Only For Him (Part 3)

Image

Cast   :

–  Choi Siwon

–  Go Yoo Bin (Fiction)

–  Leeteuk

–  Other cast

~~> FF ini murni imaginasiku, say no to plagiat!!!

~~~~~

 

Leeteuk masuk ke dalam kamar Siwon tanpa mengetuk pintu, ini bukan hal biasa yang dilakukan Leeteuk. Ia langsung mendorong tubuh Siwon hingga tersandar di dinding.

“Ige mwoya??” Tanya Siwon ketika tangan Leeteuk mencengkeram bajunya erat-erat.

“Sudah kubilang, jangan menyentuh Yoo Bin—membuatnya menangis” ujar Leeteuk emosi

“Ada apa denganmu?” Tanya Siwon sinis “Kenapa kau begitu perduli?” lanjutnya lagi dengan senyuman sinis yang tersungging di sudut bibirnya.

“Aku perduli!!” kata Leeteuk “Kau tidak tahu siapa Yoo Bin, dan kau tidak berhak berkata apapun tentang dia!”“Araseo!!” kata Siwon santai “Sekarang juga, keluar dari kamarku!!” perintahnya dengan galak. Leeteuk segera keluar dari kamar Siwon, pandangan geramnya tak lepas dari Siwon.

 

#####

 

Hampir seminggu berlalu setelah fitnah yang dituduhkan Eun Ji kepada Yoo Bin mendatangkan banyak efek. Yoo Bin tampak sedikit berbeda dari biasanya, ia terlihat lebih sering berdiam diri apalagi tudingan palsu yang dituduhkan padanya sudah menyebarkan hampir keseluruh pelosok sekolah. Pandangan aneh dari para siswa membuat Yoo Bin ingin sekali menghilang, meskipun ujian telah berlalu tapi mereka harus tetap ke sekolah untuk mengurusi berbagai macam hal, itu membuat Yoo Bin mau tak mau harus mempertebal wajahnya di sekolah.

Duduk bersebelahan dengan Siwon tapi tak sepatah katapun keluar dari mulut kedua orang itu, malah kini Siwon tak pernah lagi menduduki tempat itu. Siwon selalu menghindari Yoo Bin, entah kenapa tapi untuk melihat Yoo Bin seperti sebuah luka baginya. Hyesun, satu-satunya yang percaya pada Yoo Bin.

“Eotteohke?” tanya Eun Ji

“Akhirnya dia tak dapat berkutik!”

“Rencana kita sukses, aku sangat bahagia” Eun Ji tersenyum puas

“Yoo Bin yang malang” ujar Mi Rae

Raut wajah Siwon berubah mendengar nama Yoo Bin disebutkan, tadinya ia hendak menyelonong masuk ke dalam kelas tapi niat itu diurungkan. Ia memilih untuk menguping pembicaraan itu

“Rencana pertama, kita berhasil membuat Siwon membenci Yoo Bin. Sepertinya, mulai sekarang aku harus lebih banyak mengeluarkan jurus-jurus jitu untuk meraih Siwon..” kata Eun Ji lagi

“Ne, kau harus bekerja keras..”

BRAAAKK…!!!

Suara pintu yang berdebam keras, membuat kedua gadis itu tersentak kaget, terlebih lagi melihat siapa yang berdiri di ambang pintu menatap kedua gadis itu dengan garang.

“Si, Siwon-ssi..” Eun Ji dan Mi Rae tampak pucat, entah apa yang harus dikatakan pada Siwon yang serasa ingin menelan kedua orang itu hidup-hidup.

“Jadi.. seperti ini??” Tanya Siwon dingin

“Siwon.. Siwon-a, ini tidak seperti yang kau dengar..” elak Eun Ji ketakutan

“Siwon-a, kami hanya…” Mi Rae berusaha untuk meyakinkan Siwon tapi ia tak dapat melanjutkan perkataannya setelah mata Siwon menatapnya tajam, mulutnya langsung terbungkam dengan tatapan sadis itu.

“Kalian benar-benar sesat!!” kata Siwon, ia menatap jijik pada kedua gadis itu dan langsung berlalu dari hadapan mereka.

Mi Rae dan Eun Ji terpaku, bulu roma mereka seakan bergidik mendengar kata-kata Siwon, begitu pedis ditambah lagi dengan raut wajahnya yang bak pembunuh berdarah dingin.

 

#####

 

Yoo Bin baru saja keluar dari ruangan Osis, rapat mengenai kelulusan baru saja usai. Ia melirik pada jam tangannya yang sudah menunjukan pukul lima sore, cuaca yang kurang bersahabat karena hujan yang terus mengguyur. Tapi, ada juga orang yang tak perduli akan hujan deras yang terus mengguyur, Yoo Bin menatap samar orang yang terus duduk di tengah derasnya hujan. Mata Yoo Bin sedikit mendelik menyadari sosok itu..

“Siwon??” gumam Yoo Bin “SIWON..!!” panggil Yoo Bin “SIWON-A!!” Yoo Bin terus berteriak memanggil Siwon agar suaranya bisa terdengar, Siwon tampak tak memperdulikan teriakan Yoo Bin. Yoo Bin segera berlari menerobos hujan.

“Choi Siwon.. apa yang kau lakukan di tengah hujan seperti ini??” Tanya Yoo Bin sedikit cemas “Kau bisa sakit kalau terus-terusan di sini”. Lagi-lagi Siwon sepertinya tak menggubris perkataan Yoo Bin.

“Araseo. Jika kau mau tetap seperti ini maka lakukanlah! Aku tak akan mengganggumu..!!” Yoo Bin mulai kesal melihat Siwon tak menganggapnya sama sekali.

Yoo Bin baru saja mau pergi ketika Siwon memegang tangannya.

“Mianhae…” Siwon mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk, ia menatap Yoo Bin.

“Siwon-a..??” Yoo Bin terkejut, walaupun ditengah guyuran hujan, ia dapat melihat dengan jelas wajah Siwon yang memar bahkan ada darah segar yang keluar dari luka di sudut bibirnya “Apa yang terjadi… ada apa dengan wajahmu?” tanya Yoo Bin panik, ia membantu Siwon berdiri dan mereka menuju ke tempat yang bisa melindungi mereka dari hujan.

Beberapa saat kemudian.. Siwon memandangi Yoo Bin yang tergesa-gesa mendatanginya sambil membawa obat. Yoo Bin langsung membersihkan dan mengobati luka Siwon, sesekali terdengar ringisan kesakitan Siwon.

“Kau ini…!!!” geram rasanya Yoo Bin melihat Siwon, ia ingin marah tapi adu mulut dengan namja itu ingin dihindari oleh Yoo Bin “Apa kau begitu senang berantem dengan orang lain?”

“Mianhae…” kata Siwon pelan.

Yoo Bin terkejut mendengar kata-kata yang mimpi sekalipun tak terbayangkan untuk keluar dari mulut Siwon

“Yoo Bin-a, mianhae!” katanya lagi mempertegas ucapannya. Yoo Bin terdiam sekian menit

“Anio. Tak ada yang perlu dimaafkan..” kata Yoo Bin, ia tersenyum “Lalu mengapa kau sampai berkelahi?”

“Ceritanya panjang..” kata Siwon “Tadinya aku sedang menunggumu..”

“Aku??”

“Aku, ingin meminta maaf padamu” Kata Siwon sedikit gugup “Aku tak tahu mereka, tiba-tiba saja memerasku..”

“Lalu, apa yang kau lakukan?”

“Seenaknya saja, memangnya mereka mengira aku ini apa!” Siwon terlihat geram

“Araseo, itu memang hobbymu” kata Yoo Bin

“Aauw.. pelan-pelan, kau kasar sekali—appo” ringis Siwon lagi. Yoo Bin hanya mencibir.

 

#####

 

Seperti biasanya, hari ini Yoo Bin datang ke perkebunan. Selain tujuannya untuk menemui Ibunya, tentu saja untuk bertemu dengan Leeteuk. Kali ini keduanya tidak duduk di tempat favorit mereka, keduanya lebih memilih ngobrol sambil jalan-jalan menyusuri hijaunya hamparan teh.

Congratulation..”

Congratulation??” ulang Yoo Bin “Untuk apa??” tanyanya lagi

“Aigo, kau ini bodoh sekali” Leeteuk menatapi Yoo Bin penuh kesal “Selamat karena kau sudah lulus!!”

“Oppa, aku tak tahu kau memberiku ucapan selamat dalam rangka apa. Aku bukan peramal yang setiap isi hati, isi kepala bahkan isi perutmu dapat ku mengerti” kata Yoo Bin kesal,

Leeteuk tertawa geli melihat tingkah Yoo Bin

“Oppa, gomaptta..” Yoo Bin tersenyum

“Ne. Lalu apa rencanamu?”

“Hmm.. selanjutnya aku belum pasti” kata Yoo Bin “Tapi, aku ingin melanjut ke Universitas, dan kemungkinan besar akan sepertimu..”

“Aigo~ mengapa kau terus mengikutiku? Apa kau begitu menyukaiku?” ujar Leeteuk penuh dengan canda

“Yaa~ oppa, kau berlebihan” Yoo Bin bergidik ngeri mendengar ucapan Leeteuk.

“Kau lucu sekali..” Leeteuk melempar daun teh yang dipetiknya ke wajah Yoo Bin “Kau tahu jika si pemarah itu mengambil banyak perubahan dalam dirinya?”

“Jeongmal?” Tanya Yoo Bin, ia sedikit terkejut “Aku tak melihat banyak perubahan. Setiap hari aku masih saja dibentaknya”

“Setidaknya memang ada hal-hal yang tak biasanya dia lakukan”

“Hmm.. Baguslah kalau dia sadar” kata Yoo Bin “Oppa, besok malam perpisahan siswa kelas tiga..”

“Acaranya apa?”

“Seperti kau tak pernah bersekolah di situ..”

“Mungkin saja tema acaranya berbeda” kata Leeteuk mengira-ngira, Yoo Bin hanya menggeleng.

Yah, acara perpisahan di sekolah mereka memang terkesan monoton, selalu sama disetiap tahunnya.

“Aduuhh…” Yoo Bin menutup matanya

“Gwaenchana?” Tanya Leeteuk kawatir

“Anio—sesuatu masuk ke mataku..”

“Sini.. biar aku lihat!!” Leeteuk segera memperhatikan mata Yoo Bin yang terlihat sembab dan masih tertutup rapat, ia segera meniup mata Yoo Bin beberapa kali.

Aktivitasnya terhenti ketika ia menyadari bahwa jaraknya dengan Yoo Bin hanya beberapa centi, Leeteuk menatap Yoo Bin yang masih belum dapat membuka matanya, pandangannya mengandung banyak arti ketika melihat wajah gadis itu, Leeteuk tersenyum.

“Bagaimana??” tanya Leeteuk

“Sudah lebih baik..” kata Yoo Bin.

Leeteuk kembali tersenyum manis. Tanpa disadari oleh keduanya, dari jauh seseorang yang sedari tadi berdiri memperhatikan mereka, Siwon. Tangan Siwon mengepal menahan emosi.

 

#####

 

Yoo Bin masuk ke dalam kelas, wajahnya terlihat kesal. Sepertinya suasana hatinya sedang terganggu.

“Selamat pagi..” Yoo Bin menyapa Siwon yang hanya meliriknya dingin seperti biasanya “Sebentar kau datang ke acara perpisahan??”

“Tak tahu!!” jawabnya singkat tanpa embel-embel

“Ada yang ingin kukatakan padamu”

“Apa?” Tanya Siwon “Kau selalu mengusik ketenangan orang lain” seperti biasanya, Siwon kembali melontarkan kata-kata pedisnya. Sepertinya tidak ada yang berubah.

“Kau kenapa?? Apa aku mengatakan hal yang salah padamu”

“Kau sangat berisik dan mengganggu”

“Wow..??” Yoo Bin langsung naik pitam, “Kau bilang aku pengganggu??” ia tampak sangat marah, sikap Siwon memang sudah semakin menjadi-jadi. Tiada hari yang dilalui tanpa kedamaian atau tanpa perang mulut.

“Ne! kau perusak suasana hatiku” Siwon menatap Yoo Bin galak “Sebaiknya, kau pergi dan cari kesibukan yang lain!!” kata Siwon dengan kasar.

“Omo! Kau sedang mengusirku?” Yoo Bin semakin emosi, ia tak memperdulikan leraian Hyesun atau tatapan anak-anak sekelas “Maumu apa? Sebentar kau bersikap baik, lalu tiba-tiba kau marah tak jelas. Benar-benar seperti orang sakit jiwa!!!”

“Mwo? Kau yang sakit jiwa!!” balas Siwon, ia menatap Yoo Bin dengan kesal.

Siwon masih kesal atas kejadian yang ia saksikan di perkebunan, kontan saja amarahnya langsung bangun kembali manakala melihat Yoo Bin dan membayangkan adegan semi romantis itu.

“Yoo Bin-a, tak perlu ribut dengannya..percuma” Hyesun berusaha menenangkan Yoo Bin “Kaja..” Ia menarik tangan Yoo Bin ke tempat yang lebih sepi, tentunya jauh dari Siwon.

“Sebenarnya apa yang salah denganku? Mengapa dia begitu membenciku?” keluh Yoo Bin “Sepertinya aku membuat kesalahan tak termaafkan di masa lalu dan sekarang aku terus-terusan mengalami kesialan”

“Yoo Bin-a, cukup abaikan dia. Kau tahu seperti apa watak orang itu”

“Sampai kapan aku harus bersabar menghadapi namja sinting itu?”

“Kau tak usah emosian seperti ini. Jika kau terus begini, kau tak ada bedanya dengan Siwon—selalu marah” ujar Hyesun “Mungkin saja Siwon sedang ada masalah, emosinya tak stabil”

“Kapan emosinya stabil??” Tanya Yoo Bin “Dia emang lagi bermasalah, bermasalah dengan sarafnya!!”

“Yoo Bin-a..”

“Hyesun-a.. aku ingin menyampaikan sesuatu padanya, tapi Siwon lebih membuatnya berantakan—aku kesal..”

“Mwoya??” Tanya Hyesun penasaran.

Yoo Bin lalu menceritakan sesuatu pada Hyesun, ada keterkejutan yang tak terhindarkan dari raut wajah Hyesun

“Yoo Bin-a, kau???” Tanya Hyesun tak percaya.

“Eotteohke?” Yoo Bin mengangguk “Tapi Siwon bersikap seperti itu, aku jadi ragu..” Yoo Bin tampak lemas

“Anio. Apapun yang terjadi, kau harus tetap mengatakan padanya. Meskipun kalian tak pernah akur tapi kau harus tetap memberitahukannya”

“Hyesun-a, aku…”

“Kau tak perlu banyak berpikir. Sudah tidak ada lagi waktu untukmu berpikir” kata Hyesun “Mau tak mau, suka tak suka.. kau harus tetap mengatakan itu padanya. Arachi?”

“Tapi…”

“Go Yoo Bin… kau harus!” ujar Hyesun, Yoo Bin hanya mengangguk pelan.

~~~~~

Malam harinya, suasana sekolah tampak lain dari biasanya. Banyak siswa yang terlihat lalu lalang. Malam ini adalah malam diadakannya acara perpisahan siswa tingkat tiga yang telah berhasil melewati ujian dan barhasil lulus.

Hyesun menghampiri Yoo Bin yang terlihat kebingungan.

“Sudah berbicara dengan Siwon?”

“Belum..” Yoo Bin menggeleng

“Yaa! Ppalli,..”

“Iya,” Yoo Bin segara mengikuti saran Hyesun, ia berjalan mencari Siwon diantara para siswa yang berkumpul dengan kelompok masing-masing.

Akhirnya matanya menangkap sosok Siwon yang sedang dikelilingi oleh teman-teman yang biasa bergaul dengannya, tentu saja gadis-gadis yang selalu berusaha menebar pesona pada Siwon atau sekedar menikmati rupa Siwon yang mungkin menurut mereka perfect.

“Siwon-a..” Siwon menoleh saat Yoo Bin memanggilnya

“Wae??” Tatapan dingin itu tak berubah

“Ada yang ingin kukatakan”

“Mwo?” Tanya Siwon cuek, ia kembali ngobrol dengan seseorang. Sepertinya ia sengaja berbuat seperti itu.

“Bisakah kita berbicara sebentar?” Tanya Yoo Bin “Disini sangat berisik!!”

“Apa yang ingin kau katakan? Pentingkah??” Tanya Siwon sinis

“Anio, hanya saja aku…”

“Katakanlah!!” ujar Siwon, air muka Yoo Bin tampak mulai berubah “Kalau memang bukan sesuatu yang penting, katakan sekarang” Siwon tersenyum sinis

“Siwon-a, ini…”

“Silahkan. Apa yang mau kau katakan??” katanya lagi sinis, ia menatap Yoo Bin dengan tajam. Suasana hati Yoo Bin langsung berubah, ia merasa Siwon sedang mempermalukan dirinya dihadapan mereka.

“Andwae!!!” ujar Yoo Bin, ia berubah pikiran “Kau merasa terusik dan sangat terganggu dengan kehadirankukan? Apa aku teramat menyebalkan di matamu??” tanya Yoo Bin

Siwon menatapnya dingin.. ada sesuatu yang lain dalam pandangan Siwon selain kesinisan yang sering ia tunjukan, Yoo Bin sudah terlanjur emosi atas sikap Siwon

“Baiklah jika memang itu maumu. Detik ini juga, aku berjanji padamu.. aku tak akan mengusik ketentramanmu ataupun mencampuri urusanmu lagi, Bahkan jika kau menginginkan kepergianku, bukan masalah bagiku. Aku jamin, kau tak akan melihat wajah pengganggu ini lagi!!”

Yoo Bin langsung berlari keluar ruangan meninggalkan Siwon, raut wajah Siwon berubah drastis, ia terpaku dan terdiam bak patung untuk sekian menit. Tidak berapa lama kemudian, Siwon segera berlari menyusuli Yoo Bin.

Eun Ji yang berada tak jauh dari situ, melihat Yoo Bin berlari-lari. Gadis itu menggaet kaki Yoo Bin sehingga membuat Yoo Bin terjatuh.. dengan cepat Siwon berlari menghampiri Yoo Bin yang meringis kesakitan

“Gwaenchanayo??” Tanya Siwon panik.

“Lepaskan!!!” Yoo Bin mendorong tangan Siwon “Ini bukan urusanmu!!” ujar Yoo Bin lalu kembali berlari meninggalkan Siwon.

Hyesun yang melihat kejadian itu, segera menghampiri Siwon yang masih diam seribu bahasa…

“Kenapa kau selalu memperlakukan Yoo Bin dengan kasar?” Tanya Hyesun, memandangi Siwon dengan kesal “Seburuk itukah??”

~~~~~

Sementara itu dalam perjalanan pulang, Yoo Bin justru bertemu dengan Leeteuk…

“Seharusnya kau masih di sekolahkan?”

“Aku melarikan diri..”

“Ne??”

“Aku benci. Benci melihat namja itu!!”

“Ada apa lagi? Kenapa kalian selalu begini??”

“Itu tak penting lagi” ujar Yoo Bin “Oppa, aku pamit padamu”

“Pamit??” Leeteuk terlihat bingung “Memangnya kau mau kemana?”

“Besok, aku dan Ibu akan pindah”

“Mworago?? Besok???” Leeteuk terkejut mendengar berita itu “Yaa! Mengapa kau baru mengatakan padaku??”

“Oppa mianhae” kata Yoo Bin “Tadinya, aku juga ingin berpamitan dengan dia tapi…”

“Kau mau aku memanggilnya?”

“Anio…” cegah Yoo Bin, Leeteuk memandanginya tak mengerti “Aku adalah seorang pengganggu baginya. Kalau kau mengatakan padanya, berarti aku melanggar janjiku..” kata Yoo Bin, Leeteuk terdiam tak mengerti.

“Tapi Yoo Bin ini…”

“Aku tahu. Tapi, Siwon sangat membenciku” ujar Yoo Bin “Entah ada apa denganku sehingga dia sangat membenciku, padahal.. aku perduli padanya” katanya lagi. Leeteuk terdiam lagi,

“Kau.. karena kau menyukainya..” kata Leeteuk.

Yoo Bin menatap Leeteuk dengan terkejut, tak tahu apa yang harus dikatakan

“Kamu begitu perduli, karena bagimu—Siwon bukanlah teman biasa. Kau bersikap seperti itu bukan karena kau ketua kelas tapi karena menyukai Siwon..”

Yoo Bin hanya tercengang mendengar penuturan Leeteuk, entahlah tapi ia tak sanggup untuk mengeluarkan kalimat penyangkalan.

“Aku..”

“Seandainya saja itu aku,.. aku tak akan pernah membuatmu sedih seperti ini..” Leeteuk tersenyum tawar

“Oppa, aku menyayangimu…”

“Aku tahu, karena aku sahabat terbaikmu” ujar Leeteuk lagi memamerkan senyuman manisnya pada Yoo Bin “Kau bodoh sekali Yoo Bin-a, mengapa kau tak sadar jika rasa sayangmu padaku dan Siwon itu berbeda. Sudahlah, aku.. akan selalu mendukung apapun keputusanmu” Leeteuk mengelus-elus rambut halus Yoo Bin.

“Mianhae.. oppa mianhae” kata Yoo Bin lirih

“Yoo Bin.. kau sangat lugu, terhadap perasaan sendiri saja kau tak paham..”

Leeteuk tersenyum memandangi Yoo Bin yang tampak linglung, Leeteuk langsung meraih Yoo Bin ke dalam pelukannya

“Jangan menangis, aku akan sangat merindukanmu. Maafkan Siwon, selama ini dia tak pernah menyadari bahwa begitu banyak yang berubah dalam dirinya karena kau..” Yoo Bin tersenyum hangat dalam pelukan Leeteuk.

Bersamaan dengan itu Siwon muncul, ia terkejut dan langsung terpaku melihat Yoo Bin berada dalam pelukan Leeteuk. Ada sesuatu yang langsung mengganjal dalam hatinya, sesuatu yang membuatnya menyesal dan juga perih. Dengan perlahan Siwon membalikan tubuhnya, meninggalkan Leeteuk dan Yoo Bin yang tak menyadari kehadirannya.

 

#####

 

Hujan deras kembali mengguyur Boseong.

“Dimana Yoo Bin??” Tanya Siwon, ia menghampiri Hyesun yang berdiri tak jauh darinya.

“Mwo? Jadi semalam kau tak bertemu dengannya??” Hyesun terlihat heran. Siwon menggeleng kepala “Dia tak akan datang!!” lanjut Hyesun lagi.

“Wae?” Siwon tak mengerti

“Yoo Bin—hari ini, dia pindah” kata Hyesun.

Siwon sangat terkejut mendengar berita itu

“Semalam Yoo Bin ingin berpamitan denganmu”

“Mworago??”

“Yaa!! Choi Siwon, kau mau kemana hujan-hujan begini??” teriak Hyesun ketika melihat Siwon langsung berlari menorobos hujan meninggalkan sekolah.

~~~~~

“YOO BIN-A..!!!” Teriakan Siwon mengagetkan Yoo Bin, padahal ia baru saja hendak menaiki mobil yang akan membawanya dan Ibunya

“Nugu?”

“Chingu..” jawab Yoo Bin “Sebentar, kutemui dia dulu..” kata Yoo Bin, ia masih penasaran melihat sosok Siwon yang tiba-tiba saja berdiri disana.

“Payungnya, Yoo Bin-a.. hujannya deras sekali, kau bisa basah kuyup!”

Yoo Bin sudah tak mendengarkan panggilan Ibunya. Ia segera menghampir Siwon.

“Kau akan pergi?” Tanya Siwon

“Ya. Aku dan Ibu.. kami…” kata-kata Yoo Bin terputus

“Apa karena aku.. karena marah padaku??”

“Bukan itu.. tidak seperti yang kau kira Siwon-a”

“Lalu, kenapa kau ingin pergi??”

“Aku…” Yoo Bin mengambil jeda dari kata-kata yang akan dilontarkannya, tiba-tiba rasa takut menyelimuti diri Yoo Bin. Ia takut tidak bisa melihat wajah dingin itu lagi.

“Mianhae..” kata Siwon “Maaf selama ini sikapku terhadapmu..”

“Siwon-a.. tak usah bicarakan itu lagi..”

“Aku.. minta maaf Yoo Bin-a.” Siwon terdiam, cukup lama “Aku menyukaimu..” kata-kata Siwon bak petir yang menyambar Yoo Bin, ia terpaku “Aku sangat menyukaimu..”

Yoo Bin mendekati Siwon dan mengecup jembut pipi Siwon,

“Aku menyukaimu dan akan tetap menyayangimu, Choi Siwon” Siwon terdiam, “Mianhae.. aku harus pergi..” kata Yoo Bin lagi, ada air mata yang mengalir di pipinya meskipun tertutupi oleh air hujan yang telah membuat kedua orang itu basah kuyup.

Dengan sedih Yoo Bin berpaling meninggalkan Siwon yang tetap terpaku.

“YOO BIN-A…” Siwon hanya bisa berteriak memanggil nama itu, lalu mobil itu pergi membawa serta Yoo Bin.

Itulah terakhir kalinya kedua orang itu bertemu, sebelum akhirnya Siwon melanjutkan kuliahnya di Jerman. Setelah sekian tahun berlalu, Siwon kembali lagi. Seseorang akan terasa sangat berarti dan dibutuhkan saat ia tak di sisi kita lagi, dan itu memang benar.

 

#####

 

Leeteuk sedang sibuk bekerja saat Yoo Bin masuk ke dalam ruangnya. Leeteuk memandang kekasihnya itu yang langsung duduk mengambil posisi tepat dihadapan Leeteuk. Mereka sepertinya terlibat percakapan yang begitu serius.

“Kau serius Yoo Bin?” Leeteuk bertanya. Ekspresi wajahnya yang tampak tak percaya sekaligus bahagia.

“Serius” jawab Yoo Bin lantang “Aku sudah memikirkannya masak-masak”

“Aku senang sekali..” Mata Leeteuk terlihat berbinar-binar, beberapa saat kemudian ia terdiam. Sesuatu sedang terlintas dikepalanya “Tapi, apakah kau? Ehmm.. maksudku, sekarang dia sudah kembali. Aku tidak ingin kau tidak bahagia di sisiku. Yoo Bin-a, kau masih bisa memulai dengannya..” kata Leeteuk lagi, ia begitu lembut pada Yoo Bin.

“Oppa..” Yoo Bin menggeleng “Ucapanmu, seolah aku menjadikanmu hanya sebagai pelarian. Aku bersedia menikah denganmu bukan karena alasan apapun. Aku mencintaimu, itulah satu-satunya alasan bagiku” Yoo Bin mencoba meyakinkan Leeteuk akan perasaannya.

“Yoo Bin, bagaimana dengan..?”

“Siwon adalah masa laluku. Aku tidak ingin membuang sesuatu yang sudah kumiliki hanya karena sesuatu yang sudah berlalu. Sekarang aku hanya ingin menentukan masa depanku, dan bagiku oppa adalah masa depanku..”

Leeteuk menggenggam tangan Yoo Bin

“Araseo. Gomaptta..” Leeteuk memandangi Yoo Bin yang tersenyum bahagia.

 

#####

 

“Yoo Bin-a, seseorang mencarimu..”

“Nugu?”

“Temui saja dia” Ny. Go tersenyum menatap Yoo Bin

“Eomma, kau ingin bermain rahasia denganku..”

Yoo Bin keluar dari kamar diikuti oleh Ibunya. Ia terkejut mendapati sosok wanita cantik sedang duduk di ruang tamu.

“Hyesun-a!!!” teriak Yoo Bin histeris

“Yoo Bin-a…”

Kedua orang itu berpelukan, saling melepas rindu.

“Aigo~ kau membuatku sangat terkejut..”

By the way, bagaimana kabar saudaramu?”

“Eun Ji?” Hyesun mengangguk pelan “Dia sangat sibuk, maklumlah benar-benar menjadi wanita karir”

“Kalian benar-benar rukun?”

“Tentu, tak mungkin harus bersikap seperti remaja..”

“Geuraeseo” Hyesun hampir tak percaya mendengar itu, mengingat sifat Eun Ji sewaktu dulu “Yoo Bin-a, Siwon sudah kembali ke Jerman?”

“Belum”

“Lalu, hubungan kalian?”

“Kami baik-baik aja”

“CLBK..” kata Hyesun sambil tertawa

“Apa itu?”

“Cinta lama bersemi kembali..” goda Hyesun

“Kau ini…” tepis Yoo Bin “Kita memang berhubungan baik, tapi tidak seperti dulu. Semua sudah berubah”

“Maksudnya, kamu udah nggak punya perasaan apa-apa lagi terhadap Siwon?”

“Bagaimanapun juga Siwon adalah orang yang pernah ada di hatiku, aku tidak mungkin melupakannya begitu saja. Tapi waktu telah merubah segalanya..”

I knew that now you have Leeteuk… tapi aku masih tak mengerti” tutur Hyesun

“Hyesun-a” Yoo Bin menatap Hyesun dalam-dalam “Aku akan menikah dengan oppa”

What??” Hyesun tersentak kaget “Kau dan Leeteuk oppa?? Menikah??”

“Tiga minggu lagi” jawab Yoo Bin

“Mengapa aku baru tahu?”

“Mianhae Hyesun-a, tapi..”

“Kau serius? Lalu bagaimana dengan Siwon?”

“Aku yakin dia pasti mengerti” Yoo Bin menarik nafas dalam-dalam “This is a decision that will change my life, kau pasti bisa mengerti aku”

“Baiklah. Apapun itu, aku akan selalu mendukungmu”

“Gomawo,”

“Ne, ara”

 

#####

 

Leeteuk dan Yoo Bin mampir ke restaurant untuk mengisi perut mereka yang telah mulai mendendangkan senandung keroncong.

“Ternyata, benar-benar sibuk” tutur Leeteuk

“Tentu, ini moment sekali seumur hidup”

“Cuma sekali?” Pertanyaan Leeteuk membuat Yoo Bin menatapnya penuh selidik.

“Oppa, apa maksudmu? Kau mau lebih?” Tanya Yoo Bin “Oke, kita batalkan saja daripada nantinya aku mati sakit hati karena diduakan, ditigakan, bahkan disepuluhkan olehmu..”

Leeteuk tertawa melihat wajah Yoo Bin yang tampak cemberut

“Aku hanya bercanda, mengapa kau seserius itu menanggapinya?” sindir Leeteuk

“Aku kesal padamu, oppa”

“Mianhae..” Leeteuk tertawa

“Oppa, kau menertawakanku?”

“Karena kau begitu lucu dan menggemaskan..”

“Lucu?? Aku bukan badut”

Leeteuk terus tertawa seakan tak bisa berhenti.

“Apa lagi jika kau memanyunkan bibirmu seperti itu” ledek Leeteuk.

“Yaaa!!!”

“Baiklah, Yoo Bin yang cantik” Leeteuk meredakan kekesalan Yoo Bin “Yoo Bin-a” Leeteuk menyodor secarik kertas yang baru saja dikeluarkan dari saku jaketnya.

“Apa ini?”

“Kau harus membacanya..” Leeteuk tersenyum.

Yoo Bin membuka lipatan kertas itu dengan penuh tanda Tanya dan tanpa ditunggu-tunggu ia langsung membaca isinya…

Kau datang…

Saat itu aku sedang gundah

Kau datang…

Tak lupa kau hadiahkan senyuman polosmu padaku

Lenyapkan semua kegalauan hatiku

 

Tahukah engkau?

Bagiku, kau adalah cahaya yang tak akan pudar

Sungguh tak dapat kuterpa badai asmara ini

Cintaku padamu sangat suci

 

Jika esok tiba, aku ingin bersamamu

Saat membuka mata ini, kau ada disisiku

 

Tahukah engkau?

Esok, seperti gerbang yang penuh misteri bagiku

Sejujurnya aku takut menghadapi semua yang akan terjadi

Namun… asal kau tersenyum

Aku rela melepaskan seluruhnya…

Yoo Bin menatap Leeteuk. Pandangan takjub dan penuh haru terpancar dari matanya.

“Oppa?”

“Bagaimana menurutmu?” Leeteuk meminta pendapat Yoo Bin.

“Aku tak menyangka, dokter super sibuk sepertimu masih punya waktu untuk menulis puisi ini..” tutur Yoo Bin “Oppa, kau sangat berbakat..”

“Kukira juga begitu. Entah kenapa aku bisa menulis kata-kata yang sama sekali tak terbayangkan dalam kepalaku..”

“Maksudmu…?”

“Mengalir dengan sendirinya dalam pikiranku. So, tangan ini hanya membantu menulisnya..”

“Begitu” gumam Yoo Bin “Saat membaca ini, aku seperti merasa sesuatu yang lain” tuturnya lagi.

“Sesuatu.. mwo?”

“Molla..”

Lama Yoo Bin dan Leeteuk terdiam. Mereka menghabiskan makanan yang telah terhidang di hadapan mereka, entah apa yang ada dipikiran kedua orang itu.

“Kenapa kau terus menatapku?” Yoo Bin bertanya saat sadar bahwa dirinya tengah diperhatikan oleh Leeteuk.

“Anio… hanya saja, semakin dekat aku denganmu, justru aku merasa kau semakin sulit kujangkau” Leeteuk berujar pelan “Pernikahan kita hanya menghitung hari. Tapi, aku merasa seperti ada sesuatu yang membatasi kita sehingga aku merasa hubungan kita semakin menjauh..” lanjut Leeteuk

“Oppa, ucapanmu membuatku takut” Yoo Bin memandangi Leeteuk yang diam, tampak tenang “Apakah kau bermaksud untuk meninggalkanku?” Tanya Yoo Bin penuh curiga.

“Tentu saja tidak!” jawab Leeteuk tegas “Aku hanya ingin merasakan moment itu sekali seumur hidup, bukan berkali-kali. Jangan sampai pikiran aneh menggerogoti kepalamu” goda Leeteuk.

“Tidak tapi..”

“Kau tenang saja, jangan berpikir yang macam-macam..”

“Baiklah”

 

#####

 

Hari sudah gelap saat Yoo Bin baru keluar dari rumah sakit. Yoo Bin sudah membuka pintu mobilnya saat ia melihat Siwon tak jauh dari situ.

Akhirnya mereka mampir di sebuah café yang tak jauh dari rumah sakit. Untuk beberapa saat lamanya mereka terdiam, menikmati minuman dingin yang dipesan mereka.

“Sepertinya kalian sangat sibuk..” Siwon membuka percakapan.

“Ya” balas Yoo Bin. Suasana terasa kaku.

“Jadi.. kau dan hyung akan segera menikah? Chukha-hae”

“Gomawo..” Entah mengapa Yoo Bin merasa sedih mendengar kata-kata itu, saat bersama Siwon, kenangan itu seakan bangkit lagi.

“Kau menyayanginya?” Siwon bertanya dengan sorot mata yang dingin, tak berubah dari sepuluh tahun yang lalu.

“Mianhae, aku harus pergi!” Pamit Yoo Bin pada Siwon, ia segera meninggalkan Siwon. Yoo Bin tak tahan jika harus terus di situ, menatap mata Siwon yang memandangnya dengan fokus. Hujan deras telah mengguyur Seoul, Yoo Bin berlari menerobos derasnya hujan.

“Yoo Bin..!!” Siwon berlari menghampiri Yoo Bin di tengah deras hujan.

“Kenapa kau mengikutiku, hujannya sangat deras” ujar Yoo Bin.

“Wae? Waeyo?” pertanyaan dan tatapan Siwon kembali menyayat hati Yoo Bin.

“Siwon-a,”

“Aku tak percaya jika kau sudah melupakanku”

“Siwon, aku…”

“Katakan Yoo Bin,.. katakan kalau kau tidak lagi mencintaiku lagi”

“Siwon.. Kumohon, kau harus mengerti”

“Katakan Yoo Bin!!” Siwon mengguncang kedua pundak Yoo Bin, tangannya yang kekar mencengkeram pundak itu kuat-kuat “Aku akan pergi dan tak akan mengganggumu lagi. Tapi katakan kalau kau tidak mencintaiku lagi, kalau kau telah melupakan semuany.. aku akan pergi dari kehidupanmu dengan tenang..”

Lama sekali kedua orang itu bertatapan, seakan tidak perduli pada hujan yang terus menerus mengalir..

“Araseo!!” teriak Yoo Bin “Kita tak pernah memulai sebuah hubungan yang baik dan aku tidak mencintaimu. Aku sudah melupakanmu sejak aku meninggalkan Boseong. Arachi?!!” kata Yoo Bin lagi. Mereka kembali terdiam. Perlahan kedua tangan Siwon terlepas dari pundak Yoo Bin. “Mianhae, aku harus pergi sekarang!” Yoo Bin berkata dengan memperlihatkan ketegarannya.

“Jamkkanman!” Siwon memegang tangan Yoo Bin “Aku tidak ingin melihatmu pergi. Aku tak mau merasakan hal yang paling menyakitkan dalam hidupku untuk kedua kalinya” tutur Siwon pelan. Siwon berpaling meninggalkan Yoo Bin yang berdiri terpaku menatap kepergian Siwon ditengah derasnya hujan yang jatuh.

Yoo Bin tersungkur lemas, ia merasa kedua kakinya tak sanggup untuk menopang tubuhnya. Air mata yang dari tadi ditahannya langsung mengalir tanpa dapat dicegah lagi. Yoo Bin terisak ditengah guyuran hujan.

“Mian, mianhae..”

 

#####

 

The Wedding Day. Kebahagian terpancar dengan jelas dari wajah Ny. Go melihat putri semata wayangnya akan segara menikah.

“Kau cantik sekali Yoo Bin-a” puji Hyesun saat masuk ke kamar Yoo Bin

“Kau, akhirnya menikah” desah Ny. Go “Rasanya masih segar diingatanku saat kau masih kecil, berlari-lari menggapaiku”

“Eomma…” Yoo Bin tersenyum menatap Ibunya.

“Sudah waktunya berangkat” Potong Hyesun “Jangan sampai terlambat di hari pernikahanmu sendiri”

“Geurae. Sebentar lagi pemberkatan nikahnya akan dimulai.” Tutur Ny. Go.

Handphone milik Yoo Bin bernyanyi riang… seseorang menelponnya. Yoo Bin mengangkat handphonenya

“Oppa..”

Ah, Yoo Bin, dimana kau sekarang?” Tanya Leeteuk dari seberang

“Aku masih dirumah”

Geuraeseo. Cepatlah, jangan sampai telat. Aku masih dalam perjalanan..

“Ne oppa” ujar Yoo Bin

Yoo Bin-a” Cegah Leeteuk ketika percakapan mereka hendak diakhiri “Aku ingin kau bahagia. Apapun yang terjadi, kau harus ingat itu. Saranghamnida..” pesan Leeteuk sebelum mengakhiri pembicaraan.

~~~~~

Di gereja, tempat pemberkatan nikah akan dilaksanakan terjadi sedikit ketegangan. Seharusnya pemberkatan nikah sudah dilangsungkan tiga puluh menit yang lalu tapi sampai detik ini Leeteuk belum juga muncul. Semua tampak gelisah, terlebih lagi Yoo Bin. Mereka terlihat cemas dan gusar.

“Yoo Bin-a..” Ny. Choi menghampiri Yoo Bin yang hanya mondar-mandir tak jelas.

“Eomeoni.. mengapa oppa belum datang??” Yoo Bin gusar.

“Dia selalu tepat waktu..”

“Apakah mungkin mendadak ada sesuatu yang sangat penting?” terka Yoo Bin

“Mungkin seperti itu”

“Yoo Bin..” Ny. Go menghampiri anak satu-satunya tersebut “Jangan terlalu khawatir,” bisiknya

“Ne eomma”

Tak lama kemudian, dering handphone terdengar dari dalam tas milik Ny. Choi. Wanita itu dengan segara mengambil handphone itu.

“Yeoboseyo..” sapa Ny. Choi “Ne. Saya sendiri”

Ny. Choi terlihat diam menyimak pembicaraan itu, tiba-tiba saja raut wajahnya langsung berubah total. Perasaan Yoo Bin menjadi galau melihat mimik wanita itu yang tampak terkejut bercampur takut, ditambah lagi wajahnya yang langsung pucat dan lemas.

“Eomma, ada apa??” Tanya Siwon melihat wajah Ny. Choi yang pucat pasi.

“Eomeoni?” Yoo Bin cemas “Waeyo??”

Wanita itu terdiam memandangi wajah-wajah yang terlihat penasaran dan cemas. Handphone di tangannya terlepas begitu saja.

~To Be Continue~

Iklan

68 thoughts on “Only For Him (Part 3)

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s