The Moon’s Sister (Part 1)

The Moon's Sister

Marchia’s notes : Raja, Ratu dan Pangeran dalam cerita ini adalah tokoh fiksi. Mohon maaf jika ada kekeliruan dalam penjelasan di bawah ini.

  • Wang (Raja), dengan formalitas sebutan Jeonha (Yang Mulia).
  • Wangbi (Permaisuri/Ratu), dengan formalitas Mama (Yang Mulia). Formalitas di istana menggunakan sebutan Junggungjeon atau Jungjeon.
  • Daebi (Ibu Suri), ibu dari raja, formalitasnya adalah Mama (Yang Mulia).
  • Wangseja (Pangeran Istana Penerus), calon pewaris tahta, dengan gelar yang disingkat Seja (Pangeran Penerus) dengan formalitas Jeoha (Yang Mulia).
  • Wangsejabin (Istri Pangeran Penerus Istana), istri dari pangeran penerus dengan formalitas Manora atau Manura (Yang Mulia).
  • Gun (Pangeran), sebutan untuk putra raja yang lahir dari hubungan dengan selir atau keturunan dari Pangeran Besar.
  • Bin-Gung (Putri Mahkota), sebutan bagi pendamping pangeran penerus takhta dengan formalitas Mama (Yang Mulia)

**

Karena matahari, bulan dan gunung tak akan pernah bisa bertemu di waktu yang sama.

..

Jeongmyo Temple.

Sudah berjam-jam lamanya gadis itu menghabiskan waktunya dengan berdoa. Sobok (pakaian berkabung tradisional) yang membaluti tubuhnya serta kepangan rambut sederhana tanpa hiasan di kepalanya tak serta merta mengurangi sedikit saja kecantikannya.

Tak berapa lama kemudian dia terlihat keluar dari Jongjeon yang merupakan bangunan utama kuil Jeongmyo. Seorang wanita lain yang juga mengenakan sobok telah menantinya di ambang pintu. Wanita paruh baya itu menundukkan kepalanya santun, dia berjalan selangkah di belakang gadis itu.

“Bukankah ini sudah lebih dari dua bulan?”

“Ya.”

Dua orang penjaga kuil itu masih mengamati kedua wanita yang telah berjalan menjauh.

“Kau tahu siapa mereka?”

“Entahlah,” jawab penjaga lainnya. “Banyak orang yang datang berdoa akhir-akhir ini.”

“Peristiwa itu masih mengguncang Joseon.”

“Juga, di istana belum ada pemilihan Putri Mahkota baru sejak pengangkatan Putra Mahkota. Yang Mulia Putra Mahkota bersikeras menolak calon Putri Mahkota baru yang dipilih oleh keluarga kerajaan dengan alasan masa perkabungan belum berakhir.”

“Aku lebih penasaran tentang Putri Mahkota yang tidak sempat naik takhta itu.”

“Kudengar dia mengasingkan diri setelah peristiwa itu.”

Angin berhembus lembut. Langkah gadis cantik itu terhenti membuat wanita paruh baya yang berjalan di belakangnya juga terhenti.

“Mengapa aku baru menyadari keindahan langit sore?” ada senyum tipis yang terukir di sudut bibirnya.

Mama,” Dayang Han menundukkan kepala dengan sangat santun. Dia tak berani mencela kesenangan yang baru disadari oleh gadis muda itu.

Dua penjaga kuil tadi tak menduga jika gadis berparas cantik itu adalah orang yang sedang mereka bicarakan, sang Putri Mahkota yang seharusnya menjadi pendamping Pangeran Penerus Takhta. Dia kelak bisa menjadi ratu Josoen, namun sesuatu terjadi sebelum dia benar-benar naik takhta.

Senyum di wajah gadis itu mulai surut. Dia masih memandangi langit senja itu, namun dengan ekspresi yang memendam kesedihan. Han Ah Young, dayang istana yang melayaninya hanya bungkam di sisinya. Gadis itu mencoba mengais sisa kenangan yang selalu segar dalam ingatannya.

-o0o-

Istana Timur, tempat kediaman Putra Mahkota.

Kim Ryeowook, kasim yang melayani Pangeran Mahkota terlihat memasuki ruang pribadi penerus takhta Joseon itu. Dia mendapati seorang pemuda yang memakai sajoeryongbo yaitu jubah berwarna biru gelap dengan lambang naga empat jari di depan, belakang dan kedua bahunya. Tak ketinggalan gakdae (sabuk dengan giok) yang melingkari pinggangnya dan ikseongwan (mahkota/penutup kepala yang dikenakan oleh raja dan pangeran) berwarna hitam di kepalanya. Putra Mahkota tak begitu memusingkan kedatangan Kasim Kim.

Jeoha, Minho-Gun datang mengunjungi Anda.”

Begitu mendengar berita yang dibawa oleh Kasim Kim, Putra Mahkota dengan segera menutup buku yang sedang dibacanya. “Mengapa membiarkannya menunggu di luar?” Dia terlihat girang.

“Ya Jeoha,” Kasim Kim menundukkan kepalanya sebelum keluar dari ruangan tersebut.

Tak menunggu lama ketika seraut wajah tampan terlihat dari balik pintu yang dibuka oleh dayang istana.

“Minho,” senyum lebar Putra Mahkota menyambut kedatangan adiknya yang berbeda ibu.

Jeoha,” Pangeran Minho memberikan salamnya.

“Tidak ada siapa pun di ruangan ini. Mengapa kau memanggilku seperti itu?” desis Putra Mahkota.

Pangeran Minho tersenyum lebar, “Hyungnim,” dia menghampiri Putra Mahkota dan duduk di hadapan sang penerus takhta tersebut.

Terkekang dengan segala peraturan istana yang begitu ketat membuat Pangeran Kyuhyun sebagai penerus takhta tak bisa memiliki kehidupan bebas, itulah sebabnya dia selalu gembira ketika Pangeran Minho mengunjunginya. Sebagai kakak-beradik, kedua orang itu tak bisa bertemu sesering mungkin. Selain karena status Pangeran Kyuhyun sebagai Putra Mahkota, protokol istana mengharuskan agar pangeran lain selain Pangeran Mahkota untuk tinggal di luar istana.

-o0o-

Seorang gadis berjalan tergesa-gesa menyusuri jalanan pasar yang dipadati oleh penduduk, tak sedikit pun dia melepaskan jang-ot (kain penutup kepala) yang menyembunyikan wajahnya. Mata bening gadis itu mencoba mencari sesuatu dalam kepadatan pasar. Dia terlihat lega sekaligus kesal ketika retinanya menangkap seorang gadis yang sedang berkumpul dengan beberapa anak kaum cheonmin (budak).

Eonni,” dia memanggil dan percakapan mereka terhenti.

“Ah—sepertinya kita harus berhenti di sini,” ujar gadis yang dipanggil. Dia lalu melangkah menyusuli gadis ber-jang-ot yang cemas menantinya. Mereka berjalan bersama-sama.

Eonni, tak bisakah kau berdiam diri di rumah? Bagaimana jika Ayah tahu kau masih suka berkeliaran di pasar?”

“Yeon Hwa, jangan cemas,” kerling gadis itu.

Yeon Hwa tak mengerti apa yang ada di kepala Yeon Yi. Mereka berdua memang berbeda dalam menentukan sikap. Yeon Hwa selalu menghabiskan waktunya dengan membaca dan menyulam, tapi Yeon Yi lebih suka menyelinap keluar rumah, berkumpul dengan teman-temannya yang berasal dari kelas rendah. Jika Yeon Hwa memiliki perilaku santun dan anggun, maka Yeon Yi lebih periang dan terkesan ceroboh.

Yeon Hwa kebingungan ketika Yeon Yi menarik tangannya, “Eonni?” dia terkejut saat menyadari mata Yeon Yi tertuju pada sebuah tempat praktek perdukunan. “Apa yang kau lakukan?” Yeon Hwa bertanya lagi karena Yeon Yi terus memaksa agar mereka masuk ke tempat itu.

“Anak-anak di pasar membicarakan tempat ini. Mereka mengatakan jika mudang itu sangat hebat,” terang Yeon Yi. (Mudang = dukun).

“Jadi, mengapa kita harus menemui mudang?”

“Aku hanya penasaran.”

“Mengapa kita harus membuang waktu? Menemui mudang tak ada untung juga tak ada rugi.”

“Karena tak ada untung dan rugi, maka tak ada salahnya jika kita mencobanya,” tawa Yeon Yi.

“Kuharap kita tiba di rumah sebelum Ayah pulang,” Yeon Hwa menghela nafas panjang. Dia tak bisa melakukan apa pun selain mengikuti kemauan Yeon Yi.

Kedua gadis itu memasuki gerbang tempat praktek perdukunan itu. Mereka mendekati sebuah bangunan hanok (rumah tradisional korea) sederhana. Pintu yang terbuka tiba-tiba mengagetkan Yeon Yi dan Yeon Hwa. Sosok yang terlihat dari balik pintu, jauh dari perkiraan mereka. Mereka mendapati seorang wanita muda berwajah hangat.

“Kami ingin bertemu Mudang Choi,” kata Yeon Yi.

Wanita itu tak menjawab, dia menatap lekat wajah Yeon Yi. Ada garis-garis tipis yang muncul di permukaan kulit dahinya.

Eonni, kita pulang saja!” Yeon Hwa tak terlihat nyaman.

Tiba-tiba saja wanita muda itu menarik jang-ot yang sejak tadi menutupi kepala Yeon Hwa membuat Yeon Hwa dan Yeon Yi terperanjat, namun ekspresi yang dihasilkan wanita tesebut jauh lebih terkejut dibandingkan dua gadis itu.

“Kalian berdua…,” bibir wanita itu bergetar. Dengan mata yang kian membulat ketika bergantian dia memandangi wajah Yeon Yi dan Yeon Hwa, keduanya memang kembar identik yang tak memiliki perbedaan fisik sedikit pun.

Eonni,” Yeon Hwa yang takut lalu memegangi tangan Yeon Yi.

Yeon Yi juga merasakan keanehan suasana di sekitar mereka, “Mungkin lain kali saja kami menemui Mudang Choi.

Belum sempat mereka beranjak ketika wanita itu menangkap pergelangan tangan Yeon Yi. “Darah lebih kental daripada air. Kalian harus ingat itu,” ujarnya.

Si kembar terlihat kebingungan dan dengan terburu-buru meninggalkan wanita muda itu yang masih terpaku.

“Kalian sama terangnya. Saat terang satu sejajar dengan terang lain, maka mata tak akan mampu menangung silau cahayanya. Terkadang, terlalu terang bukanlah pertanda baik. Harus ada yang mengalah,” dia bergumam pelan.

-o0o-

Kasim Kim terburu-buru memasuki Istana Timur, dia terlihat tak sabar untuk menyampaikan kabar yang baru didengarnya pada Putra Mahkota.

Jeoha,” Kasim Kim mengatur nafas, “Daebi Mama telah menentukan calon Putri Mahkota.”

Putra Mahkota terkejut mendengar apa yang telah diputuskan oleh neneknya, “Putri Mahkota?” seharusnya dia tak perlu terkejut dengan protokol seperti itu.

“Calon Putri Mahkota berasal dari klan Shin, putri Menteri Perpajakan Shin Do Hyeon.”

“Menteri Shin Do Hyeon?” lagi-lagi bibir Putra Mahkota bergumam. Kepalanya mencoba mengingat sesuatu, “Shin Do Hyeon? Bukankah…,” dia sedikit ragu melanjutkan perkataannya.

“Ya, Jeoha,” Kasim Kim mengetahui apa yang ada di pikiran Putra Mahkota, “Shin Do Hyeon memiliki dua putri kembar yang sangat mirip satu sama lain.”

“Jadi—siapa diantara mereka yang akan menjadi Putri Mahkota?”

“Melihat betapa miripnya mereka, Daebi Mama tidak dapat menentukan kepada siapa pilihannya jatuh,” terang Kasim Kim. “Kabar baiknya, Daebi Mama menyerahkan keputusan itu pada Anda, Jeoha.

Senyum mekar kembali terulas di wajah pangeran penerus takhta itu. Dia segera menarik secarik kertas dan segera membubuhkan tinta di atas kertas itu, melipatnya lalu menyodorkan pada Kasim Kim.

“Aku tak akan ragu kepada siapa hatiku tertambat. Di kertas itu tertera nama gadis yang kupilih sebagai Putri Mahkota.”

-o0o-

Memasuki Paviliun Putri Mahkota, sang Putri Mahkota terpilih tak mengira jika Putra Mahkota mengunjunginya sebelum hari pernikahan. Mereka mengitari taman di sekitar paviliun, tentu saja dalam pengawasan kasim, pengawal dan dayang istana.

“Istana terlihat menyenangkan, namun aku yakin kau telah menyadari kehidupan seperti apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kokohnya tembok istana,” Putra Mahkota memandangi gadis yang selalu menundukkan kepalanya, “Adakah yang mengganggu pikiranmu?”

Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya, menatap langsung wajah tampan di sisinya, “Maaf atas kelancangan gadis bodoh ini. Mengapa aku, Jeoha?” dia ingin tahu, mengapa Putra Mahkota menjatuhkan pilihan padanya.

Putra Mahkota mengawasi ketenangan yang diisyaratkan oleh seraut wajah cantik itu, “Lambat laun istana mulai mengikis keceriaanmu.”

“Maafkan aku, Jeoha.”

Pangeran Mahkota Kyuhyun tersenyum, “Giok sangat lembut dan mudah tergores, namun giok tak mudah retak dan ketahanan terhadap patahnya batu giok sangat tinggi. Itulah sebabnya aku memilih giok karena dia yang terkuat diantara batu mulia lainnya,” perkataan sarat makna yang terucap dari bibir itu mampu mengangkat wajah gadis itu. “Aku memilihmu karena kau adalah Shin Yeon Hwa. Terlepas dari kenyataan bahwa kelak kau akan mengalami berbagai kesulitan dan mungkin diperhadapkan pada intrik serta politik istana, namun aku menginginkanmu untuk menjadi ibu bagi negeri ini. Kau akan disibukkan oleh seupwi, tapi aku yakin kau akan mampu melalui semua itu.”

Gadis itu, Shin Yeon Hwa tak dapat menampik kekagumannya terhadap sosok tampan yang tersenyum lembut itu. Sosok yang telah menumbuhkan sebuah rasa dalam hati Yeon Hwa. Apa yang dikatakan Putra Mahkota memang benar. Sejak memasuki istana, Yeon Hwa sudah diperhadapkan pada seupwi (latihan untuk upacara pernikahan kerajaan) dan Yeon Hwa hampir menyerah sebelum mendengar ucapan Pangeran Mahkota yang dirasanya bagai untaian jimat pemberi kekuatan.

-o0o-

Masih tiga puluh hari sebelum upacara pernikahan kerajaan dilaksanakan, namun seluruh istana telah disibukkan oleh perhelatan itu. Yeon Hwa masih berada dibawah tekanan seupwi, dia masih harus melatih cara memberi hormat, tubuhnya belum terbiasa untuk membungkuk dengan sangat halus dan perlahan. Meskipun terlahir sebagai yangban (bangsawan), tapi dia tak mengira jika tata krama yang dipelajarinya belum sesuai dengan keinginan istana.

Ketika Dayang Han mengatakan bahwa sesi latihan hari itu berakhir, Yeon Hwa sangat senang. Kebahagiannya semakin bertambah karena Yeon Yi mengunjunginya.

Eonni, bagaimana keadaan Ayah dan Ibu? Aku sangat merindukan kalian semua.”

Mama, dibandingkan kami, ada hal yang lebih penting yang harus kau pikirkan,” Yeon Yi terenyuh, dia ikut merasakan kesedihan Yeon Hwa yang harus terpisah dari keluarga. “Tolong jaga kesehatanmu. Kau adalah Putri Mahkota, suatu saat kau akan menjadi ratu Joseon yang akan menopang pemerintahan raja. Kuharap, kau tak pernah menutup mata terhadap apa yang kau lihat dan tak pernah menutup telinga terhadap apa yang kau dengar tentang kehidupan rakyat di luar tembok istana, Mama,” Yeon Yi meminta Yeon Hwa untuk menjadi orang yang bijak.

Setelah berpamitan pada Yeon Hwa; Yeon Yi akhirnya meninggalkan Paviliun Putri Mahkota. Dia berjalan melewati bangunan-bangunan yang terdapat di dalam istana, tak jarang dia berpapasan dengan para pengawal dan para dayang istana.

Tanpa diduga-duga Pangeran Mahkota Kyuhyun juga melewati jalan yang sama, diikuti oleh Kasim Kim dan beberapa pengawal. Para dayang terhenti, mereka membungkukkan tubuh mereka. Yeon Yi pun melakukan hal yang sama. Langkah Putra Mahkota terhenti ketika tiba di depan Yeon Yi. Dia berbalik menghadap pada Yeon Yi yang tak merubah posisi tubuhnya.

“Kau pasti kakak Putri Mahkota,” ujar Putra Mahkota.

“Ya, Jeoha. Hamba adalah Shin Yeon Yi,” jawab Yeon Yi.

“Angkat wajahmu, Yeon Yi,” ungkap Putra Mahkota. Kasim Kim cemas melihat Yeon Yi yang tak bereaksi. Entah apa yang ada di kepala Yeon Yi, dia tak terkonsentrasi dengan keadaan itu sehingga harus membuat Putra Mahkota mengeluarkan kalimat lain, “Ini titah!” katanya lagi.

Tersadar dari kesalahan yang dibuat, Yeon Yi mengungkapkan penyesalannya, “Maafkan kebodohan hamba, Jeoha,” ujarnya takut-takut.

“Aku hanya ingin melihat wajahmu,” Putra Mahkota menyadari ketakutan Yeon Yi.

Dengan perlahan Yeon Yi mulai mengangkat wajahnya, membuat tubuhnya sedikit menegak. Mata bulatnya tertanam pada wajah tampan sang pangeran yang masih mengagumi kemiripannya dan Yeon Hwa.

“Kalian benar-benar mirip,” decak Putra Mahkota. Dia sedikit menoleh pada Kasim Kim, “Jika mereka memakai pakaian yang sama, aku tak akan mampu membedakannya,” katanya lagi. Dia menarik nafas panjang lalu melanjutkan perkataannya, “Istana akan membuat Putri Mahkota kesepian dan terkekang. Yeon Yi, temuilah Putri Mahkota kapan saja,” ungkap Putra Mahkota.

“Hamba akan mengingatnya, Jeoha,” sahut Yeon Yi.

Putra Mahkota pun pergi bersama rombongannya. Yeon Yi belum beranjak, dia sedikit menoleh pada rombongan yang kian menjauh itu. Raut wajah Yeon Yi menyiratkan sesuatu dan yang terbaca dari paras sendu itu adalah sebuah kesedihan.

-o0o-

Untuk kedua kalinya, Yeon Yi datang mengunjungi Yeon Hwa. Dia cukup terkejut karena disaat yang sama, Putra Mahkota juga sedang berada di Paviliun Putri Mahkota. Niat Yeon Yi untuk pulang tertahan setelah mendengar Kasim Kim mengatakan bahwa Pengeran Mahkota Kyuhyun memintanya bergabung dengan mereka.

Di dalam ruangan itu, Yeon Yi tak banyak bersuara. Dia hanya sesekali menanggapi percakapan Putra Mahkota dan Yeon Hwa. Yeon Yi lebih banyak bungkam seribu bahasa dan matanya hanya mampu menyaksikan keakraban yang terjalin diantara kedua orang itu.

Bin-Gung mengatakan padaku bahwa kau pandai bernyanyi,” Putra Mahkota memandangi Yeon Yi. Gadis itu lalu memandangi Yeon Hwa yang tersenyum padanya.

“Hamba tak sebaik itu, Jeoha.”

“Aku ingin mendengar suaramu, Yeon Yi.”

Yeon Yi tertegun saat mendengar permintaan Putra Mahkota. Dia kembali memandangi Yeon Hwa dan gadis itu menganggukkan kepala sambil tersenyum, memberinya dukungan penuh untuk memenuhi permintaan sang pangeran. Yeon Yi mulai membuka suaranya…

Aku ingin melupakanmu

Tapi kau selalu menemukan jalanmu kembali ke hatiku

Satu kali, hanya sekali aku ingin melihatmu

Air mata ini tak akan mengalir

Nyanyian Yeon Yi memenuhi ruangan itu. Lirik dan nada itu terdengar sempurna berpadu dalam simponi yang indah. Putra Mahkota tertegun, ini pertama kalinya dia mendengar suara semerdu itu.

Apa yang kuanggap menyenangkan, pada akhirnya tak memiliki arti

Kini, diakhir kenangan aku menyadarinya

Inilah waktu untuk mengucapkan selamat tinggal

Meski tak mampu melepaskan cintaku

Takdir mengharuskanku melupakanmu

Lirik yang disenandungkan Yeon Yi mampu menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya, tak terkecuali Putra Mahkota yang tak sedikit pun menggeser sorot matanya dari wajah Yeon Yi dan sesuatu yang aneh mulai menjalari dada sang pangeran. Senyum Yeon Hwa terus mengembang, hal yang paling disukainya adalah ketika dia mendengar Yeon Yi menyanyi.

Jeoha…,” apa yang ingin diucapkan oleh Yeon Hwa tertahan ketika melihat sorot mata Putra Mahkota saat menatap Yeon Yi. Dia menyadari sesuatu yang aneh telah berlangsung.

*

Putra Mahkota telah kembali ke Istana Timur, menyisakan Yeon Yi dan Yeon Hwa dalam Paviliun Putri Mahkota.

“Aku harus kembali,” ujar Yeon Yi.

Eonni.

“Adakah yang ingin kau sampaikan, Mama?” Yeon Yi menyadari jika Yeon Hwa sedang menyembunyikan sesuatu.

Yeon Hwa terdiam. Dia masih memikirkan kejadian beberapa saat lalu dan hatinya tak tentram karenanya.

Mama?”

Eonni, terhadap Putra Mahkota…,” Yeon Hwa mengambil jeda, “Aku mencintainya,” ucapan itu membuat Yeon Yi terperanjat.

Yeon Yi terdiam sejenak lalu tersenyum tipis, “Mama, kau tak perlu menyampaikan segalanya padaku jika kau merasa tak nyaman.”

“Mungkinkah…,” lagi-lagi Yeon Hwa ragu mengutarakan isi hatinya, “Mungkinkah kau memiliki perasaan yang sama terhadap Putra Mahkota?” pertanyaan yang dilontarkan Yeon Hwa seperti sebuah tamparan keras di wajah Yeon Yi.

Mama?” bola mata Yeon Yi melebar. Dia masih terkejut.

“Sejak aku terpilih sebagai Putri Mahkota, sikapmu mulai berubah. Kau tak terlihat bahagia melihatku bersama Putra Mahkota.”

Mama—mengapa kau beranggapan seperti itu?”

“Apa ada yang salah dengan pikiranku?”

Yeon Yi tak berkutik, dia mencoba tenang. “Mama, beristirahatlah. Kau terlihat lelah.”

“Aku belum selesai,” emosi Yeon Hwa mulai tersulut. “Melihat caramu memandanginya membuat aku tak tenang. Aku tahu kau menyukainya.”

“Sebenarnya apa yang ingin kau dengar?” Yeon Yi pada akhirnya kesal dan dia telah mengesampingkan tata kramanya, “Jika aku mengatakan aku menyukainya apa kau akan menyerahkan posisi Putri Mahkota padaku?”

Giliran Yeon Hwa yang tersentak kaget, “Eonni…

“Kau benar. Aku menyukainya,” pengakuan Yeon Yi bagai petir yang menyambar tubuh Yeon Hwa. “Kau tahu, ini sedikit tak adil. Atas dasar apa kau menjadi Putri Mahkota? Jika karena wajahmu, lalu apa bedanya denganku? Atau karena kau lebih suka memainkan peranmu sebagai putri bangsawan yang terhormat sementara aku sibuk bergaul dengan kaum rendah? Jadi mengapa kau, Shin Yeon Hwa? Perlukah aku merubah namaku menjadi Shin Yeon Hwa?” air mata Yeon Yi menetes begitu saja, sama halnya dengan Yeon Hwa.

Eonni…,” lidah Yeon Hwa terasa kelu.

Yeon Yi menyeka air mata di wajahnya, “Maaf atas kelancanganku, Bin-Gung Mama. Hari ini sangat melelahkan, beristirahatlah,” ucap Yeon Yi sebelum meninggalkan tempat itu.

Yeon Hwa tersungkur lemas. Meski mencoba untuk tidak menangis, namun air mata masih tetap mengaliri wajahnya. Bukan karena Yeon Yi menyukai Putra Mahkota, tapi yang  paling ditakuti oleh Yeon Hwa bahwa kemungkinan Putra Mahkota mulai memiliki perasaan terhadap Yeon Yi. Jika memang seperti itu, satu-satunya yang terlintas di kepala Yeon Hwa adalah—mengapa posisi Putri Mahkota jatuh padanya? Bukankah Putra Mahkota sendiri yang memilihnya?

-o0o-

Lima belas hari menjelang pernikahan kerajaan, terjadi sesuatu yang membuat panik istana. Putra Mahkota yang saat itu sedang melatih kemampuan memanahnya tiba-tiba saja ambruk dan tak sadarkan diri. Tabib istana telah bekerja keras, namun hingga hari ketiga kesadaran sang pangeran tak kunjung datang.

Mendengar kesehatan ratu ikut menurut karena memikirkan keadaan Putra Mahkota; Raja Imjong segera menuju Istana Tengah yang merupakan kediaman ratu.

Jeonha,” dengan bantuan dayang istana, Ratu Gonghye bangun dari tidurnya. Para dayang segera meninggalkan raja dan ratu dalam ruangan itu.

“Bagaimana keadaanmu, Jungjeon?”

“Telah membuatmu bersusah payah ke Istana Tengah, maafkan aku Jeonha.”

Percakapan mereka disela oleh kedatangan Ibu Suri. Raja dan ratu menyambut kehadiran wanita berusia senja itu.

“Sebenarnya apa yang sedang dilakukan rumah sakit kerajaan? Mengapa Wangseja belum juga bangun?”

“Tabib istana pasti sedang mengusahakan yang terbaik,” meskipun perkataan itu diperuntukkan menanggapi pertanyaan Ibu Suri, namun nyatanya dibalik kalimat itu, sang raja sedang meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.

“Beberapa menteri dan pengikutnya sedang menyiapkan petisi jika Putra Mahkota tak kunjung sadar sementara pernikahan kerajaan sudah semakin dekat, maka gelarnya sebagai Wangseja harus dipertimbangkan lagi. Rakyat tak akan suka jika calon raja mereka menderita penyakit aneh,” terang Ibu Suri. Tatapannya beralih pada ratu, “Jungjeon, sebagai istri raja dan juga ibu dari Putra Mahkota tidak seharusnya kau memamerkan kelemahanmu. Kau harus kuat demi Putra Mahkota.”

“Maafkan aku atas ketidakmampuanku ini, Daebi Mama,” Ratu Gonghye mengungkapkan penyesalannya yang terdalam.

**

Hari itu, meskipun gelap telah membungkus utuh seluruh Joseon, Yeon Yi bersikeras menuju istana. Dia tiba di Paviliun Putri Mahkota dan kedatangannya disampaikan oleh Dayang Han pada Yeon Hwa. Insiden yang menimpa Putra Mahkota dan juga pertemuan terakhir Yeon Hwa dengan Yeon Yi yang diwarnai oleh ketegangan membuat Yeon Hwa hampir tak ingin menemui Yeon Yi, namun mempertimbangkan usaha kakaknya untuk menemuinya selarut itu membuat Yeon Hwa menerima kedatangan Yeon Yi.

Yeon Hwa mengawasi wajah Yeon Yi yang tampak tak tenang sejak ia memasuki ruangan itu. Dia tahu jika Yeon Yi terlihat menyembunyikan dan memikirkan banyak hal.

“Apa yang membuatmu selarut ini menemuiku, Eonni?”

Mama—“ Yeon Yi terdiam sesaat, “Bagaimana keadaan Putra Mahkota?”

“Jika hanya untuk mengetahui keadaannya, kau tak perlu menemuiku seperti ini,” gumam Yeon Hwa. Memang, berita tentang keadaan Putra Mahkota telah menyebar luas.

“Tidak. Bukan itu,” kegelisahan Yeon Yi semakin terlihat jelas. Dia bahkan sampai meremas kedua tangannya, “Mama—dapatkah kau menolongku?”

-o0o-

Keadaan istana berangsur-angsur membaik sejak Putra Mahkota sembuh enam hari lalu. Kegemparan karena penyakit Putra Mahkota mulai tertelan oleh kesibukan menjelang pernikahan kerajaan yang akan berlangsung tujuh hari lagi.

“Kau masih merasa kesepian?” tanya Putra Mahkota pada Yeon Hwa saat mereka sedang menikmati udara sore di sekitar kediaman Yeon Hwa.

Yeon Hwa sejak tadi hanya memandangi keindahan teratai dalam kolam di sekitar paviliun, dia menoleh pada Putra Mahkota, “Kesepian ini tak sebanding dengan kebahagiaan yang kurasakan. Terima kasih karena Jeoha telah pulih.”

Putra Mahkota tersenyum, dia tiba-tiba teringat sesuatu, “Mengapa Yeon Yi tak pernah terlihat?”

Yeon Hwa bungkam. Ketika Yeon Yi datang meminta bantuan yang tidak disangka-sangka oleh Yeon Hwa, itu adalah pertemuan terakhir mereka. Hingga saat ini Yeon Yi tak pernah mengunjunginya.

“Apakah dia terbeban karena permintaanku?” Putra Mahkota memikirkan permintaannya pada Yeon Yi agar sering-sering mengunjungi Yeon Hwa. “Kuharap tidak seperti yang kupikirkan,” tepisnya lagi sambil tersenyum tipis.

Yeon Hwa tak bersuara, dadanya merasa sedikit sesak. Tak tahu mengapa jika dia semakin yakin ada sesuatu yang tak beres sedang berlangsung. Yeon Hwa sangat senang saat Putra Mahkota berbicara padanya dengan sorot mata hangat serta senyum lembut yang menawan, namun entah mengapa Yeon Hwa merasa seolah tatapan dan senyum lembut itu seakan tidak ditujukan untuknya.

-o0o-

Paviliun Putri Mahkota.

Yeon Hwa masih duduk termenung. Beban dalam pikirannya terasa berat untuk ditanggungnya sendiri. Yeon Hwa kini ikut memikirkan Yeon Yi yang tak biasanya hilang dari radarnya. Percakapan terakhir kali dengan Yeon Yi kembali menyapa Yeon Hwa.

“Mama—dapatkah kau menolongku?”

Alis Yeon Hwa saling bertaut mendengar penuturan Yeon Yi, “Bantuan apa yang kau butuhkan dariku?”

“Ini demi Putra Mahkota,” Yeon Hwa semakin tak mengerti apa maksud perkataan Yeon Yi barusan, “Putra Mahkota harus segera sadar agar tidak kehilangan takhtanya dan kau pun akan aman.”

“Tak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa untuk kesembuhan Putra Mahkota.”

“Tidak. Putra Mahkota harus segera sadar!” geleng Yeon Yi pelan, “Dan untuk itu, aku membutuhkan bantuanmu, Mama.”

Yeon Hwa semakin sulit menerka ke mana arah pembicaraan itu, “Aku?”

Pelan-pelan dan dengan tangan yang sedikit gemetar ketika Yeon Yi mengeluarkan sesuatu dari balik hanbok (pakaian tradisional Korea) yang dipakainya. Dia meletakkan benda itu di atas meja kecil yang mengantarainya dan Yeon Hwa. Yeon Hwa mengamati benda itu. Sebuah kertas yang ukurannya tak seberapa besar, di atas kertas itu terdapat tulisan dengan tinta merah.

Yeon Hwa sangat terkejut, “Ini—jimat?” bola matanya yang lebar seakan meminta penjelasan Yeon Yi.

“Mama, jimat ini akan membuat Putra Mahkota sembuh.”

“Beraninya kau?” Yeon Hwa terlihat sangat marah. Siapa Yeon Yi hingga berani menaruh mantra pada sang penerus takhta Joseon? Hukuman berat akan diterimanya jika perbuatannya diketahui oleh istana.

“Mama—maafkan kelancanganku,” ujar Yeon Yi, “Percayalah padaku.”

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” Yeon Hwa masih teringat jika Yeon Yi pernah menyatakan perasaannya terhadap Putra Mahkota secara terang-terangan padanya. Bagaimana dia bisa percaya pada Yeon Yi? Bagaimana jika semua itu hanyalah sebuah siasat untuk menjatuhkannya dari kedudukannya sebagai Putri Mahkota?

“Mama, kau selalu mempercayaiku. Tolong ingat perasaan itu di dalam hatimu. Untuk sekali ini saja, tolong percayalah padaku,” Yeon Yi memohon dan Yeon Hwa terlihat mulai melembut, dia melihat ketulusan dari sinar mata Yeon Yi. “Mama, jika pengakuan itu membuatmu tak tenang, tolong lupakan itu. Anggaplah aku tak pernah mengucapkan kalimat itu dan kau pun tak pernah mendengarnya. Kau tak perlu bimbang mengapa Putra Mahkota lebih memilihmu dibandingkan aku. Kau lembut dan baik hati, kau akan tumbuh menjadi ratu yang disayangi oleh seluruh rakyat dan aku hanyalah salah satu dari sekian banyak gadis yang merasa iri padamu.”

“Eonni…” Yeon Hwa tertegun, “Jimat apa ini? Dan dari mana kau mendapatkannya?”

“Harap tidak mencemaskan itu. Aku akan menebus dosaku terhadapmu dan Yang Mulia Putra Mahkota. Kumohon untuk kali ini percayalah padaku. Aku akan menyelamatkanmu dan juga takhtamu, Mama.”

Mereka sadar betapa gentingnya suasana itu. Jika Putra Mahkota dilengserkan dari kedudukannya, maka hal yang sama akan dialami oleh Yeon Hwa.

Yeon Hwa kembali tersadar dari lamunan panjangnya. Dia benar-benar tak tenang memikirkan Yeon Yi, juga memikirkan apa yang telah dia sembunyikan di Istana Timur.  Kedua orang tuanya tak mengunjunginya sesering Yeon Yi. Yeon Hwa telah bertekad, jika sampai besok Yeon Yi tak nampak dalam pandangannya maka dia akan mengutus orang menemui keluarganya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Sementara itu, di Istana Timur…

Putra Mahkota telah terlelap dalam tidurnya. Wajah tampannya terlihat damai, tubuhnya semakin sehat. Tubuh sang pangeran menggeliat pelan, dia merasakan sesuatu dan itu membuatnya membuka kelopak matanya secara perlahan.

Dalam ruangan yang hanya tersentuh oleh cahaya lilin, Putra Mahkota dapat melihat seorang gadis yang duduk di dekatnya dan terlebih lagi dia menyadari jika kepalanya sedang terbaring di atas pangkuan gadis itu.

“Kau…,” mata Putra Mahkota tertanam pada wajah cantik yang tersenyum tenang padanya. “Shin..Yeon..Yi..?” entah mengapa kali ini dia mampu mengenali siapa gadis yang sedang berada di dalam kamarnya.

Gadis itu kembali tersenyum hangat, sebuah isyarat yang membenarkan bahwa dialah orang yang disebut oleh sang pangeran. Putra Mahkota merubah posisi tubuhnya, dia duduk dan menatapi gadis itu, “Yeon Yi?” dia terlihat kebingungan karena keberadaan gadis yang memakai hanbok berwarna putih itu.

“Ya, Jeoha,” jawaban tenang terdengar dari mulut Yeon Yi.

Mereka terdiam. Putra Mahkota bahkan tak menanyakan pada Yeon Yi apa yang dilakukan gadis itu di dalam kamar tidurnya. Dia justru merasa damai melihat keberadaan Yeon Yi yang menentramkan hatinya.

Jeoha,” bibir Yeon Yi mulai bergerak, “Hamba yakin bahwa Jeoha akan menjadi raja yang bijaksana dan dikagumi oleh rakyat. Raja yang akan selalu terketuk pintu hatinya melihat penderitaan rakyat. Hamba akan selalu berdoa untuk kebahagiaan Jeoha.

Putra Mahkota terdiam, dia merasa ada yang aneh dengan perkataan Yeon Yi, “Kau terlihat seperti ingin pergi?”

“Hamba tak akan kemanapun. Hamba akan selalu mengawasi Jeoha dari jauh diantara rakyat yang menaruh harap kepada Jeoha,” ujar Yeon Yi, “Jeoha, karena matahari, bulan dan gunung tak akan pernah bisa bertemu di waktu yang sama,” dia menambahkan kalimat yang membuat raut wajah Putra Mahkota berubah. “Jadi, terimalah hormat hamba.”

Putra Mahkota masih tertegun saat Yeon Yi berdiri dan dengan gerakan yang sangat lembut juga santun ketika Yeon Yi memberikan hormat secara resmi kepada Putra Mahkota.

“Yeon Yi,” tepat saat Putra Mahkota menyebut nama itu dan dia terbangun dari tidurnya. Pangeran duduk perlahan memikirkan mimpi yang terasa sangat nyata. Di waktu yang sama, pintu kamar terbuka. Seraut wajah Kasim Kim mencuat dari balik pintu. Kasim Kim sangat pucat dan ekspresinya sedang menyiratkan sesuatu.

Jeoha,” seru Kasim Kim penuh arti. Putra Mahkota mampu merasakan sesuatu dari suasana aneh yang tiba-tiba menghampiri kediamannya.

Tak berapa lama kemudian, tampak Putra Mahkota yang berjalan tergesa-gesa. Dia diikut oleh Kasim Kim, beberapa pengawal dan juga dayang istana yang bertugas di Istana Timur. Mereka menuju Paviliun Putri Mahkota, kedatangannya disambut dengan rundukan kepala para dayang di tempat itu.

Putra Mahkota segera memasuki kediaman pribadi milik Putri Mahkota dan dia mendapati Yeon Hwa sedang terisak di sudut ruangan.

“Yeon Hwa,” dia tertegun ketika mata bulat Yeon Hwa menatapnya dengan sorot mata yang sangat terluka.

Jeoha,” air mata Yeon Hwa kembali mengaliri wajah cantiknya.

Putra Mahkota menghampiri Yeon Hwa dan gadis itu langsung memburu ke dalam pelukan Putra Mahkota. Dia menangis terisak.

“Yeon Hwa, apa yang terjadi?”

Jeoha, apa yang harus kulakukan?” isak Yeon Hwa, “Apa yang harus kulakukan? Eonni. Eonni-ku sudah pergi. Eonni-ku sudah meninggal…”

Jantung Putra Mahkota terpukul mendengar berita itu. Dadanya berkecamuk. Sementara Yeon Hwa semakin memperat pelukannya.

Eonni…mengapa? Eonni-ku yang malang. Mengapa Eonni-ku sangat malang?” tangis pilu Yeon Hwa. “Aku belum bertemu dengannya. Aku tidak melihatnya untuk terakhir kalinya. Aku bahkan belum sempat mengucapkan kata maaf padanya,” isakan Yeon Hwa kian menjadi-jadi.

Pangeran Mahkota Kyuhyun sudah tak berkutik. Seluruh tubuhnya serasa membatu dan dadanya semakin sesak, lalu sesuatu tiba-tiba menetes dari bola matanya memanas.

Malam itu, kabar meninggalnya Shin Yeon Yi tiba di istana. Gadis itu telah menderita suatu penyakit sejak beberapa hari lalu. Awalnya dia kehilangan suara, lambat laun kondisi tubuhnya memburuk. Kematian adalah akhir dari segala penderitaan yang tak bisa dia tanggung. Gadis itu bahkan meminta ayah dan ibunya agar tidak memberitahukan penyakitnya pada Yeon Hwa. Sampai akhir hayatnya, Yeon Yi tak ingin membuat Yeon Hwa juga seseorang yang dia pikirkan dan mungkin sedang memikirkannya menjadi cemas.

-to be continue-

Sambil nunggu UTJS, aku publish ff ini

Sedikit (dikiiiiit aja) terinspirasi “The Moon That Embraces The Sun” tapi aku jamin, ceritanya gak sama *PD kumat*

Cerita lain dalam proses pembuatan ff ini adalah pembuatan posternya *info gak penting*, ini perdana pake photoshop buat edit muka bang Kyu, syukurlah hasilnya gak jelek2 amat dan kenyataan yang kudapat, ternyata si Kyu ganteng bgt kalo jadi Pangeran Mahkota. Iya gak? hehehe

Yesungdahlah, keep waiting for next chap (tenang aja, ini cuma 2 part kok ^^) dan dimohon dengan sangat wahai reader-ku sekalian, jangan jadi silent reader ya

Iklan

360 thoughts on “The Moon’s Sister (Part 1)

  1. muhta berkata:

    aku suka ffnya .. apalagi genre saeguk.. ff nya bikin penasaran..
    bleh minta passwordnya ga kak..

  2. parkyunsu berkata:

    lohhh kok yeonyi nya meninggal? terus kyuhyunnya gimana? jadinya sama yeon hwa? aduhh penasaran banget sama kelanjutannya. keren ceritanya thor👍

  3. itisyahri berkata:

    Wahh thorr….. Aku suka cerita ini 😀 jangan bilang si kyuhyun suka sama saudari putri mahkota? Wohoo kayaknya konfliknya bakal ribet ini.. Aku suka aku suka

  4. Chanchan berkata:

    wah seru meskipun rada bingung sama panggilan ala2 kerajaan karena gue ga ngapalin dan berending dengan gue scroll atas bawah wkwkwk, tapi keren kok. ngebayangin banget suasana kerajaan gitu

  5. virginia.dhita13@gmail.com berkata:

    Akhirnya ketemu ff dengan peran utama kyuhyun tp genre nya kolosal
    Suka deh sm ff nya
    Niat awal mau baca ff yg lain di blog ini tp mlh kecantol sm ff ini
    Keren lah pokoknya ff ini
    Tp kulihat ff ini cm 2 part ya
    Sayang banget kno gk dikasih sequel
    Hehe cm saran

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s