Sakura

awet-muda-jepangMain Cast : Lee Donghae

Author Notes : Cerita ini dibuat khusus untuk event-nya bang ikan dari Mokpo di Sjff2010. Tolong hindari aksi plagiat! Say no to plagiat! ^^

**

 

Ada yang bilang bahwa sebuah benda bisa didiami roh. Benarkah?

**

Tokyo, Jepang.

Sebuah bangunan apartemen sederhana berdiri kokoh. Pintu apartemen nomor 37 yang berada di lantai tiga mulai bergerak. Seorang pemuda terlihat keluar dari apartemen itu, ia mengunci pintu apartemennya sambil sesekali membetulkan dudukan ransel yang bergelayut manja di bahu kirinya.

Onii-san, selamat pagi!” seorang gadis kecil menyapa riang pada pemuda itu. (Onii-san : sapaan terhadap kakak laki-laki yang bukan saudara sekandung)

“Selamat pagi, Hiroko,” dia membalas sapaan gadis kecil yang menghuni apartemen di depannya.

Lee Donghae, pemuda tampan dengan senyuman hangat itu baru dua bulan mendiami apartemen tersebut. Dia memutuskan meninggalkan Korea dan melanjutkan studinya di Universitas Tokyo. Dia tak mengalami kesulitan berkomunikasi dalam bahasa Jepang, mengingat ibunya berasal dari negeri sakura tersebut. Meskipun memiliki kerabat di Tokyo, Donghae memutuskan untuk hidup mandiri. Langkah Donghae sedikit terhenti ketika melewati apartemen nomor 36, ia terdiam sejenak dan kembali mengayunkan kakinya.

Di depan bangunan apartemen, ada sebuah pohon sakura yang bunga-bunganya masih kuncup. Menurut penduduk sekitar, sakura itu adalah sakura tua yang telah ada sejak lama. Tidak ada alasan yang jelas mengapa sakura itu masih berdiri.

Bersama penumpang lain, Donghae menaiki bus yang akan membawanya ke tempat tujuannya—Universitas Tokyo. Pemuda itu mengisi perjalanannya dengan kebisuan, hanya earphone yang setia menyumbati telinganya. Beberapa saat berlalu dan bus berhenti mendadak hingga menimbulkan gelombang keterkejutan para penumpang. Donghae ikut menatap keluar jendela bersama semua orang yang berdesak-desakan karena ingin melihat apa yang terjadi. Sebuah mobil baru saja menabrak seorang pengendara motor. Orang-orang yang berada di ruas jalan tampak histeris karena kejadian itu. Tak ada yang berani berkutik hingga beberapa orang pria yang memiliki keberanian mulai menghampiri mobil dan motor naas itu.

Para penumpang bus, terutama kaum hawa tak berani menatapi sang pengendara motor yang telah tergeletak tak berdaya. Helm yang dipakainya bahkan terlepas. Darah segar dari kepalanya mulai menggenangi aspal hitam tempatnya terbaring. Bus lalu berjalan perlahan, namun Donghae tak sekalipun menggeser arah matanya. Dia memang sedang melihat si pengendara motor, tapi bukan pada tubuh yang terbaring tak bergerak melainkan pada sosok serupa dengan pengendara motor yang berdiri di sisi tubuh itu. Orang itu memegangi wajahnya dengan kebingungan dan tatapannya beralih pada tubuhnya yang tergeletak begitu saja di atas aspal. Dia lalu memandangi Donghae yang juga masih menatapnya. Donghae memalingkan wajahnya perlahan.

Lee Donghae memiliki kemampuan untuk melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata orang lain. Dia telah melihat roh-roh halus sejak ia kecil. Hal itu membuatnya tak memiliki banyak teman semasa di Korea, mereka menganggapnya aneh karena suka berbicara sendiri. Donghae berusaha untuk menerima keanehan pada matanya.

~.o0o.~

Hari sudah gelap ketika Donghae kembali ke apartemen. Langkah Donghae sedikit melambat, dari jauh ia melihat seorang anak kecil sedang duduk di depan pintu apartemen nomor 36.

Onii-san,” panggil anak lelaki itu ketika Donghae baru saja melewatinya. “Kau tidak ingin bermain denganku?” tanyanya.

“Sudah malam,” jawab Donghae. “Mengapa kau terus duduk di situ?” giliran Donghae yang bertanya.

“Aku sedang menunggu Ayah dan Ibu. Mereka belum pulang dari kantor,” jawabnya.

Donghae menarik nafas panjang, “Sampai kapan kau akan menunggu mereka, Ken?”

“Sampai Ayah dan Ibu menjemputku,” jawab anak lelaki berumur delapan tahun itu. Kenichiro, akrab disapa Ken.

Donghae iba pada Ken, ia lalu menghampiri anak itu, “Kau mau jalan-jalan denganku?” tanya Donghae. Ken mengangguk antusias.

“Tapi kakiku sakit,” ujar Ken. “Maukah kau menggendongku, Onii-san?” tanya Ken lagi. Donghae tersenyum menyetujui permintaan Ken.

Donghae menggendong Ken di punggungnya. Mereka berbaur dengan para pejalan kaki. Ken sangat bahagia. Mereka menghabiskan tiga jam dengan jalan-jalan hingga akhirnya Donghae membawa Ken kembali ke apartemen. Sesampai di depan gedung apartemen, Donghae menurunkan Ken.

“Ken. Ayah dan Ibumu pasti akan menemuimu, tapi tidak saat ini,” ujar Donghae.

“Kapan?” tanya Ken polos.

“Aku tidak tahu. Mereka tidak bermaksud membiarkanmu sendiri, mereka sangat menyayangimu.”

Ken terdiam.

“Kuharap kau tidak membenci mereka,” ujar Donghae.

“Tentu tidak. Ayah dan Ibu bekerja untukku. Mana mungkin aku membenci mereka,” ujar Ken bersemangat.

Donghae mengeluarkan sesuatu dari sakunya, ia menyodorkan permen lolipop pada Ken. “Pergilah Ken. Kau tak perlu menunggu lagi,” ujar Donghae. Ken terdiam lalu mengangguk, “Anak pintar,” Donghae tersenyum sambil mengelus-elus kepala Ken.

Donghae lalu memejamkan matanya. Bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu. Cahaya mulai terlihat menyelubungi Ken. Perlahan tapi pasti, tubuh Ken mulai memudar dan pada akhirnya ia menghilang. Donghae menarik nafas panjang, ia memandangi langit yang dipenuhi bintang dan kini bertambah satu bintang baru di atas sana.

Ken dan keluarganya menempati apartemen nomor 36. Ken sering ditinggal sendiri di rumah ketika kedua orang tuanya bekerja. Dua minggu lalu saat sedang bermain, Ken terjatuh dari balkon apartemennya. Ia mengalami cedera parah di kaki dan kepala. Ken yang sempat koma akhirnya meninggal dunia sehari setelah kejadian itu. Kedua orang tuanya sangat terpukul dan memutuskan pindah. Sejak itu Donghae selalu melihat Ken menunggu kedua orang tuanya di depan pintu apartemen.

Lampu apartemen nomor 37 baru saja dinyalakan. Donghae melempar sekenanya tas di atas meja, ia menuju kulkas lalu menarik sebotol air mineral dan langsung membasahi kerongkongannya. Donghae beranjak ke kamar mandi. Ia membasuh wajahnya. Pemuda itu memandangi wajahnya yang terpantul dari cermin. Ia terdiam sejenak lalu tangan kanannya meraba lehernya. Ada sebuah tanda kemerahan berbentuk bulan sabit di sisi kanan leher Donghae yang merupakan tanda lahir, tapi bukan tanda lahir biasa.

Tepat pada ulang tahun yang ketujuh belas, Donghae diberitahu ibunya tentang alasan mengapa selama ini dia mampu melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Donghae sangat terkejut saat ibunya mengatakan bahwa ia adalah seorang pengantar roh. Ada roh-roh yang masih berkeliaran di bumi, kebanyakan dari mereka memiliki sesuatu yang tidak sempat dilakukan semasa hidup. Mengirim roh-roh itu ke tempat semestinya adalah tugas pengantar roh. Seorang pengantar roh akan mewariskan secara turun temurun ‘bakat’ itu pada salah satu anaknya dan itu telah berlangsung sejak masa lampau. Tanda memar berbentuk bulan sabit adalah tanda yang dimiliki oleh pengantar roh. Saat itu, Donghae baru mengetahui bahwa ibunya adalah pengantar roh ketika melihat tanda di leher ibunya yang mirip dengan tanda yang selama ini disangka Donghae sebagai tanda lahir biasa.

~.o0o.~

‘Ingatlah! Saat bunga sakura bermekaran sempurna….’

Donghae tersentak, nafasnya sedikit memburu. Donghae menyalakan lampu kamar. Dengan gemetar Donghae meraih gelas yang terletak di atas meja di sisi tempat tidurnya dan segera mengeringkan isi gelas itu, namun ia masih merasakan jantungnya berdetak sangat kencang. Dua minggu belakangan ini Donghae selalu memimpikan hal yang sama. Selama ini, Donghae telah terbiasa dengan hal-hal aneh di sekelilingnya, tapi setiap kali mendengar suara pria yang mengatakan kalimat yang sama dalam mimpinya—Donghae dapat merasakan ketakutan dan kesedihan. Ia melirik pada jarum jam yang baru menunjukkan pukul satu dini hari.

Donghae beranjak dari tempat tidurnya, ia menuju jendela dan menyingkap tirai yang menutupi jendela. Matanya tertuju pada pohon sakura di bawah sana. Ada sebuah bola api sebesar kepalan tangan orang dewasa yang melayang-layang di sekitar pohon itu. Orang-orang mengatakan bahwa pohon itu memiliki roh dan sejak awal Donghae sudah merasa ada yang mendiami pohon sakura tua tersebut, tapi ia tak pernah melihat wujud roh itu.

Keesokan paginya ketika Donghae hendak menuju kampus, ia berhenti di depan pohon sakura yang mulai bermekaran. Semilir angin yang berhembus menyapu lembut permukaan kulit wajah Donghae.

‘Saat kuncup bunga sakura mulai bermekaran, bukan?’

Bersama desahan angin, Donghae dapat mendengar suara lembut seorang wanita yang berbisik di telinganya. Donghae memejamkan matanya. Ia merasakan kesedihan yang luar biasa, entah cerita sedih apa yang disimpan oleh sakura itu.

“Kau menyukainya?”

Seseorang mengagetkannya, seorang kakek yang tinggal di sekitar lingkungan apartemen Donghae.

“Sepertinya ini satu-satunya sakura di lingkungan ini?” tanya Donghae.

“Ya. Satu-satunya yang tetap bertahan,” ujar kakek.

“Sudah berapa lama sakura ini hidup?”

“Entahlah. Saat aku membuka mata, sakura ini sudah ada,” jawab kakek yang tak tahu seberapa tua pohon itu. Donghae dan kakek terdiam, mereka hanya memandangi sakura tersebut. “Tak lama lagi, sakura ini akan mekar sempurna,” gumam kakek.

~.o0o.~

‘Ingatlah! Saat bunga sakura bermekaran sempurna, saat itu akan menemuimu!’

Entah untuk keberapa kalinya Donghae terbangun ditengah malam karena mimpi yang sama. Dia beranjak dan segera menuju jendela, ia terkejut melihat bunga sakura di bawah sana telah mekar dengan sempurna. Tidak seperti biasanya, pohon itu tampak bercahaya. Donghae segera meninggalkan apartemennya.

Beberapa saat kemudian ia telah tiba di halaman depan gedung apartemen. Donghae tak dapat menyembunyikan kekagumannya melihat keindahan sakura yang kelopak-kelopak cerahnya sedang mekar. Donghae berjalan mendekati pohon itu. Tatapan Donghae lalu jatuh pada sosok lain yang berdiri di bawah pohon.

Seorang wanita dengan kimono panjang berwarna merah maroon, rambut hitam panjangnya yang berkilau tergerai indah. Ia memiliki paras yang sangat cantik. Wanita itu terlihat seperti seorang putri pada jaman dulu. Untuk sekian menit, bola mata Donghae tak mampu berkedip. Ia terpesona karena kecantikan wanita itu. Tubuh wanita itu tak terlihat begitu jelas, ia hampir menghilang. Donghae dapat merasakan jika roh wanita itu mulai melemah.

“Siapa kau?” Donghae bertanya. Wanita itu terdiam, mata indahnya terlihat kebingungan dan ia kemudian menggeleng pelan. Donghae teringat perkataan ibunya jika roh terlalu lama di bumi, maka secara perlahan ingatannya akan terhapus. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Donghae lagi.

“Aku?” bibir mungilnya terlihat gemetar, “Entahlah. Aku tak tahu.”

“Di mana rumahmu?” tanya Donghae dan dia kembali menggeleng, “Kau menunggu seseorang?”

Dia terdiam, berpikir sejenak. “Aku tak tahu, tapi—aku merasa harus ke tempat ini pada saat bunganya mekar,” gumamnya sambil berpikir. Rasa iba mulai tumbuh di hati Donghae. Ia lalu menghampiri wanita cantik itu.

“Kau ingin pulang?” wanita itu mengangguk atas pertanyaan Donghae, “Kau mau aku mengantarmu?” tanya Donghae sambil mengulurkan tangannya.

Wanita itu terdiam, ia memandangi tangan yang diulurkan Donghae lalu tatapannya beralih pada wajah Donghae yang tersenyum hangat. Dengan perlahan, ia meraih tangan Donghae. Rohnya yang lemah mulai menguat, tubuhnya terlihat jelas dan Donghae mampu menggenggam tangannya. Sesuatu yang aneh mulai dirasakan oleh Donghae, baru saja ia hendak melepaskan genggaman tangannya ketika tubuhnya terseret dan terlempar jauh. Sangat jauh.

~.o0o.~

Pertengahan Zaman Edo, tahun 1721.

Terjadi keributan di lingkungan kediaman salah satu bangsawan. Para dayang terburu-buru menuju suatu tempat.

“Bagaimana?”

“Dia sudah tenang,” ujar seorang dayang. Mereka masuk ke dalam kamar. “Kasihan sekali,” katanya lagi. Mereka memandangi seorang wanita cantik yang sedang tertidur. Wajahnya sangat pucat. “Ini sudah keempat kalinya Nona mencoba bunuh diri.”

“Apa semua yang dikatakan Nona benar?”

“Entahlah—dia selalu saja berteriak seperti orang gila. Sulit rasanya untuk mempercayai ucapan Nona,” bisik seorang dayang, “Banyak yang mengatakan jika Nona mengalami gangguan jiwa.”

“Ssttt! jangan sampai Tuan mendengarmu,” tegur dayang lainnya.

Hideaki Chiyoko adalah putri bungsu dari Gubernur Edo, Tuan Hideaki Mitsuhiro. Chiyoko terkenal karena kecantikannya, namun sayangnya ia memiliki perilaku yang aneh. Dia sering berteriak dan berontak seperti orang  ketakutan. Chiyoko selalu mengatakan bahwa ia melihat arwah-arwah orang mati dan mengatakan pada semua orang bahwa arwah-arwah itu selalu mendatanginya, namun semua orang sangat sulit mempercayai perkataannya. Chiyoko yang frustasi berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri.

Beberapa hari berlalu sejak peristiwa itu. Dayang-dayang sedang berkumpul di salah satu bangunan dalam kediaman gubernur.

“Kudengar, Tuan meminta seseorang untuk menjadi pengawal khusus Nona Muda.”

“Ya. Aku juga mendengar itu. Tuan Besar sangat takut jika suatu saat Nona berusaha bunuh diri.”

“Lalu siapa orang itu?”

“Kalian pasti terkejut,” ujar seorang dayang. Semua memandanginya penasaran, “Dia adalah…”

Belum sempat dayang itu menjawab ketika melintas di hadapan mereka seorang pria dengan postur tubuh tegap. Rambut hitamnya hanya dikuncir biasa. Dia membawa sebuah pedang panjang di tangan kanannya. Wajahnya yang tenang, sorot mata yang tajam serta rahang yang tegas terlihat seperti satu paket yang sempurna.

“Watamaru Shouji, orang yang akan menjaga Nona Chiyoko,” dayang tadi melanjutkan penjelasannya. Para dayang selalu terkesima jika berpapasan dengan pria itu.

Watamaru Shouji adalah salah satu samurai yang bekerja untuk gubernur. Samurai adalah istilah untuk perwira militer kelas elit, mereka memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi.

~~~

“Mengapa kau masih di situ?” Chiyoko terlihat kesal melihat Shouji yang tak sedikit pun bergerak dari posisi bersila.

“Aku hanya melakukan tugasku,” jawab Shouji.

“Kau seorang samurai?” tanya Chiyoko dari balik tirai yang memisahkan ruangan mereka. “Jika Ayah meminta seorang samurai untuk menjagaku, mengapa dia tak memintamu menghibisiku saja? Seorang yang memalukan sepertiku,” tentu saja Chiyoko merasa berang, ia tak memiliki waktu bebas semenjak ayahnya menyuruh salah satu samurai untuk menjaganya.

Suatu malam ketika Chiyoko sedang tertidur, ia dibangunkan dengan udara dingin yang merembes ke seluruh permukaan kulitnya.

‘Nona…Nona Chiyoko…’

Chiyoko sudah gemetar, dia sangat ketakutan saat mendengar suara itu.

“Pergi! Pergi! Jangan datang padaku! Pergi!” teriak Chiyoko. “PERGI!”

Shouji yang berjaga di luar terburu-buru masuk ke kamar Chiyoko dan mendapati gadis itu sedang mengamuk.

“Nona!” Shouji memegangi kedua tangan Chiyoko.

Chiyoko yang masih ketakutan justru melepaskan diri dari Shouji. Ia mundur hingga ke sudut ruangan. Chiyoko mengeluarkan sebuah pisau dari tempat persembunyian dan mengarahkan pisau itu ke lehernya.

“Kalian ingin aku mati? Jika aku mati, apa itu sudah cukup?” tangis Chiyoko ketakutan.

“Nona, jangan melakukan hal bodoh,” Shouji tampak cemas.

“Jangan ikut campur!” Chiyoko balik menghardik Shouji.

Shouji terdiam beberapa saat. Ia lalu mengeluarkan pedang panjangnya yang sangat tajam, “Pisau kecil itu tak akan mampu membunuhmu, tapi hanya melukaimu. Jika Nona ingin mati, gunakan pedang ini!” perkataan Shouji membuat Chiyoko terperanjat. “Tapi sebelum itu, Nona harus membunuhku terlebih dahulu! Tak ada yang lebih baik dari kematian bagi seorang samurai yang gagal melaksanakan tugas.”

“Kau….,” Chiyoko tertegun. Ia mencari keseriusan dari perkataan Shouji, pria itu tak terlihat sedang bercanda.

“Baiklah, biar aku yang melakukannya!” Shouji mengambil pedang yang tergeletak dan mengarahkan pedang itu ke perutnya. Dia akan melakukan tradisi harakiri atau tradisi bunuh diri yang dilakukan untuk menjaga kehormatan.

“Tidak!” secepat kilat Chiyoko menahan pedang Shouji tepat sebelum pedang itu menancapi perut Shouji. “Jangan lakukan itu!” air mata Chiyoko mengaliri wajah cantiknya. Ia membuang pedang di tangan Shouji, “Aku tidak gila. Aku melihat mereka,” tangisnya sambil memeluk Shouji.

Shouji terdiam, memandang tenang pada Chiyoko, “Aku tahu,” jawab Shouji.

Sejak itu, Chiyoko tak lagi melakukan usaha bunuh diri. Dia menjadi sangat dekat dengan Shouji yang selalu menemaninya kemanapun ia hendak pergi. Diam-diam, perasaan mulai tumbuh dalam hati mereka. Kedua orang itu saling jatuh cinta. Tuan Hideaki Mitsuhiro tidak menyukai hubungan yang terjalin antara putrinya dan Shouji, pasalnya ia berniat menerima pinangan dari Pangeran Yoshihide, putra sulung Kaisar.

“Shouji,” panggil Chiyoko ketika mereka berdua sedang duduk bersandar pada batang pohon sakura. “Apa kau tahu jika aku akan dinikahkan dengan Pangeran Yoshihide?” tanyanya sambil merebahkan kepalanya di pundak Shouji.

“Ya,” jawab Shouji. “Itu pernikahan yang baik.”

“Kau ingin aku menikahi orang itu?”

“Nona harus menuruti kehendak Tuan!”

“Kau bahagia jika aku melakukannya?”

“Ya,” jawab Shouji berbohong.

“Kau bahagia jika aku menikahinya?” Chiyoko mengulang pertanyaannya. Shouji terdiam, “Katakan!” perintah Chiyoko.

“Meski bibirku dapat membohongimu, tapi hatiku tak mampu menanggung sakit jika Nona bersama orang lain,” jawab Shouji. Chiyoko tersenyum puas mendengar jawaban Shouji.

Chiyoko bersikeras pada ayahnya bahwa dia tak akan menikahi siapa pun selain Shouji. Khawatir jika Chiyoko bunuh diri, Tuan Hideaki dengan berat hati mengabulkan permintaan Chiyoko. Mereka akan menikah, tapi pertempuran di Hokaido mengharuskan Shouji ikut bertempur. Pada hari keberangkatan Shouji, Chiyoko mengantar Shouji hingga ke tempat di mana mereka sering menghabiskan waktu berdua. Di bawah pohon sakura.

“Berjanjilah kau akan kembali,” mata Chiyoko mulai berkaca-kaca. “Shouji.”

Shouji mengeringkan air mata Chiyoko dengan ibu jarinya, “Kau akan menungguku?” tanya Shouji. Gadis itu mengangguk. “Kau mencintaiku?”

Chiyoko mengangguk dan air matanya kembali berlinang. Shouji lalu mendaratkan kecupan hangat di bibir Chiyoko. Ia mendekap Chiyoko erat. Terasa berat ketika kakinya melangkah meninggalkan Chiyoko yang berdiri di bawah pohon sakura itu.

“Ingatlah! Saat bunga sakura bermekaran sempurna, saat itu akan menemuimu!” teriak Shouji. Chiyoko mencoba memaksakan bibirnya tersenyum dan membalas lambaian Shouji.

Sayangnya, Shouji tak pernah datang menemui Chiyoko. Pemuda itu tewas dalam pertempuran di Hokaido. Meskipun mengetahui kenyataan bahwa Shouji telah tiada, namun Chiyoko masih menanti Shouji. Chiyoko akhirnya tetap menikahi Pangeran Yoshihide dan memiliki keturunan, namun setiap kali bunga sakura bermekaran—dia akan menanti Shouji di bawah pohon itu.

~.o0o.~

Mata Donghae terbuka lebar. Ia tersentak begitu tersadar dari perjalanan menembus waktu. Dadanya bergemuruh hebat. Remasan tangan hangat membuatnya kembali tersadar bahwa ia masih berada di bawah pohon sakura dan tangannya masih menggenggam tangan wanita cantik berkimono merah itu.

“Chiyoko,” bibir Donghae bergetar saat memanggil nama wanita yang kini berdiri terpaku di hadapannya. Wanita itu tak berkutik, ia lebih mirip patung.

“Kau,” mata wanita itu berkaca-kaca, ingatannya seakan pulih. “Watamaru Shouji,” air mata mengalir begitu saja di pipinya.

Pohon sakura menjadi lebih terang daripada sebelumnya dan Donghae mulai berubah. Yang berdiri di hadapan Chiyoko bukanlah sosok Lee Donghae melainkan orang yang terlihat mirip sekali dengan Donghae yaitu Shouji. Siapa yang mengira jika Donghae adalah reinkarnasi Shouji?

Chiyoko berhamburan ke pelukan Shouji, “Aku menunggumu,” ujar Chiyoko. “Syukurlah…syukurlah..,” ia mempererat pelukannya.

Sosok Shouji menghilang dan tergantikan dengan Donghae. Pemuda itu masih tertegun, ia dapat meresapi rasa cinta dan rasa rindu Shouji terhadap Chiyoko. Donghae mulai membalas pelukan Chiyoko.

“Maaf membuatmu menunggu lama,” gumam Donghae. “Dan untuk membuatmu kembali menunggu, maafkan aku. Chiyoko, beristirahatlah,” Donghae mempererat pelukannya.

Angin berhembus sangat kencang membuat rambut panjang Chiyoko dipermainkan angin. Mata Donghae tertuju pada leher Chiyoko dan ia terkejut ketika melihat tanda bulan sabit di leher Chiyoko sebelum akhirnya wanita itu menghilang. Jantung Donghae berdebar keras. Alasan mengapa Chiyoko dapat melihat roh karena dirinya adalah seorang pengantar roh, namun saat itu Chiyoko tidak menyadarinya. Donghae semakin lemas ketika menyadari hal lain, yaitu dirinya adalah garis keturunan dari Chiyoko.

~.o0o.~

Suatu pagi, tepat sebulan setelah kejadian itu seseorang mengetuk pintu apartemen Donghae hingga membuat pemuda tersebut terbangun. Malas-malasan saat Donghae menghampiri pintu. Seorang gadis yang berdiri di ambang pintu sukses membuat kantuk Donghae mendadak raib. Matanya bahkan melebar karena gadis itu.

“Hallo. Aku tetangga barumu. Aku baru menempati apartemen nomor 36,” katanya sambil menyerahkan hantaran.

“Chiyo…,” Donghae tak dapat melanjutkan kata-katanya.

“Kau tahu namaku?”

“Nona Chiyoko?” gumam Donghae lagi. Gadis itu sangat mirip dengan Chiyoko.

“Ah—kukira kau menyebut namaku,” dia tersenyum ramah. “Aku Hanazawa Chiyo,” katanya memperkenalkan diri. “Semoga kita dapat bergaul akrab,” lanjutnya lagi sambil membungkuk hormat dan berlalu dari hadapan Donghae yang masih mematung.

“Hanazawa Chiyo,” gumam Donghae. “Senang berjumpa denganmu.”

~End~

Satu-satunya yang terpikir adalah…semoga kalian terhibur ^^

Kalau gak keberatan, mohon tinggalkan komennya ya. Thank you so much

Iklan

203 thoughts on “Sakura

  1. Rasty Resty berkata:

    ya yang hiatus lama,,, dateng” bawa cerita mengharu biru,,,
    ini bagus nih,, feelnya dapet bgt,,happy end,,

  2. chocholia berkata:

    Aku mau bikin pengakuan dosa…
    Sebenarnya, aku udah baca FF ini pas di SJFF.
    Jadi pas Aku tanya sama Sora kapan detlen buat Event Bang Ikan (read: Mantan suamiku) xD
    Si Sora bilang ternyata udah diumumin pemenangnya, dan begitu aku tanya siapa yang menang. Dia bilang Kakak lagi yang menang, dan aku langsung seketika aja begini….
    “APPPPAAAAAAAA????? KAK MARCIA LAGI YANG MENANGGGGGG??? Kenapaaaaa??? Kenaappppaaaaaaaa????” /nangis coca cola/

    Oke, kembali ke FF.
    Aku suka sama karakter Donghae yang ala” Tae Gongshil di Master Sun ini… xD
    Dan yang aku tangkep intinya adalah, ngenes banget nasibnya si Ikan. Naksir sama nenek moyangnya sendiri… Wakakakakaka~~~
    Trus pas kakak ngegambarin si Prajuritnya Putri itu, aku justru ngebayangin si ‘Siwon My Maannn~’ masa kak…

    Okesip, komenku kepanjangan ya?
    Bye….. /lambai” bareng sama Kim Woobin, Lee Jongsuk, hong Jonghyun dan Lee Soohyuk/ >_<

  3. rismarii berkata:

    baru nemu blog ini dan langsung baca ff ini
    aku suka, cerita nya menarik, bahasa yang digunakan juga bagus
    feel nya dapet
    keep writing ya 😉

  4. Ishmaaaah berkata:

    WAktu pertama2 takut bacanya, tapi ternta gak semengerikan yang aku bayangkan, ceritanya aku suka banget 😀
    Aku paling suka di bagian akhirnya thor 😀
    Thumbs up deh kuberikan untuk mu thor^.^

  5. g.elf@zOld berkata:

    Hoaaa..
    Terhibur bgt eonnie, bner” kisah cinta klasik yg menyenangkan..
    Gk ada sequelnya kahh eon?? Pengn ngerti antara hae sama chiyo..

  6. rizkasenja berkata:

    kakakkk……. marchia love you so much…….., kak makin TOP aja nih tulisannya dan ceritanya asekk bad’dai, kak udah pernah nerbitin novel belum kak? pasti udah banyak ya kak ❤

  7. Elisomnia berkata:

    ceritanya keren bgt, aku sukaa…… daebakk deh authornya
    keep writing yah 😉
    fighting!!~

  8. dintahyuk berkata:

    Annyeong~ reader baru disini ^^
    Salam kenal untuk author nya :)))
    Mampir ke wp ini gra2 bca ff di sjff2010 yg ‘the angel’ krna aku suka ceritanya ^^ wahh wp nya ramai sekali 🙂 jd penasaran sma ff2 yg lain 😀
    Ff khusus hae ini aku suka 🙂 tp serem bgt mslahnya aku bca disaat sedang sendiri dan tengh malem 😦 hehe
    Author daebak ^^

  9. man/juliana berkata:

    woah itu cerita sungguhan thor…atau thor gabung dengan sejarah jepang sedikit…pemikiran thor tentang sebuah cerita selalu daebak, berbeda dan fresh …thankz uda izin baca

  10. yuni berkata:

    Wiihhh … Keren

    baru nemu blog ini
    N ff pertama yg d baca,
    di blog ini …
    Keren banget …
    Kisah masa lampau …

    Daebak dh buat authornya ^^V

  11. nadira berkata:

    pernah membaca ff yg mirip sekali dgn ff ini d blog sebelah tp dgn main cast & judul yg berbeda..

    • marchiafanfiction berkata:

      wah.. seberapa mirip? utk cerita di sini, murni hasil pemikiran sy & sy benar2 gak suka sm tindakan plagiat.. kalo emg ada kemiripan itu faktor ketidaksengajaan

      tp seberapa mirip? atau mirip bgt hanya berubah judul dan main cast? utk keseluruhan cerita piye?

      tolong info alamat blog itu plus link ff nya… aku pengen cek sendiri

      sangat berharap tdk ada yg diplagiat di sini & semoga mmg hanya faktor ketidaksengajaan

      • marchiafanfiction berkata:

        Aku udah lht dan syok…itu ff sy di bajak..sumpah skrg ampe bingung mau komen apa…cm diganti cast..selebihnya titik koma sama…ff ini sy buat dlm rangka even bang donghae di superjuniorff2010.wordpress.com n kebetulan sy menang di situ

        ASLI INI MURNI BUATAN SY N DY PLAGIAT

        Terkirim dari Samsung Mobile

  12. nadira berkata:

    beberapa waktu yg lalu membaca ff yg mirip sekali dgn ff ini d blog sebelah tp dgn main cast & judul yg berbeda..

  13. Esa Kodok berkata:

    q muncul lagi…iyahhh….horrornya bagus. kesannya bukan horor yg buat deg2an…tp horrornya lembut buat bulu roma berdiri

  14. Esaa berkata:

    Inikah ff mu yang di plagiat ??
    Sebenernya aku kurang begitu tertarik oneshot, tapi pas eonni bilang ff ini ada yg memplagiat ,aku penasaran dong ff seperti apa tuh?
    DAN TERNYATA W.O.W, AKU HANYA BISA MENGANGA…

  15. onenkfoo berkata:

    baru berkunjung lg stlah sekian lma heeee…….
    ini epep yg diplagiat itu ya….
    awal baca pngsung keinget ma tae gong shil aj nih dy jg bisa ngliat arwah gitu deh…..tp beda koq jln cerita’y
    itu itu bang donge’ jd samurai gmn ya koq g terlintas sma skali dipkiran q penampakan’y….
    itu yg ditunggu chiyo shouji (donghae) trus donghae sndri kturunan’y chiyo dlu pas hmil’y chiyo bnyak mikirin shouji kali yeeee maka’y muka’y sama gtu….*halllahhh apa sich…g pnting abaikan kkkkkkk

  16. just_dez berkata:

    Oooohh, ini ya ff yg menang kontesnya abang donghae
    Dan ini ya, yang diplagiat? Oh my…… Kebangeten tu org
    Tp emg ff keren sih, makanya tgnnya gatel pgn plagiat, hehe
    Kasi tw blogny dong, penasaran nih, wkwk

  17. cutebabyhae berkata:

    Kyaaa Feelnya dapet banget 😉 ini FF kelihatannya pernah kubaca dimana gitu O.o tapi gak tahu kalau authornya eonni hehehe (y) Donghaenya gak banyak bicara keinget sama si evil 😛

    Penjabarannya bikin aku bungkam,, Good Job eon

  18. JewELFishy berkata:

    saya sangat terhibur, pemaparannya gak muluk2 dan dapet feelnya .. semangat untuk selalu berkarya 🙂

  19. Heni Sinta berkata:

    mian eoun… menurut ku feelnyaa kurang dapet ! kenapa pas donghae menggendong ken , gak ada pejalan kaki yang mengatai donghae gila atau gimana gitu ,, kan donghaenya senyum-senyum sendiri , ngomong sendiri,, oranglain kan gak bisa melihat ken !
    tapi pas chiyouko sama soujhi nya feel nya dapet ,, sumpah dee terharu gtu !
    keep writing eouni 🙂

  20. nrlazisah berkata:

    Annyeong, saya readers baru
    Ffnya keren, ceritanya beda dari ff lain, feelnya dapet pokonya T.O.P

  21. Nunu Chan :D berkata:

    Nice story 😀 horror nya sweet malah gakerasa horror Jjang banget kak T.O.P. pokok nya..

    Ff ini sempet kena plagiat?? duh orang ga punya kreativitas yg gitu ngebuat geram aja heuh -_- *Miris padahal sama di kasih otak, tapi kenapa ga di pake buat kreatif nya sendiri..

    pepe yang belum lanjut apa kabar kak 😦 pengen tau kelanjutan lovely piggy sama pepe yg baru treaser itu >_<
    #Im waiting 😀 semangat kak ^^

  22. reeya.lau berkata:

    Critanya si bang hae indigokah??
    horornya romatis eon..
    deabek Eon pkoknya..
    dtnggu karya2 yang lainnnya.. 🙂

  23. Lia9287 berkata:

    Sumpah eonni, cerita’y keren!!
    Tadi’y aku udah ngira kalo Donghae tuh reinkarnasi’y Shouji, eh ternyata bener
    Eonni, pw ff After Story…I Feel In Love, My
    Trouble Maker Girl yg part 3 ditunggu ya 🙂

  24. iannn berkata:

    Thor, lo memang paling daebak. Lo slalu tepat memainkan perasaan pembaca. Slalu gak berlebihan tapi dapet banget feelnya

  25. merliiafan5 berkata:

    Hallo kak! aku reader baru:)
    pertama mampir lngsung baca ini, karna judulnya yg brhubungan sama jepang jdi aku milih ini.. 😀
    Dan, wwowww!!! cerita nya aku suka skali^,^ apalagi bias yg maen;| hehe.. juga jujur yah kak, aku sbenernya ngga trlalu suka ff oneshot tapi pas baca punya kkak, ih ini ff oneshot pling keren yg pernah aku baca;* 😀

  26. Elva berkata:

    iih waaawww …. keren sangat ceritanya. suka sama imaginasi author …
    ternyata mereka sama2 reinkarnasi dari masa lalu ..
    kenapa semua karya author keren2 . hmm .. 🙂

  27. mdterry berkata:

    Waktu aku liat ini ff di plagiat jadi kepo pengen baca,, eh ternyata bener sumpah keren bangettt!! Selamat eonni masuk ke jajaran author favorite aku^^ hehehe :v

  28. Widya Choi berkata:

    Y elah tau2 udh end aj..
    Itu mrk berdua sm2 reinkarnasi kah….
    Wehhh skrg mrk ktemu lg..mn tetanggaan lg

  29. LC_Ovan berkata:

    Baca FF ini entah antara merinding atau sedih merinding karna My Ikan Mokpo bisa liat roh dan sedih karna ternyata dia renkarnasi dari Souji tapi dia juga merupakan keturunan dari Chiyo/? Emang kadang roh bisa seperti itu karena semasa hidup ada urusan yang belum selesai

    Sebenar’a udah nebak kalau Souji itu Bang Ikan dimasa lalu dan dia orang yang dicintai dan selalu ditunggu oleh Putri Chiyo dan benar setiap bunga sakura bermekaran Chiyo akan selalu di sana dan menunggu sosok Souji

    Walau Souji dan Chiyo tidak bersatu di kehidupan lalu tapi dikehidupan sekarang mereka bisa bersatu antara Donghae dan Chiyo (Renkarnasi dari Putri Chiyo) wahhhh FF dimari emang THE BEST

  30. Raeder berkata:

    woa, makasih ya kak udah buat FF sebagus ini♡
    dulu sering ke blog ini tapi jadi sider hehehe 😀
    sekarang aku akan sering komen deh kak. semangat!!

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s