After Story…I Hate You, But I bla bla bla (Part 2)

Image

Main Cast    : Cho Kyuhyun (Suju), Song Nara (Fiction)

–> FF ini murni imaginasiku, say no to plagiat!!!

~~~~

Deru mesin mobil, berhenti tepat di sebuah pekarangan. Kyuhyun turun dari dalam mobilnya. Ia melonggarkan ikatan dasinya, raut wajah namja itu terlihat sangat kelelahan. Sudah tengah malam ketika ia tiba di rumah.

Dahi Kyuhyun sedikit berkerut. Merasakan suasana rumahnya sedikit aneh. Tanpa cahaya—ah, rumah itu terlihat gelap. Wajah Kyuhyun berubah tercengang. Dengan terburu-buru menutup pintu mobilnya dan bergegas masuk ke dalam rumah.

“Nara!!” panggil Kyuhyun.

Keadaan rumah yang begitu gelap membuatnya tak bisa melihat keadaan sekitarnya.

“Nara..dimana kau??” teriak Kyuhyun “Song Nara!! Aaah… aish” ia mengerang kesakitan ketika kakinya menendang sesuatu.

“Nara-ya..Nara!!”

Kyuhyun mengeluarkan handphone, dengan bantuan cahaya handphone dapat membantunya untuk melihat dalam kegelapan.

“Song Nara!!”

Ia terus meneriaki nama gadis itu. Nara adalah gadis yang begitu takut berada di tempat gelap. Ia tak akan bisa bergerak dan hanya meringkuk dalam kegelapan sambil menangis—Kyuhyun tahu betul hal itu.

“Kyuhyun-a..”

Suara Nara terdengar serak. Tentu saja, ia pasti terus menangis.

“Nara,, dimana kau??”

“Kyuhyun-a…gelap sekali”

“Yaa~ Song Nara! Kau jangan bergerak..”Namja itu terus memasang pendengarannya mencari posisi Nara di rumahnya yang lumayan besar itu.

“Nara..” Ia akhirnya menemukan Nara yang sedang meringkuk tak jauh dari pintu kamar tidurnya “Nara-ya..” Kyuhyun menghampiri Nara.

Sekejap Nara memeluk tubuh Kyuhyun.

“Mengapa kau lama sekali?” isak Nara “Gelap..aku sangat takut”

“Mianhaeyo” Kyuhyun mendekap tubuh yang gemetar itu.

Satu-satunya hal yang paling ditakuti Nara adalah berada dalam tempat yang gelap. Kyuhyun menuntun Nara untuk duduk di sebuah kursi dalam ruangan itu. Ia menyalakan lilin.

“Yaa~ kau mau kemana?” Nara memegang tangan Kyuhyun ketika namja itu hendak pergi

“Aku akan memeriksa listriknya. Kau jangan takut” ujar Kyuhyun “Jangan kemana-mana”

Nara mengangguk.

Rumah itu kembali terang setelah Kyuhyun menelepon petugas, tampaknya ada kerusakan yang terjadi.

Kyuhyun menyerahkan secangkir coklat panas pada Nara. Gadis itu menerimanya tanpa banyak bicara. Ia meneguknya sedikit. Wajah Nara masih terlihat pucat, matanyapun tampak sembab.

“Gwaenchanayo?” Tanya Kyuhyun.

“Ne..” Nara mengangguk pelan. Ia kembali meminum coklat panas itu.

Nara diam. Kyuhyunpun diam, meski matanya tak lepas dari wajah Nara.

“Sebaiknya, aku kembali ke kamar” ujar Nara, ia beranjak. Pergi meninggalkan Kyuhyun.

Gadis itu—masih menyisahkan sedikit kekesalan di hatinya akibat perlakuan Kyuhyun siang tadi di kantor, Kyuhyun yang memarahinya habis-habisan karena proyek resort pulau Wando tapi karena namja itu pula yang menolongnya barusan membuatnya merasa tak tahu harus mengatakan apapun. Ia merasa canggung dan memilih untuk kembali ke kamarnya.

Nara membuang tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Mencoba tidur tapi kantuknya telah hilang. Ia justru merasa gerah padahal AC di kamarnya dalam kondisi baik.

Tengah malam itu, Nara melakukan hal yang tak biasa dengan memutuskan untuk kembali mandi.

Guyuran air dari shower serasa menyegarkan tubuh gadis itu. Namun kesenangannya tak berlangsung lama ketika aliran air tiba-tiba terhenti. Nara memeriksa dan ia tak berhasil membuat shower kembali berfungsi dengan baik.

“Aish..menyebalkan” geram Nara.

Mulutnya terus mengoceh tak jelas. Ia terdiam, sedang berpikir lalu matanya mulai berbinar. Sepertinya ia mendapat ide baru. Nara merasa bodoh jika berpikir satu-satunya kamar mandi hanya berada di dalam kamar tidurnya.

Gadis itu segera melingkarkan handuk dan keluar. Ia menutup pintu kamarnya perlahan lalu mengendap-endap. Kamar mandi lainnya ada di dekat ruang tengah. Tanpa pikir panjang Nara segera masuk ke dalam kamar mandi itu.

Nara memegangi lilitan handuknya, ia bersiap untuk melepas handuk yang membalut tubuhnya ketika pemandangan dihadapannya menghentikan aksinya. Nara berdiri mematung dengan wajah yang menegang. Bola matanya melebar.

Bagaimana mungkin Nara tak bereaksi seheboh itu jika matanya menangkap sosok Kyuhyun yang begitu menikmati guyuran air dari shower yang membasahinya—mengalir di kepala, seperti ribuan anak sungai di wajahnya. Pandangan Nara turun ke punggung, bahu namja itu yang terlihat sangat bidang.

Kyuhyun menoleh sekilas dan kembali melanjutkan mandinya sebelum akhirnya ia tercekat lalu menoleh secepat kilat kepada Nara yang masih mematung.

“YAAA !!!!” Teriak Kyuhyun yang langsung meraih handuk untuk menutupi tubuhnya “Song Nara.. apa yang kau lakukan????”

Nara menelan ludah kasar dan detik selanjutnya…

“KKYYAAAAAAAAA…!!!!” gadis itu berteriak histeris. Ia langsung berlari keluar kamar mandi meninggalkan Kyuhyun yang kebingungan, mulutnya digerakkan tapi tak tahu kata-kata apa yang harus dikeluarkan.

Kyuhyun memandangi keadaan dirinya dan langsung lemas.

Nara menutup pintu kamar dan menguncinya. Nara terduduk di atas tempat tidurnya.

“Andwae..” gadis itu bergumam “Song Nara kau tidak melihat apapun..andwae..andwae..”

Nara menepuk-nepuk pipinya. Ia mengebas-ngebaskan tangan diwajahnya yang memerah. Gadis itu kembali terdiam

“Hwwaaaaaaaa….!!!!”

Nara menggeleng histeris dan membenamkan wajahnya di bantal.

~~~

Keesokan harinya…

Nara keluar dari dalam kamar tidurnya. Ia telah berpakaian rapi dan siap berangkat ke kantor. Mata Nara memandangi keadaan rumah yang selalu tampak seperti biasanya.

Gadis itu melangkah pelan, seperti sedang berusaha agar langkah kakinya tidak terdengar atau kepergiannya tidak diketahui orang lain.

“Kau tak sarapan dulu??”

Nara tersentak kaget. Ia terkejut bukan main.

“Waeyo? Kau seperti baru melihat hantu?” Tanya Kyuhyun santai.

Entah mengapa Nara tak melihat namja itu sedang duduk di meja makan. Terlihat menikmati sarapannya meskipun itu hanya roti bersama selai ditemani secangkir teh.

“Minumlah..” Kyuhyun menuangkan teh di sebuah cangkir dan mendorong cangkir itu agar Nara mengambilnya.

Nara mendekati meja makan. Ia duduk. Meneguk teh itu. Sesekali dengan ekor matanya ia melirik pada Kyuhyun yang terlihat serius membaca Koran.

“Rotinya ada di piring—bukan di wajahku”

Kyuhyun menyadari jika Nara terus mencuri pandang.

“Aku..aku pergi…”

“Yaa~ Song Nara-ssi” langkah kaki Nara terhenti “Tentang kejadian semalam…”

Raut wajah Nara berubah seketika

“Anio!! Kau tenang saja—aku, tak melihat apapun” Nara berbalik, menatapi Kyuhyun.

Raut wajah Kyuhyunpun terlihat sama tegangnya dengan Nara.

“Aku tak melihat apapun” ulang Nara namun suaranya yang terdengar begitu gugup justru membuat Kyuhyun mendesis

“Yaa!! Nara…seberapa banyak kau melihatnya?” Kyuhyun tak mempercayai ucapan Nara padanya “Yaaa~ kau..melihat—semuanya?” ia begitu tegang.

“Andwae!!!” Nara menutup telinga “Yaa! Cho Kyuhyun, aku tak melihat apapun. Araseo?”

“Gaeraseo?”

“Wae? Kau tak percaya padaku?”

‘Anio. Katakan saja jika kau melihat tubuhku terlalu banyak” suara Kyuhyun mulai beraturan “Kau mengambil untung terlalu banyak” Kyuhyun bergumam santai sambil membasahi kerongkongannya dengan seteguk teh.

“Yaaa!! Nappeun!” Nara tampak kesal “Aku merasa dirugikan..kau membuatku bermimpi buruk sepanjang malam, michin!”

“Yaa~ bukankah itu artinya kau bukan tak melihat apapun? Benarkah?” selidik Kyuhyun.

“Aishh..molla. Molla!” desis Nara “Siapa yang menyuruhmu menggunakan kamar mandi itu? Bukankah di kamarmu juga ada kamar mandi?”

“Lalu mengapa kau juga ke kamar mandi itu??” Kyuhyun balik menyerang Nara dengan pertanyaan yang sama.

“Molla” ujar Nara “Aish, aku pergi!!”

Nara secepatnya pergi. Ia tak bisa berlama-lama melihat wajah Kyuhyun, tidak untuk saat ini.

#####

“Meeting kali ini, kita sudahi sampai disini” ujar Nara “Sudah jam 9 malam—sebaiknya kita pulang, meeting akan dilanjutkan besok” Nara memandangi jam tangannya.

“Benar, badanku sakit sekali” seorang pria memukul-mukul bahunya yang terasa tegang.

“Manager..bagaimana jika kita pergi karaoke??” usul seorang gadis

“Ide yang bagus? Bagaimana?”

Usulan itu disambut baik oleh semua orang. Mereka memandangi Nara yang belum memberikan tanggapan.

“Baiklah” senyuman Nara mengembang. Semua langsung sumringah dan sangat senang.

~~~

Rombongan Nara keluar dari ruang kerja mereka dengan wajah penuh canda dan tawa. Sesekali saling melempar ejekan. Rutinitas kantor dan beberapa proyek besar membuat mereka kehilangan banyak waktu diluar jam kerja—mengharuskan mereka untuk terus-terusan lembur. Pergi ke tempat karaoke adalah salah satu cara untuk melepas kepenatan akibat padatnya pekerjaan.

Pintu lift terbuka. Derai tawa dan canda mereka terhenti melihat orang yang berada di dalam lift. Cho Kyuhyun, memandangi Nara dan timnya. Semua saling pandang dan saling menyikut—terlihat jelas wajah cemas mereka.

“Apa kalian tak ingin masuk?” tanya Kyuhyun yang melihat tak ada pergerakan dari orang-orang itu.

Nara menatap tak sedap pada Kyuhyun. Dengan langkah pastinya memasuki lift—diikuti oleh seluruh anggota tim yang tampak takut-takut melihat direktur mereka yang tanpa segaris senyum di wajahnya.

“Kalian terlihat sangat senang. Sepertinya pekerjaan kalian sudah rampung?” tanya Kyuhyun.

Tak ada yang berani menjawab.

“Direktur—jika diikuti, pekerjaan tak akan ada habisnya” kilah Nara

“Ah, benar..” gumam Kyuhyun.

“Direktur—kami akan sedikit bersenang-senang, apakah kau ingin ikut?”

Nara dan juga lainnya seketika memaling sadis pada seorang pria yang mengeluarkan kalimat itu.

~~~

Di ruangan royal suite, di tempat karaoke.

Suara music terdengar cukup keras. Semua duduk begitu kaku—tak terlihat kesenangan di sana, mereka tampak tegang.

“Yaa~ Kim Ryeowook mengapa kau mengajaknya? Bagaimana kita bisa bersenang-senang? Babo” seorang wanita mendesis, berbisik kesal pada pria yang duduk di sampingnya.

Mereka memandangi Kyuhyun yang tampak tenang, hanya menelusuri ruangan itu dengan tatapannya.

“Aku hanya berbasa-basi,, tak kukira direktur akan ikut”

Sesekali mereka membuang senyum terpaksa ketika tatapan Kyuhyun tertanam pada mereka. Satu-satunya yang duduk di sofa yang sama dengan Kyuhyun adalah Nara—itupun karena didorong-dorong oleh bawahannya.

“Bukankah kalian ingin menyanyi? Bersenang-senanglah,, jangan cemaskan aku”

“Ahh..benar” jawab mereka gugup

“Baiklah—karena kita semua sudah di sini maka malam ini kita harus bersenang-senang” seorang wanita berujar, ia berusaha untuk memecahkan ketegangan yang terjadi “Ryeowook-a, kau harus berduet denganku” ia menarik dasi namja bernama Ryeowook.

Kedua orang itu langsung maju dan menyanyi sambil menari-nari. Nara dan yang lain bertepuk tangan—sesekali tertawa melihat tingkah lucu dua orang itu.

Suasana yang tadinya kaku perlahan mulai mencair. Semua mulai bergembira dengan menyanyi dan menari-nari—segala jenis music dan lagu bergantian dibawakan oleh mereka. Kyuhyun hanya bertepuk tangan, tak jarang ia ikut tersenyum melihat tingkah semua orang. Matanya sesekali melirik pada Nara. Yeoja itu ikut memandanginya sebelum kembali mengamati tingkah teman-teman satu tim kerjanya.

Dengan wajah penuh tawa, mereka kembali ke tempat duduk—menghampiri Nara dan Kyuhyun yang tak bergerak sedari tadi. Mereka kembali menuang minuman di gelas masing-masing.

“Nara-ya..mengapa kau hanya duduk diam?”

“Benar..manager, kau juga harus menyanyi”

“Mwo? Anio—ani” tolak Nara

“Manager..kau harus menyumbangkan sebuah lagu”

“Andwae! Yaa~ aku tak bisa bernyanyi..” elak Nara.

“Tentu saja, nyanyianmu hanya akan mengacaukan seluruh sistem kerja saraf tubuh” gumam Kyuhyun sambil tersenyum sinis. Nara memandangi Kyuhyun dengan tatapan kesal.

Kyuhyun menuangkan minuman ke dalam mulutnya dalam sekali teguk. Tak perduli jika Nara terus menghujaninya dengan tatapan pembunuh.

“Direktur—bagaimana denganmu?”

Kyuhyun hampir tersedak.

“Mwo?” ia memandangi semua orang, mereka balik memandanginya dengan penuh senyuman “Anio. Aku tak akan melakukannya” kilah Kyuhyun.

“Tidak. Kali ini, kau harus menyanyikan kami sebuah lagu”

Tak ada lagi rasa takut akibat pengaruh alcohol yang mereka minum. Bahkan seseorang langsung menarik Kyuhyun dan mendorongnya ke depan.

“Manager—kau harus menemaninya bernyanyi”

“Sihreo!!” tolak Nara mentah-mentah “Yaa!! Yaa!!!” teriak Nara ketika dirinyapun ditarik

“Ppalli…bukankah dia adalah pacarmu?”

Mereka menyuruh Nara menghampiri Kyuhyun. Yeoja itu tampak kesal tapi tak dapat berbuat apa-apa.

Kyuhyun hanya tersenyum tipis—tipis sekali. Melihat Nara yang tak berkutik membuat namja itu turun tangan untuk menarik Nara.

“Song Nara—kau terikat kontrak denganku” Kyuhyun berbisik di telinga Nara membuat semua bersorak, mereka tak tahu apa yang sedang dikatakan Kyuhyun, hanya terlihat bisikan itu tampak begitu mesra.

“Nappeun..” geram Nara.

Kyuhyun tak memperdulikan kekesalan Nara. Music yang mengalun dan namja itu mulai menyanyikan sebuah lagu.

“Omoo~ apakah ini bisa dipercaya? Direktur yang menyebalkan seperti itu memiliki suara yang begitu merdu” seorang gadis berdecak kagum.

Mereka memandangi Cho Kyuhyun yang begitu mempesona.

Kyuhyun terus menyanyi, ia memandangi Nara yang masih tertegun. Begitu terkesima mendengar suara Kyuhyun. Namja itu menyanyikan lagu yang dibawakan oleh Taeyeon feat The One—Like A Star.

Nara dibuat tak berkutik. Kyuhyun bernyanyi dengan sangat baik,,

Geu mueotgwa bigwohalsu isseulggayo

(Apakah bisa dibandingkan dengan hal lain)

Geu mueotgwabattol suga itnayo

(Apakah bisa ditukar dengan hal lain)

Geudae ui sarangeul

(Cintamu)

Geudaeui maeumeul

(Hatimu)

Geu nugadaesinhalsu itnayo

(Siapa yang bisa menggantikanmu)

You’re my everything to me

(Kau segalaku untukku)

You’re my everything to me

(Kausegalaku untukku)

 

Haneul ui byeolcheoreom hwanhageh bichwojuri

(Harap bersinar seperti bintang di langit)

Geudaeneun naman ui sarang

(Kau hanya mencintaiku)

Yeonywonhan namanui sarang

(Selamanya hanya mencintaiku)

Uri saranghaeyo

(Kita saling mencintai)

Geudae hanamyeon nan chungbunhaeyo

(Yang aku butuhkan adalah kau)

Raut wajah Kyuhyun yang begitu sendu ketika menatapi Nara. Dalam benaknya, semua kenangan yang dilaluinya bersama Nara terlintas—seperti sebuah film yang diputar kembali. Lagu itu, adalah lagu favorit Nara, lagu yang selalu dimintainya untuk dinyanyikan oleh Kyuhyun diiringi oleh petikan gitar namja itu.

Terus menatapi Nara, berharap Nara dapat mengingat kembali setiap kenangan manis yang telah mereka lalui bertahun-tahun. Mencoba mengutarakan pada Nara apa yang sesungguhnya dirasakan untuk gadis itu dibalik sikap menyebalkannya.

I byeolhaneun il eobseulgo eh yo

(Kita akan pernah menjadi bagian dari satu sama lain)

Geudaeehgeh sangcheohjuneun il

(Apapun yang akan menyakitimu)

Nuneul heulrigeh halril na eobdorok

(Tidak ada yang akan menyebabkan air mata akan terjadi)

You’re my everything to me

(Kau segalaku untukku)

You’re my everything to me

(Kau segalaku untukku)

Uri byeonchimayo

(Mari kitatidakberubah)

Seh wo ri heu reundaedo

(Bahkan seiring berjalannya waktu)

Geudaeneun naman ui sarang

(Kau hanya mencintaiku)

Yeongwonhan naman ui sarang

(Selamanya hanya mencintaiku)

Uri saranghaeyo

(Kita saling mencintai)

Seul peum eobneun sesang eseo uri

(Di tempat tanpa kesedihan)

Kyuhyun mengakhiri lagunya, semua langsung bertepuk tangan—kagum. Namja itu tersenyum, ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Nara yang belum bisa berkutik—hanya merasakan hatinya begitu menghangat mendengar lagu itu. Semua kembali bersorak riuh ketika Kyuhyun mendaratkan kecupan singkat di pipi Nara membuat mata indah yeoja itu melebar.

Ia bahkan tak bisa bergerak ketika akhirnya Kyuhyun meninggalkannya untuk kembali ke tempat duduk. Nara tampak kebingungan—ia memegangi pipinya yang baru saja dikecup oleh Kyuhyun. Wajahnya memerah dan ia akhir berjalan pelan, duduk di tempatnya semula.

“Aigo~ direktur kami memiliki suara yang sangat bagus. Mengapa kami baru tahu?”

Kyuhyun tersenyum menanggapi pujian salah satu karyawannya.

“Direktur, jika kau bukan seorang direktur kau pasti sudah menjadi seorang penyanyi terkenal”

“Semua gadis pasti akan tergila-gila padamu”

“Aku tak membutuhkan semua hal itu untuk membuat para yeoja mengikuti” Kyuhyun memamerkan evil smirknya “Bukankah begitu Nara-ssi?” ia memandangi Nara yang langsung mencibir.

“Tentu saja” potong seseorang “Kau masih begitu muda tapi telah memegang jabatan sebagai CEO, kau tampan, kaya—semua orang tahu jika kau menjadi incaran para yeoja. Ah, kau pasti sudah terbiasa menjadi orang popular sejak sekolah” ia berceloteh, mereka mulai mabuk.

Kyuhyun tersenyum bangga.

“Benar. Kudengar kau dan manager kami satu sekolah”

“Direktur adalah seniorku” ujar Nara “dan dia sangat menyebalkan—orang yang paling kubenci dimuka bumi ini. Bahkan sampai sekarang dia masih terus menyiksaku—lihatlah, betapa buruknya sikap tuan muda Cho Kyuhyun ini” gadis itupun mulai dipengaruhi oleh alcohol.

“Yaaa~” Kyuhyun mendesis kesal memandangi Nara

“Jeongmaliya? Lalu bagaimana kalian bisa berpacaran?”

“Karena yeoja ini—meskipun mengatakan sangat membenciku tapi kenyataannya Song Nara terlalu menyukaiku. Kalian tahukan kebanyakan wanita selalu mengatakan hal yang bertolak belakang dengan isi hatinya?” Kyuhyun berkata dengan sangat santai dan semua namja yang ada di ruangan itu mengangguk antusias.

“Cho Kyuhyun!! Yaa~ apa kalian tahu jika sebenarnya aku dan namja ini hanya…hmmpp…”

Nara tak dapat melanjutkan perkataannya karena Kyuhyun langsung menarik tubuh Nara dan membekap mulutnya.

“Kau mabuk” ujar Kyuhyun

“Mwoya..” Nara menepis tangan Kyuhyun

“Aigoo…kalian bahkan terlihat sangat mesra” seorang yeoja memandang haru pada Kyuhyun dan Nara “Direktur, lalu—kapan ciuman pertama kalian??”

Nara tersedak mendengar pertanyaan itu.

“Yaa! Miran-a apa kau gila?” protes Nara

“Nara-ya, wae? Kau malu?” gadis bernama Miran tak perduli dengan tatapan bulat Nara

“Andwae!!”

Nara menggeleng.

“Namja brengsek ini, dia bahkan merampas ciuman pertamaku di hari terakhir aku mengikuti ospek—dihadapan ratusan pasang mata. Nappeun, kau membuatku malu” Nara membuang tatapan penuh kemarahan pada Kyuhyun. Ia selalu teringat peristiwa menyesakkan dadanya itu.

“MWO???” semua terkaget-kaget.

“Yaa! Song Nara-ssi!! Itu karena kau memperlakukanku dengan sangat kasar—kau meremas mulutku, kau bahkan menamparku sebanyak dua kali dan itu menjatuhkan harga diriku sebagai ketua osis. Yang kau lakukan itu sangat buruk, araseo?”

Emosi Kyuhyun ikut meningkat.

“Manager..kau benar-benar melakukan itu?” mereka berdecak mengetahui perlakuan Nara tapi kedua orang itu tak memperdulikan decak-decak karyawan yang lain.

“Cho Kyuhyun! Karena kau tak pernah menyekolahkan mulutmu!! Apa-apaan kau, berani-beraninya mengataiku bebek jelek??”

“Kau memang bebek jelek! Arogan dan kasar!”

“YAAA!! Jangan memanggilku dengan sebutan itu!!”

Nara memajukan wajahnya mendekati Kyuhyun. Keduanya beradu. Mereka seperti kembali pada peristiwa bertahun lalu.

“Aish,, apa kalian benar-benar berpacaran?”

Mereka tampak tak yakin melihat sikap Kyuhyun dan Nara yang berbanding terbalik dan jauh dari kesan sepasang kekasih.

“Sudahlah..bukankah kita harusnya bersenang-senang?” seseorang menengahi

“Ah,, lalu apa kalian sudah…” Ryeowook terlihat serius namun sedikit ragu melanjutkan perkataannya

“Mwo?” tanya Nara

“Kalian sudah lama berpacaran—apa kalian sudah pernah melakukan itu?”

“Itu?” Nara tak mengerti, begitu juga dengan Kyuhyun.

“Yaa~ wanita dan pria yang saling mencintai..apa kalian tak mengerti juga?” tanya Ryeowook, namja itu mendesah melihat ketidakmengertian dari raut Kyuhyun maupun Nara “Baiklah, sepertinya aku to the point saja—apa kalian sudah tidur bersama?”

“MWORAGO??”

Terdengar paduan suara Kyuhyun dan Nara. Keduanya terkejut bukan main. Nara bahkan terbatuk-batuk, ia mengambil segelas minuman dan menghabiskan dalam sekali teguk.

“YAA! Kim Ryeowook!! Pertanyaan macam apa itu??” gadis itu serasa ingin menerkam namja berkacamata yang duduk tak jauh darinya.

“Nara-ya,, kita semua sudah dewasa..kau tak perlu malu” Ryeowook tertawa.

Bahkan semua orang memperhatikan Kyuhyun dan Nara dengan serius, menanti jawaban dari mulut kedua orang itu.

“Andwae!!” lagi-lagi Nara dan Kyuhyun kompak menangkis dugaan-dugaan semua orang.

“Benarkah?”

Mereka terlihat tak yakin.

“Apa kalian tak yakin padaku?” Kyuhyun menatap tajam ke arah mereka.

“Ah, anio..anio..tentu direktur sangat menghormati wanita” mereka tertawa, mencoba menghindari tatapan Kyuhyun yang mulai menyeramkan.

“Tentu saja” Kyuhyun tersenyum puas “Tapi yeoja ini—mengambil keuntungan terlalu banyak dariku, setelah dengan sengaja masuk ke dalam kamar mandi saat aku..”

“Yaa!!” Nara menghardik Kyuhyun mencegah namja itu untuk melanjutkan perkataannya yang menurut Nara sangat berbahaya “Kau minumlah” ia langsung mencecoki Kyuhyun dengan sebotol minuman membuat Kyuhyun hampir tersedak.

“Song Nara!! Kau berniat untuk membunuhku??”

Kyuhyun memandang kesal pada Nara.

“Kalian…sangat mencurigakan”

“Anio..” elak Kyuhyun mencoba meyakinkan semua orang.

“Araseo..kalau begitu—bagaimana jika kalian berciuman?”

“Mwo???” kembali Kyuhyun dan Nara tersentak

“Waeyo? Kalian sepasang kekasih”

“Yaa!!!” hardik Nara

“Itu bukan hal yang perlu kau ributkan Nara-ya..” kesal seorang yeoja

“Nara,, bukankah kau selalu ingin menciumku? Mengapa kau marah pada mereka? Kurasa tak masalah kita melakukannya” Kyuhyun kembali menggoda Nara membuat emosi Nara semakin meningkat

“Cho Kyuhyun!! Kau gila!!”

“Ah, aku lupa..aku tak suka mencium gadis yang sedang mabuk. Kalian mengerti?”

Semua mengangguk pelan. Ucapan Kyuhyun mendiamkan Nara. Meskipun terdengar menyebalkan tapi Nara merasa Kyuhyun sedang menyelamatkannya dari tuntutan gila bawahannya yang mabuk.

“Baiklah..tapi, lain kali kalian berdua harus tetap berciuman dihadapan kami. Direktur, kau harus berjanji”

Mereka benar-benar telah mabuk dan tak perduli apa yang keluar dari mulut mereka. Bahkan tak lagi merasa takut pada Kyuhyun.

“Araseo”

Ucapan Kyuhyun membuat Nara menoleh seketika padanya. Kyuhyun berpura-pura tak melihat Nara—ia justru menuangkan minuman dan mengajak semua orang bersulang.

#####

“Eomma..mengapa kau dan Hana tak segera ke Seoul?” Nara keluar dari lift dengan handphone yang melekat pada telinganya “Apa sebaiknya aku pulang ke rumah kita saja eomma-ya?”

Yeoja itu sesekali tersenyum sambil menundukkan kepala ketika orang-orang menghormatinya.

“Mwo? Yaa~ eomma..mengapa kau begitu mempercayai namja menyebalkan itu?”

Nara terlihat kesal.

“Aishh..michin!! araseo—aku akan menuruti perkataanmu, tapi sebaiknya kalian segera kembali ke Seoul atau aku akan gila karena namja itu”

Nara menutup teleponnya. Ia melangkah pasti menuju ruangannya namun gadis itu merasakan sesuatu yang aneh. Orang-orang yang berpapasan dengannya meskipun memberikan hormat tapi diiringi oleh tatapan aneh, bahkan mereka berbisik-bisik tak jelas seperti sedang membicarakan Nara.

Hal yang sama dijumpai Nara di ruang kerjanya—ia mendapati seluruh bawahannya berkumpul di satu tempat dan langsung bubar ketika melihat kedatangannya. Mereka sesekali melirik pada Nara.

Gadis itu meskipun penuh dengan segudang tanya tetap melangkah ke dalam ruangannya. Nara bersandar sejenak. Sedetik kemudian matanya tertuju pada setumpuk dokumen yang telah tertata rapi di atas meja kerjanya. Ia segera memulai memeriksa setiap dokumen tersebut dengan teliti.

Nara mengetik lincah pada laptop di hadapannya. Sesekali membetulkan letak kaca mata yang dipakai untuk menghalau radiasi computer.

“MWO??”

Mata indah Nara kian melebar. Mulutnya tak tertutup rapat. Jantungnya berpacu sedikit lebih kencang dari biasanya.

Nara tersandar lemas. Ia akhirnya mengerti mengapa tatapan semua orang tertuju padanya. Nara tak yakin jika dirinya akan baik-baik saja, tadinya ia hanyalah seorang wanita karir yang selalu sibuk dan kini semua orang di negaranya pasti sedang membicarakannya setelah foto-fotonya bersama Yesung menyebar.

Ya, ia cukup sadar jika dirinya sangat akrab dengan Yesung, mereka membuat banyak foto bersama saat masih kuliah dan yang lebih membuat suasana hati Nara berantakan karena foto terakhir kalinya bersama Yesung juga tak luput—foto mereka saat tanpa sengaja bertemu dengan Yesung di restaurant ramyeon beberapa minggu yang lalu.

Artis besar seperti Yesung, selalu menjadi incaran pers terutama gossip tentang orang-orang disekitarnya—saat ini, Nara dikabarkan adalah wanita yang dicurigai sebagai kekasih Yesung.

Handphone Nara bergetar. Tak ada nama si pemanggil, sebuah nomor baru.

“Yeoboseyo..” sahut Nara

Nara-ya, ini aku” suara seseorang yang tak asing lagi di telinga Nara

“Yesung oppa?”

Nara-ya, mianhaeyo—kau pasti sangat terkejut

“Oppa, mengapa bisa ada hal seperti ini?” tanya Nara

Handphoneku hilang—dan berakhir dengan gossip yang melibatkanmu. Mianhae Nara-ya..

“Araseo, lalu aku harus bagaimana?” tanya Nara “Semua orang pasti akan bertanya-tanya, aku tak perduli dengan orang-orang diluar lingkunganku tapi oppa kau tahukan jika semua orang di kantor tahu bahwa aku punya hubungan khusus dengan Kyuhyun—meskipun mereka tak tahu kejadian sebenarnya tapi tetap saja mereka pasti akan bertanya-tanya padaku”

Mianhae, jeongmal mianhaeyo” Yesung menarik nafas, lesuh “Bersabarlah, aku akan membereskan berita ini tapi Nara-ya..mulai saat ini kau pasti akan sangat kerepotan

Nara menarik nafas. Tentu ia mengerti. Detik ini, Nara sudah sangat yakin semua orang sedang mencari identitas asli dan keberadaannya dan tinggal menunggu jam atau mungkin saja menit untuk membuat pers mencarinya di kantor—bahkan mengikuti setiap gerak-gerik Nara.

Nara beranjak, ia mendekati jendela. Menyingkap tirai memandang ke bawah. Benar saja, mobil-mobil pers dari berbagai stasiun televisi mulai berdatangan di C&M—tampaknya mereka telah mengetahui identitas wanita yang berfoto dengan Yesung. Nara terdiam.

#####

Seminggu setelah merebaknya gossip tentang dirinya dan Yesung, Nara selalu berhati-hati. Gadis itu selalu mencari cara untuk menghindari pers—berharap bahwa waktu akan memperbaiki semuanya, bahwa semua orang akan melupakannya tapi itu tak mudah mengingat orang yang terlibat skandal adalah seorang artis besar yang memiliki jutaan penggemar.

Fans fanatic—adalah hal yang paling dikhawatirkan Nara. Gadis itu tahu betul reaksi yang ditimbulkan akibat pemberitaan itu. Tak tahu apa yang akan dilakukan oleh fans fanatic Yesung jika berhasil menemuinya.

Bukan mereda, pemberitaan itu justru semakin menjadi-jadi karena justru melibatkan Direktur C&M. Tentu saja—akhirnya semua tahu bahwa Nara adalah kekasih Cho Kyuhyun. Semua pandangan tak sedap diterima Nara, ia tetap bersikap tenang meski tak dapat menebak jalan pikiran orang-orang yang ditemuinya.

Nara melangkah gontai keluar dari sebuah ruangan. Seluruh dewan direksi baru saja memanggilnya, pemberitaan itu menyangkut pencitraan perusahaan. Gadis itu terlihat kacau balau dengan segala pemberitaan yang terjadi.

Langkah kaki Nara terhenti ketika melewati sebuah tempat di kantor tersebut..semua yang berlalu lalang juga ikut terhenti, perhatian mereka tertuju pada layar plat besar yang berada di dinding—sebuah televisi.

Namja yang begitu dikenali Nara—tentunya semua orang mengenali namja itu, Yesung. Ditemani oleh beberapa orang, sepertinya sedang melakukan konfrensi pers. Kilatan blitz kamera yang terus menyoroti namja tampan itu.

Annyeong haseyo

Yesung membungkuk—memberikan salam dan hormat pada semua yang ada di situ. Namja itu lalu duduk dibelakang sebuah meja panjang yang di atasnya telah dipenuhi oleh microphone maupun perekam dari berbagai media.

Bagaimana tanggapan anda tentang pemberitaan panas seminggu ini tentang hubunganmu dan wanita bernama Song nara?

Seorang wartawan mulai mengajukan pertanyaan.

Sejak awal terjun di dunia yang sekarang—aku cukup tahu dengan konsekuensi yang akan aku terima. Hal-hal seperti ini sudah kupikirkan dan pasti akan terjadi” Yesung terlihat begitu tenang “Tapi, aku tahu seseorang akan sangat terguncang dan tak tenang karena pemberitaan ini. Aku ingin meminta maaf setulusnya pada Song Nara-ssi

Nara tertegun, ia hanya memandangi wajah Yesung dari monitor TV.

Apa hubunganmu dengan Song Nara-ssi?

Seorang wanita mengajukan pertanyaan lain.

Gadis itu adalah juniorku di kampus. Kampus adalah tempat yang mempertemukan aku dan Nara—kami berdua sangat akrab. Aku rasa foto-foto itu ikut menjelaskan bahwa kami memang sangat akrab

Selain hubungan persahabatan, apa tak ada yang lebih spesial dari itu? Kau bahkan menyimpan dengan baik semua foto bersama gadis itu

Yesung terdiam. Ia memandang tenang.

Hubungan kami tak lebih dari persahabatan. Itu sudah sangat spesial bagiku

Gadis itu bekerja di C&M, menurut kabar yang kami dengar bahwa ia adalah kekasih dari CEO perusahaan tersebut

Geurae. Cho Kyuhyun—namja itu beberapa kali bertemu denganku, Nara memperkenalkan padaku bahwa orang itu adalah kekasihnya

Blitz kamera terus menyala—banyak sekali yang begitu antusias dengan berita tersebut.

Yesung-ssi,, bagaimana denganmu? Apakah tak mungkin kau juga menyukai wanita itu?

Yesung kembali terdiam.

Benar, aku menyukainya

Pernyataan Yesung menambah volume sorot kamera ke wajahnya. Nara tak bergeming mendengar penuturan sunbaenya itu. Semua orang di kantornya yang menyaksikan berita tersebut langsung heboh—antusias.

Nara merapatkan kedua tangannya, tubuhnya mulai mengigil.

Aku menyukai Song Nara-ssi. Dia adalah yeoja yang meskipun aku tahu telah memiliki seseorang di sisinya tapi aku tetap menyukainya, bahkan terus menyukainya hingga saat ini. Yeoja yang tak sedikitpun mampu aku singkirkan dari kepalaku meskipun aku terus mencoba dan nyatanya aku tak bisa. Seorang yeoja yang membuatku merasakan sakit luar biasa ketika memperkenalkan pacarnya padaku tapi aku tetap mencintainya dengan segala kesakitanku

Raut wajah Nara menegang, ia seakan tak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya.

Nara-ya, jika kau melihat tayangan ini—mianhaeyo untuk memberikan kejutan seperti ini padamu. Saranghae, saranghamnida

Pernyataan Yesung membuat Nara semakin tercekat. Ia benar-benar tak mengira jika Yesung juga menaruh hati padanya.

Aku mohon kepada kalian semua untuk tetap membiarkan Song Nara dalam hidupnya yang normal—yeoja itu tak pernah tahu apapun tentang perasaanku, jika ada yang ingin kalian tanyakan, cukup temui aku..tak perlu mengikuti dan membuat hidupnya tertanggu! Pernyataan ini tak kaitannya dengan Nara, ini keputusanku untuk mengakui perasaanku padanya”

Nara melangkah gontai dan tertatih. Seseorang menangkap pergelangan tangannya. Nara memandangi Kyuhyun yang menariknya—membawa gadis itu menjauh dan mereka tiba di sebuah tempat yang cukup sunyi.

“Nara, apa kau senang?”

Nara memandangi Kyuhyun. Mulutnya seakan tak bisa digerakkan. Terkatup rapat.

“Sekarang semua orang akan berpikir bahwa kau adalah gadis beruntung dan juga bahwa kau adalah gadis yang cukup buruk untuk terlibat skandal seperti ini”

“Kyuhyun-a..” badan Nara yang tak begitu baik membuat gadis itu kehilangan selera untuk meladeni Kyuhyun.

“Song Nara—apa kau tak tahu betapa berbahaya situasi kau saat ini? Apa kau tak memikirkan tanggapan mereka tentangmu? Statusmu adalah pacarku tapi kaupun terlibat dengan orang itu? Apa kau pikir mereka akan menganggapmu baik-baik saja? Bagaimana dengan fans fanatic namja itu?”

“Kyuhyun-a, kau dan aku—kita, kita hanyalah bagian dari sebuah sandiwara. Apa kau tak ingat itu? Kau yang mengatakannya padaku”

Kyuhyun terdiam, raut wajahnya berubah seketika. Mulut namja itu terbuka, ingin sekali mengatakan pada Nara bahwa tak pernah ada sandiwara di antara mereka. Bahwa Cho Kyuhyun, namja yang dibenci oleh Nara—bahwa namja itu adalah orang yang berada di hati Nara, sebelum Nara kehilangan kenangan tentang mereka yang hanya menyisahkan potongan-potongan kenangan yang masih didera oleh kebencian.

“Wae? Apa kau ingin mengakuinya sekarang? Kau ingin mengatakan bahwa tak ada apapun diantara kita?” mata Kyuhyun terlihat memancarkan kesedihan “Kau menyesalinya sekarang? Song Nara, kau menyukainya??”

“Mwoya?”

Kyuhyun menarik nafas. Ia menatapi wajah Nara yang terlihat kebingungan.

“Dia mengatakan agar mereka tidak mengusik kehidupan normalmu tapi setelah pengakuan cintanya itu apa kau pikir pers tidak akan membuntutimu?” namja itu berusaha menyeimbangkan nada suaranya meski terdengar sedikit bergetar “Jika kau menyukainya pergi saja padanya, aku tak akan melarangmu”

Kyuhyun berpaling, ia menutup matanya sekilas dan sedikit mendongakkan kepalanya ke atas seperti mencegah agar tak ada sesuatu yang keluar dari bola matanya. Namja itu melangkah meninggalkan Nara. Nara hanya memandangi punggung Kyuhyun yang kian menjauh.

Tangannya yang lemah memegang dadanya. Ia merasakan sesak di sana. Terasa sakit namun begitu sulit diungkapkan dengan kata-kata tentang apa yang ada dalam hatinya.

~~~

Nara berjalan keluar dari lobi kantornya. Langkah kakinya tertatih. Sorot mata yang begitu kosong.

Crash!!!

Nara tersentak kaget mendapati sesuatu yang cukup amis mengalir di wajahnya. Ia memegangi kepalanya, cangkang telur yang telah hancur di sana. Matanya tertuju pada gadis-gadis muda yang memandang tak sedap padanya. Mereka pasti fans Yesung.

Gadis-gadis itu terlihat sangat marah pada Nara. Mereka kembali mengayunkan tangan melempar telur yang telah mereka siapkan sebelumnya. Nara menutup matanya, ia tak mungkin untuk menghindar—hanya pasrah.

Seseorang meraih tubuh Nara, mendekap gadis itu dan membalikkan posisi tubuh mereka sehingga telur-telur itu tak mengenai Nara tapi mengenai kepala dan punggung orang itu. Nara yang masih terkejut perlahan membuka matanya, ia mendapati dirinya dalam dekapan Kyuhyun. Pemuda itu, melindunginya dari amukan fans fanatic Yesung.

Petugas keamanan kantor langsung mengamankan Cho Kyuhyun yang dengan sigap membawa Nara melangkah tanpa melepaskan yeoja itu dari pelukannya. Mereka masuk ke dalam mobil yang langsung dilarikan oleh sopir.

Sepanjang perjalanan tak terjadi pembicaraan apapun. Masing-masing terdiam dengan jalan pikiran mereka. Mobil berhenti di pekarangan rumah. Nara keluar dari mobil, begitu juga Kyuhyun.

Pemuda itu berjalan mendahului Nara, ia membuka pintu rumah dan ketika berbalik, betapa terkejutnya Kyuhyun melihat Nara yang lunglai jatuh ke atas lantai.

“Nara!!” Kyuhyun menghampiri Nara “Nara, Nara-ya..” ia menepuk-nepuk pipi Nara yang telah tak sadarkan diri. Dengan sigap Kyuhyun membopong tubuh Nara yang begitu lemas.

~~~

Di kamar Nara. Gadis itu tersandar lemah di tempat tidurnya, ia hanya membiarkan Kyuhyun mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Nara mengambil handuk di tangan Kyuhyun.

“Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya” ujar Nara “Gomapta..” ujar Nara.

Kyuhyun beranjak.

“Kau beristirahatlah dulu, aku akan membuatkanmu bubur”

Nara hanya tersenyum tipis memandangi Kyuhyun yang berlalu.

~~~

*Kyuhyun POV*

Lima belas menit berlalu ketika aku kembali ke dalam kamar Nara. Gadis itu telah terlelap, aku menutup pintu perlahan agar tak membangunkannya dan meletakkan makanan yang kubawa di atas meja.

Melepas kompresan di dahinya dan menyentuh dahi gadis itu dengan punggung tanganku, setidaknya panasnya sudah mulai menurun.

Wajahnya yang begitu pucat. Nara terlihat sangat letih. Mianhae Nara-ya, kau pasti sangat lelah dengan situasi ini. Perlahan tanganku menyentuh rambut halus yang menghalau pandanganku pada wajah gadis yang kini tampak lemah di mataku.

“Nara-ya, apa yang sedang kau pikirkan?”

Aku bergumam pelan.

“Aku tak mampu percaya jika kau telah meninggalkanku. Aku selalu meyakinkan diriku jika itu tak benar. Nara-ya, jangan lupa untuk mengingatku. Jangan lupa untuk mengingat cintaku..Nara, dalam hatiku terletak semua kenangan kita—meski kau tak mengingatnya tapi aku akan memberitahukanmu satu per satu, untuk itu kumohon..jangan lupa untuk tetap mengingatku dan cintaku dan biarkan aku untuk tetap hidup denganmu”

Wajahmu pucat Nara. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu menderita seperti ini? Mianhae..mianhaeyo Nara-ya.

“Jika kau harus berpegang teguh pada seseorang, untuk sekarang dan selamanya—biarlah orang itu adalah aku. Nara-ya, jangan pernah meninggalkanku kesepian. Seperti dulu, katakan bahwa kau hanya mencintaiku dan hanya aku yang berada di sisimu”

Aku bahkan tak mampu untuk tidak menangis, ini terlalu menyakitkan Nara. Lihat, bahkan dalam tidurmu kau masih merasa terluka, mengapa kau ikut meneteskan air mata? Nara sesakit itukah? Apa yang kau sembunyikan dariku? Mengapa kau ingin melupakanku Nara?

Hanya saat seperti ini aku bisa mentolerir air mata ini. Aku tak akan memperlihatkan air mata ini di hadapanmu. Kau hanya akan menyaksikan Cho Kyuhyun yang ada dibenakmu Nara—Cho Kyuhyun yang kau benci.

“Jeongmal mianhaeyo”

Bisikku lirih. Aku mengecup bibir Nara yang terlihat pucat.

“Saranghae”

Aku kembali berbisik lirih di telinganya. Semoga kau mendengar itu Nara. Kumohon jangan melupakanku.

#####

*Author POV*

Some weeks later…

Dalam kamar yang begitu hangat. Nara sesekali menggeliat, mengubah posisi tidurnya—tangannya menarik selimut untuk kembali membaluti tubuhnya.

“Babo..”

Kyuhyun telah lima menit berada di dalam kamar itu. Berdiri sambil melipat kedua tangan di dadanya. Ia memandangi Nara, berdecak heran melihat Nara yang memiliki kebiasaan buruk saat tidur—membuat tempat tidurnya berantakan karena tak pernah tenang sedikitpun dalam tidurnya.

“Ireona..”

Kyuhyun memandangi Nara, gadis itu justru semakin membenamkan diri dalam balutan selimut.

“Yaa~ bangun, bebek jelek!! Bangun”

Namja itu menendang-nendang pelan kaki Nara.

“Ppalli..! Yaa!! Song Nara” Kyuhyun mulai kesal “Bangun, dasar bebek pemalas”

Nara tak berkutik, gadis itu memang sangat susah untuk dibangunkan. Rasa lelah karena aktivitasnya membuat Nara ingin menikmati kasur lebih lama lagi.

“Aish, apa kau tuli? Yaa!!”

Melihat tak ada reaksi, Kyuhyun mendekati Nara. Ia mengamati wajah gadis itu.

“Ah, jadi kau ingin bermain-main denganku rupanya. Araseo”

Namja itu akhirnya mengetahui bahwa teriakannya tak akan pernah sampai ke gendang telinga Nara karena yeoja itu telah menyumbat kedua telinganya. Nara telah menemukan cara untuk menghindari keisengan Kyuhyun yang selalu membangunkannya.

Kyuhyun masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Nara. Ia memutar kran air, menyetel dengan suhu yang diinginkan dan dalam waktu beberapa menit—bathub telah terisi penuh oleh air. Kyuhyun menyentikkan jarinya ke dalam air dan detik selanjutnya ia mendelik, air itu begitu dingin membuatnya hampir menggigil.

Namja itu tersenyum—ia memasang ekspresi jailnya. Dengan penuh semangat, Kyuhyun menghampiri Nara.

“Yaa~ bangun, aku memperingatkanmu” ujar Kyuhyun “Baiklah—setidaknya aku sudah berbaik hati memberikanmu kesempatan”

Senyuman Kyuhyun mengembang, ia menepuk-nepuk tangannya. Ia langsung mengangkat tubuh Nara dan membopong Nara menuju kamar mandi.

Nara menggeliat, ia merasakan perbedaan antara kasur empuk dan dekapan Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun??” Nara terkejut mendapati dirinya dalam dekapan Kyuhyun.

“Sayang sekali, you’re too late” kyuhyun memamerkan cengiran iblisnya pada Nara yang tampak kebingungan.

BYUUURR…

Percikan air akibat tubuh Nara yang dihempaskan oleh Kyuhyun ke dalam bathub. Gadis itu terkejut bukan kepalang bahkan merasakan air yang masuk ke paru-parunya. Nara tersedak.

“YAAAA!!!”

Teriak Nara histeris

“Cho..Kyu..Kyuhyun—mwo,, mwoya??” air yang begitu dingin seperti es membuat Nara seketika menggigil, giginya saling bergemelatuk.

Ia keluar dari bathub dan terus memandangi Kyuhyun yang memasang tampang innocent-nya.

“Ahh, syukurlah—kau tak berkutik membuatku sangat cemas” jawab Kyuhyun santai.

“Mwo..mwo..mworago??” Nara terbata-bata saking dinginnya.

“Bersiap-siaplah—kita akan jogging bersama”

“Yaaa!!” Nara mendelik, bibirnya mulai membiru dan gemetar “Kau—kau ingin membunuhku??”

“Anio, aku hanya ingin mengajakmu berolahraga—aku rasa itu akan baik-baik saja untuk kesehatanmu”

Gumam Kyuhyun sambil berlalu dari hadapan Nara.

“YAAA!!!”

Kyuhyun tak memperdulikan kemarahan Nara. Ia terus berlalu, senyuman iblis kembali terlukis di sudut bibirnya.

~~~

“Yaa~ Song Nara,, ppalli…”

Nara mencibir ketika mendengar teriakan Kyuhyun dari luar rumah. Namja itu telah menunggunya. Ia masih kesal dengan perlakuan Kyuhyun yang hampir membuatnya membeku.

“Araseo”

Teriak Nara sambil mengencangkan ikatan tali sepatunya. Gadis itu segera keluar rumah, ia menutupi pintu dan kembali mendapati dirinya dibuat tercengang.

“Cho Kyuhyun..”

Keadaan di luar rumah masih sangat gelap.

“Bisa kau jelaskan, situasi apa ini?” Nara mulai merasakan sesuatu yang buruk.

“Mwoya?” tanya Kyuhyun santai. Ia mengerti maksud tatapan Nara “Ahh eotteohke—ternyata masih jam 4 subuh” Kyuhyun melirik jam tangannya.

“MWO??”

Nara hampir serangan jantung mendengar jawaban enteng Kyuhyun.

“Sepertinya aku terlalu bersemangat” Kyuhyun tertawa kecil tanpa rasa berdosa.

“Mwo??” Nara mendelik, tak percaya “Kau bilang jam berapa—jam 4?” ulangnya tak yakin.

Kyuhyun mengangguk polos.

“CHO KYUHYUN NAPPEUN!!!” Nara menggeram. Ia berteriak histeris membuat Kyuhyun harus menyumbat kedua lubang telinganya.

“Nara-ya, kecilkan suaramu. Kau bisa membangunkan semua orang”

“YAAAAAAAAAAAAA!!!!”

Tak perduli, Nara kembali berteriak histeris. Nafasnya mulai tak beraturan—seperti banteng yang siap menerjang sang matador.

“Kau—kau hampir membuatku mati beku hanya untuk membangunkan dengan alasan olahraga, dimana seharusnya aku masih menikmati kasur hangatku! Cho Kyuhyun! Jam 4 subuh? Yaa!! Aku akan membunuhmu, brengsek!!!”

Mata Nara yang liar memandangi sekelilingnya seperti mencari sesuatu untuk memberi pelajaran pada Kyuhyun.

“Song Nara—apa yang kau lakukan?” tanya Kyuhyun

“Sudah kubilang, aku akan membunuhmu—dengan tanganku!!”

Nara mendekati Kyuhyun dengan semangat membunuh membuat Kyuhyun bergidik.

“Kau gila?”

“Ne. Aku memang sudah gila. Aku gila sampai-sampai aku begitu ingin memusnahkanmu Cho Kyuhyun!!” desis Nara,

Kyuhyun mundur teratur melihat Nara yang tak terlihat main-main.

“Yaa! Song Nara!! Berhenti di situ!!” perintah Kyuhyun

“Kau akan merasakan pembalasanku Cho Kyuhyun nappeun!!!”

Kyuhyun langsung berlari ketika Nara begitu bersemangat mengejarnya. Namja itu sesekali menoleh memperingatkan Nara untuk berhenti tapi Nara benar-benar gelap mata karena keisengan Kyuhyun yang diluar batas.

#####

*Nara POV*

Pukul 10 malam.

Menyedihkan, tapi aku memang baru saja tiba di rumah. Sangat menyebalkan, namja itu terlihat sedang santai di depan televisi setelah memaksaku dan seluruh timku untuk lembur. Cho Kyuhyun, kau sangat buruk!

“Darimana saja kau?”

“Mwo?”

Aigo~ apa dia juga amnesia sepertiku?

“Babo—bukankah kau yang membuat kami tak bisa beranjak dari kantor?”

Kyuhyun hanya menyunggingkan senyum menyebalkannya itu. Aku benar-benar membencimu.

Mataku tertanam pada semangkuk ramyeon di atas meja, di hadapan namja itu. Aku segera melempar tas dan duduk di sofa yang sama dengannya.

“Yaa~ Song Nara, apa yang kau lakukan?”

Kyuhyun terkejut melihatku mengambil ramyeon itu.

“Aku lapar”

“Itu milikku, kau tahu aku mengorbankan jariku untuk memasaknya?”

Namja itu memamerkan jarinya yang terbalut plester. Aish, dasar bodoh—kau hanya memasak ramyeon, bagaimana jika yang kau masak adalah daging? Aku rasa kau akan kehilangan tanganmu.

“Apa yang kau tertawakan?” Kyuhyun menyadari jika aku sedang terkekeh.

“Anio—hanya berpikir bahwa ada orang sebodoh kau”

“Mwo? Nara-ya, kau tak lupakan siapa aku? CHO KYUHYUN??”

Aish, apa-apaan dia?

Geurae. Tentu aku tak akan melupakanmu. Dia sedang memamerkan kebenaran tentangnya yang begitu popular sejak SMA. Araseo, araseo.. tapi aku tak termasuk dalam gadis-gadis bodoh yang matanya terhalau oleh pesonamu.

“Berikan padaku!!” Kyuhyun merampas mangkuk ramyeon. “Yaa!!” ia mendelik ketika aku kembali mengambil alih ramyeonnya.

“Kau pelit sekali Cho Kyuhyun!!”

Kyuhyun mendesah, memandangiku dengan kesal.

“Nara—kau menghabiskannya??” Kyuhyun mendelik.

Kruuuukk… suara dari perut Kyuhyun membuatku tertawa pelan. Namja itu benar-benar kelaparan.

“Nara, kau masih bisa tertawa sekarang?” Kyuhyun memegangi perutnya.

“Mianhae” aku tersenyum “Jangan cemas, aku tak ingin menjadi saksi dari kematianmu yang tragis”

Kyuhyun terlihat kesal melihat senyumku terus mengembang. Aku segera beranjak. Namja itu mengikutiku ke dapur.

“Mwo?”

“Aku? Tentu mengawasimu. Siapa yang tahu jika kau akan meletakkan sesuatu dalam makananku”

Omo~ kau mengira aku ini seorang kriminal?

“Pergi dari dapurku!!”

“Mwo? Dapurmu?” Kyuhyun keheranan akibat perkataanku “Song Nara, ini rumahku! Kau berani sekali mengusirku”

“Baiklah, kau saja yang masak” Kyuhyun terdiam “Pergi, aku tak suka orang lain berada di dapur saat aku sedang masak”

Aku mendorong tubuh Kyuhyun menjauh. Namja itu hanya menurut—jarang sekali dia bersikap patuh seperti ini.

10 menit kemudian…

“Song Nara, kau menyuruhku menunggu hanya untuk melihat ramyeon—lagi??”

Kyuhyun menatap ngeri pada ramyeon yang baru saja kuletakkan di hadapannya.

“Yaa! Tadinya aku hendak memasak sesuatu untukmu tapi apa kau lihat isi kulkasmu?”

Kyuhyun mendesah. Seharusnya kau tak melakukan aksi protesmu.

“Araseo” Kyuhyun merengut “Aahh…”

“Waeyo?” aku heran melihatnya tiba-tiba meringis.

“Appo..”

Kyuhyun kembali memamerkan jari kelingkingnya yang terbalut plester.

“Yaa~ luka sekecil itu? Aigo~ berhenti merengek seperti bocah, kau itu sudah terlalu tua untuk bertingkah begitu!”

“Nara-ya, kau jangan menganggap remeh luka ini” Kyuhyun tak terima “Apa kau tahu jika luka kecil dapat berakibat fatal? Nara, luka sekecil apapun itu tetap menyakitkan..apalagi jika luka itu berada di sini”

Kyuhyun meraih tanganku dan meletakkan tanganku di dadanya. Jantungku!! Jantungku.. kemana kau pergi?

“Michin!!” aku menyingkirkan tangannya. Aneh, tapi aku merasakan dadaku berdebar keras. Hentikan Nara!! Jangan terpengaruh olehnya! Kau harus tetap kuat!

“Aku serius”

“Araseo” dengusku kesal

“Appo~” Kyuhyun kembali meringis, sedikit manja. Tak dapat kupungkiri tapi dia terlihat sangat manis. Omo~ otakku mulai terinfeksi.

“Yaa! Lalu apa maumu? Apa aku harus melukai jariku juga??”

“Otakmu sangat dangkal” Kyuhyun berdecak “Aku tak memintamu melakukan hal itu. Kau hanya perlu menyuapiku”

“MWO???”

Kyuhyun sudah gila.

“Apa kau tak lihat lukaku?”

“Cho Kyuhyun! Kau bahkan masih lincah mengganti chanel?”

Namja itu berdehem, meletakkan remote pelan.

“Aigo~ kenapa sekarang semakin sakit?”

Wajahnya yang terlihat kesakitan. Aku tahu dia hanya berpura-pura.

“Aa…” Kyuhyun membuka mulutnya.

Aku memandanginya kesal.

“..aa…” kembali ia memberikan kode agar aku segera menyuapinya.

Aku menarik nafas kasar. Aku sangat hebat—aku berhasil mengendalikan emosiku demi namja menyebalkan ini. Aku menyuapi Kyuhyun. Dia tersenyum dan mengunyah pelan.

Cup!

Kyuhyun mendaratkan kecupan singkat. Seluruh tubuhku menegang.

“YAA!!”

Aku menatapinya, meminta penjelasan atas sikap keterlaluannya.

“Itu bayaran dariku” jawabnya enteng “Satu ciuman untuk satu suapan”

“Mworago??”

“Kau tak senang? Ah, kau tak suka jika aku mencium pipimu?” Kyuhyun menatapku tajam “Baiklah kalau begitu—aku akan mencium bibirmu” ia tersenyum.

“YAAA!!”

Aku memukul kepalanya dengan sumpit.

“Aish, Nara—itu sangat menyakitkan” Kyuhyun meringis. Kali ini aku yakin dia tak sedang bercanda.

“Kau makanlah sendiri”

Aku menyerahkan mangkuk berisi ramyeon itu.

“Araseo, aku tak akan mencandaimu lagi” ia kembali meletakkan mangkuk itu di tanganku.

Cho Kyuhyun! Jika kau hanya bercanda—kumohon hentikan sekarang. Jangan melakuan hal-hal gila itu, aku takut aku akan mulai jatuh cinta padamu. Sihreo! Andwae..andwae!!

Aku kembali memasukkan ramyeon ke mulut Kyuhyun. Apa kau tak makan? Kau terlihat sangat lapar. Jantungku berdetak kasar ketika Kyuhyun meraih tanganku dan menuntun tanganku untuk segera menyuapinya.

“Wae? Kau terus melamun?” ia menatapku “Nara-ya, seperti ini—bukankah kita seperti pasangan suami istri??”

Jantungku kembali berdetak kasar. Tatapanku langsung tertuju pada Kyuhyun. Ia tersenyum ke arahku dan dia—mengapa dia tampak bersinar di mataku?

Andwae!! Aku tak boleh terkena sihir namja brengsek ini.

“Gwaenchana??” Tanya Kyuhyun saat melihatku menggeleng kasar.

“Yaa!! Kau makan sendiri”

“Ne, ara” Kyuhyun mengambil sumpit di tanganku.

Aku hanya memandangi wajahnya.

“Nara-ya, ambilkan aku minum”

Mwo? Dia selalu bertingkah seenaknya. Sejak kapan kau begitu betah berada dekat namja brengsek ini, Song Nara.

“Kau pikir aku ini pelayanmu?”

“Jebal..hmm??” Kyuhyun tersenyum lembut. Sangat lembut membuat seluruh tubuhku terkunci.

Terburu-buru aku meninggalkan Kyuhyun. Aku tak ingin dia menyadari perubahan sikapku. Aku tak ingin membuatnya memiliki bahan untuk menggodaku. Mukaku memanas, aku harap tak ada rona kemerahan di pipiku. Babo.

Aku kembali ke ruangan tempat Kyuhyun berada—membawa segelas air dan menyerahkan air itu pada Kyuhyun. Ia meneguknya sampai habis dan meletakkan gelas kosong di atas meja.

Kyuhyun mengeluarkan secarik kertas dari balik halaman sebuah buku yang terletak tak jauh darinya. Membuka lipatan kertas itu, entah apa yang tertulis di sana tapi namja itu mulai tersenyum. Aku rasa otaknya benar-benar terganggu.

“Kau juga ingin melihatnya?” Kyuhyun menoleh padaku.

“Anio” jawabku singkat.

Kyuhyun tersenyum, ah sial, aku tak tahu maksud dari senyumannya itu.

…kutitipkan salamku pada langit bulan Juni,, darinya aku merajut kasih…

Kyuhyun mulai membaca. Rasanya aku familiar dengan kalimat ini. Dahiku berkerut. Jamkkanman!! Itu…dengan sigap aku merampas kertas di tangan Kyuhyun. Aku hampir tak percaya melihat kertas bertulis tangan itu.

“Cho Kyuhyun!! Darimana kau mendapatkan ini??”

Begitu familiar karena itu adalah tulisan tanganku. Sebuah puisi yang aku tulis.

“Nara, apa kau tak ingat? Ini adalah puisi yang kau sertakan pada lomba 9 tahun lalu”

Aku tahu—dan aku tak pernah sekalipun berniat mengikuti lomba itu. Semua karena si bodoh Minji.

“Geuraeseo, mengapa puisi ini ada di tanganmu?”

“Yaa~ berapa banyak IQmu? Apa kau tak ingat jika saat itu aku adalah ketua osis? Semua puisi, aku juga ikut menilainya”

“Dasar sombong!!”

“Aneh sekali,, mengapa puisi tak menarik itu bisa terpilih sebagai pemenang?”

Yaa! Kau jangan mencari masalah denganku. Aku sudah bosan berurusan denganmu, nappeun.

“Nara,, ceritakan padaku.. siapa sang penguasa hati yang kau maksudkan dalam puisimu ini?”

Kyuhyun memandangiku dengan tatapannya yang tajam.

“Sihreo!! Kau tak perlu tahu” jawabku ketus

“Sebenarnya aku penasaran..seperti apa rupa anak lelaki cinta pertamamu itu”

Aku menoleh seketika padanya. Bagaimana dia bisa tahu jika puisi ini aku tuliskan untuk seorang anak lelaki yang aku tolong saat masih kecil dulu?

“Mwo? Bagaimana kau tahu?”

“Tentu saja aku tahu. Sudah kukatakan, kita sangat akrab—semua tentangmu, aku tahu. Seharusnya kau juga tahu semua tentangku jika kau tak mengalami amnesia itu” Kyuhyun mendesah pelan “Nara, apa kau tahu siapa anak lelaki itu?”

“Mwo?”

“Kau masih mengingatnya?”

Kyuhyun bertanya, ia terlihat begitu penasaran.

“Anio” jawabku.

Itu hanya bagian masa lalu yang tak akan bisa aku lupakan. Meskipun bertahun-tahun aku terpaut pada orang itu tapi hidup harus tetap berlanjut dan aku tak pernah tahu siapa anak itu.

“Aku tak pernah bertemu bahkan mengingatnya. Anak itu, meskipun tak berjalan seperti yang aku inginkan tapi dia tetap cinta pertamaku dan aku tak mungkin melupakannya”

Kyuhyun terdiam. Sorot matanya sangat aneh.

“Bagaimana jika anak itu adalah aku??”

Aku sangat terkejut mendengar ucapan Kyuhyun.

“Bagaimana jika cinta pertamamu adalah aku, Cho Kyuhyun?”

Aku semakin terkesiap mendengar perkataannya. Dia terlihat begitu serius. Ah, molla. Otakku blank.

“Andwae.. itu tak mungkin”

Aku tertawa pelan. Bagaimana mungkin kau mengucapkan lelucon seperti itu Kyuhyun-a?

“Itu tak mungkin kau,, ah—aku harus tidur, sudah begitu larut”

Aku segera meninggalkan Kyuhyun, tak berani terlalu lama bersamanya karena aku merasakan sesuatu mulai membawaku—hanyut terlalu jauh.

Kyuhyun, ucapanmu terlalu beresiko. Aku bahkan tak berani memikirkan kemungkinan itu ada—tapi, jika anak itu adalah kau, apakah saat ini kita akan lebih baik? Ataukah kita akan tetap berada diposisi ini? Apakah kita akan tetap terjebak dalam status sepasang kekasih hanya karena perjanjian?

Entahlah, tapi aku mulai berharap bahwa anak itu adalah kau, Cho Kyuhyun.

~~~

*Kyuhyun POV*

“Anio”

Nara terdiam. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sorot matanya, ekspresinya.. aku ingin tahu apa yang ada dalam benaknya.

“Aku tak pernah bertemu bahkan mengingatnya. Anak itu, meskipun tak berjalan seperti yang aku inginkan tapi dia tetap cinta pertamaku dan aku tak mungkin melupakannya”

Nara, benarkah itu? Kau tak mengingatnya sama sekali?

“Bagaimana jika anak itu adalah aku??”

Nara berpaling seketika menatapku.

“Bagaimana jika cinta pertamamu adalah aku, Cho Kyuhyun?

Gadis itu mendelik. Menatapku dengan serius.

“Andwae.. itu tak mungkin” Nara tertawa kaku “Itu tak mungkin kau,, ah—aku harus tidur, sudah begitu larut”

Nara beranjak meninggalkanku.

Nara tapi anak yang kau tolong itu, anak yang menjadi cinta pertamamu—adalah aku. Aku menyimpan puisi itu, karena kau memang menulisnya untukku.

Jangan membuatku merasakan hal yang sama Nara. Ketika melihatmu saat ospek, aku tahu kau adalah gadis yang selama ini aku cari, gadis yang juga adalah cinta pertamaku tapi kau malah tidak mengenaliku.

Nara aku pernah memberitahukan padamu, akar dari sikapku yang selalu membuatmu kesal karena aku merasa bodoh, bertahun-tahun menantimu tapi ketika bertemu kau bahkan tak mengenaliku. Aku kesal dan kesal—semakin kesal tapi kau tetap tak mengenaliku meskipun pada akhirnya kau sadar dengan semuanya, tetap saja aku kesal karena otakmu begitu lambat menyadari keberadaanku.

Saat ini, untuk kedua kalinya kau memposisikan diriku di tempat yang sama. Kau melupakanku dan semua tentang kita. Kau lupa bahwa aku adalah namja yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan mencintaimu. Aku adalah namja yang juga begitu kau cintai.

Mengapa justru aku yang harus terdelete dari otakmu? Mengapa kau tak menyisahkan sedikit saja ingatan tentang cintamu juga cintaku? Mengapa justru kau memutar kembali ke masa saat kau begitu membenciku?

Song Nara, aku sangat mencintaimu. Tak ingatkah kau sedikitpun?

(#Note : maaf, author nyela dikit.. bagi yang mungkin agak kebingungan.. silahkan baca I Hate You, But I bla bla bla karena disitu diceritakan kehidupan Kyuhyun dan Nara semasa sekolah or kejadian 9 tahun lalu, di sini hanya diulas dikit aja sekedar mengingatkan kembali. Gamsahamnida#)

Titipan Rindu

Kutitipkan salamku pada langit bulan Juni

Darinya aku merajut kasih

Kutitipkan hatiku pada hujan sore hari

Bersamanya aku bersenandung rindu

Kutitipkan cintaku pada angin hari ini

Semilirnya menghantarkan peluk mesra

Kutitipkan segala asa dan doa

Untukmu, sang penguasa hati

By. Song Nara

~to be continue~

Iklan

374 thoughts on “After Story…I Hate You, But I bla bla bla (Part 2)

  1. reni oktaviani berkata:

    nara blom inget juga sama kyuhyun..
    knpa kyuhyun harus berbohong?? knapa ga bicara jujur bahwa mereka itu pacaran atas dasar saling mencintai..??

  2. Widya Choi berkata:

    Aduh mslah yg 1 aj lom slsai skrg mncul msalah baru. Knp yesung msti ngomg gt sih..liat kan jd ny gr2 yesung, fans fanatik ny lgsg nyerbu nara..
    Ayooo dunk nara coba ingat2 lg. Ksian liat kyu. Pacar yg trlupakan huhuhu

  3. cho_hyuri berkata:

    Waw, mau kyu punya pacar kaya kanu kalo gini caranya.
    Bukan cuma karna tampan tapi sifatnya, heh nara cepet inget kasian kan prince evil.

  4. gaem9488 berkata:

    part ini lucu 😀 Nara vs Kyuhyun XD
    tp Kyuhyun kasian dia berkorban banyak buat nara supaya Nara inget tp caranya salah =______=
    masiih penasaran sama alasan Nara bisa sampe amnesia

  5. KakaCaca berkata:

    Pertama kali baca ff di blog ini aslinya cuma iseng2 doang,eh malah keterusan,haha. Aku suka gaya bahasa kakak nulis fd disini,bahasanya nggak alay,juga ngfak serius2 amat. Izin nerusin baca kak

  6. jidatseksehpcy berkata:

    kasian kyuhyun, kenapa nara cuman lupa memori nya sama kyuhyun doang(?) aneh -, . nara Gws yehet 😂 kasian kyunya lu gituin, kalo nga mau sini buat gw aja #plakditampolsparkyu 😂

  7. FitriFitri berkata:

    Dejavu untuk kyuhyun, dia hrus terluka untuk kedua kalinya. Betewe puisinya bagus banget. Tapi nara, bisakah kau mengingat kisah kalian lagi? Kasian kyu 😦

  8. ina berkata:

    Baru komen part1 mumpung ada wifi gratis sekalian part 2
    Emmm agak ga suka cara yesung nyatain cinta nya
    Nyesek jga jdi kyuhyun…. Tpi kocak hehe

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s