I Fell In Love, My Trouble Maker Girl (Part 9)

ImageCast             :

–  Choi Siwon as Siwon Parris Francaise

–  Samantha (Fiction)

–  Lee Donghae as Donghae Chartier Francaise

–  Cho Kyuhyun as Kyuhyun Edmund Francaise

–  Lee Hyukjae

–  Aline Guibert (Fiction)

–  Other cast

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

 ~~~~~

Siwon memandangi Anne yang berdiri di hadapannya. Anne datang menemui Siwon ketika latihan anggar baru beberapa menit berjalan. Keduanya masih membungkam. Siwon hanya memandangi Anne tanpa banyak bicara.

“Aku minta maaf” kata Siwon. Anne memandanginya dengan kesal.

“Kau pikir sedang melakukan apa?” tanya Anne “Mengapa kau begitu tega melakukan itu padaku?” desisnya.

“Maafkan aku” jawab Siwon.

“Untuk seorang pria yang meninggalkan tunangannya, itu adalah ucapanmu?” tatapan tak percaya terlihat di mata gadis itu.

“Aku bukan tunanganmu. Kita tak pernah bertunangan”

“Siwon?” Anne tertawa sinis, ia memutar bola matanya “Kau kira aku bisa menerima semua itu dengan mudah?”

“Aku tak akan bisa bersamamu”“Mengapa? Karena Sam?” tanya Anne. Siwon hanya diam dengan raut wajah yang tenang. Tak sedikitpun ia menyangkali ucapan Anne “Siwon. Kau dulu bahkan sangat menyukaiku—mengapa bisa berubah secepat itu? Mengapa hatimu begitu dangkal? Aku menginginkan Siwon yang dulu!” ujar Anne, ia mendikte Siwon.

“Anne” jawab Siwon, “Aku tak bisa menjadi orang itu. Siwon yang kau maksud sudah lama hilang dan aku tak akan menyangkali semua perkataanmu. Kau tak akan tahu, hati semua orang bisa berubah—kapan saja” jawab Siwon, ia tetap tenang.

“Aku akan menunggu” kata Anne tenang “Seperti perasaanmu padaku. Aku tahu, kau tidak akan bertahan lama dengan gadis itu. Seiring waktu, hatimu akan berubah. Aku sungguh tak percaya—meninggalkan aku begitu saja, apa kau begitu menyukainya?” Anne menggeram, emosinya semakin meningkat.

“Tidak” jawab Siwon “Aku tidak menyukainya. Aku mencintainya. Hatiku tak akan berubah. Jangan menungguku, carilah orang yang dapat menerimamu. Jangan berharap pada seseorang sepertiku” ujar Siwon, ia menatap tajam pada Anne.

Gadis itu semakin emosi, matanya berkilat-kilat menunjukkan kebencian yang sangat besar. Anne bergegas meninggalkan Siwon. Pemuda itu terdiam sesaat lalu kembali untuk melanjutkan latihan anggarnya.

***

Sore hari yang cerah. Sam terlihat sedang duduk di sebuah kursi yang ada di taman, di lingkungan kediaman keluarga Francaise. Ia memandangi permukaan danau yang membentang di hadapannya, danau buatan itu tampak sangat tenang. Ponselnya bernyanyi riang—dengan malas, ia menerima panggilan masuk itu.

“Ada apa?” tanya Sam.

Sampai kapan kau akan bermain-main?” terdengar suara seorang pria yang melengking dari seberang. Sam menjauhkan ponsel dari pendengarannya agar tidak merusak sistem saraf pendengarannya.

“Aku sedang berlibur. Ingatlah, aku masih punya cukup waktu” jawab Sam sekenanya saja.

Lupakan itu! Cepat kembali, sebelum si tua bangka itu berulah lagi

“Kau bisa mengurusnya, bukan begitu?” gurau Sam.

Jangan membuatku marah. Aku sudah tak sanggup meladeni tua bangka itu” dengus pria tersebut “Aku sangat menderita sementara kau hampir setahun ini bersenang-senang, aku bahkan putus dengan tunanganku karena kami jarang bertemu. Cepat kembali, semua sudah sangat siap. Apalagi yang kau tunggu? Apa kau ingin melihat kami menjadi tumbal?” dengusnya lagi, ia bertubi-tubi melimpahkan kekesalannya pada Sam.

Hei~ Professor Cha! Tutup mulut besarmu! Mengerti?” geram Sam dengan bahasa koreanya yang sangat fasih, pria itu langsung terdiam.

“Apa? begitu kasar dengan orang yang lebih tua darimu?” ujar pria itu dengan nada yang meninggi “Kau mau mati?” sepertinya orang itu sedang berada dibatas kesabarannya. Sam yang mendengar hanya mencibir.

Jadi sekarang kau menyadari umurmu?” Sam berkata dengan nada tajamnya yang sadis dan terdengar sangat kejam “Sudah kubilang jangan menghubungiku sebelum aku kembali!” kembali berucap dalam bahasa Perancis, Sam berkata dengan sangat dingin dan segera memutuskan panggilan itu.

Sam kembali memandangi danau tenang itu. Tatapan matanya terlihat sedih, berkali-kali Sam menarik nafas—entah apa lagi yang sedang membebani gadis cantik misterius itu.

“Kau sangat frustasi” sebuah suara menyadarkan Sam dari lamunan dan kekesalannya. Ia menoleh pada Kyuhyun yang telah duduk di sampingnya.

“Mengapa kau selalu membuntutiku?” tanya Sam.

“Membuntutimu?” Kyuhyun balik bertanya “Aku tak segila itu, Sam” cibirnya.

Sam memandangi kesal anak kecil sok dewasa yang duduk di sampingnya, ia memang tak pernah cocok dengan Kyuhyun.

“Lalu—kau masih ingin bermain denganku?” Sam tersenyum misterius. Kyuhyun yang melihat senyum itu langsung merinding. Wajahnya berubah pucat, ia teringat peristiwa sebelumnya saat taruhan game dengan Sam.

“Aku tak mau!” Kyuhyun berlari meninggalkan Sam.

“Dasar..” dengus Sam yang langsung tersenyum penuh kemenangan. Semenit kemudian, ia telah kembali hanyut dalam lamunannya.

“Meladeni anak sekecil itu? Kau ini..” ujar Siwon yang langsung duduk di samping Sam.

Sam menoleh memandangi Siwon yang masih lengkap dengan seragam sekolah yang dikenakannya. Mata pemuda itu menatap danau dan sejurus kemudian menoleh pada Sam yang masih menatapnya.

“Ada apa?” tanya Siwon “Akhirnya kau merindukanku, bukan begitu?” senyum simple Siwon yang mengajak Sam sedikit bercanda. Sam tertawa kecil.

“Kau terlalu banyak berharap” ledek Sam. Pemuda itu kembali tertawa.

Keduanya lalu terdiam, sama-sama memandangi air danau yang begitu tenang. Sam kembali memandangi wajah Siwon, Sam terlihat sangat lirih. Ia menatap Siwon dengan sorot matanya yang sedih.

“Kau masih bisa berkelit?” kata Siwon, ia masih memandang lurus ke depan, menatap air danau itu “Kau tak melepaskan pandanganmu dariku” ujar Siwon lagi dengan sangat tenang, setenang permukaan danau.

Sam berdiri, maju beberapa langkah. Ia tak ingin menjawab pertanyaan Siwon.

“Kau masih tak ingin mengatakan apapun padaku?” tanya Siwon.

“Aku?” Sam menoleh pada Siwon.

“Siapa lagi yang ada di sini?” Siwon berdiri dan mendekati Sam “Kau seperti itu, aku sedikit gugup. Tak sedikitpun, kau mengatakan isi hatimu padaku. Membuat pikiran itu terus menggangguku, apakah hanya aku seorang yang sangat bergantung padamu?” ujar Siwon, ia menatap mata Sam—mencoba mencari jawaban dari sorot mata gadis itu.

“Kau ini..” Sam mulai kesal.

“Marah seperti itu” tatap serius Siwon “Kau menjadikanku hanya sebagai teman bertengkarmu?” selidik Siwon. Sam tertegun, ia ingin menyangkal pertanyaan itu tapi mulutnya masih tetap bungkam.

“Semakin menyebalkan” keluh Sam, kata-kata yang keluar selalu berbanding terbalik dengan isi hatinya.

“Ada apa denganmu?” tanya Siwon, ia mengamati wajah Sam yang mulai memerah “Kau sakit?” tanya Siwon, ia menyentuh dahi Sam dengan punggung tangannya.

“Hanya perasaanmu saja, Siwon” jawab Sam.

“Ah tentu saja, gadis sepertimu sangat sulit untuk sakit” Siwon mengangguk pelan tapi membuat Sam kesal dengan tingkah Siwon yang seolah-olah sedang mengejeknya.

“Aisshh, aku semakin kesal melihatmu!”

“Benarkah? Aku rasa kau sedang merindukanku” Siwon tersenyum tipis pada Sam. Wajah Sam bersemu merah.

“Kau—berhenti mencercaku dengan pertanyaan-pertanyaan aneh itu” dengus kesal Sam “Aku tidak sedang merindu…”

Sam tak dapat melanjutkan omelannya karena Siwon langsung mendaratkan kecupan singkat di bibir gadis itu.

“Aku sangat rindu padamu!” Senyum lembut Siwon kepada Sam yang hanya terpaku, Siwon begitu lembut—tatapan matanya yang dingin itu justru membuat jantung Sam berdetak kencang. Siwon segera berlalu meningalkan Sam yang masih terpaku. Gadis itu memandangi punggung Siwon yang semakin menjauh.

~.o0o.~

Alunan biola kembali terdengar di ruang musik. Hyukjae berdiri tak jauh, mengamati Aline yang begitu serius dengan biolanya itu. Pemuda itu tersenyum tipis, matanya yang cerah tak lepas dari Aline yang tak menyadari keberadaan Hyukjae. Alunan indah itu terputus, tersirat rasa putus asa di balik sorot mata Aline.

Aline tersentak ketika sebuah botol minuman dingin yang menempel di pipinya. Ia menoleh dan mendapati Hyukjae yang berdiri di belakangnya, memamerkan senyuman hipnotisnya itu.

“Kau di sini?” tanya Aline. Ia mengambil minuman yang di sodorkan oleh Hyukjae,

“Kau begitu serius sampai-sampai tak menyadari kedatanganku” kata Hyukjae, ia tertawa pelan.

“Maaf” desah Aline. Hyukjae memandangi wajah cemas itu.

“Ada apa?” tanya Hyukjae, Aline hanya diam “Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu. Begitu beratkah?” pemuda itu terlihat khawatir.

“Tidak” Aline tersenyum lembut “Aku hanya ingin berlatih keras tapi aku merasa tak bisa memenuhi impianku—menjadi violis dunia itu sangat berat bagiku” Aline sedikit meratapi dirinya. Pandangan kosong itu kini semakin jelas terlihat di matanya.

Aline tercekat, tersadar dari lamunannya manakala tangan Hyukjae dengan lembut mengacak-acak rambutnya.

“Tak apa-apa” senyum tulus Hyukjae “Jangan terburu-buru. Kau harus mulai merangkak terlebih dahulu lalu berjalan perlahan sebelum akhirnya dapat berlari dengan kencang” kata-kata Hyukjae membuat Aline tertegun. Ia menatap mata pemuda itu, senyumannya membuat hati Aline begitu tenang.

Aline mengangguk pelan, senyumpun melebar di bibirnya.

“Anak manis” canda Hyukjae “Sekarang perutku sangat lapar. Kita ke kafe” katanya lagi dan langsung menarik tangan Aline, tak membiarkan gadis itu untuk menolak.

Tak membutuhkan banyak waktu untuk sampai di kafe sekolah. Mereka mendapati Siwon dan Donghae yang telah lebih dulu duduk di sebuah tempat di dalam kafe tersebut. Hyukjae yang menggandeng tangan Aline langsung menghampiri kakak beradik Francaise yang hanya tersenyum melihat kedatangan Hyukjae dan Aline. Kehadiran tiga siswa itu selalu mengundang banyak perhatian. Alinepun turut merasakan hawa aneh ketika mata para siswi yang serasa ingin mencabik-cabik lalu mengirimnya ke black hole agar tak pernah muncul lagi di permukaan bumi.

“Musim gugur akan segera berakhir” Donghae memandangi pepohonan yang berada di lingkungan sekolah mereka dari balik jendela besar di kafe itu “Aku bisa merasakan udara musim dingin yang sedang menanti” katanya lagi sambil merapatkan jaket yang dipakainya.

“Aku tak begitu menyukai musim dingin” keluh Aline.

“Bukankah gadis-gadis selalu menyukai musim dingin?” Hyukjae memandangi wajah Aline yang mengkerut “First snow.. Christmas night.. aku rasa kebanyakan gadis selalu menantikan saat-saat seperti itu” pikir Hyukjae.

“Apakah itu sangat menarik?” tanya Donghae. Tatapannya tertuju pada Aline, menantikan tanggapan dari mulut gadis itu yang sepertinya mulai kelu.

“Entahlah” ujar Aline “Di malam natal Ayah dan Ibu yang selalu tak berada di tempat, aku sendirian di rumah dengan pelayan-pelayan, hanya menatap salju yang turun dari balik jendela—aku tak merasakan sensasi apapun yang dirasakan oleh gadis-gadis lain” pandangan Aline begitu jauh, mengenang masa-masa kecil yang dilaluinya.

“Aku mengerti…” Donghae mengangguk-angguk antusias.

“Mulai saat ini aku akan membuatmu tak lagi membenci musim dingin” Hyukjae menatap Aline. Gadis itu terlihat kebingungan “Musim dingin dan juga natal pertamamu denganku, itu akan sangat menyenangkan” senyum di wajah Hyukjae mengembang. Aline langsung tersipu malu.

“Kau masih bisa berkata seperti itu” Siwon tersenyum tipis mendengar ucapan Hyukjae. Begitupun dengan Donghae yang ikut-ikutan memandangi pasangan yang duduk di hadapan mereka.

Aline tampak celigukan, ia mengedarkan matanya ke seluruh ruangan.

“Ada apa?” tanya Hyukjae yang menyadari tatapan mata Aline yang sedang mencari-cari sesuatu.

“Aneh. Seharian ini aku belum melihat Sam” gumamnya “Biasanya dia tak jauh-jauh dari sini” ujar Aline lagi sambil mengamati lebih detail seluruh siswa yang sedang bersantai di kafe.

“Ah, anak itu—akhir-akhir ini aku merasa dia seperti hantu” desah Hyukjae “Begitu susah menemuinya dan dia selalu menghilang secepat kilat. Ada apa dengannya?”

“Itu pertanyaan yang tak pantas ditujukan pada gadis itu” ujar Donghae “Aku akan lebih heran ketika dia bersikap manis dan sangat patuh” sindir Donghae. Mereka lalu tersenyum-senyum aneh, tentu saja Sam selalu misterius dan aneh seperti itu.

“Ehm.. itu, benarkah tidak ada  sesuatu pada Sam?” tanya Aline, tatapannya tertuju pada Siwon “Maksudku, kalian baik-baik saja?” Aline memperjelas pertanyaannya.

“Aku rasa begitu” jawab Siwon, alisnya saling bertaut mencoba memikirkan memangnya apa telah yang terjadi pada hubungan mereka—semua baik-baik saja.

“Jangan tanyakan apapun tentang hubungan mereka. Apakah mereka baik atau tidak—terlihat sama bagiku” lagi-lagi Donghae melayangkan pendapatnya yang terdengar cukup menohok hati. Siwon hanya memandanginya kesal.

“Begtu” ucap Aline dengan pelan “Lalu ada apa dengannya?”

“Mengapa?” tanya Siwon.

“Aku selalu mendapati Sam begitu murung. Akhir-akhir ini tatapan matanya seperti seseorang yang sedang terluka, entahlah tapi melihat raut wajahnya yang seperti itu membuatku cukup tersiksa. Ia tampak sangat sedih belakangan ini” ujar Aline “Jika bukan karena hubungannya denganmu, lalu apa yang membuat Sam seperti itu?” Aline bertanya-tanya.

Keempat orang itu lalu terdiam. Masing-masing berjalan dengan pikiran mereka, mencoba menerka kebenaran dibalik sikap Sam yang lagi-lagi menunjukan keanehan. Siwon terdiam dengan sorot matanya yang tampak aneh.

“Tunggu dulu” kata Hyukjae menyadarkan lamunan mereka “Akhir musim gugur—bukankah sekarang bulan November?” tanya Hyukjae, wajahnya sedikit ragu-ragu.

“Ya, kau bahkan tak mengingat waktu lagi” jawab Donghae, masih menyisakan ledekan.

Hyukjae lalu mengamati tanggal yang tertera di wall ponselnya—beberapa saat kemudian ia terpekik tanpa suara dan langsung berdiri secara refleks dari tempat duduknya. Ia sangat kaget membuat Donghae, Siwon dan Aline kebingungan melihat perubahan aneh pada diri Hyukjae.

“Benarkah, hari ini tanggal.. 29?” tanya Hyukjae, ia ragu dengan tanggal yang ia lihat di ponselnya.

“Iya” jawab Donghae. Hyukjae kembali terduduk dengan lemas di tempat duduknya “Jangan berbelit-belit, sebenarnya ada apa?” tanya Donghae yang mulai kesal.

“Kalau begitu aku melupakan sesuatu” gumam Hyukjae “Ulang tahun..” lanjutnya lagi.

“Apa?” tanya Aline tak mengerti. Semua memandanginya dengan bingung.

“Ulang tahun Sam—hari ini, ulang tahunnya” desah Hyukjae dengan sangat pelan, seperti merasa sangat bersalah karena tidak bisa mengingat ulang tahun saudaranya.

“APA?” terdengar paduan suara dari ketiga orang itu.

***

Atap sekolah…

Sam mendongak, ia memandangi langit cerah di penghujung musim gugur. Meskipun sangat bersahabat tapi Sam merapatkan jaketnya. Tak lama lagi musim dingin tiba, udara dingin yang sudah terasa mulai meniup permukaan kulit gadis itu. Berkali-kali ia mendesah, menarik nafasnya dengan sangat dalam lalu melepaskan kembali dengan hembusan yang cukup berat.

Suara pintu yang terbuka menyadarkan Sam. Ia menoleh dan mendapati Siwon yang telah berada di atap, Siwon berjalan mendekati Sam.

“Kau ke sini?” Sam bertanya dengan nada herannya.

Tempat itu tak banyak diketahui siswa kecuali dirinya dan Aline—belakangan Hyukjae juga sering ke tempat itu.

“Aline, dia benar” Siwon menjawab pertanyaan Sam, matanya mengedar ke seluruh pelosok atap sekolah itu. “Di sini tempat persembunyianmu?” Siwon menatap mata gadis yang kini berada tepat di hadapannya.

“Gadis bodoh” geram Sam dalam hati. “Kau mencariku?” Sam balik melontarkan pertanyaan pada Siwon.

“Bagaimana bisa kau bertingkah seperti ini?” tatap dingin Siwon “Kau kira aku patung?” ia terus menancapkan tatapan tajamnya kepada Sam membuat jantung gadis itu mulai melemah.

“Kau hanya ingin memarahiku?” Sam berdecak dan hatinya mulai memanas “Dasar gadis bodoh! Mengapa bisa manusia sedingin dan mengerikan ini justru membuat hatimu kacau balau! Siwon, apa kau gila? Aissh, kurasa kewarasanmu sudah mulai hilang” umpat Sam dalam hati dengan wajah kesalnya, ia memegangi kepalanya. Bola matanya berputar seakan tak percaya pada apa yang telah ia rasakan.

“Kau mendengarku?” Siwon mendelik, ia kesal melihat tingkah Sam yang terlihat seperti tak memperdulikan dirinya.

“Pendengaranku tak buruk. Katakan!” geram Sam.

“Selamat ulang tahun” kata Siwon akhirnya. Sam tertegun mendengar kalimat itu.

“Untukku?” tanya Sam.

“Siapa lagi?” geram Siwon kesal. Sam terdiam.

“Ah, rupanya hari ini ulang tahunku” Sam mengangguk paham, tapi tatapan Siwon berubah melihat ekspresi Sam “Maaf. Aku hanya tak menyadari jika sekarang hari ulang tahunku” katanya tenang.

“Gadis aneh. Aku heran melihat Hyukjae bisa melupakan ulang tahun adiknya tapi aku rasa itu tak lagi mengherankan—kau sendiri bahkan tak mengingatnya” Siwon tertawa pelan “Maaf saat ini aku tidak menyiapkan apapun untukmu. Kami bahkan tak akan tahu jika Hyukjae tak mengingatnya. Apa yang kau inginkan dariku? Katakanlah!” Siwon memandangi wajah Sam. Gadis itu tak menjawab. Mereka kembali diam.

Siwon memilih untuk melangkah mendekati tembok pembatas, bungkam dengan tatapan matanya yang tertuju kedepan. Sam memandangi punggung Siwon, tatapan matanya yang lagi-lagi terlihat lirih. Sam melangkah pelan mendekati pemuda itu. Ia berhenti tepat di belakang Siwon, menyisakan jarak yang hanya selangkah. Mata Siwon terus mengawasi semua yang tertangkap oleh penglihatannya lalu ia membalikan tubuhnya.

“Ada apa?” Siwon heran menyadari Sam yang bersembunyi di balik punggungnya.

Sam memandangi wajah Siwon dengan nanar, bola matanya yang indah sedang menyiratkan sesuatu. Cukup lama kedua orang itu saling bertatapan. Sam akhirnya melangkah maju dan memeluk Siwon. Tubuh Siwon tiba-tiba menegang, ia terkejut melihat tingkah Sam.

“Sam?” gumam Siwon. Ia masih terpaku karena keterkejutannya.

“Saat ini, kau—bisakah kau memelukku?” Sam berkata pelan, bibirnya terasa berat mengucapkan kata-kata itu.

Mata Siwon hampir tak berkedip. Ia semakin heran karena Sam yang bersikap aneh. Tanpa berpikir lama dan meskipun masih tak mengerti, pemuda itu membalas pelukan Sam. Ia memeluk Sam dengan sangat erat begitu pula dengan Sam yang memeluk tubuh Siwon seakan tak ingin melepaskannya.

“Aku teringat padanya—Ibuku” kata Sam pelan “Ibuku sangat menyukai pekerjaannya, dia selalu sibuk. Ibu tak pernah memperlakukanku seperti anak-anak lain. Dia adalah orang yang tak bisa memperlakukan anaknya dengan baik. Dia orang yang paling aku benci tetapi anehnya aku masih tetap memanggilnya Ibu. Aku selalu kesal jika mereka berbicara aneh tentangnya—aku, sama anehnya dengan Ibuku, bukan?” Sam tertawa kecut “Aku benci dengan kehidupanku yang seperti itu. Bagiku, itu bahkan bukan sebuah kehidupan. Sampai akhirnya aku ke sini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa menjadi manusia. Setelah semua itu, tiba-tiba aku teringat padanya. Aku takut jika aku akan kembali pada hidupku yang seperti itu, aku ingin terus seperti ini, berada di sini—hanya saja, ada hal yang tidak bisa berjalan sesuai dengan keinginanku maka saat itu aku harus…” Sam terdiam.

“Kau tak perlu membencinya. Ibumu hanya tak mampu menunjukan rasa sayangnya dan kau tak perlu merasa sakit karena hal itu” ujar Siwon “Biar waktu yang akan memperbaiki semuanya. Kau tak perlu takut dengan kehidupanmu yang dulu—meskipun aku tak tahu kehidupan seperti apa yang kau maksud”

Suasana kembali membisu.

“Siwon. Apa yang akan kau lakukan, jika aku tak ada?” tanya Sam. Siwon menengok sejenak mencari keseriusan dibalik pertanyaan itu.

“Kau berniat pergi?” tanya Siwon. Sam tak memberikan reaksi apapun. Sam dapat merasakan helaan nafas Siwon yang begitu dalam “Kau meragukanku? Jangan cemas, aku tak akan merindukanmu lalu melupakanmu” kata Siwon lagi.

“Begitu lebih baik” ujar Sam pelan. Dadanya kembali sesak saat mengucapkan kalimat itu. Ia membenamkan wajahnya di dada Siwon agar pemuda itu tak menyadari tangisnya.

“Apa yang lebih baik?” Siwon menangkap keanehan dari perkataan Sam.

“Itu.. aku merasa lebih baik saat ini” ujar Sam. Hatinya mencelos harus mengucapkan kebohongan.

“Mulai saat ini, aku akan menjagamu. Setiap kali kau merasa sedih, setiap kali kau terbangun karena mimpi burukmu—haruslah aku yang berada di sisimu. Saat tertawa, haruslah aku yang bersamamu. Aku akan memelukmu setiap kali kau memintanya” ujar Siwon, “Ah bukan, aku akan memelukmu setiap waktu” katanya lagi. Ia semakin mempererat pelukannya dan mendaratkan kecupan hangat dengan durasi cukup panjang di ubun-ubun Sam. Mata Sam terpejam menikmati hangatnya kecupan Siwon yang menembus kulit kepalanya.

~.o0o.~

Sam duduk terpaku di atas kasur empuknya. Matanya sesekali melirik pada Ayahnya yang duduk di sebuah kursi tak jauh darinya. Pria itu baru saja kembali dari luar negeri karena diminta menjadi juri salah satu acara masak yang cukup bergengsi.

Sam menoleh sekilas pada sebuah kado berukuran sedang, berwarna jingga cerah yang terletak di sampingnya, hadiah yang baru saja diserahkan oleh Ayahnya sebagai ucapan selamat atas ulang tahun Sam meskipun telah lewat beberapa hari.

“Aku harap kau senang dengan pemberian itu” ujar Tuan Lee “Aku tak tahu harus memberikanmu apa” katanya lagi sambil tersenyum.

“Ah, terima kasih” Sam membalas senyuman ramah Ayahnya.

“Sam” pria itu memanggil Sam, ia terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya sehingga ia terdiam sejenak “Aku secara kebetulan bertemu dengan Cha Seung Jae”

“Aku mengerti” Sam memotong perkataan Ayahnya.

“Apakah tak sebaiknya kau..” Tuan Lee kembali membisu, mengurung niatnya untuk menyampaikan lanjutan dari kata-kata itu.

“Aku akan menyelesaikannya” ujar Sam tenang tapi ketenangan itu tak bertahan lama karena raut wajah Sam kini menegang dan sorot matanya berkilat-kilat menahan amarah “Professor Cha, kau benar-benar sedang mencari masalah denganku!” geram Sam dalam pelan, ia mengepal keras tangannya. Ingin sekali ia mencabik wajah orang itu, orang yang selalu menerornya untuk segera kembali.

~.o0o.~

Jam pelajaran olah raga baru saja usai. Sam yang masih lengkap dengan pakaian olah raga, tampak kelelahan. Gadis itu melangkah gontai di sepanjang koridor sekolah. Ingin rasanya ia cepat sampai di ruang ganti agar dapat segera membersihkan diri dari kuman-kuman yang telah menempel di tubuhnya. Ponselnya kembali bernyanyi riang, wajahnya mengkerut dan tampak kesal apalagi melihat nama orang yang sering menerornya tertera di layar ponsel. Dalam sehari ini sudah lebih dari dua puluh kali Professor Cha menelpon Sam, tetapi selalu diabaikan oleh gadis itu.

 “GADIS KURANG AJAR! MENGAPA TAK MENJAWAB PANGGILANKU?” Sam baru saja hendak menyapa ketika teriakan melengking itu mendahuluinya dengan volume yang hampir sepuluh kali lipat dari biasanya. Gendang telinga Sam berdengung hebat.

“Aku meninggalkan ponselku di kelas” Kata Sam dengan nada sabarnya meskipun sebenarnya ia ingin sekali meneriaki orang itu, ia mencoba beralasan.

Kau kira bisa membohongiku?” tampaknya Professor Cha mengenal dengan baik gelagat Sam “AKU TAK MAU DENGAR BANYAK ALASAN, CEPAT KEMBALI!” Ia kembali berteriak dengan kencang. Sam langsung menjauhkan ponsel, jika getaran hebat itu sampai ke gendang telinganya, kali ini tak dapat terelak lagi bahwa ia akan mengalami gangguan pendengaran untuk seumur hidupnya.

“KAU KIRA SEDANG BERBICARA DENGAN SIAPA?” emosi Sam akhirnya tak dapat dibendung. Teriakannya menarik perhatian semua siswa yang kebetulan berada di dekatnya. Sam langsung mengakhiri pembicaraan menyebalkan itu, ponselnya segera di non aktifkan.

Sam melangkah dengan kesal, ia sedikit menghentak-hentakan kakinya di lantai yang begitu bersih. Saat melewati sebuah ruangan, tanpa sengaja mata Sam tertuju pada pintu yang tak tertutup rapat. Bola mata gadis itu sedikit membulat, dari balik pintu ia melihat Siwon dan Anne di dalam kelas yang begitu sepi itu. Kedua orang itu saling berhadapan dengan sorot mata yang sedikit aneh.

Sedetik kemudian tubuh Sam langsung menegang, bola matanya mendelik lebih lebar. Anne memeluk mesra tubuh Siwon dan semakin mengejutkan Sam saat Siwon membalas pelukan Anne. Sam merasakan tubuhnya membatu dan itu berlangsung cukup lama. Gadis itu berangsur-angsur menguasai hatinya, wajahnya kembali terlihat tenang, ekspresinya yang berubah seperti tak pernah melihat apapun. Ah Sam, itu benar-benar ekspresi yang sangat mengerikan!. Ia berlalu dengan langkah santainya meninggalkan ruang kelas itu, meninggalkan Siwon dan Anne di dalamnya.

“Aku rasa cukup” Anne melepaskan pelukannya. Ia memandangi wajah Siwon yang terlihat sangat tenang.

“Aku benar-benar menyesal” kata Siwon “Dan kau tahu, semua tak akan berubah” katanya lagi. Anne tersenyum tipis.

“Aku tahu. Tadinya kupikir kau akan kembali padaku tapi kenyataan tidak berjalan sesuai harapanku” kata Anne “Akupun tak terlalu menghendaki pertunanganan itu, sejak awal selalu mengacuhkanmu karena aku tak pernah berharap banyak darimu”

“Begitu?” gumam Siwon.

“Ya. Tapi itu tak berlangsung lama, tepatnya setelah kedatangan Sam” ujar Anne, Siwon mengernyitkan keningnya “Selama ini aku tak pernah menjadi yang kedua tetapi ketika aku dibanding-bandingkan dengannya, itu membuatku kesal. Terlebih lagi, Sam benar-benar membuatku takut, kenyataan tentang dirinya juga keluarganya membuatku gugup. Dia bahkan bukan tandinganku. Menyadari itu aku semakin kesal dan membencinya. Aku tak terima berada di urutan kedua” Anne tersenyum sangat tipis.

“Kau memang gadis yang seperti itu, Anne” ujar Siwon.

“Semuanya tentang Sam. Ia selalu mendapatkan apapun yang dia inginkan dan aku tak mau terus menerus kalah darinya. Lalu, saat aku mulai menyadari tatapan matamu beralih padanya—aku semakin kesal dan marah. Aku tak akan lagi kalah dari Sam, pikirku saat itu” desah pelan Anne. Siwon mendengar dengan tenang “Ya, tapi ternyata aku tetap tak bisa mengalahkannya. Sekeras apapun aku berusaha, hasilnya akan tetap sama. Maafkan aku, sudah menjadikanmu sebagai tameng harga diriku” Anne tertawa pelan. Siwon tersenyum menanggapi permintaan maaf Anne.

***

Semua kembali seperti semula, tetap sama dengan kegilaan-kegilaan Sam dan juga kesibukan misteriusnya. Meskipun tak menghindari Siwon tapi sikapnya pada Siwon tak lagi sama. Ia mengabaikan pemuda itu, mencari kesibukannya dan tak lagi bergaul dengan siapapun termasuk Aline. Sikap Sam yang semakin menjadi-jadi membuat semua orang kebingungan, mereka tak tahu harus berbuat apa pada Sam. Ia benar-benar mengurung dirinya dengan kesibukan misteriusnya bahkan ia seperti berada dalam dunianya sendiri—seakan tak ada siapapun disekitarnya. Setiap kali Siwon menghampirinya dan mencoba berinteraksi dengannya, maka hanya perlakuan dingin dan datar yang diterima. Gadis itu hanya berbicara seperlunya, suaranya begitu mahal untuk dikeluarkan bahkan setiap pertanyaan terkadang hanya dijawab dengan anggukan, gelengan lemah atau senyum tak berarti.

Siwon tampak menarik tangan Sam di sepanjang koridor. Sam berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri tetapi pemuda itu begitu kuat dan ia tak kuasa untuk melawannya. Mereka tak perduli tatapan mata siswa-siswi yang terus mengekori mereka. Siwon melepaskan cengkeraman tangannya ketika mereka berada di sebuah kelas kosong. Sam memandangi Siwon dengan tatapannya yang tampak tenang.

“Apa yang salah denganmu, Sam?” tanya Siwon yang semakin yakin dengan keanehan Sam.

“Apakah itu sebuah pertanyaan?” Sam balik bertanya “Aaish, kau menyakiti pergelangan tanganku” decak Sam, ia memegangi pergelangan tangannya.

“Kau benar-benar telah kehilangan kewarasanmu” ujar Siwon dingin. Ia begitu gusar melihat tabiat Sam yang menjadi-jadi.

“Apa yang telah kulakukan?” gadis itu bertanya dengan nada santainya “Tiba-tiba saja kalian semua begitu sentimen padaku” tambahnya lagi.

“Aku tak perlu menjelaskan maksud perkataanku” Siwon menatap tajam pada Sam. Keduanya beradu pandang dengan emosi masing-masing.

“Aku sedang tak ingin bertengkar denganmu” Sam mendesah lirih. Ia berpaling dan meninggalkan Siwon yang mematung di dalam kelas kosong itu.

Sam melangkah lemah, sekali ia menoleh ke belakang, Siwon tampaknya masih membatu di dalam kelas. Tatapan Sam yang tadinya terlihat berkobar-kobar karena marah, kini kemarahan itu telah hilang bergantikan dengan tatapan sendunya yang sedang menyiratkan kepedihan. Ia mendesah pelan, lalu lagu yang begitu familiar kembali terdengar di telinganya. Sam mengeluarkan ponsel di saku seragamnya dengan malas.

“Berhenti mengganggu hidupku” Sam menjawab panggilan itu “Sesuai keinginanmu, aku akan melakukannya” ia melanjutkan perkataannya yang terdengar begitu berat.

Benarkah?” suara girang seseorang di seberang, suara yang begitu familiar milik Professor Cha Seung Jae yang membuat dunia Sam terasa sempit “Akhirnya kau sadar juga Sam. Betapa melegakan

“Jadi, berhenti menghubungiku” kata Sam.

Baiklah. Ah ya, aku melihat pemberitaan itu” ujar Professor Cha, alis Sam bertaut. Ia tak mengerti dengan ucapan orang itu “Kau mendadak terkenal, darimana kau mendapatkan anak muda seperti itu? Benar-benar gambaran yang ideal. Gadis berperilaku buruk sepertimu sangat beruntung mendapatkan seseorang seperti dia

“Apa yang kau maksudkan itu, Siwon?” tanya Sam.

Tentu. Apa kau memiliki skandal dengan orang lain, selain dia?

“Jangan mengatakan sesuatu yang tak berguna” tukas Sam kesal “Aku dan orang itu—tak ada apapun diantara kami. Dia hanyalah teman kakakku, tak lebih dari itu dan bukan seseorang yang berarti bagiku. Dia—bukan pacarku. Jadi, tak perlu cemas. Tak ada yang bisa menghalangiku, aku selalu menepati perkataanku” ucapan Sam terdengar sangat kejam tapi untuk mengucapkan kalimat penyangkalan itu, lidahnya terasa keluh. Hatinya begitu miris dan dadanya yang mulai sesak.

Sam menutup telepon itu. Matanya terpejam sejenak. Seseorang menangkap pergelangan tangannya dengan kasar. Sam menoleh, matanya membulat mendapati Siwon yang sedang berdiri di hadapannya. Raut wajah Siwon masih terlihat terkejut, ia menatap Sam dengan tatapan tak percaya dan mencoba mencari sebuah penjelasan. Wajah itu, ekspresi itu juga tatapan itu—membuat hati Sam semakin pedih.

“Apa ini?” bibir Siwon bergetar. Ia memandangi Sam cukup lama, lidahnya terasa keluh untuk mengatakan sesuatu “Aku—bukan seseorang yang berarti bagimu. Apa kata itu yang baru saja kudengar?” sorot mata Siwon tampak sangat terluka.

“Aku…” suara Sam tertahan di tenggorokannya.

“Katakan sesuatu! Apa maksud ucapanmu tadi?” Siwon mengulangi pertanyaannya.

Sam diam.

“Aku hanya teman Hyukjae dan tak lebih dari itu bagimu. Aku bukan siapapun di hatimu. Katakan bahwa semua yang aku dengar adalah salah!” bibir semakin Siwon bergetar ketika mengulangi kata-kata yang menoreh luka di hatinya “KATAKAN SESUATU!” Siwon mengguncang bahu Sam dengan kedua tangannya. Mereka tak perduli jika telah menarik perhatian siswa-siswi.

“Baiklah” Sam memandangi wajah Siwon, matanya mulai merah. Air mata ingin mengalir dari bola matanya tetapi dipaksakan olehnya agar meluncur di wajahnya “Aku tidak pernah mengucapkan sesuatu lebih dari sekali. Semua yang kukatakan, kau telah mendengarnya—dan aku, tak akan mengulanginya lagi” ucap Sam dengan berat.

“Benarkah? Jika bukan pacarmu, jika bukan seseorang yang berarti bagimu, lalu—di hatimu, aku ini apa? Apa aku hanya bagian dari leluconmu?” Siwon bertanya dengan lirih, harus diakui oleh Sam jika saat itu ia hampir tak bisa bernafas menahan gejolak dalam dadanya.

Siwon melepaskan pegangan tangannya pada bahu Sam, ia tertawa pelan, menertawakan dirinya sendiri yang begitu bodoh.

“Jadi seperti itu, selama ini kau tak pernah mengatakan apapun padaku, tentu saja kau tak akan pernah mengatakan apapun karena—karena bagimu, aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya seorang pemuda bernama Siwon Parris Francaise. Ah, Siwon.. mengapa kau bisa sebodoh itu..” dengus Siwon, ia tersenyum perih.

Hatinya hancur menyadari kenyataan yang harus ia terima. Tatapan yang penuh luka itu menghujani Sam untuk beberapa waktu, Sam membuang muka, bukannya tak sudi tapi ia tak akan mampu untuk menatapi mata itu. Siwon berpaling, ia melangkah pelan dan gontai meninggalkan Sam. Gadis itu hanya memandangi punggung pemuda itu.

~.o0o.~

Para gadis yang semakin membenci Sam. Mereka melayangkan pandangan sinis dan juga kata-kata tajam atas perlakuan Sam pada Siwon. ‘Siapa dia? Begitu besar kepala! Berani sekali melakukan itu pada Siwon’. Dalam sehari, tudingan-tudingan seperti itu puluhan kali terdengar di telinga Sam tapi ia sedang tak mampu untuk mengedarkan pandangan mengerikannya agar para mereka berhenti mengata-ngatainya.

Sam hanya memilih bungkam. Banyak yang berubah dari kedua orang itu. Mereka seperti mati, setiap hari hanya melamun, tak melakukan aktivitas, berbicarapun enggan bahkan Siwon mulai absen dalam kegiatan klub olah raga padahal dirinya adalah ketua yang sekaligus motor penggerak. Tak ke klub tetapi selalu pulang larut dan tentu saja dalam kondisi memprihatinkan—setengah tak sadarkan diri setelah meneguk minuman beralkohol. Sam tak berbeda jauh, ia selalu menyendiri dan tenggelam dalam kesibukannya yang masih menjadi misteri.

Sikap mereka berdua membuat Hyukjae, Donghae dan Aline kebingungan dan prihatin. Segala upaya telah dilakukan agar kedua orang itu dapat berbaikan tapi semua sia-sia, mereka tak tahu apa lagi yang harus diperbuat untuk dua orang yang begitu menyedihkan itu.

Aline menghampiri Sam yang hanya melamun di atap sekolah. Sam tersadar saat sebotol minuman disodorkan Aline padanya.

Thank you” jawabnya sambil menerima minuman pemberian Aline.

“Mengapa kalian seperti ini?” ujar Aline. Sam hanya diam, ia meneguk minuman dengan santai “Kami hampir gila melihat kalian” desah Aline.

“Maaf. Tak ada maksud membuat kalian tertekan” ujar Sam, lirih.

“Semua ucapanmu pada Siwon, aku tahu itu tak benar” kata Aline “Meskipun bibirmu berkata seperti itu tapi hati dan matamu tak akan pernah berbohong. Siwon adalah seseorang yang sangat berarti, dia adalah Siwon yang telah menarik seluruh hidupmu ke dalam pusarannya. Bukan hanya Siwon, saat ini, kaupun sangat tersiksa dan menderita karena masalah ini” Aline mendikte isi hati Sam dengan baik.

“Kau ini..” Sam tertawa kecil.

“Katakan sesuatu Sam, mengapa kau melakukan itu?” tatap Aline “Aku tak yakin kalian bisa hidup tenang tanpa satu sama lain. Hampir setahun ini bergaul denganmu, aku cukup mengenalmu Sam”

“Aline. Ada sesuatu yang tak bisa aku jelaskan” ujar Sam “Aku tak inginkan itu tapi aku tak punya pilihan. Jika melihat matanya, melihat senyumannya maka aku akan ragu dan aku tak akan mampu jauh darinya, aku tak akan bisa hidup seperti itu. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah melepasnya. Ya, melepas orang itu” Sam terdiam dengan sorot matanya yang sedih.

Aline yang tak mengerti hanya memandangi wajah Sam lekat-lekat.

***

Hari semakin gelap saat Sam baru memasuki gerbang kediaman Francaise. Ia segera turun dari sepeda dan memilih berjalan kaki sambil membawa sepedanya. Langkah kakinya terhenti, matanya menatap sosok pemuda yang berdiri beberapa meter di depannya. Kedua orang itu saling berpandangan. Tak berapa lama, Siwon dan Sam telah duduk di sebuah kursi yang ada di sekitar taman. Mereka hanya bungkam. Diam seribu bahasa.

“Maafkan aku” Siwon membuka percakapan “Aku sudah bersikap kasar padamu”

Sam tersenyum “Tak ada yang perlu dimaafkan—walau aku tetap ingin meminta maaf padamu juga, Siwon”

“Aku rasa hubungan kita tak akan berhasil” ucap Siwon, berat. Keduanya kembali terdiam dengan hati yang mencelos. Tak lama, Siwon beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi namun langkah kakinya tertahan “Meskipun begitu—terima kasih padamu” kata Siwon akhirnya dan benar-benar pergi meninggalkan Sam yang masih terpaku. Air mata Sam langsung mengalir begitu saja.

***

Larut malam ketika Siwon terhuyung-huyung di sepanjang koridor rumahnya. Kepalanya terasa berat, tatapan matanya yang begitu sayu serta bau minuman yang begitu tajam tercium dari tubuhnya. Ia terus-terusan mabuk, hampir setiap hari kejadian itu terulang. Sikap Siwon lebih membuat cemas kedua orang tuanya tetapi mereka tak dapat melakukan apapun. Siwon melangkah berat memasuki kamarnya, ia terjatuh.

“Siwon!” Donghae menghampiri Siwon dan membantu kakaknya untuk berdiri. Ia selalu cemas dengan Siwon dan itulah sebabnya Donghae tak pernah tidur sebelum Siwon pulang. Ia membantu Siwon berjalan dan langsung merebahkan tubuh Siwon di tempat tidur.

“Bahkan seorang Siwon bisa berubah seperti ini—kau sangat menyedihkan” tatap nanar Donghae pada Siwon.

“Pergi..” ujar Siwon pelan “Kau pergilah, aku ingin sendiri” Siwon menyuruh Donghae untuk meninggalkannya.

“Apa kau akan tidur dalam keadaan seperti ini?” Donghae mendesah kesal “Aku akan mengganti pakaianmu terlebih dahulu” ujar Donghae, ia berusaha untuk melepas kemeja yang dikenakan Siwon.

“PERGI! Pergi, Donghae!” bentak kasar Siwon, ia menepis tangan Donghae. Donghae memandang sejenak pada Siwon dan meninggalkan Siwon seorang diri.

Siwon membuka matanya yang terasa berat, memandangi langit-langit kamar tidurnya. Bayang wajah Sam melintas begitu saja di matanya. Semua kenangan yang pernah dilaluinya bersama Sam terlihat semakin jelas. Siwon merasakan hatinya terluka, ia memejamkan matanya. Pemuda itu berusaha untuk bangkit.

PRAAANG!

Kegaduhan terdengar dari kamar Siwon. Pemuda itu terlihat penuh emosi, ia mengacak-acak isi kamarnya. Benda-benda yang berada di atas meja dihamburkan sekaligus ke lantai dan langsung hancur berserakan. Siwon kembali menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidurnya. Ia memejamkan matanya menahan sakit di kepala, terlebih lagi sakit di hatinya. Ada air mata yang diam-diam mengalir dari matanya yang terpejam.

***

Rumah mewah keluarga Francaise tampak sepi. Para penghuninya masih terlelap namun tidak demikian dengan Sam. Gadis itu melangkah pelan di sepanjang koridor dan beberapa saat kemudian sampailah ia di depan pintu sebuah ruangan. Sam terdiam, ia sedikit ragu tapi itu tak berlangsung lama setelah ia memilih membuka pintu yang tak terkunci itu lalu menghilang dibalik pintu tersebut.

Sam melangkah hati-hati di dalam kamar yang berukuran sangat luas, kamar yang berantakan dengan pecahan perabotan dan juga benda-benda lain yang masih berserakan di lantai. Matanya tertuju pada sosok Siwon yang sedang terlelap, Sam berjalan mendekati Siwon. Ia menatap lirih dan sedih pada pemuda itu, dalam tidurnyapun ia tampak tak tenang—tergambar jelas frustasi yang menderanya.

“Maafkan aku, Siwon” Sam berkata dengan pelan “Jika bukan karena aku, kau tak akan menjadi seperti ini. Maaf, semua salahku. Ini satu-satunya cara yang bisa aku lakukan, meskipun saat ini kau sangat terluka tapi aku yakin waktu akan menyembuhkan lukamu”

Sam terpaku. Ia lalu bungkam memandangi wajah Siwon. Dengan perlahan ia lebih mendekati tubuh Siwon, menatap lekat wajah Siwon yang begitu dekat dalam pandangannya. Perlahan tapi pasti, Sam mendaratkan kecupan panjang di dahi Siwon.

Saranghaeyo. Saranghamnida, Siwon. ” bisik Sam dalam hati. Ia belum berniat melepaskan kecupannya itu. Air mata kembali mengalir dan air mata itu jatuh membasahi wajah Siwon dan mengalir di pipi pemuda yang masih tak sadarkan diri itu. Sebuah jawaban yang tak pernah dikatakan langsung pada Siwon hanya diucapkan dalam hati.

~.o0o.~

 

Minggu pagi yang cerah, Siwon terbangun. Ia membuka matanya yang berat. Kepalanya masih pusing akibat pengaruh minuman keras. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar tidurnya yang masih dalam kondisi semula—berantakan. Siwon terdiam, ia memikirkan sesuatu lalu tangannya perlahan menyentuh dahinya. Ia tak ingat apapun tetapi merasakan sesuatu telah terjadi semalam. Siwon segera berdiri dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Tak berapa lama kemudian, ia telah bergabung dengan Donghae dan Kyuhyun yang sedang sarapan di kebun belakang.

“Kau sangat buruk ketika mabuk” keluh Donghae. Siwon tak berkata apapun “Kalian sangat aneh. Mengapa terus-terusan berlaku bodoh?” dengus kesal Donghae.

“Aku sedang tak ingin membahasnya” tukas Siwon.

Stupid Siwon!” seru Donghae yang merasa kesal, Siwon tertegun mendengar kata-kata Donghae yang baru saja keluar dari bibirnya “Kau sedang menyerah?”

“Aku benar-benar tak ingin membahas masalah itu”

“Berhenti memarahi Siwon seperti itu, Donghae!” Kyuhyun melakukan aksi protesnya pada Donghae.

“Lalu kau percaya dengan semua yang dikatakan Sam? Seperti itukah rasa cintamu? Apa hatimu begitu dangkal hingga kau tak bisa merasakan apapun?” tuding Donghae. Siwon tertegun, ini kali keduanya dikatakan berhati dangkal setelah Anne beberapa waktu yang lalu “Mengapa tak mencoba untuk percaya? Apa ini yang kau katakan cinta jika kau hanya meyakini perasaanmu tanpa percaya pada perasaan Sam? Lantas ketika dia berkata seperti itu, kau langsung menerimanya secara terbuka?”

Siwon kembali tertegun. Ia tak pernah memikirkan semua ucapan Donghae sebelumnya.

“Semalam, aku melihat Sam menangis di kamarnya” kata Donghae pelan, raut wajah Siwon berubah ketika mendengar itu “Aku tak pernah melihat tangisan yang sesedih itu. Di pemakaman Ibunya, Sam tak meneteskan air mata sedikitpun tapi semalam—ah, kau harus menemuinya, kesalahpahaman itu bisa diselesaikan” Donghae memberikan sarannya.

“Aku rasa itu tak perlu”

Siwon, Donghae dan Kyuhyun menoleh pada pemilik suara. Hyukjae berjalan lemas menghampiri mereka.

“Kau tak akan menemukannya dimanapun” ujar Hyukjae.

“Kemana dia sepagi ini?” gumam Kyuhyun.

“Tidak. Dia tidak berada di setiap pelosok di kota bahkan negara ini” jawab Hyukjae lirih.

“Apa maksud?” Donghae tak paham.

“Sam—dia telah pergi. Dia meninggalkan kita semua”

“APA?” delik Donghae dan Kyuhyun bersamaan. Siwon langsung beranjak dari tempat duduknya.

“Apa yang kau katakan?” tanya Siwon. Bola matanya melebar.

“Dia telah kembali, sepertinya dengan penerbangan pagi tadi” kata Hyukjae, wajah Siwon menegang “Aku menemukan ini di kamarnya” Hyukjae menyerahkan sebuah amplop berisi surat kepada Siwon dan langsung diraih oleh Siwon. Ia lalu merobek kasar amplop tersebut dan langsung mengeluarkan secarik kertas di dalamnya.

__

 To Siwon…

Saat kau membaca surat ini, aku sudah pergi.

Sangat menyenangkan bisa berada di sekitar kalian dan mengenal kalian semua.

Terutama mengenalmu, meskipun aku membuatmu terluka.

Aku tak berharap kau memaafkanku, tapi aku masih tetap ingin meminta maaf padamu.

Kita memang tak seharusnya bertemu karena pada akhir kau dan aku akan selalu terluka dan menderita.

Aku tak tahu apakah masih pantas mengatakan ini padamu..

Kuharap, kau tak merindukanku dan segera melupakanku, seperti yang kau katakan sebelumnya.

Akupun aku segera melupakanmu!

Sampaikan permintaan maafku pada Hyukjae, Donghae dan Aline… juga rasa terima kasihku.

Semoga kalian semua hidup dengan baik. Kudoakan kebahagiaan kalian.

                                                                                                                                                                                   Sam

 

***

Siwon berlari-lari di dalam bandara yang sangat luas. Di belakangnya, tampak Donghae dan Hyukjae mengejarnya. Ketiga anak muda itu terus mengedarkan pandangan mereka berharap menemukan sosok Sam diantara ramai sesaknya orang-orang di bandara tersebut.

“SAM!” teriak Siwon yang mulai putus asa.

Mereka terus mencari Sam di bandara yang begitu besar itu, mengamati dengan cermat tapi usaha mereka belum membuahkan hasil. Tak jarang beberapa orang yang tampak mirip dengan Sam menjadi sasaran mereka meskipun pada akhirnya mereka harus meminta maaf atas kekeliruan itu.

“Siwon” Hyukjae tersengal-sengal “Kita tak akan menemukannya lagi”

“Hyukjae benar. Sam pasti tak lagi berada di sini” ujar Donghae “Dia pasti menggunakan penerbangan pagi tadi”

Siwon memandang sekelilingnya, ia masih belum menerima kata-kata Hyukjae dan Donghae. Matanya masih terus mencari sosok gadis itu. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Siwon memejamkan matanya, ia mencoba menarik nafas tapi dadanya begitu sesak. Pemuda itu duduk di sebuah bangku, ia tertunduk. Tangannya meramas rambut di kepalanya—frustasi. Dengan kedua tangannya itu membenamkan wajahnya. Donghae dan Hyukjae menghampirinya lalu duduk di sisi kiri dan kanan. Mereka sama-sama terdiam memikirkan sosok Sam yang telah pergi.

~.o0o.~

Tiga minggu berlalu. Aktivitas sekolah tetap berlangsung seperti biasanya. Bel istirahat baru berbunyi. Murid-murid berbondong-bondong keluar dari ruang kelas setelah mengikuti jam pelajaran yang padat. Perpustakaan, kafe, kantin juga fasilitas-fasilitas lainnya yang ada di sekolah elit mulai ramai dipenuhi para siswa.

Di dalam kafe—Siwon, Hyukjae dan Donghae tampak duduk di sebuah tempat di sudut ruangan, tempat yang sama ketika mereka berada di kafe. Siwon memandangi salju yang turun dari balik jendela besar, ia merapatkan jaket yang dikenakannya. Salju di bulan Desember, suasana natal begitu kental terasa ditambah lagi lagu-lagu natal yang mengalun indah di seluruh kafe membuat suasana semakin semarak dan hangat.

“Kemana liburan natal kali ini?” tanya Hyukjae. Ia meneguk coklat hangatnya namun tak melepaskan pandangannya dari laptop yang berada di hadapannya.

“Aku tak ingin kemana-mana” jawab Donghae santai. Ia terus membolak-balik halaman buku tebal yang sedang dibacanya. Pemuda itu begitu terfokus pada buku di tangannya. Untuk sejenak, Donghae ikut memandangi salju yang turun “Gadis itu benar-benar tidak ada kabarnya” gumam Donghae dan kembali melanjutkan bacaannya.

“Nomor ponselnya tak bisa dihubungi lagi” ujar Hyukjae. Siwon hanya diam, mulutnya terkatup rapat.

“Sam tak berada di Seoul, lalu kemana perginya?” Donghae memandangi Hyukjae dan Siwon bergantian “Apa dia benar-benar ingin menghilangkan jejaknya? Bahkan Aline tak diberitahu olehnya”

“Aku tak tahu, aku sudah bertanya pada rekan-rekan Ibuku di sana, tapi jawaban mereka sama. Sam tak ada” Hyukjae berkata dengan kesal mengingat bahwa adiknya seperti menghilang di telan bumi. Selama tiga minggu ini mereka berusaha untuk menghubungi dan mencari tahu keberadaan Sam tapi gadis itu benar-benar raib entah kemana. “Ah, bagaimana jika bertanya pada Ji Hye dan Min Ji? Mereka pasti mengetahui keberadaan Sam” Hyukjae seperti tersadar ketika menemukan ide itu, wajahnya langsung ceria.

“Lupakan saja” tolak Donghae mentah-mentah

“Mengapa?” Hyukjae mengernyitkan keningnya. “Kau—sudah menghubungi mereka?” tebak Hyukjae. Donghae menghela nafas pelan.

“Ji Hye dan Min Ji tak mengatakan apapun tentang keberadaan Sam” tutur Donghae mengingat pembicaraannya dengan dua sahabat Sam lewat telepon “Tapi aku merasakan sesuatu yang aneh” ia bergumam pelan.

“Apa maksudmu?” tanya Siwon yang sedari tadi bungkam.

“Dua orang itu pasti mengetahui sesuatu” ujar Donghae. Hyukjae dan Siwon memandanginya dengan serius menanti kelanjutan ucapannya “Ketika aku menanyakan Sam, mereka berkata bahwa kita hanya perlu menunggu. Kita pasti akan tahu keberadaan Sam meskipun Sam tak pernah mengatakan secara langsung—bukankah itu berarti mereka tahu betul dimana Sam berada?” Donghae meminta pendapat Siwon dan Hyukjae.

“Sangat mencurigakan” Hyukjae menatap dengan sorot matanya yang tajam.

“Mereka pasti tahu… tentang Sam” gumam Siwon pelan.

Pandangan mereka tertuju pada Aline yang tergesa-gesa berjalan menghampiri mereka. Nafasnya masih tersengal-sengal. Wajahnya tampak pucat pasi.

“Ada apa?” tanya Hyukjae yang cemas melihat Aline yang begitu pucat.

“Terjadi sesuatu?” Donghae ikut bertanya. Gadis itu hanya diam, nafasnya masih memburu. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya. Siwon, Hyukjae dan Donghae semakin heran melihat gadis itu.

“Aku tahu dimana Sam berada” ucap Aline dengan lantang “Lebih tepatnya, aku tahu sesuatu tentang Sam” Aline melanjutkan perkataannya. Wajah tiga pemuda itu mendadak berubah.

“Kau tahu dimana Sam?” tanya Siwon, ia mulai bersemangat.

“Apa maksudmu?” Donghae menyambung pertanyaan Siwon.

“Darimana kau mendapat kabar itu?” Hyukjae ikut penasaran. Aline membungkam sesaat, ia terlihat begitu gugup.

“Aku mengetahuinya dari guru itu, Kibum” jawab Aline.

“Kibum?” Donghae menyebut nama guru matematika mereka dengan nada penuh keheranan.

“Saat itu Sam mengatakan bahwa guru Kibum pernah bekerja dengan Ibunya. Aku hanya menduga jika dia mungkin mengetahui sesuatu” ujar Aline, ia semakin gugup untuk melanjutkan perkataannya “Ah, apakah yang aku dengar itu suatu kebenaran?” Aline bertanya pada dirinya, ia ragu untuk menyampaikan apa yang di dengarnya pada tiga pemuda yang hampir tak berkedip menanti kelanjutan perkataannya.

“Katakan!” Hyukjae tampaknya tak bisa menahan rasa penasarannya. Donghae bahkan telah melupakan buku yang sedang dibacanya.

“Guru, dia tak pernah bekerja dengan Ibumu” Aline memandangi Hyukjae “Dia berkata bahwa Sam itu…”

Ucapan Aline terputus karena mendadak terjadi kegaduhan di dalam kafe. Mereka memandangi para siswa yang tiba-tiba membicarakan sesuatu.

“Hei, bukankah itu Sam?” ujar para siswa. Kegaduhan kian bertambah.

“Ah, benar! Tidak salah lagi, dia Sam!” yang lain membenarkan “Tapi mengapa?” mereka tak melanjutkan pertanyaannya.

Siwon, Hyukjae, Donghae dan Aline mengikuti arah pandang siswa-siswi yang tertuju pada sebuah televisi berlayar plat. Televisi berukuran besar itu terpampang di dinding kafe. Berita siang sedang mengudara saat itu. Mata mereka tertuju pada seorang gadis cantik yang tampak tenang di antara beberapa orang pria dan wanita yang jauh lebih tua darinya. Mereka duduk sejajar dengan meja panjang yang penuh dengan microphone maupun alat-alat perekam. Mereka sedang melakukan jumpa pers. Tapi mengapa Sam berada di situ?

“Sam?” terdengar gumaman dari mulut Hyukjae, Donghae, Siwon dan Aline. Mereka memandangi wajah Sam yang tampak tenang, ia duduk di samping seorang pria berbadan besar dengan kepala yang hampir botak. Pria itu sedang berbicara, banyak kilatan cahaya dari kamera-kamera para wartawan yang sedang meliput.

Sebuah planet mirip bumi ditemukan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat NASA, planet yang diberi nama Gliese 581g ditemukan berdasarkan observasi yang dilakukan menggunakan teknik tercanggih yang dikombinasikan dengan teleskop kuno

Terdengar suara tegas seorang wanita pembaca berita menyebutkan isi berita kepada semua pemirsa.

Bersama dengan diluncurkan kabar penemuan ini, NASA akhirnya membuka suara tentang identitas kepala ilmuwan yang memimpin proyek tersebut, Professor Celesty yang selama ini ditutupi dan dijaga ketat oleh NASA, merupakan seorang jenius berumur tujuh belas tahun, yang pada proyek sebelumnya telah berhasil meluncurkan pesawat luar angkasa robot bersayap buatannya, X-53c ke orbit. Pesawat tak berawak tersebut diluncurkan untuk melakukan misi tes teknologi navigasi, kontrol, perlindungan termal dan operasi otonom di orbit.

Kafe tampak begitu sunyi, mendadak sepi—semua orang begitu hening. Semua mata tak berkedip menyaksikan berita tersebut. Mulut mereka terbuka melihat wajah Sam di sorot ketat dan diberitakan sebagai Professor Celesty. Suara mereka seperti tertahan di tenggorokan. Siwon, Hyukjae, Donghae dan Aline mematung dengan wajah tegang memandangi Sam yang tampak berbisik-bisik dengan pria tua yang sebelumnya berbicara, Sam akhirnya mulai berbicara.

Gliese 581g terletak dengan jarak dua puluh tahun cahaya dari Bumi, tepatnya berada di konstelasi Libra. Posisi planet ini, satu sisi selalu menghadap bintang dan memiliki suhu panas yang memungkinkan manusia untuk berjemur terus-menerus di siang hari. Di bagian samping yang menghadap jauh dari bintang, berada dalam kegelapan yang terus menerus

Siswa-siswi memandangi Sam yang dikatakan sebagai Professor Celesty. Gadis itu sedang berbicara tentang hasil penemuan mereka.

Rata-rata suhu permukaan planet ini antara -24 dan 10 derajat Fahrenheit atau -31 sampai -12 derajat Celcius. Suhunya sangat terik saat posisi menghadap bintang dan bisa terjadi pembekuan saat sedang gelap. Planet ini hampir sama atau sedikit lebih tinggi dari bumi sehingga orang-orang dapat dengan mudah bergerak di planet ini. Faktanya, kami mampu mendeteksi planet ini begitu cepat dan sangat dekat. Ini memiliki arti bahwa planet ini benar-benar berciri umum, seperti bumi

Gadis itu berucap dengan begitu fasih dan jelas, raut wajahnya yang tampak sangat tenang dan tegas—terlihat jauh berbeda dengan sosok Sam yang mereka kenal. Ia mengakhiri pembicaraannya dengan penuh wibawa.

Beberapa menit telah berlalu sejak pemberitaan mengejutkan itu berakhir. Kafe yang penuh dengan siswa masih tampak sunyi, hanya alunan lagu natal yang terus terdengar. Kegaduhan mulai terdengar, mereka begitu terkejut dengan berita yang baru saja mereka saksikan, tentang kenyataan bahwa Sam adalah seorang Professor di NASA—Professor Celesty, adalah gadis cantik penuh misterius dengan peranggai yang luar biasa, yang selama kurang lebih setahun berada bersama mereka. Perlahan tapi pasti, misteri yang selalu menyelimuti Sam mulai terkuak.

Siwon, Hyukjae, Donghae dan Aline masih belum berkutik. Mereka masih bergejolak dan terkejut bukan main menyadari rahasia yang selalu ditutupi oleh Sam. Wajah yang tegang, sorot mata yang terlihat bingung dan tak percaya.

“Apakah aku sedang tak bermimpi?” Donghae bergumam tak jelas. Ia menepuk wajahnya.

“Dia…” Siwon begitu terkejut.

“Benarkah, orang yang di televisi tadi adalah Sam?” Donghae memandangi ketiga orang yang masih terpaku “Seorang Professor? Benarkah?”.

“Kita tak salah melihat dan itu juga bukan mimpi” ujar Hyukjae, ia terdiam dengan pikirannya yang mulai merajalela “Inikah yang ingin kau sampaikan tadi?” Hyukjae memandangi Aline. Gadis itu diam sejenak, pikirannya masih kacau dengan pemberitaan itu.

“Aku tak mengerti” Aline menggeleng pelan. Semua kini memandanginya “Aku memang tahu jika Sam sedang berada di Amerika, juga tentang kenyataan bahwa dirinya adalah Professor—tapi tentang NASA, aku sama sekali tak tahu”

Hyukjae, Siwon dan Donghae memandang heran pada Aline.

“Maksudmu, guru Kibum tak mengatakan tentang hal itu?” selidik Siwon.

Aline menggeleng lemah, “Dia hanya mengatakan bahwa Sam adalah seorang Professor yang merupakan dosen di Harvard” ujar Aline, ketiga pemuda itu kembali terlonjak “Guru Kibum adalah salah satu mahasiswa yang pernah diajar oleh Sam” Aline mendesah pelan. Mereka kembali terdiam, tak habis pikir dengan semua yang terjadi.

“Jadi—begitu rupanya, itulah mengapa guru dan Sam terlihat aneh saat bertemu di kelas” Donghae berkata pelan. Ia terdiam dan wajahnya tiba-tiba berubah “Professor… Celesty?” gumam Donghae. Matanya sedikit melebar.

“Ada apa?” Siwon bertanya heran. Donghae tak lagi berkomentar, ia diam dengan sorot matanya yang aneh—wajahnya pun mulai menegang seperti sedang memikirkan sesuatu, membuatnya semakin terpaku.

Donghae tak menjawab. Terlintas hal lain di dalam kepalanya.

“Tapi, jika kalian benar-benar tak puas, mungkin Donghae bisa memberitahukan maksud buku itu—tapi rasanya sulit dia mau melakukannya. Ah, atau.. bagaimana jika kalian bertanya langsung saja pada Professor Celesty?” usul Sam.

Donghae tiba-tiba teringat akan perkataan Sam pada Cleo dan Caron saat kedua gadis itu berusaha menarik perhatiannya dengan merampas buku bacaannya saat itu.

“Kau memperingatkan Caron dan Cleo. Sepertinya kau tahu jika mereka tak akan mengerti karena buku ini ditulis dalam bahasa asing. Jika kau tak tahu, bagaimana mungkin kau menyebutkan nama penulis buku ini?” ujar Donghae “Kau bahkan tak menyentuh buku ini sama sekali” Donghae terus menatapi Sam penuh selidik.

“Aku memang tak menyentuh buku itu, tapi aku melihatnya sekilas” kata Sam.

“Yang benar saja, Sam” Donghae tertawa pelan, ada nada ketidakpercayaan di situ.

“Tentu saja aku tahu” kilah Sam “Hanya dengan melihat sampulnya, aku tahu buku itu begitu familiar” lanjutnya lagi.

“Aku masih belum yakin dengan semua perkataanmu” tuding Donghae.

“Tak mungkin kau tak pernah mendengar cerita tentang Ibuku dari Hyukjae” ujar Sam sambil menatap tajam pada Donghae “Kau tahukan jika Ibuku adalah seorang ilmuwan? Hampir semua buku yang ditulis oleh Professor Celesty ada di ruang kerja Ibuku. Tentu saja aku sangat familiar meskipun aku hanya melihat sampulnya—kau tak pernah merasakan betapa repotnya membersihkan tumpukan buku-buku itu” sindir Sam.

Donghae semakin membatu ketika mengingat pembicaraannya itu dengan Sam. Lututnya terasa lemas. Ia lalu memandangi buku tebal yang sedang dipegangnya.

“Donghae” panggil Siwon,

“Ah, aku merasa sangat aneh. Bayangkan, selama ini kau tahukan jika aku sangat suka membaca setiap buku yang ditulis oleh Professor Celesty?” Donghae memandangi Siwon, ia tertawa datar “Lalu, orang yang bernama Celesty itu adalah Sam? Bisakah aku mempercayai itu?”

“Kau tak melihat biography si penulis?” tanya Aline yang juga ikut heran .

“Aku sempat merasa aneh karena setiap bukunya tak ada penjelasan yang spesifik tentang Professor Celesty—juga tak ada foto orang itu, aku pikir itu biasa saja selama buku yang ditulisnya menarik” kilah Donghae, ia masih tampak sangat tegang “Aku sempat mencari informasi di internet tentang orang itu, tetapi pencariannya nihil. Tak ada satupun yang aku dapatkan”

“Tentu saja. Mereka menjaga ketat identitas sebenarnya” ujar Siwon.

“Berita tentang Sam begitu cepat menyebar” ujar Aline, ia sedang memandangi layar laptop Hyukjae yang beberapa saat lalu diambilnya dari hadapan Hyukjae yang sampai dengan saat ini masih membungkam “Dalam beberapa menit sudah ada puluhan situs yang memberitakan tentang seorang Professor Celesty yang sangat jenius. Semuanya baru saja diposting” ujar Aline, Siwon dan Donghae mendekati gadis itu. Bersama-sama menyaksikan pemberitaan tentang Sam yang telah merambah ke dunia maya.

__

**Dikatakan sebagai manusia terjenius di dunia, mengalahkan rekor Kim Ung Yong yang sebelumnya menyabet gelar terjenius di dunia dengan IQ 210. Samantha Lee atau lebih dikenal dengan Professor Celesty, gadis muda yang cantik rupawan—dalam usianya yang begitu belia telah melakukan hal-hal hebat dengan IQnya yang diluar skala yakni 283…

__

“APA? 283?” bersama-sama ketiga orang itu menyerukan kekagetan mereka.

“Yang benar saja.. mungkinkah mereka tak mengada-ada?” tanya Aline gugup. Tak ada yang mencoba untuk menjawab selain melanjutkan membaca artikel tentang Sam.

__

Professor Celesty, putri dari seorang ilmuwan terkenal, Professor Lerryn Zoya yang meninggal dalam kecelakaan kerja beberapa waktu lalu di Pocheon, Korea Selatan. Tak banyak yang diketahui tentang Sam mengingat selama ini keajaiban tentangnya disimpan rapi oleh keluarga dan pihak terkait lainnya.

Sedikit informasi yang kami ketahui, Celesty tak lagi menginjakan kakinya dibangku sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama karena kepintarannya yang luar biasa. Pada umur tujuh tahun, Celesty telah menyelesaikan pendidikannya di bangku menengah atas dalam jangka waktu empat minggu. Ia diterima di Harvard ketika berusia delapan tahun dan dalam waktu enam bulan ia mendapatkan gelar masternya.

Ia ditawari oleh Harvard untuk menjadi pengajar tetapi tawaran itu sempat ditolak mengingat faktor usianya yang masih begitu muda. Ia resmi menjadi pengajar di Harvard sekaligus sebagai professor termuda saat berumur 14 tahun. Setahun kemudian NASA menariknya untuk bekerja pada Badan Antariksa Amerika Serikat tersebut. Dengan IQ yang luar biasa itu, Celesty menguasai sebagian besar bahasa diseluruh dunia dan banyak lagi hal-hal yang menakjubkan. Saat ini, Professor Celesty terlibat langsung dalam proyek NASA untuk membangun kota permanen di bulan yang pondasinya akan dibangun sekitar awal tahun 2020. Rumusan rencana tersebut telah dikonsultasikan dengan tiga belas lembaga luar angkasa dari berbagai Negara. Salah satu tujuan utama dari proyek ini adalah untuk membuat satu langkah maju tentang eksplorasi manusia dan penjajakan dalam penelitian Mars. Celesty adalah manusia yang super jenius.**

__

Siwon, Donghae dan Aline tersandar lemas di kursi masing-masing. Jantung mereka berpacu dengan cepat ketika mengetahui rahasia besar Sam. Siswa-siswi yang lainpun sedang sibuk mencari berita tentang Sam di internet. Mereka benar-benar heboh dan semakin penasaran.

“Apakah, yang mereka ceritakan itu adalah manusia?” gumam Donghae.

“Aku tak mengira jika Sam..” Siwon terdiam. Tatapan matanya yang berubah ketika mengingat gadis itu, hatinya masih sangat perih.

“Aku tidak sedang bermimpi?” Aline menggeleng kasar kepalanya, berharap ia segera bangun dari tidurnya.

“Tidak. Kenyataannya Sam adalah gadis yang seperti diberitakan itu” Hyukjae mengangkat suara setelah sekian lama membatu.

“Jadi, kau mengetahui semua ini?” tanya Donghae. Hyukjae menggeleng pelan.

“Aku tak tahu apapun tentang dirinya yang bekerja di NASA ataupun pengajar di Harvard, aku tak tahu apapun setelah kami terpisah” tandas Hyukjae “Tapi aku tahu hal lain saat kami masih bersama—aku, telah mengingat semuanya. Semua yang terlupakan”

“Kau berkata apa?” tanya Siwon.

“Sejak kecil Sam telah menunjukan hal-hal aneh untuk anak seusianya—bahwa dirinya berbeda dan sangat istimewa. Bukankah Sam pernah bercerita tentang seseorang yang bernama William James Sidis?” Hyukjae memandangi mereka. Aline dan Donghae mengangguk pelan “Sama halnya dengan sidis, Sam juga tak jauh berbeda. Ia mampu mengenal tulisan dan melafalkannya dengan jelas saat usianya belum menginjak dua tahun. Saat berumur empat tahun, Sam bahkan telah mampu menyelesaikan masalah pada soal Kalkulus. Ia sangat suka menonton siaran luar negeri dan setelah itu ia akan mulai berbicara dengan fasih bahasa itu—mempelajarinya dari apa saja, terkadang ia mengajari dirinya sendiri, seperti yang dilakukan oleh Sidis. Ah ya, Sam sudah bisa membaca dan menguasai huruf Jepang, Korea, Jerman, Inggris ketika berumur tiga tahun.”

“Kau, Sam benarkah melakukan itu?” Aline ragu.

“Menyadari keajaiban pada Sam. Ayah dan Ibuku berusaha untuk melindunginya. Segala upaya mereka lakukan agar tidak tercium oleh media massa dan usaha mereka sangat berhasil—meskipun karena itu, Sam sangat tersiksa” ujar Hyukjae lirih “Masa kanak-kanak Sam direbut dengan paksa, tak ada tawa riangnya, ia tak diijinkan bergaul. Ibuku bahkan mempekerjakan tiga orang pengawal pribadi yang khusus menjaga Sam. Sam kecil hanya bisa memandangi anak-anak seusianya yang berkejaran liar di luar rumah—memandang sedih dari balik jendela. Sam tak memiliki teman, itulah mengapa ia tak begitu paham cara untuk berinteraksi. Ia tumbuh menjadi seseorang yang bengal, keras kepala—seorang gadis yang suka memberontak, seperti Sam yang kalian kenal. Aku masih ingat seperti apa penderitaan Sam kecil, aku merasa takut lalu perlahan mulai melupakan semua itu”

Hyukjae mengenang dengan lirih masa-masa kecilnya bersama Sam yang diwarnai dengan berbagai hal yang belum sepantasnya dirasakan oleh anak-anak seusia mereka.

“Akhir aku mengerti mengapa kau selalu bersikap acuh dengan nilai-nilaimu” Donghae menatap Hyukjae “Karena kau melihat Sam, kau terluka karenanya”

“Hari itu, saat Sam berbicara tentang James Sidis, sinar matanya sangat aneh. Ia bercerita dengan sungguh-sungguh sehingga kami bisa merasakan penderitaan Sidis. Aku tak tahu jika itu bukan hanya sebuah cerita bagi Sam, melainkan sesuatu yang dialaminya sendiri” Aline menarik nafas panjang. “Apa yang akan kau lakukan?” Aline menatap Siwon.

“Kau akan membiarkannya? Aku yakin dia sudah sangat menderita. Kau akan merasakan apapun?” tanya Aline bertubi-tubi. Siwon tertegun.

“Seperti ini sudah baik, ini jalan yang kami pilih. Tak ada yang perlu kucemaskan, dia terlihat sangat baik” jawab singkat Siwon membuat mata ketiga orang itu tertuju padanya “Meskipun berusaha, aku tak yakin kami akan kembali seperti dulu. Biarkan dia dengan segala keinginannya, akupun akan terus berjalan di jalanku, karena kami—kami tak ingin saling melukai” sorot mata Siwon tampak begitu sedih. Ia lalu beranjak dan pergi meninggalkan Hyukjae, Donghae dan Aline.

Siwon memandangi wajahnya di kaca. Ia sedang berada di toilet siswa. Matanya yang begitu sedih, raut wajah yang terluka. Meskipun bibirnya berkata begitu, tapi hati Siwon masih belum bisa menerima semua itu. Bayang Sam terus berputar-putar di sekitarnya membuat dirinya tak merasakan lagi privasinya. Ia belum bisa menyingkirkan Sam dari otaknya apalagi hatinya. Wajah Siwon menegang, ia bergetar—sorot matanya yang menyala-nyala penuh emosi

PRANG!

Siswa yang berada di toilet tersentak. Mereka memandangi Siwon yang meninju kaca, darah segar tampak mengalir di tangannya, menodai kaca yang telah hancur itu. Nafas pemuda itu memburu. Matanya yang memerah menatap nanar bayang wajahnya yang terbagi-bagi di kaca pecah tersebut.

“Hiduplah dengan baik” bisik Siwon dalam hatinya “Ini terakhir kalinya aku merindukanmu. Setelah ini, aku akan melupakanmu!” ia kembali berbisik lirih. Setetes air mata mengalir dari mata kanannya membentuk anak sungai di pipi mulus pemuda tersebut.

~ to be continue ~

Iklan

542 thoughts on “I Fell In Love, My Trouble Maker Girl (Part 9)

  1. tyand berkata:

    Y ampun jd sam seorang profesor, sungguh tak terduga
    Sempat curiga c pas terungkp siapa yg slalu menelfon sam adalah seorg profesor. Aq pikir mungkinkah sam ngikutin jejak ibuny.. n ternyata bahkan lbh dari ibunya b, dy seorg profesor yg terjenius dg IQ 283

    WOWWWW menakjubkn tp akankah kisah siwon n sam berakhir seperti ini saja? Aq harap
    Heeeee

  2. Yiatri2499 berkata:

    Sam benar-benar mengagumkan…
    Tpi, bgaimana dengan perkataannya tentang kematian itu???
    Mkin penasaran…
    Fighting eonni!!!

  3. alfia kim berkata:

    eonnii annyeong!!! ><
    kyaaaaaaa niatnyaaa aku mau komen di part 10 tapi ternyata ada pwnya hftt aku boleh minta??
    eonn,sumpahh aku like double like deh buat ini ceritaaa huwahhhh berasa nntn filem kalo baca ini cerita dr part 1 sampe part 9 ini hehe
    kerenn pokoknya kerennnnnnnnnn!!!

  4. bebygyu berkata:

    apakah dia manusia q rasa tidak woooooaaahhh imizing biiinnngggiiittt q mau dia jadi kk q pasti kece

  5. @hyyun407 berkata:

    Demi apa speechless banget baca part ini yatuhan yatuhan bagus keren terbaik pokonyaa eumezing;D gak nyesel dapet rekomendasi blog ini dari temen hehe. Btw part end dipassword ya? boleh minta pe nya.

  6. Hana berkata:

    ky lg dpt terapi kejut jantung baca part ini.
    gila Sam hebat bngt.
    jd itu kehidupan Sam yg sbnernya..
    ohh,, kasian skrg Siwonku yg trluka..

  7. Widya Choi berkata:

    Omo… jd sam seorg profesor. Pntesan dy tkesan kyk misterius. N skrg smuany udh trjawab. Tp sngt d sayangkn liat hubngn siwon am sam kyk gini. Ap siwon bnrn bakaln nyerah gt aj? 😢😢😢

  8. Honeyteuksilver berkata:

    Sedih bacanya
    dari awal kirain sam sama dongek ehh ternyata sama siwon 😁
    mian baru kasih komen hihihi ^^ Saking ke asikan bacanya lupan ngasih komennya… eonni minta pwnya yang part 10 donk

  9. rizzzkiii berkata:

    Done! Meski msh ada satu part lg tp aku gak akan minta pwnya krna udh tau endingnya yg HAPPY DAN SWEET itu haha.
    Dan krna aku bukan penyuka happy ending, nostalgia sm ff ini sampe chap ini aj deh ckck.
    Aku emang lebih suka dan lebih menikmati proses perkenalan para tokoh smpai akhirnya mereka punya hubungan yg seru bgt. Dr sikap Sam yg penuh misteri, dr keanehan2 yg tiap part gak henti bkin hening, kerumitan hub.Sam Siwon sampai akhirnya klimaks ketika rahasia besar terungkap! Well. . .I love love love this ff!! Ini harus dikirim k penerbit!

  10. riankyu berkata:

    astgaaa gw kgettttt… gk nyangka sam itu proffesor.. IQ.a jga 280an.. OMG smuanya psti kget… aduh siwonssi.. jngan lupain sam dong.. aishh jinjja kepo mha akhirannya…. moga mrka gk pisah deh..

  11. jamurshinee05 berkata:

    teenyata bener sam mengikuti jejak ib unya menjadi ilmuan..aku harap sam bisa memilih ulang biar gak seperti ibunya semoga sam inget apayang di katakan ibunya oas bermimpi dulu swbelum ibunya meninggal.. kalau dia haeua mengikuti kata hatiny buka dengan pikiran..
    dan siwon apakah gak maumenyusul sam dan membawa sam kembali.. aku yakin sam menginginkan itu.. kalau masih seperti itu aku yakin mereka tidak bisa saling melupakan dan saling merindukan…
    kapan mereka dpertemukan dan dpersatukan. aku harap mereka bersatu dpart 10 ini dan happy ending…

  12. kyunie berkata:

    MWO?jd sam itu profesor?!!IQ ny 283???..pantesan aja ngerjain soal ujian cm 5menit udh gt dpt nilai smpurna.wew,sam sesuatu bgt dh!!!keren!!

  13. Cho Sarang berkata:

    Whoaaaa… Sam umur 7 tahun udah tamat sekolah menengah atas itu pun dalam 1 bulan,gw baru mau belajar menghitung umur segitu. Dan umur 14 tahun udah jadi profesor dan mengajar di harvad. Gw aja umur segitu baru mau mengenal dunia luar. Takjub gw sama sam

  14. Ken berkata:

    Salut lhoo ama authornya bisa nulis cerita sedemikian bagusnya. Tpi sbnernya professor Celesty itu ada kaga? Hahahh, klo kaga ada author keren lho bikin nama itu terus bikin cerita kerjanya si prof. Bagus author 😀

    • marchiafanfiction berkata:

      Prof. Celesty hanyalah tokoh fiksi, tp seseorang dengan kemampuan yang 11-12 dengan si Sam yg adalah prof memang ada dan pernah hidup di muka bumi. ingat William Sidis yang sempat diceritain di part *entahlah, sy lupa persisnya*, itu asli lho, jadi sy buat cerita ini nyari2 referensi kira2 kalo sy buat yang sejenius wow luar biasa begitu, ada gak orang semacam itu? nah, ternyata ada. jadi, supaya kesannya sy gak terlalu mengada-ada wkwkwk

  15. Mrs. Cho berkata:

    cuma bisa bilang WOWW Sam seorang profesor? astagaa gila sam jenius banget.. gak bisa ngmong apa” sumpah speechless. tapi yg lebih jenius sih authornya keren bisa bikin cerita yg diluar dugaan gini.
    trus hubungannya sama siwon gmna? bakal bner” berakhir gitu ajakah? pokoknya berharap yg terbaik buat mereka berdua..
    btw part 10 pke password ya bisa mnta passwordnya thor?

  16. My labila berkata:

    sam benar2 jenius lebih malah, aku sampai syok waktu tau kebenaran ini, baru aja mereka so sweetannya eh malah udahan, semoga mereka bisa kembali bersama…

  17. surtiyeyen berkata:

    .assalamualaikum^^ eon aku reader baru bwt FFmu .. hehe aku udah lama sih baca2 FF .. cuma baru berkunjung skrg diblogmu .. lgsg jatuh love wkwkk .. suka banget apalagi kmu pake visual Suju .. uwuwuwu i love deh ^^ .. trs banyak ilmu juga yang kita dapat brmanfaatlah pokoknya .. btw aku minta PWnya dong eon 🙂

    sukses trs ya.. fighting sist ♥♥♥ sehat sllu ^^

  18. Nada10059 berkata:

    Hallo kak..
    Salam kenal ya..
    Aku udh baca dri part 1 sampai 9…

    Yaampuunn Kak.. Ceritanya bagusss banget..
    Banyak banget hal tdk terduga dan banyak kejutan..

    Semangat ya kak 🙌😆👍

    Kak klau boleh aku minta pw part 10 ya 🙏
    Makasihh

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s