Under The Joseon Sky (Part 7)

UTJS (Part 7)Cast :

Ammy/Hwang Hwa Mi/Soo (OC) || Lee Donghae || Cho Kyuhyun as Yeom || Lee Hyukjae as Nahwan || Choi Siwon as Myungjin || Kim Jong Woon as Jongshin || Park Jung Soo as Kaisar Langit || Other

Marchia’s note : Sangat tidak diharapkan adanya praktek plagiat, jika kalian menemukan sesuatu yang mencuriga tolong laporkan ke sy. Say no to plagiat!

***

~ Bertemu Lagi ~

 

Yeongwagwan pada malam hari lebih ramai dikunjungi, termasuk dalam sebuah ruangan yang cukup luas dibandingkan ruangan lainnya. Kumpulan pria bangsawan, mereka adalah para pejabat tinggi maupun pejabat menengah di istana. Seseorang menggeser pintu, nampaklah Lee Byun Ik bersama putranya, Lee Dong Hae. Ayah dan anak itu segera bergabung dengan mereka. Beberapa orang gisaeng berada di ruangan tersebut, bergabung dengan para bangsawan yang berada di situ. Para gisaeng bertugas untuk melayani pejabat-pejabat itu, sekedar membantu mereka menuangkan minum. Nyonya Nok Hee turut serta, mengingat tamu di ruangan tersebut adalah para pejabat istana dan ia harus memastikan tak ada kesalahan yang dibuat oleh gisaenggisaeng asuhannya.

“Yang Mulia Raja, benar-benar diluar kendali,” Lee Byun Ik menatap kumpulan pejabat yang berasal dari kubu yang sama dengannya, Faksi Hungu.

“Ada apa? Kau ingin melakukan sesuatu?” dengus seorang pria. Dia adalah Yoo Gwang Jun, seorang yang memegang jabatan sebagai Menteri Aparatur Negara.

“Kim Cheo Sun adalah kasim yang telah melayani banyak raja. Melihatnya dan keluarganya diperlakukan seperti itu, hatiku seakan teriris,” Lee Byun Ik mendesah.

Orang-orang itu terdiam memikirkan peristiwa yang baru-baru ini terjadi. Kim Cheo Sun adalah kepala kasim. Ia telah melayani Yeonsan-gun dan empat raja terdahulu. Melihat kepemimpinan Yeonsan-gun, Kasim Kim Cheo Sun memohon kepada Yeonsan-gun untuk mengubah caranya. Yeonsan-gun tidak menerima baik saran Cheo Sun, ia lalu membunuh Cheo Sun dengan menembakkan panah dan memotong kaki pria itu. Tak cukup hanya itu, keluarga Kim Cheo Sun diturunkan derajatnya ke tingkat tujuh. Sekretaris kerajaan maupun para menteri tidak ada yang berani berkomentar karena tindakan raja yang sangat kejam.

Lee Dong Hae hanya menyimak percakapan pria-pria tua itu. Ia tak berniat membuka mulutnya untuk memberikan tanggapan. Ini kali pertamanya berada dalam pertemuan seperti itu, ia hanya mengikuti apa pun yang diperintahkan oleh ayahnya.

“Nok Hee.”

“Ya, Tuanku.”

“Kudengar kau mempunyai gisaeng berbakat di sini?”

Nyonya Nok Hee memandangi seorang gisaeng, “Bawa dia ke sini,” ucapannya segera dituruti oleh gadis tersebut. “Hamba tak mengira jika Tuan sangat menaruh perhatian pada kami,” ujarnya sopan.

Beberapa saat kemudian, pintu ruangan itu kembali terbuka. Dua orang gadis terlihat memasuki ruangan tersebut. Seorang adalah Soo dan seorang lagi adalah gisaeng yang disuruh oleh Nyonya Nok Hee untuk memanggil Soo. Mereka mengangguk-angguk senang, tampak puas melihat keberadaan Soo. Lee Dong Hae adalah satu-satunya yang tetap berdiam dan memandang lurus tanpa menoleh pada para gisaeng itu termasuk Soo.

 “Matamu memang baik dalam memilih,” Yoo Gwang Jun memuji Nyonya Nok Hee.

“Terima kasihTuanku,” wanita itu tersenyum, ia tampak senang.

Nyonya Nok Hee menatap Soo seperti sebuah isyarat. Soo mengerti apa yang dimaksud oleh wanita itu. Soo duduk dengan anggun, gisaeng lainnya meletakan sebuah alat musik di hadapan Soo. Alat musik tersebut adalah gayageum, sebuah alat musik petik tradisional yang berupa kecapi dengan dua belas senar.

Alunan petikan gayageum mulai terdengar memenuhi ruangan tersebut. Soo, dengan jari-jarinya yang lentik begitu gemulai memainkan alat musik itu. Terdengar sangat indah. Mereka begitu terhibur dan terkesima dengan kelihaian Soo dalam bermain gayageum. Mereka bertepuk tangan ketika Soo mengakhiri permainannya. Gadis itu berdiri dan membungkuk dengan sangat santun.

“Gadis muda, kau sangat berbakat,” puji Lee Byun Ik.

“Terima kasih Tuan,” Soo membungkuk. Jika saja ia pernah bertemu secara langsung dengan pria itu, Soo pasti akan langsung mengingatnya. Namun selama tinggal di kediaman Lee Byun Ik empat tahun lalu, Soo tidak pernah bertemu langsung dengan tuan itu. Soo hanya melihat pria itu sekilas dari jauh, namun kemudian Soo harus menunduk menatap tanah ketika Lee Byun Ik mengarahkan pandangannya pada Soo. Lee Byun Ik sendiri tak pernah mengingat seperti apa rupa ataupun sekedar menanyakan siapa nama gadis budak yang telah membuat putranya jatuh hati.

“Anak didikmu sangat berbakat, Nok Hee,” Yoo Gwang Jun menatap Nyonya Nok Hee yang kembali menundukkan kepala sebagai ucapan terima kasih. Pria itu lalu menatap pada Soo, “Katakan, siapa namamu?” tanyanya.

Soo terlihat ragu, ia menatapi Nyonya Nok Hee. “Hamba adalah Soo,” jawabnya setelah Nyonya Nok Hee mengangguk agar ia mengatakan siapa dirinya.

Lee Dong Hae yang sedari tadi tak menaruh perhatian pada gadis-gadis cantik di sekelilingnya, mendadak tertegun begitu mendengar nama itu. Dong Hae menolehkan kepalanya, menatap langsung pada Soo. Bola mata Dong Hae sedikit melebar. Meskipun empat tahun berlalu dan Soo telah tumbuh menjadi gadis yang semakin cantik, namun Dong Hae masih mengenali wajah itu. Soo masih tersenyum tipis dan sangat lembut. Gadis itu mengalami banyak perubahan. Sejurus kemudian raut wajah Dong Hae berubah sedih.

“Jika keajaiban itu ada—bolehkan aku berharap?” bisik Dong Hae lirih dalam hati setelah ia menyadari bahwa Soo telah meninggal. Gadis itu mungkin terlihat seperti Soo namun bisa saja mereka adalah orang yang berbeda.

Mata Soo dan Dong Hae bertemu. Soo tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Soo tak mungkin tidak mengenali wajah tuan muda yang telah membuatnya jatuh hati, bukan? Dan rasa itu masih sama seperti saat ini, ketika dada Soo berdebar-debar halus. Bola mata Soo yang bening tak terlihat berkedip.

“Soo? Apa arti namamu?”

Soo terdiam, ia tak sedikit pun mengalihkan tatapan dari Dong Hae yang juga terus menatapnya intens. “Soo berarti—kesempurnaan,” Soo menjawab dengan lirih.

Jantung Dong Hae berdetak semakin tak jelas. Tak salah lagi, gadis itu adalah gadis yang dikenalnya. Gadis yang diberi nama olehnya. Soo yang sama dengan Soo empat tahun lalu. Ada kebahagiaan yang tiba-tiba saja memaksa masuk ke cela hati Dong Hae setelah mengetahui Soo masih hidup.

~.o0o.~

 

Angin bertiup sejuk. Soo tampak termenung, memandangi daun-daun yang berguguran dihempas angin. Pikirannya sedang menari-nari. Pertemuan beberapa hari yang lalu dengan Lee Dong Hae membuatnya terus melamunkan banyak hal.

“Nona seharusnya menghindari orang itu.”

Lamunan Soo pecah. Ia menatap Yeom yang entah sejak kapan telah berdiri di sisinya. Soo menarik nafas panjang.

“Kau benar, Yeom.”

Tatapan mata Soo kembali menerawang jauh. Setelah sekian lama terpisah, pertemuan dengan Dong Hae tetap mampu menggetarkan hati Soo. Soo sangat senang dan ia tak bisa memungkiri itu, namun apa yang dikatakan oleh Yeom tak bisa ia tangkis. Alasan mengapa ia harus mengalami kejadian mengerikan pada malam empat tahun lalu dan mengapa ia harus hidup dalam persembunyian sudah sangat jelas melarangnya untuk kembali berhubungan dengan Lee Dong Hae.

Soo memutuskan untuk tidak melanjutkan keinginannya untuk bertemu dengan Lee Dong Hae, namun Dong Hae tak pernah absen mendatangi yeongwagwan tempat Soo berada. Usahanya tampak sia-sia. Soo tak sedikit pun menunjukkan niatnya untuk bertemu. Lee Dong Hae mengerti apa yang dirasakan oleh Soo meskipun hatinya sangat sedih karena itu.

Eonni, pemuda itu telah jatuh dalam pesonamu,” ujar Myung Ri.

“Kau tak akan menemuinya?” Ji Yeon bertanya. Mereka sedang berada di dalam kamar Soo.

“Ya,” jawab Soo.

“Kalian telah saling mengenal sebelumnya? Terjadi sesuatu diantara kalian?” selidik Myung Ri.

“Aku sedang tak ingin membahasnya,” gumam Soo. Ia memandangi dua gisaeng yang begitu akrab dengannya. “Aku hanya tidak ingin mengingat kejadian itu lagi,” Soo tersenyum lembut.

“Ah, Eonni. Kau menyia-nyiakan pemuda bangsawan dan tampan sepertinya. Kau mungkin bisa keluar dari tempat ini dan memiliki kehidupan yang lebih baik jika bersama dengan Tuan Muda itu,” Myung Ri menyesalkan keputusan Soo. Soo kembali tersenyum. Myung Ri tak akan memahami apa yang ia alami.

“Dia sangat gigih. Sudah hampir sebulan dia terus datang dan berdiri di situ. Meskipun kau tak menemuinya—dia masih akan terus datang,” ujar Ji Yeon.

“Dia akan pergi setelah lelah,” Soo bergumam.

Ji Yeon dan Myung Ri hanya saling pandang. Mereka mencoba memahami keputusan Soo yang dinilai tak masuk akal. Bagaimana ia bisa mengabaikan seorang tuan muda tampan seperti Lee Dong Hae?

Sepeninggal Ji Yeon dan Myung Ri. Soo masih kembali pada kebiasaannya yang selalu melamun. Soo menatap ke arah jendela kamar tidurnya yang tertutup rapat. Ia tahu jika Dong Hae masih berdiri di sana. Setiap hari pemuda itu selalu menantinya, berdiri di bawah sebuah pohon yang terletak tak jauh dari sisi jendela kamar Soo—berharap gadis itu akan menemuinya. Soo memilih membenamkan tubuhnya dalam balutan kasur dan selimut. Gadis itu mencoba memejamkan mata meski kepalanya terus memikirkan Dong Hae.

Tengah malam Soo terbangun dan tiba-tiba teringat pada Dong Hae. Dengan perlahan Soo menghampiri jendela. Ia cemas jika Dong Hae masih berdiri di luar, udara malam sangat dingin dan terasa menusuk hingga ke tulang. Soo tak mendapati siapa pun di luar sana. Tentu saja, Dong Hae tak mungkin menghabiskan malam dengan berdiri di luar jendela kamar Soo. Ada rasa kecewa yang menjalari hati Soo, gadis itu masih berharap Dong Hae berada di luar sana. Malam tak sepekat biasanya, cahaya bulan purnama yang begitu bulat membuat warna malam lebih cerah. Soo menutupi jendela kamar.

Tak berapa lama, Soo telah melangkah pelan menyusuri halaman. Melihat keindahan bulan adalah hal yang sangat disukai Soo. Matanya terus tertanam pada wajah tenang sang purnama. Hanya lolongan anjing yang sesekali terdengar olehnya.

“Soo.”

Terkejut. Soo menoleh dan mendapati seseorang sedang berdiri tak jauh darinya. Keterkejutan Soo kian bertambah menyadari siapa orang tersebut.

“Tuan—Tuan Muda?” jantung Soo berdetak sangat kencang.

Lee Dong Hae melangkah pelan mendekati Soo. Gadis itu tak mengira jika Dong Hae masih berada di sekitar kediaman gisaeng. Segigih itukah?

“Benar, kau adalah Soo,” di bawah siraman cahaya bulan, Soo mampu melihat senyum hangat Dong Hae.

“Tuan Muda,” kepala Soo seakan sulit digerakan.

“Syukurlah. Syukurlah kau baik-baik saja, Soo.”

Soo terdiam, ia lalu memalingkan wajahnya. “Apa yang Tuan Muda lakukan di sini? Sebaiknya Tuan Muda segera kembali,” Soo berujar pelan. Nyaris tak terdengar.

“Aku hanya ingin melihatmu. Memastikan kau baik-baik saja,” jawab Dong Hae.

“Tuan Muda sudah mengetahuinya sekarang,” bisik lirih Soo. “Aku harus kembali ke dalam. Pulanglah, udara semakin dingin!” Soo melangkah, ia berjalan melewati Dong Hae yang mematung.

Pemuda itu membalikkan tubuhnya, memandangi Soo yang berjalan menjauh. Dong Hae lalu mengayunkan kakinya tergesa-gesa. Ia menyusuli Soo dan langsung melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Soo, mengurung Soo dalam dekapannya. Soo tertegun begitu menyadari Dong Hae sedang memeluknya dari belakang.

“Maafkan aku.”

“Tuan Muda.”

“Seharusnya aku melindungimu saat itu,” ucap Dong Hae penuh penyesalan. “Bahkan aku tak mencoba mencarimu, hanya percaya pada perkataan Ayah jika kau sudah…”

“Aku sudah pasti mati, jika saat itu seseorang tak menolongku,” potong Soo cepat.

“Maafkan aku, Soo.”

“Tak ada yang perlu dimaafkan,” Soo berujar pelan. Soo tak tahu bagaimana harus bersikap.

“Terima kasih. Terima kasih karena kau masih hidup,” ucap Dong Hae. Soo dapat merasakan nafas Dong Hae di belakang telinganya. “Mulai saat ini, aku yang akan melindungimu.”

Soo mematung mendengar perkataan Dong Hae. Kalimat itu secara tidak langsung mengisyaratkan jika Dong Hae sedang mengutarakan perasaannya.

“Tuan Muda, aku adalah gadis yang berasal dari keturunan rendah,” kata Soo setelah menangkap maksud dari pemuda tersebut.

“Namun kau tetaplah manusia.”

“Tuan Muda, Anda harus ingat bahwa aku adalah gadis yang hampir kehilangan nyawa karena Anda,” Soo kembali mengelak. Dadanya mulai sesak ketika terus mengucapkan kalimat-kalimat penolakan.

Lee Dong Hae terdiam, ia kemudian mempererat pelukannya. “Aku pasti akan melindungimu,” katanya lagi.

Air mata Soo menetes begitu saja. Sedih dan bahagia bercampur aduk menjadi satu. Soo hanya membiarkan Dong Hae terus memeluknya. Bulan menjadi saksi kisah percintaan beda kelas tersebut. Tak hanya sang rembulan, ada orang lain yang ikut menyaksikan kejadian itu. Seseorang yang sedang duduk di dahan sebuah pohon. Yeom merapatkan bibirnya. Ia hanya memandang dengan sorot mata dingin dengan sejuta arti yang sulit untuk diterjemahkan. Yeom tak melepaskan pandangan dari kedua orang di bawah sana. Ia menarik nafas panjang, ekspresinya tampak tenang seperti biasanya.

“Kau tak bisa mencegah mereka Yeom,” Nahwan telah duduk di dahan yang sama dengan Yeom. Dua orang itu tak terlihat takut jika terjatuh.

“Mereka akan baik-baik saja?”

“Kita akan mengetahuinya nanti,” Nahwan berujar tenang. “Tapi Yeom, aku tak tenang melihatmu terus berada di sekitar gadis itu,” Nahwan menyampaikan isi hatinya secara terbuka.

“Aku telah memutuskan sejak aku menyelamatkannya pada malam itu,” ia teringat kembali ketika menolong Soo pada saat terjadi pembantaian terhadap keluarganya. Nahwan hanya memandangi Yeom. Jelas sekali kegelisahan di hati Nahwan.

~.o0o.~

 

Di dalam sebuah ruangan di yeongwagwan. Seorang pemuda bangsawan terlihat bersenang-senang dengan sejumlah gisaeng. Ia terus menenggak minuman keras. Tertawa gembira dan sesekali merayu para gisaeng yang hanya tersipu-sipu malu dibuatnya. Pemuda itu adalah Yoo Dae Chul, putra dari Menteri Aparatur Negara Yoo Gwang Jun. Hampir setiap malam dihabiskannya dengan bersenang-senang di yeongwagwan. Dae Chul memiliki perilaku yang sangat buruk.

“Ah, di mana Soo?” ia mengawasi satu per satu wajah gadis-gadis yang menemaninya. “Bawa Soo ke hadapanku. Sekarang juga!” perintahnya.

“Tuan Muda, utusan dari Qing berada di ruangan sebelah dan Soo sedang bermain gayageum untuk menghibur mereka!” terang gisaeng itu. Gayageum adalah alat musik petik tradisional yang berupa kecapi dengan dua belas senar.

PLAK!

Sebuah tamparan keras dilayangkan Dae Chul ke wajah mulus gisaeng yang baru saja menjelaskan keberadaan Soo.

“Kau menentangku?” bola mata Dae Chul seperti akan melompat dari tempatnya ketika ia memandangi gisaeng yang ketakutan itu. “Siapa lagi yang akan menentangku?” geram Dae Chul. Ia menyapu kasar semua peralatan minum di atas meja membuat gadis-gadis itu semakin ketakutan. Kearoganan Dae Chul semakin menjadi-jadi ketika ia mabuk.

Nyonya Nok Hee masuk ke dalam ruangan tersebut setelah mendengar keributan yang sedang terjadi, “Tuan Muda,” ia memandangi Dae Chul yang masih diliputi kemarahan.

“Bawa Soo ke sini sekarang juga!”

Nyonya Nok Hee terdiam sesaat. “Baik, Tuan Muda,” ia lalu meninggalkan tempat tersebut.

Tak berapa lama, Nyonya Nok Hee telah kembali ke ruangan itu diikuti oleh Soo. Dae Chul tersenyum lebar. Ia mengisyaratkan Soo dengan tangannya agar gadis itu mendekat. Nyonya Nok Hee mengangguk pelan ketika Soo menatap ke arahnya, tatapan mata nyonya yeongwagwan tersebut seolah sedang mengatakan pada Soo agar tidak membuat kemarahan tuan muda itu kian menjadi-jadi. Soo lalu melangkah mendekati Dae Chul. Ia duduk di sisi Dae Chul.

“Kalian semua boleh pergi!” perintah Dae Chul, “Kecuali gadis ini,” katanya lagi sambil tersenyum pada Soo.

Mereka semua segera menuruti perintah Yoo Dae Chul. Soo terlihat sangat tenang, ia berusaha untuk tidak terpancing dengan perilaku Dae Chul.

“Aku membutuhkan jawabanmu sekarang juga,” Dae Chul menatap Soo dalam-dalam.

“Tuan Muda, di luar sana banyak gadis cantik yang berasal dari keluarga terhormat. Aku hanyalah seorang gisaeng,” Soo mengemukakan alasannya menolak Dae Chul.

Yoo Dae Chul telah jatuh hati pada Soo sejak pertama kali ia melihat Soo, jauh sebelum Soo bertemu kembali dengan Dong Hae. Dae Chul begitu gencar menarik perhatian Soo dan berusaha untuk mendapatkan hatinya, namun gadis itu tidak semudah yang ia pikirkan. Soo sangat gigih. Terlebih lagi, sudah ada orang lain di dalam hati Soo.

“Soo, jika kau bersamaku kau tak perlu hidup seperti ini. Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan. Uang? Emas? Kedudukan? Semua akan kupenuhi!” bujuk Dae Chul.

“Aku berterima kasih. Tuan Muda begitu memperhatikanku, namun harta tidak menjamin kebahagiaan seseorang.”

Dae Chul mendesah, ia menatap kesal pada Soo. “Gadis sepertimu ternyata masih memiliki harga diri yang sangat tinggi.”

“Aku hanya berharap yang terbaik untuk Anda, Tuan Muda,” Soo berujar pelan.

“Ada orang lain di hatimu?” tebak Dae Chul. “Katakan, siapa dia?”

Soo sejenak tertegun mendengar pertanyaan Dae Chul. Ekspresinya kembali menenang. “Tidak ada yang seperti itu, Tuan Muda,” jawab Soo.

Dae Chul mengernyit, “Aku tahu kau berbohong,” katanya lagi. Raut wajah pemuda itu terlihat tak senang. Ia lalu berdiri dengan sangat kasar. “Aku masih menunggu jawabanmu!” tegas Dae Chul, perkataan itu memaksa Soo agar menerima pinangannya. Soo tak bersuara lagi, ia hanya memandangi Dae Chul yang mengggeser pintu dengan kasar. Dae Chul meninggalkan tempat itu, tentu saja bersama-sama pengawal pribadi yang selalu mengikuti kemanapun ia pergi.

~.o0o.~

Biro Kepolisian. Lee Dong Hae sedang mengamati berkas-berkas yang memenuhi meja. Ia terlihat sibuk dengan beberapa bawahannya. Sudah berjam-jam lamanya mereka tak berpindah dari tempat itu.

“Kau sangat bersemangat.”

Dong Hae menoleh. Yoo Dae Chul sudah berdiri di ambang pintu. Seperti Dong Hae, Dae Chul adalah perwira di Biro Kepolisian. Kedua orang itu tak cukup akur. Dae Chul melangkah mendekati mereka, ia menarik sebuah kertas dan mengamati benda tersebut.

“Apa kau bahagia sekarang?” tanya Dae Chul enteng. Dong Hae tak berniat untuk menanggapi pertanyaan rivalnya itu. “Selamat. Akhirnya kau berhasil menangkap anggota organisasi itu,” ia tersenyum sinis.

“Kuanggap itu adalah hutangku. Aku akan membalas ucapan selamatmu ketika kau berhasil meringkus lebih banyak dari mereka,” Dong Hae tersenyum. Perkataannya membuat Dae Chul menggeram, ia lalu pergi meninggalkan mereka setelah melempar kasar kertas di tangannya.

Mereka kembali fokus pada pekerjaan mereka, setidaknya sebelum seorang petugas menghampiri Dong Hae dengan terburu-buru.

“Tuan!” ia terlihat panik. “Orang itu bunuh diri!”

Mendengar laporan sang petugas membuat Dong Hae segera berlari, semua yang ada di ruangan itu beranjak mengikuti Dong Hae. Mereka menuju ke sebuah bangunan di mana di dalamnya terbagi atas ruang-ruang kecil, penjara bagi orang-orang yang ditangkap. Tahanan-tahanan itu akan menjalani masa interogasi yang sarat dengan penyiksaan. Beberapa diantaranya telah diinterogasi oleh petugas, terlihat dari penampilan mereka yang acak-acakan serta tubuh yang penuh dengan luka. Dong Hae menuju ke sebuah tempat, penjara dengan ukuran yang lebih kecil. Seorang pria telah tergeletak dengan mulut yang bersimbah darah. Dong Hae memasuki ruang tahanan yang pintunya telah dibuka itu, ia memeriksa nadi pria tersebut.

“Apa yang terjadi?” Dong Hae menatapi seorang petugas yang seharusnya mengawasi para tahanan.

“Beberapa waktu yang lalu dia masih terlihat baik-baik saja sebelum aku menemukannya seperti ini,” petugas itu menjawab dengan sangat gugup. “Dia menggigit lidahnya sendiri.”

“Tuan,” seorang petugas polisi memandangi Dong Hae. “Kita akan semakin kesulitan menangkap anggota organisasi lainnya,” katanya lesu. Dong Hae tak menjawab namun ia cukup membenarkan pernyataan petugas bawahannya itu.

Pria yang tewas itu adalah seorang anggota dari komplotan pembunuh bayaran yang menamakan organisasi mereka Pedang Merah. Pedang Merah beranggotakan para pembunuh berdarah dingin yang tak kenal ampun dalam mengeksekusi korban. Organisasi tersebut sudah menjadi incaran kepolisian sejak lama, namun mereka sangat terlatih sehingga sulit mencium jejak organisasi itu. Setelah perburuan panjang, Dong Hae berhasil melumpuhkan salah seorang anggota organisasi terlarang itu. Harapannya untuk segera meringkus semua anggota Pedang Merah harus dipendam setelah pria itu memilih mengakhiri hidupnya.

~to be continue~

Semoga ceritanya bisa dimengerti (padahal banyak yg bingung hohoho)… thema saeguk cukup berat dan tidak bisa diceritakan segamblang cerita modern jd sengaja tidak dibuat panjang per chapter dgn tujuan bisa lebih dimengerti.

So, nikmati waktu kalian di sini dan tidak henti2 aku minta supaya kalian bisa memberikan tanggapan. Ini pertama kali aku membuat cerita dgn genre saeguk yg lumayan memusingkan kepala *abaikan* dan berharap ada pelajaran yg bisa diambil dari saran dan kritikan kalian.

Ah, sekedar informasi…Setelah mempertimbangkan satu dan lain hal *apaan coba* dan dengan alasan yang cukup aku aja yang tau 😀 *pelit*, aku memutuskan bahwa ff “Under The Joseon Sky” hanya akan publish 2 minggu sekali. Mohon pengertian kalian semua ya ^^

O ya.. aku punya sesuatu yang bakalan publish di tanggal 01 Januari 2014 *anggap aja ini sogokan biar kalian gak ngambek krn UTJS publish 2 minggu sekali* 😀

Ok, sekian dan be a good reader

Iklan

232 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 7)

  1. shatia berkata:

    Akhirnya Donghae ketemu lagi sama Soo, , makin banyak dong yg suka sama Soo,, Donghae, Dae Chul, Jangan2 Yeom juga naksir sama Soo…
    makin seru…

  2. kim yoo jung berkata:

    sepertinya makin kesini aku tau siapa pemeran utama cowoknya
    menurutku sih lee donghae
    benerkan thor???
    baca ff ini kerasa banget saeguknya.
    suka banget ….

  3. baekxo berkata:

    akhirnyaa mereka ketemu
    soo disini wajahnyakayak siapa ya thor ? biar bisa bayangin visualnya soo
    hehe

  4. leei berkata:

    aaaa biglove thor..keren babget ceritanya huhu ngga tau harus bilang apa lagi yg pasti ini keren bangettt ㅠㅠ

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s