Under The Joseon Sky (Part 4)

UTJS (Part 4)Memperkenalkan :

– Ammy/Hwang Hwa Mi/Soo (OC)

– Lee Dong Hae

– Cho Kyuhyun as Yeom

– Lee Hyukjae as Nahwan

– Choi Siwon as Myungjin

– Kim Jong Woon as Jongshin

– Park Jung Soo as Kaisar Langit

– Other

Marchia’s note : Say no to plagiat!

 ***

~ Malam Yang Merubah Segalanya ~

 

 Tengah malam, jalan-jalan setapak tampak sepi dan rumah-rumah telah tertutup rapat. Para penduduk telah terlelap dalam tidur mereka, namun dalam kegelapan malam yang hanya ditemani oleh lolongan anjing dan derik hewan malam, derap langkah kaki seseorang terdengar. Seorang pria bertubuh jangkung, ia berlari tergesa-gesa menyusuri jalan setapak Hanyang. Pria itu berhenti tepat didepan sebuah soseldaemun atau pintu gerbang utama di sebuah kediaman bangsawan. Tangannya menggedor-gedor gerbang itu. Tak berapa lama seorang pria tua terlihat membukakan pintu.

“Aku utusan dari Tuan Lee Byun Ik. Ada pesan yang harus aku sampaikan sendiri kepada Tuan Hwang Hoon Phil” ucapnya lantang saat memberikan penjelasan.

Sesuatu yang dibawanya terlihat sangat penting membuat sang pria tua itu tak menunggu lama dan segera mempersilahkan orang tersebut masuk sebelum kembali menutup soseldaemun. Pelayan tua itu meminta pria pembawa kabar untuk menunggu sementara ia masuk ke dalam bangunan utama hanok menuju ke tempat peristirahatan tuannya. Tak sampai tiga menit ketika Hwang Hoon Phil keluar diikuti oleh pelayan tadi yang berjalan di belakangnya. Pria yang mengaku sebagai utusan itu segera membungkuk memberi hormat.

“Apa yang membuat Byun Ik mengutusmu larut malam begini?”

Tak mengatakan apa pun, pria utusan itu justru merogoh sesuatu yang terselip di balik pakaiannya lalu menyodorkan sebuah surat kepada Hoon Phil. Dengan penuh keheranan Hoon Phil menerima surat dan membuka lipatan surat itu.

‘Setelah kau menerima surat ini, segeralah bawa seluruh keluargamu. Tinggalkan Hanyang dan larilah sejauh mungkin. Raja telah menurunkan perintah untuk menangkap murid-murid Kim Jong Jik. Larilah sekarang juga karena hanya ini caraku untuk menolongmu.’

Hwang Hoon Phil tertegun setelah mengetahui isi pesan itu. Ia menatap serius pada pelayannya yang berharap-harap cemas, lalu tatapannya beralih pada pria utusan Lee Byun Ik.

“Pasukan kerajaan sudah dikerahkan untuk menangkap para Sarjana Sarim. Tuan Lee Byun Ik dan pasukan kerajaan sedang menuju ke sini. Tuan mengatakan agar Anda menyingkir sebelum mereka tiba di tempat ini,” ujar pria itu. Hoon Phil terdiam. “Tuan! Tidak ada waktu lagi!” ia kembali mengingatkan Hwang Hoon Phil.

Raut wajah Hoon Phil terlihat menyiratkan banyak hal. Ia segera berjalan menuju ruangan tempat istrinya tertidur. Gesekan pintu membuat istrinya, Nyonya Min terbangun.

“Tuan?” Nyonya Min keheranan melihat tingkah laku suaminya yang tak biasa. “Haruskah aku mengambilkanmu minuman?” ia mengira suaminya tak dapat tidur karena memikirkan masalah di istana yang sama sekali tak ia ketahui.

“Bergegaslah, sekarang juga kita harus pergi!”

Nyonya Min tertegun, “Apa yang terjadi, Tuanku?”

“Aku akan menjelaskan padamu nanti.”

“Aku akan mengambil Hwa Young,” Nyonya Min segera keluar dari kamar untuk mengambil putri bungsunya. Ia tak bertanya apa pun lagi, seakan telah mengerti dengan situasi mencekam yang sedang terjadi. Kediaman bangsawan Hwang malam itu dipenuhi dengan ketegangan. Nyonya Min keluar dari sebuah ruangan sambil mendekap tubuh mungil Hwa Young.

“Bagaimana dengan Hwa Mi?” cemas Nyonya Min.

“Bong Gu akan membantunya, sekarang kita harus pergi dari sini!” Hwang Hoon Phil berusaha untuk tetap bersikap tenang meskipun nyawa mereka sedang terancam.

Baru saja mereka hendak bergegas ketika terdengar keributan di luar soseldaemun. Gerbang itu didobrak paksa. Puluhan pasukan kerajaan segera berlari memasuki halaman. Menebas para pelayan maupun pengawal pribadi keluarga Hwang dengan pedang tajam mereka.

Hoon Phil mengawasi dari balik pilar hanok, ia lalu menuntun istrinya untuk mengambil jalan lain. “Ok Ja, cepat bawa Hwa Young!”

“Tuan, bagaimana denganmu?” Nyonya Min terlihat sangat cemas.

“Jangan perdulikan aku, kau harus segera menyelamatkan diri.”

“Suamiku,” mata Nyonya Min mulai berkaca-kaca. “Aku akan ikut denganmu.”

Hoon Phil memegangi pundak istrinya dengan kedua tangannya, “Bersembunyilah di hutan, saat ini Bong Gu dan Hwa Mi pasti telah berlari ke sana. Jangan khawatir, aku pasti akan mencari kalian!” ia mencoba meyakinkan istrinya yang telah ketakutan.

“Tuanku,” Nyonya Min begitu berat untuk membiarkan suaminya seorang diri.

Keributan semakin jelas terdengar. Derap sepatu para pengawal yang berpadu dengan lantai di rumah mereka. Pintu-pintu yang digeser paksa. Mereka sedang memeriksa setiap inci ruangan dan menebas siapa pun yang mereka temukan.

“Tidak ada waktu lagi. Cepatlah, sebelum pengawal kerajaan menemukan kita!” Hoon Phil mendorong tubuh istrinya menjauh. Nyonya Min mengangguk, dengan kedua tangannya yang masih mendekap erat tubuh Hwa Young—wanita itu bergegas meninggalkan suaminya.

Bukannya berlari keluar, Hwang Hoon Phil justru kembali memasuki sebuah ruangan, ia segera meraih sebuah pedang yang terletak tenang pada tempatnya. Pintu ruangan tersebut hancur ketika seorang tentara menendang dengan kuat. Tentara itu menghunuskan pedangnya namun berhasil ditangkis oleh Hoon Phil dan dalam sekali tebas, Hoon Phil melumpuhkannya.

Hoon Phil meninggalkan ruangan itu, ia berjalan di lorong rumah. Para pelayan di rumahnya baik pria dan wanita sudah tergeletak tak bernyawa dengan darah yang mengotori tubuh mereka. Hoon Phil terus melakukan perlawanan kepada pengawal-pengawal kerajaan yang ditemuinya dan sejauh itu, ia berhasil mengalahkan mereka. Pasukan kerajaan semakin banyak memenuhi halaman rumah, mereka menerobos masuk ke dalam rumah. Hoon Phil mulai terdesak, ada beberapa luka sabetan di tubuhnya. Pria itu masih memegang kokoh pedangnya. Mereka bertaruh hingga tibadi halaman. Hoon Phil telah dikepung oleh pasukan kerajaan.

“Tunggu!”

Serangan para pasukan kerajaan tertahan. Hoon Phil menoleh pada Menteri Pertahanan Lee Byun Ik—sahabatnya.

“Hoon Phil, bukankah apa yang aku katakan sudah sangat jelas?” ada sorot kekecawaan yang terpancar dari mata Byun Ik. Ia berharap Hoon Phil telah membawa seluruh keluarganya ketika ia dan pasukan tiba di tempat itu. “Aku tak bisa lagi menolongmu. Saat ini aku adalah bawahan yang patuh pada perintah raja.”

“Ya, aku tahu. Kau harus tetap patuh pada Yang Mulia Raja,” jawab Hoon Phil.

“Lepaskan pedangmu, menyerahlah. Tak ada gunanya kau mengerahkan tenagamu. Lihatlah pasukan ini!” ujar Byun Ik. Ya, rasanya tak akan mungkin bagi Hoon Phil untuk lolos dari pasukan kerajaan yang begitu banyak itu. Ia kalah jumlah dari mereka. “Hoon Phil?” Byun Ik tertegun ketika melihat Hoon Phil justru semakin mengokohkan pegangannya pada pedang yang telah merasakan darah manusia.

“Tak ada bedanya bagiku,” ujar Hoon Phil tenang. “Menyerah sekarang atau tetap bertahan, hasilnya akan tetap sama—kematian. Aku lebih memilih untuk tetap bertahan dan mati dengan terhormat,” Hoon Phil mengayunkan pedangnya dan menebas tentara di sekitarnya.

“Hwang Hoon Phil!” Byun Ik berteriak kencang. Hoon Phil yang terengah-engah menoleh padanya. “Kalau begitu, aku yang akan melawanmu,” katanya lagi.

Hoon Phil terdiam, ia lalu tersenyum tipis. Secara tiba-tiba Hoon Phil mengayunkan pedangnya dan ditangkis oleh Byun Ik.

“Ayah!”

Pekik Hwa Mi yang sedang bersembunyi di balik pepohonan. Tadinya Hwa Mi dan Bong Gu hendak berlari ke dalam hutan ketika secara tak sengaja ia melihat ayahnya dalam kepungan. Bong Gu membekap mulut Hwa Mi, jangan sampai keberadaan mereka diketahui oleh orang-orang itu.

“Nona, kita harus pergi!”

“Bong Gu, Ayah masih tertinggal,” Hwa Mi menggeleng kasar. Ia sama sekali tak setuju untuk meninggalkan ayahnya seorang diri berjuang di sana. “Aku tak akan meninggalkan Ayah. Aku harus menolong Ayah!” tangis Hwa Mi.

“Nona,” Bong Gu ikut menangis bersama Hwa Mi. “Kita harus pergi! Tuan memintaku untuk memastikan keselamatan Nona,” sekuat tenaga Bong Gu memeluk tubuh Hwa Mi, menahan gadis itu agar tak berlari menghampiri ayahnya.

“Hoon Phil. Aku memberikanmu kesempatan terakhir,” ujar Byun Ik.

“Inilah kesempatan terakhir itu,” jawab Hoon Phil.

Pertarungan pun tak bisa terhindarkan. Dentingan pedang terdengar saling bersahut-sahutan. Hoon Phil dan Byun Ik terus bertarung dengan sungguh-sungguh. Beberapa luka sabetan menghiasi tubuh mereka, luka yang akan terus membekas dan meninggalkan kenangan pahit. Pertarungan berlangsung gigih dan kian memanas. Dua orang yang berasal dari kubu yang bermusuhan namun mereka telah bersahabat sejak kecil, bersama-sama memasuki Sungkyunkwan, lalu mengikuti ujian sipil hingga menjabat di pemerintahan. Dua orang yang akrab melebihi saudara kandung, namun kedua orang itu kini sedang bertarung—seolah nyawa tiada harganya.

Crasss!

Pedang Hoon Phil berhasil menebas lengan Byun Ik membuat darah mengucur dari luka menganga itu. Berimbang, karena ujung pedang Byun Ik tepat berada di perut Hoon Phil, menembus kulit luar pada perut Hoon Phil.

“Hoon Phil, menyerahlah. Bersama-sama kita akan memikirkan cara untuk menolongmu,” ujar Byun Ik.

Kedua orang itu terdiam. Saling pandang. Hoon Phil kembali menyunggingkan senyum di sudut bibirnya yang berdarah. Pria itu bergerak sangat cepat dan… Shrrraakkk!

Byun Ik tertegun. Ia tak pernah mengira jika Hoon Phil akan mendorong maju tubuhnya hingga pedang di tangan Byun Ik tertanam lebih jauh bahkan menembus tubuh Hoon Phil.

“Kau…,” Byun Ik kehilangan kata. Ia terdiam ketika Hoon Phil memeluknya. Perlahan Hoon Phil mulai terkulai. Byun Ik dengan cekatan menopang tubuh Hoon Phil, membaringkannya di tanah dan meletakan kepala sahabatnya itu di pangkuannya “Hoon Phil, kau sudah gila.”

Hoon Phil tersenyum, “Orang-orang seperti kita akan selalu berakhir di ujung pedang,” ia berkata pelan. “Sejak dulu, aku selalu berpikir—alangkah baiknya jika itu adalah pedangmu, Byun Ik.”

“Aku memang tak pernah bisa mengerti orang seperti apa kau ini,” sesal Byun Ik. Mata pria itu telah berkaca-kaca. Hoon Phil menggenggam tangan Byun Ik, membuat tangannya ikut berlumuran darah. Byun Ik merasakan pegangan tangan Hoon Phil yang gemetar.

“Jika keluargaku masih hidup, sampaikan permintaan maafku pada mereka. Maaf karena tak bisa menepati janji,” Hoon Phil mulai kesusahan untuk mengeluarkan kata-kata. “Satu lagi, jika mereka masih hidup—tolong…tolong jaga mereka untukku.”

“Hoon Phil,” Byun Ik kehilangan kata-kata dan air mata telah mengalir di wajahnya. Sementara Hoon Phil telah melepaskan nafas terakhir di tubuhnya. “Hwang Hoon Phil!”

Tak jauh dari tempat itu, Bong Gu semakin mempererat pelukannya terhadap Hwa Mi. Gadis itu terpaku dengan bola mata yang melebar. Matanya yang berkaca-kaca kembali mengucurkan air mata melihat ayahnya terbunuh.

“Ayah…,” ia bergumam pelan. “AYAH!” Hwa Mi kembali berteriak histeris. Teriakan itu sampai ke telinga beberapa tentara kerajaan.

“Nona, kita harus pergi!” Bong Gu membekap mulut Hwa Mi. “Mereka mengetahui keberadaan kita!” Bong Gu sekuat tenaga menarik Hwa Mi, memaksa gadis itu untuk berlari.

Tentara kerajaan sedang mengejar mereka. Bong Gu dan Hwa Mi memasuki hutan pekat dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Berkali-kali Hwa Mi terjatuh karena tersandung oleh batu ataupun akar pepohonan. Langkah mereka terhenti ketika melihat sesosok tubuh yang tergeletak tak bernyawa. Seorang wanita dengan pakaian yang ternodai darah. Bong Gu membekap mulutnya sendiri saat menyadari siapa wanita itu.

“Ibu!” teriak Hwa Mi. Ia langsung tersungkur di samping jasad ibunya. “Ibu, bangun! Kau tak boleh seperti ini. Tidak boleh!” Hwa Mi menangis histeris. “Bangun, kita harus menyelamatkan Ayah. Kita harus menyelamatkan Hwa Young. Ibu!” gadis itu terus mengguncang-guncangkan tubuh mati Nyonya Min. Hwa Mi menangis pilu, memeluk tubuh mati ibunya.

“Ibu…buka matamu. Silahkan lihat aku, Ibu…,” Hwa Mi memegangi wajah Nyonya Min dengan kedua tangannya. “Ibu harus bangun, mengapa kau harus tidur di sini? Kita harus pergi, mereka telah membunuh Ayah. Ibu, aku akan menggendongmu!” Hwa Mi menarik-narik tubuh Nyonya Min sambil terus menangis.

“Nyonya,” gumam Bong Gu tak percaya. Ia turut menangisi kematian Nyonya Min. Bibir wanita muda itu bergetar ketika memanggil majikannya. Suara daun dan ranting kering yang terinjak membuat Bong Gu sadar bahwa tentara-tentara itu semakin dekat. “Nona, kita harus berlari. Kita harus pergi!” Bong Gu menarik Hwa Mi, memaksa gadis itu berlari meninggalkan jasad Nyonya Min.

Malam kian pekat. Mereka kelelahan tapi mereka masih harus terus berlari untuk menyelamatkan nyawa mereka. Hwa Mi terjatuh dan merasakan tubuhnya sudah sangat tak bertenaga, sementara kawanan tentara semakin dekat. Bong Gu kembali berusaha menarik Hwa Mi dengan sisa-sisa tenaganya. Mereka bersembunyi di balik semak.

“Mereka pasti di sekitar sini!” teriak salah satu dari mereka. Sepertinya dia yang memimpin pasukan kecil itu. Mereka mulai menyebar dan memeriksa semak-semak juga pepohonan. Dalam gelap malam, wajah pucat penuh kelelahan Bong Gu dan Hwa Mi terlihat sangat jelas. Para tentara itu mulai mendekati tempat persembunyian mereka.

“Nona, aku akan mengalihkan perhatian mereka. Saat itu, Nona harus berlari sekencang-kencangnya,” ujar Bong Gu dengan terengah-engah.

Hwa Mi menggeleng kasar, “Bong Gu, kau akan meninggalkanku sendiri?” air mata gadis cantik itu terus berlinang. “Aku ingin pergi denganmu!”

“Tidak Nona. Kita berdua tak akan selamat,” air mata sang Bong Gu ikut menetes. Ia memeluk tubuh nona muda yang telah diasuhnya sejak kecil itu. “Apa pun yang terjadi, Nona harus berlari dengan kencang dan jangan menengok ke belakang!”

“Bong Gu, aku takut…,” isak Hwa Mi. Tubuh Hwa Mi bahkan mulai gemetar.

“Jangan khawatir, aku akan melindungi Nona,” ujar Bong Gu sambil menyeka air matanya lalu memegangi pundak Hwa Mi dan menatap mata gadis itu. “Nona harus berjanji. Apa pun yang terjadi Nona harus selamat agar nantinya aku mampu mengangkat kepalaku di hadapan Tuan dan Nyonya,” ia kembali memeluk tubuh Hwa Mi. “Nona, ingat apa yang aku katakan tadi?” tanyanya.

“Bong Gu!”

Bong Gu berlari meninggalkan Hwa Mi. Para pengawal melihat Bong Gu dan mengejarnya. Wanita muda itu mengambil arah yang berbeda agar pengawal-pengawal itu tidak menemukan Hwa Mi. Usaha Bong Gu untuk melarikan diri tak berhasil baik. Hwa Mi hanya mampu membekap mulutnya sendiri ketika melihat tubuh Bong Gu dihunus pedang tajam salah satu tentara kerajaan, wanita itu tergeletak di atas dinginnya tanah. Bong Gu menatap nanar pada Hwa Mi yang mematung di tempat persembunyiannya, dengan sisa tenaga ia menggeleng seolah mengatakan pada Hwa Mi agar tidak berteriak. Pelayan muda itu akhirnya menutup matanya perlahan. Air mata Hwa Mi mengalir bak anak sungai.

Dengan tubuh yang gemetar Hwa Mi mencoba untuk melarikan diri. Ia berlari sempoyongan dan pengawal-pengawal itu masih mengejarnya. Tubuhnya telah kotor dan terluka akibat terkikis duri semak belukar dan ranting-ranting kering. Kaki HwaMi tersandung oleh batang pohon yang tumbang sehingga membuatnya tertelungkup. Para pengawal itu telah berdiri tepat di belakangnya. Hwa Mi tak dapat berkata-kata. Ia terus menangis ketakutan sambil menggeleng kasar kepalanya, mencoba meminta pengasihan orang-orang itu. Pedang mereka telah bermandikan darah keluarganya dan juga para pelayan di rumahnya. Di mata Hwa Mi, orang-orang itu terlihat sangat menakutkan melebihi binatang buas. Mereka begitu beringas dan tiada ampun. Seseorang telah mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk membunuh Hwa Mi. Gadis itu memejam matanya kuat-kuat.

Craashhh!

Craashhh!

Craashhh!

Bunyi itu terdengar berulang-ulang kali. Bunyi pedang yang menjilati darah yang menyembur dari daging menganga karena terkena sabetan benda tajam itu. Hwa Mi masih baik-baik saja. Ia tak merasakan apa pun yang menyentuh tubuhnya. Gadis itu perlahan membuka matanya. Orang-orang itu telah tumbang dengan tubuh berlumuran darah. Satu-satunya yang berdiri tegak adalah seorang pria tapi dia bukanlah bagian dari pasukan kerajaan.

Dalam gelap malam, Hwa Mi dapat melihat semua yang terjadi. Termasuk pria yang kini berdiri di hadapannya. Pria dengan postur tubuh tinggi. Ia tak  terlihat seperti kaum bangsawan tapi juga tak tampak seperti kaum budak. Pakaiannya berwarna gelap dan rambutnya hanya dikuncir seadanya. Di tangannya ada sebuah pedang dengan ukuran yang cukup besar yang diyakini Hwa Mi bahwa dirinya tak akan sanggup mengangkat pedang itu. Orang itu lalu menyarungkan pedang pada tempatnya yang bergelayut di punggungnya. Dia tampak seperti seorang pengelana dan mungkin saja dia adalah seorang pendekar. Setelah itu, Hwa Mi tak mampu memikirkan apa-apa lagi. Ia tak sadarkan diri. Hwa Mi tak pernah membayangkan bahwa malam seperti ini akan mengusik kehidupannya yang selalu tenang, kejadian tragis yang menimpa keluarganya. Malam itu terjadi penangkapan terhadap para Sarjana Sarim.

 Semula memang hanya karena dendam pribadi Yi Guk Don seorang Faksi Hungu kepada Kim Il Son, seorang Sarjana Sarim atau Seonbi yang pernah menghukumnya. Yi Guk Don mengetahui bahwa Kim Il Son memasukkan tulisan gurunya, Kim Jong Jik tentang kritikan terhadap Raja Sejo yang membunuh Raja Danjong agar naik takhta. Oleh Faksi Hungu, Kim Il Son dan murid-murid Kim Jong Jik lainnya dituduh melecehkan raja. Yeongsan-Gun atau pangeran Yeonsan adalah raja yang membenci kaum pendidik. Kim Il Son dan dua orang lain dihukum dengan cara ditarik bagian tubuhnya oleh sapi. Tiga orang lainnya dipenggal. Jenazah Kim Jong Jik dibongkar dari makam dan kepalanya dicabut. Sebanyak delapan belas orang lain diasingkan. Yeonsang-gun memerintahkan seluruh pejabat istana menyaksikan eksekusi dan bahkan menghukum mereka yang tidak hadir atau memalingkan wajah.

~.o0o.~

Istana langit. Disebuah ruangan yang sangat luas dengan dinding tembus pandang. Di tengah ruangan terdapat singgasana yang menjulang tinggi, seorang pria dengan jubah putih keperakan duduk di atasnya—sang Kaisar Langit. Ada singgasana lain yang ukurannya tak sebesar singgasana Kaisar Langit. Singgasana-singgasana itu mengelililing singgasana utama milik Kaisar Langit, dan telah diduduki oleh para dewa. Mereka tampak diam. Nahwan dan Myungjin sesekali berbisik serius. Sementara raut wajah Jongshin memerah menahan kegeraman. Tangannya mengepal keras. Sedang terjadi ketegangan di istana langit.

Gerbang utama ruangan itu, dengan dua pilar tinggi yang mengapit kini terbuka lebar. Seseorang baru saja masuk. Langkah pastinya membuat semua mata kini tertuju padanya. Lantai ruangan tersebut sepenuhnya adalah air, seperti air danau yang tenang hanya menimbulkan gemericik ketika mencium jejak kaki pria yang baru saja tiba itu dan dalam waktu yang cepat permukaannya akan kembali tenang. Meskipun begitu, lantai itu tak membuat mereka tenggelam.

“Kukira kau tak akan datang,” Jongshin berkata sinis dengan nada yang sangat dingin. Ia menatap pria yang telah berdiri tenang di hadapan para dewa. “Apa yang kau lakukan?” ia terlihat sangat marah. Pria itu tak bersuara. “Kau menghinaku?” nada suara Jongshin, sang Dewa Kematian semakin meninggi.

Semua yang ada di situ tetap diam. Mereka tak mengalihkan pandangan dari pria yang masih bersikap tenang. Seorang pria yang terlihat seperti seorang pemuda tangguh. Postur tubuhnya sangat baik. Pakaian biru pekat yang dipakainya, sangat cocok dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Rambut panjangnya hanya dikuncir begitu saja, menyisakan poni dan anakan rambut halus yang tergerai dipermainkan angin. Sorot matanya begitu tajam, rahangnya yang tegas membuat wajah tampannya kian memikat. Ada sebuah pedang besar yang tersembunyi di balik punggungnya.

“Jongshin,” Kaisar Langit menatap tenang pada Dewa Kematian yang telah dipenuhi dengan amarah. Ia lalu memandangi lelaki yang masih berdiam diri di hadapannya. “Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?”

“Ya, aku tahu,” jawabnya.

“Apa yang membuatmu bertindak seperti itu?”

“Aku hanya menolongnya.”

“Yeom!” hardik Jongshin. “Kau mengacaukan kitab kematian! Gadis itu sudah seharusnya mati, mengapa kau menyelamatkannya?”

“Kalau begitu, kau hanya perlu mencabut nyawanya sekarang juga,” pria bernama Yeom masih berkata dengan eskpresinya yang sangat dingin.

“Kau!” emosi Jongshin kian tak terkontrol. “Tidak akan semudah itu, Yeom.”

“Tenang!” suara Kaisar Langit mengelegar dan suasana kembali hening. “Para dewa mempunyai tugas masing-masing dan tak boleh ikut campur dalam tugas satu sama lain. Yeom, tindakanmu mengacaukan alam semesta yang sudah berjalan teratur. Kehidupan, kematian dan segala hal-hal lain yang ada di bumi sudah diatur. Gadis itu sudah seharusnya mati.”

Yeom bungkam. Tak berniat mencela perkataan Kaisar Langit.

“Kau menolong gadis itu, tapi tindakanmu justru akan membuatnya menderita. Karena sudah seperti itu, segala sesuatu akan berubah,” ujar Kaisar Langit. “Kesalahanmu tak bisa dibiarkan. Selama 500 tahun kau akan hidup sebagai manusia biasa. Kau tak akan bertambah tua tapi tubuhmu adalah tubuh manusia dan kau harus berhati-hati menjaga tubuhmu. Itulah hukuman yang harus kau jalani.”

Yeom terperanjat mendengar keputusan Kaisar Langit.

“Selama kau menjalani hukuman, kau akan menyaksikan bagaimana kehidupan gadis itu hingga akhir.”

Yeom hanya mematung. Ia tak mungkin meminta belas kasihan Kaisar Langit. Yeom harus meninggalkan statusnya sebagai Dewa Perang dan menjalani masa hukumannya sebagai manusia biasa.

~.o0o.~

 

Siang itu cuaca tak begitu panas, burung-burung beterbangan tanpa beban di bawah cakrawala Hanyang. Aktivitas perekonomian berjalan seperti biasanya meskipun suasana masih begitu tegang. Sejak Yeonsan-gun memerintah, keadaan selalu menjadi lebih genting. Alam merekam semua yang terjadi, termasuk di kediaman salah satu keluarga bangsawan. Tepat di sebuah haengnangchae atau bangunan untuk tempat tinggal para pelayan yang berada di dekat pintu masuk. Seorang gadis membuka matanya perlahan. Ia beringsut dan mulai duduk dengan berhati-hati. Bekas luka yang mulai mengering masih nampak di permukaan kulitnya. Seorang wanita paruh baya memasuki kamar sempit itu, ia membawa sebuah meja kecil yang di atasnya terhidang beberapa makanan. Wanita tersebut meletakan meja kecil itu di dekat gadis yang masih menatap keheranan.

“Makanlah, berhari-hari kau tertidur. Tubuhmu semakin lemah.”

Gadis itu tetap berdiam diri. Dahinya berkerut halus. Banyak hal yang sedang ia pikirkan.

“Siapa. Siapa kau?” bibir mungilnya mulai bergerak.

“Kau bisa memanggilku Ae Jung,” jawab wanita itu. Ae Jung adalah seorang pelayan di salah satu keluarga bangsawan. “Lima hari lalu, kau tak sadarkan diri di dekat gerbang rumah ini. Nona, katakan di mana tempat tinggalmu—aku akan membantumu menemukan keluargamu.”

Gadis itu terdiam. Ia menggeleng pelan membuat wanita bernama Ae Jung keheranan.

“Siapa namamu, Nona?” Sang gadis kembali menggeleng dan Ae Jung semakin terperangah. “Baiklah, tidak apa-apa. Kau bisa mengingatnya pelan-pelan. Makanlah. Aku harus kembali bekerja,” Ae Jung tak menunggu jawaban si gadis ketika ia meninggalkan gadis itu sendiri di dalam kamar. Ae Jung segera menyarungkan sepatu di kakinya. Ia berjalan tergesa-gesa menghampiri seorang pria tua yang berdiri tak jauh, menatap cemas.

“Bagaimana?” tanya pria itu.

“Dia tak mengingat apa pun,” desah Ae Jung. “Gadis yang malang. Tak ada yang lebih buruk dari kehilangan identitas.”

“Mungkin dia sedang dalam pelarian dari kawanan perampok, lukanya cukup parah saat itu. Aku paham mengapa dia bisa tak ingat apa pun,” ujar pria tua tersebut.

Mereka tak pernah tahu jika gadis yang mereka tolong adalah seseorang yang berasal dari kalangan bangsawan yang berhasil lolos dari pembantaian keluarganya. Hwang Hwa Mi. Kejadian itu membuat Hwa Mi sangat terpukul hingga berujung pada hilangnya ingatan Hwa Mi.

~to be continue~

 

Gak tau harus bilang apa, belakangan semangat menulis agak menurun (pengaruh berbagai hal). Sy berharap teman2 di sini gak hanya jadi pembaca setia tp bersedia memberikan tanggapan! Don’t be a silent reader.

Iklan

286 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 4)

  1. varaarouvhs berkata:

    wah,,, ternyata ada ff saeguk yg bagus lagi,,,, kemana aja selama ini,,,, salam kenal ya,,,

  2. nurwiniaprilia berkata:

    wah ternyata yeom adalah cho kyuhyun, dewa ya. Menyelamatkan hwang mi . Nyampe dapet balasan harus jadi manusia selama 500th lagi, lama bener -_- donghae gak muncul o.o

  3. hyunki berkata:

    hilang ingatan dan kematian yg tertunda pluss pembantain seluruh keluarga. Duhh hwa mi malang bnar nasibmu 😦 moga kyu oppa bsa menolongmu. btw thor skrg q ngeh ceritax hahaha 😀

  4. nandakyu berkata:

    kirain yang nolong hwa mi itu donghae yg disuruh ayahnya eh ternyata kyuhyun.
    wahh 500 tahun tanpa bertambah tua? jadi siapa kyuhyun di tubuh manusianya penasaran gimana cara dia ngawasin hwa mi nantinya..

  5. falah berkata:

    semakin seru dan semakin nyambung..
    jd yg selamatin itu yoem ya bkn bang ikan…
    ckck emang ya bang evil dmn2 evilnya ttp ada…

  6. Ray berkata:

    Kyuhyun jadi manusia dan bertanggung jawab atas hwa mi. Eunhyuk bilang ammy jodohnya bukan Chris tapi ada yang lain. Kyuhyun kah? Still full of riddle. Keren!! >< Pengemasan cerita kamu itu daebak!

  7. Melz Cho berkata:

    Ya ampuuuunnnn….. kenapa ah mi menderita banget ya, di kehidupan yg lalu kehilangan org tua, kehidupan sekarang jg yatim piatu…
    Kalo kyuhyun dihukum melihat ah mi selama 500 tahun berarti berarti kyuhyun ada di sekitar ah mi ??? Apa kyuhyun berjodoh dg ahmi?? Terus donghae gmn? Aduuuhb aku banyak bgt tanda tanya… aku lanjut baca ya

  8. Euis218dalnim berkata:

    Hwami menderita banget hidupnya..
    Kyuhyun jadi manusia yah?? Apakah dia jodoh lain’y hwa mi! Soalnya kata eunhyuk jodohnya hwa mi bukan hanya chris..
    Full of riddle .. Keren >_<

  9. dyah berkata:

    walaupun aku gak terlalu paham ttg sejarahnya korea tp ff ini kereenn
    bingung mau komentar apa lagii.. lanjut baca aja 😀

  10. Esaa berkata:

    Terharu dengan persahabatan mereka yang berbeda kepentingan tetapi tetap menjalani tali persahabatan.
    Kasihan Hwa Mi, masih kecil sudah ditinggalkan semua keluarga dan orang-orang yang dikenalnya….
    Seriusan kakak, aku sedihhhh..

    Dan Yeom. Dia dihukum jadi manusia selama 500 tahun karena menyelamatkan Hwa Mi. Wah bener nanti Yeom bakal ada tali kasih dengan Hwa Mi, xixi…

  11. Nenilopelopebts berkata:

    Pertama kali tertarik sama ff saeguk hehe keren eonnie ceritanya..
    dan bener dugaanku yeom itu trnyata kyuhyun, tpi aku penasaran gimana kisah donghae-ammy-kyuhyun, cinta segitiga kah??

  12. qiqi amalia berkata:

    Yaa ampun.. Beneran deh aku nangiss baca part ini :'(:'( gimana gag hilang ingatan krn trauma.. Wong nyaksiin sendiri bpk ibu bibinya mati dibunuh.
    Yeom=kyu ?
    Dia yang nyelametin hwa mi ?
    Knapa seorg dewa malah nyelametin manusia ?
    Padahal tau sndiri kalo itu gag boleh, ujung2nya dihukum jd manusia..
    Ahhh..tapi2, masih bs berharap kan kalo maincastnya kyu 😀 hihiiii

  13. Sparkling berkata:

    Jd ammi reinkarnasi dari hwa mi ya eon ?
    Kyuhyun masih ada tdk dijamannya Ami ? Yg ketemu Ammy di bus itu kyuhyun ya ? Apa Donghae ?
    Wah…penasaran, baca next part dulu ah 😀

  14. noviyantilzy berkata:

    aduh siapa cast utama cwo’a??? baca di atas itu donghae, aku shock! klo ini bkal jd cinta segitiga, aq bkal ikutan biar jd segiempat, kyuhyun dewa perang, wkek

  15. Rosya berkata:

    jadi yeom itu kyuhyun.. dewa perang, yang nyelametin hwa mi.
    apa alasan kyu nyelametin hwa mi ya?
    kasihan banget sama hwa mi, keluarganya berakhir tragis begitu T.T

  16. baekxo berkata:

    masih bingung ini pemeran utamanya siapa ?
    donghae atau kyuhyun ?
    itu yg nyelametin ammy si kyu ya ?
    next~

  17. shatia berkata:

    Kirain yg jadi donghae tuch bakalan jadi kyuhyun di masa depan, gak taunya bukan.
    Tragis benar nasib Hwa Mi..
    Kenapa ya, kyuhyun malah nolongin Hwa Mi? bikin penasaran..

  18. kim yoo jung berkata:

    oh… jadi yeom itu kyuhyun
    thor bleh jujur kan??? aku baca ff ini bingung sendiri
    dan aku masih bingung sama pemeran utama cowoknya
    fighting thor!!!

  19. leei berkata:

    kirain yg nolong hwa mi donghae ternyata salah -.- ceritanya makin seru.semoga hwa mi sama donghae.soalnya udah biasa klo cast utamanya sama kyuhyun biar beda hihi.keren thor ^^

  20. Herissheea berkata:

    Kesian si yeom dihukum jadi manusia..

    Kesian jg sama si hwa mi keluarganya meninggal terbunuh semua.. Sedih.. 😦

  21. lim zhu qi berkata:

    aishhh…
    mulai paham…
    heol, kyukyu dewa perang…
    yesung cocok banget perannya d sni….

  22. itisyahri berkata:

    Yaaa ampun aku suka banget sama ff ini 😀 sii hwa mi kasian banget sihh.. Oh jadi yg nolong hna mi itu kyuhyun tohh… Whaa aku makin suka sama ff ini

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s