Dancing of Love (Part 1)

ImageCast             : Cho Kyuhyun, Oh Yong Gi (OC), Other cast

~> FF ini murni imaginasiku, say no to plagiat!!!

*****

“Pagi yang cerah.”

Seorang gadis menyingkap tirai jendela kamarnya, matanya yang bulat tampak berbinar—ia menatapi burung-burung kecil yang bertengger disebuah pohon, tak jauh dari jendela kamar tidurnya.

“Yong Gi.”

Terdengar suara lain yang membuat gadis itu sedikit tersentak.

“Iya, Nenek.”

Gadis cantik itu—Oh Yong Gi, segera meninggalkan kamar. Ia berlari menghampiri sang nenek yang sedang meletakkan sarapan di atas meja.

“Duduklah.”

Yong Gi segera duduk, ia menerima mangkuk berisi nasi yang disodorkan oleh neneknya.

“Nenek, hari ini aku akan terlambat pulang.”

“Pementasan lagi?” wanita tua itu mengamati tas yang dibawa Yong Gi, begitu mengembung, menjelaskan isinya yang cukup padat.

“Mungkin ini pertunjukanku yang terakhir,” Yong Gi menatap nasinya, pikirannya kini menerawang jauh.

“Benar, hanya menghitung hari kau akan menjadi murid SMA,” nenek memandangi cucunya yang termenung, ada sesuatu yang tersirat dari wajahnya yang renta. “Ingin sekali, aku melihatmu memakai seragam sekolah itu, hanya saja…”

“Aku masih bisa bersekolah di SMA lain,” Yong Gi tersenyum lembut, ia tahu apa yang selama ini mengganggu pikiran neneknya.

“Yong Gi, jika putraku tak berkeras hati—ibumu tak akan pergi meninggalkan kalian, tentu saja kau dapat bersekolah di sekolah pilihanmu.”

“Nenek.”

“Ayahmu sangat keras kepala, begitu tak mempedulikanmu dan juga ibumu. Alkohol dan judi membuat kondisi ayahmu memburuk—akhirnya, dia justru pergi lebih dahulu meninggalkan kita semua.”

“Nenek, jangan terus menyalahkan ayah. Kita begini, tak bisa terus menyalahkan mereka.”

“Kau benar, nenekmu ini hanya terlalu cemas. Aku sudah begitu tua, tak bisa membayangkan jika suatu saat kau akan sendirian.”

“Jangan berkata seperti itu—Nenek akan baik-baik saja,” Yong Gi menggenggam tangan wanita tua itu, memberi kekuatan dibalik genggamannya.

“Iya,” wanita itu tersenyum. “Yong Gi, kau cepatlah ke sekolah. Kau bisa terlambat jika terus di sini.”

Yong Gi bangkit dari tempat duduknya, mencium pipi neneknya dan segera meninggalkan tempat itu.

#####

“Ada apa?” tanya Mi Joo, ia menyadari Yong Gi jika terus terdiam, melamunkan banyak hal.

“Tidak,” Yong Gi menggeleng.

“Yong Gi, dari mana kau mendapatkan kalung itu?” mata Mi Joo tertuju pada kalung mungil yang berjuntai indah di leher jenjang Yong Gi.

“Ah, ini?” tanya Yong Gi, tangannya memegang bandul kalung, penari balet mungil. Mi Joo mengangguk. “Satu-satunya hal yang ditinggalkan ibu padaku.”

“Benarkah?”

“Tentu,” Yong Gi tersenyum lembut.

“Tapi, Yong Gi. Kau pernah bertemu dengan ibumu?”

Yong Gi menggeleng pelan.

“Bahkan tak satupun foto ibu kutemukan di rumahku. Nenek selalu mengatakan padaku jika aku seperti ibu,” gadis berambut panjang itu tersenyum.

“Ini sangat hebat, sepertinya ibumu tahu jika kau ingin menjadi seorang ballerina,” Mi Joo melirik mata kalung Yong Gi.

“Hari ini, di mana pementasannya?” tanya Mi Joo.

“Panti asuhan C, menghibur anak-anak di sana. Mi Joo-ya, kau ikutkan?”

“Tentu! Bukankah ini yang terakhir kalinya?” pertanyaan Mi Joo dijawab dengan anggukan kepala Yong Gi. “Aku mendaftar di Ahn Ryeong School, sekolah balet putri itu sudah banyak menghasilkan ballerina sejati. Yong Gi, kau juga akan ke sekolah itukan?”

Yong Gi terdiam sesaat, ia tersenyum tipis dan akhirnya hanya menggeleng pelan.

“Kenapa?” Mi Joo tercekat. “Bahkan sejak dulu, aku tahu jika sekolah itu adalah tujuanmu.”

“Ahn Ryeong memang tujuanku, tapi bukan berarti aku harus tetap ke sekolah terkenal itu,” elak Yong Gi. “Nenekku sudah tua, aku mencemaskan kesehatannya. Jika aku tetap ke Ahn Ryeong—sekolah itu menetapkan siswanya untuk tinggal di asrama, kurasa aku tak bisa membiarkan nenek sendiri dan juga, sekolah itu biayanya pasti sangat mahal,” Yong Gi menarik nafas,

“Aku akan sangat senang jika kita bisa di sekolah yang sama,” Mi Joo mendesah pelan.

“Hey! Hong Mi Joo, kita akan tetap bertemu sekalipun berbeda sekolah. Kau mengerti?” Yong Gi tertawa, ia mendorong pelan kepala Mi Joo dengan telunjuknya.

#####

Kebisingan terjadi dalam ruangan disebuah gedung. Ramai orang menantikan pementasan yang akan berlangsung beberapa saat lagi. Meskipun pertunjukan balet dikhususkan untuk menghibur anak-anak disebuah panti asuhan, tapi ruangan itu pun penuh sesak oleh orang-orang dewasa.

Suasana menjadi lebih hening ketika lampu dalam gedung mulai dipadamkan, tersisa bagian panggung yang diberi penerang.

Segerombolan gadis-gadis berpakaian balet berlari dengan tarian mereka di atas panggung. Mereka menari begitu indah. Beberapa saat kemudian, riuh tepuk tangan kembali membahana ketika seorang penari lainnya muncul dari balik panggung.

Ballerina cantik dengan pakaian putihnya yang indah. Ia menari begitu baik, memukau semua yang hadir. Suasana panggung tampak nyata dibuatnya—tariannya sedang menceritakan perannya sebagai angsa putih.

Diantara deretan penonton yang tak sedikit pun memalingkan wajah mereka dari penari memukau tersebut, seorang gadis kecil memandangi sang angsa putih dengan bola matanya yang begitu berbinar. Entah berapa kali tangan mungilnya terus bertepuk tangan.

Oppa, Oppa!” gadis itu menarik-narik pakaian pemuda tampan yang duduk di sebelahnya.

“Kenapa?” tanya pemuda itu tanpa menoleh pada adiknya.

Oppa, kau lihatkan! Eonni menari dengan baik!”

Mereka melirik pada gadis angsa putih yang tak lain adalah Yong Gi.

Oppa, kapan aku bisa menari seindah itu?” celoteh gadis kecil itu.

Pemuda itu tampak tak menghiraukan celoteh riang sang adik. Ia hanya menatap lurus ke atas panggung.

OPPA!!”

“Ada apa lagi?” pemuda itu tersentak, ia memandangi adiknya. “Mengapa kau berteriak sekeras itu? Oppamu ini masih bisa mendengarmu.”

Oppa~ kau mengabaikanku,” ia merengut, membuat sang kakak tertawa sambil mengacak-acak rambut adiknya itu.

“Astaga, di tempat ini sebaiknya kau tak mengeluarkan suara bising jika tak ingin diusir oleh mereka,” pemuda itu memandangi penonton yang begitu serius.

“Aku tak mau!” tolak gadis kecil itu, ia melipat tangan di depan dadanya. “Oppa, mengapa tatapanmu tak berpindah dari situ? Oppa, jangan katakan jika kau menyukai Eonni. Benarkan?” anak itu mengamati lekat wajah kakaknya.

“Jangan berisik!” pemuda itu hanya tersenyum pada adiknya.

#####

Morning.

Seperti biasanya, Yong Gi menyapa burung-burung kecil yang bermain di dekat jendela kamarnya. Gadis itu meraih segelas air putih dan meneguknya sampai habis. Kakinya dengan lincah berjalan keluar kamar.

“YONG GI!!”

Gubragh!

Teriakan nenek membuat Yong Gi terkejut, gadis itu bahkan tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya hingga membuatnya tersungkur di lantai.

“Yong Gi? Mengapa kau tidur di situ?” Nenek memperhatikan Yong Gi yang masih tergeletak.

“Nenek mengagetkanku,” kata gadis itu, ia meringis kesakitan.

“Ck, itu tak penting,” kata nenek. “Sebaiknya, kau lihat ini.”

Yong Gi memperhatikan sebuah kertas di tangan kanan neneknya.

“Apa ini?”

“Yong Gi, bereskan barang-barangmu sekarang juga!”

“Apa? Nenek sedang mengusirku?”

“Aish~ bukan itu,” nenek tersenyum. “Karena kau akan tinggal di asrama putri Ahn Ryeong—sekolah idamanmu.”

Yong Gi terdiam, ia menatapi neneknya dengan sorot yang meminta penjelasan lebih.

“Oh Yong Gi, namamu sudah terdaftar sebagai murid sekolah ballerina yang terkenal itu—Ahn Ryeong School.”

“APAAA?”

Seperti sesuatu menamparnya keras, Yong Gi tercekat. Dengan segera ia meraih kertas yang ada di tangan neneknya. Membaca dengan lekat. Bola matanya yang indah kian melebar.

“Isi surat itu sangat jelas mengatakan bahwa mulai tahun ajaran baru, Oh Yong Gi telah tercatat sebagai murid Ahn Ryeong School.”

“Biaya di sekolah itu tidak sedikit.”

“Aku tahu, tapi aku tak mengeluarkan sepeser pun karena seseorang telah melunasi biaya pendidikanmu sampai kau lulus dari sekolah itu.”

“Apa?” Yong Gi semakin dibuat heran. “Benarkah? Lalu siapa yang mengirim surat ini?”

“Surat dari sekolah itu, tapi mereka tak memberitahu siapa malaikat yang telah berbaik hati menolongmu,” nenek memandangi sekali lagi surat yang baginya seperti surat ajaib.

#####

Lebih dari tiga bulan, Yong Gi berada di sekolah ballerina Ahn Ryeong. Sekolah elit itu, tak satu pun terdapat murid laki-laki, bahkan seluruh pengajarnya wanita. Bersekolah di situ, mengharuskan murid-muridnya untuk tinggal di asrama—tak terkecuali Yong Gi. Mereka diperbolehkan pulang pada akhir pekan.

Jika Ahn Ryeong dikhususkan bagi wanita, maka bersebelahan dengan sekolah tersebut, ada sebuah sekolah yang seluruh penghuninya adalah laki-laki—Pyung Nam School.

Pyung Nam bukanlah sekolah balet pria, sekolah itu layaknya sekolah umum lainnya. Kedua sekolah tersebut merupakan sekolah terdepan dan bergengsi. Pemilik kedua sekolah elit yang hanya berbataskan tembok pemisah yang menjulang tinggi, adalah orang yang sama.

~~~

Yong Gi memasuki kamarnya. Gadis itu segera menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Ia bersama dengan dua gadis lainnya, Ah Jung dan Hyesun menempati kamar bernomor 11.

Yong Gi mengeluarkan secarik kertas dari dalam laci, membuka lipatan kertas itu dengan hati-hati.

**

Dear Oh Yong Gi

 

Nona, apa kabarmu?

Aku sangat senang ketika menerima balasan suratmu, aku bahkan membacanya berkali-kali.

Nona, aku minta maaf. Aku tak bermaksud untuk merahasiakan identitasku darimu, hanya saja aku lebih suka seperti ini.

Kau boleh memanggilku apa saja. Ah—bagaimana jika kau memanggilku paman?, kurasa itu lebih baik.

Mengharapkan surat balasanmu tiba.

From secret uncle.

**

Bibir Yong Gi melukiskan senyuman tipis ketika kembali menyimpan surat itu. Bagi Yong Gi ini terasa aneh, jaman sudah serba modern—tetapi orang itu justru menghubunginya lewat surat. Dia benar-benar ingin menyimpan identitasnya dengan baik.

Yong Gi beranjak seketika dari tempat tidurnya ketika mendengar bel sekolah berbunyi nyaring, ia segera merapikan seragamnya dan berlari keluar kamar.

“Yong Gi,” Mi Joo berlari kecil menghampiri Yong Gi. “Selanjutnya, jam pelajaran siapa?” tanya Mi Joo setelah berhasil menyamai langkahnya dengan Yong Gi.

“Guru Im,” jawab Yong Gi. Langkah kaki Mi Joo terhenti, “Ada apa?”

“Aku selalu bergidik mendengar nama guru killer itu.”

“Hong Mi Joo, pelankan suaramu.”

“Aku tahu—tapi Guru Im terlalu menyeramkan, aku tak sanggup melihat tatapan matanya yang begitu tajam, menyebalkan.”

Yong Gi hanya tersenyum, ia tak berusaha untuk menyangkali ucapan Mi Joo. Tanpa sengaja, ia menabrak seseorang ketika mereka berbelok di tikungan koridor.

“Hey~ apa yang kau lakukan?” seorang gadis cantik menatap Yong Gi. “Kau tak butakan?” tatapnya sinis.

“Maafkan aku,” Yong Gi meminta maaf.

Gadis itu tak merespon, ia hanya memandangi Yong Gi dengan sorot matanya yang tak berubah, ia bersama seorang gadis lainnya—keduanya segera meninggalkan Yong Gi dan Mi Joo di belakang mereka.

“Mengapa dia sesombong itu?” desis Yong Gi.

“Dia Park Cheonsa, dan yang satunya lagi Jin Ju—Kim Jin Ju,” terang Mi Joo.

“Hebat, kau telah mengenali semua murid di sekolah ini,” goda Yong Gi.

“Itu karena aku sekamar dengan kedua gadis menyebalkan itu.”

“Benarkah?”

“Iya,” sahut Mi Joo. “Kau bahkan tak mampu membayangkan posisiku. Latar belakang keluarga mereka sangat baik, terutama Cheonsa. Kurasa itulah mengapa mereka mampu mengangkat kepala setinggi itu.”

Kedua gadis itu mempercepat langkah kaki mereka. Jantung Yong Gi dan Mi Joo seakan berhenti sejenak ketika mengetahui Guru Im sudah berada di dalam kelas.

“Dari mana saja kalian?”

“Maafkan kami,” Yong Gi dan Mi Joo membungkuk pada wanita yang terkenal galak itu.

“Terlambat lima menit. Jangan berpikir jika aku bisa mentolerir kalian.”

Kedua gadis itu tak mampu membuka mulutnya.

“Kalian boleh mengikuti mata pelajaranku setelah mencuci bersih toilet di lantai dua.”

Kelas begitu sunyi. Suasana terasa tegang, tak ada yang berani bersuara sekecil apapun. Yong Gi dan Mi Joo hanya tertunduk dan berbalik, tak berniat membantah perintah Guru Im.

#####

Dua tahun kemudian.

Seorang gadis cantik berlari-lari menyusuri koridor sekolah, ia tampak sangat bersemangat, Oh Yong Gi. Gadis itu telah mengukir banyak prestasi akademis—ia selalu berhasil memposisikan dirinya sebagai siswa terbaik.

Seorang Yong Gi bahkan mampu mengembangkan kemampuan baletnya dengan begitu baik. Gadis itu meskipun tak pernah bertemu dengan secret uncle namun tak sekalipun hubungan mereka terputus, paman masih rajin mengirimi Yong Gi surat. Walau komunikasi hanya sebatas surat-menyurat, kedua orang itu telah akrab—tak segan untuk menceritakan apa yang mereka alami dan berbagi pikiran.

~~~

Jam istirahat, Yong Gi merapikan buku-buku pelajarannya. Gadis itu memiliki rencana tersendiri dan ia telah merencanakan itu beberapa waktu lalu. Neneknya akan berulang tahun, Yong Gi berniat mencari kado untuk neneknya.

Siswa Ahn Ryeong hanya boleh keluar dari lingkungan sekolah selama jam istirahat tapi tak sebebas itu, mereka harus menerima surat ijin dari guru piket—Yong Gi telah memperoleh ijin tersebut sehingga membuatnya tak sabaran untuk meninggalkan sekolah.

“Yong Gi,” panggil Ah Jung. “Kau mau ke mana?” ia begitu heran melihat Yong Gi terburu-buru.

“Ke suatu tempat—aku ingin mencari hadiah untuk nenek,” Yong Gi menunjukkan surat ijinnya pada Ah Jung.

“Aku boleh titip sesuatu?” tanya Ah Jung.

“Tentu.”

“Tenang saja—benang wol tak akan menyusahkanmu, aku ingin merajut sweater,” Ah Jung menyodorkan sejumlah uang kepada Yong Gi.

“Yong Gi,” Hyesun menatap Yong Gi dengan tatapan belas kasihan, ia berusaha menggoda Yong Gi

“Oke,” Yong Gi tersenyum.

Dengan sigap Hyesun menyodorkan secarik kertas bersama beberapa lembar uang pada Yong Gi.

“Hyesun, kau keterlaluan,” desis Yong Gi manakala melihat list benda yang tertuang dalam kertas itu.

Please, kau tahukan, kita tak sebebas sekolah lain,” Hyesun terduduk lemas di atas tempat tidurnya.

“Aku tahu, tapi sebanyak ini—bagaimana aku membawanya??”

“Itu tak sebanyak yang kau bayangkan. Yong Gi, help me please.

“Baiklah.”

Thank you,” Hyesun tersenyum riang.

~~~

Yong Gi tampak terengah-engah, kedua tangannya memegang kantong yang berisi penuh barang-barang yang baru saja dibelinya. Matahari begitu terik, keringat mulai membasahi dahi Yong Gi, rambut panjangnya yang terurai indahnya tampak berkilau ditempa cahaya matahari.

“Astaga~ ini lebih berat dari yang kubayangkan,” desis Yong Gi.

Gadis itu berdiri sejenak, mencari kesejukan di bawah rindangnya pepohonan, ia melepas lelah sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan setelah teringat batas waktu yang kian menipis.

Telinga Yong Gi dapat mendengar riuh, kebisingan yang terjadi tak jauh dari situ. Mata gadis itu tertuju pada gerbang Pyung Nam School. Yong Gi tak mengira jika sekolah itu terlihat lebih bebas dari mereka, terbukti dengan siswa-siswa Pyung Nam yang bebas berkeliaran di luar gerbang ketika jam istirahat—seperti saat ini. Tidak seperti sekolahnya, yang mengharuskan semua murid untuk tetap berada di lingkungan sekolah.

Langkah Yong Gi terhenti, tampak keraguan dari sorot matanya. Gadis itu menarik nafas, membulatkan tekad dan kembali melanjutkan langkahnya. Tepat dugaan Yong Gi, keributan bertambah ketika dirinya melintas di depan kawasan Pyung Nam.

“Hey, lihat siapa yang lewat!”

“Siswi Ahn Ryeong. Ternyata benar desas-desus bahwa sekolah itu melarang muridnya untuk keluar karena siswi Ahn Ryeong terkenal dengan kecantikan mereka.”

Suara-suara siswa Pyung Nam, mereka berdecak dan terus menggoda Yong Gi yang berusaha untuk tidak terganggu dengan mereka.

“Nona, bolehkah kutahu namamu?”

Yong Gi tak menoleh, ia tetap melangkah pasti.

“Ah, berapa nomor ponselmu Nona?”

Kerumuman siswa Pyung Nam terus mengikuti Yong Gi. Mereka seperti tak pernah melihat gadis sebelumnya. Meskipun malu dan risih, Yong Gi tetap tak merubah ekspresi di wajahnya.

“Aaahhh!”

Yong Gi menjerit ketika merasa seseorang menarik rambut panjangnya. Ia menoleh, dan jantungnya mendadak berdetak kencang. Seorang siswa masih memegangi rambut Yong Gi. Pemuda itu bertubuh tinggi dan rambut coklatnya terlihat sedikit awut-awutan, sepertinya hal itu sengaja dilakukan sehingga membuat wajahnya terlihat semakin tampan.

Bersekolah dan tinggal di asrama khusus putri, Yong Gi tak terbiasa berinteraksi dengan lawan jenis maka gadis itu menjadi begitu gugup melihat sosok yang begitu perfect itu.

“Apa-apaan ini?” Yong Gi membuka mulutnya perlahan ketika tangan siswa itu masih menggenggam rambut panjangnya.

“Ini—asli?” tanya siswa tampan itu, matanya yang tajam menatap Yong Gi dan juga rambut gadis itu.

“Hey!! Cho Kyuhyun, jangan mengasarinya! Lihatlah dia jadi ketakutan,” seseorang memperingatkan pemuda itu.

Dengan sigap Yong Gi menarik rambutnya dan berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan kumpulan siswa Pyung Nam yang terus memanggil dan tetap menggodanya.

#####

Minggu sore, Yong Gi terlihat mengemasi barang-barangnya. Sudah waktunya ia kembali ke Ahn Ryeong setelah menghabiskan akhir pekannya bersama sang nenek.

“Cepatlah, sebelum bus meninggalkanmu,” ujar nenek, ia berdiri di ambang pintu kamar Yong Gi.

“Jaga kesehatanmu, ingat Nenek harus makan dan istirahat dengan teratur.”

“Aku sudah setua ini tapi kau masih mengaturku—pergilah, aku akan baik-baik saja.”

Yong Gi tersenyum. Ia berpamitan dengan neneknya dan segera meninggalkan rumah itu. Ia berjalan menuju halte untuk menunggu bus Ahn Ryeong School menjemput murid-murid yang berakhir pekan di kediaman masing-masing.

Yong Gi duduk termenung di halte. Seorang diri. Sesekali melirik pada jam tangannya.

“Apakah aku telat?” gumam Yong Gi, ia mulai ragu.

Bus biasanya selalu tepat waktu, kali ini tak seperti biasanya.

“E, eh??”

Lamunan Yong Gi buyar. Seseorang memegangi rambutnya. Mata Yong Gi tertuju pada gadis kecil yang entah sejak kapan telah duduk di sampingnya. Gadis kecil berambut ikal, mata coklatnya yang bening terus menyusuri wajah Yong Gi.

Eonni, mengapa rambutmu bisa sebagus ini?” tanya anak itu, Yong Gi tersenyum tipis melihat kelucuan gadis cilik tersebut. “Kau memang cocok menjadi angsa putih!”

“Terima kasih, tapi…” Yong Gi tersentak ketika anak itu menyebut angsa putih.

Eonni—kau sangat mengagumkan. Bagaimana bisa kau menari seindah itu?” mata bulatnya terus memandangi Yong Gi.

Yong Gi tersenyum, ia membelai rambut gadis kecil itu.

“Mengapa kau bisa berada di sini—sendirian?” tanya Yong Gi.

“Tidak,” jawab anak itu. “Aku tidak sendirian, aku bersama Oppa.

“Lalu—di mana Oppamu?”

“Sedang membelikanku ice cream,” jawabnya. “Eonni, apa kau tahu jika Oppaku adalah Oppa terbaik sedunia?” ia melukiskan senyum cerah di wajahnya yang polos.

“Kau beruntung,” Yong Gi mencubit pelan pipi gadis kecil itu.

Bus Ahn Ryeong School berhenti tepat di halte. Yong Gi dengan sigap meraih tasnya.

“Adik manis, maaf harus meninggalkanmu lebih dahulu. Kau jangan kemana-mana, supaya kakakmu tidak kebingungan mencarimu.”

Eonni, sampai jumpa lagi.”

Yong Gi tersenyum dan akhirnya naik ke bus. Anak itu menatapi bus yang berlalu membawa Yong Gi.

“Min Ri, rupanya kau di sini,” seorang pemuda tampak kelelahan, kedua tangannya memegangi dua buah ice cream. “Kau membuatku cemas.”

Oppa, mengapa kau lama sekali?” desis gadis kecil itu.

“Itu karena aku mencarimu, anak nakal.”

“Kau terlambat, Oppa—kau tahu jika tadi aku bersama Eonni angsa putih?”

“Benarkah?” sang kakak hanya tersenyum tipis, mengarahkan tangannya ke kepala adiknya dan membelai lembut rambut gadis kecil itu.

#####

“Ada apa?”

Kerumunan siswa di depan sebuah papan pengumuman. Yong Gi, Mi Joo, Ah Jung dan Hyesun yang semula hendak menuju kamar—terhenti dan ikut terlibat dengan kerumunan yang tampak begitu penasaran.

“HEY!!” Ah Jung membentak seorang siswa ketika tubuhnya terdorong kasar.

“Ah Jung, tak perlu semarah itu—kau lihat, semua begitu penasaran,” tegur Mi Joo.

“Audisi siswa untuk pementasan bersama ballerina dunia di…”

“Minggir!!!”

Hyesun tak sempat selesai membaca pengumuman itu ketika Cheonsa dan Jin Ju menerobos masuk dalam kerumunan. Ia membaca pengumuman tersebut.

“Akhirnya, kesempatan itu datang juga,” Cheonsa tersenyum.

“Kau benar,” Jin Ju ikut tersenyum. Kedua gadis itu masih menyebalkan sejak awal perjumpaan.

“Ah, kau..,” Cheonsa berpaling, ia menatap tajam pada Yong Gi. “Jangan bermimpi untuk mengalahkanku, Oh Yong Gi,” ia tersenyum sinis, sebelum akhirnya pergi bersama dengan Jin Ju.

“Cihh, ada apa dengannya?” Yong Gi mendesah kesal, “Sebaiknya kita pergi!” ajakannya diikuti oleh ketiga gadis lainnya.

“Aku tak paham isi pengumuman itu,” ujar Hyesun.

“Itu adalah audisi yang dilakukan di sekolah kita,” jawab Ah Jung.

“Bukankah, setiap tahunnya sekolah mengadakan audisi untuk mencari pemeran utama maupun pemeran pembantu untuk pementasan tahunan—apa bedanya?” Hyesun mencubit-cubit kecil bibirnya.

“Berbeda!” tukas Mi Joo. “Kali ini adalah audisi langka, tak semua siswa Ahn Ryeong berkesempatan untuk mengikuti audisi tersebut. Mengapa? Karena, audisi kali ini adalah audisi yang hanya diadakan sekali dalam kurun waktu lima tahun—dan kita sangat beruntung karena saat ini kita masih pelajar Ahn Ryeong,” lanjut Mi Joo.

“Kedengarannya audisi ini special,” gumam Yong Gi.

“Sangat spesial. Audisi kali ini diperuntukkan untuk mencari penari utama yang akan berkolaborasi dengan ballerina kelas dunia dan pementasan itu akan dilangsungkan di Paris,” Ah Jung memberikan penjelasan lebih.

Really?” Hyesun berdecak kagum.

“Apakah kalian tahu apa artinya bagi siswa beruntung yang terpilih sebagai penari utama itu?” tanya Ah Jung.

Yong Gi dan Hyesun menggeleng pelan.

“Bersiaplah untuk menjadi bintang karena pementasan itu artinya memperkenalkan siswa beruntung itu sebagai ballerina kelas dunia yang baru. Kalian tentu tahu, dimana ballerina-ballerina kelas dunia lainnya pernah bersekolah?” Mi Joo berkata dengan mantap.

“Itu sangat mengagumkan,” Yong Gi berdecak kagum.

“Kesempatan ini jangan disia-siakan!” ujar Mi Joo.

“Tentu—dan lagi, aku sangat ingin bertemu dengan Lee Ae Ri,” ujar Ah Jung.

“Lee Ae Ri?”

Segera Ah Jung mengeluarkan dompetnya, memamerkan sebuah foto yang tersimpan di dalam dompet itu. Seorang wanita cantik dengan rambut hitam berkilaunya yang sangat indah.

“Dia adalah ballerina dunia.”

“Kau terlihat sangat menyukainya?” tanya Hyesun

“Kau benar. Karena Ae Ri maka aku ingin menjadi seorang penari balet,” Ah Jung bersemangat menerangkan idolanya itu dan sesekali terdengar decak kagum dari tiga gadis lainnya.

#####

Siswa kelas II-1 sedang berkumpul di ruang latihan, seluruh penjuru ruangan dilapisi oleh cermin untuk memudahkan siswa melihat gerakan tari mereka.

Yong Gi melakukan pemanasan bersama dengan ketiga gadis yang akrab dengannya.

“Semuanya berkumpul!” Guru Han bertepuk tangan, semuanya langsung berbaris dengan rapi. “Kalian, lakukan gerakan yang sebelumnya sudah aku ajarkan,” katanya lagi.

Tak berapa lama, musik telah mengalun lembut, semua mulai melakuan tarian sesuai yang diinstruksikan Guru Han. Mereka menari dengan lembut dan gemulai. Sesekali Guru Han menegur siswa yang keliru dan berbuat kesalahan pada gerakan mereka.

“Tak bisakah kau lebih lembut, Park Cheonsa?” teriak guru Han. “Jangan merentangkan tanganmu terlalu lebar Sun Mi!”

Guru Han terus mengoreksi siswanya.

Break lima belas menit,” Guru Han bertepuk tangan, para siswa segera mengendurkan otot-otot mereka yang terasa menegang.

“Kalian semua~” Guru Han memandangi para siswa dengan kesal. “Kalian sedang menari balet, mengapa terlihat sekaku itu? Oh Yong Gi.”

“Iya?” Yong Gi tersentak saat namanya disebut.

“Kau sangat baik dengan gerakan tubuhnya. Berlatihlah terus!” ujar Guru Han.

“Terima kasih,” Yong Gi membungkukkan tubuhnya.

Gadis itu tampak sangat senang. Cheonsa dan Jin Ju menatap Yong Gi dengan ekor mata mereka, terlihat rasa iri dan kecemburuan dari sorot mata mereka.

“Masuklah, Min Ri,” seru guru Han, ia menoleh ke arah pintu, semua mata mengikuti arah pandang guru Han.

Seorang gadis kecil dengan rambutnya yang dikuncir dua, gadis itu yang semula tampak malu-malu mengintip dari balik pintu—ia akhirnya melangkah masuk mendekati guru Han.

“Min Ri, apa yang kau lakukan di sini?” tanya guru Han.

“Tidak, aku hanya kebetulan lewat,” Min Ri tersenyum.

“Kalian semua—gadis ini, putri bungsu pemilik Ahn Ryeong School dan juga Pyung Nam school,” ujar guru Han, semua siswa langsung berbisik-bisik.

“Bukankah, anak itu…,” mata Yong Gi terus menatapi gadis kecil bernama Min Ri—ia tak asing dengan wajah lugu itu.

“Apa kabar?” tiba-tiba saja Min Ri membungkuk kepada Yong Gi. “Aku tahu, Eonni angsa putih pasti berada di sekolah ini,” Min Ri tertawa memamerkan giginya.

Semua tampak heran ketika Min Ri menyapa Yong Gi dengan ramah. Jelas sekali ketidaksenangan terpancar dari wajah Cheonsa.

“Sepertinya kalian sudah saling kenal?” bisik Mi Joo yang penasaran.

“Aku bertemu dengannya di halte,” jawab Yong Gi singkat.

“Min Ri, senang melihatmu,” Cheonsa tiba-tiba maju mendekati Min Ri, ia berjongkok di hadapan Min Ri. “Kudengar Oppa sudah kembali, dua tahun bersekolah di Kanada—bagaimana kabarnya?” Cheonsa tersenyum manis.

“Aku tak tahu!!” tolak Min Ri mentah-mentah.

Semua dalam ruangan itu tersenyum, Cheonsa tampak kesal—ia kehilangan muka diperlakukan oleh si kecil Min Ri.

Eonni, bagaimana jika kau bertemu dengan Oppa?” Min Ri justru menatap Yong Gi.

Jelas saja Yong Gi terkejut, Cheonsa semakin memamerkan kecemburuannya. Yong Gi lalu tersenyum lembut, membelai rambut Min Ri. Yong Gi merasa ucapan Min Ri terdengar lucu. Ia baru dua kali bertemu gadis kecil itu tapi Min Ri bersikap seolah mereka telah sejak lama saling kenal, Min Ri memang tampak polos seperti anak kecil lainnya.

#####

Sebuah mobil berhenti tepat di pekarangan rumah mewah. Seorang gadis cantik berambut panjang keluar dari dalam mobil itu, Oh Yong Gi.

Gadis itu memandang sejauh daya tangkap matanya, jelas ia terkesima dengan kemewahan yang diperhadapkan padanya.

Eonni.”

Yong Gi menoleh mendapatkan seorang gadis kecil yang tersenyum sumringah padanya.

“Apa kabar Min Ri?” sapa Yong Gi.

Alasan Yong Gi berada di rumah itu adalah atas permintaan khusus dari si pemilik rumah tersebut, juga pemilik sekolah tempatnya berada. Putri bungsu mereka terus merengek dan meminta orang tuanya menjadikan Yong Gi sebagai guru private sekaligus teman bermain—Yong Gi tak punya pilihan lain. Dapat bersekolah di Ahn Ryeong tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun adalah hadiah terbaik yang pernah ia terima—mengabulkan permintaan pemilik sekolah itu, bukanlah hal yang berat bagi Yong Gi.

“Itu…,” telinga Yong Gi dapat menangkap alunan musik yang sepertinya berasal dari salah satu ruangan di dalam rumah mewah itu. “Permainan biolanya sangat bagus.”

“Tentu saja—Oppa memang hebat,” ujar Min Ri.

Oppa?”

“Iya, Oppa terbaik sedunia,” senyuman terus terpancar dari wajah Min Ri. “Eonni, kau tahu jika Oppa sangat baik, dan juga sangat tampan. Eonni, jika kau melihatnya—kau pasti menyukai Oppa.

“Benarkah? Ehm, mungkin kau benar,” Yong Gi tertawa kecil karena penuturan polos Min Ri. “Jika Oppamu adalah Oppa terbaik sedunia, semua gadis pasti menyukainya tapi—sebaliknya, Oppamu tak akan semudah itu jatuh cinta. Termasuk padaku.”

Eonni, kau hanya tak tahu jadi berkata seperti itu,” tepis Min Ri. “Eonni, aku akan mempertemukanmu dengan Oppa,” Min Ri menarik tangan Yong Gi, hendak membawa gadis itu ke ruangan tempat suara biola itu berasal.

“Min Ri,” cegah Yong Gi, ia lalu berjongkok di hadapan Min Ri. “Lain kali saja, kau dengar dia sedang berlatih?—tak baik jika mengganggunya” Yong Gi memberikan alasannya.

Min Ri terlihat berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. Keduanya segera berlalu, meninggalkan tempat itu.

#####

“Apa yang kau lakukan?”

Mi Joo menatap heran pada Yong Gi yang sejak tadi tampak serius di meja belajarnya.

“Kau masih menulis surat untuk Paman itu?” tanya Ah Jung.

Yong Gi mengangguk.

“Siapa sebenarnya Paman itu?” tanya Hyesun.

“Orang yang telah melunasi biaya pendidikan Yong Gi,” Mi Joo menjawab pertanyaan Hyesun.

“Benar begitu? Ck, kau sangat beruntung. Gadis sepertimu memang pantas mendapatkannya,” Hyesun berdecak kagum.

“Semua berkat Paman,” ujar Yong Gi. “Sekali pun aku memiliki sesuatu yang paling berharga, tak akan mampu membalas kebaikan orang itu—terus menulis surat padanya, satu-satunya yang bisa kulakukan.”

“Benarkah, hanya seperti itu?” selidik Ah Jung.

“Tentu saja!” seru Yong Gi

“Yong Gi, bagaimana jika suatu saat dia memintamu menjadi pacar atau bahkan istrinya? Apa kau bersedia?” Ah Jung menatap Yong Gi lekat.

“Hey~ kau bicara apa?” tepis Yong Gi.

“Bayangkan berapa banyak uang yang dikeluarkan orang itu untukmu?” ujar Ah Jung, ketiga gadis lainnya terdiam. “Itu jumlah yang sangat banyak. Memikirkan orang itu tak mengharapkan apa pun darimu, aku sangat sangsi.”

“Ucapan Ah Jung masuk akal. Kau harus lebih berhati-hati terhadap orang itu,” kata Mi Joo.

“Ah, aku tak tahu,” ada sedikit kekhawatiran di raut wajah Yong Gi.

“Kekayaannya tak usah dipikirkan lagi. Jika dia seorang pria muda—kurasa itu tak bermasalah, kau hanya perlu menumbuhkan cinta diantara kalian,” ujar Hyesun, ia memperbaiki posisi duduknya. “Hanya saja—bagaimana jika paman itu adalah pria tua dengan penglihatan yang memburuk, memerlukan tongkat sebagai alat bantunya untuk berjalan—ah, tidak, bagaimana jika kursi roda? Yong Gi, apa yang akan kau lakukan?”

Semua bergidik, Yong Gi memegangi belakang lehernya.

“Itu tak mungkin terjadi,” elak Yong Gi. “Jangan membicarakan hal-hal yang begitu rumit,” Yong Gi menghibur dirinya.

Keempat gadis itu kembali terdiam, dengan pikiran mereka yang merajalela—terkadang ekspresi mereka berubah-rubah sesuai hasil imaginasi mereka yang mungkin terlalu over.

“Yaaaa~~ coba kalian lihat”

Lamunan empat gadis itu terhenti ketika mendengar kebisingan gadis-gadis lainnya. mereka tampak memadati sisi jendela kelas itu.

“Apa yang terjadi?” tanya Ah Jung.

Tak menunggu jawaban, keempat gadis itu ikut bergabung dengan teman-teman mereka, menatapi keluar jendela—pastinya, satu arah yang jelas.

“Siswa Pyung Nam sedang bermain basket.”

Ruang kelas mereka yang berada di lantai empat memungkinkan mereka untuk melihat situasi sekolah tetangga mereka.

“Pemandangan rutin, apa yang membuat kalian begitu berisik?” gerutu Hyesun.

“Sepertinya ada wajah baru diantara mereka—lihat, pemuda dengan nomor punggung lima, astaga~ mengapa ada pemuda yang terlihat sesempurna itu?”

Mata mereka terus mencari sosok yang dimaksud diantara siswa yang begitu riang di lapangan basket.

“Benar, dia sangat tampan!”

“Siapa namanya?”

Para gadis tampak berdesak-desakan. Mereka berteriak histeris melihat siswa Pyung Nam yang dimaksud.

Yong Gi berusaha mencari sosok itu—ia ikut penasarannya. Ketika akhirnya melihat sosok berkilau itu, mata Yong Gi ikut melebar.

“Apa? Orang itu—bukankah dia yang…,” Yong Gi merasa mengenali siswa Pyung Nam itu.

“Kenapa?” tanya Mi Joo.

“Tidak. Tidak apa-apa,” jawab Yong Gi. Matanya tetap menelusuri pemuda tampan bertubuh tinggi tersebut.

“Kyaaaaaaaa~~~~”

Gadis-gadis itu berteriak histeris ketika pemuda itu berbalik, mendongak ke arah kelas mereka. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya sekilas lalu kembali menggiring bola basketnya.

Wajah Yong Gi memerah. Tatapan pemuda tadi dan juga lambaian tangannya—tampak jelas tertuju padanya, Yong Gi beranjak—menuju tempat duduknya, dadanya masih berdebar halus. Yong Gi menggeleng kasar, lalu tertawa kaku karena merasa lucu jika ia menganggap semua itu tertuju padanya, jelas-jelas begitu banyak siswa yang ikut menatap ke arah lapangan basket Pyung Nam.

“Kyuhyun!” seorang siswa Pyung Nam berseru, memanggil siswa bernomor punggung lima tersebut. “Mengapa matamu terus tertuju ke sana? Apa ada yang sedang kau perhatikan?” tanya siswa itu lagi, sesekali menengok ke kelas Yong Gi—gadis-gadis masih berdesak-desakan sambil terus melambaikan tangan mereka kepada pemuda tampan bernama Kyuhyun itu.

“Kau benar,” Kyuhyun tersenyum.

“Mungkinkah gadis berambut panjang itu?”

Kyuhyun kembali tersenyum, ia menepuk pelan pundak siswa itu—lalu berjalan pergi.

#####

Eonni kenapa?” tanya Min Ri

“Tidak, aku merasa seseorang sedang mengamati kita,” gumam Yong Gi. “Ah, sudahlah—jangan dipikirkan” ujar Yong Gi, ia kembali mengajari gerakan-gerakan dasar balet pada Min Ri.

~~~~~

Eonni, jangan lupa ke sini lagi.”

“Tentu saja!”

Yong Gi dan Min Ri terus melangkah, Yong Gi sudah harus kembali ke asrama. Suara biola yang mengalun merdu terdengar dari sebuah ruangan yang berada beberapa meter di depan mereka. Alunan musik itu terhenti, Yong Gi tetap memasang pendengarannya—musik itu benar-benar tak terdengar lagi.

Pintu ruangan sumber musik terdengar tadi, pintu itu mulai terbuka. Seseorang keluar dari dalam ruangan itu. Seorang pemuda berbadan tinggi dan tegap. Matanya yang tajam memandangi Yong Gi dan Min Ri dengan hangat, senyuman tipis terlukis di wajah pemuda itu.

Yong Gi tak bisa bergerak, bola matanya yang indah melebar—ia terkejut, jantungnya berdetak kasar melihat sosok pemuda itu.

Eonni, dia Oppa terbaik sedunia.”

“Eh…itu..,” Yong Gi terbata, bibirnya seakan tak bisa digerakkan.

“Senang berjumpa denganmu, Nona Oh Yong Gi,” pemuda itu bahkan menyebut nama Yong Gi dengan akrab membuat Yong Gi semakin terkejut. “Aku, Cho Kyuhyun” kata pemuda itu mantap. “Kuharap adikku ini tak membuatmu kerepotan,” Kyuhyun menatap Min Ri yang langsung memamerkan kekesalannya.

“Itu—ah, tidak. Maksudku, tentu saja tidak. Min Ri, dia anak yang menyenangkan.”

Senyuman Min Ri kembali mengembang mendengar pujian Yong Gi.

“Sayang sekali, kau harus segera kembali ke asrama,” Kyuhyun melirik jam tangannya, wajahnya terlihat kecewa. “Min Ri, pastikan kau mengantar Eonni.

Oppa, serahkan saja padaku.”

“Aku harus pergi,” Yong Gi berpamitan.

Ia dan Min Ri segera meninggalkan Kyuhyun yang terus menatapi punggung mereka.

~ To Be Continue ~

Iklan

344 thoughts on “Dancing of Love (Part 1)

  1. chocogrill berkata:

    yaampun. kapan terakhir kali baca ff kyuhyun genre kaya gini? school-romance yg bikin meleleh bacanya😍😘 karakter kyuhyun yg manis+menggoda jadi satu😚

  2. rei berkata:

    baca FF ini aku jadi ingat sama komik yang pernah aku baca tp bedanya kalo disini secret uncle sementara di komik itu kalo gak salah namanya paman kaki panjang, dan soal lee ae ri apa dia ibu yong gi ?

  3. FitriFitri berkata:

    Ya ampun gue tebak pasti kyu suka sama yong gi dan apa paman berkaki panjang itu kyuhyun? Balerina kelas dunia itu… Ibunya yong gi? Ah penasaran

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s