After Story…I Hate You, But I bla bla bla (Part 1)

 Image

Main Cast    : Cho Kyuhyun (Suju), Song Nara (Fiction)

–> FF ini murni imaginasiku, say no to plagiat!!!

Note :

Annyeong. Masih ingat dengan FF berjudul I Hate You, But I bla bla bla?? Sebenarnya aku gak terpikirkan buat sequelnya tapi mengingat ada temen-temen yang minta dibuatkan sequel maka kuputuskan untuk mengabulkan permintaan itu. So, FF ini adalah sequel cerita tersebut, gak nyangka sequelnya bakal lebih panjang dari dari cerita awal! Sepertinya aku terlalu bersemangat hehehe..oke, selamat membaca & please, don’t be a silent reader!!

~~~~

Gangnam Severance Hospital.

Beberapa orang perawat dan juga dokter tampak tergesa-gesa memasuki sebuah ruang rawat. Seorang wanita paruh baya bersama gadis remaja, keduanya saling berpegangan tangan—terlihat kecemasan luar biasa di wajah kedua orang itu.

Mereka memandangi seorang gadis muda lainnya yang tampak lemah terbaring di atas tempat tidur.Wajahnya begitu pucat. Ia membuka matanya perlahan, menatap dengan matanya yang sayu. Kelopak matanya berkedip, pelan—pelan sekali.

“Eonni..” gadis remaja itu tampak cemas melihat kakaknya yang terbaring lemah

“Nara, Nara-ya…” Ny. Song memandangi putrinya yang tampak tak berdaya,

Aku..aku,, membencimu..membencimu..” erangan Nara terdengar tak jelas.

“Dokter, bagaimana dengan putriku?” raut wajah Ny. Song begitu cemas.Ia memandangi dokter.

Sejak siuman, berulang kali Nara mengigau tak jelas—mengucapkan kata-kata yang sama.

“Eonni..kau melihatku? Eonni-ya??”“Hana-ya, eonni akan baik-baik saja” Ny. Song menenangkan putri bungsunya.

Mereka membiarkan dokter dan perawat memeriksa kondisi Nara.Nara membuka matanya pelan sekali.

..sangat..membencimu..” erang Nara dan matanya kembali tertutup.

“Nara!! Nara!!!”

Ny. Song berteriak memanggil-manggil nama putrinya. Ia hanya bisa memeluk Hana, yang tak henti-hentinya menangis.

“Segera siapkan kamar operasi!!” perintah sang dokter dan langsung dijawab dengan anggukan pasti dokter lainnya dan para perawat yang bergegas.

Aku…sangat membencimu..Cho..Kyuhyun..

#####

 

*Nara POV*

“Yaa!!Yaa!!”

Ah, apa ini? Kenapa suara itu membuatku sangat kesal. Berat sekali, aku sangat mengantuk.

“Yaa!!”

Seseorang menendang-nendang kakiku.

“Bangun,, ppalli..!”

Ah, suara itu terdengar tak asing lagi. Menyebalkan dan penuh kesan angkuh. Ciihh, seseorang seperti itu pernah kutemui dulu, orang paling menyebalkan dan sangat kubenci. Cho Kyuhyun tapi mengapa aku tiba-tiba teringat pada si brengsek itu?Wae?Itu sudah bertahun-tahun berlalu.Aku pasti bermimpi—mimpi buruk.

“Yaa~ bebek jelek..!!”

Mwo?Bahkan aku tak pernah mendengar seseorang memanggilku seperti itu, selain namja itu.

“Ya! Song Nara!! Ireona,, ppalli!!”

Aish,, menyebalkan. Aku mengubah posisi tidurku yang nyaman dengan duduk memandangi kakiku—memeriksa mungkinkah tampak memar di sana karena tendangan itu.

“YAA!! Kau…!”

Mulutku seakan terkunci. Kemarahan yang telah memuncak mendadak terhenti saat mataku tertuju pada seseorang yang berdiri melipat kedua tangan di depan dadanya. Memandangiku dengan sorot matanya yang dingin dan menyebalkan, sorot mata yang sangat ku kenal.

Apa ini? Apakah aku masih bermimpi? Mengapa tiba-tiba melihat namja itu?

“Kau..??” kurasakan perih di mataku, terlalu lebar membuka kelopak mata untuk meyakini apa yang kulihat “Cho..Kyuhyun??”

Namja itu tak menjawab, hanya membiarkanku terus mematung.

“Yaa~ kau benar-benar, Cho Kyuhyun?”

Aku mencubit lenganku, ah, sakit. Jadi, ini bukan mimpi? Tapi bagaimana mungkin aku mempercayai semua ini? Kejadian seperti ini hanya terjadi dalam mimpi.

Cho Kyuhyun, seingatku—dia adalah namja paling menyebalkan sedunia.Mendengar namanya hanya ada kebencian, masa SMA-ku berantakan karena dia. Namja itu terus menyiksaku. Tapi mengapa dia muncul lagi dihadapanku? Aku telah melupakannya bersama kehidupan SMA yang suram, sejak namja itu meninggalkan sekolah setelah kelulusannya—9 tahun lalu.

“Cho Kyuhyun,, ige mwoya?” aku berada dalam tingkat kebingungan yang sangat tinggi, otakku berpacu dengan keras.

Setelah 9 tahun tak bertemu, mengapa dia berada di hadapanku lagi?

“Yaa!! Apa yang kau lakukan di kamarku?”

“Kamarmu?” Kyuhyun menatapku, tertawa pelan “Jjagi, jangan egois—kau tak berniat mengusirku dari kamar kitakan?”

Mwo?

“Kamar,, kita??” aku mengulangi perkataannya, ada apa ini?

“Waeyo? Ada yang salah?” Kyuhyun memandangi seisi kamar.

Jelas salah, ini kesalahan besar.

“Siapa kau? Apa yang kau lakukan padaku?”

Aku merapatkan tubuhku ke sisi dinding, menjauhi namja itu.

“Yaa~ jadi kau benar-benar tak ingat siapa aku?”

Kyuhyun menatapku tajam, tatapannya yang dingin berubah sendu. Sorot matanya terlihat berbeda.

“Bagaimana mungkin aku melupakan namja iblis, yang selalu menyiksaku”

Dia hanya diam, menatapku dengan tatapannya yang tampak sedih.  Aish, aku tak akan tertipu olehmu lagi Cho Kyuhyun.

“Kau—yang kau maksud dengan kamar kita, bukan berarti kau dan aku dalam kamar yang sama, benarkan?”

Ini benar-benar dibatas pemikiranku. Kyuhyun menyiksaku dengan tak memberikan satupun jawaban yang kuharapkan—dia hanya diam.

“Araseo, aku bercanda—kau pikir aku akan tahan berada di ruangan yang sama dengan yeoja mengerikan sepertimu?”

Ucapannya membuatku lega.

“Syukurlah, lalu mengapa kau berada di rumahku?”

“Song Nara, tentang ini kamarmu—kau memang benar” Kyuhyun memandangku “Kau harus tahu bahwa kau sekarang berada di rumahku, arachi?”

“Mworago??”

Rumah Kyuhyun? Kini  aku sadar bahwa nuansa kamar itu berbeda, bukan kamar yang ku kenal.

“Akhirnya kau sadar juga, ppalli—siapkan makanan, kau akan membuatku mati kelaparan”

“Ige mwo?Mengapa aku bisa berada di rumahmu? Katakan!!”

“Kau benar-benar terbentur parah” Kyuhyun menggeleng, menatapku prihatin dengan ekspresi menyebalkannya “Aku harus bekerja keras untuk menjelaskan satu per satu padamu”

Ia berdecak dan hanya pergi—meninggalkanku yang seperti orang bodoh. Begitu ling lung sendirian di dalam kamar. Apa yang telah terjadi?

~~~

*Kyuhyun POV*

“Yaa~ jadi kau benar-benar tak ingat siapa aku?” Nara, apa yang kau pikirkan? Mengapa tatapanmu seperti itu padaku?

“Bagaimana mungkin aku melupakan namja iblis, yang selalu menyiksaku”

Gadis itu berkata dengan ekspresinya yang sama saat masih sekolah, ekspresi yang begitu membenciku.

Nara-ya, ini aku—Cho Kyuhyun, aku masih sama, mencintaimu sampai akhir. Apa kau benar-benar ingin melupakanku?

“Kau—yang kau maksud dengan kamar kita, bukan berarti kau dan aku dalam kamar yang sama, benarkan?”

Nara memandangiku dengan bola matanya yang membulat, aku tahu jawaban apa yang ingin didengarnya.

“Araseo, aku bercanda—kau pikir aku akan tahan berada di ruangan yang sama dengan yeoja mengerikan sepertimu?”

Nara menarik nafas lega. Wae? Berada di ruangan yang sama denganku seperti hal yang paling kau benci Nara-ya.

“Syukurlah, lalu mengapa kau berada di rumahku?”

“Song Nara, tentang ini kamarmu—kau memang benar” Wajah yeoja itu masih tampak pucat “Kau harus tahu bahwa kau sekarang berada di rumahku, arachi?”

“Mworago??”

Gadis itu terkejut. Ia menyusuri isi kamar dengan pandangannya yang liar.

“Akhirnya kau sadar juga, ppalli—siapkan makanan, kau akan membuatku mati kelaparan”

“Ige mwo? Mengapa aku bisa berada di rumahmu? Katakan!!”

Mianhae, untuk alasan mengapa kau harus berada di sini. Untuk memberikan banyak kejutan di masa depan, mianhaeyo.

“Kau benar-benar terbentur parah” Tak tahu apa yang harus kukatakan padanya, hanya bisa memamerkan Cho Kyuhyun yang ada dibenaknya “Aku harus bekerja keras untuk menjelaskan satu per satu padamu”

Aku beranjak, saat ini kau pasti sangat kebingungan Nara-ya.Berada didekatmu, meskipun dalam ingatanmu aku adalah Cho Kyuhyun yang kau benci 9 tahun lalu—tak masalah bagiku.Asalkan aku bisa melihat wajahmu, itu sudah lebih dari cukup.

Getar handphone di saku celana, menyadarkanku.

“Ne, eomeoni” aku menerima panggilan masuk

Nara, eotteohke?” aku bisa merasakan kecemasan dari suara itu.

“Dia baik-baik saja, meskipun saat ini dia pasti kebingungan”

Ah, mianhae Kyuhyun-a,, ini akan sangat merepotkanmu

“Anio eomeoni. Jangan khawatirkan apapun, aku pasti akan merawatnya dengan baik” aku akan baik-baik saja, “Setidaknya, Nara tidak melupakan beradaanku. Eomeoni, kumohon untuk percaya padaku,”

Geuraseo” suara terdengar lemah.

Mianhaeyo eomeoni, aku tak akan membiarkan putrimu terluka.

#####

*Author POV*

Gangnam Severance Hospital.

“Minji-ya,, aku tak percaya melihatmu dengan seragam itu”

Minji tertawa pelan melihat Nara yang selalu bertingkah sama setiap kali mereka bertemu.

“Wae? Apa diotakmu aku ini hanyalah yeoja babo?” tanya Minji “Nara-ya, kau harus percaya bahwa sahabatmu ini adalah seorang dokter”

“Araseo”

Nara meneguk juice yang ada di hadapannya. Ia terdiam dengan alisnya yang saling bertaut.

“Waeyo?” tanya Minji

“Kau masih ingat dengan Cho Kyuhyun?”Nara balik bertanya.

“Tentu saja. Bagaimana mungkin aku melupakan sunbae setampan dia. Lagipula dia direktur di perusahaan tempatmu bekerja tapi mengapa kau tiba-tiba bertanya tentang sunbae?”

“Mwo?”Nara tersedak.

“Nara-ya, gwaenchanayo?” Minji menepuk-nepuk pelan punggung Nara.

“Park Minji! Apa maksudmu dia direktur C&M??”

Minji terdiam, ia memandangi Nara yang benar-benar tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Kau tak mengingat itu sedikitpun??” Minji memandang lekat sahabatnya “Kau bahkan sangat dekat dengannya”

“Yaa!! Park Minji!! Jangan mengatakan hal-hal tak masuk akal seperti itu” Nara memandangi Minji dengan kesal “Bagaimana mungkin aku dekat dengan orang yang di dunia ini paling kubenci, kau tahu sendiri aku tak pernah bertemu lagi dengannya selama 9 tahun setelah keberangkatannya ke New York?”

“Yaa~ bagaimana harus kujelaskan padamu?” Minji mulai frustasi “Dari sekian banyak hal yang terjadi dalam hidupmu mengapa justru kenangan tentang Kyuhyun sunbae yang kau hapus dari memorimu?Apa kau terlalu membencinya? Wae? Waeyo Nara-ya??”

“Mwoya? Kau bicara apa?”

“Nara, kau mengalami kecelakaan”

Bola mata Nara kian melebar,

“Kau terjatuh di kamar mandi, kepalamu mengalami trauma akibat benturan keras”

“Maksudmu…” Nara meremas jemari tangannya, ia mulai gemetar

“Bersabarlah, cepat atau lambat, ingatanmu akan pulih” ujar Minji “..atau bahkan tidak sama sekali” lanjut Minji, berkata lirih dalam hatinya.

Nara mematung, sekian menit tak ada suara dari mulutnya yang tertutup rapat.

“Lalu, apa kau tahu, mengapa aku bisa tinggal serumah dengan namja gila itu? Apa hubunganku dengannya?” Nara tampak cemas “Eomma dan Hana justru bepergian ke luar negeri. Aku masih bisa hidup sendiri, mengapa mereka membiarkanku tinggal bersama namja itu, bukankah jika mengkhawatirkanku sebaiknya aku bersamamu Minji-ya? Jika Appa masih hidup apakah mungkin aku masih akan diterlantarkan?”

Nara mendesah, tak habis pikir dengan semua yang terjadi. Baginya kemarin masih tampak baik-baik saja lalu mimpi buruk itu berlanjut ketika ia bangun keesokan harinya.

“Kau dan Kyuhyun sunbae, kalian itu sangat dekat. Sunbae bahkan dekat dengan keluargamu itulah sebabnya ajumma mempercayakanmu pada sunbae”

“Minji-ya, aku dan namja itu—kami berteman?”

Minji terdiam.

“Yaa~ apakah itu mungkin? Rasanya ini tak masuk akal” Nara mendesah, ia tertawa kaku.

“Aish, babo—terserah apa katamu, siapa yang menyuruhmu amnesia?” geram Minji kesal.

“Yaa!!Kau kira aku ingin seperti ini? Semuanya benar-benar membuatku menggila, kau pikir mudah mempercayai ini?”

Kegeraman Minji terkalahkan oleh emosi Nara yang meningkat.

“Aku pergi..”

Nara beranjak, meninggalkan Minji yang hanya diam.

“Nara-ya, jika aku mengatakan semuanya apakah mungkin kau masih akan mempercayaiku? Kyuhyun sunbae—kau harus bekerja keras” gumam Minji, matanya memandangi punggung Nara yang kian menjauh.

Flash back…

“Sunbaenim..”

Minji menatap pria tampan yang berdiri tak jauh darinya.

“Kau tak apa-apa?” Minji menelusuri wajah Kyuhyun yang begitu tenang, namun sorot matanya terlihat memancarkan sesuatu yang berbeda.

“Anio” Kyuhyun tersenyum “Nara, sepertinya tidak mengingat kejadian selepas keberangkatanku ke New York. Tatapan matanya sama seperti dulu, tatapan mata gadis berumur 17 tahun dan itu artinya dalam pikirannya aku adalah Cho Kyuhyun yang dibencinya—bukan Cho Kyuhyun yang ada di hatinya”

“Geurae” Minji bergumam, keduanya kembali terdiam dengan pikiran yang masih menari-nari “Tapi sunbae, ini sangat ganjil”

Kyuhyun mengangkat wajahnya, ia memandangi Minji yang terlihat sedang menerka-nerka sesuatu.

“Nara tak mengingat kejadian selepas kepergianmu, bukankah kau dan dia berpacaran beberapa bulan sebelum kelulusanmu? Seharusnya dia menyadari bahwa sebelum itu, hubungan kalian telah berbeda—tapi mengapa dalam ingatannya kau masih sama, masih sebagai musuhnya?”

Kyuhyun terdiam

“Tentang itu,, akupun sedang mempertanyakan hal itu”

“Geuraseo, apakah mungkin jika Nara sedang berbohong?”

“Anio. Nara tak mungkin melakukan itu,, sorot matanya—aku mengenal gadis itu dengan baik. Sorot mata yang penuh kebencian terhadapku, serasa ingin membunuhku—itu adalah tatapan Nara 17 tahun, tapi aku tak melihat ada kebohongan dari situ”

“Lalu mengapa satu-satunya yang dilupakannya adalah kenanganmu bersama dia, yang tersimpan justru kenangan tentangmu sebagai musuhnya bukan kekasihnya—wae? Mengapa Nara yang begitu mencintaimu justru sangat ingin melupakanmu? Waeyo?”

Kyuhyun begitu bungkam, otaknyapun sedang bekerja.Ia hanya menarik nafas dalam-dalam.

Flash back end…

#####

Udara pagi merembes paksa melalui jendela. Di dalam kamar, Nara masih terlelap. Cahaya matahari menyilaukan matanya. Gadis itu menggeliat, membalikkan tubuhnya dengan kasar.

Dahinya berkerut ketika tangannya menyentuh sesuatu. Terasa hangat. Kelopak mata Nara terbuka paksa ketika menyadari bahwa benda hangat itu ikut bergerak, memeluknya.

“YAAAA!!!!”

Teriakan Nara mengacaukan suasana pagi yang indah itu. Gadis itu memandangi sosok lain yang hanya beringsut di tempat tidur itu.

“Wae..?” Kyuhyun membuka matanya perlahan.Ia memandangi Nara, wajah gadis itu terlihat menakutkan.

“Ige mwo?????”

Kyuhyun duduk dengan malas, ia menggaruk-garuk kepalanya. Rambutnya yang berantakan tak menyembunyikan wajah tampannya.

“Gwaenchana? Apa ada pencuri yang masuk?” Kyuhyun menyisir seisi ruangan dengan matanya yang masih terlihat mengantuk.

“YYAAA!!!!”

Nara kembali memperdengarkan suaranya yang tajam menusuk telingat.

“Nara-ya, michin!kau berniat membuatku cacat?” geram Kyu “Haissh,,” ia mengucek-ngucek telinganya.

“Cho Kyuhyun! Mengapa kau ada di sini?”

Kyuhyun tak memperdulikan lototan tajam Nara.

“Wae? Ada yang aneh?”

“Yaa! Kau, apa yang kau lakukan di kamar ini??”

“Aish, babo” Kyuhyun mendesis “Lalu kau mau menyuruhku tidur di luar? Seharusnya aku yang bertanya, kau seenaknya masuk ke dalam kamarku..”

“Mworago??”

Nara memandangi isi kamar itu. Terkejut.

“Yaa~ lalu mengapa aku bisa berada di sini?” volume suara Nara mulai menurun, ia menyadari bahwa kamar itu memang bukan miliknya.

“Nara-ya, apa kau tak ingat sedikitpun?” Kyuhyun menatapi Nara “Ah, tentu saja dengan kapasitas otakmu yang limited edition itu, kau tak akan mengingat apapun. Yaa! Song Nara, semalam kau mabuk berat. Araseo?” desis Kyuhyun.

Nara menggigit bibir bawahnya, ia kesal. Terlalu kesal. Gadis itu sedang berpikir, baru terlintas dikepalanya bahwa hal terakhir yang ia ingat adalah menghabiskan sepanjang malam dengan meminum banyak soju di sebuah rumah makan pinggir jalan. Kejadian belakangan ini membuat kepalanya memanas.

“Araseo” gumam Nara, ia kembali menelusuri wajah tampan Kyuhyun “Geurae, tapi mengapa kau tak tidur saja di kamar lain?”

“Kau seenaknya mengambil kamarku. Kau pikir aku bisa terima itu? Aku tak akan mengalah pada bebek jelek sepertimu” Kyuhyun memamerkan evil smirknya membuat Nara semakin kesal “Lagipula, semalam kau begitu liar dan sedikitpun tak melepaskanku” Kyuhyun berdecak.

“Yaa! Apa maksudmu?”Nara mulai pucat.

Kyuhyun tersenyum, senyumannya yang membuat Nara semakin kehilangan kesabaran.

“Song Nara, apa kau tak melihat ini?”

Mata Nara kian melebar ketika Kyuhyun memalingkan wajahnya, memamerkan sisi kiri lehernya.

“Bahkan kau melakukannya di sini”

Kyuhyun menyingkap kemejanya. Nara mendelik, mematung.Leher putih Kyuhyun, juga di dada bidang namja itu—tampak memerah, terlihat seperti kiss mark.

“Aigo~ Nara-ya, kau benar-benar berniat mengotori kesucianku?” Kyuhyun menggelengkan kepalanya heran “Aku tahu, aku sangat tampan tapi bukankah kau sangat keterlaluan dengan memperlakukanku seperti itu?”

Nara merasakan darahnya berhenti mengalir.

“Mw..mwo..mwoya???” Nara terbata “Kau..barusan—barusan, apa katamu??”

“Kau menerjangku dengan sangat kasar,, omo~ gadis ini?”

“CHO KYUHYUN,, NAPPEUN!!!”

Nara berteriak histeris, ia melempari Kyuhyun dengan guling yang langsung ditangkis oleh namja itu.

“Yaa!! Yaa!! Nara-ya,, appo” Kyuhyun terus melindungi wajahnya ketika Nara tak berhenti menghujaninya dengan serangan guling.

“Kau berbohong!! Aku tak mungkin melakukan itu!!” Nara mulai gelap mata dan terus menerjang Kyuhyun.

“Araseo..araseo..kau benar, aku bercanda” Kyuhyun berhasil menghentikan aksi Nara. Ia membersihkan bekas merah di leher dan dadanya, kiss mark itu seketika hilang tanpa bekas “Kau lega?” Kyuhyun memandangi Nara.Bekas itu sengaja dibuatnya dengan lipstick hanya untuk mengerjai Nara.

“Nappeun, kau membuatku marah” Nara menggeram “Kau benar-benar tak melakukan sesuatu padakukan?”

“Waeyo?” Kyuhyun memajukan wajahnya, mendekati Nara “Apa kau berharap terjadi sesuatu diantara kita? Atau mungkin kau benar-benar ingin meninggalkan kiss mark padaku? Araseo, lakukanlah” Kyuhyun tersenyum.

Pandangan Nara mulai buram, emosi yang tinggi ikut berpengaruh pada penglihatannya.

“YAAAA!!!”

Nafas Nara memburu, tak beraturan. Jelas sekali ia terlihat sangat marah.

“Dasar gila!!”

Kyuhyun terdiam, ia hanya memandangi Nara yang terlihat begitu bersemangat untuk membunuhnya. Namja itu meraih tubuh Nara, membuat gadis itu kembali terbaring di atas kasur yang begitu empuk.

Ia mengunci kedua tangan Nara dengan cengkeramannya yang kuat. Memandangi Nara yang tak dapat bergerak.

“Cho Kyuhyun… apa yang kau lakukan?”

Nara tampak gugup melihat sinar mata Kyuhyun yang begitu dalam. Memandangnya dengan sorot mata yang aneh. Namja itu terus memegangi kedua tangannya, Nara tak bisa berontak.

“Yaa~ mwoya…”

Gadis itu mulai gugup. Ia merasakan kecemasan yang luar biasa. Kyuhyun terus menghujaninya dengan sorot matanya yang tajam.Jantung Nara seakan berhenti ketika wajah pemuda itu terus mendekatinya.

“Kyuhyun-a…”

Jantung Nara bekerja dengan esktrim melihat Kyuhyun yang tampak seperti orang lain. Gadis itu memejam matanya kuat-kuat. Kyuhyun menelusuri wajah Nara yang hanya berjarak beberapa centi darinya. Nara bahkan dapat merasakan hangatnya hembusan nafas Kyuhyun di wajahnya.

“Ternyata pori-pori wajahmu sangat besar..”

“Mwo???”

Mata Nara terbuka.Kyuhyun sedang memamerkan senyuman mautnya.

“Waeyo?” tanya Kyuhyun “Kau mengira aku benar-benar serius untuk menyentuhmu? Wae? Ah~ araseo, kau pasti sangat berdebar-debar” senyuman itu kian mengembang di wajah Kyuhyun.

“Yaaa!!!”

Dengan kasar, Nara mendorong tubuh Kyuhyun. Gadis itu segera beranjak dari tempat tidur, menjauhi Kyuhyun.

“Kau..” ia menunjuk Kyuhyun, wajah Nara terlihat memerah “Jangan coba-coba mendekatiku. Michin!” getar suara Nara cukup mengatakan bahwa ia sedang gugup. Gadis itu segera berlalu dari kamar tersebut.

Kyuhyun memandangi pintu yang berdebam keras. Ia kembali tersenyum dan akhirnya tertawa geli.

#####

*Kyuhyun POV*

“MWO???”

Pekikan Nara serasa menghancurkan telingaku. Ia dengan kasar menarik secarik kertas yang sengaja aku laminating.

“Ige mwoya?” mata Nara begitu mendelik. Aish, dia terlihat menyeramkan kali ini.

“Babo. Apa kau tak bisa membaca?”

“Cho Kyuhyun” Nara menggeram.“Apa maksud semua ini?”

“Yaa~ kau ingin aku menjelaskan padamu?” aku hanya bisa memandangi wajahnya yang terlihat gusar.

Aku meraih teh panas yang baru saja kuseduh. Membiarkan Nara memandangi kertas di tangannya dengan begitu seksama.

“Kau ingin membohongiku? Kau kira aku bodoh?” Nara mendengus, “Michin. Aku tak akan masuk dalam perangkapmu”

Nara tertawa.

“Dasar otak tumpul” ledekku. “Kau pikir aku sengaja menjeratmu? Nara-ya, kau sendiri yang menandatangani itu. Lihat, bukankah itu tanda tanganmu?”

Nara kembali membenamkan wajahnya pada secarik kertas itu. Dia terlihat pucat. Ah, kau benar-benar lupa semua tentang kita.

“Kau, adalah tunanganku.Araseo?”

“Andwae!!!!”

Wow, Nara bahkan berteriak histeris. Ia menutupi kedua telinganya. Aish, lama-lama kau sangat menyebalkan.

“Cho Kyuhyun, aku tidak mungkin melakukan hal itu”

“Song Nara. Aku juga tak mungkin melakukan hal gila ini denganmu, menjadikan kau tunanganku sekalipun ini hanyalah sebatas perjanjian sementara—kontrak tunangan”

Nara, mengucapkan kata-kata itu—bagiku, seperti menelan paku. Kontrak tunangan? Hal gila menjadikanmu tunanganku? Nara-ya, aku sangat sedih mengucapkan semua itu. Aku sangat mencintaimu.

Mianhaeyo tapi dalam pikiranmu aku adalah orang yang paling kau benci—mianhaeyo untuk tak mengatakan isi hatiku karena aku tak ingin kau justru semakin membenciku.

“Itu karena yeoja-yeoja mengerikan itu terus mengikutiku, menerorku dengan tawaran cinta mereka. Aigo~ bukan salahku untuk terlahir sempurna”

Nara mendengus, aku dapat melihat kekesalannya.

“Yaa!! Perjanjian ini sepertinya hanya memihak kepadamu? Cho Kyuhyun, kau sangat licik”

Aku merampas lembar perjanjian di tangan Nara.

“Nara, aku tak seburuk itu. Kau hilang ingatan jadi tak mengingat betapa kau sangat menyetujui perjanjian ini”

“Mwo?”

“Bukankah sejak awal kau begitu menyukaiku?” aku tersenyum,

“Mworago?”

“Karena itu kau tak keberatan dengan kontrak ini” Nara terlihat sangat kesal “Yaa~ jangan cemas, kita hanya berakting untuk mengelabui gadis-gadis itu”

Gadis itu, entah apa yang ada dipikirannya. Terdiam dengan sorot mata yang begitu menyeramkan.

“Aku lapar.Cepat masak!!”

Perintahku sambil bangkit dari tempat duduk.

“Yaa!! Cho Kyuhyun!! Kau pikir aku pembantumu??”

“Perjanjian nomor 4” aku menoleh pada Nara “Song Nara—akan mengikuti semua perintah Cho Kyuhyun yang tampan” kulukis senyum manis di wajahku.

Aku rasa dia semakin membenciku.

Apa kau tak mengingatnya sedikitpun?

Itu bukan kontrak atau perjanjian tunangan. Entahlah, sangat kekanak-kanakan tapi kau dan aku benar-benar melakukannya.

Semua yang aku inginkan, tertulis di situ. Surat ini tak sendiri, kau juga menulis yang kau inginkan dariku, akupun menandatanganinya—surat milikmu untukku masih tersimpan dengan aman dalam time kapsul. Mianhae, aku tak menepati janji untuk membuka time kapsul 10 tahun mendatang.

Untuk menggunakan segala cara agar kau mengingat semua tentangku, mianhaeyo. Aku tak akan berhenti mengucapkan maaf padamu, untuk menyiksamu dengan kebencianmu terhadapku.

Dengan cara apapun, walaupun ingatanmu tentangku tak akan pernah kembali tapi kupastikan—kau akan mencintaiku lagi.

Saat ini karena kau begitu membenciku, maka maafkan aku untuk mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu.

Segala hal yang akan terjadi, yang mungkin membuatmu tak nyaman. Seribu maaf dariku tak akan cukup tapi aku akan membayarnya dengan sepuluh ribu cinta—anio, perasaanku untukmu melebihi segalanya, seberapapun pintarnya kau, kau tak akan mampu menghitung rasa cintaku.

Mianhaeyo Nara-ya,, tapi aku terlalu mencintaimu. Jeongmal saranghamnida.

#####

*Author POV*

Hampir pukul 11 malam ketika Nara tiba di rumah. Mendapati Kyuhyun sedang asyik di depan TV.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Nara langsung menuju kamarnya.Kyuhyun tersentak ketika mendengar suara keras—pintu kamar yang sengaja di tutup dengan sangat kasar oleh Nara.

Namja itu hanya memandang pintu sekilas dan kembali memfokuskan pandangannya pada layar TV dihadapannya.

Sementara itu, di dalam kamar—Nara duduk lemas di atas tempat tidurnya. Ia membanting kasar tubuhnya di atas kasurnya yang empuk.

“Kau benar-benar mencari masalah denganku” Nara meremas jari-jari tangannya.

Gadis itu sangat kesal. Di Perusahaan, Kyuhyun membuatnya sangat sibuk. Nara bahkan melewatkan makan siangnya. Ada saja yang dilakukan Kyuhyun untuk membuatnya kesal. Pada akhirnya, Kyuhyun malah memerintahkan Nara untuk lembur.

“Awas kau! Nappeun!!”

Nara menggeram. Ia segera menuju kamar mandi.

30 menit kemudian.

Kyuhyun memandangi Nara yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Ia telah tampak lebih segar setelah selesai mandi.

Dengan ekspresi yang datar. Nara segera duduk di sofa yang sama dengan Kyuhyun, menyisahkan jarak yang cukup jauh di antara mereka. Tak ada pembicaraan yang terjadi. Sesekali Kyuhyun menoleh, memandangi gadis yang duduk di sampingnya—lalu pandangan kedua orang itu hanya tertuju pada monitor TV.

“Omoo~”

Nara berdecak membuat Kyuhyun kembali memandanginya. Mata Nara yang terlihat bersinar dengan ekspresi yang begitu terpesona membuat Kyuhyun mengikuti arah pandang Nara.

Sosok pemuda tampan terlihat di layar TV. Pemuda itu sedang di wawancarai dalam satu program televisi.

“Yesung oppa. Aigo~ bukankah dia sangat tampan..”Nara terus berdecak.

“Ehm..” Kyuhyun berdehem, terbatuk pelan. Ia terlihat tak senang dengan pernyataan Nara “Kau berbicara tentang namja itu???”

“Ne. Waeyo?” tanya Nara “Semua gadis tergila-gila padanya. Omona, oppa terlihat sangat memukau”

“Mwoya?” Kyuhyun tertawa “Yaa~ apa matamu rusak? Orang seperti itu kau katakan tampan? Aigo~ seleramu sangat rendah”

“Cho Kyuhyun!!” desis Nara,

“Wae? Aku bahkan lebih tampan darinya—dia bukan tandinganku. Periksakan matamu”

“Dasar gila. Kau tidak sebanding dengan Yesung oppa”

“Oppa??”

Kyuhyun menarik nafas kasar.

“Geurom—Yesung oppa, dia seniorku di universitas. Kami bahkan sangat akrab,.Molla-yo??”

“Song Nara. Meskipun kita tak sekampus, tapi di SMA aku juga seniormu, lalu mengapa kau tak memanggilku oppa??”

“Mwo? Oppa?? Cihh,, lihat dirimu..” Nara menggelengkan kepala prihatin membuat emosi Kyuhyun mulai meningkat “Ah,, aku tak menyangka kau akan menjadi artis terkenal. Kau bahkan semakin tampan, oppa” Nara melipat kedua tangannya—menjadikan lipatan tangannya sebagai penopang dagu, ia terus terkesima memandangi Yesung.

Kyuhyun, mendesah tak percaya melihat kelakuan Nara.

“Nara-ya. Bagimu, aku adalah namja paling tampan. Sekalipun ada yang lebih tampan dariku,, kau harus tetap menganggap aku yang paling tampan.  Apa kau tak ingat itu isi perjanjian nomor 3?”

“Mwo? Mworago??”

Nara mendelik.

“Yaa~ kau harus membaca dan mengingat kembali seluruh point dalam perjanjian itu”

“Kyuhyun-a, mengapa semua point dalam perjanjian itu hanya menguntungkanmu? Bagaimana denganku? Apakah aku benar-benar menandatangi perjanjian itu??”

Nara menatap Kyuhyun dengan penuh kecurigaan. Ia tak yakin dengan semua yang dikatakan Kyuhyun.

“Sudah kubilang, kau itu terlalu sangat mengagumiku. Kau masih saja tak percaya padaku” Kyuhyun menggeleng pelan. Ia memamerkan senyuman yang selalu membuat Nara bertambah kesal.

“Andwae!!” tepis Nara.

Gadis itu memegangi kedua tangannya, merapatkan—ia merinding mendengar penuturan Kyuhyun.

“Yaa!!” seru Nara “Apa yang kau lakukan?” ia memandangi Kyuhyun sambil menunjuk-nunjuk ke televisi ketika dengan sengaja Kyuhyun mengganti chanel yang sedang mereka tonton.

“Siaran membosankan..” ujar Kyuhyun.

Namja itu memencet remote. Mencari chanel yang diinginkan.

“Mwoya? Yaa! Apa-apaan ini?” Kyuhyun terlihat sangat kesal. Setiap kali mengganti chanel, justru selalu tampak wajah Yesung.

“Aigo~~ oppa, sangat popular.. Cho Kyuhyun, dia sangat hebat bukan?”

“Aishh!!”

Klik

“Yaa~~ mengapa kau mematikan itu?” geram Nara melihat layar televisi yang telah hitam.

“Tak ada siaran yang bagus. Pertelevisian Korea tingkat kreativitasnya mulai menurun, mengapa hanya membahas hal-hal tak penting seperti itu?”

Kyuhyun berkilah.

“Song Nara, buatkan aku ramyeon. Aku sangat lapar”

“Sihreo!!” Nara masih kesal dengan perlakuan Kyuhyun.

“Ppalli…” Kyuhyun menendang-nendang paha Nara dengan kakinya.

“YAAA!!!” Nara memukul kaki Kyuhyun “Michin..” ia menghujani Kyuhyun dengan tatapannya yang begitu galak.

Nara beranjak. Meninggalkan Kyuhyun, ia menghentak-hentakkan kakinya, terlihat sekali jika ia sedang marah.

Kyuhyun kembali menyalakan TV. Dengan raut yang begitu serius, memperhatikan wajah namja yang terlihat di TV.

“Apa bagusnya dia? Begitu mengaguminya? Tak masuk akal! Aku lebih tampan, anio—bahkan sangat tampan melebihinya” Kyuhyun berbicara sendiri dengan ekspresi tak percaya bercampur kesal “Oppa? Yesung oppa? Yang benar saja..” ia berdecak heran sambil menirukan panggilan Nara untuk namja itu.

Kyuhyun kembali mematikan televisi. Ia membanting tubuhnya dengan kasar di atas sofa. Terlihat sekali jika ia sangat kesal, sesekali mengumpat tak jelas sambil membanting-banting kakinya di sofa—childish.

#####

Nara terlihat keluar dari Severance Gangnam Hospital. Sehabis memeriksakan diri, ia menemui Minji  sebelum meninggalkan rumah sakit itu. Gadis itu melirik pada jam tangannya. Masih ada waktu sebelum kembali ke kantor.

Ia menarik nafas pasti, membulatkan tekad—di kepalanya telah terlintas tempat yang akan menjadi tujuannya.

~~~

Nara memasuki sebuah restaurant kecil di dekat kampus tempatnya kuliah dulu. Restaurant ramyeon itu merupakan tempat makan favoritnya ketika masih berkuliah.

“Nara-ssi??”

Kedatangannya langsung disambut oleh wanita paruh baya pemilik restaurant itu.

“Annyeong ajumma..” Nara menundukkan kepala.

“Lama tak melihatmu, bagaimana keadaanmu?”

“Ne, belakangan ini sangat sibuk”

Nara terlihat begitu akrab dengan wanita itu.

“Kau tak datang bersamanya?”

“Ne??” Nara tampak bingung, ia memandangi ajumma yang terlihat mencari-cari seseorang dengan matanya “Yesung oppa?” tanya Nara lagi, mengingat semasa kuliah ia selalu bersama Yesung datang ke restaurant itu.

“Anio. Yesung sudah menjadi orang terkenal—pasti tak akan datang ke tempat ini. Aigo~ jika tahu akan begini, harusnya sejak dulu aku meminta tanda tangan dan berfoto bersamanya”

Nara tertawa pelan mendengar celoteh ajumma.

“Geurae,, tapi mengapa kau tak datang bersama orang itu?” ajumma kembali menatapi Nara “Namja bertubuh tinggi. Meskipun sikap dan gaya bicaranya terlihat sedikit menyebalkan—tapi dia sangat tampan”

Nara terdiam. Ia merasa tak asing lagi dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh ajumma.

“Cho Kyuhyun??”

Nara bertanya pada dirinya sendiri.

“Ajumma..apakah aku pernah ke sini bersama namja itu?” Nara seperti tak yakin.

“Aigo~ kau masih semuda ini tapi begitu pelupa. Beberapa kali kau datang dengannya. Bahkan namja itu beberapa kali ke sini seorang diri dan sekarang kau juga datang sendiri. Waeyo? Apakah kalian sedang bertengkar? Nara-ya, siapa dia? Bukankah dia pacarmu?”

“Andwae..” tepis Nara “Dia hanya atasanku di perusahaan”

“Jeongmaliya? Aigoo~ muda, tampan dan juga kaya. Nara-ya, kau seharusnya menjadikan orang seperti itu sebagai suamimu”

“Ajumma..” potong Nara. Ia lalu mengalihkan topik dengan memesan ramyeon.

Nara menuju ke tempat duduk favoritnya—di sudut ruangan, dekat jendela. Gadis itu mengedarkan pandangan keluar, melihat mobil dan orang-orang yang berlalu lalang di luar sana sambil menunggu pesanannya tiba.

Lamunan Nara berakhir ketika seorang pelayan meletakan semangkuk besar ramyeon di hadapannya. Nara melempar senyum pada pelayan itu.

Gadis itu mengambil sumpit, mengaduk-aduk ramyeon di hadapannya. Ia siap memasukkan ramyeon ke dalam mulutnya ketika seseorang menarik mangkuk berisi ramyeon itu.

Nara terhenti.Ia menatapi seorang namja yang telah duduk di hadapannya. Namja itu tersenyum lebar pada Nara yang tertegun.

“Ajumma…berikan aku semangkuk ramyeon!” teriak namja itu.

“Oppa..Yesung oppa???”

Nara hampir tak berkedip memandangi namja itu.

“Waeyo?” tanya Yesung “Aigo~ mengapa kau semakin cantik Nara-ya” Yesung mencubiti pipi Nara.

“Oppa,, mengapa kau di sini??”

Nara mengedarkan pandangan. Artis terkenal seperti Yesung pasti selalu diikuti oleh pers maupun para fans-nya.

“Kau tenang saja,, aku berhasil mengelabui mereka” ujar namja itu “Aigoo~ sudah lama tidak ke sini, aku sangat merindukan tempat ini—tak kusangka akan bertemu denganmu di sini..”

“Yesung-a”

“Ah, ajumma—annyeong..”

Ajumma pemilik restaurant kecil itu langsung menghampiri Yesung. Ia duduk disamping Yesung dan terus memandangi wajah pemuda itu.

“Ajumma—apa ada yang aneh denganku?” tanya Yesung yang sedikit kebingungan melihat tingkah ajumma.

“Anio, aish..kau sekarang menjadi artis tenar” ia berdecak “Yaaa~ berikan tanda tanganmu. Ah, mari kita berfoto—aku akan memperbesar fotonya, gadis-gadis pasti akan lebih sering berkunjung ke sini”

Yesung dan Nara hanya tertawa.

“Jamkkanman, sebaiknya aku menyiapkan ramyeonmu dulu..”

Ajumma itu berlalu meninggalkan Yesung dan Nara.

“Eotteohke? Apa kau tak merindukanku sedikitpun?” goda Yesung.

“Oppa…orang sepertimu mana mungkin masih mengingatku” desis Nara.

Setelah berkiprah di dunia keartisan, Yesung dan Nara memang hampir tak pernah bertemu.

“Mianhae, kau pasti tahu seperti apa ketatnya persaingan perindustrian musik korea” ujar Yesung “Berikan handphonemu”

Nara hanya menuruti perintah Yesung. Ia memberikan handphonenya dan langsung disambut oleh pemuda itu.

“Akhirnya aku bisa menghubungimu kelak, aku kehilangan semua kontak makanya tak bisa menghubungimu” Yesung mengembalikan handphone Nara.

“Oppa—mengingat kau sekarang adalah orang terkenal. Perlukah aku berfoto denganmu?” goda Nara.

“Tentu saja”

“Oppa, kau tak berubah sedikitpun”

“Yaa~ kemarilah” Yesung memajukan kepalanya dan meminta Nara melakukan hal yang sama. Keduanya menoleh ke arah kamera handphone yang diarahkan oleh Yesung.

Klik…blitz kamera usai berfoto.

“Aku penggemar beratmu, jadi harus berfoto denganmu” ujar Yesung sambil memandangi hasil fotonya bersama Nara.

Gadis itu hanya tersenyum. Merasa lucu dengan tingkah seniornya itu.

“Lalu bagaimana dengan Cho Kyuhyun?” tanya Yesung.

“Oppa, kau mengenalnya?” Nara balik bertanya.

“Tentu saja—bagaimana mungkin aku melupakan si menyebalkan itu. Dia selalu menatapku dengan tatapan dinginnya itu. Jika ia tahu aku bertemu denganmu, aku rasa dia akan sangat kesal padaku. Tapi mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Ah,, anio” elak Nara.

Nara pasti sadar jika Yesung tak tahu kecelakaan yang menimpanya membuat Nara melupakan banyak memori tentang Kyuhyun.

“Dia sangat cemburu padaku—ah, tentu saja karena kau adalah pacarnya”

“Mwo?” tatap kaget Nara

“Waeyo?”

“Andwae..sejak kapan aku berpacaran dengan namja sinting dan menyebalkan seperti dia?” Nara terlihat kesal.

“Nara-ya,, kau sendiri yang memperkenalkan padaku jika dia adalah pacarmu,, kau tahu saat itu aku…” Yesung terdiam “Yaa! Mengapa berkata seperti itu? Kau bertengkar dengannya?”

“Aish, kau benar-benar buruk Cho Kyuhyun” desis Nara “Oppa, bukankah dia sangat keterlaluan? Memintaku menjadi pacarnya—ani, kontrak sebagai pacar..”

“Mworago???”

“Ah, entahlah tapi aku benar-benar menandatangani surat perjanjian itu. Demi menghindari gadis-gadis yang mengejarnya maka memintaku melakukan itu—babo, mengapa aku bisa menyanggupi permintaannya yang sangat tak masuk akal itu? Aissh,, benar-benar frustasi”

“Benarkah itu?” wajah Yesung terlihat menegang “Tapi bukankah kau…” ia masih begitu kaget meskipun terlihat sedikit kelegaan di wajahnya.

“Molla..” Nara menggeleng kasar “Awas saja kau, Cho Kyuhyun!” Nara menggeram

Gadis itu terdiam dengan berbagai rasa di hatinya. Yesung memandangi wajah cantik yang terlihat kesal itu.

Sementara itu, tanpa di sadari—di sudut lain, seorang namja sedang memperhatikan Nara dan Yesung dengan tatapan dingin dan tajam. Cho Kyuhyun. Ia beranjak meninggalkan restaurant tanpa menyentuh sedikitpun ramyeon di hadapannya.

~~~

C&M Company…

Lift lantai 25 terbuka. Nara berjalan gontai disepanjang koridor kantor, ia berbelok ke satu arah dan membuka sebuah pintu.

Dalam ruangan yang cukup luas, terdapat sekitar 8 orang di dalam ruangan itu. Mereka tampak begitu sibuk di depan komputer mereka masing-masing.

“Manager, akhirnya kau datang?”

Seorang pria memandangi Nara. Tak hanya namja itu tapi wajah semua orang terlihat cemas dan tegang—memandangi Nara dengan sorot mata yang penuh kelegaan.

“Ah, aku ada sedikit urusan.Waeyo?”

“Direktur—dia terus mencarimu” ujar seorang wanita muda

“Nara-ya,, dia menelepon dua kali dalam kurun waktu lima menit. Sepertinya dia dalam mood yang tak baik, kau tahu sejak tadi emosinya dipuncak tertinggi. Aigo~ kau harus menyelamatkan kami” ujar wanita yang tampak sebaya dengan Nara.

“Ciihh, apa lagi maunya?” dengus Nara

“Molla. Dia terus menanyakanmu”

“Babo, bukankah dia hanya perlu meneleponku?”

Nara terlihat sebal.

“Sebaiknya kau temui dia sekarang. Selamatkan kami—aku tak ingin janji kencanku batal hanya karena diperintahkan Direktur untuk lembur” desis kesal seorang gadis.

“Araseo”

Nara menarik nafas. Ia segera melangkah gontai, membuka pintu ruang kerjanya. Setelah meletakkan tas, gadis itu langsung bersandar di kursinya. Nara adalah manager divisi perencanaan di C&M, sebuah perusahaan raksasa yang bergerak dibidang real estate. Meski di ruangan yang sama hanya beberapa orang yang bersamanya tapi ia membawahi banyak orang, khususnya di bagian perencanaan.

Nara segera bangkit dan meninggalkan ruang kerjanya. Ia berjalan di sepanjang koridor, masuk ke dalam lift yang segera membawanya ke lantai 30. Berjalan dan sesekali saling memberi hormat dengan menundukkan kepala ketika berpapasan dengan atasan maupun bawahannya.

Gadis itu tiba di sebuah ruangan yang sangat luas. Seorang sekretaris telah menyambut Nara dengan senyumannya.

“Ada apa dengannya?” tanya Nara

“Molla..sebaiknya kau temui dia” ujar sang sekretaris.

Nara mengangguk. Ia segera memasuki sebuah ruangan. Namja itu sedang duduk di kursinya membelakangi Nara, tangan kanannya terlihat sedang memainkan penanya.

“Direktur, kau mencariku?”

Kursi itu berputar. Cho Kyuhyun memandangi Nara tajam. Ia lalu membuka sebuah laci dan meletakkan sesuatu di atas meja.

“Ambilah”

Nara memandangi kotak hitam kecil yang baru saja ditaruh Kyuhyun. Meskipun dengan sedikit kebingungan, Nara mengambil kotak itu.

“Buka!!”

“Ne?” Nara memandangi Kyuhyun dengan sorot mata yang terlihat bingung.

“Ppalli..” ujar Kyuhyun.

Gadis itu mengikuti perintah Kyuhyun. Sedikit tercengang mendapati sebuah jam tangan cantik di dalam kotak itu.

“Direktur ini…?” Nara jelas sangat kebingungan “Sekarang bahkan bukan hari ulang tahunku, mengapa kau memberikanku jam ini?”

“Kau pasti membutuhkan jam itu” Ujar Kyuhyun

Nara masih berusaha untuk menangkap maksud Kyuhyun.

“Lalai dan ceroboh”

“Ne?”

“Sejak dulu kau tak pernah berubah. Orang yang tidak disiplin sepertimu selalu menganggap waktu adalah hal sepele maka yang paling kau butuhkan saat ini adalah benda itu agar kau tak lupa waktu”

Nara tercekat.

“Joesong-hamnida…ada sesuatu yang membuatku terlambat”

Meskipun sangat membenci Kyuhyun tapi saat ini masih dalam jam kerja, namja itu adalah atasannya dan dia harus menghormatinya.

“Geurae??” tatap Kyuhyun “Sebaiknya hal itu karena sesuatu yang menyangkut pekerjaan maka aku akan memaafkanmu karena aku tak bisa membayangkan jika kau terlambat hanya karena urusan pribadi—apalagi jika hal itu karena kau sedang menemui seorang pria” nada Kyuhyun terdengar sangat tenang namun begitu menusuk.

“Direktur,, aku..”

Nara kembali tercekat, keterlambatannya karena pertemuan tak disengaja dengan sunbae-nya—Yesung, di restaurant ramyeon tadi.

“Ah, tenang saja. Aku tak sedang melarangmu untuk berkencan. Kau masih punya banyak waktu setelah jam kerja” Kyuhyun memotong ucapan Nara “Aku harap kau tidak lupa dengan proyek resort di pulau Wando”

“Aku sudah menyiapkan laporan untuk itu” lanjut Nara

“Bagus” Kyuhyun mengangguk-angguk “Kalau begitu, kau hanya butuh waktu lima menit untuk meletakkan dokumen itu di mejaku”

Perkataan Kyuhyun membuat Nara sedikit tersentak. Gadis itu hanya terdiam memandangi atasannya itu dengan sorot mata yang terlihat kebingungan.

“Mengapa kau masih berdiri di situ?” Tanya Kyuhyun yang melihat Nara tak bergerak sedikitpun “Aku serius” lanjutnya.

“Yaa!! Cho Kyuhyun!!” Nara telah kehilangan kesabarannya. Ia tak lagi perduli jika yang ada dihadapannya itu adalah atasannya.

Menyerahkan dokumen dalam waktu lima menit? Ruang kerja mereka tak selantai, dengan aktivitas kantor yang begitu sibuk lalu meminta Nara melakukan hal tersebut—terasa mustahil untuk area kantor yang seluas itu.

“Waeyo? Apakah perkataanmu tentang laporan proyek itu hanyalah bualanmu saja?” Kyuhyun menghujani Nara dengan tatapannya yang begitu serius “Waktumu tersisa tiga menit” Kyuhyun memandangi jam tangannya.

Nara sangat kesal, ia hanya bisa menggigiti bibir bawahnya. Membuang tatapan ingin memusnahkan namja menyebalkan itu dari muka bumi—tanpa banyak bicara Nara bergegas meninggalkan ruangan itu.

Semua orang yang berpapasan dengannya tampak heran melihat Nara yang berlari-larian di kantor. Ia menekan tombol lift berkali-kali, wajahnya tampak cemas menunggu lift terbuka.

“Manager…”

Nara bahkan tak memperdulikan panggilan sekretarisnya, ia terus ke dalam ruang kerja. Meraih dokumen di atas meja dan kemudian segera berlari. Ia harus segera menyerahkan dokumen itu pada Kyuhyun.

Kyuhyun menatapi dokumen di atas mejanya. Pandangannya teralih pada Nara yang berdiri di hadapannya. Gadis itu terlihat kelelahan dengan nafas yang belum beraturan, yang dimintai oleh Kyuhyun untuk dilakukan gadis itu bukanlah hal yang main-main. Nara hampir kehilangan nafasnya karena ulah Kyuhyun.

Kyuhyun meraih dokumen itu. Ia membuka lembar demi lembar, terlihat serius membaca isi laporan itu.

“Apa ini??”

Nara memandangi Kyuhyun ketika namja itu mengeluarkan pertanyaan itu.

“Direktur—bukankah kau yang meminta dokumen itu? Laporan proyek resort Wando” Nara menahan nafas, berusaha agar amarahnya tak pecah “Wilayah yang akan dibangun resort, sangat strategis dan pulau itu akan banyak menarik perhatian wisatawan. Budget yang diperkirakan dan beberapa pilihan tema resort sudah kami persiapkan—selanjutnya menyertakan perusahaan-perusahaan arsitek untuk mengajukan desain sesuai tema yang kita minta. Pengumuman lomba desain akan kami release bulan depan. Saat ini, hanya menunggu persetujuan Direktur untuk memilih salah satu dari tema resort itu”

Nara menyudahi garis besar isi dari laporan tim-nya untuk proyek tersebut.

Kyuhyun beranjak.Ia memutari meja, mendekati Nara. Tangannya kembali meraih dokumen yang sebelumnya sempat diletakkan di atas meja.

“Apakah ini hasil kerja kerasmu?”

“Ne???”

“Ini yang kau namakan hasil kerja dan laporan penting kalian? Memakan waktu seminggu yang kalian tuangkan dalam laporan adalah hal-hal menggelikan seperti ini??” ia memandang tajam pada Nara “Apa kalian benar-benar bekerja?”

“Direktur”

Nara berusaha untuk menyimak maksud dari kemarahan Kyuhyun. Ia dan tim telah bekerja keras, melakukan yang terbaik dan hal itu tidak dianggap oleh Kyuhyun

“Kami sudah melaporkan semua yang dibutuhkan dan sesuai dengan kesepakatan direksi, lalu—apa yang salah dengan itu?”

“Mwo? Apa yang salah?” Kyuhyun menyerahkan dokumen pada Nara “Bacalah, bacalah isi laporan kalian ini”

Nara yang tampak kebingungan, kembali membuka dokumen tersebut.

“Sekarang, katakan padaku—apa yang salah dengan laporan ini?” Kyuhyun memandangi Nara. “Ah, jadi kau sendiri tak tahu kesalahanmu?” ia kembali merampas dengan sedikit kasar dokumen itu dari tangan Nara.

“Geurae~ sebenarnya, kau ingin kami melakukan apa?” Nara tak bisa menahan kesabaran.

“Song Nara-ssi. Gambaran laporan ini, semua orang tak akan ragukan jika resort itu akan berdiri dengan megah” Kyuhyun mengayun-ayunkan dokumen di tangannya itu dihadapan Nara “Tak ada yang ragu dengan hasil kerja Song Nara—lalu, dimana kalian akan mendirikan resort itu?”

“Ne?”

“Apakah kalian pikir Wando adalah pulau kosong? Apakah kalian sudah menegosiasikan pembangunan resort itu dengan penduduk setempat?”

Nara terdiam, ia ingin menyela tapi tertahan oleh tatapan tajam Kyuhyun.

“Sekarang, aku bisa saja menyetujui laporan ini—kalian boleh melanjutkan proses pekerjaan ini. Lalu, bagaimana jika penduduk pulau Wando tak menyetujui pembangunan resort. Apakah kalian masih akan melanjutkan pembangunan resort? Atau kalian akan membangunnya di langit pulau Wando???”

“Direktur. Manager Lee telah melakukan pertemuan dengan penduduk—mereka telah menegosiasikan pembangunan resort pada penduduk”

“Ah~ jeongmaliya? Lalu bagaimana hasil akhirnya?”

Nara kembali terdiam.

“Bukankah kerja kalian sangat tak berguna?” Kyuhyun membuang laporan itu ke dalam tempat sampah membuat Nara mendelik “Yakinkan penduduk untuk pembangunan resort lalu serahkan laporan baru padaku” Kyuhyun menikam Nara dengan tatapan tajamnya.

“Yaaa! Cho Kyuhyun!! Apa yang kau lakukan??”

Nara tak terima hasil jerih payahnya bersama tim dibuang begitu saja ke dalam tempat sampah.

“Bukankah hal-hal yang tak penting harus segera disingkirkan?”

“Kau~ tak perlu membuangnya! Kau bisa serahkan padaku”

“Kau masih ingin menyimpan sampah itu? Song Nara—perusahaan menggajimu dengan posisimu sekarang, lalu hal itu yang kau namakan pekerjaan??” Kyuhyun menunjuk ke arah tempat sampah.

“Cho Kyuhyun!!”

“Apa karena oppamu?”

“Mwo?”

“Ne. Kau meninggalkan pekerjaan, mengabaikannya hanya untuk bertemu namja itu? Yesung oppamu itu?”

“Yaa!! Cho Kyuhyun!!” hardik Nara

“Waeyo? Apakah aku salah?” tatap Kyuhyun “Selesaikan pekerjaanmu, katakan pada tim-mu untuk tidak menjadi orang sepertimu”

Nara terdiam. Ia tak mampu berkata-kata hanya nafasnya yang memburu. Memandangi Kyuhyun dengan bola matanya yang mulai memerah.

Kyuhyun memandangi gadis itu, dua tetes air mata mengalir di wajahnya.

“Kami sudah melakukan yang terbaik, tak bisakah kau menghargainya—sedikit saja, berikan kepedulianmu. Aku tak perduli semua perkataanmu padaku, tapi kumohon untuk tidak melakukan hal yang sama pada timku”

Nara  segera meninggalkan ruangan itu. Kyuhyun hanya terdiam, sorot matanya berubah sendu. Raut wajahnya yang sedari tadi terus mengeras dan terlihat geram tanpa keramahan di sana perlahan mulai menghilang tergantikan oleh wajahnya yang begitu sedih.

~to be continue~

Iklan

456 thoughts on “After Story…I Hate You, But I bla bla bla (Part 1)

  1. KakaCaca berkata:

    Hai kak,aku baru nemu (nemu? :D) blog kaka dari rekomendasi author di salah satu blog,katanya sih ff disini bagus2,krn penasaran jadi mampir deh, ijin baca ya kak 😉

  2. Minmoongie berkata:

    kyuhyun kenapa ga terus terang aja? biar nara ga bingung, nara juga bingungin cuma ingat kyu yg jadi musuhnya..

  3. FitriFitri berkata:

    Kok nyesek ya. Kyuhyun cemburu tapi melihat keadaan nara yang sakit… Dia merasa tidak berhak. Duh kyuhyun sepertinya harus berkorban lebih banyak lagi, semoga nara cepat sembuh dan mengingatnya meski aku belum baca part 2 nya tapi memabaca part ini saja sudah membuktikan jika mereka dulu bersama dan bahagia… Semangat Kyu!

  4. ina berkata:

    Sebenernya udah baca dari mlem tapi baru sempet komen hehe
    Bingung ko nara hilang ingatan jadinya..
    Tpi biasanya klo ga inget sama orang tertentu pasti pas kecelakaan lagi ada masalah ama tu orang atau kepikiran
    Mybe?hehe
    Seru ceritanya! Ga ngebosenin jdi ga sabar part selanjutnya..

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s