The Answer

Cast             : Shim Gyuri (OC), Lee Donghae (Suju)

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

***

Matahari pagi menyeruak, memaksa masuk menembus tirai jendela kamar tidurku. Aku duduk, merapikan rambutku—meskipun hanya menggulungnya asal-asalan. Mataku tertuju pada kalender mungil di atas meja, tepat di samping tempat tidurku. Memandangi tanggal yang aku lingkari. Seminggu lagi, usiaku genap seperempat abad. Ah, aku benar-benar bertambah tua.

Aku menoleh, melirik pada handphone yang terletak di sisi bantal. Meraih smart phone itu. Lagi-lagi sama, tak ada kabar dari namja itu. Apa yang dia lakukan? Mengapa akhir-akhir ini dia jarang mengabariku?

Okelah, aku mengerti. Dia sangat sibuk di perusahaan tapi dia tak pernah sekalipun mengabaikanku seperti ini.Oppa, apa yang kau lakukan?

Kukirimkan pesan singkat sekedar menanyakan kabarnya. Aku menyingkap selimutku, berjalan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Kuraih handuk kecil dan mengeringkan wajahku.

Aku berjalan keluar dari kamar mandi. Meraih handphone yang kuletakkan di atas meja rias. Ah, tak ada balasan. Hampir lima tahun kami berpacaran tapi tak pernah dia mengabaikan pesanku dan seminggu belakangan ini, aku rasa—dia mulai berubah.

~.oOo.~

Universitas Kyung Hee

Aku baru menyelesaikan kelasku. Menemui dosen pembimbingku, aku tak ingin menunda kelulusanku—skripsi ini harus kuselesaikan.

Aku melangkah gontai, memandang satu arah, sebuah kursi di salah satu taman dalam lingkungan kampus yang begitu luas. Namja itu tersenyum sambil melambaikan tangannya, aku membalas lambaian tangannya dan berlari kecil menghampirinya.

Langkahku terhenti ketika menyadari tak ada siapapun yang duduk di situ—kursi itu kosong. Aku berhalusinasi lagi. Biasanya, dia akan terlihat di situ, menantiku, tanpa diminta dia selalu menjemputku.

Apa yang terjadi? Mengapa atmosfer hidupku perlahan berubah? Kau seharusnya tahu bahwa hidupku berwarna karenamu. Ketika kau mulai berubah maka kau akan merubah seluruh hidupku.

Dadaku sesak. Mataku terasa perih. Aku tak dapat mencegah air mata itu meluncur anggun di pipiku. Aku mencintaimu. Masih sangat mencintaimu. Apa kau tahu rasanya? Apakah kau masih merasakan hal yang sama?

Tolong jawab aku.

~.oOo.~

Entahlah, tapi belakangan ini aku terus memandangi kalender. Semakin dekat, tiga hari lagi.

Kuraih handphoneku. Tak ada kabar—sama seperti biasanya. Aku memilih sebuah nama dari daftar kontakku. Menelepon. Berkali-kali, tak ada jawaban dari sana.

Apakah mungkin kau masih mengingatnya? Ulang tahunku. Tanggal itu adalah tanggal paling bersejarah bagiku dan kau. Tak tahu, kau masih mengganggapnya istimewa atau tidak.

Lima tahun lalu untuk pertama kalinya, kau menggenggam tanganku, menyatakan perasaanmu dan untuk pertama kalinya juga aku merasakan ciuman pertamaku. Kau berjanji, bahwa jika kita bertahan maka kau akan memberikanku sebuah cincin diulang tahun kelima hari jadian kita, tepat di hari ulang tahunku.

Aku masih mengingat janji itu. Membawanya bersama desahan nafasku. Konyolkah? Tapi aku merasa sangat bahagia dengan itu. Aku rasa aku benar-benar konyol saat ini, kau mungkin tak mengingat itu lagi.

Kumohon, angkat handphonemu. Luangkan waktumu untuk membalas pesanku. Aku butuh jawabanmu.

~~~

Aku memandangi pintu yang tertutup rapat di hadapanku. Aku tak bisa menahan perasaanku lagi. Dengan tanganku yang mulai gemetar, kutekan bel apartemen itu berkali-kali.

Pintu terbuka. Aku memandangi seorang namja yang tampak kusut. Raut wajahnya terlihat lelah. Rambutnya sedikit berantakan, sepertinya dia baru bangun. Tak ada yang berubah, dia masih sama seperti sebelumnya—selalu terlihat tampan dengan apapun yang dipakainya.

“Gyuri?” dia memandangiku “Ada apa? Kau pagi-pagi ke sini?” tanyanya lagi.

Aku hanya diam, mengatur suara dan berpikir apa yang harus aku katakan.

“Masuklah”

Dia menarik tanganku lalu menutup pintu. Aku memandangi suasana apartemennya. Berantakan.

“Maaf, kau harus melihat pemandangan tak menyenangkan ini” katanya seraya duduk di sampingku.

Kami kembali diam.

“Gyuri..”

“Oppa”

Kuberanikan untuk membuka suara, memandangi wajah tampannya yang sangat kurindukan.

“Kau sepertinya sangat sibuk?”

Dia hanya tersenyum. Ah, jantungku berdebar-debar. Seharusnya kau tahu bahwa aku selalu seperti ini setiap kali melihat senyumanmu.

“Oppa, kau tak membalas pesanku—untuk mengangkat handphone kau bahkan tak bisa. Aku pikir kau pasti sangat sibuk” suaraku bergetar, rasanya air mataku akan mengalir.

“Gyuri, kau pucat”

Ah, kutengadahkan kepalaku agar tak menjatuhkan setetespun air mata. Dia masih begitu perhatian padaku.

“Entahlah oppa, tapi aku merasa kau telah berubah” desahku lemas

“Apa yang kau bicarakan?” tanyanya.

“Jika aku terjatuh, maukah kau mengangkatku?”

Namja itu terkejut. Menatapku dalam. Kemudian raut wajahnya kembali menenang.

“Tidak” jawabnya singkat. Jantungku berdetak kasar.

“Saat aku bersedih dan menangis, akankah kau menghapus air mataku?”

“Tidak”

Seluruh tubuhku lemas mendengar jawabannya. Dia benar-benar berubah. Astaga, aku tak ingin meneteskan air mataku.

“Kau masih mencintaiku? Bahkan sekalipun aku terlihat buruk?” ah, aku tak mengira pertanyaan itu akan keluar dari mulutku.

“Tidak” aku tak percaya jawabannya selalu sama. Air mataku tak bisa kucegah lagi.

“Oppa” Aku terdiam, mengambil jeda dari pertanyaanku selanjutnya “Kau masih ingin bersamaku, selamanya?”

Dia membisu.

“Tidak” kemudian jawaban menyakitkan itu keluar dari mulutnya. Dadaku sangat sesak, aku kesulitan untuk bernafas.

“Oppa, jika aku pergi—mungkinkah kau masih mau menangisiku?”

Namja itu terhenyak, sejenak ia berpikir.

“Tidak” sudah kuduga, jawaban itu yang akan keluar dari mulutnya.

Aku menggigit bibir bawahku. Menahan sesak dan isak tangis yang hampir pecah, air mataku semakin deras meluncur. Aku menatapinya.

“Terima kasih, setidaknya..aku tahu jawabannya sekarang”

Aku menyeka air mataku. Beranjak dari sofa yang kududuki dan berjalan menghampiri pintu.

“Gyuri!!”

Aku tak menghiraukan panggilannya. Beberapa kali dia berteriak memanggil namaku tapi hatiku terlalu sakit untuk tetap tinggal di sampingnya—aku tak bisa terlalu lama melihat wajahya. Aku mencintainya tapi dia tidak lagi merasakan hal yang sama. Terima kasih untuk segalanya.

~.oOo.~

Angin musim gugur. Pertengahan bulan oktober. Aku duduk termenung di sebuah halte. Berjam-jam, merayakan ulang tahun dengan kesendirian. Tak ada lagi nyanyian merdu selamat ulang tahun darinya. Tak ada lagi seikat mawar besar di atas ranjangku. Tak ada lagi, senyuman serta morning kiss di hari ulang tahunku.

Inilah hidupku sekarang. Sunyi.

Silih berganti bus datang dan pergi, berhenti dan mengangkut penumpang di halte tempatku duduk. Aku tak beranjak atau mencoba untuk berpindah tempat. Lalu sebuah boneka Teddy bear besar mengagetkanku.

Aku mengangkat kepala, memandangi boneka berbulu coklat itu. Seraut wajah muncul ketika boneka itu disingkirkan dari hadapannya.

“Oppa?”

Tak percaya ketika melihat wajahnya lagi. Dia tersenyum. Ah, selalu saja sangat tampan.

“Kau meninggalkan sesuatu di apartemenku” ia menyerahkan handphone padaku.

Aku mengira telah menghilangkan handphone itu di suatu tempat. Namja itu meletakkan boneka besar yang dibawanya dalam dekapanku.

“Selamat ulang tahun, Shim Gyuri” ia tersenyum.

Aku terdiam. Dadaku kembali sesak. Semakin lama sakit yang kurasa melebihi segalanya.

“Mengapa kau masih memperdulikanku?” aku menatapnya. Dia tampak tenang.

“Aku tak mungkin melupakan hari ini” jawabnya

“Oppa—aku sedang menata hatiku. Sebaiknya kau tak terlihat di hadapanku”

“Gyuri”

Apa itu? Mengapa dia justru tersenyum? Jangan lakukan itu. Senyumanmu yang indah itu bukan milikku lagi.

“Jika hanya untuk menambah lukaku..” bibirku bergetar, aku gemetar—mengambil jeda untuk mengucapkan kalimatku “Aku tak membutuhkan apapun darimu” air mataku menetes.

Dia tertegun saat aku membuang Teddy bear pemberiannya. Kami sama-sama mematung, nafasku tak beraturan. Lalu dia menunjukkan senyumannya lagi padaku. Dia, tersenyum sangat tulus—hangat.

Aku hanya terhenyak, menyadari senyuman manisnya. Mengapa masih memamerkan sikap itu padaku? Memandanginya menghampiri Teddy bear yang tergeletak begitu saja di jalanan. Lalu mataku menangkap sebuah sepeda motor yang melaju kencang dari sana. Sangat cepat.

“OPPA!!!” teriakku.

Dia memandangku. Tersenyum tipis sebelum akhirnya menyadari motor yang menghampirinya.

CCIIIIIITTTT… BRAAAGGHH!!

Bola mataku melebar, mulutku terkunci sejenak menyaksikan tubuhnya yang terhempas. Jatuh, di tengah jalanan.

“Andwae..”

Ia terletak begitu saja di jalan, orang-orang mulai berlari menghampirinya sedangkan aku justru tak bisa menggerakkan seluruh tubuhku.

“Oppa andwae..” gelengku “DONGHAE OPPA!!!” aku menjerit histeris melihatnya yang bersimbah darah.

~.oOo.~

Awan hitam menggumpal, memeluk langit kota Seoul. Rinai hujan yang melambai jatuh ke permukaan tanah.

Aku masih berdiri. Termenung. Tak bergeming. Aku tak merasakan apapun lagi. Tak perduli air hujan yang perlahan namun pasti membasahi seluruh tubuhku. Air mataku, bercampur dengan air hujan.

Mataku memandang nanar, masih tak percaya bahwa aku akan berdiri di tempat ini. Tak percaya bahwa yang terukir pada nisan di depanku adalah namanya—Lee Donghae. Oppa, mengapa harus begini? Mengapa kau tidur di dalam sana?

Dadaku bergemuruh hebat, aku menangis. Tak melepas sedetikpun Teddy bear pemberian terakhirnya. Oppa, wae? Lalu mataku menangkap sesuatu yang terikat pada pita di leher boneka beruang itu.

Dengan gemetar, aku meraih benda putih berkilau itu. Sebuah cincin. Oppa, kau masih mengingatnya. Kau menepati janjimu tapi kau sangat kejam untuk meninggalkanku seperti ini. Dengan sangat erat aku memeluk Teddy bear. Jika boneka itu hidup, aku rasa dia akan sesak nafas karena pelukanku.

Shim Gyuri

Aku terhenyak. Suara itu, Donghae oppa? Aku memandangi boneka beruang yang masih kupeluk.

Maukah kau menikah denganku?

Jantungku berhenti ketika mendengar kalimat selanjutnya. Rekaman suara oppa pada mesin di dalam boneka itu. Seketika itu juga kakiku tak mampu menahan tubuhku, aku tersungkur. Menangis sejadi-jadinya.

~.oOo.~

Aku tak mampu. Aku tak bisa. Semua yang ada di mataku hanya wajahnya. Wajah oppa yang tersenyum. Oppa, mengapa justru kata-kata terakhir yang kau dengar dariku adalah kata-kata yang menyakitkan?

Kau marah padaku oppa? Mianhae. Jeongmal mianhaeyo, tapi hukuman yang kau berikan padaku terlalu berat. Bagaimana aku bisa melalui hariku tanpamu?

Dengan mata yang tak pernah berhenti berair, aku menatapi pigura di atas meja, di sisi tempat tidurku. Foto aku dan dia. Sekarang, aku sangat merindukanmu. Dadaku sakit karena merindukanmu.

Aku meraih handphone yang berhari-hari kubiarkan lemah di tempat tidur. Memandangi foto-foto kami yang tersimpan di memory handphoneku—sekarang, aku hanya bisa memandangimu lewat foto. Aku tak bisa lagi merasakan pelukan hangatmu.

Gosh, air mataku tak bisa berhenti keluar. Oppa, eotteohke? Aku sudah mengeringkan air mataku tapi mereka masih saja keluar dari sana.

Aku menyadari ada rekaman baru. Tanggal pembuatannya, hanya tiga hari sebelum ulang tahunku—tiga hari sebelum dia pergi untuk selamanya.

Pertama kali yang terlihat dari rekaman video itu adalah, suasana apartemennya. Lalu, mataku melebar ketika melihat wajahnya—wajah Donghae oppa. Air mataku mengalir lagi. Dia sedang tersenyum.

Shim Gyuri, mengapa kau pergi begitu saja?

Ia mulai berbicara.

Kau bertanya, jika kau terjatuh apakah aku akan mengangkatmu?” matanya terlihat sendu “Jawabanku tidak. Aku tak akan melakukannya karena aku telah menangkapmu sebelum kau terjatuh

Air mataku menetes.

Kau bertanya, saat kau bersedih dan menangis—apakah aku akan menghapus air matamu? Tentu saja tidak, karena aku memastikan bahwa kau tak akan pernah bersedih

Seseorang seperti meremas hatiku. Semakin kuat. Oppa, tapi saat ini kau membuatku sedih.

Gyuri, kau bertanya apakah aku mencintaimu sekalipun kau terlihat buruk?

Aku tak sanggup menatap wajah cerahnya. Mataku terus berair.

Jawabanku tidak karena itu memang hal yang tak mungkin. Bagaimana aku menjelaskannya, ehm tapi kau selalu terlihat baik di mataku” dia tertawa dengan semburat kemerahan di pipinya ketika mengatakan itu.

Lalu, apakah aku masih ingin bersamamu? Gyuri, aku tak ingin bersamamu—aku harus bersamamu” sinar matanya terlihat cerah.

Aku membekap mulutku. Menghalau tangisku.

Ah, satu lagi” dahinya tampak berkerut “Bagaimana bisa kau bertanya jika kau pergi apakah aku akan menangisimu?

Donghae oppa, terlihat kesal ketika mengulang pertanyaan terakhirku padanya. Sejurus kemudian raut wajahnya kembali tenang, fokus pada kamera handphoneku.

Tidak, aku tak akan membiarkanmu pergi. Tapi Gyuri, jika kau lakukan itu, aku tak akan menangis—tapi aku akan mati” ia kembali tersenyum.

Tangisku langsung pecah mendengar jawaban terakhirnya. Aku meraung, memukul-mukul dadaku yang sesak, seakan sesuatu menyumbat di sana.

Mianhaeyo, Gyuri-ya. Kau pasti merasa sedih karena sikapku” ia berkata lirih “Aku terlalu sibuk menyiapkan kejutan di hari ulang tahunmu—sedikit mengerjaimu tapi tak kusangka kau menjadi sesakit itu, mianhae. Semoga kau suka dengan hadiah ulang tahunmu

Aku semakin kuat memukul dadaku. Suara tangisku semakin tak tertahankan.

“Oppa wae? Inikah kejutanmu?” isakku “Kau berhasil oppa! Kau berhasil..mengapa kau lakukan itu padaku? Waeyo?”

Aku memeluk kedua lututku, meringkuk. Aku tak benar-benar meninggalkanmu oppa, tapi mengapa kau justru mewujudkan perkataan terakhirmu, mengapa kau benar-benar mati? Beraninya kau meninggalkanku seperti ini! Aku marah padamu! Sangat marah.

~.oOo.~

Aku menutup jendela kamarku. Dingin. Sudah musim dingin. Tak terasa sudah dua bulan kau pergi. Aku tak lagi merasakan hal menarik. Waktu seakan berlalu begitu saja, cepat dan tak membekas.

Harus bagaimana aku bisa melepasmu? Setiap kali berpikir tentangmu, air mata menemaniku. Kumohon oppa, untuk semenit saja—jangan muncul dalam ingatanku. Untuk semenit saja—aku ingin bahagia.

~~~

Dimana ini? Gelap dan menyeramkan. Dinding-dinding di sekitarku begitu gelap—aku melangkah tak tahu arah. Jauh di sana, setitik cahaya. Aku tak tahan berada di tempat gelap. Oppa, dimana kau?

Aku berjalan cepat menghampiri titik cahaya yang kian membesar, tak sadar aku telah berlari.

Sebuah pintu. Pintu tinggi, berwarna putih. Cerah. Seseorang membuka pintu itu. Aku terpana, tertegun melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. Dia tersenyum, ah—sangat tampan.

“Gyuri”

“Oppa?” tak percaya, itu wajah Donghae oppa—dia sangat tampan dengan celana dan kemeja putihnya “Donghae oppa?” tanyaku untuk meyakini apa yang aku lihat.

Dia tersenyum. Aku langsung memeluknya. Hangat.

“Kau merindukanku?” tanyanya. Bagaimana bisa kau bertanya begitu, tentu saja aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.

Dia melepas pelukannya. Memandang wajahku, tersenyum lagi.

“Oppa dimana ini?” tanyaku.

Dia tak menjawab. Aku menyisir sekelilingku. Suasana yang sangat nyaman, tenang dan begitu damai. Hatiku yang belakangan ini selalu mendung mendadak tenang ketika berada di sini.

“Jangan cemas, aku tak sendirian di sini” katanya.

Aku menyadari, begitu banyak orang di tempat itu. Mulai dari yang muda sampai yang tua, laki-laki dan perempuan—berpakaian putih, seputih pakaian Donghae oppa. Wajah cerah mereka begitu bahagia.

Aku kembali tertegun, melihat oppa sedikit berbeda dengan mereka. Dia selalu tampan hanya saja…

“Oppa, mengapa kau basah kuyup?” tanyaku, memegangi kemeja juga memandangi wajahnya. Rambut coklatnya juga basah—seperti habis disirami hujan.

“Setiap kali aku mencoba mengeringkan diri—air matamu selalu membasahiku”

Aku mematung mendengar perkataannya. Aku menangis—lagi. Oppa tersenyum. Ia memelukku, meskipun tubuhnya basah tapi tak menghilangkan kehangatannya. Dia memegangi pipiku dengan kedua tangannya. Memandangku dalam dengan sinar matanya yang lembut.

Mencium kedua belah mataku.

“Jangan menangis lagi” katanya.

Ia lalu mencium bibirku dengan lembut.

“Saranghae..” bisiknya di telingaku.

Aku membuka mataku. Memandangi kamarku, suaranya masih menggema di telingaku. Dalam remang suasana kamar, aku terduduk. Memegangi bibirku. Sentuhan bibirnya bahkan masih terasa.

Mataku yang sembab mulai berair. Dikesunyian malam, tangisku pecah. Mianhae oppa. Aku tak akan terus menangisimu lagi—aku berjanji tapi untuk saat ini, biarkan aku menangis sepuasku.

“Nado saranghae, Donghae oppa”

~The End~

Setelah semalaman dadaku sakit, nyesek banget ketika ide cerita ini terlintas di kepalaku—akhirnya, keesokan harinya buru-buru dituangkan dalam ff mumpung ide & perasaan sedihku masih melekat (author lebay)

Ssrroooooooottt..ngelap ingus dibajunya Kyuhyun #Plak!!!#

‘Bukan aku yang main castnya—namaku bahkan gak ada di atas, napa bajuku jadi korban?’ Kyu jambak rambut author.

Sorry, tissue dah abis nih

Donghae datang bawa-bawa bosku. Aih, apa lagi nih

‘Hahh, gak kerja malah buat ff? pake acara nangis ria pula—tissue kantor jadi abis! Ganti rugi’

Ish, bos gak pengertian. Gak tau apa lagi galau. Author lebay sendiri

‘Thor, protes! Giliran aku jadi pemeran utama kok mati sih? Lagian ngapain harus nangis lebay gaje gitu’ Donghae noyor-noyor kepala author.

Author cuek bebek.

Btw, thanks buat readers, jangan lupa tanggapannya #beri salam bareng-bareng Kyu dan Donghae#

 

 

 

Iklan

247 thoughts on “The Answer

  1. GyuHae berkata:

    Iseng2 buka library oneshoot unn, n langsung cauuuuw kesini, haha.
    Sedih juga ceritany, gyuri terburu2 mestiny kasih donghae penjelasan dulu, tp karna gyuri tanggung udh terlanjur sakit, ya sudahhh.

  2. Widya Choi berkata:

    Aigo… ksian bgt hae. Tyta dy ttp msih mncintai gyuri. Tp syg gr2 gyuri kburu salah faham jd ny gini nih huhuhu.

  3. LC_Ovan berkata:

    Inilah alasan kenapa Q jarang baca FF yg Oneshoot karena kebanyakan pasti bikin mewek dan bener kan mewek untung baca FF ini saat sahur ngak saat puasa kan bikin makruh

    Bang Ikan ku mati dan itu sesuai dengan jawaban dia dan Gyuri pun menyesal maka’a kita kalau bertanya dan dikasih jawaban jangan asal nerima aja padahal siapa tau masih ada lanjutan’a dan jangan kita ambil kesimpulan sendiri yang malah membuat kita menyesal dikemudian hari semoga Gyuri bisa menjalani hidup lebih baik dan belajar dari rasa kehilangan ini

  4. Park zie hyun berkata:

    Sumvah sedih banget 😭😭 !! Author tanggung jawab gara² bca ini Ff tisu kamar aku habis … *Sukses trus torr

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s