Dilemmas of Love (Part 1)

Image

Cast                : Kim Kibum, Han Soo Ra (OC), Lee Hyukjae, Other cast

~~> FF ini murni imaginasiku, say no to plagiat!!!

Note   : Aku Lagi bener-bener kangen sama Kibum (T_T)

*****

Sudah empat jam lebih aku berkutat dengan game online. Kebiasaan lama, aku selalu lupa waktu karena hal bodoh itu—ah, sepertinya aku ikut-ikutan bodoh karenanya. Sebelum aku melupakan kalian, sebaiknya aku memperkenalkan diriku, namaku…

“Han Soo Ra!!!”

Astaga~ siapa yang telah merebut paksa bagianku?

Sambil mengucek-ngucek telingaku yang masih berdengung karena lengkingan tajam itu, aku menoleh dan mendapati wanita paruh baya yang sedang memandangku geram dari ambang pintu kamarku yang telah menganga lebar.

“Ah.. Ibu..,” aku tersentak kaget melihat ibuku yang galak itu. Secepat kilat aku meminimize tampilan game di layar monitorku.

“Berapa kali kuberitahu, jangan hanya game online-mu yang kau sentuh. Apa kau tak melihat hal yang lebih penting dari itu???” ibu menunjuk buku-buku yang tersusun rapi di meja belajarku, aku ikut memandangi miris pada buku-buku itu, lebih tepatnya pandangan hampir muntah—belajar, hal yang paling membosankan bagiku.

“Ibu, aku tak lupa, siapa bilang aku tak menyentuh buku-buku itu,” elakku, tentu saja, aku baru saja merapikan mereka. “Ibu, tidakkah kau tahu, otak memerlukan penyegaran?”

“Soo Ra, berapa banyak waktu yang terbuang untuk me-refresh otak bodohmu itu?”

Tatapan ibu membuat bulu badanku meremang, dengan bangga ia memamerkan secarik kertas, mengangkatnya dengan lantang tepat di depan mataku. Aish, bagaimana hasil tes matematika itu berpindah ke tangannya?

“Tunggu sampai ayahmu tahu tentang ini.”

Gosh,” keluhku sembari memegangi leherku yang mendadak terasa tegang. “Ibu, kau tak akan setega itu pada anak gadismu yang cantik inikan?” bujukku. Jika ayah tahu tentang nilai burukku maka tamatlah riwayatku. Arggh, aku benci situasi ini.

#####

Aku memandangi kertas yang sedang kupegang dengan miris, hari ini hasil tes fisika telah kami terima.

“Sial!!” tak sadar aku mengumpat kesal, membuat kedua gadis bodoh yang sedang bersamaku terlonjak kaget.

“Han Soo Ra, kau membuatku kaget!” Min Kyoung membelalakkan matanya padaku. Song Min Kyoung, dia sahabatku.

“Bagaimana ini? Nilaiku jelek lagi, kalau ibu sampai tahu maka aku…,” aku hanya bergidik membayangkan sumpah setiaku pada ibu bahwa aku menjamin hasil tes selanjutnya akan baik-baik saja, asal ibu tak mengadukanku pada ayah. Parahnya, ibu benar-benar memegang janjiku.

“Haissh,, ya Tuhan—apa yang harus aku lakukan?” aku benar-benar panik. Tak ada cara lain, aku harus menyembunyikan rapat-rapat hal ini.

“Aku juga,” Min Kyoung ikut melemas di sampingku. Nilainya tak lebih indah dari nilaiku.

“Kau! Cha In Hee!” aku meneriaki gadis bodoh satunya lagi, “Apa yang terjadi denganmu?” tanyaku, sedari tadi kulihat In Hee terus diam memperhatikan hasil tesnya, sesekali membetulkan letak kaca matanya itu.

“Tidak. Aku hanya sedang bahagia, sepertinya aku mengalami peningkatan,” In Hee tersenyum bangga.

“Benarkah?” Min Kyoung terlihat sangat penasaran, sama halnya denganku.

“Tes fisika terakhir kali, nilaiku 30,5,” ujar In Hee, aku dan Min Kyoung mengangguk, sadar betul dengan nilai kami yang selalu jauh dibawah standar. “Tunggu, tes kali ini nilaiku 40.”

“Bodoh!! Itu sama saja,” Min Kyoung mewakili jeritan hatiku pada gadis blo’on itu.

“Mulai sekarang, kita harus bisa memperbaiki nilai kita yang hancur total itu!” Min Kyoung dan In Hee menatapku lekat, sangat lekat. Mereka berusaha menebak, malaikat mana yang telah menggerakkan hatiku.

“Hei~ kau tak apa-apa?” dengan mimik yang sangat cemas, Min Kyoung meraba dahiku.

“Apa?” kutepis tangannya dengan sedikit kasar.

“Soo Ra, tak biasanya kau peduli dengan nilaimu,” gumam In Hee.

“Tidak. Hanya saja, jika Ayah mengetahui nilaiku maka aku harus mengucapkan salam perpisahan dengan kegiatan game online. TIDAK!!” aku tak bisa membayangkan jika semua itu direbut paksa dariku, aku tak mau!

“Aishh, aku kira kau sudah sadar sungguhan, ternyata tujuan utamanya tetap saja—game online itu.”

“Terserah kalian, setuju dengan usulanku—atau tidak?” aku menatap kedua gadis yang terlihat masih mempertimbangkan ajakanku. “Pikirkan saja. Sepertinya, sanksi kalian juga tak kalah menyakitkan denganku.”

Aku berhasil menghasut kedua gadis bodoh itu. Tentu saja, aku tahu betul jika ketahuan oleh orang tua mereka, maka mereka akan mengalami sesuatu yang sama tak enaknya denganku.

“Oke—tapi bagaimana caranya?” Min Kyoung menatapku malas.

“Tentu saja, kita belajar bersama,” ujar In Hee.

“Baiklah, di rumahmu,” aku menyetujui ucapan gadis berkacamata itu.

“Jangan! Kakek dan nenek baru saja datang dari Busan,” In Hee menolak, jujur sekali dia—langsung to the point.

“Maaf,” Min Kyoung tersenyum salah tingkah ketika mataku tertuju padanya. “Kalian tahukan, adik-adikku seperti apa?”

Min Kyoung sedang berkelit. Aku akui, dia memiliki adik-adik yang tingkat kenakalan mereka di atas rata-rata.

“Jadi…,” Min Kyoung dan In Hee hanya tersenyum kalem padaku. “Baiklah—besok sepulang sekolah kita mulai belajar, di rumahku!” geramku.

“Jangan lupa sediakan makanan ringan!” seru In Hee.

Cha In Hee—kau pikir rumahku restaurant?

“Soo Ra, bagaimana kabar Soo Jung?” Min Kyoung mengerling genit ke arahku.

“Kalian berdua, dasar sinting!”

Sepertinya kedua sahabatku itu benar-benar telah kehilangan kewarasan. Mereka selalu saja menggoda adikku, Soo Jung. Bukan apa-apa, Soo Jung memang tampan. Tentu saja, dia mewarisi daya tarikku hohohoho. Tapi, adikku itu masih duduk di kelas pertama bangku sekolah dasar. Dasar Min Kyoung dan In Hee yang gila, jangan keterlaluan seperti itu.

“Selalu saja—nilaimu buruk lagi.”

Aku menoleh pada seorang pemuda yang entah sejak kapan sudah berada di situ. Pemuda itu langsung merampas hasil tes di tanganku.

“Kibum, kembalikan padaku!”

Aku berusaha menggapai kertas di tangan pemuda itu, Kim Kibum.

“Dasar bodoh,” kata-kata tajam Kibum langsung menembus jantungku.

Astaga! Sekarang dia sedang mengejekku. Kepalaku terasa pusing, dia selalu saja bertingkah seperti itu padaku.

“Apa?” akhirnya aku berhasil merampas kertas hasil tes itu. “Apa yang kau lakukan di kelas ini?” aku mendorong tubuh Kibum agar segera meninggalkan kelasku.

Kami berbeda kelas. Tentu saja kelas kami tak selevel, Kibum berasal dari kelas inti yang isinya anak-anak jenius. Sedangkan aku dan kedua gadis bodoh itu—kami harus berbesar hati ketika melihat nama kami terdaftar di kelas akhir.

“Serius? Aku kira kau akan menyesal jika tak melihatku hari ini,” goda Kibum.

“Gila!” huhh, siapa dia? Sombong sekali berkata seperti itu.

“Sayang sekali. Susah payah aku kesini, ternyata informasi tentang Hyukjae harus terbuang sia-sia.”

Kontan saja aku terdiam mendengar Kibum menyebut nama itu. Secara refleks aku kembali menarik Kibum, memaksanya duduk.

“Mengapa? Bukankah tadi mengusirku?”

“Apa yang ingin kau katakan tentang Hyukjae?” dadaku berdebar-debar halus mengingat wajah pemuda itu. Kibum mendengus, ia menatap mataku dan akhirnya tertawa pelan.

“Kalian berdua,” Kibum menatap Min Kyoung dan In Hee bergantian. “Teman kalian ini sangat aneh.”

“Kami tahu,” jawab kedua gadis itu kompak. Mereka tampak lesuh. Hey!! Sepertinya kalian menyesal bersahabat denganku! Awas kalian!

“Aku harus kembali ke kelas!”

“Kibum please,” tak sadar aku telah merengek, menarik seragam sekolah Kibum.

“Baiklah, tapi traktir aku”

“Apa? Aku tak mau!!”

“Kau tak mau?”

“Tunggu,” aku segera menghadang langkah kaki Kibum yang bersiap meninggalkan kelasku. Pemuda itu hanya tersenyum, ia mengacak-acak rambutku. Sial! Dia terus saja memperdayaiku seperti ini.

Benar. Kami berempat memang sudah saling mengenal sejak di bangku sekolah dasar. Aku, Kibum, Min Kyoung dan In Hee. Saat memasuki sekolah tingkat pertama, Kibum melanjutkan studinya di London sedangkan kami bertiga tetap tak terpisahkan. Sampai dua tahun lalu, Kibum kembali ke Seoul—akhirnya, kami kembali dipertemukan di SMA yang sama.

#####

Kami benar-benar melaksanakan niat baik kami. Sepulang sekolah, sesuai dengan kesepakatan, kami melakukan ritual pertama—belajar bersama di rumahku.

“Pelajaran ini tak bisa masuk di otakku.”

“Sama.”

Belum lima menit berjalan ketika buku pertama terbentang di hadapan kami, keluhan Min Kyoung dan In Hee terdengar di telingaku. Kali ini aku tak bisa melakukan aksi protesku pada mereka—aku mengalami hal yang sama dengan mereka.

Suara pintu kamarku yang terbuka. Pemuda kecil tampan telah berdiri di situ, astaga—sepertinya aku memang termasuk dalam fanatic family.

“Soo Jung,” In Hee sangat girang menyambut adikku.

“Ada apa?” tanyaku pada Soo Jung.

“Kau ingin belajar bersama kami?” tanya Min Kyoung saat melihat buku yang dipegang oleh Soo Jung, “Kemarilah!” katanya lagi dengan ceria.

Soo Jung menggeleng pelan, wajahnya terlihat sedikit ketakutan. Maklumlah, dia punya pengalaman buruk dengan kedua sahabatku itu. Min Kyoung dan In Hee termasuk tipe gadis yang sangat memuja orang-orang tampan, bisa dibayangkan bagaimana mereka memperlakukan adikku yang begitu lugu.

Noona, ada yang ingin aku tanyakan,” Soo Jung tak bergeser sedikit pun dari tempatnya berpijak.

“Apa itu?” tanyaku tak sabar.

“Ada tugas dari guru, sebenarnya aku cukup yakin dengan jawabanku, tapi aku ingin memastikannya saja.”

“Ya ampun, manis sekali,” In Hee memandangi Soo Jung penuh haru.

“Soo Jung, apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Min Kyoung. “Bahasa Korea, Inggris, Sains, Kimia, Matematika atau Fisika? Gampang!” lanjutnya, terdengar sangat membanggakan diri. In Hee mengangguk antusias.

“Gampang?” aku terkejut mendengar kata itu, mengingat tujuan kami berkumpul di sini hanya untuk memperbaiki nilai-nilai kami yang benar-benar merayap. Kedua gadis bodoh itu tak mempedulikan lototan mataku.

“Sayang, katakan saja,” ujar In Hee.

Mereka mulai menggoda adikku yang malang.

“Hmm… Mengapa sebuah benda ketika dilempar ke atas, pasti akan jatuh kembali ke permukaan tanah?” ucap Soo Jung.

“Ngg.. mungkin..,” In Hee mulai bergumam.

“Benar. Tentu saja jatuh ke tanah!” Potong Min Kyoung. “Pada umumnya pasti begitu, lagi pula kalau jatuh ke atas…ehm, sepertinya tidak mungkin. Mustahil!”

“Lain ceritanya jika benda itu terbang,” sambung In Hee.

Aku menghela nafas mendengar jawaban kedua sahabatku itu. Wajah Soo Jung pun terlihat tidak puas.

“Menurutmu kenapa?” aku mengalihkan tatapanku pada Soo Jung.

“Gravitasi bumi.”

Aku kembali menarik nafas.

“Lalu mengapa kau masih bertanya pada dua orang bodoh ini?”

“Soo Ra, jangan seseram itu terhadap adikmu,” potong In Hee. “Kami tak keberatan,” In Hee tersenyum manis pada Soo Jung.

Aish, mereka masih tak sadar diri.

“Cuma itu?” Min Kyoung kembali menatap Soo Jung.

“Mengapa unggas, contohnya ayam, terkadang memakan kerikil atau bebatuan kecil?” Soo Jung melontarkan pertanyaan yang kedua.

“Benarkah?” dahi In Hee mengerut, ia memandangi Soo Jung dengan pandangan tak percaya.

“Tidak. Itu tak mungkin,” sambung Min Kyoung. “Soo Jung, kau yakin itu soal yang diberikan oleh gurumu?”

“Iya,” Jawab Soo Jung mantap.

“Benarkah? Setahuku ayam itu makanannya biji-bijian, cacing atau serangga kecil lainnya juga rumput-rumput tertentu,” gumam Min Kyoung. “Ah sepertinya gurumu itu salah, atau—bisa jadi buku kalian itu yang salah.”

“Soo Jung, mungkin pemiliknya sudah tak mau memberikan makan pada ayam-ayam itu. Tentunya kau tahu, semua sudah mahal, biaya hidup semakin meningkat,” In Hee mengerang, “Dan ketika rumput adalah pengharapan terakhirnya, malah diembat sapi dan kambing. Yaah, daripada nantinya muncul perang antar spesies, ayam mengalah dengan hanya memakan batuan kecil.”

What? Penjelasan In Hee sangat tak masuk akal. Apa hubungannya?

“Memprihatinkan, lagi pula sapi dan kambing pelit sekali,” Kata Min Kyoung menanggapi ucapan In Hee. “Lalu, disaat-saat seperti itu, kemana para cacing dan serangga lainnya?”

“Min Kyoung, mereka sedang sibuk. Kaukan tahu sendiri sekarang lagi musim kampanye. Mungkin saja mereka lagi sibuk mencari pemimpin yang dapat menjamin kemajuan spesies mereka,” Jawab In Hee sekenanya.

“HEEYYY..!!!”

Teriakku kesal. Sangat kesal.

“Aku tak mengira otak kalian seidiot itu.”

“Idiot?”

“Iya. I-D-I-O-T!!” ulangku. “Masih kurang jelas??”

“Han Soo Ra! Otakmu dan kami tak berbeda jauh. Mengerti?” Min Kyoung tak terima dengan perkataanku.

“Tentu, aku memang tak sehebat Kibum tapi sorry, aku juga tak sebodoh kalian.”

“Soo Ra, memangnya kau bisa menjawab pertanyaan tadi?” In Hee balik bertanya.

“Ayam dan unggas-unggas lainnya memakan batuan kecil itu ada manfaatnya, tidak seperti yang kalian katakana,” aku semakin kesal ketika kepintaranku dipertanyakan dan aku tak berniat melanjutkan perkataanku.

In Hee dan Min Kyoung hanya mengangguk-angguk pelan. Jelas sekali tampang bodoh mereka.

“Han Soo Jung! Kau pasti sudah mengetahui jawabannya?”

“Iya.”

“Lalu mengapa kau masih menanyai manusia-manusia ini?” tak sadar aku telah memarahi Soo Jung.

Soo Jung hanya mengangguk pelan. Ia lalu meninggalkan kami. Kami kembali membenamkan wajah di buku pelajaran yang semakin lama terasa semakin membosankan.

“Soo Ra, apa yang Kibum katakan tentang monyet itu?” tanya Min Kyoung.

Sebal sekali, kedua sahabatku selalu menyebut pemuda yang aku suka dengan sebutan itu. Aku selalu naik pitam jika mendengar mereka berkata begitu.

“Hyukjae, dia menyukai gadis yang cantik dan modis,” aku memutuskan untuk memotong urat marahku.

“Kalau begitu, kau sudah memenuhi kriterianya,” ucapan In Hee membuatku tersipu malu, aku yakin pipiku pasti telah bersemu merah.

Tapi raut itu tak bertahan lama, tergantikan oleh tatapan nanarku.

“Tapi—Hyukjae, sangat mengagumi gadis yang pintar,” aku menundukkan kepalaku. Sekarang kami seperti sedang mengheningkan cipta.

“Sekarang aku mengerti,” In Hee memecah kesunyian diantara kami.

“Apa?”

“Jadi itulah tujuan utamamu mengajak aku dan Min Kyoung belajar bersama. Benarkan?”

Dan wajahku kembali memerah. Kedua gadis itu menatapku sebal. Nyanyian riang ponselku mencairkan suasana. Aku segera menjawab panggilan masuk tersebut.

~~~~~

Beberapa menit kemudian…

“Siapa yang menelponmu?” Min Kyoung memandangiku. Ia terlihat sangat penasaran.

“Kibum. Seperti biasa, katanya dia merindukanku,” jawabku cuek. Min Kyoung dan In Hee hanya menatapku. Aku memukul jidatku, baru menyadari sesuatu, “Kenapa tak meminta bantuan Kibum? Diakan jenius. Gosh, Soo Ra, kau benar-benar hebat. Mengapa tak terpikirkan sejak awal?” aku berdecak kagum atas ide yang tiba-tiba mampir di kepalaku.

“Nekat. Apa karena takut tak bisa bermain game online-mu itu lagi?”

“Itu salah satu alasannya, tapi yang paling utama karena pemuda itu, Hyukjae.”

“Han Soo Ra. Apa sebegitu sukanya kau dengan monyet itu?” In Hee menatapku.

“Dia punya nama!” kesalku. “Hatiku benar-benar tertanam sejak melihatnya pertama kali dua tahun lalu.”

“Kau tak tahu tentang gossip di sekeliling pemuda itu?” tanya In Hee.

“Soo Ra. Dia itu monyet playboy, suka gonta-ganti pacar,” ujar Min Kyoung.

“Cukup! Berhenti menjelek-jelekkan pangeranku,” aku benar-benar tak terima. Entahlah, kedua sahabatku itu tak pernah merestui rasa sukaku pada Lee Hyukjae. “Jangan menilai seseorang atas perkataan atau penilaian dari orang lain,” jelas sekali jika aku sangat menyukai pemuda itu.

“Han Soo Ra. Seharusnya kau lebih peka,” Gumam Min Kyoung. “Pasti kau akan mampu melihat orang yang sangat tulus padamu, bukan mengejar sesuatu yang tak pasti seperti ini.”

“Kau bicara apa?” aku benar-benar tak paham dengan jalan pikiran mereka.

#####

“Kau serius?”

Kibum menatapku penuh selidik, tentu saja dia heran dan takjub ketika aku menyampaikan niatku yang telah menggerogoti kepalaku sejak kemarin.

“Tentu saja!” jawabku singkat.

Ia tampak sibuk mengunyah permen karet yang mungkin sudah terasa hambar.

“Apa aku terlihat bercanda?” tanyaku lagi ketika sadar bahwa Kibum masih menatapku dengan heran. Dia benar-benar tak percaya padaku.

“Serius?”

“Aish, Kibum aku serius, duarius, tigarius dan seterusnya.”

“Maaf, aku pikir kau sedang bercanda.”

Kibum tertawa, jelas sekali ia sedang mengejekku.

So, mulai sekarang kau harus jadi guru privatku. Deal?” Aku mengurungkan niatku untuk menimpuk kepalanya dengan tanganku yang terasa gatal. Aku tak ingin merusak rencanaku dengan perbuatan bodohku dan membuatnya menolakku mentah-mentah.

“Baiklah,” Kibum menyambut uluran tanganku. “Deal,” Ia tersenyum dengan lebar.

#####

Pukul lima sore, aku sudah berdiri tepat di depan rumah Kibum. Dengan yakin aku menekan bel rumahnya. Tak beberapa lama kemudian, seorang wanita tampak dari balik pintu.

“Ya ampun, lihat siapa yang datang?”

Ibunya Kibum. Dia selalu menyambutku dengan ramah dan hangat.

“Kibum sedang mandi. Kau tunggu sebentar,” katanya lagi.

“Iya, Bibi,” aku segera menghempaskan diriku di sofa.

“Sudah sangat lama kau tak main ke sini. Kau tumbuh secantik ini,” pujian itu membuatku tersipu malu.

Aku memang sudah sangat lama tak berkunjung ke rumah Kibum. Sebelum pindah ke London, hampir setiap minggu aku bertandang ke rumah Kibum. Tentu saja bersama Min Kyoung dan In Hee.

“Kibum sering sekali membicarakanmu.”

“Kibum. Cerita tentang aku?”

Dasar pemuda sialan. Mengapa dia tak bisa menjaga mulutnya? Pasti dia telah membongkar rahasiaku yang selalu mendapat nilai rendah pada ajumma.

“Lama sekali dia? Tunggu sebentar, biar aku mengeceknya.”

“Iya.”

~~~~~

Tak beberapa lama kemudian.

“Maaf, sudah lama menunggu?” Kibum tergesa-gesa menuruni anak tangga.

“Kau ini membuatku tampak bodoh.”

Kibum membuatku menunggu cukup lama. Bahkan waktu mandinya lebih lama dariku.

“Aku minta maaf,” katanya sambil mengacak-acak rambutku dengan kedua tangannya. Kebiasaan yang sejak dulu tak pernah berubah.

#####

Min Kyoung dan In Hee memadangi kertas yang aku pamerkan pada mereka. Wajah kedua gadis itu benar-benar takjub. Lalu menatapku dengan tatapan penuh rasa haru.

“Hebaaat.”

“Soo Ra, bagaimana mungkin kau bisa memperoleh nilai itu?” Min Kyoung tak percaya melihat angka 80 pada hasil tes matematika milikku.

“Kalian lupa? Siapa yang menjadi guruku?”

“Mau ke mana?” In Hee meneriakiku yang berlalu meninggalkan mereka. Aku hanya tersenyum melambaikan tangan. Usahaku sebulan ini berbuah manis.

~~~~~

“Kim Kibum!!” aku melambaikan tangan pada Kibum. Ia tersenyum.

“Hmm?” Kibum berjalan menghampiriku.

Detik selanjutnya, Kibum terdiam. Tentu saja, entah apa yang membuatku dengan tiba-tiba memeluknya. Jelas sekali dia terkejut. Dan akhirnya aku benar-benar sadar dengan perbuatanku—sepertinya aku lebih terkejut darinya. Aih, malu sekali rasanya. Aku melepaskan pelukanku.

Ups, sorry,.” tak tahu harus berkata apa. Aku hanya tersenyum malu. Sepertinya rasa bahagia membuatku mengabaikan urat malu pada tubuhku.

“Kau tampak bahagia?” entah apa aku yang salah menduga tapi terlihat jelas jika Kibum sedang berusaha menutupi kegugupannya.

Kami memang bersahabat tapi tak pernah aku memperlakukannya dengan keterlaluan seperti tadi. Apalagi beberapa tahun tak bertemu, ada rasa canggung yang mulai tercipta diantara kami.

“Terima kasih.”

Alis Kibum saling bertaut. Aku memamerkan nilai tes matematiku padanya. Senyumku melebar.

“Ck, otakmu tak sebodoh dugaanku. Selamat.”

Aku menjitak pelan kepalanya. Ia tersenyum dan akhirnya tertawa lebar. Oh~ manis sekali tawanya itu. Tunggu!! Apa aku yang buta atau bodoh, sejak lama bersahabat dengan pemuda ini tapi mengapa baru menyadari jika Kibum memiliki senyuman semenawan itu. Rasanya sarafku tak bekerja dengan baik hari ini.

#####

Pagi hari yang cerah, hari baru yang baik untuk memulai segala aktivitas. Semua siswa berbondong-bondong memasuki area sekolah dengan ceria.

“Sahabatku tersayaaaaanngggg!!!!!” aku meneriaki In Hee dan Min Kyoung yang berjalan beberapa meter di depanku. Secepat kilat aku menghampiri mereka.

“Soo Ra, apa-apaan kau ini?”

“Kau merusak suasana pagi ini,” timpal In Hee kesal.

“Coba tebak, apa yang terjadi semalam??” tanyaku berapi-api.

“Tidur?” aku menggeleng mendengar jawaban Min Kyoung.

“Tidur, lalu bermimpi bertemu member Suju?” sambung In Hee.

“Tidak.”

“Lalu?”

Aku tersenyum melihat otak kedua sahabatku berputar mencari tahu apa yang aku alami.

“Semalam, aku…”

“Apa?”

“Semalam, aku dan Hyukjae…”

Min Kyoung dan In Hee saling berpandangan.

“Kau..dan..Hyukjae..?” Keduanya bertanya perlahan-lahan. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum. Gadis-gadis bodoh itu kembali saling berpandangan cukup lama.

“APAA?” teriak keduanya histeris membuatku tersentak. Ke mana jantungku? Rasanya hilang begitu saja.

“HEY!!!” aku meneriaki mereka berdua.

“Tidak, Soo Ra! Apa yang kau katakan itu serius?” In Hee begitu panik.

“Tentu saja, kalian tak percaya pada sahabat sendiri?”

“Jadi, semuanya.. yang kau katakan, kau dan Hyukjae?” Mata Min Kyoung mendelik.

“Ada apa dengan kalian? Lagi pula sudah sangat lama aku menyukainya,” aku mulai kesal melihat reaksi kedua sahabatku. “Apa yang salah?”

Kali ini tak jemu-jemu Min Kyoung dan In Hee saling berpandangan.

“Kau sadar apa yang telah kau lakukan?” Ujar Min Kyoung memegangi pundakku dengan tatapan yang sangat serius. “Sadar, sadarlah Han Soo Ra!” ia mengguncang-guncangkan tubuhku.

“Aish, ada apa dengan kalian?” aku menepis tangan Min Kyoung. “Aku tak gila, aku masih normal dan aku tegaskan bahwa aku sadar sesadar sadarnya!!!”

“Ampunilah dosanya,” In Hee bergumam pelan sambil membuat tanda salib padaku. Dia benar-benar seorang Khatolik yang taat.

“Amin,” Min Kyoung mengaminkan.

“Dasar gila! Kalian sedang mendoakanku agar segera mati?” uratku mulai menegang.

“Tidak Soo Ra, kau telah melakukan dosa besar,” ucapan In Hee sungguh tak masuk akal sehatku. Aku? Apa yang sudah kulakukan?

“Dosa besar? Aku?”

“Han Soo Ra! Kau ingat status kita adalah pelajar S-M-A,” Min Kyoung menyiksaku dengan tatapannya yang menakutkan itu.

“Aku tidak sedang amnesia. Aku tak mengatakan kita murid play group,” volume suaraku semakin meninggi.

“Lalu mengapa kau melakukan itu?”

“Apa? Aku tak merasakan sesuatu yang salah. Sangat wajar dan sah menurutku. Mengapa kalian terus menentangku? Mengapa?”

“Oh Tuhan~ kau masih berkata jika kau tak salah?” Min Kyoung mendengus, ia menatapku heran. “Memang itu wajar dan sah, tapi semuanya ada batasan dan waktu. Kita masih SMA dan semuanya belum pantas.”

“Hey~ sebenarnya kalian sedang membicarakan apa?”

Sebenarnya ke mana arah pembicaraan dua gadis bodoh ini. Semakin lama aku semakin tak mengerti, entah harus menggunakan bahasa apa menjelaskan agar otak dungu mereka dapat menangkap kata-kataku.

“Han Soo Ra! Berhenti berpura-pura, dengan gampangnya kau melakukan itu, dan aku tak menyangka jika kau orang seperti itu,” tatapan nanar Min Kyoung membuatku hilang arah. Aku sungguh tak paham. “Mengapa dengan mudahnya kau menyerahkan kevirginan-mu pada monyet playboy itu?”

ZIIIIIIIINGGG…

Suasana sunyi, angin serasa kencang dan dingin membuat daun-daun gugur. Aku tak bergeming, menatap Min Kyoung dan In Hee yang terlihat jelas nafas mereka yang masih memburu karena kelelahan menyerangku. Seluruh urat ditubuhku mendadak serasa putus karena keekstriman dua sahabatku itu apalagi ketika menyadari jika sedari tadi sudah ada puluhan pasang mata yang memperhatikan perdebatan kami.

~~~~~

Min Kyoung dan In Hee merasakan tubuh mereka semakin mengecil, kurasa begitu. Tentu saja, sudah sejam aku terus menghujani mereka dengan tatapanku yang berkilat-kilat tanpa mengeluarkan sepatah katapun pada mereka. Aku masih berusaha untuk meredamkan amarahku yang mungkin tak akan bisa teredam. Kini nama baikku telah tercoreng dan semua berkat kerja keras dua gadis bodoh yang hanya tertunduk ketakutan di hadapanku.

“Maaf. Soo Ra, maafkan kami.”

“KALIAN!!!!”

Akhirnya aku berhasil mengeluarkan bom dalam diriku.

“Soo Ra, maafkan aku,.” ujar Min Kyoung, tangannya masih menutup telinganya.

“Apa? Maaf?”

Setelah dengan sukses menginjak-injak harga diriku? Mengotori reputasiku yang semula dikenal sebagai gadis baik-baik? Kepalaku benar-benar pusing.

“Soo Ra, aku tak tahu jika semalam itu, kau dan Hyukjae—maksudku, dia meneleponmu,” In Hee tertunduk.

“Sebenarnya apa isi kepala kalian? Gadis buruk!”

Aishh, kini aku benar-benar frustasi. Tidak peduli apa, kedua gadis itu harus memperbaiki namaku yang telah tercoreng di sekolah.

#####

Kejadian memalukan itu membuatku stress. Lebih bodohnya, aku mengadukan kebodohan Min Kyoung dan In Hee pada Kibum. Parah, bukannya menghiburku, pemuda itu justru tertawa terbahak-bahak. Semakin kesal aku dibuat mereka, ingin rasanya aku menjambak rambut dua gadis itu dan mereka terus bersembunyi di balik punggung Kibum.

~~~~~

Sore hari yang mendung, di rumah Min Kyoung.

“Tapi mengapa monyet itu bisa sampai meneleponmu?” tanya In Hee.

“Apakah tak ada lagi stock gadis di sekolah?”

Aku hanya membuang tatapan kesal pada mereka, mendengar ungkapan mereka yang sepertinya sangat meremehkanku.

Maybe, dia sadar kalau selama ini ada gadis manis dan baik hati yang terus menantinya. Dan sepenuhnya sadar bahwa soulmatenya, si gadis manis dan baik hati itu adalah aku.”

Aku tak mempedulikan Min Kyoung dan In Hee yang terlihat ingin muntah mendengar kenarsisanku yang kembali kumat.

“Hebatnya, Hyukjae mengajakku jalan. Senangnya~”

Min Kyoung dan In Hee terdiam dan saling pandang.

“Kenapa?” aku sedikit heran melihat raut wajah kedua sahabatku yang tampak berubah.

“Tidak. Aku hanya merasa kasihan…aauww…,” In Hee tak dapat melanjutkan perkataannya, ia meringis. Sepertinya Min Kyoung telah melakukan sesuatu padanya.

“Kasihan?”

“Bukan apa-apa,” tepis Min Kyoung. “Lanjutkan saja, semoga kau bahagia dengan monyet itu,” Gumam Min Kyoung, ia menarik tangan In Hee keluar kamar, meninggalkanku yang diam termangu.

#####

Aku mulai gusar. Bagaimana mungkin tidak, sudah lebih dari dua jam aku menunggu Hyukjae. Kami sepakat untuk nonton bersama di bioskop. Berkali-kali aku menghubungi ponselnya tapi tak diangkat.

Akhirnya dengan langkah gontai aku beranjak meninggalkan tempat tersebut. Aku tak bisa menyembunyikan kekecewaanku, aku tak tahu mengapa Hyukjae tak menepati janji.

Hujan deras tiba-tiba mengguyur, sepertinya alam bersimpati pada perasaanku yang kacau. Aku menghampiri sebuah kafe untuk berteduh. Dengan sigap kukeluarkan tissue dari dalam tas dan segera mengeringkan wajahku yang terkena air hujan.

Ketika mataku tertuju pada salah satu sudut kafe, peredaran darahku mendadak terhenti. Aku terkejut menatap sesosok pemuda yang sedang berbicang-bincang mesra dengan seorang gadis. Aku tak mengenali gadis itu, tapi wajah pemuda itu tak mungkin aku lupakan.

“Soo Ra.”

Pemuda itu, Lee Hyukjae. Dia terkejut menyadari keberadaanku.

“…..”

Aku kehilangan kata-kata. Hanya mematung seperti orang bodoh.

“Maaf.”

Kuhirup dalam-dalam oksigen yang ada di sekitarku.

“Tidak,” kataku terbata. “Aku terus menunggumu selama berjam-jam, dan ternyata kau… tidak apa-apa, aku yang terlalu bodoh.”

Aku tak ingin menangis. Tapi air mata ini keluar begitu saja. Aku tak ingin terlihat menyedihkan dihadapannya. Dia bahkan bukan siapa-siapaku tapi aku telah menangisinya. Kuhapus air mataku dengan sedikit kasar. Hyukjae menatapku dengan sorot mata yang aneh, aku terlalu kalut untuk mendeskripsikan maksud tatapannya itu.

“Maaf Soo Ra, aku tak ingin kau salah paham padaku.”

~ to be continue ~

Iklan

54 thoughts on “Dilemmas of Love (Part 1)

  1. devi berkata:

    inget soora jadi inget diri sendiri, klo dia main game. kalo saya bukannya belajar malah baca fanfic hehehehe,,,, tapi tak bodoh segitunya masih taraf aman hihihi

  2. Lee berkata:

    ngakak gila bodo-ny minta ampun..:)
    dpt ide gila dr mana nich,ane yg bc d sangka gila jg karna tawa2 ndiri..:(

    thor yg ff kmaren d bikin oneshoot-ny dong wat msng2 couple.alny yg kmaren kurang puas kirain bkln panjang ceritany,di bikinin y thor#maksa#plakk

    d tunggu karya ff lainnya..:)

    • marchiafanfiction berkata:

      untung ente gak sekalian di kerangkeng wkwkwkwkwk..
      gak tau jg tuh ide dari mana,jatoh dari pohon toge kayaknya 😀

      Oh, Sam dkk??
      hmm..kalo gtu bantu doa biar dapet feel and ide trus alur trus suasana hati yang mendukung (banyak bgt hehehe),,

      aq akan coba utk buat lagi,, tapi gak dalam waktu deket yoo coz nih lagi garap cerita yang laen blon rampung2

  3. shimeunkyung berkata:

    Cinta bertepuk sebelah tangan. Tapi sora belum bisa bedain kagum vs cinta kayaknya ,,hohoho
    Sama kibum aja sora,kibum pintar,meskipun pendek dan ga bisa olahraga *ingatEHB

  4. fitriindriyani berkata:

    critanya lcu bgt g kbyang aq pnya tmen kyj mreka pst ksel tp kdang menghibur kyknya..next

  5. afifah berkata:

    adenya soora lucu banget ih nanya yang udah tau jawabannya

    temennya lagi…
    aduuuuuuuuuuuhhhh ampun ampun

  6. 4elffever berkata:

    ngakak abis bca ff ini ..
    Aplagi pas bca bag dongsaeng-nya Soo ra nanya jwbn PR-nya ..
    Daebak deh pkoknya ..

  7. kyubum8 berkata:

    jiiaaahh gak nyadar itu ada kibum yg ganteng sekaligus pinter…ckckck
    bodo nya ampe ke mata hati jg ya,,,wkwkwk hehehe mian thor..

  8. iebefishy berkata:

    omoooo baca ff ini inget zaman2 sma jadina slalu berkutat dengan fisika, kimia n matematika hahaha
    yak unyuk kasiana dirimu slalu jadi yg ditindas hihihi *pukpuk*

  9. Kimseok berkata:

    hahahaaaaaa…:D#ups*tutup mulut*jngan ktwa lebar”!!»tpi aq gx bisa nhan ktwa ini,,kkkkk~:D jinja author ff’a bkin ktwa ngkak,gx nhan bener pas soo jung nanya jwban tugas dr guru’a dgn gmblang’a 2 idiot itu ngjawab asal,michin. Hihihihi….:()
    Daebakk..

  10. Isthy berkata:

    mati aku kalau punya temen kayak teman”-nya soo ra!!!
    bener” kacau, otak mereka itu ditaruh dimana sih?
    positif thinking dong!
    hahaha,,, kakak dapet ide darimana nih? kok bisa nemu karakter kayak gini? seru kak. . .
    oh ya, aku rasa kibum nyimpan rasa sama soo ra, terus si teman” soo ra itu tau perasaan kibum ke soo ra…
    ehm co cweet!!! XD
    daripada penasaran, langsung baca part selanjutnya aja deh! 🙂

  11. umi_ali berkata:

    Waduuuuh….. Apa yg terjadi…..
    Kibum naksir sahabatnya tuuuh…..
    Trus yg sama monyet pacar apa sobat atau noonanya?

  12. shatia berkata:

    Salut deh ma Soo Ra mau bekerja keras buat memperbaiki nilainya dengan bantuan Kibum. Walau niatnya cuman buat game online dan wat dapet perhatian dari hyukjae..tapi udah ada usaha..
    Lucu banget ma kedua temen Soo Ra, mana ada ayam, sapi dan hewan lainnya mikirin kampanye dan mahalnya biaya hidup..ada-ada ajah..
    Kasian Soo Ra udah nunggu selama 2 jam dan keujanan, tapi Hyuk gak dateng..eh ternyata dia malah lagi berduaan ma Yeoja lain..hmm..dasar Hyukjae babo..

  13. dya berkata:

    min kyoung, in hee parah abizz..
    hampir meledak aku(tawaku) tp masih bisa ku kontrol, dgn usaha yg mati” an tentunya.
    lanjut ya kak…

  14. Yanti berkata:

    Aq suka banget ceritanya kocak sangath!hahahaha…
    Itu temen2nya soo ra koplak bgt yak!teruz masa sieh ampe anak kelas 1 sd di godain gitu??hahaha

    Terus karakter Kibum yang suka dibikin dingin misterius n dll di cerita lainnya disini dibikin fun and ceria cocok juga ya?hahaha…

    Tapi pas nyeritain Hyuk nya kurang detail eum… so far bagus banget komedi nya.

    lanjut….

  15. vieveelaristy berkata:

    Hehehehe ngakak abis….
    eh endingny kok jd agak nyesek ya?
    si monyet eunhyuk kok gitu sih?? playboy… tpi apa maksud kata2 terakhirny td tu??
    ah dr pda penasaran n byk bacot..
    lanjut next part aja deeeehhhh

  16. fiema berkata:

    Hahahaha….aduh…geng yang aneh….
    Adegan kacau itu yang pas soo jung nanya…adalah binatang disangkutpautin sama keadaan ekonomi dan pelit….hehe…

  17. Tia Destyliana berkata:

    hyukjae parah kau,. :O
    benar kalau kau playboy seharusnya soora tidak mudah percaya akan kata”mu,. 😛
    dan untuk sahabat soora sungguh kalian bikin ngakak,. >.<

  18. riankyu berkata:

    hahaha astga ngakak abis gw.. apa lgi pas tman” soo ra itu jwab prtnyaan adiknya.. gw ktwa smpai mngeluarkab air mta.. hahaha sungguh mrka cman bkan tolol tpi bego… bodohnya gk ketulungan.. hahaha ha ngomong itu monyet satu itu gmna..?? ahh gw agk pusing soal soo ra mha hyukjae.. Hmm gk sbar pngen bca part 2.x..

  19. itisyahri berkata:

    Sora… Nggak bisakah kau melihat kibum?? 😦 uhhh nggak peka ahh.. Tapi kalau aku jadi sora juga nggak bakal peka sih.. Abis si kibum nyembunyiin perasaannya kayak gitu 😀 smangat thorr

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s