Under The Joseon Sky (Part 6)

UTJS (Part 6)Cast :

Ammy/Hwang Hwa Mi/Soo (OC) || Lee Donghae || Cho Kyuhyun as Yeom || Lee Hyukjae as Nahwan || Choi Siwon as Myungjin || Kim Jong Woon as Jongshin || Park Jung Soo as Kaisar Langit || Other

Marchia’s note : Hi, how are you? Kembali kutegaskan kalo ff ini part sengaja tidak dibuat panjang. Sangat tidak diharapkan adanya praktek plagiat, jika kalian menemukan sesuatu yang mencuriga tolong laporkan ke sy. Say no to plagiat!

***

~ Pengawal Pribadi ~

 

Soo membuka kelopak matanya. Perlahan Soo berusaha untuk duduk, ia memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Soo lalu memandangi keadaan di sekitarnya. Ia berada di dalam sebuah kamar yang tertata rapi. Kerutan halus tampak di dahi Soo ketika mencoba berpikir, ia baru pertama kali melihat tempat itu. Hal terakhir yang terbesit dalam kepala Soo adalah beberapa orang yang menculiknya ketika ia sedang tidur dan mereka hampir saja membunuhnya jika seorang pria tidak menolongnya. Tidak hanya itu, Soo menyadari hal yang lain. Soo memandangi hanbok yang dipakainya telah berubah dengan hanbok yang bersih dan lebih indah. Belum sempat rasa penasaran Soo terjawab ketika pintu kamar itu bergerak. Soo tertegun memandangi seorang gadis muda sedang berdiri di sana. Gadis itu mengenakan hanbok indah berwarna cerah. Riasannya juga tak terlihat seperti wanita-wanita Joseon pada umumnya. Dari gache (wig tinggi yang biasanya dikenakan oleh gisaeng) yang dipakainya, Soo yakin jika wanita itu adalah seorang gisaeng. Gisaeng adalah wanita yang berprofesi sebagai penghibur yang bekerja untuk menghibur raja dan para bangsawan.

“Nona, syukurlah kau sudah sadar,” ia terlihat girang dan berlalu meninggalkan Soo yang tampak kebingungan. Tak berapa lama kemudian, gadis itu datang namun ia tak sendiri. Seorang wanita lain datang bersamanya. Meskipun usianya tak terlihat seperti gadis belia, namun wanita itu masih tampak cantik. Setelah menutup pintu, mereka duduk di hadapan Soo yang masih terdiam memandangi mereka dengan penuh tanya.

“Siapa kalian?”

“Aku Nok Hee,” jawab wanita paruh baya itu.

“Di mana aku? Mengapa aku di sini?”

“Nona, kau berada di yeongwagwan. Seseorang yang bekerja pada kami meminta kami untuk merawatmu,” jelas wanita bernama Nok Hee. Ia lebih dikenal sebagai Nyonya Nok Hee. Yeongwagwan adalah sebutan untuk rumah gisaeng.

“Siapa?” Soo semakin kebingungan.

“Kau bisa menanyakan langsung padanya, dia salah satu pengawal di sini,” jawab Nyonya Nok Hee.“Nona, di mana keluargamu tinggal?”

Soo terdiam lalu menjawab, “Aku tak punya keluarga.”

“Baiklah. Kau boleh tinggal di sini. Setidaknya di sini jauh lebih aman dibandingkan kau berkeliaran di jalanan Hanyang,” ujar wanita itu. “Aku tak memaksamu, jika kau ingin pergi—aku tak akan menahanmu.”

“Aku,” Soo terdiam, “Aku akan memikirkannya.”

“Kau beristirahatlah,” kata Nyonya Nok Hee. Ia dan gadis muda yang bersamanya lalu meninggalkan Soo seorang diri di dalam kamar.

“Nyonya, kau benar-benar akan mengijinkan gadis itu pergi?”

“Ji Yeon, apa aku pernah memaksa kalian untuk tinggal di tempat seperti ini?” Nyonya Nok Hee balik bertanya.

“Keadaan yang memaksa kami untuk tetap di sini,” jawab Ji Yeon.“Gadis itu sangat cantik, dia bisa menjadi sangat terkenal di seluruh Joseon jika ia tetap di sini dan tentunya hal itu akan menjadi keuntungan besar bagi yeongwagwan ini.”

Nyonya Nok Hee terdiam. “Biarkan dia yang memutuskan. Juga, jika ia berada di luar, suatu saat aku yakin ia akan kembali masuk ke salah satu yeongwagwan.”

Perkataan Nyonya Nok Hee sangat beralasan mengingat raja mereka, Yeonsan-gun telah menutup Sungkyunkwan, sekolah tinggi Joseon yang merupakan universitas kerajaan. Yeonsan-gun merubah Sungkyunkwan menjadi tempat hiburannya, gadis-gadis muda dikumpulkan dari seluruh Semenanjung Korea untuk dijadikan gisaeng.

Soo memilih untuk keluar dari kamar itu. Sesekali ia bertemu para gisaeng yang ikut memandanginya. Mereka pasti keheranan dan merasa penasaran tentang Soo. Kawasan yeongwagwan tempat Soo berada cukup luas. Soo berjalan-jalan di pekarangan yang dihiasi oleh bunga-bunga indah. Ada sebuah taman yang mempercantik tempat tersebut. Pepohonan disekitarnya memberi nuansa yang lebih sejuk.

Beberapa orang pria terlihat berjaga-jaga, Soo yakin jika mereka adalah pengawal pribadi di tempat tersebut. Mata Soo menangkap seorang pria bertubuh tinggi. Pria berpakaian biru pekat itu sedang berdiri di bawah sebuah pohon. Soo berjalan mendekati orang itu. Soo yakin jika dialah yang menolongnya tadi malam. Para gisaeng yang melintas turut menatapi pria itu dengan tatapan terpesona, mereka tertawa genit sambil berbisik-bisik.

Soo berhenti beberapa meter di belakang pria itu, “Maaf,” Soo tak jadi melanjutkan perkataannya. Ia terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mencoba memberanikan diri melanjutkan apa yang tertunda, “Tuan, aku berterima kasih atas bantuan Anda.”

“Tak perlu bersikap hormat terhadapku,” kata Pria itu. Ia membalikkan tubuhnya, “Jangan memanggilku seperti itu,” katanya tenang. Tatapan kedua orang itu bertemu. Soo tertegun. Di siang hari, Soo dapat melihat dengan sangat jelas wajahnya. Soo akhirnya mengerti mengapa gisaeng-gisaeng bersikap seperti itu. Dia memang sangat tampan.

“Mengapa?”

“Karena aku adalah pengawal Nona,” jawaban pria itu semakin membuat Soo tertegun.“Aku, adalah orang yang akan melindungi Nona.”

“Bagaimana…bagaimana…,” Soo masih tak bisa memahami perkataan pria tampan itu.“Siapa kau sebenarnya?”

“Orang yang bertugas melindungi Nona,” jawabnya.“Yeom!” katanya lagi.

“Yeom?” Soo pertama kalinya mendengar nama itu. “Mengapa kau harus melindungiku?”

“Aku hanya mengikuti perintah Tuan.”

“Tuan?”

“Ayah Nona.”

Soo terperanjat, “Kau bilang Ayah?” tanya Soo. Yeom bungkam dengan sorot mata yang aneh. “Kalau begitu, kau mengenal keluargaku?  Kau tahu mereka? Di mana mereka saat ini?”

“Maafkan aku Nona,” ucapan itu terdengar sangat dalam.

Perasaan aneh menyebar dalam dada Soo. Entah mengapa ia mengerti maksud yang tersembunyi dibalik permintaan maaf Yeom. “Mereka…sudah meninggal?” tanya Soo pelan. Yeom terdiam. Air mata Soo menetes, “Apakah aku bisa mengunjungi makam mereka?” tanya Soo pelan.

“Suatu saat nanti,” jawab Yeom. “Keadaan di luar masih sangat berbahaya.”

“Benarkah? Kau tak akan berbohong padaku?” pertanyaan Soo cukup menggetarkan hati Yeom. Ia bahkan telah membohongi gadis itu. “Benarkah itu?” Soo menyeka pelan air matanya. “Yeom, dapatkah kau berjanji padaku bahwa kau akan menemaniku menemui kedua orang tuaku?” tanya Soo. Yeom terdiam memandangi senyum tulus yang diperlihatkan Soo.

“Kemanapun Nona ingin pergi, aku akan pergi bersamamu.”

Soo tersenyum puas. Ia lalu membalikkan tubuhnya, melangkah pelan meninggalkan Yeom yang masih mematung memandangi punggung Soo yang kian menjauh.

“Mengapa kau membohonginya?” tanya Nahwan yang telah berdiri di sisi Yeom. Tak hanya Nahwan, Jongshin dan juga Myungjin sudah terlihat di situ.

“Sepertinya kau tak bosan-bosan mengacaukan kehidupan gadis itu,” tutur tajam Jongshin tak dihiraukan oleh Yeom.

“Yeom, kau harus ingat jika kau sedang menjalani masa hukumanmu,” Myungjin mencoba menasehati Yeom. “Kau memang akan menyaksikan kehidupan gadis itu hingga akhir, tapi bukan berarti kau harus terus berada di sisinya. Terlebih menjadi penjaganya.”

“Aku yang memutuskan!” kata Yeom tenang. Ia lalu meninggalkan ketiga dewa yang hanya memandang prihatin padanya.

“Melihat Yeom di dekat gadis itu justru membuatku tak tenang,” Nahwan mendesah.

~.o0o.~

 

Hanyang, tahun 1502.

Para pedagang yang aktif menawarkan dagangannya, juga para pembeli yang begitu gencar melakukan penawaran agar mendapatkan potongan harga yang sesuai dengan keinginan. Tak ketinggalan rombongan penghibur keliling yang dengan lihai memamerkan kemampuan mereka dan juga anak-anak yang berlarian dalam padatnya kerumunan manusia di jalan. Hal-hal tersebut adalah pemandangan sama yang selalu ditemui di pasar.

Keadaan sedikit teralihkan ketika serombongan wanita melewati jalanan itu. Penampilan mereka sangat mencolok. Dengan hanbok indah berwarna-warni yang mereka kenakan, namun wajah mereka tersamarkan oleh jeonmo yang mereka kenakan. Jeonmo adalah topi besar dengan kain halus berwarna terang dan beberapa pola bunga. Topi yang diselubungi kain hingga membuat wajah si pemakai tersamarkan. Rombongan wanita yang berjumlah kurang lebih tujuh orang itu adalah gisaeng yang berasal dari salah satu dari sekian banyaknya yeongwagwan (rumah gisaeng) di Hanyang. Tak jarang para pria memandangi wanita-wanita elok itu dengan mata yang jelalatan bahkan ada yang tak segan-segan menggoda mereka. Para gisaeng terus berjalan seakan tak perduli dengan godaan-godaan yang datang.

“Ada apa itu?” tanya seorang gisaeng ketika mereka melewati suatu tempat yang dipadati oleh masyarakat. Mereka terlihat antusias membaca pengumuman yang baru saja ditempelkan oleh beberapa orang dari istana.

“Larangan penggunaan hangeul,” jawab gisaeng lainnya. Hangeul merupakan huruf yang digunakan oleh masyarakat Korea.

“Apa?”

“Apa kau tak pernah mendengarnya? Yang Mulia Raja telah mengeluarkan larangan penggunaan hangeul di Joseon,” terangnya.

Yeonsan-gun meratakan area residensial besar dan mengusir banyak penduduk untuk membangun tempat berburu. Ia juga memaksa rakyat untuk bekerja paksa membangun tempat hiburan lainnya. Banyak rakyat merasakan kebencian kepadanya dan menghina raja dengan poster-poster yang ditulis dalam hangeul. Hal tersebut menimbulkan kemarahan raja dan ia melarang penggunaan hangeul.

“Kapan penderitaan rakyat akan berakhir?”

“Berhati-hati dengan mulutmu jika kau masih ingin menghirup udara Joseon!” tegur gisaeng lainnya.“Mulut adalah pintu yang mendatangkan bencana, lidah adalah pedang yang memotong kepala. Tubuh akan berada didalam suasana damai selama mulut tertutup dan lidah berada jauh di dalamnya.

Eonni, apa yang kau katakan?” gadis muda itu tampak tak mengerti apa yang dikatakan oleh gisaeng seniornya.

“Kalimat itu adalah tanda yang dikenakan oleh para menteri atas titah raja.”

Saat menteri-menteri memprotes aksi Yeonsan-gun ketika ia menghancurkan Kantor Sensor yang fungsinya untuk memberikan kritik atas tindakan dan kebijakan raja yang dinilai tidak pantas. Juga menghancurkan hongmoongwan (perpustakaan) dan pusat penelitian yang menganjurkan raja dengan ajaran-ajaran konfusianisme, maka raja memerintahkan para menterinya untuk mengenakan tanda yang bertuliskan kalimat tersebut.

Para gisaeng mempercepat langkah hingga mereka keluar dari wilayah pasar yang penuh sesak. Mereka akhirnya dapat melangkah lebih santai, melewati rumah-rumah penduduk juga barisan pepohonan di pinggir jalan. Udara Hanyang yang sejuk membuat mereka merasa nyaman melakukan perjalanan di siang hari. Ketika melewati sebuah ruas jalan di mana tumbuh sebuah pohon mae hwa di tepi jalan tersebut, langkah kaki seorang diantara para gisaeng itu melambat. Ia akhirnya benar-benar berhenti tepat di bawah rimbunnya kelopak-kelopak mae hwa berwarna cerah yang sedang bermekaran indah. Guguran kelopak mae hwa mengotori tanah di sekitar tempatnya tumbuh. Gadis itu seakan tak perduli jika rombongannya telah beberapa langkah di depan sana. Dari balik jeonmo (topi besar dengan kain halus berwarna terang) yang dipakainya, ia mengangkat wajahnya, menengadahkan tangan kanan sehingga kelopak-kelopak cerah mae hwa yang berguguran tertampung di telapak tangannya.

Dari arah yang berlawanan dengan tujuan para gisaeng tersebut, sekelompok pasukan berkuda sedang melintasi jalan. Dari pakaian yang dipakai, mereka adalah para militer kerajaan khususnya dari Biro Kepolisian. Mereka melewati rombongan gisaeng, seorang dari pejabat kepolisian memperlambat kuda yang ditungganginya ketika matanya tertuju pada gisaeng yang masih terpaku memandangi guguran mae hwa dengan tangan yang terulur itu. Kuda pria itu melangkah pelan. Dia tak melepaskan pandangannya dari sang gisaeng yang tak menyadari jika dirinya tengah diperhatikan. Terhalang oleh jeonmo yang dipakainya sehingga pria berkuda itu tak dapat melihat wajah sang gisaeng.

Eonni,” panggilan seseorang menyadarkan gadis itu, ia menoleh pada rombongannya yang tengah menantinya. “Apa yang kau lakukan? Cepatlah!”

“Iya,” jawabnya pelan dan bergegas menyusuli mereka.

Sementara pria berkuda itu masih menatapi gadis yang telah berlalu dan bergabung dengan rombongannya.

“Tuan,” seorang polisi berbalik dan menghampiri pria yang masih terdiam, “Adakah sesuatu yang aneh?”

“Tidak apa-apa,” ia tersenyum.

Pria tampan itu adalah Lee Dong Hae yang telah menjadi pejabat perwira di Biro Kepolisian. Melihat apa yang dilakukan oleh gisaeng tadi mengingatkannya pada sosok gadis yang dikenalnya empat tahun lalu. Gadis yang telah menarik hatinya—Soo. Dua polisi itu lalu kembali memacu kuda yang mereka tunggangi dan menyusuli polisi  lainnya yang telah mendahului mereka.

Para gisaeng tadi akhirnya tiba di tempat tinggal mereka, sebuah yeongwagwan  yang cukup terkenal di Hanyang.

Eonni?” seorang gadis belia memandang heran pada gadis lainnya yang terlihat dengan gelagat mencurigakan.

“Sstt…,” gadis itu meletakan telunjuk di bibirnya.

“Mau kemana?” tanyanya heran.

“Aku akan mengunjungi seseorang.”

“Bagaimana jika Nyonya tahu? Kau akan dihukumnya.”

“Jangan cemas, aku tak akan lama,” ujar gadis itu. “Myung Ri, aku mengandalkanmu!”

Eonni! Eonni!”

Panggilan setengah suara Myung Ri tidak diperdulikan. Gadis itu tetap mengendap-ngendap menjauh dari rombongan gisaeng. Ia mempercepat langkah kakinya ke arah yang berbeda. Berusaha agar tak ada yang melihatnya pergi. Ia bernafas lega setelah merasa berada di tempat yang cukup aman. Senyumnya mengembang melihat seorang pria yang berdiri tak jauh.

“Kau benar-benar akan membawaku?” tanyanya setelah menghampiri pria yang tampak tenang menanti kedatangannya.

“Ya, Nona,” jawab pria itu.

“Baiklah, kita pergi sekarang juga Yeom!”

Yeom mengangguk sekali. Dengan dahi berkerut penuh tanya ketika gadis yang tak lain adalah Soo, ikut memandang ke arah Yeom yang mengarahkan matanya pada seekor kuda dengan tali yang tertambat pada sebuah batang pohon.

“Akan memakan banyak waktu jika kita berjalan kaki,” Yeom memandangi Soo yang masih tak berkutik.

“Ah, benarkah?” seperti tersadar dari lamunannya ketika Soo bereaksi, “Baiklah!” Soo mengangguk paham. Setelah melepaskan ikatan kuda. Yeom menuntun kuda itu mendekati Soo. Yeom mengulurkan tangannya pada Soo membuat gadis itu kembali menatapnya bingung.

“Sepertinya Nona bisa melakukannya seorang diri,” Yeom menyembunyikan tangannya.

Soo akhirnya paham apa maksud Yeom, “Aku tak bisa!” jawab Soo cepat.

Yeom kembali mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Soo. Pria itu dengan sangat mudah mengangkat tubuh Soo dan mendudukannya di punggung kuda berwarna coklat tua itu. Yeom segera menaiki kuda tersebut setelah membantu Soo terlebih dahulu.

“Sangat sulit untuk menemukan pinjaman kuda,” terang Yeom ketika menyadari keterkejutan Soo.

“Aku mengerti,” Soo berujar pelan. Dia cukup gugup.

Tanpa banyak bicara, Yeom segera memacu kuda meninggalkan tempat itu. Kuda itu berlari dengan kencang menyusuri ruas-ruas jalan Hanyang bahkan ketika mereka berada di luar kota menyusuri jalan-jalan setapak yang dipagari oleh hutan.

Soo tampak sedikit tegang. Ia menoleh pelan dan mendapati ekspresi tenang Yeom tepat di belakangnya. Cepat-cepat Soo membuang wajahnya. Soo merasa sangat canggung berada begitu dekat dengan pria tampan itu. Kedua tangan Yeom terlihat sangat kuat memegangi tali kendali kuda. Soo tiba-tiba saja teringat pada kejadian beberapa tahun lalu. Ia pernah mengalami kejadian serupa bersama tuan muda dari keluarga Lee. Menunggangi kuda bersama Yeom membangkitkan kenangannya akan Lee Dong Hae. Ada kesedihan yang tersirat dari sinar mata Soo. Meskipun Yeom tak pernah mengatakan apa pun, namun Soo tahu jika percobaan pembunuhan yang dilakukan terhadapnya pada malam itu atas perintah ayah Lee Dong Hae. Mengingat kejadian itu serasa membuka kembali luka yang telah kering. Terasa perih dan menyakitkan.

Mereka akhirnya tiba di sebuah tempat. Jarak yang ditempuh memang cukup jauh dari pusat kota Hanyang. Tempat itu sangat sepi, jauh dari sentuhan keramaian kota. Yeom membantu Soo turun dari punggung kuda. Ada dua buah gundukan tanah yang sangat tinggi yang telah ditumbuhi oleh rerumputan. Soo tertegun. Ia menyingkap kain jeonmo yang menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Empat tahun berlalu dan dia bukan lagi seorang remaja melainkan seorang wanita yang cantik. Umurnya telah menginjak delapan belas tahun. Kecantikan dan keanggunan Soo kian terpancar jelas. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca ketika ia menoleh pada Yeom. Pria itu mengangguk pelan. Air mata Soo menetes begitu saja. Ia melangkah pelan mendekati gundukan tanah itu.

“Ini…,” Soo bergumam pelan ketika melihat gundukan tanah tersebut. “Tempat di mana kedua orang tuaku di kubur?” Soo mematung, air mata gadis itu kembali menetes.

Pertama kalinya Soo mengunjungi makam kedua orang tuanya sejak Yeom berjanji akan membawanya menemui mereka empat tahun lalu.

“Yeom, kalau begitu—kau tahu siapa aku?” tanya Soo getir. “Apa yang terjadi pada kedua orang tuaku?” tanya Soo lagi. “Apa yang sebenarnya terjadi pada kami? Bahkan, mengapa tak ada nisan di makam mereka?”

Yeom diam, ia tampak tak berniat menjawab pertanyaan gadis itu.

“Yeom?”

“Kepada siapa pun, meskipun orang itu adalah kepercayaan Nona, jangan sekalipun mengungkit tempat ini. Nona tak perlu tahu siapa Nona dan siapa keluarga Nona, saat ini Nona hanya perlu hidup sebagai Soo,” Yeom berkata dengan sangat lantang. “Semakin sedikit yang Nona tahu, maka itu akan lebih baik.”

“Kau tak akan mengatakan apa pun padaku?” selidik Soo. Yeom menatap Soo dengan tenang, ia tetap dengan pendiriannya. Soo lalu mengeringkan air matanya. “Baiklah Yeom. Aku hanya berharap, suatu saat ingatanku akan pulih!” katanya pelan, ia menatap awan cerah di atas kepalanya.

Empat tahun lalu sejak Soo terselamatkan dari percobaan pembunuhan, ia memutuskan untuk hidup sebagai seorang gisaeng. Meskipun identitas baru membuatnya harus hidup sebagai masyarakat dari kelas terendah, namun aura kebangsawanan masih terlihat sangat kental pada Soo. Tak hanya cerdas, Soo tumbuh menjadi wanita yang cantik dan anggun dengan perilaku santun layaknya seorang bangsawan.

~.o0o.~

 

Suatu hari Soo mengikuti Ji Yeon dan Myung Ri yang hendak membeli perhiasan di pasar. Ketiga gisaeng itu cukup menarik perhatian masyarakat. Langkah ketiga gadis itu dihalang-halangi oleh sekumpulan pemuda bangsawan.

“Tuan Muda, maaf kami sedang terburu-buru,” kata Ji Yeon yang paling senior diantara Myung Ri dan Soo. Ia berbicara dengan sangat santun.

Sejumlah empat orang pemuda bangsawan itu memandangi satu per satu gisaeng tersebut. Wajah ketiga gisaeng itu memang tak terlihat karena tertutupi oleh jeonmo.

“Diantara kalian, adakah seorang yang bernama Soo?”

Soo merapatkan tubuhnya di belakang Ji Yeon setelah mendengar namanya disebut.

“Kudengar, dia sangat cantik. Benarkah?”

“Maafkan kami Tuan Muda. Gadis itu tidak di sini,” jawab Ji Yeon.

“Ah, begitu,” mereka mengangguk-angguk. Tak menunggu lama ketika Ji Yeon mengajak dua juniornya untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Kecantikan Soo mulai dikenal oleh para bangsawan yang berkunjung ke yeongwagwan tempatnya berada.

Eonni, kau mulai terkenal,” Myung Ri menatap Soo dari balik jeonmo yang dikenakannya dengan penuh antusias.

“Terkenal. Bisa sangat beruntung dan juga sangat buruk,” Soo bergumam penuh arti, ia hanya membiarkan Myung Ri mengernyit mencoba memahami maksud dibalik perkataannya.

Menjadi seorang gisaeng yang terkenal selalu diidam-idamkan oleh mereka yang ambisius, namun bagi Soo itu seperti petaka. Soo masih mengingat bagaimana dirinya harus bersembunyi. Bagaimana jika raja mendengar tentangnya? Soo mungkin tak akan bisa menolak permintaan orang nomor satu di negaranya, namun masalah terbesarnya adalah Soo sangat membenci raja kejam itu.

Langkah ketiga gadis itu terhenti ketika melewati tempat yang menjual berbagai perhiasan wanita. Mereka mulai memilih dan membanding-bandingkan perhiasan tersebut. Myung Ri terlihat antusias mengambil sebuah binyeo.

“Bagaimana dengan yang ini?” tanya Myung Ri.

“Cocok denganmu,” jawab Ji Yeon. Ia menoleh pada Soo yang tampaknya kebingungan menentukan pilihan, “Ingin bantuanku?”

“Uhm, sepertinya aku tak begitu membutuhkan perhiasan,” jawab Soo lembut. “Eonni, kau terlihat cantik dengan anting itu,” Soo memuji Ji Yeon membuat gadis itu tersenyum mekar.

Soo mulai jenuh berada di tempat itu, berbeda dengan Ji Yeon dan Myung Ri yang sangat riang memilih perhiasan yang akan mereka beli. Soo menyisir keramaian pasar dengan matanya, ia mencoba mengusir rasa bosan. Tatapannya jatuh pada sekumpulan anak-anak. Mereka adalah anak-anak yang berasal dari kaum budak sedang mengerubungi seorang gadis kecil. Dia terlihat berbeda, selain rambut panjang yang dikepang rapi dengan baetsi dangi atau hiasan kepala yang hanya dikenakan oleh anak kecil maupun gadis yang belum menikah, terlihat menyerupai bando dan memiliki hiasan pada bagian tengahnya. Pakaian berbahan sutera yang dipakai gadis itu cukup menjelaskan statusnya yang berasal dari kelas bangsawan.

“Mau apa kalian?” gadis kecil itu bertanya dengan nada yang cukup sinis.

“Whoahh,” seorang anak lelaki mendengus tak percaya. “Lihatlah, betapa sombongnya gadis ini?”

Gadis bangsawan itu hanya menatap tajam, ia tetap mengangkat wajahnya seolah tak perduli dengan tatapan diskriminasi yang begitu gencar ditujukan padanya.

“Apa kau tak tahu jika kau sedang berada di daerah kekuasaan kami?”

“Siapa kalian? Raja?” tanyanya, “Daerah kekuasaan? Cihh!”

“Benar-benar sombong,” desis seorang anak lainnya. “Kau harus membayar upeti kepada kami!”

Gadis itu menatap tak percaya, “Kalian benar-benar pasukan kerajaan?” ia lalu tertawa angkuh. “Aku tak akan memberikan apa pun pada kalian!” jawabnya lantang. Ia sangat tegas dengan keputusannya.

“Gadis ini benar-benar cari masalah!”

“Berhenti!” ia berteriak ketika mereka terus mendesaknya. “Kalian tak tahu siapa aku?” matanya melotot lebar.

“Tentu saja kami tahu. Kau bangsawan dan kami budak, tapi bukan berarti kami harus tunduk padamu. Kau bukan tuan kami!”

“Kalian tak tahu siapa ayahku?” gadis kecil itu mulai ketakutan. “Ayahku tak akan melepaskan kalian!”

“Baiklah. Katakan siapa ayahmu?” Mereka tertawa mengejek, seakan tak perduli dengan ancaman sang gadis kecil tersebut. “Jadi, mengapa kau harus membuang-buang waktu kami? Cepat serahkan apa pun yang ada padamu? Kau pasti punya uang.”

“Aku tak mau!” gadis itu begitu gigih pada pendiriannya. Anak-anak tersebut mulai kesal dan secara paksa memeriksa gadis kecil yang ketakutan.

“Hentikan!”

Aktivitas mereka terhenti. Mereka menoleh kepada sumber suara yang begitu lantang tadi. Soo telah berdiri memandangi mereka.

“Apa yang kalian lakukan?” tanya Soo. “Apa kalian berandalan? Memeras seorang gadis kecil—kalian ingin aku memanggil polisi?”

Anak-anak itu terlihat ketakutan dan tanpa banyak bicara mereka berhamburan meninggalkan Soo dan juga gadis kecil itu. Soo menghampiri anak tersebut, ia masih terlihat syok.

“Kau tak apa-apa?” tanya Soo sambil menyingkap kain pada jeonmo yang menghalangi wajahnya. Sejenak, gadis kecil itu terpesona melihat Soo. Ia hanya mengangguk. “Syukurlah. Mengapa kau sendirian di sini? Kau tersesat?”

Gadis kecil itu kembali menggeleng, “Aku bersama kakakku,” jawabnya.

“Hmm…lalu di mana kakakmu?”

“Sedang membeli buku,” jawabnya sambil menunjuk ke sebuah tempat penjualan buku yang berada tak jauh dari mereka.

“Tak baik jika kau berkeliaran sendiri.”

Eonni!”

Soo menoleh ketika Myung Ri memanggilnya. Tampaknya Myung Ri dan Ji Yeon telah selesai membeli perhiasan.

“Sebaiknya kau segera menemui kakakmu,” Soo tersenyum manis. Soo berlalu meninggalkan gadis kecil yang masih mematung memandanginya menyusuli Ji Yeon dan Myung Ri yang telah menunggunya.

“Terima kasih!” teriak gadis kecil itu. Soo menoleh dan tersenyum ketika gadis kecil itu melambaikan tangan riang. Ia hanya menatapi Soo dan kedua gisaeng lainnya yang mulai menjauh dan menghilang dibalik kerumunan manusia yang memenuhi ruas jalanan di pasar.

“Ryeon!”

Gadis kecil itu menoleh ketika namanya dipanggil. Ia tersenyum sumringah mendapati seorang pemuda tampan sedang menghampirinya, ada bungkusan yang dipegang oleh pemuda itu.

Orabeoni,” Ryeon tersenyum mekar. Orabeoni merupakan sapaan terhadap kakak laki-laki pada masa itu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” pemuda itu terlihat lega setelah menjumpai adik perempuannya. “Jika Ayah tahu kau tersesat, aku akan dihukum.”

Ryeon tersenyum. “Ayah tak akan tahu. Aku tidak tersesat, hanya sedang melihat-lihat keramaian pasar,” jawabnya.

“Bagaimana jika anak-anak nakal menggodamu?”

“Mereka memang memerasku,” Ryeon memamerkan wajah kesalnya.

“Apa? Benarkah? Di mana mereka?” pemuda itu terkejut mendengar adiknya diganggu oleh anak-anak nakal, “Apa yang mereka lakukan? Kau baik-baik saja?” ia memeriksa keadaan adiknya.

“Jangan cemas, Orabeoni. Aku ditolong oleh seseorang,” Ryeon mencoba menenangkan kakaknya.

“Siapa?” pemuda itu mengernyit. Penasaran.

“Seorang kakak cantik,” jawab Ryeon. “Ah, aku lupa menanyakan namanya. Dasar bodoh,” Ryeon mendesis karena kebodohannya yang tak menanyakan nama  penolongnya.

“Siapa pun dia, aku sangat berterima kasih padanya karena telah menolongmu,” pemuda itu mencubit gemas pipi montok sang adik.

“Semoga suatu hari aku bisa bertemu lagi dengan Eonni,” Ryeon mengucapkan harapannya dengan penuh keyakinan agar dapat bertemu dengan Soo. “Ah, Orabeoni—kau tak kerja?” ia memandangi pemuda yang tak mengenakan pakaian dinasnya.

“Kau lupa? Hari ini aku sedang mengajakmu jalan-jalan,” pemuda itu mengerling.

“Kau tak sedang menjadikanku sebagai alasan atas kemangkiranmu, bukan?”

“Eishh, bagaimana kau bisa berbicara seperti itu?” pemuda itu tersenyum mendengar celoteh riang sang adik.

“Karena aku Lee Ryeon. Bukankah aku sepertimu, Orabeoni?”

Pemuda itu itu lalu mengelus lembut kepala adiknya, “Tentu saja, karena kau adalah adik dari seorang Lee Dong Hae yang tampan.”

“Cih,” Ryeon mendengus setelah mendengar kakaknya berkata seperti itu.

“Ryeon, jangan tersesat lagi!” goda pemuda itu. Lee Dong Hae hanya tersenyum melihat Ryeon yang berlalu meninggalkannya. Ryeon selalu kesal jika Dong Hae memuji-muji dirinya sendiri.

~to be continue~

See you again~

Iklan

272 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 6)

  1. nurwiniaprilia berkata:

    ah ternyata adik donghae, soo jadi gisaeng ? Gak ada pilihan lain -_- yeom hidup sampai 500 tahun kedepan buat melindungi soo. Pas kapan sama donghae -_-

  2. falah berkata:

    knp waktunya tdk tepat, jngn2 ramalan hyuk boong lg buktinya mereka sush bgt buat ketemu,,,
    kyu klo sk bilang aj gak usah pura2 jd pengawalnya gtu…

  3. Nenilopelopebts berkata:

    hari ini udh baca 6 part, tpi kaya nya bakal terus2an baca part slnjutnya 😀 , hadeuh penasaran tingkat akut sama cerita ini, Yeom walaupun soo gk milih kamu masih ada aku ko..

  4. Esaa berkata:

    Kecantikan Soo memang anugerah, mau dia statusnya Bangsawan ataupun rakyat biasa, kecantikan Soo tak dapat dipungkiri….
    Hmmm… Donghae semoga cepat bertemu Soo

  5. noviyantilzy berkata:

    ouhh.. gk bisa bayangin kyuhyun jd orang ketiga 😦 kyuhyun sama aq aja jngn jd orang ketiga!

  6. kim yoo jung berkata:

    wah…. aku gregetan banget
    kapan mereka bertemu???
    pokoknya tembah kerennnn
    baca lanjutannya ya thor…

  7. intan berkata:

    Ahhh jd gisaeng sedih banget sih nasipnya jd gisaeng
    Kayak ya yeom suka ma soo ya apa dewa punya perasaan kek gitu

  8. Kenzie W berkata:

    g rela kalo soo jadi gisaeng 😦
    ayooo pertemukan soo dgn bang hae… bwt nreka bersma.
    lnjt bca next part eob.

  9. Herissheea berkata:

    Si soo jd gisaeng? Kesian sekali..

    Ceritanya makin seru, feel dapet banget daebak lah pokoknya.. Salut sama authornya 👍

    Takdir macam apa sih yg dimiliki soo. Kayaknya dia gak jauh jauh ama si donghae ,ada aja jalan yg mempertemukan mereka. Ya walaupun blm ketemu dlm arti tatap muka, tp dr yg sebelumnya jg mereka pasti deket aja gitu.. Si yeom jg dia suka kl ya ama soo.. 500 tahun dihukum dan dia milih menjalani hukuman dg menjadi pelindung si soo

  10. bithatabitha berkata:

    Hmmm ada 2x kesempatan donghae bisa ketemu sama Soo, bikiin gemes deh.
    Ternyata udah 4 tahun mereka pisah.
    Btw penasaran sama adenya Hwami, kayanya di part2 sebelumnya gak dijelasin klo dia meninggal ya..

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s