[Season 2] Winter’s Song (Part 1)

Main Cast : Lee Donghae & Hyun Bi Hyul

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

Note : Nih, lanjutan dari Season 1 kemaren. Langsung aja ya—happy reading ^_^.

***

Season 2 (Part 1)
Season 2 –Winter’s Song (Hyun Bi Hyul’s story)

***

#Author’s POV#

Eonni!”

Seorang anak perempuan berseragam SMP sedang berdiri di ambang pintu. Apron biru polkadot masih menempel di tubuhnya juga spatula yang masih melekat di tangannya.

Eonni!!

Ia memandang kesal pada gadis tak tahu diri, yang masih terlelap ketika jarum jam telah menunjukan pukul tujuh pagi. Anak perempuan itu memandangi seisi kamar yang cukup berantakan.

“Sampaikan kapan kau akan membenamkan diri dalam selimut?”

Gadis yang sedang tidur itu perlahan bangun dan duduk. Ia menatap adik perempuannya yang masih berdiri di tempat yang sama.

“Bi Hye, tak bisakah kau melihat Eonni-mu ini bahagia?”

Ia menggaruk-garuk rambutnya yang berantakan. Lalu kembali tidur.

“Bukankah harusnya aku yang berkata seperti itu?” Bi Hye menggeram.

Pintu di sebelah kamar itu terbuka. Dari dalamnya keluar seorang anak lelaki yang telah berpakaian seragam lengkap.

“Bi Hye, apa tidurmu tak nyenyak? Mengapa kantung matamu terlihat begitu jelas?” tanya anak lelaki itu.

“Ini semua karena aku mempunyai saudara seperti kalian,” sungutnya, ia memanyunkan bibirnya. “Oppa, aku serahkan Eonni padamu. Mengerti?” katanya lagi sambil berlalu meninggalkan derap langkah yang terburu-buru menuruni anak tangga.

Anak lelaki itu ikut mendongak ke dalam kamar.

Noona! Cepat bangun”

Tak ada reaksi. Anak lelaki itu pun segera mendekati tempat tidur kakaknya. Ia lalu membanting tubuhnya dengan kasar di atas tubuh kakaknya—seperti sedang melakukan gaya smack down.

“AAauuuww..!!!” yang terdengar selanjutnya hanyalah ringis kesakitan. Anak lelaki itu segera menghindar sebelum tubuhnya dibuat patah.

“Bi Hwan, kau ingin mati?”

Noona, apa kau bodoh? Jika aku ingin mati maka aku tak akan menghindarimu,” ledek anak lelaki bernama Bi Hwan itu dan langsung berlari.

“BI HWAN!” teriakan yang terdengar semakin keras.

Ddrrrrtt…dddrrrrttt…

Ponsel gadis itu bergetar keras di atas meja, di sisi tempat tidurnya.

Hyun Bi Hyul! Bangun dan berhenti berteriak,” terdengar suara seorang pria ketika gadis itu baru saja hendak meletakan ponsel di telinganya.

“Kau tak punya kerjaan lain, selain menceramahiku setiap pagi?” kesal Bi Hyul. Setiap pagi ia selalu mendapat perlakuan yang sama dari si penelepon “Apa kau memasang kamera tersembunyi di dalam kamarku?” matanya menjelajahi seluruh pelosok kamar.

Tentu saja tidak. Bi Hyul, aku mengenalmu dengan sangat baik—jauh lebih baik dibandingkan kau mengenal dirimu sendiri,” katanya sambil tertawa

“Baiklah. Berhenti menghubungiku!” Bi Hyul menutup teleponnya.

Hyun Bi Hyul, seorang gadis yang sangat tomboy. Gaya berjalan, gaya berbicara, potongan rambut bahkan gaya berpakaiannya lebih mirip laki-laki. Bi Hyul sebenarnya memiliki wajah yang cantik tapi semua tersamarkan dengan penampilannya.

Kebanyakan orang yang melihatnya pertama kali akan mengira dia sebagai seorang laki-laki. Dengan wajahnya itu, di mata gadis-gadis yang melihatnya sekilas, tak jarang membuatnya memiliki penggemar dari kalangan para gadis.

Ia memiliki dua orang adik. Hyun Bi Hwan, berumur 16 tahun. Bi Hwan duduk di kelas satu SMA—di sekolah yang berbeda dengan Bi Hyul. Lalu Hyun Bi Hye, meski masih duduk di bangku SMP, remaja 14 tahun itulah yang mengurusi kedua kakaknya, mulai dari memasak, mencuci sampai mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Kedua orang tua mereka selalu sibuk dengan urusan bisnis, tak jarang mereka di tinggal keluar kota.

***

#Bi Hyul’s POV#

Tak membutuhkan banyak waktu untukku bersiap-siap. Dalam lima menit aku telah berseragam lengkap. Aku segera keluar dari kamarku dan menuruni anak tangga, duduk sekenanya di ruang makan. Kulihat, Bi Hye adik terkecilku sedang sibuk memanggang daging. Ia meletakan daging itu di atas piring dan menaruhnya tepat di hadapanku. Ia mendorong wadah yang berisi roti ke arahku.

Eonni, hari ini ada pertemuan di sekolahku.”

Ia menatapku.

“Lalu?” aku menjejalkan roti isi daging ke dalam mulutku. Aku tahu ada maksud lain dari tatapannya.

“Ayah dan Ibu masih di luar kota,” katanya lagi. “Jadi Eonni, kau akan menghadiri pertemuan itukan?”

Ah, aku tahu itu maksudnya. Orang tua kami memang terlalu sibuk dengan urusan bisnis sehingga jarang memiliki waktu luang bersama kami.

“Aku tak mau!”

Aku menolak dengan tegas permintaan Bi Hye.

Eonni! Mengapa kau begitu tega, huhh?”

Mata bulat Bi Hye membesar ketika menatapku. Ada semburat kekesalan di wajahnya.

“Bi Hye, kau lupa jika aku ini juga seorang siswa?” aku meneguk coklat hangat. “Dan kau memintaku untuk membolos? Kau gila!” potongan terakhir roti di tanganku langsung kumasukkan ke dalam mulutku.

Bi Hye menatapku dengan galak. Ia lalu membereskan piring-piring kotor di atas meja. Amukan piring-piring yang saling bersentuhan menjelaskan kekesalan Bi Hye yang sengaja ditujukan padaku. Lupakan saja Bi Hye, Eonni-mu ini tak akan terpengaruh sedikitpun! Aku tersenyum puas.

“Alangkah baiknya jika Donghae Oppa ada di sini.”

Senyumanku hilang seketika mendengar celoteh ringan Bi Hye.

“Apa kau sedang membanggakannya??”

“Iya!” Bi Hye menjawab dengan sangat jelas, jawabannya langsung menikam jantungku. “Selama ini hanya Donghae Oppa yang selalu menggantikan Ibu dan Ayah jika mereka tak bisa menghadiri pertemuan di sekolahku. Donghae Oppa, satu-satunya orang yang mengerti bagaimana perasaanku yang hancur berantakan karena memiliki dua orang kakak tak berguna seperti kalian!” cicit Bi Hye.

“Apa katamu?” darahku serasa mendidih, panasnya membakar seluruh permukaan kulit di tubuhku, “Apa yang baru saja kau katakan?”

Eonni, kau ingin aku mengulanginya?”

Hyun Bi Hye, jika kau bukan adikku, salah—jika kau bukan seorang perempuan, saat ini juga kupatahkan tulang lehermu.

“Baiklah. Terus saja kau membanggakan Donghae Oppa-mu—bersiaplah, aku akan menghapusmu dari daftar keluarga Hyun.”

Aku segera beranjak meninggalkan ruang makan. Apaan anak itu? Selalu saja membanggakan laki-laki sinting itu di hadapanku. Lee Donghae, aku tak tahu racun apa yang telah kau sebarkan pada kedua adikku.

Rumahku hanya berbatasan pagar dengan rumahnya, itulah sebabnya kami sudah saling mengenal sejak kecil. Semua orang mengatakan jika kami sangat akrab tapi menurutku sebaliknya, kami selalu saja bertengkar. Ia selalu menempeliku, lebih mirip bayanganku dan itulah yang membuatku kesal.

Lee Donghae, tunggu sampai kau kembali dan aku akan membuat perhitungan denganmu. Tidak, sebaiknya kau jangan pernah kembali dan membusuk saja di London.

***

Chongdam High School adalah SMA tempatku bersekolah. Aku memasuki kelas. Kulihat ketiga gadis autis itu sudah berkumpul. Min Kyung juga si kembar Hyori dan Hyena. Kami adalah gadis-gadis yang awalnya berusaha untuk saling menghindar tapi anehnya kami justru menjadi sangat akrab.

Aku tak tahu mengapa semua orang mengatakan kami adalah kelompok minoritas yang paling aneh di sekolah?Well, meskipun aku tomboy tapi bagaimana dengan ketiga sahabatku? Mereka sangat normal! Ah ya, pengecualian untuk Hyena, tapi dia telah berubah menjadi gadis normal dan sialnya, kenormalannya melebihi kami setelah dia membuktikan bahwa dirinya bisa menjalin hubungan dengan seorang pria.

Siapa yang menyangka jika Lee Hyukjae, murid pindahan yang baru beberapa bulan menginjakkan kaki di sekolah kami yang tercinta dan dari sekian banyak gadis cantik di sekolah—pilihannya justru jatuh pada Hyena. Awalnya kupikir dia penderita katarak akut, bagaimana mungkin menyukai sosok yang lebih mirip arwah gentayangan itu? Mungkin teori itu benar, cinta memang buta dan gelap. Sangat gelap.

Tetap saja aku ingin mengucapkan terima kasih pada Hyukjae, dia telah merubah Hyena kami yang mengerikan menjadi gadis normal.

“Kau bertengkar lagi dengan kedua adikmu?”

Seperti biasanya, Min Kyung selalu bisa membaca aura di sekitarku. Aku hanya menatap sekilas padanya.

“Dan lagi—yang membuatmu semakin kesal pasti karena Donghae Oppa.”

Aku menoleh seketika pada Min Kyung. Sejak kapan dia berubah menjadi seorang peramal?

“Kalian memang tak bisa akur,” Hyori menggeleng prihatin.

Rasanya ingin sekali aku menjambak rambut Hyori. Hyena satu-satunya yang tak memberikan komentar. Dia cukup bijaksana, disaat seperti ini memang sebaiknya tak menambah komentar kedua gadis menyebalkan itu.

***

I’m dreaming of a white Christmas

Just like the ones I used to know
Where those tree-tops glisten,
And children listen
To hear sleigh bells in the snow

__

Ah, tidak terasa sudah Bulan Desember. Hampir di semua mall, toserba juga café melantunkan lagu-lagu natal. Termasuk salah satu toko diantara deretan toko dipinggiran trotoar, toko yang saat ini sedang kumasuki. Setelah memilih barang-barang yang kuperlukan, aku menuju kasir dan segera melunasinya.

Aku melangkah keluar dari toko itu sambil menenteng tas plastik. Udara musim dingin memaksaku untuk merapatkan jaket dan mempercepat langkahku diantara para pejalan kaki lainnya. Sesuatu berwarna putih menyentuh kulit wajahku, terasa dingin. Aku mendongak, lebih banyak lagi benda putih yang terlihat seperti kapas berjatuhan dari langit, turun perlahan menyentuh rambutku.

Salju pertama di musim dingin. Bunga-bunga salju tampak menari indah disekitarku. Gerombolan remaja terlihat ceria menyambut salju pertama. Pasangan muda-mudi yang bergandengan mesra di sepanjang jalan. Aku selalu menyukai suasana ini, terasa sangat hangat di musim dingin.

Dua orang gadis berjalan dari arah yang berlawanan denganku. Mereka masih memakai seragam, entah dari SMA mana. Apakah mereka sedang melihatku? Hmm, sepertinya begitu.

Benar saja, sebab langkah kaki mereka terhenti tepat di hadapanku, aku bergeser ke kiri untuk memberikan jalan pada mereka tapi mereka ikut bergeser ke depanku. Aku kembali bergeser ke kanan dan mereka melakukan hal yang sama. Akhirnya aku yakin, tujuan mereka adalah aku. Aku menatap kedua gadis itu, mencoba mengingat-ingat tapi rasanya aku belum pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.

Kedua gadis itu tersenyum dengan semburat merah di pipi mereka.

“Kalian…?” aku memang kebingungan.

Oppa!!”

“??”

Aku terkesiap. Kuedarkan tatapanku, tampaknya tak ada orang lain di sekitar kami.

Oppa?” seperti orang bodoh saat kurahkan telunjuk ke wajahku sendiri.

Wajah mereka semakin bersemu merah. Ah, sudah kuduga. Entah berapa banyak gadis yang mengira aku ini seorang lelaki.

Oppa, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menolongku.”

“Aku? Menolongmu?”

Kapan peristiwa besar itu terjadi? Sepertinya aku belum pernah melakukan hal yang terdengar sangat mulia itu.

“Saat itu Oppa menolong seekor kucing yang terjebak di atas pohon. Kucing itu adalah milikku.”

Saat itu Oppa menolong seekor kucing yang terjebak di atas pohon dan kucing itu adalah aku, hahahaha—aku lebih suka jika kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Aku memutar bola mataku. Entahlah itu kejadian yang mana? Memori itu sepertinya tidak terdaftar dalam kepalaku. Apakah kini aku mulai amnesia?

“Terima kasih Oppa. Semoga kita bertemu lagi!”

Pamit gadis itu, ia dan temannya memberi hormat padaku dan langsung berlalu dari hadapanku sebelum aku meluruskan kesalahpahaman gender pada mereka.

Ddrrtt… drrttt…

“Apa lagi?”

Tanyaku dengan malas.

Honey!!”

Argh, secara refleks tanganku menjauhkan ponsel dari telingaku saat seringaian khas itu terdengar. Dalam sehari ini entah berapa kali laki-laki sinting itu meneleponku.

“Donghae, apa London terlalu sempit untukmu sehingga harus mengurusiku?”

Tak bisakah kau bersikap lebih lembut padaku?

Ia bersungut. Aku hanya mencibir. Lee Donghae, sikapku ini sudah terlalu lembut padamu.

Because I miss you, honey,” katanya lagi. “Ah,, berhenti memandangi salju dengan tatapan bodohmu dan juga—kau tak seharusnya menipu gadis-gadis malang itu.

Mendadak aku menoleh, mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Bagaimana Donghae bisa tahu? Apakah dia sedang memantauku disekitar sini? Itu tidak mungkin. Dia sangat jauh sekarang. Yang terbesit dibenakku adalah sebuah alat canggih dengan satelit tersendiri yang dapat memantau sesuatu meskipun berada di tempat yang berbeda.

Aku menggeleng kasar. Tidak mungkin! Itu lebih mustahil! Si bodoh itu hanyalah seorang siswa SMA biasa. Malapetaka jika FBI atau CIA atau badan intelijensi lainnya merekrut laki-laki itu menjadi agen! Oh, Bi Hyul khayalanmu terlalu tinggi.

Bi Hyul, kau tertidur?” Donghae menyadarkanku dari segala lamunan tak masuk akalku.

“Bagaimana bisa kau tahu semua itu?”

Sudah kukatakan, di dunia ini tak ada orang yang mengenalmu sebaik aku,” ada kesan sombong dari nada bicaranya.

“Kau mengira aku sangat bodoh?”

Mengenal seseorang bukan berarti, mengetahui setiap gerak-geriknya. Apalagi jarak yang memisahkan kami tidak main-main.

Honey, marah tak baik untuk kesehatanmu.

“Jika kau masih perduli dengan kesehatanku maka berhentilah meneleponku. Dan satu lagi,” gigiku bergemeletuk, geram. “Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi. Kau paham?”

Ok, my dearest friend!” Donghae tertawa renyah.

Pembicaraan menyebalkan itu akhirnya selesai. Aku benci jika dia mulai memanggilku honey dengan mendayu-dayu. Dia selalu menggodaku seperti itu. Oh, Lee Donghae, mengapa kau terus berputar-putar di duniaku? Dia adalah sahabat sekaligus laki-laki yang terdekat denganku. Kata-kataku selalu kasar padanya, yeah, karena dia melakukan hal yang sama padaku. Kata orang hubungan persahabatan kami aneh. Aku tak paham.

Meskipun lebih sering diwarnai perang mulut tapi aku senang karena orang itu adalah Donghae. Argh! Mengapa aku harus membahas laki-laki tak penting seperti dia? Aku mendengus kesal dan mempercepat langkahku sebelum membeku di tengah salju.

***

“Bi Hyul? Tak ada masalahkan?”

Hyena melontarkan pertanyaan. Sepertinya mereka menyadari bad moodku.

“Tidak apa-apa,” jawabku malas.

“Bodoh~ dengan wajah melengos itu, kau tak dapat memberikan jawaban yang lebih baik, huhh?”

Seperti biasanya, Min Kyung yang pemarah mencercaku. Gadis itu pasti sangat bermasalah dengan hormonnya.

“Ibu dan Ayah menunda kedatangan mereka,” aku memberikan jawaban yang sesungguhnya. “Aku lelah menghadapi Bi Hwan dan Bi Hye.”

“Benarkah?”

Hyori menatapku dalam-dalam. Apa lagi yang ada dipikirannya?

“Entahlah, aku merasa orang yang sebenarnya patut dikasihani adalah Bi Hye,” ada nada keprihatinan dari kalimat itu.

“Kau?” emosiku tersulut.

“Tak tahu,” Hyori tersenyum, ia berusaha menghindar dari kemarahanku.

God! Mengapa harus ada hal yang seperti ini? Orang-orang yang berada di sekitarku tak satupun yang beres. Kedua adikku, lalu aku harus berbesar hati menghadapi tiga gadis bodoh ini. Ah, hampir lupa! Juga Donghae yang menyebalkan!

Honey.”

Dan sekarang, suara laki-laki gila itu menggema dengan jelas di kepalaku.

Honey.”

Mengapa suara menyebalkan itu semakin jelas? Lee donghae, apa kau sekarang berniat untuk merusak otakku? Tak cukupkah kau menelepon sesering kedipan mata? Lalu kini kau mulai menguasai alam bawa sadarku! Tak akan kubiarkan!

Oppa!”

Aku terkesiap mendengar Hyori berteriak dan secara refleks menoleh ke arah yang sama dengan arah pandang tiga sahabatku. Sekejap, seluruh peredaran darahku tersumbat. Seorang lelaki sedang berdiri di ambang pintu kelas kami. Dia tersenyum lebar. Senyuman dan seringaian yang sangat kukenal. Lee Donghae. Tunggu dulu, mengapa dia berada di Seoul?

“Lama sekali tak melihat kalian,” Donghae mendekati kami, dia lalu duduk tepat disisiku. “Tak perlu seterpesona itu padaku,” dia melambaikan tangan padaku yang masih mematung dan shock.

Kau gila, mengapa aku harus terpesona padamu?

“Apa yang kau lakukan disini?” Aku langsung melontarkan pertanyaan setelah berhasil mengendalikan diri. Donghae tersenyum lagi.

“Apa ini sambutan terbaikmu?” Donghae mengerling manja padaku.

“Kau ingin sambutan dariku?” Aku menatapnya dengan tajam.

Donghae mulai bergeser. Berusaha untuk menjaga jarak. Dia tahu betul siapa aku.

Oppa, bukankah seharusnya kau berada di London?” tanya Min Kyung.

“Lalu mengapa kau bisa—tiba-tiba di sini?” Hyori ikut bertanya.

“Apa kau sedang berlibur?” dan sekarang giliran Hyena yang bertanya.

Donghae terlihat kebingungan hendak menjawab yang mana terlebih dahulu. Matanya lalu tertuju pada Hyena. Dia memandangi Hyena sejenak, lalu memandangi kami bertiga. Dari tatapannya yang kebingungan, aku tahu jika dia tak mengenali Hyena.

“Bi Hyul? Apa dia sedang bertanya padaku?” Donghae memiringkan tubuhnya ke arahku dan berbisik pelan.

Oppa, kau tak mengenalinya?” Hyori memandangi Donghae, dia hanya diam sambil tersenyum kaku.

Oppa, kau keterlaluan. Baru enam bulan meninggalkan Seoul kau telah melupakan Hyena.”

Donghae terkejut mendengar celoteh Min Kyung. Dia lalu memandangi Hyena lekat-lekat.

“Benarkah? Hyena?”

Jelas-jelas Donghae masih tak percaya. Hyena mengangguk. Donghae terdiam sejenak lalu tertawa.

“Hyena, kukira aku sedang bermimpi,” candanya disela-sela tawa. “Ini benar-benar kau? Apa kau terkena terjangan angin kutub?”

Oppa!!” Min Kyung dan Hyori sama-sama menggeleng memberikan kode pada Donghae agar tak melanjutkan perkataan-perkataannya yang dikhawatirkan dapat mengembalikan Hyena pada kehidupan kelamnya.

“Kapan kau datang Oppa?” tanya Min Kyung antusias.

“Seminggu yang lalu.”

Donghae menjawab enteng, dia tak peduli seberapa terkejutnya aku. Sudah seminggu berada di Seoul? Jadi selama ini dia sengaja mengerjaiku? Gosh, orang gila ini sebaiknya kusingkirkan secepatnya sebelum membuat pembuluh darahku pecah.

Oppa, kau sangat kejam!” Hyori tampaknya sangat kesal.

“Tapi Oppa, mengapa kau di sini?” tanya Hyena.

“Tidakkah kalian lihat?” Donghae tersenyum lebar.

Aku ikut memandanginya dan—tunggu dulu, mengapa dia memakai seragam yang sama dengan kami? Apakah ini hanya bentuk penyamarannya agar diperbolehkan memasuki kawasan sekolah.

“Mengapa masih memakai seragam itu?” geramku.

Donghae bersekolah di Chongdam High School sebelum pindah ke London. Dia senior kami. Tapi tindakannya kali ini cukup keterluan! Aku rasa begitu.

“Bi Hyul, kau buta? Aku bersekolah di sini.”

“Itu dulu.”

No no no. Aku sudah terdaftar kembali sebagai siswa Chongdam.”

Kami sama-sama terdiam. Berusaha untuk mencerna ucapan Donghae.

“Kau—kau sedang bermain-main?”

“Aku serius. Honey, aku pulang,” ia menatapku dengan seringaian khasnya itu, menyebalkan. “Aku tak bercanda. Sekarang aku sudah kembali. Apa kau tak akan memberikan pelukan selamat datang padaku?” Donghae membuka kedua tangannya bersiap memelukku.

“BODOH!!” teriakanku mengurungkan niatnya. “Kau baru enam bulan pergi. Mengapa sekarang kau kembali? Itu terlalu cepat!”

Mereka terdiam. Lalu aku merasakan tatapan aneh dari tiga gadis bodoh dan pria menyebalkan itu. Ah, aku baru sadar jika terlihat sekali ambisiku untuk menyingkirkan Donghae.

“Kau kira sekolah ini mirip mall, bisa kau masuki seenaknya? Dasar gila!” aku segera memperbaiki kesalahanku.

Honey, terserah apa katamu. Sekarang aku sudah kembali,” ia menatapku, menerjang mataku dengan tatapan tajamnya.

“Seharusnya kau sadar dengan kemampuan otak bodohmu itu,” gumamku pelan tapi kurasa sampai di telinga Donghae karena kulihat raut wajahnya langsung menegang.

“Maksud ucapanmu itu, aku kembali karena tak mampu bersekolah di London?” matanya melebar menatapku.

Min Kyung, Hyori dan Hyena hanya saling pandang—ini pemandangan biasa bagi mereka.

“Kau cukup pintar untuk mengerti maksud ucapanku!” aku segera beranjak

“KAU!! Hyun Bi Hyul, kau ingin mati????”

Tak kuhiraukan teriakan Donghae yang emosinya telah tersulut. Sejujurnya ingin sekali kulemparkan laki-laki bodoh itu dari lantai tiga tempat kelas kami berada.

***

#Author’s POV#

Lonceng gereja berdentang. Ratusan manusia berbondong-bondong keluar dari sebuah gereja. Mereka baru saja selesai mengikuti ibadah malam natal. Min Kyung, Bi Hyul, Hyori dan Hyena termasuk diantara orang-orang itu.

“Bagaimana?” Min Kyung menatap Bi Hyul. Gadis itu menggeleng.

“Aku akan pulang.” jawab Bi Hyul.

Dia baru saja menolak ajakan sahabat-sahabatnya untuk merayakan malam natal di rumah si kembar.

“Baiklah. Kami pergi dulu.”

Mereka berpisah dan memilih arah yang berlawanan. Bi Hyul melangkah pasti di antara ramai orang yang berlalu lalang di malam natal, menyisakan jejak kaki di permukaan salju yang putih. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam jaket agar terasa lebih hangat.

Perhatian Bi Hyul tertuju pada sekumpulan gadis yang berdiri tak jauh di depannya. Melihat kedatangan Bi Hyul, gadis-gadis itu sedikit menegang dengan eskpresi suka cita di malam natal. Tatapan mereka semakin tertanam pada Bi Hyul berjalan ke arah mereka.

Oppa.”

Langkah kaki Bi Hyul terhenti ketika seseorang memanggilnya. Bi Hyul menoleh kepada mereka. Seorang gadis yang berada di tengah-tengah kumpulan melangkah mendekati Bi Hyul. Wajah putihnya mulai memerah. Tatapan Bi Hyul turun pada tangan gadis itu, ia memegang sebuah kado berwarna silver.

“Ng.. aku??”

Bi Hyul menoleh ke kiri dan kanan. Ia sedang meyakinkan dirinya jika gadis-gadis itu sedang mengajaknya berbicara. Bi Hyul mengangguk paham, ketika ia berhasil mengenali gadis itu. Gadis yang beberapa waktu lalu mengatakan jika kucing miliknya diselamatkan oleh Bi Hyul.

Merry Christmas, Oppa,” kata gadis itu malu-malu.

“Terima kasih,” Bi Hyul tersenyum.

Oppa..aku..,” pipi gadis itu semakin bersemu, ia menarik nafas untuk melanjutkan perkataannya, sedangkan gadis-gadis lain yang menemaninya terlihat sedang menahan nafas. Bi Hyul mengernyitkan keningnya.

Oppa, aku menyukaimu.”

JLEB!

Bi Hyul tersentak mendengar pengakuan gadis itu.

“Nona, tampaknya ada kesalahpahaman diantara kita.”

Bi Hyul menarik nafas panjang. Ia tak mengira jika keteledorannya tempo hari akan berdampak sejauh ini, seandainya saja saat itu ia bisa menjelaskan kekeliruan gadis itu yang mengira dirinya adalah seorang laki-laki, keadaan rumit ini tak akan terjadi.

Oppa apa maksudmu?”

“Nona, aku ini…,”

Belum sempat Bi Hyul menjelaskan kesalahan itu ketika sepasang tangan merangkulnya dari belakang, melingkar manis di pundak Bi Hyul.

Merry Christmas honey.”

***

#Bi Hyul’s POV#

Oppa, aku menyukaimu.”

JLEB!

Penuturan gadis itu membuatku oleng seketika. Apa ini? Tampaknya mereka masih mengira aku ini pria. Ya ampun, aku harus meluruskan kesalahpahaman ini.

“Nona, tampaknya ada kesalahpahaman diantara kita.”

Aku membuka mulutku. Aku harus menjelaskan semuanya. Akan seperti apa reaksinya jika mengetahui ‘Oppa’ ini adalah seorang gadis. Ah bukan urusanku, yang terpenting adalah mereka harus tahu yang sesungguhnya. Aku tak ingin semua orang keliru terhadap genderku.

Oppa apa maksudmu?”

Gadis itu menatapku bingung. Ia menyadari jika aku sedang berpikir keras setelah melihatku menarik nafas panjang.

“Nona, aku ini…,”

Tiba-tiba saja sepasang tangan memelukku dari belakang, melingkar di pundakku—ucapanku terputus.

Merry Christmas honey.”

Suara itu terdengar dengan jelas. Aku menarik nafas. Suara yang tak asing lagi bagiku. Suara menyebalkan milik si bodoh itu.

“Donghae, mengapa kau di sini?”

Aku bertanya tanpa berusaha untuk menengok wajahnya. Kedatangan Donghae mengalihkan perhatianku, termasuk gadis-gadis yang tercekat dan masih melongo memandangi kami.

“Aku sedang mencarimu,” jawab Donghae. “Kau harus menemaniku sampai pagi,” katanya lagi. Kulihat gadis-gadis itu menegang.

“Lepaskan tanganmu!”

Donghae tak menghiraukan peringatanku, ia justru semakin bergalayut manja di pundakku. Lagi-lagi aku dapat merasakan nafas gadis-gadis itu tercekat. Entah hanya perasaanku atau memang udara dingin telah membuat wajah mereka tampak pucat.

“Hyun Bi Hyul! Mengapa kau begitu kasar?” Donghae melakukan aksi protesnya padaku. “Honey, ayo kita pulang—aku sudah tak sabar untuk membunuh waktu bersamamu,” ia menyeringai lebar.

Detik selanjutnya, gadis-gadis itu lebih mirip patung es, mereka terlihat sedang berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Kurasa cuaca yang terlalu dingin membuat mereka bertingkah aneh seperti itu.

“Lee donghae! Sebaiknya kau lepaskan tanganmu sekarang juga sebelum aku…,”

“Baiklah!!”

Donghae dengan sigap melepaskan pelukannya.

“Siapa mereka?” Donghae menatapku, ia bertanya tentang gadis-gadis yang terlihat sedang dibawah alam sadar itu. “Teman-temanmu?” tanyanya lagi.

Aku menatap kesal padanya. Tatapanku teralih pada gadis-gadis itu.

“Maafkan aku, nona sebenarnya aku…,”

“Cukup!!”

Bentakan gadis itu membuatku terkejut. Aku dan Donghae hanya saling pandang. Ternyata udara dingin bisa merubah temperamen seseorang, pikirku.

Oppa, aku tak menyangka kau orang seperti itu! Aku benci kau!”

Aku tertegun menatap kilatan api di mata gadis itu. Ia berlari meninggalkan kami. Gadis-gadis yang bersamanya ikut berlari menyusuli gadis itu setelah membuang tatapan kesal, marah dan jijik pada kami.

Jijik? Benarkah aku tak salah mengartikan tatapan itu? Tapi Mengapa? Aissh,—rasanya aku mengerti alur suasana ini.

“Mengapa kau memelukku?”

“Itu bukan pertama kalinya—mengapa baru protes sekarang?”

Donghae menyeringai nakal. Aku benci ekspresinya itu.

“Tak tahukah kau?”

Dia hanya mengangkat keningnya.

“Bodoh! Kau membuat gadis-gadis itu salah paham terhadapku.”

Aku menatapnya tajam, ingin menelannya hidup-hidup. Hancurlah reputasiku, gadis-gadis itu menganggapku sangat menjijikkan setelah mengira aku ini adalah gay. Yang benar saja! Bahkan mereka tak tahu jika sesungguhnya aku ini seorang perempuan tulen! Aku bahkan tak kehilangan ketertarikanku pada lawan jenis. Benar-benar gila.

“Kau menuduhku?” Donghae mendekatkan wajahnya padaku. “Hyun Bi Hyul. Yang membuat mereka salah paham itu adalah kau, bukan aku.”

“Argh—menyebalkan!!”

Aku menggaruk kasar kepalaku yang terasa pusing. Ini sangat pelik. Lalu sekarang aku harus bagaimana?

Honey, kita pulang sekarang.”

Donghae terlihat sangat riang. Ia lalu merangkul pundakku dan kami pun meninggalkan tempat itu. Berkali-kali aku mendorong tubuhnya atau meninju kepala dan tangannya agar dia melepaskan rangkulannya, tapi Donghae justru melakukannya berkali-kali. Akhirnya aku hanya pasrah menuruti kegilaan sahabatku itu.

***

Kami sampai di rumah dan langsung disambut oleh kedua adikku. Aku segera menuju kamar meninggalkan Donghae yang sibuk melayani tantangan Bi Hwan bermain game dan juga Bi Hye yang bergelayut manja di lengannya. Mereka sangat akrab. Kedua adikku itu bahkan lebih akrab dengan Donghae daripada denganku.

Aku segera menuju kamar mandi. Mencuci wajahku yang terasa lengket dan buru-buru keluar dari kamar mandi. Kulihat Donghae sudah berada di kamarku. Ia sedang membaca komik sambil berbaring di ranjangku. Aku berjalan menghampirinya dan duduk di tepi ranjang. Ia tak menghiraukanku karena komik itu.

“Donghae. Aku akan berganti pakaian.”

“Aku tahu,” jawabnya tanpa menoleh sedikit pun padaku. Dia hanya meneruskan kegiatannya.

Ah, si bodoh ini sepertinya tak mengerti ucapanku. Hallo, di sini ada seorang gadis yang akan berganti pakaian dan mengapa kau masih diam di tempat?

“Apa kau idiot?” aku menatap kesal padanya.

“Apa?”

Argh!! Ia bertanya dengan sedemikian entengnya. Darahku mulai memanas.

“Lee donghae! Kau tak mendengarku, huhh?”

“Aku masih mendengarmu—katakan!”

Aissh, aku segera berdiri menatapnya yang sama sekali tak memperdulikan kekesalanku. Segera kulayangkan tendangan pada kakinya.

“Wadaowww!!” Donghae meringis kesakitan. “BI HYUL!!! Mengapa menendangku? Sakit,” matanya berkilat-kilat.

“Aku harus mengganti pakaianku. Kau mengerti?”

“Lakukanlah!”

Darahku telah mendidih mendengar ucapan santainya itu, melihatnya yang kembali meraih komik dan mulai membaca.

“Lee Donghae, aku sedang menyuruhmu keluar dari kamarku.”

Sudah kuduga dia memang sangat tolol karena akhirnya dia membuat aku harus menjelaskan hal sepele itu padanya.

Honey.

Donghae melepaskan komik itu. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat serius.

“Aku mengenalmu dengan sangat baik. Tak ada yang perlu ditutupi di antara kita,” ia mendekatkan wajahnya padaku. “Jadi, lakukanlah tanpa perlu menyuruhku keluar dari kamar ini,” seringaian itu semakin melebar. Ia tersenyum, mengedipkan sebelah matanya.

“Kau gila!” dengusku. “Apa kau lupa, aku ini perempuan,” aku mencoba mengingatkan laki-laki bodoh itu.

Aku rasa sekarang aku yang mulai kehilangan kewarasanku karena harus mengatakan hal itu padanya. Tak mungkinkan dia ikut melupakan jati diriku yang sebenarnya?

Donghae tertawa. Tawa yang semakin lebar dan mengeras. Aku menatapnya bingung dan kesal. Apa sekarang dia sedang menertawakanku? Aku terlihat bodoh di matanya?

“Ah, apa ini? Kau mulai malu? Honey~ sejak kapan kau malu padaku? Apa kau lupa, kita berdua bahkan punya foto telanjang bersama?”

Donghae menatapku tajam. Ia kembali tertawa. Pernyataan ekstrim itu seperti mimpi buruk. Aku selalu mencegahnya mengucapkan kalimat itu. Kini aku benar-benar marah pada orang tua kami, bagaimana mungkin mereka mengambil gambar erotis itu? Meskipun saat itu kami masih balita lucu yang tak mengerti apa pun tapi situasi saat ini sangatlah berbeda. Jika melihat foto itu, aku merasa sangat geram. Ibuku bahkan menjaga foto itu dengan sangat ketat bak menjaga benda keramat yang begitu sakral, sepertinya ia tahu keinginan terbesarku adalah memusnahkan foto itu.

Terlebih Ibuku dan Ibu Donghae adalah tipe yang sama, mereka dengan bangganya memamerkan foto itu pada tetangga maupun kerabat yang berkunjung, termasuk pada tiga gadis autis itu—tak terbayangkan ketika ketiga gadis itu menertawaiku non stop selama berjam-jam, harga diriku hancur seketika. Tingkat pelecehan, eksploitasi dan perusakan nama baik yang dilakukan oleh orang tua kami, sungguh tak terampuni. Bagaimana bisa si idiot Donghae justru membangga-banggakan hal tersebut?

“Bi Hyul, tak ada yang perlu kau sembunyikan. Meskipun kau perempuan tapi aku rasa kau tak ada bedanya denganku,” katanya dan tatapan nakalnya itu makin menjadi-jadi.

Ia bangkit dari tempat tidur dan mendekatiku. Aku melangkah mundur. Sedikit gugup melihat tatapan itu.

“Apa?” Sial, mengapa aku harus gugup karena laki-laki ini.

Donghae menarik nafas. Sebuah helaan nafas yang cukup panjang, “Kau bukan gambaran maha karya Tuhan seperti Song Hye Gyo. Kau lebih mirip tragedi dunia! Bahkan dadamu sangat rata, percayalah, tak ada untungnya bagiku untuk melihat dada ratamu itu—kau pun tak akan merasa dirugikan. So, honey, lakukanlah apa yang perlu kau lakukan dan lupakan rasa malumu itu.”

“AP…APA KATAMU??”

Kepalaku serasa dipasangi bom dan langsung meledak mendengar kata-kata pedasnya yang telah berhasil membuat tubuhku terasa menyusut dan mengecil seperti kurcaci.

“Coba angkat bajumu—apa kau sedang menyembunyikan perut six pack-mu dariku?” Donghae menyengir menatapku. “Hyun Bi Hyul, tubuh kurus tak bermodel, dada yang sangat rata serata pinggulmu. Tubuh yang lebih mirip papan seluncur apa masih ingin kau banggakan? Gosh, harimau bahkan tak sudi memangsamu meskipun kau santapan terakhir yang tersedia di bumi,” ledeknya.

Astaga, ini benar-benar penghinaan tingkat tinggi. Kepalaku pusing. Dia telah melecehkanku!!

Donghae tertawa. Tatapannya penuh sindiran. Sifatnya yang paling kubenci karena ia tak akan berhenti mencercaku. Seringaian yang paling kubenci. Aku benci semuanya. Darahku serasa terkumpul di wajahku. Dia telah merobek-robek harga diriku. Aku menahan nafas dalam-dalam.

“LEE DONGHAE!! KUBUNUH KAU!!”

Teriakanku membahana diseluruh penjuru rumah. Dalam hitungan detik laki-laki sinting itu telah melarikan diri secepat kilat dari kamarku. Tawanya yang terdengar menyebalkan membahana di seluruh pelosok rumahku. Dia selalu saja mengejekku seperti itu. Sejak kecil, dia selalu saja memperlakukanku seperti mainannya. Lee donghae, akan kubuat kau menyesal.

~~~

Tiga jam berlalu dan kami telah berkumpul di ruang tengah. Aku telah melupakan kemarahanku, sebenarnya tidak juga tapi seperti biasanya Donghae selalu berhasil membuatku memaafkannya. Dasar gadis bodoh, seharusnya jika ingin membunuhnya, kulakukan sejak tadi. Malam natal, kami selalu bersama-sama—seperti saat ini. Sejak tadi kami telah bermain kartu. Aku berpasangan dengan Bi Hwan, sedangkan Donghae dengan Bi Hye.

Bi Hwan merengut, wajahnya cemberut.

Hyung! Kau bermain curang!”

Bi Hwan memandangi Donghae dengan tatapan curiga dan kesal. Lagi-lagi kami kalah. Aku hanya memanyunkan bibir, kesal sekali melihat Bi Hye dan laki-laki gila itu bersorak-sorak riang.

“Seenaknya menuduhku,” mata Donghae menyipit. Kalianlah yang sangat bodoh.”

Aku akui, aku memang tak pandai dalam permainan ini tapi bukan berarti kau bisa meremehkanku. Tahan Bi Hyul, kau harus sabar.

Noona, tak bisakah kau memakai otakmu? Lihatlah, Hyung dan Bi Hye terus mengalahkan kita.”

Tudingan Bi Hwan membuat kesabaran yang sedari tadi kubangun langsung ambruk dan hancur berkeping-keping. Secara refleks aku menimpuk kepala Bi Hwan dengan tendangan maha dasyat. “Kau yang bodoh mengapa menyalahkanku?” Bi Hwan hanya meringis kesakitan.

Bahkan adikku sendiri semakin mirip dengan Donghae—mereka sangat menyebalkan. Ah, di planet mana sekarang aku berada? Benarkah aku masih berpijak di planet yang sama? Aku harap aku masih di bumi!

Oppa. Sebaiknya kita memainkan permainan yang lain saja,” Bi Hye masih bergelayut manja di lengan Donghae.

“Kau benar,” Donghae mengacak-acak rambut Bi Hye. “Rasanya permainan ini sangat tak imbang,” katanya lagi dan dengan senyuman menyebalkan itu, dia melirik ke arahku.

Terus saja sombong dan mengejekku sebelum kugergaji mulutmu. Gosh, apa yang baru aku pikirkan? Mungkinkah Hyena telah mentransfer dark soul-nya padaku. Sadar Bi Hyul, ini malam natal!

Aku segera berjalan meninggalkan mereka. Menuju dapur dan langsung mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas. Aku segera kembali ke ruang tengah. Kulihat Donghae sudah memegangi gitar. Aku merebahkan diri di sofa.

Hyung, kapan kau akan mengajariku bermain gitar?”

“Lupakan!”

“Kau sangat pelit seperti Noona.”

“Hyun Bi Hwan!” aku membentak Bi Hwan.

“Baiklah,” Donghae tersenyum. “Aku akan mengajarimu tapi setelah aku menikahi Noona-mu.”

Tatapan menyebalkan itu kembali tertuju padaku. Aku hanya mencibir mendengar gurauannya.

“Ah, Hyung—kata-katamu itu sama artinya dengan tidak mungkin, benarkan?”

Bi Hwan melemas. Donghae hanya tersenyum tipis.

“Tentu saja,” potong Bi Hye. “Oppa, hanya karena kau ingin belajar bermain gitar maka memaksa Donghae Oppa menikahi Eonni?” Bi Hye menatap galak pada Bi Hwan. Suaranya meninggi.

“Bi Hye, ada apa dengan matamu itu?” Bi Hwan sepertinya kesal melihat lototan Bi Hye.

Aku hanya mendengus sambil tersenyum sinis. Baiklah, silahkan lanjutkan aktivitas kalian!

Oppa kau keterlaluan!”

Bi Hye mengigit bibir bawahnya. Tatapannya lalu teralih pada Donghae. Aish, aku benci melihat puppy eye’s Bi Hye. Ia terlalu mendramatisir suasana.

“Jangan khawatir Donghae Oppa, aku pasti aku menyelamatkanmu,” kata Bi Hye antusias.

Menyelamatkan? Dari apa? Apa maksudmu? Kau kira aku ini hewan buas? Dasar adik kurang ajar.

Oppa, aku tak akan menyerahkanmu pada Eonni. Kau tahu, tak ada yang bisa dilakukan Eonni selain berkelahi dan marah-marah. Eonni tak bisa mencuci, memasak, membersihkan rumah bahkan dandan pun Eonni tak bisa. Tak ada yang bisa diandalkan dari Eonni. Aku khawatir kau akan lebih cepat mati jika hidup dengan wanita seperti itu,” mulut Bi Hye tak berhenti melontarkan kata-kata itu.

“Berhenti mengata-ngataiku!”

“Kau benar,” kata Donghae. Mereka tak menghiraukan teguranku. “Tapi Bi Hye, bagaimana jika memikirkan kemungkinan lain?”

“Ngg?”

Bi Hye kelihatan kebingungan dengan maksud perkataan Donghae. Donghae kembali tersenyum lebar.

“Jika Eonni-mu memaksaku menikahinya maka kau harus berada dekat dengan Oppa,” katanya Donghae dengan tenang.

Astaga—kata apa tadi? Memaksa? Kalian sinting.

“Kau tahu, aku tak ingin mati setelah menyantap masakannya. Bukankah kau harus memastikan keselamatanku?” Donghae mengerling.

Dasar gila! Pembicaraan kalian ini benar-benar membuatku pusing. Kalian sangat keterlaluan. Kalian selalu menusukku dari belakang. Tidak, bahkan didepanku kalian berani-beraninya membicarakan aku. Siapa yang akan menikahi siapa?

Lee donghae, sekalipun kau laki-laki terakhir di bumi, aku lebih memilih tak menikah. NEVER! Aku semakin yakin jika jalan hidupku adalah mengabadikan kesucian diriku. Entahlah terdengar sangat memaksa—tapi kurasa itu satu-satunya jalan untuk menghindari pria-pria mengerikan di dunia ini, termasuk Lee Donghae.

“Percuma saja. Keuskupan tak akan sudi menerimamu menjadi biarawati, kau mengerti?” Donghae menatapku,

Hahh~, ia bahkan tahu jalan pikiranku?

“Lupakan itu! Bangun dan berhenti bermimpi,” seringaiannya itu yang sejak dulu telah merubahku, aku yang dulunya seorang gadis muda yang sehat bugar dan fresh menjadi gadis penderita darah tinggi akut.

Oppa, bernyanyilah.”

Bi Hye menatap penuh harap pada Donghae. Donghae tersenyum manis, ia mengacak-acak rambut Bi Hye dan mulai memetik senar gitarnya…

__

Do you hear me,
I’m talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I’m trying
__

Donghae mulai menyanyi. Aku menyimak dengan baik petikan gitar dengan perpaduan suaranya. Kuakui, si bodoh itu memiliki suara yang indah dan merdu.

“Donghae, tak bisakah kau menyanyikan lagu lain?” tanyaku dan ia menatapku “Itu lagu duet, kau sangat egois menyanyikannya sendiri,” dengusku.

Ia menatapku seperti sedang berkata ‘apa kau ingin berduet denganku?.

Secepat kilat aku memalingkan wajahku, menghindari tatapan matanya. Aku memang sangat buruk dalam bidang itu dan aku tak ingin menambah daftar ejekan Donghae hanya karena aku memamerkan suara ‘khas’ milikku. Forget it!

Aku tahu suaramu sangat merdu tapi mengapa setiap kali kau hanya menyanyikan lagu itu. Apakah tak ada lagi yang dapat kau nyanyikan selain lagu itu? Donghae, fakta bahwa suaramu sangat indah—itu benar. Tapi, ada fakta lain tentangmu yang tak bisa dipungkiri—kau sangat dungu karena hanya mampu melafalkan sebuah lagu. Berapa banyak IQmu?

__

I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

__

Donghae tak pernah perduli sekalipun aku menjelek-jelekannya, itulah hebatnya dia, berbeda denganku yang paling sebal dan tak pernah tahan jika dilempari cercaan olehnya. Ia terus saja menyanyikan lagu itu. Aku tak ada pilihan lain selain mendengarkan suaranya. Aku bosan tapi aku tak pernah bisa menolak untuk tak mendengarkan suara merdunya.

***

Chongdam High School—aku memandangi gedung di hadapanku, ya inilah aktivitasku. Musim dingin masih belum berakhir, namun keceriaan suasana kian terasa. Aku berjalan menyusuri koridor sekolah. Gadis-gadis bergerombol membicarakan sesuatu yang mungkin menarik. Terserah.

Ada semburat kemerahan di wajah mereka. Kuikuti tatapan mereka dan aku tahu apa yang sedang mereka lihat. Lee Hyukjae. Kurang ajar! Apakah sekarang mereka sedang mengincar Hyukjae?

“Ehm,” aku berhenti tepat di hadapan mereka yang kebingungan memandangiku. “Aku rasa kalian masih ingat masa lalu Hyena,” wajah mereka memucat.

Ck, hebat sekali Song Hyena itu, hanya dengan membayangkan sosok mengerikannya sebelum ia berevolusi menjadi gadis cantik—para gadis itu sudah hampir kehilangan nafas.

“Jadi—jika kalian tak ingin mengalami terror itu, sebaiknya jauhi Lee Hyukjae sebelum Hyena berubah menjadi arwah penasaran karena kehilangan kekasih.”

Detik selanjutnya gadis-gadis itu kabur. Oke, masalah teratasi. Hyun Bi Hyul, kau memang gadis yang sangat hebat. Aku tersenyum puas.

Senyumanku berakhir ketika sebuah tangan telah merangkul mesra pundakku. Aish, idiot ini!

“Jika tersenyum seperti itu, kau terlihat seperti gadis keterbelakangan mental,” Donghae menyengir hebat.

Aku menghentak keras tangannya hingga terlepas dari pundakku dan dengan segera aku berjalan mendahuluinya.

“Senyumanmu sangat buruk, honey,” ia menyusuliku, berjalan di sisiku.

“Donghae—jika kau ke sini hanya untuk mencelaku, sebaiknya kau menyingkir sesegera mungkin,” aku berjalan mendahuluinya dan berhenti tepat di hadapannya. “Apa pedulimu? Ini bibirku, terserah apa yang harus aku lakukan dengan senyumanku.”

Donghae terdiam, menatapku intens. Ia lalu tersenyum.

“Apa kau tak khawatir?”

Apa yang harus aku khawatirkan? Satu-satunya hal yang paling mengkhawatirkan adalah keberadaanmu di sisiku.

“Ini sudah bulan Februari, valentine sudah di depan mata. Sudah berapa tahun kau hidup? Mengapa aku tak pernah melihatmu di dekati pria manapun?”

Sadis. Satu-satunya yang bisa aku simpulkan tentang Donghae. Dia benar-benar bisa membuatku kehilangan kepercayaan diri.

“Hei bodoh, apa kau tak melihat jika setiap tahun lokerku penuh dengan hadiah?” aku tersenyum bangga.

“Ya, tapi hadiah itu dari para gadis,” ia membalas senyumanku sekaligus mematahkan kebanggaanku. “Honey, aku tak rela jika kau berakhir sebagai lesbian. Jika kau butuh bantuan…come to Papa, honey,” senyumannya kian mengembang dan jantungku terpukul.

“Lee Donghae!” hardikku. Mataku mulai perih karena membulat dan semakin lebar—geram mendengar perkataannya. Aku tak terima, ini benar-benar penghinaan besar.

“Jangan memasang tampang seperti itu,” Donghae mencubit pipiku. “Kau sedang cemas? Takut tak seorang pun menyukaimu?”

“Kau gila!”

Aku semakin kesal melihat senyuman Donghae yang terus mekar. Entahlah, mendadak aku mulai merasa cemas. Seumur hidup, bisa kuhitung berapa banyak pria yang tertarik padaku namun pada akhirnya mereka mundur satu per satu dengan dua alasan yang sama. Pertama, aku terlihat jauh lebih tampan dari mereka. Kedua, mereka tak sanggup menanggung tatapan diskriminatif masyarakat yang mengira mereka sedang mengencani seorang pria. Oh God! Aku menyapu kasar wajahku dengan jari-jariku.

“Aku akan mengajarimu bagaimana caranya agar kau diminati oleh para pria,” Donghae berkata sambil setengah tertawa renyah. Diminati? Kata itu kian menyakitkan di telingaku. “Kau akan menyesal!” Donghae memperingatiku ketika aku hendak meninggalkannya.

Aku menarik nafas kasar. Hyun Bi Hyul, bersabarlah. Kali ini kau harus bersabar—ini demi masa depanmu? Aku berbalik, menatapnya. Donghae terlihat puas. Ia berjalan mendekatiku.

“Pertama. Kau harus berubah menjadi seorang wanita yang seutuhnya,” ujar Donghae, aku tak mengerti apa maksudnya. Orang ini sungguh gila, aku ini benar-benar seorang wanita. Donghae mengambil ponselnya dan terlihat menelepon seseorang “Ah, Bi Hye.”

Bi Hye? Mengapa meneleponnya?

“Sekarang juga kau ke kamar Eonni-mu, dan bakar semua pakaiannya!”

Jantungku hampir copot mendengar seruan enteng Donghae. Secepat kilat kusambar ponsel Donghae.

“Hyun Bi Hye! Jika kau melakukannya—kau akan tahu apa yang bisa aku lakukan padamu!” aku langsung mengakhiri sambungan telepon tanpa berusaha mendengar perkataan Bi Hye. Dia pasti akan sangat ketakutan karena ancamanku. “Lee Donghae! Apa maksudmu?”

Membakar pakaianku? Ya Tuhan, semua itu dibeli dengan uang, bukan dengan daun.

“Bukankah kau ingin mendapatkan pacar? Bersikaplah seperti seorang wanita. Kau harus mulai memakai gaun, high heels, riasan tipis di wajahmu—seperti yang dilakukan para gadis.”

Aku langsung terbatuk-batuk. Donghae menepuk-nepuk punggungku.

“Lebih baik kau menyuruhku melompat dari atap sekolah daripada kau memintaku melakukan hal-hal mengerikan itu.”

Donghae menarik nafas kasar.

“Baiklah, masih ada satu cara lagi,” Donghae berkata dengan sangat tenang. Kedua tangannya kembali memegangi pipiku, menarik wajahku. “Senyum,” katanya.

Mataku dan Donghae beradu pandang. Ada sesuatu yang aneh yang mulai menggelitik di permukaan kulitku.

“Kau selalu memasang tampang sangar. Kurasa, itu salah satu alasan mengapa tak ada pemuda yang berani mendekatimu.”

“Kau kira aku tak tahu bagaimana caranya tersenyum?” si bodoh ini membuat urat-urat dalam tubuhku kian menegang.

Donghae menarik pipiku, dan aku rasa wajahku pasti terlihat aneh. Terbukti karena Donghae tertawa renyah melihat hasil karyanya pada wajahku. Aku menepis tangannya dan ikut tertawa. Dia memang sangat bodoh, membuatku tak pernah menikmati hari tenang tapi Donghae selalu bisa membuatku melupakan kemarahanku bahkan tertawa bersamanya setelah ia mengerjaiku seperti saat ini.

Tawa Donghae memudar. Dia tak lagi tertawa, hanya terdiam dengan sorot mata aneh yang tak bisa aku gambarkan. Ia terus menatapku yang masih tertawa. Mendadak dia membuatku seperti orang gila—tertawa seorang diri.

“Ada apa?” tanyaku disela-sela tawa yang sedang berusaha aku redakan.

Donghae tetap mematung dan terus menatapku. Akhirnya aku berhenti tertawa.

“Uhm—itu,” suara Donghae terdengar gugup. Beberapa saat lamanya kami terdiam. “Hyun Bi Hyul! Mengapa ekspresimu seperti itu?”

“Aku? Ada apa dengan wajahku?”

Donghae kembali terdiam.

“Sudahlah. Sebaiknya kau memang tak banyak tertawa. Bi Hyul, jangan pamerkan ekspresi tadi pada lelaki manapun. Kau mengerti?”

Aku hanya mematung melihat Donghae yang menjauh. Situasi apa ini? Dia terlihat sangat aneh. Sekilas kulihat wajahnya sedikit memerah. Apakah dia sedang sakit?

~to be continue~

Don’t forget to leave your comment 🙂

Iklan

328 thoughts on “[Season 2] Winter’s Song (Part 1)

  1. naila berkata:

    Donghae pedes bangettt omongan muuuuu ,., penasaran Hyun bi Hyul ma Dongahae pacara apa engga klu iya gimana ceritanyaaa

  2. KIKI berkata:

    Ah.. aku heran cerita ini ngga ada sedih sedih nya, tapi kenapa setiap baca ejekan Donghae ke Bi Hyul dada rasa nya sesak, sesak sekali. Sepertinya di sakiti saja. Padahal cerita nggak sedih.
    Donghae jangan keterlaluan yah. Sebenarnya Donghae tuh suka kan sama Bi Hyul, jika iya terima apa ada nya dia Hae. Apa dengan lagu itu, Donghae mengungkapkan perasaan nya?? Manis nya 🙂
    Kenapa sih Bi Hyul tomboy tuh.??

  3. gielda audria berkata:

    Well berhubung password blum dapet, kita menclok sana menclok sini aja di pembukaannya yaa 😆😆😆.. Actually, kayanya yg paling mendekati tipe ku itu ya bi hyul… Kalo kata donghae mah pantes ga laku laku 😂😂

  4. hankims_ais berkata:

    Awal aq liat poster’a aq kira kyu ehh pas baca koq kyu gga ada yah? Smpe scroll keatas lgi buat liat poster’a ternyata hae😂

    Huaaa hae beneran suka cuma pinter buat nutupin ..

  5. zcheery berkata:

    Aku punya temen yang cakepnya masa ampun tapi ternyata cewek.-. dan saat mengetahui itu aku hanya bisa diam mematung hahahaha
    Elaah salah siapa gamau ngaku bi hyul nya dari awal hm?
    Percikan cinta yang tidak diterima bi hyul hahaha poor donghae~

  6. Tata berkata:

    Cieeeee yang terakhir hae pasti terpesona tuh sama bi hyul
    Ahhh emang bener, siapa yang mau deketin kalo ujung ujung nya di Kirain gay.
    Hahaha

  7. Taraaa_ berkata:

    Oh, sungguh, aku baru tau ada ‘cewek’ yang kepekaannya kayak gitu -_- Gimana bisa sih dia gak peka kalo Donge gangguin dia tuh karna suka bukannya emang mau jailin dia (?) ._.

    Udah gitu, cie lah baru liat Bi Hyul ketawa aja udah salting gitu.. :v

    ngomong2 maaf ya kak aku bacanya tadi malam, tapi ngekomennya sekarang :3

  8. swy berkata:

    haha ceritanya alucu bgttt, tp ngga nyangka jg sh seirg lee donghae bsa suka sma cwe tomboy, kn biasany dia lbh suka sma cwe feminim, pertengkaran donghae bi hyul lucu, tp kyanya adiknya bi hyul ska sma donghae, akankah ad cinta sgitiga 😀 keep writing ka 😉

  9. Sarti prihatin yb berkata:

    Karena belum tau Password ya bacanya yang gak di proteksi. Kak author tlg konfirmasi fbku ya. Namanya sama dengan id komenku. Donghae sebenarnya suka sama Bi hyul. Apakah dia akan berani jujur mengatakan bahwa ia memiliki perasaan lebih kepada Bi hyul?

  10. Haru berkata:

    Aigo, aku yakin di balik mulut pedas d0nghae pasti bnyak yg d sembunyikan. Setiap yg terucap adalah palsu, dan kebalikannya adalah kebenaran.

  11. Fay berkata:

    hai, eonni aku reader baru salam kenal ^^
    ini ff pertama yg aku baca diblog ini…

    kasihan bi hyul msh muda hrs kena darah tinggi gara” ngadepin donghae 😀
    waaahhh donghae disini omongannya sadis ya sama bi hyul, sbenernya donghae itu udh suka sm bi hyul atau blm ya solnya sering gangguin bi hyul trus….
    bi hyul bakalan suka ga ya sm donghae?? smoga bi hyul bisa berubah jdi bner” kyk perempuan walau hanya sedikit…
    eonni aq minta pwnya ya…

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s