I Fell In Love, My Trouble Maker Girl (Part 8)

ImageCast             :

–  Choi Siwon as Siwon Parris Francaise

–  Samantha (Fiction)

–  Lee Donghae as Donghae Chartier Francaise

–  Cho Kyuhyun as Kyuhyun Edmund Francaise

–  Lee Hyukjae

–  Aline Guibert (Fiction)

–  Other cast

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

 ~~~~~

Jam istirahat baru berlalu beberapa menit. Sam keluar dari kelas. Perut yang lapar membuat langkah kakinya tertuju pada Kafe. Ia baru akan memasuki kafe ketika berpapasan dengan Anne. Gadis itu sendirian. Kedua orang itu beradu pandang.

“Kau boleh besar kepala dengan semua yang kau miliki” ujar Anne, ia menatap tajam pada Sam “Tapi Siwon, tidak akan kuserahkan padamu. Buanglah mimpimu untuk bersama dengannya, karena orang yang ditakdirkan untuk Siwon, orang itu haruslah aku dan tak akan pernah berubah” Anne tersenyum sangat sinis, tertawa melihat Sam. Ia lalu berlalu, dan Sam hanya diam—mulutnya bungkam. Rasa lapar yang semula menderanya, mendadak hilang begitu saja.

Sam berjalan gontai, ia tak lagi berkeinginan untuk memasuki kafe. Pertemuannya dengan Anne membuat Sam kehilangan selera makan. Langkah kaki Sam terhenti ketika melewati ruang basket, ia segera mendekati pintu yang tertutup rapat itu. Sam membuka pintu itu, ruangan yang tampak sunyi tapi mata Sam langsung tertuju pada Siwon dan Anne yang duduk di tribune.

Wajah Siwon yang dingin, tak menghiraukan keberadaan Anne di sisinya. Sam terkejut melihat Anne yang tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu Siwon. Dada Sam terasa sesak, wajahnya memanas, ia heran dengan apa yang dirasakannya dan membuatnya segera berlalu, tak ingin lebih lama menyaksikan itu.

Kali ini Sam tidak lagi melangkah dengan gontai dan malas-malasan. Ia justru berjalan dengan sangat terburu-buru. Sam segera menuju lift dan menekan nomor untuk lantai teratas. Atap sekolah, tempat yang selalu dituju oleh Sam.Langit terlihat cerah, selalu sama disetiap harinya. Burung-burung yang beterbangan riang, bermain-main dibalik pepohonan yang berada di lingkungan sekolah. Sam menatap langit dengan tatapan kosongnya.

“Sadarlah Sam” bisik lirih Sam pada dirinya sendiri.

Ia terus melamunkan banyak hal yang telah dilewatinya sejak pertama kali menginjakan kaki di rumah keluarga Francaise. Semua kenangan yang menyebalkan dan menyenangkan tak luput dari ingatannya.

“Ternyata kau di sini”

Sam menoleh pada Aline.

“Aku terus mencarimu, dugaanku tak meleset” kata Aline, menghampiri Sam yang masih memandangi langit.

“Mengapa?” tanya Sam

“Sebenarnya tidak ada sesuatu yang penting. Di kelas membuatku muak, Anne dan kawan-kawannya terlihat mengesalkan apalagi tingkah mereka setelah rencana pertunanganan dengan Siwon menyeruak” Aline tampak sangat kesal.

Sam tak memberikan komentar. Ia hanya menarik nafas dalam-dalam, sepertinya ia tidak mendengar penuturan Aline dengan baik. Aline menoleh, ia menatap wajah Sam.

“Ada yang aneh?” tanya Sam tanpa menoleh pada Aline. Ia menyadari jika Aline sedang mengamatinya.

“Iya” jawab Aline “Banyak hal yang terlewatkan olehku. Meskipun kau tak mengatakan apapun, tapi aku tahu apa yang membuatmu seperti ini”

“Seperti ini?” Sam menoleh “Ada apa denganku?” Sam tertawa pelan.

“Bahkan tawamupun seperti dipaksakan” Aline menggeleng lirih “Kau tampak seperti biasanya. Tenang, santai, bercanda dan semua hal yang sering kau lakukan—tapi aku merasa semuanya palsu”

“Benarkah?” tawa Sam semakin melebar. Aline justru semakin merasa miris melihat tingkah Sam.

“Berhenti tertawa. Kau memang tampak sangat normal tapi aku tahu ada yang sedang kau sembunyikan” ujar Aline “Maukah kau mengatakan padaku?” tanya Aline.

“Apa?” Sam tersenyum manis.

“Dasar gadis keras kepala! Baiklah kukatakan saja” Aline semakin kesal melihat kelakukan Sam “Aku tahu apa yang sedang mengganggumu. Lebih tepatnya—siapa yang sedang kau pikirkan!”

Sam menoleh seketika pada Aline.

“Kau tak berhenti memikirkan orang itu. Aku mengerti” Aline berkata dengan tegas “Siwon, dia yang menyebabkanmu seperti ini” ucapan Aline membuat Sam terkejut. Ia kembali tertawa.

“Jangan mengada-ada” kata Sam, tawanya telah hilang—begitu cepat ia dapat merubah ekspresi di wajahnya dan hal itu membuat Aline takut.

“Tak perlu berbohong, setidaknya di hadapanku” kata Aline, ia tersenyum lembut pada Sam “Kau menyukainya. Kau merasa terganggu dengan pertunanganan itu, lalu tak tenang dan—karena itu sikapmu berubah”

Sam terperangah mendengar kata-kata Aline.

“Sudah lama aku merasakan ada yang aneh dengan kalian berdua, kau juga Siwon. Meskipun kalian berdua begitu hebat menyembunyikannya dan bertingkah seperti biasanya, tapi mata kalian tak dapat berbohong. Dari caramu melihat Siwon dan sebaliknya, terlihat jelas apa yang sedang kalian rasakan” kata-kata Aline seperti sebuah letupan senjata di telinga Sam “Mengapa kalian begitu bodoh! Membohongi perasaan sendiri? Apa kalian mampu hidup seperti itu?”

Sam yang tadinya ingin menolak mentah-mentah semua perkataan Aline, tetapi niat itu hilang begitu saja. Tak tahu kemana perginya rasa kesal akibat serbuan yang dilontarkan Aline. Sam hanya diam, ia menatap langit dengan tatapan nanar, lirih, perkataan Aline ditelannya dengan sangat baik.

“Sam” Aline memandangi Sam dengan cemas. Sam menarik nafas lagi dengan sangat dalam, ia lalu memandangi Aline dengan senyuman manisnya.

“Lalu, apa gunanya jika kami tak lagi berbohong? Apa mungkin kami akan hidup bahagia seperti yang sering diceritakan dalam dongeng?” tanya Sam “Percayalah, semua itu hanyalah cerita pengantar tidur! Tidak ada yang semanis itu! Hidup ini sangat keras, kau harus berjuang untuk melawannya. Mimpi seperti itu hanya akan membuang-buang waktumu. Aku hanya berpikir sesuai logika. Aku tak punya banyak waktu—aku takut akan menjadi egois jika mengikuti perasaanku, dan jika terjadi orang itu pasti akan terluka” kata Sam lirih.

Ia berbalik meninggalkan Aline yang masih belum mencerna dengan baik maksud dari beberapa kata terakhir Sam.

~.o0o.~

Sebuah kafe yang berada di pusat kota, kafe itu sangat ramai oleh pengunjung. Di sebuah meja yang sedikit tersembunyi di pojok ruangan, Hyukjae dan Aline sedang bercengkrama dan sesekali melempar candaan. Tak jarang keduanya tertawa geli, melempar pandangan yang penuh dengan kehangatan. Aline menyadari sejak kedatangan mereka ke kafe itu, hampir semua pasang mata tertuju pada mereka.

Tatapan yang seakan ingin menelan Aline hidup-hidup, iri. Aline menjadi kurang percaya diri, selama ini Hyukjae dikelilingi oleh gadis-gadis cantik, bahkan tak jarang mereka menegur Hyukjae saat keduanya sedang bersama.

“Aline?” tegur Hyukjae, ia melihat Aline yang terdiam dengan raut wajah anehnya.

“Ah, kau memanggilku?” Aline balik bertanya “Maaf, aku tidak apa-apa” ia berkata pelan. Hyukjae menatap wajah itu, ia kemudian tersenyum.

“Aku sangat menyukaimu” kata-kata Hyukjae yang begitu manis itu langsung mengalihkan perhatian Aline. Aline terkesima melihat senyuman dan kelembutan Hyukjae.

“Mengapa tiba-tiba mengatakan itu?” rona kemerahan tampak jelas di wajah Aline, ia tertunduk malu.

“Itu kata yang ingin sering kuucapkan padamu” jawab Hyukjae, entah mengapa Aline tiba-tiba melihat hujan bunga, ia berada di atas angin “Jangan memikirkan banyak hal, aku hanya melihatmu” kata Hyukjae dengan sangat gamblang, ia menyadari apa yang sedang dirasakan oleh gadis manis itu.

“Ya” Aline mengangguk, ia tersenyum tapi tak lama kemudian, Aline kembali menarik nafas pelan, ia sedikit melamun.

“Ada apa?” Hyukjae sedikit heran melihat perubahan sikap Aline.

“Kau melihatnya?” Aline sedikit malu, menyadari jika Hyukjae menangkap dirinya yang penuh lamunan. Hyukjae tersenyum simple yang mengisyaratkan tidak ada yang perlu disembunyikan. “Hanya tersisa empat hari sebelum pesta pertunanganan Siwon dan Anne” Aline mendesah.

“Kau—begitu memikirkan Siwon?” wajah Hyukjae mengkerut, tampak jelas kecemburuan di raut wajah itu. Aline menatap Hyukjae, ia lalu tertawa pelan. “Kau sedang menertawakanku? Apakah begitu lucu?” tanya Hyukjae.

“Apa yang kau pikirkan?” Aline memandang Hyukjae, ia tersenyum geli melihat tingkah Hyukjae yang sedikit kekanak-kanakan “Aku memang resah tapi bukan karena Siwon. Aku memikirkan Sam” lanjut Aline.

“Sam?” Hyukjae kebingungan.

“Belakangan ini Sam tampak kacau” tutur Aline, Hyukjae hanya mengangguk-anggukan kepalanya “Apa kau tak menyadari itu? Adikmu?” Aline bertanya dengan sangat heran.

“Tidak. Aku tahu apa yang kau maksud” ucap Hyukjae “Ah, kedua orang itu sangat aneh dan merepotkan!!” Hyukjae mendegus kesal.

“Kau benar-benar mengerti maksudku?” mata Aline terlihat berbinar-binar.

“Tentu saja. Siwon bahkan sangat uring-uringan belakangan ini. Saat ini aku merasa jika berbicara dengannya sama seperti berbicara dengan angin, dia tak terkonsentrasi dengan itu. Andai kau menyaksikan betapa kacaunya Siwon, aku sangat kesal dan prihatin melihatnya begitu”

“Apa yang kau katakan padanya?” tanya Aline, Hyukjae terdiam, ia cukup lama menatap mata Aline. Di kepalanya terlintas pembicaraannya dengan Siwon.

 “Mengapa harus bertahan dan hanya mendapatkan luka?” Hyukjae memandangi Siwon. Saat itu kelas tampak sunyi, semua penghuninya telah pulang.

“Apa?” tanya Siwon.

“Siwon. Belasan tahun aku hidup bersamamu, ini pertama kalinya kau menyaksikan kau uring-uringan. Kau tahu, betapa kacaunya kau? Kau seperti seseorang yang sedang tersesat dan tak dapat menemukan jalan untuk kembali”

“Aku hanya sibuk mengurusi perusahaan yang hampir sebagian tugasnya telah dilimpahkan padaku” kata Siwon memberikan alasan terbaiknya.

“Tidak, bukan karena itu. Jika pertunanganan itu pada akhirnya hanya akan melukai banyak orang, belum terlambat untuk merubah itu” kata Hyukjae, Siwon menatap Hyukjae dan kemudian ia tertegun, menyadari jika Hyukjae mengetahui lebih banyak dari yang ia pikirkan “Aku berkata seperti ini bukan karena ingin membela siapapun. Kau adalah sahabat terbaikku dan dilain pihak, Sam adalah satu-satunya saudara yang kumiliki. Aku hanya tak ingin melihat orang-orang terdekatku terluka dan menderita”

Siwon membisu.

“Siwon, pikirkanlah. Belum terlambat untuk menjelaskan pada paman dan bibi, tak perlu cemas dengan reaksi mereka, itu dapat diatasi kemudian. Yang kalian butuhkan adalah langkah awal”

“Benarkah kau berpikiran seperti itu?” tanya Siwon, sorot matanya terlihat sangat dalam “Entah mengapa aku tak merasa begitu” ia terlihat sedih.

“Siwon, mengapa? Apakah kau mampu bertahan dan hidup dengan semua itu?”

“Aku merasa Anne adalah gadis yang baik, ia menyenangkan dan aku tak berkeberatan jika itu harus Anne—sampai dengan kedatangan Sam, lalu semua itu mulai berubah. Sam membuatku dengan perlahan melupakan Anne, aku bahkan tak pernah ingat jika dulu pernah menaruh hati pada Anne. Sam membuat duniaku berbalik seratus delapan puluh derajat, karena dia, aku banyak melakukan sesuatu yang bahkan aku sendiri tak pernah berpikir untuk melakukan itu” Siwon bercerita, Hyukjae mendengarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu tanpa berkomentar “Dengannya, aku merasakan hatiku menghangat, jantungku berdebar lebih kencang, aku bisa tertawa dan itu pertama kalinya dalam hidupku merasakan hal-hal yang awalnya tak pernah kumengerti—aku terus memikirkannya.  Aku tak pernah menginginkan apapun dalam hidupku tapi karena Sam aku memiliki keinginan dan harapan terbesar padanya. Sam adalah keinginan terbesar dalam hidupku dan aku tak tahu harus bersikap seperti apa?”

Siwon mengakhiri isi hatinya. Siwon yang selalu tertutup, ia dengan gamblang mengutarakan apa yang selama ini dirasakannya. Lagi-lagi Sam menambah satu  hal baru bagi Siwon, karena Sam, pemuda itu lalu membicarakan isi hatinya.

“Lalu mengapa? Mengapa hanya diam?” tatap nanar Hyukjae.

“Akupun tak ingin begini. Tapi entah mengapa, aku merasa jika mengikuti keinginanku maka akan menyakitinya dan aku tak bisa melihat air matanya” Siwon menarik nafas dan membuangnya dengan desah panjang, seperti sedang berusaha untuk melepas sebagian beban di hatinya.

“Kau memang keras kepala..” Hyukjae tersenyum tipis, ia menepuk-nepuk pundak Siwon.

“Aishh, bahkan mereka mengatakan hal yang sama. Bukankah mereka sangat berjodoh??” Aline menggerutu “Mengapa mereka berpikir akan saling menyakiti?”  gadis itu tampak bingung mendapati bahwa apa yang diucapkan oleh Sam dan Siwon adalah sama. Hyukjae hanya menggeleng pelan.

“Mereka pasangan yang aneh”

“Mereka saling menyukai—tapi mengapa mereka berkata akan saling menyakiti? Hyukjae, tidak adakah yang bisa kita lakukan?” tanya Aline. Raut wajahnya terlihat cemas.

Hyukjae menatap wajah kekasihnya itu. Ia lalu memegangi tangan Aline, menggenggam jemari lentik gadis itu, menghujani Aline dengan tatapan matanya yang lembut.

“Jangan cemas. Saat ini tak ada yang bisa kita lakukan, sekalipun ada maka itu tak akan membuahkan hasil” kata Hyukjae “Semuanya ada di tangan Sam dan Siwon. Biarlah mereka yang menentukan jalan terbaik mereka tapi jika mereka saling mencintai dan masih bertahan seperti itu bahkan melanjutkan jalan itu maka kita harus siap—karena kedua orang itu akan sangat sakit” Hyukjae tersenyum tipis, tatapan matanya yang hangat membuyarkan ketakutan dan kecemasan di wajah Aline.

Aline mencermati setiap kata yang keluar dari bibir Hyukjae. Apa yang disampaikan oleh pemuda itu benar, semua berbalik pada Siwon dan Sam. Jalan seperti apa yang akan mereka pilih.

Ponsel Hyukjae bernyanyi riang.

“Iya” Hyukjae menjawab panggilan masuk itu “Baiklah, aku segera ke sana” Hyukjae segera menutup telepon tersebut “Kita ke klub” ujar Hyukjae.

“Klub?” gumam Aline.

“Donghae baru saja mengatakan bahwa ia dan Siwon sedang menuju klub itu” kata Hyukjae. Aline tak bereaksi “Jangan takut, aku ada bersamamu” Hyukjae tersenyum, ia merasa Aline terlihat ragu. Gadis itu memang tak pernah kemanapun sebelumnya.

“Iya, aku tahu—tapi aku sedang mencoba untuk mengingat sesuatu” dahi gadis itu berkerut memikirkan sesuatu “Ah ya, aku rasa Sam juga berada di sana”

“Benarkah?”

“Iya” jawab Aline mantap sambil memamerkan pesan singkat Sam dua jam lalu yang mengatakan bahwa dirinya sedang berada di klub.

Hyukjae dan Aline langsung meninggalkan kafe tersebut, tentu saja tetap di ekori oleh tatapan mata gadis-gadis yang terkesima dengan Hyukjae. Dua orang itu melaju kencang dengan motor besar berwarna hitam milik Hyukjae.

Gedung besar yang berdiri kokoh tampak ramai, area parkiran yang luas dan dipadati oleh kendaraan-kendaraan mewah. Suasana di dalam gedung tersebut begitu meriah. Muda-mudi dengan gaya berkelas mereka telah memadati gedung itu—sebuah klub yang setiap harinya selalu ramai dipenuhi oleh kaum-kaum kelas atas yang menghabiskan malam, juga uang mereka.

Hyukjae memegang erat tangan Aline. Mereka menerobos padatnya pengunjung yang berlalu lalang. Mereka segera menuju ke lantai dua, ke sebuah meja yang sudah menjadi tempat yang sering dipakai oleh Siwon, Hyukjae dan Donghae selain di ruang kelas VIP. Tampak Siwon dan Donghae telah duduk manis di sofa itu, beberapa botol minuman dan makanan ringan pendamping telah menemani mereka. Donghae melambaikan tangan pada Hyukjae dan dibalas oleh lambaian tangan Hyukjae.

“Seperti biasanya, selalu ramai.” kata Hyukjae. Ia dan Aline ikut bergabung dengan Donghae dan Siwon.

“Hai Aline” sapa Donghae. Aline tersenyum menanggapi sapaan itu.

“Sudah lama kita tidak ke sini” Hyukjae memperhatikan sekelilingnya, beberapa gadis melambaikan tangan padanya. Ia hanya tersenyum tipis, sekedar menghormati sapaan itu. “Bukankah tadi kau bilang, Sam ada di sini?” Hyukjae memandangi Aline.

“Sam?” gumam Donghae. Siwon yang sejak tadi hanya diam, sedikit menoleh kepada Hyukjae mendengar nama itu disebut.

“Aku rasa begitu” kata Aline, ia celigukan mencari Sam tapi itu terasa sukar mengingat begitu padatnya tempat itu.

“Mungkin dia sudah pulang. Sejak datang, aku belum melihatnya” ujar Donghae, matanya ikut mencari sosok gadis itu.

Perkiraan mereka meleset, Sam memang tidak terlihat di ruangan luas yang penuh sesak itu tapi bukan berarti ia tak berada di klub malam tersebut. Di sebuah lorong yang cukup luas, masih di gedung yang sama, Sam terlihat bersandar lesuh di dinding. Rambut coklatnya yang bertambah panjang tampak sedikit awut-awutan, ia menyisir rambutnya dengan jari tangannya. Wajah cantik itu terlihat tak bersemangat, ia menyandarkan kepalanya di dinding, matanya terpejam, desah nafasnya terasa berat. Ia tak perduli jika orang-orang yang lalu lalang di situ terus memperhatikannya—seorang gadis cantik berpenampilan modis tampak frustasi.

Sam mengabaikan mereka, ia lalu melangkah gontai. Ia terlihat sangat sempoyongan dan beberapa kali hampir terjatuh—gadis itu sudah mabuk, entah berapa banyak minuman yang diteguknya. Sam segera bergabung dengan orang banyak yang sedang menari di tengah-tengah ruangan berukuran luas itu, lagu dengan bit yang cukup cepat terdengar memenuhi tempat tersebut.

Sam menari dengan perlahan, kepala, tangan, kaki bahkan seluruh anggota tubuhnya mulai menari dengan gemulai dan menyesuaikan dengan musik—meskipun dalam kondisi yang mabuk berat, ia tetap hebat di dance floor, semua memperhatikannya tapi gadis itu terlalu asyik dengan dirinya sendiri, ia bahkan tak perduli jika ia harus menyenggol orang lain.

Sementara itu—Siwon, Hyukjae, Donghae dan Aline tampak diam membisu. Wajah ke empat orang itu terlihat tak bersemangat dan malas, sesekali melempar pandang pada Anne dan Cleo yang telah bergabung dengan mereka. Entah secara kebetulan atau tidak, mereka bertemu di klub. Aline menatap kesal pada Anne yang duduk di sisi Siwon, gadis itu meneguk minumannya dengan santai. Ia seperti mati rasa, entah sadar atau tidak bahwa kehadirannya dan Cleo telah merubah suasana.

“Kalian benar-benar akan bertunangan?” Donghae tertawa pelan. Entah apa yang ia tertawakan. Siwon diam, ia menunjukan ketidaksenangannya.

“Seberapa jauh menghindar, tapi kami adalah pasangan yang telah ditakdirkan” Anne berkata dengan wajah dinginnya. Aline memalingkan wajahnya, ia jijik mendengar kata-kata yang baru saja disampaikan oleh Anne.

“Tentu saja. Lihatlah, betapa cocoknya mereka” kata Cleo, ia menatap Anne dan Siwon dengan tatapan terharu “Selaluu membuat iri jika melihat mereka” ujar Cleo.

“Benarkah?” Hyukjae menatap tajam dan kemudian ia tersenyum, senyum yang selalu menghanyutkan itu membuat Cleo hampir tak bergeming “Siwon pasti akan sangat bahagia, mendapatkan seorang wanita yang sangat mencintainya” Hyukjae mengerlingkan matanya pada Anne.

“Kau tahu itu..” Anne tersenyum angkuh, tatapan matanya dan juga kata-katanya yang membenarkan perkataan Hyukjae membuat Aline serasa ingin mencabik-cabik gadisitu.

“Aneh…kemudian, mengapa menolak Siwon saat itu?” perkataan tajam Hyukjae membuat mata Anne membulat “Bukankah kau bilang sangat menyukai Siwon? menolaknya, lalu tiba-tiba kau menarik semua ucapanmu—apakah tidak terjadi sesuatu?” Hyukjae tersenyum tapi senyuman itu membuat hati Anne memanas.

Aline berteriak gembira di dalam hatinya melihat kekakuan Anne. Donghaepun tampak sangat penasaran, tidak demikian dengan Siwon yang sepertinya tak ingin mendengar apapun dari mulut Anne.

“Kau! Apa hakmu bertanya seperti itu?” Anne menatap galak pada Hyukjae “Kau, hanya orang luar yang tak berhak sama sekali untuk ikut campur dalam pertunanganan kami” ucapan Anne membuat Siwon menatap seketika padanya.

“Apa yang kau katakan?” tanya Siwon “Kami telah tumbuh bersama dan aku lebih lama mengenalnya dibandingkan mengenalmu. Aku bahkan tak pernah mengatakan Hyukjae adalah orang luar, dia adalah sahabat terbaikku bahkan seperti saudaraku sendiri, lalu apa alasanmu berbicara seperti itu?” kata-kata Siwon terdengar sangat menusuk, ia memandangi Anne dengan dingin. Sorot matanya jelas-jelas menandakan ketidaksenangannya pada ucapan Anne. Donghaepun memperlihatkan hal yang sama sementara Hyukjae hanya diam, raut wajah yang santai—perkataan Anne tak membawa pengaruh apapun padanya.

Anne gugup, ia tak tahu harus berbuat apa. Wajahnya yang semakin beringas menatap Hyukjae dan juga Aline yang duduk di sebelah pemuda itu.

“Ah, mengapa suasana tiba-tiba berubah tegang begini?” Cleo tertawa, ia berusaha untuk mencairkan kekakuan juga ketegangan yang terjadi “Mari kita minum lagi, bukankah sebaiknya kita semua bersenang-senang?” katanya lagi sambil menyodorkan minuman ke tangan masing-masing orang yang berada di situ.

“Sudahlah, aku tak ingin minum” tolak Anne “Aku ingin menari—denganmu!” Anne menatap tajam pada Siwon. Mereka saling pandang. Tanpa banyak bicara lagi, Anne langsung menarik tangan Siwon, pemuda itu meskipun tak berniat mengabulkan permintaan Anne tapi ia hanya menuruti Anne tanpa banyak bicara.

“Aku juga ingin menari” kata Cleo, tatapan matanya tertuju pada Donghae. Donghae tak menggubrisnya “Lupakan saja” dengan kesal ia segera meninggalkan tempat itu. Tersisa Donghae, Hyukjae dan Aline.

“Ternyata dia sangat menyebalkan” gerutu Donghae yang masih kesal dengan tingkah Anne.

Mereka bertiga sama-sama diam. Rasa kesal di hati mereka masih belum hilang dan membuat ketiga orang itu tak berselera untuk membicarakan apapun, sampai mata Aline tiba-tiba tertuju pada seseorang.

“Bukankah itu—Sam?” ujar Aline.

Hyukjae dan Donghae langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Aline. Mereka menatapi Sam yang semakin hanyut dengan musik, ia terus menggerakan tubuhnya, mengikuti alunan musik—seperti seorang profesional yang sedang berada di atas panggung. Sam tak perduli jika tatapan orang banyak sedang mengarah padanya. Untuk kedua kalinya, di tempat yang sama—Sam sukses membuat semua terkesima dengan kelihaiannya menari, mereka bahkan tak menyadari jika gadis itu sudah berada dalam kondisi setengah tak sadar akibat minuman beralkohol yang diminumnya.

Sam terus menari, lagi dan lagi.. dan tiba-tiba saja matanya tertuju pada Siwon dan Anne yang berdiri tak jauh darinya. Diantara orang-orang yang sedang memenuhi lantai dansa, Sam dapat melihat jelas kedua orang itu. Tarian Sam sedikit melemah, matanya terus tertuju pada Anne yang menari, tangan kirinya menggelayut mesra di leher Siwon. Pemuda itu tak berkutik, dia hanya diam di tempat seperti patung. Sam kembali menari, ia mencoba untuk tidak memperdulikan kedua orang itu—yang sepertinya tak menyadari keberadaan Sam.

Meskipun sudah mencoba, tapi matanya selalu tertuju ke arah yang sama dan tarian Sam berhenti seketika, melihat tangan Anne yang menggerayangi dada Siwon. Gadis itu menari dengan lincah, berputar mengelilingi Siwon yang tak memberikan reaksi sedikitpun. Ia hanya diam seribu bahasa.

Sam hendak pergi, ia tak ingin melihat pemandangan yang membuat perasaannya terasa aneh, membuat dirinya merasa tak nyaman—lalu tiba-tiba seseorang memegang pergelangan tangan gadis itu. Sam menoleh, Donghae berdiri, memandanginya tajam. Mata Sam kembali tertuju pada Anne yang semakin agresif menari di sisi Siwon. Sam membuang muka, ia berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman Donghae. Tatapan mata Donghae terlihat aneh, ia lalu menarik tangan gadis itu membuat Sam merapat padanya. Donghae melingkarkan tangannya di pinggang Sam yang ramping dan…

Hyukjae dan Aline berdiri kaku di tempat mereka, semua orangpun memiliki arah pandang yang sama dengan Hyukjae dan Aline. Musik masih mengalun tapi tak ada tarian, ada hal lain yang telah menarik perhatian mereka. Siwon yang menoleh sekilas lalu, sekejap matanya membulat, ia menjadi kaku dengan sorot mata yang terkejut menyaksikan Donghae mencium Sam.

Siwon merasakan sesuatu yang hebat, hatinya dan juga pikirannya mendadak kosong melihat pemandangan tersebut. Anne pun terkejut dengan itu, ia lalu menoleh pada Siwon yang lebih mematung dan seperti orang mati, Anne kesal dan semakin cemburu—gadis itu tahu betul apa yang ada di hati Siwon.

Donghae mengakhiri ciuman panjang itu, ia lalu menatap wajah Sam. Gadis itu hanya diam. Tak ada ekspresi apapun di wajahnya, ia tak terlihat kaget seperti beberapa orang yang dikenalnya. Wajahnya sangat dingin. Ia lalu melangkah pergi, meninggalkan Donghae dan semua orang.

“Jangan pergi!” Anne langsung memeluk Siwon ketika pria itu hendak mengejar Sam. Ia tak ingin membiarkan Siwon berlari menuju Sam, gadis itu benar-benar tak berniat melepaskan Siwon. Siwon tak dapat berbuat apa-apa, ia hanya memandangi Donghae yang tak lama kemudian berlari menyusuli Sam.

Sam melangkah pelan, ia tertatih-tatih. Bisu, mulutnya tertutup rapat, tatapan matanya yang kosong tapi hati yang berkecamuk hebat.

“Sam” Donghae memegang tangan gadis itu. Sam terdiam, ia kembali melangkah tapi Donghae semakin kuat memegang tangannya, tak membiarkan gadis itu pergi.

“Lepaskan!” kata Sam—datar.

“Mengapa kau tak bisa mengalihkan pandanganmu?” ujar Donghae “Bukankah sudah kukatakan, kau hanya datang padaku! Cukup melihatku saja! Bahkan orang yang lebih dulu kau jumpai adalah aku, bukan Siwon tapi mengapa yang kau lihat justru dia?” Donghae berkata dengan lantang, sorot matanya terlihat sangat sedih.

“Jangan katakan apapun padaku!” Sam berkata dingin. Ia melepaskan pegangan Donghae dan akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Donghae yang masih terpaku dengan sorot mata yang tampak terluka.

~.o0o.~

Kejadian di klub malam menyebar luas. Di internet, surat kabar bahkan beberapa foto Sam dan Donghae terpampang jelas pada papan pengumuman di sekolah. Semua orang terus membicarakan ciuman Donghae dan Sam yang sangat menghebohkan itu.

Kemanapun Sam, ia selalu diikuti oleh tatapan siswa-siswi. Sam tak perduli seperti biasanya. Sama halnya dengan Aline yang mendapat banyak cercaan dan tatapan yang ingin memusnahkannya ketika Hyukjae menyatakan cinta pada Aline, Sam juga mengalami hal yang sama—hanya saja, tak ada yang berani pada gadis itu.

Sam hanya memandang dingin pada kerumunan gadis atau siswa yang terus menatapnya dan tak lama kemudian mereka akan berlalu dengan sendirinya. Ya, sorot mata si cantik akhir-akhir ini sangat menakutkan, apalagi ekspresinya  membuat orang bergidik ngeri.

“Kau tak apa-apa?” tanya Aline cemas dengan kondisi Sam belakangan ini.

“Kau sangat menggemaskan” Sam tertawa dengan pertanyaan Aline.

“Ah, kau membuatku semakin kesal” Aline tertawa bersama Sam “Kau benar-benar membuat mereka tak tenang, Sam” kata Aline. Sam menatapi setiap siswa yang lewat dan tak absen menghadiahi pandangan aneh padanya.

“Mereka hanya frustasi” jawab Sam santai.

“Aku tak menyangka Donghae akan melakukan itu” Aline berdecak kagum “Mengapa hal itu terlewat dari pantauanku? Selama ini aku hanya mengawasimu dan Siwon, bodohnya aku tak menyadari perasaan Donghae untukmu”

Sam tersenyum tipis.

“Sekarang semuanya semakin rumit. Keduanya adalah kakak beradik Francaise dan mereka menyukai orang yang sama” ujar Aline “Sam. Besok mereka akan melangsungkan pesta pertunanganan” Aline berkata dengan ragu, ia ingin memastikan perasaan Sam. Sam hanya menatapnya sekilas seperti sedang berkata ‘iya aku tahu—lalu?’. Sam kemudian menerima panggilan masuk di ponselnya. Ia segera menjauh dari Aline, terdengar seperti pembicaraan rahasia. Aline hanya menatap Sam yang keluar ruangan dengan wajah seriusnya.

***

Hari sudah gelap. Sam baru saja memasuki pintu gerbang utama di kediaman Francaise, ia mengurangi laju sepedanya. Mata Sam tertuju pada laut di bawah sana.

Tak memerlukan banyak waktu bagi gadis itu untuk berjalan di pasir putih pantai tersebut. Ia memandangi wajah bulan yang memantul di permukaan air laut yang tampak beriak tenang, cuaca malam itupun sangat cerah. Sam menengadahkan kepalanya, ada ribuan bintang di atas sana. Gadis itu berpikir sejenak, entah sudah berapa lama tak berjalan-jalan di pasir putih itu. Sam duduk di atas pasir dan melepaskan sepatunya, ia membiarkan kakinya merasakan sensasi pasir pantai itu. Malam terasa sangat bungkam—sunyi, hanya deburan ombak yang menyapa Sam dengan intens.

“Uhhuukk….!”

Lamunan Sam terpecah. Ia mendengar seseorang terbatuk lemah. Gadis itu menoleh ke sekelilingnya, matanya belum menangkap apapun. Ia kembali pada lamunannya. Batuk itu terdengar lagi, kali ini Sam yakin jika itu bukan bagian dari lamunan panjangnya. Ia segera bangkit dan memperhatikan keadaan di sekitarnya dengan lebih seksama. Sam tanpa ragu melangkahkan kakinya mendekati kumpulan bebatuan kasar di belakangnya, tempat yang diyakini olehnya sebagai asal sumber suara.

“Siapa?” tanya Sam, ia semakin mendekat dan mendapati seseorang yang duduk tersandar di bebatuan itu. Sam mengamati lebih dekat dan akhirnya ia terperanjat “Siwon? kau kah itu?” Sam langsung mendekati Siwon.

“Kau…” ujar Siwon dengan suaranya yang berat. Sam langsung menjauhkan wajahnya, bau minuman tercium tajam dari Siwon.

“Apa ini? Kau mabuk?” Sam heran, ia tak pernah melihat seorang tuan muda seperti Siwon berada dalam kondisi yang tak berdaya. Siwon sangat memprihatinkan, ia hanya tertunduk dan mulai kehilangan kesadaran. “Sebaiknya kita kembali? Jangan seperti ini” Ia berusaha untuk menopang tubuh Siwon. Terasa berat.

Siwon tiba-tiba saja menarik Sam ke dalam pelukannya. Gadis itu terperanjat, ia berusaha untuk melepaskan diri dari Siwon yang terlihat seperti orang yang sedang kritis namun pemuda itu tak membiarkannya pergi begitu saja.

“Aku mohon” ujar Siwon pelan “Hanya untuk beberapa saat, biarkan waktu berhenti di sini” Siwon melanjutkan perkataannya yang terdengar sangat berat itu.

“Siwon”

“Jangan berisik. Ini permintaan pertama—sekaligus permintaan terakhirku padamu” ujar Siwon “Tak bisakah kau? Hanya untuk beberapa saat aku ingin seperti ini” kata Siwon. Terlihat jelas bahwa ia sangat frustasi.

Sam terdiam, ia tak lagi membangkang. Hanya membiarkan Siwon memeluknya dan iapun mulai terseret, hanyut dengan suasana itu. Dua orang yang saling menyukai, mereka sama-sama saling membutuhkan tetapi tak dapat mengikuti kata hati mereka, hanya bisa berontak dan menangis di dalam hati. Dada Sam mulai sesak, matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku ingin berhenti di sini” gumam Siwon, ia terluka dan ia sangat menderita dengan kondisi yang sedang mereka alami “Kumohon, setelah ini pergilah, pergi jauh dariku agar aku bisa tetap hidup” ujar Siwon dengan pelan, ada air mata yang tak diketahui oleh Sam dan air mata itu mengalir di wajah mulus Siwon.

“Ya. Aku rasa begitu” kata Sam dan air matanyapun gugur “Sebaiknya kita jangan saling bertemu lagi. Kita akan sama-sama terluka—seperti sekarang. Siwon, mari kita tidak saling bertemu, lalu hidup bahagia” Sam mengutarakan kata hatinya dengan berat, ada sesuatu yang menekan dadanya.

Keduanya saling berpelukan, semakin erat sebagai salam perpisahan untuk sebuah hubungan yang bahkan belum mereka mulai. Siwon sebagai pewaris utama kekayaan Francaise, dengan kehidupan yang telah di atur. Hidupnya adalah sebuah jadwal yang harus ia penuhi. Ia tak bisa hidup sesuai dengan keinginannya, lalu bertemu dengan Sam yang membuat sebuah keinginan dan harapan tumbuh dalam diri Siwon—dan itu membuatnya sangat sakit. Begitupun dengan Sam, gadis itu memiliki banyak hal yang harus ia lakukan serta trauma masa kecil karena perceraian kedua orang tuanya yang membuatnya takut untuk mengharapkan seseorang di sisinya.

~.o0o.~

Hari itu akhirnya tiba. Hari pertunanganan Siwon dan Anne. Sebuah bangunan bergaya modern dengan ketinggian yang mirip gedung pencakar langit. Bangunan mewah dan megah tersebut adalah hotel paling berkelas yang ada di kota tersebut dan merupakan salah satu hotel milik keluarga Francaise. Mobil-mobil mewah berderet-deret memasuki area hotel. Penjagaan yang tampak begitu sangat ketat untuk menghindari hal-hal buruk yang dapat mengganggu jalannya pesta pertunanganan tersebut.

Sebuah ruangan dengan ukuran luas mulai dipenuhi manusia. Keluarga, relasi, rekan bisnis termasuk juga teman-teman sekolah Siwon dan Anne turut hadir untuk menyaksikan pertunanganan tersebut. Mereka datang dari orang-orang kelas menengah ke atas, penampilan yang begitu berkelas dan tampak sangat elegan. Tuan dan Nyonya Francaise tampak bercakap-cakap dengan beberapa orang, wajah mereka sangat bahagia. Para pelayan yang sibuk mengantarkan minuman pada tamu-tamu undangan tersebut.

Di sebuah ruangan.

“Kau sangat cantik” Cleo memandangi Anne dengan penuh takjub. Anne tersenyum. Ia memang terlihat berbeda dengan balutan gaun berwarna putih rancangan seorang perancang terkenal juga rias wajah yang sesuai membuat wajah Anne terlihat cerah. Cleo, Caron dan Fleur tak henti-hentinya memuji sahabat mereka.

Awesome..kau terlihat sangat cantik, Anne” kata Fleur.

“Aku tahu” Anne tersenyum dan memandangi dirinya yang tampak sempurna di kaca.

“Aku sangat iri. Kau akan bertunangan dengan Siwon” Caron memandangi Anne dengan tatapan irinya “Aku rasa banyak gadis yang iri padamu—juga kesal”

“Tentu saja” ujar Fleur “Tunanganmu adalah orang yang paling diincar oleh gadis-gadis. Setelah Hyukjae, yang memilih gadis sial itu—semoga dia tak menyesali keputusannya. Aku dapat mempertimbangkan lagi jika Hyukjae berbalik padaku. Dia harus berlutut padaku” kata Fleur, ia masih kesal dan sakit hati, tak dapat menerima dengan pilihan hati Hyukjae.

“Aku tak pernah bisa percaya ketika melihat foto itu” wajah Cleo tampak sinis mengingat foto Donghae dan Sam saat di klub malam “Apa itu? Ingin sekali kuhancurkan wajah Sam” geram Cleo kesal. Anne hanya tersenyum sinis.

“Jaga ucapanmu!” kata Fleur “Bagaimana jika ada yang mendengarmu?” ia sangat kesal, memandangi Cleo dengan tatapan sadisnya.

“Aku tak akan menyerahkan Donghae pada siapapun!” Caron berkata dengan sangat lantang.

“Kau tak akan bisa merebutnya dariku!” Cleo memandang sinis pada Caron. Kedua gadis itu saling beradu pandang, mereka memang sama-sama mengincar Donghae. Anne dan Fleur hanya menarik nafas, kesal dengan tingkah kedua gadis itu.

“Sudahlah, jangan bertengkar. Ini adalah hari pertunanganan Anne, jangan membuat banyak masalah” kata Fleur “Anne, kalian akan menjadi pasangan yang paling cocok di dunia” Fleur memandangi Anne yang hanya tersenyum bangga.

Sementara itu, disebuah ruangan yang hanya berjarak beberapa ruangan dari tempat Anne dan sahabat-sahabatnya—terjadi kebungkaman dalam ruangan tersebut. Siwon yang telah berpakaian rapi, ia sangat tampan dengan setelan jas hitam yang dipakainya.

Pemuda itu hanya duduk diam dengan tatapan matanya yang tampak kosong. Hyukjae dan Donghaepun tampak diam. Hyukjae yang mengisi kebisuan mereka dengan membaca sebuah majalah, membolak-balik halaman demi halaman.

“Tidak ada yang menarik” ujar Hyukjae, ia melempar majalah yang dipegangnya begitu saja di atas meja. “Kemana anak itu?” gumam Hyukjae yang sedang bertanya pada dirinya tentang keberadaan Sam.

“Aku juga tak melihatnya sejak kemarin” kata Donghae yang masih mematung, memandangi pemandangan kota dari jendela. Ia lalu beranjak dari tempatnya berpijak dan langsung duduk di sofa, tepat di samping Hyukjae.

“Kau terlihat tak begitu baik” Hyukjae memperhatikan Siwon yang sejak tadi hanya membungkam “Kau tak apa-apa?” tanya Hyukjae.

Seseorang membuka pintu, mengalihkan perhatian ketiga anak muda tersebut. Seorang pria yang mereka kenal sebagai sekretaris, masuk dan memberi salam kepada mereka.

“Acaranya akan segera dimulai, tuan muda!” katanya dengan santun dan mengisyaratkan ketiga anak muda itu untuk segera menuju ke ruang utama tempat dilangsungkan pesta tersebut.

“Baiklah. Mari kita pergi!” kata Siwon seraya berdiri. Menatap Hyukjae dan Donghae, ada senyuman tipis di wajahnya sebagai jawaban atas pertanyaan Hyukjae sebelumnya bahwa dirinya baik-baik saja. Wajah Hyukjae dan Donghae tampak aneh, mereka hanya diam mengikuti Siwon yang telah mendahului mereka.

Ratusan pasang mata para undangan yang berada di ruangan itu tertuju pada Siwon dan Anne yang baru saja memasuki ruangan tersebut. Mereka segera bergabung dengan kedua belah pihak keluarga yang telah menanti mereka.

Donghae dan Hyukjae serta ketiga sahabat Anne segera mengambil tempat. Hyukjae segera bergabung dengan Aline. Tuann dan Nyonya Francaise bersama Kyuhyun, mereka tersenyum bahagia melihat Siwon dan Anne. Sama halnya dengan Tuan dan Nyonya Petitjean. Semua undangan terkesima melihat pasangan yang di mata mereka tampak sangat serasi.

“Tamu undangan yang kami hormati, malam ini kita semua akan menyaksikan penggabungan dua perusahaan besar yang ditandai dengan pertunanganan putra putri dari Francaise group dan G&W group” kata MC dan langsung disambut dengan anggukan antusias serta tepuk tangan riuh yang membahana di ruangan tersebut.

Anne tersenyum manis, ia terlihat sangat bahagia. Berbeda dengan Siwon, pemuda itu tak memperlihatkan senyum di wajahnya, ia hanya diam. Ia tak begitu terkonsentrasi dengan acara itu.

Mata Siwon tiba-tiba tertuju pada seorang gadis yang duduk di sebuah meja dengan beberapa orang tak dikenal. Ia menatap Sam yang selalu tampak cantik apalagi dengan balutan gaun biru muda simple dan juga rias sederhana yang membuatnya semakin mempesona. Kedua orang itu saling bertatapan. Wajah mereka tampak tenang tapi hati mereka sedang berkecamuk. Donghae mengikuti arah pandang Siwon, begitu juga dengan Hyukjae yang diberi kode oleh Aline. Sam tersenyum sangat tipis kepada Siwon, senyuman itu seperti sebuah ucapan selamat kepada Siwon.

“Baiklah, rasanya kita semua sudah tidak sabar untuk melihat inti dari acara ini. Kita akan segera menyaksikan pasangan hebat ini mengenakan cincin pertunanganan” ujar MC dan kembali disambut dengan tepuk tangan para undangan.

Anne segera berdiri, tetapi tidak demikian dengan Siwon. Sepertinya ia memang tidak mendengar apa yang disampaikan oleh MC, matanya terus tertuju pada Sam. Menatap Sam dengan tatapan yang lirih. Anne menatap Siwon yang masih mematung, ia lalu menatap para undangan dan merasa malu melihat Siwon yang belum berkutik. Bahkan ketika MC mengulangi apa yang telah ia katakan sebelumnya.

“Siwon, semua sedang menyaksikan kita” kata Anne menyentuh pundak Siwon tapi tatapan matanya tertuju pada semua tamu dan tetap tersenyum.

“Ah, ya” Siwon sedikit tersentak, ia terbangun dari lamunan panjangnya. Ia lalu berdiri dan bersama-sama Anne menuju tempat yang telah ditentukan.

Seorang wanita membawa baki di tangannya dan diatasnya telah ada sepasang cincin berlian yang sangat indah. MC itu meminta Siwon untuk mengambil cincin tersebut dan memasangkan di jari Anne. Mata Siwon melirik ke tempat Sam duduk dan gadis itu tak terlihat lagi di sana.

Siwon menoleh, kepala bergerak dan terus mencari sosok Sam, matanya mengawasi orang-orang yang duduk di masing-masing tempat, meja bulat yang dikeliling oleh lima orang. Sam masih belum terlihat, Siwon bahkan tak lagi terkonsentrasi. MC yang lagi-lagi harus mengingatkan Siwon tentang apa yang harus ia lakukan.

“Apa yang kau lakukan?” Anne memandangi Siwon, ia mulai gusar dengan tingkah Siwon yang membuat semua orang bertanya-tanya heran “Aku tidak ingin merusak acara ini” kata Anne.

“Siwon. Ada apa?” tanya Nyonya Francaise, wajahnya tampak cemas.

“Tidak, maafkan aku” kata Siwon. Ia mengamati semua tamu dan juga keluarga yang terlihat cemas. Pemuda itu menarik nafas dan lalu mengikuti arahan MC, mengambil cincin berlian nan indah tersebut.

Anne segera menyodorkan tangannya, memperlihatkan jari manisnya yang siap dipakaikan cincin. Siwon memegang tangan Anne, ia baru saja hendak memasangkan cincin di jari Anne ketika wajah Sam kembali merusak konsentrasinya. Sam yang tenang, Sam yang penuh misteri, senyum manisnya dan tawa polos yang pernah dilihat Siwon—semua terlihat jelas di mata Siwon. Seperti sedang membuka album yang telah dikubur olehnya. Debar jantung Siwon semakin kencang.

“Ada apa dengannya?” bisik Aline cemas. Hyukjae yang duduk di samping gadis itu hanya diam, mengawasi Siwon.

Anne mulai kesal dengan tingkah Siwon yang membuatnya kehilangan muka.

“Siwon!” Anne membulatkan matanya pada Siwon “Kau membuat tanganku mulai sakit” ujar Anne.

“Siwon, mengapa kau hanya diam?” Tuann Francaise bertanya dengan mimik yang sangat serius.

Siwon diam. Ia menatap kedua orang tuanya, bergantian menatap Tuan dan Nyonya Petitjean, lalu mengarahkan pandangannya pada semua orang dalam ruangan itu.

“Ini gila” gumam Siwon, ia menggeleng kepalanya pelan dan mengurungkan niatnya, juga melepaskan tangan Anne membuat semua orang keheranan “Aku tak bisa. Maafkan aku” kata-kata itu akhirnya keluar dari mulut Siwon. Kontan saja ruangan itu menjadi gaduh.

Siwon segera berlari keluar ruangan meninggalkan semua orang yang masih kebingungan. Kedua orang tua mereka yang tampak syok, begitupun dengan Anne yang tak bisa berkutik.

“Apa yang…” Nyonya Francaise terbata, ia kehilangan seluruh tenaganya. Dengan sigap Donghae segera memegang tubuh Ibunya, menuntunnya untuk duduk. Wajah Tuan Francaise tampak merah, marah dan juga malu melihat tingkah Siwon di depan tamu-tamu undangan. Nyonya Petitjean pun tampak meneteskan air matanya, Tuan Petitjean mencoba untuk menenangkan istrinya. Tangan Anne mengepal, ia geram dan berlari keluar ruangan—Cleo, Caron dan Fleur berlari mengikuti gadis itu.

***

Sam berjalan dengan tergesa-gesa, lebih tepatnya setengah berlari. Ia baru saja melewati gerbang hotel mewah tempat berlangsungnya acara pertunanganan Siwon dan Anne. Langkah kakinya mulai pelan dan akhirnya berhenti. Sam menatap sekelilingnya seperti orang kebingungan, semuanya tampak berputar-putar. Nafas Sam mulai memburu, ia merasakan dadanya yang hampir meledak. Sam menyisir dengan jemari, rambut indahnya yang mulai berantakan. Ia berjongkok lemas, ada sesuatu yang hangat mengalir di wajahnya.

Damn, apa-apaan ini?” tawa Sam pada dirinya sendiri, tangannya segera menghapus air mata di wajahnya.

Siwon membuatnya lebih sering mengeluarkan air mata dan membuat Sam geli jika mengingat hal itu. Untuk beberapa saat ia tertawa lalu tawa itu secara perlahan berubah tangis dalam diam. Sam menutup mulutnya agar suaranya tak keluar.

Sebuah tangan terulur dari balik punggung Sam, tangan itu memegang sebuah sapu tangan berwarna coklat muda dengan garis hitam di tepiannya. Sam baru saja hendak menerima sapu tangan tersebut, tanpa banyak berpikir ia menoleh dan mendapati dirinya yang terkejut. Ada sedikit pekikan yang keluar dari mulutnya. Begitu terkejutnya membuat Sam yang semula berjongkok langsung tersungkur—ia terduduk di aspal hitam dan licin tempatnya berpijak.

“Kau?” mata Sam membulat menatap sosok Siwon yang berdiri di hadapannya. Siwon kaget melihat reaksi Sam. “Mengapa kau di sini?” tanya Sam yang kebingungan, dipikirannya, seharusnya pesta itu belum usai mengingat ia meninggalkan ruangan itu sesaat sebelum acara pertukaran cincin.

“Aku rasa kau tak memerlukan ini” Siwon memasukan sapu tangan ke dalam saku jasnya, ia lalu memandangi Sam dan kemudian tersenyum. Senyuman itu kian melebar membuat Sam semakin heran “Hei, kau sedang menangis?” tanya Siwon dengan tawa yang tak bisa disembunyikan lagi. Ia mungkin merasa lucu jika mengingat Sam yang sebelumnya tak pernah bisa menangis.

“Lupakan!” desis Sam kesal, ia lalu berdiri dan mengebas debu yang menempel di gaun indahnya “Kau tak perlu melihatnya. Stupid Sam” Sam mengumpat pada dirinya sendiri. Menyesali air mata yang keluar karena Siwon, ia merasa kesal melihat Siwon sedang menertawakan dirinya.

Sam menggurutu, sedikit mengutuk dalam hatinya. Melihat Siwon tiba-tiba membuatnya emosi dan ia memutuskan untuk pergi. Siwon langsung meraih gadis itu ke dalam pelukannya. Ia memeluk Sam dengan sangat erat membuat Sam terkejut dan sejujurnya ia hampir tak bisa bernafas.

“Lupakan semua perkataanku padamu. Aku pernah memintamu untuk pergi agar aku bisa melanjutkan hidupku” ujar Siwon, suaranya begitu dekat di telinga Sam “Tetapi, saat mataku tak bisa menemukanmu aku merasa hatiku berhenti, seperti orang gila, mencoba menemukanmu”Siwon melepas pelukannya. Ia menatap Sam.

“Apa yang…”

“Aku salah, ternyata tak ada kau—semuanya terasa kosong. Aku tak tahu harus bagaimana jika tak melihatmu. Hanya memikirkan kau pergi, aku sudah seperti orang kehilangan pikiran” ujar Siwon, tak memalingkan pandangannya sedikitpun dari Sam, gadis itu terperangah “Samantha Lee, i love you” ungkap Siwon.

Meskipun lahir dan besar di Perancis, Siwon dan kedua adiknya tetap menguasai bahasa Korea dengan sangat baik, negara dimana Ibunya berasal. Dan Siwon sangat yakin bahwa Sam mengerti apa yang dikatakannya mengingat gadis itu telah tumbuh di negeri gingseng tersebut. Mata indah Sam membulat, ia terkejut mendengar penuturan Siwon. Hatinya kembali meledak.

“Kau..” gumam Sam, ia telah kembali kepada dirinya dengan raut wajahnya yang begitu tenang “Apa yang tadi kau katakan?” tanya Sam polos.

“Apa maksudmu?” Siwon terkejut. Ia menatap Sam cukup lama “Jangan bercanda, Sam” senyum Siwon melihat tingkah Sam.

“Apa aku terlihat sedang bercanda denganmu?” wajah Sam semakin serius.

“Gadis ini..” Siwon semakin kesal apalagi tatapan mata Sam yang begitu lugu seperti membenarkan pernyataannya bahwa ia tak mengerti apapun yang dikatakan oleh pemuda itu.

“Kau membuang waktuku” ujar Sam. Ia benar-benar sukses memperdayai Siwon yang hanya diam.

Ia berbalik hendak pergi dan Siwon menariknya kembali. Tangan hangatnya merengkuh wajah Sam dan langsung mencium gadis itu. Mata Sam melebar, ia terkejut dengan aksi Siwon. Berbeda ketika Donghae menciumnya, kali ini dada Sam benar-benar telah meledak berkali-kali seperti bom atom yang diledakan di Hiroshima dan Nagasaki, ia merasakan seluruh tubuhnya yang lemas dan menghangat. Matanya mulai terpejam, membiarkan Siwon menciumnya dengan lembut.

~.o0o.~

Sama halnya ketika berita pertunanganan Anne dan Siwon mencuat di publik, kabar tentang pertunanganan mereka yang batal setelah Siwon pergi di tengah berlangsungnya acarapun kembali ramai diperbincangkan. Semua orang begitu terkejut dengan kejadian tersebut, apalagi setelah kejadian itu, Siwon yang justru terlihat dekat dengan Sam semakin menarik untuk dibicarakan.

Anne kembali ke sekolah setelah hampir seminggu tak masuk, ia pasti terpukul dan merasa dipermalukan dengan kejadian itu. Kabar tentang penyebab Siwon pergi akhirnya tercium juga, lagi-lagi nama Sam terseret. Ketiga sahabat Anne jelas kesal tapi Sam tak pernah menanggapi kekesalan mereka.

Hampir semua siswi yang berpapasan dengannya pun tampak tak senang, pasalnya Sam terlibat dengan orang-orang yang menjadi idola mereka. Setelah foto ciumannya dengan Donghae yang beredar, kini ia kembali diperbincangkan karena batalnya pertunanganan Siwon dan Anne. Kekesalan mereka semakin terpancing melihat Siwon yang dengan jelas menunjukan sikapnya pada Sam.

“Sudah kuduga, kalian pasti akan berakhir seperti ini” Aline memandangi Sam, ia tersenyum puas.

“Masih terlalu dini untuk menilai” kata Sam pelan.

“Tidak” jawab Aline “Yang ditakdirkan bersama Siwon adalah kau, bukan Anne. Sejauh apapun kalian berlari menghindar—kalian pasti akan kembali ke tempat yang sama. Kau harus ingat kata-kataku Sam”

“Benarkah?” Sam tertawa “Lalu bagaimana denganmu?”

“Tentu saja aku sangat bahagia. Hyukjae membuatku sangat nyaman dan percaya diri” ujar Aline, ia tersenyum. “Aku rasa—aku bisa melihat masa depanmu dan Siwon”

“Kau berpikir sejauh itu?” Sam terbahak “Apa yang kau lihat?” canda Sam.

“Kalian adalah pasangan yang paling bahagia, hidup bersama hingga akhir” Aline membayangkan banyak hal tentang Sam. Sam yang tadinya tersenyum, perlahan senyum itu semakin pudar—ada sesuatu yang melintas di kepalanya, sorot matanya berubah, ia merasa sangsi dengan semua ucapan Aline.

***

Mata para siswi tertuju pada sosok pemuda bertubuh tinggi dengan tampang yang terlihat serius, raut wajahnya yang tenang dan tegas semakin membuat para gadis itu terkesima. Mereka tak melepaskan pandangan dari Siwon. Pemuda itu bersandar di dinding, tas sekolahnya menggelayut manja di pundaknya, tangan kirinya begitu lincah memainkan bola basket.

Mata Siwon yang sesekali melirik pada jam tangannya dan berkali-kali menoleh ke sebuah arah, koridor sekolah yang mulai ramai dilalui oleh para siswa. Siwon berbinar menyaksikan Sam yang berjalan dari arah sana, diantara penuh sesak siswa-siswi yang baru menyelesaikan jam pelajaran mereka. Siwon tersenyum tipis, ia menatap wajah Sam—gadis itu tak menyadari sosok Siwon yang sedang berdiri menunggunya.

Senyum tipis Siwon lenyap. Dasar Sam yang terlalu cuek, ia bahkan tak menoleh sedikitpun pada Siwon dan berlalu melewati pemuda itu. Siwon memperbaiki duduk tas sekolah di pundaknya, wajahnya tampak kesal.

BUGH!

“Aaauw” ringis kesakitan Sam yang memegangi kepalanya. Ia menoleh memandangi Siwon di belakangnya, pemuda itu menggebuki kepala Sam dengan bola basket yang di pegangnya “Aisshh, kau gila?” Sam masih memegangi kepalanya, Siwon hanya diam. Ia lalu menyamai langkahnya dengan Sam, berjalan di samping gadis itu.

“Sikap apa itu? Melewatiku begitu saja?” gumam Siwon “Kau membuatku terlihat seperti orang dungu” katanya lagi, ia terus memainkan bola basket itu.

“Kau sedang menungguku?” tanya Sam, pemuda itu tak menjawab “Tentu saja aku tak melihatmu. Begitu banyak siswa yang berkeliaran, mengapa aku harus memperhatikan sedetail mungkin?”

“Gadis ini!” Siwon kembali menggebuki kepala Sam dengan bola itu.

“Kau akan menyesal!” Sam memandangi kesal pada Siwon, dengan sigap tangannya menangkap bola yang dipegang oleh Siwon. Lalu melemparkan bola itu dengan sekuat tenaga ke wajah Siwon—tepat sasaran, pemuda itu meringis. “Kau harus tahu sedang berhadapan dengan siapa” Sam menjulurkan lidahnya dan pergi.

Siwon yang masih mematung dengan rasa sakit akhirnya hanya bisa tersenyum lalu berlari pelan menyusuli Sam, ia langsung melingkarkan tangan kanannya di leher Sam membuat gadis itu terkurung di lengannya.

“Benarkah? Kurasa, kau yang tak tahu sedang mencari masalah dengan siapa?” bisik Siwon pelan, dengan nada jahilnya. Sam langsung melepaskan dirinya, ia menepis kasar tangan Siwon tapi pemuda itu kembali mengurung Sam dengan lengan kokohnya membuat gadis itu sedikit tercekik.

Siwon tertawa, ia merasa lucu melihat tingkah konyol Sam yang berusaha untuk membebaskan diri. Mereka tak perduli ketika semua mata sedang tertuju pada mereka. Siswa-siswi yang mematung melihat seringai lebar Siwon untuk pertama kalinya—Siwon yang tampan semakin tampan ketika sedang tertawa. Tatapan yang serasa hanyut oleh senyuman pembunuh Siwon dan berubah menjadi tatapan iri sekaligus ingin membunuh ketika beralih kepada Sam.

***

Siwon yang baru saja mengikuti kegiatan Klub anggar terlihat sedikit lesuh. Ia menuruni tangga lebar dan langkah kakinya hampir terhenti melihat Donghae yang sedang menaiki tangga yang sama. Kakak beradik itu bertemu, saling bertatapan.

Kafe sekolah. Donghae meneguk coklat panas yang dipesannya, ia lalu menatap Siwon yang sedari tadi duduk diam di hadapannya. Kalian tahu, betapa bernafsunya tatapan para gadis yang seakan ingin memburu kedua siswa tampan yang duduk santai di kafe sekolah.

“Aku tak menyangka, kau akan meninggalkan pesta pertunanganan itu” Donghae membuka percakapan, mengingatkan Siwon akan kejadian yang hampir seminggu berlalu.

“Aku juga demikian” Siwon tersenyum. Ia sendiri bahkan tak mengira jika dirinya akan nekat melakukan hal gila tersebut, selama ini Siwon tak pernah membangkang dan selalu menuruti apapun kata kedua orang tuanya.

“Sam membuat kita seperti orang gila” kata Donghae “Gadis aneh dan misterius itu, mengapa harus dia?”

“Maafkan aku” kata Siwon. Ia terdiam “Aku tak pernah berpikir jika akan terjebak karenanya. Kau benar, dia aneh dan misterius bahkan sedikit gila tapi hatiku telah penuh dengan semua hal gila tentangnya. Dia mengalihkan seluruh duniaku. Meskipun aku tak ingin menyakitimu tapi kenyataannya aku tak bisa membiarkannya pergi ke sisimu” kata Siwon, ia begitu tenang.

“Mengapa harus meminta maaf?” Donghae balik bertanya “Aku memang sangat patah hati melihat kalian. Aku merasa sedikit tidak adil, aku yang pertama menemukannya tapi aku tak bisa menahan hatinya. Meskipun aku berkata padanya bahwa cukup melihatku, cukup datang padaku tapi apa yang bisa aku lakukan ketika orang itu adalah kau” Donghae tersenyum kecut.

Siwon terdiam, ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya tapi ia sendiri tak ingin mengalah.

“Ah, maaf” Siwon merasa tak enak pada adiknya sendiri.

“Sudah kukatakan, tak perlu meminta maaf. Kau akan membuatku semakin kesal—membuatku merasa seperti seseorang yang paling malang di dunia” Donghae tertawa, “Yang kau lakukan adalah membuatnya tetap nyaman bersamamu. Karena kau maka aku bisa mengalah dan melepaskan Sam tapi aku tidak akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Jika kau menyakitinya dan melepaskannya maka kau akan sangat menyesal karena aku tak akan mengalah untuk kedua kalinya, Siwon”

“Apa kau tak terlalu keterlaluan berkata seperti itu pada saudaramu sendiri?” Siwon tertawa mendengar perkataan Donghae.

“Sebaiknya kau berhati-hati!” jawab Donghae dengan tawa lebarnya.

“Aku selalu berhati-hati, Donghae” jawab Siwon mantap. Keduanya bersulang, dan meneguk minuman mereka.

Tawa menghiasi wajah kedua kakak beradik Francaise yang telah membuat pengunjung kafe semakin banyak. Lalu mata mereka tertuju pada Hyukjae yang melambaikan tangan dan segera bergabung dengan mereka. Lengkap sudah tiga pangeran yang merupakan siswa kharismatik yang selalu menjadi incaran banyak gadis di kota mereka. Mereka itu lebih hebat dari selebriti, bertiga tertawa riang membuat mata para gadis silau.

***

Sam mengamati sepedanya yang masih terparkir, belakangan ini ia was-was mengingat semakin banyaknya gadis yang membencinya ketika mengetahui statusnya sebagai kekasih Siwon Parris Francaise, pemuda populer dan kaya raya. Tak ada yang aneh dengan sepedanya, tentu saja sepeda itu baik-baik saja. Meskipun kesal dengan Sam tapi tak ada seorangpun yang berani untuk mencelakai Sam, mereka sudah cukup tahu temperamen Sam yang bisa berubah menjadi gadis yang sangat menakutkan, bahkan siswa paling berandalan sekalipun tak berselera untuk mendekati Sam mengingat Sam hampir mencabut nyawa mereka. Ingat dengan kejadian di kafe, saat Sam melempar piring pada kumpulan anak-anak nakal itu?.

“Ada apa?” tanya Siwon yang entah sejak kapan telah berada di situ.

“Tidak ada” jawab Sam singkat. Ia lalu menaiki sepedanya dan bersiap untuk mengayuh sepedanya.

“Tunggu” Siwon mencegahnya dengan memegang kemudi sepeda Sam. Gadis itu menatapnya, tatapan itu menyuruh Siwon untuk segera menyampaikan maksudnya “Kau mengira aku ini patung?” Siwon sangat kesal melihat sikap Sam.

“Kau menahanku hanya untuk menanyakan itu?” Sam menatap Siwon dengan rasa tak percaya bercampur kesal.

“Kau benar-benar membuat kesabaranku habis” Siwon ingin sekali menyentil dahi Sam, ia kesal melihat gadis itu tak mengerti apa maksudnya “Tak masuk akal. Mengapa aku bisa menyukai gadis dingin sepertinya?” gumam Siwon pada dirinya sendiri, bahkan ia tak sadar jika dirinya sendiri adalah makhluk se-type dengan Sam.

“Akhirnya kau mulai menyesalinya” Sam mengangguk-angguk paham sambil terus mengamati wajah Siwon “Aku juga menyesal. Kita berakhir!” kata Sam dengan sangat santai.

Kata-kata yang sejenis seperti ‘kita putus’ atau ‘kau dan aku selesai’ bahkan ‘pergi kau dasar aneh’ adalah kata-kata paling yang sering terdengar dari mulut kedua orang itu daripada kata mesra penuh rasa sayang tapi sedetik kemudian mereka telah melupakannya. Sam lalu mengayuh sepedanya tapi lagi-lagi di tahan oleh Siwon.

“Lupakan!” kata Siwon, nadanya masih kesal. Ia lalu memaksa gadis itu untuk turun dari sepedanya dan menggantikan posisi Sam. “Kau melihat apa?” Siwon menoleh pada Sam yang masih belum duduk di belakangnya.

Sam mencibir, bibirnya mengerucut ketika menuruti perkataan Siwon. Kedua orang itu akhirnya meninggalkan sekolah. Siwon dan Sam tidak seperti kebanyakan pasangan lainnya, setiap pertemuan selalu diwarnai dengan adu mulut dan pertengkaran kecil sampai pertengkaran besar—dan pemicunya hanyalah masalah-masalah kecil dan sangat sepeleh. Itulah yang membuat mereka dinilai sebagai pasangan aneh oleh Hyukjae, Donghae dan Aline.

Autumn yang indah menghiasi jalanan sepi karena sebagian besar murid-murid telah kembali ke rumah masing-masing. Hanya sebuah sepeda yang begitu familiar yang sedang melintasi jalan tersebut.

“Hei, aku mulai sangsi jika kau benar menyukai olah raga? Apa kita akan menyamai langkah kaki semut-semut itu?” Sam mengomel tak jelas, ia merasa laju sepeda mereka terlalu pelan “Berikan padaku! Kau memalukan!” tukas Sam dari balik punggung Siwon.

“Kau ini sangat cerewet!” geram Siwon. Bersama dengan Sam membuat satu lagi sifat barunya muncul kepermukaan—omelan dan juga cerewet yang hampir sama dengan Sam “Bukankah sebaiknya kau memeriksakan diri ke psikiater?” bisik pelan Siwon tapi dapat dijangkau oleh telinga Sam yang langsung memerah.

Sam memukul keras kepala Siwon dengan tas yang dipegangnya. Pemuda itu langsung meringis, kesakitan.

“Kau mulai gila!” dengus Siwon, ia masih mengeluh kesakitan.

“Jangan melihat bayangan dirimu padaku!” teriak kesal Sam memekak telinga “Hentikan, aku mau turun di sini!” katanya lagi.

“Lompatlah!” Siwon tersenyum tipis, lebih tepatnya ia menyeringai. Tanpa hitungan, Siwon langsung mengayuh pedal sepeda sekencang-kencangnya.

Angin yang berhembus di wajah serasa ingin mengangkat kulit wajah mereka, Sam mulai panik, ia memang menyukai kecepatan di atas rata-rata tapi untuk saat ini, Sam membenci itu.

“Hentikaaan!” ujar Sam sambil memukul pundak Siwon.

“Aku sudah mengikuti maumu, apalagi yang kau inginkan? Masih belum sesuai keinginanmu?—baiklah,” kata Siwon. Ia menambah kecepatan sepeda mereka.

Siwon sesekali menoleh ke belakang, pemuda itu tertawa melihat wajah Sam yang tampak pucat. Sam tak tinggal diam, ia memukul tubuh Siwon dengan lebih kuat dan berkali-kali melakukannya

“Sam, berhenti memukulku. Sam kau ini…” Siwon meringis kesakitan tapi tak diperdulikan oleh Sam dan hasilnya Siwon mulai kehilangan keseimbangan. Sepeda mulai oleng.

GUBRAAGH!

Sedetik kemudian keadaan menjadi hening, tak ada lagi derik roda sepeda yang mengikis permukaan aspal ataupun umpatan Sam bahkan teriak kesakitan Siwon. Sepeda yang mereka tumpangi telah tergeletak begitu saja di jalanan, rodanya masih berputar.

Siwon membuka matanya yang terpejam, tangannya masih memeluk Sam dengan erat. Siwon memandangi Sam yang ditindihnya. Mata gadis itu masih terpejam.

“Sam” panggil Siwon “Sam, buka matamu” katanya lagi, ia terus mengawasi wajah Sam dan gadis itu masih belum berkutik. “Sam!” panggil Siwon lagi dan ia mulai khawatir melihat Sam yang tak bereaksi sedikitpun “Sam. Sam!” Siwon menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu. Terdengar erangan pelan dari mulut Sam, matanya mulai membuka dengan perlahan.

“Kau tak apa-apa?” tanya Siwon ketika gadis itu menatapnya.

Idiot!” umpat Sam. Kontan saja wajah Siwon memerah, kesal. Seperti biasanya, umpatan lebih sering terdengar.

“Asshh.. kau!” Siwon langsung menyentil pelan jidat Sam. Gadis itu kembali meringis kesakitan.

Sam menatap tajam pada Siwon. Mata kedua orang itu bertemu, tatapan yang semula terlihat penuh emosi mendadak berubah. Kemarahan telah hilang berganti dengan sorot mata yang hangat, saling beradu. Jantung keduanyapun berdegub semakin kencang, bahkan mereka bisa mendengar detak jantung yang berlomba-lomba itu. Kedua orang itu begitu kaku dan gugup, tak melepaskan tatapan sedikitpun. Perlahan wajah Siwon semakin mendekati wajah Sam. Lebih dekat, semakin dekat dan benar-benar hampir tak ada jarak.

Jantung yang semakin berpacu layaknya detik jarum jam. Mata Sam terpejam, tak mampu menatap sorot hangat Siwon yang seakan membelenggu dirinya. Siwon mengawasi wajah Sam dengan jarak yang hanya tertinggal beberapa centi darinya. Wajah cantik itu mulai pucat, ia menatap mata indah Sam terpejam menahan kegugupannya. Siwon tersenyum lembut, ia lalu mengalihkan kecupannya dan mencium lembut pipi Sam. Mata Sam terbuka pelan, ia memandangi Siwon yang tersenyum sangat manis padanya.

Pemuda itu segera bangkit setelah sekian lama memberikan beban yang cukup berat pada Sam. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Sam.

“Ayo pulang” senyum tipis yang mematikan itu menghujani pandangan Sam. Gadis itu menerima uluran tangan Siwon tanpa banyak komentar ataupun umpatan lainnya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda.

Sebuah mobil yang melaju dengan kencang menuruni jalan yang bersih—jalan yang merupakan akses menuju rumah keluarga konglomerat Francaise. Tuan dan Nyonya Francaise tampak duduk manis di dalam mobil tersebut. Mereka terlihat santai membicarakan banyak hal. Hingga akhirnya mata Nyonya Francaise tertuju pada dua orang anak muda yang sedang berboncengan di sepeda.

“Ada apa?” Tuan Francaise tampak heran melihat perubahan di wajah istrinya.

“Bukankah itu—Siwon?” gumam wanita itu. Tuan Francaise mengikuti arah yang ditunjuk istrinya dengan tatapan matanya itu. “Sam?” wanita itu bergumam pelan menyaksikan gadis yang duduk di belakang Siwon.

Mereka terkejut dan mematung. Bahagia terpancar jelas di wajah Siwon dan Sam. Keduanya terlihat bercanda dengan sangat akrab dan disusul dengan tawa yang memecah, melihat Sam yang sesekali memukuli pelan kepala Siwon dan hanya dibalas oleh tawa jenaka pemuda itu. Bahkan ketika mobil yang ditumpangi oleh Tuan dan Nyonya Francaise melewati kedua anak muda itu, mereka masih menengok ke belakang untuk menyakinkan apa yang barusan mereka saksikan.

“Kau melihatnya?” tanya Nyonya Francaise yang masih terlihat syok.

Tuan Francaise tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan.

“Aku kira, aku sedang bermimpi—melihat wajah Siwon yang penuh tawa seperti itu. Aku tak percaya” gumam Nyonya Francaise.

Kedua orang itu terdiam. Apa yang mereka pikirkan sama. Siwon anak yang mereka lahirkan dan besarkan tetapi pemuda itu terlalu kaku dan sangat dingin. Senyum yang selalu dipamerkannyapun sangat tipis. Ia tak pernah tersenyum lebih dari itu dan tertawa adalah hal yang tak pernah mereka harapkan dari Siwon. Lalu, tiba-tiba saja mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri jika Siwon sedang tertawa, ia tak kaku, tawa itu tak dibuat, tulus dan ceria.

“Oh anakku. Bukankah dia sangat tampan?” Nyonya Francaise tersenyum haru, bahkan ia ingin menangis, begitu bahagia melihat sisi lain Siwon.

“Iya, dia anak kita” Tuan Francaise menepuk pelan bahu istrinya. Nyonya Francaise terdiam, ia tampak berpikir sejenak.

“Tapi, sejak kapan Siwon berubah? Dia tak pernah tertawa seperti itu pada kita” gumam Ny. Francaise “Apakah dia hanya seperti itu jika bersama dengan Sam—Sam?” mata Nyonya Francaise membulat. Pasangan suami istri itu saling pandang aneh, tatapan mereka seperti sedang mengatakan bahwa mereka telah menangkap sesuatu yang mencurigakan.

~.o0o.~

Siwon duduk mematung. Ayah dan Ibunya berada di ruangan yang sama dengannya, memandanginya dengan serius. Sudah lewat dua puluh menit mereka bersama tapi belum satu katapun yang terdengar di dalam ruangan itu. Sejak Siwon lari di tengah pesta pertunanganannya, ini pertama kalinya ia bertatap muka dengan kedua orang tuanya karena pagi hari setelah malam pesta pertunanganan itu, Tuan dan Nyonya Francaise langsung melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri dan baru kembali pagi tadi.

“Siwon. Katakan apa yang terjadi?” Tuan Francaise yang pertama berbicara. Ia menatap Siwon, dari sorot mata itu Siwon mengerti kemana arah pembicaraan mereka.

“Ayah” gumam Siwon pelan.

“Kami belum sempat menanyaimu secara langsung. Alasan yang membuatmu mempermalukan kami di depan ratusan undangan dan terlebih lagi membuat malu pada keluarga Petitjean” Nyonya Francaise berkata dengan lembut.

“Maafkan aku” kata Siwon.

“Kami sedang tak ingin mendengar permintaan maafmu” kata Tuan Francaise dengan tajam.

“Siwon, tentu kau punya sesuatu yang harus dijelaskan kepada kami. Benarkan?” tatap Nyonya Francaise. Wanita itu memang selalu terlihat lembut dan menawan. Siwon terdiam sejenak, ia memandangi kedua orang tuanya yang sedang menanti penjelasan darinya.

“Maafkan aku. Aku hanya merasa tak bisa meneruskan pertunanganan itu” Siwon akhirnya berbicara “Aku selalu menuruti apa kata Ayah dan Ibu, tapi untuk pertama kalinya aku menginginkan sesuatu. Maaf telah membuat malu tapi aku tetap akan memilih jalan ini. Sekalipun Ayah dan Ibu menolak, aku akan menjadi seorang pembangkang” kata Siwon panjang lebar. Kedua orang tuanya tertegun mendengar begitu banyak hal yang keluar dari mulut Siwon.

“Mengapa?” selidik Tuan Francaise “Anne adalah gadis yang cantik dan sangat cocok denganmu. Hal apa yang membuatmu berani membangkang?”

Siwon terdiam.

“Katakanlah. Mungkinkah kau sudah memiliki seseorang di hatimu?” Siwon tertegun mendengar pertanyaan Ibunya. Sinar mata Ibunya seperti sedang menyuruhnya untuk mengatakan lebih banyak lagi. “Seorang anak yang patuh, akan mampu menentang Ayah dan Ibunya ketika ia jatuh cinta. Apakah Ibu salah?” Nyonya Francaise menatap Siwon yang masih mematung.

“Siwon? Mengapa kau hanya diam?” tanya Tuan Francaise. Siwon masih terkejut mendengar penuturan Ibunya.

“Tidak” jawab Siwon, raut wajahnya terlihat yakin dan pasti untuk menyampaikan isi hatinya “Aku memiliki seseorang di hatiku. Tak ada lagi ruang kosong untuk diberikan pada Anne ataupun gadis lain. Orang yang telah membolak-balikan duniaku, orang yang membuatku selalu ingin melindunginya meskipun tanpa aku—dia akan baik-baik saja. Orang yang membuatku akan meledak hanya dengan memikirkannya. Aku memiliki orang itu di hatiku” ujar Siwon dengan gamblang.

Tuan dan Nyonya Francaise kembali dibuat tertegun. Mereka mematung. Satu menit, dua menit, tiga menit. Bahkan sepuluh menit telah berlalu dan mereka masih bungkam.

“Sam benar-benar hebat. Dia membuat seorang Siwon menjadi seperti ini?” Nyonya Francaise akhirnya tertawa lebar dan kali ini Siwon yang terkejut. Ia memandangi wajah Ibunya.

“Kalian…” Siwon tak menyangka Ibunya telah menebak dengan jitu siapa gadis yang dimaksudnya.

“Mengapa tak mengatakan sejak awal?” selidik Tuan Francaise.

“Setidaknya kau tak perlu kabur dari pesta itu dan membuat kami malu” lanjut Nyonya Francaise masih dengan senyum sumringahnya.

“Kukira, Ayah dan Ibu akan…” Siwon bergumam ragu.

“Marah?” tanya Tuan Francaise “Tentu saja kami marah karena kau mencoreng wajah kami, karena kau tak mengatakan apapun pada kami—Ayah dan Ibumu sendiri. Marah karena dalam pikiranmu kami telah berubah menjadi orang tua yang buruk” ujar Tuan Francaise.

“Oh Siwonku sayang~ apa kau mengira kami akan tetap memaksamu melakukan sesuatu yang tak kau inginkan?” tatap lirih Nyonya Francaise “Mungkinkah kami menorehkan luka yang sama padamu?”

“Luka yang sama?” Siwon tak mengerti.

“Ayah dan Ibu adalah pasangan yang begitu sulit mendapat restu kedua orang tua kami, kakek dan nenekmu” ujar Tuan Francaise “Berbagai upaya mereka lakukan untuk memisahkan kami tapi kami tak menyerah karena kami saling mencintai dan percaya pada perasaan kami—kami bertahan, sampai akhirnya kakek dan nenekmu merestui kami” Siwon tertegun mendengar penuturan Ayahnya.

“Begitu banyak luka yang harus kami terima karena penolakan kakek dan nenekmu” wanita itu menatap Siwon “Kami tak ingin kau mengalami luka yang sama. Sam membuatmu tertawa, Ibu tak ingin tawa itu hilang” senyum tipis Nyonya Francaise kepada Siwon. Hati Siwon serasa meluap. Ia menatap kedua orang tuanya dengan senyum mengembang.

~.o0o.~

Di kafe sekolah yang mulai ramai.

“Bisakah sejenak kau tak mengabaikanku?” Aline memandang kesal pada Sam yang begitu ketat dengan laptopnya “Aku masih di sini” gadis itu kembali mengingatkan Sam bahwa Sam tidak sedang sendiri.

“Aku tahu” jawab Sam pendek. “Aku sangat sibuk” katanya lagi.

“Mengapa kau selalu sibuk Sam?” tanya Aline.

Pertanyaan Aline belum terjawab ketika ponsel Sam berbunyi, gadis itu menatap layar ponselnya.

“Aku benar-benar sibuk” katanya lagi sambil menatap Aline. Ia lalu menerima panggilan masuk itu dan pergi begitu saja, membawa laptopnya—meninggalkan Aline yang mematung.

Aline masih mendengus kesal ketika Siwon, Hyukjae dan Donghae yang berjalan menghampirinya dan bergabung dengan Aline.

“Ada apa?” tanya Hyukjae yang melihat sisa-sisa kekesalan di wajah Aline.

“Ah, Sam membuatku hampir gila” katanya geram. Hyukjae dan kedua Francaise langsung mendesah pelan—membenarkan apa yang dikatakan oleh Aline “Sejak pagi ia tak pernah melepaskan laptopnya, bahkan bola matanya seakan menempel pada benda itu”

“Dia mulai lagi” dengus Hyukjae.

“Bulan kumatnya Sam” gerutu Donghae “Hei Siwon, apa kau tak mencoba mengajarinya sedikit sopan santun?” Donghae memandangi Siwon.

“Mengajari gadis keras kepala itu?” seringai Siwon “Lupakan saja! Bahkan jika aku di sampingnya, dia melupakan keberadaanku—menganggapku seperti angin” Siwon yang menggerutu lebih dari Donghae, mereka tak heran lagi melihat sisi Siwon yang satu ini. Mereka sama-sama menarik nafas kesal.

“Ataukah? Mungkin Sam melupakan statusmu di hatinya?” tanya Hyukjae dan langsung disambut dengan gebukan ringan Siwon.

“Jika dia melakukannya, lihat saja—kau akan sangat menyesal Samantha Lee” gumam Siwon dengan dingin membuat bulu roma Hyukjae, Aline dan Donghae berdiri.

“Apa kalian ini benar-benar pasangan?” desah Aline yang tak mengerti melihat tingkah Sam dan Siwon.

“Tentu saja. Mereka pasangan bertengkar” Hyukjae menjawab pertanyaan Aline.

***

Empat hari berlalu dengan kesibukan misterius Sam. Gadis itu hampir tak terlihat batang hidungnya selama empat hari tersebut. Di sekolah, Sam cepat sekali menghilang dan di rumah, ia tak pernah keluar dari kamarnya. Langit malam yang cerah seperti biasanya. Siwon mendongak, memandangi langit dari balkon tempat yang sering di kunjungi Sam. Ada beribu-ribu bintang di sana. Empat hari ini, Siwon hampir tak bertemu dengan Sam.

Sementara itu, di dalam kamarnya, Sam memang terlihat sibuk seorang diri. Kertas-kertas yang bertumpuk di mejanya, juga laptop yang masih menyala. Tangannya dengan lincah menekan tuts-tuts pada laptopnya itu. Ponselnya berbunyi, ia menatap sekilas—sebuah pesan diterima.

**

From      : Ice Prince

Apa kau masih hidup?

—-

To          : Ice Prince

Aku sedang merenggang nyawa. Ada apa?

—-

From      : Ice Prince

Lanjutkan saja!

Langit malam ini sangat cerah. Banyak bintang terlihat dari sini.

Kau tak menyesal melewatkan pemandangan ini?

—-

To          : Ice Prince

Ambil semua untukmu

—-

From      : Ice Prince

Cepat ke sini!

—-

To          : Ice Prince

Aku sedang sibuk, sangat sibuk. Cerewet!

—-

From      : Ice Prince

Gadis ini! Temui aku sekarang juga.

Kau masih tak mengerti? Aku sangat merindukanmu!

Temui aku sebelum lima menit berlalu.. sekarang!

**

Sam tersenyum membaca pesan itu, dengan segera ia meninggalkan kamar tidurnya. Beberapa menit kemudian gadis itu telah sampai di balkon yang dimaksud. Nafasnya masih tersengal-sengal, jarak antara balkon tersebut dan kamarnya cukup jauh ditambah lagi Siwon memintanya untuk sampai tidak lebih dari lima menit.

Setelah cukup meredakan lelahnya, ia mengamati sekelilingnya. Balkon, hanya dia seorang yang berada di situ. Sam mencoba mencari sosok Siwon dan pemuda itu tak terlihat sama sekali.

“Sial! Seharusnya aku peka, dia sedang mengerjaiku lagi” gerutu Sam dalam hatinya. Langit malam benar-benar cerah, Sam melangkah mendekati pagar balkon, ia menengadahkan kepalanya—menikmati hamparan bintang di langit yang terlihat seperti ribuan permata yang berkilau dengan indahnya.

Sepasang tangan memeluk Sam dari belakang, melingkar mesra di pinggang Sam. Sam menoleh, ia melihat Siwon yang begitu rapat dengannya. Pemuda itu sedang menatap bintang. Sam tersenyum tipis dan kembali mengawasi bintang-bintang itu.

“Mengapa begitu susah menikmati saat seperti ini denganmu?” gumam Siwon “Kau mengabaikanku! Apa yang membuatmu begitu sibuk?” tanya Siwon.

“Bukan sesuatu yang besar..” elak Sam.

“Kau sedang berbohong! Kau bahkan tak merindukanku. Aku sangat kesal jika memikiran hal itu” gerutu Siwon.

“Kau sepertinya sedang cemburu?” goda Sam.

“Aku? Jangan bercanda?” elak Siwon.

“Mengaku saja!” tuding Sam.

“Aku hanya kesal. Itu belum cukup untuk dikatakan sebagai cemburu” tolak Siwon.

“Terdengar sama bagiku”

Mereka berdua terdiam sejenak.

“Mengapa kau tak pernah mengatakan apapun?” tanya Siwon.

“Apa yang ingin kau dengar?”

“Kau tak pernah mengatakan tentang isi hatimu padaku” ujar Siwon, Sam menoleh sekilas pada pemuda itu.

“Kurasa itu tak perlu”

“Aku ingin mendengarnya. Aku ingin mendengar kau mengatakan perasaanmu—tentang aku di hatimu”

“Aku tak mau!” Sam menjulurkan lidahnya.

“Hei, apa kau tidak menyukaiku?” tebak Siwon.

“Apa itu penting untuk dijawab?” Sam tertawa menggoda Siwon.

“Kau..” Siwon mulai kehilangan kesabaran “Sudahlah. Aku tak ingin merusak suasana ini” gumam Siwon. Ia mempererat pelukannya pada Sam. Keduanya terhanyut. Malam yang semakin terasa indah, bersama-sama menikmati pemandangan malam yang memukau.

~ to be continue ~

Iklan

256 thoughts on “I Fell In Love, My Trouble Maker Girl (Part 8)

  1. Yiatri2499 berkata:

    Annyeong eonni-ya…:)
    Emmm…
    Bingung mau bilang apa lagi…
    Selalu bisa dapet feel-nya tiap part….
    Makasih eon udah nulis cerita sebagus ini….
    Fighting!!!!!

  2. Widya Choi berkata:

    Yeyyyyyy kgak jd tunangan. Horeeeeeee #LemparPetasan 😄😄😄
    G sk bgt am si anne..huh nyebelin. N emg udh shrusny siwon btalin prtunangany am anne. Ahhh sng bgt..td smpet bete klo mrk jd tunangn. Tp tyta pesona ny sam lebih kuat d mata siwon. Mkny smpe nekat batalin prtunanganny hihihihi.
    Cie asik nih udh dpt lampu ijo dr camer. Mn mrk mkin lengket aj nih. Tp sam jgn cuekin siwon mulu atuh..ntr dy terbang lg 😂😂😂..

  3. MissChoi berkata:

    Senyum2 sendri bca momen sam dan siwon… Wlaupun mereka sama2 cuek tpi sekli mesra sweet bngett…… Msih pnsaran sbnrnya apa yg dsmbnyikan sam..dia sllu sbuk dgn hp dan laptopnya,aplgi di sllu mngtakan “akan kembli” sama org yg dtlfnnya

  4. riankyu berkata:

    astgaa btapa snangnya diriku ternyata siwon gk jdi brtunangan. . hahaha rasain thu anne.. tpi mrka psngan teraneh yahh.. stiap ktemu bertengkar mulu.. ckckck

  5. jamurshinee05 berkata:

    wao bukkqh siwon peian jentel peegi pashari perrunangannya karena menyukI seorang wanita. sam sudahmembuat se oranvchoisiwon gila.hahhubungan merekAnehswprri orNgnya..do.gaesabaeb
    hyujae alin bikingrefr..kaaan

  6. rhagilBob.i berkata:

    reader baru.. haaaaiii 😃😃
    hwaaaaaa.. yeeeeeeeee anne gag jd tunangan sma siwon..
    ikutan seneng sam sma siwon pacaran..

  7. kyunie berkata:

    gk brhenti kagum sama kel francaise…gmn bs ortu ny siwon sbaik itu?!kyaaa,seandainya aq jd sam yg pny camer sbaek itu.pdhl mrk org trpandang,tp mrk open minded bgt n gk ngeliat gengsi doang..keren!
    wkwkwk,bru keluar nh asliny siwon yg crewet.biasany dy yg plg sdkt bgt kbgian ngmg dpart2 sblmnya..sam emg efek yg pling dahsyat!hahaha..
    suka ngliat siwon ma sam.tp,kok kykny sam bkal pergi ya?andwe!

  8. Cho Sarang berkata:

    Cie… Cie… Cie… Yang jadian. Makin tinggi aja tuch tinfkat kekesalan anne n the gank pada sam,apalagi siwon meninggalkan acara pertunangannya dengan anne dan jadian dengan sam, wkwkwkwk…. Mesranya siwon – sam

  9. Mrs. Cho berkata:

    ohh jadi setelah kejadian itu mereka lngsung resmi pacaran tanpa ada kata ‘maukah kau jadi pacarku’ atau sejenisnya gtu? hahaha yaudahlah ya mereka udh ngerti perasaan satu sama lain ini.. semoga hubungan mereka baik” aja yaa

  10. My labila berkata:

    siwon sam jadian.siwon sm sam so sweet banget, bikin iri yang lewat aja *Nunjuk diri sendiri*

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s