[Season 3] Spring In Memory (Part 2)

Season 3 (Part 2)Main Cast : Cho Kyuhyun & Kang Min Kyung

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

***

Season 3 – Spring In Memory (Kang Min Kyung’s story)

***

Chongdam High School.

Min Kyung terus membolak-balik halaman buku yang sedang dibacanya. Ia berpura-pura tak melihat ketiga sahabatnya yang sedari tadi mengernyitkan kening mereka karena berbagai rasa penasaran.

“Min Kyung, mengapa kau diam saja?” Hyena membuka percakapan.

“Apa?” Min Kyung bertanya tanpa menoleh sedikit pun pada tiga gadis yang rasa penasaran mereka sudah melebihi rasa penasaran terhadap kapan kiamat akan datang.

“Pertemuan itu? Kau sudah bertemu langsung dengan tunanganmu?” selidik Bi Hyul.

“Hmm,” jawaban yang diberikan oleh Min Kyung hanyalah sebuah gumamam pelan.

“Benarkah?” Hyori memajukan wajahnya. “Bagaimana? Seperti apa dia?”

Konsentrasi Min Kyung langsung buyar. Seperti sebuah virus yang menyerang sstem kekebalan tubuhnya ketika kepalanya kembali teringat pada wajah tenang dan tampan itu.

“Apa maksudmu?” Min Kyung berpura-pura tak mengerti.

“Bodoh” Hyori mendesis, “Pendapatmu tentangnya?”

“Apa lagi yang perlu diperjelas? Kang Min Kyung tak memiliki alasan untuk menolak tunangannya itu,” Bi Hyul terkekeh. “Semenakutkan apa pun Min Kyung jika marah—ia tak bisa menyaingi permainan trik Ibunya,” lanjut Bi Hyul diikuti oleh cengiran tajam Hyori dan Hyena.

“Kalian bisakah tidak mengganggu konsentrasiku?” Min Kyung mencoba mengendalikan dirinya.

“Min Kyung, siapa namanya?”

“Siapa?”

“Kau kira aku sedang menanyakan nama penemu bola lampu?” Hyori mendesis. “Tentu saja nama tunanganmu yang menggemaskan itu”

“Hyori, bisakah kau tak menyebutkan kata menggemaskan untuknya? Bagiku dia tak sedikit pun terlihat menggemaskan,” Min Kyung menggeram. “Kyuhyun. Namanya Kyuhyun—Cho Kyuhyun. Puas?” Min Kyung memutuskan menjawab pertanyaan itu, ia tahu bahwa tiga gadis bodoh itu tak akan menyerah.

“Kyuhyun, nama yang bagus,” ujar Hyena.

“Baiklah Nyonya Cho—ceritakan lebih detail tentang Tuan Cho”

“Song Hyori!!” Hardik Min Kyung. “Jika kau memanggilku seperti itu lagi, kupastikan kau akan menyesal pernah terlahir di dunia,” mata Min Kyung yang berkilat-kilat cukup membuat ketiga sahabatnya itu berpaling, seolah-olah tak mendengar apapun yang dikatakan olehnya. “Aku tak ingin membicarakan itu, sebaiknya kalian mempersiapkan diri untuk jam pelajaran selanjutnya,” Min Kyung meraih buku lainnya dari laci meja.

Bi Hyul, Hyori dan Hyena hanya melengos kesal. Sangat mustahil untuk memaksa Min Kyung. Seorang siswi yang baru saja memasuki kelas dengan terburu-buru menghampiri Min Kyung.

“Kang Joo, ada apa?” Min Kyung bertanya heran melihat gadis itu belum bisa bersuara, ia terlihat shock.

“Demi apa pun yang ada di dunia. Min Kyung, siapa pemuda tampan itu?” Tanya Kang Joo. Alis Min Kyung saling bertaut. “Astaga—aku bahkan hampir kehilangan kesadaran melihat orang itu.”

“Lee Kang Joo, apa Shinee sedang berkunjung ke sekolah kita?” tanya Hyori.

Kang Joo hanya mendesis menatap Hyori, ia lalu kembali fokus pada Min Kyung.

“Dia bahkan menegurku,” Kang Joo lalu melipat kedua tangannya di bawah dagunya, “Kau yang di situ, apa kau mengenal gadis pemarah Kang Min Kyung? Katakan padanya bahwa Cho Kyuhyun sedang menunggunya di gerbang!” Kang Joo sepertinya sedang menirukan ucapan orang itu.

“Haishh!!” Min Kyung naik pitam.

“Cho Kyuhyun?” gumam ketiga sahabat Min Kyung. “Bukankah itu nama tunanganmu?”

“Tunangan??” Kang Joo mendelik.

“Kalian!!” Min Kyung menatap tajam pada ketiga sahabatnya yang kembali mengalihkan tatapan mereka. Min Kyung lalu menoleh pada Kang Joo yang sedang berpikir keras, “Bukan apa-apa” elak Min Kyung.

“Dia bahkan sangat mengenal watak Min Kyung. Benar-benar romantis,” ucapan Hyori kembali menghasilkan tatapan takjub mendelik dari ketiga gadis lainnya.

“Tutup mulutmu!” ancam Min Kyung.

“Kau tak akan menemuinya?” tanya Hyena.

“Lupakan saja,” jawab Min Kyung santai, ia kembali meraih buku dan melanjutkan kegiatan membacanya. “Kalian bertiga—jangan sekalipun bergerak meninggalkan tempat duduk kalian!” Min Kyung kembali mengancam ketika melihat gelagat aneh ketiga sahabatnya.

“Min Kyung, aku mau ke toilet,” ujar Hyori.

“Baru lima menit yang lalu kau ke toilet,” tukas Min Kyung.

“Donghae baru memanggilku,” Bi Hyul memberikan alasannya.

“Sejak kapan kau perduli jika Donghae Oppa memanggilmu?” Min Kyung balik bertanya. “Dan kau Hyena—jangan menciptakan alasan apa pun. Kalian tak kuijinkan bergeser sedikitpun dari situ,” kata Min Kyung lagi.

Ketiga gadis itu bersandar lesuh. Min Kyung tahu bahwa mereka pasti akan segera meluncur ke gerbang sekolah untuk melihat Cho Kyuhyun.

Ponsel Min Kyung bergetar. Sebuah pesan baru. Nomor yang belum ada dalam daftar kontaknya.

Ajumma—sebaiknya kau menemuiku, sekarang juga!

BRAAKKK!!

Min Kyung memukul meja dengan sangat keras, ia tahu siapa yang baru saja mengiriminya pesan singkat itu.

“Gadis ini pasti sudah gila,” desis Bi Hyul. “Kau hampir membuat kami serangan jantung.”

Min Kyung memamerkan ketidaksenangannya. Gadis itu meletakkan ponselnya begitu saja, dan berusaha untuk kembali fokus pada buku yang sedang dibacanya.

Beberapa menit waktu berselang ketika ponselnya kembali bergetar. Ia melihat identitas si pemanggil dan dengan malas-malasan menjawab panggilan itu.

“Ini aku.”

Kang Min Kyung! Sejak kapan kau menjadi gadis yang tak memiliki sopan santun? Apa kami tak pernah mengajarkanmu tata krama??

“Ibu, ada apa? Mengapa kau memarahiku?” Min Kyung terkejut karena tak ada badai maupun hujan, Ibunya langsung mencercanya habis-habisan.

Menantu Cho sudah menunggumu sejak tadi. Mengapa kau tak menemuinya?

“APAA?” Min Kyung hampir tersedak. “Ibu—tadi kau menyebutnya apa? Dan dia mengadu padamu?” Min Kyung terlihat tak percaya. “Ibu, apa ini masuk akal?”

Temui menantu Cho sekarang juga! Atau aku akan mencoretmu dari daftar keluarga!!

“Ibu, barusan kau mengatakan apa? Menantu Cho? Ibu…kau merasa tak berlebihan???”

Tutttt….

Nyonya Kang telah memutuskan sambungan telepon. Tubuh Min Kyung bergetar hebat. Ketiga sahabatnya hanya saling pandang.

“CHO KYUHYUUUUUUN!!!!” teriak Min Kyung keras, ia mengepal tangannya keras-keras “AKAN KUBUNUH KAU SEKARANG JUGA!!” Min Kyung langsung beranjak keluar kelas. Ketiga sahabatnya segera mengikutinya.

Mereka bahkan hampir bertabrakan dengan Siwon yang baru saja hendak memasuki kelas. Langkah Hyori terhenti, arahnya berubah hendak mengikuti Siwon kembali ke dalam kelas ketika Hyena dan Bi Hyul menarik kerah bajunya memaksanya untuk ikut dalam pengejaran Min Kyung.

“Hyena, ada apa?” tanya Hyukjae ketika mereka melewati kelas Hyukjae. Pemuda itu sedang bercakap-cakap dengan Donghae.

“Min Kyung.. dia…,”

“Ah, sebaiknya kalian amankan dia,” Donghae mengangguk paham. “Gadis pemarah itu, selalu bermasalah dengan hormonnya,” Donghae menjelaskan pada Hyukjae, mereka hanya memandangi Bi Hyul dan si kembar yang terburu-buru mengikuti langkah kaki Min Kyung.

Mereka akhirnya sampai di gerbang depan sekolah. Mata Min Kyung menyisir kasar seluruh tempat itu, mencari sosok yang telah membuat amarahnya meledak-ledak. Namun Cho Kyuhyun tak terlihat di situ, sebaliknya—seorang anak berseragam sekolah dasar baru saja menampakkan wajahnya dari balik gerbang.

“Hei, bukankah dia tunanganmu?”

Ketiga gadis itu memang tak tahu jika yang menjadi tunangan Min Kyung adalah kakak dari si anak kecil itu. Min Kyung menghampiri In Ha.

“Ah~ jadi ini sekolahmu?” In Ha mengawasi wajah Chongdam.

“Di mana si brengsek itu?”

“Sudah pergi!” jawab In Ha santai.

“Aku akan membuat perhitungan dengannya. Beruntung sekali hari ini dia lolos,” Min Kyung seakan berkata pada dirinya sendiri.

“Adik kecil—jadi kau tunangan Min Kyung?” Hyena mengernyit.

“Apa? Tunangan gadis sinting itu?” In Ha mendelik. “Apa aku sudah gila?”

Min Kyung memelototkan matanya pada In Ha.

“Kalian tak jadi bertunangan?”

“Haishh, gadis-gadis bodoh ini adalah temanmu?” pertanyaan In Ha hampir saja membuat Bi Hyul mengeluarkan jurus-jurusnya. “Aku tak gila tapi Hyung-ku yang gila karena mau bertunangan dengan gadis itu.”

“Jadi—bukan kau orangnya?” Hyori bertanya untuk meyakinkan.

“Aku masih ingin hidup lebih lama,” jawab In Ha santai.

“Lalu, yang bertunangan dengan Min Kyung bukan kau? Namamu bukan Cho Kyuhyun?” Hyena terlihat penasaran

“Aku In Ha. Cho In Ha—adik dari pemuda malang yang harus menerima nasibnya ditunangankan dengan gadis itu.”

“Haissh,” Min Kyung menjitak kasar kepala In Ha. “Lalu untuk apa kau berada di sini?”

Hyung tak mengatakan apa pun padamu?”

“Apa?” Min Kyung tak mengerti

Ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan baru.

Hari ini kuserahkan In Ha padamu. Kau harus menjaganya dengan baik. Ah, dia memiliki watak yang unik, bersabarlah dengannya—ajumma, semangat! ^^

Min Kyung tak percaya ketika membaca kalimat itu. Bi Hyul dan si kembar yang penasaran ikut membaca pesan itu, “Aku benar-benar ingin membunuhnya. Ke mana kakakmu pergi?”

“Aku tak tahu,” jawab In Ha singkat.

“Mengapa kau tak pulang saja? Ayah dan Ibumu pasti cemas.”

“Mereka sedang ke luar negeri. Jika Hyung tak ada, aku hanya ditemani para pelayan—itu sangat membosankan.”

“Lalu mengapa kau di sini—sebaiknya kau pergi.”

“Apa kau sebegitu bodohnya? Aku juga tak ingin berada dekat denganmu, tapi Hyung yang membawaku ke sini.”

“Kau benar-benar tak sopan.”

Noona,” ucapan In Ha cukup mengejutkan Min Kyung, membuat amarah Min Kyung berkurang nol koma sekian persen. “Ah, kau pasti tersentuh karena aku memanggilmu seperti itu. Perlu kutegaskan satu hal agar kau tak salah paham. Demi keselamatanku maka kuputuskan untuk memanggilmu seperti itu—Noona,” In Ha tersenyum.

“Haissh, anak ini!” Min Kyung menggeram. “Kalian—berapa tahun aku harus hidup di penjara jika aku membunuh dua orang?”

Seketika itu juga Bi Hyul dan si kembar langsung berpura-pura saling bercakap-cakap seakan tak mendengar apa pun yang ditanyakan oleh Min Kyung.

“Baiklah Noona. Hari ini kuserahkan keselamatanku padamu. Kau harus memastikan tak terjadi sesuatu yang buruk padaku. Kau harus tahu bahwa tubuhku adalah asset yang sangat berharga—mengerti?” In Ha berujar santai. Ia berpaling dan berjalan membelakangi mereka.

“Cho In Ha. Mau ke mana kau?”

“Kemanapun asal tidak di tempat membosankan ini. Kau tak ingin ikut?”

“Aku harus sekolah. Jam pelajaran belum usai,” jawab Min Kyung.

“Tapi tidak denganku, aku sudah bebas jam pelajaran. Jangan lupa hari ini kau bertanggung jawab sepenuhnya terhadapku,” ujar In Ha yang tetap berjalan meninggalkan Min Kyung.

Min Kyung menggigit bibir bawahnya karena terlalu kesal. Ia mengepal tangannya kuat-kuat. Tampaknya tak ada pilihan lainnya baginya.

Dimulailah petualangan empat orang gadis semi autis itu dengan anak kecil bermulut ajaib. In Ha selalu mengajukan permintaan-permintaan yang cukup menguras kesabaran mereka terutama Min Kyung. Setelah berjam-jam berkeliaran di Lotte World, In Ha memaksa agar mereka menuju ke kebun binatang.

“Kang Min Kyung—bagaimana jika kita singkirkan anak itu?” Bi Hyul hampir pingsan di kursi panjang yang didudukinya. Sudah dua jam mereka mengelilingi kebun binatang.

“Silahkan saja, aku tak perduli lagi,” ujar Min Kyung, ikut duduk di sisi Bi Hyul.

Hyori dan Hyena tak kalah lesuh, wajah mereka yang berkeringat terlihat seperti orang yang dehidrasi berat.

“Menemani setan kecil itu, aku lebih memilih menghabiskan liburan dengan belajar,” Hyori mendesah, mengebas-ngebas kedua tangannya di wajahnya yang memerah.

“Song Hyori, jika aku melihatmu menghabiskan liburanmu dengan belajar—akan kurayakan pesta untukmu semeriah perayaan tahun baru,” ledek Bi Hyul.

“Ah—Min Kyung, aku tak bisa membayangkan masa depanmu,” Hyena menggeleng, merasa ngeri jika selalu berada di dekat In Ha. “Bagaimana mungkin dia merengek memintaku ikut bergabung untuk memberi makan singa-singa kelaparan itu?” seluruh permukaan kulit Hyena menebal. “Apa yang kalian tertawakan?” Hyena kembali bertanya ketika ketiga gadis lainnya meringkik pelan.

“Tidak,” jawab Hyori.

Hyena hanya menarik nafas tak mengerti dengan tingkah ketiga orang itu. Meskipun tak saling mengeluarkan suara namun tampaknya jalan pikiran tiga gadis itu sama.

Hyena yang malang tak menyadari bahwa mereka sedang membayangkan jika saat ini Hyena belum berevolusi menjadi gadis cantik, mungkin saja singa-singa itu dengan sukarela merubah gaya hidup mereka menjadi singa vegetarian ketika melihat sosok menyeramkan Hyena dulu.

Saudara kembarnya—Hyori, bahkan memikirkan sesuatu yang lebih konyol lagi. Gadis itu bahkan telah membayangkan kemunculan Hyena di kandang singa sebelum gadis itu berevolusi akan mengakibatkan awal mula lahirnya legenda singa pembasmi iblis.

Tawa ketiga gadis itu kembali pecah—masing-masing dengan apa yang ada di pikiran mereka.

“Ada apa?” Hyena bertanya dengan tampangnya yang sangat polos—tanpa dosa.

“Ah tidak apa-apa—lupakan saja,” jawab Min Kyung mengulum senyumnya. Raut wajah Min Kyung menenang, pikiran sedang berkelana. “In Ha yang menyebalkan, dan aku masih harus berhadapan dengan Kyuhyun. Hidupku seperti neraka,” ia menarik nafas dalam-dalam.

“Mengapa?” Bi Hyul mengernyit.

“Hyun Bi Hyul. Menghadapi In Ha kalian tahu seperti apa rasanya?” pertanyaan Min Kyung dijawab dengan anggukan kepala ketiga gadis lainnya “Bayangkan jika aku harus bertemu evil brother itu. Kyuhyun dan In Ha itu 11-12.”

“Benarkah?” Meskipun Hyena dan Hyori bukanlah kembar identik namun kali ini ekspresi yang dihasilkan kedua gadis itu sama persis. Mendelik dasyat.

“Oii..!!”

Perhatian keempat gadis itu tertuju pada In Ha yang telah memangku tangan di hadapan mereka.

“Oii??” terjang Min Kyung. “Kau memang tak punya sopan santun.”

“Aku lapar,” ujar In Ha. “Dan rasa lapar mengurangi kadar kesopananku,” anak itu memamerkan senyum iblisnya.

“Kalian…di mana toko terdekat yang menjual racun?” bisikan Hyena membuat ketiga gadis lainnya terkejut.

“Hyena—kumohon jangan kembali hidup dalam kegelapan,” Hyori memegangi tangan adiknya, menatap dalam dengan tatapan yang sangat serius.

Eonni. Aku hanya kesal pada anak itu,” desis Hyena.

“Syukurlah,” serempak ketiga gadis itu mengelus dada.

“Baiklah Tuan Muda. Isilah perutmu sepuas-puasnya,” Min Kyung mendesah.

Noona, kau bercanda?” wajah In Ha menegang melihat tatapan Min Kyung tertuju pada jajanan pinggir jalan. “Aku tak bisa mempercayai kehigenisan tempat-tempat seperti itu. Ingat, tubuhku adalah asset berharga,” In Ha bergidik sendiri.

~~~

Berbagai hidangan mewah telah memenuhi meja panjang di sebuah restaurant mahal. In Ha terlihat puas memandangi segala jenis hidangan itu, ia lalu mulai menyantap makanan itu. Terlihat sangat lahap.

“Kalian tak makan?”

In Ha memandangi Min Kyung, Bi Hyul, Hyori dan Hyena yang masih mematung dengan tampang bego.

“Aku yakin itu sangat enak,” air liur Hyori hampir menetes.

Min Kyung dengan takut-takut membuka dompetnya, gadis itu nyaris pingsan melihat isi dompetnya yang tersisa beberapa lembar uang dengan nominal kecil.

Bi Hyul menggeleng ketika tatapan Min Kyung tertuju padanya. Bi Hyul memang tak pernah sukses menyisihkan uang jajannya. Harapan Min Kyung hanyalah si kembar.

“Min Kyung, Ayah dan Ibu tak pernah mengijinkan kami memegang banyak uang,” Hyori terkekeh pelan.

“Arghh!!” Min Kyung menarik kasar rambutnya sendiri. Dia sangat frustasi.

Ia kini menatap In Ha yang masih dengan lahapnya menyantap makanan lezat tersebut. In Ha tak memikirkan bahwa harga makanan itu membuat Min Kyung ingin mengakhiri hidup.

“Cho In Ha—kau bisa menelan makanan itu dengan nikmat?” di mata Min Kyung, yang ditelan In Ha adalah lembaran uang yang sangat banyak.

Noona, berhenti mengoceh dan makan saja,” jawab In Ha santai.

“Min Kyung, kurasa kita harus berakhir dengan menjadi pelayan di restaurant ini,” ujar Hyena.

Restaurant semewah ini, mereka tak akan menerima pekerja paruh waktu. Persiapkan diri kita—mereka pasti akan menjebloskan kita ke penjara,” Hyori mendelik.

“Kau tak bisakah menggunakan kekuasaan keluargamu yang kaya?” Bi Hyul terlihat emosi. “Lagi pula, anak kecil ini—bagaimana bisa dia memeras kita seperti ini? Kurasa di dekat sini ada tempat penggadaian, kita gadaikan saja bocah itu.”

Keempat gadis itu berpikir keras. Mereka kehilangan selera makan meskipun makanan di hadapan mereka sangatlah menggiurkan.

“Makan saja. Jangan berpikir. Kalian akan kehilangan banyak gizi di tempat penuh makanan seperti ini,” ujar In Ha sambil terus menikmati makanannya.

Mereka melengos. Perut mereka mulai bernyanyi riang.

“Ya. Lagipula makanannya sudah terlanjur dipesan, sangat mubazir jika tak dimakan,” Min Kyung menarik nafas, ia mulai memegangi peralatan makan miliknya. “Mari kita makan. Setidaknya kita harus menambah tenaga kita. Bagaimana cara membayarnya, kita pikirkan nanti,” Min Kyung menyuap makanan ke dalam mulutnya—menjejalkan makanan memenuhi rongga mulutnya.

Ketiga gadis lainnya setelah mendengar penuturan Min Kyung langsung melupakan petaka yang menghadang di depan. Mereka makan sepuas-puasnya.

Giliran In Ha yang mendesah lirih melihat tingkah keempat gadis itu. Ia prihatin melihat gadis-gadis kelaparan itu. Ia tak tahu jika sebenarnya saat ini rasa marah lebih mendominasi rasa lapar mereka dan makanan-makanan itu hanyalah pelampiasan saja. Min Kyung makan dengan mata yang berkaca-kaca, tak menyangka betapa ngerinya harga makanan itu.

Gerakan keempat gadis itu melambat, perut mereka sudah terisi penuh. Mereka terdiam dan memandangi sosok lain yang telah berdiri di situ. Min Kyung mendesis, berbeda dengan Bi Hyul dan si kembar yang tak berkutik dengan mata yang kian membulat.

Hyung, mengapa kau begitu lama?” In Ha memamerkan kekesalannya pada Kyuhyun tetap bersikap tenang.

Hyung?” Bi Hyul, Hyori dan Hyena mengulangi perkataan In Ha, mereka menatap Kyuhyun yang tak bergeming. “Dia Hyung-mu?” ulang mereka sambil menelan ludah kasar.

“Tak bisakah kau pulang sendiri?” Kyuhyun menatap In Ha.

“Tidak mau. Kau yang menelantarkanku, membuatku menderita karena gadis-gadis ini—jadi, kau harus menjemputku,” ujar In Ha.

Sebuah steak melayang di udara, melaju kencang kepada Kyuhyun. Pemuda itu memiringkan tubuhnya menghindari daging terbang itu.

“Cho Kyuhyun brengsek!” emosi Min Kyung telah memuncak, “Kalian benar-benar ingin mati?”

“Cho Kyuhyun???” Bi Hyul dan si kembar masih mematung—terus menatap Kyuhyun dengan mata yang tak berkedip. “TUNANGANMU???” detik selanjutnya hanya teriakan histeris yang keluar dari mulut ketiga gadis itu.

“HAISSH!!!” Min Kyung menerjang kasar pada tiga gadis bodoh itu.

“In Ha, ayo kita pergi. Aura di sini sangat tak bersahabat,” ujar Kyuhyun. Bergegas In Ha melompat dari tempat duduknya.

“Kyuhyun,” Min Kyung mencegah kepergian Kyuhyun dan In Ha. “Kau akan pergi begitu saja?”

Kyuhyun tak bergeming. Tetap tenang menatap Min Kyung.

“Kau tak melihat semua ini?” Min Kyung menunjuk meja yang penuh dengan makanan.

“Kau mengira aku buta?” Kyuhyun balik bertanya,

“Baiklah. Kurasa kau mengerti,” ujar Min Kyung.

“Tentang apa?” Alis Kyuhyun berkerut tipis. “Ah—kau menyuruhku membayar semua tagihan makanan?”

Min Kyung tersenyum, mengangguk pelan.

“Aku tak mau!” Kyuhyun menolak dengan tegas, “Mengapa aku harus membayarnya?”

“Cho Kyuhyun, tanyakan pada adikmu. Dia memesan semua makanan seenaknya!”

“In Ha. Benarkah itu?” tatapan Kyuhyun teralih pada In Ha.

“Iya,” jawaban In Ha membuat senyum Min Kyung mengembang, “Aku hanya memesan, tapi keempat gadis bodoh itu yang menghabiskannya.” lanjutnya lagi.

“Kau!!” hardik Min Kyung.

Bingo. Kalau begitu tak ada alasan bagi kita untuk tetap berada di sini,” Kyuhyun berpaling diikuti oleh In Ha.

“Cho Kyuhyun! Mau kemana kau?” Min Kyung telah kehilangan kesabarannya.

“Oh ya, terima kasih sudah menjaga In Ha. Sampai jumpa, Ajumma,” Kyuhyun tersenyum tipis sebelum menghilang dari balik pintu.

Sekuat tenaga Bi Hyul, Hyori dan Hyena menahan Min Kyung yang telah siap melayangkan sebuah piring.

“Kau gila?” Bi Hyul mendadak naik pitam,“Kita sudah hampir tak bisa membayar makanan tadi. Kau masih ingin menghancurkan piring ini?”

Min Kyung melemas. Ia kembali terduduk, memijit-mijit keningnya. Gadis itu terlihat sangat frustasi.

“Min Kyung—kau tak mengatakan bahwa orang yang menjadi tunanganmu adalah pangeran Anyang-mu itu?” Hyori memandangi Min Kyung dengan sangat lekat. “Melihat wajahnya, kau harus mengabaikan sikapnya.”

“Song Hyori. Aku bukan kau,” tuding Min Kyung.

“Seperti drama—kau bertunangan dengan orang yang kau sukai,” Bi Hyul terkekeh.

“Sudah kukatakan—aku telah membuang perasaanku karena sikapnya yang sangat menyebalkan,” Min Kyung berkilah, “Dan jangan mengaitkan hidupku dengan drama,” gadis itu mempertegas ucapannya.

“Nyatanya, drama adalah cerminan hidup manusia,” Hyena berujar pelan, ia meneguk sekali minuman dalam gelasnya.

“Sudahlah, jangan membahas apa pun lagi. Sekarang yang harus kita pikirkan, bagaimana caranya kita keluar dari tempat ini dengan aman.”

“Maksudmu kita melarikan diri?”

“Bodoh!” Min Kyung menarik nafas kasar. “Kau tak bisa membaca makna lain dari kalimatku tadi? Keluar dengan aman sama artinya mencari cara untuk membayar semua tagihan.”

Seorang pelayan berpakaian sangat rapi memasuki ruang VVIP restaurant itu, tempat di mana Min Kyung dan ketiga sahabatnya masih berpikir keras mencari cara untuk melunasi tagihan makanan yang harganya mungkin selangit.

Pelayan itu tersenyum sangat ramah kepada keempat gadis yang jantungnya sedang melompat-lompat kasar.

“Semoga kalian menyukai hidangan tadi,” ujar pelayan itu dengan sopan.

“I, iya,” jawab mereka bersamaan. Gugup.

“Maaf,” Min Kyung mencoba bersuara. “Bolehkah aku tahu berapa jumlah tagihan dari semua makanan ini?”

“Ah…tentu,” pelayan itu terlihat menghubungi seseorang dan beberapa menit kemudian seorang pelayan lainnya memasuki ruangan itu dengan membawa sesuatu yang terlihat seperti sampul buku agenda. Ia menyerahkan benda tersebut pada pelayan wanita itu dan berlalu meninggalkan ruangan.

Pelayan itu menyodorkan benda itu pada Min Kyung dan diterima Min Kyung dengan degub jantung yang terpukul kencang. Ia mendapati sebuah bon terdapat di dalamnya. Mata Min Kyung langsung tertuju pada baris paling akhir.

Kang Min Kyung terpekik hebat. Lehernya seperti tercekik, ia kehabisan nafas. Ketiga gadis lainnya tak kalah terkejutnya. Wajah mereka menjadi pucat pasi. Harga makanan itu diluar perkiraan mereka. Harga yang luar biasa mahal. Min Kyung tersedak, ia memukul-mukul dadanya. Hyena menyodorkan minuman yang langsung habis diteguk Min Kyung.

“Nona, kau baik-baik saja?” pelayan itu terlihat cemas.

“Tidak, tidak apa-apa,” Min Kyung mencoba mengendalikan dirinya meskipun saat ini ia hampir menangis. “Maaf, sebenarnya…bolehkah kami…,” gadis itu menarik nafas berkali-kali.

Beberapa menit kemudian…

Keempat gadis itu telah berganti seragam. Mereka tampak sibuk di bagian lain restaurant berkelas itu. Keempat gadis itu mulai mencuci semua piring, gelas, apa pun itu—semua peralatan yang kotor.

Min Kyung memasang wajah angkernya. Sedari tadi ia terus menahan kegeramannya terhadap kakak beradik Cho yang telah diluar kendali.

“Kang Min Kyung—berhati-hatilah dengan benda-benda itu,” tegur Hyena ketika Min Kyung begitu kasar memperlakukan benda-benda di tangannya, “Kau ingin menambah jam perbudakan kita di sini?”

“Aku tahu,” jawab Min Kyung malas.

“Hyun Bi Hyul. Mengapa kau hanya memandangi kami?” Hyori mendelik, menatap kesal pada Bi Hyul yang terlihat ragu mencuci piring.

“Terakhir kali, Ibu memaksaku melakukan pekerjaan pembersihan seperti ini—dan itu berakhir dengan pecahnya selusin piring antik milik Ibu,” Bi Hyul terkekeh pelan.

“Kau memang tak bisa diandalkan!” gumam Min Kyung menggeleng sadis, “Jangan sentuh apa pun!”

“Tentu saja,” senyum mekar mengembang di sudut bibir Bi Hyul.

Hampir jam sepuluh malam ketika keempat gadis tersebut bertukar pakaian ke seragam sekolah mereka. Hari ini mereka mengalami kesialan bertubi-tubi. In Ha yang membuat mereka harus membolos di beberapa jam pelajaran, belum lagi kaki mereka yang rasanya setebal kaki gajah karena terus dibawa In Ha ke beberapa tempat dan terakhir mereka harus menjadi pencuci piring karena tak mampu membayar tagihan makanan mewah yang dipesan In Ha.

Mereka segera menemui pelayan wanita tadi, yang ternyata merupakan kepala pelayan di restaurant tersebut.

“Nona, kalian pulang dan beristirahatlah,” ujar pelayan itu.

“Maaf, kalau boleh tahu—sampai kapan kami harus bekerja di sini?”

“Maaf?” pelayan itu mengernyit.

“Tagihan itu, berapa lama kami harus bekerja untuk melunasi seluruh tagihan makanan tadi?”

Pelayan itu tersenyum.

“Nona, tampaknya terjadi kesalahpahaman di sini,” Pelayan tersebut berkata dengan sangat tenang. “Kalian tak perlu membayar makanan tadi.”

Keempat gadis itu saling berpandangan. Tak mengerti.

“Maksud Anda, kami tak perlu membayar untuk semua makanan itu?” Bi Hyul bertanya, tak yakin dengan apa yang di dengarnya. “Apakah itu semua gratis?”

Pelayan itu hanya tersenyum tipis.

“Mungkinkah Kyuhyun sudah membayar semua tagihan tadi?” selidik Hyena.

“Kalian datang ke sini bersama Tuan Muda.”

“Tuan Muda?”

“Kalian teman-teman Tuan Muda Cho, bukan begitu?”

“Sejak kapan duo evil itu menjelma sebagai Tuan Muda?” Min Kyung bergumam pelan. “Permisi—tapi yang Anda maksud dengan Tuan Muda Cho itu si iblis Kyuhyun dan adiknya, si setan In Ha?”

Pelayan tersebut tersenyum aneh mendengar pertanyaan Min Kyung. Sementara keempat gadis itu kini mulai bermain dengan detak jantung mereka.

“Orang tua Tuan Muda adalah pemilik tempat ini.”

“APAAA??”

Mereka menjerit heboh setelah menerima kenyataan itu.

“Tempat ini…,” Min Kyung mulai gemetar.

“Lalu, mengapa tadi kami harus mencuci piring?” tanya Hyena.

“Aishh!” Min Kyung menggigit bibir bawahnya, kebiasaannya ketika sedang menahan kegeraman. “Seharusnya kau mengatakan bahwa makanan-makanan itu tak perlu kami bayar!” ia justru melempar amarahnya pada pelayan yang semakin kebingungan.

“Nona,” pelayan itu mulai gugup. “Tadi—sebelum aku mengatakan apapun, kalian justru menawarkan diri untuk bekerja di sini. Sebenarnya permintaan kalian tidak bisa dipenuhi, tapi aku hanya mengikuti perkataan Tuan Muda Cho Kyuhyun bahwa kalian akan menawarkan diri untuk bekerja di sini dan Tuan Muda memintaku untuk tidak menolak kebaikan hati kalian.”

“ARGGHH!! CHO IBLIS!!!” keempat gadis itu berteriak histeris sambil mengepal tangan mereka.

~.oOo.~

Min Kyung sedang membenamkan wajah di balik tangannya yang terlipat di atas meja. Ia lalu mengubah posisinya. Bersandar lesuh di kursi miliknya. Kembali berpikir sejenak, gadis itu lalu menarik sebuah buku dari dalam laci meja belajarnya. Ia mulai membolak-balik lembar demi lembar buku tersebut, mencoba mengkonsentrasikan dirinya.

Gadis itu akhirnya hanya menghela nafas dalam-dalam. Buku itu kembali terbiarkan terbuka begitu saja di atas meja. Wajah Min Kyung berubah kesal, ia lalu membentur-benturkan dahinya di permukaan meja.

“Kang Min Kyung!”

Min Kyung mengangkat wajahnya. Hyori, Hyena dan Bi Hyul baru saja memasuki kelas.

“Ada apa?” Min Kyung kebingungan melihat ketiga sahabatnya itu memandanginya lekat-lekat, tersenyum penuh sejuta arti yang tak bisa diterka oleh Min Kyung.

“Bagaimana kau bisa menyembunyikan kenyataan itu dari kami?” Hyori menyikut-nyikut pelan lengan Min Kyung.

“Isshh..kau bertingkah seperti ini sungguh sangat mengerikan,” ujar Min Kyung.

“Min Kyung, hidupmu benar-benar seperti drama yang sering kutonton,” ujar Hyori lagi.

“Berapa kali harus kukatakan—jangan sangkut pautkan aku dengan drama-drama tak masuk akal itu!”

“Kang Min Kyung, katakan dengan jujur. Apa kau tahu siapa sebenarnya tunanganmu itu?” selidik Hyena.

“Pertanyaan bodoh. Tentu saja aku tahu dia—Cho Kyuhyun.”

“Kami tak menanyakan namanya,” ujar Bi Hyul. “Latar belakang keluarganya. Kau pasti tahu itu, bukankah orang tua kalian sangat akrab?”

“Orang tua kami memang akrab, tapi bukan berarti kami juga akrab. Lagi pula apa peduliku?” Min Kyung berujar santai.

“Kang Min Kyung, kau bercanda?” Hyori mendesis tak percaya, “Kau ini gadis yang bertemperamen sangat buruk dan kami hampir bertaruh bahwa tak seorangpun yang sudi mendekatimu tapi kau ternyata kau beruntung.”

“Beruntung? Tolong kalian bisa membedakan dengan benar—bagiku itu adalah kesialan.”

“Min Kyung, kau tahu jika keluarga Kyuhyun bukan keluarga sembarangan?”

“Hmmm…aku rasa dia berasal dari keluarga yang cukup kaya mengingat restaurant mewah itu adalah milik mereka,” tebak Min Kyung.

“Bukan hanya itu, mereka masih memiliki puluhan restaurant mewah lainnya,” ujar Hyena.

“Jaringan hotel berbintang dan pusat-pusat berbelanjaan yang tersebar di seluruh Korea Selatan,” terang Hyori. “Royal Group.”

“Royal Group?” Min Kyung mencoba menyimak.

“Kakek Kyuhyun adalah pendiri Group itu. Saat ini Ayah Kyuhyun, Cho Seung Jae menjabat sebagai Presiden Royal Group—mereka adalah Chaebol, pemilik Royal Group dan Cho Kyuhyun merupakan generasi ketiga penerus utama kepemilikan Royal Group,” Bi Hyul menambahkan dengan berapi-api.

“Cho Kyuhyun adalah Go Jun Pyo yang nyata.”

Eonni, sekarang kau berbicara tentang ‘Boys Before Flower’?” Hyena bertanya pelan. “Tapi, perkataanmu ada benarnya.”

“Berapa kali harus kukatakan, jangan sangkut pautkan kehidupanku dengan drama!” ancam Min Kyung.

“Kami berbicara tentang kenyataan,” Bi Hyul mendesis hebat. “Tunggu dulu, itu artinya bahwa kau akan menjadi Nyonya Royal Group,” ketiga gadis itu terlihat sangat heboh.

“Royal Group atau apapun itu, aku tak perduli!” perkataan Min Kyung membuat ketiga sahabatnya meringis tak percaya. “Yang aku pikirkan bahwa aku sangat membencinya dan aku tak ingin melanjutkan apapun dengan orang itu. Titik!”

“Ah, jangan berakhir di titik. Bagaimana dengan koma?” Hyori terlihat menyesali perkataan Min Kyung. “Setidaknya, suatu saat kau masih bisa berubah pikiran.”

Min Kyung hanya memandang sadis. Ia lalu menarik buku yang tergeletak diam di atas meja.

“Jangan bersuara!” ia memperingatkan ketiga sahabatnya untuk bersikap tenang. Gadis itu tak ingin memperdebatkan apapun mengenai tunangannya.

~.oOo.~

Cuaca siang hari begitu cerah namun tidak secerah suasana hati Min Kyung. Gadis itu melangkah gontai memasuki pekarangan rumahnya. Meskipun belum memasuki rumah namun Min Kyung sudah mendengar kebisingan dari dalam rumah. Gelak tawa Ayah dan Ibunya cukup jelas di telinga Min Kyung.

“Ciihh,” gadis itu mencibir.

Sama seperti biasanya, hari ini mungkin saja tetangga Min Kyung sedang berkumpul di rumahnya. Ayah dan ibunya sangat senang menjamu tetangga-tetangga mereka.

“Aku pulang,” Min Kyung memberi salam. Ia melepas sepatu dan memakai sendal yang tertata rapi di tempatnya.

Gadis itu melangkah malas, kehadirannya tampaknya tak dipedulikan. Buktinya tak ada sahutan dari ruang tengah rumahnya.

“Kau sudah pulang?”

“Ya,” jawab Min Kyung malas. Ia mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya tertunduk lesuh. Gadis itu hampir tersungkur melihat siapa yang sedang bersama dengan kedua orang tuanya.

“Kau???” Min Kyung mendelik hebat

“Min Kyung,” Nyonya Kang memberi kode dengan tangannya agar Min Kyung mendekat. “Kau tak menyapa menantu Cho?”

“Ibu!!!” Min Kyung menghardik kasar. Ia lalu menatap kesal pada Kyuhyun, “Mengapa kau datang ke rumahku?”

“Rumahmu?” gumam Kyuhyun. “Ini akan menjadi rumahku juga. Apa aku salah, Ibu?” Kyuhyun tersenyum memandangi Nyonya Kang yang langsung tersipu malu.

“KAU!!” Min Kyung mendesah kasar, membuang wajahnya. Ia kemudian kembali menatap tajam Kyuhyun

“Min Kyung, kemarilah. Kami sudah menunggumu. Kita makan bersama, kemarilah!” Tuan Kang memanggil putrinya.

“Aku masih kenyang,” jawab Min Kyung ketus.

“Kang Min Kyung!” mata Nyonya Kang membulat dan itu sangat mengerikan. Min Kyung dengan malas-malasan menghampir mereka. Duduk disebuah tempat yang telah tersedia. Makanan sudah siap di meja dan tampaknya mereka memang hanya sedang menunggu Min Kyung.

“Semua sudah lengkap, waktunya makan,” Tuan Kang sangat bersemangat memandangi hidangan di atas meja.

“Makanlah yang banyak, menantu Cho,” Nyonya Kang memberikan mangkuk yang berisi nasi, isinya bahkan melewati batas kapasitas mangkuk itu sendiri.

“Terima kasih, Ibu.”

Min Kyung mendelik melihat perlakuan pilih kasih Ibunya. Kyuhyun memandangi Min Kyung dan tersenyum penuh kemenangan membuat gadis itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya kesal.

“Ibu?” Min Kyung tertawa kaku, ia merasa ganjil mendengar Kyuhyun memanggil Ibunya dengan kata ‘Ibu’

“Tentu saja, Kyuhyun akan menjadi putraku juga,” Nyonya Kang menanggapi perkataan Min Kyung.

Min Kyung meletakkan kasar sendok yang sedang di pegangnya, gadis itu berdiri.

“Ibu, siapa yang akan menjadi putramu?” Min Kyung terlihat marah. “Berapa kali harus kukatakan, aku tak akan menikah dengan orang itu!” ia lalu berbalik, meninggalkan ruangan tersebut dan menghilang di balik pintu kamarnya yang dibanting dengan sangat keras.

Ketiga orang yang tertinggal di ruangan tersebut hanya diam sejenak, saling pandang.

“Tanggal berapa sekarang?” Nyonya Kang bergumam. “Sepertinya gadis itu sedang datang bulan.”

“Menantu Cho, mari kita lanjutkan,” ujar Tuan Kang.

“Iya, Ayah,” Kyuhyun mengangguk santun.

Mereka kembali menikmati makan siang sambil bercengkrama dengan senyum lebar menghiasi wajah mereka seolah kejadian barusan tak pernah terjadi.

~~~

Min Kyung masih terlelap di atas kasur empuknya. Tubuhnya sesekali bergerak memutar posisi. Gadis itu memiliki gaya tidur yang cukup buruk. Bantal kepala maupun guling sudah berserakan di atas lantai. Kaki gadis itu bahkan sudah terjulur hampir mengenai lantai kamar tidurnya.

Hari sudah hampir gelap ketika mata gadis itu mulai terbuka dengan sangat perlahan. Langit-langit kamar berwarna coklat muda adalah pemandangan yang tertangkap oleh matanya lebih dulu. Min Kyung menguap dengan sangat lebar, seolah-olah jam tidur masih kurang cukup baginya. Min Kyung memang selalu menghabiskan banyak waktu dengan belajar, tak perlu heran ketika kepalanya menyentuh bantal maka ia tak akan sadar sekalipun gempa bumi berkekuatan besar sedang menggoyang Seoul.

“Dengan mulut selebar itu, kau mampu menelan seekor komodo hidup-hidup.”

Min Kyung terkejut, ia menoleh dan rasa kantuknya seketika itu juga hilang terbawa angin melihat seorang pemuda tampan berada di dalam kamar tidurnya.

Kyuhyun sedang duduk dengan santai sambil membolak-balik buku catatan milik Min Kyung. Ia menjulurkan kedua kakinya dan menyilangkan di atas meja belajar Min Kyung. Min Kyung secara refleks bangun dari tidurnya.

“Cho Kyuhyun, apa yang sedang kau lakukan di kamarku?” kecemasan melanda Min Kyung.

“Saat tidur kau terlihat seperti korban pembunuhan,” Kyuhyun tak menjawab pertanyaan Min Kyung, ia justru terus mengeluarkan kata-kata yang cukup menyakitkan di telinga Min Kyung, bahkan membekas di hati gadis itu. “Jika kau tidur sejam lagi, tempat ini pasti akan tergenang dengan air liurmu,” lanjut Kyuhyun.

“CHO KYUHYUN!!” Min Kyung melempar kasar bantal dan mengenai kepala Kyuhyun. Pemuda itu tetap tak bergeming.

“Konsultasikan dirimu ke psikater,” Kyuhyun masih tetap berujar dengan santai.

“Tutup mulutmu!!” hardik Min Kyung. “Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa kau tak segera menyingkir dari rumahku?”

“Aku tak akan pulang,” jawab Kyuhyun. “Setidaknya untuk beberapa hari ke depan,” ia kembali melanjutkan perkataannya.

Min Kyung terdiam, ia mengernyit—sedang memikirkan maksud dari perkataan Kyuhyun.

“Itu kesepakatan orang tua kita, dan aku hanya melaksanakannya,” Kyuhyun berujar tenang. Ia masih membolak-balik buku catatan pelajaran Min Kyung.

“Apa maksudmu?”

“Kau bertanya karena kau tak tahu atau memang karena kau bodoh?” Kyuhyun mendesah, untuk pertama kalinya ia menoleh memandangi Min Kyung setelah sekian lama hanya fokus pada buku di tangannya, “Mereka ingin kita berhubungan baik,” Kyuhyun kembali memandangi buku itu.

“Dasar gila,” Min Kyung mendesis kesal. “Aku tak perduli dengan apapun kata mereka. Jadi, kuminta sekarang juga kau pergi dari sini. Aku tak ingin berhubungan denganmu!” Min Kyung berkata dengan mimik yang penuh kemarahan.

Kyuhyun membanting kasar buku yang dipegangnya di atas meja. Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya. Ia menyembunyikan kedua tangannya di balik saku celananya. Kyuhyun melangkah pelan namun tegas ketika ia menghampiri Min Kyung.

Wajah Kyuhyun terlihat sangat dingin. Ia terus mendekati Min Kyung membuat gadis itu melangkah mundur. Ekspresi Kyuhyun cukup membuat jantung Min Kyung berdetak kasar, ia merasa cemas. Pemuda itu memojokannya hingga ia tak bisa bergerak ketika tubuhnya telah tersandar di salah satu sisi dinding kamarnya.

“Apa yang…,” Min Kyung tak dapat menyembunyikan kegugupannya melihat Kyuhyun berada tepat di hadapannya, mendekati Min Kyung selangkah lagi hingga jarak di antara mereka sangat tipis.

Mata Kyuhyun yang tenang dan tajam seperti pedang bermata dua yang menembus jantung Min Kyung. Tangan Kyuhyun yang semula tersembunyi di saku celana, kini kedua tangan itu telah bersandar kokoh di dinding, memagari dan mengurung Min Kyung di antara kedua lengannya itu.

“Kyu, Kyuhyun…,” jelas sekali jika jantung Min Kyung sedang berdetak kencang. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Mulut Kyuhyun terkatup rapat. Ia hanya memandangi Min Kyung dengan tatapan tajamnya. Min Kyung tahu jika saat ini dirinya bertindak dingin sedingin es di kutub namun ia mulai cemas jika mereka lebih lama dalam posisi itu, ia khawatir bahwa es itu akan meleleh karena seluruh tubuhnya mulai memanas, sorot mata dan juga nafas pemuda itu terasa hangat di permukaan kulit wajah Min Kyung.

“Terima saja,” mulut Kyuhyun yang sedari tadi bungkam mulai mengeluarkan suara. “Kau tak akan bisa lari,” suaranya yang berat terdengar jelas di telinga Min Kyung.

Sekian menit kesunyian terjadi, hanya saling pandang dengan detak jantung yang tak normal. Kyuhyun melepaskan sandaran tangannya, ia lalu meninggalkan Min Kyung seorang diri di dalam kamar. Seluruh persendian Min Kyung terasa lemas, gadis itu duduk—tersungkur begitu saja di lantai kamar tidurnya. Ia memegangi dadanya dengan tangan yang gemetar.

~.oOo.~

Min Kyung memijit-mijit keningnya. Kepalanya mulai berputar-putar. Gadis itu segera membuka tas sekolah, mengacak-acak isi tas itu. Ia terlihat cemas.

“Ada apa?” tanya Hyena

“Aku tak membawanya,” Min Kyung melemas.

“Apa?” Hyori tak mengerti “Kang Min Kyung, jangan katakan jika…,”

“Kau ini bodoh sekali, mengapa kau bisa bertindak sangat ceroboh?” Bi Hyul sudah terlebih dahulu memarahi Min Kyung.

“Jangan memarahiku,” Min Kyung terlihat lesuh “Aku tak akan mati karena itu.”

Kegaduhan terjadi di luar kelas. Gadis-gadis terlihat kasak-kusuk, entah apa yang telah menarik perhatian mereka hingga mereka bertingkah sedemikian rupa.

Hyori, Hyena dan Bi Hyul hanya memandangi gadis-gadis di luar kelas, lalu tatapan mereka tertuju pada pemuda yang baru saja terlihat di depan pintu kelas. Pemuda itu memandangi sejenak papan identitas kelas dan selanjutnya melangkah pasti ke dalam kelas. Gadis-gadis tampak berdesak-desakan di luar. Ketiga gadis itu terkejut melihat Kyuhyun lengkap dengan seragam Anyang-nya sudah berada di dalam kelas mereka.

“Kang Min Kyung,” Kyuhyun memanggil Min Kyung yang hanya tertunduk sembari memijit-mijit kepalanya.

“Kyuhyun?” Min Kyung tersentak melihat pemuda itu. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya lagi, matanya bergeser pada desakan gadis-gadis yang begitu antusias di pintu kelasnya.

Min Kyung mencibir melihat gadis-gadis itu, ia heran mengapa mereka harus bertingkah heboh karena seorang Cho Kyuhyun. Gadis itu tampaknya melupakan kenyataan bahwa Kyuhyun adalah pemuda tampan, konglomerat dan seragam Anyang yang dikenakannya sangat menyita perhatian.

Kyuhyun berjalan menghampiri Min Kyung, ia merogoh saku celananya dan meletakkan sesuatu di atas meja.

“Kau ini sangat ceroboh,” ujar Kyuhyun.

Min Kyung tertegun memandangi botol mini yang berisi obat. Baru beberapa waktu lalu Min Kyung kelabakan karena melupakan obat yang selalu dibawanya.

Min Kyung pernah mengalami kecelakaan. Sejak kejadian itu Min Kyung sesekali mengalami sakit kepala ringan. Kondisinya itu sudah diperiksakan ke rumah sakit, tak ada yang bermasalah dengan kepalanya dan Min Kyung selalu membawa obat sakit kepala sebagai bentuk pencegahan.

“Bagaimana kau…”

“Tahu?” Kyuhyun melanjutkan kalimat Min Kyung, “Aku tahu!” Kyuhyun hanya mengatakan seperti itu. “Temperamenmu semakin buruk, kepalamu pasti terbentur hebat saat kecelakaan itu.”

“Cho Kyuhyun!” Min Kyung sangat kesal mendengar ejekan Kyuhyun

“Ah, segera minum obat itu sebelum kau berubah menjadi tak terkendalikan,” senyum tipis tersungging di sudut bibir Kyuhyun. “Aku pergi dulu, Ajumma.

“CHO KYUHYUN BRENGSEK!!!”

Ketiga sahabatnya segera mencengkeram lengan Min Kyung ketika gadis itu berusaha untuk menyerang Kyuhyun. Kyuhyun hanya melambai pelan sebelum akhirnya meninggalkan kelas, tentu saja diikuti oleh tatapan gadis-gadis yang masih terkesima.

“Min Kyung, siapa pemuda itu?”

Min Kyung tak memperdulikan pertanyaan teman-teman sekelasnya yang terlihat sangat penasaran.

“Ada apa? Sekarang kalian memasangnya sebagai target?” Bi Hyul menatap mereka sinis. “Lupakan saja, karena orang itu adalah tunangan Kang Min Kyung.”

Gadis-gadis itu terkesiap, terkejut dan tak bisa mempercayai ucapan Bi Hyul.

“Hyun Bi Hyul, jangan teruskan!” geram Min Kyung.

Gadis-gadis penasaran itu kembali ke tempat masing-masing setelah dihujani oleh tatapan mengerikan Min Kyung.

“Aku rasa, sedang terjadi konspirasi di sini,” Hyori memangku tangannya, ia terlihat berlagak seperti detektif. “Katakan, obat itu—mengapa Kyuhyun yang mengantarnya? Kau meninggalkan obat itu di mana?”

“Di rumah.”

“Rumah siapa?”

“Tentu saja rumahku,” Min Kyung sangat kesal. “Apa maksudmu bertingkah seperti itu?” Min Kyung bertanya lagi melihat Hyori yang menyilangkan tangannya di depan wajahnya,

“Kupikir kau akan menghadiahi wajahku dengan kamus tebal itu,” Hyori menarik nafas lega. “Aku hanya mengantisisapi” lanjutnya lagi, masih mengelus-elus dadanya.

“MENGANTISISAPI???” ulang Bi Hyul, Hyena dan Min Kyung bersama-sama secara histeris, mereka mendelik tak percaya.

“Mengantisipasi. Dasar idiot memalukan!” Bi Hyul mengkoreksi kata yang seenaknya diperkosa dengan sangat nista oleh Hyori karena keluguannya yang mendekati taraf kebodohan.

“Kau taruh di mana otakmu?” selidik Min Kyung “Jangan penuhi otakmu dengan ‘Siwon, my man’ saja,” ia berkata lirih.

Hyori hanya tertawa polos.

“Min Kyung, kembali ke topik. Kau belum memberikan jawaban yang melegakan,” ujar Hyena.

Min Kyung menatap satu per satu wajah tiga gadis yang menatapnya lekat, berharap penjelasan dari mulutnya. Min Kyung menyandarkan tubuhnya di kursi, ia menarik nafas dalam-dalam sebelum menceritakan kejadian sesungguhnya seolah-olah topik yang akan dibahasnya adalah topik yang sangat berat.

Gadis itu mulai bercerita dan kelas langsung dipenuhi oleh lengkingan tajam ketiga sahabatnya mengetahui apa yang sesungguhnya sedang berlangsung. Mereka terkejut, heran sekaligus terkesima mendengar Kyuhyun tinggal di rumah Min Kyung selama beberapa hari. Min Kyung menjadi kesal dan akhirnya menyesal menceritakan pada sahabat-sahabat bodohnya itu setelah melihat mereka justru histeris dan sangat berbahagia karena kejadian tersebut.

~.oOo.~

Min Kyung baru saja keluar dari kamar mandi. Rambut panjangnya masih lembab. Gadis itu hampir terjerembab melihat Kyuhyun sedang berbaring santai di tempat tidurnya.

“Hei, apa yang kau lakukan di sini?” Min Kyung bersyukur bahwa ia telah berpakaian lengkap. Ia tak bisa membayangkan jika saat ini hanya handuk yang melilit tubuhnya dan ada kemungkinan handuk itu terlepas ketika dirinya terkejut melihat keberadaan Kyuhyun.

“Di mana lagi kau benturkan kepalamu?” Kyuhyun bertanya ketika Min Kyung menggeleng kasar kepalanya karena berusaha mengusir fantasi mengerikan dalam kepalanya itu.

“Kau tak bisa seenaknya masuk ke kamar ini! Apa kau tak punya tata krama?” Min Kyung terlihat gusar. “Ah, kau dan adikmu itu tak ada bedanya.”

Kyuhyun tak menjawab. Ia mengubah posisi tubuhnya. Pemuda itu duduk di tepian tempat tidur.

“Gadis kasar dan pemarah sepertimu ternyata memiliki benda seperti ini?”

Bola mata Min Kyung melebar melihat diary-nya berada di tangan Kyuhyun.

“Kembalikan!” Min Kyung mendekati Kyuhyun.

“Melihat perangaimu, kau sangat tak pantas menulis diary, kau tak cocok bertingkah seperti gadis-gadis pada umumnya. Itu sangat mengerikan Kang Min Kyung,” Kyuhyun mengayun-ayunkan diary ditangannya.

“Cho Kyuhyun, kau membacanya?” jantung Min Kyung berdebar karuan, “Kau membacanya? KAU!”

“…ini rumit, tapi hatiku selalu berdesir-desir aneh setiap kali melihat orang itu. Pemuda dengan seragam Anyang High School,” Kyuhyun berujar pelan dan Min Kyung menerima pukulan hebat menyadari bahwa Kyuhyun membaca isi diary miliknya. Kepala Min Kyung mendadak berputar-putar. Kyuhyun baru saja mengulang dengan benar salah satu kalimat yang tertuang dalam diary itu. “Benarkah? Kau jatuh cinta pada orang itu?”

“Kau—kau, kembalikan saja diary-ku!!” Min Kyung mulai gugup. Ia berharap Kyuhyun tak akan pernah tahu bahwa pemuda itu adalah dirinya sendiri.

“Siapa dia? Bukankah dia di sekolah yang sama denganku? Mungkin saja aku bisa menyampaikan rasa sukamu itu,” Kyuhyun mengerling aneh, ia tersenyum tipis. “Kau tak ingin mengatakan siapa orang itu?” Kyuhyun menatap intens wajah Min Kyung yang kian memucat.

“Apa yang kau katakan?” bibir Min Kyung bergetar. Ia tak bisa mengontrol permainan jantungnya melihat Kyuhyun yang menatapnya tenang, wajahnya yang tersenyum meskipun senyuman itu sangat tipis namun cukup memporak-porandakan emosi Min Kyung. “Kembalikan, kembalikan saja diary itu!!”

“Kalau kau bisa mengambilnya!”

Min Kyung berusaha menggapai-gapai diary dalam genggaman tangan Kyuhyun. Gadis itu memamerkan tatapan bengisnya ketika Kyuhyun tak juga menyerahkan benda itu. Kyuhyun mengangkat alisnya, lalu kembali tersenyum. Min Kyung tak menyerah, ia dengan gigih berusaha merebut diary dari tangan Kyuhyun.

Bukan sesuatu yang di sengaja ketika Min Kyung membuat dirinya dan Kyuhyun kehilangan keseimbangan. Kyuhyun dengan sigap mendekap tubuh Min Kyung. Mereka berakhir di lantai kamar. Min Kyung memejamkan matanya kuat-kuat.

Rintihan Kyuhyun yang kesakitan membuat Min Kyung membuka matanya perlahan. Jantungnya langsung memompa darah dengan sangat cepat ketika menyadari ia sedang menindih Kyuhyun. Pemuda itu masih memejamkan matanya, ia masih meringis. Itu pasti sangat menyakitkan.

Bola mata Min Kyung kian melebar menyadari posisi mereka saat ini bisa membuat Min Kyung benar-benar meleleh.

“Kang Min Kyung, kau hanya akan menontonku kesakitan?”

Pertanyaan Kyuhyun menyadarkan Min Kyung dari kebingungan panjangnya. Wajah Min Kyung sudah memerah. Ia dengan tergesa-gesa berusaha bangkit dari posisi memalukan itu namun Kyuhyun tak kalah sigapnya melingkarkan kedua tangannya di tubuh Min Kyung, mengurung tubuh gadis itu dalam lengannya sehingga Min Kyung tak bisa beranjak sedikit pun.

“Siapa orang itu?” Kyuhyun bertanya dengan sangat tenang berbeda dengan Min Kyung yang sudah tak bisa bernafas dengan baik.

“Apa maksudmu?” kegugupan Min Kyung tak bisa ditutupi. “Lepaskan aku,” Min Kyung berusaha melepaskan diri dari dekapan Kyuhyun namun usahanya sia-sia.

“Atau, kukatakan saja siapa orang itu?” Kyuhyun menatap Min Kyung lekat, wajah yang sangat tenang itu tersenyum tipis, senyuman yang nyaris tak terlihat. Min Kyung benar-benar harus bekerja keras meraup semua oksigen yang tersisa dalam kamarnya.

Bragh!

Suara pintu kamar yang terbuka membuat Min Kyung dan Kyuhyun sekejap menoleh ke arah yang sama.

“Min Kyung, kau harusnya…,”

Nyonya Kang terperanjat dan tak dapat melanjutkan kalimatnya setelah melihat apa yang sedang berlangsung di hadapannya.

“I..Ibu…,” Min Kyung sangat gugup.

Kedua orang itu tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka, seluruh tubuh mereka yang mendadak kaku seakan tak bisa digerakkan. Nyonya Kang adalah orang yang lebih terkejut, mimiknya sangat serius. Ia terkejut.

Posisi Min Kyung dan Kyuhyun bisa menimbulkan tingkat kesalahpahaman yang sangat tinggi. Seperti tersadar ketika dua orang itu saling melepaskan diri.

“Ibu, ini..,” Min Kyung terbata-bata.

Ibunya pasti sedang memikirkan hal-hal yang aneh. Siapa pun yang melihat adegan itu pasti akan berpikir negative. Min Kyung benar-benar cemas jika Ibunya akan mengamuk dan menjambak rambutnya atau melakukan sesuatu yang buruk pada Kyuhyun mengingat wanita paruh baya itu selalu mengajarkan Min Kyung tentang etika dan tata krama. Ia selalu mengajarkan Min Kyung untuk selalu bersikap terhormat sebagai seorang wanita.

Kyuhyun hanya sesekali berdehem pelan. Dia pasti memiliki suasana hati yang sama dengan Min Kyung.

“Ibu, aku bisa menjelaskan. Ini tidak…,”

“Silahkan dilanjutkan!”

ZZIIINGGG!

“Maaf mengganggu,” Nyonya Kang tersipu-sipu malu sambil menutup kembali pintu kamar itu.

ZZIIIIIIIIIIIIIIIINNNGGGGG!

Min Kyung merasakan angin badai sedang bermain di sekitarnya. Gadis itu terpaku dengan mulut yang terbuka lebar. Tampangnya yang ling-lung terlihat seperti seorang idiot. Ia bahkan tak perduli ketika Kyuhyun berjalan dengan santainya keluar dari kamar itu.

Dimanapun, jika anak gadis kedapatan oleh orang tua sedang melakukan sesuatu yang tidak terpuji meskipun dalam kasus Min Kyung itu adalah ketidaksengajaan—orang tua normal pasti langsung membotaki rambut anaknya.

Tapi ini…

Silahkan dilanjutkan???

Maaf mengganggu???

Min Kyung hampir terserang stroke permanent mendengar kalimat ibunya.

Tak yakin siapa yang sedang gila saat ini. Min Kyung sudah tak bisa membedakan kenyataan dan khayalan. Sungguh, Min Kyung tak mengira jika Ibunya bertingkah abnormal seperti itu.

“IBUUUUUUU!!!!”

Min Kyung menjerit sangat histeris, ia menarik-narik rambutnya dengan penuh kemarahan. Bagaimana mungkin Ibunya bisa mengatakan kalimat itu? Ibunya pasti sudah gila total.

~to be continue~

Ngos-ngosan ngetiknya.. akh, ini bentuk pengkhianatan terhadap ketiga tokoh lainnya, entah mungkin karena cast-nya Kyu mendadak cerita ini bertambah 1 part lagi jadi tamatnya di part 3 #cipok mesra EunSiHae

Okelah, anggap ini bonus karena hari ini adalah hari yang sangat baik buat sy.

Oh ya, tanggapannya ya… makasih sebelumnya #hug reader satu per satu

Iklan

631 thoughts on “[Season 3] Spring In Memory (Part 2)

  1. gielda audria berkata:

    Eonni, please aku ga tahaaann pengen baca lanjutannya.. Password pleaseeee 🙇🙇🙇🙇🙇

  2. hankims_ais berkata:

    Komen aq koq ilang 😂

    Pokok’a cara kyu buat dapetin kyung itu beneran unik dan menyebalkan😒

  3. nurulmaidahh berkata:

    hua eonnn>< ngakak abis bacanyaa :3 btw, salam kenal aku readers baruu 😉 gasabar mau baca lanjutannya :3 pwnya boleh eon?.-. pleasee ;;)

  4. zcheery berkata:

    Silakan lanjutkan….

    Maaf mengganggu…

    Ngakak guling” aku bacanyaaaa hahahahahahahaha😂😂😂
    Ceritanya semakin menarik hihi.. Biar saya lanjut dulu 😂

  5. dhi berkata:

    aduhai…gak tau mau coment apa lagi mendadak otak ku blank karna baca ff ni..gak kebayang dari mana coba dapat imajinasi yg wuahhh wuahhh..aku baca ff ni serasa nonton live didepan mataku semua adeganny tu…oenni jjang!!!!!””

  6. YS berkata:

    senyum sendiri pas baa bagian minkyung jetauan isi diary nyaaaa ciye ciyeee gg sabar mau baca part end nya tapi mau minta pw dulu kitaaa ^^

  7. moon-shi berkata:

    hai ka marchia.. aku new reader ka salam kenal. dan ini adalah ff pertama yang aku baca di blog kaka.. dan its true bgt kalo ff ini sangat seru sekali ka marchia. salut deh sama karakter di ff ini yg unik dan percakapannya antar mereka yg bikin ngakak

  8. hs berkata:

    gk kebayang klo punya tunangan seevil kyuhyun.
    eh, tapi emang min kyung aja sih yg sensitif banget 😀 😀
    dasar pasangan absur😑😑
    eon, pw untuk next part.y dong.

  9. Sarti prihatin berkata:

    Aduh sakit perut aku baca ffnya. Beneran gak ada yang bener. Semuanya pada nyeleneh tingkah laku nya. Astaga itu ibunya MiKyung beneran suka banget sama Kyu. Sampai mergokin dikamar anaknya pun gak marah.

  10. shinjaera86 berkata:

    Annyeong reader baru, oh yamaaf karena di part 1 season 3 ini aku lupa komentar…
    Tapi yag jelas keren dan bikin ngakak!!

    Ditunggu kelanjutannya atau ff tentang kyu dan min kyung… Mereka bener2 bikin imajinasi liar pengen terjadi kenyataannya… Hahahah

  11. Hima berkata:

    Dulu Min kyung kecelakaan?
    Sikap kyuhyun seolah olah telah mengenal min kyung.
    Mungkinkah Min kyung dan kyuhyun teman masa kecil?

    Lucu tingkah laku kyuhyun dan min kyung😁

  12. Haru berkata:

    Whoah apa eoni menulis dalam suasana hati yang senang.aku sampe bisa ngebyanin eoni yg lagi fokus nulis tenggelam dalam alur yg eoni buat sendiri. Jarang cerita happy gni sampe ngerasa fill bnget.

  13. Vhicha azhari berkata:

    Aduh sakitt perut kocak bgt eonni.. Sosweet
    apalagi yg jadi castnya suami akuhh..wkwkwk

  14. zamadia berkata:

    kalo aku yg ada diposisi min kyung psti udh gila. punya tunangan yg abnormal. blm lg ibunya. adik iparnya jg. pantesan klu min kyung itu tempramen tinggi.

  15. mae berkata:

    hahahah….ya ampun ibunya min kyung aneh…
    aduuh kyanya kyuhyun cmburu., mw interogasi min kyung tp ibu datang pada saat yang tidak tepat..:-D
    boleh minta pw part 3 nya g’..??

  16. chocogrill berkata:

    nemu lagi couple yg ga biasa model mereka wkwk. iseng banget si kyuhyun make foto adenya buat nunjukkin klo itu tunangan mikyung. padahal zong wkwk

  17. Rrin'sLove berkata:

    Seriusaaaaan
    demi kolor Kyuhyun wkwkwk ini lucu banget
    nyengir2 kayak org gila aku sekarang niii
    kenapa kyuhyun manis sekali hahaha

    ya ampun ya ampun
    temen2 si Min Kyung memang ruar biasa hahaha

    cieee Cho Kyuhyun ke sekolah Min Kyung demi obat haha

    uhuk ibunya Min Kyung
    ya tuhan
    biasanya seorang ibu akan marah meski lelaki itu tunangan anaknya tapi ini wkwkwk silahkan dilanjutkan puhahahaha
    ibunya Min Kyung dahsyat sekaleeeee

  18. rei berkata:

    ya ampuun kasihan banget ya mereka di kerjain anak kecil .. gak bisa nebayangin gimna mereka harus bekrja di restaurant padahal mereka tdak harus melakukan itu. asli ketawa lihat minkyung dan 3 sohibnya dan apa itu mengantisisapi benar2 deh

  19. FitriFitri berkata:

    Hyukjae my man, gak ada yang normal disini astaga.. Dari hyeni sampai min kyung ketawa ngakak sampe nyeri punggung astaga aku kudu ketukang urut atau memeriksakan keadaan psikisku sampe gila ketawa tengah malem. Kak kau yang terbaik

  20. imgyu berkata:

    wkwkwk si kyuhyun sama in ha tuh bener-bener kelewatan ngerjain min kyung :3 jujur kasian ngeliat min kyung yang walaupun galak tp disini kaya ditindas wkwk tp sebenernya pribadinya min kyung emang suka marah-marah gitu ya kak? Rada ekstrim yah lol

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s