Under The Joseon Sky (Part 10)

UTJS (Part 10)

Cast :

Ammy/Hwang Hwa Mi/Soo (OC) || Lee Donghae || Cho Kyuhyun as Yeom || Lee Hyukjae as Nahwan || Choi Siwon as Myungjin || Kim Jong Woon as Jongshin || Park Jung Soo as Kaisar Langit || Other

Marchia’s note : Menjauhlah para plagiator, jika kalian menemukan sesuatu yang mencuriga tolong laporkan ke sy. Say no to plagiat!

 *

~ Kenangan Itu Kembali Menyapa ~

.

“Lewat sini!”

Seorang wanita mengikuti langkah para petugas polisi. Dia adalah Ae Jung, pelayan di rumah Menteri Pertahanan Lee Byun Ik. Wajah Ae Jung terlihat cemas. Mereka akhirnya berhenti tepat di depan penjara Soo. Gadis itu terletak lemah dengan luka di tubuhnya juga darah yang mengotori pakaiannya. Ae Jung terpekik ketika mengenali wajah gadis itu.

“Kau mengenalinya?” tanya Kepala Polisi.

“Iya,” jawab Ae Jung gugup.

“Siapa gadis itu?” tanya Yoo Dae Chul. “Benar dia adalah anak dari kerabat jauhmu?”

Ae Jung terdiam. Soo menatap lemah padanya. “Benar Tuan. Dia adalah gadis yang malang,” jawab Ae Jung. Ia merasa iba melihat keadaan Soo. “Kedua orang tuanya telah meninggal dalam kecelakaan kapal. Gadis ini beruntung bisa selamat meskipun ia harus kehilangan ingatannya.”

“Kau tak berbohong?” Yoo Dae Chul tak begitu yakin dengan pengakuan Ae Jung.

“Hamba tak berani berbohong. Gadis ini adalah Soo,” jawab Ae Jung sambil menundukkan kepalanya. Jelas-jelas Ae Jung berbohong namun ia tahu jika ia tak melakukan itu, maka nyawa Soo tak akan tertolong.

“Baiklah,” Kepala Polisi mengangguk paham. “Kau boleh membawanya pulang,” katanya  setelah yakin bahwa mereka menangkap orang yang salah.

“Terima kasih Tuan,” Ae Jung tak henti-hentinya menundukkan kepala sambil terus mengucapkan terima kasih.

Sementara itu di kediamaan Menteri Pertahanan, Lee Dong Hae sedang berdiri di pekarangan rumahnya. Dia menoleh pada bunga mae hwa yang tersiram cahaya bulan purnama. Bunga mae hwa selalu mengingatkannya pada Soo. Lee Byun Ik melarangnya menemui Soo selama gadis itu dalam pengawasan. Meskipun Dong Hae ingin berlari menuju Soo, tapi pengawal yang dikerahkan ayahnya cukup banyak untuk mengawasinya. Ketenangan Dong Hae terusik. Ia terkejut ketika merasakan sentuhan dingin di permukaan kulit lehernya. Yeom sedang berdiri mengarahkan pedang panjang yang sangat tajam kepada Dong Hae.

“Hanya karena ingin melindungimu, Nona lebih memilih mendekam di tempat itu dan menerima siksaan. Sementara kau tak melakukan apa pun untuk menolongnya,” ucap Yeom. “Inikah caramu untuk melindunginya?” tanya Yeom dingin, ia terlihat sangat tenang namun tak sedikit pun menggeser posisi pedang dari leher Dong Hae.

Dong Hae tetap diam, hanya matanya yang menatap lebar pada Yeom. Kedua orang itu kembali terlibat dalam perang batin.

“Jika kau menganggap cintamu dapat melindungi Nona, maka kau adalah orang yang sangat egois,” ucap tajam Yeom. Ia menurunkan pedangnya lalu meninggalkan Dong Hae yang tak diberi kesempatan untuk mengucapkan apa pun.

~.o0o.~

 

Yoo Dae Chul belum juga meninggalkan ruang kerjanya. Ia terdiam dan ekspresinya sangat serius. Ada senyuman di wajahnya lalu senyum itu berganti dengan kemarahan. Dae Chul memukul meja dengan sangat keras.

“Jika aku tak bisa mendapatkanmu, maka siapa pun tak akan pernah bisa mendapatkanmu!” geram Dae Chul sambil mengepal erat tangannya.

***

Malam kian pekat. Beberapa orang petugas polisi terlihat mendorong gerobak dan Soo berada di dalamnya. Kakinya terlalu lemah untuk melangkah sehingga petugas-petugas itu membantu Ae Jung untuk membawa pulang Soo. Ae Jung berjalan di sisi gerobak, ia sesekali memeriksa keadaan Soo. Mereka tak menyadari bahaya yang mengancam.

Ae Jung terpekik ketika seorang petugas jatuh bersimbah darah. Beberapa orang pria tak dikenal tiba-tiba menyerang. Mereka membunuh para petugas polisi. Ae Jung melangkah mundur ketika pria-pria itu mendekatinya.

“Nona!” teriak Ae Jung.

Soo dengan sisa-sisa tenaganya mencoba untuk bangkit. Ia menatapi Ae Jung yang terus mundur ketakutan. Seorang pria mengayunkan pedang pada Ae Jung, wanita itu tersungkur. Bola mata Soo melebar menyaksikan pembunuhan itu.

“Nona, aku akan mengalihkan perhatian mereka. Saat itu, Nona harus berlari sekencang-kencangnya.”

Soo memegangi kepalanya. Ada suara lain yang tiba-tiba menggema dalam kepalanya.

“Aku ingin pergi denganmu!”

“Tidak Nona. Kita berdua tak akan selamat Apa pun yang terjadi, Nona harus berlari dengan kencang dan jangan menengok ke belakang!”

Suara-suara itu terus terngiang di telinga Soo. Gadis itu merasakan kepalanya mulai memusing. Sementara pria-pria tersebut telah berjalan menghampirinya.

“Bong Gu~ aku takut…”

“Jangan khawatir, aku akan melindungi Nona…. Nona harus berjanji. Apa pun yang terjadi Nona harus selamat agar nantinya aku mampu mengangkat kepalaku di hadapan Tuan dan Nyonya.

Air mata Soo menetes begitu saja. Perasaannya bercampur aduk. Soo berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan ia terjatuh dari gerobak. Soo tak bisa berlari, ia hanya mampu merangkak membuat luka di kakinya kembali mengeluarkan darah. Mereka terus mendekati Soo sambil tertawa melihat ketidakberdayaan Soo.

“Aku tak akan meninggalkan Ayah. Aku harus menolong Ayah.

Suara teriakan histeris penuh tangis yang meminta pertolongan terus terdengar di telinga Soo dan ia melihat kengerian itu. Soo terus merangkak. Kejadian masa lalu secara perlahan mulai menyapanya.

“Ibu, bangun! Kau tak boleh seperti ini. Tidak boleh! Bangun, kita harus menyelamatkan Ayah. Kita harus menyelamatkan Hwa Young. Ibu!”

Soo memandangi pria-pria yang telah berdiri di hadapannya. Dengan tangan yang gemetar hebat, Soo melipat kedua tangannya. Soo tak bisa bersuara, tapi ia sedang memohon pengampunan akan kesalahan yang tidak ia ketahui. Air mata Soo mengalir tiada henti. Ia melihat dirinya di masa lalu yang mengalami kejadian yang sama dan rasa takut yang luar biasa. Soo terus memohon dalam kebisuan, hanya air mata yang begitu aktif keluar dari bola mata indahnya, melukiskan kengerian dari tatapan itu. Mereka tak perduli. Seseorang mengayunkan pedang hendak menebas leher Soo. Mata Soo membulat, ia bahkan sudah tak dapat memejamkan matanya.

Crash!

Darah segar mengenai wajah Soo. Jantung Soo serasa berhenti sesaat. Pria itu tumbang. Satu per satu dari mereka tumbang di hadapan Soo. Mata Soo tak berkedip memandangi seseorang yang masih berdiri tegap. Seorang pria berpostur tinggi dengan pedang besar yang terlihat sangat tajam, cahaya bulan bahkan terpantul dari pedang itu. Rambut yang selalu dikuncir seadanya juga pakaian berwarna gelap yang selalu ia dikenakan. Soo mengenalinya. Dia adalah orang yang sama, orang yang menolongnya dari peristiwa pembantaian keluarganya.

“Kau…,” bibir Soo bergetar hebat, “Ye…Yeom.”

Yeom memandangi Soo dengan ekspresi yang sama. Tenang. Mata Soo mulai sayu dan gadis itu tak sadarkan diri. Yeom melangkah menghampiri Soo lalu mengangkat tubuh Soo ke dalam dekapannya, ia membawa gadis itu pergi.

~.o0o.~

Yeom membawa Soo ke sebuah gubuk di luar Kota Hanyang, tempat itu dirasa cukup aman untuk menyembunyikan Soo. Sudah tiga hari sejak Soo pingsan. Soo mengalami trauma yang sangat hebat. Belum lagi luka-luka di tubuh Soo yang sangat menyiksanya. Selama Soo tak sadarkan diri, Yeom selalu mengobati Soo dengan teratur. Yeom membantu Soo menyuapi obat dalam mangkuk ke mulut Soo. Setiap malamnya, Yeom akan berjaga-jaga di depan pintu kamar Soo.

Lolongan anjing liar memecahkan kesunyian malam. Di kamar yang hanya disentuh oleh cahaya lilin, Soo tampak tak tenang dalam tidurnya. Keringat halus mulai membasahi wajahnya. Alis Soo bertaut dan kerutan tipis terlihat di dahinya.

“Bong Gu, kau tak ingin bermain tuho denganku?”

“Aku tak pandai bermain tuho.”

Soo sedang bermimpi. Kegelisahan telah mengambil alih seluruh alam bawah sadar gadis itu.

“Kau akan terus bermain hingga hari gelap? Seorang gadis tak cocok bermain seperti itu. Sebaiknya kau rampungkan sulamanmu. Bong Gu, bawa Nona ke dalam. Hari ini Tuan akan kedatangan tamu.”

“Baik, Nyonya.”

Apa yang dilihat Soo dalam tidurnya bukanlah mimpi biasa. Itu adalah penggalan ingatan masa lalunya.

“Apa Ayah sudah pulang?”

“Ya, Tuan sedang membaca di sarangbang.”

Soo sedang diteror oleh kenangannya. Kepala Soo bergerak tak tenang, memutar ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang sangat lemah.

“Ah, Bong Gu—kau tahu arti namaku?”

“Maafkan aku Nona, aku tak tahu.”

“Hwa adalah keabadian, kecantikan dan kejayaan. Mi berarti cantik. Bong Gu, bukankah sudah cukup jelas jika aku adalah putri yang sangat cantik?”

Mata Soo yang terpejam mendadak terbuka paksa. Secara refleks ia terduduk. Nafasnya tak beraturan. Mata indah Soo nampak mulai berkaca-kaca.

“Aku,” Soo berbisik pelan. Matanya yang memerah akhirnya meneteskan air mata, mengalir anggun di wajahnya. Bibirnya bergetar lemah. “Hwang Hwa Mi,” seperti hujan yang tak kunjung reda, air mata Soo terus mengalir membentuk anak sungai di kedua belah pipinya.

Semua kenangan pahit yang terkubur rapat kini terkuak. Kenangan itu bercerita dengan sangat detail dan jelas. Soo memegangi dadanya yang sesak, ia tak bisa bernafas ketika ia teringat bagaimana ayahnya memilih untuk mati. Ketika ia melihat ibunya telah terbujur kaku didinginnya tanah hutan yang basah. Saat dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan pedang tajam yang menebas Bong Gu, pelayan pribadinya. Lalu saat ia menyadari jika Hwa Young, adiknya yang masih sangat muda harus turut serta menjadi korban keganasan politik di negaranya. Saat itu, Hwa Young hanyalah anak kecil yang tak mengerti apa pun tentang politik yang harus merengut masa depannya. Raja yang dikatakan sebagai ‘Matahari Joseon’ seharusnya memberi perlindungan pada rakyat, namun justru dialah yang menyebabkan banyak darah mengalir—sangat ironis.

Soo berteriak. Tangis yang selama ini dibendung telah pecah. Ia menangis histeris sambil memukul kuat dadanya yang sesak. Soo tak merasakan oksigen yang memenuhi rongga dadanya. Gadis itu terus meraung-raung, luka di sekujur tubuhnya tak sebanding dengan luka yang ia rasakan dalam hatinya. Dalam tangisnya, Soo terus memanggil-manggil mereka yang terbunuh pada malam itu.

Di luar kamar, Yeom hanya menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Mulutnya terus terkunci rapat, ia bahkan tak bergeser sedikit pun dari posisinya saat itu. Yeom tak berniat menyela ataupun menghibur Soo. Yeom tahu jika Soo telah mendapatkan kembali semua ingatannya. Pria itu hanya mencoba membiarkan Soo mengekspresikan duka dan luka yang ia rasakan.

~.o0o.~

Langit berwarna orange. Matahari sudah hampir terbenam di ufuk barat. Angin sore berhembus sepoi-sepoi. Yeom berdiri tenang memandangi Soo yang berjarak beberapa langkah di depannya. Soo tampak mematung di hadapan dua buah makam tanpa identitas milik ayah dan ibunya. Sudah berjam-jam mereka dalam posisi seperti itu, seolah lelah tak menghampiri mereka. Soo menatap kosong dua gundukan tanah tinggi tersebut. Ekspresinya terlihat sangat dingin, tak ada segaris senyum pun di sana. Mata Soo masih terlihat sembab. Setelah berdiri selama berjam-jam, Soo akhirnya tersungkur. Ia berlutut di atas tanah yang berumput.

“Aku,” Soo bergumam pelan. Air mata menyeruak paksa dari bola matanya yang indah. “Bagaimana bisa melakukan itu? Bagaimana kau bisa melupakan siapa kau sebenarnya? Bagaimana bisa kau hidup tanpa mengingat darah yang mengalir malam itu? Apakah kau benar-benar Hwang Hwa Mi? Lalu mengapa kau menghapus semuanya dari ingatanmu?” Soo terisak.

Soo menyesal telah melupakan keluarganya dan semua yang mereka alami. Namun semua itu berada diluar kendalinya, bukan? Isak tangis Soo tak berlangsung lama dan berganti dengan kemarahan yang menghampirinya. Kemarahan itu terlihat jelas dari sinar mata Soo.

“Ya, benar. Aku bukan lagi gadis itu. Hwang Hwa Mi sudah mati. Aku adalah Soo!” gigi Soo saling bergemelatuk menahan kegeraman. “Aku tak akan pernah melupakan kejadian itu. Aku akan selalu mengingat bagaimana aku hidup setelah malam itu. Semua yang mereka ambil dariku ada harganya. Mereka akan membayar itu dengan sangat mahal!” ia mengepal keras kedua tangannya.

Tangisan Soo kembali pecah. Ia meraung sedih. Tak ada lagi gadis bernama Hwang Hwa Mi dalam dirinya. Hwa Mi yang lembut dan periang, Hwa Mi yang penuh dengan kebahagiaan kini sudah ia kubur dalam hatinya. Mulai saat ini dirinya hanyalah Soo, seorang gadis yang dipenuhi dengan amarah dan kebencian. Gadis yang berniat membalaskan dendam atas apa yang menimpa keluarganya. Yeom memandangi Soo dengan sedih. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menengadahkan kepalanya memandangi langit yang mulai gelap.

“Inikah hukumanku?” bisik Yeom lirih.

Yeom mungkin tak pernah mengira jika apa yang ia lakukan dengan menyelamatkan gadis remaja bernama Hwang Hwa Mi tak hanya akan merubah hidup gadis itu tapi merubah seluruh kepribadiannya menjadi gadis yang berbeda. Yeom akhirnya paham bahwa inilah yang dimaksud oleh para dewa bahwa tindakannya justru telah merusak kehidupan gadis itu. Yeom kini mengerti bahwa hukuman sebenarnya yang harus ia jalani bukan karena ia harus hidup sebagai manusia biasa selama 500 tahun melainkan ketika ia menyaksikan bagaimana gadis itu menghancurkan dirinya sendiri dan itu terasa sangat menyakitkan.

~.o0o.~

Soo tidak kembali ke Hanyang. Ia memilih berdiam di pondok di  tengah hutan itu bersama Yeom. Tempat yang jauh dari keramaian. Tak ada seorangpun yang akan melangkah jauh ke dalam hutan dan menemukan pondok di pegunungan itu.

“Malam itu, kaukah yang menolongku?” Soo bertanya pada Yeom. Pria tampan itu tak menjawab. “Sebelum kejadian itu, mengapa aku tidak pernah melihatmu?” ia menoleh pada Yeom.

“Aku hanyalah orang yang mengawasi Nona dari jauh. Nona tak akan pernah menyadari keberadaan orang sepertiku,” jawab Yeom.

“Aku berterima kasih padamu Yeom,” ujar Soo. “Kau adalah orang yang selalu berada di sisiku.”

“Meskipun menolongmu tapi aku telah mengacaukan segalanya. Langit bahkan menyalahkanku, jadi jangan sedikit pun berterima kasih padaku,” Yeom membatin.

“Maukah kau menolongku?” Yeom menoleh ketika mendengar pertanyaan Soo, ia menantikan kelanjutan ucapan gadis itu. “Ajari aku cara menggunakan pedang!”

Yeom terkejut. Ia kemudian menatap lurus ke depan, “Tidak!” jawab Yeom tegas.

“Mengapa?” alis Soo bertaut, “Kau terlihat sangat mahir dengan pedangmu. Aku membutuhkan seseorang sepertimu untuk mengajariku. Mulai saat ini mereka harus waspada dengan hidup mereka. Aku akan mencari tahu orang yang membunuh keluargaku,” ujar Soo dengan mata yang berapi-api.

“Aku akan melakukan apa pun yang Nona inginkan kecuali mengajari Nona cara menggunakan pedang,” jelas Yeom dengan santai. “Nona harus tahu jika pedang adalah benda yang mengerikan. Pedang bisa menyelamatkan orang lain namun dapat membunuh dengan sangat kejam. Pedang tidak cocok untuk orang seperti Nona,” Yeom menoleh, memandangi Soo yang sejak tadi tak menggeser sedikit pun tatapannya dari Yeom.

Soo beranjak, “Bagaimana jika kau salah?” ia diam dengan sorot mata yang aneh. “Aku akan menunjukkan padamu, bagaimana pedang akan menjadi sahabatku. Sahabat karib yang mengerti betapa menyakitkan kehidupan ini dan betapa mengerikannya manusia yang menganggap diri mereka sebagai makhluk yang paling mulia!” ujar Soo.

“Nona, bagaimana dengan Lee Dong Hae?” pertanyaan Yeom mengurungkan langkah kaki Soo. “Dia adalah orang yang dapat melakukan apa pun demi Nona. Bahkan meninggalkan keluarganya, demi Nona. Seharusnya Nona bisa hidup bahagia dengannya,” ucapan Yeom membuat Soo membisu. Gadis itu tampak sedih, sesedih Yeom.

“Bahagia?” tanya Soo pelan. “Aku sudah tidak ingat lagi seperti apa rasanya bahagia,” sorot matanya yang sayu terlihat tenang. Tak ada emosi dari tatapan matanya yang begitu kosong. “Aku tidak percaya masih ada kebahagiaan di bawah kolong langit ini.”

“Bukankah Nona mencintainya? Nona bahkan sangat bahagia saat bersamanya. Nona harus mengingat perasaan itu.”

Soo kembali bungkam untuk sejenak, “Mencintai tak berarti harus tetap bersama, bukan?” sejujurnya mengucapkan kalimat itu membuat hati Soo bergetar. Gadis itu tak dapat menyembunyikan kesedihan yang dirasakannya. “Kau bisa hidup bahagia dengan orang yang kau cintai dan suatu waktu kau akan menangisinya ketika dia pergi mendahuluimu. Mencintai seseorang, pada akhirnya akan tetap menyakitkan,” Soo lalu meninggalkan Yeom.

“Ya, kau benar,” Yeom medesah pelan.

Soo yang telah bertekad untuk membalaskan kematian keluarganya mulai mencoba memegang pedang. Ia berlatih mengayunkan benda tajam tersebut namun itu bukanlah perkara yang mudah. Yeom hanya melihat dari jauh kegigihan Soo. Tak sedikitpun dalam kepala Yeom terlintas keinginan untuk merubah Soo menjadi seorang gadis menakutkan yang hanya dipenuhi oleh dendam.

~to be continue~

Akhirnya sampai juga di part 10…gimana pendek? *gak usah dijawab, aku udah ngerti isi hati kalian 😀 *

Gak mau komen panjang lebar deh, semoga kalian bisa menikmati dan maaf kalau ada kesalahan *namanya juga manusia*

Satu lagi, aku masih berharap kesediaan kalian untuk menjadi pembaca yang baik di sini ^^

Don’t forget to leave your comment

Iklan

191 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 10)

  1. kyuta13nurlita berkata:

    gak tau mau ngmong apa?? aku gak bayangin klo bkalan ada plot kyak gini??? Soo??? kemanakah dirimu yg cantik nan lembut itu. sekarang hanya ada gadis yg penuh dendam dan amarah. klo gini kak, aku merasa yeom lah yg salah. takdir kematian gak bsa diubah dan ini makin memperburuk kehidupan soo?? ak takut donghae kenapa”….. ahhhh tidakk!!! ini kenapa saya jadi mkirin bias orang. ahhhhh tidakkk!!! . ini semacem plot twist deh kak. kak marchia keren. walaupun pendek, ini pas bnget bkin penasarannnnn…
    lee donghae jangan tunjukkan secuil hidungmi yg mancung itu di depan soo?? camkan itu nak?? hahahaha
    *always long* ^^

  2. ulvarian berkata:

    waahh.. ini cerita makin seru, soo udah inget sma masa lalunya dan punya niat balas dendam, penasaran gimana caranya soo mau balas dendam. dan yeom tetep setia sama soo walaupun dalam hatinya sedih liat soo berubah..
    part selanjutnya ditunggu kakak 🙂

  3. Azizah ELFishy berkata:

    kak Marchia…sayya udah nyampe part inii…hhehee… part sebelumny baca marathon…#plettaakk…
    ouwh yya maaf yya kak di FF sebelumny banyak ga koment cz efek penasaran ma ceritta jadi ngebut dee bacany…
    tapi akku tinggalin jejak di sini and mau bilang I love all…hhehee…

  4. Yessa 바보야™ berkata:

    huaaa, soo kenapa jadi berubah gitu? tapi kalo dipikir iya juga sih, siapa coba yg gak dendam kalo sluruh keluarganya dibantai gitu. aku harap yeom selalu ada disisinya.

    kak, ceritanya makin kesini makin bagus. ditunggu ya kak lovely piggynya, eh under the joseon sky maksudnya. hahahaha

    fighting!!!

  5. Rarapark berkata:

    Baru kali ini nemu ff genre saeguk,,nemu,baca,langsung suka…salam kenal buat author dan semangat…

  6. GyuHae berkata:

    Yoo dae chul memang pengen aku cekik yah orangnya, :-p
    Akhir’a soo dapat mengingat kembali ingatan’a, jadi senang. Tapi, apa soo bakal jg orang yg penuh kebencian? Lalu, yeom apakah akan membantu soo dlm hal ini? Lalu, donghae? Bagaimana dengan dia?

  7. piyongboice berkata:

    woahhh soo’y bner2 brubah..tp aku stuju sma soo..kjhatan mreka hrus di blas..fighting soo..

  8. chacha berkata:

    udah mikir macem macem nih.. gimana kalo soo tau ayahnya mati ditangan ayah donghae. padahal itu kemauan ayahnya sendiri. terus ntar soo malah bales dendamnya sama donghae. aaahh astaga.. nyesek serius unn..

  9. rifqohjannah berkata:

    si dae chul psikopat ih.serem x…..x
    keputusan yeom buat nyelamatin hwa mo wktu itu emg salah deh kayanya… eh tp kalo wktu itu yeom ga nyelamatin hwa mi.cerita ini jadi gaseru ya?kok aku onengsi?x…..x

  10. Yoon Hera berkata:

    Eonni Makin geregetan nich..
    Apalagi liat Soo mw balas dendam
    Next part selanjutnya =D
    Oh ya eonni pw untuk ff lain kapan dikirim?

  11. AzaleaFishyHae berkata:

    Soo berubah! Terus ntar sikapnya ke Donghae bakalan kayak gimana?
    Dae Chul sakit jiwa…masa’ cinta ditolak harus sampe segitunya…

    Ceritanya bikin greget Eon…

    • marchiafanfiction berkata:

      jaman dulu itu begitu lho.. apalagi perbedaan kelas, gisaeng masuk dalam kasta terendah masyarakat joseon…jd kaum bangsawan selalu bertindak semena2 pada kasta dibawah mereka

  12. elyptondya berkata:

    kalo dipikir pikir keren juga yah punya bodyguard ganteng kayak mereka wkwkwkwk
    wew soo nya berubah, lanjuttt wkwkwkw

  13. falah berkata:

    ahh ini roman2nya soo bkl benci ama hae klo tau sapa yg bunuh ayahya, wlopun tdk sengaja…
    mkn bikin galau bc part selanjutnya..

  14. Melz Cho berkata:

    Aku mau ke istana langit, mau minta permohonan sama kaisar langit biar hwa mi/ soo bisa bersatu dg yeom…

  15. kim vikyu_94 berkata:

    banyak moment Yeom ama Soo di part ini .. Horeee!! *joget* 😀
    moga Nahwan *bener gak* berbaik hati nyatuin mereka , hopeless sihh secara Yeom dewa gitu ..
    Aku dukung Soo , semangat ya balas dendamnya 😀

  16. Esaa berkata:

    Hukuman Yeom sebenarnya adalah ini….
    Haaaa… Soo jadi gadis pendendam, rasa-rasanya Soo bakalan mati ini di tengah pembalasandendamnya..
    Semoga tiadak.

  17. qiqi amalia berkata:

    Yaa ampunn ingatannya hwa mi udah balik lg..
    Tp yang jd masalah hwa mi nya berubah jd org pendendam X_X inilah hukuman yang sebenernya buat yeom..
    Ckckck.. Gimana ituu apa beneran mau balas dendam ?

    • marchiafanfiction berkata:

      Dia terlalu terluka dan menderita…apa yg ia lami tidak bisa dilupakan begitu saja. bagaimana keluarganya terbunuh, bahkan setelah peristiwa itu, hidupnya sangat mengenaskan

  18. noviyantilzy berkata:

    kn aq udh bilang yeom jngn nyelametin soo, skrng jd qm yg di salahin, pdhal klo bkn krna qm crita ini gk bkal ada, aq tetap pada mu kok yeom 🙂

  19. kim yoo jung berkata:

    yah… kenapa soo jadi begitu? mending soo hilang ingatan
    jujur ya thor sampek skr aku msih bingung sebenernya pemeran utama cowoknya sapa???
    dan aku msih penasaran apa nanti donghae bersatu sama soo?
    pokoknya ff ini bikin aku panasaran bgt..
    fighting thor!!!

  20. Melsyana berkata:

    Kependekan eon, tapi gak apa2 lah ceritanya tambah seru.
    Huwaaaa… Aku kasihan lihatmu oppa, kenapa miris sekali hidupmu.
    Sikap hwa mi berubah, aku senang dia menjadi cewek yg lebih kuat.
    Aku rasa yang disuka hwa mi itu yeom, bukan donghae. Iya kan eon?

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s