Under The Joseon Sky (Part 9)

UTJS (Part 9)

Cast :

Ammy/Hwang Hwa Mi/Soo (OC) || Lee Donghae || Cho Kyuhyun as Yeom || Lee Hyukjae as Nahwan || Choi Siwon as Myungjin || Kim Jong Woon as Jongshin || Park Jung Soo as Kaisar Langit || Other

Marchia’s note : Menjauhlah para plagiator, jika kalian menemukan sesuatu yang mencuriga tolong laporkan ke sy. Say no to plagiat!

*

 ~ Aku Bukan Putri Pemberontak ~

 

Suatu hari, para gisaeng sedang berkumpul di sarangdaecheong (ruang terbuka atau teras beratap yang menghubungkan ruangan utama dengan bangunan depan yang menghadap ke halaman). Mereka sedang menikmati waktu santai dengan berbagai kegiatan. Bermain musik, menari, menulis puisi bahkan menyulam. Myung Ri menatapi Yeom yang kebentulan melintas, gadis itu tersenyum senang.

Eonni,” Myung Ri memanggil Soo yang duduk di sebelahnya. Soo sedang memetik alat musiknya, gayageum (alat musik petik tradisional yang berupa kecapi dengan dua belas senar). “Bukankah Yeom sangat tampan?” tanya Myung Ri. Soo tak memungkiri jika pria itu memang tampan. “Eonni apakah Yeom punya kekasih?”

“Aku tak tahu,” jawab Soo. “Mengapa?” ia bertanya.

“Syukurlah. Kalau begitu aku masih mempunyai kesempatan.”

Permainan gayageum Soo terhenti. Ia menatap Myung Ri yang terlihat girang, “Kau bilang apa?” ia mencoba meyakinkan apa yang didengarnya.

“Aku meminta bantuanmu, Eonni. Katakan pada Yeom jika aku menyukainya. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya,” pipi Myung Ri merah merona.

“Kau—menyukai Yeom?” Myung Ri mengangguk antusias menjawab pertanyaan Soo. Raut wajah Soo sedikit berubah. “Mengapa kau tak mengatakan langsung padanya?” tanya Soo pelan.

“Melihatnya dari dekat, aku pasti tak dapat membuka mulut. Eonni, satu-satunya orang terdekat Yeom adalah kau,” Myung Ri menatap penuh harap pada Soo. Memang benar, Yeom adalah pria yang selalu berada di sisi Soo empat tahun belakangan ini.

Gadis itu terdiam. “Aku…aku akan mengatakan padanya,” jawaban Soo disambut dengan pekik girang Myung Ri yang langsung memeluk Soo. Soo hanya tersenyum tipis, raut wajahnya kembali menenang. Entah mengapa ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya.

 

~.o0o.~

 

Langit senja melukiskan siluet yang indah. Soo dan Yeom dalam perjalanan kembali ke yeongwagwan. Sebelumnya, Soo meminta Yeom untuk menemaninya mengunjungi makam kedua orang tuanya.

“Tolong berhenti,” ujar Soo ketika mereka melintas padang rumput hijau.

Yeom menuruti kehendak Soo. Ia lalu membantu Soo turun dari kuda. Gadis itu melangkah pelan di jalan setapak kecil di tengah padang rumput. Yeom berjalan beberapa langkah di belakang Soo sambil menuntun kuda. Soo tampak sangat menikmati angin sore yang sejuk. Gadis itu menoleh pada Yeom, menunggu Yeom dan berjalan bersama-sama.

“Mengapa kau tak menikah Yeom?” tanya Soo setelah mereka bungkam cukup lama. Yeom tak menjawab. “Kau punya kehidupan sendiri. Kau tak perlu mengikutiku.”

“Nona tak perlu mencemaskanku.”

“Aku tahu banyak gadis yang menyukaimu,” gumam Soo. Yeom yang tampan, tak hanya Myung Ri yang jatuh karena pesonanya. “Baru-baru ini, seseorang mengatakan padaku bahwa dia menyukaimu. Myung Ri, meskipun sifatnya masih kekanak-kanakan namun dia adalah gadis yang baik hati. Bagaimana menurutmu, Yeom?”

“Aku, akan memikirkannya,” jawab Yeom. Tak terlihat ada keseriusan dari perkataannya.

Giliran Soo yang terdiam. Ia menoleh memandangi wajah tenang Yeom. “Aku tidak memaksamu,” ujar Soo. “Adakah gadis yang kau sukai?” Yeom terhenti. Ia menatap Soo. “Kau pernah menyukai seseorang?” Soo terus bertanya. Gadis itu terlihat sangat tenang menanti jawaban Yeom. Yeom kembali mengayunkan kakinya, begitu juga dengan Soo.

“Aku pernah memperhatikan seseorang. Apa yang dia lakukan mampu mengusir kejenuhanku terhadap pria-pria menyebalkan di sekitarku. Lalu entah sejak kapan, mengawasinya telah menjadi kebiasaanku,” Yeom menarik nafas, mengumpulkan udara di rongga dadanya. “Seharusnya aku berhenti. Seharusnya aku tak ikut campur dalam hidupnya—meskipun aku tahu itu jika apa yang kulakukan salah, aku tak bisa membiarkannya.”

“Yeom,” Soo tertegun, untuk pertama kalinya ia mendengar Yeom berbicara tentang isi hatinya. “Kau terlihat begitu menyukai gadis itu,” gumam Soo.

“Dia, di luar jangkauanku,” Yeom berujar pelan.

Kedua orang itu terdiam. Mereka terus menapaki jalan dalam kebisuan. Mata Soo menerawang jauh, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Alisnya saling bertaut ketika tak mendapati Yeom di sisinya. Soo menoleh mencari sosok Yeom. Pria itu tengah berdiri di antara rerumputan hijau yang bergoyang dipermainkan angin. Soo menghampiri Yeom. Soo mengikuti kemana mata Yeom memandang dan itu cukup membuatnya tertegun.

“Nona menyukainya?”

“Tentu saja, aku sangat menyukai mereka,” Soo terlihat gembira memandangi beberapa rumpun bunga krisan yang tumbuh di situ. Soo memang menyukai mae hwa tapi krisan adalah bunga yang paling disukainya.

 

~.o0o.~

 

Beberapa orang gisaeng baru saja hendak memasuki gerbang depan yeongwagwan, Soo salah satu diantara mereka. Entah karena tak memperhatikan jalan, Soo justru bertabrakan dengan seorang wanita paruh baya.

“Maafkan aku,” Soo meminta maaf sambil membantu wanita itu mengangkat sebuah benda yang diikat dengan kain, tampaknya isi buntelan itu adalah buku. “Maafkan aku,” berkali-kali Soo meminta maaf.

“Tidak apa-apa,” jawab wanita itu. Ia lalu menatapi wajah Soo, “Nona?” alisnya bertaut.

“Ada apa?” tanya Soo.

“Kau…,” dahi wanita itu semakin berkerut, “Nona, kau tak mengenaliku? Ini aku—Bok Ni. Aku bibi dari pelayan Nona, Bong Gu. Beberapa kali aku bertemu Nona dan Bong Gu di pasar.”

Soo terdiam, “Maaf sepertinya Anda salah mengenali orang, namaku Soo dan aku adalah gisaeng di yeongwagwan itu,” Soo memandangi tempat tinggalnya.

“Maaf Nona,” wanita itu menunduk namun ia terus mengamati wajah Soo, “Hanya saja aku merasa Nona sangat mirip dengan gadis itu,” katanya. Soo hanya tersenyum. Ia lalu melangkah menyusuli rekan-rekannya yang mungkin telah beristirahat di dalam yeongwagwan.

“Ada apa?” tanya wanita lain yang bersama Bok Ni.

“Aneh sekali, tapi dia sangat mirip dengan gadis itu,” wajah senja Bok Ni sedang mengira-ngira.

“Siapa?”

“Putri dari seorang bangsawan bernama Hwang Hoon Phil.”

“Hwang Hoon Phil? Mengapa nama itu terdengar tak asing?”

“Dia dan keluarganya tewas dalam pembersihan Sarjana Sarim. Keponakanku, Bong Gu juga tewas dalam peristiwa itu.” lanjut Bok Ni, ia terlihat sedih. “Dia adalah pelayan dari putri sulung keluarga itu, Hwang Hwa Mi. Kudengar Bong Gu melarikan diri bersama gadis itu sebelum akhirnya tewas di hutan. Yang aku tahu, mereka tak pernah menemukan mayat gadis itu. Melihat gisaeng tadi, membuatku mengira mereka adalah orang yang sama.”

“Mungkin kau salah mengenali orang.”

“Ya, aku rasa kau benar,” Bok Ni mengiyakan ucapan wanita itu. “Aku sudah terlalu tua dan ingatanku tak begitu baik,” katanya pelan. Kedua wanita itu melanjutkan perjalanan. Mereka tak menyadari jika percakapan mereka tertangkap telinga oleh Yoo Dae Chul yang hendak menuju yeongwagwan.

“Sangat menarik,” pria itu tersenyum. Niat jahat telah bersarang di kepalanya. Kejadian malam itu tak pernah bisa diterima oleh Dae Chul. Ia bahkan selalu memikirkan cara untuk membalas Lee Dong Hae dan juga Soo.

 

~.o0o.~

 

Lebih dari sepuluh orang petugas polisi memasuki pekarangan yeongwagwan, derap langkah sepatu dan cahaya obor kian menarik perhatian semua orang yang berada di tempat tersebut. Nyonya Nok Hee berlari keluar begitu mendengar keributan yang terjadi di luar. Ia tampak heran mengapa petugas kepolisian berada di tempat itu.

“Tuan Muda Yoo Dae Chul?” wanita itu menatap Dae Chul yang baru saja tiba. “Apa yang terjadi?”

Dae Chul mengawasi semua mata yang menatap cemas. “Tangkap gadis itu!”  ia mengarahkan telunjuknya pada Soo.

“Tuan Muda,” Soo kebingungan melihat petugas polisi mengapitnya, “Mengapa? Apa salahku?”

Nyonya Nok Hee menghampiri Yoo Dae Chul, “Tuan Muda, mengapa Anda menangkap Soo? Apa yang telah dilakukan oleh gadis itu?” ia begitu cemas. “Mohon ampuni gadis itu, Tuan Muda.”

“Dia adalah keturunan dari pemberontak!”

Soo terperanjat. Begitu pula dengan semua orang yang mendengar perkataan Dae Chul.

“Tidak. Itu tidak benar!” bantah Soo. “Hamba hanya seorang budak!”

“Bawa dia!” tak ingin mendengar elakan Soo, Dae Chul memerintahkan petugas-petugas itu membawa Soo. Gadis tersebut hanya berteriak dan terus mengatakan bahwa dia bukan orang yang mereka maksud. Bahwa mereka telah menangkap orang yang salah.

Begitu mendengar Soo ditangkap, Lee Dong Hae yang sedang menikmati waktu santainya di rumah segera bergegas ke kantor kepolisian dan langsung menemui Yoo Dae Chul.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Dong Hae.

“Kau marah karena aku menangkap kekasihmu?” Dae Chul tersenyum. Dong Hae menarik pakaian Dae Chul, mencengkeram kasar. “Singkirkan tanganmu!”

“Lepaskan gadis itu!”

“Jika kau berkomplot dengannya, maka kau patut diinterogasi,” tutur Dae Chul. “Lee Dong Hae, bukankah kita berasal dari kubu yang sama? Mengapa kita tak bekerja sama saja? Gadis itu adalah putri dari seorang pemberontak!”

“Apa?” Dong Hae terkejut. “Apa maksudmu?”

“Dia adalah putri Hwang Hoon Phil,” penuturan Dae Chul semakin membuat Dong Hae terkejut.

“Kau bilang…,” Dong Hae tertegun. Ia tak akan lupa dengan kejadian yang dialami oleh keluarga Hwang, terlebih putri Hwang Hoon Phil adalah gadis yang seharusnya bertunangan dengan Dong Hae. “Tidak mungkin,” tepisnya kemudian.

“Mereka mengatakan gadis itu telah mati, tapi jasadnya tak pernah ditemukan. Bagaimana jika dia masih hidup?”

Dong Hae melepaskan cengkeramannya dari pakaian Dae Chul, ia merasakan seluruh tubuhnya melemas. “Bagaimana kau tahu jika Soo adalah gadis itu?”

“Kau tak perlu tahu cara kerjaku.”

“Jika Soo bukan gadis itu—apa yang akan kau lakukan? Bagaimana jika kau salah?”

“Kita akan mengetahuinya pada saat interogasi,” senyum simpul Dae Chul. “Ah, kau boleh melihatnya, tapi jangan berpikir untuk menolongnya. Yang Mulia Raja tak akan mengampuni orang yang menentangnya!” ujar Dae Chul dan berlalu meninggalkan Dong Hae.

Dong Hae terduduk lemas. Ia memijit dahinya, frustasi. Pemuda itu beranjak, ia berjalan menuju tempat di mana Soo di penjarakan.

“Tuan Muda.”

Dong Hae sedih melihat Soo yang ketakutan. Ia lebih mendekat dan duduk bersimpuh di hadapan Soo, mereka hanya dipisahkan oleh teralih yang terbuat dari kayu bulat yang sangat kuat.

“Kau tidak mengenaliku?”

“Tuan Muda?” Soo terlihat kebingungan.

“Saat itu aku menemukan binyeo yang kau cari. Kau sangat pemalu sampai-sampai menutupi wajahmu dengan ketat,” ujar Dong Hae, “Kau tak mengingatku?”

“Apa yang Tuan Muda bicarakan?” alis Soo saling bertaut.

“Namamu yang sebenarnya adalah—Hwang Hwa Mi?”

Soo tertegun. Memang benar Soo adalah Hwang Hwa Mi, tapi Soo sama sekali tak mengingat masa lalunya. Soo memandang sedih pada Dong Hae, “Jadi, gadis itu bernama Hwang Hwa Mi? Orang yang seharusnya bertunangan dengan Tuan Muda?” gumam Soo, ternyata Dong Hae tak bisa melupakan tunangannya. “Tapi aku bukan gadis itu. Aku hanyalah seorang budak yang beroleh kemurahan hati Tuan Muda,” air mata Soo menetes, mengalir di pipi mulusnya.

***

Soo tampak meringkuk di atas jerami di dalam penjara. Angin malam begitu dingin menusuk hingga ke tulang, terlebih dengan pakaian yang dipakai Soo. Sebagai tahanan mereka hanya boleh menggunakan hanbok berwarna putih dengan bahan yang tipis.

“Nona,” Soo membuka matanya perlahan ketika mendengar seseorang sedang memanggilnya. “Nona,” suara itu kembali terdengar.Soo melihat seorang pria telah berada di balik terali penjaranya.

“Yeom?” Soo merangkak mendekati Yeom. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Soo, matanya mengawasi keadaan di sekitar. Ia heran mengapa Yeom bisa berada di tempat itu sementara penjagaan yang dilakukan oleh petugas sangat ketat.

“Ssstt…” Yeom meletakan jari telunjuk pada bibirnya. Ia cemas jika tahanan lain terbangun dan mengetahui keberadaannya. “Aku akan membawa Nona keluar dari tempat ini.”

“Bagaimana? Di luar banyak penjaga. Kita pasti akan tertangkap.”

“Jangan khawatir. Sama seperti aku masuk ke sini, mereka tak akan pernah tahu jika kita pergi!” Soo terlihat senang, namun itu hanya berlangsung sesaat. “Nona?” Yeom keheranan melihat Soo justru menjauhinya dan merapat di sudut ruang penjaranya.

“Pergilah Yeom!” ujar Soo. “Aku akan tetap di sini. Jika aku ikut denganmu, mereka akan tetap mencariku dan juga, Tuan Muda Lee Dong Hae akan dituduh sebagai kaki tangan pemberontak karena telah membebaskanku.”

“Nona.”

“Jangan cemaskan aku. Aku akan baik-baik saja,” Soo memandangi Yeom yang bungkam. “Pergilah sekarang juga sebelum para penjaga menangkapmu!”

Yeom tak terlihat tenang dengan keputusan Soo. “Baiklah,” meskipun pada akhirnya ia tetap menuruti keinginan Soo.

 

~.o0o.~

 

Pagi hari, para petugas mengeluarkan Soo dari penjara. Membawa gadis itu ke halaman kantor kepolisian. Banyak petugas yang berdiri tegak, berjaga-jaga di tempat itu. Yoo Dae Chul menyeringai melihat dua orang petugas yang menyeret Soo yang kedua tangannya terikat. Mereka mendudukan Soo di sebuah kursi lalu melingkarkan tali pada tubuh Soo yang disandarkan pada sandaran kursi. Soo akan segera diinterogasi.

Integorasi baru akan dimulai oleh kepala polisi ketika dua orang pria tiba di tempat itu. Kedua orang itu mengenakan pakaian berwarna merah tua, pakaian yang biasanya dikenakan oleh para menteri. Kedatangan kedua orang itu disambut dengan hormat oleh kepala polisi dan seluruh jajarannya. Mereka adalah Menteri Pertahanan Lee Byun Ik dan Menteri Aparatur Negara Yoo Gwang Jun. Kedua orang itu tampaknya ingin memastikan kebenaran tuduhan yang dijatuhkan pada Soo. Meskipun tujuan mereka sama, namun motifnya berbeda. Lee Byun Ik dan Yoo Gwang Jun berasal dari Faksi Hungu yang bertentangan dengan Hwang Hoon Phil yang merupakan seorang Sarjana Sarim dari kelompok bangsawan Seonbi. Yoo Gwang Jun berambisi menangkap semua anggota keluarga Hwang Hoon Phil demi menyenangkan raja. Sedangkan Lee Byun Ik ingin memastikan bahwa Soo adalah putri dari sahabatnya, Hwang Hoon Phil atau bukan. Kepala polisi memulai interogasi, mereka menanyai Soo dengan berbagai macam pertanyaan dan berkali-kali Soo mengelak. Tindak kekerasan yang dilakukan kepada Soo tidak dapat terhindarkan.

“Siapa pun gadis yang kalian maksud, aku tak tahu.Aku hanyalah putri dari seorang budak,” Soo mengelak. Petugas terus memojokkan Soo namun Soo tetap gigih.

Lee Dong Hae tiba dengan terburu-buru dan ia menjadi terkejut melihat penampilan Soo. Keringat membasahi dahinya gadis itu. Rambutnya yang dikepang terlihat berantakan. Ada darah segar yang mengalir dari luka goresan di dahi dan juga dari bibir Soo. Tatapan Dong Hae tertuju pada kaki Soo yang terluka cukup parah. Pakaian putih Soo dikotori oleh merahnya darah. Soo tampak sangat letih. Gadis itu melalui masa interogasi dengan penyiksaan berat. Ingin rasanya Dong Hae menyelamatkan Soo, namun ayahnya mencegahnya melakukan itu.

“Aku bukan Hwang Hwa Mi,” jawab Soo lemah, “Aku tidak mengenalnya. Aku…tidak tahu pria bernama Hwang Hoon Phil. Aku—aku bukan putri dari pemberontak…,” Soo berujar dengan terbata-bata. Seluruh tubuhnya sangat sakit dan ia telah kehilangan banyak tenaga.

“Gadis itu sangat gigih,” Yoo Gwang Jun berdecak. “Paksa dia untuk bicara!” perintahnya lagi.

Lee Byun Ik semakin kuat menahan pergelangan tangan putranya ketika dua orang petugas menyilangkan kayu besar di kaki Soo dan menekan kayu itu dengan sangat kuat. Soo berteriak histeris. Ia kesakitan. Tulang-tulang kakinya serasa remuk. Soo tak bisa lagi menanggung rasa sakitnya hingga membuatnya kehilangan kesadaran. Dae Chul tersenyum puas ketika menatapi Dong Hae yang mematung. Dong Hae tak sanggup melihat penyiksaan yang dilakukan terhadap Soo. Ia tertunduk, ada sesuatu yang memaksa keluar dari matanya, mengalir jatuh di kedua belah pipinya. Para petugas mengangkat tubuh lemah Soo dan memasukkannya kembali ke dalam penjara.

 

~.o0o.~

 

Lee Ryeon terlihat bersemangat. Ia bersenandung pelan. Tangannya menggenggam sebuah kain. Ia baru saja berhasil menyulam motif bunga pada kain itu. Ryeon bermaksud memamerkan hasil kerjanya pada Lee Dong Hae.

Orabeoni,” panggil Ryeon.“Orabeoni, kau di dalam?” tanyanya. Sekian detik menunggu tak terdengar sahutan dari dalam.

Ryeon tak lagi menunggu persetujuan Dong Hae dan segera menggeser pintu kamar kakaknya itu. Langkah kaki Ryeon tertahan melihat Dong Hae sedang duduk bersila di depan meja kecil dengan sebuah buku yang terbuka lebar. Hanya saja, buku itu tak menjadi fokus Dong Hae. Tatapan matanya begitu kosong dan menerawang jauh dengan kesedihan yang terpancar jelas dari raut wajahnya. Ryeon mengurungkan niatnya, ia lalu menutup pintu dengan hati-hati. Ryeon bersandar pada pintu, menarik nafas panjang.

“Apa yang membuatmu sesedih itu, Orabeoni?” gumam Ryeon, “Siapa yang kau pikirkan dan membuatmu sangat terbebani?” ia kembali bergumam. Gadis kecil itu lagi-lagi menarik nafas panjang seolah ikut merasakan penderitaan kakaknya. “Jika aku tidak terlahir sebagai adikmu, aku pasti akan menjadi wanita yang membuatmu selalu tersenyum,” bisik Ryeon lemah. Gadis itu melangkah gontai meninggalkan kamar Dong Hae.

Sementara itu, Lee Byun Ik sedang berdiri di sarangdaecheong, menatap bulan yang sedikit tertutupi awan.

“Kau baik-baik saja, Hoon Phil?” ia berbisik dalam hati. “Kuharap gadis itu bukan putrimu. Kau pasti sedang bersamanya, bukan?” Byun Ik teringat pada Soo dan dia sungguh berharap jika gadis yang disiksa itu bukan putri sahabatnya. “Maafkan aku tak dapat menepati janjiku, tapi setidaknya ada satu hal yang dapat kulakukan untukmu…”

“Ayah,” Lee Byun Ik menoleh pada Ryeon yang telah berdiri tak jauh darinya.

“Ryeon? Mengapa kau berada di luar kamar?”

“Aku melihat Ayah di sini. Mengapa hari ini Ayah dan Orabeoni terlihat sangat sedih?”

Lee Byun Ik tersenyum, ia membelai lembut kepala Ryeon. “Melihatmu, kesedihanku sirna seketika,” katanya dengan penuh kelembutan. Ryeon tersenyum lebar dan memeluk ayahnya.

 

~to be continue~

 

Jangan sungkan untuk memberikan kritikan atau saran.

Saya harap reader di sini masih bersedia menghargai karyaku.. don’t be a silent reader and see you soon… dua minggu gak bakalan lama kok 😉

Iklan

231 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 9)

  1. lee suyeon berkata:

    kebayang deh gmn skit nya pas soi d siksa..
    soo nya baik bgt mau ngelindungin donghae..daebak..

  2. GyuHae berkata:

    Sakit banget liat soo disiksa geun yeoja. Tega banget apa emang udh peraturan’a kaya gitukah? Td pas soo disiksa tumben2nya yeom gak datang. Dan donghae, dia bener2 terpuruk.

  3. Lvoesy berkata:

    arggghhhh bener bener kesel sama yoo dae chul…. gezzzzz
    kasian banget soo. ya ampun hukum jaman dulu bener bener parah.
    aahh aku nangis bacanya.. hae juga ga bisa berbuat apa apa lagi..

  4. chacha berkata:

    ya tuhan.. dae chul jahat banget… kenapa harus ada dia? nasib soo melas banget ya ampun.. itu kaki ditindih kayu terus diteken. ngerasain sakitnya juga. hiksss

  5. rifqohjannah berkata:

    kan bener, si dae chul punya niat licik sama si soo.cinta ditolak, kekerasan bertindak(?) idih bgt-……..-
    gabisa nerima kenyataan ck.

    aku makin penasaran sam end dr crita ini eonni….mmm ceritanya gabisa ditebak bgt:3

  6. AzaleaFishyHae berkata:

    Duh…cara introgasinya kejam banget. kasihan Soo. Gk kebayang sakitnya kayak apa. Semoga ada yang bisa nolongin Soo.

  7. YoonRa berkata:

    Kenapa dunia kerajaan itu kejam ya? Di-introgasi=penyiksaan? Apapun jawaban yg keluar dari mulut dan nggak sesuai sama diharapin bakalan disiksa? Huaaaah, untung aku bukan orang yg hidup dijaman kek gitu, kasian bayangin hwa mi disiksa gitu, ngeri juga hhhh

  8. ridadefitrialxmshs berkata:

    Tuh khan bner! Critanya hmpir mirip dgn dramkor ‘The Moon That Embraces The Sun’! Klw Hwa Mi lupa ingatan gara” pembasmian keluarganya, sedangkan Wol ( Han Ga-In) gara” diracuni.. Nama Soo terinspirasi dari bunga, klw Wol dari bulan.. Yg ngasih nama Soo adalah Lee DongHae, yg dulunya ada ikatan dgn Soo.. Maka di TMTETS, Lee Hwon (Kim Soo Hyun) yg dulunya juga ada ikatan dgn Wol, sebelum lupa ingatan.. Hwa Mi setelah lupa ingatan, jadi pelayan dan gisaeng.. Klw Wol, jdi Shaman (Dukun Istana).. Klw Soo di penjara karena tuduhan putri dari seorang pemberontak, Klw Wol di penjara karena tuduhan telah menggoda Raja saat jadi Jimat Manusia.. Trus, pas Soo diinterograsi dan kakinya yg diikat, lalu kayunya membuka paksa paha Soo.. Sama kyk Wol pas dibagian interograsi.. Bedanya cuman di Lee Dong Hae dan Lee Hwon (Kim Soo Hyun), Yeom (Kyuhyun) dan Anak dari selir, kakaknya Hwon (Jung Il Woo), Isi cerita juga beda..

    Tpi gpp kok^^ Buat aq nostalgia sama TMTETS.. Sama-sama keren.. Jdi kangen sma The Moon That Embrace The Sun.. Atau jangan-jangan, Author-nim pernah nnton The Moon That Embraces The Sun? Trus terinspirasi? Gpp lah ya? Aku seneng bnget, ada yg bkin cerita kyk TMTETS.. Aku juga seneng cerita yg bertemakan kerajaan zaman dulu (Saeguk).. Thx Author-nim udh buat cerita ini^^ Keep Writing!! Fighting!! Ganbate!! Jiayou!! ^^

  9. vieveelaristy berkata:

    ah soo…. kasihan bgt nasib mu
    tapi kenapa??
    kenapa??
    donghae ga pernah bisa nyelamatin soo???
    kenapa harus si kyu????

    *sory eon….ini hnya ungkpan perasaan dari kubu mas ikan*

  10. falah berkata:

    miris bgt!!
    bang ikan emang gak bs ya tolong aku *eh
    semoga makin lanjut partna gak miris bgn 😦

  11. Melz Cho berkata:

    Author, tau gak. Aku jadi ngebayangin ayah (jung soo) jd kaisar langit,
    Cho Kyuhyun, Lee Hyukjae, Choi Siwon, Kim Jong Woon jd dewa apa jadinya??? Hahahhaaa… sedikit humor di tengah2 ketegangan cerita

    • marchiafanfiction berkata:

      hehehe,, si kaisar langit di sini emang perannya ta’ kasih ke jung sooKyuhyun/yeom (dewa perang), hyukjae/nahwan (dewa perjodohan), siwon/myungjin (dewa kehidupan), jongwoon/jongshin (dewa kematian)

  12. nissa kim jw berkata:

    aduh kasian soo nya
    pasti sakit bngt di gtuin
    gak tau knpa aq mah pngnnya soo itu sma yeom,soalnya gigih bngt nyelamtin si soo nya:-D

  13. dyah berkata:

    maaf kak gak bisa komen di tiap part, aku gak bisa berhenti baca selalu penasaran sama kelanjutannya 😀
    pokoknya di setiap part aku gak bosen buat bacanya dan aku bingung hrs kasih kritik/saran/komen apa soalnya ff kakak itu emang bagus2 hehehehe

  14. noviyantilzy berkata:

    kasihan soo, mengerikan hidup di jaman dulu, tp bgus bgitu yeom gk ush dtng! donghae yg harus’a nyelametin jngn kyuhyun mulu! kyuhyun punya aq,

  15. Rosya berkata:

    iya ya.. kyu ters yg nyelametin soo.. jadi bingung, ini cast utamanya siap. diatas ditulis donghae tp menurutku kok jadi menjurus ke kyu yaa.
    semoga kali ini donghae yg nyelametin soo

  16. shatia berkata:

    Dae Chul yg jahat sama kayak bapaknya..menyebalkan..
    Kasihan Soo mengalami banyak penyiksaan, Donghae juga galau karena gak bisa ngelindungin Soo..
    penasaran sama kelanjutannya..
    Wah, Ryeon khan adiknya Donghae, tapi suka sama Donghae sebagai pria, gawat dong, masih kecil udah suka2an mana sama kakaknya lagi..mesti segera disadarkan..

    • marchiafanfiction berkata:

      wkwkwkwk… jaman2 itu kan mereka dinikahkan sejak kanak2, jd sebenarnya wajar aja kalo muncul perasaan seperti itu…wong kalo umur 19 taon blm nikah aja udah dipertanyain hahaha

  17. kim yoo jung berkata:

    greget banget baca ini
    huh… siapa sih pemeran utama cowoknya? donghae apa kyuhyun??
    aku suka bgt ff ini karna bahasanya mudah dipahami dan juga alur ceritanya g manstream
    pokoknya fighting thor!!!

  18. baekxo berkata:

    huhuhu soo kok di penjara ?
    donghaeeee kenapa gk bantu soo ? du gegana deh donghae
    pukpuk oppa😂😂

  19. intan berkata:

    Biar ku tebak ryeong adek ya sih soo kann
    Soal ya belum ada kabar sampk part ini adeknya masik hidup atau dh mati

  20. kenzie W berkata:

    soo merssakan perasaan aneh m yeom.. janga. jangan…
    g tega ngebayangin soo d hukum.. kasian hae g bsa ngelindungin soo…

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s