[Season 4] Summer, I Love You So Much! (Part 1)

Season 4 (Part 1)Main Cast : Choi Siwon & Song Hyori

–> FF ini hanyalah sebuah imaginasi meskipun tak menutup kemungkinan terjadi dalam dunia nyata (apa yang kita anggap fiksi sebenarnya sudah banyak terjadi), jika ada kesamaan kisah maupun tokoh, hanyalah faktor ketidaksengajaan. Say no to plagiat!!!

note : Aloha, karena terus ditodong ttg season ini dan membuatku frustasi mendekati taraf kebodohan (pinjem istilah Hyori), jadi sodara2 ini dia… #lempar Won-Ri ke readers

***

Season 4Summer, I Love You So Much! (Song Hyori’s story)

***

“Argh!! Panas sekali!”

Bi Hyul menggerutu kesal, ia mengebas-ngebaskan buku di wajahnya. Ia tak peduli pada Hyori, Hyena dan Min Kyung yang memandang miris padanya.

“Mengerikan sekali,” desis Min Kyung, ia memandangi Bi Hyul yang sibuk mencari angin dari hasil kebasan bukunya, sebelah kakinya diangkat di atas kursi yang dudukinya. “Mirip dengan penjual ikan di pasar,” lanjut Min Kyung.

“Haisshh!!” Bi Hyul bersiap meninju Min Kyung namun gadis itu berhasil berkelit.

“Ini aneh..,” Min Kyung bergumam pelan. “Mengapa aku harus sekelas lagi dengan kalian?” ia menatap langit-langit, seolah bertanya pada Sang Pencipta tentang nasibnya.

“Karena kita ditakdirkan untuk selalu bersama dalam suka maupun duka, sakit ataupun senang, hidup ataupun mati,” jawaban Hyori menghasilkan tatapan iba ketiga sahabatnya, ia seperti sedang mengucapkan janji suci pernikahan. Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, “Ah, jika mati maka kalian matilah sendiri, aku masih ingin hidup,” lanjutnya lagi sambil terkekeh. Ia dihadiahi oleh tiga buah buku yang sukses mengenai tubuhnya.

“Song Hyena?” Bi Hyul menatapi Hyena yang sedari tadi masih bungkam “Kau tahu apa yang sedang terjadi?”

Hyena mengangguk, “Eonni merengek pada Kakek agar menempatkan kita di kelas yang sama,” jelas Hyena.

“Sudah kuduga,” ucap Min Kyung dan Bi Hyul bersamaan.

Keempat gadis itu kini telah duduk di bangku kelas XII, mereka baru saja meninggalkan semester terakhir di kelas XI.

“Aku tak mengira, seorang Song Hyori yang bodoh bisa mempengaruhi dinasti Chongdam High School,” Min Kyung mendesis manakala melihat Siwon dan Hyukjae baru memasuki kelas.

Ya, Hyori membuat Siwon sekelas dengan mereka—bahkan kini, Hyukjae pun berada di kelas yang sama.

Ough, Siwon my man.

Bi Hyul dan Min Kyung mendesis melihat Hyori yang selalu terkesima pada Siwon, ia melipat kedua tangannya dan memandangi Siwon seperti orang bodoh. Hyena langsung mengalihkan tatapannya ketika Hyukjae mengerling padanya.

“Apa ini bisa dipercaya?” Siwon terduduk kasar di kursinya, ia tampak sangat kesal dan selalu menyesali keberadaannya di kelas yang sama dengan empat gadis aneh itu.

“Tak ada yang bisa kau lakukan,” Hyukjae menyengir tajam. Berbeda dengan Siwon, tentunya Hyukjae sangat senang jika ia bisa sekelas dengan Hyena “Siwon, mengapa kau begitu kesal? Kau sangat tak adil.”

“Apa maksudmu?”

“Hanya karena Hyori menyukaimu, kau membenci itu. Lalu bagaimana dengan gadis-gadis lain yang juga menyukaimu?” pertanyaan Hyukjae membuat Siwon terdiam, “Sudahlah, lagipula Hyori adalah gadis yang baik dan dia secantik adiknya.”

Siwon memandang datar pada Hyukjae, “Jangan libatkan aku dalam cintamu yang aneh itu.”

“Baiklah. Lalu mengapa kau begitu membenci Hyori?”

“Aku tak tahu.”

“Kau gila?” desis Hyukjae.

“Aku tak memerlukan alasan untuk membencinya kan?” kesal Siwon. “Mungkin karena sifatnya yang ceroboh itu dan—dia terlihat sangat bodoh,” ia lalu mendesah.

“Kau tahu? Kau terlihat seperti anak kecil,” ledekan Hyukjae sukses membuat sebuah buku menyapu kasar kepalanya. “Sangat kekanak-kanakan,” lanjut Hyukjae lagi dan ia berusaha untuk menghindari kamus tebal yang akan mengenai wajahnya.

~.o0o.~

Hari sudah gelap ketika Hyori melangkah lemah memasuki pekarangan rumahnya. Langkahnya terhenti. Ia melihat saudari kembarnya, Hyena yang sedang mondar-mandir di depan pintu sambil meremas-remas tangannya. Hyori tahu jika suasana hati Hyena sedang cemas dan gugup.

Mata Hyena lalu tertuju pada Hyori yang masih mengernyitkan keningnya.

Eonni!!” Hyena berlari kecil menghampiri Hyori. “Darimana saja kau?” tanya Hyena.

“Kau tahu, ada diskon besar-besaran di toko X,” Hyori menyebutkan nama sebuah tokoh di kawasan Apgujeong, dia memamerkan kedua tangannya yang menenteng kantong yang berisi tas-tas bermerek. “Tapi, ada apa kau mencariku?” tanya Hyori lagi.

“Gawat!” mimik Hyena terlihat semakin cemas. “Itu, kakek…”

“Kakek?” Hyori justru terlihat girang.

Eonni, kau tak cemas?”

“Apa kakek membawakanku hadiah?”

Hyena menggeleng prihatin, “Lupakan hadiah, sebaiknya kau persiapkan dirimu.”

“Kamarku telah siap menampung semua hadiah kakek,” Hyori terkekeh pelan.

~~~

Seorang pria tua dengan kaca mata yang membingkai kedua bola matanya, ia menatap lurus pada Hyori yang berdiri mematung di hadapannya. Sementara istrinya dan kedua orang tua si kembar berdiri tak jauh bersama-sama Hyena, raut wajah mereka terlihat sangat cemas. Pria tua itu menarik nafas panjang.

“BODOH!” hardikan kakek membuat semua orang tersentak kaget.

“Sayang, perhatikan tekanan darahmu,” nenek mencoba mengingatkan kakek akan hipertensinya.

“Aku tak peduli jika saat ini aku mati, tapi bagaimana bisa cucuku sebodoh itu?” ia menunjuk-nunjuk kesal pada Hyori yang hanya tertunduk. “Song Hyori, kau tidak merasa malu pada adikmu?”

“Haissh, kakek~ di antara kakak beradik, perasaan seperti itu hanya akan mengganggu,” Hyori menepis dengan tampang polosnya membuat kakek memelototkan matanya.

“Astaga, ya Tuhan… Dia bahkan tak mengerti ucapanku. Oh leherku,” kakek memegangi belakang lehernya yang menegang. “Hyori, dibandingkan Hyena yang selalu masuk peringkat sepuluh besar—mengapa kau justru setia berada di urutan terakhir? Kau mencoreng wajahku.”

Lelaki tua itu pasti merasa malu jika cucunya sendiri berada di peringkat akhir.

“Kakek, kau pasti semakin rabun,” Hyori kembali menepis dengan gaya malu-malunya. “Tak ada coretan apapun di wajahmu,” katanya lagi. Semua orang menarik nafas dalam-dalam.

“Joong Ki,” kakek beringsut-ringsut di atas sofa

“Ya, Ayah.”

“Kau yakin dia adalah putrimu?”

“Ayah bicara apa?” pria itu terkejut, ia terlihat kebingungan sambil menatap wajah istrinya.

“Sayang, kau menuduhku berselingkuh?” desis ibu si kembar yang salah mengartikan tatapan suaminya.

“Sepertinya aku mengerti darimana datangnya otak bodoh Hyori,” kakek berdecak prihatin.

“Kakek, marah-marah tak baik untuk kesehatanmu—kau harus ingat, umurmu tak muda lagi. Menurut riset, jika orang selalu emosi maka umurnya semakin pendek,” ujar Hyori.

Semua hening.

Eonni,” Hyena memberi kode agar Hyori tetap bungkam.

“Kau bicara apa? Dengan otak bodohmu, apa yang kau tahu tentang riset?” delik kakek.

“Uhm, sebenarnya…aku hanya mendengar mereka mengatakan itu pada Min Kyung,” Hyori terkekeh tanpa dosa.

“KAU!!” kakek ingin memberi pelajaran pada cucu bodohnya itu tapi ia kembali terduduk sambil memegangi lehernya.

“Sayang, sudah kubilang—hati-hati dengan tekanan darahmu,” nenek segera memijit-mijit leher dan pundak kakek.

“Seseorang berbuat salah adalah wajar, apalagi diusiaku yang masih sangat muda ini,” celoteh Hyori, ia tak peduli ketika semua menatapnya sambil seraya memerintah agar ia tak melanjutkan apapun yang ada di dalam kepalanya. “Kakek, kau bukan Tuhan, tak mungkin hidup tanpa kesalahan. Menjadi urutan terakhir bukanlah perkara besar, jika tak melihat Siwon barulah kiamat tiba.”

“SONG HYORI!!” kakek kembali berteriak kencang. “Dia bukan cucuku,” batinnya. Kakek lalu menarik nafas panjang, mencoba untuk meredakan amukan dasyat dalam dirinya. “Hyori, mulai saat ini, jam bersenang-senangmu akan di kurangi. Kau harus memperbaiki nilaimu. Besok, guru private akan menemuimu.”

“Kakek~ oksigenku berkurang jika harus melakukan semua itu,” rengek Hyori.

“Lakukan itu atau lupakan semua tentang pakaian, tas, sepatu dan hal-hal bermerek lainnya,” kakek tersenyum kejam dan berlalu meninggalkan Hyori yang melemas.

Eonni, seharusnya kau tak perlu melawan perkataan Kakek,” desah Hyena.

“Ayah!” Hyori berpaling seketika menatap Ayahnya. “Kau yakin, orang tua itu adalah Ayahmu?”

“Haisshh, anak ini!!” pria itu mendesah sangat kasar.

~.o0o.~

 

“Benarkah?” Min Kyung dan Bi Hyul terlihat bersemangat. Mereka memandang antusias secara bergantian pada si kembar. Hyori menarik nafas berat. “Kakekmu sungguh melakukan itu?” Bi Hyul meyakinkan perkataan Hyena.

Hyena mengangguk, “Tak ada pilihan kedua untuk Eonni.

“Entah mengapa, tapi aku sangat senang mendengar itu,” senyum simpul Min Kyung.

“Karena kau selalu ingin melihatku tersiksa,” keluh Hyori.

“Aku mengerti apa yang dirasakan oleh kakekmu,” ujar Bi Hyul. “Meskipun kau cucu dari pemilik sekolah tapi prestasimu sungguh sangat nihil. Seharusnya kau malu.”

“Kenapa kalian semua ikut mempermasalahkan itu?” Hyori mendelik. “Di jaman seperti ini, wanita tak wajib bersekolah apalagi berambisi mengejar mimpi. Yang perlu kalian lakukan adalah menjadi cantik lalu menjadi istri dari pria kaya dan tampan.”

Bersama-sama saat ketiga gadis lainnya mendorong kasar kepala Hyori.

Eonni, kau berbicara tentang jaman yang mana?” Hyena mendesis heboh.

“Sungguh sangat idiot. Apa yang ada di kepalamu Song Hyori?” Min Kyung terlihat resah. “Kau kira wajah cantikmu akan cukup? Kau tak memiliki sesuatu yang ingin kau gapai dalam hidupmu?”

“Tentu saja ada,” elak Hyori, “Siwon…”

My man~” ketiga gadis itu memotong ucapan Hyori, mereka menatap sadis pada si bodoh itu.

“Hyori, kau pikir pria-pria akan melirikmu hanya karena wajahmu?” tanya Min Kyung, Hyori justru tersenyum memamerkan senyuman mautnya “Baiklah, jika mereka melihat wajah dan body-mu—mereka mungkin akan berlomba-lomba untuk mengenalmu tapi aku berani bertaruh, dalam waktu tiga menit setelah berbicara denganmu, kaki mereka pasti ingin berlari sesegera mungkin untuk menghindar darimu.”

“Di jaman seperti ini?” Bi Hyul tersenyum kesal, ia mengulangi pernyataan enteng Hyori. “Kurasa gadis ini lebih cocok hidup di jaman Joseon, ah—jaman Goryeo ataupun Silla akan jauh lebih baik untuknya,” Bi Hyul tak segan-segan untuk melontarkan ejekan.

No no no,” Min Kyung menggeleng, ia mengelus-elus pelan dagunya. “Pikirkan jaman Megalitikum. Saat ini para arkeolog pasti akan heboh dengan penemuan fosil wanita tercantik dari jaman pra sejarah,” seringai lebar menghiasi wajah gadis itu. Di otaknya terlintas hal yang lebih kejam dari jaman Megalitikum, ia memikirkan jaman-jaman sebelum itu seperti Paleolitikum, Mesolitikum dan Neolitikum.

“Kang Min Kyung!” Hyori menghadiahi Min Kyung dengan sebuah tinju kecil di pundaknya, sejurus kemudian ia mengatur nafasnya—memandang Min Kyung dengan tatapan polos. “Ng…tapi siapa megaletsoit itu?”

“MEGALITIKUM!!” ketiga gadis itu memperbaiki kata yang mengalami pergeseran hebat karena ulah Hyori.

“Sudahlah, meskipun dijelaskan, otak merayapnya tak akan mampu mencerna itu,” desis Bi Hyul mencegah Min Kyung untuk mengeluarkan tenaganya dengan sia-sia. Hyori hanya melengos kesal karena sikap mereka.

Bel panjang meraung dan terdengar sampai ke seluruh pelosok sekolah. Keempat gadis itu terlihat sangat bersemangat membereskan perlengkapan sekolah mereka. Murid-murid mulai berhamburan keluar dari dalam kelas.

“Hyena.”

Hyena menoleh, memandangi Hyukjae yang tersenyum, sekejap Hyena menghalau matanya yang silau setiap kali melihat senyuman Hyukjae.

Pemuda itu berjalan menghampiri Hyena dan langsung memegangi pergelangan tangan gadis itu. “Ikut denganku,” ia mengerling.

“Ke, ke mana?” Hyena masih saja merasa gugup setiap kali berdekatan dengan kekasihnya itu.

“Aku lapar,” jawab Hyukjae. Hyena tak bisa berbuat apa-apa ketika Hyukjae membawanya keluar dari dalam kelas.

“Aku juga ingin seperti itu,” Hyori berkata lirih sambil menggigit-gigit ujung bukunya. Matanya melirik pada Siwon yang masih tenang di tempat duduknya. Min Kyung dan Bi Hyul hanya saling pandang muak. “Dibandingkan kalian bertiga, aku jauh lebih cantik. Hmm, ada yang tak beres—pasti terjadi kesalahan,” Hyori tak habis-habisnya berpikir bahwa di antara mereka berempat, dialah satu-satunya yang belum memiliki kekasih hati.

“Letak kesalahan ada pada otakmu,” celetuk Min Kyung tanpa basa-basi.

“Ciihh,” Hyori mencibir, ia lalu menatap Bi Hyul. “Ah, Hyun Bi Hyul, kau tak cemas tentang Donghae Oppa?”

“Apa?”

“Universitas adalah tempat berkumpulnya gadis-gadis cantik, kau yakin Donghae Oppa tak akan tergoda dan tetap setia pada produk setengah jadi sepertimu?” Hyori melirik Bi Hyul dengan ekor matanya.

“Haishh!!”

“Aaauu..!!! Sakit,” Hyori meringis kesakitan ketika Bi Hyul menginjak kakinya.

“Mulutmu, harimaumu,” Min Kyung terkekeh.

“Sadarlah Kang Min Kyung, apa berbedanya kau?” kesal Hyori disela-sela kesakitannya. “Dengan temperamen buruk, apa yang keluar dari mulutmu bahkan jauh lebih mengerikan.”

“Hyori, kau mau tahu apa yang membedakan kita?” tanya Min Kyung. Ia tersenyum lalu mengetuk-ngetuk jidat Hyori dengan telunjuknya, “Kapasitas otak,” katanya lagi sambil mengerling.

“KALIAN????” Hyori yang mengeluarkan suara kencang cukup mengejutkan Min Kyung dan Bi Hyul, selama ini ia selalu tak bereaksi dan bahkan hanya tersenyum idiot meskipun ia menerima penghinaan tingkat terendah bahkan sampai tingkat tertinggi dari Min Kyung dan Bi Hyul.

“Dia bereaksi?” bisik Min Kyung keheranan.

“Kurasa, bagian otaknya yang tersumbat mulai berfungsi,” balas Bi Hyul, mereka tak peduli ketika Hyori menatap dengan tatapan kesal.

“Apa maksudmu?” Hyori emosi, berbicara dengan sangat serius. “Hanya karena kau jauh lebih baik dan kau mengataiku seperti itu? Kang Min Kyung, maaf—tapi otakku bukan terbuat dari kapas.”

Min Kyung dan Bi Hyul menganga.

“Bukankah yang tadi kukatakan adalah kapasitas?” Min Kyung menelan ludah kasar dan dijawab dengan ekspresi paling aneh milik Bi Hyul. “Gosh!!” kedua gadis itu tertunduk lesuh dan tak berdaya karena ketololan Hyori.

“Song Hyori.”

Ketiganya menoleh pada pemilik suara berat yang baru saja memanggil Hyori.

“Siwon!” pekik Hyori, “My man!” lanjutnya lagi membuat Siwon harus menarik nafas dalam-dalam seolah tak ada oksigen yang tersisa untuknya.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Hyori langsung mematung karena kalimat itu.

“Bisakah kita berbicara sebentar?” Siwon menatap kesal pada Hyori yang tak memberikan reaksi apapun.

“Ah, tentu. Tentu saja!” Hyori tersadar dari keterpakuannya, ia memandangi Siwon yang berjalan keluar kelas, “Dengan senang hati!” ucapnya keras.

“Apa yang terjadi?” Bi Hyul memandangi Hyori.

“Mendadak Siwon bersikap aneh,” alis Min Kyung bertautan, tak biasanya Siwon dengan sengaja berbicara pada keempat gadis itu—terlebih pada stupid Hyori. “Mungkin dia tak menelan obatnya hari ini,” gumam Min Kyung.

Telinga Hyori seakan tersumbat, ia tak mempedulikan celoteh dan kepesimisan dua sahabatnya yang tengah mempertanyakan sikap menyimpang seorang Choi Siwon. Gadis itu menempelkan telapak tangannya dikedua belah pipinya yang telah memerah dan memanas.

“Aku, tak sedang bermimpikan?” gumam Hyori, dua gadis lain hanya menatapnya jengah. “Seseorang, tolong tampar aku,” ia kembali bergumam.

Senyum mengembang di sudut bibir Bi Hyul.

Plak!!

Sebuah tamparan ringan menembus permukaan kulit wajah Hyori yang halus.

“Hyun Bi Hyul!” teriak Hyori, ia memegangi pipinya.

“Semua orang pasti akan menemukan titik terang ketika bertemu dengan telapak tangan ajaibku,” Bi Hyul menepuk-nepuk santai kedua tangannya. “Jadi, bagaimana menurutmu? Kau sudah bisa menyimpulkan antara mimpi dan kenyataan?” senyum Bi Hyul.

“Kau tak perlu menanggapinya dengan serius,” kilah Hyori. “Itu menyakitkan,” katanya lagi sambil terus memegangi pipinya.

“Hanya berhati-hati dengan perkataanmu,” Min Kyung menarik nafas santai.

Hyori hanya mendesis, mengerucutkan bibirnya. Ia terlihat kesal pada Bi Hyul dan Min Kyung yang tetap santai tak terpengaruh dengan Hyori. Hyori tercekat, ia seperti baru tersadar bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting yang harus ia kerjakan.

“Ah, aku melupakannya. Siwon, my man~” ia terpekik ketika sadar bahwa ia harus segera bertemu dengan Siwon “Siwon, aku padamu!” katanya lagi dan berlari keluar kelas.

“Aku padamu?” ulang Bi Hyul. “Apa maksudnya?”

“Hanya dia dan Tuhan yang tahu,” jawab Min Kyung. “Aku tak pernah memahami dengan benar apapun yang keluar dari mulutnya. Dia seperti gadis yang berbeda planet dengan kita,” Min Kyung menggeleng heran.

“Ah, Min Kyung,” Bi Hyul tiba-tiba memandangi Min Kyung dengan sangat serius. “Bagaimana dengan pangeran Anyang-mu itu?”

Min Kyung mendesah, “Katakan langsung pada intinya.”

“Setelah lulus dari Chongdam, kau benar-benar akan segera menikahinya?”

Min Kyung menjitak kepala Bi Hyul, “Kau gila?” ia mendesis.

“Jika kau menolak, bukankah itu artinya kau yang gila? Apalagi yang kau tunggu? Di Korea Selatan ini, kau adalah gadis yang sangat beruntung. Bayangkan, Nyonya Royal Group.”

“Hyun Bi Hyul, aku tak menolaknya—kalian tahu itu,” ujar Min Kyung. “Aku ingin melakukan apapun yang aku inginkan, termasuk ke pergi ke Universitas. Lagi pula, aku hanya tak ingin menjadi boneka yang tak mengerti apapun dan hanya duduk manis mengurusi asset keluarga itu,” jelas Min Kyung.

Bi Hyul menangguk pelan. “Ya, itulah kau,” dia tahu betul seperti apa watak seorang Kang Min Kyung. Begitu keras dan penuh pendirian.

Sementara itu, disuatu tempat dalam bangunan Chongdam High School, sebuah tempat yang jarang dilalui oleh para penghuni sekolah. Hyori masih berdiri terpaku di hadapan Siwon yang memangku tangan santai, tak sedikit pun ia menggeser pandangannya dari gadis itu.

“Jadi, bagaimana menurutmu?” ungkap Siwon. Hyori masih terdiam, otaknya sibuk mencerna apa yang didengarnya. “Song Hyori, aku sedang bertanya padamu,” ulang Siwon, ada penekanan dari kalimat terakhirnya.

“Ah, itu..,” Hyori menatap Siwon, ia terlihat sedikit kebingungan. “Yang kau katakan, itu—benarkah?” ia bertanya dengan sangat pelan.

Siwon menarik nafas, “Ya? Atau tidak?” pemuda itu memandangi Hyori yang lagi-lagi tak bergeming, tampang polosnya yang semakin terlihat kebingungan, mencoba untuk meraih konsentrasi penuh. “Aku anggap jawabanmu adalah iya. Aku sudah selesai,” Siwon lalu meninggalkan Hyori.

Gadis itu masih terpaku di tempatnya berdiri. Ia memegangi dadanya, debar jantungnya yang kencang terasa jelas di sana. Berkali-kali Hyori menarik nafas panjang. Dengan langkah tertatih, ia berjalan pelan. Hyori tak peduli ketika tubuhnya bersenggolan kasar dengan murid-murid yang berlalu lalang. Ia telah kehilangan sebagian besar kesadarannya.

~to be continue~

well, jumpa lagi di season terakhir.. pada ngerasa gak kalo part ini teramat sangat pendek?

karena sudah janji sama teman2 bahwa season 4 publish dalam minggu ini padahal, yang  sy tulis masih sangat minim dan mengingat banyak kesibukan jd meskipun gak sesuai dengan standard jumlah halaman (versiku 😀 ) seperti biasanya kalo publish ff 😀

Yesungdahlah, selamat membaca

okay… mmuuuuuacch!

Iklan

386 thoughts on “[Season 4] Summer, I Love You So Much! (Part 1)

  1. zcheery berkata:

    SIWONNN MY MAN~~~
    Ngakak setiap baca kata kata itu😂

    Super pendek mah:v biasanya panjangnya bisa sampek setengah novel/? Hahaha
    Jadi apa yg dikatakan siwon kpd hyori shg dia mematung seperti itu?
    Apa hyori diajak belajar bersama? Atau disuruh menjauh dari siwon?
    Mari lanjut dulu wakakakakak tysomuuuccchhh Kak buat cerita”nya❤️❤️

  2. Sarti prihatin berkata:

    Apakah yang dikatakan oleh siwon pd Hyori? Siapakah yang akan menjadi guru privat Hyori? Penasaran sama lanjutanya

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s