Only For Him (Part 1)

Image

Cast             :  

–  Choi Siwon

–  Go Yoo Bin (Fiction)

–  Leeteuk

–  Other cast

~~>  FF ini murni imaginasiku, say no to plagiat!!!

 

~~~~~

 

Gangnam Severance Hospital.

Seorang perawat memasuki sebuah ruangan dengan tergesa-gesa.

“Dokter” ujar sang perawat “Pasien kamar 103 akan segera di operasi!!”

“Mwo???” terlihat wajah dokter tersebut sangat terkejut “Bukannya jadwal operasinya besok?” tanya dokter muda itu.

“Terjadi perubahan melihat kondisi pasien yang semakin memburuk, instruksi dari dokter Shim”

“Araseo”

Go Yoo Bin, salah satu surgeon atau ahli beda di rumah sakit Gangnam Severance. Wanita berusia 27 tahun itu memiliki karier yang cemerlang. Ia dikenal baik karena kepribadiannya yang santun.

~~~~~

Yoo Bin sedang berkemas saat seseorang masuk ke dalam ruangannya.

“Kau belum pulang?” tanya wanita yang baru saja masuk

“Ji Hee-ya, kau mengagetkanku” Yoo Bin menatap rekan seprofesinya itu “Aku akan pulang setelah membereskan semua ini. Wae?”

“Masih ada jadwal operasi, setengah jam mendatang” jawab Ji Hee “Ah, Yoo Bin-a, hari ini aku tak melihat Leeteuk”“Geurom, kurasa ada sesuatu yang harus dia selesaikan” Yoo Bin menanggapi kabar yang dibawa Ji Hee tentang kekasihnya, Leeteuk. Sudah hampir 3 tahun Yoo Bin berpacaran dengan Leeteuk.

 

#####

 

“Yoo Bin-a..”

“Ne, eomma”

“Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Ny. Go pada putri semata wayangnya.

“Semua begitu lancar” Yoo Bin tersenyum “Waeyo?”

“Anio. Ibu hanya cemas melihatmu bekerja terlalu keras”

Yoo Bin tersenyum menatap Ibunya

“Aku tak apa-apa. Eomma, kau tak perlu cemas. Anakmu ini sangat kuat” Yoo Bin memeluk Ibunya “Meskipun lelah, asalkan dapat melihat senyum dari setiap pasien—aku sangat puas” kata Yoo Bin, mencerminkan pemikirannya yang dewasa.

“Geuraeseo” ujar Ny. Go “Tapi, mengapa akhir-akhir ini aku tak melihat Leeteuk?”

“Eomma, dia sangat sibuk. Jika semua urusannya sudah beres, secepatnya eomma akan melihatnya”

 

#####

 

“Yoo Bin..!! Go Yoo Bin!!!”

Yoo Bin berbalik saat mendengar namanya dipanggil. Seorang pria berlari-lari kecil menghampirinya. Dia Leeteuk.

“Oppa..”

“Suaraku hampir habis memanggilmu”

“Oppa mianhae, aku tak bermaksud mengabaikanmu tapi aku benar-benar tak mendengarnya”

“Ne ara” angguk Leeteuk “Eodiega?” Ia mengamati Yoo Bin yang telah lengkap dengan tas di tangannya.

“Pulang” jawab Yoo Bin singkat “Aku punya sedikit keperluan” Yoo Bin menambahkan alasan kepulangannya.

“Yoo Bin-a, aku ingin meminjammu”

“Mwo?” Yoo Bin tampak bingung “Oppa, kau mengira aku bisa dipinjam seenaknya?” ia menyeringai.

Leeteuk tertawa memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi sehingga membuat para perawat yang kebetulan berpapasan dengan mereka saling berbisik-bisik dan tampak tersipu-sipu malu. Leeteuk memang dikenal di rumah sakit itu dengan sebutan The handsome docter.

“Aku akan pergi ke Boseong, ehm—maksudku, aku ingin mengajakmu”

“Boseong?”

“Sudah lama aku tak melihat Eomma dan Appa” terang Leeteuk.

Yoo Bin tampak berpikir sejenak sambil mempertimbangkan ajakan Leeteuk.

“Baiklah”

~~~~~

Leeteuk memencet bel di sebuah rumah besar dan terbilang cukup mewah, berkali-kali bel dibunyikan oleh Leeteuk, sementara Yoo Bin berdiri manis di sampingnya. Leeteuk memang tepat waktu menjemput mereka, dan sekarang mereka telah berada di rumah Leeteuk di Boseong. Tak berapa lama kemudian seorang wanita yang berumur sekitar 50-an. Ia menatap kedua orang berdiri di depannya yang tersenyum menatap wanita tersebut.

“Leeteuk-ssi!!.. Yoo Bin-ssi!!” pekik girang wanita itu.

“Ajumma..” Leeteuk langsung memeluk wanita itu “Aigo, ajumma—mengapa kau semakin seksi” goda Leeteuk

“Aigo~ mengapa kau tak berubah sedikitpun” wanita itu tersipu-sipu malu.

“Ajumma, lama tak berjumpa” sapa Yoo Bin ramah

Beberapa saat kemudian…

“Leeteuk!!” seorang wanita meneriaki Leeteuk, wanita itu terlihat menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Wanita itu langsung memeluk Leeteuk.

“Eomma, bogoshiepo”

Wanita itu bergantian menatap Leeteuk dan Yoo Bin dengan senyuman yang terlihat sangat bahagia “Bagaimana denganmu Yoo Bin-a?”

“Aku baik-baik saja eomeoni”

“Ibumu?”

“Ah, eomma—dia sangat sehat”

“Dimana appa?” Leeteuk mengamati rumahnya.

“Appa-mu, dia pasti lagi di perkebunan”

Mereka kembali melanjutkan percakapan sampai Appa’nya Leeteuk kembali dari perkebunan dan ikut bergabung dengan mereka. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, Leeteuk dan Yoo Bin harus berpamitan pulang, kembali ke Seoul. Kedua orang tua Leeteuk mengantar mereka sampai ke mobil.

 

#####

 

Yoo Bin tersandar lelah di kursinya, ia baru saja mengamati rekam medis pasien-pasiennya. Ia termenung sesaat memikirkan beberapa hal sampai akhirnya tangannya merogoh sesuatu dari pakaiannya.

Yoo Bin menatap cincin yang begitu indah yang sedang dipegangnya. Setelah pulang dari Boseong, ia dan Leeteuk mampir di sebuah restaurant. Yoo Bin tak menyangka jika Leeteuk akan melamarnya.

Memang belum keluar sebuah jawaban dari mulut Yoo Bin, dan Leeteuk sangat menghargainya, memberi kesempatan pada Yoo Bin untuk memikirkan masak-masak sebelum mengambil keputusan. Leeteuk yang begitu baik bagi Yoo Bin, sedikitpun tak memaksakan kehendaknya pada Yoo Bin, menurutnya yang terbaik untuk Yoo Bin, itulah yang akan diterimanya.

“Oppa.. kau sangat baik, bahkan terlalu baik buatku. Aku sangat beruntung memiliki orang sepertimu” gumam Yoo Bin “Tapi, mengapa aku masih mmerlukan waktu untuk menerima kebahagiaan yang kau tawarkan padaku?”

Yoo Bin mendesah, ia terlarut dalam perasaannya.

“Apa karena… andwae!! Aku tak boleh memikirkan orang itu lagi” Yoo Bin menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Yoo Bin-a!!”

Melihat Ji Hee yang tiba-tiba saja sudah berada dihadapannya membuat Yoo Bin dengan cepat menyimpan cincin yang dipegangnya ke dalam saku bajunya.

“Ng, ne..” sahut Yoo Bin, ia menatap Ji Hee yang langsung duduk dihadapannya.

“Kau melamun terus. Ada apa denganmu?”

“Mwo? eobseo” elak Yoo Bin “Aku hanya kelelahan saja, jadwal operasi yang begitu padat setelah itu masih harus merampungkan pekerjaan yang lain..”

“Hmm..”

“Yaa~ mengapa dokumen ini ada padaku?” Yoo Bin meraih sebuah map di atas mejanya “Aigo, mengapa oppa begitu pelupa” Yoo Bin menggeleng karena tingkah Leeteuk yang meninggalkan dokumen miliknya di meja Yoo Bin.

“Berbicara tentang Leeteuk, aku baru saja dari ruangannya”

“Wae?”

“Wae? Kau cemburu padaku?”

“Ji Hee-ya, andwae..” tawa Yoo Bin

“Kau tahu apa yang aku lihat di sana?”

“Mwoya?”

“Pacarmu itu sedang berbicara dengan seseorang” Ji Hee lalu memajukan tubuhnya mendekati Yoo Bin “Orang itu, aigoo~” ekspresi Ji Hee begitu aneh.

“Mengapa dengan orang itu??” Yoo Bin tampak semakin penasaran.

“Yoo Bin-a, aku tak percaya melihat ada namja setampan itu”

“Ji Hee-ya, kau selalu seperti itu”

“Omo! Yoo Bin-a, kali ini—dia benar-benar tampan. Hanya satu kata yang mampu untuk menggambarkannya, perfect

Yoo Bin tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Ji Hee

“Yoon Ji Hee, kau ada-ada saja” ujar Yoo Bin, “Aku ke tempat Leeteuk dulu, mungkin dokumen ini penting”

“Go Yoo Bin, katakan saja jika kau memang penasaran, tak perlu beralasan untuk mengantarkan dokumen itu” Ji Hee menggoda Yoo Bin yang hanya menggeleng-geleng kepala.

Ji Hee terus membuntuti Yoo Bin, tak henti-hentinya ia menggoda Yoo Bin. Tak mau diam, Yoo Binpun balik melontarkan kata-kata yang cukup membuat Ji Hee tersipu malu.

“Yoo Bin-a!!” Ji Hee menyikut-nyikut Yoo Bin

“Mwo?”

“Itu, orang yang kuceritakan tadi”

Yoo Bin mengikuti pandangan mata Ji Hee, seorang pria yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. Langkah Yoo Bin terhenti seketika, begitu pula dengan pria itu tatkala melihat Yoo Bin.

“Waeyo?” Tanya Ji Hee yang bingung melihat tingkah Yoo Bin “Sudah kukatakan, dia sangat tampan—Yoo Bin, kau tak perlu seterpesona itu, kau bisa kehilangan harga diri” ujar Ji Hee masih tetap menggoda Yoo Bin.

Yoo Bin berdiri mematung, memandangi pria tinggi berkulit putih dengan potongan dan model rambut yang agak dibuat sedikit berantakan tapi terlihat keren.

Pria itu juga memandangi Yoo Bin dengan sorot matanya yang tajam bagaikan mata elang. Ji Hee hanya terbengong-bengong memandangi kedua orang itu, mungkin lebih tepat dibilang kedua patung itu.

“Si, Siwon-ssi..” mulut Yoo Bin berucap, gugup.

“Yoo Bin!!” suara tegas terdengar dari mulut pria itu. Ji Hee semakin heran memandangi kedua orang itu.

“Kau..”

“Apa kabar?” Pria itu mengulurkan tangannya.

“Baik” sambut Yoo Bin.

“Aku baru saja mengunjungi hyung” kata namja tampan itu “dan, sepertinya kau sudah banyak berubah..”

Yoo Bin hanya tersenyum simpul.

Tiba-tiba saja handphone pria itu berbunyi, ia segera mengangkat telepon..berbicara beberapa saat.

“Mianhae, aku harus pergi” kata Siwon kepada Yoo Bin, setelah mengakhir pembicaraannya di telepon.

“Araseo”

Yoo Bin dan Ji Hee menatap kepergian pria itu. Ji Hee baru saja mau melontarkan pertanyaan pada Yoo Bin, tapi Yoo Bin sudah terlebih dahulu mengayunkan kakinya dengan tergesa-gesa. Ji Hee hanya bisa mengikuti Yoo Bin yang berjalan menuju ruangan tempat Leeteuk bekerja.

“Oppa!” ujar Yoo Bin “Tadi, Siwon…”

“Kau sudah bertemu dengannya?” pertanyaan Leeteuk hanya dijawab dengan anggukan kepala Yoo Bin “Dia mengagetkan semua orang dengan kepulangannya yang tiba-tiba, kupikir dia tak akan lagi menginjakkan kaki di Korea”

Yoo Bin hanya terdiam, bisu.

“Oppa, ini dokumen milikmu. Kau melupakannya di ruanganku” kata Yoo Bin sambil memberikan dokumen yang sedari tadi di pegangnya “Aku pergi dulu..” katanya lagi

“Aku juga” pamit Ji Hee mengikuti Yoo Bin. Leeteuk hanya tersenyum lalu kembali terdiam, entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.

 

#####

 

“Yoo Bin..”

“Ada apa?” tanya Yoo Bin saat melihat Ibunya memasuki kamar. Wanita itu memperhatikan Yoo Bin yang tampak sibuk dengan laptop yang ada dihadapannya.

“Ada telepon untukmu”

“Telepon? Dari siapa?”

“Hyesun..”

“Hyesun?” Yoo Bin tampak girang mendengar nama itu disebutkan Ibunya. Dengan segera ia menghampiri pesawat telepon.

“Hyesun-a..”

Bagaimana kabarmu, Yoo Bin?” terdengar suara dari seberang.

“Semua tampak baik” kata Yoo Bin “Kupikir, seorang top model sepertimu sudah melupakan keberadaanku”

Tawa Hyesun terdengar sangat melengking

Anio. Mana mungin aku melupakan sahabat terbaikku” Hyesun tertawa dengan riang “Yoo Bin-a, mengapa handphone susah sekali dihubungi?

“Mianhae.. kerjaanku banyak, aku lupa mengaktifkan handphoneku”

Begitu. Yoo Bin-a, coba kau tebak—siapa yang kutemui kemarin?

“Nugu?”

Siwon..

“Siwon??” Yoo Bin tampak bingung “Kau bertemu dengannya? Dimana?” Tanya Yoo Bin yang masih tampak tidak mengerti, Hyesun hanya tertawa garing “Hyesun-a, apa sekarang sedang berada di Seoul?”

Surprise!!!” teriak Hyesun girang “Mianhae, aku belum sempat menemuimu—aku ke sini juga diam-diam, tak pamit pada agencyku. Mereka sangat bernafsu membunuhku karena meninggalkan Paris tanpa pemberitahuan

“Kau berhasil mengejutkanku”

By the way, Siwon kelihatannya banyak berubah.. aku hampir tak mengenalinya, dia semakin cute. Benar-benar sulit dipercaya kalau dia balik ke Seoul” Yoo Bin hanya tersenyum tipis mendengar celoteh Hyesun “Kau sudah bertemu dengannya?

“Iya, dia ke rumah sakit menemui Leeteuk oppa sebelum ke Boseong”

Bilang apa dia ke kamu?

“Tak banyak, sekedar say hallo saja”

Dari penampilan, Siwon benar-benar sangat berubah. Sifatnya—kurasa itu yang tak banyak berubah. Dia masih pendiam, dingin dan tampak misterius, hanya saja dia terlihat lebih sabar—tidak seperti dulu, egois dan galaknya yang selangit…stress!!

Yoo Bin tertawa pelan

 

#####

 

Yoo Bin termenung memandangi seisi kamarnya yang tertata dengan baik dan rapi, ia kelihatan tak begitu tenang. Pikirannya terusik dengan kehadiran Siwon, ya saat ini yang ada di kepalanya tentang namja itu.

Siwon yang sekian lama tidak ditemuinya. Pria itu telah lama menetap di Jerman, kuliah bahkan telah bekerja di sana, dan entah alasan apa dia kembali. Rasa yang aneh kembali berdesir dalam dadanya tapi rasa bersalah muncul ketika teringat akan Leeteuk.

Tak bisa dipungkiri, semua serasa membangkitkan kembali kenangan yang tersimpan rapi dalam ingatan Yoo Bin. All memory yang terjadi sepuluh tahun lalu saat ia masih tinggal di Boseong…

~~~~~

Boseong adalah kabupaten di pesisir selatan propinsi Jeolla Selatan, Korea Selatan. Kabupaten ini dibatasi oleh kabupaten Goheung di sebelah timur, Jangheung dan Gangjin di barat daya. Sebagian besar wilayah Boseong bergunung-gunung, tak dapat ditanami dan kurang dapat diakses dengan transportasi. Merupakan daerah penghasil teh terbesar di Korea Selatan.

Sementara itu di sebuah SMA…

“Yoo Bin!!!” seorang gadis berlari kearah Yoo Bin yang telah siap mengayuh pedal sepedanya.

“Hyesun, ada apa?”

“Kau mau pulang?”

“Iya. Eomma membutuhkan bantuanku”

Seorang gadis yang sedang mengayuh sepedanya, melewati Hyesun dan Yoo Bin. Gadis itu membuang tatapan sinisnya.

“Sombong sekali” dengus Hyesun

“Eun Ji?”

“Ne, Eun Ji. Bukankah dia saudaramu? Mengapa sifatnya sangat bertolak belakang denganmu?”

“Molla”

“Apa mungkin karena keluarganya kaya. Aish, tetap saja itu menyebalkan melihat sikapnya”

Go Yoo Bin dan Kang Eun Ji adalah saudara sepupu. Ibu Yoo Bin dan ayah Eun Ji kakak beradik. Keluarga Eun Ji memang kaya, selain rumah mewah juga beberapa usaha yang cukup baik.

Berbeda dengan keluarga Yoo Bin yang sederhana. Ayah Yoo Bin telah meninggal dunia ketika Yoo Bin berusia tiga tahun, selama ini Ibunya membiayai hidup mereka dengan bekerja dipabrik teh milik keluarga Choi. Yoo Bin memang sangat jarang bertandang ke rumah Eun Ji mengingat sifat Eun Ji yang teramat sombong dan enggan mengakui Yoo Bin sebagai sepupunya.

Setelah berganti pakaian dan makan siang, Yoo Bin kembali mengayuh sepedanya menuju perkebunan. Saat-saat yang sangat menyenangkan bagi Yoo Bin, bersepeda sambil menikmati hamparan hijau perkebunan teh, ia menghentikan sepedanya dan berusaha mencari sosok Ibunya diantara pekerja lainnya.

Sepasang tangan menutup kedua mata Yoo Bin.

“Nugu?” Yoo Bin memegangi tangan orang itu “Yaa~ lepaskan tanganmu, sebelum aku marah” Yoo Bin berujar dengan penuh rasa penasaran.

Tak satupun kata keluar dari mulut orang itu. Tak menunggu lama untuk membuat Yoo Bin memukuli tangan orang itu dengan sekuat tenaga.

“Aaauw,, araseo—aku lepaskan” ringis orang itu.

“Oppa..!!!” seru Yoo Bin, ia terkejut melihat Leeteuk yang tersenyum memandangnya “Oppa, mengapa kau ada di sini? Kapan kau datang?”

“Baru saja” kata Leeteuk “Yoo Bin-a, mengapa kau semakin galak? Kau membuat tanganku memar”

“Oppa, jangan salahkan aku..” ujar Yoo Bin

“Yaa~ karena sikapmu itu, tak ada namja yang tertarik padamu selain aku” Leeteuk menggeleng prihatin “Tapi jika sikapmu terus seperti ini—aku harus mempertimbangkan lagi keputusanku untuk menjadikanmu istriku” kata Leeteuk lalu tertawa ngakak.

“Mwo?!! Oppa, kau begitu percaya diri. Kau pikir aku mau dinikahi olehmu? Sihreo!” gerutu Yoo Bin, tawa Leeteuk makin menjadi-jadi “Lagipula, apa yang kau lakukan di sini?”

“Aigo~ lihat dirimu” dengus Leeteuk “Memangnya aku tak boleh? Aku merindukan eomma dan appa, perkebunan, pabrik—tentu saja sangat merindukan Yoo Bin yang menyebalkan ini” kata Leeteuk sambil mencubit kedua belah pipi Yoo Bin

“Aaaa.. appo”

Leeteuk anak dari pemilik perkebunan dan pabrik teh. Pertemanan mereka sudah cukup lama dan sangat akrab. Usia Leeteuk dan Yoo Bin hanya terpaut satu tahun. Sebelumnya Leeteuk bersekolah di sekolah yang sama dengan Yoo Bin tapi sejak lulus Leeteuk melanjutkan pendidikannya Seoul, mereka jadi jarang bertemu.

~~~~~

Seperti biasanya Yoo Bin selalu membuka buku pelajarannya sekedar membaca ulang pelajaran yang sudah diterima atau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru.

“Eomma, tadi oppa datang..” kata Yoo Bin, ia sejenak menatap Ibunya yang tengah asyik menyulam taplak meja.

“Iya..”

“Oppa menceritakan banyak hal kehidupan perkuliahannya. Eomma, aku sangat iri pada oppa—jika lulus nanti, aku ingin kuliah seperti oppa”

“Ibu senang kau punya niat yang baik..” Ny. Go tersenyum melihat semangat putrinya “Yoo Bin-a,, kau jangan terlalu dekat dengan Leeteuk”

“Wae?” Yoo Bin menatap heran pada ibunya

“Bukan apa-apa, Ibu hanya tak enak mendengar namamu disebut-sebut oleh pekerja lainnya karena kedekatanmu dengan Leeteuk”

“Eomma, tidak perlu memikirkan ucapan mereka. Aku dan oppa sudah sangat lama bersahabat, tak mungkin aku menjauhi oppa” Yoo Bin menarik nafas, menatap Ibunya dalam-dalam “Mungkin saja, mereka hanya iri—tapi, alasan itu untuk menjauhi oppa, sangat keterlaluan”

Mungkin wajar saja kalau rasa iri itu muncul. Kalau saja Yoo Bin berada di posisi orang-orang itu, ia sendiri pasti akan merasa iri juga. Bagaimana tidak, seorang gadis sederhana sepertinya bisa berakrab ria dengan seorang pemuda kaya di lingkungannya.

Keluarga Leeteuk memang sangat kaya raya. Perkebunan teh di Boseong merupakan perkebunan teh terbesar di Korea Selatan yang memproduksi 90% teh hijau Korea. Perkebunan yang luasnya ratusan hektar dan memproduksi 70 ton daun pertahun, perkebunan itu milik keluarga Leeteuk.

Selain perkebunan teh yang berhektar-hektar dan juga pabrik, keluarga itu memiliki beberapa buah resort mewah yang tersebar dibeberapa tempat di Korea Selatan. Dibandingkan tinggal di kota besar seperti Seoul, keluarga itu lebih memilih untuk menetap di Boseong yang sangat jauh dari kesan metropolitan.

 

#####

 

Pelajaran baru akan dimulai di kelas XII-1 saat seonsaengnim masuk ke dalam kelas. Kali ini suasana tampak lain dari pada biasanya, sedikit berbeda karena seorang anak laki-laki berkulit putih dan tubuh yang tinggi terlihat mengikuti seonsaengnim dari belakang. Mata anak-anak sekelas langsung saja mengikuti kedua orang itu. Akhirnya seonsaengnim memperkenalkan anak laki-laki itu sebagai siswa pindahan dari Seoul. Choi Siwon, seperti itulah namanya.

Yoo Bin merasakan sesuatu yang sedikit berbeda melihat sosok yang berdiri di depan kelas. Ia berbalik memperhatikan teman-temannya, khususnya para yeoja yang terlihat dengan ekspresi yang beragam.. tercengang, kagum bahkan tersipu-sipu malu. Seonsaengnim menyuruh Siwon untuk duduk di sampingnya. Siwon melangkah ke tempat yang ditunjuk oleh seonsaengnim, ia menatap Yoo Bin dengan sorot mata yang begitu dingin.

“Annyeong haseyo—naneun Yoo Bin imnida” sapa Yoo Bin ramah.

Sebagai ketua kelas ia harus menunjukkan sikap yang baik. Siwon tak memberikan ekspresi apapun, ia hanya menatap Yoo Bin dengan tajam dan tatapannya sedingin es. Jelas saja ada rasa kesal yang menyeruak dalam dada Yoo Bin, sikap ramahnya tak berarti apa-apa.

Pelajaran kembali dilanjutkan, seonsaengnim semakin giat memberikan tugas kepada para siswa membuat gerutu tak tertahankan dari masing-masing siswa. Pena yang di pegang Yoo Bin terjatuh.

Ketika hendak mengambil pena, ia tak sengaja menyenggol Siwon. Namja itu terlihat menarik nafas dan entah apa yang ada di dalam kepalanya—hanya saja Yoo Bin tiba-tiba merasa khawatir dengan ekspresi itu.

“Yeoja~ bisa tenang tidak?!!” Siwon menatap Yoo Bin dingin, ucapannya bagaikan sebuah mata pisau yang tepat mengenai jantung Yoo Bin

“Mianhae..” ujar Yoo Bin pelan. Ia jadi takut dengan namja yang duduk di sebelahnya “Uhh, sial.. sikap menyebalkan. Alien dari mana dia, mengapa harus di kelas ini?” gumam Yoo Bin dalam hati.

~~~~~

Sepulang sekolah, Hyesun menumpang di sepeda Yoo Bin, ia duduk manis di goncengan belakang Yoo Bin. Mereka terus ngobrol disepanjang jalan.

“Bukankah anak baru itu sangat keren”

“Siwon?”

“Iya, siapa lagi selain dia?” ujar Hyesun “Tinggi, putih, tampan.. tatapan mata yang tajam dan menghanyutkan” Hyesun terus saja mengkhayalkan wajah si anak baru “Hanya satu yang kurang, ekspresi wajahnya sedikit menyeramkan—tapi, tetap saja dia sangat tampan. Aku tak bisa membayangkan kalau Siwon memamerkan senyumannya”

“Aku akui dia memang tampan tapi aku tak menyukainya” Hyesun mendelik mendengar ungkapan Yoo Bin “Sikapnya sangat arogan. Dia tak sopan, sombong, tak tahu tata krama—beringas seperti singa”

“Yoo Bin-a”

“Hyesun-a, kau hanya tak tahu seperti apa penderitaanku yang duduk bersebelahan dengan si sombong itu” gerutu Yoo Bin “Aigo~ mengapa di dunia ini masih ada spesies seperti itu” celoteh Yoo Bin panjang lebar, ia tampaknya benar-benar kesal.

“Geurom, apakah dia sebegitu galaknya?”

“Luar biasa galak.. sinis,”

“Ah, Yoo Bin-a, apa kau tahu jika Eun Ji sudah naksir berat sama Siwon?”

“Benarkah?” Tanya Yoo Bin

“Aku mendengar Eun Ji mengatakan seperti itu, dia bahkan telah mengclaim jika Siwon adalah miliknya. Gadis itu, dia sangat yakin jika Siwon adalah soulmate-nya” kata Hyesun berapi-api membuat tawa Yoo Bin tak tertahan lagi.

“Biarkan dia, I feel something

“Iya, kupikir juga begitu. Hanya perlu menanti untuk pertunjukan yang menarik. Benarkan?” Yoo Bin dan Hyesun terus tertawa memikirkan sesuatu di kepala mereka.

 

#####

 

Kehadiran Siwon membuat fenomena baru di sekolah. Seperti seorang selebrity yang banyak menyita perhatian. Hampir semua orang ingin tahu dan melihat Siwon terutama kaum hawa. Tentu saja, di daerah seperti Boseong—tiba-tiba saja terlihat makhluk sempurna seperti Siwon, ditambah lagi dia pindahan dari Seoul, semua pasti sangat tertarik padanya.

Meskipun sedang naik daun bahkan dalam hitungan jam ketenarannya mengalahkan ketenaran ketua osis yang dijuluki pangeran sekolah, Siwon tetap tidak perduli. Ia seperti biasanya, tak bereaksi apa-apa bahkan sikap dinginnya semakin menjadi-jadi, ia seperti pangeran yang datang dari negeri bersalju dan hatinya telah dibekukan oleh es abadi. Bisa dibayangkan, Yoo Binlah orang yang sering kena omelan bahkan bentakan Siwon.

Dering panjang bel tanda istirahat membuat siswa-siswi kegirangan dan dalam hitungan detik langsung berhamburan keluar kelas, kantin adalah tempat yang seketika itu juga dipenuhi oleh para siswa. Yoo Bin dan beberapa orang temannya termasuk dalam gerombolan itu. Karena keasyikan bercanda, tanpa sengaja Yoo Bin menyenggol tangan Siwon sehingga mangkuk yang berisi ramyeon tertumpah dan mengotori seragam Siwon. Yoo Bin jadi panik melihat hasil perbuatannya apalagi melihat ekspresi Siwon.

“Yeoja~ apa kau tak punya mata?”

“Aku Yoo Bin. Go Yoo Bin” Yoo Bin mulai kesal, setiap kali Siwon memanggilnya seperti itu.

“Geurae..aku bukan kuman jadi tak mungkin kau tak melihatku” geram Siwon

“Mianhae Siwon-ssi” ujar Yoo “Aku tak sengaja melakukan itu”

“Sebaiknya kau menghilang dari pandanganku” Siwon menerjang Yoo Bin dengan tatapan matanya yang begitu dingin “Berada di sekitarku, kau mendatangkan banyak kesialan bagiku. Arachi?”

Yoo Bin tertegun. Perkataan Siwon melukai harga dirinya.

“Yaa~ apa maksudmu?” Tanya Yoo Bin “Aku pembawa sial buat kamu, benarkah itu??”

“Bingo!” ujar Siwon “Selain tampangmu yang pas-pasan, syukurlah kapasitas otakmu tak terbatas. Setidaknya aku tak perlu repot-repot menjelaskan padamu” Siwon berkata dengan sedemikian sinisnya, ia meninggalkan Yoo Bin yang mematung—terkejut dengan kekasaran Siwon.

 

#####

 

Di perkebunan, seperti biasanya Yoo Bin datang untuk melihat-lihat Ibunya sekaligus untuk bertemu dengan Leeteuk. Mereka ngobrol sambil duduk di tempat favorit mereka, di bawah sebuah pohon yang rindang tepat ditengah-tengah perkebunan sambil menikmati hijaunya hamparan tanaman teh.

“Nappeun..” geram Yoo Bin membuat Leeteuk terkejut

“Mworago?”

“Ani, oppa bukan kau” ujar Yoo Bin “Di kelas ada murid pindahan. Dia lumayan menarik sampai digila-gilai seluruh yeoja di sekolah tapi aku sangat kesal dengan sikap angkuhnya, galak seperti hewan buas. Sial!” Yoo Bin menetralisir kesalahpahaman Leeteuk. Giginya bergemelatuk menahan amarah.

“Lalu, apa kau juga salah satu dari yeoja-yeoja yang menggilai anak baru itu?”

“Iya..” jawaban Yoo Bin membuat Leeteuk terkejut “Bedanya kalau mereka meneriakinya I love you.. oppa, saranghae.. jadi pacarku dan seterusnya, sementara aku meneriakinya gilaaa.. namja gilaaa” Yoo Bin menatap Leeteuk dengan kesal “Namanya juga menggilai..”

“Yoo Bin-a, apakah dia lebih tampan dariku” tanya Leeteuk, Yoo Bin menatapnya heran.

“Oppa~ pertanyaan apa itu? Tak ada hubungannya”

“Tentu saja ada. Kalau dia lebih tampan dariku, kau bisa jatuh cinta padanya, lalu bagaimana denganku?”

“Aish,, oppa kau sama saja dengannya.. namja gilaaa..” Yoo Bin meninju bahu Leeteuk “Aigo mengapa aku harus sekelas dengan singa itu”

Leeteuk hanya tersenyum. Ia mengacak-acak rambut Yoo Bin.

“Mwo?” Yoo Bin memandang dengan heran ke satu arah “Apa aku tak salah lihat? Jjinja—namja itu seperti virus, tidak di sekolah, tidak di perkebunan—selalu saja bertemu”

Yoo Bin menggerutu memandangi Siwon yang berjalan menghampiri mereka.

“Yaa! Mengapa kau ada di sini?” tanya Yoo Bin

“Wae?” Siwon menatap Yoo Bin dingin “Lagipula, mengapa juga kau di sini?” tambahnya lagi dengan ketus.

“Kau tak ingin bergabung dengan kami, Siwon-a” tawar Leeteuk saat Siwon hendak berlalu.

Siwon memandangi kedua orang yang berdiri di hadapannya dengan sinis, tatapannya benar-benar ingin membuat kedua orang itu kaku.

“Sihreo” jawab Siwon dingin “Tak usah bersikap baik padaku!!” katanya lagi lalu pergi.

Yoo Bin yang terlihat sangat geram, lalu tiba-tiba saja ia terdiam seperti baru mengingat sesuatu

“Oppa, sepertinya kalian sudah saling kenal??” Yoo Bin menatap Leeteuk dengan tatapan yang penuh dengan keingintahuan.

“Begitulah” jawab Leeteuk “Kami sudah lama kenal—sejak kecil” tambah Leeteuk lagi.

“Sejak kecil??”

He’s my brother…” perkataan Leeteuk membuat Yoo Bin cukup terkejut.

“Siwon.. adikmu?” Yoo Bin memandangi Leeteuk yang hanya mengangguk pelan “Oppa, kau tak berbohong? Ani—maksudku, jika memang dia adikmu lalu mengapa sikapnya seperti itu terhadapmu?”

“Bagaimana menurutmu?” Leeteuk balik meminta pendapat Yoo Bin, Yoo Bin hanya menggeleng pelan “Aku—aku tak punya hubungan darah dengannya”

“Oppa…???” Yoo Bin benar-benar tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Leeteuk kembali mengangguk.

“Meskipun eomma dan appa sangat baik padaku, nyatanya aku hanyalah anak adopsi keluarga Choi” kata Leeteuk sambil tersenyum tipis “Anak itu, berpikir eomma dan appa lebih memperdulikanku—aish, pikirannya sangat sempit, sungguh eogis. Siwon, karena itu membenciku dan lebih memilih tinggal di Seoul” Leeteuk menarik nafas panjang.

“Tapi oppa…” Yoo Bin masih belum bisa menstabilkan dirinya karena kebenaran yang baru di ketahui olehnya. Leeteuk menatapnya lalu tertawa

“Mianhae, tidak bermaksud untuk merahasiakan darimu.. kau pasti kaget” kata Leeteuk kembali mengacak-acak rambut Yoo Bin

“Oppa” Yoo Bin terdiam “Tapi, tentang Siwon aku baru mengetahuinya? Mengapa baru kali ini dia ke Boseong setelah belasan tahun ajeossi dan ajumma tinggal di Boseong? Aku bahkan berpikir kau anak mereka satu-satunya”

“Siwon itu anak metropolitan yang mau bebas dan dia mana suka tinggal di tempat sepi seperti ini. Lagipula sifat pendendamnya yang sudah ada sejak kecil membuatnya tidak ingin tinggal bersama eomma dan appa, karena tidak ingin seatap denganku..”

“Segitu bencinya dia padamu?” Yoo Bin menggeleng-geleng heran, Leeteuk kembali tersenyum. “Tapi kenapa dia berubah pikiran?”

“Molla” jawab Leeteuk “Mungkin saja dia sudah bosan tinggal di rumah mewah sebesar itu dan hanya ditemani para pelayan.. atau mungkin dia ingin menindasku, balas dendam” kata Leeteuk mengira-ngira, sedikit bercanda.

“Mungkin saja” kata Yoo Bin menimpali ucapan Leeteuk sambil tertawa. Perasaan Yoo Bin benar-benar sedang kalut, ia tak menyangka ada bagian dari Leeteuk yang belum di ketahui olehnya padahal mereka telah menjadi sahabat baik sekian lamanya.

 

#####

 

“Selamat pagi..” sapa Hyesun. Ia langsung meletakkan tas di mejanya dan langsung menghampiri tempat duduk Yoo Bin.

“Kau terlihat ceria. Apakah ada sesuatu?”

Hyesun tertawa mendengar pertanyaan Yoo Bin.

“Nan haengbokhae… appa dan eomma mengijinkanku ikut casting model..”

“Jjinja??”

“Ne” tawa Hyesun

“Hyesun-a, aku sangat senang mendengarnya” kata Yoo Bin yang memang sudah tahu betapa menjadi seorang model adalah impian sahabat baiknya itu.

“Bagaimana denganmu?” Tanya Hyesun

“Aku. Kupikir, aku ingin kuliah dan menjadi seorang dokter” kata Yoo Bin

Hyesun tersenyum, menepuk-nepuk pundak Yoo Bin, entah berapa menit setelah itu akhirnya Hyesun sadar bahwa seseorang telah berdiri di samping mereka.

“Ah, Siwon-a..” sapa Hyesun pada Siwon yang diam memandangi mereka

“Sampai kapan aku harus terus berdiri dan mendengarkan perbincangan tak penting kalian? Mau sampai pulang??” Siwon benar-benar ketus.

“Aigo~ mengapa kau begitu marah?” kata Hyesun.

Siwon memelototi Hyesun, membuat bulu kuduk Hyesun berdiri.. seperti suasana horror, benar-benar menyeramkan tatapan itu.

“Itu bukan urusanmu Hyebum.!!” Bentak Siwon, ekspresi Hyesun tampak lain

“Hyesun.. namaku Hyesun, Im Hyesun, bukan Hyebum!!!” Hyesun tampaknya tak terima namanya diperkosa.

“Molla..” ujar Siwon tak perduli

“Choi Siwon! Kau sepertinya bermasalah dengan sarafmu” Yoo Bin tampaknya sudah mulai tak sabaran.

“Dengar, dan simpan baik-baik dalam memori kalian—terutama kau, Hyebum”

Siwon menatap Hyesun dan Yoo Bin dengan tatapannya yang dingin. Tak membiarkan Hyesun untuk bersuara setelah namanya kembali diperkosa.

“Aku, Choi Siwon, tidak suka ada orang lain yang menduduki tempatku apalagi seorang yeoja”

“Yaa~ ini bukan Seoul, kau tak bisa bertingkah seenaknya di sini. Arachi?” geram Hyesun

“Atau kau lupa dimana tempat dudukmu?” tanya Siwon “Kau bodoh sekali. Berapa IQmu? Araseo.. aku tak keberatan untuk mengingatkanmu dimana tempat dudukmu berada” Siwon mengarahkan telunjuknya pada meja urutan empat dari deretan kedua, tempat Hyesun duduk

“Aku…” Hyesun menggeram

“Tak perlu berterimakasih” potong Siwon

“Yaa! Choi Siwon, kau bermimpi! Siapa yang akan berterimakasih? Nappeun namja” Hyesun tampak kesal, ia segera menyingkir dari tempat itu dan langsung menuju tempat duduknya, memandangi Siwon dengan geram dari tempat duduknya.

“Siwon-a, mengapa kau sekasar itu terhadap Hyesun?” Yoo Bin memandangi Siwon. Namja itu hanya sibuk membaca tanpa menoleh atau menghiraukan ucapannya “Jika kau seperti itu, kau akan dijauhi semua orang..”

“Yaa~ tutup mulutmu!!” tatapan Siwon pada Yoo Bin penuh emosi

“Nappeun. Aku hanya memberikan nasehat padamu”

Siwon meletakkan buku yang dipegangnya, ia terlihat mulai kesal

“Jjinja? Gosh apa semua makhluk yang bernama yeoja itu selalu menyebalkan?” kata Siwon “Kuberitahu satu hal, aku paling tidak suka digurui”

“Siwon-a, aku hanya…”

“Waeyo? Kau merasa semua yang lakukan adalah benar?” Siwon menatap Yoo Bin dengan galak “Yaa~ kau bukan malaikat”

“Aku hanya ingin membantumu, tidak bermaksud lebih”

“Jeongmal?” Siwon menatap tajam “Mari kita lihat, apakah aku butuh bantuan darimu?”

“Kau itu..” Yoo Bin kehilangan kesabaran “YAA! Choi Siwon, karena sikapmu semua orang akan menjauhimu..”

“Lalu?”

Sialan” bisik Yoo Bin dalam hati, dia tidak menyangka ada orang sejenis itu di dunia.

“Aku tak memerlukan apapun darimu. Sebaiknya bantu dirimu sendiri agar tak mencampuri urusan orang lain. Araseo?”

“Wah, wah, wah.. mengapa pemandangan di sini begitu panas?”

Entah darimana datangnya, Eun Ji sudah berdiri di situ, tentu saja ditemani oleh koloninya, Mi Rae yang tak kalah angkuhnya dengan Eun Ji

“Aku ada perlu dengan Siwon” Eun Ji menyuruh Yoo Bin meninggalkan tempat itu.

“Eun Ji-ya, aku sedang mengerjakan tugas”

“Yaa~ kau bisa mengerjakannya di tempat lain. Ppalli!” Eun Ji menarik tangan Yoo Bin. Yoo Bin segera menuju ke meja Hyesun sambil mendengus kesal.

“Omo~ Eun Ji membuatku muak. Dia tak bisa membiarkan makhluk sebening Siwon. Dasar!” gerutu Hyesun.

“Biarkan saja. Sepertinya akan ada pertunjukan menarik”

“Mwoya?”

“Tunggu saja..” Yoo Bin tersenyum pada Hyesun, lalu keduanya memperhatikan gerak-gerik Eun Ji.

“Siwon-a, apa yang kau lakukan?” tanya Eun Ji, suaranya terdengar manja membuat Hyesun dan Yoo Bin serasa ingin muntah. “Omona.. kau sudah menyelesaikan tugas serumit itu?” Eun Ji terkesan kagum saat melihat buku Siwon dengan paksa. Siwon tampak tak bereaksi, seperti biasanya.

“Eotteohke, aku lupa dengan tugas itu..” gumam Mi Rae

“Sesuai dugaanku. Selain tampan dan kaya, aku tahu otakmu sangat brilliant”

“Kau sudah merusak konsentrasiku!!”

“Siwon-a, kau jangan marah. Aku hanya ingin akrab denganmu. Ah, aku ingin tahu apa yang kau sukai..”

Eun Ji menatap lekat wajah Siwon—sejenak terkesima dengan ketampanan itu.

“Aku sangat suka Tom Cruise tapi sepertinya sekarang aku tahu siapa yang paling kusukai, lalu aku suka warna pink dan coklat. Siwon-a, apa kau tahu jika aku menyukai semua hal berbau Micky Mouse? Dia begitu lucu dan …”

Eun Ji terdiam, ia tak dapat melanjutkan kata-katanya saat mata Siwon yang begitu dingin menatapnya garang serasa membekukan jantungnya. Dasar nekat, Eun Ji terus saja berceloteh. Lama-kelamaan ia mulai kesal karena Siwon sedikitpun tak menanggapi omongannya. Eun Ji lalu menatap Mi Rae, keduanya tersenyum penuh arti seperti sedang merencanakan sesuatu. Entah apa yang ada di kepala mereka.

“Aaauuw..!!” tiba-tiba saja Eun Ji mengerang kesakitan.

“Eun Ji, gwenchana?” Tanya Mi Rae, ia terlihat cemas, tapi terlihat jika itu dibuat-buat.

“Mi Rae, perutku sakit..”

“Kau kenapa lagi?”

“Molla, sepertinya kumat lagi..”

“Omo! Eun Ji-ya, kau pasti tak meminum obat itu dengan teratur?” Mi Rae mendelik “Yaa! Dengan fisik selemah itu, mengapa kau masih bertingkah begitu?

Yoo Bin dan Hyesun saling bertatapan lalu tertawa cekikikan mendengar ucapan Mi Rae. Fisik lemah???

“Yoo Bin-a, saudarimu itu penyakitan, benarkah? Lalu dia sakit apa?” tanya Hyesun, ia tersenyum geli mengingat betapa ia dan Yoo Bin sudah mengerti tak-tik Eun Ji dan Mi Rae.

“Anio. Sepertinya penyakitnya sangat parah. Penyakit yang tak bisa melihat namja yang tampan. Kau lihatkan, kumat lagi..” jawab Yoo Bin. Kontan saja keduanya tertawa.

“Kita ke klinik, kaja!!” ajak Mi Rae

“I,iya.. aaa.. aku tak bisa jalan..” Eun Ji terlihat begitu menderita, sesekali tatapannya tertuju pada Siwon yang tetap cuek. Dengan segera Mi Rae berusaha menolong Eun Ji.

“Siwon-a, apa kau tak melihat?” akhirnya Mi Rae meminta bantuan Siwon dan sesungguhnya itulah alasannya.

“Aauw.. sakiit..” rintih Eun Ji semakin menjadi-jadi, Siwon benar-benar tak bereaksi.

“Kau bantulah aku mengangkat Eun Ji, dia bisa semakin parah jika dibiarkan”

Lagi-lagi Siwon tetap cuek, ia hanya memfokuskan perhatiannya pada buku. Eun Ji dan Mi Rae mulai terlihat kesal dan geram..

“Siwon!!!” bentak Eun Ji “Mengapa kau tak berperasaan sedikitpun? Setega itu melihatku kesakitan. Nappeun!”

BRAAKKK!!!

Semua yang berada di dalam kelas terkejut, terlebih Eun Ji dan Mi Rae saat Siwon meninju meja dengan sangat kuat.

“Kau sakit, itu bukan urusanku. Mau mati sekalipun, aku tak perduli” tatapan Siwon sangat mengerikan “Dan satu lagi, kalau kau memang sudah sekarat dan mau mati, sebaiknya ke rumah sakit saja, ARASEO??” teriak Siwon. 

Ia segera keluar kelas meninggalkan seisi kelas yang langsung sunyi. Eun Ji dan Mi Rae masih terpaku, wajah keduanya tampak pucat pasi maklumlah mereka baru saja menerima terapi syok.

Tidak berapa lama kelas kembali ribut dengan derai tawa para siswa yang menyaksikan adegan itu.

“Tak semua namja bisa kamu dapatkan dengan mudah. Aigo, Eun Ji-ya, kau pikir itu permen yang dengan mudahnya kau dapat?” sindir Hyesun.

“Kau memang cantik Eun Ji-ya, tapi tampang sepertimu begitu menjamur di Seoul..” timpal seorang murid lainnya.

“YAAA!!” hardik Eun Ji “Kalian lihat saja, suatu hari Siwon akan bertekuk lutut di hadapanku..” sambung Eun Ji.

“Jeongmal? Kapan? Ah, baiklah—kami akan menunggu dan melihat” Hyesun terus saja meledeki Eun Ji dan Mi Rae, tak tahan dengan sindiran dan tawa seisi kelas kedua orang itupun langsung keluar.

 

~To Be Continue~

Iklan

76 thoughts on “Only For Him (Part 1)

  1. Tata berkata:

    Huahahah wonpil cieee gantiin kyupil.

    Ngakak pas siwon nunjukin bangkunya hyebum eh hyesun.
    Waktu hyesun bilang “aku. .”
    Kata siwon “tak perlu berterima kasih”.
    Ajegile pemikirannya rasis banget et dah.

    Kayaknya penulis ini oplosan (bukan blasteran) antara jenius dan kocak weh.
    Hahaha

  2. Nenilopelopebts berkata:

    Waduh siwon dingin banget, bahkan saking dingin ny bisa ngalahin kutub utara.. Kalo kata aku yg paling lucu itu waktu eun ji ngajak ngobrol siwon, eh siwon nya cuek cuek bebek hahaha..

  3. Widya Choi berkata:

    Si siwon jutek bgt sih.. ngmg ny dikit tp nyelekit d hati..aduhhhh..
    Q pngen ngakak pas siwon mnggil nm hyesun dg hyebum.. y elah bang main gnti nm org aj hahaha..
    Si eunji lg caper tuh..

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s