All About Heart (Part 1)

Cast : Kwon Hara (OC), Cho Kyuhyun (Suju), Lee Donghae (Suju)

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

***

Seoul, pukul 11 siang.

Seperti biasanya, aku selalu sibuk. Mencuci pakaian, membersihkan rumah dan kini memasak. Tentu saja, semua wanita akan melewati fase ini dan aku memilih untuk merelakan pekerjaanku sebagai staf di salah satu bank terbesar di Korea Selatan. Aku memilih untuk meninggalkan pekerjaanku yang selalu menawarkan salary yang besar, demi keluargaku.

Lelah sekali. Aku menghempaskan tubuhku di sofa, melepas rasa lelahku. Tiba-tiba saja mataku tertuju pada sebuah album yang terletak pada lemari kaca yang tak jauh dariku. Aku berjalan, menghampiri lemari itu dan membukanya. Tanganku meraih album berwarna biru itu dan membawa serta ke sofa tempat aku duduk tadi.

Tanganku membuka lembar demi lembar album foto itu.

“Ibu…”

Mataku tertuju pada seorang gadis cilik yang berdiri di balik pintu.

“Kemarilah,” aku tersenyum pada Ri An, gadis kecilku, dia baru berumur 4 tahun.

Ri An menghampiriku, dan langsung masuk ke dalam dekapanku.

“Ibu, apa yang sedang kau lihat?” dia menatapku dengan bola matanya yang bulat.

“Kau ingin melihatnya bersama ibu?”

Ri An tersenyum ketika aku menawarinya. Matanya langsung fokus pada album foto yang masih terbuka. Kami bersama-sama memandangi foto-foto yang penuh dengan sejuta kenangan

“Ibu, kau dan ayah terlihat sangat serasi.”

Aku tertawa mendengar celoteh Ri An. Ya, itu foto pernikahanku. Sesekali Ri An terlihat mengomentari beberapa foto dengan ekspresi lucu, juga foto-foto bayinya. Aku kembali membuka lembar album selanjutnya.

Tatapanku terhenti pada sebuah foto. Aku, suamiku dan pemuda itu. Kami memakai seragam SMA kami, tentu saja gambar itu diambil sepulang sekolah—yah, sudah begitu lama.

“Ibu,” Ri An sedikit mendongak menatapku. “Ini fotomu, ayah dan…”

Ri An terlihat berpikir, berusaha untuk mengenali sosok lainnya yang berfoto bersama kami.

“Siapa paman ini?” ia menunjuk pemuda yang berada di sebelah kananku.

Aku terdiam. Menatap wajah pemuda tampan itu.

“Dia, teman baik ibu dan juga ayah,” aku membelai rambut Ri An.

“Paman sangat tampan, ah—tapi Ayah juga tak kalah tampan. Jika dewasa nanti, aku ingin mendapatkan pacar setampan paman dan ayah,” aku tertawa mendengar penuturan polos Ri An.

“Ri An, kalau begitu—kau cepatlah bertambah dewasa.”

“Baik, Ibu,” malaikat kecilku sangat bersemangat. “Lalu, di mana paman berada?”

Pertanyaan Ri An membuatku terdiam. Ia terus menatapku meminta jawaban, sementara aku masih bungkam, Ri An membuatku teringat kembali padanya, sejujurnya aku memang tak akan pernah melupakan orang itu. Dengan lembut aku mengelus rambut halus Ri An, tersenyum hangat padanya.

Apakah kau tahu apa itu persahabatan? Bagaimana dengan cinta?

Aku hidup berdampingan dengan itu, persahabatan dan cinta. Kedua hal itu mengajariku sesuatu yang sangat berharga.

Kau percaya pada takdir?

Akan kuceritakan kisahku, ketika persahabatan dan cinta telah menggariskan takdir dalam hidupku, membawaku melangkah hingga berada di posisiku saat ini.

~.oOo.~

Chongdam High School.

Aku menghentikan laju sepedaku, memandangi banner itu. Yup! Hari pertamaku sebagai murid SMA akan dimulai di sini. Namaku Hara, Kwon Hara. Mulai hari ini statusku telah berganti, bukan lagi sebagai pelajar SMP tapi SMA. Aku memandangi seragamku, seragam SMA impianku. Aku tersenyum puas dan kembali memasuki parkiran sekolah yang begitu luas.

Belum sempat aku memarkirkan kendaraan murahanku ketika sebuah mobil mewah nyaris menyerempetku. Aku terjerembab.

“Hei bodoh!” seorang pemuda tinggi, wajahnya tampan. Ia turun dari mobil itu. Dia terlihat mengendarai sendiri mobilnya.

“Kau memanggilku apa?” geramku.

“Bodoh! Kau tuli?” desisnya.

Aku mengepal kedua tanganku.

“Cho Kyuhyun! Kau hampir membuatku menghabiskan hidupku di parkiran sekolah.”

Dia hanya tersenyum setan. Astaga, tak mengertikah dia jika kejadian barusan hampir merengut nyawaku? Aku tersadar ketika melihatnya memakai seragam Chongdam High School.

“Ciihh, mengapa kau mengikutiku ke sekolah ini?”

Pemuda itu terkesiap mendengar pertanyaanku.

“Kau bilang apa? Mengikutimu?” Kyuhyun tertawa. Menyebalkan.

Ya Tuhan, aku tak percaya jika pemuda ini…

“Sayangku,” seorang pemuda yang tak kalah tampannya dari Kyuhyun terlihat turun dari—lagi-lagi mobil mewah yang dikendarainya.

Aku tak berkedip memandangnya.

“Sayang, kau tak apa-apa?”

Aku melongo, bingung memandanginya yang membantuku berdiri, mengebas debu pada rok seragamku.

“Hey!!” Kyuhyun berteriak pada pemuda tampan di sisiku “Mengapa kau memanggilnya seperti itu?”

“Mengapa?” tanya pemuda itu, tersenyum sambil merangkul mesra pundakku.

“Lee Donghae!” aku memandanginya. “Mengapa kau juga ada di sini?” belum habis ketidakpercayaanku melihat Kyuhyun, bahkan kini Donghae melakukan hal yang sama.

“Sayang, aku tak akan bisa jauh darimu,” pemuda itu, Lee Donghae—tertawa sambil mempererat rangkulannya dan membawaku menjauh dari Kyuhyun.

“Lee Donghae!!”

Kyuhyun berlari menghampiri kami, dia menyingkirkan kasar tangan Donghae.

“Aish, kau kasar sekali!” Donghae mendesis kesal.

“Kau ingin mati, huhh?” Kyuhyun memandang tajam pada Donghae. “Sudah kubilang, berhenti memanggil sayang pada gadis jelek ini.”

Apa? Jelek? Argh, kau membuatku marah Cho Kyuhyun.

“Sampai kapan kau akan terus memanggilnya seperti itu, Kwon Hara adalah pacarku!”

Akhirnya aku hanya bisa lemas ketika Kyuhyun menarik tanganku, berjalan mendahului Donghae yang hanya tertawa.

“Aku mengerti,” Donghae menyamai langkah kami. “Kita berbagi pacar, bagaimana?”

“Aku tak mau!” tolak Kyuhyun mentah-mentah.

“Kalian berdua menyingkirlah,” aku berjalan cepat, mendahului dua pemuda aneh itu.

“Sayangku!”

“Gadis bodoh!”

Aku hanya bisa pasrah ketika dua pemuda alien itu berlari menyusuliku dan langsung merangkulku, membuatku terhimpit di antara tubuh atletis mereka.

Kami berjalan beriringan dengan posisi itu, memasuki gedung sekolah. Tentu saja langsung menarik perhatian. Aku rasa para gadis akan sangat iri padaku, melihatku diapit oleh dua pemuda tampan kaya raya yang tampaknya tak bisa jauh dariku hahahaha.

Baiklah, sebelum kalian bertanya lebih lanjut—aku akan menjelaskannya. Lee Donghae yang baik hati dan tampan, juga raja iblis Cho Kyuhyun yang menyebalkan, mereka adalah orang-orang yang dekat denganku. Ah, bagaimana menjelaskannya—tapi kami bertiga sudah sangat akrab sejak pertama kali bertemu di bangku taman kanak-kanak. Sejak itu, mereka berdua selalu berada di sekitarku—kami bahkan berada di SD dan SMP yang sama, itulah sebabnya aku shock stadium akhir ketika harus menyadari takdirku bersama dua Pemuda keren itu di SMA yang sama dan juga bukan hanya itu…

“Kelas X-2,” ujar Donghae ketika kami tiba di depan pintu sebuah kelas. Ia langsung masuk ke dalam kelas itu.

“Kebetulan yang menyenangkan,” Kyuhyun tersenyum, menyusuli Donghae.

Lalu aku? Aku berdiri melongo di depan pintu, mulutku tak tertutup rapat.

“Apa yang kau tunggu?”

Kyuhyun dan Donghae mendongak dari dalam kelas, menatapku yang tak beranjak. Aku mendesis kesal lalu melangkah ke dalam kelas disambut oleh senyum kedua pemuda itu. Itulah sebabnya aku hampir kehilangan kesadaran, percayalah tapi kami selalu berada di kelas yang sama. Kebetulan yang menyenangkan? Hahh, ini justru terlihat seperti sebuah kutukan bagiku.

Dua tahun belakangan ini, hubunganku dan Kyuhyun mengalami sedikit kemajuan. Kau tahu maksudku? Aku sahabatnya merangkap kekasihnya. Aishh, apa yang kubicarakan? Dibandingkan Lee Donghae yang ramah dan baik hati, aku justru jatuh cinta pada iblis gila itu. Kurasa aku juga ikut menggila bersamanya.

Sekarang—aku harus berbesar hati menghabiskan tiga tahun masa SMA-ku yang paling berharga dengan dua orang stress itu. Dasar bodoh, tak bisakah kalian berdua membiarkanku menyendiri? Kalian telah merampas privasiku!

~.oOo.~

Uhm..ngantuk. Aku membuka sedikit saja kelopak mataku dan menutupnya kembali. Aku menyukai hari libur. Bansai!

Satu menit..dua menit..kurasa sepuluh menit kemudian mataku kembali terbuka. Aku mengedarkan pandanganku pada kamar kecilku yang sederhana. Donghae terlihat sedang duduk tak jauh dari tempat tidurku, membaca diary mungilku.

Morning Sayangku,” sapanya.

Mataku kembali tertutup. APA? Seketika kantukku hilang.

“Lee Donghae, sejak kapan kau berada di sini?” ternyata aku tak sedang bermimpi.

“Entahlah, satu atau dua jam lalu—ada apa?” dia bertanya dengan santai.

“Kau bertanya—ada apa?”

“Hei bodoh, jangan buat keributan di pagi hari!”

Aku semakin terkejut ketika Kyuhyun terlihat keluar dari dalam kamar mandiku. Rambutnya terlihat basah

“Apa yang kau lakukan?” mataku menatap handuk biru muda milikku yang masih berada di tangannya.

“Mencuci rambutku,” jawabnya datar. “Aish, sudah kubilang sebaiknya renovasi kamarmu yang sempit ini!”

Aku duduk dan memandangi mereka berdua. Berpuluh kali mereka selalu seperti itu, bangun pagi tahu-tahunya disuguhi oleh wajah-wajah monoton itu—jika yang tampak di mataku adalah wajah Edward Cullen itu baru menyenangkan, hehehe—bodoh aku bukan Bella Swan, jika dia berada di kamarku habislah darahku.

Pemuda sinting, seenaknya memasuki kamarku, ibu terlalu mempercayai mereka—bagaimanapun dia harus memikirkan keselamatan anak gadisnya.

“Sudah kubilang, jangan seenaknya memasuki kamarku. Aku ini seorang gadis—bagaimana jika aku tidur dalam keadaan setengah telanjang?”

“Kau tak pernah seperti itu, tapi jika suatu saat kau begitu—aku rasa itu hari keberuntunganku,” Donghae tertawa.

“Bentuk tubuhmu sangat jelek—jangan sekali-kali berpikir untuk tidur dengan pakaian seksi.”

Aku mencibir mendengar ejekan Kyuhyun. Kembali aku membenamkan diri dalam balutan selimutku.

“Hey~ Hara, apa yang kau lakukan? Sengaja kami berdua menjemputnya—kita akan bersenang-senang di Lotte World,” Donghae miris melihatku.

“Ini hari libur—kalian berdua pulanglah, jangan menggangguku. Aku hanya ingin tidur sepuas-puasnya.”

“Menyebalkan, sudahlah—sebaiknya kurampungkan hasrat tidurku,” ujar Donghae yang langsung berbaring di sampingku.

“Lee Donghae—berapa kali kuperingatkan, jangan menyentuh pacarku!” Kyuhyun menunjuk-nunjuk Donghae.

Donghae justru melingkarkan tangannya pada tubuhku—aish, aku tak perduli, bahkan meskipun ada pertumpahan darah, aku hanya ingin tidur. Mereka selalu saja seperti itu.

Kyuhyun ikut membaringkan diri di sisi kananku.

“Menyingkir kau!” Kyuhyun ikut memelukku, dan berusaha mendorong tangan Donghae yang semakin erat memelukku.

“Diamlah Cho Kyuhyun, sebaiknya kita tidur lagi,” ujar Donghae santai.

Aku tahu Kyuhyun pasti sangat kesal. Terserah kalian berdua, aku mengantuk sekali. Akhirnya, mereka berdua justru merampas tempat tidurku yang sempit ini. Memelukku, menghimpit tubuhku di tengah—kami kembali tertidur. Inilah kami, tak pernah terpisahkan dan persahabatan kami yang aneh.

~.oOo.~

Kantin sekolah.

“Di sini rupanya,” Kyuhyun duduk di hadapanku. Menarik mangkuk ramyeon dari hadapanku dan merampas sumpit di tanganku.

Aku hanya mendesah melihatnya melahap ramyeonku. Mengapa mereka berdua tak pernah membiarkanku hidup dengan tenang?

“Hei Kyu,” aku menatapnya yang terus meraup rampasan ramyeon. Dia tak menyahut.

Apa dia tak makan? Terlihat seperti berhari-hari tak makan. Masih juga merampas makanan gadis malang sepertiku.

“Kyu,” panggilku lagi. “Kau menyukaiku?”

“Tentu,” jawabnya tanpa menoleh padaku

“Kyu~ kau mencintaiku?”

Kyuhyun tersedak ketika aku bertanya seperti itu.

“Hara! Ada apa denganmu? Di mana kepalamu terbentur?” Kyuhyun meraba dahiku, dengan kesal kusingkirkan tangannya. “Mendadak pertanyaanmu aneh.”

“Aneh?” aku menggeram.

Selama ini aku memang tak pernah mengeluarkan pertanyaan sejenis itu, dia hanya berkata menyukaiku dan aku merasakan hal yang sama. Seperti itulah kami. Belakangan aku sangat menyadari jika aku bukan sekedar menyukainya tapi sangat mencintainya—jangan salahkan aku untuk merasa penasaran luar biasa tentang perasaan cintanya padaku.

“Aku mencintaimu,” jawab Kyuhyun. Tampaknya dia menyadari isi kepalaku ketika aku hanya bungkam, memandangnya kesal.

“Benarkah?”

“Benarkah? Pertanyaan macam apa itu?” Kyuhyun mendesis. “Kau tak percaya padaku?”

Aku tertawa dan mencubit pipinya. Dia meringis.

“Katakan, mengapa kau mencintaiku?” tanyaku lagi.

“Ada tiga alasan mengapa aku mencintaimu,” jawabnya santai. “Pertama, kau jelek. Kedua kau sangat jelek dan ketiga, tak ada yang menandingi kejelekanmu,” Kyuhyun tersenyum.

“Cho Kyuhyun! Apa itu sebuah alasan?” dia hanya menyengir ketika emosiku sedang memuncak.

“Sebenarnya, aku tidak memiliki alasan mengapa aku mencintaimu,” jawabnya santai.

“Tidak—beri aku alasan!”

Kyuhyun memandangku yang terus memelototinya.

“Baiklah—karena kau cukup cantik dan cukup menarik,” jawabnya.

Meskipun mendesah kesal dengan kata cukup itu. Tak bisakah dia memberikan pujian yang dapat menenangkan hatiku?

“Curang, meninggalkanku hanya untuk berduaan,” Donghae duduk di samping Kyuhyun.

Aish, datang lagi stalker setiaku. Kalian tahukan, aku mempunyai dua orang stalker.

“Sayang, mulutmu kotor.”

Tanpa rasa bersalah pada Kyuhyun, Donghae mengambil sapu tangannya dan membersihkan mulutku.

“Lee Donghae!” hardik Kyuhyun.

“Donghae, kau mencintaiku?” pertanyaanku membuat Kyuhyun menggeram.

“Tentu saja,” Donghae tertawa. Sepertinya dia tahu maksudku menanyakan itu.

“Katakan, mengapa kau mencintaiku?”

“Kau ingin tahu?” Donghae menatapku dalam, aku mengangguk. “Cintaku padamu seperti sebuah perjalanan. Dimulai untuk selamanya dan tak akan pernah berakhir.”

Sejenak aku terdiam. Ucapan Donghae sangat menusuk di hatiku. Ah, pintarnya dia. Aish, alangkah indahnya jika Kyuhyun dapat bersikap selembut Donghae.

“Astaga! Donghae, kau membuatku sangat terharu.”

“Bagaimana? Kau pacaran denganku saja. Lupakan Cho Kyuhyun!” senyum jahil Donghae tersirat di wajahnya.

“Hey!! Hey!! Kalian berdua!! Kalian benar-benar ingin mati?”

Aku dan Donghae saling pandang dan menertawakan tingkah kekanak-kanakan Kyuhyun yang sedang cemburu akut. Bravo Donghae, kita sukses mengerjainya. Biarkan saja dia, mengapa bersikap semenyebalkan itu padaku? Rasakan itu.

~.oOo.~

Beberapa bulan kemudian, aku mengalami sesuatu yang mengajarkanku sebuah pelajaran berharga. Suatu pagi ketika sedang mengendarai sepedaku menuju sekolah, sebuah mobil menabrakku.

Aku mengalami luka yang cukup serius. Patah tulang yang membuatku tak bisa berjalan selama sebulan.

Donghae dan Kyuhyun datang memasuki kamar rawatku. Wajah mereka terlihat pucat, lelah—aku tahu mereka pasti berlari sekuat tenaga setelah mendengar aku mengalami kecelakaan.

“Gadis bodoh! Berapa kali kubilang, jangan seenaknya di jalanan!”

Astaga, aku sedang mengalami nasib buruk tapi dia tak menaruh sedikitpun belas kasihan padaku. Donghae menyentuh pundak Kyuhyun, menenangkan Kyuhyun.

“Setelah sembuh, kau tak boleh lagi mengendarai sepedamu,” Donghae menatapku dengan tenang. “Kita bersama-sama ke sekolah.”

Aku hanya diam. Perkataan dua orang itu tak pernah bisa aku bantah. Aku mengerti situasi tak menyenangkan ini, aku mengerti betapa marahnya Kyuhyun dan Donghae melihat keadaanku.

“Ini bukan salah kalian,” aku tahu mereka sedang menyalahkan diri mereka karena kejadian yang aku alami.

“Beristirahatlah, aku ke toilet dulu,” Donghae menepuk pundakku.

Dia meninggalkanku dan Kyuhyun. Kami terdiam. Lalu Kyuhyun terduduk lemas di tempat duduk, di sisi tempat tidurku. Menarik nafas dalam-dalam.

“Kyu,” aku memanggil pelan namanya.

“Hara, jangan lakukan itu lagi,” dia terlihat tegang. “Kau tahu bagaimana rasanya ketika mendengarmu masuk rumah sakit?” sorot matanya sangat marah padaku.

“Maaf.”

Kami kembali terdiam untuk beberapa menit ke depan. Kyuhyun memandangiku. Kondisiku sangat lemah, aku pasti pucat. Ah, dia dapat melihat dengan jelas bibirku yang kering. Dasar Gadis bodoh—masih juga memikirkan penampilan? Harusnya kau bersyukur karena hidupmu terselamatkan. Aku terus merutuki diriku.

Argh, bagaimana ini? Tapi di depan orang yang kau cintai, kau pasti ingin selalu terlihat baik. Benarkan?

“Kyu. Kau masih mencintaiku?”

Entah setan mana yang kembali membuatku bertanya seperti itu. Kurasa pengaruh aku berdampingan dengan raja iblis. Dia memandangku.

“Kau lihat keadaanku sekarang. Aku tak cukup cantik dan tak cukup menarik.”

Aku kembali mengulangi alasan Kyuhyun mengapa mencintaiku.

“Apakah kau masih mencintaiku setelah melihatku seperti ini?”

Kyuhyun tetap bungkam. Ia terlihat menarik nafas dengan sangat tenang.

“Hara, sekarang kau paham? Itulah sebabnya aku katakan bahwa aku tak memiliki alasan ketika mulai mencintaimu. Cinta tak butuh alasan. Aku cinta kau dan masih mencintaimu—tak perduli apapun yang terjadi.”

Aku tertegun. Seperti catatan sejarah, ini pertama kalinya mendengar Kyuhyun mengucapkan hal-hal yang bahkan tak terasa membuat air mataku menetes. Dia menggenggam tanganku dan tersenyum lembut.

“Jika cintaku adalah sebuah pertanyaan, aku yakin kaulah jawabannya,” Kyuhyun menghapus air mataku.

Dia mengecup singkat bibirku. Aku terkejut. Mata kami saling beradu pandang dengan irama jantung yang cepat. Perlahan, Kyuhyun kembali menciumku—sangat lembut. Ciuman pertama kami setelah hampir tiga tahun berpacaran.

Kyuhyun mengajariku apa arti cinta yang sebenarnya. Dia menyadarkanku bahwa cinta tak pernah melihat sebuah alasan khusus melainkan sebuah keikhlasan, yang aku tahu bahwa aku mendapati diriku telah sangat mencintai pemuda itu. Aku tak akan bertanya lagi karena cinta bukanlah sebuah pertanyaan. Terima kasih.

~.oOo.~

Awal tahun ajaran baru, kami naik ke kelas XI ketika kabar mengejutkan itu datang.

“APA?” aku dan Kyuhyun terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Donghae.

“Maaf, aku yakin kalian akan sangat terkejut,” katanya.

“Besok?” ulangku.

“Bodoh—mengapa baru mengabari hal ini pada kami, kau pikir kami ini siapa?” Kyuhyun terlihat marah.

“Itulah sebabnya aku tak ingin mengatakan apapun pada kalian. Jika mau mengantarku, aku berangkat jam 11 siang.”

Donghae meninggalkan aku dan Kyuhyun yang terdiam. Ya, sahabat kami—Lee Donghae akan pindah bersama keluarganya. Ayahnya menjadi duta besar Korea Selatan di Jerman, mereka sekeluarga akan pindah.

Ada sesuatu yang menusuk di hatiku dan terasa begitu kosong. Aku tahu Kyuhyun merasakan hal yang sama. Aku, Kyuhyun dan Donghae seperti sebuah medan magnet. Kami tak pernah terpisahkan atau pun berada jauh satu sama lainnya. Mendengar bahwa Donghae akan pergi untuk batas waktu yang belum ditentukan, entahlah—sesak dan ada yang kurang dari hidup kami.

~~~

Meskipun sangat kesal dan marah pada Donghae tapi kami memutuskan untuk melepas kepergiannya di Incheon Airport.

“Jangan lupa mengabari kami,” ujar Kyuhyun.

Donghae mengangguk. Sementara mataku telah berkaca-kaca.

“Sayang, sekarang kau sadar bahwa yang kau cintai adalah aku bukan pemuda iblis ini?”

“Lee Donghae!”

Aku tertawa sambil menghapus air mataku. Pasti akan sepi tanpa gurauan khas Donghae.

“Beritahu kami jika kau memacari gadis Jerman,” ujar Kyuhyun setelah berhasil menenangkan kekesalannya pada Donghae.

“Jangan khawatir, aku akan mengirimkan satu untukmu,” goda Donghae. “Kita barter, oke?” katanya lagi sambil memandangiku.

Kyuhyun meninju bahu Donghae.

“Dan kau nona ceroboh,” ia memegangi bahuku dengan kedua tangannya. “Jangan membuatku tak bisa tidur karena ulahmu.”

Aku mengangguk, tak dapat berkata-kata. Hanya tersenyum dan air mata yang lagi-lagi menetes.

“Aku akan sangat merindukanmu Kwon Hara,” pelukannya sangat erat. Aku membalas pelukannya dan sesegukan.

“Aku juga, jangan lupa mengabariku,” akhirnya ada juga kata-kata yang bisa aku ucapkan padanya. Aku terlalu sedih untuk kehilangan seorang sahabat seperti Donghae walaupun keadaan itu tak berlangsung selamanya.

Donghae lalu beralih pada Kyuhyun.

“Cho Kyuhyun—jangan coba-coba kau menelantarkan gadis malang ini.”

Aish, dia masih sempat-sempatnya membuatku kesal. Jangan merusak suasana haru ini, Lee Donghae.

“Jangan cemas,” Kyuhyun memeluk Donghae. “Jaga dirimu,” ia menepuk-nepuk punggung Donghae.

“Tentu.”

Dia melambaikan tangan padaku dan Kyuhyun. Kami membalas lambaian tangannya. Itulah terakhir kali kami melihatnya untuk beberapa tahun ke depan, kami hanya berkomunikasi via telepon maupun internet.

~.oOo.~

Seoul, 7 tahun kemudian.

Gadis bodoh!!” aku menjauhkan ponsel dari telingaku. Teriakan Kyuhyun bisa menginfeksi saluran pendengaranku.

“Cho Kyuhyun, aku tak tuli!”

Di mana kau? Aku sudah hampir lumutan karena mununggumu,” dia marah-marah.

Tak pernah berubah, selalu saja menyeramkan dan menyebalkan. Dasar Hara bodoh, mengapa aku bisa jatuh cinta pada titisan iblis itu?

“Sudah kubilang, aku sedang dalam perjalanan. Tunggu saja, jangan cerewet!”

Aku mengakhiri sepihak pembicaraanku dengan Kyuhyun. Aku yakin saat ini dia sedang menendang apapun yang bisa ditendangnya.

Kupandangi anak tangga yang membuatku lemas. Saat ini aku sedang menaiki tangga menuju menara Namsam. Dasar gila, sudah jam 9 malam tapi memaksaku ke menara Namsam. Gosh, di mana otaknya?

“Bodoh!”

Teriakan Kyuhyun menyambut kedatanganku. Dia tak merasa kasihan sedikit pun padaku yang hampir kehilangan nafas karena menaiki tangga.

“Kau yang bodoh—tak melihat perjuanganku hanya untuk menemui pemuda iblis sepertimu?”

Kyuhyun hanya mendesis. Dia menarik tanganku. Membawaku melangkah. Kami akhirnya duduk di sebuah kursi taman yang ada di sekitar area menara.

“Katakan!”

“Apa?”

Dia justru memasang tampang bodohnya.

“Ada apa menyuruhku ke sini?”

“Bukan alasan khusus—aku sedang memandangi pemandangan Seoul di malam hari, tiba-tiba teringat padamu. Lalu menelponmu.”

Darahku mendidih mendengar alasan tak masuk akalnya. Aku beranjak, berniat meninggalkannya ketika Kyuhyun menarik tanganku.

“Aku merindukanmu, Hara.”

Ucapannya membuat badai dalam hatiku mendadak sirna. Kyuhyun membawa tubuhku ke dalam dekapannya. Aku cukup menikmati moment ini, jarang-jarang iblis ini bersikap lembut dan romantis.

Kami masih meresapi keromantisan itu ketika ponselku bergetar. Aku melepas pelukan Kyuhyun dan meraih ponsel dalam saku jaketku—Kyuhyun juga terlihat mengeluarkan ponselnya. Sebuah pesan singkat.

Kami sama-sama terkejut dan saling pandang.

~~~

Kyuhyun memarkirkan mobilnya. Kami keluar dari mobil. Memandangi area sekolah yang sangat sepi—tentu saja, tak ada aktivitas sekolah pada malam hari. Kami berada di Chongdam High School.

Sudah beberapa tahun sejak kelulusan, tak pernah menginjakkan kaki di sekolah penuh kenangan ini. Ah, dibandingkan memikirkan kerinduan pada sekolah, mata kami lebih terfokus mencari seseorang.

Di lapangan basket. Tampak seorang Pemuda dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung sebatas siku. Dia sedang bermain basket. Aku dan Kyuhyun saling pandang, lalu tersenyum dan berlari menghampiri sosok itu.

“LEE DONGHAE!” teriak kami.

Kyuhyun langsung mengurung leher pemuda yang telah sekian tahun berpisah dengan kami, Lee Donghae.

Dia terlihat lebih dewasa dan juga semakin tampan.

“Kau bisa membunuhku!” Donghae melepaskan diri dari Kyuhyun dan langsung memelukku. “Sayangku, lama sekali tak melihatmu.”

Aku hanya tertawa ketika dengan kasar Kyuhyun menarik Donghae. Gurauannya itu, tak sedikit pun berubah.

“Kau belum juga putus dengannya?” teriak Donghae yang sedang disekap oleh Kyuhyun.

“Aku juga heran, mengapa itu bisa terjadi,” candaku. Kyuhyun memelototiku kesal.

“Donghae, lupakan. Gadis jelek ini, tak akan bisa lepas dariku.”

Ah, selalu seperti itu.

“Haissh!!” aku berjalan meninggalkan dua pemuda menyebalkan itu.

Donghae berlari menghampiriku dan merangkulku. Kyuhyun yang tak pernah mau kalah ikut merangkulku. Lagi-lagi, aku berada dalam suasana yang sama. Terapit di tengah-tengah dua orang lelaki tampan, untung saja imanku sangat kuat—hahh, bicara apa aku ini? Abaikan saja. Sudah lama sekali kami tak berkumpul seperti ini—aku merindukan saat-saat ini.

~.oOo.~

Hari-hari kami kembali seperti dulu. Tak hanya aku dan Kyuhyun, Donghae sudah kembali dari Jerman. Lengkap sudah. Lengkap juga penderitaanku di tengah dua pemuda semi autis itu.

Perbedaannya hanyalah umur kami yang semakin dewasa, menurutku semakin tua. Sikapku ikut dewasa, tapi aku tak yakin dengan dua bocah itu. Kami bukan lagi anak-anak, bukan lagi remaja—kami adalah tiga orang dewasa yang bersahabat dengan cara yang aneh. Kami diikat oleh takdir yang sangat aneh.

Aku baru beberapa minggu bekerja di sebuah bank. Hebatnya, aku dikelilingi oleh dua orang direktur. Tahu maksudku? Kyuhyun dan Donghae berasal dari keluarga kaya—mereka kini meneruskan perusahaan keluarga mereka masing-masing. Banyak gadis-gadis yang iri denganku, sudah sejak dulu.

Dengan ekor mata, kulirik Kyuhyun yang duduk di sebelahku. Saat ini kami sedang berada di sebuah kereta bawah tanah yang melaju dengan kencang. Tak tahu apa maksud pemuda ini mengajakku naik kereta, untuk apa mobil mewahnya itu?

Kyuhyun menutup mata. Tidurkah dia?

“Kita mau ke mana?” aku mencoba mengobati rasa penasaranku.

“Stasiun selanjutnya,” jawabnya.

“Lalu?”

“Kembali lagi ke Seoul.”

“Untuk apa membuang-buang waktu?”

Tak masuk akal. Bukankah Kyuhyun semakin aneh. Kyuhyun membuka matanya dan memiringkan kepalanya, menatapku dengan tatapan tajamnya.

“Aku hanya ingin jalan-jalan berdua denganmu—Donghae tak akan menemukan kita di sini.”

Jadi, alasannya mengajakku berwisata kereta hanya untuk menghindari Donghae? Keterlaluan. Uhm, memang sejak kedatangan Donghae—intensitas kami untuk berduaan sirna.

Kyuhyun menyerahkan sesuatu padaku. Aku membuka kotak itu.

“Apa ini?” aku menatap cup cake cantik di dalam kotak itu.

“Makanlah. Aku sengaja menyiapkannya untukmu.”

Kuturuti apa maunya. Memakan cup cake itu sampai habis, namun tatapan Kyuhyun terus menghujaniku.

“Ada apa?” heran dengan sikapnya.

“Kau memakan semuanya?” ia mendelik. “Kau tak merasakan sesuatu di sana?” tanyanya lagi.

“Enak,” jawabku.

Sejurus kemudian dia terlihat sangat frustasi.

“Makan lagi!” perintahnya sambil meletakan kotak cup cake kedua di tanganku.

“Baiklah, kebetulan aku sangat lapar.”

Dia terus menatapku dengan penuh keseriusan.

“Kau tak merasakan apapun juga?”

“Sangat enak!” jawabku antusias.

Lagi-lagi dia terlihat kesal.

“Habiskan semuanya!” aku terkejut ketika dia meletakkan sekantong plastik kotak-kotak yang pastinya berisi cup cake, “Pastikan kau tidak menyisahkan cup cake itu sedikit pun!”

Aku kebingungan melihat tingkahnya.

“Cho Kyuhyun! Kau tak mengira jika aku ini serakus babi, bukan?” memberiku makanan sebanyak ini, lihatlah semua penumpang memandangi kami—salah, memandangiku.

“Apa bedanya kau dan saudara kembarmu itu?”

“KAU!!”

Aku memukul kepalanya. Kyuhyun meringis kesakitan. Mengapa mulutnya selalu mengeluarkan kata-kata pedas seperti itu? Cho Kyuhyun bodoh. Iblis.

“Makan saja, dan jangan banyak bertanya!”

“Kau pikir aku bisa menghabiskan semua ini?”

“Baiklah—aku akan membantumu menghabiskannya,” dia meraih dua buah kotak berisi cup cake dari dalam kantung plastik yang berada di pangkuanku. “Aneh,, seharusnya ada di dalamnya…ah, aku yakin sudah menandainya,” Kyuhyun bergumam, bertanya pada dirinya sendiri.

Sampai beberapa saat kemudian, raut wajah Kyuhyun berubah. Matanya sedikit melebar. Ia lalu terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya. Aku menjadi cemas. Semua orang memandangi kami.

“Kyuhyun, kau tak apa-apa?”

Dia terus terbatuk sambil mencengkeram lehernya. Aku menyodorkan botol berisi air mineral. Kutepuk-tepuk belakangnya. Perlahan batuknya mereda.

“Bagaimana ni?” Kyuhyun mendelik.

“Kau tak apa-apa?”

“Aku menelannya,” wajahnya semakin memucat.

“Apa?”

“Cincin,” jawabnya, alisku mengkerut. “Aku menelan cincin itu!” ulangnya lagi.

“Apa?” aku terlonjak kaget. Apa maksudnya dengan menelan cincin? “Kau bicara apa?”

“Aku menelan cincin dalam cup cake itu,” desisnya.

“Bodoh, apa yang kau lakukan? Kau ingin mati?” aku memarahi pemuda idiot itu, otakku kembali berputar. “Kyu?” aku menatapnya—sangat serius.

“Kau lebih bodoh dari dugaanku,” ringisnya. “Apa otakmu tak bisa berpikir? Aku sengaja memasukkan cincin ke dalam cup cake. Agar ketika kau memakannya, kau menemukan cincin itu!”

“Kau?”

“Idiot. Aku sedang berusaha untuk melamarmu—rencanaku berantakan, cincinnya kutelan.”

Aku terpaku. Apa barusan dia bilang? Melamarku?

“Cho Kyuhyun,” aku mengatur peredaran darahku. “Kau tak berpikir? Untungnya saja kau yang menemukan cincin itu, aku tak ingin mati konyol karena menelan benda itu. Lagipula, seharusnya—kau cukup menyediakan satu cup cake saja. Di mana otakmu?”

“Kupikir, kau akan sangat kelaparan. Satu tak akan cukup, jadi aku melebihkannya. Tak kukira akan berantakan.”

Dia memalingkan wajahnya. Terlihat memerah. Marahkah? Kurasa tidak. Itu ekspresi kesal bercampur malu.

“Benarkah? Kau ingin melamarku?” tanyaku.

“Jangan ungkit lagi,” dia tak memalingkan wajahnya padaku.

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Reaksi tubuhnya yang sedikit menegang dapat kurasakan.

“Kau ingatkan? Aku hidup tanpa hatiku lagi.”

Dia terdiam.

“Bahwa hatimu telah kau serahkan padaku,” kata Kyuhyun. “Bagaimana aku bisa lupa. Setiap saat kau terus mengatakan hal itu padaku.”

“Kau mengerti?” dia sedikit menengok wajahku. “Hatiku, bukan milikku lagi. Itu milikmu, aku telah menyerahkan seluruhnya padamu.”

Kyuhyun terdiam.

“Kwon Hara,” nada suaranya mulai teratur. “Maukah kau menikah denganku?” ucapannya membuatku sukses melepas sandaran kepalaku dari bahunya dan menatapnya.

“Menikahlah denganku.”

Astaga. Apa aku tak bermimpi? Cho Kyuhyun sedang melamarku? Aku menatap lekat wajahnya yang tampan.

“Mengapa kau masih bertanya lagi?” aku mengecup singkat bibirnya.

Dia tersenyum dan membalasku. Bukan sebuah kecupan, tapi sebuah ciuman yang hangat dan begitu dalam.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun ketika aku mengakhiri ciuman kami yang mulai memanas.

Aku hanya tersenyum salah tingkah. Akhirnya Kyuhyun mengerti dan ikut salah tingkah bersamaku. Kami lupa bahwa kami masih berada di kereta. Mata para penumpang masih tak beranjak dari kami, seorang ibu bahkan menutup mata anaknya. Aku tak ingin memikirkan apa yang ada dalam kepala mereka.

~.oOo.~

Aku menatap pantulan diriku dari cermin besar di sebuah ruangan bernuansa putih. Gaun pengantin putih yang begitu indah di tubuhku. Sebuah buket bunga dalam pangkuanku. Juga, riasan minimalis di wajahku.

Mataku terlihat bengkak. Hatiku sangat sakit. Sulit untuk menjelaskan apa yang aku rasakan. Tanpa kuminta, air mataku mengalir lagi di wajahku. Bukankah ini pernikahanku?

Ibu membuka pintu ruangan tempatku berada. Aku menghapus air mataku.

“Jangan menangis lagi Hara,” ibu menyentuh pundakku.

Air mataku justru semakin deras. Aku terisak, tubuhku mulai berguncang. Ibu, ini sangat menyakitkan. Ibu beranjak, membiarkanku sendiri dalam ruangan itu.

Benarkah ini?

Mengapa?

Haruskah aku?

~~~

Aku berdiri di ambang gerbang sebuah ruangan yang cukup luas—ruangan yang disulap menjadi begitu elegan. Tempat pernikahanku. Aku menggandeng tangan ayah yang akan mengantarku dan menyerahkanku pada suamiku kelak yang telah menanti di depan altar.

Dia sangat tampan. Jas hitam yang dikenakannya. Tatapan matanya yang tenang namun mengandung sejuta makna, terus tertuju padaku.

Ayah mengelus pelan lenganku, memberikan kekuatan padaku. Air mataku terus mengalir ketika kami melangkah di atas karpet merah menuju altar.

Bagaimana perasaanmu ketika kau menghadapi pernikahanmu? Senang? Sudah pasti, tapi aku merasakan kekosongan yang luar biasa—seperti ada lubang besar yang menganga di dadaku ketika menatapi orang yang berdiri di depan altar menantiku, Lee Donghae.

Ya. Pernikahanku dan Donghae. Bagaimana perasaanmu ketika menyadari bahwa orang yang akan kau nikahi, orang yang akan menjadi suamimu bukanlah orang yang kau cintai?

Mataku menangkap sosok Kyuhyun yang duduk di antara tamu undangan, dia menatapku sendu. Apakah tak mungkin air mataku terus mengalir deras? Seharusnya yang berdiri di depan sana adalah orang yang aku cintai, Cho Kyuhyun. Bukan sahabatku, Lee Donghae.

Seharusnya berjalan seperti itukan?

Pemuda yang duduk di sana, pemuda yang tak sedikit pun mengalihkan tatapannya dariku. Pemuda yang sama terlukanya denganku, pemuda yang sangat aku cintai tapi aku justru berakhir dengan orang lain.

Donghae memegang tanganku ketika pendeta memberkati kami. Benarkah ini? Sekarang Lee Donghae adalah suamiku? Tubuhku terguncang pelan, menghalau isak tangisku.

Apakah kau tak akan merasa sakit ketika orang yang kau cintai duduk menyaksikan prosesi pernikahanmu sampai akhir? Ketika dia tersenyum dan mengucapkan selamat padamu? Jelaskan, bagaimana rasanya?

Jika kau mengerti, maka itulah yang aku rasakan saat ini.

~to be continue~

Iklan

522 thoughts on “All About Heart (Part 1)

  1. Rhenol berkata:

    YA ampun ceritanya benar2 tak tertebak, inu benar2 mengejutkan Hara menikah dengan donghae, bagaimana bisa? Eonni ini membuat penasaran. Sangat.

  2. cutehoneybunny berkata:

    Lha…lha…ini kok jadi nikahnya sama ikan mokpo…trus kyu gimana…jadi penasaran,,pasti ada udang dibalik rempeyek…beneran gak sabar pengen baca kelanjutanny

  3. Euis218dalnim berkata:

    Lahh eon ko hara jadinya nikah sama abang congek *dongek maksudnya*, kok bisaaaa????
    Kan kyupil yg ngelamar. Wah jangan jangan…….

  4. purpleeggyu berkata:

    Ini kenapa hara nikahnya sama donghae T_T,, apa mereka dijodohin??? ada tanda tanya besar disini. Kasian sama kyuhyun dan hara yg kayaknya masih saling mencintai.. Penasaran sm part selanjutnya…
    Salam kenal author ^^

  5. Fiyaa berkata:

    Nah loh kenapa sm si donge ka ? Kan haranya cuma cinta sama kyu.. Trus hara jg nerima kan lamaran si kyu

  6. Cha berkata:

    Annyeong aku reader baru,
    kok bisa gitu?
    Yang ngelamar kyuhyun married-nya ama donghae?
    Nice story
    keep writing authornim ^^

  7. egga berkata:

    bagus banget nasib hara diapit 2 orang ganteng, bikin iriiiiiiiii hahahaha

    loh kok bukan ama kyuhyun nikahnya T_T huaaaa ga rela padahal kan yang ngelamar kyuhyun tapi kok yang berdiri di altar donghae

  8. ayu22 berkata:

    jadii.. yang jadi suaminya hara itu donghae ,, bukan kyuhyun ,,, wae eonni waee…,,,, 😫😭

  9. reni oktaviani berkata:

    loh knapa hara jd nikahnya sama donghae..??
    bukannya kyuhyun udh ngelamar hara..??
    membingungkan..

  10. FitriFitri berkata:

    Dari di buat ketawa seneng eh malah kayak gini.. Huaaaaaaaaa eon daebbakkk banget, duh eon. Ini si kyu kok jadi donghae yah? Duh duh hati gue ketar ketir

  11. Choi Humay berkata:

    Aku kok baru tau ada blog ini yaa..
    Aku tau dri fb, ada salah 1 author fav aku di fb ngepost link ff ini, kata nya ff” disini recomended bangeet..
    Jadi coba dikunjungin deeh..

    Daaan hasil’a aaa bnr” memuaskan

    Itu koook, aaah igeo mwoya? Kok bisa yaa, cerita’a gk ketebaak..
    Jadi’a sama donghae nih serius?
    Sama ikan mokpo? Bukan sama cho buntal..
    Jadii, anak yg tadi itu anak dari lee donghae?
    Aaa teka-tekiii, mau langsung cuus baca next chap nyaa

  12. Widya Choi berkata:

    Omo..kok tiba2 nikah ny am donghae sih?..bukan ny am kyu. Kan kyu yg nglamar..
    Aduhhh knp jd gini…ap yg tjdi?

  13. Sylla berkata:

    Kok hara bisa sama donghae😢?? Bukannya dia pacaran ama kyuhyun?? Apa mereka dijodohkan? Apa donghae yang sakit trus itu permintaabm. terakhir? Jadi anak kecil itu anaknya donghae bukan kyuhyun?? Trus kyuhyun gimana nasibnya😢??

  14. Yoon berkata:

    Tulisanya enk di baca,critany bkin baper😪
    Pnasaran apa alasanya ko sampai nikah sama si donghae😬

  15. zamadia berkata:

    knp bsa sma donghae ? apa ortu hara ga setuju dia sma kyu ? atau sebaliknya ? tpi knp hrs donghae yg jd peganti kyuhyun ?

  16. Hynrzzki berkata:

    sbnrnya aku juga udh ngira kalo yg nikah sm hara itu donghae soalnya kyuhyun aku kira tabrakan pas perjalanan ke pernikahan kyuhyun sm hara….eh pas hara nikah sm dongjae kyuhyun ada disanaaa:33333whyyyy

  17. ddianshi berkata:

    Kenapa bisa seperti itu apa alasannya? Kenapa bukan menikah dengan kyuhyun tp malah dengan donghae? Dan kenapa donghae jahat sekali >_< dan sekarang hara mempunyai seorang anak? Heol benci -_- kemana perginya kyu 😦 saeng boleh minta pw part 2nya gk?

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s