Under The Joseon Sky (Part 11)

UTJS (Part 11)

Ammy/Hwang Hwa Mi/Soo (OC) || Lee Donghae || Cho Kyuhyun as Yeom || Lee Hyukjae as Nahwan || Choi Siwon as Myungjin || Kim Jong Woon as Jongshin || Park Jung Soo as Kaisar Langit || Other

Marchia’s note : Menjauhlah para plagiator, jika kalian menemukan sesuatu yang mencuriga tolong laporkan ke sy. Say no to plagiat!

 *

 ~ Pedang Merah ~

 .

 

Soo sedang tidur saat ia mulai menyadari ada sesuatu yang aneh. Gadis itu membuka matanya dan terkejut melihat tiga orang pria tak dikenal di dalam kamarnya. Secara refleks Soo merapatkan tubuhnya ke sudut kamar. Mereka tak akan mungkin berada di dalam kamarnya jika Yeom ada di situ. Entah ke mana perginya Yeom. Mungkin saja ia sedang ke kota mencari informasi.

“Siapa kalian?” tanya Soo kasar.

“Wanita cantik di tengah hutan?” kata seorang dari mereka. Ia memandangi Soo dengan matanya yang jelalatan.

Dua orang lainnya lalu menyeret tubuh Soo dan membawa gadis itu keluar dari dalam rumah. Tak hanya bertiga, Soo mendapati lebih dari lima orang lainnya sedang mengawasi keadaan di sekitar tempat persembunyian Soo. Melihat dari cara mereka berpakaian, mereka tampak seperti kawanan perampok.

“Siapa kalian?” Soo melayangkan pertanyaan yang sama. Ia cemas jika mereka adalah orang-orang suruhan yang diminta untuk membunuhnya.

Sebelum pertanyaan Soo terjawab, seorang pria baru saja terlihat mendekati mereka. Semua orang menundukkan kepala. Orang itu adalah pemimpin dari komplotan tersebut.

“Siapa gadis ini?” pria bertubuh tinggi dan sedikit gempal itu menatapi Soo dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Kami tak mengira tempat ini berpenghuni.”

“Apa yang kalian lakukan?” pria itu memandangi anak buahnya satu per satu. “Gadis itu telah melihat kita! Singkirkan dia!” perintahnya membuat Soo terkejut.

“Siapa kalian? Mengapa ingin membunuhku?” tanya Soo. Tak ada yang menjawab dan Soo semakin ketakutan ketika seorang pria mengeluarkan pedangnya. Lalu sebuah benda terjatuh dari balik pakaian pria itu. Benda itu adalah kain berwarna hitam dengan lukisan pedang berwarna merah. “Pedang Merah?” Soo terkejut saat ia menyadari bahwa mereka bukan perampok biasa, melainkan kelompok pembunuh berdarah dingin yang menamakan organisasi mereka Pedang Merah. Kelompok yang sangat ditakuti oleh seluruh lapisan masyarakat Joseon.

“Ternyata kau tahu lebih banyak dari perkiraanku,” Shin Jin Taek, ia merupakan ketua organisasi Pedang Merah. Lelaki itu berdecak. “Singkirkan dia!” katanya lagi.

“Hentikan!” teriakan Soo membuat pria yang hendak mengeksekusinya terhenti. “Tidak kuijinkan seorangpun mencabut nyawaku,” perkataan Soo mengundang gelak tawa mengerikan para pembunuh itu.

“Lalu—siapa yang boleh mengambil nyawamu?” goda mereka.

“Kalian boleh melakukan apa pun terhadapku tapi kalian tak boleh membunuhku,” ujar Soo tenang. “Aku tidak ingin mati. Tidak, sebelum aku membalas mereka!” ia memamerkan rasa dendamnya yang membara. Soo bahkan tak lagi merasa ketakutan pada para pembunuh berbahaya itu.

“Sepertinya ini akan sangat menarik,” desah pria yang memimpin kelompok tersebut. “Baiklah, aku tidak akan membunuhmu—tapi sebagai gantinya…,” dengan gerakan yang sangat cepat ketika pedang Shin Jin Taek merobek pakaian Soo. “Hari ini aku sedang lelah, kalian boleh bersenang-senang dengannya,” katanya lagi pada anak buahnya.

Seringaian lebar terlihat dari raut wajah mereka. Pria-pria itu tampak seperti singa kelaparan yang memandangi tubuh Soo bagaikan daging segar yang sangat lezat. Meskipun tetap diam, Soo tampak tegang. Namun dendam telah mengalahkan rasa takutnya, Soo tak lagi perduli pada dirinya. Soo rela kehilangan segalanya asalkan tidak kehilangan nyawanya. Soo tetap diam ketika pria-pria itu mulai menggerayangi tubuhnya dan menyeretnya, mereka hendak membawa gadis itu ke dalam rumah. Aktivitas mereka terhenti ketika sebuah kayu melayang kencang di udara. Seorang pria meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.

“Yeom,” gumam Soo.

Mereka ikut memandangi Yeom. Tak menunggu lama untuk membuat para pembunuh itu menyerang Yeom. Meskipun mereka adalah kelompok yang paling ditakuti karena kekejamannya, namun mereka tak bisa dengan mudah mengalahkan Yeom. Tentu saja, meskipun status Yeom saat ini adalah manusia biasa namun jati diri Yeom yang sesungguhnya adalah Dewa Perang, akan sulit untuk menandinginya. Melihat sebuah pedang yang tergeletak begitu saja, Soo berlari dan meraih pedang itu. Tangannya yang gemetar  mengarahkan pedang pada leher Shin Jin Taek.

“Aku, aku akan membunuhmu,” Soo berkata dengan gugup.

“Nona,” Yeom menjadi cemas melihat cara Soo bertindak.

“Jangan mendekat Yeom!” hardik Soo. Ia melarang Yeom agar tidak bergerak dari tempatnya berpijak. “Aku yang akan membunuh orang ini!”

Shin Jin Taek tertegun. Ia lalu tersenyum dan pada akhirnya tertawa keras, “Mengapa tanganmu gemetar? Kau sepertinya baru pertama kali memegang pedang? Nona, pedang tak cocok untukmu. Mungkin kau bisa bermain-main terlebih dahulu dengan pisau dapur,” mendengar perkataan Shin Jin Taek sontak kawanan pembunuh berdarah dingin itu tertawa. Mereka sedang mengejek Soo.

Diperolok-olok, Soo tak membalas. Dia hanya diam—tak berniat mengeluarkan suara yang terkurung dalam mulutnya untuk mematahkan semua yang mereka katakan. Suara tawa menghilang. Keadaan menjadi senyap seketika saat Soo menancapkan dengan sangat dalam, pedang di tangannya pada perut salah satu anggota organisasi Pedang Merah. Bukan hanya mereka, tapi Yeom juga tertegun melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Soo. Gadis itu mencabut pedangnya dan pria itu tersungkur, tewas. Soo kembali mengarahkan pedang yang telah berlumuran darah pada Shin Jin Taek.

“Bagaimana menurutmu?” Soo bertanya dengan ekspresi wajah yang dingin. “Aku bisa membunuhmu, bukan?” tanyanya lagi. Semua orang berada dalam keadaan yang sunyi. Atmosfer di sekitar mereka mulai terasa sangat aneh.

“Apa yang kau inginkan?” Jin Taek yang ditodong pedang oleh Soo akhirnya membuka mulutnya setelah menyadari bahwa gadis itu tak ingin bermain-main. Nyawanya sedang terancam. Soo dengan sengaja menempelkan pedang di leher pria tersebut. Terasa dingin ketika pedang menjilati permukaan kulit lehernya. Soo menatap tenang lalu segaris senyum sinis tertarik di sudut bibirnya.

~.o0o.~

 

Dua tahun kemudian.

“Si—siapa?”

Pria yang ketakutan itu adalah seorang saudagar kaya. Dia sedang berada di ruang pribadinya dan baru menyadari kehadiran orang lain di sana. Seseorang berpakaian hitam sedang mengarahkan pedang tajam pada batang leher saudagar itu.

“Kau?” sang saudagar mencoba mengenali wajah dari orang itu dalam remangnya ruangan yang tadinya tersentuh oleh sedikit cahaya. “Mengapa ingin membunuhku?”

“Aku tak perlu tahu alasan mengapa kau harus berakhir di ujung pedangku.”

Ia tertegun mendengar suara itu, “Kau, seorang wanita?” ia akhirnya paham bahwa seorang pembunuh bayaran sedang dikirim untuknya dan pembunuh itu adalah seorang wanita. “Berapa banyak nyawa yang terlepas dari raga karena pedangmu?” matanya tak henti menatap gadis tanpa segaris senyum di wajahnya. Dia cantik namun sorot matanya tak memancarkan sinar kehidupan. Benar, dia adalah Soo.

“Masih terlalu sedikit. Jumlah yang tak seberapa bila dibandingkan dengan penduduk Joseon. 99 nyawa,” jawabnya tanpa beban. “Berbahagialah karena kau akan menggenapinya!”

Sesaat sebelum pedang itu terayun, seseorang membuka pintu. Seorang wanita berdiri mematung dan ia terkejut. “Tuanku!” ia memandangi suaminya yang sedang berada dalam bahaya. “Siapa kau? Tolong bebaskan suamiku. Apa pun yang kau minta akan kami berikan.”

“Aku telah mendapatkan apa yang menjadi bagianku,” jawaban Soo mengartikan bahwa ia tak pernah menerima negosiasi.

“Kau—bagaimana bisa?” istri saudagar itu terkejut ketika mengetahui bahwa pembunuh bayaran itu adalah seorang wanita. Tak seorangpun meminta ketika wanita itu berlutut, “Nona, kumohon jangan bunuh suamiku. Kasihanilah anak kami, dia yang masih begitu muda!” ia memohon pengampunan pada Soo.

Soo tetap tenang. Ia lalu menggeser pintu hingga tertutup, meninggalkan wanita yang masih menanam lututnya di luar pintu. Gerakan Soo sangat cepat ketika mengakhiri tugasnya. Pria itu ambruk. Darah yang tersembur dari luka menganga di lehernya mengotori salah satu sisi dinding ruangan tersebut. Jeritan nyonya itu membahana, ia menyadari bahwa suaminya telah tewas.

“Nyonya, bukankah hidup itu sangat melelahkan?” gumam Soo. Ada percikan darah di wajahnya. Ia lalu memandangi korbannya yang telah tak bernyawa, “Setidaknya, aku tak membiarkan istrimu menyaksikan bagaimana kau mati. Ini adalah kebaikan hatiku untukmu, Tuan,” Soo terlihat sangat dingin, tak ada ketakutan di matanya. Dia bukan lagi gadis yang sama seperti dulu. Hatinya telah dibekukan dengan dendam. Mata indah Soo hanya memancarkan sorot mata seorang pembunuh.

~.o0o.~

 

Markas Pedang Merah. Shin Jin Taek menyambut kedatangan Soo. Tak ada yang menduga jika permintaan Soo saat itu adalah bergabung dalam organisasi pembunuh berdarah dingin tersebut. Soo mulai dilatih untuk menjadi seorang pembunuh. Ia harus menyingkirkan semua belas kasihan dan rasa kemanusiaannya—dan itu bukanlah hal yang sulit. Soo telah menyingkirkan itu ketika ia memutuskan untuk membalaskan kematian keluarganya. Tak ada lagi wajah cerah penuh senyum Soo. Tak terlihat lagi matanya yang dulu selalu berbinar-binar ketika ia berbicara. Ia tak seanggun saat masih menjadi seorang gisaeng. Ia tak pernah terlihat lagi dengan hanbok wanita, meski tak menutupi kecantikannya saat memakai pakaian yang lebih cocok dipakai oleh pria. Rambut panjangnya yang selalu dikuncir tak ketinggalan ikat kepalanya. Soo yang kini adalah salah satu anggota Pedang Merah.

Dendam telah merubah Soo. Ia tak pernah ragu mengayunkan pedang mengakhiri nyawa orang lain, membunuh yang harus ia bunuh. Hati Soo tak akan terenyuh melihat wajah-wajah mereka yang telah dibunuhnya. Soo, telah berubah menjadi pembunuh paling menakutkan bahkan diantara anggota Pedang Merah lainnya.

“Soo, kau melakukan pekerjaanmu dengan sangat baik,” puji Shin Jin Taek seperti biasanya. Soo tak pernah mengecewakannya. Soo tetap tenang.“Yeom sudah memikirkan tawaranku?”

“Tidak,” jawab Soo.

“Eisshh, dengan kemampuanmu sekarang, kau tak memerlukan seorang penjaga di sisimu,” desis Jin Taek. “Keahlian Yeom sangat baik. Akan sangat menguntungkan jika dia bergabung dengan Pedang Merah,” ia bergumam pelan.

Yeom sama sekali tak tertarik dengan tawaran Shin Jin Taek untuk bergabung dengan Pedang Merah. Meskipun selalu terlihat bersama Soo, bukan berarti Yeom adalah anggota Pedang Merah. Ia hanyalah seorang pelindung bagi Soo.

“Utusan dari Qing akan tiba di Hanyang pada malam ini. Mereka akan melewati jalan ini,” Jin Taek mengarahkan telunjuknya pada sebuah peta Hanyang yang terbentang di atas meja. “Tugasmu adalah membereskan mereka sebelum memasuki istana,” pria itu memberitahukan Soo akan tugas barunya. “Ada kau di sisiku, aku dapat beristirahat dengan tenang,” ia tersenyum puas, tak pernah meragukan kemampuan Soo.

Soo tetap diam menyimak apa yang disampaikan oleh Jin Taek. Ia memandangi Jin Taek dengan tenang. “Ya, mungkin sudah sebaiknya Anda beristirahat,” ujar Soo. Ia memeluk Shin Jin Taek dan tanpa diperhitungkan oleh pria itu ketika Soo mengeluarkan sebilah pisau tajam dan menikamkan benda itu pada perut Jin Taek. Kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat.

“Soo,” bola mata Jin Taek melebar, “Apa—yang kau…,” ucapnya terbata.

Soo melepaskan pelukannya. Pria itu memandangi perutnya yang lubang karena tusukan pisau. Darah segar mengucur membasahi pakaiannya. Jin Taek berlutut sambil memegangi perutnya.

“Mengapa?” tanyanya. Ia mendongak menatapi Soo yang tetap bersikap tenang.

”Jangan melukai harga diri Tuan dengan bertanya seperti itu, seolah Tuan sedang meminta belas kasihan,” ujar Soo. “Beristirahatlah dengan tenang, Tuan,” Soo menundukkan kepalanya pelan.

Shin Jin Taek tertawa pelan, “Seorang pembunuh tak boleh memiliki belas kasihan. Kau harus tetap ingat itu Soo,” ujar Jin Taek. Ia mulai kesulitan berbicara. “Kau benar-benar seorang—pembunuh,” katanya lagi sebelum tersungkur. Tak bernyawa.

Anggota Pedang Merah memasuki ruangan itu dan terkejut mendapati pimpinan mereka telah tewas. Tatapan mereka beralih pada Soo dengan pisau yang berlumuran darah di tangannya. Mereka bungkam. Keadaan menjadi sangat hening sampai seseorang mulai berlutut.

“Apa yang kalian lakukan?” kata pria itu yang ditujukan pada anggota Pedang Merah lainnya. “Mulai saat ini, dia adalah pemimpin kita!” katanya lagi tak melepas pandangan dari Soo.

Semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut segera berlutut. Mereka lalu menundukkan kepala memberi hormat pada Soo sebagai pemimpin baru Pedang Merah. Soo tak memperlihatkan ekspresi yang berlebihan, ia memandangi mereka dengan sangat tenang.

“Kau benar-benar berniat sejauh itu?” pertanyaan Yeom menyambut Soo ketika Soo baru saja keluar dari ruangan itu.

“Tidak!” jawab Soo cepat. “Sudah waktunya, aku telah menunggu saat ini begitu lama. Menjadi seorang suruhan hanya menghalang-halangi tujuan utamaku. Aku tak perlu mengotori pedangku dengan nyawa-nyawa itu. Mulai sekarang, aku hanya akan membunuh apa yang perlu kubunuh,” Soo mengemukakan alasannya membunuh Shin Jin Taek. Selama menjadi seorang anggota, akan sulit bagi Soo untuk membalaskan dendamnya karena ia hanya boleh melakukan apa yang diperintahkan terhadapnya.

~.o0o.~

Ringkikan kuda terdengar di sepanjang jalan Hanyang. Kuda dipacu hingga berlari kencang menimbulkan perhatian masyarakat yang kebetulan sedang melintas di jalan. Dua orang berpakaian hitam sedang menunggangi dua ekor kuda. Mereka memakai topi bundar berbentuk kerucut yang terbuat dari anyaman bambu. Ada pedang yang terselip di tubuh mereka. Kedua orang itu adalah Yeom dan Soo. Kecepatan kuda sedikit melambat ketika mereka memasuki area pasar. Masyarakat yang memadati ruas jalan pasar tak memungkinkan mereka untuk memacu kuda dengan kecepatan awal.

“Kembalikan!”

Teriakan itu mengalihkan perhatian Soo dan Yeom. Mereka memandangi seorang gadis yang sedang bersitegang dengan beberapa orang anak. Dua tahun berlalu, tapi Soo tetap mengenali gadis itu. Lee Ryeon, dia semakin bertambah besar.

“Kau ingin membuat perhitungan dengan kami?”

“Gadis ini benar-benar cari masalah!”

Anak-anak nakal itu mulai mendorong-dorong tubuh Ryeon. Yeom menoleh memandangi Soo. Ia menunggu reaksi Soo, namun Soo justru menendang pelan tubuh kuda, memerintah kudanya agar kembali melangkah. Soo tak terlihat perduli pada Ryeon. Yeom lalu mengikuti Soo.

“Eh…itu…,” tatapan Ryeon tertuju pada Soo. “Soo Eonni?” gumam Ryeon. “Eonni!” panggil Ryeon.

“Mau kemana? Mau melarikan diri?” Mereka menahan tangan Ryeon ketika Ryeon hendak mengejar kuda yang ditunggangi oleh Soo. Ryeon berusaha untuk melepaskan diri tapi jumlah anak-anak itu lebih banyak darinya.

“Hei!”

Anak-anak itu menoleh dan mendapati Lee Dong Hae dalam balutan seragam polisinya. Mereka yang ketakutan segera berlari meninggalkan Ryeon.

“Mengapa kau selalu mencari masalah dengan anak-anak nakal itu?” Dong Hae menghampiri Ryeon.

“Aku hanya sedang membuat perhitungan dengan mereka,” jawab Ryeon tak mau kalah.

“Sebaiknya kita kembali!” ujar Dong Hae sambil melangkah mendahului Ryeon. Dong Hae menoleh, “Apa yang kau lakukan?” tanyanya melihat Ryeon masih tak bergerak dari tempatnya berpijak.

Ryeon menarik nafas panjang sebelum akhirnya menyusuli Dong Hae. “Orabeoni, sepertinya tadi aku melihat Eonni,” gumam Ryeon.

“Siapa?”

“Soo Eonni,” jawaban dari mulut Ryeon sukses membuat langkah kaki Dong Hae terhenti. “Aneh sekali, Eonni seperti tak mengenaliku. Dia juga terlihat sangat berbeda. Hmm—atau aku yang salah mengenali orang?” Ryeon sibuk bertanya pada dirinya sendiri. Ia tak perduli pada Dong Hae yang bungkam dengan ekspresi yang sangat dalam.

Perkataan Ryeon tentang Soo terus membekas di kepala Dong Hae. Pemuda itu tak bisa menyingkirkan bayang wajah Soo dari pikirannya. Dong Hae tak pernah lagi mendengar kabar Soo sejak Soo dibebaskan dari penjara, meskipun telah berusaha mencari namun jejak Soo benar-benar hilang. Dong Hae tak bisa berhenti untuk mencemaskan Soo setelah Ae Jung dan polisi-polisi itu ditemukan tewas di tengah jalan tanpa Soo.

Dong Hae memandangi langit malam yang suram. Tak ada bulan maupun bintang di atas sana. Tatapan Dong Hae beralih pada bunga-bunga mae hwa yang mulai kuncup. “Maafkan aku Soo,” desah Dong Hae, ia selalu diliputi penyesalan karena tak bisa melindungi gadis yang ia cintai. “Aku berharap kita masih menghirup udara yang sama,” katanya lagi.

Sama halnya dengan Dong Hae, di tempat lain Soo pun sedang memandangi langit malam yang gelap dan tak bercahaya. Soo melangkah pelan menyusuri jalan lembab di sekitar rumah yang ditempatinya beberapa waktu lalu. Sebuah rumah yang sangat sederhana dan terletak di pinggiran Hanyang. Rumah tersebut sebagai tempat persembunyian Soo selain markas Pedang Merah.

Sesekali Soo terlihat menarik nafas berat. “Semoga hidup Anda selalu bahagia, Tuan Muda,” bisik Soo dalam hatinya.

~.o0o.~

 

Dua tahun berlalu namun tidak demikian dengan kebiasaan Yoo Dae Chul. Dia tetap menghabiskan malam-malamnya dengan kegiatan yang sama. Berpesta pora bersama para gisaeng di yeongwagwan (rumah gisaeng). Sudah larut malam ketika Dae Chul meninggalkan yeongwagwan dengan terhuyung-huyung. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Dae Chul seorang diri tanpa pengawal pribadi yang selalu mengikuti setiap langkahnya.

Dae Chul berjalan sempoyongan melewati rumah-rumah penduduk yang telah tertutup rapat. Langkah kaki Dae Chul terhenti. Ia menatap keadaan di sekitarnya. Tak ada siapa pun. Dae Chul kembali mengayunkan kakinya, senandung kecil terdengar dari mulutnya. Tiba-tiba saja seseorang memukul bagian belakang tubuh Dae Chul. Ia tersungkur dan tak sadarkan diri.

Setengah jam berlalu saat Dae Chul membuka matanya yang terasa berat. Pandangannya merabun, kepalanya terasa pusing. Pemuda itu terkejut ketika penglihatannya kembali seperti semula. Ia telah berada di tempat yang sepi dengan tubuh yang terikat pada batang pohon. Dae Chul merontah dan berusaha untuk melepaskan ikatannya. Suara langkah kaki yang menginjak dedaunan kering dan ranting patah mengalihkan perhatian Dae Chul. Seseorang berpakaian gelap sedang menghampirinya.

“Siapa kau?” tanya Dae Chul. Ia terus menatapi sosok yang semakin mendekat ke arahnya. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya lagi.

“Aku lebih menyukai pertanyaan kedua,” jawab orang itu. Dae Chul terkejut mendengar suara itu milik seorang wanita. Dia semakin tersentak ketika wanita itu berdiri tepat di hadapannya.

“Kau…Soo?”

“Tak kusangka Tuan Muda masih mengingat seorang budak sepertiku.”

“Soo, kau masih hidup?” tanya Dae Chul. “Lepaskan ikatan ini!” perintahnya.

“Tuan Muda masih sangat kasar,” Soo berkata tenang. Ia mengeluarkan apel merah dari balik pakaiannya. “Apakah tawaran itu masih berlaku padaku?” tanya Soo setelah menggigit apel di tangannya.

“Dasar wanita sial!” geram Dae Chul. “Kau kira aku sudi menikahi budak rendahan sepertimu?”

“Jangan terlalu serius. Aku hanya bercanda,” ujar Soo.

“Cepat lepaskan aku!”

Soo diam, ia terus menggigit apel dan mengunyah santai. Soo memasukkan apel yang tersisa setengah itu ke dalam mulut Dae Chul. “Tentu saja. Setelah Anda berhasil melewatkan permainan ini,” katanya sambil tersenyum dingin.

Soo melangkah menjauhi Dae Chul. Langkah kaki Soo terhenti ketika jarak yang tercipta antara mereka dirasanya cukup. Soo menoleh pada Dae Chul yang memandanginya kebingungan. Gadis itu lalu mengambil busur dan sebuah anak panah. Ia menarik anak panah lurus, mengarahkan benda itu pada Dae Chul yang mendadak dipenuhi rasa takut.

“Tuan Muda, jangan bergerak atau anak panah ini akan bersarang di wajahmu,” tegur Soo tenang ketika Dae Chul terus merontah.

Soo kembali menarik lurus busurnya. Bola mata Dae Chul melebar, terlihat sekali ketakutan yang menggerogoti seluruh tubuhnya. Soo melepas anak panahnya yang melesat kencang ke arah Dae Chul, tertancap tepat di sisi telinga kanan Dae Chul dengan jarak yang nyaris tak ada. Yoo Dae Chul telah tampak seperti mayat hidup ketika Soo mendekatinya dan menarik apel di mulutnya.

“Nyaris saja,” decak Soo pelan, ia mengigit sisa apel tersebut.

“Le—lepaskan aku!”

“Tuan Muda, Anda mengotori pakaian mahal Anda,” kata Soo ketika melihat pakaian Dae Chul yang telah basah. Terlalu takut membuat Dae Chul mengencingi dirinya sendiri. “Apakah Tuan Muda sedang ketakutan? Mengapa?” Soo tersenyum sinis. Soo sedang membalaskan apa yang pernah dilakukan Dae Chul terhadapnya dulu.

“Baiklah. Aku salah,” Dae Chul gemetar. “Maafkan aku Soo. Kumohon lepaskan aku—aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan.”

“Apa pun yang kuinginkan?”

“Benar,” Dae Chul tampak senang, Soo terlihat akan mempertimbangkan tawarannya. “Rumah, uang, emas atau perhia…”

Ssrreekkk!

Soo tak memberikan kesempatan pada Dae Chul untuk menuntaskan kalimatnya saat pedang tajamnya dengan sangat cepat menggorok batang leher Dae Chul.

“Terima kasih. Dibandingkan semua itu, aku lebih menginginkan nyawa Tuan Muda,” Soo berkata dingin memandangi Dae Chul yang telah tewas.

Pagi hari, begitu mendengar kabar kematian putranya, Yoo Gwang Jun sangat geram dan memerintahkan untuk menangkap pelaku pembunuhan itu. Sementara di lokasi kejadian para petugas kepolisian dan penyidik sedang bertugas menyelediki kasus kematian Yoo Dae Chul.

Lee Dong Hae mengamati mayat Dae Chul yang telah dibaringkan di tanah, terlebih pada luka menganga di leher Dae Chul. “Luka yang sangat dalam. Tak terlihat keraguan ketika mengeksekusi. Hanya sekali sabetan, namun sangat mematikan,” gumam Dong Hae, ia kembali menutupi mayat Dae Chul dengan kain putih. “Pembunuhan dengan cara seperti ini adalah ciri khas mereka.”

“Maksud Anda adalah Pedang Merah?” tanya petugas lainnya. “Dilihat dari luka dan bagaimana cara ia mempermainkan korban, pembunuhan ini tak dilakukan hanya karena bayaran tapi lebih mengarah pada dendam.”

“Siapa pun itu, aku pasti akan segera menangkap mereka!” Dong Hae memamerkan keseriusan. Ia tak pernah bermain-main dengan perkataannya. Sejak dulu Dong Hae telah mengincar organisasi Pedang Merah ditambah lagi belakangan ini kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Pedang Merah kian marak membuat keinginan Dong Hae semakin kuat untuk menangkap orang-orang dari organisasi itu.

Tak jauh, Yeom sedang mengawasi mereka. Pria itu hanya terdiam melihat bagaimana Lee Dong Hae begitu berambisi untuk meringkus pembunuh Yoo Dae Chul yang tak lain adalah Soo—orang yang dicintai oleh Dong Hae. Memikirkan itu membuat Yeom cukup tertekan. Yeom menghabiskan waktunya dengan menenggak arak di suatu tempat, ia terlihat sangat frustasi.

Hari sudah gelap dan hujan turun dengan sangat deras. Yeom kembali ke rumah dengan terhuyung-huyung. Soo terkejut ketika Yeom menggeser paksa pintu kamar Soo.

“Yeom?” Soo memandangi seluruh tubuh Yeom yang basah kuyup. Yeom melangkah tertatih mendekati Soo dan tubuhnya ambruk. Soo dengan sigap menangkap Yeom dalam pelukannya membuat pakaian Soo menjadi basah.

“Nona.”

“Kau demam,” Soo merasakan suhu tubuh Yeom meningkat. Soo berniat membaringkan Yeom di kasur ketika Yeom justru mendekap erat tubuh Soo. Soo terkejut. “Yeom.”

“Nona—tolong…,” nafas Yeom terasa berat, “Tolong lupakan dendammu,” katanya lagi pelan dan semakin mempererat pelukannya.

Soo terdiam, hanya jantungnya yang berdetak lebih cepat. Mereka bungkam untuk sekian lama dalam posisi seperti itu sebelum tubuh Yeom benar-benar ambruk. Soo segera melepaskan pakaian luar Yeom yang basah. Ia menyelimuti tubuh Yeom dengan kain. Soo tetap duduk di sisi Yeom tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah pucat Yeom. Dia tetap tampan bahkan dalam kondisinya yang buruk.

~to be continue~

Hai teman2 semuanya ^^

Gak terasa ya udah part 11 hohoho, aku ngerti dengan uneg2 kalian yang minta agar tiap part diperpanjang, tapi dengan sangat menyesal aku harus bilang ‘I love you too’ *abaikan*gak nyambung* back to the topic, cerita ini kemungkinan untuk memperpanjang partnya tidak bisa dilakukan *banyak alasan* tapi ada part2 tertentu yang cukup panjang lho, kalo tidak salah itu part 16 dan part 18 (ending)

So, mohon pengertian kalian ya ^^

Nah, hampir kelupaan.. ingat gak ending di part 7 itu ngebahas tentang seorang anggota organisasi terlarang yang ditangkap Donghae terus bunuh diri dalam penjara?

Waktu itu banyak yang nanya…apa kaitannya organisasi itu? dan aku cuma bilang kalo organisasi itu pasti ada kaitannya dan bakalan muncul di part2 selanjutnya, jadi inilah maksudku..organisasi Pedang Merah akhirnya nongol di sini dan kaitannya ya karena ternyata si Soo bakalan jadi anggota organisasi terlarang itu hohohoho semoga terjawab ya dan pertanyaan2 lain yang mungkin berseliweran di kepala kalian pasti bakalan di jawab kok.. yang penting sabar hehehe

Okay, sekian dulu kata penutup yang luar biasa panjang ini ^^

Teman2 yang baik hati, tolong ya kesediaan kalian untuk memberikan tanggapan… be a good reader, please

Iklan

171 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 11)

  1. kim yoo jung berkata:

    ya ampun kasian banget… kenapa soo jadi pembunuh yang sangat jahat banget???
    donghae g tau klo pembunuh itu soo
    greget banget baca ini

  2. baekxo berkata:

    ya ampun sso kejem banget
    dia jadi anggota pedang merah ?
    kok gak banyak scene nya sama donghae sih ?
    thor tolong dong sso sama donghae aja
    biar yeom sama aku😂

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s