My Family

leeteuk-personal-sujuCast        : Super Junior Members, OC

Genre        : Romance, Friendship

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi). Say no to plagiat!

***

 

Sudah setengah jam lamanya aku duduk termenung, memandangi lampu-lampu taman, memandangi orang-orang yang berlalu lalang di hadapanku. Sebuah topi dan kaca mata hitam yang dengan sengaja tak kulepas agar tak menarik perhatian banyak orang, akh—aku rasa, justru aku telah menarik perhatian mereka.

Seorang gadis manis dengan potongan rambut pendeknya terlihat tergesa-gesa mendatangiku. Dia berhenti di depanku, nafasnya tak beraturan—dia terlihat sangat kacau.

“Maaf,” katanya.

Aku hanya memandanginya. Lalu beranjak.

“Aku antar kau pulang!”

Gadis itu tak bergeming, bahkan ketika aku melewatinya.

“Kau tak ingin pulang?”

Aku membalikkan tubuhku, menatap wajahnya yang mulai memerah.

“Apa maksudmu? Kau memintaku ke sini—dan sekarang kau menyuruhku pulang?” emosinya telah meningkat.

“Ini sudah terlalu malam,” aku menatap jarum jam tanganku.

“Kau marah karena aku telat?” bola matanya begitu bulat terlihat jelas. “Maafkan aku.”

“Tidak.”

Ah, aku memang pengecut. Sejujurnya, aku sangat marah—bayangkan, seperti orang bodoh yang terkatung-katung di taman. Setengah jam menunggu? Bahkan aku tak mau menunggu meskipun itu hanya semenit, tapi melihat wajahnya yang begitu lugu, aku tak sanggup untuk melontarkan kata-kata kasar.

“Aku lelah, besok masih ada kegiatan bersama member yang lain,” jawabku memberikan alasan.

“Kau tak bisa membohongiku,” ujarnya. “Aku tahu kau sedang marah padaku. Pulanglah!” ia membalikkan tubuhnya, berjalan membelakangiku.

“Mau ke mana? Aku akan mengantarmu.”

“Aku ingin sendiri,” jawabnya. Akhirnya aku hanya bisa memandangi punggungnya.

Hanazawa Miyu. Aku bertemu dengannya disebuah penerbangan Seoul-Tokyo. Kami duduk bersebelahan dan menjadi teman bicara sepanjang perjalanan. Melalui percakapan itu, aku tahu bahwa ibunya seorang Korea, itulah sebabnya kami dapat berkomunikasi dengan lancar.

Hubungan kami berlanjut. Bahkan sudah sejak tujuh bulan lalu ketika kami resmi menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman biasa.

 

~.oOo.~

 

Aku memasuki dorm. Semua member sedang berkumpul. Mereka hanya memandangiku sekilas dan membiarkanku begitu saja. Entah itu hanya perasaanku saja, atau? Tapi wajah-wajah lesuh dan ekspresi aneh terpancar jelas di raut masing-masing dari mereka.

“Setelah Heechul Hyung,” Siwon bergumam. “Kau kini akan meninggalkan kami.”

Aku tahu, mereka pasti sedang tak bersemangat sama sepertiku. Leader kami, Leeteuk akan menyusuli Heechul menjalani wajib militer. Aku menghampiri mereka, ikut bergabung.

“Jika dijalani dengan baik, semua tak akan terasa lama. Bukan begitu Kang In?”

Leeteuk memandangi Kang In dan dijawab dengan anggukan kepala Kang In.

“Selama aku tak ada, kalian harus rukun dan saling menjaga.”

Semua terdiam. Aku tak tahu apa yang mereka pikirkan, tapi aku sangat jelas dengan pikiranku. Selain karena masalahku dengan Miyu—aku merasakan kesunyian yang begitu aneh, memikirkan Leeteuk akan meninggalkan kami. Sesuatu terasa mengganjal. Ah, kami pasti akan sangat merindukannya.

“Hei, mengapa kalian memasang tampang seserius itu?” Leeteuk tertawa, ia masih mencoba mencandai kami yang sedang kehilangan selera stadium akhir. “Ayolah, aku hanya wamil—suatu saat kalian juga harus menjalani kewajiban itu.”

“Aku hanya cemas, entah apa yang akan dilakukan oleh Kyuhyun pada kami jika tak ada kau Hyung,” Donghae terlihat gusar.

“Memangnya apa lagi yang bisa aku lakukan?” Kyuhyun bertanya dengan tampang tak berdosa.

Haish, aku ikut merinding. Dia bertingkah seperti seorang bayi yang polos tapi aku yakin dia pasti tengah memutar otaknya.

“Kyu—aku percaya kau adalah adik yang baik.”

Leeteuk menaruh tatapan teguh membuat raut wajah Kyuhyun berubah. Yes! Dia pasti berpikir dua kali untuk melanjutkan aksi usilnya.

“Jangan khawatir! Masih ada aku di sini,” Yesung berkata tenang, memposisikan dirinya pada tingkat orang tua.

Hyung, aku percaya padamu,” perkataan Ryeowook membuatku ingin muntah.

“Bukankah lebih menyeramkan jika mempercayakan nasib kita di tangannya?” Donghae berbisik padaku.

Sejurus kemudian Yesung menatap kami tajam. Seakan tahu jika kami sedang membicarakannya. Aku kembali merinding.

“Baiklah, dengarkan aku. Aku percaya pada kalian semua. Kalian harus saling menjaga. Kita adalah keluarga,” ujar Leeteuk, sikapnya terlihat tenang.

Dia berdiri, menghampiri meja dan meraih smart phone yang tergeletak di situ. Ia lalu kembali duduk di tempat semula. Untuk sekian detik, kulihat dia tampak sibuk dengan benda di tangannya itu.

“Wah, seseorang mengirimiku sesuatu,” ia terlihat girang.“Kalian tak terlihat penasaran sama sekali?”

Hyung, jika kau ingin memberitahu kami—katakan saja” ujarku.

“Bukan apa-apa. Ini hanyalah sebuah cerita tapi aku akan membagikan pada kalian, jadi dengarkan baik-baik!”

“Aku sangat terkesan jika yang kau bagikan adalah uang,” celotehan ringan Shindong.

Aku rasa Leeteuk tak mendengar ucapan Shindong, karena dia tak bereaksi sama sekali.

“Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat, ia mempunyai beberapa barang di depan mejanya,” Leeteuk mulai bercerita. “Professor itu tak mengeluarkan sepatah katapun, dia hanya mengambil sebuah toples kosong berukuran besar dan mulai mengisi dengan bola-bola golf di dalam toples itu. Kemudian ia bertanya pada semua, apakah toples itu sudah penuh? Mahasiswa menyetujuinya.”

Aku mendengar cerita Leeteuk, meskipun belum menangkap apapun dari ceritanya.

“Professor kembali mengambil sekotak batu koral dan menuangkan ke dalam toples, dia mengguncang pelan toples tersebut sehingga batu-batu koral masuk mengisi tempat yang kosong diantara bola-bola golf,” ujar Leeteuk. “Kemudian dia kembali bertanya, apakah toples itu sudah penuh? Menurut kalian apakah toples itu penuh?” Leeteuk kini bertanya pada kami.

“Tentu saja,” jawab Sungmin.

“Ya, sama seperti jawaban para mahasiswa bahwa toples itu sudah penuh. Selanjutnya, professor mengambil sekotak pasir dan menebarkan ke dalam toples. Menurut kalian apa yang terjadi?”

“Hmm, aku rasa pasir memenuhi ruang kosong yang tersisa,” gumam Siwon

Leeteuk tersenyum.

“Professor itu lalu mengambil cangkir yang tergeletak di atas meja. Cangkir itu terisi penuh oleh kopi. Ia lalu menuangkan isinya ke dalam toples.”

Aku tertawa mendengar cerita Leeteuk. Begitu juga dengan member yang lain. Aku yakin dia sedang bermaksud menghibur kami dengan sebuah lelucon.

“Sama seperti para mahasiswa yang juga menertawakan tingkah professor itu,” Leeteuk tersenyum tipis. “Aku ingin kalian memahami bahwa toples itu adalah sesuatu yang mewakili kehidupan kalian.”

Tawa kami mendadak sirna mendengar ucapannya. Apa maksudnya?

“Itulah yang dikatakan oleh professor kepada para mahasiswanya.”

“Benarkah?” Kyuhyun terlihat sangat serius.

“Mengapa kehidupan harus disamakan dengan toples itu?” Donghae ikut melayangkan pertanyaan.

“Aku akan mengatakan apa yang dijawab professor pada para mahasiswa itu. Bola-bola golf merupakan hal-hal yang penting. Tuhan, keluarga, kesehatan, sahabat. Jika segala sesuatu hilang dan yang tersisa hanyalah mereka, maka hidup kalian masih tetap penuh.”

Aku tertegun.

“Batu-batu koral adalah segala hal yang lain seperti pekerjaan, rumah, mobil, benda-benda pemuas. Sedangkan pasir adalah hal-hal yang sepele,” Leeteuk bercerita dengan tenang, “Jika kalian lebih dahulu memasukkan pasir ke dalam toples maka tidak akan tersisa ruangan untuk bola golf ataupun batu koral. Hal yang sama akan terjadi dalam hidup kita.”

Kami terdiam mendengar penuturan Leeteuk. Ini tak hanya sekedar cerita yang dikisahkan ulang oleh Leeteuk. Jika memposisikan diri dalam cerita itu, Leeteuk tampak seperti seorang professor dan kami adalah mahasiswa yang sedang diajarnya.

“Jangan menghabiskan energi untuk hal-hal yang sepele, kalian tak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang jauh lebih penting untuk kalian.”

Hyung.

“Cerita itu mengajariku dan semoga mengajari kalian bahwa kita harus memberikan perhatian pada hal yang lebih kritis untuk kebahagian kita,” Leeteuk tersenyum sangat lembut. Jika aku seorang wanita, aku pasti sudah jatuh cinta padanya. “Kalian harus saling menjaga. Pulang ke rumah orang tua. Bermain dengan keponakan atau saudara, luangkan waktu untuk memeriksakan kesehatan kalian.”

Ruangan tampak hening. Semua begitu serius mendengarkan sang leader.

“Jangan bertengkar dengan pasangan hanya karena masalah yang sangat sepele,” kali ini perkataan Leeteuk langsung menembus jantungku. “Akan ada banyak waktu untuk bermain game atau tidur atau berolahraga atau melakukan aktivitas lain, jadi jangan mengabaikan pasangan hanya karena alasan yang ringan.”

Kepalaku tertunduk. Aku merasa malu pada diriku sendiri. Perkataan itu seperti menelanjangi diriku. Aku malu karena marah pada Miyu hanya karena dia telat setengah jam. Oke, memang membosankan jika harus menunggu tapi aku tak memberinya kesempatan untuk mengatakan alasan keterlambatannya padaku.

Bahkan, yang membuatku tercengang ketika menyadari ia memerlukan waktu yang lebih lama hanya untuk bertemu denganku. Ketika aku harus membatalkan kencan karena acara yang mendadak dan banyak kejadian lainnya. Sial! Mengapa aku melupakan hal itu?

“Berikan perhatian terlebih dahulu pada bola-bola golf, pada hal-hal yang jauh lebih penting. Atur prioritasmu dan terakhir, kau urus pasir-pasirnya!” ujar Leeteuk. “Aku rasa kalian mengerti maksud dari cerita itu. Jika kalian jeli, harusnya masih ada satu hal yang belum terjawab.”

Aku memandangi Leeteuk. Ya, sepertinya memang ada yang kurang lengkap. Ah, benar, hal itu adalah…

“Kopi,” Kyuhyun mendahuluiku. “Apa maksud dari kopi yang dituangkan dalam toples itu?”

“Kali ini aku tak meragukan kejeniusanmu.”

Ucapan Leeteuk membuat Kyuhyun tersenyum mekar. Cih, aku juga sudah menduganya, aku hanya kalah cepat darimu Kyu.

“Kopi itu berarti—” Leeteuk mengambil jeda. “Sekalipun hidup kalian tampak sudah begitu penuh, selalu tersedia tempat untuk menikmati secangkir kopi bersama sahabat-sahabat.”

Aku benar-benar dibuat tercengang mendengar perkataan Leeteuk. Aku tak perduli jika dia hanya sedang mengulang sebuah artikel yang dikirimkan padanya, tapi dia memiliki wibawa dan kapasitas seorang leader yang tak pernah aku temui pada siapapun. Dia bercerita seolah dirinyalah professor itu, dia menuangkan perasaannya dalam cerita itu.

“Kalian paham? Sekalipun aku tak ada, jangan merasa kehilangan karena kita masih punya banyak hal prioritas lainnya. Keluarga, sahabat, bahkan fans yang juga adalah sahabat kita. Kita tak akan pernah kesepian,” tutur katanya sangat tenang. “Super Junior bukanlah sekedar kumpulan orang-orang yang tergabung dalam sebuah boy band. Super junior adalah keluarga. Sesibuk apapun kalian nanti, jangan lupa untuk meluangkan waktu demi kebersamaan keluarga ini. Jika ada yang bertengkar, jangan simpan sampai matahari terbenam. Jika ada yang bersedih, kalian harus membuatnya tersenyum. Jika ada yang menangis, kalian harus membuatnya tertawa. Jika ada yang kesusahan—jangan sembunyikan tangan untuk menolongnya.”

Kami benar-benar terhipnotis dengan ucapan Leeteuk.

“Kita di sini datang dari perbedaan tapi perbedaan itu akan terasa indah jika dipergunakan untuk saling melengkapi. Aku tak ingin mendengar permasalahan sepeleh yang dapat membuat kita tercerai berai,” ia terlihat sangat tenang. “Ah, jangan pernah menutup mata kalian. Jika ada yang salah, tegurlah dengan kasih dan juga jangan keraskan hati ketika ditegur, perbaiki itu. Ingat, kita tak punya kapasitas untuk menghakimi tapi intropeksi diri.”

Sesuatu yang hangat terasa mengalir di pipiku. Ah, mengapa aku bisa meneteskan air mata? Ucapan Leeteuk membuat hatiku menghangat. Aku merasakan bahwa Super Junior bukanlah sekedar kumpulan pemuda-pemuda dengan begitu banyak fans yang mengagumi tapi karena kami adalah keluarga.

Aku menyeka air mata. Saat kulirik ke arah member yang lain, ternyata tak hanya aku. Mata mereka tampak berkaca-kaca dan sembab, bahkan Ryewook dan Sungmin juga Donghae baru saja menghapus air mata yang jatuh di wajah mereka.

“Ah, mengapa rasanya jadi ingin menangis?” Leeteuk menengadahkan kepalanya. “Sudahlah, kalian jangan membuatku seperti akan pergi menyerahkan nyawa.”

Kami tertawa mendengar candaan Leeteuk.

Siwon berdiri dan memberikan tangannya pada Leeteuk. Ia menjabati tangan Leeteuk.

Hyung, kami akan sangat merindukanmu,” Siwon langsung memeluk Leeteuk.

“Ah, tolong kau lihat kelakuan-kelakuan mereka—jika mulai menyimpang, jangan ragu memberikan pelajaran pada mereka.”

“Aish, Hyung. Jangan memberinya kesempatan untuk mengkhotbahi kami sepanjang hari.”

Siwon kesal mendengar omelanku.

Satu per satu kami memeluk Leeteuk, dan saling berjabat tangan sesama member—ah salah, sesama keluarga.

Kami tertawa. Kami menangis. Kami senang. Kami marah. Semua kami lewati bersama-sama.

Tiba-tiba saja pikiranku terlintas pada sesuatu yang lain. Dengan segera aku menjauhi mereka, mencari tempat yang sunyi. Mengeluarkan handphone dari saku celanaku. Berkali-kali aku menghubungi nomornya

“Miyu—di mana kau?”

Mengapa gadis itu tak mengangkat teleponku? Apakah dia masih marah padaku? Bodoh, tentu saja dia sangat marah.

Astaga. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya?

Kembali kuhubungi nomornya. Tak diangkat. Idiot. Kau membiarkan seorang gadis pulang sendirian? Di mana otakmu?

Aku terpekik girang ketika akhirnya Miyu menerima panggilanku.

“Miyu—di mana kau?”

Aku?

“Ya. Siapa lagi? Di mana kau sekarang?”

Aku

Dia terdiam. Aku menjadi cemas.

“Katakan di mana kau sekarang? Aku akan menyusulimu!”

Maafkan aku.

Ah, mengapa gadis ini masih sempat-sempatnya meminta maaf.

Kau pasti cemas. Aku bersalah padamu—aku tak akan mengulangi kesalahanku. Jika kau memintaku menemuimu, tak akan kubiarkan kau menunggu.

Ucapan gadis itu justru membuatku terenyuh dan membuat rasa bersalahku semakin besar.

“Apa yang kau bicarakan?” aku merasa malu pada diriku sendiri. “Miyu dengarkan aku—”

Tunggu dulu!” cegah Miyu.

“Ada apa?”

Aku akan mendengarkanmu tapi maukah kau melakukan satu hal untukku?

“Apa?” dahiku berkerut. Penasaran.

Tolong bukakan pintu

“Apa?”

Bukakan pintu

“Gadis bodoh! Kau menghilangkan kunci rumahmu—lagi?” amarahku kembali memuncak. Gadis itu sangat ceroboh, entah sudah berapa kali dia melakukan kesalahan yang sama. “Baiklah, tunggu aku! Jangan pergi kemanapun!”

Tak perdulikan teriakannya. Aku langsung mematikan telepon dan berjalan dengan tergesa-gesa.

“Mau ke mana?” Tanya Shindong.

“Pasti menemui Miyu,” tebakan Donghae aku anggap sebagai jawaban atas pertanyaan Shindong.

Aku langsung membuka pintu. Seorang gadis yang berdiri di muka pintu sukses membuatku hampir mati jantungan.

“Mi—Miyu???”

Dia memamerkan senyum manisnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menemuimu,” jawabnya polos.

“Tadi, kupikir—kau…”

“Dengarkan perkataanku sampai tuntas. Kau seenaknya memutuskan telepon,” ia memamerkan kekesalannya. “To the point. Aku minta maaf. Baiklah, sekarang aku akan mendengarkan apapun yang kau katakana,” gadis itu selalu tak bisa bersikap lebih romantis.

Aku terkesiap, lalu tersenyum lembut padanya. Dalam sekejap, kuraih tubuh mungilnya ke dalam pelukanku.

“Jika harus menunggu. Aku akan terus menunggumu,” ucapku. “Tak masalah bahkan jika sejam atau dua jam—aku akan menunggumu, tapi kau harus ingat bahwa aku sedang menunggumu.”

Gadis itu membalas pelukanku.

“Aku tahu,” suaranya terdengar merdu.

“Hanazawa Miyu. Aishiteru.”

Dia mempererat pelukannya.

“Kau selalu tahu apa jawabanku. Saranghamnida—Lee Hyukjae.”

Hatiku benar-benar menghangat mendengar penuturannya. Aku memeluknya sangat erat. Rasanya tak ingin melepaskan gadis dalam dekapanku ini.

Eh.. aneh, mengapa tiba-tiba aku merasa sangat merinding? Aura ini sangat aneh.

GOSH!” aku terpekik kaget. Pelukanku bahkan terlepas seketika. Entah sejak kapan itu berlangsung, semua member sedang menonton adegan gratis dariku dan Miyu.

Wajah mereka yang senyam-senyum di depan pintu, menggodaku dan Miyu.

“Hyukie, apakah kau tahu bahwa kami pun haus akan belaian kasih sayang darimu?”

Ucapan Donghae diiringi sorot mata menggoda. Aku mendengus.

“Seharusnya kau tak membiarkan kami menyaksikan adegan mesra itu,” ujar Sungmin.

“Benarkah? Tapi aku masih ingin memperlihatkan pada kalian satu adegan lagi,” aku menyunggingkan senyuman.

“Apa lagi?” desah Ryeowook.

Aku rasa mereka tak dapat memperhitungkan itu, tapi aku sukses membuat mereka berdecak ketika aku merengkuh wajah Miyu dengan kedua tanganku, menariknya lebih mendekat padaku dan langsung mencium bibir gadis itu.

Leeteuk refleks menutup mata Kyuhyun dengan tangannya.

“Lee Hyukjae! Berhenti mengotori pikiran anak kecil ini!” teriak Leeteuk kesal.

Aku tak perduli, aku semakin memperdalam ciumanku pada Miyu.

Hyung! Hentikan!” Kyuhyun menyingkirkan tangan Leeteuk. “Aku juga masih harus mempelajari banyak hal!” Kyuhyun menyeringai sambil menanamkan tatapan setannya padaku dan Miyu.

Sontak saja seluruh member menyerang Kyuhyun dengan tinju pelan. Aku tertawa melihat tingkah mereka. Ya, tingkah keluargaku.

 

~Selesai~

FF ini terinspirasi dari “Kisah Bola Golf”. Suatu saat ketika saya mengalami situasi yang membuat saya cukup down, seorang teman mengirimi email tentang kisah professor itu. Saya benar-benar terinspirasi, dan ingin membagikan pada teman-teman semua & pesan-pesan dalam cerita ini murni dari saya untuk kita semua.

Maaf jika kurang berkenan atau sesuatu ‘ala syahrini’, FF ini saya kerjakan dengan terburu-buru, ngumpet dari bos & langsung aku kirim ke SJFF setelah membaca postingan untuk ‘Special Mini Even for Leeteuk’ di blog tersebut dalam rangka wajib militer sang leader, gak nyangka malah jadi first winner.

Ya udah, happy reading and don’t forget to leave your comment! Thank you soo much.

Iklan

124 thoughts on “My Family

  1. hesti11 berkata:

    kisah professor diatas bener” bikin aku terinspirasi,,
    thanks ya eonn lewat ff ini aku jd dapet a new lesson of life, a big lesson for my life …

  2. kim_riya berkata:

    Kata-katanya bener2 nyentuh ke hati oen daebak aq kira Πɪ̣̝̇є̲̣̣̣̥ sudut pandang kyuhyun oppa ternyata asalah eunhyuk oppa waaah semuA cerita и̲̮̣̥̅̊Ɣα̇̇̇̊ª daebaaak oen

  3. ief berkata:

    Terharuu*elap air mata

    ceritanya berisi sekalii
    Kata-kata bijak nya pas banget dan ngena banget feel nyaaa

    Yg dari awal aku bingungin itu sapa cast utamanya, ternyata monkey toh
    ahahaha
    😀

    Fighting untuk karya selanjutnya^^
    🙂

  4. Xing KyuLestarii berkata:

    Kisah yang Menyentuh..
    Menyadarkanku tentang pentingnya arti keluarga yang selama ini ku anggap biasa saja,

    Thank eonni

    🙂 and thank to share the story for us!!
    Keep Writing 🙂

  5. saena berkata:

    Eonni, ini amazing 😀
    Luar biasa, fellnya bner” dapet. Selain buat hiburan juga bisa dijadiin pelajaran 🙂
    Pokoknya keren, banyak jempol aku kasih buat eonni 🙂

  6. cutebabyhae berkata:

    Cieeee bagus banget Cerita profesornya eon *,* aku pernah diceramahin kayak gitu sama ayahku dan langsung malu sama diriku sendiri dan eonni mengingatkan kesalahan ku Aigooooo eonniii >,<"

    aku gak bakalan muji FF eonni yg bagus karena dari pertama aku baca FF eonni sampai sekarang terbukti kagak ada yg jelek :3

    Good Job eon & KEEP WRITING!! :-*

  7. shatia berkata:

    Satu kata buat crita ini Keerreen..
    Kata-katanya bijak..
    Makasih udah buat crita yang bisa menjadi inspirasi dan motivasi dalam kehidupan..

  8. kyureeya berkata:

    wuaaa…Kata2 perumpamaan yang Amazing eon…
    nggak bisa comentt…
    #terharuu,,,terpesona..terhanyyut..dgn kt2.nya..
    very AMAZINGGGG.. ..

  9. shinherin berkata:

    Leeteuk bijaksana bangetttt, Yaallah.
    Suju bukan boyband tapi keluarga dan ELD sebaguan dari mereka. Haha
    saatnya menggatakan ‘DAEBAK’ .

  10. Pyongpyong30 berkata:

    Jjang (y) daebak eonn.aku hampir meneteskan air mata dan untungnya gak jadi. *hoho* aku suka tentang perumpaannya. kisah tentang bola golf dan keluarga itu 🙂

  11. caena berkata:

    I love this fanfic, cocok banget kamu pilihin castnya sebagai leeteuk yang ngeceritaiin tentang kisah diatas sama memeber-member yang lainnya.

  12. salwa berkata:

    kata-kata profesornya menyentuh banget, aku reader baru langsung suka sama tulisan authornya hehe keren banget ff-nya akhirnya lucu hehe..

  13. Choooii berkata:

    cuma cerita tentang toples dan bola golf, tapi maknanya bagus, ngena bgt, terharuuu~ apalagi uri leader bijak bgt waktu nyampein itu ke membernya :))

    dari awal aku sempet bingung, disini pake sudut pandang orang kesatu, tapi gatau siapa si ‘aku’-nya, eh ternyata Hyukjae ydng. Kkke

  14. LC_Ovan berkata:

    Awal’a mikir cast namja’a Teukie ehh langsung terpatahkan saat Teukie ngomong terus mikir ke Kyuhyun, Donghae, tapi langsung patah semua ehhh pas bagian si Siwon ngomong ke Teukie kalau mereka bakal kangen sama Teukie baru nyadar kalau cast namja’a Eunhyuk apalagi dia dekat Donghae langsung 100% yakin dah dan benar saat Miyu bilang Saranghamnida Eunhyuk bagaikan menang apaan langsung teriak walau ngk bersuara karena suara ilang

    FF ini mengajarkan kita bahwa hidup harus diisi dengan hal” primer (utama) sampe deh ke hal” tersier (kebutuhan akhir atau hiburan) supaya hidup ini seimbang dan tidak ada penyesalan dikemudian hari

  15. Afwi berkata:

    Hai, aku reader baru. Salam kenal.
    Buka library, dn langsung pilih ff ini.
    Dan yaah ff ini bagus bgt, pesannya itu harus bener2 d amal kan d kehidupan.
    Super Junior mungkin salah satu yg mengisi toples ku, diantara hal penting lainnya 🙂

  16. Widya Choi berkata:

    Q pikir cast ny leeteuk gr2 fto ny leeteuk..tyta hyuk jae tohhh hihihihi..
    Sk bgt tu am kt2 ny leeteuk.. 😊😊

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s