A Good Bye For Love

ilustrasi_cinta_terlarang_100521080409

Kau percaya cinta pada pandangan pertama?

Musim gugur lima tahun lalu, pertama kalinya aku melihatmu. Kau memandang kosong pada guguran daun. Aku melihat kesedihan di matamu dan itu membuat jantungku seakan berhenti. Aku jatuh cinta. Kau membuatku candu. Aku mengumpamakan cintaku seperti sebuah bayangan yang selalu mengikuti kemanapun kupergi.

Cukup mudah untuk akrab denganmu, tapi mendapatkan hatimu tidak semudah itu. Alasan yang kupahami bahwa karena kau telah lebih dahulu jatuh cinta padanya. Kau selalu bercerita tentang dia. Sahabat baikmu. Seseorang yang meskipun hanya kau deskripsikan lewat kata-kata, tapi dia mampu membuatmu tersenyum, tertawa bahkan menangis.

Aku mengerti perasaanmu terhadapnya. Cinta sepihak memang menyakitkan. Ya, sangat menyakitkan. Musim demi musim terus berganti dan kau masih menantinya. Seseorang yang mungkin telah melupakanmu. Jika tak ada sedikitpun cela untukku, aku ingin melupakan semua tentangmu bahkan hal terkecil tentangmu, tapi kau membekas dengan sangat kuat di hatiku.

Cinta bukan buih yang akan lenyap ketika mencium bibir pantai dan itu sesuatu yang patut kuperjuangkan, bukan?

Baca lebih lanjut

Iklan

A Waiting

1 (18)“Aku harus menikah denganmu!”

Apa yang ada di kepalamu? Itulah satu-satunya yang terpikirkan olehku ketika kau mengucapkan kalimat itu. Aku hanya tertawa menanggapi kepolosanmu yang terlalu berlebihan. Anak ingusan seperti kita tak akan mengerti dengan arti sebuah pernikahan. Ya, bukankah saat itu kita hanyalah anak-anak? Aku kembali tertawa—tak bersuara, ketika mengingat ekspresimu saat itu.

“Aku menyukaimu.”

Aku pun menyukaimu. Kau adalah sahabat terbaikku, tentu saja aku sangat menyukaimu. Itu adalah jawabanku ketika kau kembali menyatakan perasaanmu pada saat acara perpisahan kita sebagai murid tingkat akhir di Junior High School. Kau hanya terdiam ketika aku mengacak-acak lembut rambutmu, seperti biasanya.

“Karena kita saling mengenal dengan baik. Mencari orang lain? Itu pemborosan waktu. Mengapa tidak memanfaatkan apa yang ada di sekitarmu?”

Jawabanmu yang sangat spontan ketika aku bertanya mengapa kau sangat ingin menikahiku. Sampai detik ini aku belum dapat menyimpulkan jika jawaban itu telah melalui tahap penyaringan di otakmu atau tidak? Baca lebih lanjut