Under The Joseon Sky (Part 14)

Cast :

Ammy/Hwang Hwa Mi/Soo (OC) || Lee Donghae || Cho Kyuhyun as Yeom || Lee Hyukjae as Nahwan || Choi Siwon as Myungjin || Kim Jong Woon as Jongshin || Park Jung Soo as Kaisar Langit || Other

Marchia’s note : Hai, ada yang nungguin cerita ini gak? hahaha sorry kelamaan update karena lagi sibuuuuuuukkk sangat. Menjauhlah para plagiator, jika kalian menemukan sesuatu yang mencuriga tolong laporkan ke sy. Say no to plagiat!

 *

 

~ Sebuah Kebenaran ~

 *

 

Malam telah menjemput. Di sebuah rumah milik keluarga bangsawan, tampak para pengawal berjaga-jaga di sekitar rumah. Mereka memeriksa keadaan di sekitar tempat itu, memastikan bahwa semua dalam kondisi yang aman. Rumah tersebut milik Menteri Aparatur Negara Yoo Gwang Jun. Para penjaga nampaknya tak menyadari sekelebat bayangan yang bergerak sangat cepat melompati tembok yang memagari area kediaman tersebut. Seseorang berpakaian hitam, tubuhnya sangat ringan sehingga tak menimbulkan bunyi. Ia bersembunyi di balik salah satu bangunan di dalam area kediaman tersebut. Lalu kembali berlari setelah para penjaga melewatinya. Ia melompat dan masuk ke bangunan utama yang ditinggali oleh Yoo Gwang Jun.

Orang dengan keahlian tinggi dalam menyelinap itu adalah Soo. Soo telah aman berada di dalam rumah tanpa diketahui oleh mereka yang berjaga-jaga di luar. Soo melangkah di sepanjang koridor, melewati ruang demi ruang dalam bangunan itu. Sesekali ia bersembunyi ketika merasakan kehadiran orang lain dan akan kembali melangkah setelah keadaan dirasanya cukup aman.

Langkah kaki Soo terhenti di depan sebuah ruangan yang dari luar tampak terang. Yoo Gwang Jun masih membaca buku di dalam sana. Gwang Jun tersentak ketika pintu ruangan itu terbuka cepat dan pada saat yang bersamaan lilin yang menerangi ruangan itu padam. Soo melangkah pelan mendekati Gwang Jun.

“Siapa kau?” tanya Gwang Jun, ia tak bisa mengenali wajah Soo dalam suasana ruangan yang cukup gelap.

“Bukan siapa pun,” jawab Soo.

“Kau—wanita?” Gwang Jun terkejut ketika mendengar suara Soo. Ia tahu jika orang yang berada dalam ruangannya bukanlah sembarang orang mengingat dia berhasil menembus penjagaan di sekitar rumahnya sangat ketat. “Apa yang kau inginkan?”

“Sesuatu yang dinamakan keadilan! Dapatkah Tuan memberikannya padaku?”

Gwang Jun tertawa. “Berapa banyak yang kau inginkan?” tanyanya, ia merasa yang dibutuhkan oleh Soo adalah uang.

Soo menarik pedang dan mengarahkan pedangnya pada Gwang Jun membuat tawa pria itu mulai mereda. Bukan uang yang dicari oleh Soo.

“Pedang Merah?” cahaya yang masuk dari cela pintu yang sedikit terbuka menyorot tepat pada gagang pedang Soo yang terikatkan kain lambang organisasi Pedang Merah. “Siapa yang mengutusmu? Katakan berapa banyak yang dia bayar untuk nyawaku? Aku akan memberikan sepuluh kali lipat padamu!”

“Aku ingin Tuan membayar nyawa yang hilang pada malam itu.”

“Apa maksudmu?”

“Tuan bahkan mampu tidur nyenyak setelah kejadian yang merengut banyak nyawa. Tidakkah Tuan ingat darah yang mengalir di malam enam tahun lalu?”

Gwang Jun terdiam sesaat. Ia lalu teringat peristiwa pembersihan Sarjana Sarim enam tahun lalu. “Kau? Siapa kau sebenarnya?”

“Tuan tak perlu tahu siapa aku.”

“Keadilan?” Gwang Jun berdecak. “Jika kau ingin keadilan, yang seharusnya kau datangi adalah Yang Mulia Raja!”

“Penangkapan dan pembunuhan para Sarjana Sarim diperintahkan raja karena mereka dituduh melecehkan raja. Bukankah tuduhan itu justru dilayangkan oleh Faksi Hungu?” Soo bertanya dengan sangat tenang. Ia terus mengawasi raut wajah Yoo Gwang Jun yang terus berubah-ubah semakin tak tenang. “Tuan tak perlu cemas, aku akan mengurusi mereka satu per satu. Tuan seharusnya bahagia karena undian pertama jatuh pada Anda.”

Gwang Jun mulai pucat, ia paham jika gadis yang berdiri di hadapannya bukan datang karena bayaran tapi karena dendam dan dia pasti terkait dengan pembunuhan yang terjadi enam tahun lalu.

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Membunuhku?”

“Malam itu, aku ingin Tuan melihat kembali darah yang membasahi tanah di kediaman pejabat Kantor Sensor Istana, Hwang Hoon Phil,” Soo mulai dipenuhi dengan kemarahan. Ia menekan pedangnya sedikit lebih dalam hingga merobek kulit luar leher Gwang Jun. Darah segar mulai mengalir. “Aku ingin Tuan membayarnya dengan nyawa Tuan!”

“Hwang Hoon Phil?” Gwang Jun mengernyit.“Siapa? Siapa kau?”

“Tidak penting jika Tuan tahu siapa aku,” Soo mulai mengangkat pedangnya bersiap menebas leher Yoo Gwang Jun.

“Tunggu!” teriak Gwang Jun. Ayunan Soo tertahan, tapi itu hanya sesaat sebelum ia kembali berniat mengakhiri eksekusi dan Gwang Jun kembali berteriak. “Aku akan mengatakan siapa yang bertanggung jawab atas kematian Hwang Hoon Phil!” Soo benar-benar terhenti. Ia terkejut. “Orang yang membunuh Hwang Hoon Phil adalah—Lee Byun Ik.”

Soo jauh lebih terkejut begitu mendengar nama itu. Soo masih mengingat bahwa nama yang disebutkan itu adalah sahabat baik ayahnya dan terlebih lagi dia adalah ayah dari Lee Dong Hae, orang yang pernah mengisi hari-hari Soo. Soo dikejutkan dengan para pengawal pribadi yang membuka pintu ruangan tersebut. Tampaknya mereka telah mencium sesuatu yang tidak beres.

“Bunuh dia!” perintah Gwang Jun sambil berusaha menyelamatkan diri.

Mereka menyerang Soo. Gadis itu dengan lihai menangkis setiap serangan yang ditujukan padanya. Pedang di tangan Soo bergerak dengan sangat cepat, terlihat seperti sebuah bayangan saat ia mengakhiri nyawa-nyawa para pengawal di rumah Menteri Aparatur Negara Yoo Gwang Jun. Pria itu memiliki pengaruh yang cukup besar di Joseon. Soo sangat lihai dengan pedang di tangannya, namun orang-orang itu semakin bertambah banyak. Tak ada gunanya untuk melawan, Soo tak ingin membuang waktu dan tenaganya untuk mengakhiri hidup mereka. Ia hanya terfokus pada siapa yang seharusnya ia bunuh. Soo segera melompat menerobos jendela hingga terjatuh di halaman rumah di mana pengawal lain telah menantinya. Gadis itu terus menjaga pertahanan dirinya. Dengan gerakan yang sangat cepat, Soo berlari melompati pagar tembok. Para pengawal itu mengejar, namun mereka telah kehilangan jejak Soo.

~.o0o.~

 

Matahari pagi telah menyapa dan Yeom masih berjaga di luar rumah. Ia membuka kamar tidur Soo, namun kamar itu masih kosong. Kecemasan terlihat di wajah Yeom, sudah semalaman Soo tak kembali ke rumah. Sesuatu melintas di kepala Yeom. Pria itu lalu menaiki kudanya dan memacu kuda tersebut dengan sangat kencang. Yeom akhirnya tiba di sebuah tempat yang sering mereka datangi. Tempat di mana kedua orang tua Soo dimakamkan. Benar saja, Soo sedang berdiri mematung di sana, memandangi dua gundukan tanah di hadapannya. Yeom turun dari kuda. Ia melangkah mendekati Soo, menaruh jarak yang cukup lebar di antara mereka.

“Kau tahu siapa yang membunuh mereka?” bisik lemah Soo. Tentu saja Yeom tahu siapa yang dimaksud Soo. “Mereka…,” Soo tak dapat melanjutkan kata-katanya. Air mata menetes dari matanya. “Ada dua hal yang tak ingin kulupakan sampai aku mati. Kebaikan hati Tuan Muda dan kematian keluargaku.”

Soo menarik nafas mencoba menguasai dirinya. Yeom tetap tenang menyimak ucapan Soo.

“Apa yang harus kulakukan Yeom? Aku tak akan pernah mengampuni mereka yang membunuh keluargaku…dan kini aku akan semakin melukai hati Tuan Muda,” air mata Soo kembali menetes. Gadis itu tersungkur, terduduk lemas di atas tanah. Kepalanya menggeleng pelan, “Tidak. Sekalipun aku dikutuk, aku tak akan menyesal,” Soo mengepal tangannya, ia kembali dipenuhi dengan amarah. “Aku hidup hanya untuk membalas mereka…aku akan membunuh mereka,” ujarnya. Gadis itu kembali terisak. “Aku harus membunuh mereka!” teriaknya lagi disela-sela tangisnya. Tubuh Soo bergetar hebat.

Yeom melangkah menghampiri Soo, ia berjongkok di sisi gadis itu dan secara perlahan memeluk tubuh Soo—membiarkan Soo menumpahkan segala kesedihan dan amarah dalam dirinya.

~.o0o.~

 

Dua hari kemudian, Soo yang masih dipenuhi dengan kemarahan telah menyelinap masuk ke dalam kediaman keluarga Lee. Bagi Soo itu tak begitu sulit mengingat dulu ia pernah tinggal di tempat itu. Lee Byun Ik yang sedang melintas hendak ke suatu tempat dalam rumahnya menjadi terkejut manakala sebuah pedang terarah padanya.

“Kau?” ia tersentak ketika mengenali wajah Soo. Soo tetap mengarahkan pedangnya. “Gisaeng itu?” terakhir kali Byun Ik melihat Soo saat gadis itu menjalani interogasi yang sarat penyiksaan dua tahun lalu.

“Lama tak berjumpa, Tuan,” Soo menyapa dengan tampang dinginnya.

Byun Ik masih tampak kebingungan, matanya lalu menangkap sesuatu yang terikat pada gagang pedang Soo. “Kau…Pedang Merah?” ia mendelik, tak menyangka jika gisaeng lembut yang dulu telah berubah menjadi pembunuh menakutkan. “Apa yang kau inginkan?”

“Nyawa Tuan,” jawab Soo.

“Siapa yang menginginkan nyawaku?”

“Aku.”

“Aku bertanya—siapa yang membayarmu untuk membunuhku?”

“Orang-orang yang terbunuh pada malam itu.”

“Jangan berbelit-belit!”

“Tuan tak mungkin melupakan kejadian enam tahun lalu. Bagaimana rasanya membunuh sahabat sendiri?”

Byun Ik terperanjat, “Kau?” kenangan itu kembali mengusik hingga membuat Byun Ik tersungkur. Dia tak akan pernah melupakan kejadian itu, bagaimana pedang di tangannya mengakhiri hidup sahabatnya, Hwang Hoon Phil.

“Tuan hanya mengulur-ulur waktu,” Soo tersenyum sinis. Ia tak sedikit pun berniat menjawab rasa penasaran Byun Ik.

“Jangan!”

Niat Soo tertahan. Lee Ryeon telah berlari dan berlutut tepat di depan ayahnya.

“Ryeon!” Byun Ik terkejut melihat putrinya berusaha menghadang Soo.

Eonni!” Ryeon memandangi Soo dengan air mata yang bercucuran. “Apa yang salah dengan Ayahku? Tolong jangan bunuh Ayah!”

Soo berdiri mematung. Ia hanya menatap Ryeon yang berlutut di hadapannya.

Eonni! Aku tak tahu mengapa aku harus mengatakan ini—tapi kumohon, kasihanilah kami!” ujar Ryeon disela-sela tangisnya, gadis itu memang tak akan pernah mengerti mengapa Soo ingin membunuh ayahnya.

Soo tak bereaksi bahkan ketika Ryeon memeluk lututnya, meminta sedikit saja belas kasihan Soo. “Ryeon, percayalah—aku pernah mengalami apa yang kau alami saat ini,” gumam Soo pelan.

“Tidak!” Ryeon kembali mencegah saat Soo hendak mengeksekusi ayahnya.“Ampuni Ayah!”

“Ryeon, pergilah. Jangan cemaskan Ayah!” pria itu memeluk putrinya, ia bersedih melihat Ryeon harus mengemis demi nyawanya.

“Jika Eonni ingin membunuh Ayah, maka Eonni harus membunuhku terlebih dahulu,” tangis Ryeon.

“Lee Ryeon!” hardik Byun Ik.

“Baiklah jika kau berkeinginan seperti itu,” Soo menjawab dengan tenang.

Soo kembali mengangkat pedangnya. Ia benar-benar sudah tak perduli lagi. Di kepala Soo yang terisi hanyalah membunuh pria itu dan ia tak akan segan untuk menyingkirkan apa saja yang menghalangi niatnya. Ryeon memejamkan mata sambil menyilangkan kedua tangannya di atas kepalanya. Soo hampir menebas Ryeon saat matanya tiba-tiba tertuju pada telapak tangan Ryeon. Pedang Soo tertahan. Ia sangat terkejut melihat sebuah tanda yang sama persis dengan miliknya. Tanda lahir di telapak tangan kanan Ryeon.

“Ibu, lihat itu! Hwa Young memiliki bintang di tangannya, sama seperti milikku.”

“Ya, karena kalian kakak beradik. Kau harus menjaga dan menyayangi adikmu.”

“Tentu saja, aku akan selalu melindungi Hwa Young.”

Soo mundur beberapa langkah dengan tertatih, dadanya berdebar keras. Soo menatapi Ryeon yang masih menangis ketakutan. Kepala Soo menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran-pikiran yang menggerogoti kepalanya.

“Tak mungkin,” Soo menggeleng tak percaya. Ia kembali mengarahkan pedangnya pada Byun Ik. Menatap sangat dalam terhadap pria tua itu, “Siapa anak ini?” tanya Soo pelan.

“Kau sudah melihatnya sendiri.”

“Siapa dia?”Soo kembali bertanya.

“Lee Ryeon, putriku.”

Soo menggeleng, ia lalu menempelkan ujung pedangnya pada leher Byun Ik membuat pria itu terkejut, “Apa dia—putri kandungmu?” tanya Soo.

Byun Ik terdiam, mereka saling pandang, “Dia sudah seperti putri kandungku sendiri,” jawab Byun Ik. Ia mengerti maksud dari sinar mata Soo. Secara refleks Ryeon memandangi ayahnya, terkejut mendengar penuturan ayahnya.

“Lalu, siapa dia?” bibir Soo bergetar halus. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Putri dari sahabat baikku yang tewas enam tahun lalu,” jawab Byun Ik, “Hwang Hoon Phil,” lanjutnya lagi.

Tanpa bisa dibendung lagi, air mata Soo menetes mengaliri wajah cantiknya. Seluruh tubuhnya tiba-tiba saja kehilangan tenaga. Pedang di tangannya yang masih terarah pada Byun Ik terlihat bergetar.

Crasshh!

Soo merasakan sesuatu yang perih, ia lalu memegangi perutnya dan melihat darah mengotori tangannya. Gadis itu menoleh perlahan, Lee Dong Hae telah berdiri sambil memegangi pedang dengan kedua tangannya. Pedangnya yang mengkilat telah ternodai oleh darah Soo.

Orabeoni!”

Ryeon berlari ke dalam pelukan Dong Hae sementara Soo masih memandangi Dong Hae dengan tatapan nanar. Pemuda itu terlihat sangat tegang, sorot matanya memancarkan kesedihan. Ia sangat terluka ketika melakukan itu terhadap Soo. Tak terasa, Soo meneteskan air mata. Mendengar derap langkah kaki yang memasuki rumah dan mendekati tempat itu, Soo segera bertindak cepat dan langsung melarikan diri.

Soo berhasil keluar dari area kediaman Menteri Pertahanan sambil terus memegangi perutnya, berusaha untuk mencegah darah lebih banyak keluar dari luka itu. Soo bersiul dan beberapa saat kemudian, seekor kuda datang menghampirinya. Soo segera menaiki kuda itu dan berlalu, menghilang dalam kegelapan malam. Ketika tiba di rumah sederhananya di pinggiran Hanyang, Yeom telah berdiri menantinya. Soo turun perlahan dari kuda, ia melangkah tertatih lalu terjatuh.

“Nona!” Yeom berlari menghampiri Soo.

Yeom sangat terkejut melihat Soo terluka, dengan cekatan Yeom menggendong Soo. Ia membawa Soo masuk ke dalam rumah. Yeom memeriksa keadaan Soo. Gadis itu telah kehilangan kesadaran. Wajah Soo begitu pucat dan dahinya dibasahi oleh keringat halus. Soo tampak kesakitan karena luka sabetan yang cukup besar di perutnya. Yeom segera mengangkat baju Soo dan luka menganga itu terlihat jelas. Yeom melakukan tugasnya dengan baik hingga selesai mengobati dan membalut luka Soo. Gadis itu sudah terlihat lebih tenang meskipun kesadarannya belum kembali. Yeom lalu menyelimuti tubuh Soo dan berlalu meninggalkan Soo beristirahat di dalam kamar.

Mata Yeom tertuju pada Lee Dong Hae yang telah berdiri di halaman rumah. Yeom berjalan menghampiri Dong Hae, kedatangannya disambut oleh hunusan pedang Dong Hae. Kedua orang itu terdiam dengan durasi yang cukup lama.

“Kau menyebut dirimu sebagai pelindung Soo, tapi apa yang kau lakukan? Kau bahkan tak bisa berbuat apa pun untuk mencegahnya menjadi seorang pembunuh mengerikan,” Dong Hae terlihat sangat marah. “Tugasmu adalah menjaga Soo, pastikan dia tidak terlihat olehku. Bahkan jika kau harus memaksanya, bawa dia pergi dari sini! Jika aku bertemu dengannya lagi, aku tak akan segan untuk mendorong pedangku lebih dalam lagi,” lanjutnya. Ia menurunkan pedangnya dan berlalu dari hadapan Yeom. Hatinya serasa teriris-iris ketika mengucapkan kalimat itu. Sangat menyakitkan. Soo adalah orang yang dicintai Dong Hae, namun terlepas dari itu Dong Hae tak bisa mengabaikan sumpahnya sebagai petugas polisi yang mengabdi untuk melindungi rakyat dari orang-orang berbahaya. Sementara Soo adalah pembunuh berbahaya di Joseon yang sejak lama telah diincar oleh pihak kepolisian.

Lee Dong Hae kembali ke rumahnya dan segera menemui ayahnya. Ia meminta penjelasan tentang apa yang didengarnya tadi.

“Ryeon adalah anak dari Hwang Hoon Phil. Aku menemukannya ketika sedang bermain di sekitar jasad ibunya. Min Ok Ja berhasil menyembunyikan Ryeon sebelum dirinya ditemukan dan dibunuh. Aku menitipkan Ryeon pada seseorang untuk sementara waktu sebelum membawanya ke sini.”

Dong Hae tak menyangka jika Ryeon adalah adik dari tunangannya, Hwang Hwa Mi. Ketika ayahnya membawa pulang Ryeon setahun setelah kejadian itu, ia hanya mengatakan bahwa Ryeon adalah anak kerabatnya yang telah meninggal dunia.

“Apa kau tahu jika gisaeng bernama Soo itu telah tergabung dalam organisasi Pedang Merah?” tanya Byun Ik. Dong Hae tak menjawab. “Dia ingin membunuhku bukan karena sebuah bayaran tapi dendam pribadi. Mengatasnamakan mereka yang terbunuh pada malam itu. Gadis itu sepertinya tahu jika Ryeon adalah anak dari Hoon Phil, sesuatu yang bahkan kau dan ibumu tidak kuberitahu,” Byun Ik mengernyit. Pria itu lalu tersentak seperti baru menyadari sesuatu, “Mungkinkah dia adalah kakak Ryeon?”

“Ayah?” Dong Hae lebih terkejut mendengar perkataan ayahnya.

“Mayat gadis itu tidak pernah ditemukan, itu artinya kemungkinan dia masih hidup sangat tinggi,” gumam Byun Ik, “Kupikir aku pernah melihat mata seperti itu. Dia memiliki mata seperti milik Hoon Phil,” Byun Ik menarik nafas panjang.

Mulut Lee Dong Hae telah terkunci. Ia lalu beranjak dari tempat itu sambil menyeret kakinya dengan sangat gontai dan terhenti ketika ujung sepatunya hampir mencium sebuah benda. Dong Hae lalu memungut benda itu. Sebuah binyeo. Ia mengamati binyeo tersebut dan beberapa detik kemudian raut wajahnya kembali berubah. Dong Hae masih mengingat binyeo itu. Benda yang pernah ia temukan enam tahun lalu saat pemiliknya kebingungan mencarinya. Binyeo itu milik Hwang Hwa Mi. Seluruh tubuh Dong Hae terasa lemas, ia menyandarkan punggungnya pada salah satu sisi dinding. Benda itu tidak sengaja dijatuhkan Soo ketika ia melarikan diri tadi dan itu menambah keyakinan Dong Hae bahwa Soo dan Hwa Mi adalah orang yang sama.

Air mata Dong Hae menetes begitu saja. Ia menangis. Dong Hae terisak pelan dengan tubuh yang mulai berguncang. Semua kini sangat jelas di kepala Dong Hae. Penderitaan yang dialami Soo membuat Dong Hae merasakan kesakitan yang luar biasa di dalam hatinya. Bagaimana ketika Soo harus kehilangan keluarga yang berujung pada kehilangan ingatan. Ketika Soo harus menjadi gisaeng lalu berakhir sebagai pembunuh. Hidup memang berlaku sangat kejam pada Soo membuat gadis itu hanya dipenuhi dengan amarah dan dendam. Tangisan Dong Hae semakin menjadi-jadi ketika ia teringat dengan tangannya ia melukai Soo dan bahwa dengan tangannya pula suatu saat dia akan menangkap Soo. Dong Hae menyesali waktu yang tak pernah tepat—ia menyesali semuanya.

Sementara itu dilain tempat, Yeom sedang berjaga-jaga di depan pintu kamar Soo ketika mendengar erangan kecil dari dalam kamar. Yeom segera memasuki kamar, ia melihat Soo terus bergumam tak jelas dalam tidurnya. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Kulit Soo terlihat sedikit keabu-abuan, seluruh tubuh Soo menjadi sangat kaku. Yeom menyandarkan telinganya di dada Soo, detak jantungnya melemah. Pernafasan Soo menjadi sangat lambat hingga tak kelihatan. Cepat-cepat Yeom membuka kelopak mata Soo, pupil gadis itu mengalami pelebaran.

Yeom tertegun, apa yang dipikirkannya tidak meleset. Soo sedang mengalami hipotermia yang cukup parah, dimana tubuh Soo kehilangan suhu panasnya dengan cepat sehingga menyebabkan temperatur tubuh gadis itu menurun drastis dan bisa sangat berbahaya. Jika Yeom tak bisa mengatasi keadaan itu, maka Soo bisa meninggal.

Yeom terlihat berdiam diri sejenak sebelum akhirnya melepaskan pakaian Soo yang basah karena keringat, membuat tubuh gadis itu hanya dilapisi oleh pakaian bagian dalam yang lebih tipis. Yeom segera melepaskan pakaiannya, dadanya yang bidang terlihat jelas. Tanpa pikir panjang ketika Yeom segera berbaring di sisi Soo dan memeluk tubuh Soo dengan sangat erat. Yeom sedang mencoba mengalirkan panas tubuhnya pada tubuh Soo. Ya, panas tubuh manusia lebih cepat mengembalikan dan meningkatkan suhu tubuh Soo ke suhu yang lebih normal.

~to be continue~

 

Hehehe… lagi sibuk.. lagi sibuk.. lagi sibuk.. gak sempat buat posternya dan posting part ini juga nyuri2 waktu. Maaf ya kelamaan dan maaf belum bisa balas komen kalian utk seri UTJS, nanti kurapel sekalian kalo ada waktu luang hohoho

mohon tinggalkan comment kalian ya.. thanks.. i love you all 🙂

Iklan

181 thoughts on “Under The Joseon Sky (Part 14)

  1. haera4394 berkata:

    annyeonghaseo #deepbow ,, aq readers baru ,, aq baru pertama baca ff ini ,, sebelumnya blon pernah baca part sebelumnya ,,, ud lama aq pgn baca ff genre joseon ,, sekarang tercapai kekeke
    bagus bgt ceritanya ,,, waiting for next chapter ,,, fighting

  2. Vi berkata:

    Wah ahirnya dong hae tahu siapa soo. Kebenaran yg semakin menyakitkan 😦

    Aduh itu yg adegan terakhir, semoga yeom gak berpikiran kotor hihihihihi

  3. rifqohjannah berkata:

    gabisa ngebayangin gimana hidup jadi soo.ngeliat ayahnya tewas didepan matanya.keluarganya dibunuh dgn sadis. pantes aja dia jadi orang yg kaya gitu, dendam nya udh trlalu besar kayanya.

    donghae juga kasian.. takdir ga berpihak sama dia+soo huhuhu
    part ini bikin degdeg’an >…<

  4. elyptondya berkata:

    emang makin kerasa pahit hidupnya soo, makin sedih T_T
    eeehh gua mau di peluk kyuhyun jugaa -_-

  5. rensreska berkata:

    i love this story so much. keren, brasa nonton saeguk asli.. klo masalah komen, mungkin banyak org kayak aku yg ga tertarik saeguk, tp bner deh ga nyesel bgttt..crta kaka slalu keren

  6. AzaleaFishyHae berkata:

    Eonni daebak (y) (y) ff tulisan eonni beneran gk bisa ketebak, idenya juga keren (y), dan sukses bikin tarik ulur perasaan.

    Part ini bikin ikutan ngenes.. apalagi pas bagian di rumah Lee Byun Ik.. takdir Abang Nemo sama Soo menyakitkan banget yak 😥

  7. willdazzle berkata:

    Ngga nyangka sebegitu mengerikan efek ulah Yeom…hmmm
    Adegan terakhirnya itu lhoooo… :3
    Gimana yaa kalo Soo sadar pas posisinya masih ada di pelukan Yeom…. 😉

  8. Anonim berkata:

    ide pake tanda lahir di tangan yang jd pengenal kakak beradik ini bnr2 brilliant . apa lg di tambah scene mengambil bintang. sy kaget . masa iya bs ngambil bintang beneran ?
    sy suka waktu yeom ngasih krisan merah ke soo . meskipun cuma diam dan saling pandang, tapi itu SO SWEET ..

  9. cutebabyhae berkata:

    Mau comment apa ya? Huwaaa kentara bgt joseonnya and hubungan sama masa kini apa ya? -,- dan aku baru kesadar kalau eonni itu penggila setan so gak mungki ngebiarin ikan jadi pendampingnya soo 😀

  10. Nana berkata:

    akhirnya mreka pasti saling serang! kesian kesian kesian….
    yg pasti sy ttp ngedukung siapapun yg author dukung! 😀

  11. amoy berkata:

    Aaaah…tbc nya nongol..hehehe penyesalan dong hae menyayat hati yah…yeom bergerak cepat buat nyelametin soo..apa yg akan terjadi selanjutnya yah?.

  12. Febriane Viona berkata:

    Ya ampun-ya ampun makin kesini kebenaran terkuak…
    Awawawa yg akhie adegan apa sih hehehe

    • marchiafanfiction berkata:

      beda berapa ya? mendadak amnesia, sy lupa ada dipart berapa tp ada kok dijelasin
      di part2 awal masuk saeguk, soo remaja umur 12/13 tahun, trus adeknya kalau gak salah ingat itu 4 tahun *mikir lagi* hahahaha

  13. lyra berkata:

    satu kejutan lagi.. ckckkcck.. cerita ini kompleks banget… nggak bisa ngebayangin beban soo setelah dia tahu kebenaran ini…. dan donghae juga… aaaah poor untuk mereka.. 😦
    aduuuh yeom aju juga mau di peluk #eh

  14. falah berkata:

    dan mulutku kelu, tak tau mau bicara apa yg jelas pipi banjir,,,
    semoga akhirnya soo dpt yg terbaik

  15. Tata berkata:

    Aseek part terakhir itu ekhemmm.
    Yeom aku mau jugaaa. . Ketawa nista bareng hyukjae.
    Yaya ternyata ryeon bukan adik hae,

  16. qiqi amalia berkata:

    OMG.. Jd ryeon itu hwa young :O
    Jd adeknya msh hidup
    Skrg udah mulai terungkap siapa soo,
    Aihh bikin penasaran ajaa
    Itu yeom.. Ngapain peyuk2 sihh

  17. Esaa berkata:

    Dinghae oh Donghae…
    Setelah tahu faktanya kau masih meneruskan niatmu? Tidakkah itu terlalu keterlaluan??
    Soo seperti itu juga karena siapa??? Ahhh… frustasi akuuu

  18. kim yoo jung berkata:

    Wah sumpah baca ini bikin deg degan
    Aku g kepikiran klo ryeon adiknya soo
    Pokoknya tambah bagus dan bikin penasaran

  19. baekxo berkata:

    gak nyangka banget ternyata ryeon adiknya soo 😱
    sumpah demi apa semakin part 1 ke part lain ada aja konflik yang bikin greget
    sukses bikin aku kaget thor 😂

  20. Melsyana berkata:

    Ye ye ye… Kayaknya tebakan aku benar eon, kalau soo akhirnya suka dg yeom. Awalnya aku bingung karna eonni membuat cast cowok pertama donghae sedangkan kyuhyun setelahnya. Atau mungkin aku dg kyuhyun punya kesamaan. Maksudnya sama2 manusia #hahaha.
    Makanya aku tahu kalau kyuhyun pemeran utamanya.
    Di part sebelumnya eonni, salah mencantumkan nama. Maksudnya yesung kan dewa kematian tapi eonni tulis siwon yg jadi dewa kematian padahal siwonkan dewa kelahiran, mungkin eonni grogi dikepung 4 cowok ganteng. Maaf eon kalau komenan aku menyinggung.
    Keep fighting eon.
    Jgn lupa drama dilanjutkan eon.

    • marchiafanfiction berkata:

      Ahahaha..iya dek, bener, sy juga udah nemu typo yg itu dan di soft doc udah sy revisi, tp kalo di blog malah yg belum2

      oalaaahh…ngapain minta maaf? sama sekali sy gak tersinggung, malah sy berterima kasih kalo diberi kritik dan saran karena itu yg sy butuhkan.

      utk drama, pasti dilanjut dek, tp waktunya yg blm pasti akakkkkkkkk~

  21. Tesyaaa berkata:

    maaf kak baru bisa komen dipart ini soalnya aku baca maraton😂, itu bagian terakhir kok bikin senyum2 sendiri ya??pokoknya Soo harus sma Yeom

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s