Under The Joseon Sky (Part 13)

Binyeo 1

Ammy/Hwang Hwa Mi/Soo (OC) || Lee Donghae || Cho Kyuhyun as Yeom || Lee Hyukjae as Nahwan || Choi Siwon as Myungjin || Kim Jong Woon as Jongshin || Park Jung Soo as Kaisar Langit || Other

Marchia’s note : Sebelumnya masih kasih WARNING! Inilah yang aku maksud dengan part TERPENDEK dalam sejarah UTJS hahaha, jadi jangan kaget ya.

Menjauhlah para plagiator, jika kalian menemukan sesuatu yang mencuriga tolong laporkan ke sy. Say no to plagiat!

*

~ Cerita Tentang Binyeo ~

 .

“Apa yang Nona lakukan?” tanya Yeom ketika melihat Soo sedang mengarahkan tangannya ke langit. Yeom menghampiri Soo dan duduk di sisi gadis itu, ia ikut memandangi langit malam yang berbintang.

“Aku sedang mencoba mengambil bintang yang paling terang,” jawab Soo.

“Kau tak akan berhasil,” desis Yeom.

“Bagaimana jika aku melakukannya?” tanya Soo. “Kau harus memberikanku hadiah!” ujarnya lagi. Yeom menoleh seketika memandangi Soo.

“Baiklah,” ujar Yeom setuju.

Soo tersenyum, ia kembali mengarahkan tangannya. Seakan berhasil meraih salah satu bintang ketika ia menutup tangannya. Ia lalu mengarahkan tangannya pada Yeom dan membuka kepalan tangannya.

“Berhasil!” ujar Soo. Yeom memandangi telapak tangan Soo. Ada sebuah tahi lalat hitam tepat di tengah telapak tangan kanan Soo. Tahi lalat itu adalah tanda lahir Soo dan terlihat seperti bintang kecil, “Kedua orang tuaku mengatakan jika aku terlahir sambil menggenggam bintang,” Soo tersenyum. “Jadi—bolehkah aku meminta hadiahku?” Soo kembali menatapi Yeom.

Yeom terdiam, ia lalu mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya dan menyerahkan benda itu pada Soo.

Binyeo?” Soo mengenali benda itu sebagai benda kesayangannya. “Di mana kau menemukannya?” tanya Soo.

“Nona menjatuhkannya di sekitar sini,” jawab Yeom.

“Kukira aku telah menghilangkannya. Terima kasih,” Soo terlihat sangat senang sambil terus memandangi tusuk rambut itu. “Jika aku menghilangkan benda ini, Ibu mungkin akan…,” suara Soo tertahan. Ia terdiam. Sekian lama Soo berpikir dan raut wajahnya mulai berubah. Bola mata Soo kian melebar dan ia mengalami peningkatan debaran jantung. Soo mengangkat wajahnya menatap Yeom dengan sorot mata yang memancarkan keterkejutan.

“Nona—mengingatnya?” Yeom bergumam pelan.

Soo sudah tak dapat berkata-kata. Lidahnya terasa kelu. Soo mencoba untuk berbicara tapi suaranya tetap tertahan di tenggorokannya. Kedua orang itu kembali bungkam dengan permainan jantung mereka yang bekerja maksimal. Gadis itu memandangi Yeom yang tetap tenang di sisinya, pandangan mata Yeom sangat lurus ke langit di atas kepala mereka.

“Kau…,” Soo mencoba berbicara setelah mereka terdiam dalam waktu yang sangat lama, “Bagaimana kau masih tetap terlihat sama?” ia mempertanyakan Yeom yang tak terlihat berbeda sedikit pun dalam ingatannya. Seorang dewa seperti Yeom, meskipun umur mereka terus bertambah namun secara fisik bertumbuhan mereka terhenti pada umur 25 tahun, itulah sebabnya mereka selalu terlihat seperti seorang pria muda.

“Aku memang sudah terlahir tampan,” jawaban yang diberikan Yeom justru membuat Soo tersenyum. Senyum Soo berubah menjadi tawa meskipun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Yeom ikut tersenyum, sudah sangat lama Soo tak tertawa seperti itu. Detik selanjutnya tawa Soo menghilang dan jantung gadis itu mulai berirama cepat. Soo tak pernah melihat Yeom yang dingin tersenyum dan senyuman Yeom sangat hangat.

“Aku—ingin tidur,” Soo yang sangat gugup segera beranjak membiarkan Yeom seorang diri di luar rumah. Yeom hanya tersenyum memandangi Soo yang menghilang di dalam rumah.

“Jangan diteruskan Yeom,” Nahwan telah duduk di sisi Yeom. Yeom terdiam, ia lalu memandangi dua gumpalan asap berwarna putih dan hitam yang mendekatinya dan Nahwan. Kedua asap itu lalu berubah wujud menjadi Myungjin dan Jongshin.

“Kau sangat keras kepala!” desis Jongshin.

“Aku sedang memohon padamu, tolong hentikan sampai di sini!” Nahwan terlihat sangat serius.

“Menjadi manusia membuatmu melupakan peraturannya? Ataukah kami harus mengatakan padamu?” tanya Jongshin.

“Yeom. Dewa tidak boleh terlibat hubungan cinta dengan manusia,” Myungjin kembali mengingatkan Yeom. “Apa kau tak berpikir? Kau tak bisa melakukan itu!”

“Aku tidak memikirkan apa yang tak dapat kulakukan. Aku hanya melakukan apa yang kupikirkan,” jawab Yeom tegas.

“Tak pernah ada yang melewati batas seperti yang kau lakukan,” Myungjin menghela nafas berat. “Yeom, haruskah aku berlutut di hadapanmu?”

“Myungjin!” Yeom menatap tajam, mencegah Myungjin berlutut. “Aku akan menanggung hukumanku.”

“Kau bercanda?” Jongshin mendelik. “Apa kau ingin menjadi yang terbuang?”

“Yeom, aku yakin kau tahu itu. Kutukan yang selamanya akan membuatmu lebih rendah dari siluman. Pikirkan itu!” Nahwan tak terlihat tenang. Ia sangat mencemaskan Yeom.

Yeom terdiam, ia lalu menatapi ketiga dewa yang menatap cemas karena keputusannya. “Aku akan menanggung semuanya!”

“Ada aturan-aturan yang tak seharusnya kau langgar,” tegur Nahwan.

“Lupakan itu. Segala peraturan tak berlaku baginya,” erang Jongshin, ia masih sangat kesal karena kekacauan yang ditimbulkan Yeom pada kitab kematiannya.

“Kau harus memperbaikinya bukan memperkeruh situasi, Yeom.”

“Bagaimana caranya? Kalian akan memutar balik waktu untukku?” tanya Yeom, “Sekalipun aku diberikan kesempatan kedua, aku masih akan tetap menolong gadis itu,” kata Yeom sambil beranjak. Langkah kakinya terhenti, “Jangan khawatir. Apa pun yang terjadi padaku, aku akan baik-baik saja. Bagiku, mencintai gadis itu bukanlah sebuah kesalahan,” katanya lagi. Yeom lalu menyusuli Soo masuk ke dalam rumah. Nahwan, Myungjin dan Jongshin hanya saling pandang lalu menarik nafas dalam-dalam.

~.o0o.~

 

Kediaman keluarga Hwang Hoon Phil, dua belas tahun lalu.

“Nona!” Bong Gu berlari-lari mengejar Hwa Mi kecil yang baru berusia delapan tahun. “Nona bisa terjatuh!” langkah Bong Gu terhenti, nafasnya memburu karena kelelahan.

“Bong Gu!” Hwa Mi tertawa lebar melihat pelayannya yang kewalahan. “Kau menyerah?”

“Jika Nyonya melihat Nona berlari-lari seperti itu, Nona pasti akan dimarahi. Nona, sebaiknya kita kembali ke dalam. Nona harus berlatih menyulam.”

“Menyulam? Membosankan!” desah Hwa Mi. “Bagaimana dengan tuho?”

“Nona.”

“Aku sering melihat anak-anak memainkan itu,” desah Hwa Mi.

“Bong Gu!” terdengar suara lain yang memanggil nama pelayan muda itu.

“Tunggu sebentar, Nyonya memanggilku,” Bong Gu mempercepat langkahnya ke arah sumber suara. “Nona, jangan pergi kemanapun!” tegasnya lagi sebelum masuk ke dalam rumahnya.

Teguran Bong Gu tampaknya tak berlaku pada Hwa Mi. Gadis kecil itu justru beranjak. Dia memang hanya mengitari pekarangan rumahnya yang cukup luas. Memperhatikan bangunan-bangunan yang ada di kediamannya selain bangunan utama. Beberapa pelayan tampak sibuk di gwangchae (bangunan untuk gudang). Hwa Mi berlalu. Matanya lalu tertuju pada soseldaemun, ingin rasanya ia berlari keluar dari gerbang utama itu tapi rasanya tak mungkin. Ayahnya pasti akan marah besar jika ia keluar seorang diri. Hwa Mi mendesah dan mengurungkan niatnya untuk berlari bebas di luar lingkungan rumahnya. Gadis kecil itu kembali mengayunkan kaki pelan sambil terus menundukkan kepala lesu.

SRAKK!

“Kyaaa!”

Hwa Mi berteriak kaget karena sesuatu tiba-tiba terjatuh dari atas pohon, tepat ketika ia hendak melintas di bawah pohon tersebut. Tunggu, bukan terjatuh tapi lebih tepatnya melompat. Masih dengan raut wajah terkejutnya, Hwa Mi memandangi objek yang berada di hadapannya. Seorang pria yang dalam posisi berlutut dengan menanamkan sebelah lututnya di tanah dan juga kedua tangannya yang bertumpuh pada tanah. Tampaknya itu efek setelah ia melompat dari ketinggian. Pria itu lalu berdiri sambil menepuk kedua tangannya seraya membersihkan kotoran yang menempel.

Mata bulat Hwa Mi berkedip lambat ketika melihat orang itu lebih jelas. Dia memiliki tubuh yang tinggi dan wajahnya sangat tampan. Rambut halusnya yang terikat hanya melambai-lambai ketika disentuh angin. Hwa Mi dapat melihat pedang yang cukup besar terselip di balik punggungnya. Kepala Hwa Mi lalu mendongak, dahan pohon di atas kepalanya cukup tinggi.

“Paman, kau melompat dari sana?” tanya Hwa Mi penasaran.

“Aku bukan pamanmu!” pria itu menjawab dengan ekspresi dingin.

“Mengapa kau berada di atas sana? Apa yang kau lakukan? Siapa kau?” Hwa Mi menyerang dengan pertanyaan beruntun. Pria itu tak menjawab ia justru melangkah pergi. Kesal, Hwa Mi belari dan menghalangi pria itu. “Kau pencuri?”

Hwa Mi baru saja hendak berteriak ketika pria itu membekap mulut Hwa Mi agar gadis itu tetap diam. “Baiklah, aku adalah…,” ia terdiam, menimbang-nimbang sesuatu di dalam kepalanya. “Salah satu pengawal pribadi di tempat ini.”

“Kau tak berbohong?” tanya Hwa Mi, ia masih belum percaya. “Mengapa aku tak pernah melihatmu sebelumnya?”

“Nona mengingat wajah semua pelayan dan pengawal di sini?”

Hwa Mi berpikir sejenak lalu menggeleng sambil tersenyum.“Baiklah, aku percaya padamu.”

Meski tak terlihat jelas, pria itu tampak lega. Tak mungkin ia mengatakan pada Hwa Mi siapa dia sebenarnya. Dia bukan manusia biasa melainkan seorang dewa. Dewa yang selalu merasa jenuh berada di istana langit sehingga membuatnya lebih suka berkelana. Dia mungkin sedang sial ketika memilih bersantai di sebuah dahan pohon pada kediaman keluarga bangsawan Hwang dan tak menduga jika ia akan dipergoki oleh putri keluarga bangsawan itu. Pria tampan yang selalu berekspresi tenang itu adalah Yeom, sang Dewa Perang.

“Tunggu!” Hwa Mi kembali mencegah Yeom. “Kau harus melakukan sesuatu untukku!”

“Aku tak mau!” Yeom menjawab sangat cepat.

Hwa Mi memamerkan wajah masamnya, “Jika kau adalah pengawal di rumah ini, kau harus mengikuti apa pun yang dikehendaki oleh majikanmu!” katanya. Yeom menarik nafas panjang. Hari ini dia benar-benar sial harus bertemu dengan putri bangsawan yang keras kepala seperti Hwang Hwa Mi.

Tak berapa lama, Hwa Mi terlihat dengan sebuah anak panah di tangannya. Ia memandangi sebuah tempayan yang terletak beberapa meter di hadapannya. Setelah mengira-ngira, Hwa Mi segera melemparkan anak panah itu ke arah tempayan namun meleset. Yeom kemudian memberikan contoh sambil menjelaskan kepada Hwa Mi. Dalam sekali lempar, anak panah milik Yeom berhasil masuk ke dalam mulut tempayan. Hwa Mi bertepuk tangan riang. Gadis itu meminta Yeom untuk mengajarinya bermain tuho, jenis permainan tradisional yang sedang mereka mainkan sekarang.

“Kali ini aku harus berhasil!” Hwa Mi merasa sangat optimis.

“Nona tak akan bisa melakukannya,” Yeom mendesah.

“Bagaimana jika aku berhasil?” Hwa Mi menatap kesal pada Yeom. “Baiklah—jika aku melakukannya, kau harus menghadiahiku sesuatu!”

“Apa?” Yeom memandang sadis pada gadis kecil itu.

“Jangan mengingkari kesepakatan kita, kau mengerti?”

Yeom mendesah tak percaya mendengar ucapan Hwa Mi, “Sejak kapan aku sepakat denganmu?” ia kembali mendesis. “Baiklah. Kita lihat, sejauh mana kemampuanmu,” decaknya, ia bahkan menjadi seperti anak kecil karena Hwa Mi.

“Nona!”

Teriakan Bong Gu membuat Hwa Mi tak jadi melempar anak panahnya. Ia memandangi Bong Gu yang bergegas menghampirinya.

“Apa yang Nona lakukan?”

“Tentu saja bermain tuho. Karena kau tak mau mengajariku, aku berhasil menemukan orang lain yang mau bermain denganku,” ujar Hwa Mi sambil menoleh namun ia tak lagi mendapati Yeom di situ. “Ke mana perginya?”

“Siapa?”

“Pengawal,” jawab Hwa Mi singkat.

“Nyonya meminta Nona segera masuk,” mendengar ucapan Bong Gu membuat Hwa Mi mendesah, ia melenggang meninggalkan halaman tempatnya bermain dan masuk ke dalam rumah.

Dari hari ke hari, Hwa Mi terus-terusan berlatih agar berhasil memasukkan anak panah ke dalam mulut tempayan. Sesekali ia terlihat kesal, namun terkadang ia akan berteriak histeris saat anak panahnya nyaris masuk ke dalam tempayan itu. Sementara itu, Yeom memandangi Hwa Mi dari jauh. Seperti biasanya, ia sedang menikmati waktu santainya di atas pohon, tempat yang membuat keberadaannya tak disadari oleh orang lain. Ia memandangi sebuah benda dalam genggamannya.

“Lagipula, dia tak akan berhasil!” Yeom kembali memasukkan benda itu ke balik pakaiannya, ia lalu mencoba memejamkan matanya. Sepertinya Yeom tak takut terjatuh dari ketinggian. Yeom melewatkan saat Hwa Mi berteriak girang dan melompat-lompat senang karena berhasil memasukkan anak panahnya ke dalam mulut tempayan.

“Paman!”

Yeom yang mulai lelap hampir terjatuh begitu mendengar teriakan itu. Ia menoleh dan mendapati Hwa Mi sedang berada di bawah pohon, memandanginya.

“Eishh, bagaimana dia bisa menemukanku?” gumamnya kesal. “Ada apa?” tanya Yeom. “Apa?” tanyanya lagi ketika Hwa Mi menengadahkan tangannya.

“Hadiahnya,” jawab Hwa Mi. “Aku berhasil memasukkan anak panah itu,” katanya lagi. Yeom ikut menengok ke sebuah anak panah yang berdiri di dalam lubang tempayan yang cukup kecil.

“Bagaimana aku tahu jika kau tak bermain curang?”

“Kau meragukanku?” Hwa Mi kesal. “Siapa suruh kau tak melihatnya. Sekarang berikan hadiahnya padaku!” tagih Hwa Mi.

Yeom kembali menarik nafas dalam-dalam. Ia lalu melompat dari atas pohon. Tubuhnya terlihat sangat ringan ketika melakukan itu. “Baiklah,” ujar Yeom. Ia lalu mengeluarkan benda yang telah disembunyikan dalam pakaiannya. Lalu menyodorkan benda itu pada Hwa Mi.

Hwa Mi terkesima, “Binyeo,” katanya sambil mengambil benda itu dari tangan Yeom. Sebuah binyeo yang sangat cantik dengan hiasan mutiara. Hwa Mi mengernyit lalu kembali memandangi Yeom, “Bagaimana kau bisa memberikan benda ini pada anak kecil sepertiku? Apa kau tahu jika hanya wanita yang telah menikah yang dapat mengenakan binyeo?”

“Haishh, bagaimana mulutmu bisa secerewet itu? Aku tahu! Kupikir benda ini tak akan berhasil kau terima,” Yeom mendesah. Ia tak menduga jika Hwa Mi akan berhasil memasukkan anak panah itu dan sebetulnya ia tak tahu apa yang harus diberikan pada Hwa Mi. “Kembalikan jika kau tak mau!” ujar Yeom kesal.

“Kau tak boleh mengambil apa yang telah kau berikan,” tolak Hwa Mi, “Baiklah, aku akan menyimpannya. Terima kasih,” ujar Hwa Mi sambil melenggang pergi meninggalkan Yeom.

“Satu lagi, aku bukan pamanmu!” Yeom mengeraskan suaranya agar sampai ke telinga Hwa Mi. Sejak saat itu mereka tak pernah bertemu, namun Yeom masih memperhatikan Hwa Mi dari jauh. Tingkah Hwa Mi cukup menghiburnya dibandingkan berada di sisi tiga dewa yang selalu membuatnya sebal. Tanpa disadari, mengawasi Hwa Mi telah menjadi kebiasaan Yeom meskipun lambat laun kejadian itu mulai terlupakan oleh Hwa Mi dan entah mengapa Hwa Mi justru mengingat jika binyeo itu adalah pemberian ibunya.

~to be continue~

Oke, gimana part super duper pendek ini? hohohoho sengaja aku sebagai Soo 😀 pengen berduaan dengan abang Yeom xixixixi

banyak yang bertanya, apa alasan Yeom menolong Hwa Mi alias Soo? Di part ini semoga bisa menjawab rasa penasaran kalian.

Oh ya, mohon maaf ya kalo aku belum sempat balas komen kalian, aku benar-benar lagi sibuk dan part ini hampir saja lupa dipublish, lihat aja poster part ini…asal comot

nanti kalo sudah ada waktu luang, aku bakalan rapel semua komen kalian (dan aku yakin saat itu tanganku bakalan mati rasa saking banyaknya harus dibalas)

terima kasih sudah jadi pembaca setia dan mohon bersedia meninggalkan jejak di sini… I love you all ^^

Iklan

190 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 13)

  1. WonKyu_ELF berkata:

    Oooh, gitu toh ceritanya *manggut2* -_-v
    Dannnn, krna terus memperhatikan hwa mi maka muncullah sesuatu d hati yeom X_x astaga! Sadar bang, sadar! Kamu itu dewa! Biarkan soo bahagia sm abang ikan, pelisss… 😦

  2. pinkgirl berkata:

    Oo…gitu ceritanya
    Penasaranma akhirnya
    Tapi mereka gak bisq bersatu
    Kasian cinta gak mesti memiliki yeom

  3. junkyu berkata:

    waaaah gitu toh asal usul binyeo nya soo. .
    iiih pgn tau klanjutan nya. pgn tau koneksni ama masa depan nya apa ><

  4. ra'az berkata:

    hi,,,
    salam kenal,new comenter neh,,,
    sori klo slm ni jd sider,bkn g mo apresiasi karya2 km
    tp q g ngerti gmn mo komen,krn hrus pk email
    sdgkan q py email
    stlh ty sana sini n todong sana sini
    akhirx dbknin deh ma tmn
    sori jg br komen dsni,,,bs dblang ff km dah dbaca smua,kcuali yg diprotect
    ok,,,prologx dahan,,,skrg ke ff
    awal baca sempet puyeng,krn spt km blg,genre kerajaan emang rda berat
    tp q bkin perumpaan kezaman skrg,kerajaan tu q byangin sbg big company
    2kubu yg bersebrangan q anggap dewan direksi yg terpecah 2
    shgga mengakibatkan kekacauan kekturunan mrk
    agak lmyan jg,jd g berat2 amat bacax
    sori y,,,bukan mksd ngentengin karya kamu
    tp ni dimensi lain dr sbuah ff,,,tp km berhasil bikinx dg ngalir gitu aja
    pokokx awsome deh,,,
    jgn ptus asa sm siders y,,,mgkn mrk py mslh yg sama ma q wt komen dsni,,,
    oia,,,enakx panggil apa y,,,kan tak kenal,mk tak sayang,,,

  5. ra'az berkata:

    hi,,,
    salam kenal,new comenter neh,,,
    sori klo slm ni jd sider,bkn g mo apresiasi karya2 km
    tp q g ngerti gmn mo komen,krn hrus pk email
    sdgkan q g py email
    stlh ty sana sini n todong sana sini
    akhirx dbknin deh ma tmn
    sori jg br komen dsni,,,bs dblang ff km dah dbaca smua,kcuali yg diprotect
    ok,,,prologx dahan,,,skrg ke ff
    awal baca sempet puyeng,krn spt km blg,genre kerajaan emang rda berat
    tp q bkin perumpaan kezaman skrg,kerajaan tu q byangin sbg big company
    2kubu yg bersebrangan q anggap dewan direksi yg terpecah 2
    shgga mengakibatkan kekacauan kekturunan mrk
    agak lmyan jg,jd g berat2 amat bacax
    sori y,,,bukan mksd ngentengin karya kamu
    tp ni dimensi lain dr sbuah ff,,,tp km berhasil bikinx dg ngalir gitu aja
    pokokx awsome deh,,,
    jgn ptus asa sm siders y,,,mgkn mrk py mslh yg sama ma q wt komen dsni,,,
    oia,,,enakx panggil apa y,,,kan tak kenal,mk tak sayang,,,

  6. sparclouds fishy berkata:

    Teruss, lanjuttt
    #semangat 45
    Jadi nggk sabar buat baca lanjutannya 😀
    Ditunggu lho !!

  7. sumida berkata:

    Aku tidak memikirkan apa yang tak dapat kulakukan. Aku hanya melakukan apa yang kupikirkan.. suka bgt sama kata” yg Yeon ucapin.. penuh keyakinan dan ketegasan.. gpp kalo ceritanya pendek thor.. yg ptg isinya.. kyk gini.. inspiratif bgt deh..

  8. Rasty Resty berkata:

    Keras kepala sekali kau Yeom.. Aq juga tak mendukungmu utk bersama Soo.. Kkkkkkk lucu ya klo dipikir”.. Sebegitu ga relanya sy Yeom sm Soo. Smpe bc inipun ga 100% konsentrasi..

    Fiuhh aq ga bs comment lg..

  9. lee suyeon berkata:

    kependekan eon!! disini ceritanya fokus ke flash back ya??
    tp tetep seru,d tunggu next partnya :-):-)

  10. ocha-rosa berkata:

    Eonni. Klo hatiku mengatakan agar yeom dan soo bersatu. Tp mereka dewa dan manusia yg mustahil bersatu. 😥
    AAAAAAAAAA!!!!!!!
    aku pengennya soo dan yeom :'(:'(:'(
    Trs sosok yg dilihat si soo (pas part 2 atau 3 lupa) yg waktu dia keliling2 seoul itu siapa eonni???
    Yeom atau donghae??
    Astaga. Aku penasaran!
    Eonni daebak! Lanjutannya cpet ya eonni. Pleaseeeeeeee

  11. SilviaCho berkata:

    uwwaaaa….
    udah lama gak baca ff ini, eh taunya udah part 13…
    eon, aku comment disini aja yah…
    waah, jadi ternyata yeom udah kenal ama soo sedari soo masih kecil?
    yeom, mengapa dirimu berpaling dariku…???? -_-
    eonni, penasaran banget part berikutnya, tapi emang di part ini ceritanya pendek benget….
    eonni, ganbatte kudasai….

  12. chacha berkata:

    ohhh mungkin karena sering memperhatikan hwa mi terus tumbuh rasa pengen ngelindungin makanya dia nyelametin hwa mi. atau mungkin dari rasa ingin melindungi berlanjut jadi cinta. aahhh.. ini pendek sih unn.. tapi menurutku memuaskan. singkat jelas padat..

  13. Alwiranindasari berkata:

    Aku menunggu cerita ini dijaman modern nya lagi eonnieee huaaaa yeom kamu so sweet bgt sih jatuh cinta nya grgr jatuh dr pohon dan bertahun-tahun sampe soo gede cantik,haaa bayangin kyu aka yeom itu penampilan nya ky dia lg musical tampan bgt!

  14. rifqohjannah berkata:

    partnya bener2 pendek eonni-_-
    oh jadi trnyata binyeo itu pemberian yeom.. aku kira pemberian ibunya hwa mi. kok hwa mi bisa pikun gituyak?o.o
    “cinta datang karena terbiasa.” mungkin kata2 itu cocok buat yeom~

  15. AzaleaFishyHae berkata:

    Ooohhhh…jadi binyeo itu dari Yeom ya…
    Yeom udah lama banget dong jatuh cinta sama Hwa Mi…

    Semangat deh buat Nahwan, Myungjin, sama Jongshin buat nyadarin Yeom!! Kasihan kalo Yeom harus dihukum lebih berat lagi apalagi sampe dikutuk.

  16. Heni Sinta berkata:

    what ! jadi binyeo itu pemberian yeom !!! tunggu-tunggu berarti yeom tua dari soo donk !
    oohhh dewa nahwan siapakah jodoh ku !! heee plaakkkk !!!!!

  17. elyptondya berkata:

    bila dewa jatuh cinta~ wkwkwkwk
    itu masi bingung kenapa soo inget itu pemberian ibunya yah? lanjuttt

  18. willdazzle berkata:

    Ah Yeom ahjussi ini macem pedofil aja wkwk
    Kilasan masa lalu, oke punya eon
    Menurutku ngga masalah biar pendek, ff yang bagus emang yang ngga banyak bertele-tele dan tetep bisa memenuhi rasa penasaran reader tapi ngga berkesan dipadatkan

  19. cutebabyhae berkata:

    Arghhh aku baru ngeh dan paham kalau kyu jadi secret admirernya soo kecil >„< dan jika analisisku benar mungkin soo bakalan sama kyu 😥 kapan haek jadi raja *„* 😀

  20. afif berkata:

    ternyata oh ternyata, binyeo itu pemberian kyu, jadi mereka udah ketemu waktu soo kecil
    sama sekali tdk terduga, keren

  21. lyra berkata:

    jadi binyeo itu dari yeom??? Oh My…. ini cerita banyak banget kejutannya… 🙂
    peluuuuuukkk yeom… kenapa dia di cerita ini gentle banget sih???? abang yoem jangan sedih yaa…. trus berjuang melindungi yg dicinta, tapi kalo soo gak mau sama abang biar abang sama aku j… kkk

  22. falah berkata:

    yoem pliis deh sdr mau tak culik biar gak bs jail lg??
    lakukan saja sesuai hatimu soo, mau yoem ato bang ikan,,aku msh pdmu *mli nglanturnya #abaikan

  23. Melz Cho berkata:

    So sweeettttt yeom udh nungguin, ngawasin hwa mi dr dy kecil
    OMG, dewa jodoh! Ayk donk… jadiin soo dewi gtu biar bisa nikah sm yoem. Emng dewa nikah?

  24. kim vikyu_94 berkata:

    ahh Yeom jadi begitu .. Rasa itu udah ada sejak lama 😦
    denger peringatan dari Nahwan CS aku jadi ikut khawatir, tapi aku tahu itu gak bisa dibuang gitu aja *baper* 😥
    Yeom.. Yeom… Yeom ❤

  25. Tata berkata:

    Pantes aja yeom segitu nya belain soo.
    Ahh ternyata binyeo itu lebih berharga dari apa yang aku pikirkan.
    Kupikir binyeo itu kenangan sama hae.

    Ahh kakak jago buat aku tertipu.
    Yeom akankah kau berakhir bahagia.
    Pantas saja dewa langit sayang padamu

  26. qiqi amalia berkata:

    Woahhh.. Itu binyeo ternyata dr yeom :O dan selama itu pula yeom udah ngamatin hwa mi..
    Bangg..aku juga mauk dong dikasih binyeo, buat mas kawin kita yakk yang emas loh tp. Hahaha plakkkX_X koplak parah=))
    Itu hwa mi sm yeom gag jauh beda ternyata, gag bisa diem ditempat=D

  27. Esaa berkata:

    Jadi takdir Soo- Yeom jauh lebih dulu daripada Soo-Donghae???
    Dan binyeo itu?? Bukan pemberian ibunya, melainkan Yeom?!
    Wow… fakta yang cukup mengejutkan…

  28. noviyantilzy berkata:

    yeom oh yeom kau berhasil membuat hatiku potek, ternyata yeom udah knal soo dr kecil tp syng soo pikun kaya nenek”
    tp tenang yeom walaupun qm gk bisa sama soo aq bersedia nerima qm dngn tngn terbuka

  29. kim yoo jung berkata:

    wah begitu ceritanya… dari sini aku baru menyadari cinta itu tidak harus memiliki
    tpi thor jujur ya aku kecewa sama ceritanya kenapa? karena aku kira nanti soo sama donghae
    tpi selebihnya ceritanya tetep bagus kok
    fighting!!!

  30. baekxo berkata:

    oh jadi gitu awal pertemuan soo sama yeom
    ternyata binyeo-nya bukan dari ibunya tapi dari yeom ?
    omegat kaget sama fakta ini-_-

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s