Under The Joseon Sky (Part 12)

UTJS (Part 12)

Ammy/Hwang Hwa Mi/Soo (OC) || Lee Donghae || Cho Kyuhyun as Yeom || Lee Hyukjae as Nahwan || Choi Siwon as Myungjin || Kim Jong Woon as Jongshin || Park Jung Soo as Kaisar Langit || Other

Marchia’s note : Menjauhlah para plagiator, jika kalian menemukan sesuatu yang mencuriga tolong laporkan ke sy. Say no to plagiat!

*

~ Krisan Merah & Sebuah Ungkapan ~

 .

Seorang gadis melangkah tergesa-gesa menyusuri jalanan yang cukup sepi. Dia adalah Myung Ri yang berprofesi sebagai gisaeng pada salah satu yeongwagwan. Sesekali Myung Ri menengok ke belakang. Ia merasa sedang diikuti oleh orang lain. Myung Ri terpekik ketika tiba-tiba saja dua orang pria melompat tepat di hadapannya.

“Nona, kau sangat terburu-buru.”

“Apa yang dilakukan oleh gisaeng cantik seorang diri di sini?”

Myung Ri mencoba untuk mengabaikan pria-pria itu. Ia kembali mengayunkan kakinya dan mereka tetap menghadangnya membuat kecemasan di wajah Myung Ri terlihat jelas.

“Aku harus pergi!”

“Mengapa tak bersenang-senang dengan kami terlebih dahulu?”

Mereka mendekati Myung Ri dan langsung memeluk Myung Ri. Gadis itu merontah dan berteriak sekuat tenaga. Ia berhasil melepaskan diri dan berlari, namun kedua pria itu sangat cekatan dan tangguh. Mereka berhasil menangkap Myung Ri. Salah satu dari pria itu terlempar ketika seseorang menendang keras tubuhnya. Myung Ri yang terkejut menoleh ke arah pria itu—seorang pria tampan yang selalu membuat hati Myung Ri berdesir-desir halus.

“Yeom?” Myung Ri tak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Ia tak menyangka akan melihat wajah Yeom yang disukainya, pengawal pribadi Soo yang menghilang bersama Soo dua tahun lalu. Yeom mengalahkan dua orang itu dengan mudah. Ia lalu berjalan menghampiri Myung Ri yang kedua belah pipinya telah bersemu merah.

“Anda kau baik-baik saja?”

“Tidak…ah, maksudku… aku baik-baik saja,” Myung Ri menjawab dengan gugup. Mata Myung Ri lalu tertuju pada seorang dari dua pria itu. Ia mengeluarkan pedang lalu bersiap menghunus pada Yeom. Myung Ri yang terkejut segera mendorong tubuh Yeom kasar. “Aaah…,” ringis Myung Ri ketika lengannya terkena sabetan benda tajam itu.

“Nona!”

Yeom terkejut melihat luka Myung Ri. Ia lalu menoleh pada pria yang baru saja melukai Myung Ri. Dalam sekali tendang, pria itu kehilangan kesadarannya.

“Nona,” Yeom menghampiri Myung Ri dan memegangi lengan Myung Ri yang terluka. Wajah gadis itu telah pucat, ia ketakutan lalu pingsan. Tanpa banyak berpikir Yeom segera membopong tubuh Myung Ri.

Yeom membawa Myung Ri ke rumah yang ditinggalinya bersama Soo. Soo heran melihat Yeom pulang membawa seorang gadis dan sedetik kemudian keheranannya berubah menjadi keterkejutan melihat gadis itu adalah Myung Ri.

“Apa yang terjadi?” tanya Soo, ia menatapi Yeom yang baru saja membaringkan Myung Ri di dalam kamar.

“Dia terkena sabetan pedang,” jawab Yeom.

“Aku akan mengambil obat!” Soo beranjak. Yeom menahan pergelangan tangannya.

“Biar aku saja,” ujar Yeom dan berlalu meninggalkan Soo.

Soo segera melepas jogeori (baju bagian atas hanbok yang lebih pendek dan ketat) yang dipakai Myung Ri. Matanya tertanam pada luka di lengan Myung Ri. Soo berlari keluar kamar dan kembali dengan sebuah wadah yang telah diisi air. Ia lalu membersihkan luka di tangan Myung Ri. Tak beberapa lama, Yeom membuka pintu.

“Aku akan menunggu di luar,” ia memalingkan wajahnya setelah melihat Myung Ri hanya mengenakan chima (rok panjang) dan heorimari (korset pendek berwarna putih yang terbuat dari kain lenin).

Myung Ri terbangun keesokan paginya dengan keadaan yang lebih baik. Ia memandangi Soo yang tertidur dalam posisi duduk, tak jauh darinya. Mata Soo terbuka perlahan.

Eonni?” tanya Myung Ri, ia lalu duduk. “Benarkah, Soo Eonni?”

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Soo. Myung Ri langsung memeluk Soo. “Sepertinya kau baik-baik saja,” Soo tersenyum tipis.

Eonni, kemana saja kau?” tanya Myung Ri. “Kami sangat mencemaskanmu? Ji Yeon Eonni bahkan tak berhenti menangis ketika kau menghilang,” Myung Ri melepas pelukannya dan memandangi Soo.

“Maaf membuat kalian cemas. Aku baik-baik saja,” jawab Soo tenang.

Myung Ri kembali memandangi Soo secara keseluruhan, “Eonni—mengapa kau berpakaian seperti ini?” tanyanya heran.

“Aku adalah seorang pengembara,” jawab Soo berbohong.

“Mengapa kau tak kembali ke yeongwagwan? Nyonya Nok Hee sangat menyayangimu,” keluh Myung Ri.

“Aku tak bisa. Dan aku lebih menyukai kehidupanku sekarang.”

“Baiklah,” Myung Ri mendesah. “Terima kasih sudah menolongku. Aku harus kembali, semua orang pasti sedang mencemaskanku!”

Soo tersenyum. Kedua orang itu keluar dari kamar bersama-sama. Myung Ri menyarungkan sepatu pada kedua kakinya lalu menyusuli Soo yang telah menantinya di halaman.

“Semua pasti senang jika tahu Eonni masih hidup,” senyum riang Myung Ri.

“Myung Ri, kuharap kau tak mengatakan apa pun pada mereka.”

“Mengapa?” alis Myung Ri bertaut. Ia lalu mengangguk paham. “Baiklah,” gumamnya, “Eonni, apakah kau tahu jika Tuan Muda Yoo Dae Chul telah terbunuh?” pertanyaan Myung Ri tak dijawab Soo. Tentu saja Soo tahu itu. “Mereka mengatakan bahwa Pedang Merah yang melakukannya,” bisik Myung Ri, ia bergidik ngeri.

“Begitukah?” Soo bergumam pelan.

“Kurasa banyak yang sakit hati terhadap Tuan Muda lalu menyewa pembunuh bayaran. Ah Eonni, sekarang kau bisa hidup dengan tenang,” ujar Myung Ri. Soo terdiam dan kembali tersenyum tipis, “Eonni, selama ini kau hidup dengannya?” tanya Myung Ri ketika melihat Yeom menghampiri mereka.

“Ya.”

“Lalu—apa kalian menikah?” selidik Myung Ri.

Soo terkejut, “Tidak. Tidak seperti itu,” jawabnya cepat.

“Benarkah?” pekik girang Myung Ri. Ia terlihat sangat bersemangat.

“Aku akan mengantarmu—setidaknya aku melihatmu memasuki gerbang yeongwagwan dengan aman,” kata Soo.

“Tidak perlu. Aku bisa seorang diri,” tolak Myung Ri.

“Kau baru diserang orang asing.”

“Biar aku saja yang mengantarnya,” Yeom memandangi Soo.

“Kau akan mengantarku?” Myung Ri terlihat semakin senang.

“Semalaman Nona tidak tidur,” Yeom memandangi Soo. Ia sedang meminta Soo untuk beristirahat sejenak.

“Baiklah,” jawab pelan Soo. Gadis itu hanya memandangi punggung Yeom dan Myung Ri yang kian menjauh. Soo menarik nafas panjang. Soo tiba-tiba saja tak rela melihat dua orang itu berdekatan. Soo tersentak dari lamunannya dan kemudian menggeleng kasar kepalanya untuk menepis pikiran-pikiran aneh yang mulai bermunculan di dalamnya.

~.o0o.~

Seperti hari-hari sebelumnya, Soo dan Yeom memasuki pusat kota Hanyang. Mereka berbaur dengan penduduk untuk mencari informasi. Kedua orang itu berpencar. Soo melewati pasar dan memasuki gang sempit yang jarang dilalui penduduk. Tiga orang pria bermunculan dari balik rumah penduduk.

“Kalian sudah membereskan orang itu?” tanya Soo.

“Ya,” jawab salah satu dari ketiga pria itu. Mereka adalah anggota Pedang Merah.

“Sa Mo, aku mempercayaimu. Saat ini kaulah yang harus mengurusi Pedang Merah. Aku masih harus menangani beberapa hal yang perlu diselesaikan!” ujar Soo.

“Baik!”

Mereka menundukkan kepala memberi hormat pada Soo dan akhirnya pergi. Soo juga pergi meninggalkan lokasi pertemuan mereka. Ia berjalan diantara penduduk yang melintasi pasar sambil mengawasi para pedagang dengan dagangan mereka. Sudah lama ia tak menikmati waktu seperti ini.

“Minggir!”

Gadis itu terperanjat melihat beberapa bangsawan arogan yang berkuda di tengah pasar. Semua orang berusaha menyelamatkan diri termasuk Soo. Ia hampir terjatuh lalu seseorang menangkap tubuhnya. Memeluk Soo sangat erat. Pelukan itu melonggar dan Soo menyadari siapa orang itu.

“Tuan..Muda…,” bola matanya melebar menyaksikan wajah Lee Dong Hae yang ikut terkejut.

“Soo,” gumam Dong Hae.

***

Dong Hae dan Soo telah duduk berhadapan di sebuah rumah makan yang terletak di pasar. Mereka terus bungkam dan hanya saling pandang. Mereka kembali dipertemukan dalam ketidaksengajaan setelah sekian lama berpisah. Dong Hae tak melepaskan matanya dari wajah tenang Soo. Gadis itu meneguk santai arak dalam gelas keramiknya. Dong Hae melihat perubahan Soo. Gadis itu tampak berbeda dengan sosok Soo yang dikenalnya. Ya, Soo memang telah banyak berubah.

“Aku sangat senang bisa melihatmu lagi, Soo.”

Soo tersenyum, “Ya—aku bahkan tak menyangka masih bisa menghirup udara segar seperti ini,” gumamnya, ia tak akan pernah lupa dengan kejadian-kejadian yang hampir merengut nyawanya.

“Apa kau hidup dengan baik?” tanya Dong Hae. Ia tak bisa menyangkali hatinya bahwa ia masih sangat merindukan Soo. Soo tersenyum menanggapi pertanyaan Dong Hae. “Di mana kau tinggal, Soo?”

Soo terdiam sejenak lalu memandangi Dong Hae, “Aku menjalani hidup sebagai seorang pengembara,” jawabnya. Itu artinya Soo tak pernah memiliki kehidupan dan tempat tinggal yang tetap.

“Maafkan aku Soo,” Dong Hae mendesah penuh penyesalan.

“Tuan Muda tak perlu meminta maaf padaku,” jawab Soo. Ia tahu jika Dong Hae selalu diliputi rasa bersalah karena tak bisa melindunginya. Soo lalu beranjak, “Aku senang mengetahui bahwa Tuan Muda baik-baik saja,” ujar Soo.

“Aku akan membayarnya,” Dong Hae mencegah Soo mengeluarkan uang untuk membayar minuman mereka.

“Terima kasih. Aku harus pergi,” jawab Soo. Ia memandangi Yeom yang telah berdiri di luar sana.

Dong Hae ikut memandangi Yeom. Mata kedua orang itu saling bertemu, mereka berpandangan dengan sorot mata yang aneh. Ada sinar persaingan yang dipancarkan dari mata Dong Hae dan Yeom. Dong Hae terus memandangi Soo yang menghampiri Yeom. Kedua orang itu lalu pergi meninggalkan Dong Hae dan ia kembali meneguk sisa arak.

Soo dan Yeom menunggangi kuda dan memacu kuda agar berlari kencang. Mereka keluar dari kota Hanyang. Tak memerlukan waktu lama ketika mereka tiba di makam kedua orang tua Soo. Gadis itu turun dari kuda dan menghampiri dua gundukan tanah. Soo memandangi makam ayah dan ibunya. Sorot matanya selalu dipenuhi dengan luka. Ia bersedih—lagi.

Soo bangkit setelah hampir satu jam termenung. Ia lalu menaiki kuda dan memacu kuda yang ditungganginya meninggalkan tempat tersebut. Yeom mengikutinya tanpa banyak bicara. Soo terus memacu kuda dan berlari sangat kencang, mereka melewati pepohonan di hutan dan akhirnya tiba di dataran yang sangat rata—sebuah padang rumput. Kuda melambat ketika mereka melewati jalan kecil yang dipagari oleh padang rumput. Sejak tadi tak ada suara yang keluar dari mulut Soo. Gadis itu hanya bungkam. Matanya memandangi hamparan padang rumput yang luas bagaikan permadani hijau, melambai-lambai mengikuti arah angin berhembus. Soo menoleh dan mendapati kuda di sisi kanannya tak bertuan. Mata Soo mulai mencari sosok Yeom yang entah sejak kapan telah menghilang.

Tiba-tiba saja seseorang menyodorkan sesuatu pada Soo. Ia terkejut memandangi serumpun bunga krisan merah di hadapannya. Soo lalu menoleh dan mendapati Yeom telah berdiri di sisi kiri kuda yang ditunggangi Soo. Gadis itu tertegun. Mereka saling pandang.

“Krisan merah?” gumam Soo. Ia menerima bunga yang disodorkan oleh Yeom. Jantung Soo berdetak sangat kencang ketika menatapi wajah tampan Yeom yang selalu tampak tenang.

“Nona selalu menyukai krisan,” ujar Yeom.

Kedua orang itu terdiam tanpa melepaskan pandangan antara satu sama lain. Semilir angin sore berhembus, memainkan helai demi helai rambut mereka yang melambai-lambai lembut. Soo lalu berbisik dalam hatinya, “Apakah kau tahu jika krisan merah berarti…”

“Aku mencintaimu,” lanjut Yeom dalam hati. Ya, bunga krisan merah jika diberikan pada lawan jenis mengartikan ungkapan rasa cinta.

“Bolehkah aku berharap?” Soo tetap menatapi Yeom, ia tak membuka mulutnya. Hanya bertanya dalam hatinya yang entah sejak kapan telah berdebar-debar aneh karena Yeom.

“Aku bahkan telah menunggumu,” Yeom kembali membatin. Mulut kedua orang itu tetap terkunci rapat namun tidak di pikiran mereka. Seolah-olah mereka menggunakan kekuatan telepati sehingga hanya berbicara dari hati ke hati.

~.o0o.~

 

Siang itu, Soo dibuat terkejut karena kedatangan Myung Ri. Gadis itu tersenyum ceria seperti biasanya saat menghampiri Soo.

“Myung Ri?” Soo kebingungan melihat keberadaan Myung Ri di rumahnya. Apalagi, jarak rumah Soo dari yeongwagwan cukup jauh. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Eonni, aku merindukanmu.”

“Kau tak berubah Myung Ri,” jawab Soo datar.

Myung Ri terkekeh, “Aku hanya bosan terkurung di tempat itu,” ia mengemukakan alasan sebenarnya.

“Nyonya Nok Hee akan marah jika tahu kau tak berada di tempat.”

“Aku mempelajarinya darimu,” kerling Myung Ri. Soo hanya tersenyum, ia tak bisa mengelak bahwa dulu dirinya selalu keluar diam-diam dari yeongwagwan seperti yang dilakukan Myung Ri saat ini. “Eonni, kau sudah bertemu Tuan Muda Lee Dong Hae?”

Soo tak menjawab. Ia memilih menarik nafas sambil mengarahkan pandangannya pada gumpalan awan putih di atas kepala mereka.

“Kau sudah melupakan Tuan Muda?” selidik Myung Ri.

Soo menoleh, menatap tenang pada Myung Ri. “Tuan Muda adalah orang yang sangat berjasa bagiku. Aku akan selalu mengingat itu. Meskipun aku tak mungkin melupakan semua kebaikan hati Tuan Muda, tapi waktu tetap berjalan bukan?”

“Hmm?” Myung Ri tampak sulit mencerna arti dibalik ungkapan Soo.

Yeom berjalan menghampiri mereka. Kedatangannya membuat Myung Ri menjadi salah tingkah. Ia selalu terpesona pada Yeom.

“Nona,” Yeom menatap Soo. Sorot matanya sedang memberitahu Soo tentang sesuatu.

Soo paham apa yang ingin disampaikan Yeom, ia lalu menoleh pada Myung Ri yang tak melepaskan tatapannya dari Yeom. “Tunggu sebentar,” ujar Soo. Ia pun berjalan ke arah lain, beberapa anggota Pedang Merah sedang menantinya.

Hanya berdua dengan Yeom membuat Myung Ri semakin merona. Dadanya berdebar-debar halus setiap kali berdekatan dengan Yeom.

“Siapa mereka?” Myung Ri mencoba membuka percakapan. Matanya terus mengawasi Soo dan orang-orang itu. Entah apa yang mereka bicarakan sehingga membuat mereka terlihat begitu serius.

“Orang-orang yang dekat dengan Nona,” jawab Yeom.

Myung Ri mengangguk pelan. Ia kembali menautkan tatapannya pada wajah Yeom yang berdiri di sisinya. “Benar-benar tampan,” batin Myung Ri. “Yeom, mengapa kau terus berada di sisi Eonni?” Myung Ri kembali bertanya.

“Nona adalah orang yang harus kulindungi.”

“Jika aku, apa kau akan melindungiku seperti melindungi Eonni?” tanya Myung Ri secara spontan. Yeom menoleh padanya. “Ah—bukan apa-apa. Lupakan,” ia tertawa malu.

Mereka kembali terdiam dan terus menatapi Soo yang belum menyelesaikan urusannya dengan orang-orang itu.

“Yeom, apa kau pernah berpikir untuk menikah?” pertanyaan Myung Ri lagi-lagi berhasil membuat Yeom menatapinya. “Selain melindungi Eonni, kau punya kehidupan sendiri yang harus kau jalani.”

Yeom kembali menatap lurus, “Aku tak punya keberanian untuk memikirkan itu.”

“Lalu, pernahkah kau menyukai seseorang?”

Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Yeom membuat Myung Ri menoleh pada pria itu. Yeom hanya menatapi Soo. Raut wajah Myung Ri perlahan berubah. Melihat cara Yeom menatap Soo, Myung Ri mulai menyadari bahwa orang yang disukai oleh Yeom adalah Soo.

“Bolehkah aku beristirahat di dalam? Perjalanan membuatku lelah,” ujar Myung Ri dan memasuki kamar Soo tanpa menunggu persetujuan Yeom.

Myung Ri menutup pintu kamar sambil memegangi dadanya. Entah mengapa ia merasa telah ditolak bahkan sebelum ia menyatakan perasaannya pada Yeom. Myung Ri kini paham mengapa Yeom tak pernah memikirkan hal lain, selain Soo. Gadis itu melemas, ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan cukup kasar. Myung Ri mulai melangkahkan kakinya pelan mengitari ruang istirahat Soo yang sempit. Tak ada barang berharga di sana. Hanyalah kasur dan selimut yang tersusun rapi juga sebuah lemari kecil. Myung Ri tak sedikit pun berniat mencari tahu isi lemari dengan rak-rak kecil tersebut. Ia justru tertarik pada benda yang terletak di samping lemari. Sebuah pedang yang berdiri dengan di sandarkan pada lemari.

Myung Ri menghampiri pedang yang tersarung aman pada tempatnya, ia lalu meraih pedang itu. Myung Ri berdecak, tak menyangka jika seorang Soo yang lembut memiliki pedang. Mata Myung Ri lalu tertuju pada sesuatu yang menemani pedang itu. Sebuah kain hitam yang terikat pada gagang pedang. Ketika diperhatikan dengan seksama, ada sebuah lukisan pedang dengan tinta merah pada kain itu. Untuk sesaat Myung Ri mengernyit sebelum akhirnya ia terpekik dan membuang kasar pedang itu.

Wajah Myung Ri tampak pucat. Ia membekap mulutnya setelah mengetahui sebuah rahasia. “Pedang Merah?” bola matanya melebar. Mendengar derap langkah kaki yang mendekat, cepat-cepat Myung Ri menyandarkan kembali pedang tersebut pada tempat semula.

“Myung Ri?”

Ia semakin terkejut ketika melihat Soo telah berdiri di ambang pintu. Myung Ri lalu berjalan menghampiri Soo. “Eonni—sepertinya aku harus kembali,” katanya gugup.

“Kudengar kau kelelahan?” selidik Soo.

“Aku sudah lebih baik. Mereka bisa memarahiku jika tahu aku menghilang,” elak Myung Ri. “Aku pergi,” katanya lagi sambil menerobos Soo. Soo hanya memandangi Myung Ri yang berjalan tergesa-gesa sambil sesekali menengok ke belakang, menatap Soo dengan ekspresi takut. Soo diam meskipun ia tak mengerti situasi yang terjadi.

Bukannya pulang ke yeongwagwan, Myung Ri justru menuju ke kantor Biro Kepolisian. Ia terlihat menanti dengan cemas di depan gerbang. Lee Dong Hae berjalan tergesa-gesa menghampiri Myung Ri.

“Tuan Muda,” Myung Ri segera berhamburan ke arah Dong Hae.

“Ada apa?”

“Tuan Muda,” kecemasan tersirat jelas di wajah Myung Ri.

“Terjadi sesuatu?”

“Tuan Muda,” Myung Ri semakin sulit berbicara.

“Katakan Myung Ri!” Dong Hae semakin penasaran.

“Tolong selamatkan Eonni,” ujar Myung Ri. “Tuan Muda, tolong selamatkan Soo Eonni!”

Dong Hae tertegun, “Apa yang terjadi pada Soo?”

Eonni…,” Myung Ri terlihat takut-takut melanjutkan kalimatnya. “Kupikir Eonni benar-benar berbeda dengan Eonni yang dulu. Lalu, aku menemukan sebuah pedang dengan lambang Pedang Merah.”

Mendengar penuturan Myung Ri membuat Dong Hae terkejut, “Apa maksudmu?”

“Aku tak sepenuhnya percaya ketika Eonni mengatakan ia hanyalah seorang pengembara. Melihat pedang itu—bukankah itu artinya Eonni adalah bagian dari mereka?”

Dong Hae tertatih mundur dua langkah dari posisinya. Ia sangat terkejut mendengar kabar yang disampaikan oleh Myung Ri.

~.o0o.~

 

Soo sedang melintasi jalanan sepi dan tiba-tiba saja sebuah pedang terarah padanya. Ia terkejut. Lebih terkejut lagi melihat si pemilik pedang itu. Lee Dong Hae menatap dalam diam dengan sorot mata yang terlihat sangat terluka.

“Myung Ri mengatakan siapa aku?” Soo bertanya dengan tenang.

“Yoo Dae Chul. Kau yang membunuhnya?”

“Tuan Muda memang petugas yang sangat berbakat,” jawab Soo.

“Mengapa?” tanya Dong Hae. Matanya mulai memerah memandangi Soo yang terlalu tenang. “Mengapa kau menjadi seperti ini?”

“Hidup adalah sebuah misteri,” jawab Soo. “Ketika kita tak menemukan jawaban atas keadaan yang kita inginkan, maka kitalah yang harus menciptakan keadaan itu sendiri dan menjadikannya sebagai sebuah jawaban.”

“Apakah kau—Soo?” dada Dong Hae serasa sesak. Ia benar-benar terluka melihat keadaan Soo. “Aku bahkan masih mencintaimu dengan segala kesakitanku. Tapi mengapa kau menjadi seperti ini? Mengapa berubah? Mengapa hatimu begitu mudah goyah? Apakah aku tak cukup untukmu?” air mata mengalir dari mata Dong Hae.

Soo terdiam, “Batu yang keras bahkan akan hancur karena air,” ujar Soo. Di dunia ini, tak ada yang namanya kekekalan. Semua akan berubah dan berlalu. “Waktu dapat merubah segalanya, Tuan Muda.”

Air mata Dong Hae kembali menetes. Soo menatapinya dengan mata yang mulai sembab, hatinya pun sedih tapi ia hanya bisa menyalahkan hidup yang terlalu keras padanya. Hidup yang seakan tak berpihak padanya. Dong Hae menurunkan pedangnya.

“Bersembunyilah dengan baik. Jika aku melihatmu lagi, aku tak akan ragu untuk menangkapmu. Mungkin saja membunuhmu,” ujar Dong Hae. Ia lalu berpaling membelakangi Soo, “Aku pergi bukan karena aku tak bisa membunuhmu, tapi justru karena aku bisa membunuhmu,” kata Dong Hae lalu melangkah pergi.

“Bahkan nyawa ini tak akan cukup untuk membayar semua kebaikan hati Tuan Muda,” Soo bergumam pelan.

~to be continue~

Tarik nafas dalam2…

Frustasi. Why?

Gak ada alasan yang jelas *plak* hehehe

Sebenarnya, frustasi dengan penderitaanku *maaf sodara2, aku sedang memposisikan diri sebagai Soo* hahahaha

Frustasi memikirkan Donghae krn ke depan aku mungkin bakalan saling bertentangan dengan beliau 😀 … frustasi juga mikirin si Yeom yang mungkin bakalan melakukan segala cara agar aku gak balas dendam, akh Yeom mengapa kau cakep banget sih? aku jadi tergoda tau gak. Bingung aku harus milih siapa? apa ta’ embat dua2nya aja ya? *Jadi Soo emang harus kuat nahan godaan* wkwkwkwkwk

Udah ah, daripada diamuk kubu Donghae dan Yeom, mending kabur bareng suami 1 dan suami 2 *read : Kyu & Hae*

Oh… jangan lupa tanggapan ya, aku ini tipe orang yang tidak bisa cepat puas dan tipe yang sangat haus akan kritik dan saran.. So, aku harap teman2 bisa menghargai itu

Don’t be a silent reader

Iklan

227 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 12)

  1. kim yoo jung berkata:

    aish bikin frustasi
    kenapa jadi begini??? padahal aku pengen soo sama donghae
    suksek buat author yang bikin aku frustasi
    fighting thor!!!

  2. baekxo berkata:

    ahh andweee kenapa mereka saling membunuh sih ?
    bingung nih thor sebenernya pemeran utama siapa ?

  3. Vhicha azhari berkata:

    Aish jinja. Eonniii..knapa jdi begini?? Knapa soo jdi berubah? Huuhh,, walaupun aku ingin soo bersatu dg si yeom,tapiiii tak apalah…dg donghae .. Laah sekarang? Kok jadi gini.. Eonnii.. Sukses bikin aku frustasi, tambah penasaran huuffzzz…semangat eonnii :’

  4. itisyahri berkata:

    Huwaaa aku pengen nangis 😦 kasian banget sih hidup soo….. Yehet soo kaya uda mulai naruh rasa ke kyuhyun dehh…… Yuhuu

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s