The Angel

Main Cast    : Cho Kyuhyun

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

***

Tampan. Dia sangat tampan. Itulah sebabnya gadis-gadis yang tinggal dalam satu bangunan apartemen yang sama dengannya, selalu terkesima ketika melihatnya.

Kaya. Dia cukup kaya untuk dapat mengemudikan mobil mewahnya itu dan dua hari yang lalu, aku melihatnya telah mengganti mobil yang baru sekitar dua bulan lalu dikendarainya dengan sebuah mobil baru lainnya.

Aku melangkah pelan menyusuri apartemen mewahnya. Kini desain interior apartemennya ikut dirubah—ini kali pertama dia merubah desain interior apartemennya dengan gaya yang lebih simple dan minimalis, meskipun tak meninggalkan kesan elegan pada tiap detail ruangan dalam apartemennya.

Suara pintu apartemen yang dibuka. Dia sudah pulang. Pria itu melemparkan diri pada sofa di depan televisi. Tangannya meraih remote dan sedetik kemudian televisi di hadapannya telah menyala.

Aku duduk disampingnya, menoleh, mengamati wajah tampannya. Ah, sampai kapan dia akan seperti ini? Sorot mata yang tenang, pahatan raut wajahnya yang begitu sempurna tapi ia menyimpan aura dingin dan tak bersahabat.

Hmm, aku mengawasi wajahnya dengan sangat lekat. Tak terlihat cacat di wajah mulusnya. Perfect. Bagaimana aku harus memanggilmu? Mr. Cho? Cho Kyuhyun? Atau Kyuhyun?

Aku rasa, aku lebih suka memanggilnya dengan Kyu—terdengar sangat akrab. Aku tertawa pelan.

Handphone yang semula diletakkan di atas meja, bergetar. Aku ikut memandangi handphonenya. Dia terlihat tak berselera untuk membuka pesan masuk meskipun pada akhirnya tetap memutuskan untuk melihat isi pesan itu.

Oppa, kau sudah tiba di rumah? Saranghae.

Raut wajahnya tak berubah ketika membaca isi pesan itu. Aku mendesah dan menyandarkan punggungku pada sandaran sofa. Dia melempar sekenanya handphone di atas sofa, tak jauh dari sisinya.

Hei Kyu, mengapa kau tak membalas pesannya? Aku mendekatinya, bergeser lebih rapat ke tubuhnya yang terasa hangat.

Kau tak boleh mengabaikannya, Kyu. Aku berbisik di telinganya.

Dia terdiam. Ia lalu mengambil handphonenya.

Aku di rumah. Nado saranghae.

Setelah membalas pesan tadi, ia kembali meletakkan handphonenya—kali ini di atas meja.

Aku kembali mendesah pelan. Kusandarkan kepalaku di bahunya. Nado saranghae? Jika aku menjadi gadis itu, aku pasti akan sangat sedih.

Itu seperti hanyalah sebuah ucapan tanpa arti bagimu. Kau mengatakan jika kau mencintainya tapi caramu memperlakukannya tidak terlihat seperti kau benar-benar mencintainya Kyu.

Pemuda tampan berhati dingin—sedingin es di kutub, tapi kau mempunyai suhu tubuh yang begitu hangat. Entahlah, tapi aku sangat nyaman berada di dekatmu.

~.oOo.~

Aku memandangi beragam bangunan yang menghiasi wajah kota Seoul dari jendela di salah satu bangunan bertingkat—entahlah ini berada di lantai ke berapa tapi ketinggiannya cukup membuatku memiliki jangkauan jarak pandang yang begitu luas.

Aku melangkah, mengitari ruangan yang luas dan berakhir pada sebuah sofa. Kini mataku tertuju pada Kyuhyun yang begitu serius memperhatikan dokumen yang sedang di bacanya.

Direktur Cho.

Tulisan di atas meja kerjanya terlihat dengan sangat jelas. Kyu, kau seorang executive muda yang begitu sibuk tapi apakah kau akan selamanya hidup seperti ini?

Dia mengeluarkan handphone dari saku jas yang dipakainya. Aku bisa mengetahui isi pesan itu.

Oppa—kau punya waktu? Kita makan siang bersama di tempat biasanya.

Aku lebih tertarik membaca ekspresi wajah Kyuhyun, lagi-lagi tak berubah. Kesal melihatnya yang terus-menerus mengabaikan gadis itu.

Kyu bodoh! Kau tak merasa kasihan melihatnya? Aku berkacak pinggang di depannya.

~~~

Mulutku tak henti-hentinya bersenandung pelan, mataku sesekali melirik pada Kyuhyun yang begitu serius mengemudikan mobilnya. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui gadis itu.

Laju mobil melambat dan berhenti tepat di sebuah restaurant. Restaurant kecil dan sederhana. Aku melangkah tepat di belakangnya. Seorang gadis terlihat melambaikan tangan dengan penuh semangat ke arah kami. Senyuman lebar terlukis di wajah cantiknya.

Kyuhyun menarik kursi dan duduk di hadapan gadis itu. Aku ikut duduk bersama mereka.

“Kau datang oppa?”

Gadis itu terlihat sangat senang, sementara Kyuhyun hanya tersenyum sangat tipis—hampir tak terlihat ada senyuman di wajahnya.

Seorang pelayan menghampiri mereka. Gadis itu memesan menu makan siangnya.

“Apa yang ingin kau pesan?” ia menatap wajah tampan yang begitu datar di hadapannya.

Biar kutebak. Luwak coffee.

Luwak coffee.

Bingo. Tepat sekali.

“Oppa—kau tak memesan makanan?” gadis itu menatap Kyuhyun dengan bola matanya yang bening.

“Tidak—aku masih cukup kenyang,” jawab Kyuhyun datar. Gadis itu tersenyum dan aku tahu ia menyimpan luka di balik senyumannya.

Alasan yang konyol. Aku tersenyum tipis. Sebenarnya, aku tahu apa yang ada di kepalamu, Kyu. Aku bisa membaca isi pikiranmu. Kau bukan kenyang, tapi kau hanya tak ingin terlalu lama berada di sisinya. Menyedihkan.

Cih, kau bahkan tak bisa menghargai jerih payahku untuk membuatmu bisa dekat dengan gadis itu—Sinju, Nona Han Sinju.

Kau selalu mengisi hari-harimu dengan kegiatan yang sangat membosankan. Sampai ketika kau bertemu dengan Sinju dua tahun lalu di perpustakaan kota yang selalu kau datangi ketika pikiranmu sedang kacau balau.

Apakah kau berpikir buku yang jatuh dari rak dan tepat mengenai Sinju hanyalah sebuah kebetulan? Tidak Kyu, aku yang melakukannya. Aku menyesal untuk sedikit melukai Sinju, tapi usahaku berhasil—kau mulai dekat dengannya. Sinju yang ceria, baik hati dan sangat tulus padamu. Dia juga berusaha keras untuk mendapatkan hatimu.

Sekarang aku sedikit kecewa. Kau tak melihat sedikit pun ketulusan Sinju. Kau tak melihatnya sebagai seseorang yang berarti. Aku rasa, aku harus bekerja keras untuk membuatmu sadar Kyu. Hufft, melelahkan.

~.oOo.~

Kyuhyun bersandar di kursi kerjanya, tangannya terlihat memainkan pena dengan lincah. Aku duduk tepat di ujung kiri meja kerjanya, mengayun-ayunkan kedua kakiku. Sesekali kulirik wajahnya—dia sedang berpikir keras.

DEG.

Jantungku berdetak kasar. Aku memegangi dadaku. Apa ini? Perasaan ini, aku merasakannya lagi. Kupalingkan wajahku pada Kyuhyun ketika dia beranjak dan berjalan meninggalkanku. Aku tak bisa membiarkannya. Cepat-cepat kususuli dia.

Lantai 12? Kau ingin ke lantai 12?

Tidak Kyu. Kau tak boleh pergi. Aku berteriak di telinganya. Langkahnya terhenti.

Semenit kemudian, ia kembali mengayunkan kakinya.

Kyu, kembalilah ke ruang kerjamu.

Aku berbisik lembut, selembut sapuan angin yang mempermainkan kulit telinganya. Dia terdiam dan akhirnya berbalik arah kembali ke ruang kerjanya. Aku menarik nafas lega.

Aku tak akan membiarkanmu masuk ke dalam lift, tidak untuk saat ini. Mataku menancap pada jam dinding di sekitar situ. Menghitung detik demi detik sampai waktu berlalu pada menit kesepuluh.

Suara bising yang terjadi di kantor, karyawan yang berlarian histeris ketika mengetahui sebuah lift terjatuh sampai ke lantai dasar bangunan ini. Lalu mataku tertuju pada dua orang pria dan seorang wanita, masing-masing dari mereka di kawali oleh orang berpakaian hitam. Mereka berjalan melewatiku dan menghilang menembus dinding.

Aku tak akan membiarkan mereka menjemputmu Kyu, ini bukan waktumu. Masih banyak yang belum kau selesaikan Kyu, masih banyak hal yang harus kau lalui.

~.oOo.~

Saranghae oppa.

Suara lembut Sinju terdengar jelas di telingaku ketika mengakhiri pembicaraannya dengan Kyuhyun. Dia tak membalas ucapan Sinju.

Dasar Kyu bodoh, jika kau seperti itu tak akan ada gadis yang mau berada di sisimu.

Kuamati langkah Kyuhyun, ia duduk di tepian tempat tidurnya. Terdiam. Sorot matanya begitu dalam.

Kau terlihat lelah Kyu.

Aku mengikutinya, duduk di sisinya. Ia menarik laci kedua dari meja kecil di sisi tempat tidur. Tampak sebuah foto dalam pigura cantik.

Terakhir kali ia mengeluarkan foto itu hampir tiga tahun yang lalu. Aku ikut memandangi foto itu bersamanya. Seorang gadis berambut pendek ikal, raut wajahnya terlihat begitu cerah, bola matanya cukup indah—ia tersenyum hangat. Aku tahu siapa gadis itu, tapi dia bukan Han Sinju. Gadis itu bahkan tak secantik Sinju.

Pandanganku teralih pada Kyuhyun. Aku memegangi dadaku, perih—aku mampu merasakan kepedihanmu Kyu. Aku merasakan semua kesedihanmu dan air matamu.

Aku tahu kau tak akan pernah melupakan gadis itu. Sudah hampir lima tahun Kyu, seharusnya kau bisa bangkit dan melanjutkan hidupmu dengan penuh tawa. Aku tahu perasaanmu tapi kau tak bisa terus-terusan seperti ini.

Kau tak perlu melupakannya tapi kau juga tak perlu hidup dengan cara ini.

~~~

Aku masih mematung. Duduk termenung memandangi Kyuhyun yang tertidur. Sudah pukul empat pagi. Meskipun tertidur, dia tak pernah lelap. Lihat saja tubuhnya dan juga raut wajahnya yang tak pernah tenang—selalu gelisah.

“Kiha—”

Erangan tipis terdengar dari mulutnya. Aku kembali mendesah. Kau tak sedetikpun melepaskan gadis itu? Kyu, ini hidupmu. Biarkan gadis itu pergi. Dia tak pernah ingin melihatmu sesedih ini.

Aku berbaring di sisinya, memeluk tubuhnya yang terus bergerak tak tenang dengan raut wajah yang begitu cemas.

Aku tahu Kyu, aku melihatnya. Aku merasakannya—semuanya. Kau dulu tak seperti ini, lima tahun lalu kau orang yang sangat ceria Kyu.

Aku merasakan semua lukamu, kumohon lembutkan hatimu. Sinju akan mampu menggantikan Kiha, dia akan selalu menemanimu, bukan Kiha. Aku mempererat pelukanku dan Kyu mulai tenang.

Setiap malam kau selalu bermimpi tentang Kiha. Aku memejamkan mataku.

Kembali kubuka kelopak mataku. Aku duduk di samping seorang gadis yang tampak tenang di kursi taman, menanti seseorang. Daun-daun berwarna kuning kecoklatan berjatuhan dari ranting. Aku berdiri, melompat-lompat berusaha untuk menangkap salah satu dari daun-daun itu. Autumn, aku sangat menyukai musim ini.

“Kiha!”

Perhatianku tertuju pada Kyuhyun yang berlari-lari menghampiri gadis yang langsung tersenyum begitu melihat kedatangan Kyuhyun. Kiha. Ya, saat ini aku sedang berada dalam mimpi Kyuhyun.

Aku masuk ke dalam mimpimu, Kyu.

“Kyu—lama sekali?” Kiha memanyunkan bibirnya.

Kyuhyun tertawa. Err, dia sangat tampan. Aku tak pernah melihat tawanya itu lagi.

“Maafkan aku,” jawab Kyuhyun. “Baiklah Seo Kiha-ssi, kemana kita akan pergi?”

“Tidak kemana-mana.”

Kulihat raut wajah Kyuhyun berubah.

“Aku lebih suka menikmati autumn bersamamu,” Kiha tersenyum. Kyuhyun ikut tersenyum.

Aku justru merasakan kepedihan.

Kyu, kau tak tahu apa yang disembunyikan oleh Kiha. Kau dan Kiha berteman sejak kecil, kau mencintai Kiha—kau sangat bahagia ketika Kiha juga merasakan hal yang sama.

Aku tak sanggup untuk melihatmu ketika semua kebahagiaanmu akan segera pergi Kyu. Seperti daun-daun yang berguguran ini. Mataku menatap daun-daun yang terus berjatuhan dan menoleh pada Kiha dan Kyuhyun yang duduk di kursi taman.

“Kyu,” Kiha menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun. “Kau mencintaiku?”

“Kiha—aku sangat mencintaimu.”

Kiha tersenyum.

“Apa yang akan kau lakukan jika tak ada aku?” pertanyaan Kiha membuat Kyuhyun menoleh padanya.

“Kau benar-benar akan ke Amerika?” Kyuhyun balik bertanya.

Kiha terdiam.

“Apakah kau akan jatuh cinta pada gadis lain?”

“Mengapa bertanya seperti itu?” Kyuhyun heran, namun tak ada sahutan dari mulut Kiha.

“Kyu—aku haus,” Kiha mengangkat kepalanya.

“Baiklah, aku akan membelikanmu minuman,” Kyuhyun beranjak. “Tunggu di sini, kau jangan kemana-mana Kiha,” ujar Kyuhyun.

Aku dan Kiha memandanginya yang berlari-lari meninggalkan kami. Aku duduk di samping Kiha, memandangi daun-daun yang berjatuhan.

“Aku tak akan pergi kemanapun Kyu,” ujar Kiha. “Semoga kau bisa jatuh cinta pada gadis lain.”

Air mata Kiha menetes ketika mengatakan itu—begitu pun denganku yang ikut menangis bersamanya.

Kyu, ini autumn terakhir yang akan kau nikmati bersama Kiha. Ah, salah. Lebih tepatnya hari ini adalah hari terakhir kau melihat senyuman Kiha.

Aku mengedipkan mataku. Masih di hari yang sama, tapi aku melangkah ke beberapa jam setelah pertemuan Kyuhyun dan Kiha di taman.

Jam sepuluh malam. Kyuhyun berlari menghampiri kedua orang tua Kiha yang berada di depan pintu ruang gawat darurat. Ya, Kiha—koma. Gadis itu begitu hebat menyembunyikan penyakitnya dari Kyuhyun.

Kyuhyun bersandar lesuh pada dinding rumah sakit. Sorot matanya yang terluka, ia mengikis punggungnya pada dinding dan terduduk lemas di lantai. Aku hanya mampu memandanginya.

Mulutnya mulai bergerak. Pelan dan samar aku menangkap sesuatu yang keluar dari mulutnya—nyanyian. Ya, dia sedang menyanyi. Suaranya semakin lama semakin keras. Air mataku berjatuhan mendengar nyanyian merdunya yang sangat menyedihkan.

Wajahnya terus berlinang air mata, tapi ia tak sedikit pun menghentikan lagunya. Kyuhyun menyanyi semakin keras.

Aku duduk di sisinya.

Dia mendengarnya Kyu. Kiha mendengar suaramu.

Aku terus terisak di sisinya. Aku tahu, Kyu sengaja menyanyi dengan keras.

Kau menyanyi untuk mengantarkan kepergian Kiha dengan suara merdumu. Agar Kiha tak akan tersesat untuk mencari jalannya. Agar Kiha tahu bahwa kau bersamanya dan sedang mengantarnya pergi dengan lagu kesukaannya.

Itu sebuah lagu ceria Kyu, tapi kini terdengar sangat memilukan dan membuatku harus merapatkan tanganku—terlalu sedih.

Kyu lihatlah, Kiha sedang tersenyum padamu. Kau berhasil Kyu. Kiha, sudah pulang. Kini Kiha sudah tenang, ia tak akan merasakan penderitaan lagi Kyu. Kau harus berbahagia untuk semua penderitaan yang dilepaskannya. Kau harus merelakannya beristirahat setelah melalui perjalanan panjang kehidupan. Kyu, kau harus tahu itu.

Kyuhyun tersentak—bangun.

Ia duduk, menyalakan lampu. Aku duduk di sampingnya. Kulihat ada air mata yang mengalir di pipi Kyuhyun. Kau mengerti sekarang?

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Tak baik jika kau terus menangisi kepergiannya. Kiha sudah bahagia dan dia berharap kau juga bahagia Kyu.

~.oOo.~

Ingin rasanya aku menyingkap tirai yang menutupi jendela itu—menghalau cahaya apapun yang berusaha masuk ke ruang-ruang dalam apartemen Kyuhyun.

Kau tak ingin menghirup udara segar?

Dia merasakan hembusan angin. Aku sedang berbisik padanya. Dia menggeleng. Ah, kau mendengarku rupanya. Ya, aku sedang berbicara dalam hatimu.

Sudah seminggu Kyu—kau bisa membuat semua orang khawatir.

Kyuhyun diam.

Kiha. Pasti Kiha.

Mengapa kau tak bisa melepaskan gadis itu? Bodoh Kyu. Kau pikir Kiha senang melihatmu terus menangisinya?

Aku menatap ke arah pintu.

Dia datang Kyu. Bisikku lembut di telinganya. Aku tersenyum.

Bel apartemennya berbunyi.

Bukalah!

Aku mengikuti Kyu melangkah. Seraut wajah cantik tampak ketika Kyuhyun membuka pintu.

“Sinju?”

Gadis itu tersenyum. Ia melangkah masuk ke apartemen Kyuhyun meskipun belum dipersilahkan.

“Aku akan memasak makan malam untukmu,” gadis itu memamerkan tentengan di tangannya, entah apa isinya—penuh.

“Sinju, kau tak perlu melakukan itu.”

Sinju mengabaikan ucapan Kyuhyun. Ia melangkah ke dapur dan diikuti Kyuhyun—tentu saja aku pun mengikuti mereka.

“Tak ada kabar darimu, kau pucat sekali,” Sinju memandangi wajah tampan Kyuhyun. Benar, dia sangat pucat.

Ah, kau baik sekali Sinju. Beruntung sekali Kyuhyun karena di sisinya ada gadis sepertimu.

Tak banyak bicara lagi, Kyuhyun meninggalkan Sinju di dapur. Aku tetap tinggal, mengamati Sinju. Gadis itu sangat cekatan dengan bahan-bahan mentah untuk kemudian diolah menjadi makanan.

Sinju, kau pandai sekali memasak. Kau harus memasakkan makanan yang lezat untuk kekasihmu itu. Ehm, tapi aku merasa kasihan padamu. Sinju, kau harus bersabar dan kau harus percaya pada perasaanmu.

Kau satu-satunya yang mampu merubah Kyuhyun. Aku yakin itu. Bersabarlah. Dia mencintaimu, tapi dia masih kebingungan karena masa lalunya.

Sinju terdiam, mengawasi sekelilingnya. Ups, sepertinya ia merasakan kehadiranku.

~~~

Aku berjalan mengelilingi meja makan. Kyuhyun dan Sinju menikmati makan malam mereka tanpa suara—hanya dentingan peralatan makan yang memecah kesunyian diantara mereka. Aish, membosankan. Aku tak suka suasana ini. Aku lebih suka keramaian.

“Oppa,” Sinju meletakkan peralatan makannya.

Kyuhyun hanya memandanginya.

“Kau mencintaiku?”

Kyuhyun memandangnya dengan lebih serius.

“Ah, tidak apa-apa,” Sinju tertawa kaku. “Aku akan pergi oppa.”

Ketegangan tersirat di wajah Kyuhyun. Kyu, kau merasa pernah mengalami percakapan inikan?

“Mengapa kau bertanya?”

Aku dapat merasakan suaramu yang bergetar Kyu.

“Abaikan saja,” tepis Sinju. “Perusahaan menyekolahkanku ke Inggris. Minggu depan, adalah hari keberangkatanku.”

Sinju, kau terlihat tegar tapi kau sangat sedih. Pandanganku teralih pada Kyuhyun. Argh, dia tak bereaksi. Bodoh.

“Tak apakah?” tanya Sinju, aku tahu dia berharap Kyuhyun untuk mencegah keberangkatannya. “Ah, tak apa-apa. Setahun tak akan lama,” ia kemudian menepis keinginannya itu.

Aku sedih—sangat bersedih.

“Itu kesempatanmu Sinju, kau tak boleh menyia-nyiakan itu.”

Baiklah Kyu, kau berkata seperti itu sangat baik bagi masa depan Sinju tapi aku merasakan kesedihanmu. Mengapa tak memintanya untuk tinggal di sisimu?

“Tentu,” Sinju tertawa. “Oppa, kau harus jaga kesehatanmu. Selama aku tak ada, kau harus makan teratur—jangan terus bekerja, sesekali kau harus berlibur ke suatu tempat.”

Aku tahu, air mata Sinju hampir jatuh ketika mengucapkan itu.

“Sudah larut,” Sinju mengalihkan pembicaraan. “Aku harus pulang.”

Oh tidak! Aku berdiri dan berjalan mendekati Kyuhyun.

Kyu, cegah dia! Jangan biarkan dia pergi!

Kyuhyun diam, mereka saling berpandangan. Ia mengabaikan teriakanku yang begitu keras di telinganya.

JANGAN BIARKAN DIA PERGI!

Aku lemas ketika tak ada reaksi ataupun tanggapan Kyuhyun.

“Aku pergi oppa,” Sinju tersenyum.

“Berhati-hatilah,” ucap Kyu, Sinju tersenyum semakin manis.

Kyu? Itukah ucapanmu? Aku lemas melihat pintu apartemen yang tertutup. Pandanganku teralih pada Kyuhyun.

Bodoh. Kau tak tahu apa yang barusan kau lakukan. Kau tak mendengarkanku, kau akan menyesal Kyu. Air mataku kembali mengalir. Seharusnya kau menahannya, meskipun itu hanya untuk beberapa menit.

~.oOo.~

Kali ini aku memilih tak mengikuti kemanapun langkah Kyuhyun. Aku masih kesal dan marah padanya. Dia memutuskan sesuatu yang salah. Suara pintu, aku tahu dia sudah kembali.

Kyuhyun meraih gelas dan menuangkan air ke dalam gelas lalu meneguk isinya sampai habis. Ia berjalan dan pastinya menghampiri sofa kesayangannya untuk menghabiskan malam dengan menonton televisi. Ukh, kegiatan yang monoton dan sangat membosankan.

Aku duduk dengan jarak yang cukup jauh darinya. Mengawasinya. Yah, kau akan mengetahuinya—beberapa saat lagi Kyu.

Kyuhyun memandangi handphonenya. Dia pasti merasakan ada yang berubah. Sudah empat hari tak ada kabar dari Sinju.

Akhirnya kau sadar Kyu. Kau selalu mengabaikan gadis itu, baru empat hari tak ada kabar darinya namun aku sudah melihat kekosongan dan kesunyian yang semakin besar dalam hatimu.

Kyu—aku selalu mengukur ruang kosong dalam hatimu.

Dia terlihat sibuk dengan handphonenya. Sekarang kau baru ingin menghubungi Sinju? Aku menggeleng pelan.

Kyu, dengarkan apa kata mereka dan lihat bagaimana reaksimu.

“Sinju?”

Seseorang mengangkat telepon membuat Kyuhyun melega.

Kau pasti pemuda yang sering diceritakan Sinju.

“Ah, maaf—bisakah aku berbicara dengan Sinju?”

Kyuhyun menyadari itu bukan suara Sinju.

Tidak Kyu. Kau tak mendengarkanku! Sudah terlambat.

Maafkan aku, tapi siapa pun kau, tak perlu menghubungi nomor ini,” suara wanita itu terdengar terisak, raut wajah Kyuhyun mulai berubah. “Sinju, dia—gadis bodoh itu sudah meninggal empat hari lalu.

Air mataku kembali mengalir. Aku memandangi Kyuhyun yang memucat dengan raut wajahnya berubah drastis. Handphone di tangannya terlepas begitu saja. Ia memandang dengan tatapannya yang kosong. Matanya mulai berkaca-kaca, lalu air matanya mengalir begitu saja—meluncur di wajah tampannya.

Kau mengerti sekarang? Seharusnya kau mendengarkanku. Jika malam itu kau menahannya, Sinju tak akan menumpang taksi naas yang melibatkannya dalam kecelakaan maut. Aku menangis bersama Kyuhyun.

~.oOo.~

Sudah seminggu. Kau semakin terpuruk Kyu. Aku hanya memandang iba padanya. Ia bahkan tak berhenti menenggak minuman beralkohol. Suasana apartemennya begitu suram.

Aku memegangi dadaku, perih. Kumohon Kyu, jangan seperti ini. Apakah kau tak mengerti bahwa aku ikut merasakan apa pun yang kau alami?

Aku duduk di hadapannya.

Kau membiarkannya pergi bersama Kiha. Sekarang, siapa lagi yang akan menghiburmu?

Kau selalu menutup diri dari Sinju. Gadis itu, adalah kiriman untukmu dari Kiha—tak tahukah kau? Aku hanya membantumu tapi kau mengabaikan semuanya. Sekarang, sama halnya dengan Kiha, Sinju pun telah pergi. Aku tak sanggup untuk melihatmu yang semakin tenggelam dalam kehancuran.

Kyu, setidaknya kau mengerti bahwa kau mencintai Sinju.

Aku melihat ada air mata yang jatuh dari kedua bola matanya. Aku memeluknya, lembut.

Seseorang akan terasa sangat berarti ketika ia tak berada di sisi kita Kyu.

“Maafkan aku, maafkan aku—Sinju,” dia bergumam dalam tangisnya. “Sinju, mengapa kau pergi seperti Kiha?”

Tubuhnya mulai berguncang.

“Mengapa tak memberiku kesempatan sekali lagi?”

Aku menepuk-nepuk pelan bahunya.

“Kiha, kau bersamanya? Tolong jaga dia untukku,” air mataku terjatuh mendengar penuturan Kyuhyun. “Tidak! Suruh dia kembali Kiha! Aku tak pernah membuatnya bahagia. Kiha—aku harus bagaimana?”

Kyuhyun. Lalu kau ingin seperti apa?

“Kumohon…kembalilah,” ia menangis. “Putarkan kembali waktu untukku, aku ingin mengulang semuanya.”

Kau yakin? Kau bisa memperbaikinya?

Berjanjilah padaku.

~.oOo.~

Aku menatap ke arah pintu.

Dia datang Kyu. Bisikku lembut di telinganya. Aku tersenyum.

Bel apartemennya berbunyi.

Bukalah!

Aku mengikuti Kyuhyun melangkah. Seraut wajah cantik tampak ketika Kyuhyun membuka pintu. Pemuda itu terkejut bukan main.

“Sinju?” jantungnya berdetak kasar “Sinju? Kau kah?”

Gadis itu tersenyum. Ia melangkah masuk ke apartemen Kyuhyun meskipun belum dipersilahkan.

“Apakah aku tak sedang bermimpi?” Kyuhyun mematung.

“Aku akan memasak makan malam untukmu,” gadis itu memamerkan tentengan di tangannya.

Tidak Kyuhyun. Kau tak bermimpi. Aku membawamu pada malam sebelum kematian menjemput Sinju. Sekarang keinginanmu terkabul. Semoga kau tak membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Kyuhyun hanya mengikuti langkah Sinju, memandang gadis yang begitu dirindukannya itu dengan perasaan yang meluap-luap.

“Tak ada kabar darimu, kau pucat sekali,” Sinju memandangi wajah tampan Kyuhyun.

Dia sangat pucat karena terus menangisimu Sinju. Aku tertawa geli.

~~~

Aku berjalan mengelilingi meja makan. Kyuhyun dan Sinju menikmati makan malam mereka tanpa suara. Yah, hanya dentingan peralatan mereka. Suasana ini masih sangat segar di kepalaku, juga Kyuhyun. Pemuda tampan itu tak henti-hentinya menatap Sinju.

“Ada apa? Apa ada yang aneh dengan wajahku?” tanya Sinju

“Tidak,” jawab Kyuhyun. “Maksudku—kau selalu tampak cantik.”

Sinju tertegun, tak pernah Kyuhyun bersikap selembut itu padanya. Ia tersenyum dan kembali melanjutkan menghabiskan makanannya.

“Oppa,” Sinju meletakkan peralatan makannya.

Kyuhyun hanya memandanginya. Aku tahu, kau masih tak percaya bahwa gadis yang duduk di hadapanmu adalah Sinju.

“Kau mencintaiku?”

Kyuhyun terkejut. Pertanyaannya masih sama Kyu—sekarang bagaimana caramu merubah keadaan.

“Ah, tidak apa-apa,” Sinju tertawa kaku. “Aku akan pergi oppa,” ketegangan tersirat di wajah Kyuhyun.

Kyu, kau merasa pernah mengalami percakapan inikan? Ya, sebelumnya dengan Kiha dan juga kau pernah melewati percakapan ini dengan Sinju. Ingat, aku sedang memberimu kesempatan kedua.

“Mengapa kau bertanya?”

Suaramu sangat bergetar Kyu, lebih hebat dari sebelumnya.

“Abaikan saja,” tepis Sinju. “Perusahaan menyekolahkanku ke Inggris. Minggu depan, adalah hari keberangkatanku.”

Hei Kyu, mengapa kau diam saja? Cepat sebelum semuanya kembali ke awal.

“Tak apakah?” Sinju bertanya, “Ah, tak apa-apa. Setahun tak akan lama,” Sinju tertawa tipis.

Kyu—cepat, jangan buat kesalahan fatal. Waktumu tak banyak.

“Jangan pergi!”

Sinju menatap tajam pada Kyuhyun.

“Kau tak boleh pergi,” ujar Kyuhyun.

Aku tersenyum lega.

“Oppa?” Sinju pasti sangat keheranan melihat perubahan sikap Kyuhyun.

Kyuhyun berjalan menghampiri Sinju, memegang bahu Sinju dengan kedua tangannya membuat gadis itu ikut berdiri bersamanya.

“Kau tak boleh pergi Sinju,” ulang Kyuhyun. “Aku tak ingin kehilanganmu, meskipun itu hanya sesaat. Maafkan aku, untuk bersikap egois tapi sangat mencintaimu.”

Aku tertawa senang, ingin rasanya berjingkrak-jingkrak. Kufokuskan tatapanku pada dua orang itu. Air mata Sinju mengalir. Itu air mata kebahagiaan, cintanya tak bertepuk sebelah tangan.

Aku sangat berbahagia untukmu, Kyu.

“Malam ini—tinggallah di sisiku.”

Kyuhyun berbisik. Sinju mengangguk, ia menghapus air matanya. Kyuhyun menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

Kau berhasil Kyu! Kau menepati janjimu! Tak kukira kau akan sangat jauh berubah!

~.oOo.~

Kompleks pemakaman.

Aku berdiri di samping Kyuhyun. Kami mengawasi makam yang berada di hadapan kami.

“Terima kasih,” ujar Kyuhyun. “Kau tak perlu mencemaskanku. Mulai sekarang, aku akan hidup dengan baik, Kiha,” Ia menatap nama yang terukir pada makam itu.

Handphone Kyuhyun bergetar.

Angkatlah Kyu, itu panggilan dari Sinju.

“Ini aku,” jawab Kyuhyun.

Aku sedang menuju kantormu. Oppa, jangan lupa janji makan siang kita.

“Aku tak akan lupa”

Saranghae,” suara riang Sinju.

“Nado saranghae,” balas Kyuhyun—tersenyum lebar.

Senyumanku ikut tersungging. Sekarang aku tahu bahwa Sinju akan sangat bahagia ketika kau mengucapkan kata-kata itu.

“Aku pergi Kiha. Aku akan mengunjungimu lagi,” pamitnya.

Aku tak mengikutinya. Aku tetap terdiam, di tempatku berdiri.

Sekarang, aku bisa bernafas dengan lega. Aku tak perlu mencemaskanmu lagi Kyu. Tugasku sudah selesai, aku tak akan berada di sisimu lagi. Kau tak memerlukan bantuanku lagi karena Sinju akan menjadi penopang hidupmu dalam suka maupun duka.

Aku memandangi punggung Kyuhyun yang mulai menjauh. Langkahnya melambat dan akhirnya benar-benar terhenti.

Kyuhyun membalikkan tubuhnya. Memandang ke sini—ke arahku. Raut wajahnya berubah dengan perlahan. Aku dapat melihat keterkejutannya.

Bola matanya mulai melebar. Mata kami beradu pandang.

Sepertinya saat ini dia bisa melihatku. Aku memberikan senyuman terindah sebagai salam perpisahan kepadanya.

“Kiha—”

Suaranya bergetar.

Ah, sudah lama sekali aku tak dipanggil dengan nama itu. Kiha. Tapi, aku lebih suka jika kau memanggilku malaikat pelindung. Sayonara.

~The End~

Aduuh maaf ya kalau ceritanya sedikit,, ehm sedikit apa ya..akh, entahlah, bingung menafsirkannya.

Cerita ini ditulis dalam keadaan yang galau *kumat lagi lebaynya* karena perpindahan lokasi kantor ke tempat yang jauh dari kata ramai…lebih tepatnya hutan hahaha

Hikz abaikan saja.

Terlepas dari semua embel2 tak penting yang aku ceritakan di atas, semoga teman-teman menikmati cerita ini & mohon maaf jika ada penulisan yang tidak sesuai, atau jalan ceritanya yang tidak sesuai selera..harap dimaklumi, otakku lagi tersumbat karena satu & banyak hal lainnya hehehehe

Don’t forget to leave your comment & enjoy it

Iklan

315 thoughts on “The Angel

  1. swy berkata:

    awalnya h ngeh kalo itu arwahnya kiha, kirain org bneran? 😀 dr awal baca udh deg”an aj klo ini ff bkal sad ending tp syukurlah akhirnya happy ending 🙂 tp kyu liat arwahnya kiha? gmna rsanya yh ka? 😀

  2. LC_Ovan berkata:

    Benarkan kalau si Aku itu arwah dari Kiha dia tidak bisa kembali ke alam sana dengan tenang karena dia meninggalkan Kyuhyun yang masih dalam keterpurukan dan bimbang akan Sinju itu sebab’a dia selalu membisikkan sesuatu ke Kyuhyun supaya Kyuhyun tidak melakukan sesuatu yang bahay .dan membuat dia kehilangan orang yang berada di sisi’a

    Setelah Kyuhyun yakin dan berubah akhir’a Kiha bisa kembali dengan tenang dan bisa diliat Kyuhyun karena tugas Kiha sudah selesai sebagai Malaikat Pelindung Kyuhyun

    Ini kenapa kalo Oneshoot selalu sedih” dah eonni bikin nyesek aja

  3. Yoolin berkata:

    Nice story ..
    Ternyata malaikatnya kiha, kiha baik hati sekali ..
    Kyuhyun selalu deh,punya kbiasaan buruk klo lgi patah hati..
    Hatinya dingin, sedingin tmpat penyimpanan ikan 😀

  4. aernis berkata:

    udah ngira sejak cerita mantan. malaikat itu kiha

    coba kalo dia gak mimpi sinju mati pasti kyuhyun ‘ mati’ lagi.

  5. Afwi berkata:

    Yaa awalnya agak bingung mau nebak siapa yg selalu ngawasin kyu. Tapi tebakan ku benar, itu arwah kiha, haha

    kak, aku baru baca beberapa ff d library oneshoot dan aku terkaget2 bacanya.. Hehe

  6. Widya Choi berkata:

    Jd yg slu ad dsisi ny kyu itu arwah ny kiha y… tyta kiha msh slu nmenin kyu kok bhkn dy ngirim shinju unk kyu. N skrg kiha udh bs prgi dg tenang..
    Kyu mgkin trlu larut dlm ksedihan ny. Mk ny dy bsikap acuh tak acuh am shinju. Tp untungny ad kiha yg slu ngingatin kyu. Kyu msih bruntung dksih kesemptn kdua unk bsma org yg mncintai ny. Jd oppa jgn sia2kn itu lg y.

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s