Under The Joseon Sky (Part 3)

UTJS (Part 3)

Marchia’s note : MOHON UNTUK TIDAK DI COPY PASTE or PLAGIAT! Kalau teman2 mendukungku & menemukan aksi plagiat, tolong beritahu aku. Say no to plagiat!

**************************************************

~ Siapa Dia? ~

 

 Hanyang, ibu kota pada jaman Dinasti Joseon, tahun 1498.

Seorang gadis remaja sedang bermain di halaman rumahnya yang luas. Ia mengenakan hanbok (pakaian tradisional Korea) yang sangat indah. Kaum yangban (bangsawan) seperti gadis itu memakai hanbok dari kain rami yang ditenun atau bahan kain berkualitas tinggi, seperti bahan yang berwarna cerah pada musim panas dan bahan kain sutra pada musim dingin. Mereka menggunakan warna yang bervariasi dan terang. Rakyat biasa tidak dapat menggunakan bahan berkualitas bagus karena tidak sanggup membelinya.

“Nona,” seorang pelayan wanita yang berdiri di sisi gadis itu terlihat cemas jika nona mudanya terjatuh.

“Bong Gu, kau tak ingin bermain tuho denganku?” gadis cantik itu tersenyum ceria pada pelayannya.

“Aku tak pandai bermain tuho,” tolaknya secara halus dan dibalas dengan desahan sang gadis karena harus bermain seorang diri. “Jika Nona adalah seorang anak lelaki, aku yakin Nona akan menjadi ahli memanah atau mungkin saja ahli pedang terhebat di seluruh Joseon,” terangnya panjang lebar, sang gadis hanya tertawa geli mendengar penuturan pelayan pribadinya.

Tuho adalah permainan tradisional dari Korea yang dimainkan dengan cara melemparkan anak panah atau tongkat yang panjang ke dalam sebuah tempayan atau lubang dari jarak yang jauh.

“Hwa Mi!”

Remaja berumur empat belas tahun itu langsung menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Seorang wanita sedang berdiri di salah satu bagian hanok (rumah tradisional Korea), ia sedang memegang tangan seorang anak perempuan yang berusia tiga tahun, adik Hwa Mi.

“Ibu,” Hwa Mi tersenyum riang.

“Kau akan terus bermain hingga hari gelap? Seorang gadis tak cocok bermain seperti itu. Sebaiknya kau rampungkan sulamanmu,” Nyonya Min berbicara panjang lebar pada putri sulungnya. Matanya beralih pada pelayan Hwa Mi. “Bong Gu, bawa Nona ke dalam. Hari ini Tuan akan kedatangan tamu.”

“Baik, Nyonya,” Bong Gu menundukkan kepalanya.

Pelayan bernama Bong Gu itu segera membawa Hwa Mi ke dalam kamar tidur Hwa Mi atau biasanya disebut anbang, ruangan yang digunakan oleh kaum wanita dan anak-anak. Bong Gu lalu membantu Hwa Mi mandi, memakaikan hanbok ditubuh Hwa Mi. Hwa Mi memandangi pantulan wajahnya dari kaca rias yang dipegang olehnya.

Bong Gu tersenyum, “Nona, sangat cantik,” katanya lagi. Ia sedang mengepang rambut panjang Hwa Mi.

“Benarkah?” Hwa Mi sedikit tak yakin, lalu kembali mengawasi wajahnya dengan lebih seksama. “Sepertinya benar,” ia tersenyum sumringah. “Ah, Bong Gu—kau tahu arti namaku?” ia menoleh pada Bong Gu.

“Maafkan aku Nona, aku tak tahu,” Bong Gu berujar pelan, sambil terus berusaha mengepang rambut Hwa Mi. Gadis itu tak bisa diam untuk sejenak, membuat Bong Gu sedikit kerepotan.

“Hwa adalah keabadian, kecantikan dan kejayaan,” jawab Hwa Mi. “Mi berarti cantik. Bong Gu, bukankah sudah cukup jelas jika aku adalah putri yang sangat cantik?” Hwa Mi terlihat begitu bersemangat.

“Ya, Nona benar,” senyum Bong Gu. “Sudah selesai,” katanya lagi setelah selesai mengurusi rambut Hwa Mi. Hwa Mi tersenyum puas memandangi dirinya dari kaca rias.

“Apa Ayah sudah pulang?” Hwa Mi bergumam pelan.

“Ya, Tuan sedang membaca di sarangbang,” jawab Bong Gu.

Sarangbang adalah ruangan untuk kaum pria atau kepala keluarga. Ruangan ini posisinya berada di bagian paling depan bangunan rumah. Di sarangbang inilah kaum pria menerima tamu dan belajar. Di rumah petani dan rumah rakyat biasa yang ukurannya tidak besar, untuk memisahkan ruangan pria dengan ruangan wanita dan anak-anak biasanya menggunakan byeongpung atau folding screen. Di rumah kaum bangsawan seperti milik keluarga Hwang, memisahkan antara bangunan untuk kaum pria dengan bangunan untuk kaum wanita dan anak-anak.

Ayah Hwa Mi, Hwang Hoon Phil adalah seorang Sarjana Sarim atau kelompok bangsawan yang disebut Seonbi. Ia memiliki jabatan penting di kantor Sensor Istana. Jika tak sedang berada di kantor, hampir sebagian besar waktu Hwang Hoon Phil dihabiskan dengan membaca di dalam sarangbang.

Hwa Mi membuka jendela di kamar tidurnya, angin luar bebas berkeliaran di dalam ruang pribadinya. Tatapan Hwa Mi beralih pada soseldaemun atau pintu gerbang utama hanok. Soseldaemun hanya terdapat di rumah kaum bangsawan. Seorang pelayan pria di rumah Hwa Mi terlihat sedang membuka soseldaemun, disambut dengan masuknya beberapa pria dewasa berpakaian biasa. Lalu seorang pria paruh baya bertubuh tambun—dari penampilannya, Hwa Mi tahu jika orang itu adalah bangsawan dan pria-pria lain yang bersamanya adalah pengawal pribadinya.

“Bong Gu, siapa orang itu?” tanya Hwa Mi, sedikit bersembunyi di balik jendela agar tak terlihat orang-orang di luar.

Bong Gu mendekati Hwa Mi dan memperhatikan orang yang dimaksud Hwa Mi. “Dia adalah Tuan Lee Byun Ik. Beliau memegang jabatan sebagai Menteri Pertahanan. Sepertinya tamu yang sedang ditunggu oleh Tuan adalah orang itu,” bisik Bong Gu.

Bola mata cerah Hwa Mi menangkap sosok lain yang datang bersama orang-orang itu. Seorang pemuda tampan dengan raut wajahnya yang hangat. Bong Gu tersenyum ketika menyadari bahwa mata nona mudanya terus tertanam pada wajah itu.

“Setiap wanita yang melihatnya pasti tak akan mampu mengalihkan tatapan mereka,” ujar Bong Gu. Sejenak Hwa Mi menoleh padanya.

“Kau tahu orang itu?” alis Hwa Mi sedikit bertaut.

“Putra Menteri Pertahanan. Tuan Muda Lee Dong Hae,” terang Bong Gu. Respon yang diberikan Hwa Mi adalah kembali menanamkan matanya pada pemuda tampan bernama Lee Dong Hae itu. “Selain terkenal karena ketampanannya, Tuan Muda adalah orang yang sangat cerdas. Tuan Muda Lee adalah ketua siswa di Sungkyunkwan (sekolah tinggi Dinasti Joseon) dan kudengar tahun ini Tuan Muda akan mengikuti gwa-geo. Diumur yang baru menginjak tujuh belas tahun, Tuan Muda pasti akan menjadi pejabat penting di istana,” Bong Gu terus menerangkan dengan berapi-api pada majikannya.

Gwa-geo adalah ujian sipil, diikuti untuk menjadi seorang pegawai sipil. Putra yang lahir dari seorang selir, orang yang lahir dari kasta rendah sejenis cheonmin (budak) tidak dapat mengikuti ujian ini dan pada saat ujian berlangsung, putra dari kaum bangsawan dan kaum rendah dipisahkan.

“Bong Gu, bagaimana kau bisa tahu banyak tentang orang itu?” Hwa Mi tampak heran.

“Semua orang di Hanyang tahu tentang Tuan Muda. Para gadis tergila-gila padanya. Aku heran mengapa satu-satunya yang tak tahu adalah Nona?” Bong Gu balik menatap heran pada Hwa Mi.

Hwa Mi dan Bong Gu terus mengekori rombongan yang baru tiba itu, hingga pria bernama Lee Byun Ik masuk ke dalam rumah bersama dua orang pengawalnya. Mereka menuju sarangbang sementara beberapa pengawal lain tetap berjaga di luar.

Dalam sarangbang, Lee Byun Ik sedang duduk berhadapan dengan Hwang Hoon Phil. Dua orang pengawal yang mengikuti Lee Byun Ik berjaga di luar—tepat di depan pintu sarangbang.

“Kedatanganmu bisa menimbulkan kecurigaan Faksi Hungu,” ujar Hoon Phil. Suaranya yang berat namun terdengar sangat berwibawa.

Senyum kecil terukir di sudut bibir Byun Ik yang dihiasi dengan kumis tipis. “Aku hanya mengunjungi sahabatku.Apa yang perlu dikhawatirkan?”

Meskipun berada dalam dua kubu yang berbeda yakni Faksi Hungu dan Sarjana Sarim, nyatanya Lee Byun Ik dan Hwang Hoon Phil tetap bersahabat.

“Situasi kian memanas. Istana juga semakin kacau, Yang Mulia Raja semakin tak terkendalikan,” desah Hoon Phil.

Yeonsan-gun atau Pangeran Yeonsan merupakan raja ke-10 Dinasti Joseon. Putra tertua raja terdahulu, Raja Seongjong dengan istri keduanya, Permaisuri Yoon. Ia dikenal sebagai seorang tiran yang paling buruk dari Dinasti Joseon (Yeonsan-gun tidak memiliki nama kuil seperti raja-raja sebelum dan sesudahnya karena ia digulingkan dari takhta).

“Hoon Phil, mungkin sebaiknya kau menjauh dari Hanyang untuk beberapa waktu. Aku tak perduli dengan Seonbi lainnya, aku hanya mencemaskan keselamatanmu dan keluargamu,” ujar Byun Ik.

Hoon Phil tersenyum. “Jangan khawatir,” katanya sambil meneguk minuman di hadapannya.

“Yi Guk Don mulai melakukan aksi tersembunyi, dia sedang menyusun siasat untuk Kim Il Son,” penuturan Byun Ik membuat suasana hening.

Yi Guk Don seorang Faksi Hungu yang menaruh dendam pada Kim Il Son seorang Sarjana Sarim yang pernah menghukum Yi Guk Don. Kedua orang itu pernah bekerja merangkum cacatan yang berkaitan dengan masa pemerintahan Raja Seongjong untuk menyusun Babad Dinasti Joseon.

“Kim Il Son memasukkan tulisan guru kami, Kim Jong Jik, yang berisi tentang kritikan atas naiknya Sejo sebagai raja ke dalam kompilasi tersebut. Guru menuliskan kesedihannya atas pembunuhan Kaisar Yi dari Chu oleh Xiang Yu setelah ia mendengar pembunuhan Raja Danjong yang diperintahkan oleh Raja Sejo agar beliau naik takhta,” ujar Hoon Phil. “Kudengar Guk Don sangat marah setelah membaca tulisan itu,” ia masih berkata dengan santai.

“Kau mengetahui itu? Lalu mengapa kau masih berdiam diri?” Byun Ik tak terlihat tenang sama sekali. “Aku merasakan gelagat mencurigakan di istana.”

Kedua pria itu kembali terdiam. Suasana yang tercipta diantara mereka kian mencekam, sesuatu yang buruk seperti sedang menghadang di depan.

Politik semasa pertengahan jaman Dinasti Joseon umumnya ditandai dengan perebutan kekuasaan antara dua kelompok bangsawan yakni Faksi Hungu dan Sarjana Sarim yang disebut Seonbi. Seonbi berasal dari sekolah-sekolah neo Konfusian yang dikembangkan Kim Jong Jik dan tokoh agama Konghucu yang lain. Sarjana Sarim umumnya mengkritik kerajaan dan mempelajari agama Konghucu di daerah-daerah, terutama sejak naiknya Raja Sejo pada tahun 1455. Mereka mulai masuk ke dunia politik pada masa pemerintahan Raja Seongjong dan umumnya memegang posisi penting di Tiga Kantor, nama lain daripada Kantor Inspektur Jendral yang bertugas mengusut pejabat pemerintah yang korup dan melanggar hukum, Kantor Sensor yang bertugas mengkritik kebijakan dan tindakan raja dan menteri-menteri serta hongmungwan yaitu perpustakaan sekaligus lembaga penasihat yang mengajarkan raja sejarah dan ajaran Konghucu.

Para Sarjana Sarim juga menonjol di Kantor Musim Semi dan Gugur, di mana catatan-catatan negara disimpan dan penulis sejarah bekerja. Dari lembaga-lembaga yang dibuat untuk memantau raja dan pemerintahan,  paraSarjana Sarim berhadapan dengan Faksi Hungu yang melaksanakan tugas-tugas negara di Dewan Kenegaraan dan Kantor Enam Menteri. Faksi Hungu ditentang oleh Sarim karena dicurigai melakukan banyak korupsi dan kecurangan.

“Nona?” Bong Gu menatap heran pada Hwa Mi yang semula sedang menyulam dan tiba-tiba berdiri dengan ekspresi yang penuh keterkejutan. “Ada apa?”

Hwa Mi meraih jang-ot (kain penutup kepala) berwarna biru muda. “Aku melupakannya—binyeo milikku,” katanya sambil menutupi kepalanya dengan jang-ot.

“Nona meletakannya di mana? Biar aku saja yang mencarinya.”

“Mungkin terjatuh ketika aku bermain tuho tadi,” cemas Hwa Mi. Gadis itu selalu membawa kemanapun ia pergi binyeo kesayangannya.

Binyeo merupakan tusuk rambut yang berbentuk seperti tongkat yang digunakan oleh wanita pada jaman itu. Pola dan material dari binyeo menunjukkan kelas sosial. Wanita dari kerajaan mengunakan binyeo yang terbuat dari emas atau perak dengan pola naga pada jamdu, sementara wanita kelas bangsawan memiliki mutiara atau giok binyeo. Sedangkan wanita dari kalangan biasa mengggunakan binyeo yang dibuat dari kayu atau tanduk hewan.

“Nona belum boleh memakai binyeo, seharusnya Nona cukup menyimpannya di tempat yang aman,” ujar Bong Gu.

“Aku akan mencarinya bersamamu!” Hwa Mi telah memutuskan dan sorot matanya mencegah Bong Gu untuk tidak mengatakan apa pun.

Sambil terus memegangi jang-ot yang menutupi kepala dan menyamarkan wajahnya, Hwa Mi bergegas keluar dari anbang (ruangan yang digunakan oleh kaum wanita dan anak-anak) dengan tergesa-gesa diikuti oleh Bong Gu yang berjalan di belakangnya. Mereka lalu menuju halaman tempat Hwa Mi bermain tuho tadi.

“Bong Gu, kau menemukannya?” tanya Hwa Mi.

“Belum Nona.” Jawab Bong Gu, ia menarik nafas sesaat sebelum kembali melanjutkan pencarian. “Nona, darimana kau mendapatkan binyeo itu?”

“Entahlah,” jawab Hwa Mi cepat. “Kau mencurigaiku? Jangan khawatir, aku tak pernah mencuri. Hmm—sepertinya aku memperoleh benda itu dari Ibu,” ia terlihat berpikir-pikir sejenak. Bong Gu tersenyum geli, bagaimana bisa seorang gadis muda seperti Hwa Mi sangat pelupa?

Mereka terus menyisir halaman rumah Hwa Mi yang cukup luas dengan berhati-hati. “Jika Ibu tahu aku menghilangkan binyeo itu, aku pasti akan dimarahinya,” desah Hwa Mi, ia terus merunduk memperhatikan lekat tanah coklat tempatnya berpijak. Semoga saja ia menemukan benda kesayangannya itu.

Mata Hwa Mi berbinar-binar ketika binyeo itu berada tepat di depan matanya. Seseorang mengulurkan binyeo tersebut. Hampir saja jang-ot yang menutupi kepalanya terlepas ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya, tersenyum menawan.

“Nona. Anda pasti mencari benda ini,” orang itu berkata dengan tenang.

Hwa Mi tak dapat berkata-kata, ia justru terpaku pada sosok tampan itu—Lee Dong Hae yang masih tersenyum hangat. Hwa Mi semakin menutupi wajahnya dengan jang-ot, ia takut jika wajahnya yang memerah terlihat oleh tuan muda dari keluarga Lee itu. Tanpa bicara Hwa Mi menerima sodoran binyeo yang sedang dicarinya.

Melihat Hwa Mi yang tak mengeluarkan sepatah katapun, Bong Gu mendekat sambil menundukkan kepalanya “Terima kasih Tuan Muda. Maafkan sikap kasar Nona kami. Nona jarang berinteraksi dengan dunia luar,” Bong Gu menjelaskan situasi canggung itu.

“Aku mengerti,” Lee Dong Hae mengangguk paham. Pemuda itu hanya memperhatikan Bong Gu yang menuntun Hwa Mi kembali ke dalam rumah.

***

Sementara itu, jauh di atas sana—tempat di mana tak seorang pun manusia di bumi tahu. Sebuah tempat yang dikelilingi oleh gumpalan awan putih yang terlihat seperti kapas mengambang di tengah ruang hampa udara. Berdiri sebuah kerajaan yang diketahui sebagai kerajaan langit. Orang-orang di seluruh penjuru Joseon umumnya berdoa pada dewa-dewa yang mereka percayai dan ditempat inilah para dewa itu berada, istana langit.

Di sebuah taman yang dipenuhi oleh bunga yang bermekaran, tempat di mana yang ada hanyalah musim semi. Air terjun mengalir jatuh melewati gunung. Pepohonan dengan daun yang berbeda warna dimulai dari hijau, kuning kecoklatan, merah seperti daun maple tua bahkan ada pohon yang keseluruhannya berwarna putih namun keanekaragaman itu menyatu dengan sangat harmonis. Suasana tenang dengan riak air yang memecah kesunyian. Tepat di tengah taman, terdapat sebuah bangunan yang sangat indah. Tempat yang terlihat mirip seperti tempat untuk bersantai, berbentuk bulat dengan lantai yang terbuat dari kayu. Pilar-pilar kecil terukir indah berdiri kokoh dan ditambati oleh tumbuhan yang melingkar pada pilar-pilar tersebut. Bangunan itu hanya beratapkan dedaunan hijau tumbuhan merambat dengan bunga-bunganya yang menjuntai ke bawah.

Di dalam bangunan itu, tampak tiga orang pria. Penampilan mereka jauh berbeda dengan orang-orang yang ada di bumi. Setengah dari rambut mereka yang panjang diikat membentuk konde di atas kepala di mana terdapat jenis hiasan kepala yang terlihat seperti mahkota kecil yang hanya mengelilingi konde rambut, sementara setengah rambut mereka dibiarkan tergerai. Gaya berpakaian mereka juga tampak berbeda, mereka terlihat sangat baik dan elegan dengan jubah yang mereka kenakan.

Dua dari tiga pria itu duduk berhadapan dan hanya diantarai oleh sebuah meja. Mereka sedang beradu ketangkasan dengan jenis permainan dengan menggunakan batu-batu berkilat, permainan yang hanya dimengerti oleh mereka. Seorang lagi sejak tadi hanya memetik geomungo. Geomungo merupakan jenis kecapi yang memiliki enam senar.

Pria berpakaian serba hitam dengan mata sangat sipit dan ekspresi datar menoleh pada pria yang mengenakan jubah berwarna merah maroon. “Nahwan, untuk sejenak—bisakah kau menghentikan permainan musikmu?”

Musik terhenti. “Ada apa? Musik sangat baik untuk membuka pikiranmu,” kata pria bernama Nahwan. Alunan geomungo kembali terdengar.

“Dia mengira permainan musiknya terdengar merdu,” pria berjubah hitam itu mendesis tajam. Dia adalah Jongshin, Dewa Kematian. Dewa yang menguasai dunia orang mati.

“Jangan berdulikan dia,” pria berjubah putih tersenyum memamerkan lesung pipinya. Myungjin, sang pengatur kelahiran dan kehidupan manusia. Dialah Dewa Kehidupan.

Alunan musik geomungo kembali terhenti. Nahwan sudah kehilangan seleranya untuk bermain musik. Ia lebih tertarik mengamati sebuah benda berbentuk persegi yang terletak tak jauh darinya. Di atas kotak persegi itu terdapat begitu banyak benda kecil, seperti karakter patung manusia yang terbuat dari keramik. Ada benang merah yang menghubungkan dua patung manusia—lebih tepatnya sepasang patung manusia.

“Hmm…sangat menarik,” Nahwan bergumam, senyuman tipis terukir di wajahnya.

“Kau pasti kebingungan karena banyaknya manusia yang berdoa padamu, meminta jodoh mereka,” sindir Jongshin.

“Tidak. Bukan itu,” Nahwan, dewa yang mengatur perjodohan manusia terlihat sangat bersemangat. “Ini sesuatu yang sangat menarik,” senyumnya kian melebar.

“Apa maksudmu?” tanya Myungjin.

Mereka mengamati Nahwan yang menarik sebuah patung dan mendekatkan pada patung lain, ia lalu mengikatkan benang merah untuk menghubungkan kedua patung itu. “Dua orang ini memiliki hubungan yang sangat menarik, bahkan hingga pada kehidupan mendatang—ikatan mereka sangat kuat,” katanya.

“Siapa?” giliran Jongshin yang bertanya.

Nahwan meletakan telunjuknya pada patung lelaki. “Lee Dong Hae,” telunjuknya beralih pada patung wanita yang terhubung benang merah dengan patung lelaki itu. “Hwang HwaMi,” Nahwan tersenyum puas.

“Hwang Hwa Mi?” Myungjin mengulangi nama itu. “Ah, gadis itu memang memiliki kelahiran yang baik tapi kau harus mengubur ketertarikanmu tentang perjodohan itu.”

“Benar,” sambung Jongshin. “Nama gadis itu sudah ada dalam daftarku. Dia tak memiliki waktu tersisa, termasuk menikmati perjodohan yang sudah kau atur itu,” Jongshin berkata tenang.

“Aku tahu,” kerling Nahwan. “Di kehidupan ini mereka memang tak bisa bersama tapi mereka masih akan bertemu pada kehidupan yang akan datang, hal tersebut adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi. Itulah kukatakan bahwa ikatan kedua orang itu begitu kuat—sepertinya, aku akan terus mengawasi mereka,” Nahwan kembali tersenyum mekar. Ia telah merencanakan banyak hal di dalam kepalanya.

“Kau akan sangat sibuk,” Myungjin memandangi Jongshin yang sedang berpikir keras agar dapat mengalahkannya dalam permainan yang sedang mereka mainkan.

“Ya. Akan ada banyak kematian,” ujarJongshin. “Di mana dia? Rasanya sudah lama aku tak melihatnya?” Jongshin kembali bertanya setelah sekian menit terkonsentrasi pada permainan di hadapannya.

“Entahlah. Dia memang selalu seperti itu,” jawab Myungjin. Ia tahu siapa yang sedang ditanyakan oleh Jongshin.

“Kaisar Langit selalu membiarkannya,” keluh Jongshin. Matanya lalu tertuju pada seorang anak lelaki yang tengah membantu para bidadari memetik buah berwarna merah ranum. “Yeomju! Di mana kakakmu?” tanya Jongshin.

Anak khayangan yang bernama Yeomju itu hanya memandang dingin pada Jongshin sebelum akhirnya menjulurkan lidahnya membuat amarah Jongshin terpancing.

“Dia semenyebalkan kakaknya,” desis Jongshin, ingin rasanya memberi pelajaran pada Yeomju yang telah menyibukkan diri dengan memetik buah-buah itu.

“Tak perlu bertanya di mana keberadaannya. Yeom itu kesayangan Kaisar Langit,” celetuk Nahwan. “Dibandingkan aku yang penuh dengan cinta, si tua bangka itu justru lebih menyukai Yeom yang dingin seperti salju,” ia mencibir.

“Berhati-hati dengan ucapanmu. Telinga Kaisar Langit sangat peka,” tegur Myungjin.

“Baiklah,” Nahwan menjawab santai. Ia lalu memainkan geomungo. Jongshin dan Myungjin kembali fokus pada permainan mereka.

~to be continue~

 

Well, akhirnya part Joseon dimulai. Mengingat ini pengalaman pertama buat cerita yg berbau saeguk jd mohon pengertian jika tidak sesuai keinginan dan harapan kalian (dicerita A Long Time emg ada nyempil dikit part Joseon jd itu gak masuk itungan jd aku anggap ini yang pertama hehe).

Oke, kalian tentunya sudah bisa menebak siapa cast di sini selain bang Dong Hae. Siapa Nahwan? Siapa Jongshin? Siapa Myungjin? Dan siapa Yeom?

Kalo gak bisa nebak, jangan cemas di part berikut aku cantumin castnya hehehe.

O ya, mohon tinggalkan komen. Butuh tanggapan untuk pembelajaranku. Jangan jadi silent reader! Salam.

Iklan

329 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 3)

  1. Nenilopelopebts berkata:

    Kalo dilihat dr part ini kayak ny cast utama ny donghae, Heuheu berharap dugaan ku salah, dan si yeom (kyuhyun kayaknya) yg jdi cast utama.. tpi donghae juga g apa2, lanjut baca next part 😀 ..

  2. qiqi amalia berkata:

    Berasa lg nonton saeguk ajaa 😀
    Yaahh aku pikir maincast nya abang kyu 😦 bukan yaa.. Gpp deh yang penting ceritanya seruu
    Tuh kan bener mereka bertiga itu malaikat atau dewa sama ajaa lah. Yeom itu siapa yaa ?
    Berarti ini ceritanya reinkarnasi toh

  3. hs berkata:

    kok sy jadi lebih tertarik di bagian istana langit.y ya 😀 heheheh.
    mungkin krn dibagian kerajaan.y bnyak istilah yg sy gk tau:'( 😀 .
    oh,iya. maaf thor bru koment di part ini. sebelumnya kelupaan sking penasaran.y. next part.y diusahakan selalu koment;-) 🙂

  4. noviyantilzy berkata:

    kyuhyun ku kyuhyun ku, dia pemeran utama bukan? #nanyasambilmelotot
    hihihi.. jujur aq nggak ngerti sejarah,

  5. Rosya berkata:

    wah, detail sekali penjelasannya. jadi nambah ilmu pengetahuan. terima kasih.
    yeom, nama itu pernah disinggung dipart sebelumnya. siapa dia?

  6. kim yoo jung berkata:

    hai thor
    aku baca ff ini dapat banyak ilmu
    aku sampek heran author ini dapet ilmu dari mana ya???
    hehehe maaf
    sumpah detail banget sampek kedalam dalamya
    pokoknya keren abis deh

  7. intan berkata:

    Sejujurnya masik bingun sih walau pun gak kek baca part 1
    Hyukjae itu siapa nama y sebenar ya
    Jd men cast ya dong hae

  8. leei berkata:

    hmmm mulai ada titik terang/? dipart ini ..keren ceritanya,jarang author yg pake tema jaman joseon. makin penasaran makin semangat bacanya ><

  9. OLALA berkata:

    Jdi lee dong hae pria misterius itu?
    Yg berjodoh dg nami?
    Woah keren,,
    Tpi entah kenapa agak sedikit kecewa,,
    Berharap evil kyu yg jadi,,wkkwkwkwkw

  10. Herissheea berkata:

    Suka banget genre yg kayak gini nih saeguk, timeslip

    Dan banyak istilah istilah zaman joseon yg dulu yg saya akhirnya tau, lumayan nambah pengalaman
    Penasaran siapa pemeran utamanya dan siapa yg bakal berakhir bahagia sm hwa mi kyuhyun or donghae! Kalo saya sih maunya dua-duanya :p

  11. bithatabitha berkata:

    Jarang-jarang ada fanfict yg saeguk gini.. Pas awal cerita msh ngertii, tapi pas masuk percakapan antara ayahnya hwami & donghae, sama percakapan 3 pemuda langit itu aku mulai bingung2 hehehe…
    Saeguk kan identik sama perebutan kekuasaan, konspirasii dll… salut sama author~nim yang niat bikin ff ini👍👍

    • marchiafanfiction berkata:

      saeguk memang ceritanya agak rumit kalo dibandingkan dengan cerita modern, tp sebenarnya intrik dalam cerita saeguk seperti itulah yang menjadi daya tariknya. romancenya terasa berbeda menurut sy, tapi tetap bikin baper maksimal 😀

  12. dija berkata:

    aq suka dengan penjelsn mengenai istila2/nama2 yg di gunkn pda jmn juseox jdi nambh ilmu bru n krena sering jga nontn drakor yg bertema kolosal jdi nda bgitu kesushn bayngin yg author maksud. aq mlah langsung keingt drakor “Arang” waktu ngebying kerajaan langitx ☺… sampai part ini aq msih suka n nambh suka am critax…

  13. itisyahri berkata:

    Cieee donghae sama ammy ketemu 😀 cinta oo cinta hahaha aku penasaran sama status kyuhyun dalam ff ini 😀

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s