Under The Joseon Sky (Part 5)

UTJS (Part 5)

Cast :

Ammy/Hwang Hwa Mi/Soo (OC) || Lee Donghae || Cho Kyuhyun as Yeom || Lee Hyukjae as Nahwan || Choi Siwon as Myungjin || Kim Jong Woon as Jongshin || Park Jung Soo as Kaisar Langit || Other

Marchia’s note : Sebelum semua pada komen kalo partnya kependekan, sebaiknya kujelaskan bahwa utk cerita ini partnya memang sengaja dibuat pendek hehehe. Oke, berharap tidak ada praktek plagiat & jika kalian menemukan ada yang mem-plagiat ffku, mohon segera dilaporkan. Say no to plagiat!

***

~ Yang Mengalahkan Kecantikan Bunga Mae Hwa ~

 

Suatu hari Hwa Mi memutuskan untuk menghirup udara luar setelah sebulan lamanya Hwa Mi hanya berdiam diri di dalam kamar. Alasan yang tak mudah ia pahami ketika ia lebih memilih untuk menetap di ruangan yang sempit itu, tampaknya trauma kejadian malam itu masih membekas di jiwanya. Untuk pertama kali kulit pucat Hwa Mi tersiram cahaya matahari. Matanya sedikit memejam, silau tertempa cahaya matahari. Kakinya menjajak pelan, langkah demi langkah. Matanya yang bening mengawasi sekeliling. Hwa Mi tahu bahwa lingkungan tempatnya berada adalah sebuah kediaman keluarga bangsawan. Di lihat dari hanok dan beberapa bangunan di sekitarnya. Tempat-tempat seperti itu hanya dimiliki oleh kaum bangsawan.

Bunga mae hwa sedang bermekaran di pekarangan rumah. Tampak sangat cantik—sekilas terlihat mirip dengan bunga sakura, namun mae hwa bukanlah sakura. Hwa Mi terkesima melihat keindahan bunga itu. Hwa Mi berjalan mendekati pohon mae hwa. Kelopak-kelopak kecil mae hwa berguguran dihempas angin, mengotori tanah di sekitar bunga itu tumbuh. Hwa Mi masih tertegun sambil menengadahkan tangannya, mengumpulkan guguran mae hwa di telapak tangan. Gadis itu sangat menikmati aroma mae hwa yang terbawa angin dan terendus hidung mancungnya.

Hwa Mi tak pernah mengira jika apa yang sedang dilakukannya saat itu menarik perhatian seorang pemuda yang tengah menikmati angin sore di sarangdaecheong, sebuah ruang terbuka atau teras beratap yang menghubungkan ruangan utama dengan bangunan depan yang menghadap ke halaman. Pemuda itu tak bisa memungkiri bahwa gadis muda yang berdiri di bawah sana sangat mempesona meskipun kulitnya tampak pucat. Kecantikan bunga mae hwa yang sedang bermekaran tak sebanding dengan gadis yang memandang kosong pada guguran kelopak mae hwa tersebut. Hwa Mi masih terdiam. Udara terbuka dirasa sangat baik bagi tubuhnya. Aroma mae hwa membuat pikirannya lebih nyaman.

“Aku sangat yakin jika tak ada yang dapat menandingi kecantikan mae hwa.”

Suara itu membuat Hwa Mi terlonjak. Hwa Mi semakin terkejut melihat seorang pemuda telah berdiri tak jauh darinya, ikut memandangi kelopak-kelopak mae hwa yang bermekaran indah.

Pemuda itu memalingkan wajahnya membuat mata mereka bertemu, “Dan kini aku harus mematahkan keyakinanku,” katanya sambil tersenyum. Hwa Mi dapat merasakan dadanya yang berdesir-desir aneh ketika melihat senyuman itu. Dia begitu tampan. Dari arah lain, Ae Jung berjalan tergesa-gesa, ia hampir setengah berlari mendekati mereka.

“Tuan Muda,” Ae Jung berkata dengan sangat hati-hati sambil terus membungkukkan tubuhnya.

“Ae Jung,” pemuda itu tersenyum ramah. Ae Jung tak berani menatap mata tuan mudanya lebih dari lima detik. Tatapannya justru tertuju pada Hwa Mi yang tak berkutik seperti batu.

“Apa yang kau lakukan?” pelayan paruh baya itu terlihat cemas. “Cepat beri salam pada Tuan Muda!” perintahnya. Hwa Mi masih tak bereaksi. Ia hanya diam, menelusuri setiap lekuk yang ada di wajah pemuda itu. “Maafkan hamba, Tuan Muda,” ujar Ae Jung, ia semakin gusar karena tingkah Hwa Mi. “Maafkan sikap gadis muda ini. Dia sedang tidak sehat.”

“Baiklah,” angguk pemuda itu.

“Aku akan membawanya ke kamar,” pamit Ae Jung, ia menuntun Hwa Mi berjalan meninggalkan sang tuan muda seorang diri. Sesekali Hwa Mi menengok ke belakang dan akan dibalas oleh senyum hangat pemuda tersebut.

Pertemuan singkat yang cukup membekas di hati Hwa Mi. Secara sembunyi-sembunyi Hwa Mi sering kali memperhatikan tuan muda itu. Ketika tuan muda baru pulang atau hendak pergi ke suatu tempat, ketika tuan muda menikmati hari sore di sarangdaecheong, ketika tuan muda menyapa ramah para pelayan di rumahnya bahkan ketika tuan muda tampak termenung memikirkan sesuatu dengan raut wajah yang sangat sedih. Hwa Mi selalu menatap tuan muda itu dari jauh, ia merasa bahwa tuan muda sangat berbeda dari bangsawan yang pada umumnya selalu bertingkah kasar dan seenaknya pada kaum yang berasal dari kasta rendah. Tuan muda itu adalah orang yang baik hati.

Melalui Bibi Ae Jung, begitu cara Hwa Mi memanggil wanita yang telah merawatnya—Hwa Mi akhirnya tahu bahwa nama tuan muda itu adalah Dong Hae, Lee Dong Hae. Benar, pertemuan di bawah guguran bunga mae hwa bukanlah pertemuan pertama mereka. Lee Dong Hae tak tahu jika Hwa Mi adalah gadis dengan jang-ot (kain penutup kepala) berwarna biru muda yang ditemuinya di rumah sahabat ayahnya. Sedangkan Hwa Mi tak ingat lagi pemuda pemilik senyum mempesona penemu binyeo (tusuk rambut) yang dicarinya adalah Lee Dong Hae.

                                                            ~.o0o.~

 

Hwa Mi berjalan dengan sedikit terburu-buru di sisi Ae Jung. Mereka sedang berada di pasar. Ini kali pertama Hwa Mi berada di tengah keramaian. Ia begitu takjub dengan situasi pasar yang hiruk pikuk. Para pedagang yang terus menawarkan dagangan mereka. Hwa Mi hanya mengikuti ke mana Ae Jung berhenti. Penjual ikan, obat-obatan, perhiasan, kue-kue tradisional—Hwa Mi begitu terkesima. Senyumnya kian mekar bahkan ketika mereka melewati rombongan penghibur keliling, kaki Hwa Mi sempat terhenti.

“Nona,” Ae Jung menoleh dan memberi kode agar Hwa Mi tetap berada di sisinya. Hwa Mi kembali mengayunkan kakinya, namun matanya terus menyisir keadaan di sekitarnya. Beberapa kali anak-anak kaum budak yang bermain di pasar menabrak tubuh Hwa Mi. Gadis itu hanya tersenyum.

Sepertinya Hwa Mi benar-benar tak memperdulikan peringatan Ae Jung, langkah kaki Hwa Mi kembali terhenti ketika melihat rombongan penghibur lainnya. Sebuah sandiwara boneka. Orang-orang begitu antusias menyaksikan pertunjukan itu, begitu juga dengan Hwa Mi. Ia bergabung bersama kerumunan itu, tertawa riang bahkan ikut bertepuk tangan bersama mereka.

Pertunjukan usai, kerumunan masyarakat mulai bergerak meninggalkan tempat pertunjukan. Dengan senyuman puas Hwa Mi beranjak. Langkah kakinya terhenti. Hwa Mi tak lagi melihat Ae Jung. Tubuhnya terus berputar ke segala arah mencoba mencari sosok Ae Jung. Hwa Mi melangkah tergesa-gesa, berbaur dengan masyarakat yang memenuhi jalanan pasar, matanya terus mencari Ae Jung. Ia telah terpisah dengan Ae Jung. Kecemasan tergambar jelas dari raut wajahnya yang kebingungan. Tak tahu bagaimana caranya atau jalanan mana yang harus ia lewati untuk membawanya kembali ke rumah.

Derap langkah kaki kuda di jalanan pasar. Pasukan kerajaan tengah melintas. Seakan tak perduli dengan jalanan sempit yang dipadati oleh masyarakat, tentara-tentara itu terus memacu kudanya agar berlari lebih kencang. Ringkikan tajam kuda mengagetkan Hwa Mi. Ketika orang-orang menepi untuk menghindari tendangan kuda, Hwa Mi justru terpaku di tengah jalan. Mata indahnya membulat menyaksikan rombongan berkuda itu semakin mendekat. Ia hanya bisa memejamkan matanya kuat-kuat, lalu merasakan seseorang menarik kasar tangannya. Setelah derap langkah kaki kuda terdengar menjauh, Hwa Mi baru berani membuka mata. Ia terperanjat menyadari posisinya yang sedang berada dalam pelukan seseorang.

“Nona, kau tak apa-apa?” Hwa Mi semakin terkejut melihat orang yang menolongnya adalah Tuan Muda Lee Dong Hae. “Kau baik-baik saja?” tuan muda tampan itu terlihat sangat mengkhawatirkannya.

“Aku…,” mulut Hwa Mi serasa kaku.

“Mengapa kau berada di sini?”

“Aku, bersama Bibi Ae Jung,” Hwa Mi menunduk.

“Di mana Ae Jung?” pandangan Hwa Mi kembali menelusup keramaian pasar ketika mendengar pertanyaan Dong Hae, “Baiklah, aku akan mengantarmu pulang,” ia tahu jika Hwa Mi terpisah dari Ae Jung dan akhirnya tersesat.

Hwa Mi hanya mengangguk pelan. Ia mengikuti langkah kaki Dong Hae. Mereka menyusuri jalanan Hanyang. Tak jarang Hwa Mi dapat menyaksikan ketika orang-orang yang berpapasan dengan mereka menundukkan kepala seraya menghormati Dong Hae. Selama perjalanan hanya diisi dengan kebisuan, sesekali Dong Hae menoleh pada Hwa Mi yang berjalan di sisinya, tetap menundukkan kepala. Mereka akhirnya tiba di gerbang utama kediaman mereka. Bersama-sama mereka memasuki gerbang utama, menjajaki halaman. Langkah kaki Hwa Mi sedikit melambat membuat Dong Hae berada beberapa langkah di depannya. Dong Hae terhenti. Ia menoleh pada Hwa Mi.

“Nona, siapa namamu?”

“Aku?” tanya Hwa Mi seakan tak percaya jika orang yang diajak bicara tuan muda itu adalah dirinya. “Aku, tak punya nama,” ia menjawab dan kembali menatap tanah.

“Benarkah?” alis Dong Hae saling bertaut. “Lalu bagaimana orang-orang memanggilmu?” pemuda itu semakin penasaran.

“Mereka hanya memanggilku Nona,” jawab Hwa Mi. “Bagi kaum budak seperti kami, nama tak begitu penting,” katanya lagi. Tampaknya Hwa Mi mempercayai perkataan Ae Jung. Kepada semua orang, Ae Jung mengatakan bahwa Hwa Mi adalah anak dari kerabat jauhnya dan telah menjadi yatim piatu.

Dong Hae terpekur sesaat, ia memandangi kelopak bunga mae hwa di atas kepalanya. “Baiklah. Mulai sekarang, namamu adalah Soo,” penuturannya sukses membuat Hwa Mi mengangkat kepala, memandang tajam padanya. “Soo, berarti kesempurnaan,” katanya lagi, ia kembali memandangi bunga-bunga mae hwa yang begitu memukau sambil tersenyum cerah. Hwa Mi tak bergeming menatapi keindahan di hadapannya. Dong Hae lalu menatap Hwa Mi, masih dengan senyuman hangatnya membuat Hwa Mi secepatnya menundukkan kepala. Ia hanya mengekori dengan ujung mata pada langkah kaki Dong Hae yang berjalan menjauhi tempat tersebut.

“Nona!” jeritan Ae Jung mengagetkan Hwa Mi. Pelayan itu menghampiri Hwa Mi dengan tergesa-gesa. “Syukurlah kau di sini,” Ae Jung sangat mencemaskan gadis itu. “Nona, dari mana saja kau?” sisa-sisa kepanikan masih tersirat jelas di wajah Ae Jung.

“Soo,” Hwa Mi bergumam pelan.

“Ya?”

Hwa Mi menoleh, memandangi Ae Jung yang kebingungan. “Namaku Soo,” kata Hwa Mi pelan. Ia lalu memandangi bunga-bunga mae hwa yang bermekaran.

~.o0o.~

Hari demi hari berlalu, minggu terlewati dan kini sudah menginjak bulan ke empat Hwa Mi hidup sebagai budak di keluarga bangsawan Lee. Selama itu pula, ia hidup dengan identitasnya yang baru, sebagai Soo, nama yang diberikan oleh tuan mudanya. Ya, mulai saat itu namanya adalah Soo.

Soo, masih dengan kebiasaannya yang terus mengawasi Lee Dong Hae. Tuan muda itu selalu memperlakukan Soo dengan baik. Tak jarang mereka sering bertemu di pekarangan ketika salah satu dari mereka menikmati mekarnya bunga mae hwa dan keduanya hanya akan mengobrol seadanya—meskipun keadaannya cukup canggung.

Malam kian pekat, Soo masih tak bisa memejamkan matanya. Berkali-kali ia terus merubah posisi tidur, berharap kantuk akan datang menghampiri. Ae Jung terlihat sangat lelap di sisinya. Soo bangun perlahan-lahan, ia memakai kembali pakaian luarnya dan mengendap-endap keluar dari kamar agar Ae Jung tidak terbangun karena keributan yang ditimbulkannya.

Di luar udara cukup dingin. Langit gelap, tak ada bintang yang tertangkap mata Soo, hanya bulan purnama yang begitu bulat. Gadis itu menarik nafas dalam dan kembali melangkahkan kakinya, menyusuri halaman yang cukup luas. Langkah kakinya terhenti ketika ia berada di bawah pohon bunga mae hwa. Kelopak-kelopak bunga mae hwa masih berguguran ditiup angin. Di bawah tempaan cahaya bulan, kecantikan mae hwa kian bertambah.

“Sangat cantik bukan?”

Soo terkejut ketika Dong Hae telah berdiri di sisinya. Ia tak menyadari kedatangan tuan mudanya itu.“Tuan Muda,” ujar Soo seraya menundukkan kepalanya dan tak berani untuk mengangkat kepalanya lebih tinggi lagi.

“Udara malam sangat dingin, kau bisa terserang penyakit,” ujar Dong Hae. “Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, Soo?”

“Maafkan hamba, Tuan Muda,” ujar Soo gugup. “Hamba hanya tak bisa tidur,” jawabnya. Berdekatan dengan Dong Hae selalu membuat dada Soo berdebar halus.

“Benarkah?” selidik Dong Hae. Soo hanya mengangguk pelan.

Dong Hae lalu meninggalkan Soo seorang diri. Gadis itu mulai mengangkat kepalanya yang sedari tadi terus tertunduk. Ia menarik nafas panjang, sedikit lega setelah kepergian Dong Hae. Kelegaan Soo tak berlangsung lama setelah melihat Dong Hae kembali menghampirinya. Kali ini Dong Hae tak sendiri, ia menuntun kuda yang biasa ditungganginya.

“Aku juga tak dapat memejamkan mataku,” kata Dong Hae. “Maukah kau menemaniku jalan-jalan?” pertanyaan itu membuat raut wajah Soo berubah drastis.

Jalanan di Hanyang begitu sepi. Terkadang hanya tampak pria-pria yang berjalan terhuyung-huyung, mereka pasti baru saja menghabiskan banyak uang di tempat-tempat pelacuran. Sementara itu, Soo sedang berusaha untuk mengontrol detak jantungnya. Matanya melirik pada kedua tangan Dong Hae yang memegang tali kendali kuda, kedua tangan itu seakan memagarinya dengan kokoh agar ia tak terjatuh. Soo dapat merasakan tubuhnya yang bersandar pada dada bidang tuan muda itu. Posisi mereka sangat rapat hingga Soo mampu merasakan nafas Dong Hae.

Kuda yang ditunggangi mereka berjalan dengan tidak terburu-buru menyusuri jalanan, menelusuri kesunyian hutan pinus. Berjalan di jalan tanah basah yang di pagari oleh pohon-pohon pinus yang berbaris lurus. Hanya terdengar suara hewan-hewan malam. Sesekali Dong Hae memandangi Soo yang duduk di depannya, gadis itu semakin gugup. Mereka akhirnya tiba di sebuah bukit. Untuk sekilas, Soo tertegun. Pemandangan malam Kota Hanyang terlihat dengan sangat jelas dan ia terkesima karenanya. Dong Hae turun dari kuda dan mengulurkan tangannya pada Soo. Meskipun sedikit ragu, namun gadis itu menyambut uluran tangan Dong Hae dan dengan hati-hati Dong Hae membantu Soo turun dari kuda tersebut.

“Aku selalu datang ke tempat ini ketika pikiranku sedang terganggu,” ujar Dong Hae, matanya menatapi cahaya dari Kota Hanyang. “Dan kau orang pertama yang aku ajak ke sini,” katanya lagi.

Soo hanya menoleh pada Dong Hae. Ia lalu ikut menatapi pemandangan malam Hanyang. Mereka terdiam cukup lama, menikmati kesunyian yang sedang terjadi. Soo lalu memberanikan diri untuk kembali menatapi wajah tuan mudanya. Gadis itu sedikit tertegun melihat ekspresi Dong Hae yang sedang menyembunyikan sesuatu. Wajahnya yang tampan terlihat begitu tenang, namun sorot matanya sangat sedih. Soo sering mendapati tuan mudanya dengan ekspresi itu, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya.

Dong Hae menoleh pada Soo membuat mata mereka bertemu, dengan cepat Soo menundukkan kepalanya.

“Maaf,” ujar Soo.

“Tidak apa-apa Soo,” Dong Hae tersenyum tipis. Dua orang itu kembali memandangi Kota Hanyang yang terpantau jelas dari bukit tempat mereka berada. “Ada saat-saat ketika aku teringat padanya,” ucapan Dong Hae memecahkan kesunyian di antara mereka.

“Tuan Muda.”

Seakan menyadari rasa penasaran Soo karena ekspresi sedih yang selalu disembunyikannya, pemuda itu mulai bercerita. “Gadis itu, aku rasa dia sebaya denganmu. Pertama kali bertemu, dia gadis yang sangat pemalu,” ada senyum tipis yang tergambar di wajah Dong Hae.

“Tuan Muda sangat sedih karena gadis itu,” gumam Soo pelan. “Maafkan kelancangan hamba,” katanya cepat-cepat setelah menyadari apa yang telah keluar dari mulutnya.

“Gadis itu, seharusnya dia adalah orang yang akan bertunangan denganku.”

Soo menatap seketika pada Dong Hae. Ia terkejut dan hatinya kembali berdebar-debar aneh. Ada sesak yang menjalar di sana saat mengetahui ada seseorang yang telah menjadi tunangan Dong Hae.

“Sepertinya, Tuan Muda sangat menyukainya,” ucap getir Soo.

“Meskipun dia sangat pemalu, tapi aku yakin dia adalah gadis yang baik hati.”

“Tuan Muda menjadi begitu sedih hanya karena memikirkan gadis itu. Mengapa Tuan Muda tak menemuinya?”

“Aku tak bisa,” jawab Dong Hae. Ia menarik nafas panjang, “Gadis itu sudah meninggal,” Dong Hae menatapi wajah bulan di atas sana.

Soo kembali terperanjat. Air mata Soo hampir menetes mendengar itu. Meskipun Soo merasa sesak mengetahui ada gadis yang disukai oleh tuan mudanya, namun ia lebih sedih mengetahui kenyataan bahwa gadis itu telah tiada. Kini Soo mengerti, mengapa Dong Hae selalu terlihat dengan eskpresi sesedih itu. Soo merasa bahwa Dong Hae pasti sedang merindukan gadis tunangannya itu. Tak terasa kristal bening mengalir di kedua belah pipi Soo, ia merasakan kesedihan tuan mudanya tanpa menyadari bahwa gadis yang dimaksud oleh Lee Dong Hae adalah dirinya sendiri—Hwang Hwa Mi.

~.o0o.~

Matahari pagi baru menyingsing, kokok ayam jantan saling bersahut-sahutan. Di dalam kamar, Soo hanya duduk termenung. Sejak semalam ia hampir tak dapat memejamkan matanya. Tangannya terus menggenggam sebuah benda yang diberikan oleh Ae Jung. Sebuah binyeo (tusuk rambut) yang sangat indah. Melihat dari bentuk dan hiasannya, jenis binyeo tersebut biasanya dipakai oleh kaum bangsawan. Menurut Ae Jung, benda itu ada bersama Soo ketika mereka menemukan tubuh Soo yang tak sadarkan diri. Soo tak dapat memahami, mengapa seseorang yang berasal dari kaum rendah sepertinya bisa memiliki binyeo cantik milik para bangsawan.

Mungkin saja binyeo itu pemberian majikanmu dulu.”

Perkataan Ae Jung terus terngiang-ngiang di kepalanya. Soo memang tak ingat jika binyeo itu adalah benda kesayangannya. Soo lalu menyimpan binyeo itu di balik hanbok yang dipakainya. Sama seperti kebiasaannya dulu, ia tak pernah sedikitpun melepaskan binyeo tersebut dan selalu membawa benda itu kemanapun ia pergi.

Soo keluar dari kamar tidur, ia menyarungkan sepatu pada kakinya. Udara pagi yang segar memenuhi rongga dadanya. Tadinya Soo hendak menuju bueok (dapur). Ae Jung pasti sedang berada di bueok, namun keindahan bunga mae hwa selalu menarik perhatian Soo. Langkah kakinya justru menuju pohon mae hwa yang bermekaran. Kicau-kicau burung kecil yang terbang lincah diantara kelopak-kelopak mae hwa kian menambah semarak suasana pagi hari di kediaman bangsawan Lee. Soo menengadahkan tangan seperti biasa. Menampung guguran kelopak mae hwa berwarna cerah di telapak tangannya. Senyuman tipis terlukis di sudut bibirnya. Soo tak menyadari ketika seorang pelayan tergesa-gesa membukakan gerbang. Lee Dong Hae memasuki halaman rumahnya setelah gerbang itu terbuka. Entah dari mana dia pagi-pagi buta sambil menunggangi kuda hitam kesayangannya.

Soo menoleh pelan dan ia terkejut melihat Dong Hae yang masih menunggangi kuda hitam itu. Gadis itu segera menundukkan kepalanya, ia merasa sangat gugup. Dong Hae segera turun dari kuda dan melangkah mendekati Soo yang tak berani mengangkat kepalanya. Dong Hae menyerahkan serumpun bunga liar dalam genggamannya.

“Tuan Muda,” kepala Soo terangkat, matanya membulat melihat bunga yang terarah padanya.

“Aku menemukan mereka ketika melintasi bukit dan langsung teringat padamu,” Dong Hae tersenyum. “Meskipun tak secantik mae hwa, semoga kau menyukainya.”

Soo hanya tertegun. Ia tak dapat mengalihkan tatapannya dari wajah tuan mudanya yang sedang tersenyum tulus penuh kehangatan. Kedua orang itu tak menyadari jika apa yang mereka lakukan tertangkap mata oleh Lee Byun Ik.

~.o0o.~

 

Lee Dong Hae berdiri tepat di depan sebuah pintu. Ia lalu membuka pintu tersebut. Ayahnya, Lee Byun Ik sedang duduk sambil membaca sebuah buku. Dong Hae mengambil tempat tepat di hadapan ayahnya.

“Kau di sini?” Byun Ik menutup buku yang sedang dibacanya. Ia lalu menatap wajah putranya yang tampak tenang, seperti biasanya.

“Ayah memanggilku, sepertinya ada sesuatu yang sangat penting?”

“Kau adalah penerusku. Kau hanya perlu berjalan di jalan yang seharusnya. Singkirkan hal-hal lain di kepalamu,” ujar Byun Ik. Dong Hae mencoba untuk menganalisa maksud kalimat itu. “Gadis itu adalah salah satu hal yang perlu kau singkirkan dari kepalamu.”

Dong Hae tertegun.

“Kau baru kehilangan calon tunanganmu, bukan berarti kau bebas untuk menentukan pengganti gadis itu. Hiduplah sebagaimana seorang bangsawan hidup.”

“Hanya karena dia adalah seseorang berasal dari kelas budak?” Dong Hae bergumam. “Mengapa kita harus hidup dibawah peraturan yang tak masuk akal? Manusialah yang membuat peraturan itu, bukan langit. Bagiku, tak ada bangsawan atau budak. Kita semua adalah manusia yang sama. Kelas seseorang terlahir dari cara mereka berpikir dan bertindak. Bagaimana dengan kaum terdidik yang memperlakukan orang lain dengan semena-mena? Lalu bagaimana dengan kaum budak yang memiliki rasa belas kasih? Semua berasal dari hati. Hatilah yang menentukan tinggi rendahnya status manusia.”

“Baiklah, jika kau beranggapan seperti itu. Menurutmu, berapa banyak orang di Joseon yang memiliki pemikiran yang sama denganmu?” tanya Lee Byun Ik. “Sekalipun aku mengijinkanmu bersamanya, dia hanya boleh menjadi selir. Pikirkan nasib anak-anak yang terlahir dari seorang selir? Tidakkah kau terlalu egois?”

Kembali Dong Hae terdiam. Anak yang terlahir dari selir dianggap sebagai anak tidak sah. Sekalipun mereka terlahir dengan bakat dan otak yang cemerlang, namun menduduki jabatan yang penting dalam pemerintahan adalah sesuatu yang sulit. Juga, mereka hanya akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat, terutama oleh para bangsawan.

“Ayah,” Dong Hae menatap resah pada pria itu.

“Aku akan melakukan semua hal agar kau hidup dengan nyaman dan tidak diinjak-injak oleh orang lain. Dan demi itu, aku akan rela menyingkirkan semua yang menjadi penghalang!”

Dong Hae terkejut, “Apa yang Ayah lakukan terhadap gadis itu?” degub jantungnya kian meningkat.

“Aku akan mencarikan seorang calon istri yang sepadan denganmu,” ujar pria itu dengan tenang.

Dong Hae tak berkutik, ia tahu betul watak ayahnya. Tanpa pamit terlebih dahulu ketika dengan terburu-buru Dong Hae keluar dari ruangan tersebut. Hari sudah malam ketika pemuda itu bergegas menuju haengnangchae (bangunan tempat tinggal pelayan).

“Soo!” panggil Dong Hae. “Soo, kau di dalam?” tanyanya cemas. “Soo!” ia kembali memanggil nama gadis itu, namun tak terdengar sahutan. Tanpa pikir panjang Dong Hae segera membuka pintu kamar Soo dan ia tak mendapati gadis itu di dalam kamarnya. “Soo!”

“Tuan Muda?” Ae Jung yang telah berdiri di sisinya tampak terheran-heran. “Apa yang membuat Tuan Muda bersusah payah ke tempat ini?”

“Ae Jung, di mana gadis itu?”

Ae Jung lalu memandangi kasur dan selimut yang tergelar begitu saja, sedikit berantakan menandakan seseorang baru saja tidur di situ. “Aku melihatnya tidur beberapa waktu lalu, mungkin dia sedang ke suatu tempat,” jawab Ae Jung. Dong Hae merasakan seluruh persendiannya lemas. Ia tersandar pelan di dinding. “Tuan Muda, Anda baik-baik saja?”

“Tidak Ae Jung,” Dong Hae berujar pelan. Ia lalu meninggalkan tempat itu dengan langkah gontai. Hatinya seakan teriris dan itu terasa sangat perih. Ia tahu jika ayahnya telah melakukan sesuatu terhadap Soo.

Sementara itu, tiga orang pria berjalan tergesa-gesa menyusuri hutan. Seorang diantaranya sedang membopong sesuatu di pundaknya, terselubung oleh kain hitam. Dia sedikit kesusahan karena benda itu terus bergerak dan merontah kasar berusaha untuk melepaskan diri. Mereka masuk cukup jauh ke dalam hutan. Langkah kaki ketiga orang itu terhenti, mereka saling pandang seakan memberi kode untuk segera menuntaskan tugas mereka. Pria itu membuang kasar benda yang sedari tadi dibawanya. Ia menyingkap kain itu. Seorang gadis dengan mulut tersumpal kain, kedua tangan dan kedua kakinya terikat. Soo.

Soo merangkak pelan, ia berusaha menjauhi orang-orang itu. Ia terlihat berantakan. Matanya penuh dengan ketakutan. Salah seorang dari ketiga pria itu mengeluarkan sebilah pedang panjang. Pedang itu tampak mengkilat dan sangat tajam. Dengan kedua tangannya, pria itu mengangkat pedang tinggi-tinggi untuk mengakhiri hidup Soo.

Soo menggeleng kasar, ia tak bisa berteriak. Hanya air mata yang terus mengalir dan dada Soo terasa sesak. Soo menarik nafas satu per satu seakan tak ada lagi oksigen yang tersisa untuknya. Bola mata Soo semakin melebar, ia merasa pernah mengalami kejadian serupa. Kilasan masa lalu yang buram melintas dengan sangat cepat di kepalanya. Soo terbelalak, ia tak bisa menafsirkan bayangan mengerikan tersebut. Dia tak tahu kenangan siapa yang baru saja dilihatnya.

Tok!

Seseorang melempar sebuah batu kecil dengan sangat keras dan mendarat tepat di dahi pria yang siap mengeksekusi Soo. Darah segar mengucur dari luka di dahi pria tersebut. Tiga pria itu tampak siaga mengamati kegelapan yang mengelilingi mereka, hanya cahaya yang bersumber dari obor yang membantu jarak pandang mereka.

Tok!

Lemparan kedua mengenai pria lain. Dia meringis kesakitan memegangi matanya yang cedera. Merasa niat mereka sedang dihalang-halangi, pria ketiga segera menarik pedang dan mengarahkan pedangnya kepada Soo yang kembali memejamkan matanya kuat-kuat. Tindakan pria itu dicegah dengan sebuah kayu yang melayang menghantam tangannya hingga membuat pedang yang dipegangnya terlepas. Ketiga pria itu saling merapat, mereka terus memandang ke segala penjuru dengan was-was. Mereka mencari sosok tanpa wujud yang kini justru terus menerus melemparkan bebatuan kecil ke arah mereka. Merasa ketakutan, akhirnya pria-pria itu memutuskan untuk berlari meninggalkan tempat itu.

Keadaan kembali senyap sepeninggal pria-pria suruhan tadi. Kini giliran Soo yang diliputi ketakutan, ia terus menoleh ke kiri dan kanan bahkan ke belakang. Keadaan hutan yang pekat cukup terbantu dengan obor yang ditinggalkan oleh pria-pria tadi. Soo dapat merasakan jika tubuhnya mulai gemetar. Kedinginan dan ketakutan telah membaur dalam gelap malam. Seluruh tubuh Soo serasa menebal. Soo menjerit tertahan ketika matanya menangkap seseorang yang keluar dari balik pepohonan, ia seperti sekelebat bayangan yang berjalan mendekati Soo. Gadis itu kembali merangkak dengan susah payah. Jika saja mulut Soo tak tersumbat oleh kain, teriakannya pasti membahana keras ketika sosok itu menangkap pergelangan tangannya. Soo merontah kasar, namun tenaga orang itu jauh lebih besar darinya.

“Sstt..diamlah!”

Suara itu seakan mengunci tubuh Soo. Seperti sebuah perintah yang harus dituruti dan Soo terdiam. Kini Soo dapat melihat dengan jelas sosok yang sedang berjongkok di hadapannya. Seorang pria dengan pakaian biru pekat, namun dalam kegelapan malam pakaiannya lebih terlihat berwarna hitam. Rambut halusnya dikuncir asal-asalan. Dalam remang cahaya obor, Soo dapat melihat lekuk-lekuk wajah orang itu. Rahangnya begitu tegas. Pria itu melepaskan ikatan di kaki dan tangan Soo. Terakhir ia membuka ikatan kain yang menyumbat mulut Soo.

“Nona, Anda baik-baik saja?” tanyanya. Siapa pun dia, Soo merasa dia bukan orang jahat. Meskipun pancaran matanya sangat tajam, namun orang itu menyembunyikan kekhawatiran terhadap Soo—jadi, Soo yakin dia bukan orang yang jahat. “Nona?” ia terus menatap Soo lekat-lekat.

Soo tak dapat melakukan apa pun, suaranya seperti tertahan di tenggorokannya. Soo hanya menangis. Ketakutan masih membayang-bayangi Soo. Pria itu tak menyingkirkan pandangannya dan dengan kedua tangannya yang kuat, ia mengangkat tubuh Soo.

“Jangan takut,” katanya pelan ketika melihat Soo yang tersentak.

Lagi-lagi Soo mampu mempercayai ucapan pria itu. Meskipun Soo merasa canggung, namun ia tak keberatan ketika membiarkan tubuhnya dalam gendongan pria yang tak dikenal. Pria itu berjalan menyusuri hutan. Ia sepertinya mengenal hutan dengan sangat akrab dan karena kelelahan, Soo justru jatuh tertidur dalam pelukan pria asing tersebut.

~to be continue~

Please, don’t be a silent reader, aku butuh tanggapan utk perbaikan/koreksi ke depan…gak ada pesan lain utk kalian, dari postingan satu ke postingan lain sepertinya pesanku sama hehehe, aku selalu berharap selain menjadi pembaca setia, kalian juga bisa meninggalkan jejak di sini.

Iklan

303 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 5)

  1. lim zhu qi berkata:

    yg mnjd pertanyaaan, ngapain itu si kyu nolongin trus,???

    dewa perang apa tgasnya ykg nyelametin org2

  2. itisyahri berkata:

    Hahaha ya ampun itu pasti kyuhyun yg nolongin soo.. Kira” mereka bakalan punya hubungan asmara nggak ya?? Penasaran thor sama kelanjutannya

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s