After Story…I Hate You, But I bla bla bla (Part 3)

 Image

Main Cast    : Cho Kyuhyun (Suju), Song Nara (Fiction)

–> FF ini murni imaginasiku, say no to plagiat!!!

~~~~

*Nara POV*

“Annyeong..”

Aku membalas salam orang-orang yang berpapasan denganku. Lantai 30 kantor C&M, saat ini aku hendak menemui direktur kami yang gila itu. Aku tak ingin menjadi bulan-bulanan Kyuhyun karena proyek resort pulau Wando itu.

Berhari-hari, bersama seluruh bawahanku—bersama-sama kami mengalami syndrome stress. Ah, mengapa Kyuhyun tak pernah berubah? Selalu saja menyebalkan.

“Shi Young-a” aku menyapa seorang gadis muda yang tengah sibuk menata ulang make up di wajahnya.

“Eonni..”

Dia adalah sekretaris Kyuhyun.

“Bagaimana moodnya hari ini?”

Hahh,, aku tak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulutku. Menanyakan moodnya lebih penting dari mengetahui perkiraan cuaca kota Seoul hari ini.

“Eonni, molla-yo?”

Shi Young menatapku, matanya tak berhenti berkedip.

“Wae?” aku tak mengerti

“Jjinja??” ia kembali menelusiri wajahku. Apakah ada yang aneh dengan dandananku hari ini? “Eonni, kau kekasihnya”

Yaa~ gadis bodoh,, kau tak usah mengatakan itu.

“Araseo, apa hubungan antara aku sebagai kekasihnya dengan mood si namja menyebalkan itu?”

Aku menggeram kesal.“Eonni… direktur hari ini tidak ke kantor. Dia meneleponku, mengatakan bahwa dia sedang sakit”

“Mwo?”

“Sangat aneh, kau tidak mengetahuinya” Shi Young bergumam.

“Araseo”

Aku segera meninggalkan tempat itu dan kembali ke ruang kerjaku di lantai 25.

Sakit? Itulah sebabnya aku tak melihat batang hidungnya sejak pagi tadi. Mengapa tak mengatakan padaku? Aish, dasar bodoh—tentu saja dia tak akan mengatakan padaku.

Bagaimana keadaannya?

Namja itu, meskipun memiliki segalanya tapi dia tak cukup pintar untuk mengurusi dirinya sendiri. Haruskah aku melihatnya?

Song Nara. Mengapa kau begitu perduli padanya? Biarkan saja dia! Bukankah kau sangat ingin menyingkirkannya.

Aku terkekeh. Baiklah, hanya berpura-pura tak tahu apapun. Kurasa iblis telah menguasai pikiranku.

Yaa! Song Nara, apa kau ini masih manusia? Kau keterlaluan—meskipun sikapnya sangat menyebalkan tapi seharusnya kau ingat bahwa dia yang selama ini terus melindungimu—bahkan merawatmu ketika kau sakit. Sekarang kau ingin membunuhnya? Dimana hati nuranimu yeoja-ya?

Aishh,, tiba-tiba saja teringat semua kebaikan namja itu.

Iblis dan malaikat pasti sedang bertengkar di kepalaku. Aku tak tahu mana yang akan menang.

~~~

Aku menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Yah, saat ini sang malaikat tengah bersorak girang, dia pasti sedang menginjak kepala si iblis karena saat ini aku telah berada di depan pintu kamar Kyuhyun.

Mengingat masih ada sisa-sisa kebaikan dari namja itu, aku memutuskan untuk melihat keadaannya.

Pintunya tidak terkunci. Seingatku, ini kedua kalinya aku berada di kamar Kyuhyun yang cukup luas, tak tahu dengan sebelum aku kehilangan sebagian ingatanku—hiiii,, aku mendadak merinding hanya dengan memikirkan hal itu.

Aku mendekati tempat tidur Kyuhyun. Namja itu tergolek di atasnya, matanya terpejam. Wajah tampannya terlihat pucat. Seperti ini, kau benar-benar terlihat lemah. Aku duduk di tepi tempat tidurnya.

Memandangi wajahnya—lagi. Perlahan, tanganku menyingkap rambut yang hampir menutupi matanya, meraba dahinya—ah, suhu tubuhnya sangat panas.

Aku segera keluar dari kamarnya dan kembali beberapa saat setelah itu dengan kedua tanganku yang membawa nampan, keperluan untuk merawat namja itu.

Aku membungkus kotak-kotak kecil es batu dengan handuk, mengikatnya agar es tak keluar dari handuk. Tanganku menyingkap rambut Kyuhyun yang menutupi dahinya dan digantikan dengan handuk yang kuberi es tadi—mengompresnya, semoga panasnya cepat menurun.

Tangan Kyuhyun bergerak, ia memegangi handuk putih kecil yang kugunakan untuk mengompresnya. Matanya yang semula terpejam perlahan terbuka. Kyuhyun menatapku.

“Nara, sejak kapan kau ada di sini?”

Suaranya terdengar lemah.

“Mengapa kau tak memberitahuku?” aku menatapnya, kesal

“Aku pikir, aku akan baik-baik saja”

“Geurae. Kau menunggu mati lalu akan memberitahuku? Apa kau berniat ingin menyiksaku hanya untuk menemukanmu sekarat?”

Kali ini, aku benar-benar marah. Tak tahu. Keadaannya yang seperti itu membuatku sedih tapi aku hanya bisa memamerkan kemarahanku padanya.

“Baiklah—urus saja dirimu”

Namja itu menarik tanganku ketika hendak meninggalkannya. Aku kembali terduduk di tepian kasur. Ia bangun dari tidurnya, meraih pinggangku dengan kedua tangannya. Kyuhyun memelukku. Jantungku berdebar keras menyadari kepalanya yang tersandar di bahuku.

Aku dapat merasakan hangat tubuh Kyuhyun.

“Mianhae”

Aku tertegun. Namja itu adalah tipe orang keras kepala. Aku bahkan masih mengingat dengan jelas, sejak SMA Kyuhyun adalah tipe yang anti meminta maaf—terutama padaku.

“Mianhaeyo” ulangnya lagi.

Dadaku berdebar keras. Tak tahu detak jantung siapa yang aku rasakan, aku atau Kyuhyun? Aku hanya membiarkannya memelukku.

“Kyuhyun-a, kau makan dulu sebelum buburnya dingin”

Semoga suaraku tak terdengar begitu gugup. Kyuhyun melonggarkan pelukan dan kesempatan itu aku pergunakan untuk mengambil bubur yang telah kusediakan.

Aku memandanginya—ia makan bubur itu dengan sangat lahap.

“Aku ingin tidur” ia kembali berbaring “Nara, kau jangan bergerak sedikitpun dari tempatmu”

Kyuhyun memejamkan matanya. Aku benar-benar tak beranjak dari tempatku. Terus mengawasi Kyuhyun.

~~~

Hmm..kasur ini nyaman sekali. Rasanya tak rela untuk membuka mataku yang masih mengantuk ini, setelah kelelahan menjaga Kyuhyun..

Omo! Aku terkesiap.

Hal terakhir yang kuingat adalah aku sedang bersama Kyuhyun—namja itu sakit. Lalu bagaimana mungkin aku bisa terlelap?

Aku mengawasi kamar ini—aku benar-benar belum beranjak dari kamar Kyuhyun. Kyuhyun sudah tak terlihat di tempat tidur, justru aku yang menikmati kasur empuknya. Aku pasti ketiduran dan namja itu..mungkinkah dia yang memindahkanku ke tempat tidurnya? Aish, molla.. aku menggeleng kasar.

“Ada apa dengan kepalamu??”

Aku menoleh seketika mendengar suara Kyuhyun. Astaga. Kyuhyun baru keluar dari kamar mandi, sepertinya dia baru habis mandi. Rambutnya masih terlihat basah dan—oh, aku tak sanggup memandanginya yang hanya melilitkan handuk dipinggangnya membuat dada bidangnya terlihat dengan jelas oleh mataku.

“Yaa~ mengapa kau seperti itu??”

Aku menanyakan penampilannya. Apakah dia tak sadar jika ada seorang gadis di kamar tidurnya? Aku merasa susah bernafas—mendadak kehilangan banyak oksigen di ruangan seluas ini.

“Waeyo?”

“Kyuhyun-a, kau masih bisa bertanya setenang itu?” aku bahkan tak tenang melihatnya dengan penampilan setengah telanjang itu. Hhaaahhh, sesak nafas.

“Gwaenchana” Kyuhyun tersenyum. “Bukankah kau pacarku? Suatu saat kau akan menjadi istriku dan kau harus terbiasa dengan ini. Tak apa, aku akan memberikan pelatihan sedikit demi sedikit padamu agar kau terbiasa dan nantinya kau tak kaget lagi”

Mwo?? Melihatnya mengerling nakal membuat persendian tulangku melemas.

“Yaa!! Cho Kyuhyun!! Kita bukan sepasang kekasih sesungguhnya”

Aku mencoba mengingatkan namja babo itu.

“Geurae? Ah, apa bedanya?” gumamnya “Bukankah kau sudah pernah melihat seluruh tubuhku? Aigo~ jangan berpura-pura malu seperti itu”

Kyuhyun memamerkan senyuman iblisnya. Tangannya terlihat bersiap melepas lilitan handuknya.

“Yaa!! Yaa!! Yaa!!! Jamkkanman…andwae!!” teriakku mencegah perbuatan gilanya.

Blasssshhh…serasa menghilang seluruh tubuhku melihat handuk itu terlepas, melorot ke lantai.

“YAAAA!!”

Aku berteriak histeris dan langsung memejamkan mataku sekuat-kuatnya.

“Nara-ya, mengapa menutup matamu?” suara namja itu “Yaa~ buka matamu? Tak perlu bertingkah seheboh itu”

Mwo? Dia gila. Aku tak ingin melihat apapun yang dapat mengotori otakku terlebih membuatku bermimpi buruk.

“Sihreo!! Cho Kyuhyun, apa kau gila??”

“Yaaa~ kesempatan tak datang untuk kedua kalinya”

Kyuhyun benar-benar menggila. Ia mirip psikopat sekarang. Bagaimana mungkin dia melakukan hal diluar nalar itu?

“Nara-ya, hanya ada aku dan kau.. bukankah kau sangat ingin melihatku seperti ini?? Penyesalan selalu datang terlambat, jangan membuang waktu”

Mworago?? Sejak kapan iblis ini berubah menjadi begitu mesum?

“Cho Kyuhyun!! Apa katamu??” aku menatapnya.

DEG. Tak sadar aku telah membuka mataku. Wajahnya yang tersenyum menahan tawa terlihat jelas di mataku. Aku menelan ludah kasar, tatapanku beralih turun dari wajahnya.

“Sayang sekali..kau belum beruntung” katanya dengan mimik wajah yang lucu “Kau pikir aku serius mengatakan itu padamu??”

Jantungku tetap saja menghilang. Tak seperti pikiranku, namja itu memakai celana pendek.

“Nara, apa yang kau pikirkan? Atau kau benar-benar ingin melihatku telanjangkan?”

Kyuhyun menatapku serius.

“Aku, aku akan keluar” suaraku begitu gugup. Dengan terburu-buru aku meninggalkan kamarnya.

Eotteohke? Aku pasti terlihat sangat bodoh dengan wajahku yang memerah seperti kepiting rebus. Dia berhasil mengerjaiku. Aku menyerah kali ini.

Lengkingan tajam tawa Kyuhyun membahana. Tawanya yang berderai. Aish, aku semakin malu. Kyuhyun kini tertawa terpingkal-pingkal di dalam kamarnya.

Nara-ya, seharusnya kau tetap membiarkannya mati! Aarrggghhh!!!! Kau namja menyebalkan!! Aku menyesal sudah merawatmu.

#####

Lagi-lagi hampir tengah malam saat aku keluar dari lobi C&M.

Sebuah mobil berhenti tepat di hadapanku.

“Naiklah” Cho Kyuhyun menatapku. “Wae? Kau lebih memilih naik bus daripada semobil denganku?”

Aish, aku hanya mencibir. Aku membuka pintu mobil dan segera masuk ke dalamnya.

~~~

Udara malam yang cukup dingin dan aku masih duduk di pinggiran sungai Han. Entah mengapa Kyuhyun membawaku ke sini tapi tak mengapa mengingat aku dapat menyaksikan indahnya pemandangan malam di kota Seoul juga lampu dari jembatan Yeoido, salah satu jembatan yang melewati sungai Han di wilayah Seoul. Total jembatan yang melewati sungai Han sebanyak 27 jembatan yang tersebar di wilayah Seoul, Gyeonggi dan Incheon.

Benar-benar pemandangan yang indah.

Kyuhyun baru saja duduk di sampingku. Ia meletakkan gelas plastik dan beberapa botol soju di antara kami. Dia pasti mendapatkannya dari tenda-tenda makanan yang berjualan pada malam hari di sekitar sini.

Dia menuangkan soju pada dua buah gelas itu, lalu menyerahkan salah satunya padaku. Aku langsung meneguk soju tersebut—lumayan untuk menghangatkan tubuhku.

“Dingin sekali..”

Kyuhyun meneguk soju pada gelas keduanya.

Kami tak banyak bicara. Udara dingin membuat aku dan dia terus menuang soju pada gelas kami.

“Apa sebaiknya kita pergi karouke saja?”

Aku menatap Kyuhyun

“Wae?” tanyaku

“Anio—aku rasa itu ide yang cukup baik, ajak teman-temanmu seperti waktu itu”

Aku tak percaya mendengarnya mengatakan itu.

“Sihreo” saat ini aku tak berniat pergi kemanapun “Aku tak ingin terlibat dengan mereka”

“Waeyo?” tanya Kyuhyun

“Kau tak ingat seburuk apa mereka saat mabuk?”

Wajah Kyuhyun terlihat tenang. Ia kembali meneguk soju.

“Semua orang akan bertingkah aneh saat mabuk” tukasnya.

“Aku tahu tapi aku tak mau meladeni pertanyaan dan juga permintaan mereka yang tak masuk akal itu”

“Aku mengerti. Kau masih memikirkan perkataan mereka tentang ciuman itu?”

Mwo? Aku pikir Kyuhyun tak mengingatnya lagi.

“Itulah sebabnya aku tak ingin saat bersama mereka, kau juga ada di situ” kataku “Tak habis pikir bagaimana mungkin meminta kita berciuman di hadapan mereka?”

Dengusku kesal sambil menuang kasar soju ke dalam mulutku.

“Nara-ya, mau tak mau kita harus melakukannya”

“Mworago??” aku menatap Kyuhyun seketika

“Bukankah kita sudah berjanji pada mereka?” Kyuhyun tertawa pelan.

Lagi-lagi dia sedang mengejekku.

“Yaaa! Aku tak menjanjikan apapun pada mereka, kau yang mengatakan itu—bukan aku”

“Araseo” jawab Kyuhyun “Artinya aku tetap harus mencium seseorang dihadapan mereka meskipun kau menolak jadi partnerku—ah, ataukah meminta Shi Young menggantikanmu. Selain sekretaris yang baik, dia juga cukup cantik”

Mwoya? Kyuhyun terkekeh. Malam hari tak menyembunyikan seringaian khasnya itu. Argh, mengapa mengatakan hal itu padaku? Shi Young? Kau akan mencium gadis itu? Yaa~ kau hebat Kyuhyun-a. Kau berhasil membuatku kesal. Kesal? Omo~ ada apa denganku?

“Bukan urusanku” tepisku.

Kyuhyun tersenyum tipis.

“Kau ingin berlatih denganku?” sinar matanya terlihat begitu tajam.

“Berlatih?” Perkataannya sedikit membingungkanku

“Tentang ciuman itu, bukankah sebaiknya kita perlu berlatih lebih dahulu? Bagaimana jika mereka tiba-tiba menodong kita melakukannya? Eotteohke?” namja itu menyengir.

“Mworago??” mataku melotot menatapnya “Yaa!! Cho Kyuhyun nappeun!! Kau sudah gila, huhh?? Aku tak mengatakan apapun pada mereka, lalu mengapa aku harus…”

DEG!

Kyuhyun menghentikan omelanku dengan mendaratkan ciuman di bibirku. Aku terkejut, tak lagi merasakan pijakan kakiku.

“Eotteohke??” Kyuhyun melepas ciumannya, ia tersenyum menatapku yang mematung.

Namja itu, kembali menyentuh bibirku dengan bibirnya. Jantungku bekerja tak normal. Panas dingin di sekujur tubuhku merasakan sentuhannya yang hangat. Dadaku berdesir-desir aneh. Entahlah tapi perlahan aku ikut terbawa suasana itu, membuat mataku ikut terpejam—aku bahkan membalas kecupan lembut Kyuhyun.

Udara malam yang begitu dingin tapi suasana di sini mulai menghangat. Kami benar-benar terhanyut dalam suasana yang berbeda—aneh tapi sangat mendebarkan.

#####

*Nara POV*

Tatapanku tertuju pada dedaunan yang jatuh dari ranting-rantingnya. Seorang pelayan meletakkan capucino panas di meja, aku membalas senyuman yeoja itu sebelum dia akhirnya kembali membiarkanku dalam kesendirian.

Nara, apa yang kau pikirkan?

Setelah gossip hebat itu, mengapa kau masih berani menyanggupi permintaan Yesung oppa?

Aish, rasanya aku akan gila. Sedikit takut—mataku bahkan tak henti mengawasi keadaan sekitarku. Yesung oppa, berkata akan menemuiku dan aku menyanggupinya.

Jika yeoja-yeoja mengerikan itu tahu bahwa namja kesayangan mereka menemuiku—aku akan benar-benar diteror. Dan juga—bagaimana jika Kyuhyun mengetahuinya?

Apakah dia akan benar-benar memarahiku?

Yaa! Song Nara, sadarlah!! Kau dan dia hanyalah sebuah sandiwara. Mengapa kau masih memikirkan namja menyebalkan itu?

Ah, tapi tetap saja—meskipun menyebalkan, dia telah menaruh banyak sihir padaku. Kepalaku tak bisa berhenti memikirkannya. Song Nara, kau mulai menggila.

“Waeyo?”

Lamunanku terhenti.

“Oppa??”

Aku hampir tak mengenali Yesung oppa. Ia melilitkan syal hingga menutupi mulutnya. Mengenakan kaca mata hitam dan juga sebuah topi—benar-benar penyamaran yang sangat sempurna.

“Menekuk wajahmu dan mulut yang komat-kamit tak jelas. Apa yang mengganggumu?”

“Anio oppa—terlalu banyak hal yang membuatku tak habis pikir”

Tentu. Aku yang kata mereka kehilangan sebagian ingatan lalu tiba-tiba mendapati Cho Kyuhyun yang adalah musuh besarku, mendapati diriku yang entah bagaimana terikat perjanjian dengannya—bertemu dengannya setiap waktu, tentu karena dia CEO perusahaan tempatku bekerja dan lebih gilanya lagi, aku bahkan serumah dengan si sombong, angkuh dan menyebalkan itu. Apakah aku masih bisa mempercayai semua yang terjadi? Tolonglah, kemana sebagian memori itu? Aku hampir mati penasaran dengan semua ini.

Lalu, tiba-tiba saja pernyataan cinta Yesung oppa yang menghebohkan, itu bukan masalah—yang membuatnya bermasalah adalah status oppa adalah seorang artis terkenal. Aku tak ingin menjadi incaran fans fanaticnya.

“Mianhae” ujar Yesung oppa “Aku pasti menambah kesusahanmu”

“Oppa..”

“Nara-ya, yang aku katakan waktu itu” oppa terdiam, ia seperti memikirkan banyak hal lainnya “Aku tak akan menyangkali itu. Sejak awal aku telah menyukaimu—tapi aku harus memendam semua karena Kyuhyun”

Aku tak berniat untuk menyela perkataan oppa.

“Seharusnya saat itu aku tetap mengutarakan isi hatiku, setidaknya aku pernah mencoba untuk mengatakannya tapi tak aku lakukan…aku merasa seperti seorang pengecut. Saat kau mengatakan bahwa yang terjadi antara kalian hanyalah sebuah perjanjian—Nara, aku sangat senang. Aku benar-benar bahagia..”

“Oppa,”

Entahlah oppa, aku bahkan telah melupakan seperti apa hubunganku dengan Kyuhyun tapi kau menyadarkanku. Mendengarmu mengatakan itu—mengatakan bahwa tak ada apapun antara aku dan Kyuhyun. Bahwa kami hanyalah sebuah sandiwara, ada sesuatu yang kosong di dadaku.

Yang terjadi antara kita. Antara aku dan Kyuhyun juga antara aku dan kau, semua sangat menyedihkan.

“Nara-ya, saranghae”

“Oppa aku..”

“Anio—aku hanya ingin menyampaikan langsung padamu. Nara, ingatlah, bahwa namja yang duduk dihadapanmu ini adalah namja yang selalu mencintaimu..aku akan menunggumu. Aku tak akan bertanya apapun tentang kau dan Kyuhyun? Hanya seperti saat ini, aku akan menunggumu..kumohon untuk sedikit mengingat bahwa aku masih menunggumu..”

Dadaku sesak. Oppa, aku senang kau mengatakan hal yang terdengar sangat menyenangkan itu tapi oppa, hatiku…

“Mianhae oppa” aku beranjak “Oppa—jangan menungguku oppa”

“Nara-ya..”

Yesung oppa memanggilku tapi aku tetap melangkahkan kakiku. Oppa, kau sangat baik tapi aku tak ingin menyakitimu. Jangan menungguku karena mulai saat ini aku akan mulai mencintai seseorang.

Ini gila bagiku, aku benar-benar telah gila. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Tapi perkataan Yesung oppa menyadarkanku bahwa aku tak bisa bersamanya karena aku telah menyukai namja brengsek itu.

Tak pernah terpikirkan tapi ketika terlintas, aku mendapati diriku dan rasa cintaku yang entah dari mana datangnya, rasa cinta yang begitu besar untuk orang itu.

Kyuhyun-a, apakah benar semua perkataanmu tentang perjanjian itu? Benarkah yang terjadi adalah hal seperti itu? Apakah mungkin aku memang menyukaimu? Lalu, mengapa aku tiba-tiba merasakan perasaan yang begitu besar padamu? Wae?

Ini menyedihkan Kyuhyun-a tapi aku rasa…aku mencintaimu.

#####

*Author POV*

Suasana begitu sunyi tercipta di antara Kyuhyun dan Nara. Hanya dentingan peralatan makan yang terdengar di ruangan itu. Nara memandangi wajah namja yang duduk di hadapannya.

Kyuhyun, tak memperdulikan tatapan Nara. Ia terus memasang wajah datarnya.

“Berhenti menatapku” suara Kyuhyun membuyarkan lamunan Nara “Bagaimana aku bisa menikmati makananku jika kau terus bertingkah seperti itu” Kyuhyun mendesah, berkata pelan.

Nara tertegun. Sedikit terkejut dengan sikap kasar Kyuhyun. Meskipun Kyuhyun sangat menyebalkan tapi nada yang keluar kali ini terdengar begitu menyakitkan. Dia sangat dingin.

“Mianhae”

Nara berkata pelan.

Keduanya kembali melanjutkan makan malam mereka—tanpa suara. Nara merasakan perubahan sikap Kyuhyun yang aneh sejak 2 hari belakangan ini.

“Yaa~ Song Nara! Berapa kali harus kukatakan” Kyuhyun menatap dingin pada Nara.

Gadis itu terpaku. Ia tak cukup siap untuk diperlakukan seperti itu oleh Kyuhyun.

“Kyuhyun-a, kau tak perlu semarah itu padaku” ujar Nara “Apa masalahmu, huhh?” Nara tak bisa menahannya lebih lama lagi.

“Wae?” tanya Kyuhyun santai.

“Sebentar-sebentar kau bersikap baik dan lembut—sekarang kau bersikap sangat menyebalkan. Apa maumu?” geram Nara.

Kyuhyun meletakkan peralatan makannya. Ia memandangi Nara yang sedang menghujaninya dengan api kemarahan.

“Wae?” ulang Kyuhyun “Kau pikir kau pantas untuk bersikap seperti ini? Ah, atau kau merasa karena sudah sedikit lembut padamu lalu kau besar kepala? Aku baru menciummu waktu itu tapi kau sudah berlagak seperti ini”

Ucapan Kyuhyun membuat Nara terkejut.

“Mwoya? Atau karena ciuman itu, kau sekarang jatuh cinta padaku?”

Nara merasakan sesak di dadanya. Air matanya mengalir begitu saja.

“Mianhae, tapi kau harus ingat—bahwa kau dan aku..kita, hanyalah sebuah sandiwara” suara Kyuhyun yang begitu datar dan dingin membuat hati Nara semakin sakit.

“Cho Kyuhyun. Mengapa kau mengatakan semua itu padaku?” mata Nara menatap nanar pada Kyuhyun.

“Song Nara-ssi, lalu apa yang ingin kau dengar? Aku mengatakan hal yang sesungguhnya, agar kau sadar posisimu di sini” jawab Kyuhyun “Bukankah kau sangat ingin pergi dari sini? Aku hanya mempermudahmu untuk pergi”

Nara tak berkutik.

“Kau ingin selalu pergi menemui oppamu itukan? Pergilah, kau bisa berada di sisinya. Aku tak akan menghentikan apapun yang bisa membuatmu bahagia, Song Nara-ssi”

Air mata kembali mengalir di wajah Nara. Ia memandang tak percaya mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Kyuhyun. Nara beranjak.

“Kau sangat buruk!!” teriak Nara marah “Cho Kyuhyun, aku sangat membencimu!!” ia lalu bergegas ke kamarnya untuk mengambil semua barang-barangnya—pergi dari rumah itu.

Kyuhyun kembali bungkam. Sorot matanya terlihat begitu terluka.

“Song Nara.. saranghamnida” ujar Kyuhyun dengan suaranya yang terdengar parau. Butir air mata menyeruak dari matanya.

“Aku harus bagaimana Nara? Aku sangat mencintaimu tapi apa yang bisa aku lakukan ketika melihatmu bersamanya. Aku sangat cemburu Nara, kau masih menemuinya. Tapi aku bisa apa ketika kau terlihat lebih bahagia dengannya?”

Kyuhyun berbisik lirih dalam hatinya. Ia meremas rambutnya dan membenamkan wajahnya dibalik telapak tangannya. Namja itu terlihat sangat frustasi.

#####

Kyuhyun duduk di lantai, ia menyandarkan punggungnya pada sofa. Wajahnya yang tampan terlihat sangat sedih. Beberapa botol minuman berserakan di sekitarnya. Matanya memerah dan sedikit sembab.

Ia kembali meneguk minuman beralkohol. Namja itu terlihat jelas jika sedang frustasi.

Kyuhyun melirik pada handphone yang terletak di lantai—tak jauh darinya. Handphone itu terus bergetar.

“Yeoboseyo..”

Kyuhyun memutuskan untuk menerima panggilan masuk.

Sunbae” suara Minji terdengar dari seberang “Sunbae, eodiga? Gwaenchanayo?” kecemasan terlukis dari suara yeoja itu.

“Aku tak apa-apa” jawab Kyuhyun, matanya sesekali terpejam.

Namja itu telah mabuk. Berhari-hari dihabiskannya dengan mabuk—tidak ke kantor dan hanya mengurung diri di rumah.

Sunbae, mengapa kau lakukan itu?

Kyuhyun hanya diam.

Mengapa kau membiarkan Nara pergi? Mengapa mengeluarkan kata-kata itu untuknya? Sunbae, kau benar-benar ingin membiarkan Nara pergi ke sisi Yesung oppa?

“Minji-ya,, aku tak ingin membahas itu”

Anio sunbaenim—aku tak bisa melihat kalian terus-terusan seperti ini

Minji sangat gusar.

Sunbae, Nara hanya menghabiskan waktunya dengan menangis. Aku tak tahan melihatnya. Benarkah kau tak menginginkannya lagi? Sunbae, sekarang kau menyerah pada Nara?

“Lalu apa yang harus aku lakukan Minji-ya?” mata Kyuhyun terus terpejam, mencoba mengurangi rasa berat di kepalanya.

Sunbae, kalian tak boleh begini! Kau tak mencintainya lagi?

“Ani, aku sangat mencintai yeoja itu. Orang itu—aku tak pernah bisa berhenti mencintainya. Mengucapkan kata-kata itu, melepasnya untuk orang lain—hatiku sangat kosong, aku tak bisa bernafas dengan baik”

Geurae, lalu mengapa kau melakukan itu sunbaenim?

“Nara..aku sangat ingin melihatnya bahagia” Kyuhyun menarik nafas “Ketika berpikir dia tak bahagia denganku maka aku harus melepaskannya. Melepasnya, membiarkannya menghampiri orang lain, itu sangat menyakitkan bagiku tapi akan lebih sakit lagi jika membiarkannya tetap di sisiku tapi ia tak bahagia bersamaku”

Butiran bening meluncur lembut di wajah Kyuhyun.

“Aku merasa kosong di sini” ia memegangi dadanya “Tapi inilah caraku mencintainya, inilah caraku untuk tetap melindunginya Minji-ya..”

Air mata kembali mengalir di wajah pemuda tampan itu. Seluruh tubuhnya lemas, bahkan tangannya terkulai membuat handphone di tangannya kembali tergeletak di lantai. Kyuhyun meremas rambutnya, ia terlihat sangat frustasi.

Masih dengan posisi yang sama—pemuda itu menyandarkan kepalanya, merebahkan kepalanya yang terasa sangat berat di sofa. Matanya terpejam.

Ia bahkan tak menyadari kedatangan Nara.

Nara memandangi suasana rumah yang terlihat jauh berbeda dengan terakhir kali dilihatnya sebelum pergi. Berantakan, seperti tak ada kehidupan di sana. Langkah Nara terhenti melihat Kyuhyun.

Mata Nara mulai berkaca-kaca, detik selanjutnya ia tak dapat membendung air matanya melihat pemuda yang dicintainya dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Nara membekap mulutnya agar tangisnya tak terdengar oleh Kyuhyun. Gadis itu berusaha untuk menguasai dirinya—sesegukan. Nara melangkah pelan mendekati Kyuhyun. Ia berlutut di samping Kyuhyun memandangi Kyuhyun yang terlihat sangat kusut. Nara menghapus air matanya.

Nara melingkarkan kedua tangannya ditubuh Kyuhyun, ia bersandar di dada namja itu. Kyuhyun beringsut, ia membuka matanya.

“Song..Nara??”

Namja itu terkejut mendapati Nara yang memeluknya, ia langsung menegakkan posisi duduknya—wajahnya menegang melihat Nara yang tak melepas pelukannya.

“Nara-ya, kaukah itu???”

“Ne, ini aku” jawab Nara “Kyuhyun-a, mianhae. Bisakah kau tak menyuruhku pergi ke tempat Yesung oppa?”

Wajah Kyuhyun penuh dengan keterkejutan. Ia menatap Nara yang melepaskan pelukannya, memandang dengan bola matanya yang begitu bening.

“Saranghae”

Ucapan yang terlontar dari bibir Nara membuat mata Kyuhyun melebar. Ia terkejut.

“Cho Kyuhyun. Saranghaeyo..” Nara mengulang perkataannya.

Kyuhyun membutuhkan beberapa menit untuk meyakini semua yang keluar dari mulut Nara. Ia terus menatapi Nara yang tersenyum tipis—sinar mata gadis yang begitu lembut dan hangat, penuh dengan cinta.

Tak menunggu lama, Kyuhyun merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ia memeluk Nara dengan sangat erat—begitu erat seakan tak ingin membiarkan Nara berlalu.

“Nado saranghae..” Kyuhyun berujar “Saranghae, jeongmal saranghae..”

Nara tersenyum tipis dalam pelukan Kyuhyun. Ia membalas pelukan Kyuhyun yang terasa hangat—bahkan menghangat sampai ke dalam hatinya.

#####

Nara akhirnya mengemasi pakaiannya dan kembali ke rumah Kyuhyun.

“Yaa~ mengapa aku harus kembali ke sini?” protes Nara, “Bukankah sebaiknya aku tetap di rumah Minji atau kembali ke rumahku sendiri?”

“Andwae!” tolak Kyuhyun “Song Nara, eomeoni menitipkanmu padaku. Sekarang, kau menjadi tanggung jawabku, arachi?”

“Hahh—yang benar saja”

Kyuhyun tersenyum melihat Nara yang mendesah tak percaya.

“Kau tak diijinkan untuk kabur” Kyuhyun mengacak-acak rambut Nara.

“Cho Kyuhyun, bukankah sangat berbahaya laki-laki dan perempuan tanpa ikatan pernikahan untuk hidup di bawah satu atap?”

“Nara—kau ingin mengatakan apa? Bukankah kita memang telah tinggal bersama?”

“Yaa! Itu lain ceritanya—saat itu kau dan aku belum…” Nara terlihat kesal dan tak berniat melanjutkan ucapannya “Cho Kyuhyun! Bagaimanapun kau adalah seorang namja, aku tak tahu kapan kau akan menerkamku”

“Mwo??” Kyuhyun mendelik tak percaya “Yaa! Song Nara—kau pikir aku seperti hewan yang tak memiliki aturan? Yang benar saja..kau tak perlu cemas”

“Apa kau bisa menjamin dirimu sendiri untuk tidak menerjangku??”

Kyuhyun terdiam dan berpikir.

“Molla” jawabnya enteng.

“Mwo?”

“Akan sangat sulit mengatasi naluri seorang lelaki muda sepertiku” Kyuhyun memamerkan senyuman mautnya.

“Yaaa!!”

“Nara—jangan cemas, aku tak akan melakukan hal buruk padamu. Jika aku ingin, sudah dari dulu aku melakukannya” perkataan Kyuhyun membuat Nara terdiam, ia membenarkan ucapan namja itu “Lagipula bebek jelek sepertimu,, apa yang bisa diandalkan darimu??”

“Cho Kyuhyun!!” hardik Nara.

Kyuhyun tertawa lebar.

“Araseo, aku bercanda” ujar Kyuhyun.

Namja itu mengecup singkat pipi Nara membuat gadis itu tertegun.

“Percaya padaku” Kyuhyun mengacak-acak lembut rambut Nara.

Nara tersenyum.

“Gomawo..” kata Kyuhyun.

“Ne” Nara mengangguk “Kyuhyun-a, benarkah semua yang kau katakan?”

“Tentang apa?”

“Kau dan aku. Perjanjian itu…tak pernah terjadi”

“Itu benar. Perjanjian itu hanya karanganku semata. Kau dan aku, saling mencintai”

Mata Nara yang begitu bening menatap Kyuhyun.

“Kecelakaan di kamar mandi, setelah kejadian itu—kau melewatkan banyak kenangan kita. Nara, aku sangat sedih saat sadar yang terlihat di matamu aku adalah musuhmu—bukan orang yang kau cintai”

“Kyuhyun-a..”

“Aku tak tahu, apa yang sudah aku lakukan padamu. Kau sepertinya terlihat sangat ingin menghapus semua kenanganmu bersamaku.. itu terlalu menyakitkan”

“Kyuhyun-a, lalu mengapa tak mengatakan apapun padaku? Mengapa kau justru menciptakan cerita lain?”

“Jika aku mengatakannya saat itu, apakah kau akan percaya padaku??”

Nara kembali terdiam.

“Meskipun kau tak mengingatnya tapi kau pernah mencintaiku dan aku yakin—kau akan kembali mencintaiku. Aku bersabar untuk hari ini tiba menghampiri kita. Aku percaya padamu, aku percaya pada cintamu”

“Mianhae, kau pasti sudah banyak menderita..meskipun belum mengingat apapun tapi nyatanya aku tetap jatuh padamu. Berkali-kali aku akan tetap jatuh cinta padamu” ujar Nara “Aku akan mencoba mengingat semuanya”

“Anio—sekalipun ingatanmu tak pernah kembali. Asal ada kau di sini, asal ada kau yang mencintaiku dengan lembar memori yang baru—itu sudah lebih dari cukup bagiku”

Nara tertegun, ia tersentuh melihat keseriusan di wajah Kyuhyun.

“Terima kasih..untuk mencintaiku lagi” Kyuhyun mendekap Nara.

“Untuk membuatku jatuh cinta lagi padamu..terima kasih” Nara memeluk erat tubuh Kyuhyun.

#####

Nara baru saja keluar dari ruang kerja Cho Kyuhyun—CEO atau Chief Executive Officer perusahaan tempatnya bekerja, C&M. Ya, namja itu adalah pejabat eksekutif tertinggi, seorang direktur C&M.

Nara berpapasan dengan seorang yeoja cantik dengan potongan rambut pendeknya—ia terlihat benar-benar stylis.

“Eonni..”

Nara terhenti ketika gadis itu menyapanya.

“Aku??”

Gadis itu, menatap Nara.

“Ahh—jadi benar kau hilang ingatan?” ia menatap Nara, entahlah tapi Nara dapat merasakan tatapan tak bersahabat dari gadis itu “Apa kau juga lupa padaku? Aku, Nam Bo Ra”

Dahi Nara berkerut. Apa ia pernah mengenal gadis itu.

“Baiklah, aku harus menemui Kyuhyun oppa. Eonni, semoga kau tidak melupakanku lagi”

Gadis bernama Bo Ra itu tersenyum dan berlalu meninggalkan Nara yang masih kebingungan.

Nara memegangi dadanya. Ia merasakan sesuatu yang aneh, melihat gadis itu membuat dadanya sesak. Sakit.

Mengapa rasanya ingin menangis?

Bisik Nara dalam hati. Ia terus menoleh, memandangi punggung Bo Ra yang kian menjauh.

“Eonni, waeyo?”

Nara tersentak. Shi Young telah berdiri di hadapannya—memandanginya dengan aneh.

“Shi Young-a, kau melihat gadis barusan?”

“Nam Bo Ra??”

“Kau mengenalnya?”

Shi Young menatap Nara aneh.

“Tentu saja, bagaimana mungkin aku tak mengenali gadis sombong menyebalkan itu” desis Shi Young “Ah, menyebalkan—mengapa dia muncul lagi? tapi mengapa kau bertanya tentang Bo Ra?”

“Siapa dia?”

Pertanyaan Nara membuat Shi Young semakin heran.

“Eonni, ada apa dengan kepalamu?”

Nara hanya terdiam tak menanggapi keheranan Shi Young. Tentu saja, tak ada satupun yang tahu jika saat ini Nara telah kehilangan beberapa penggalan memorinya, terkecuali orang-orang terdekatnya. Nara tak menyangka bahwa ia akan ikut melupakan gadis bernama Nam Bo Ra itu—juga heran karena gadis itu tahu apa yang dialami Nara.

~~~

Makan malam.

Kyuhyun memangamati Nara yang seharian ini terus melamun.

“Kau tak menyentuh makananmu?” tanya Kyuhyun “Ada apa?”

Nara kini mengalihkan tatapannya pada Kyuhyun. Menelusuri wajah kekasihnya itu dengan sorot penuh kecurigaan.

“Waeyo?? Kau membuatku bergidik”

Kyuhyun sedikit merinding karena terkaman mata Nara.

“Cho Kyuhyun” Nara menatap tajam pada Kyuhyun “Siapa Nam Bo Ra??”

Kyuhyun tak jadi menyuapi makanan ke dalam mulutnya.

“Bo Ra? Jadi kau juga tak ingat dengan anak itu?” Kyuhyun sedikit terkejut “Dia kerabat jauhku—dia tinggal di New York, sesekali berkunjung ke Seoul”

“Benarkah hanya seperti itu?” selidik Nara.

“Song Nara. Kau sedang menginterogasiku?” Kyuhyun balik menatap Nara, serius “Katakan, apa yang terjadi?”

“Nappeun! Bukankah gadis itu sangat menyukaimu?”

Kyuhyun tersentak.

“Dia begitu sering ke Seoul hanya untuk menemuimu. Semua orang tahu jika Bo Ra selalu menempelimu, gadis itu begitu terobsesi padamu. Benarkan itu??”

Pipi Kyuhyun mengembung, ia menahan tawa dan detik selanjutnya tawa namja itu meledak.

“Yaa~ mengapa kau tertawa? Kau tergoda padanya jugakan??”

“Aigo~ uri Nara sedang cemburu”

“Mwo? Cemburu? Jangan salah,..”

Kyuhyun terus tertawa. Ia tak perduli jika Nara hampir berapi-api melihat tawa Kyuhyun yang belum berhenti.

“Song Nara—gadis itu, Nam Bo Ra..semua yang kau katakan tentangnya sangat benar. Jangan salahkan aku karena terlahir begitu sempurna” Kyuhyun menggoda Nara “Jangan khawatir, meskipun dia jauh lebih cantik darimu tapi aku lebih menyukaimu—bebek jelek”

“YAAAA!!!”

Teriak Nara kesal. Ia membanting sendok di tangannya.

“Jjagi..kau semakin menggemaskan jika marah” Kyuhyun tak berhenti menggoda Nara yang telah meledak-ledak

“Nappeun!! Pergi saja kau, temui yeoja itu”

Nara beranjak. Ia marah. Kesal. Cemburu. Tentu saja ia cemburu, mengetahui bahwa kekasihnya menjadi incaran gadis lain—apalagi Shi Young mengatakan bahwa Nam Bo Ra bukan hanya sekedar suka tapi sangat terobsesi, gadis itu selalu melakukan banyak cara untuk mendapatkan Kyuhyun.

“Nara-ya..”

Panggil Kyuhyun.

“Wae??” Nara menoleh memandangi Kyuhyun dengan kilatan api kemarahannya.

“Saranghae”

Kyuhyun tersenyum. Kemarahan Nara mendadak sirna mendengar perkataan Kyuhyun, melihat kehangatan sinar mata dan juga senyuman Kyuhyun yang begitu lembut.

“Aku..” Nara mendadak gugup “Aku..aku akan mencuci piring” kilahnya dan cepat-cepat mengayunkan kaki—pergi.

Kyuhyun tertawa tanpa suara sambil menggeleng-geleng, ia merasa lucu melihat tingkah Nara.

#####

Nara tersandar lemas di dinding kamar mandi—terkulai di lantai, kedua kakinya kehilangan tenaga untuk menopang berat tubuh. Tak perduli dengan air yang keluar dari shower telah membasahi seluruh tubuhnya.

“Aku membencimu..Cho Kyuhyun!!”

Tubuhnya terguncang, terisak karena tangisnya yang hebat.

DEG!!

Nara terbangun dari tidurnya. Ia segera menyalakan lampu di atas meja, di sisi tempat tidurnya. Dahinya mulai berkeringat.

“Apa ini?” tanya Nara pada dirinya sendiri “Mengapa aku bisa bermimpi seperti itu?”

Nara bergumam, terkejut karena mimpi buruknya. Tangannya perlahan menyentuh dadanya yang terasa sesak—terasa sakit di sana.

~~~

Minji menyerahkan segelas kopi pada Nara. Ia lalu duduk di samping gadis itu.

“Ada apa? Mendadak ingin menemuiku—pasti ada yang ingin kau sampaikan”

Nara meneguk kopi, tatapannya teralih pada Minji

“Minji-ya, apa kau tahu sesuatu sebelum kecelakaan itu?”

“Mwoya?”

“Aku merasakan sesuatu tapi tak mampu mengingat apapun. Sepertinya telah terjadi sesuatu”

Nara mendesah.

“Wae? Kau tak mempercayai sunbae?” selidik Minji

“Anio, bukan itu” elak Nara “Kaupun tak mengatakan apapun tentang hubunganku dan Kyuhyun sebelum aku kehilangan ingatan” Nara memandang kesal pada Minji yang ikut-ikutan merahasiakan status Nara sebagai pacar Kyuhyun.

“Nara—dadaku hampir meledak setiap kali melihatmu menganggap sunbae musuhmu, ingin rasanya aku berteriak di telingamu bahwa sunbae adalah pacarmu—kontrak perjanjian itu adalah omong kosong” Minji terlihat kesal “Sunbae memintaku untuk tidak mengatakan apapun padamu. Dia hanya berkata untuk percaya padanya”

Nara terdiam.

“Tapi mengapa kau tiba-tiba bertanya tentang kecelakaan itu?”

“Aku—entahlah, tapi aku merasa dadaku terus berdebar. Sangat aneh. Aku mencintai Kyuhyun tapi mengapa hatiku terasa perih?” gumam Nara “Minji-ya, mungkinkah sebelum kecelakaan itu aku pernah menceritakan sesuatu padamu?”

Dahi Minji ikut berkerut, kemudian ia menggeleng pelan.

“Kau dan sunbae, kalian sangat bahagia meskipun hubungan kalian sering kali diwarnai oleh perang mulut tapi kalian adalah pasangan yang saling mencintai” kata Minji “Lalu semua berubah saat kau ditemukan pingsan karena terjatuh di kamar mandi rumahmu—sehari sebelum pertunangan kalian”

“Tunangan??” Nara memandang tak percaya pada Minji. Pasalnya, ia baru mendengar tentang pertunanganan itu.

“Kau dan Kyuhyun sunbae telah bertunangan jika kau tak mengalami kecelakaan itu Nara-ya”

Minji menarik nafas—gusar.

Nara membungkam. Ternyata begitu banyak hal yang terlewat olehnya. Kedua yeoja itu membiarkan suasana hening tetap berlangsung, mereka lebih memilih menghayati apa yang ada dalam kepala mereka.

#####

Jam 6 sore waktu Seoul.

Nara terlihat sibuk mondar-mandir di depan Kyuhyun yang sedang serius menonton TV.

“Yaaa~ kau membuatku pusing” dengus Kyuhyun yang merasa terganggu.

“Kau tak melihat apa yang sedang kulakukan??”

Kyuhyun terkekeh, tentu saja—alasan kemondar-mandiran Nara karena gadis itu sedang mengepel lantai.

“Lakukan dengan baik, jangan menyisahkan setitik debu” perintah Kyuhyun.

“Cerewet! Kau saja yang melakukannya!!” ancaman Nara membuat pemuda itu kian memamerkan senyumannya.

“Araseo” ujar Kyuhyun “Sepertinya kau sudah siap menjadi seorang istri yang baik”

Nara terhenti. Ia memandangi Kyuhyun yang langsung mengalihkan matanya pada layar TV.

“Sebaiknya tutup mulutmu Cho Kyuhyun” geram Nara—ia sedang kelelahan dan Kyuhyun terus menggodanya.

“Waeyo? Kau tak ingin menikah?” selidik Kyuhyun “Kau bahkan sudah sangat siap untuk memproduksi bayi” Kyuhyun kembali terkekeh.

“Mworago?” Bola mata Nara mendelik “Memproduksi..mwo?? Yaa!! Kau pikir aku ini mesin, huhh??”

“Nara-ya,, kau tak perlu semarah itu. Ah, aku lupa—kau berada dalam syndrome wanita di atas 25 tahun yang belum menikah” Kyuhyun mengangguk, seolah memberi pengertian pada dirinya sendiri akan emosi Nara yang tak stabil “Nara, kau tak memikirkannya sedikitpun? Jangan cemas, aku akan membantumu”

“Mwoya?”

“Kita akan bekerja sama untuk membuat bayi”

Nara langsung tersedak. Ia memandangi Kyuhyun yang tertawa pelan, memamerkan sikap evilnya.

“MWO??”

“Kau tak tertarik dengan tawaranku?” goda Kyuhyun, mengerling nakal pada Nara yang seluruh wajahnya berubah memutih—pucat.

“YAAA!!!”

Dengan sengaja Nara menerjang kaki kyuhyun dengan alat pel lantai yang dipegangnya. Kyuhyun sesekali meringis meski tawanya tak dapat dihentikan. Ia tak pernah bosan untuk menggoda Nara.

Nara meninggalkan Kyuhyun yang terpingkal-pingkal memegangi perutnya yang mulai sakit karena gelak tawa yang menderanya.

“Cho Kyuhyun! Aku tak akan bersabar padamu. Kau akan merasakan pembalasanku, dasar iblis” geram Nara “Kau pikir hanya kau yang dapat melakukan hal bodoh itu padaku? Kau salah, kau tak tahu siapa sesungguhnya Song Nara”

Segaris senyum menyungging di sudut bibir Nara. Entah rencana apa yang telah bersarang di kepalanya.

~~~

*Kyuhyun POV*

Aku masuk ke dalam kamar mandi di kamar tidurku. Mengingat kejadian barusan, tawaku kembali menggelegar. Aigo~ ekspresinya yang seperti itu…Song Nara, kau benar-benar menggemaskan.

Air dari shower mengguyur deras, langsung membasahi rambut, wajah dan seluruh tubuhku. Ah, sangat menyegarkan. Hidup ini sangat indah jika dinikmati.

“Kyuhyun-a..”

Nara? Apa yang dia lakukan di kamarku?

“Cho Kyuhyun” suara Nara kembali terdengar

“Wae?” sahutku dari dalam kamar mandi.

“Kau di dalam?” suaranya terdengar lebih jelas. Sepertinya ia berada di balik pintu kamar mandi.

“Ada apa?”

Apakah ada sesuatu yang penting, membuat Nara sampai masuk ke dalam kamarku—hal yang tak pernah dilakukan oleh yeoja itu dengan sengaja.

“Yaa! Mengapa air di semua kamar mandi tak berfungsi dengan baik?”

“Jeongmal?” ah, kalau begitu aku sangat beruntung karena tak ada masalah dengan air di kamar mandiku “Araseo, aku akan melihatnya nanti”

“Mwo? Nanti?”

Suara Nara sedikit melengking.

“Yaa~ badanku sudah sangat gerah, ppalli..!!”

Dia memang tak pernah bisa bersabar. Aku menggeleng prihatin pada diriku yang bisa menyukai gadis pemarah sepertinya.

“Nara-ya, aku hanya memintamu bersabar sebentar saja—atau, kau ingin mandi bersamaku?”

Hahahaha, aku yakin wajahnya pasti sedang memerah. Ah, sayang sekali saat ini aku tak bisa menyaksikan langsung pemandangan menyenangkan itu.

“Jeongmal??”

Mwo? Jeongmal??

Aku terkesiap mendengar pertanyaan Nara. Astaga. Demi apapun, tapi aku hanya bercanda! Apakah itu artinya Nara menganggap serius tawaranku??

“Wae? Kau benar-benar ingin mandi bersamaku? Masuklah!”

Aku memutuskan sepihak bahwa apa yang aku pikirkan salah. Menepis jauh pra duga tak bersalah yang mungkin jika diteruskan akan mampu mengotori pikiranku.

“Gomawo..”

GOMAWO??

Tak mungkin!! Gadis itu tak mungkin serius menanggapi perkataanku. Mendadak jantungku melompat-lompat ekstrim, aku mengawasi kenop pintu—bergerak.

Yaa!! Dengan secepat kilat aku menarik handuk dan melingkarkan pada pinggangku untuk menutupi tubuhku.

Jantungku berhenti ketika melihat Nara telah berdiri di hadapanku.

“So..Song Nara!! Apa yang kau lakukan??” aku mulai gugup. Anio, sangat gugup. Aku memegangi dadaku—semoga posisi jantungku tak bergeser sedikitpun.

“Tentu saja mandi. Bukankah kau tak keberatan? Waeyo? Kau seperti baru saja melihat hantu”

Aku tak berkedip memandangi Nara. Wajahnya—wajahnya terlihat tenang dan santai, seperti bukan masalah besar baginya jika berada dalam kamar mandi yang sama denganku, seorang namja.

Jika kami sudah menikah, itu lain ceritanya hehehehe. Gosh! Cho Kyuhyun, kau masih sempat berpikir seperti itu. Sadarlah! Sebelum kau benar-benar berubah menjadi iblis.

Ia menggantung handuk yang dibawanya. Ya Tuhan! Gadis ini sedang tak bercanda?

“Song Nara! Kau benar-benar serius?”

Rasanya kepalaku mulai berputar.

“Geurom!” sorot matanya terlihat pasti.

Apa yang terjadi padanya? Aku mohon, siapapun itu, tolong kembalikan Song Nara yang aku kenal.

“Nara-ya, apa yang terjadi padamu? Kau sakitkah?” semoga tak terjadi sesuatu dengan kepalanya. Gadis ini belum benar-benar sembuh, ia masih amnesia.

“Cho Kyuhyun, aku tak sakit—yang aku butuhkan saat ini adalah menyegarkan tubuhku. Arachi?”

“Apa kau sekarang juga lupa bahwa aku ini—namja??” aku mencoba mengingatkan Nara agar dia tak salah jalan. Argh, Cho Kyuhyun—perkataanmu sangat menggelikan.

“Tentu saja tidak. Cho Kyuhyun, ada apa denganmu? Kau bertingkah sangat aneh”

Aneh? Bukankah kau yang aneh?

“Yaa! Wajahmu memerah, apa sekarang kau malu padaku?” Nara menatap lekat wajahku, apa-apaan gadis ini “Aigo..kau sangat lucu, mengapa harus malu—bukankah aku juga pernah melihatmu seperti ini, bahkan dalam keadaan yang lebih dari ini”

Nara tertawa sambil menepuk-nepuk tanganku. Apa sekarang matanya sedang tertuju pada handuk yang menutupi bagian bawahku? ASTAGA!!

“Nara!! Waktu itu—kau benar-benar melihatnya??” mataku mendelik, dan dia mengangguk-angguk dengan semburat merah di pipinya. Sebuah jawaban yang tak ingin aku ketahui “Yaa!! Kupikir kau tak benar-benar…”

Mendadak aku merasakan dehidrasi, seluruh cairan dalam tubuhku seakan terkuras habis.

“Kyuhyun-a, lalu apa masalahnya? Bukankah aku harus membiasakan diri dengan semua itu?”

JLEB! Aku seperti tenggelam mendengar perkataan polos Nara. Ya Tuhan, apa yang sudah Kau lakukan pada Nara-ku???

“Sudahlah, jangan meributkan hal-hal tak penting seperti ini”

Tak penting? Nara, kau kah itu? Aku bahkan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Tunggu dulu—gadis ini, dia…

“Nara, sekarang—apa yang kau lakukan?”

Jantungku semakin tak karuan melihatnya mulai melepas sweater berwarna cream yang dipakainya, meninggalkan terusan selutut bertali satu yang memamerkan bahunya yang—uhm, indah.

“Tentu saja mandi, kau menyuruhku mandi dengan pakaian ini? Wae? Aku sudah mulai terbiasa denganmu! Kaupun harus membiasakan dirimu sendiri Kyuhyun-a”

“Jamkkanman!!!” teriakku mencegahnya melepas terusan yang tersisa di tubuhnya “Aku, aku akan mandi setelahmu” kataku terbata-bata.

Nara memandangiku dengan bola matanya yang bening.

“Ah, sayang sekali—padahal aku ingin memintamu menggosok punggungku” suaranya terdengar sangat kecewa.

Mwo? Menggosok punggungnya? Aku benar-benar tak kuat lagi. Cepat-cepat aku meninggalkan Nara. Lututku lemas sekali, aku terduduk begitu saja di atas kasur, meraih gelas berisi minuman dan menghabiskan minuman itu dalam satu helaan nafas.

Nara, membuatku berada dalam bahaya. Sekarang darah mudaku bergejolak hebat. Tak tahukah gadis itu? Jantungku, dadaku—tengah dalam amukan dasyat. Aku mengebas-ngebas tanganku di wajahku yang terasa panas.

~~~

Otakku sedang berputar keras. Beberapa jam belakangan ini, Nara bertingkah sangat aneh. Dia tak seperti Nara yang aku kenal. Benar-benar berbeda—entah darimana sifatnya yang terlalu berani itu? Mengerikan sekali!

Saat ini, aku semakin terkesiap melihat meja makan yang penuh dengan berbagai makanan. Tak biasanya. Tak pernah ada makan malam sekomplit ini di hadapanku, apalagi yang menyiapkannya adalah Nara.

Nara duduk di hadapanku. Ia meletakkan mangkuk berisi nasi di depanku—wajahnya begitu ramah dan hangat. Tak sadar tanganku meraba dahiku sendiri. Jika Nara tak sakit, lalu apakah sekarang aku yang sedang sakit dan berhalusinasi?

“Makanlah” senyum Nara saat menyuruhku makan—aku rasa ini bukan mimpi.

Rasanya aneh tapi sangat mendebarkan. Seperti sesuatu yang baru. Apakah seperti ini rasanya jika aku mempunyai seorang istri? Tak bisa dipercaya,, Nara—Nara, apa yang terjadi padamu?

Entah mataku yang rusak atau perilaku aneh Nara mempengaruhi penglihatanku tapi Nara terlihat sangat berbeda. Uhm, yang aku maksudkan bukan tentang perilakunya yang aneh tapi tentang Nara seutuhnya. Entahlah, dia terlihat sangat—seksi.

Baju biru muda dengan leher lebar, juga rambut sebahunya yang digulung seadanya dengan menyisahkan anak rambut yang bermain-main diterpa angin. Baru kali ini aku menyadari jika Nara memiliki leher yang begitu jenjang dan indah.

Sadar atau tidak—sengaja atau tidak,, tapi Nara sedang memperlihatkan sisinya yang begitu sensual. Aarghh!! Mengapa aku merasa semakin gerah? Kepalaku pusing.

“Jjagi-ya..”

Aku hampir tersedak mendengar perkataan Nara. Mwo? Jjagi? Baru kali ini dia memanggilku seperti itu.

“Gwaenchana?”

Dia terlihat sangat cemas. Aku mengambil gelas dan meminum isinya—mendorong masuk makanan yang tertahan di tenggorokan akibat perkataan Nara yang mengejutkanku.

“Anio. Aku tak apa-apa” elakku dan kembali memasukkan makanan ke dalam mulutku.

Kyuhyun-a, mengapa dirimu tiba-tiba menjadi salah tingkah seperti ini?

“Aku sudah memikirkannya. Aku rasa—aku, tak keberatan..”

“Mwoya?”

Aku tak mengerti. Nara tersenyum dengan semburat kemerahan di pipinya. Wow! Apa lagi? Mendadak perasaanku tak enak.

“Uhmm,, itu..” wajahnya semakin memerah “..bayi..”

Ssrruuuuutt….bukan lagi tersedak tapi semua makanan yang ada dimulutku langsung tersembur keluar.

Ba..ba..ba..bayiiiiii?????

“Jjagi..gwaenchanayo??”

Nara menghampiriku, menepuk-nepuk punggungku. Bayi? Apa maksudnya? Dia telah menelan semua candaanku?

Dadaku bergemuruh keras. Mataku tiba-tiba saja tertuju pada leher dan daerah sekitar atas dada Nara yang begitu mulus. Aish, aku tak bisa menyalahkan mataku, ini juga karena Nara memakai baju dengan leher yang begitu lebar.

Aku semakin terbatuk-batuk.

“Gwaenchana??” Nara terlihat panik. Ia membantu mengambilkan gelasku.

Nara, sebaiknya kau menyingkir dari hadapanku—aku seperti ini karena kau. Ya Tuhan, mengapa kau memberikan cobaan seberat ini untuk kupikul? Kyuhyun-a, kau harus kuat! Ingat pada semua prinsipmu! Kau harus mempertahankan integritas diri dan juga kehormatan keluarga Cho.

“Mianhae..”

Nara membersihkan sekitar mulutku dengan tissue. Ia begitu lembut. Aku dapat melihat jelas wajahnya yang manis, sinar matanya yang hangat. Darahku mengalir dengan deras dan panas. Aku bisa mendengar detak jantungku. Dalam kondisi seperti ini, apakah aku mampu untuk tetap bertahan??

~~~

*Nara POV*

“Mianhae..”

Aku mengambil tissue dan membersihkan wajah Kyuhhyun yang kotor karena makanan yang keluar dari mulutnya.

Salahmu! Kau terus mengerjaiku, kau pikir aku tak bisa melakukan hal yang sama padamu? Ini pembalasanku, jika kau tak terlihat menyedihkan seperti ini mungkin aku masih akan melanjutkan ideku untuk membuatmu jera. Lihat, kau bahkan lebih parah dariku. Mianhae, aku menyesal untuk mengejutkanmu terlalu jauh.

Aku tersadar ketika mata Kyuhyun terus menelusuri wajahku. Mendadak jantungku mulai berpacu dengan irama yang lebih cepat. Sorot matanya yang tajam, wajahnya terlihat begitu tegang. Aku mulai merasakan ketegangan yang sama saat mata kami beradu pandang.

Kyuhyun memajukan wajahnya, dan mengecup singkat bibirku. Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku, itu serangan ciuman yang begitu tiba-tiba. Ia kembali memandangku dan sejurus kemudian menarikku—membuatku berakhir di pangkuannya.

Namja itu kembali menyentuh bibirku. Menerjang lembut bibirku. Ia menghentikan aksinya, memandangiku—tatapan matanya yang sendu. Jantungku berdetak kencang. Kyuhyun menghujaniku dengan ciumannya. Ia melumat bibirku lembut, dadaku semakin memanas.

Aku dapat merasakan ketika tangannya yang kuat mengangkat tubuhku ke dalam dekapannya—membawaku pergi dari ruang makan tapi tak sedikitpun ia melepas ciumannya.

Sekilas aku tahu bahwa kami sudah berada di ruang tengah—tempat kami menghabiskan waktu untuk nonton. Kyuhyun meletakkanku di atas sofa, menyandarkanku di situ. Ia terus memberikan ciuman lembutnya padaku, dadaku terus memanas. Aku rasa seluruh tubuhku telah meleleh.

Namja itu begitu pandai menciumku. Ya Tuhan, apa yang akan terjadi? Apakah candaanku benar-benar kelewatan? Apakah sekarang kami benar-benar akan menghadirkan makhluk kecil lainnya diantara kami?

Dengan kata lain, ini adalah karma atas sikapku.

Aku tak tahu. Aku bahkan tak mencoba untuk melepaskan diri dari Kyuhyun. Ia terus memainkan bibirku—mengecup pelan dan juga sangat dalam. Kami telah melewati banyak waktu dengan saling berciuman dan aku membalas ciumannya, melingkarkan tanganku di leher Kyuhyun.

Aku tak tahu lagi. Tubuhku semakin menegang ketika merasakan tangan Kyuhyun dibalik bajuku—menyentuh lembut perutku. Menggelitik. Aku tak tahu lagi—aku tak dapat berpikir dengan jernih, yang aku tahu—aku mendapati diriku sangat mencintai namja ini.

Kyuhyun menghentikan aksinya, perlahan. Ia memegangi pundakku dengan kedua tangannya. Tertunduk sambil menarik nafas panjang. Matanya yang tajam kemudian menatapku. Kyuhyun menoleh, ia lalu mengambil kain yang selalu terletak di situ—tak jauh dari sofa. Menyarungkan kain itu pada pundakku.

“Kau bisa masuk angin”

Kyuhyun tersenyum—sangat lembut. Aku tertegun dibuatnya.

“Saranghae” katanya lagi dan kemudian mendaratkan ciuman di dahiku.

Sebuah ciuman dengan durasi yang sangat panjang bahkan mampu menembus kulitku. Ia kembali tersenyum padaku sebelum akhirnya pergi dari hadapanku dengan wajahnya yang masih tampak memerah.

Aku kembali dibuatnya mematung. Aku pasti telah membuatnya berada diposisi yang sangat sulit. Babo, mengapa aku baru menyadarinya sekarang? Kyuhyun, dia pasti berjuang keras melawan keinginannya. Dasar gadis bodoh! Aku tak bisa berhenti mengumpat kebodohanku.

Aku merasa bersalah padanya. Aku bahkan tak dapat mengendalikan situasi tadi tapi dia…memberikan kepercayaan yang sangat besar padaku. Kau pasti tahu, aku tak akan mampu menolakmu tapi kau tak sedikitpun mengikuti keinginanmu. Kau membuktikan bahwa kau sangat menghormatiku. Terima kasih. Nado saranghae, Kyuhyun-a.

 ~to be continue~

Iklan

689 thoughts on “After Story…I Hate You, But I bla bla bla (Part 3)

  1. Minmoongie berkata:

    Mungkin ada kejadian sebelum nara jatuh di kamar mandi buat nara bencu bgt sama kyuhyun, ada hubungannya juga mungkin sama nam bora?

  2. FitriFitri berkata:

    Eyyyy kyu sih so-soan ngegoda dan si nara lagi kkkk gak tau aja kalo kyu si kucing jail bisa jadi singa buas huahahaha ngakak pas bagian ini tapi acungin jempol lah sama pertahanan kyuhyun.. Ah, andai ada satu kkkk aku masih jomblo 😀

  3. itisyahri berkata:

    Yaaa ampun… Knp ff ini sosweet banget sihhh ahhh si kyuhyun sabarnya luar biasa.. Hahaha 😀

  4. noebita berkata:

    Sebelum nara jatuh mungkin ada kesalahpahaman diantara mereka. Jadi yang slalu diingat nara adalah kyu yg menyebalkan. Waah nara bikin lubang buaya sendiri untung aja kyu masih bisa tahan dengan perasaan liarnya. Kyu jadi cowo keren banget

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s