The Christmas Hope

The Christmas Hope

Cast :

Cho Kyuhyun || Yoon Ji Hyo (OC)

Say no to plagiat!

**

Udara dingin terasa menusuk hingga ke tulang. Hampir terlupakan begitu saja oleh otakku jika ini adalah Desember ke-20 yang kupijak dalam hidupku. Langit bulan Desember selalu menghangatkan hatiku ketika aku memandangnya. Aku masih mengingat setiap rasa yang menelisik masuk ke ruang kosong dalam hatiku. Seperti langit senja yang kupandang saat ini, rasanya masih sama, selalu segar dalam ingatanku.

Para muda-mudi berpapasan denganku di ruas jalan. Mereka terlihat sangat bersemangat. Setiap inci yang tersirat dari ekspresi di wajah mereka hanya mengungkapkan betapa bahagianya mereka, meskipun ada beberapa yang kujumpai enggan menggerakkan otot-otot di wajah mereka untuk mengukir senyum.

Aku ingin tahu. Apa yang mereka pikirkan dengan memandangi langit bulan Desember? Apakah mereka juga menantikan hal yang selalu dinantikan oleh semua orang? Yang mungkin juga sedang kunantikan.

Salju pertama di musim dingin.

‘Jika sepasang kekasih pergi bersama pada saat salju pertama turun, maka mereka akan bahagia.’

Sederet kalimat itu hanyalah mitos yang beredar di tengah masyarakat, tapi anehnya banyak yang mempercayai mitos itu dan aku pun salah satu diantara orang-orang yang juga mencoba meyakininya.

Sebenarnya apa yang kuharapkan? Jika mitos itu memang benar terjadi, hal itu tidak akan berlaku bagiku. Itu hanya akan bekerja untuk sepasang kekasih. Sementara aku hanyalah gadis muda yang setia dalam kesendirian. Ini bukan kemauanku. Aku pun ingin seperti mereka. Aku juga ingin merasakan apa yang mereka rasakan ketika menerima uluran cinta dari pasangan. Tiba-tiba aku teringat bahwa kuat kemungkinan aku tidak bisa seperti mereka karena aku berbeda dari mereka.

Angin yang berhembus memaksaku berhenti menatap langit dan memerintahku untuk segera bergegas. Di balik pepohonan dan nuansa hijau yang menyelimuti sekeliling tempatku berpijak, ada sebuah bangunan sederhana bergaya eropa.

Panti asuhan St. Maria.

“Ji Hyo,” suara lembut seorang wanita menyambutku ketika aku baru saja menutup pintu. “Mengapa kau begitu lama?” ia bertanya cemas sedangkan aku hanya mematung.

Wanita paruh baya itu adalah Suster Han, seorang biarawati yang mengemban tugas sebagai kepala panti asuhan. Wajar jika Suster Han cemas, dia hanya memintaku untuk membeli kertas berwarna di toko di ujung jalan, tapi aku menghabiskan hampir sejam untuk tiba di panti. Rasa bersalah kembali menggerogotiku, mengingat sering sekali aku membuatnya mencemaskanku.

“Sepertinya kau tak akan berhenti menyukai langit di bulan Desember,” ujarnya. Dia tahu alasan keterlambatanku. “Ganti pakaianmu dengan pakaian yang lebih hangat dan beristirahatlah,” ujarnya lembut. Aku hanya tersenyum dan segera berlalu menaiki anak tangga lalu berjalan melewati pintu-pintu kamar yang tertutup di sepanjang koridor.

Tanpa ragu ketika tanganku membuka sebuah pintu. Segera aku memasuki kamar dan mendapati Eun Soo telah terbungkus dalam balutan bed cover hangatnya, tubuhnya menggeliat pelan.

“Eonni, kau sudah pulang?”

Tampaknya kedatanganku membuat Eun Soo terbangun. Aku mengangguk pelan dan tak sampai semenit ketika Eun Soo kembali terlelap. Dia lima tahun lebih muda dariku. Aku melepas syal yang menghangatkan leherku, mengganti pakaianku dengan piyama biru kesayanganku lalu segera merebahkan tubuhku di atas empuknya kasur dan bersembunyi dalam kenyamanan bed cover.

Yoon Ji Hyo adalah namaku. Meskipun tak memiliki saudara biologis, namun di panti asuhan ini aku memiliki banyak adik. Aku adalah yang tertua diantara anak-anak yang mendiami panti asuhan St. Maria.

~o0o~

Sebuah bus yang berhenti di halte menyadarkanku dari lamunan yang sempat membawa pikiranku menjelajah jauh. Bergegas aku menaiki bus itu bersama penumpang lain yang sejak awal telah menunggu bus di halte yang sama denganku, lalu mataku tertuju padanya.

Dia yang selalu duduk di tempat yang sama setiap kali aku melihatnya. Dia selalu duduk di sebelah kiri dari deretan paling belakang tempat duduk di dalam bus. Jantungku selalu mendapatkan signal aneh setiap kali melihatnya. Dia memang selalu terlihat tampan dengan apa pun yang dia kenakan. Raut wajahnya begitu tenang. Ada sebuah earphone putih yang menyumbat telinganya. Dia selalu membuang wajahnya ke sisi kiri jendela, meneliti apa pun yang dilewati oleh bus. Sebuah buku agenda dengan cover kulit berwarna coklat tak pernah absen dalam genggamannya. Cepat-cepat aku duduk sebelum dia menyadari jika aku sedang memperhatikannya.

Langit di atas sana terlihat sangat cerah, sepertinya langit belum berniat memuntahkan salju dan sekarang sudah memasuki hari kelima di bulan ini. Laju bus melambat dan berhenti membuatku bisa lebih seksama meneliti wajah langit, namun ketika bus berjalan aku dibuat tersentak.

Universitas Yonsei mulai tertinggal di belakang dan aku justru masih berdiam diri di dalam bus yang telah melaju pelan. Astaga, dasar pelamun! Secepat kilat aku berdiri sebelum sopir membawa bus terlalu jauh dan memaksaku mengeluarkan tenaga lebih banyak lagi hanya untuk mencapai kampus.

Karena kecerobohanku itulah yang kini membuatku menabrak seseorang. Jantungku kembali diberi kejutan ketika orang itu adalah dia. Jadi, sepertinya dia juga mengalami nasib yang sama denganku. Kami lupa dimana pemberhentian yang kami tuju. Aku yang tak tahu apa yang harus kulakukan hanya mampu membungkukkan tubuhku berkali-kali sebagai rasa penyesalanku karena menimbulkan insiden kecil itu. Dia tak mengatakan apa pun, yang dia lakukan hanyalah memunguti agenda miliknya yang hampir mencium ujung sepatuku. Ah, dasar bodoh. Aku bahkan tak menyadari jika aku membuat buku agenda itu terjatuh. Dia lebih memilih berjalan mendahuluiku dengan ekspresi yang tak berubah.

Yoon Ji Hyo bodoh! Apa yang kulakukan? Tampak jelas jika dia tak suka dengan semua kekacauan yang mewarnai pagi harinya akibat ulahku. Andai saja aku bisa menghilang saat ini juga, tapi satu-satunya yang bisa kulakukan adalah menyusulinya turun dari bus sebelum para penumpang mengajukan keluhan lain. Dia berlari dan kaki panjangnya membuatku tertinggal semakin jauh. Aku juga berlari di belakangnya, tapi aku bukan mengejarnya. Aku dan dia memiliki tujuan yang sama. Universitas Yonsei.

**

“Ji Hyo!”

Aku sedang berada di ruang praktek lukis ketika Hee Young datang. Kim Hee Young adalah sahabatku sejak SMP. Aku beruntung karena Hee Young masih berada di sekitarku hingga di Yonsei meskipun kami berbeda fakultas.

“Apa yang kau lukis?” tanya Hee Young seraya menghampiri kanvas yang terpampang di hadapanku. “Baiklah Nona Yoon Ji Hyo. Aku rasa tidak ada yang dapat menyaingi kejeniusanmu dalam melukis,” pujian Hee Young membuatku mau tak mau tersenyum lebar.

Keberadaan Hee Young mengharuskanku untuk segera mengemasi seluruh perlengkapan lukis. Aku sedikit merapikan rambutku dan segera meraih tas.

“Ke mana kita hari ini?” Hee Young sangat bersemangat. Aku berpikir sejenak, tapi tidak ada satu pun ide yang terlintas di kepalaku. “Ji Hyo, apa yang harus kita lakukan?” Hee Young masih saja menjejalku dengan pertanyaannya, aku menjawabnya dengan menggeleng. “Kau tak ingin menjawabku? Hari ini kau yang menentukan tempat tujuan kita,” katanya lagi.

Aku menarik nafas panjang, lalu tanganku mulai bergerak. “Aku sangat lapar.

“Aku tahu tempat makan yang lezat,” ia mengerling setelah membaca gerakan tanganku. Hee Young menggandeng lenganku dan mengajakku meninggalkan ruang praktek lukis.

Selain karena statusku sebagai anak yatim piatu, aku juga adalah penyandang cacat. Aku tidak terlahir dengan membawa kecacatan ini, setidaknya aku pernah hidup normal dan memiliki keluarga yang lengkap hingga diusia empat tahun. Sebuah kecelakaan bus mengambil ayah dan ibu dari sisiku.

Broca’s aphasia adalah kenyataan yang harus kuterima akibat kecelakaan hebat itu. Aku mengalami kerusakan parah pada otak depan yang merupakan daerah yang mendominasi kemampuan bahasa. Seseorang dengan jenis afasia seperti ini mengalami kesulitan membentuk kalimat lengkap, namun masih bisa memahami apa yang dikatakan oleh orang lain. Itulah kondisiku saat ini. Setidaknya jenis afasia yang ada padaku tidak membuatku melalui hari seperti mayat hidup. Aku masih bisa beraktivitas dan memahami apa yang orang katakan, entah itu sebuah keberuntungan atau kemalangan namun kenyataannya aku adalah penderita gangguan otak. Cacat. Bahasa isyarat adalah satu-satunya caraku berkomunikasi dengan orang lain.

Tiba-tiba saja aku merasakan apitan Hee Young di lenganku mengencang, aku mengikuti ke mana matanya memandang dan dadaku berdebar halus saat melihat orang itu lagi.

“Mengapa setiap kali melihatnya, dia semakin tampan?” desah Hee Young. Diam-diam aku membenarkan ucapan Hee Young.

Dia adalah senior kami. Cho Kyuhyun. Kyuhyun termasuk dalam sederet nama mahasiswa yang popular di kampus. Dia tampan. Hee Young mengatakan bahwa dia kaya raya. Dia tipe yang tidak suka menunjukkan siapa dia sebenarnya, hal itu kusimpulkan karena dengan bus yang selalu dia tumpangi setiap hari membuat orang lain tak akan mengira jika dia adalah seorang tuan muda pewaris seluruh aset keluarganya. Menurutku dia tidak terlalu terbuka, dia selalu bersikap tenang tanpa banyak bicara. Dia lebih suka menyendiri karena secara tidak sengaja beberapa kali aku mendapatinya duduk sendirian di taman sambil menulisi agenda coklat miliknya itu. Aku tahu jika Hee Young tak bodoh, namun alasan Hee Young mengambil mathematics juga karena orang itu. Sama seperti mahasiswi lainnya, Hee Young mengidolakan Kyuhyun dan aku melakukan hal yang sama secara diam-diam.

Hee Young meneliti ekspresiku, “Ji Hyo, kau benar-benar tak memiliki sedikit rasa terhadapnya?”

Mengapa?

“Mungkin kau satu-satunya gadis di kampus yang menghadiahi Kyuhyun sunbae dengan tatapan datar itu,” desis Hee Young.

Apakah aku terlihat seperti itu?” tanyaku sambil tersenyum.

“Ya,” Hee Young mencubit gemas pipiku.

Tampaknya aku berhasil menyembunyikan perasaanku, bahkan sahabat baikku sendiri tak menyadari itu. Keadaan membuatku tak berani menunjukkan secara terang-terangan perasaanku. Cho Kyuhyun di mataku nyaris sempurna. Memang benar jika manusia tidak ada yang sempurna, tapi aku tidak melihat kekurangan di diri Kyuhyun. Lalu tiba-tiba saja gadis yatim piatu dan cacat sepertiku dengan lancang begitu berani menyukainya. Bukankah aku terlalu naif? Aku hanya mampu memantaskan diri menyukainya di dalam hatiku, cukup hanya aku yang tahu.

~o0o~

♪♫

I’m dreaming of a white Christmas

Just like the ones I used to know

Where the treetops glisten and children listen

To hear sleigh bells in the snow

*
I’m dreaming of a white Christmas

With every Christmas card I write

May your days be merry and bright

And may all your Christmases be white

*
I’m dreaming of a white Christmas

With every Christmas card I write

May your days be merry and bright

And may all your Christmases be white

♪♫

Alunan tembang natal terdengar di seluruh ruangan dalam panti. Anak-anak itu bernyanyi riang. Senyum bahagia terlihat jelas di wajah mereka. Tugas tahunanku adalah mengiringi mereka dengan piano dan kami sedang berlatih untuk sebuah pertunjukan pada pesta kecil menyambut natal yang selalu rutin diadakan di panti ini.

“Baiklah anak-anak, kita sudahi sesi latihan hari ini,” perkataan Suster Han disambut riang oleh kami semua. “Selanjutnya, kita akan menghiasi pohon natal,” semua anak kembali bersorak mendengar perkataan wanita itu.

Kurang lebih 25 orang anak tidak termasuk aku, mereka berhamburan riang menyambut kantong-kantong yang dibawa oleh para Suster. Kantong-kantong itu berisi pernak-pernik natal yang akan menghiasi pohon natal. Moment ini adalah moment yang selalu dinantikan oleh kami semua. Tidak ada yang dapat menandingi keceriaan dan kehangatan yang kurasakan saat melihat tingkah lucu adik-adikku.

Dal Bi tiba-tiba mengagetkanku dengan menyerahkan sebuah pernik berbentuk kaos kaki berwarna merah padaku.

“Eonni, kau juga harus menggantung kaos kakimu dan buat permohonan. Santa Claus akan mengirimi hadiah yang…, JANGAN AMBIL TEMPATKU!” begitu melihat beberapa anak berebutan menggantung kaos kaki mereka di dekat perapian, Dal Bi segera berlari sambil mengusung tangannya tinggi-tinggi seraya mengancam mereka. Dia melupakan kelanjutan perkataannya padaku. Aku selalu tersenyum dibuat mereka.

Lucu sekali. Mereka sangat menggemaskan. Dulu, aku juga seperti itu. Anak-anak selalu percaya bahwa cerobong asap adalah tempat di mana Santa Claus memasukkan hadiah dan kami selalu berebutan untuk menggantung kaos kaki di situ. Kini aku mengerti, pria tambun berbaju merah dengan rambut dan janggut putihnya tidak pernah mampir ke cerobong asap kami sambil mengendarai kereta kencana yang ditarik oleh kijang kutub karena Santa Claus yang sesungguhnya adalah para biarawati di panti yang rela menahan kantuk hanya untuk mengisi tiap kaos kaki kami dengan hadiah pada saat kami semua telah terlelap setelah mengajukan berbagai macam permintaan. Ya, suatu hari mereka juga akan mengetahuinya dan untuk saat ini biarlah berjalan sebagaimana adanya karena aku juga tahu sangat menyenangkan ketika aku melakukan itu.

Hanya saja, mereka tidak pernah tahu apa yang kuminta. Apa yang benar-benar kuinginkan.

Orang tua.

Aku selalu iri pada teman-temanku yang telah diadopsi oleh keluarga baru mereka. Mereka terlihat bahagia dan ayah-ibu mereka juga tampak sangat menyayangi mereka. Aku tak pernah lelah menggantungkan asa, berharap bahwa suatu hari akan ada keluarga yang bersedia menerimaku, tapi rasanya aku harus mengubur impianku. Aku sudah bukan anak-anak lagi, aku harus sadar bahwa merawat orang cacat sepertiku akan sangat merepotkan. Lagi pula, aku telah menemukan keluargaku. Semua orang di panti ini adalah keluargaku. Ini natal kedua ketika permohonanku berubah, ketika aku tak lagi menginginkan orang tua.

~o0o~

Salah satu taman di kawasan Universitas Yonsei adalah tempat yang kupilih untuk melukis. Langit berwarna cerah dan sangat bersahabat begitu kuat menggodaku untuk mengabadikannya dalam kanvas. Sisi taman ini tidak begitu ramai dikunjungi mahasiswa. Aku mendapatkan konsentrasi penuh untuk melukis langit Desember yang kusukai.

Satu jam berlalu begitu saja, lalu aku melihatnya duduk di salah satu kursi panjang yang ada di taman, tak begitu jauh dari tempatku. Earphone putih di telinganya menegaskan bahwa dia sangat menikmati kesendiriannya, wajah tenangnya dan mulut yang selalu terkatup rapat—yang dia lakukan hanyalah menulisi buku agenda coklat itu.

Segera kupalingkan sorot mataku darinya, aku takut jika semua yang kulakukan dan kurasakan tertangkap olehnya. Sekuat apa pun aku mencoba untuk tidak tergoda, tapi ekor mataku berkhianat. Aku kembali menatapinya dari jauh dan dia masih tetap menikmati apa yang dia lakukan tanpa perduli keadaan di sekitarnya. Gadis bodoh. Seharusnya aku tahu bahwa dia tak akan menyadari keberadaan orang sepertiku, sekalipun dia sadar—gadis cacat sepertiku tak seharusnya berharap banyak padanya. Jangankan sekedar menyapa, dia bahkan tidak pernah melihat ke arahku. Bukankah sudah jelas bahwa aku harus berhenti menyukainya? Aku harus berhenti sebelum suatu saat perasaanku justru memberiku siksaan.

**

Hee Young mengapit lenganku dan membawaku pergi. Aku berhenti. “Ada apa?” tanyanya.

Kau mau membawaku ke mana?

“Kantin,” jawab Hee Young.

Aku masih kenyang. Aku harus menyelesaikan lukisanku,” ucapku dengan bahasa isyarat. Semoga Hee Young mau mendengar alasanku. Belum sempat perkataanku dipertimbangkan Hee Young, tiba-tiba saja suara aneh terdengar dari perutku.

“Kau kenyang?” Hee Young mendesis. “Jangan banyak alasan. Ayolah Ji Hyo, sebelum aku dan kau mati kelaparan di sini,” desak Hee Young dengan alasan yang terlalu berlebihan.

Tampaknya tak ada yang bisa kulakukan. Anggukan lemahku dibalas dengan senyum mekar Hee Young. Bersama-sama kami menuju kantin kampus. Langkahku terhenti ketika aku melihatnya, Kyuhyun. Dia juga berada di kantin, beberapa orang yang duduk di meja yang sama dengannya mungkin adalah teman-temannya. Ada sebuah gelas berisi juice yang telah tersisa setengah di hadapannya. Teman-temannya bercengkrama dan tak jarang derai tawa terdengar, namun dia memilih membisu sambil membaca sebuah buku.

“Apa yang kau lakukan?” Hee Young menarik tanganku. Meskipun masih tersisa banyak tempat kosong, namun Hee Young justru memilih sebuah meja yang berdekatan dengan meja yang di tempati oleh dia dan teman-temannya itu. “Ji Hyo, jangan hanya berdiri saja,” tegur Hee Young lagi.

Aku segera menarik kursiku dan duduk dengan perlahan. Hee Young terlihat merapikan rambutnya. Aku duduk tepat pada kursi di belakang Kyuhyun. Aku dan dia duduk saling membelakangi dan hanya diantarai oleh jarak tipis untuk dilalui orang-orang. Jantungku berdetak lebih cepat. Aku tidak pernah sedekat ini dengannya.

“Kau tak ingin memesan makanan?” pertanyaan Hee Young menyadarkanku. Aku menggerakkan tanganku, “Kau tak tahu apa yang harus kau makan?” Hee Young mendelik hebat padaku. Dia mendesah dan kemudian memesan makanan yang sama untuk kami berdua.

Ah, Hee Young. Kau tak tahu bahwa aku hampir kehilangan pikiran karena berada dengan jarak yang begitu tipis dengannya. Aku cemas jika detak jantungku terdengar olehnya. Aku sangat gugup, sekaligus sangat senang.

Sejak kapan aku menjadi seperti ini? Sejak kapan dadaku bergemuruh hebat setiap kali melihatnya?

Dua tahun lalu kurasa. Aku mencoba mengingat pertemuan pertama kami. Salah, itu tidak bisa dianggap sebagai sebuah pertemuan karena pada saat itu hanya aku yang melihatnya. Kejadian itu terjadi saat aku berstatus mahasiswa baru di Yonsei, dia melintas tak jauh dariku. Sejak saat itu, aku selalu melihatnya bahkan aku baru menyadari jika kami selalu berada di bus yang sama. Apakah itu sebuah keberuntungan?

~o0o~

Hari sudah gelap ketika aku meniti trotoar. Profesor Kwon memintaku menyelesaikan lukisanku secepatnya agar dapat disertakan dalam pameran musim semi mendatang, itulah sebabnya hari ini aku pulang lebih lama dari biasanya.

Sejak tadi aku terus berpapasan dengan beberapa pasang muda-mudi. Mereka terlihat bahagia. Aku menarik nafas panjang sambil memandangi langit gelap lalu kembali melangkahkan kakiku dan menyempatkan diri mampir di sebuah mini market untuk membeli beberapa keperluan sehari-hariku. Hanya beberapa menit saja yang diperlukan sebelum aku keluar dari tempat tersebut sambil menenteng sebuah kantong di tangan kananku.

Aku mempercepat langkah kakiku agar segera tiba di panti. Semoga para Suster tidak sedang mencemaskanku. Sesuatu yang dingin merembes di permukaan kulit membuat langkahku terhenti. Satu per satu benda putih itu mengenai tubuhku. Segera kuangkat wajahku dan tak sadar aku melonjak girang ketika melihat begitu banyak benda seputih kapas mulai berjatuhan dari langit.

First snow.

Salju pertama di musim dingin. Ah, tiba-tiba saja aku teringat pada pasangan kekasih yang berpapasan denganku tadi. Mereka pasti sangat bahagia. Aku tersenyum menatap langit dan memutuskan untuk melanjutkan perjalananku sebelum para Suster benar-benar mencemaskanku.

Untuk kedua kalinya kakiku tertahan. Dadaku kembali berdebar halus ketika melihat Kyuhyun. Dia sedang berdiri di tepian jalan, di ujung zebra cross sambil mendongakkan wajahnya memandangi salju yang berjatuhan. Bahkan ketika traffic light mempersilahkan orang-orang itu untuk menyeberangi jalan, dia masih tak beranjak dari tempatnya berpijak.

Dia sedikit mengarahkan wajahnya ke arahku, aku tidak tahu dia melihatku atau tidak mengingat banyaknya manusia yang berkeliaran di sekitarku. Dia lalu melangkahkan kakinya, melintasi zebra cross dan menghilang dibalik ramainya manusia di seberang jalan itu.

Sementara aku masih terpaku. Seandainya mitos itu tak hanya berlaku bagi sepasang kekasih. Seandainya mitos itu juga berlaku bagi orang yang hanya sekedar menyukai meskipun perasaan itu bertepuk sebelah tangan—seperti aku ini. Seandainya saja.

~o0o~

Sudah larut malam. Ketika semua penghuni panti telah terlelap dan bermimpi setelah melalui malam ceria dengan pertunjukan rutin menyambut natal di panti. Aku masih berdiri di sini. Di ruangan hangat tempat kami menghabiskan waktu bersama. Mataku tak lepas dari pohon natal indah yang dipenuhi oleh kerlap-kerlip lampu juga pernak-pernik lainnya. Tanganku menyentuh dadaku, mencoba menenangkan detak jantungku yang masih terus berpacu kencang sejak tadi. Sejak aku melihatnya beberapa jam lalu. Ketika permainan pianoku hampir terhenti saat mataku menangkap dia diantara para hadirin yang menyaksikan pertunjukan kami di aula panti.

Aku pasti terlihat seperti seorang idiot dengan wajah pucat ketika dia menghampiri kami bersama sepasang suami-istri baik hati yang dikenal oleh semua penghuni panti. Tubuhku kaku ketika dia membungkuk hormat dengan wajah tenangnya pada kami semua saat dia diperkenalkan sebagai putra dari Tuan dan Nyonya Cho, donatur terbesar di panti kami. Melihatnya berhadapan denganku, dalam jarak yang begitu dekat. Sesaat aku hampir kehilangan kesadaran. Aku tidak pernah mengira akan ada kebetulan yang seperti ini.

Jantungku, bisakah untuk sesaat kau bekerja normal?

Sekarang aku sadar bahwa aku akan sulit untuk berhenti menyukainya. Perasaanku, hatiku, seluruh organ dalam tubuhku bergejolak hebat setiap kali melihatnya. Jika ini adalah sebuah penyakit, maka aku ingin sembuh sebelum penyakit ini menjerumuskanku dalam penderitaan yang tidak bisa kutanggung.

Jika ini adalah sebuah penyakit, bagaimana aku sembuh? Satu-satunya yang bisa menyembuhkanku adalah dia. Jika dia adalah obat untuk menyembuhkanku, maka aku tahu itu adalah obat yang sangat mahal dan tidak mungkin kuperolah. Apakah itu artinya, aku sudah tidak bisa tertolong lagi?

Bagaimana ini? Aku benar-benar menyukainya. Aku mencintainya, sementara aku tidak memiliki kapasitas untuk mencintai seseorang dalam keadaanku yang seperti ini.

Tuhan tolong aku.

~o0o~

Pukul 22.00 waktu setempat.

Aku melangkahkan kakiku memasuki gereja yang telah kosong sehabis kebaktian malam natal. Langkah kakiku terhenti ketika aku tiba di deretan paling depan kursi panjang yang berada di dalam gereja. Aku memilih duduk di situ. Melipat kedua tanganku.

Aku ingin kebahagiaan untuk semua anggota keluargaku. Aku berterima kasih karena Tuhan memberikan keluarga yang begitu hangat padaku. Keluarga yang dapat menerima keadaanku. Keluarga yang mampu mengulurkan tangan mereka ketika aku kesusahan.

Tapi Tuhan, dapatkah aku memperoleh hadiah natalku?

Aku tidak perduli dengan hadiah apa pun. Bahkan aku tak lagi menginginkan orang tua. Jika mungkin, aku menginginkan orang itu sebagai hadiah natal. Ini natal kedua ketika aku mengajukan permintaan yang sama. Ah—aku terlalu berani meminta itu pada-Mu. Ataukah aku memang orang yang tak tahu diri untuk mengajukan permintaan berlebihan ini?

Aku tahu Kau memiliki rencana yang indah dalam hidupku. Jika dia bukan orang itu, maka aku yakin di luar sana ada seseorang yang memang Kau ciptakan hanya untukku. Seseorang yang menganggap kekuranganku sebagai sebuah kelebihan baginya. Bukankah begitu Tuhan?

Aku tahu betapa sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, jadi kumohon ajar aku untuk menerima dan memahami kehendak-Mu. Ajar aku untuk mengucap syukur atas segala pemberian-Mu. Sama seperti Kau memberikan kebahagiaan untukku, aku ingin Kau memberikan hal yang sama pada orang itu.

Tuhan, meskipun aku sangat menginginkan dia di sisiku, meskipun aku menuntut banyak hal dari-Mu namun di atas segalanya jangan kehendakku, melainkan kehendak-Mu lah yang jadi di dalam hidupku.

Amin.

Sebaiknya aku segera kembali ke panti sebelum semua menunda pesta kecil kami demi menungguku. Bergegas aku melangkahkan kakiku lalu mataku tiba-tiba tertuju pada sesuatu yang tergeletak pada sebuah kursi yang entah berada di deretan ke berapa. Benda itu sangat familiar di mataku, sebuah buku agenda dengan sampul coklat.

‘Cho Kyuhyun’ adalah nama yang tertera ketika aku membuka agenda tersebut. Tidak salah lagi. Ini miliknya. Dia bahkan membawa agendanya ke gereja? Ternyata dia cukup ceroboh untuk meninggalkan benda ini.

Setelah kupikir-pikir, Tuhan tidak benar-benar tak mendengar doaku. Dia memberiku banyak sekali kesempatan. Setiap hari aku bertemu dengannya di bus, aku dan dia bahkan mengikuti ibadah di gereja yang sama—tapi aku tidak berani mendekatinya.

Dengan keadaanku ini, pantaskah aku?

Ah—baiklah. Tuhan memandang sama terhadap semua manusia. Yang membuat segala sesuatu terlihat berbeda adalah manusia itu sendiri. Aku mungkin tidak akan tahu jika aku tidak mencobanya, jadi aku hanya berharap bahwa Tuhan akan memberikanku keberanian untuk mengambil sebuah langkah awal agar aku tidak hanya diam di tempat sementara dia semakin menjauh.

Jika buku agenda yang tertinggal ini adalah kesempatan lain yang Tuhan berikan, maka akan aku mencobanya.

Aku ingin sekali mengetahui isi agenda ini, tapi etika yang diajarkan padaku tidak membenarkan aku melakukan itu. Aku mengurungkan niatku dan bergegas melangkah tapi agenda dalam genggamanku terlepas. Aku menghela nafas ketika memunguti agenda yang jatuh dalam posisi terbuka. Tulisan rapi yang tertera di halaman yang terbuka kembali menggodaku untuk membacanya, terlihat seperti cacatan-cacatan penting yang diberi tanggal.

*

December 5th

‘Pagi ini aku hampir melewatkan tumpanganku. Untung saja sopir menyadari usahaku yang berlari mengejar bus. Dadaku berdebar keras karena olahraga dadakan tadi, tapi itu tak sebanding dengan debaran yang setiap hari kurasakan saat bus berhenti di halte selanjutnya. Memang bukan untuk pertama kalinya, namun aku selalu mati gaya ketika dia menaiki bus. Aku ingin melihatnya, tapi aku takut dia menyadari jika aku sedang mengawasinya. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah menatap keluar jendela dengan hati yang merutuki ketidakberanianku. Semoga saja dia tidak menyadari kebodohanku—sepertinya aku harus berterima kasih pada earphone yang mungkin membantuku terlihat normal seperti biasa…’

Sejenak aku mengambil jeda, memikirkan apa yang Kyuhyun tulis. Dia tampak sepertiku yang hanya menyukai seseorang secara diam-diam.

‘…Aku ingin tahu apa yang dipikirkannya ketika memandangi langit seperti itu. Dia terlihat sangat menyukai langit—ya, terutama langit di bulan Desember…’

Jantungku tersentak sekali, dan debaran selanjutnya semakin meningkat. Langit Desember?

‘Bus berhenti dan orang-orang mulai turun di pemberhentian Yonsei, tapi dia masih berdiam diri memandangi langit. Aku ingin memberitahukan padanya bahwa dia—maksudku kita seharusnya turun tapi mulutku terkunci. Aku mengabaikan kesempatan untuk berbicara dengannya. Yang kulakukan justru hanya membiarkan bus mulai melaju hingga dia tersadar bahwa kami sudah melewati tempat tujuan kami.

Aku kembali menyia-nyiakan kesempatan kedua untuk berbicara dengannya ketika berkali-kali dia menundukkan kepala dengan wajah pucat saat tanpa sengaja menabrakku. Bodohnya, aku hanya memunguti agenda yang terjatuh lalu berjalan meninggalkannya tanpa mengatakan; Jangan cemas, aku tidak apa-apa. Aku hanya mampu membiarkan dia melihat tampang cool yang setengah mati kupertahankan di depannya.’

Ya Tuhan, apa ini? Apakah ‘dia’ yang sedang dibicarakannya dalam agenda ini adalah aku? Mana mungkin. Aku membuka halaman selanjutnya agenda coklat di tanganku.

December 7th

‘Judul hari ini adalah penguntit. Kurasa, aku mulai terlatih sebagai penguntit profesional karena dia. Tidak sengaja aku melihatnya keluar dari ruang praktek lukis sambil menenteng seluruh perlengkapan lukisnya. Dia menuju salah satu taman di Yonsei dan mulai melukis. Raut wajahnya begitu tenang, dia memang tidak pernah main-main dalam pekerjaannya. Aku juga ingin melihat dari dekat apa yang dia lukis, tapi aku tidak punya alasan kuat yang membuatku meninggalkan kursi taman ini dan berjalan menghampirinya.

Meskipun aku tahu bahwa saat ini dia sedang melukis, tapi aku tetap ingin bertanya padanya; Apa yang kau lakukan?

Atau sekedar mengatakan; Hai.

Tapi semua yang kurencanakan dalam kepalaku hanya mampu kuungkapkan pada kertas ini. Ah—Kyuhyun, mengapa kau menjadi sebodoh ini?’

Jantungku semakin aneh debarannya. Tidak salah lagi. ‘Dia’ yang dimaksudnya adalah aku. Mengapa? Apakah dia juga…

December 8th

‘Dia duduk tepat di belakangku. Andai saja dia tahu bagaimana rasanya ketika jantungku berontak hebat seperti ingin menembus dadaku. Aku bahkan sudah tidak bisa mencerna apa maksud dari buku yang sedang kubaca…’

Kejadian di kantin itu. Kyu, aku tahu apa yang kau rasakan. Jantungku juga melompat kasar saat itu, sama seperti sekarang setelah aku membaca tulisanmu—tapi benarkah semua ini? Dengan dada yang terus berdebar ketika aku melanjutkan membaca tulisan tangannya.

‘…Aku juga ingin dia duduk di hadapanku agar aku dapat melihat wajahnya dengan jelas.’

Dadaku memanas. Setiap halaman yang kubuka, dia hanya bercerita tentang aku. Aku tak bisa mempercayai ini, dia bahkan tak sedikit pun melihat padaku, tapi ternyata…

December 15th

‘Aku dan dia melihat salju pertama di musim dingin. Tentang mitos itu…bisakah berlaku padaku?

Aku ingin sedikit merubah mitos itu; Jika aku melihat salju pertama turun bersama orang yang kusukai maka aku bisa bersama dengannya, selamanya.

Aku harap itu benar-benar terjadi.’

Kyuhyun menyukaiku?

Ada sesuatu yang basah mengaliri wajahku. Hatiku meluap-luap mengetahui bahwa aku tidak bertepuk sebelah tangan. Hanya saja, jika dia benar-benar menyukaiku mengapa dia bersikap seolah dia tidak? Mengapa dia tak sedikit pun mengarahkan matanya padaku? Atau memberikan sedikit saja signal yang bisa kuterima?

December 20th

‘Pertunjukan menyambut natal di panti asuhan St. Maria. Untuk keempat kalinya aku mengikuti pertunjukan di panti itu…’

Empat kali? Seingatku, pertunjukan tahun ini adalah pertama kali aku melihat dia. Cepat-cepat aku melanjutkan membaca tulisan itu.

‘…dan sepertinya, pertama kali baginya untuk menyadari keberadaanku di pertunjukan yang selalu mereka adakan setiap tahun. Ya, aku memang tidak benar-benar hadir di situ pada pertunjukan kedua dan ketiga—karena aku selalu melihat dari luar. Melihatnya tersenyum lebar ketika mengiringi anak-anak itu bernyanyi dengan permainan pianonya.

Hari ini, aku membuat Ayah dan Ibu terkejut ketika aku justru menawarkan diri untuk mengikuti acara di panti. Ya—aku tahu, empat tahun lalu untuk pertama dan terakhir kalinya mereka menyerah mengajakku ke acara panti.

Sepertinya aku sudah tidak bisa menahan diri agar tidak mengikuti acara itu secara diam-diam, tanpa sepengetahuan ayah dan ibu. Aku menyerah mempertahankan keangkuhanku di hadapan mereka bahwa aku tak suka acara membosankan seperti itu, tapi nyatanya aku justru menyelinap hanya untuk menyaksikan dia. Melihatnya malam ini, rasanya masih sama seperti empat tahun lalu, ketika dia membuatku  jatuh cinta padanya.

Jantungku benar-benar hampir lepas dan kakiku terasa berat ketika bersama Ayah dan Ibu, aku menghampiri mereka—menghampiri dia. Melihat langsung ekspresinya dari dekat.’

Benarkah semua kalimat yang kubaca ini? Aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih. Lalu aku membuka halaman awal dari agenda tebal itu. Catatan pertamanya berada di tanggal dua puluh Desember, tanggal yang sama bagi kami untuk mengadakan pertunjukan kecil di panti—tapi catatan pada tanggal ini ditulis empat tahun lalu.

‘Aku tidak pernah membayangkan bahwa bujukan Ibu serta amarah Ayah membuatku tak berkutik. Dengan sangat terpaksa ketika aku mengikuti mereka ke acara tahunan yang selalu mereka hadiri di panti asuhan St. Maria.

Sama sekali tidak terbayangkan apa apa yang akan kujumpai di sana.

Anak-anak itu menyanyikan tembang natal dengan merdu, tapi yang membuat mataku hampir tak berkedip adalah dia. Seorang gadis yang tersenyum bahagia ketika mengiringi anak-anak itu dengan permainan pianonya. Aku melihat ketulusan dari senyumnya dan itu membuat dadaku berdebar aneh.

Apakah bisa dipercaya bahwa pemilik senyum itu adalah gadis yang tidak bisa berbicara? Jika aku di posisinya; aku tak akan mampu tersenyum seperti itu tapi melihat caranya tersenyum, seolah tidak ada yang salah dengan dirinya, seolah dia memiliki kehidupan yang perfect. Dia tak pernah tahu bahwa aku dibuat kagum olehnya. Oleh ketegarannya.

Hari ini aku bersyukur ketika Ibuku yang cerewet merapalkan jurus rayuan mautnya dan Ayah yang mengancam akan memblokir kartu kreditku karena jika mereka tidak melakukan itu, maka aku tak akan pergi ke panti dan aku pasti tak akan pernah bertemu dengan gadis itu.

Yoon Ji Hyo. Nama yang indah. Aku harap hari ini bukan perjumpaan terakhir kita.’

Aku memegangi dadaku yang berdebar kian cepat. Kupikir aku sangat menderita karena memendam perasaan terhadap seseorang begitu lama, tapi Kyuhyun lebih dari itu. Aku dapat menyembunyikan perasaanku, tapi dia lebih pintar menyembunyikan perasaannya dariku. Mengapa? Seharusnya kita tak perlu seperti ini.

Kembali kubuka halaman terakhir yang ditulisinya, catatan yang ditulis pada hari ini.

December 24th

‘Aku selalu bermimpi tentang aku dan dia. Semua hari-hariku terasa bahagia meskipun aku hanya bisa memandanginya dari jauh.

Dibandingkan mengendarai mobil pribadi, aku lebih suka berdesak-desakan setiap hari dengan orang-orang itu asalkan aku dapat menaiki bus yang akan dia tumpangi. Mengawali hariku dengan melihatnya, sekalipun dia hanya menghabiskan perjalanan dengan melamunkan banyak hal tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang tak meluputkan pandangan darinya.

Seolah Seoul kekurangan gereja hingga membuatku melalui perjalanan panjang untuk tiba di gereja itu. Banyak gereja terdekat yang bisa kudatangi, tapi aku lebih memilih gereja itu agar bisa mengikuti kebaktian bersamanya meskipun kami duduk berjauhan.

Aku bahagia meskipun aku hanya melintas di depannya dalam jarak yang jauh sambil menaruh harap bahwa semoga dia menyadari keberadaanku. Berharap mungkin saja dia akan menyukaiku seperti gadis-gadis lain, tapi sepertinya dia selalu memasang ekspresi datar ketika melihatku. Apakah usahaku untuk menarik perhatiannya masih kurang?

Dia tak mengatakan apa pun, tapi apa yang dia lakukan menceritakan banyak hal padaku.

Cho Kyuhyun mungkin pintar dalam pelajaran, tapi bukan berarti Cho Kyuhyun pintar dalam hal cinta. Selama empat tahun menyukainya, tapi aku tak pernah mengatakan padanya. Aku bahkan tak berani menunjukkan perasaanku padanya.

Cho Kyuhyun menjadi bodoh bukan karena tanpa alasan. Dibalik kekurangannya, aku mendapati bahwa dia terlalu sempurna. Dia adalah karya Tuhan yang sangat indah. Lalu pantaskah aku untuknya? Aku tak mempunyai cukup kepercayaan diri untuk menunjukkan padanya bahwa aku menyukainya.

Tapi jika aku tak pernah mencoba, maka aku tak akan pernah tahu kepantasanku. Natal ini, aku berharap sebuah jalan yang akan membawaku padanya. Jalan dimana aku hidup dalam cinta dan semua hari-hariku menjadi putih—sama seperti salju di hari natal.

Yoon Ji Hyo.

Aku membutuhkanmu.’

Air mata kembali mengaliri kedua belah pipiku. Secepat ini Tuhan menjawab doaku? Ini bahkan melebihi apa yang aku pikirkan. Dadaku memanas, perasaan bahagia sepertinya telah meledak-ledak di dalamku. Adalah hadiah natal terbaik yang pernah kudapat setelah mengetahui bahwa orang yang kusukai juga menyukaiku, bahkan jauh sebelum aku menyadari keberadaannya.

Derap langkah seseorang yang terburu-buru tertangkap telingaku. Cho Kyuhyun. Aku melihatnya berlari memasuki pintu gereja, ia lalu memegangi lutut dengan kedua tangannya, menumpuhkan beban tubuhnya di situ—dadanya naik turun dan nafasnya tersengal-sengal. Kelelahannya menjelaskan padaku bahwa dia berlari kencang untuk mencapai tempat ini.

Dia lalu menegakkan posisinya, matanya mencari-cari sesuatu. Aku melihat keterkejutannya saat tatapan mata kami bertemu. Kami sama-sama tak menduga bahwa kami akan bertemu di sini. Perasaan aneh yang begitu hangat menjalari seluruh permukaan kulit di tubuhku.

Aku dan dia berada dalam suasana yang begitu canggung membuat mulut kami terkatup rapat. Sebenarnya banyak hal yang ingin kukatakan, tapi semua mendadak sirna begitu saja. Aku juga melihat dia salah tingkah, meskipun pada akhirnya dia memaksakan kakinya untuk maju beberapa langkah sebelum kembali terhenti. Raut wajahnya lagi-lagi berubah drastis setelah melihat agenda miliknya berada dalam tanganku dan dalam keadaan yang terbuka.

Dia menyadari jika aku telah mengupas tuntas rahasia yang selalu ditutupinya. Dia memalingkan wajahnya ke kanan, terlihat jelas jika dia sangat malu. Kemudian dia kembali menatapiku lalu menggaruk kepalanya yang aku yakin tak gatal.

“Jadi—,” untuk pertama kalinya aku mendengar suaranya yang memang ditujukan padaku, “Bolehkah aku meminta agenda itu kembali?” tanyanya lagi dengan wajah yang memerah, semerah wajahku saat ini.

Aku hanya mengangguk pelan dan dia mulai berjalan mendekatiku. Sungguh, aku tak bisa menahan debaran jantungku. Semoga dia tak menyadari tanganku yang gemetar saat menyerahkan buku agenda itu padanya. Dia terlihat menantikan sesuatu dariku, tapi aku dalam kelumpuhan akibat sorot matanya yang tajam dan hangat itu.

“Selamat natal,” dia mengatakan itu. Dia lalu berjalan meninggalkanku yang masih awet berdiam diri. Aku menangkap kekecewaan dari ekspresi wajahnya.

Ji Hyo bodoh, mengapa kau tak bisa menggerakkan tubuhmu? Ayolah, jangan seperti ini. Punggungnya kian menjauh, tapi aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja tanpa mengetahui perasaanku yang sebenarnya terhadap dia.

Aku mulai bisa menggerakkan kakiku—tak perlu dikomando saat aku berlari pelan menyusulinya dan langsung menarik ujung kemeja biru tua yang dia pakai. Dia menoleh padaku.

Selamat natal,” aku menggerakkan tanganku. Dia tersenyum. Sangat tampan. Aku kembali menggerakkan tanganku, “Dadaku sesak setiap kali memikirkanmu. Sama sepertimu, aku juga membutuhkanmu. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu,” aku yakin jika saat ini wajahku semerah tomat.

Dia terlihat menegang, entah dia mengerti apa yang aku katakan atau tidak. Dia tertegun dan beberapa saat kemudian aku melihat senyumnya kembali mengembang. Aku sangat yakin jika dia tahu apa yang baru saja aku utarakan.

Senyuman di wajahnya semakin lebar, bahkan kini aku bisa melihat deretan gigi putihnya. Dia tertawa meskipun tak ada suara yang keluar, lalu aku merasakan tubuhku yang ditarik ke dalam pelukannya. Dia memelukku sangat kuat sementara jantungku berdebar semakin cepat karena kehangatan dekapannya. Tidak ada kata yang bisa kuungkapkan untuk menggambarkan apa yang aku rasakan saat ini.

**End**

Dengan segenap hati, aku mengucapkan “Selamat Natal” bagi teman2 yang merayakan, damai dan cinta kasih Tuhan Yesus Kristus senantiasa menaungi kita. Juga selamat menyongsong tahun baru bagi kita semua. Semoga di tahun yang akan datang kita bisa lebih baik dan memiliki hidup yang berkualitas.

God bless us!

Don’t forget to leave your comment…. dan semoga tidak ada lagi yang plagiat ff ku.

184 thoughts on “The Christmas Hope

  1. chacha berkata:

    ya ampun unn.. gatau kenapa aku malah nyesek baca ini. mereka berdua sama sama suka tapi ga bisa ngungkapin perasaannya.. seriussssss kerennn banget unn.. aku kira si kyuhyun sama kaya ji hyo ga bisa ngomong. hehehe ternyata dia normal, daann ini happy ending 🙂 🙂 ah.. pokonya keren unn.. maaf juga ya baru sempet baca baca ff unnie lagi.. soalnya aku nungguin Under The Joseon Sky & Lovely Piggy sampe part terakhir biar ga penasaran nungguin kelanjutannya, jadi dari part pertama ga aku baca sama sekali. hehehe

  2. kyuna berkata:

    :):):):)
    Keren banget, asli ff eonni yg ini keren,keren banget…
    Aku pikir ni ff bakal sad ending krna sikap si cool nya kyuhyun, dannnn trnyata happy ending….

    Dan di tambah, aku memang suka kalau ada tokoh cewe yg gk bisa bicara tapi masih bisa komunikasi dengan bahasa isyarat. Dari dulu, aku pingin bwt cerita dimna tokoh cewe a itu ada yg cacat, tapi gk pernah terwujud #maklum,,bukan penulis cerita hehehe#

    Apa lagi ya…oh ya,,kyuhyun jg keren disini, dgn sikap coolnya dan dipuja banyak kaum hawa+ kaya, karakter sempurna seorang pangeran,,,tapi kenapa dia harus punya agenda yg isinya kyk diary seorang cewe gitu…yahhh waktu baca isinya memang menyesakkan, isinya keren banget tapii sedikit gk cocok dengan karakte awal dia yang cool banget…

    But of all, KERENNN eonni..
    Keep writing and hwaiting..
    Ditunggu karya selanjutnya :)….

  3. Dyadiadia berkata:

    Hish! Eonni tu knp selalu jahat sih sama kharakter yg aku sukai!

    Di Sweet bodyguard, Yoon Hee (iya bkn sih? hehe aku lupa~) sakit diakhir..

    Di FF yg ada Yesung, My Man sama Kyuhyun oppa.. Yesung ditinggalin ceweknya dan milih Kyuhyun…

    Doh,, eonni… kenapa ini juga T^T

    Tp overall Aku suka sih~ hehe~ jgn sering2 bikin aku nangis ah~

    Keep Writing Eonni! Dan keep sabar dengan koment2 Dya yg asal nerocos mulu~ hehe~ tp itu semua jujur dr dalam hati kecil Dya yg sangat lembut bagaikan kapas~

  4. afifah berkata:

    Huaaaa!!
    Sumpah! Ciuss! Enelaann
    Waahhh manissss bgetttt.. Pas baca agenda Kyuhyun jd ikt gmnaaaa gtuuuuhhh..
    Feelnyaa dpttt 😉
    Daebakk deh pkoknyaa 😀

  5. josena berkata:

    lama nggak mampir kesini udah banyak cerita baru ><..
    Untuk the christmas Hope-nya sweet banget di ending, walau awal-awal sedikit kaget dan iba sama kekurangan yoon hee, apalagi sama narasi yang mencurahkan keminderan yoon hee tentang kekurangannya ditambah suka sama kyuhyun yang maha tampan. Haru-biru banget pokoknya.
    Keep writing !!

  6. fitri hajizah berkata:

    Ya ampun ini ff keren bgt eonnie…
    Kasihan ji hyo ga bisa bicara, aku kira kyuhyun sama kaya ji hyo cacat, ga bisa denger soalnya kyuhyun pake earphone mulu sih..
    Mereka saling suka tapi saling memendam juga, tapi happy ending… 😀

  7. salsabellakhaa berkata:

    Terharu bacanyamereka sama* saling suja tapi nggak bisa ngungkapin perasaan merela masing* tapi liat ending jdi terharu nggak nyangka juga sebebernya kyu juga suka sama ji hyo…
    Daebak..:)

    Next ff ditunggu

  8. just_dez berkata:

    Hhh, udah lama ga main ke siniii…I’m so sorry….

    Sebenernya mau teriak : kok endingnya gitu doaaaang??!!!
    Tapi setelah dipikir2, ga ada ending yg lebih tepat bwt ff ini, four thumbs up bb^^dd
    Kenapa oh kenapa, kisah cinta saya ga berakhir seperti ini, hehe #curcol

    Okelah, jalan2 dulu ke library, mumpung main XD

  9. dya berkata:

    dan pada akhirnya kakak yg tlah membuat hatikyu terenyuh#
    melalui cerita dan hanya sebuah cerita yang kau rangkai telah membuat hatiku tersentuh..lagi dan lagi.
    sungguh manis…
    dan kau oppakyu, kau yg slalu narsis tingkat tinggi, sifatmu yg evil kau tabung di bank mana?? pa masih dalam jangka deposit..lom bisa dicairin?! tapi gak masalah..
    ternyata bisa jugga menutupi rasa sukamu pada ji hyo, yeoja yg kau suka.
    untung kak marchia bikin bukumu ketinggalan dan yang nemu ji hyo..coba deh kalo gak, mana bakal bisa ji hyo tau isi hatimu dan kau meluk ji hyo, dan lagi tolong jgn di depan mataku oppa aku gak sanggup. (apa maksudny coba)

    ber terimakasihlah pada kakakku ni oppakyu..kalo gak aku kisseu lo oppa..

  10. cutebabyhae berkata:

    Eonni terharu aku bacanya :”” apalagi baca diarynya Kyuhyun 😀

    Sejak kapan Evil belajar merangkai kata kata indah dan meluapkannya di kertas putih 😛 Good Story, Simple but Special XD

    KEEP WRITING & KEEP YOUR HEALTH

  11. miracle8823 berkata:

    sweeeett……
    Terharu waktu kyu diem2 juga selalu perhatiin ji hyo yg notabene dia ada kekurangan 🙂
    saling memuja satu sama lain tp g berani ngungkapinnya.

    dan endingnya.. simpel tp ngena, mereka pelukan setelah tahu perasaan satu sama lain, g perlu diungkapin banyak kata, hanya cukup satu pelukan y penuh makna :-*

  12. ivoneunike berkata:

    Omg… like this so much…
    Sy suka ibdh mlm natal, lagu natal n yg blm terwujud natal di kota yg bersalju…
    Kapan ya… tp pasti suatu saa akan terjadi…

  13. gaerriszrye berkata:

    tidak ada dudut pandang pemikiran kyuhyun sama sekali, akan tetapi langsung terobati dengan diary nya!!!!!!!!!! saya suka bahasanya yg halus, tidak berlebihan namun tetap mendapatkan kesan ringan 🙂 keep writing 🙂

  14. Falah Iebe Falin berkata:

    akhhh setelah sekian abad off berkunjung ke blog ini, sekalinya berkunjung langsung bikin hatiku meleleh plus mata n idung jg… ;( & 🙂
    chia selalu daebak ya,,,keep writing cingu masih ingat kan padaku? hehe
    anyeong lagi denganku 😀

  15. cyluvorca berkata:

    Nuna daebak!!!
    Pertama baca karyanya yang “My Sweet Bodyguard” di super junior ff 2010, sampe akhirnya nemu blog nuna. Suka bangget sama gaya nulis nuna dan knowledgenya…
    Penggambaran cintanya sederhana, tapi maknanya terasa bangget. KEREN!!! Wish i could have a white christmas toooooo ^^

  16. Dhiana berkata:

    Huaa.. Kren nih ff… Bkin aku iri… Kalo d sni happy end, lain lgi dgn aku yg msih stia dg unrequired love’a… Haha kok jd curhat gini sih? (abaikan) 😀
    keep writing… :*

  17. dee berkata:

    kisah manis di hari natal yaaaa ..emang cinta tuh nggak milih2 ya ..kyuhyun aja bisa jatuh cinta sama jihyo walaupun dia nggak “sempurna” ..bikin terharuuuuuu :’)

  18. Latishabee berkata:

    Wihhh…
    Manisnyaaa…. Saling suka tapi pinter banget nyembunyiin prasaannya.. Wkwkwk
    aih aih… Aku senyum senyum sndri bacany…
    Manis semanis author *kecup author*
    keep writing yaaa

  19. missann berkata:

    no word to explain how beautiful their true love 😍😍😍
    thanKYU so much for this story..
    hatiku ikut menghangat n berdebar bahagia 😊😊

  20. aernis berkata:

    ahh kyuhyun…
    kau so sweet sekali ❤

    ceritanya juga manis. apalagi pas agendanya dibaca sama jihyo duhh nyesss ga karuan

  21. Widya Choi berkata:

    Td ny sempet sedih krn ngira ny cinta ji hyo emg cm brtepuk sblah tgan..tp tyta kyu jg diam2 mendam prasaan yg sm am ji hyo. Aplg pas bc diary ny kyu. Q jd terharu bc ny. Tyta kyu udh lama memendam prsaan am ji hyo..n senang akhirny mrk bs sama2 😊😊

  22. LC_Ovan berkata:

    Q kira bakal sad ending karna biasa’a kalau berhubungan sama harapan dan natal biasa’a suka sad ending

    Ji Hyo yatim piatu dan dia “berbeda” tidak seperti kebanyakan orang lain’a itu yang membuat dia minder dan hanya memandang Kyuhyun jauh karna dia seakan sadar akan kondisi “specialnya” yang tidak mungkin bersatu bersama Kyuhyun tapi Tuhan itu maha adil dia pasti telah menyiapkan suatu hal yang indah bagi hamba’a karena ngak mungkin kita hidup hanya penuh kesedihan dan jika Tuhan sudah mentakdirkan Ji Hyo bersama Kyuhyun emang bisa terjadi karna tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan yang menghendaki dan buat Ji Hyo teruslah tersenyum walau kamu tidak bisa mengeluarkan suara indah mu tapi setidak’a kamu bisa mengeluarkan senyum yang indah dan membuat orang lain bahagia

    Q kira Kyuhyun tuh “special” juga karena selalu membawa buku agenda ternyata selama ini dia menulis tentang seorang gadis yang telah menarik perhatian’a dan yang membuat dia seperti stalker karena selalu ada dimana pun gadis itu berada tapi thanks buat buju agenda Kyuhyun yang telah menjadi sahabat Kyuhyun untuk mencurahkan isi hati’a dan Tuhan karna tuh buku agenda tertinggal dan akhir’a dibaca oleh Ji Hyo dan akhir’a harapan Ji Hyo untuk hadiah natal terkabul juga dan bisa aja harapan Ji Hyo tentang memiliki orang tua bisa terkabul jika dia akhir’a hidup bersama Kyuhyun

    • marchiafanfiction berkata:

      iya, sy percaya semua yg terjadi dalam hidup kita atas seijin Tuhan…

      kita hanya melihat di depan mata, tapi Tuhan melihat jauh..jauuuuh ke depan…dan pasti itu yang terbaik 🙂

  23. ichaquotestory73 berkata:

    Kyknya dlu aku ngerasa udah pernah baca ff ini…. But… Gk mau berenti ngulang2…. So sweet bgt ceritanyaaaa… Daebak

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s