahkan rekor, lima menit setelah bel berbunyi. Bahkan ada murid yang baru saja selesai mengisi identitas diri ketika Sam berlari-lari keluar kelas karena ingin ke toilet dan tak pernah kembali lagi” Donghae hanya menggeleng-geleng heran.

“Siswa yang gagal memang diijinkan untuk mengikuti perbaikan tapi itu jarang terjadi. Perbaikan sama halnya dengan aib bagi siswa-siswi di sini” kata Siwon “Kau yakin tak tahu penyebab pasti sikap Sam yang seperti itu?” Siwon memandangi Hyukjae. Pemuda itu kembali terdiam dan memikirkan sesuatu.

“Aku tidak yakin. Mungkin saja yang dikatakan Donghae benar” ujar Hyukjae “Seminggu ini Sam memang terlihat sangat aneh. Dia bahkan jarang keluar dari kamar. Setiap kali bertemu dengannya, Sam sedang menerima telepon lalu dia akan sibuk dengan laptopnya sampai pagi, aku sering memergokinya seperti itu. Entah apa yang dilakukan anak itu? Dia lebih memilih mempermalukan dirinya sendiri untuk mengikuti perbaikan” Hyukjae bertanya-tanya, ia sangat khawatir dengan tingkah aneh adiknya itu.

~.o0o.~

Lalu lalang siswa tak menghentikan Sam yang sedang membenamkan diri pada laptop yang ada di hadapannya. Sudah dua minggu ini Sam selalu terlihat sibuk. Tatapan aneh siswa-siswi yang kebetulan berada di dalam kafe, mereka terus menatapnya dan memperbincangkan perbuatannya yang sangat tak terduga selama ujian.

“Sam” Hyukjae sudah berada di dekatnya. Ia segera duduk di hadapan gadis itu. “Apa ini?” Hyukjae yang penasaran langsung menarik laptop Sam. Ia menatap pada layar monitor.

“Kembalikan. Aku sedang sibuk” kata Sam lalu merampas kembali laptopnya dari tangan Hyukjae.

“Dua minggu kau terlihat sibuk bukan karena hal inikan?” tatapan Hyukjae yang tak yakin dan berharap jika Sam akan memberikan jawaban lain.

“Ada apa?” Sam balik bertanya dengan heran “Sudah tujuh bulan aku tak bertemu dengan sahabat-sahabatku” jawab Sam.

“Kau setiap hari dengan laptop bahkan sampai dini hari hanya karena chatting?” tanya Hyukjae. Gadis itu menatap lugu pada Hyukjae, tatapan yang sedang mengatakan bahwa apa yang Hyukjae tanyakan adalah benar “Bahkan ujian—kau meninggalkan ujian bukan karena chatting dan juga teman-teman yang kau sebutkan itukan?” Hyukjae menggeleng tak percaya.

“Memang benar” jawab Sam santai “Tapi ini percakapan yang benar-benar penting” katanya lagi.

“Memangnya apa lagi yang lebih penting bagi seorang siswa Lycée Louis-le-Grand dibandingkan ujian? Ayolah Sam, kau masih punya muka untuk mengikuti perbaikan?” Hyukjae tertawa kesal.

“Cerewet” dengus Sam. Ia terus saja melanjutkan aktivitasnya “Aku benar-benar sedang mengerjakan sesuatu—untuk sementara jangan ganggu aku” kata Sam.

“Baiklah nona super sibuk” canda Hyukjae “Oh ya, beberapa hari lagi libur sekolah. Kau mau ikut bersama kami?” tanya Hyukjae.

“Kemana?”

“Villa” jawab Hyukjae “Mengingat Siwon dan Donghae bisa menikmati liburan kali ini, kami berencana untuk berlibur di villa keluarga Francaise. Sudah hampir lima tahun kami tak liburan bersama karena selalu berbenturan dengan jadwal Siwon dan Donghae. Bagaimana, kau ikut?”

“Kehadiranku sangat berarti?” Sam tersenyum penuh canda menanggapi pertanyaan Hyukjae.

“Tentu saja” Hyukjae mengacak-acak rambut Sam, ia tertawa. Mereka tak sadar jika keakraban mereka telah menarik perhatian siswa-siswi yang berada di situ. “Dan lagi—apa kau tak merasa aneh jika seorang diri bersama dengan tiga orang pemuda tampan seperti kami?” tanya Hyukjae sambil membusungkan dadanya.

“Apa maksudmu?” Sam mencibir.

“Bukankah wanita selalu butuh teman bicara? Mungkin terasa canggung jika bercakap-cakap dengan kami. Kau bisa mengajak temanmu bersama ke villa—jika kau benar-benar membutuhkan itu” kata Hyukjae sedikit ragu “Aku berkata begini karena khawatir padamu Sam” kilah Hyukjae melihat tatapan Sam yang terus tertanam padanya. Sam hanya tertawa tanpa suara sambil mengangguk-angguk, sepertinya ia telah menangkap maksud dari semua perkataan Hyukjae.

“Jangan katakan ini demi aku” Sam tersenyum menggoda Hyukjae membuat pemuda itu sedikit salah tingkah.

“Aku pergi dulu” kata Hyukjae yang akhirnya menyerah pada godaan-godaan Sam. Ia segera meninggalkan Sam.

***

“Hyukjae”

Hyukjae menoleh pada Donghae yang baru saja memanggil namanya. Ia bersama Siwon sedang berjalan menghampiri Hyukjae.

“Darimana saja?” tanya Siwon.

“Menemui Sam. Aku mengajaknya ke villa” kata Hyukjae. Donghae dan Siwon secara bersamaan menatap Hyukjae “Aku rasa, dia tak keberatan” jawab Hyukjae yang sepertinya tahu jika tatapan kedua orang itu sedang mengharapkan kelanjutan ucapan Hyukjae.

“Kau benar-benar ingin mengajak Sam?” tanya Siwon.

“Maksudmu?” Hyukjae menatap Siwon, tak mengerti apa yang sedang ditanyakan oleh Siwon.

“Mungkinkah tak ada motif tersembunyi?” goda Donghae.

“Hei, Sam itu adikku jadi tentu saja aku harus mengajaknya” Hyukjae tertawa mendengar penuturan kedua orang itu.

Siwon dan Donghae dapat membaca isi hati Hyukjae. Ketiga siswa paling fenomenal di sekolah itu hanya tertawa sambil sesekali melempar gurauan. Di sepanjang koridor yang mereka lewati, selalu saja diikuti oleh tatapan-tatapan penuh kekaguman melihat ketiga orang itu.

“Kalian tak merasakannya?” tanya Donghae.

“Ada apa?”

“Tatapan-tatapan itu” jawab Donghae.

“Kau seperti baru mengalaminya” dengus Hyukjae.

“Tidak. Kali ini terasa lain” kilah Donghae “Tatapan-tatapan itu berbeda dari biasanya. Mereka memang selalu memandangi kita tapi entah kenapa kali ini ada sesuatu dari balik pandangan-pandangan itu—rasanya seperti sedang mengarah padaku”

“Benarkah?” tanya Siwon “Aku juga merasa seperti itu. Kau tak sedang membuat sesuatu?” tanya Siwon lagi. Donghae hanya menggeleng.

Benar, tatapan-tatapan siswa-siswi yang berpapasan dengan mereka terasa sedikit berbeda. Dibalik kekaguman sepertinya tersimpan bisik-bisik aneh yang ditujukan pada Donghae. Donghae semakin terganggu karena hal itu.

“Ah ya, aku baru ingat. Hari ini nilai hasil ujian diumumkan” kata Siwon. “Kalian sudah melihatnya?” tanya Siwon. Hyukjae dan Donghae hanya menggeleng.

“Pantas saja semua orang yang aku jumpai tadi hanya sibuk dengan laptop mereka” kata Hyukjae.

Mereka lalu masuk ke dalam sebuah ruangan. Donghae segera mengeluarkan laptop dari dalam tas. Dengan lincah tangannya mengetik alamat website sekolah mereka. Pengumuman hasil ujian dapat mereka lihat melalui website sekolah. Sebuah e-mail langsung masuk ke kotak mail Donghae.

“Sepertinya e-mail pemberitahuan” kata Donghae.

Seperti biasanya, setiap siswa menerima e-mail dari sekolah mengenai nilai dan peringkat yang mereka peroleh. Donghae segera membuka isi surat itu. Alangkah terkejutnya Donghae begitu juga dengan Siwon dan Hyukjae ketika melihat isi pemberitahuan yang ada di layar laptop itu.

“Peringkat—dua?” Siwon bergumam heran.

Mereka saling memandang. Pertama kali dalam hidupnya, Donghae berada di posisi kedua. Selama ini tak ada yang dapat melengserkan posisi Donghae yang jenius itu.

“Apa e-mail ini tidak keliru?” Siwon menatap Donghae yang juga masih terpaku.

“Apa yang terjadi, mengapa nilaimu turun?” Hyukjae merasa aneh melihat angka 99,98 di layar tersebut. Selama ini Donghae selalu memperoleh angka sempurna “Mungkinkah ada yang salah dengan dirimu, Donghae?”

“Aku tak tahu” jawab Donghae secepatnya, ia masih bingung “Mungkin ada yang terlewatkan ketika menyelesaikan soal-soal itu”

“Sepertinya kau benar-benar memberikan kesempatan pada Jeaneth untuk berada di posisi pertama” kata Siwon. Jeaneth selalu di urutan kedua di tingkat mereka (kelas XI) “Aku mengerti arti tatapan-tatapan tadi” Siwon bergumam pelan.

“Sudahlah. Ini bukan perkara besar, aku hanya sedikit terkejut” kata Donghae “Mari kita lihat keseluruhannya” kata Donghae.

Ia kembali sibuk dengan laptop itu dan membuka halaman yang mereka tuju. Mata ketiga pemuda itu kembali terbuka dengan lebar. Mata yang semakin membelalak menatap lekat-lekat pada laptop.

***

“Kau bisa menjelaskan ini?”

Aline tiba-tiba telah berdiri di hadapan Sam yang masih sibuk dengan laptopnya, ia belum juga beranjak dari kafe. Aline segera meletakan laptop yang dipegangnya di hadapan Sam.

“Ada apa?” tanya Sam yang kebingungan.

“Kau—diurutan pertama?” Aline menatap Sam. Sam lalu menatap layar laptop itu.

“Lalu?” tanya Sam dengan begitu polos.

Oh God. Apa-apaan pertanyaan itu?” Aline memandang heran pada Sam yang segera membalas pembicaraan yang sempat terputus dengan teman chattingnya. “Apakah kau alien? Jantungku mendadak terasa hilang melihat pengumuman ini” kata Aline, wajahnya benar-benar masih syok.

“Sstt…” Sam menatap kesal pada Aline “Jangan tanyakan apapun karena aku tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu. Aku sedang sibuk. Jangan lakukan hal yang sia-sia” Sam memperingati Aline untuk diam.

Aline segera menarik kursi dengan kesal dan langsung duduk di hadapan Sam. Ia hanya memandangi Sam, mencoba menjawab sendiri pertanyaan yang ingin dilontarkan. Sesekali ini mendengus kesal karena Sam yang sama sekali tak memperdulikan keberadaan Aline.

Sementara itu…

Siwon, Hyukjae dan Donghae masih diam mematung. Mereka belum berkutik sejak mengetahui nama ‘Samantha’ berada diurutan pertama peringkat diseluruh kelas XI dengan nilai sempurna. Wajah ketiga pemuda itu terlihat sangat syok bahkan sisa-sisa keterkejutan masih tampak jelas di sana. Mereka masih tak bergerak, seperti baru saja mengalami kejut jantung bagi orang-orang yang sedang sekarat.

“Tu, tunggu dulu” lidah Donghae terasa kaku.

“Apa tidak ada yang salah?” Siwon bergumam pelan.

“Bagaimana bisa?” Hyukjae seperti tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.

“Donghae, benarkah semua yang kau katakan tentang Sam? kurang lebih sepuluh menit itu?” Siwon menatapi Donghae, tiba-tiba saja keraguan muncul di hatinya ketika mengingat cerita Donghae mengenai Sam sewaktu ujian lalu dibandingkan dengan hasil yang sedang mereka lihat bersama.

“Itu, itu yang tak kumengerti” Donghae menggeleng pelan “Bagaimana mungkin Sam melakukannya? Semua yang aku katakan tidak ada yang meleset, kalian bisa menanyakan pada yang lain bahkan jika masih tak percaya, tanyakan saja pada pengawas”

“Sam” Hyukjae mendesah pelan.

“Saat ujian Sam selalu keluar dari kelas kurang dari sepuluh menit, jika tidak, dia akan tertidur di kelas ujian. Lalu tiba-tiba Sam bisa berada di posisi pertama. Apa kalian bisa mempercayai itu? Melihat pengumuman ini seperti tak masuk ke dalam otakku. Tak salahkah mereka?” Donghae seperti seorang yang ling lung.

“Bagaimana bisa dia melakukannya?” Siwon ikut bertanya “Dipikirkan bagaimanapun, sepertinya itu sangat tidak mungkin. Hyukjae?” Siwon mulai khawatir melihat Hyukjae yang diam lalu tiba-tiba memegang kepalanya.

“Kau tak apa-apa?” tanya Donghae. Ia ikut panik melihat raut wajah Hyukjae yang juga turut berubah, tangannya mencengkeram erat rambut di kepalanya.

Sesekali Hyukjae menggeleng tak jelas, dahinya juga tampak berkerut ia sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang berat—atau lebih tepatnya berusaha untuk mengingat sesuatu.

“Hyukjae!” Donghae menyentuh pundak Hyukjae, ia tersentak.

“Apa yang aku pikirkan?” Hyukjae bertanya pada dirinya sendiri “Rasanya ada sesuatu yang terjadi. Aku merasakannya tapi tak mampu mengingatnya, semuanya sangat gelap. Aku seperti kehilangan sebagian memori” Hyukjae bergumam pelan. Donghae dan Siwon yang saling pandang terlihat bingung.

“Aku tak tahu apa itu sangat penting tapi biarlah saja. Mungkin, suatu saat kau dapat mengingatnya kembali” kata Siwon “Aku hanya tak habis pikir tentang Sam”

“Sekolah kita sangat ketat, apa yang kita lihat ini—tidak mungkin salah” kata Donghae.

“Iya, tapi itulah yang membuatku tak habis pikir. Apa kau bisa menerima itu?” tanya Siwon “Kemungkinannya, Sam juga sama seperti Hyukjae” kata Siwon.

“Apa yang kau maksudkan?” tanya Hyukjae.

“Berpikirlah, apa mungkin itu bisa dilakukan oleh orang biasa? Dengan kata lain, Sam itu—jenius” kata Siwon akhirnya.

“Aku cukup tahu dan mengerti seperti apa Sam. Sikapnya yang suka memberontak, sangat berbeda dengan kebanyakan gadis juga benar-benar sulit diterima dengan akal sehat tapi—aku masih tak yakin dengan kata jenius yang kau sebutkan itu” kata Donghae.

“Lalu menurutmu itu pekerjaan siapa?” Siwon balik bertanya pada Donghae.

“Hyukjae, apa kau yakin gadis yang selama ini kita kenal sebagai Sam adalah Sam yang sesungguhnya?” Donghae menatap Hyukjae.

“Mengapa?” tanya Hyukjae bingung.

“Entahlah tapi tiba-tiba saja aku tak percaya dia itu manusia seutuhnya”

“Jangan bercanda. Sam itu adikku, dan aku tahu tentang dia—meskipun tak begitu mengenalnya dengan baik, tapi aku tahu itu adalah Sam yang sama dengan Sam dua belas tahun yang lalu” Hyukjae memandangi Donghae dengan kesal karena meragukan Sam “Dan perasaanku tak pernah salah”

“Aku tidak punya pendapat lain” kata Siwon “Sam memiliki otak yang jenius—sama halnya dengan kau dan juga Hyukjae”

“Baiklah jika memang seperti itu” kata Donghae akhirnya mengakui kesimpulan yang diambil oleh Siwon “Pernahkah terpikirkan jika dia benar-benar mengerjakan soal itu hanya dalam waktu yang begitu singkat lalu berhasil dengan nilai sempurna. Lalu tipe jenius seperti itu berada ditingkat mana? Sejenius apa orang yang mampu melakukan hal seperti itu?” Kata Donghae, dirinya termasuk dalam kelompok yang memiliki otak cemerlang tapi baginya hal yang dilakukan oleh Sam itu terasa sulit mengingat banyaknya jumlah soal ujian yang diberikan untuk masing-masing mata pelajaran.

Donghae memandangi Siwon dan Hyukjae yang kembali terdiam, mereka ikut memikirkan apa yang baru saja Donghae katakan.

“Aku tak tahu” Siwon akhirnya menyerah.

“Seperti Da Vinci?” kata Hyukjae, ia berusaha menebak.

“IQ setingkat itu pasti mampu melakukannya. Sekalipun mampu menjawab semua soal dengan waktu yang sangat singkat, tidak mungkin dapat menyalinnya dalam kertas ujian dalam hitungan menit jika tak memiliki kecepatan gerak yang cukup tinggi dan aku masih belum bisa mempercayai semua ini. Kalau memang benar, aku tak bisa percaya jika Sam mampu mengoptimalkan fungsi otak sejalan dan secepat geraknya” kata Donghae “Juga—sepertinya aku menjadi semakin takut dengan Sam. Entah apa lagi yang dia sembunyikan. Sejak kedatangannya, jantungku tidak pernah bekerja dengan baik dan normal. Tiba-tiba saja aku khawatir akan lebih cepat mati dari umur yang ditentukan karena gadis itu” Donghae bergidik ngeri memikirkan semua hal tentang Sam yang sangat misterius itu.

~.o0o.~

Dua buah mobil mewah berjalan beriringan. Kedua mobil itu melaju pesat di sepanjang jalan yang berliku-liku, melewati baris-baris pepohonan.

“Sam, jangan coba-coba untuk mendahului mereka” kata Aline. Ia memandangi Sam yang sedang mengemudikan mobil yang ditumpangi oleh kedua gadis itu. “Jika kau tahu dimana letak villa yang sedang kita tuju, aku tak keberatan” katanya lagi mencoba mengingatkan Sam yang sepertinya sangat bernafsu untuk melewati mobil yang hanya berjarak beberapa meter di depan mereka.

“Aku tak tahan lagi—lihatlah, kita seperti dua ekor kura-kura yang merangkak menuju pantai” kata Sam. Aline semakin bergidik, saat ini mereka berada pada kecepatan 80 km/jam tapi Sam masih mengatakan mereka berjalan seperti kura-kura. Ketakutan semakin menggerogoti Aline jika membayangkan kecepatan seperti apa yang diinginkan oleh Sam.

“Sam. Jangan mendahului mereka karena aku tak mau kita tersesat” Aline memandangi pepohonan yang cukup lebat disisi jalan “Dan lagi—aku belum ingin mati!” ia melanjutkan ucapannya. Sam memandangi Aline yang wajahnya mulai pucat.

“Akupun tak ingin berurusan dengan keluarga terkemuka karena mencelakai anggota keluarga mereka” kata Sam sambil tersenyum “Mobil ini sangat keren, beruntung kau pemiliknya” kata gadis itu lagi.

“Hadiah dari Ayahku ketika aku terdaftar sebagai siswa di SMA Lycée Louis-le-Grand. Aku sama sekali tak berniat mengendarai mobil sendiri” kata Aline “Kalau kau tak mengajakku ke villa, mobil ini mungkin selamanya akan membusuk di garasi”

“Jadi ini benar-benar belum pernah digunakan?” Sam memandangi Aline, ia tak percaya mobil sebagus itu hanya dibiarkan menganggur “Ah aku mengerti” kata Sam berdecak “Aku tak mengira akan berada ditengah lingkungan yang seperti ini” Sam hanya menggeleng sambil terus mengemudi mobil tersebut. Sejak kedatangannya ke kota itu, Sam dapat merasakan gaya hidup kalangan atas yang begitu gemerlap dan glamor.

Kedua mobil mewah itu mulai melambat ketika memasuki sebuah kawasan yang cukup terawat dengan baik dan akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai. Siwon, Donghae dan Hyukjae terlihat turun dari mobil sementara itu Aline dan Sam yang berada di belakang mereka juga turun dari mobil yang mereka tumpangi. Mereka memandangi bangunan cantik bergaya modern itu, ada beberapa bangunan yang terpisah dari bangunan utama. Lingkungan yang hijau dengan pepohonan membuat villa itu terasa sangat nyaman dan sejuk, juga ada danau yang tak begitu jauh dari villa tersebut.

“Sangat indah” Aline terkesima memandangi pemandangan yang disuguhkan pada mereka. “Villa yang sungguh luas”

Kelima anak muda itu langsung memasuki ruang utama villa. Sam dan Aline yang memang baru pertama kali ke tempat itu cukup terkagum-kagum memandangi interior design villa juga perabot-perabot di dalamnya.

“Ada sepuluh kamar di bangunan utama villa ini. Silahkan pilih sesuka kalian” kata Siwon yang sebenarnya hanya ditujukan pada Sam dan Aline karena ia dan Donghae serta Hyukjae sudah memiliki kamar masing-masing yang selalu ditempati ketika menginap di villa.

***

Aline terlihat sibuk merapikan isi kopernya. Gadis itu lalu duduk di sofa yang ada di kamar tersebut, matanya menari-nari merayapi seluruh isi kamar. Kamar itu sangat luas dan tertata dengan begitu rapi.

“Ini pertama kalinya aku jauh dari keluargaku” kata Aline. Ia memandangi Sam yang sedang membaca di atas tempat tidur.

“Kau.. masih banyak kamar kosong” Sam menatap Aline dengan kesal, pasalnya, gadis itu lebih memilih sekamar dengan Sam.

“Kalau harus tidur sendirian, sama saja ketika aku di rumah” kata Aline “Lagipula sangat menyenangkan jika kita bisa tidur di kamar yang sama—berbicang-bincang sampai larut malam. Aku benar-benar menantikannya” Mata Aline yang berbinar-binar membuat Sam semakin tak tega untuk mengusir gadis itu, sepertinya ini memang baru pertama kalinya bagi seorang tuan putri seperti Aline.

~.o0o.~

 

Matahari masih bersinar dengan setia tapi panasnya tak akan menyakiti siapapun karena udara di daerah pegunungan terasa begitu sejuk. Aline dan Sam sedang menyusuri dermaga kecil yang terbuat dari kayu berkualitas. Dermaga itu membawa Sam dan Aline yang semula berada di pinggiran danau hingga lebih jauh ke tengah danau. Dari wajah kedua gadis itu tampak jelas bahwa mereka sangat mengagumi danau yang terbentang luas itu, dengan airnya yang hijau sehijau pepohonan di pegunungan sekitar villa tempat mereka berlibur.

“Indah sekali” gumam Aline memandangi hamparan danau di hadapan mereka. Ia beralih memandangi Sam yang tampaknya telah siap dengan pakaian renangnya.

“Kau yakin tak ingin melakukannya?” tanya Sam yang sepertinya menyayangkan keputusan Aline “Ini kesempatan yang sangat jarang terjadi” lanjut Sam lagi.

“Aku akan menemanimu dari sini” Aline tersenyum tipis.

“Baiklah, tak ada yang bisa memaksamu” ujar Sam. Tanpa menunggu lama, gadis itu langsung melompat, menceburkan diri ke dalam hijaunya air danau yang sedang menantinya. Beberapa saat kemudian Sam muncul dari dalam air “Airnya dingin—sangat menyegarkan!” katanya kepada Aline yang hanya duduk dipinggiran dermaga dan terus mengawasi Sam yang terus berenang kesana-kemari. Sesekali Aline tertawa geli melihat tingkah Sam yang tampak konyol. Tak jarang Sam memukul permukaan danau sekeras-kerasnya sehingga cipratan air membasahi Aline. Kedua gadis itu tak henti-hentinya tertawa riang.

Donghae, Siwon dan Hyukjae terlihat sedang mengarah pada Aline yang duduk di ujung dermaga yang berbentuk mirip huruf ‘E’ jika tak memiliki kaki. Ketiga pemuda itu  membawa perlengkapan untuk memancing ikan. Mereka hanya memandangi Sam yang terus berusaha untuk membasahi seluruh tubuh Aline.

“Mereka terlihat sangat bahagia” ujar Donghae, matanya mengawasi Sam dan Aline. Ia berhenti di tempat yang menurutnya aman dari gangguan Sam.

Hyukjae dan Siwonpun memilih tempat yang tak jauh dari Donghae. Tak berapa lama ketiga pemuda itu telah melemparkan kail mereka ke dalam danau. Tiga puluh menit berlalu namun tak satupun ikan yang tertangkap oleh ketiga pemuda itu “Sial, kemana perginya ikan-ikan ini?” gerutu Donghae.

“Yang paling diperlukan dalam memancing adalah kesabaran” kata Siwon sambil manarik tali senar pancingannya yang tegang, sepertinya sudah ada ikan yang menelan umpannya. Tak berapa lama kemudian, ia mengeluarkan ikan yang berukuran lumayan besar dari dalam air danau “Hasilnya juga akan baik” katanya sambil tersenyum menatap Donghae dan Hyukjae.

“Hei Sam!” teriak Donghae, Sam yang belum beranjak dari danau langsung menoleh pada Donghae “Bisakah kau tidak bermain di sekitar sini? Lihat, semua ikan ketakutan dan tak ada yang berani ke sini” keluh Donghae.

“Kau berbicara tentang siapa?” balas Sam kesal “Melihat wajah yang seperti itu, semua juga pasti akan takut” gerutu Sam pelan. Raut wajah Donghae memang terlihat tegang dan geram karena belum satupun umpannya disambar ikan.

“Aku tidak berbakat dalam memancing ikan” kata Hyukjae yang langsung berdiri. Ia mengalami nasib yang sama dengan Donghae, sementara itu Siwon sedang sibuk mengeluarkan ikan kedua yang berhasil dipancingnya dari danau. Siwon dan Donghae hanya menoleh sekilas pada Hyukjae yang berlalu.

Hyukjae berjalan perlahan menghampiri Aline yang sedang duduk di pinggiran dermaga. Ia lalu duduk di samping Aline. Aline terkejut mendapati Hyukjae yang berada di sampingnya, ia kembali salah tingkah melihat Hyukjae yang tersenyum padanya.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Hyukjae yang sepertinya terus memperhatikan Aline yang hanya mengkhayal.

“Apa?” tanya Aline lagi, wajahnya tampak bingung. Hyukjae tertawa melihat ekspresi Aline membuat gadis itu semakin kebingungan.

“Sudahlah, jangan dipikirkan. Sepertinya aku benar-benar mengganggu lamunanmu itu” Hyukjae tersenyum.

“Tidak. Aku hanya sedang menikmati udara di sini” kata Aline, ia menghirup udara dalam-dalam “Sejuk” katanya lagi.

“Dimana Sam?” Hyukjae memandangi permukaan danau yang tenang tanpa Sam.

“Ah—aku juga tak menyadari jika Sam tidak ada di sini” Aline tampak celigukan mencari sosok Sam “Tak apakah dia?” ia mulai cemas.

“Jangan khawatirkan Sam” kata Hyukjae. Baginya tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang Sam “Dia pasti tak jauh dari sini”

“Ah, ya” Aline mengangguk pelan. Ia sempat lupa jika Sam bukan gadis sembarangan. Beberapa saat lamanya Aline dan Hyukjae hanya terdiam.

“Kau…” Kata Aline dan Hyukjae bersama-sama. Mereka saling memandang lalu tertawa.

“Kau yang duluan” kata Hyukjae mempersilahkan Aline untuk berbicara lebih dulu.

“Tidak” kata Aline tersipu “Kau saja” katanya lagi.

Lady first” Hyukjae menatap Aline, meminta gadis itu untuk lebih dahulu mengatakan apa yang ingin disampaikannya. “Baiklah” pemuda itu tertawa melihat Aline menggeleng pelan sambil tersenyum “Bagaimana dengan orang misterius itu? Itu—minuman kaleng” katanya lagi melihat Aline yang tampaknya tak mengerti.

“Ah, orang itu?” gumamnya, Hyukjae mengangguk pelan.

“Kau sudah bertemu dengannya?” tanya Hyukjae. Aline hanya menggeleng kepalanya pelan “Jadi dia belum juga menemuimu?” tanya Hyukjae lagi, nadanya sedikit berubah.

“Tidak. Aku tak tahu” kata Aline, ia memandangi Hyukjae “Jangan-jangan, kau sudah tahu siapa orang itu?” Hyukjae hanya diam memandangi bola mata Aline yang tampak lugu.

“Ah—seharusnya waktu itu langsung saja kukatakan padamu” keluh Hyukjae.

“Benarkah kau tahu?”Mata Aline terlihat berbinar-binar.

“Orang yang selalu meletakan minuman kaleng itu di tempat dudukmu, orang itu—sepertinya sangat mengagumimu” kata Hyukjae, ia menatap Aline “Awalnya hanya kebetulan mendengarkan kau bermain biola. Saat itu yang didengarnya adalah lagu yang selalu kau mainkan ketika mengakhiri latihan. Lagu itu mengingatkannya pada seseorang. Lalu setiap harinya selalu menanti lagu itu dari biolamu. Minuman itu hanyalah sebagai tanda terima kasih karena sudah mengingatkan kembali kenangan-kenangan yang hampir hilang. Awalnya hanya seperti itu tapi entah kenapa dan sejak kapan, bukan hanya mendengarkan alunan biola itu—dia bahkan memperhatikanmu. Tak cukup melihatmu di ruang musik, selalu mengamatimu dimanapun kau berada. Seperti menjadi kebiasaan, jika tak melihatmu maka serasa ada yang kurang. Lalu, diam-diam menyukaimu” Hyukjae menatap lembut pada Aline yang menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Hyukjae.

Raut wajah Aline tampak berubah, ia tertegun mendengar penuturan Hyukjae.

“Kau benar-benar mengetahuinya?” tanya Aline, Hyukjae mengangguk “Bagaimana kau tahu?”

“Jangan lupa jika ruang musik adalah tempatku juga. Sejak kau mengatakan kejadian itu, diam-diam aku mengamatinya” kata Hyukjae, ia tak jera-jera mengelabui Aline. “Dan tentu saja dia menceritakan semuanya padaku” kata Hyukjae dengan tawa yang terdengar agak canggung karena mata Aline yang terlihat tak sepenuhnya mempercayai semua perkataannya.

“Bisakah kau katakan, siapa orang itu?” tanya Aline. Aline tampak kecewa melihat Hyukjae menggeleng pelan “Kenapa?” tanya gadis itu.

“Dia sendiri yang akan menyampaikannya padamu” ucap Hyukjae. Ia memandangi wajah Aline “Waah—kupikir kau sudah mengetahuinya. Ternyata dia belum mengatakan apapun padamu, mungkin belum waktunya kau tahu” Hyukjae mengerlingkan mata.

“Kalau saja—kau bisa mengatakannya padaku” Aline bergumam pelan.

“Selain itu, sebenarnya—bagiku, kau…” Hyukjae bergumam pelan. Ia terdiam cukup lama, lalu menoleh pada Aline yang terus menatapnya dengan bola matanya yang polos itu “Aku—aku…” kata-kata yang ingin diucapkan Hyukjae seperti tertahan di tenggorokannya.

“Aku?” ulang Aline, dahinya tampak berkerut. Kedua orang itu begitu serius, sehingga tak menyadari jika dibawah mereka, Sam sedang berenang dengan perlahan-lahan mendekati kedua orang itu. “Ada apa?” tanya Aline yang semakin penasaran melihat raut Hyukjae. Hyukjae kembali menatapi Aline, ia menarik nafas panjang seperti sedang membulatkan tekadnya.

“Sebenarnya—bagiku, kau adalah..”

Perkataan Hyukjae belum selesai diucapkan ketika Sam yang telah berada tepat di bawah mereka dan langsung memegang kedua kaki Hyukjae lalu menariknya sekuat tenaga. Hyukjaepun langsung tercebur ke dalam danau.

“Sam!” teriak Hyukjae kesal, ia memandangi Sam yang tertawa terbahak-bahak “Apa yang kau lakukan? Kau menghancurkan segalanya!” Hyukjae semakin kesal, jika Sam tidak berulah, ia telah mengutarakan seluruh isi hatinya pada Aline.

Aline ikut tertawa melihat Hyukjae yang sedang berenang-renang mengejar Sam. Siwon dan Donghae yang menyadari keributan itupun ikut tertawa, baru kali ini ada yang membuat Hyukjae terlihat konyol.

***

Angin dingin merembes diantara pohon-pohon. Malam telah datang menjemput menyelimuti alam. Villa yang menjadi tempat berlibur sekelompok anak muda itu tampak terang benderang. Di luar villa, tepatnya di halaman samping villa tampaknya sedang berlangsung acara barbeque.

“Aneh. Mengapa tak satupun ikan kami dapatkan?” gumam Hyukjae, tangannya dengan cekatan membalikan daging yang sedang dipanggang.

“Hanya kurang beruntung” Donghae melanjutkan ucapan Hyukjae. Ia merasa kesal jika mengingat kejadian siang tadi. Sementara Siwon tak banyak berkomentar. Siwon, Hyukjae dan Donghae sedang memanggang daging domba, sosis, iga sapi, kerang juga jagung dan beberapa ikan segar yang semuanya adalah hasil tangkapan Siwon siang tadi.

Tak jauh dari mereka, Aline dan Sam sedang mempersiapkan meja. Kedua gadis itu baru saja selesai membuat salad dan saus barbeque, tak ketinggalan koktail.

“Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya Sam. Perutnya sudah berisik sejak tadi. Aline hanya menggeleng.

“Entahlah” jawab Aline singkat.

Tak berapa lama kemudian, Hyukjae dan Donghae sudah membawa nampan yang berisi makan malam mereka. Kelima anak muda itu langsung menyantap makan malam mereka. Memang selalu ada atmosfer unik yang tercipta di kala barbeque. Masak dan makan di udara terbuka selalu membuat suasana lebih akrab, santai, ceria dan hangat, ibarat piknik yang seru. Aroma daging yang dibakarpun menggugah selera.

Peralatan makan berserakan di atas meja, hampir seluruh isinya telah kosong. Sepertinya mereka benar-benar kelaparan sehingga hanya meninggalkan sisa-sisa makanan di piring mereka. Meskipun malam kian larut tapi suasana yang terasa justru semakin ceria, mereka terus saja memperbincangkan banyak hal hingga tak jarang tawa berderai dari mulut mereka, semakin hangat ditemani indahnya alunan melodi gitar yang sedang dimainkan oleh Siwon yang tak banyak bersuara, dia hanya terfokus pada gitar di tangannya, ia sesekali tersenyum mendengar obrolan yang sedang berlangsung itu.

Jarum jam telah menunjukan pukul sebelas malam.

“Terima kasih sudah mengajakku ke sini” kata Aline. Kedua gadis itu sedang membereskan sisa-sisa barbeque mereka. Sam memandang sekilas dengan senyum tipis di bibirnya. “Hari ini sangat menyenangkan” lanjutnya lagi.

“Aku juga tak akan pergi jika tak ada kau” Sam tersenyum “Tapi—kemana semuanya? Mengapa giliran membereskan, hanya tersisa kita berdua?” Sam kesal. Siwon, Hyukjae dan Donghae tak berbekas lagi di tempat itu, entah kemana perginya. Mereka menyelamatkan diri dari tugas akhir—membereskan peralatan makan.

“Mereka anak lelaki. Pasti enggan melakukan pekerjaan ini”

“Yeah, harga diri mereka terlalu tinggi” dengus Sam. Sam memandangi Aline yang terus memegangi perutnya “Ada apa?” tanya Aline.

“Aku harus ke toilet” kata Aline. Sam hanya menoleh sekilas, memandangi Aline yang berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkannya. Sam kembali melanjutkan pekerjaannya.

Lima belas menit kemudian, Aline baru terlihat keluar dari villa. Ia hendak menyelesaikan pekerjaannya dengan Sam. Aline mendapati sosok Hyukjae yang berdiri di sebuah bungalow yang terpisah dari bangunan utama villa. Hyukjae berjalan menghampiri Aline.

“Mau jalan-jalan?” tanya Hyukjae. Aline tertegun sejenak.

“Ah—tapi Sam, aku..” Aline baru sadar jika dirinya harus segera menyusuli Sam.

“Baiklah” jawab Hyukjae “Kalau begitu temani aku jalan-jalan” katanya lagi dengan penuh senyuman. Ia langsung berjalan mendahului Aline, tak membiarkan gadis itu untuk membantah atau sekedar memberikan alasan.

Aline hanya berjalan pelan di belakang Hyukjae, mengikuti langkah pemuda itu yang berjalan menyusuri area villa, beberapa bungalow yang ada di sekitar villa. Kedua orang itu telah berada di taman. Hyukjae duduk di sebuah kursi taman, diikuti oleh Aline yang duduk dengan sebuah jarak yang lumayan jauh, ia terlihat sangat canggung.

“Cuacanya sangat bagus” Hyukjae membuka percakapan, ia menatap langit malam yang begitu cerah bersama ribuan bintang. “Ada apa?” Ia memandangi Aline yang diam seperti patung.

“Tidak, tidak apa-apa” jawab Aline. Ia ikut memandangi bintang-bintang di atas sana “Ini pertama kalinya, aku menginap bersama teman-teman” katanya lagi sambil tersenyum tipis.

“Ah, benar-benar seorang tuan putri yang bebas dari istana” kata Hyukjae.

“Sebenarnya, aku yang tak berani berada jauh dari keluargaku” kata Aline pelan. Hyukjae memandangi wajah itu “Aku yang terlalu takut dengan dunia luar, sangat asing bagiku. Perlakuan yang kurang menyenangkan cukup membuatku ingin tetap tinggal di rumah—tapi, aku sangat senang bisa berada di sini. Semuanya sangat berbeda dengan apa yang aku bayangkan selama ini. Kalian semua sangat menyenangkan” Ada senyuman yang tersungging di bibirnya.

“Semoga kau bisa tersenyum terus seperti itu” kata-kata Hyukjae cukup mengejutkan Aline. Ia menoleh memandangi Hyukjae yang terus saja menatapnya “Banyak yang mengatakan kau misterius karena senyummu sangat jarang terlihat. Kalau tersenyum seperti itu, bisa-bisa membuatku menjadi orang yang sangat egois” kata Hyukjae lagi.

“Apa maksudmu?” tanya Aline. Hyukjae hanya tersenyum simpul yang menghasilkan segudang pertanyaan dibenak Aline.

Aku ingin melihat senyuman itu setiap waktu. Jika berpikir seperti itu membuatku semakin ingin memilikimu. Semakin berkeinginan menjadikan senyuman itu hanya untukku” Hyukjae berkata-kata dalam hatinya, ia memandangi wajah Aline yang masih terlihat kebingungan.

Keduanya hanya saling pandang, cukup lama terdiam menikmati kebisuan diantara mereka juga menikmati apa yang sedang mereka pikirkan saat itu.

“Sudah sangat larut. Sebaiknya kita kembali” Hyukjae segera beranjak dari kursi taman. Ia segera berjalan, lagi-lagi meninggalkan Aline di belakangnya.

Aline yang diam, hanya melangkah tapi pikirannya masih dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Kakak beradik Lee selalu membuatnya seperti itu, mereka memang terlalu misterius. Setiap kata dan tingkah laku Sam juga Hyukjae selalu mengandung banyak arti yang sulit terkuak.

“Ada apa?” Hyukjae menoleh menatap Aline yang semakin jauh tertinggal di belakangnya “Jangan memikirkan banyak hal” goda Hyukjae. Ia menghentikan langkahnya, menunggu Aline agar dapat menyamai langkah kakinya.

“Iya, aku tidak apa-apa” jawab Aline.

“Benarkah?” Hyukjae memandangi gadis itu. Aline yang merapatkan kedua tangannya. Udara pegunungan memang terasa lebih dingin hingga mampu menembus pakaian hangat yang dikenakan oleh Aline. “Sini!” Hyukjae yang menyadari itu segera menarik tangan Aline.

“Apa, apa yang..?” Aline yang terkejut seperti tak mampu menyelesaikan ucapannya. Apalagi ketika Hyukjae menggenggam tangannya dan memasukan tangannya ke dalam saku jaket Hyukjae. Dia menggenggam hangat tangan Aline di dalam saku jaketnya itu.

“Begini lebih hangat” Hyukjae tersenyum manis memandangi Aline yang semakin gugup. Ia semakin mematung dan tak mampu berbuat apa-apa melihat senyuman Hyukjae yang terus menghipnotisnya.

Di tempat lain, kesabaran Sam sudah mulai habis. Wajahnya terlihat tegang dan cemberut. Gadis itu mulai kesal, Aline yang tadinya pamit ke toilet dan sampai sekarang belum juga kembali. Sam dengan sangat terpaksa membereskan semuanya. Ia segera mengangkat semua peralatan yang telah dibereskannya, bersiap untuk kembali ke dalam villa karena udara malam kian terasa dingin.

“Berikan padaku” Donghae segera merampas peralatan-peralatan yang di pegang oleh Sam.

“Bantuanmu sangat tidak berguna” keluh Sam. Ia semakin kesal karena Donghae yang menawarkan bantuannya di saat-saat terakhir. “Kemana saja kalian, membiarkan wanita mengerjakan ini semua?”

Tak tahu berterima kasih” sindir Donghae. Ia berkata pelan dalam hatinya. Tak menggubris semua cercaan Sam yang melampiskan seluruh kekesalannya pada pemuda itu. Donghae hanya diam. Ia segera meletakan peralatan-peralatan makan mereka di atas meja, setelah mereka tiba di dapur.

“Aku tak perlu berterima kasih” kata Sam kemudian, ia seperti bisa membaca jalan pikiran Donghae. “Kemana perginya Aline? Tiba-tiba ingin ke toilet lalu tak pernah kembali. Alasan yang baik” keluh Sam.

“Kenapa kau terus menggerutu?” Donghae memandangi Sam “Orang aneh!” sindir Donghae.

“Aku tak merugikanmu, bukan?” Sam tersenyum sinis pada Donghae. Donghae mencibir.

“Jangan bergerak” kata Donghae membuat Sam heran “Ada sesuatu di rambutmu” katanya lagi. Tangan Donghae menyentuh rambut Sam, ia mengeluarkan sesuatu yang terselip di rambut Sam “Kau ini seperti gadis hutan” Lagi-lagi Donghae tersenyum mengejek sambil memamerkan selembar daun berukuran kecil di tangannya.

Sam memandangi Donghae dengan tajam, tatapan yang terlihat kesal. Tanpa banyak bicara ia segera berlalu dari hadapan Donghae namun tiba-tiba saja Donghae menangkap pergelangan tangannya. Sam menoleh heran kepada pemuda itu

“Aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu, atau membuatmu kesal” kata Donghae.

“Ada apa denganmu?” Sam tertawa pelan. Ia merasa heran melihat raut wajah Donghae yang tiba-tiba berubah serius.

“Kau.. datang saja padaku, cukup melihatku saja!” Donghae berkata dengan tegas dan lantang, tatapannya sangat tajam. Kedua orang itu sama-sama terpaku, saling memandang.

“Istirahatlah, Donghae” kata Sam akhirnya “Sepertinya sangat lelah” katanya lagi dan akhirnya pergi meninggalkan Donghae yang masih bisu dan membatu, tak bergerak. Pancaran sinar matanya terasa sangat lain.

“Apa maksudnya?” Sam bertanya pelan. Ia tak lagi menoleh ke belakang. Dengan segera menuju ke kamar tidurnya. Mendapati Aline yang telah berbaring di tempat tidur. “Kemana saja?” tanya Sam setelah keluar dari kamar mandi, ia baru saja mencuci muka “Melarikan diri seperti itu” keluh Sam, ia segera berbaring di samping Aline.

“Sam..” Aline membalikan badannya, ia menatap Sam “Maaf, aku tak bermaksud membiarkanmu mengerjakan itu sendiri. Tiba-tiba saja Hyukjae muncul dan..”

“Hyukjae?” Sam tampak heran “Apa yang kalian lakukan?” ia bertanya penuh selidik.

“Jalan-jalan di sekitar villa” jawab Aline “Aku tak bisa berbuat apa-apa ketika dia memintaku menemaninya—seperti orang bodoh” gumam Aline pelan.

“Lalu?” Sam terlihat semakin penasaran.

“Lalu?” tanya Aline “Kami hanya jalan-jalan menikmati udara malam dan juga sedikit obrolan”

“Hanya itu?” tanya Sam lagi.

“Apa lagi yang harus kami lakukan?” Aline terlihat kesal dan salah tingkah.

“Tidak. Aku hanya ingin tahu saja”

“Tapi—sebenarnya” Aline tampak ragu untuk melanjutkan perkataannya. Mata Sam tak berkedip menanti kelanjutannya “Kami berpegangan tangan” kata Aline pelan.

“Apa?” Alis Sam tampak berkerut.

“Maksudku, Hyukjae menggenggam tanganku” Aline lalu menceritakan apa yang dialaminya bersama Hyukjae “Sepertinya dia merasa kasihan melihatku kedinginan, tapi karena itu aku hampir mati, jantungku berdetak dengan sangat kencang—aku takut dia mendengar detak jantungku. Sam, menurutmu—Hyukjae juga merasakan sesuatu?” tanya Aline “Maksudku, mungkinkah Hyukjae menyukaiku juga?” Aline memperjelas apa yang ingin ditanyakannya.

“Aku tak tahu” jawab Sam cepat “Aku tak berani memastikan apapun. Hyukjae itu sangat baik pada semua orang, terutama wanita. Kau tahukan, dia sangat mampu menarik perhatian para gadis—dia itu kakakku tapi sebaiknya kau lebih peka”

“Dia memperlakukanku dengan baik, sama seperti dia memperlakukan semua gadis. Sepertinya hanya aku yang terlalu tersanjung dan terbawa perasaan”

“Tapi, mungkin saja Hyukjae menyukaimu” kata Sam. Aline terdiam memikirkan itu.

Sudah hari keempat Siwon, Hyukjae, Donghae, Sam dan Aline berlibur bersama di villa milik keluarga Francaise. Mereka melewati hari-hari dengan sangat baik, banyak hal dilakukan bersama seperti bersepeda, berenang di danau, permainan-permainan seru yang selalu mengundang tawa juga malam-malam yang selalu dilalui dengan barbeque. Liburan yang jarang terjadi seperti itu tak dilewatkan begitu saja, tak jarang mereka mengabadikan  dengan berfoto bersama, berbagai macam ekspresi terabadikan dengan baik, sebagai kenang-kenangan liburan tahun ini.

~.o0o.~

 

Sam sedang menikmati sejuknya udara pagi hari, ia menghirup udara segar dengan bebas. Gadis itu menyusuri halaman samping Villa. Sam mengamati sekelilingnya, matanya tiba-tiba tertuju pada bunga-bunga yang tumbuh menghiasi pekarangan itu.

“Kasihan sekali, padahal cuaca sangat baik” Sam merasa iba melihat bunga-bunga yang begitu cantik itu, bagi Sam, mereka tak seperti biasanya yang selalu tampak berseri. Gadis itu tampak celigukan memandangi sekitarnya, ia sangat lega melihat selang yang terpasang pada kran air. “Bagaimana kalau kumandikan kalian?” gadis itu segera meraih selang itu dan langsung menyirami bunga-bunga tersebut.

Sam sangat menyukai bunga, ia begitu asyik membagi-bagikan air pada bunga-bunga itu. Memastikan bahwa semua bunga yang di lihatnya kebagian air, Sam sangat menikmati kegiatan barunya. Saat itulah, matanya menangkap sosok Siwon yang tak jauh dari situ.

Siwon sedang berbaring di sebuah kursi ayunan, ia tak begitu memperhatikan keberadaan Sam. Ia hanya serius membaca sebuah buku yang sedang di pegangnya, apalagi earphone telah menyumbat telinganya—jadi tak mungkin ia akan merasa terganggung dengan kebisingan yang ditimbulkan oleh Sam.

“Dia..” Sam bergumam pelan, ia terus mengamati Siwon hingga kepalanya ikut miring, menatap Siwon dari sudut pandang terbaiknya “Apakah mungkin dia tak bisa menghasilkan ekspresi lain? Mengapa Siwon selalu terlihat serius? Ah, dia lebih aneh dari kedua adiknya. Ekspresi datar yang monoton. Apa-apaan dia itu? Autis?” Sam terus bergumam dalam hati, Siwon memang selalu seperti itu.

Matanya masih terus memperhatikan Siwon yang tak sadar jika Sam sedang mengawasinya dengan segudang dugaan. Sam hendak melanjutkan aktivitasnya, lalu matanya tiba-tiba saja berbinar-binar ketika menatap selang air yang masih di pegangnya. Ia hanya tersenyum sangat tipis dengan ekspresi jahat, sepertinya di kepalanya terlintas sebuah rencana atau lebih tepatnya sebuah keisengan dan dapat dipastikan bahwa Siwon adalah objek penderitanya.

Tak menunggu menit, Sam langsung mengarahkan selang air pada Siwon yang hanya berjarak beberapa meter darinya. Air yang begitu deras itu tepat mengenai sasaran. Siwon yang begitu tenang seorang diri, menikmati buku bacaannya ditemani oleh alunan lagu lewat earphonenya—terlonjak seketika, kaget dengan air yang tiba-tiba membasahinya.

“Apa..” Siwon bergumam kaget, ia memandangi pakaiannya yang basah juga buku yang sedang dibacanya “Apa-apaan ini?” Wajahnya benar-benar terlihat sangat terkejut, ia benar-benar hampir marah. Matanya segera mencari sumber masalah, selang air yang berada di tangan Sam. Sam sepertinya tak merasa gentar, ia membalas tatapan Siwon yang begitu tajam. Tatapan dan senyuman jenaka Sam.

“Sam.. kau..?” Siwon seperti robot yang kehabisan baterai.

Melihat Siwon yang kelabakan dan tampak konyol karena basah membuat gadis itu tak dapat menahan tawanya. Sam tertawa lebar, ia terbahak-bahak. Siwon hanya diam dengan kemarahan yang langsung buyar ketika melihat tawa Sam yang begitu polos dan ceria itu.

“Wajahmu itu~” kata Sam di sela-sela tawanya “Sudah kuduga, kau bahkan tak bisa berekspresi dengan baik. Kau tampak konyol, sudahlah.. berterima kasih padaku, aku berhasil membantumu belajar berekspresi meskipun.. meskipun—terlihat aneh” kata Sam lagi, ia kembali tertawa.

Bahkan untuk marah saja Siwon masih harus berpikir, ekspresinya memang sangat tidak tepat, itulah mengapa tawa Sam meledak.

Siwon lagi-lagi hanya terpaku.

“Dasar, gadis ini…” kata Siwon dengan senyum tipis—ia memalingkan wajahnya dengan tawa pelan lalu kembali menatap pada Sam. Sepertinya ada sesuatu yang terlintas di kepalanya.

Sementara itu Aline sedang kebingungan mencari Sam, ia tak menemukan Sam di dalam villa. Aline segera memasuki ruang santai yang ada di lantai dua, selama ini, ruangan tersebut selalu dijadikan sebagai tempat berkumpul sambil memainkan berbagai game seru. Mungkin saja Sam sedang berada di situ. Bukan Sam yang dijumpainya tapi justru Hyukjae dan Donghae.

“Kalian melihat Sam?” tanyanya lagi. Cukup lama Aline menantikan jawaban yang tak kunjung keluar dari mulut kedua orang itu. Aline hanya menatap heran pada Hyukjae dan Donghae yang berdiri di dekat jendela besar di ruangan tersebut. Kedua orang itu tampak membisu, lebih mirip patung dengan arah pandangan yang sama.

Aline yang merasa penasaran karena sikap Hyukjae dan Donghae yang tiba-tiba aneh, ia berjalan menghampiri kedua orang itu, menatap wajah Hyukjae dan Donghae yang seperti baru saja mengalami bencana. Aline lalu mengikuti kemana arah tatapan mata Hyukjae dan Donghae, yang sepertinya menjadi sumber keterkejutan itu. Tak berapa lama, ekspresi Aline sama seperti Hyukjae dan Donghae. Ia akhirnya tahu apa yang menyebabkan Hyukjae dan Donghae seperti itu.

Di bawah sana, Sam sedang tertawa riang. Tapi bukan karena itu yang membuat Hyukjae, Donghae dan Aline mematung tapi justru karena Siwon yang sedang bersama Sam. Siwon yang memegangi selang air sedang menyirami Sam yang telah basah kuyup. Derasnya air membuat Sam menutup wajahnya, tak jarang ia berlari menghindari Siwon yang terus mengejarnya.

Sam sesekali berteriak meminta agar Siwon tidak lagi menderanya dengan guyuran air yang begitu deras. Siwon yang jarang tersenyum, kali ini bukan hanya senyum tipis yang tersungging di bibirnya tapi tawa lebar yang menghiasi wajahnya, ia tertawa lepas dan terus membasahi Sam yang tak berhenti berteriak memohon ampun.

Terkadang terjadi perlawanan dari Sam yang berusaha meraih selang air dari tangan Siwon, Sam berbalik membasahi Siwon ketika ia berhasil merampas selang tersebut. Kedua orang itu hanya tertawa lebar, seperti anak kecil yang begitu riang—suasana yang terasa seperti dua orang yang telah saling mengenal begitu lama. Wajah Sam dan Siwon yang berseri-seri sangat bahagia, kedua orang itu tampaknya tak sadar jika telah membuat tiga orang lainnya mematung di tempat lain.

“Apa-apaan itu?” gumam Hyukjae yang akhirnya bisa mengeluarkan suaranya yang tertahan sekian menit “Ekspresi apa itu?” ia terus memandangi tawa lebar di wajah Siwon.

“Mengapa—Siwon?” lidah Donghae terasa keluh.

“Benarkah orang itu—Siwon?” Hyukjae masih belum percaya jika sosok sedang tertawa itu adalah Siwon. Bahkan melihat Siwon yang bertingkah seperti itu semakin membuat mereka terkejut.

“Aku ragu jika dia adalah orang yang sama” kata Donghae pelan “Kami sudah hidup bersama sejak lahir tapi baru kali ini—maksudku, ini pertama kalinya Siwon bisa tertawa selepas dan sebahagia itu. Aku tak percaya jika dia benar-benar Siwon yang aku kenal”

“Akupun tak menyangka bisa melihat Siwon tertawa seperti itu” ujar Hyukjae “Bahkan ini tak pernah kubayangkan sebelumnya—bermimpipun tak pernah terpikirkan akan melihat sisi Siwon yang seperti itu” Hyukjae menghela nafas panjang.

“Mereka, seperti dua orang yang sangat berbeda” Aline berkata pelan, memandangi Siwon dan Sam. Aline sendiri tak menyangka jika wajah tampan yang selalu datar dan tegas itu akan terlihat tertawa riang seperti sekarang.

Mereka kembali membisu menyaksikan Siwon dan Sam di bawah sana, Siwon yang terlihat tak canggung untuk mengacak-acak rambut Sam yang basah kuyup. Tatapan Donghae terlihat aneh, seperti sangat kesal melihat keakraban yang tercipta diantara kedua orang itu, yang semuanya adalah diluar dugaan mereka.

~.o0o.~

Tidak terasa malam terakhir di villa akhirnya tiba. Besok mereka sudah harus kembali ke rumah, liburan sekolah juga akan segera berakhir. Seperti biasanya, setiap malam selalu dilalui dengan barbeque. Kali ini mereka memilih barbeque ala jepang atau robatayaki, memanggang sari laut segar dan disajikan dengan saus teriyaki. Duduk bersama-sama menikmati makan malam terakhir liburan mereka.

“Besok sudah harus kembali” Donghae membuka percakapan.

“Liburan kali ini sangat memuaskan” ujar Hyukjae, ia menyuapi makanannya.

“Sekembali dari liburan, kita sudah harus kembali berkonsentrasi pada pelajaran” Siwon mengingatkan semuanya.

“Aku belum ingin kembali ke sekolah” ujar Sam “Ternyata berlibur seperti ini cukup menyenangkan” kata Sam. Hyukjae, Siwon, Donghae dan Aline menatapnya “Ada apa, melihatku seperti itu?” tanya Sam yang bingung.

“Kau tak pernah melakukannya?” tanya Hyukjae.

“Ah itu..” Sam mengangguk pelan, membuat semua yang ada saling memandang “Tujuanku ke sini tentu saja ingin merasakan hal-hal yang baru, saat di Korea aku tak pernah menjalani hari-hari yang seperti ini” Sam memberikan penjelasannya.

“Kita tak berbeda jauh, Sam” Aline memandangi Sam. “Sangat menyenangkan jika kita bisa merasakan liburan seperti ini. Satu, dua, bahkan sepuluh tahun mendatang” gumam Aline.

“Sepuluh tahun. Seperti apa kita sepuluh tahun ke depan?” gumam Donghae, tiba-tiba saja terlintas di pikiran gambaran masa depannya.

“Saat itu, apa yang akan kau lakukan?” Hyukjae bertanya, Donghae terkejut “Aku hanya ingin tahu, apa yang ingin kalian lakukan saat itu”

“Aku tak tahu persis. Menjalankan perusahaan—mungkin itulah yang aku lakukan sepuluh tahun mendatang” kata Donghae mengira-ngira karena ia sendiri masih belum yakin.

“Apa yang ingin kau lakukan Aline?” Hyukjae menatap Aline. Gadis itu terdiam sejenak.

“Aku hanya mempunyai satu impian, aku berharap saat itu aku benar-benar telah menjadi violis dunia” gadis itu tersenyum lembut.

“Lalu bagaimana denganmu, Hyukjae? Kau terus saja menanyai kami” Donghae menatap tajam pada Hyukjae.

“Sampai sekarang aku tak tahu ingin menjadi apa” ujar Hyukjae, “Aku juga bingung, orang seperti apa nantinya aku, tapi satu-satunya yang terpikirkan dan yang paling ingin kulakukan adalah—mendampingi seseorang. Menjadikan impiannya sebagai impianku juga” Hyukjae tersenyum tipis, tatapan matanya tertuju pada Aline. Aline langsung gugup dan pucat menyadari tatapan mata Hyukjae.

“Dasar, kau selalu seperti ini!” Siwon tersenyum tipis mendengar penuturan Hyukjae.

“Sam, aku juga ingin tahu pendapatmu?” Aline menatap Sam dengan ceria. Hyukjae, Siwon dan Donghae kini memandangi Sam, mereka sedang menantikan jawaban yang akan keluar dari mulut Sam. Sam memandangi mereka.

“Aku? Memangnya akan seperti apa lagi aku ini?” gadis itu bergumam sangat pelan, raut wajah yang tiba-tiba berubah—sedih. Sam menarik nafas, ia menengadahkan kepalanya memandangi ribuan bintang yang berhimpit-himpitan di langit yang suram “Kalian lihat bintang-bintang itu jugakan?” tanya Sam pelan.

Semuanya kini menatap langit, mereka mencoba mencermati isi hati Sam. Langit gelap terlihat lebih cerah karena kerlap-kerlip bintang kecil di atas sana.

“Aku tak pernah memikirkan apa yang akan terjadi saat sepuluh tahun mendatang karena aku juga tak tahu akan menjadi seperti apa, bersyukur jika saat itu aku masih hidup” ujar Sam “Tapi jika saat itu tiba, aku ingin menjadi seseorang yang bersinar seperti bintang. Saling berbagi cahaya. Bahkan ketika bintang itu mati, dia masih memiliki peran yang penting. Kalian pernah dengar tentang supernova?” tanya Sam.

Hyukjae, Siwon, Donghae dan Aline hanya diam. Mereka lebih memilih untuk mendengarkan kelanjutan ucapan Sam. Sam kembali menatapi langit.

“Supernova, ledakan dari suatu bintang di galaksi yang memancarkan energi lebih banyak dari nova. Supernova menandai berakhirnya riwayat suatu bintang. Bintang yang mengalami supernova akan tampak sangat cemerlang dan bahkan kecemerlangannya bisa mencapai ratusan juta kali cahaya bintang tersebut semula, beberapa minggu atau bulan sebelum suatu bintang mengalami supernova bintang tersebut akan melepaskan energi setara dengan energi matahari yang dilepaskan matahari seumur hidupnya, ledakan ini meruntuhkan sebagian besar material bintang pada kecepatan 30.000 km/s, sama dengan 10% kecepatan cahaya dan melepaskan gelombang kejut yang mampu memusnahkan medium antar bintang” kata Sam

Gadis itu terlihat sangat mengagumi segala sesuatu tentang bintang.

“Rata-rata supernova terjadi setiap lima puluh tahun sekali di galaksi seukuran galaksi Milky Way (Bima Sakti). Supernova memiliki peran dalam memperkaya medium antar bintang dengan elemen-elemen massa yang lebih besar. Selanjutnya gelombang kejut dari ledakan supernova mampu membentuk formasi bintang baru. Itulah sebabnya, mengapa aku sangat iri pada mereka” Sam mengakhiri penjelasannya, sekaligus keinginannya.

Wajah yang begitu serius namun sangat tenang, menceritakan kisah tentang bintang. Untuk kesekian menit mereka hanya berdiam diri dan membisu. Mereka sudah tak heran lagi mendengar penuturan Sam yang seperti itu mengingat kemampuan Sam yang telah mereka ketahui bersama.

“Aku juga ingin tahu keinginanmu Siwon” Aline memandangi Siwon.

“Aku?” Siwon sepertinya tak mengira jika dirinya juga akan ditanyai “Aku…” Siwon terlihat berpikir, mulutnya tertutup rapat. Wajah tegasnya seolah tak bisa mengatakan keinginannya.

“Aku dan Siwon tak punya banyak pilihan” kata Donghae, seperti mewakili Siwon yang tak bersuara “Masa depan kami sudah diatur sejak awal. Jika bertanya sepuluh tahun kedepan maka kami pasti meneruskan perusahaan. Aku juga Siwon, Kyuhyun bahkan tahu itu. Ayahku mengatakan akan segera beristirahat dan menyerahkan perusahaan pada kami maka jika bertemu lagi, sepuluh tahun itu mungkin Siwon yang sekarang telah menjadi Presiden Direktur—bahkan saat itu Siwon pasti telah bersama dengan Anne”

Semua kembali hening.

“Anne?” gumam Aline.

“Ternyata benar, akhirnya kau pasti akan bersama gadis itu” Hyukjae memandangi Siwon yang hanya diam. Raut wajahnya berubah drastis, terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi ditahan begitu saja. Sam menelusuri wajah Siwon yang tampak murung,

“Aku benci kehidupan konglomerat” ujar Sam. Tiba-tiba saja wajahnya terasa panas, bahkan dadanya pun ikut-ikutan menghangat, Sam segera meraih gelas minumannya dan meneguk habis sekaligus minuman di dalam gelasnya “Kenapa cuaca tiba-tiba terasa panas? Sudahlah, tiba-tiba saja aku mengantuk” kata Sam dengan nada yang terdengar kesal. Ia segera beranjak meninggalkan Siwon, Hyukjae, Donghae dan Aline yang saling pandang. Ucapan Sam terasa janggal, pasalnya mereka justru merapatkan jaket mereka karena udara malam yang dingin justru semakin menusuk.

***

Sudah larut malam, jarum jam telah menunjukan pukul satu dini hari. Mata Siwon masih belum bisa terpejam, sekembali dari acara barbeque, ia terus memikirkan perkataan Donghae tentang masa depan mereka sebagai anak-anak keluarga Francaise. Tiba-tiba saja Siwon merasa terganggu dengan statusnya sebagai penerus utama kekayaan Francaise, ia jadi memikirkan banyak hal yang selama ini tak sekalipun terlintas dibenaknya. Apalagi pertunangannya dengan Anne semakin mengganggu pikirannya, tadinya Siwon mengira itu akan baik-baik saja karena gadis itu adalah Anne tapi entah sejak kapan ia mulai tak lagi memikirkan Anne, ia bahkan hampir melupakan pertunangan tersebut.

Siwon yang mencoba mengalihkan perhatiannya dengan membaca sebuah buku, lalu ia menyadari jika ada seseorang yang berusaha membuka pintu kamarnya. Siwon menatapi kenop pintu yang terus bergerak. Merasa penasaran, Siwon segera melepas buku yang di pegangnya, ia segera mendekati pintu dan membuka kunci pintu kamarnya. Tadinya ia mengira Hyukjae atau Donghae yang berada di balik pintu tersebut tapi alangkah terkejutnya Siwon melihat Sam yang membuka pintu yang tak terkunci itu lagi.

“Sam?” Siwon memandangi Sam yang berdiri di ambang pintu kamarnya “Ada apa? Mengapa di sini?” tanya Siwon, ia memandangi Sam yang tak memberikan reaksinya. Siwon menyadari sesuatu ketika menatap mata Sam yang setengah terpejam. Gadis itu langsung menerobos masuk begitu saja membuat Siwon kebingungan “Sam, mau kemana kau?” Siwon seperti orang ling lung yang menatapi Sam, gadis itu langsung naik ke tempat tidur Siwon dan—terlelap.

Siwon memperhatikan keadaan di luar kamar, tak ada siapapun di situ. Ia segera menutup pintu kamarnya. Ia berjalan menghampiri Sam, menatap Sam yang telah terlelap di tempat tidurnya.

“Kebiasaan yang sangat buruk” Siwon memandangi wajah cantik Sam yang memukau ketika sedang tertidur “Untung saja kamar yang kau masuki adalah kamarku. Sekalipun begitu—aku juga adalah seorang pria” Siwon sangat heran melihat kebiasaan buruk Sam, mengingatkannya kejadian di awal pertemuannya dengan Sam yang sangat mengejutkannya.

Tadinya ia berniat membangun Sam tapi melihat wajah Sam yang sangat lelap itu membuatnya tak tega. Ia segera menyelimuti tubuh Sam dengan selimut agar tetap hangat, Siwon menatap sejenak wajah itu, sedikit ragu tapi akhirnya tangan Siwon benar-benar menyentuh pipi Sam. Membelainya sekejap sebelum akhirnya menyadari perbuatannya yang diluar pikirannya. Siwon segera menjauh, ia segera melanjutkan membaca buku di sebuah sofa di dalam kamarnya, sesekali matanya hanya menoleh pada Sam yang tak sadarkan diri.

Siwon tersentak kaget, ia terbangun dari tidurnya. Matanya langsung tertuju pada jam tangannya yang telah menunjukan pukul lima pagi. Ia seperti baru menyadari sesuatu sehingga menoleh ke tempat tidurnya, Sam masih terlelap di situ. Siwon mengira kejadian itu hanya mimpi. Pemuda itu segera menghampiri Sam, berniat membangunkan gadis itu karena sudah hampir pagi, tak ingin penghuni lainnya berpikiran aneh ketika mengetahui keduanya berada dalam kamar yang sama sepanjang malam.

“Sam!” panggil Siwon “Sam, bangun Sam” panggilnya lagi tapi gadis itu seakan tak mendengar panggilannya, ia bahkan semakin pulas.

Sementara itu, Aline yang terbangun karena menyadari jika Sam tidak berada di tempat tidur.

“Kemana Sam? Pagi-pagi sudah menghilang” gumam Aline. Ia mengira Sam sedang berada di kamar mandi tetapi ia tak mendengar siapapun di dalam sana. “Siapa lagi?” Gerutu Aline yang hendak memejamkan mata ketika terdengar suara ketukan di pintu kamarnya “Iya, sebentar” ia tampak kesal karena kantuk yang masih menderanya. Dengan sungut-sungut kecil Aline beranjak dari tempat tidurnya, ia melangkah dengan gontai menuju pintu kamarnya “Siapa?” tanya Aline sambil membuka pintu.

Matanya yang masih mengantuk tampak belum bisa melihat dengan jelas sosok yang berdiri di hadapannya, cukup lama Aline memandangi sosok itu, ia lalu menggosok-gosok matanya dan wajahnya langsung berubah drastis—ia terlonjak dan kantuknya pun musnah dengan segera.

“Sam” Ia mematung memandangi Sam yang terlelap dalam dekapan seorang pemuda tampan “Siwon?” Aline tak terbata-bata, ia sangat terkejut melihat pemandangan di depannya itu.

Siwon segera memasuki kamar itu, ia lalu membaringkan Sam di tempat tidur.

“Siwon. Apa yang terjadi?” tanya Aline cemas. Matanya kembali melebar, ia baru menyadari jika Sam telah menghilang sejak tengah malam tapi karena rasa kantuknya, Aline mengabaikan Sam “Semalaman ini, jangan katakan jika kalian terus bersama?” Aline memandangi Siwon yang hanya diam “Lalu? Apa yang kalian lakukan?” Aline mendelik, bergantian memandangi Siwon dan Sam yang masih terlelap.

“Aline” Siwon menyuruh gadis itu untuk diam “Jangan membangunkannya, sepertinya dia sangat lelah”

“Lelah?” Aline seperti tak sanggup berkata-kata, seluruh tubuhnya seperti sedang di aliri sengatan listrik. Pikirannya tiba-tiba kacau, matanyapun terasa berkunang-kunang.

“Apa yang kau pikirkan?” perasaan Siwon tiba-tiba tak enak melihat ekspresi Aline.

“Ka, kalian—kalian berdua?”

Siwon menarik nafas panjang, ia berdiam diri berusaha untuk menenangkan dirinya karena ia sudah menduga apa yang ada dalam pikiran Aline.

“Pikiranmu sangat sempit!” kesal Siwon “Tanyakan saja pada sahabatmu, mengapa malam-malam menyelinap ke kamar seorang pria”

Aline terlonjak “Menyelinap? Apa maksudmu?”

“Tampaknya kau tak tahu kebiasaan buruk Sam” Siwon memandangi Aline yang hanya diam karena berusaha mencerna ucapan Siwon. “Gadis ini selalu berjalan dalam tidurnya dan karena itulah, mengapa tiba-tiba sepagi ini aku berada di sini”

“Benarkah seperti itu?” tanya Aline “Lalu mengapa tidak sejak awal kau mengantarnya??” Aline terlihat belum sepenuhnya percaya.

“Apa kau mengira aku orang yang begitu tega membangun seseorang yang sedang terlelap, apalagi melihat wajahnya yang…” Siwon tak jadi melanjutkan kata-katanya “Sudahlah, jangan beritahu siapapun tentang kejadian ini” kata Siwon, ia lalu beranjak dari kamar Aline dan Sam.

~.o0o.~

“Hai Sam” sapa Aline yang baru tiba di kelas. Ia segera duduk di tempatnya, menatap pada Sam yang hanya bertongkak dagu “Kau tidak terlihat seperti biasanya?” Aline menyadari aura Sam yang berbeda.

“Aku tiba-tiba tak bersemangat” ujar Sam, ia memperbaiki posisi duduknya “Sekembali dari villa, badanku terasa letih dan tak bertenaga”

“Saat itu kau memang terlalu banyak membuang energi” Aline mengingatkan Sam tentang aktivitas Sam yang dinilainya sangat over ketika mereka berlibur.

“Aku baik-baik saja—dan sangat sehat” tutur Sam “Entahlah, tiba-tiba seperti ini. Ah, aku rasa waktu liburannya terlalu singkat” gumam Sam pada dirinya sendiri, Aline hanya menggeleng.

Anne, Caron, Cleo dan Fleur tampak memasuki kelas bersama-sama. Mereka terlihat ceria, seperti biasanya. Keempat gadis itu segera duduk berkumpul di tempat mereka. Entah apa yang dibicarakan tapi tatapan mereka tak jarang tertuju pada Sam dan Aline.

“Liburan kali ini benar-benar menyenangkan” ujar Fleur “Tak disangka kita bisa berlibur bersama” katanya lagi. Sepertinya keempat gadis itu juga menghabiskan liburan mereka bersama-sama.

“Bukan pertama kalinya aku ke Qatar dan sejujurnya aku sedikit bosan tapi ternyata sangat menyenangkan ketika kita melakukannya bersama” Cleo tampak berbinar-binar.

“Ah ya, tapi tidak ada pemberitaan di media mengenai kegiatan para Francaise” Caron tiba-tiba menyinggung tentang keluarga konglomerat itu.

“Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka selalu disibukan dengan segudang aktivitas dan—hampir tak ada artinya liburan bagi mereka” ujar Fleur “Mungkinkah, mereka juga berlibur di suatu tempat?”

“Aku tak tahu” ujar Anne ketika tatapan ketiga gadis itu tertuju padanya.

“Seharusnya kita sedikit bersabar” keluh Caron “Liburan bersama ketiga orang itu pasti bukan hal yang mustahil” ia tampak sangat menyesal.

“Ah, kau membuatku tak bersemangat” Fleur terlihat lebih kesal dibandingkan siapapun “Tapi, setidaknya kita masih menikmati liburan kita” ia tersenyum sinis kepada Aline dan Sam yang hanya diam mendengarkan obrolan gadis-gadis kaya itu.

“Kau benar Fleur. Oh ya Aline, dimana kau menghabiskan liburanmu?” tanya caron. “Jangan-jangan kau hanya terus mengurung diri di kamarmu? Oh God, seharusnya kita mengajaknya bersama” Caron tertawa pelan, begitu juga dengan ketiga gadis lainnya.

“Lalu, aku juga ingin tahu, liburan seperti apa bagi seorang Sam??” Cleo kini balik menerjang Sam yang tampak tenang.

“Jangan bercanda Cleo. Memangnya apa lagi yang bisa dilakukan oleh Sam? Dia pasti begitu sibuk mengurusi keperluan keluarga Francaise. Jangan membuatnya terlihat begitu menyedihkan” Anne berkata dingin dengan segaris senyum di bibirnya.

“Sangat mengharukan, ternyata masih ada gadis-gadis terpandang yang perduli denganku” Sam akhirnya ikut berbicara. Ia menoleh kepada gadis-gadis itu “Jangan cemas, kamipun mengerti perasaan bahagia itu”

“Kami?” tanya Anne

“Kurasa berlibur bersama bukan hanya kalian milik kalian” ujar Aline “Aku dan Sam juga memiliki banyak hal yang sangat menyenangkan” Aline terlihat mulai berani untuk berbicara menantang para gadis yang sering menjahilinya itu.

“Benarkah?” Fleur menatap sinis pada Sam dan Aline “Seorang pelayan dan satunya lagi gadis aneh, alien—sepertinya aku bisa membayangkan liburan itu” katanya lagi sambil tertawa. Mereka tertawa dengan nada yang sangat mengejek.

“Sangat baik jika memang begitu. Tadinya kupikir kalian akan iri dan mungkin sangat menderita jika mengetahuinya tapi—syukurlah, aku lega kalian tidak apa-apa” ujar Sam dengan santai.

“Iri?” Anne memandangi tajam pada Sam “Mengapa kami harus iri dengan orang-orang seperti kalian—rendahan!” kata-kata yang tajam mulai keluar dari mulut Anne.

“Sepertinya kalian sangat ingin tahu bagaimana aku dan Aline menghabiskan masa-masa menyenangkan itu?” tatapan Sam yang kaku serasa mencekam “Dan—mungkin bersama siapa kami berlibur?” Senyuman Sam yang terlihat sangat menakutkan seperti berusaha untuk memanas-manasi keempat gadis sombong itu.

“Mengapa kami harus tahu?” Caron terlihat memanas.

“Ah, Aline, memang tidak ada alasan bagi nona-nona terhormat ini untuk mengetahui kegiatan kaum rendahan” Sam tersenyum tipis pada Aline, gadis itupun membalas dengan senyuman.

Lima menit lagi kelas akan dimulai, Donghae tampak terburu-buru memasuki kelas. Kedatangannya langsung mengalihkan perhatian Fleur, Caron dan Cleo yang hanya terkesima memandangi si tampan Donghae. Anne hanya tersenyum mencibir ketiga sahabatnya itu.

“Hai Aline” sapa Donghae ketika melihat Aline yang duduk di dekat Sam.

“Hai” Aline membalas sapaan Donghae. Pemandangan ganjil itu cukup mengagetkan bagi teman-teman sekelas melihat Donghae dan Aline yang cukup akrab.

“Bagaimana liburanmu, Donghae?” tanya Sam.

“Apa maksudmu?” tanya Donghae yang heran “Dimana saja kau saat itu?”

“Yang aku tanyakan keadaanmu” ujar Sam “Aku merasa letih” Sam memegangi lehernya.

“Kau terlalu banyak melakukan hal-hal aneh saat itu” kata Donghae, perkataan yang tak berbeda jauh dengan apa yang diucapkan oleh Aline “Tapi liburan kali ini sangat menyenangkan, aku tak mengira kita bisa melewatinya bersama-sama” Donghae tertawa hangat.

“Tunggu!” Caron memotong percakapan Donghae dan Sam “Apa maksudmu melewatinya bersama-sama?” tanya gadis itu dengan raut wajah yang aneh.

“Ada apa?” Donghae justru heran mendengar pertanyaan itu “Tentu saja liburan bersama. Kami berlima—sangat menyenangkan” Donghae tertawa tipis.

“Ber, ber—lima?” Anne, Caron, Cleo dan Fleur saling menatap.

“Setelah kupikir-pikir, bukankah sangat beruntungnya kita dibandingkan sekelompok gadis terhormat yang tiba-tiba merasa liburan kali ini sangat mengesalkan” Sam tersenyum sinis dan memandang penuh kemenangan kepada empat gadis yang langsung mematung dengan ekspresi kesal. Aline tersenyum mengiyakan ucapan Sam.

“Aku sudah mencari referensi tempat liburan yang hebat” ujar Donghae.

“Apa maksudmu?” tanya Aline.

“Akan terasa membosankan jika selalu menghabiskan liburan di villa” ujar Donghae, ia terlihat sedikit bersemangat dibandingkan biasanya. Ketiga orang itu lalu terlibat dalam pembicaraan yang serius, mereka bahkan telah melupakan jika di sudut lain ada gadis-gadis yang wajahnya mulai merah seperti tomat akibat menahan amarah dan kekesalan yang telah memuncak dan hampir meledak.

~.o0o.~

Sam terlelap di atas kasur empuknya. Ada yang lain dan tidak seperti biasanya, Sam begitu gelisah dan tak tenang, terlihat jelas dari raut wajahnya dan gerak tubuhnya. Seperti seseorang yang sedang bermimpi buruk. Perlahan mata Sam terbuka, ia terdiam  beberapa saat. Wajahnya pucat, ada keringat yang membasahi dahinya. Gadis itu lalu beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan menghampiri jendela besar di kamar itu, tangannya menyentuh tirai yang dipermainkan oleh angin. Udara sore hari yang sedikit lebih dingin, cuacapun sedang tak bersahabat, langit yang mendung terlihat di atas sana.

Langkah gontai Sam di koridor luas dalam rumah mewah keluarga Francaise. Tangan Sam sesekali menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya. Sam hanya tersenyum sangat tipis ketika berpapasan dengan pelayan-pelayan yang menyapanya.

“Sam” seseorang memanggil Sam ketika gadis itu melewati sebuah tempat dalam rumah itu.

Sam menoleh, mendapati ketiga Francaise dan Hyukjae sedang berkumpul di situ. Semacam break time di sore hari. Sam menghampiri keempat orang itu dengan langkah malasnya. Ia lalu mengambil posisi, bergabung dengan mereka. Seorang pelayan dengan sigap meletakan secangkir teh di hadapan Sam.

“Kau sakit?” tanya Hyukjae “Kau terlihat sangat pucat?” Hyukjae memandangi wajah Sam yang memang tampak lesuh dan pucat.

“Benar juga. Beberapa hari ini kau terlihat tak bersemangat” gumam Donghae. Siwon memandangi wajah pucat Sam, gadis itu hanya diam—tak biasanya dia setenang itu.

“Aku tak tahu” jawab Sam singkat “Tidak ada yang bermasalah denganku, hanya kelelahan saja—dan lagi, akhir-akhir ini suasana hatiku juga tak mendukung” keluh Sam.

“Aku tak mengira, kau bisa merasakan apa yang dialami oleh manusia normal lainnya” gumam Kyuhyun yang terdengar seperti sebuah ejekan.

“Anak ini~” Sam mendesis, ia hampir saja menghajar Kyuhyun.

“Keterlaluan. Kalian meninggalkanku saat berlibur” Kyuhyun memandangi kesal pada semua orang disekitarnya.

“Kau tak mungkin lari dari private, nikmati saja saat-saat itu” ujar Siwon.

“Kami sudah merasakannya Kyuhyun, jadi berhentilah mengeluh” dengus Donghae.

Sementara itu Sam hanya diam mendengarkan perdebatan kakak beradik Francaise. Kali ini ia benar-benar kehilangan semangat, sepertinya ada yang mencabut setengah jiwanya dengan paksa sehingga kata-kata tajam tak terdengar dari mulut Sam—bibirnya terkatup rapat, matanya hanya memandangi LCD televisi berukuran besar yang terpasang di ruangan itu, meskipun sebenarnya tak ada niatnya untuk mengikuti berita yang sedang berlangsung. Tangan gadis itu meraih cangkir teh di hadapannya.

Sedikitnya dua orang meninggal dunia dan lima orang lainnya luka-luka akibat ledakan di sebuah laboratorium senjata milik pemerintah Korea Selatan di Pocheon, Selasa, 06 September

Wajah Sam yang terlihat malas-malasan langsung berubah ketika melihat berita internasional yang baru saja disampaikan, ia bahkan belum sempat meneguk teh miliknya. Rautnya sangat berubah, ia terlihat tegang memandangi layar televisi. Siwon, Hyukjae, Donghae dan Kyuhyun menyadari perubahan ekspresi Sam.

“Sam, ada apa?” tanya Siwon.

Wajah Sam yang kaku dengan keringat yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah terlihat di sekitar dahinya. Namun Sam tak mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya yang terasa kelu. Mereka memandangi televisi yang menyebabkan kebekuan Sam.

Ledakan terjadi pada pukul 09.50 pagi waktu setempat di lapangan uji senjata Agen Pengembangan Pertahanan Pocheon, 40 kilometer di wilayah bagian tenggara Seoul. Ledakan terjadi saat para peneliti sedang menguji bahan peledak dan senjata api 155 milimeter

“Pocheon…?” wajah Hyukjae perlahan ikut berubah. Ia memandangi Sam yang diam “Sam—bukankah?” Gumam Hyukjae. Siwon, Donghae, dan Kyuhyun semakin bingung melihat Hyukjae yang ikut-ikutan menjadi aneh.

Ledakan tersebut menewaskan dua orang peneliti dan melukai lima orang lainnya termasuk kepala peneliti, Professor Lerryn Zoya, Seorang ilmuwan Pengembangan Alat Pertahanan Nasional yang sampai dengan berita ini dikeluarkan masih berada dalam kondisi yang kriti.

Mata Hyukjae dan Sam semakin melebar melihat wajah seorang wanita yang terpampang jelas di layar televisi. Hyukjae dan Sam kini mirip mayat hidup hingga membuat ketiga Francaise semakin kebingungan. Tangan Sam yang gemetaran membuat air di dalam cangkir yang di pegangnya bergejolak kencang,

“Sam, Hyukjae.. apa yang?” Siwon semakin tak mengerti, ia justru terkejut melihat ekspresi kakak beradik itu, matanya tertuju pada tangan Sam yang semakin gemetar.

“I—Ibu?” ujar Hyukjae akhirnya dengan susah payah. Wajahnya terlihat sangat syok.

“Ibu?” Siwon dan Donghae saling berpandangan. Wajah kedua orang itu tampak sedikit berubah, sepertinya mereka sudah menyadari sesuatu. Saat itu juga cangkir di tangan Sam terlepas begitu saja membuat isinya membasahi meja cantik itu.

~ to be continue ~

Iklan

229 thoughts on “I Fell In Love, My Trouble Maker Girl (Part 6)

  1. Cho Sarang berkata:

    Siwon – sam… Mereka sepertinya cocok saling melengkapi. Sam mampu membuat sisi lain dari siwon keluar. Aku ketawa liat reaksi anne n the gank saat tau sam n aline liburan bersama siwon, donghae dan hyukjae. Sam emank pinter bikin orang kesal. Apa yang terjadi dengan ibunya sam ?

  2. Ken berkata:

    Ceyiii Siwon ama Sam, tpi belum ada tanda rasa-rasa ngga kya Donghae yg cukup frontal walaupun mngkin dia sndiri bingung kenapa dia kya gtu sma Sam.

    Ibu?? Ibunya yg kritis yakk?? Waeyo??

  3. elficannie berkata:

    yahh serius demi apa? ibunya kritis? yahhh pasti sedih bgt buat sam, walaupun dia keliatan ga suka klo ada yg ngomongin ibunya tpi keliatan klo dia itu cuman pengen ibunya lebih banyak ngehabisin waktu sama dia

  4. My labila berkata:

    ßam super duper jenius,jangan2 ada cinta segiti antara siwon-sam-donghae, aduh aku puas banget itu empat sekawan kesel marah dan iri karena tau sam-aline liburan bareng hyukjae,siwon sm donghae wkwk…
    ibunya sam-hyukjae kenapa ? aku ikutan panik.

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s