Under The Joseon Sky (Part 8)

cropped-cropped-banner-korea1

Cast :

Ammy/Hwang Hwa Mi/Soo (OC) || Lee Donghae || Cho Kyuhyun as Yeom || Lee Hyukjae as Nahwan || Choi Siwon as Myungjin || Kim Jong Woon as Jongshin || Park Jung Soo as Kaisar Langit || Other

Marchia’s note : Sangat tidak diharapkan adanya praktek plagiat, jika kalian menemukan sesuatu yang mencuriga tolong laporkan ke sy. Say no to plagiat!

*

 ~ Dua Orang Pelindung ~

 

Tak biasanya Soo berjalan sendiri. Jika hendak pergi ke suatu tempat, Soo selalu bersama-sama dengan gisaeng lainnya tapi hari ini Soo tampak seorang diri. Dia memiliki suatu keperluan yang sangat mendadak. Kini Soo dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan urusannya. Langkah kaki Soo tertahan. Tak jauh darinya, beberapa orang anak terlihat sedang mengelilingi seorang gadis kecil. Alis Soo saling bertaut, ia mengenali gadis kecil itu. Anak bangsawan yang ditolongnya beberapa waktu lalu di pasar. Sepertinya anak itu tak bosan-bosan berurusan dengan anak-anak kelas rendah yang nakal. Soo segera menghampiri gadis kecil yang tak lain adalah Lee Ryeon. Melihat kedatangan Soo, anak-anak nakal itu akhirnya memilih untuk segera menghindar.

“Apakah kita harus selalu bertemu dalam situasi seperti ini?” Soo tersenyum pada Ryeon.

Ryeon menatap Soo dengan tatapan tak percaya, “Eonni, benarkah itu adalah kau?” ia memekik girang ketika Soo mengangguk.

Seperti dua orang yang telah saling mengenal sejak lama, Soo dan Ryeon menjadi akrab. Soo bahkan tak bisa melanjutkan perjalanan pulang setelah Ryeon memaksa Soo untuk menemaninya jalan-jalan. Soo tidak merasa keberatan dengan paksaan Ryeon karena ia menyukai sifat Ryeon yang periang. Sesekali Soo tertawa geli karena tingkah Ryeon, ia merasa heran karena Ryeon yang tak berhenti berceloteh.

Eonni, terima kasih sudah menolongku waktu itu. Kau bahkan sudah dua kali menolongku,” ujar Ryeon.

“Kuharap, kau tak terus bermasalah dengan anak-anak itu,” Soo berkata lembut.

“Ada orang lain yang juga berterima kasih padamu karena telah menolongku,” Soo sedikit mengernyit mendengar penuturan Ryeon, “Kakakku,” jawab Ryeon. Gadis itu lalu mendesah, “Akan lebih baik jika dia menyampaikan langsung. Ah, setidaknya aku telah mewakilinya,” katanya lagi dan ekspresi wajahnya kembali cerah.

Soo tak henti-henti mengumbar senyum. Mereka terus melangkah di sepanjang jalan.

“Kau menyukai mae hwa?” Ryeon memandangi Soo setelah langkah kaki Soo terhenti tepat di bawah pohon bunga mae hwa.

“Ya,” jawab Soo. “Bunga ini, selalu mengingatkanku pada seseorang.”

Ryeon memandangi wajah Soo yang penuh dengan senyuman, Soo terlihat sangat bahagia. “Eonni, orang itu—apakah dia kekasihmu?”

“Mengapa kau bertanya seperti itu?” Soo menatapi Ryeon setelah mendengar pertanyaan gadis kecil tersebut.

Eonni tersenyum seperti itu, bukankah para gadis akan selalu tersenyum bahagia hanya karena memikirkan kekasih mereka?” perkataan seperti itu dari mulut anak sekecil Ryeon cukup membuat Soo tak dapat menyembunyikan tawanya.

“Lee Ryeon, di sini rupanya kau.”

Ryeon tertegun, ia seperti pencuri yang kedapatan oleh tuan rumah. Dengan perlahan menoleh pada sumber suara, “Orabeoni,” Ryeon terkekeh. Gadis kecil itu selalu mencoba melarikan diri dari kamar tidurnya yang nyaman hanya untuk berjalan-jalan di tengah kota yang sarat dengan bahaya. Soo ikut menoleh dan ia tertegun mendapati seorang pemuda dalam balutan seragam pejabat perwira Biro Kepolisian.

“Soo?” Dong Hae juga terkejut setelah sadar jika gadis yang bersama Ryeon adalah Soo.

Orabeoni, kau masih ingat ceritaku tentang kakak cantik yang menolongku?” Ryeon bertanya dengan sangat antusias. Soo dan Dong Hae sama-sama mematung. “Tunggu…kalian sudah saling mengenal?” giliran Ryeon yang menatapi Dong Hae dan Soo secara bergantian, berharap ada penjelasan yang keluar dari mulut kedua orang itu.

Tiga orang itu menapaki ruas jalan dengan langkah pelan, sepanjang perjalanan hanya diisi dengan kebisuan. Ryeon tak jemu-jemu memandangi wajah kakaknya dan juga Soo. Ia heran melihat kedua orang itu terus tersenyum. Mereka akhirnya tiba di depan soseldaemun (gerbang utama hanok) keluarga Lee. Melihat seorang wanita yang tengah berdiri di halaman sambil menikmati angin Sore, Ryeon segera berlari menghampiri wanita itu dan bermanja dalam dekapan wanita paruh baya tersebut. Soo yakin jika dia adalah ibu dari Dong Hae dan Ryeon.

“Tuan Muda, mungkin sebaiknya aku segera kembali,” Soo tiba-tiba teringat jika ia punya pengalaman pahit di tempat itu.

“Tunggu!” Dong Hae menangkap pergelangan tangan Soo. “Aku akan mengantarmu!”

“Tuan Muda tak perlu cemas, aku tak akan tersesat.”

“Jangan menolak! Kau telah menolong adikku. Setidaknya biarkan aku berterima kasih padamu. Juga, perjalanan ke tempatmu cukup jauh dan hari sudah semakin sore. Kau mungkin bertemu dengan orang jahat.”

Soo tak dapat mematahkan perkataan Dong Hae. Ia akhirnya hanya menuruti perkataan tuan muda itu. Soo menunggu beberapa saat, setelah itu Dong Hae menghampirinya bersama kuda kesayangannya. Dada Soo berdebar-debar halus ketika ia duduk di belakang Dong Hae. Kuda yang ditunggangi mereka melangkah pelan.

“Berpegangan yang kuat jika kau tak ingin terjatuh,” belum sempat Soo mencerna kalimat Dong Hae ketika pemuda itu menghentak dan kuda itu berlari kencang. Seketika itu juga Soo mengurung pinggang Dong Hae dengan kedua tangannya.

Jantung Soo berdebar keras. Soo menjadi salah tingkah dan ketika ia hendak melepaskan pelukannya, Dong Hae justru menahan kedua tangan Soo agar tetap pada posisi itu. Soo merasa tubuhnya memanas, ia hanya mampu menyandarkan wajahnya yang memerah pada punggung Dong Hae. Pemuda itu tersenyum. Dong Hae tak membawa Soo menuju yeongwagwan tempat Soo tinggal. Ia justru memutar ke arah lain. Mereka berjalan melewati hutan pinus. Soo mengenali jalan itu. Lalu mereka tiba di sebuah bukit. Pemandangan Kota Hanyang terlihat jelas dari bukit itu. Ya, Dong Hae pernah membawa Soo ke tempat itu empat tahun lalu. Pemandangan Hanyang di bawah sinar matahari sore terlihat seperti sebuah lukisan.

“Kau masih menyukai tempat ini?” Tanya Dong Hae.

“Selalu indah seperti sebelumnya,” Soo tersenyum.

Kedua orang itu bungkam sekian lama. Mereka sangat menikmati pemandangan itu dan bermain dengan alam pikiran mereka. Dong Hae menoleh pada Soo yang berdiri di sisinya. “Menikahlah denganku,” perkataan Dong Hae membuat Soo berpaling seketika menatapnya.

“Tuan Muda?”

“Menikahlah denganku—Soo,” Dong Hae mengulangi perkataannya.

“Tuan Muda,” jantung Soo berdebar keras. “Apa yang Tuan Muda pikirkan?” Soo menggeleng tak percaya.

“Aku ingin menikahimu, dengan begitu aku dapat melindungimu,” Dong Hae berkata dengan sangat tenang.

Mata Soo masih menatap lebar pada Dong Hae. Gadis itu belum bisa mempercayai apa yang baru saja keluar dari mulut Dong Hae. Sorot mata Soo berubah sayu, raut wajahnya tampak sendu.

“Jika hanya untuk melindungiku, Tuan Muda tak perlu menikahiku,” Soo bergumam pelan.

“Aku mencintaimu!” tegas Dong Hae.

“Tuan Muda, meskipun aku bahagia saat bersama Tuan Muda tapi aku tak pernah bahkan tak berani bermimpi hidup bersama Tuan Muda,” ujar Soo, ia menyadari ada tembok pembatas antara mereka yang tak bisa ia runtuhkan.

“Karena status?”

“Tuan Muda adalah orang yang sangat baik. Aku bersyukur mengenal Tuan Muda yang tak membedakan status kami,” kata Soo, suaranya terdengar memelan. “Tapi kita hidup di tengah masyarakat dan perbedaan kelas masih menjadi masalah yang sangat mendasar.”

“Soo.”

“Maafkan aku, mungkin sebaiknya kita tidak bertemu,” Soo berkata lirih. Ia berpaling meninggalkan Dong Hae yang diam seribu bahasa. Tak terima dengan perkataan Soo, Dong Hae berlari menyusuli gadis itu. Dia menangkap pergelangan tangan Soo dan meraih tubuh Soo ke dalam dekapannya.

“Kau tak percaya padaku?”

Soo menitikkan air mata mendengar pertanyaan Dong Hae, “Tuan Muda adalah orang yang paling kupercaya.”

“Jika karena perbedaan kelas, melepas status kebangsawanan bukanlah sebuah masalah untukku.”

“Tuan Muda adalah orang yang bodoh jika melakukan itu.”

“Jika menjadi bodoh dapat membuatmu tetap berada di sisiku, aku lebih memilih menjadi orang bodoh.”

“Tuan Muda benar-benar bodoh,” air mata Soo kembali menetes.

Dong Hae melonggarkan pelukannya. Ia menatap wajah Soo yang sembab. Dong Hae mendaratkan kecupan di dahi Soo. Soo hanya mampu memejamkan mata, meresapi kecupan dengan durasi yang cukup lama itu. Dong Hae kembali merangkul Soo ke dalam pelukannya.

***

Hari sudah gelap ketika Lee Dong Hae dan Soo tiba di depan gerbang yeongwagwan. Dong Hae membantu Soo turun dari kuda.

“Masuklah,” ujar Dong Hae.

“Iya,” jawab Soo dengan pipi yang merah merona.

Soo melangkah meninggalkan Dong Hae. Sesekali ia menoleh kepada Dong Hae dan pemuda itu akan melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.

“Benarkah?” tak jauh, seseorang telah mengamati Soo dan Dong Hae. “Diakah?” Yoo Dae Chul tersenyum sinis. Perlahan senyuman di wajahnya hilang. Hanya terlihat amarah yang memancar dari bola matanya. Kedua tangannya mengepal dengan sangat erat.

~.o0o.~

Terjadi kegaduhan dalam sebuah ruangan di yeongwagwan. Tamu-tamu yang datang ke tempat itu memamerkan wajah heran mereka ketika melewati ruangan yang menjadi sumber keributan. Yoo Dae Chul yang telah mabuk berat sedang mengamuk. Gisaenggisaeng yang bersamanya segera menghindari pemuda pemarah itu, tak ada yang berani mendekati Dae Chul.

“Di mana Soo?” katanya setelah kembali meneguk arak. “AKU INGIN SOO DI SINI!” ia berteriak keras lalu melempar gelas keramik di tangannya hingga hancur berkeping-keping.

Atas perintah Nyonya Nok Hee, seorang gisaeng segera memanggil Soo. Soo lalu menuju tempat di mana Dae Chul berada, ia menarik nafas panjang sebelum memasuki ruangan tersebut. Dae Chul tersenyum sinis pada Soo.

“Tuangkan aku arak!”

Soo tak bersuara. Ia hanya mendekati Dae Chul dan menuangkan arak ke sebuah gelas keramik lainnya. Dae Chul menghabiskan isi gelas itu dalam sekali teguk. Pemuda itu mengamati lekat wajah tenang Soo.

“Baiklah, aku sudah memberikanmu banyak waktu. Sekarang kau harus menjawabku!”

“Tuan Muda, jawaban hamba akan selalu sama.”

BRAGH!

Yoo Dae Chul meninju kasar meja di hadapannya, “Kau menolakku?” bola mata Dae Chul seperti ingin melompat keluar.

Melihat Soo yang begitu tenang, kemarahan Dae Chul kian meningkat. Dengan kasar ia menarik jogeori (baju bagian atas hanbok yang lebih pendek dan ketat) yang dikenakan Soo menyisakan chima (rok panjang) dan juga heorimari (korset pendek berwarna putih yang terbuat dari kain linen) sehingga memamerkan keindahan bahu Soo dengan kulit putih mulusnya.

“Tuan Muda,” Soo mulai ketakutan.

“Kau menolakku hanya karena orang itu? Lee Dong Hae?”

Soo terkejut. Yoo Dae Chul yang gelap mata mulai menciumi Soo dengan paksa, gadis itu merontah kasar. Soo berusaha melawan, namun tenaga Dae Chul sangat besar. Dengan sekuat tenaga Soo mendorong tubuh Yoo Dae Chul. Soo hanya menangis ketakutan.

“Apa yang kau lakukan?” Dae Chul semakin marah. Ia menampar wajah Soo hingga membuat pipi mulus Soo memerah. “Siapa kau hingga berani menyentuhku? Dasar gadis rendah!”

Yoo Dae Chul menarik lengan Soo. Ia membawa paksa Soo keluar dari dalam ruangan itu. Para gisaeng tampak ketakutan melihat Soo diseret oleh Dae Chul, namun mereka tak berani untuk menolong Soo. Dae Chul menyeret Soo hingga ke halaman dan menyuruh pengawal pribadinya mengikat tubuh Soo di batang pohon. Seorang pengawalnya menyerahkan busur dan anak panah kepada Dae Chul. Kejadian itu menjadi tontonan semua orang yang berada di situ.

“Jika kalian ingin menolongnya, silahkan menggantikan posisi gadis itu!” Dae Chul memandang semua orang yang terlihat ketakutan.

“Tuan Muda,” Soo semakin ketakutan dan air matanya terus menetes. Ia berusaha untuk melepaskan diri meskipun usahanya sia-sia karena tali itu begitu kuat mengekangnya.

“Mari kita lihat, apakah Lee Dong Hae akan menolongmu?” senyum Dae Chul mengembang. “Jangan takut, aku orang yang sangat ahli—panahku tak akan melukaimu, Soo,” ujar Dae Chul. Ia menargetkan sebuah tanda yang ditorehkan oleh pengawalnya tepat di atas kepala Soo. Sebuah tanda silang.

Soo merasakan ketakutan yang sangat besar. Yoo Dae Chul memang memiliki keterampilan memanah yang baik, tapi saat ini ia berada dalam pengaruh alkohol. Para gisaeng terlihat sangat cemas dan takut. Seluruh tubuh Soo terasa kaku melihat Dae Chul menarik anak panah dan mengarahkan pada Soo. Dae Chul lalu melepaskan anak panah itu dan Soo langsung memejamkan matanya. Semua orang memekik.

Sekian menit berlalu, Soo membuka matanya perlahan. Ia terkejut, Yeom berdiri begitu rapat di hadapannya, menyandarkan sebelah tangannya di batang pohon, tepat di atas kepala Soo. Yeom baru saja melindungi Soo. Gadis itu dapat merasakan nafas Yeom di puncak dahinya karena begitu rapatnya posisi mereka. Darah yang mengucur di lengan Yeom membuat bola mata Soo melebar. Ada sebuah anak panah yang tertancap di lengan kiri Yeom.

“Yeom,” gumam Soo pelan.

“Nona tak apa-apa?” Yeom tak memperdulikan lukanya, ia hanya mencemaskan Soo. Soo yang ketakutan karena peristiwa itu justru kehilangan kesadaran. Dengan Sigap Yeom melepaskan ikatan di tubuh Soo.

“YOO DAE CHUL!”

Lee Dong Hae baru saja memasuki gerbang utama yeongwagwan, ia memandang marah pada Dae Chul. Pemuda itu menghampiri Dae Chul dan langsung meninju wajah Dae Chul. Para pengawal pribadi Dae Chul mulai menyerang Dong Hae, namun mereka bukanlah tandingan Dong Hae. Dae Chul yang tersungkur di tanah hanya tersenyum puas sambil membersihkan darah segar yang mengalir dari cela bibirnya.

***

Lee Dong Hae menatap Soo yang masih memejamkan mata. Kejadian itu membuat Soo sangat syok, kesadarannya belum kunjung tiba. Dong Hae merapikan selimut yang menutupi tubuh Soo, ia lalu beranjak meninggalkan kamar Soo. Dong Hae terlihat berbicara sebentar dengan Nyonya Nok Hee sebelum akhirnya berjalan keluar dari bangunan tersebut. Ia mendapati Yeom sedang berdiri di luar. Dong Hae berjalan mendekati Yeom.

“Maaf telah merepotkanmu,” kata Dong Hae, ia menatap lengan Yeom yang telah dibalut oleh kain.

“Aku adalah pelindung Nona,” jawab Yeom.

“Terima kasih, tapi mulai saat ini akulah yang akan melindungi Soo.”

Yeom menoleh pada Dong Hae. Kedua orang itu saling pandang dengan sorot mata yang aneh. “Bukan Anda yang memutuskan,” kata Yeom. Ia berjalan meninggalkan Dong Hae yang bungkam.

~.o0o.~

 

Di istana langit, Jongshin dan Myungjin menatap serius pada Nahwan. Dewa periang itu hanya tersenyum.

“Apa yang kau kenakan itu?” Myungjin menatap aneh pada Nahwan.

“Bukankah kita akan berbaur dengan manusia?” Nahwan memandangi Myungjin dan Jongshin dengan jubah kebesaran mereka. “Jika tak ingin menjadi sorotan, sebaiknya sesuaikan penampilan kalian,” ujar Nahwan.

“Kurasa, kaulah yang akan menjadi sumber sorotan itu,” Jongshin menatap Nahwan dengan sangat dingin.

Nahwan yang kebingungan akhirnya menatapi dirinya sendiri. Ia lalu terkekeh menyadari penampilannya. Nahwan dengan potongan rambut pendek berwarna coklat gelap. Celana panjang hitam dan kemeja putih yang dua kenop teratasnya sengaja tidak dikancing. Lengan kemeja putih itu digulung asal-asalan sebatas siku. Dia memang terlihat sangat tampan, hanya saja…

“Aku lupa,” Nahwan tak berhenti tertawa. “Penampilan seperti ini baru akan terkenal di negara ini beberapa ratus tahun lagi,” senyum Nahwan. Jongshin dan Myungjin hanya mendesah.

Dalam sekejap, ketiga dewa itu telah berada di Kota Hanyang. Mereka telah berpakaian layaknya pakaian yang biasa dikenakan oleh bangsawan, tak lupa gat atau topi yang terbuat dari anyaman rambut kuda. Gat yang dipakai para bangsawan dihiasi oleh manik-manik. Keberadaan tiga pria tampan itu tentu saja menguras perhatian. Mereka terus berjalan mengawasi keadaan sekitar mereka. Tujuan akhir mereka sudah jelas, yeongwagwan. Yeom menarik nafas panjang melihat tiga pria yang menghampirinya.

“Kalian sengaja mengunjungiku?” tanya Yeom.

“Istana langit terasa membosankan tanpamu, Yeom,” ucapan Nahwan hanya disambut dengan cibiran Jongshin.

“Kau memilih tempat yang menarik untuk menghabiskan masa hukumanmu,” goda Myungjin. Mereka memandangi para gisaeng yang kini sedang terkesima karena keberadaan empat pria tampan tersebut. Gisaenggisaeng itu tak akan pernah menduga jika pria-pria menawan tersebut adalah para dewa.

“Bukankah kalian terlalu sering mengurusi seseorang yang sedang dalam masa hukuman?” sindir Yeom.

“Kami sedikit mencemaskanmu,” balas Myungjin.

“Kami?” Jongshin menatap Myungjin. Ia memprotes kata kami karena ia tak sedikit pun mencemaskan Yeom.

“Apa yang ingin kau katakan?” Yeom sadar jika Nahwan terus menatap tajam padanya.

“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan,” kata Nahwan. “Yeom, jangan lanjutkan apa pun yang ada di kepalamu!”

“Kalian tak perlu mengaturku,” gumam Yeom.

“Tunggu dulu,” Jongshin menatap Nahwan, lalu berpaling pada Yeom. “Jangan katakan jika kau…,” ia memilih tak melanjutkan perkataannya.

“Kau tahu peraturannya, Yeom!” tak hanya Jongshin, Myungjin akhirnya mengerti apa yang sesungguhnya sedang terjadi. “Kau tak boleh meneruskan itu. Jangan menciptakan pelanggaran lagi. Semua yang kau rasakan adalah mustahil. Saat ini kau memang manusia, tapi jangan lupa kau hanya sedang menjalani hukuman dan suatu saat kau akan kembali pada kedudukanmu. Kau harus ingat itu Yeom!” Myungjin memperingkatkan Yeom.

~.o0o.~

Kejadian yang menimpa Soo dua hari lalu membuat kesehatan Soo menurun. Ia menghabiskan waktunya hanya dengan beristirahat. Malam kembali menjemput. Soo melangkah pelan di halaman. Soo sedang ingin menikmati langit malam yang dipenuhi oleh ribuan bintang. Entah sudah berapa lama Soo tak menikmati kesenangannya itu.

“Nona, udara malam sangat dingin,” Soo menoleh dan mendapati Yeom sedang menghampirinya.

“Bagaimana keadaanmu?” tatapan Soo tertuju pada kain yang membalut lengan Yeom.

“Hanya luka gores,” jawab Yeom menyangkali keseriusan lukanya.

“Terima kasih,” Soo menatap Yeom. Ia sangat berterima kasih pada Yeom yang selalu menolongnya.

“Nona, mengapa terus menuju sumber bahaya?” tanya Yeom.

“Jangan cemas Yeom. Aku akan baik-baik saja,” Soo mengerti siapa yang dimaksud oleh Yeom.

“Tolong jauhi orang itu,” kalimat Yeom membuat Soo terkejut. “Nona akan terus diincar bahaya selama berada di sisi orang itu. Bukankah sudah kuperingatkan sebelumnya, Nona harus menjauhinya!”

“Kau tak berhak mengatur hidupku!” Soo menatap Yeom kesal. “Aku tak memintamu untuk terus berada di sisiku. Kau boleh pergi kapanpun kau ingin!”

Yeom terdiam. Ia lalu menarik Soo. Memegangi lengan Soo dengan kedua tangannya dan hal itu membuat Soo terkejut. Posisi mereka begitu rapat. Melihat wajah tampan Yeom dalam jarak yang sangat tipis mampu mendebarkan dada Soo.

“Lakukan apa pun yang ingin Nona lakukan,” gumam Yeom. Ia menatap tajam mata Soo. “Aku—pasti melindungi Nona,” katanya tenang. Yeom lalu meninggalkan Soo yang mulutnya terkunci. Langkah kaki Yeom terhenti setelah menghilang dari pandangan Soo. Ia menarik nafas panjang, “Nona, dapatkah kau tak memikirkan orang itu?” ia menengadahkan kepala memandangi langit dengan ekspresi sedih yang tergambar dari raut wajahnya.

~to be continue~

Hai *senyum pepsodent*

Masih teriak pendek? *pasti* hahahaha

Udah ah, apa pun komenan kalian akan kuterima dengan senang hati

Oke deh, sampai jumpa dalam serial UTJS two weeks later…

Iklan

231 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 8)

  1. Rosya berkata:

    tuh kaan… yeom pasti suka sama soo. ya ampun, dia kan dewa, kok bisa bisanya suka manusia. ntar kaisar langit malah nambah hukumanmu loo..

  2. shatia berkata:

    Clbk nih..Soo pasrah banget ya, merasa sebagai budak, padahal kenyataannya dya anak bangsawan..
    Dae Chul menyebalkan, giaman kalau terjadi sesuatu sama Soo, untung ada Yeom yg nolongin..

  3. baekxo berkata:

    aku udah ngerasa kyuhyun bakal suka sama soo ternyata bener 😂
    kyuhyun kan dewa gimana coba ?
    kyuhyun sama aku boleh nggak ?

  4. leei berkata:

    kyu udah keliatan suka sama soo dari pertama dia selametin soo.ngga bisa berhenti senyum baca part ini

  5. Vhicha azhari berkata:

    Huuhh,, aku terlena dh baca ffnya mianhaeyo eonni,baru komen di part ini hehee..abisnya ffnya bikin penasaran bgt ..
    Aduuh itu kyu knpa? Dia suka sma soo yaahh?? Aduuh mudah”han jangan deh,ntar kyu jdi skit hti,,,,

  6. itisyahri berkata:

    Aduhh tu kan bener si kyu suka sama soo 😀 aku senyum senyum sendiri bacanya.. Ahh makin penasaran

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s