Under The Joseon Sky (Part 2)

PIC-604355 - © - TOPIC PHOTO AGENCY IN

Marchia’s note : MOHON UNTUK TIDAK DI COPY PASTE or PLAGIAT! Kalau teman2 mendukungku & menemukan aksi plagiat, tolong beritahu aku. Say no to plagiat!

***************************************************

~ Menyakitkan! Semoga Ini Hanya Mimpi ~

 

Bandar Udara Internasional Incheon. Akhirnya Ammy menginjakkan kaki di bandara tersebut, bandara terbesar di Korea Selatan dan merupakan salah satu bandara yang terbesar di Asia. Segera setelah menemukan orang yang menjemputnya, Ammy bertolak dari bandara. Perjalanan cukup lama hingga tiba di Seoul tak membuat mata Ammy terpejam. Ammy memandangi wajah Seoul yang tertata dengan sangat baik dan rapi. Ammy diantar ke sebuah hotel di Seoul. Semua keperluannya memang sudah diurus oleh kantor, ia segera memasuki kamar dan membiarkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak.

Ponsel Ammy bergetar dan bernyanyi pelan. Ia tersenyum sebelum mengangkat ponselnya. “Hallo,” jawabnya senang.

Kau sudah sampai?” suara Chris terdengar dari seberang.

“Ya, aku sudah berada di hotel—perjalanan yang cukup melelahkan namun sangat menyenangkan.”

Lain kali kita pergi berdua.

“Kalau kau tak sibuk lagi dengan pekerjaanmu,” senyum tipis Ammy.

Tentu saja. Kita belum menentukan ke mana akan berbulan madu. Korea Selatan mungkin pilihan yang tepat.

Ammy tak bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya, “Kita bicarakan itu nanti saja. Kemanapun aku tak masalah.”

Baiklah, kau beristirahatlah. Aku akan menghubungimu lagi.

“Ya.”

Percakapan singkat itu berakhir. Ammy menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk. Ia mulai memejamkan matanya dan tertidur.

~.o0o.~

Sudah tiga puluh menit lamanya Ammy termenung, memandang dari balik kaca kafe tempatnya berada. Para pejalan kaki tampak berlalu lalang. Mereka terlihat nyaman dengan jaket yang dikenakan. Musim dingin memang sedang berlangsung di Korea. Ammy memegangi cangkir berisi coklat panas dengan kedua tangannya, menghangatkan telapak tangannya di situ. Asap masih mengepul dari cairan kental itu. Ammy meneguk sekali dan tegukan berikutnya dengan durasi yang lebih lama. Ia kembali meletakan cangkir di atas meja namun tak memindahkan posisi kedua tangannya dari cangkir itu.

Berkali-kali Ammy menarik nafas panjang, sesuatu yang menari-nari dalam pikirannya adalah hal yang begitu berat untuk dipikirkan. Gadis itu lalu menyembunyikan kedua tangannya di dalam jaket yang sedang dikenakannya. Sebelah tangannya mengeluarkan ponsel. Mengotak-atik ponsel itu sejenak, Ammy kembali mendesah. Ini hari keempat Ammy di Seoul namun Chris menghubunginya hanya di hari pertama.

Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.

Lagi-lagi Ammy menarik nafas berat, jawaban yang sama selalu diterimanya ketika mencoba menghubungi nomor kekasihnya itu. Tiga hari belakangan ini tidak ada kabar dari Chris. Ammy bahkan tak bisa menghubungi nomor Chris. Ammy tak dapat memungkiri bahwa ia sangat cemas, tak biasanya Chris bertingkah seperti itu. Ammy ingin bertanya langsung tapi ia harus bersabar hingga kembali ke Jakarta—masih delapan hari lagi ia harus berada di Seoul. Ammy tak menyadari jika di sudut lain kafe, seorang pemuda tak meluputkan tatapannya dari Ammy.

“Apa yang kau lakukan di sini?” perhatian pemuda itu teralih. Ia memandangi dua orang pemuda lainnya yang telah berdiri di dekatnya.

Cengiran tajam tampak jelas di wajahnya. “Kalian jauh lebih baik dengan pakaian itu. Ah, aku menyukai potongan rambut kalian,” katanya terkekeh pelan. Ia terus memperhatikan dua pemuda yang ikut duduk di meja yang sama dengannya.

Pandangan mereka lalu tertuju pada Ammy yang masih tak menyadari bahwa ia bahkan tengah diawasi oleh tiga pemuda tampan yang kini menjadi sorotan pengunjung kafe lainnya.

“Ammy, nama yang bagus,” gumam pemuda berpostur tinggi, ia menyunggingkan senyum tipis hingga memamerkan lesung pipi miliknya.

“Ya,” jawab pemuda pertama yang mengawasi Ammy.

“Cih, seharusnya kalian tak ikut campur,” gusar pemuda lainnya, kedua matanya seperti memejam. Ekspresi wajahnya sangat tenang.

“Jika ada seseorang yang ingin kau salahkan, katakan pada Yeom. Dia menyebabkan semua kekacauan ini. Akh, Yeom memang benar-benar menakjubkan.”

“Karena sudah seperti ini, bukankah sebaiknya kita ikut membantu?” lesung pipi kian terlihat jelas dari wajah pemuda itu.

Ammy mulai merasakan sesuatu yang aneh, ia akhirnya sadar bahwa ia tengah diperhatikan. Ammy menoleh pada ketiga pemuda itu dan ia terkejut ketika melihat seorang diantara mereka melambaikan tangan padanya.

“Kau?”

Secara refleks Ammy berdiri, ia berjalan menghampiri ketiga orang itu.

“Hai, Ammy.”

“Hyuk Jae?”

“Aku mendengar keberangkatanmu ke Seoul,” ujar Hyuk Jae. “Ah, maaf. Aku tak bermaksud mengikutimu. Ini hanyalah pertemuan yang terjadi secara kebetulan,” ucapan Hyuk Jae diikuti oleh tatapan miris dua pemuda yang bersamanya.

Ammy mengangguk. “Ya. Di dunia yang seluas ini, pertemuan seperti ini memang kebetulan yang sangat aneh,” gumam Ammy.

“Tugasmu sudah selesai?”

“Masih seminggu lagi. Karena kegiatan hari ini berlangsung lebih cepat, aku masih punya waktu untuk jalan-jalan,” jawab Ammy. Ia lalu menatapi dua pemuda yang sedari tadi hanya diam menyimak percakapan yang mengalir antara dirinya dan Hyuk Jae.

“Ah, aku lupa mengenalkan padamu. Mereka adalah sahabatku,” ujar Hyuk Jae, ia menatapi dua orang itu. “Siwon dan Jong Woon,” perkataan Hyuk Jae diikuti oleh batuk keras dua pemuda itu, seperti orang yang sedang tersedak.

“Apa mereka baik-baik saja?” tanya Ammy.

“Tentu, mereka hanya belum terbiasa dengan suasana seperti ini,” kerling Hyuk Jae.

“Senang berjumpa kalian,” sapa Ammy dan dibalas dengan tundukan kepala dua pemuda yang masih berusaha untuk menguasai diri mereka. “Kalau begitu aku permisi,” pamit Ammy. Hyuk Jae tersenyum.

“Apa yang kau lakukan?” dua pemuda itu bersama-sama menerjang Hyuk Jae.

“Apa lagi?” Hyuk Jae hanya tersenyum polos.

“Apa yang kau katakan pada gadis tadi? Siapa Siwon dan siapa Jong Woon? Lalu sejak kapan kau berubah menjadi Hyuk Jae?”

“Aku sedang memperkenalkan kalian. Siwon,” ia menunjuk pemuda berlesung pipi lalu telunjuk beralih pada pemuda berekspresi datar, “Dan kau, Jong Woon,” senyuman puas mewarnai wajah Hyuk Jae.

“Apa kau gila?”

“Ssstt…kalian harus menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman,” desis Hyuk Jae.

“Yeom benar-benar membuat kita bertindak sampai sejauh ini.”

Hyuk Jae memandangi pemuda yang dinamainya Siwon, “Kau sudah melakukan tugasmu dengan sangat baik,” pandangannya lalu teralih pada pemuda berekspresi datar yang hanya memamerkan ketidaksenangannya. “Lalu kau, sebaiknya kau tak melakukan apa pun dan tidak merencanakan apa pun. Takdir gadis itu sudah berubah sejak Yeom mengacau. Mulai sekarang ini adalah tugasku, kalian hanya perlu menontonnya.”

“Kecemasanmu berlebihan. Aku sudah tak berselera karena si bodoh Yeom,” celetuk pemuda yang disebut-sebut sebagai Jong Woon.

“Baiklah, lalu kau sudah mempertemukan Ammy dan orang itu?” tanya Siwon.

“Segera,” jawab Hyuk Jae. “Semua sudah kuatur,” ia tersenyum mekar.

“Seharusnya gadis itu masih punya banyak waktu, tapi anehnya aku mencium bau kematian yang sangat kental darinya,” gumam Jong Woon.

“Jangan bermimpi! Waktunya masih sangat banyak,” celah Siwon.

“Kalian benar. Kejadian yang akan dialaminya membuatnya hampir menghadapi kematian, namun disitulah titik balik untuk menjalani hidupnya yang sebenarnya,” Hyuk Jae menerangkan. “Bukankah sudah kukatakan? Aku sudah mengatur semuanya,” ia tersenyum puas.

~.o0o.~

Setelah menjalani aktivitas kedinasannya, Ammy tak membuang kesempatan untuk menjelajahi kota Seoul. Genap seminggu keberadaan Ammy di negeri gingseng tersebut dan sampai saat ini ia tak mendengar kabar dari Chris. Ammy selalu menghibur dirinya sendiri. Setidaknya, panorama Seoul mampu mengobati berbagai macam rasa yang berkecamuk dalam dada Ammy.

Ammy menunggu bus bersama para penumpang lainnya di sebuah halte. Mereka lalu menaiki bus begitu bus tiba dan berhenti di halte tersebut. Ammy tak merasa keberatan ketika tubuhnya harus bersenggolan dengan penumpang lain.

“Maaf,” ujar Ammy. Orang itu justru berjalan lurus ke bagian paling belakang bus. Seorang lelaki yang mengenakan jaket coklat, sebuah tas ransel kecil bergelayut manja di punggungnya. Ammy mencibir, menurutnya orang itu sangat sombong hingga tak menanggapi permintaan maaf Ammy, meskipun pada akhirnya Ammy menganggap itu sebagai angin lalu.

Ammy segera duduk. Ia membuang wajahnya ke sisi jendela, mengamati jalanan yang mereka lewati, lalu ia merasakan sesuatu yang aneh. Seseorang sepertinya tengah mengawasinya. Gadis itu menoleh, mengamati penumpang lain yang sibuk dengan kegiatan masing-masing dan tampaknya tak ada yang secara khusus memperhatikan dirinya. Ammy menoleh ke belakang, sama saja, tak ada yang aneh. Tatapannya kembali jatuh pada pria berjaket coklat tadi. Orang itu terlihat menikmati pemandangan di luar jendela bus. Wajahnya tersamarkan oleh topi yang dipakainya. Ammy menghela nafas panjang. Mungkin hanya perasaannya saja.

Pemuda berjaket coklat itu, perlahan menatap pada objek yang berada beberapa meter di depannya. Ia membetulkan letak topinya, matanya menatapi Ammy yang telah terlena dalam lamunannya. Ada seulas senyum yang hampir tak terlihat di bibir pemuda itu.

Segera setelah turun dari bus, mata Ammy mulai menyisiri lokasi tempatnya berada. Insadong, merupakan bagian dari pemukiman di Seoul yang berada di distrik Jongno-gu. Insadong terkenal diantara para wisatawan sebagai tempat belanja dan menjual barang-barang seni tradisional khas Korea maupun luar negeri. Lebih dari 40% toko barang antik Korea terdapat di wilayah tersebut. Selain itu, Insadong adalah pusat dari Ibu Kota Korea selama lebih dari 600 tahun dan merupakan pusat budaya sejak jaman Dinasti Joseon.

Ammy menyusuri trotoar dengan barisan pepohonan yang memagari jalan. Berbaur dengan para pejalan kaki yang ramai memenuhi jalan. Sesekali Ammy merapatkan jaketnya, mencoba menghalau udara dingin yang berusaha menembusi permukaan kulitnya. Akhirnya, Ammy memasuki sebuah toko keramik antik. Ia menyusuri rak-rak kaca yang berisi berbagai macam benda keramik yang memiliki nilai sejarah. Benda-benda antik itu terawat dengan sangat baik. Gadis itu kembali melewatkan waktunya dengan berdiri terpaku, Chris masih menjadi topik utama yang membuatnya kehilangan banyak semangat. Sampai akhirnya Ammy menoleh dan mendapati seorang pemuda yang berdiri beberapa meter di sisi kanannya, menyisakan jarak yang cukup banyak di antara mereka. Pemuda itu sedang memandangi sebuah benda yang berada di dalam rak.

Jaket coklat, ransel kecil yang bergelayut di punggung, topi hitam yang bertengger di kepala serta sebuah earphone yang menyumbat telinganya. Ammy mencibir. Ia beralih pada keramik yang sebelumnya menarik perhatinnya. Ammy cukup mengenali orang itu sebagai pria sombong yang berada di bus tadi. Sekian detik hingga membuat raut wajah Ammy berubah. Secara perlahan Ammy memalingkan wajah. Kembali menatapi pemuda yang masih fokus pada objek yang dipandanginya. Bukan karena Ammy telah mengenali pemuda itu, tapi…

DEG

DEG

DEG

Jantung Ammy tiba-tiba saja memberikan signal aneh. Detak jantung yang sangat kasar, Ammy bahkan mampu mendengar detak jantungnya sendiri. Ammy mencoba memalingkan wajahnya tapi seperti sebuah perintah yang tak bisa ditolak ketika ia kembali menanamkan tatapannya pada wajah itu. Ammy sulit mengartikan apa pun yang sedang dirasakannya. Kaki Ammy mulai melangkah pelan menghampiri pemuda itu. Ia berhenti. Jantungnya bekerja semakin berat.

Menyadari seseorang sedang mengawasinya secara intens, pemuda itu menoleh pada Ammy. Pandangan mereka bertemu. Ammy tak berkutik. Ia dapat melihat jelas ketampanan orang itu. Ada ketenangan yang tergambar dari raut wajah dan sorot matanya ketika menatapi Ammy. Ia melepaskan earphone yang sejak tadi menyumbat telinganya. Lalu ia tersenyum tipis pada Ammy sebelum ponselnya yang berbunyi mengalihkan perhatiannya.

“Ya, ini aku,” jawabnya. Ammy bahkan tak bisa mengontrol permainan jantungnya ketika mendengar suara berat milik pemuda itu. “Aku sudah berada di Seoul. Di mana kau?” gaya bicaranya terdengar sangat santai. “Benarkah?” sesuatu yang sangat penting membuatnya terburu-buru bergegas keluar toko.

Ammy masih mematung. Ia belum bisa berkutik. Kesadarannya seakan terkuras habis. Anehnya, air mata Ammy justru mengalir. Ia menyeka air matanya, terlihat kebingungan dengan situasi yang sedang dihadapinya. Ammy berlari keluar toko. Matanya menyisir daerah sekitar situ. Mencoba mencari-cari sosok pemuda tadi. Ia tak menemukannya. Ammy kembali melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, berusaha kuat untuk mengenali sosok itu di antara para pejalan kaki yang memenuhi ruas jalan Insadong. Orang itu, sudah tak terlihat lagi dan Ammy telah terpaku di tempat berpijaknya.

“Kau…,” bibir Ammy bergetar. “Siapa…kau?” ia baru sekali melihat orang itu tapi entah mengapa ia justru merasa telah sangat mengenal orang itu. Sudah sangat lama. Ammy bahkan merasakan perasaan yang sangat hangat, sebuah kerinduan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

~.o0o.~

Hari kesepuluh Ammy di kota Seoul. Udara dingin tak menyurutkan niat Ammy untuk menikmati indahnya suasana malam di salah satu kawasan tepian Sungai Han. Sungai Han sendiri terbentuk akibat pertemuan dari Sungai Namhan (Sungai Han Selatan) yang bermata air di Gunung Daedeok, dan Sungai Bukhan (Sungai Han Utara) yang berhulu dari lembah Gunung Geumgang di Korea Utara. Sungai Han mengalir melewati Seoul dan bergabung dengan Sungai Imjin sebelum bermuara ke Laut Kuning.

Terdapat 27 jembatan melewati Sungai Han di wilayah Seoul, Gyeonggi dan Incheon. Namun lokasi yang dipilih Ammy untuk menikmati keindahan Sungai Han adalah Banpo bridge atau jembatan Banpo. Sebuah jembatan besar di pusat Kota Seoul di atas Sungai Han, Korea Selatan. Jembatan Banpo menghubungkan Kabupaten Seocho dan Yongsan. Jembatan Banpo berada di atas jembatan Jamsu dan membentuk sebuah dek ganda. Jembatan yang terakhir memiliki kemampuan untuk menyelam di dalam air jika permukaan air naik. September 2008, jembatan Banpo dirubah menjadi pelangi air mancur raksasa  yang menembak air ke bawah dengan kurang lebih 10.000 led nozel di setiap sisi jembatan yang menembak 190 ton air per menit. Air dipompa langsung dari Sungai Han itu sendiri dan terus-menerus didaur ulang. Hal tersebut menjadi yang pertama jenisnya di dunia dan dijadikan wisata utama di Korea Selatan.

Ammy tak dapat menyembunyikan kekaguman dan rasa antusiasnya akan pemandangan menakjubkan yang tersuguhkan di hadapannya. Pelangi air mancur itu benar-benar hal yang luar biasa. Disela-sela kekagumannya, Ammy tersenyum tawar. Pikirannya kembali menjelajah. Rasa penasaran karena lost contact dengan Chris belum terobati, ditambah lagi pertemuannya dengan seorang pemuda beberapa hari yang lalu di kawasan Insadong. Lamunan Ammy terhenti ketika merasakan getaran ponselnya. Ia berharap panggilan itu dari Chris tapi sepertinya Ammy benar-benar harus mengubur harapannya dan menunggu kepulangannya ke Indonesia untuk menerima jawaban atas rasa penasarannya itu.

“Iya Gin,” sapa Ammy. Tak ada suara. “Gina?” Ammy kembali menyebut nama sahabatnya itu.

Suara Gina tak terdengar. Ammy mengira mungkin ada gangguan satelit tapi pikirannya itu ditampik setelah mendengar desah nafas Gina.

“Gina? Kau sedang mengerjaiku?” selidik Ammy.

Ammy,” suara Gina akhir tertangkap oleh pendengaran Ammy. “Di mana kau?” Gina bertanya. Gina terdengar sangat tak bersemangat.

“Aku sedang menikmati keindahan jembatan Banpo di Sungai Han. Kau sering melihatnya dalam drama yang kau tonton, bukan? Sebaiknya kau melihat langsung pemandangan menakjubkan ini.”

Ah, ya.

“Ada apa? Suaramu terdengar serak. Kau sakit?”

Ammy, apa yang harus kita lakukan?” suara Gina kian menyerak. Gina seperti sedang mengalami sebuah masalah berat.

“Gina, aku tak akan mengerti jika kau tak mengatakan apa pun. Apa yang terjadi padamu?” cemas Ammy.

Aku baik-baik saja,” elak Gina. “Ah, jelas sekali aku berbohong,” Gina kembali  mengklarifikasi bahwa sebenarnya ia sedang dalam keadaan yang buruk.

“Gin, jangan membuatku semakin kebingungan. Kau bertengkar dengan ibumu?”

Gina terdiam sangat lama. “Apa yang harus kulakukan padamu, Ammy?

Alis Ammy bertaut, “Aku?” ia tak mengerti.

Bagaimana ini..,” Gina sedikit terisak. Ia tak mampu melanjutkan perkataannya.

“Gina,” perasaan Ammy mulai tak tenang. “Katakan. Ada apa?”

Kau pulanglah sesegera mungkin!” Gina mendesak.

“Gina!” hardik Ammy. “Katakan sekarang juga!” ia mulai tidak sabaran. “Terjadi sesuatu? Apakah ini tentang—Chris?” Ammy tak memiliki siapa pun selain Chris sehingga membuatnya hanya bisa menarik satu kesimpulan. Isakan Gina kian mengeras. “Apa, apa yang terjadi pada Chris?” dugaan Ammy benar. Sesuatu telah terjadi pada orang itu. “GINA!” Ammy berteriak keras, cukup menarik perhatian orang-orang yang lewat.

Chris, dia,” Gina terdiam. Ia sedang mengambil jeda, “Menikah,” satu kata yang begitu sulit untuk diungkapkan oleh Gina.

Ammy terdiam. “Gin, kau tadi…,” Ammy kembali terdiam.

Dia menikah. Chris menikah!” Gina setengah berteriak. Marah tapi entah pada siapa ia harus melempar kemarahannya. Ammy tertegun.

“Gina,” lidah Ammy terasa kelu. “Jangan begitu. Aku sedang tak ingin bercanda,” Ammy tertawa pelan, berusaha menampik kabar yang disampaikan Gina.

Aku juga berharap ini hanya lelucon,” ujar Gina, “Aku mengetahuinya dari Joe,” Gina menyebut nama teman sekolahnya yang juga berteman dengan Chris. “Seperti orang gila ketika aku menuju tempat itu. Aku melihatnya. Aku melihat mereka. Hari ini pernikahan Chris dan gadis itu.

Seperti petir yang menyambar seluruh tubuh Ammy. Ammy tersentak dengan sangat hebat. “Gina. Gina, katakan itu bohong,” suara Ammy mulai bergetar halus.

Ammy,” Gina tak mampu mengatakan apa pun. Dia hanya terisak dari seberang.

Persendian Ammy melemas. Ponsel di tangannya terlepas. Ammy tak perduli ketika Gina sedang berteriak memanggil-manggil namanya. Wajah Ammy terlihat pucat dan ia lebih mirip patung. Dua tetes air mata mengalir dari kedua belah mata Ammy, meluncur mulus di wajahnya. Dada Ammy serasa kian menyesak. Cepat-cepat ia meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja. Dengan tangan yang gemetar, Ammy menekan keypad ponsel itu. Ammy segera menghubungi nomor Chris. Ada nada sambung. Untuk pertama kalinya ia dapat menghubungi nomor Chris sejak pembicaraan terakhir mereka sepuluh hari yang lalu.

Tidak diangkat. Ammy terus menghubungi nomor yang sama. Berkali-kali, tak dapat dihitung panggilan yang ditujukan untuk Chris dan sebanyak itu pula panggilannya tak diterima. Ammy terus menekan keypad ponsel sambil sesekali menyeka air mata yang begitu aktif mengalir dari bola matanya yang indah.

Jika kali ini kau tak menerima panggilanku, kau benar-benar ingin melihatku mati.

Ammy segera mengirim pesan teks itu pada Chris. Tak menunggu semenit berlalu dan Ammy kembali menghubungi Chris. Disaat-saat terakhir sebelum nada sambung berakhir, panggilan itu terhubung. Setidaknya Chris masih perduli pada keselamatannya.

“Chris,” Ammy tak tahu harus mengatakan apa. Tadinya banyak sekali yang ingin ia katakan. Tak ada sahutan. “Chris,” kembali Ammy memanggil nama itu. Chris bungkam. Suasana hening tercipta diantara mereka.

Maafkan aku,” akhirnya Ammy bisa mendengar suara Chris, “Maafkan aku, Ammy,” suara pemuda terdengar sangat berat.

“Benarkah?” Ammy terdiam, “Benarkah itu?” tak ada jawaban dari Chris. Ammy tertawa pelan. “Jadi, Gina tak berbohong?” ia kembali tertawa, namun tawa itu perlahan berubah menjadi tangis meskipun ia berusaha keras agar isakannya tak sampai terdengar oleh Chris. Ammy membungkam mulutnya. Hanya air mata yang terus membanjiri wajahnya. Ammy menarik nafas berusaha untuk menenangkan dirinya. “Jadi itu alasanmu tak bisa dihubungi? Kau pasti sangat sibuk mempersiapkan pernikahanmu. Ah, seharusnya aku mengerti itu.”

Ammy, tidak seperti yang kau kira.

“Kau tak perlu menjelaskan apa pun, Chris. Semua sudah berbeda,” Ammy menyeka kasar air mata di wajahnya. “Jika kau tak yakin padaku, seharusnya kau katakan sejak awal. Kau tak perlu sembunyi dan membuatku mendengar kabar ini dari Gina. Seharusnya kau bisa mengatakan langsung padaku!” teriak Ammy.

Aku harus bagaimana?” Chris bertanya dengan nada keputusasaannya. “Tiba-tiba saja Ibu telah mengatur pernikahanku. Aku tak mampu menghadapimu, aku bahkan tak sanggup mengatasi diriku sendiri.

“Hanya untuk mengatakan yang sebenarnya Chris, kau tak perlu menyakitiku sampai sejauh ini.”

Aku selalu mempertahankanmu tapi apa yang bisa aku lakukan ketika Ibu melakukan percobaan bunuh diri karena penolakanku,” Chris menumpahkan isi hatinya, “Ammy. Sebelum kau adalah pacarku, wanita itu adalah orang yang melahirkanku. Dia Ibuku,” Chris mendesah pelan.

Air mata Ammy kembali menetes, “Kalau begitu, tak ada lagi yang dapat aku katakan,” ujar Ammy pelan. “Selamat untuk pernikahanmu, Chris,” ia tak perlu lagi mendengarkan penjelasan Chris. Gadis itu segera memutuskan pembicaraan mereka.

Ponsel di tangannya kembali tergeletak tak berdaya di atas kursi yang di dudukinya. Ammy bungkam. Jelas sekali jika ia sangat terluka. Dadanya sangat sesak. Terlalu sesak sampai-sampai rasanya ia tak dapat bernafas. Berteriak pun tak mampu Ammy lakukan. Ammy hanya terisak sambil memegangi dadanya yang sakit. Dengan sisa tenaga di tubuhnya, Ammy berdiri dan perlahan melangkah menghampiri tepian Sungai Han. Pertunjukan air mancur pelangi masih terus berlangsung dengan sangat indah. Ammy memandangi riak air sungai. Gelap dan dingin.

Tak tahu apa yang ada di kepala Ammy ketika gadis itu membuang tubuhnya ke depan. Sebelum Ammy benar-benar terjatuh, ada seseorang yang memegangi tangannya. Perhatian orang-orang yang berada di kawasan itu segera teralih ketika menyadari ada dua orang yang tercebur ke dalam dinginnya air Sungai Han.

Suasana mulai gaduh, orang-orang berdesak-desakan. Memandang antusias pada air Sungai Han. Beberapa menit berlalu dan tiba-tiba muncul seorang pemuda dari dalam air, ia berenang sambil membawa Ammy yang telah tak sadarkan diri. Beberapa orang ikut membantu pemuda itu mengangkat tubuh Ammy dan membaringkan tubuhnya yang mulai dingin. Pemuda itu meraba nadi di pergelangan tangan dan juga di leher Ammy. Ia terlihat sangat cemas. Dengan segera ia memberikan CPR atau cardiopulmonary resuscitation sebagai tindakan pertolongan pertama pada Ammy yang mengalami henti nafas.

Pemuda itu memompa dada Ammy hingga hitungan ketiga puluh. Ia meraba nadi Ammy mencoba merasakan denyut nadi gadis itu. Ia masih tak merasakan nafas Ammy. Ia lalu membuka mulut Ammy dan meniupkan udara ke mulut Ammy sebanyak dua kali dalam waktu dua menit. Matanya terus memperhatikan dada Ammy, namun tak ada gerakan sama sekali. Ia kembali melanjutkan memberikan tekanan kedua dengan jumlah yang sama pada dada Ammy dan kembali memeriksa nafas Ammy.

“Bisakah aku meminjam ponselmu?” ia menoleh pada seorang wanita yang berdiri paling dekat dengannya. Setelah menerima ponsel, ia segera menghubungi seseorang. “Tolong kirim ambulance ke jembatan Banpo. Korban tercebur ke dalam Sungai Han,” katanya lagi. Ia lalu menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya dan kembali fokus pada Ammy yang kondisi tubuhnya mulai memburuk.

“Bagaimana rasanya?”

“Hyuk Jae?”

“Kau benar-benar ingin mati, Ammy?” Hyuk Jae berdiri di sisi Ammy yang memandangi tubuhnya yang memucat. Memandangi pemuda yang sedang berusaha menolongnya, juga orang-orang yang berharap cemas pada usaha pemuda itu.

“Mengapa kau di sini? Dan juga orang-orang itu?” Ammy memandangi dua pemuda yang beberapa waktu lalu dikenalkan padanya. Seingatnya, kedua orang itu bernama Siwon dan Jong Woon. Mereka berdiri tenang, memandangi usaha penyelamatan terhadap Ammy. Hyuk Jae tak menjawab, ia justru tersenyum. “Aku benar-benar sudah mati?” tanya Ammy lagi.

Hyuk Jae menggeleng, “Berhati-hatilah pada pemuda itu,” ia mengarahkan pandangannya pada Jong Woon. “Dia selalu menyukai situasi seperti saat ini. Tapi kau tak perlu cemas, saat ini kau hanya sedang kritis.”

Alis Ammy saling bertaut, “Sebenarnya, siapa kau?” Ammy akhirnya menyadari keanehan Hyuk Jae dan dua pemuda yang bersamanya.

“Aku?” Hyuk Jae balik bertanya. “Aku adalah orang yang telah memperhatikanmu sejak lama. Sangat lama,” kerling Hyuk Jae.

“Cihh” Ammy mendesah, “Aku pasti sedang bermimpi.”

“Benar,” Hyuk Jae menanggapi dengan sangat cepat. “Anggap saja kau sedang bermimpi,” ia menjentikkan jarinya di depan wajah Ammy.

Ammy merasakan tubuhnya seperti tersedot ke dalam pusaran angin yang sangat kuat. Menelan tubuh mungilnya, membuatnya tak dapat melihat dan merasakan apa pun. Semua seakan berporos di sekitarnya. Ammy sedang dibawa melintasi waktu dan menuju ke suatu tempat.

~to be continue~

Yang bertanya2 kapan nih cerita nyangkut ke Joseon, jawabannya start di part 3!

Trus, yang mungkin mau nanya kelanjutan Lovely Piggy, harap bersabar ya. Cerita itu baru sempat diketik 1/4 perjalanan 😀

Gak bosan2 aku minta tanggapan kalian semua. Don’t be a silent reader, please.

Iklan

297 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 2)

  1. lim zhu qi berkata:

    wehhhh…
    ko malah nikah m org lain, ak kira dy mati, hahaha…
    trnyata nikah…

    pria bertopi, kyukyu kah???
    ga bs bayangin klo para member bertransformasi pake baju pria jaman joseon…

  2. itisyahri berkata:

    Ihh kasian ammy.. Kok chris gitu sih malah nikah sama orng lain 😦 ahhh aku udah mulai ngerti sama jalan ceritanya 😀 bagius bangett thorr

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s