Drama (Part 1)

DramaBy. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun & Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Sunbaenim, aku menyukaimu!”

Pengakuan cinta itu begitu tegas terdengar, hampir tidak ada keraguan yang tersampaikan dari suara lantang yang beberapa waktu lalu sanggup menciptakan suasana hening di dalam kafe. Semua orangkini menatap pada Cho Kyuhyun yang tengah menutup sebuah buku tebal yang sejak tadi dibacanya. Kyuhyun mengangkat wajahnya, sedikit mendongak pada gadis yang berdiri di hadapannya.

Kyuhyun tersenyum, “Nona, ada seseorang yang kusukai. Maafkan aku,” katanya kemudian.

Gadis yang raut wajahnya menegang sejak melakukan pernyataan cinta kini terlihat kecewa. Ia menundukkan kepalanya dan cepat-cepat berlalu dari hadapan pemuda yang masih tetap tersenyum hangat.

Lee Hyukjae yang duduk sebangku dengan Kyuhyun terlihat mendesah, “Kau selalu tersenyum pada gadis-gadis yang kau tolak. Bukankah itu justru semakin melukai perasaan mereka?”

“Jadi aku harus bagaimana? Menolak dengan kasar, haruskah aku?”

“Aku pikir itu lebih baik. Setidaknya mereka berbalik membencimu, dengan begitu mereka dapat melupakanmu lebih cepat. Ck, Kyu—membuat mereka semakin terpesona disaat kau menolak perasaan mereka, itu sangat kejam!”

Kyuhyun hanya tertawa pelan, ia kembali membuka buku tebal yang sempat ditutupnya.

“Dan lagi—alasan yang kau buat tadi. Ah, entahlah. Kau membuatku bungkam,” Hyukjae berdecak kagum. Ia meneguk coffee latte yang dipesannya, matanya kini mengarah pada gadis-gadis yang berdatangan di kafe, “Hidup memang sangat menyenangkan bila dinikmati.”

“Lee Hyukjae, berhentilah mengoceh! Sebaiknya kita bergegas sekarang, aku tak ingin terlambat di mata kuliah Professor Kang.”

“Professor Kang?” wajah Hyukjae sedikit memucat, sepertinya ia sangat membenci mata kuliah itu, namun ia tak memiliki pilihan lain, “Cho Kyuhyun! Tunggu aku!” Hyukjae mendesis, ia menarik tas dan memanggul di pundak kanannya lalu bergegas mengikuti sahabatnya yang telah berjalan meninggalkannya.

***

Kyuhyun mencuci kedua tangannya. Hyukjae juga sedang melakukan hal yang sama. Kedua orang itu telah mengenakan jas putih yang selalu dipakai ketika akan memasuki laboratorium. Kyuhyun menatap sekilas pada Hyukjae yang masih merengut.

“Sampai kapan kau akan menekuk wajahmu? Kau itu bukan mahasiswa baru lagi!” Kyuhyun tersenyum mengejek. Ia mengeringkan tangannya, lalu mengenakan handscoon.

“Aku mengerti—tapi, kau tahu sendirikan? Aku paling takut dengan mayat.”

“Ck, Lee Hyukjae,” Kyuhyun kembali berdecak heran. “Kau tak mungkin bisa menghindari kelas anatomi,” Kyuhyun memandangi Hyukjae yang berjalan di sisinya. Pemuda itu masih bungkam dengan wajah yang pucat. Mata kuliah anatomi memang terkenal sebagai mata kuliah mematikan di kalangan mahasiswa kedokteran. Selain karena banyak istilah yang harus dihafal, mereka masih harus berhadapan langsung dengan mayat utuh dan melakukan pembedahan untuk mempelajari struktur tubuh manusia.

“Aku tak bisa melupakan saat-saat dimana aku harus bersentuhan dengan kulit pucat dingin cadaver—sial, aku bisa pingsan,” Hyukjae mengeringkan keringat yang mulai bermunculan.

Kyuhyun justru tertawa. Hyukjae tidak mengada-ngada dengan perkataannya. Ia merasa hampir kehilangan kesadaran setiap kali mengikuti praktikum anatomi, ia bahkan tak bisa menelan makanannya. Berhadapan dengan mayat memang hal yang sangat menakutkan pada awalnya. Seorang mahasiswa kedokteran wajib melakukan pembedahan mayat pada saat kelas anatomi. Namun, pada akhirnya mereka akan terbiasa.

Bersama-sama dengan mahasiswa lain ketika Kyuhyun dan Hyukjae memasuki ruang lab anatomi. Di dalam lab yang cukup luas itu mereka telah disuguhi oleh pemandangan yang sebenarnya tak lazim seperti toples-toples berisi formalin dan potongan tubuh manusia. Di bawah mikroskop bahkan masih terdapat sisa sel tubuh manusia yang belum dibersihkan. Ditambah lagi, aroma ruangan itu berbeda dengan ruangan lain—bau formalin begitu menyengat.

Professor Kang telah siap untuk memberikan pelajaran. Para mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok. Kyuhyun dan Hyukjae bergabung dengan kelompok mereka. Di hadapan setiap kelompok terdapat sebuah meja besar berwarna hitam yang masing-masing di atasnya terbaring sesosok cadaver pria. Cadaver adalah istilah kedokteran untuk mayat yang telah diawetkan. Cadaver diambil dari mayat yang tidak ada identintasnya di rumah sakit.

Hyukjae memegangi tengkuknya. Ketika memandangi cadaver yang entah berapa lama telah diformalin sehingga membuat kulitnya sangat kaku seperti lilin, Hyukjae selalu bergidik.

Suasana di dalam lab begitu hening, tak ada yang mencoba untuk bersuara. Mungkin suasana di dalam ruangan itu terasa sedikit sakral. Seorang mahasiswa yang merupakan ketua kelompok adalah orang yang memecah kesunyian di antara mereka, “Sebelum kita mulai membedah mari kita berdoa. Siapa pun tuan cadaver ini, semoga dia mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan,” selain berdoa untuk memulai pelajaran, mereka memang dituntut untuk selalu menghormati cadaver.

“Hmm,” Professor Kang bersuara kecil. Dari balik kaca mata ia menatapi rupa-rupa mimik yang terbaca dari raut wajah mahasiswanya. “Hari ini yang akan kita pelajari adalah organ dalam tubuh,” tak jarang desisan dan desahan nafas berat terdengar di dalam ruangan itu. Hyukjae kembali mengeringkan keringatnya yang terlihat sebesar biji jagung.

“Bersemangatlah!” Kyuhyun menepuk pundak Hyukjae, ia memamerkan senyumannya sebelum akhirnya menutupi sebagian wajahnya dengan masker. Hal yang sama dilakukan Hyukjae dan mahasiswa lainnya.

Professor Kang mengambil sebuah pisau bedah, kecil namun sangat tajam. “Kalian harus mencocokkan gambar dalam atlas anatomi dengan struktur asli,” ujar Professor Kang. “Aku harap kalian benar-benar mempelajari atlas anatomi,” ia memicingkan matanya, memandang curiga pada mahasiswa yang sepertinya tak terlihat bernafas. “Silahkan buka perut setiap cadaver yang ada di hadapan kalian.Cho Kyuhyun! Bisakah kau menggantikanku?”

“Baik Professor,” Kyuhyun menjawab tanpa menimbang apa-apa. Ia memang mahasiswa yang pintar dan selalu diandalkan oleh para professor di kampus.

Kyuhyun menerima sodoran pisau bedah dari Professor Kang. Kyuhyun menekan pisau di tangannya pada dada cadaver, dengan satu sayatan saat Kyuhyun menarik garis dari dada dan berujung di perut cadaver. Seperti membuka pintu ketika tanpa ragu Kyuhyun membuka perut itu.Meskipun ada yang memamerkan ekspresi biasa, namun lebih banyak yang mendesis, mendelik ngeri menyaksikan perut terbuka yang mempertontonkan seluruh organ dalam cadaver itu secara kasat mata. Hyukjae memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.

Good job,” Professor Kang tersenyum pada Kyuhyun. Ia lalu menatapi mahasiswanya, “Kalian masih takut menghadapi cadaver?”

“TIDAK!” jawab serentak para mahasiswa yang merasa terintimidasi oleh tatapan dingin Professor Kang. Jawaban paling pelan keluar dari mulut Hyukjae.

“Bagus. Baiklah, dari mana kita harus mulai? Hmm—bagaimana dengan usus? Ah, tidak, tidak. Sebaiknya kita mulai dengan hati. Atau paru-paru?” Professor Kang seperti bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ia tak mempedulikan tatapan miris mahasiswanya yang menganggap dirinya orang yang aneh. “Oke, kita mulai dengan jantung!”

Professor Kang segera membenamkan tangannya di dalam perut yang telah terbuka sempurna itu. Ekspresi jijik dan ngeri terpampang nyata di wajah kebanyakan mahasiswa. Meskipun mereka mahasiswa semester pertengahan tapi ternyata masih ada yang belum membiasakan diri dengan praktikum anatomi. Professor Kang mengeluarkan usus hingga terburai di luar perut. Dia mengacak isi perut cadaver, sepertinya itu dilakukan dengan sengaja sehingga membuat mahasiswa-mahasiswa seakan ikut merasakan tangan Professor Kang yang seolah-olah sedang mengaduk isi rongga perut mereka.

“Ah tunggu sebentar,” Professor Kang menghentikan sejenak kegiatannya. Ia melepaskan handscoon-nya dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana. “Hallo. Ah, ya,” ia menjawab panggilan masuk. Mata Professor Kang kembali tertuju pada para mahasiswa, “Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian. Bisakah seseorang menggantikan bagianku mengerjakan sisanya?” tanyanya. Mata para mahasiswa tertuju pada perut terbuka yang sepertinya masih menanti untuk diobrak-abrik oleh Professor Kang. Kyuhyun mendesah.

“Biar aku yang melakukannya, Professor!” baru saja Kyuhyun hendak menawarkan dirinya ketika suara seorang gadis terdengar lantang mendahului niat baik Kyuhyun.

Semua mata tertuju pada gadis itu. Gadis berambut ikal sepunggung itu berasal dari kelompok yang sama dengan Kyuhyun.

“Ah—Mi Rae, terima kasih,” ujar Professor Kang. Ia lalu meninggalkan ruangan lab setelah menyerahkan mandat pada gadis pemberani itu.

Gadis itu, Baek Mi Rae segera mengambil tempat di dekat meja di mana terbaring cadaver. Ia memperbaiki handscoon di tangannya dan tanpa menunggu aba-aba ketika ia memasukkan tangannya ke dalam perut menganga itu.

“Gadis itu pasti bukan manusia,” Hyukjae bergidik memandangi Mi Rae yang terlihat menikmati permainan tangannya di rongga perut tuan cadaver. Dibandingkan para gadis yang terlihat masih mengumpulkan keberanian mereka yang tercecer, Mi Rae justru telah membuat langkah yang lebih jauh.

“Dia hanya melakukan yang terbaik untuk menjadi seorang dokter. Lee Hyukjae, bukankah kau seharusnya malu pada Mi Rae?” Kyuhyun menggeleng prihatin mempertanyakan keberanian Hyukjae.

“Sudahlah, jangan dibahas lagi.”

Pintu ruangan lab terbuka, Professor Kang nampaknya telah menyelesaikan urusannya dengan si penelepon. Ia tersenyum puas melihat hasil karya Mi Rae.

“Tentunya kalian telah terbiasa melihat apa yang ada di dalam rongga perut ini. Organ dalam tubuh manusia. Kalian harus mempelajari semuanya—tanpa terkecuali,” Professor Kang mulai menerangkan, tangannya lalu mengangkat jantung yang telah terpisah dari tubuh cadaver, “Apa kalian serius ingin menjadi dokter?” decaknya lagi ketika menatapi mimik para mahasiswa. “Jantung adalah organ vital penting di dalam tubuh manusia. Jantung…,”

Kkrruuuukkkk~

Penjelasan Professor Kang terhenti karena bunyi asing yang terdengar menggelitik telinga. Semua orang di dalam lab tak dapat menyembunyikan senyuman aneh mereka, bahkan ada beberapa orang yang tertawa lepas.

“Apakah anatomi membuat kalian lapar?”

Semua mahasiswa tertunduk, tak ada lagi yang berani tertawa.

Kkrruuuukkkk~

Bunyi yang sama terdengar dan kali ini tawa di dalam ruang lab lebih keras dari sebelumnya.

“Katakan—siapa itu?” Suasana kembali hening. “Tak ada yang mengaku?” selidik Professor Kang.

“Professor,” suara takut-takut seseorang terdengar. Semua mata tertuju padanya, dia gadis pemberani tadi, “Maafkan aku. Seharian ini aku belum makan,” terangnya lagi. Semua orang tak dapat mencegah senyuman yang tersulut dari bibir mereka, namun tak ada yang berani mengeluarkan suara tawa secara terang-terangan.

“Baek Mi Rae, menjadi mahasiswa kedokteran memang sangat berat,” Professor Kang mengangguk. “Aku pun semasa kuliah seperti kalian, selalu melewatkan jam makanku hanya untuk belajar,” pria tua itu sepertinya mulai mengenang masa lalu. “Mi Rae, aku masih memiliki roti isi yang kubeli dari kantin. Kau boleh memakannya.”

“Terima kasih Professor,” Mi Rae segera menuju meja professor lalu mengambil roti isi yang dimaksud. Gadis itu begitu cuek ketika membuka kertas yang membungkusi roti dan menjejalkan roti itu ke dalam mulutnya. Mi Rae tak peduli ketika semua mata mendelik melihatnya makan dengan lahap. Bukan karena Mi Rae yang kelaparan sehingga membuat kadar rasa malunya berkurang, tapi yang membuat mereka hampir tak bernafas adalah—mereka masih mengingat bagaimana dengan lincahnya Mi Rae mengobrak-abrik isi perut cadaver, lalu kini masih di ruangan yang sama, masih disuguhi oleh perut menganga para cadaver, bahkan tanpa melepas handscoon­, apalagi mencuci tangannya—Mi Rae menyantap roti isi itu dengan hikmat.

Hyukjae memegangi kepala dengan kedua tangannya, ia benar-benar pusing dan rasa mual telah menggerogotinya. “Kau masih ingin mengatakan bahwa dia hanya berusaha menjadi dokter yang baik? Dia sangat mengerikan. Astaga,” Hyukjae harus berusaha keras untuk bertahan agar tidak menumpahkan seluruh makanan dari dalam perutnya. Kyuhyun hanya menatapi Mi Rae, ia tak menanggapi penuturan Hyukjae meskipun hatinya sedikit membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.

***

“Baek Mi Rae!”

Langkah kaki Mi Rae yang tergesa-gesa mendadak terhenti ketika namanya diteriakkan. Ia menoleh dan mendapati Han Jin Ae sedang berlari-lari kecil menghampirinya. Mereka berjalan bersama-sama menuju kafe.

“Ada yang aneh?” Mi Rae tak tahan melihat Jin Ae yang berkali-kali mencuri pandang padanya. Mi Rae meletakkan dua buku tebal yang dipegangnya di atas meja begitu mereka tiba di kafe.

“Pertanyaanmu salah,” Jin Ae mengambil posisi duduk tepat di hadapan Mi Rae. Ia menganggap tak ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan sosok Mi Rae selain, “Kau memang aneh.”

“Berhentilah melihatku seolah kau sedang melihat hantu,” Mi Rae menanggapi santai. Tangannya lalu menarik salah satu dari kedua buku tebal yang terpampang di hadapannya.

“Benar. Kau itu lebih menakutkan dari hantu manapun,” Jin Ae mendesah, “Yang kau lakukan di lab tadi itu—unbelievable.

“Aku lapar dan makan adalah solusinya. Ada yang salah dengan itu?”

Jin Ae hanya menatap datar, tak ada gunanya berdebat dengan Mi Rae, “Tidak,” jawabnya. Mata Jin Ae kini tertuju pada buku tebal yang telah terbuka di hadapan Mi Rae. Jin Ae terlihat muak dengan buku tersebut, “Beban hidupku terasa berat begitu melihat buku itu. Bagaimana bisa kau terlihat sangat jatuh cinta padanya?”

“Tapi kau harus! Kau tak punya pilihan, selain berkencan dengan atlas anatomi dan sebangsanya,” Mi Rae tetap fokus pada atlas anatomi yang sedang dipelajarinya. Mempelajari struktur tubuh manusia dari organ terbesar seperti hepar sampai yang terkecil seperti serabut saraf atau neuron adalah sebuah kewajiban. Mi Rae terkadang masih merasa kebingungan untuk mencocokkan gambar yang ada di atlas anatomi dengan struktur asli ketika berhadapan langsung dengan cadaver.

“Seandainya saja aku seperti dia,” Jin Ae memandangi Kyuhyun yang baru saja tiba di kafe. Seperti biasanya, Kyuhyun selalu terlihat bersama Hyukjae. Mereka semua tahu kemampuan Kyuhyun. “Dia pintar, tampan—lalu belakangan ini, ada kabar yang mengatakan bahwa dia berasal dari keluarga kaya raya,” timpal Jin Ae.

“Ck, Han Jin Ae. Itulah sebabnya otakmu tak bisa mencerna pelajaran dengan baik. Kau ini mahasiswi kedokteran bukan detektif.”

“Aku mengagumi Kyuhyun, tapi bukan berarti aku harus menjadi stalker-nya. Kau tahu, berapa banyak gadis yang membicarakannya di kampus? Bahkan di toilet aku masih bisa mendengar namanya disebut,” Jin Ae merengut kesal. Banyak yang mengatakan jika Kyuhyun berasal dari kalangan atas, namun banyak juga yang meragukan pernyataan itu pasalnya Kyuhyun hampir tak pernah memamerkan apapun yang membuatnya disebut sebagai penyandang status keluarga kaya selain motor besar tua berwarna hitam yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi.

“Baiklah, aku mengerti,” Mi Rae berkata tenang, ia tak merasa bersalah telah membuat kesal Jin Ae. Sebenarnya Mi Rae tidak mengerti. Mi Rae heran melihat mereka bertingkah seolah Cho Kyuhyun adalah pria paling sempurna, padahal di muka bumi tidak ada satu pun yang sempurna. Mi Rae tetap mengakui jika Kyuhyun itu tampan, tapi masih banyak yang lebih tampan darinya. Jika karena dia pintar, banyak juga yang lebih darinya.

“Melihat Kyuhyun, aku seperti sedang berada di dalam drama-drama yang sering kutonton,” lagi-lagi Jin Ae menarik nafas panjang.“Tampan, pintar…,”

“Kau tak perlu mendeskripsikan orang itu, kau sudah melakukannya tadi,” Mi Rae mencegah Jin Ae melanjutkan perkataannya. Mi Rae kembali membenamkan wajahnya di atlas anatomi, “Otak dan saraf ternyata jauh lebih rumit dari yang kubayangkan,” ia bergumam pada dirinya sendiri, dahinya terlihat sedikit berkerut. Jin Ae mendesis kesal melihat Mi Rae lebih menyukai buku itu ketimbang sahabatnya sendiri.

“Baek Mi Rae, apakah kau akan menghabiskan waktumu seperti ini?”

“Kau tahu bagaimana rasanya belajar hingga rambut di kepalamu rontok dan juga ketika hidungmu berdarah karena mimisan?” Mi Rae bertanya namun tak sedikit pun mengalihkan perhatian dari buku. “Aku berada di sini karena aku berusaha dengan keras. Meskipun bukan orang bodoh, tapi aku bukan juga termasuk dalam golongan orang yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Dan aku masih harus tetap berjuang agar tidak tertinggal. Keluargaku bukan keluarga kaya, aku harus melakukan beberapa pekerjaan part time selepas jam kuliah.”

“Kau tak perlu menjelaskan semua itu padaku,” ujar Jin Ae sambil menyeruput minumannya dalam-dalam. Sebagai seorang sahabat, Jin Ae tahu semua tentang Mi Rae.

“Jadi—itulah sebabnya, aku tak punya waktu untuk berleha-leha karena aku hidup di dunia yang nyata. Dunia yang mengharuskan orang sepertiku terus berjuang untuk tetap bertahan. Jin Ae, jangan terlalu terlena dengan drama, itu hanya akan merusak otakmu.”

“Tapi kau butuh penyegaran. Kau juga harus menikmati masa mudamu,” Jin Ae lalu sedikit memajukan tubuhnya mendekati Mi Rae, “Lalu—kau tak berpikir untuk memiliki seorang pacar?”

Pertanyaan yang dilontarkan Jin Ae ternyata mampu mengalihkan perhatian Mi Rae meskipun hanya sebentar. “Apa maksudmu?” Mi Rae membuka lembar selanjutnya dari atlas anatomi yang sedang dibacanya.

“Baek Mi Rae. Kau pernah memikirkan seorang pria? Maksudku, adakah seseorang yang kau sukai?”

Meskipun terlihat malas untuk menjawab pertanyaan Jin Ae, namun Mi Rae terdiam sejenak. Ia sedang berpikir, “Tidak ada,” jawabnya enteng lalu kembali fokus pada bukunya.

“Apa kau masih normal?” tanpa sadar Jin Ae memijit keningnya. Jin Ae mulai frustasi karena sikap Mi Rae.

“Jauh lebih normal darimu.”

“Haissh—gadis ini, mengapa dia begitu menyebalkan?” Jin Ae mengerucutkan bibirnya, ia menatap langit-langit kafe. Jin Ae tak patah semangat untuk membuka mata hati serta otak Mi Rae yang tampaknya telah tersumbat oleh tumpukan buku-buku tebal yang selalu bersamanya, “Bagaimana jika seseorang menyukaimu? Lalu memintamu menjadi pacarnya?”

“Kau bicara apa?”

“Kau tahu Joong Ki Sunbae?” pertanyaan Jin Ae membuat ingatan Mi Rae berusaha mengais wajah-wajah yang tersimpan di dalam kepalanya. Akhirnya memori otaknya memberi signal ketika ia teringat pada sosok pemuda tampan berlesung pipi—sosok yang dimaksud oleh Jin Ae. “Apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba saja Joong Ki Sunbae menyatakan cinta padamu?” pertanyaan itu membuat Mi Rae menatap langsung ke manik mata Jin Ae. Satu menit keduanya terdiam. Tak ada suara, sampai akhirnya Jin Ae mendesis, “Oke, oke. Anggap saja itu sebagai contoh,” Jin Ae tahu maksud tatapan mata Mi Rae.

“Seorang senior tampan yang jatuh cinta pada gadis berwajah canggung yang begitu kaku dan membosankan,” Mi Rae beranjak dari tempat duduknya, ia mengemasi buku-buku yang berserakan di atas meja. “Han Jin Ae—berhentilah bermain drama!” katanya lagi dan berlalu dari hadapan Jin Ae.

“Hey! Mi Rae!” teriak Jin Ae memanggil nama gadis yang tetap melenggang pergi. “Baek Mi Rae!” Jin Ae mempercepat langkahnya menyusuli Mi Rae. “Ya Tuhan, Mi Rae terbuat dari apa kau ini sebenarnya?”

Mi Rae memberikan senyuman tipis sebagai jawaban atas pertanyaan Jin Ae. Mi Rae hanya menoleh sebentar pada Jin Ae yang terus merengut, namun justru karena itu ia bertabrakan dengan Park Ah Young, senior mereka. Meskipun berbeda fakultas, namun Ah Young cukup populer di kampus. Buku-buku di tangan Mi Rae terhempas di lantai kafe.

“Kau tak punya mata?” Ah Young memamerkan ekspresinya marahnya. Matanya menatap Mi Rae begitu tajam.

“Maafkan aku, Sunbaenim,” Mi Rae menundukkan kepala meminta maaf.

“Dasar bodoh!” Ah Young memang dikenal sebagai gadis cantik bermulut tajam. “Apa kau tak bisa melihat dengan baik?”

Mi Rae hanya diam, eskpresi datarnya tak berubah. Bahkan ketika Ah Young terus mencercanya habis-habisan. “Sunbaenim, aku bukannya tak bisa melihat. Aku hanya tak fokus pada jalan di hadapanku setelah aku melihat wajahmu.”

Kemarahan Ah Young sedikit memudar, “Wajahku? Memangnya kenapa dengan wajahku?”

“Satu hal yang dapat menggambarkan wajahmu—gluteus maximus.”

Alis Ah Young saling bertaut, ia tak mengerti apa yang dikatakan oleh Mi Rae. Mi Rae tetap bersikap tenang bahkan ketika Jin Ae memelototkan mata padanya.

Glu, gluteus max—,” lidah Ah Young sedikit keseleo ketika harus mengulangi apa yang disebutkan Mi Rae, “Apa maksudmu?”

Mi Rae tetap memamerkan wajah datarnya yang selalu membuat orang lain di sekitarnya merasa bosan. Ia akhirnya menuntaskan rasa penasaran Ah Young, “Cantik,” dan itu sanggup membuat Ah Young salah tingkah sekaligus besar kepala.

Cepat-cepat Jin Ae menarik Mi Rae agar menjauh, “Kau gila?” desis Jin Ae. “Dia memang menyebalkan tapi kata-katamu barusan, astaga—Baek Mi Rae, mengapa kau begitu membenci Ah Young Sunbae?” pertanyaan Jin Ae hanya dijawab Mi Rae dengan mengangkat kedua bahunya. Mereka meninggalkan kafe.

Di dalam kafe, Kyuhyun dan Hyukjae tersenyum lebar memamerkan gigi mereka. Tawa kedua orang itu akhirnya tak bisa dibendung.

“Kau dengar itu?” Cho Kyuhhyun memukul-mukul meja dengan tangannya. Ia benar-benar sulit meredakan tawanya. “Kau lihat ekspresi Ah Young?”

“Sebenarnya aku kasihan padanya, dia tak tahu apapun yang dikatakan Mi Rae—tapi, dia masih sempat memamerkan pipinya yang merah merona,” Hyukjae menarik gelas minumannya dan meneguk isinya hingga tuntas. “Baek Mi Rae, ck—lihatlah ekspresi datarnya yang monoton itu,” Hyukjae kembali tertawa.

Gluteus maximus? Cantik? Astaga, perutku mulai sakit,” Kyuhyun mengusap-usap perutnya. “Mengata-ngatai seorang senior. Mi Rae, kau memang luar biasa!”

Kyuhyun dan Hyukjae masih tertawa memikirkan apa yang telah dilakukan Mi Rae. Kalau saja Ah Young mengerti apa yang dikatakan Mi Rae, ia tidak mungkin tersipu hingga merona seperti tadi. Terlalu banyak hal yang perlu dipelajari tampaknya membuat otak Mi Rae mulai terganggu. Seorang mahasiswa kedokteran harus mengetahui nama-nama seluruh organ tubuh, termasuk dalam bahasa latin.

“Aku ingin melihat seperti apa reaksi Ah Young jika dia tahu bahwa gluteus maximus yang dimaksud oleh Mi Rae adalah,” Hyukjae tersenyum lebar, ia mengambil jeda sejenak sambil menghayati arti dari gluteus maximus yang sebenarnya. Merupakan bahasa latin yang menggambarkan otot terbesar dalam tubuh manusia yang membentuk sebagian dari bokong. Dengan kata lain gluteus maximus adalah, “Pantat,” lanjut Hyukjae dan tawanya kembali pecah, begitu juga Kyuhyun. Yang Mi Rae lakukan tadi bukan memuji tapi mengejek Ah Young secara halus.

***

Waktu telah menunjukkan pukul 22.45 ketika Mi Rae tiba di rumah. Sepulang kuliah, seperti biasanya Mi Rae melakukan pekerjaan part time-nya, tak tanggung-tanggung ia bisa mengambil dua bahkan tiga pekerjaan sekaligus. Hari ini ia bisa pulang lebih awal, biasanya Mi Rae pulang pada jam-jam kecil. Di rumahnya yang sederhana, tak banyak ruangan di dalamnya—hanya terdapat dua kamar tidur. Mi Rae melangkah pelan, ia sengaja tak menyalakan lampu. Mi Rae membuka pelan pintu sebuah ruangan, matanya tertuju pada seorang wanita yang telah pulas. Di rumah itu, Mi Rae hanya tinggal bersama ibunya. Ayahnya telah meninggal dunia ketika Mi Rae duduk di bangku sekolah dasar.

Pelan-pelan Mi Rae menutup pintu kamar agar tak membangunkan ibunya. Ia melangkah gontai menuju kamar tidurnya. Cahaya memenuhi ruangan yang isinya tertata rapi setelah Mi Rae menyalakan lampu. Gadis itu berlalu ke dalam kamar mandi, ia keluar sepuluh menit setelah itu dan langsung menuju meja belajar. Tangannya meraih sebuah buku dan langsung membuka buku itu.

Mi Rae tak bisa berkonsentrasi seperti biasanya. Hanya selang beberapa menit kemudian, buku itu kembali ditutup dan di letakkan di tempat semula. Mi Rae beranjak menuju pembaringan. Mi Rae tak langsung membaringkan tubuhnya, ia belum berniat tidur. Ia hanya duduk di tepian pembaringan. Tangan kanannya meraih remote yang terletak di atas meja kecil di sisi tempat tidur. Ia lalu menyalakan televisi. Sebuah drama tampak menghiasi layar televisi.

Mi Rae menyimak drama yang sedang tayang itu, raut wajahnya begitu tenang. Bahkan ketika adegan romantis yang dipamerkan para pemeran drama yang selalu sukses membuat hati penonton berdesir-desir bahkan menghasilkan beragam ekspresi—nampaknya hal itu tidak berlaku pada Mi Rae. Gadis itu tetap memamerkan eskpresi datarnya yang selalu monoton.

Satu-satunya yang membuat raut wajah Mi Rae berubah adalah ketika ponselnya berbunyi nyaring.

“Hallo.”

Apa yang sedang kau lakukan?

“Aku?” Mi Rae sedikit heran karena Jin Ae meneleponnya selarut itu.

Aku tahu, kau sedang belajar—lagi,” nada Jin Ae terdengar muak.

“Tidak, aku hanya…”

Baek Mi Rae! Hanya tidur dan beristirahatlah. Jangan menonton drama dengan ekspresimu yang mengerikan itu. Kau bahkan membenci drama, mengapa kau masih saja menontonnya?” Jin Ae tampaknya tahu kebiasaan Mi Rae.

“Kau meneleponku hanya untuk menceramahiku?” Mi Rae tak berniat menjawab pertanyaan Jin Ae. Ia justru menjawab Jin Ae dengan sebuah pertanyaan.

Jin Ae terkekeh, “Mau minum denganku?” tanya Jin Ae, “Kudengar anggur beras di kedai dekat rumahmu sangat enak. Kita bertemu di sana,” lanjutnya lagi lalu segera mengakhiri percakapan secara sepihak tanpa menunggu persetujuan Mi Rae. Mi Rae hanya mendesah pelan.

*

Baek Mi Rae memasuki kedai yang dimaksud Jin Ae. Ia berdiam di tempat sejenak, ia lalu melangkah setelah melihat sosok Jin Ae. Mi Rae duduk di hadapan Jin Ae. Ia hanya menatapi Jin Ae yang tengah meneguk minuman di gelasnya. Sudah ada dua botol minuman kosong di atas meja.

“Apa yang terjadi?” Mi Rae tahu jika terjadi sesuatu pada sahabatnya itu. Jin Ae menatap sekilas pada Mi Rae, “Kau menyuruhku ke sini untuk mengantarmu pulang saat mabuk?” tanya Mi Rae lagi setelah berhasil mencegah Jin Ae yang berniat mengosongkan isi gelasnya.

“Kami putus,” ungkap Jin Ae, “Lebih tepatnya—aku diputuskan oleh Ji Hoon. Aku tak lagi membuat hatinya berdebar, begitu katanya.”

“Kau mabuk hanya karena itu?”

“Hanya karena itu?” Jin Ae mengulangi pertanyaan Mi Rae. “Baek Mi Rae, tapi Ji Hoon adalah segalanya bagiku. Orang sepertimu yang hanya berkencan dengan buku tak akan mengerti apa yang aku rasakan,” ia mendesis kesal.

“Iya. Aku memang tak mengerti. Aku tak mengerti dengan otakmu,” Mi Rae menggeleng prihatin. “Apakah bagi Ji Hoon kau adalah segalanya?” pertanyaan itu membuat Jin Ae terdiam. “Jika hanya kau yang merasakan perasaan seperti itu, tak ada gunanya. Kau bertepuk sebelah tangan. Tinggalkan itu!” Mi Rae menuangkan anggur beras ke dalam gelasnya, “Han Jin Ae, bukankah sangat baik jika disaat seperti ini kau putus dengan Ji Hoon? Kau harus lebih fokus pada kuliahmu,” lanjut Mi Rae setelah menelan habis minuman di gelas dalam sekali teguk.

Jin Ae berdecak, “Ck, aku memanggilmu ke sini untuk menghiburku. Baek Mi Rae, mengapa kau begitu kejam padaku?”

“Kau sudah mabuk rupanya,” Mi Rae tertawa kecil melihat tingkah Jin Ae. “Baiklah, kita harus merayakan hari terbebasmu.”

“Kau semakin menyakiti hatiku,” Jin Ae menatap kesal pada Mi Rae yang kembali meneguk minuman dengan tenang.

“Ini demi kebaikanmu. Jangan menangisi seseorang yang bahkan tak memikirkanmu. Kau harusnya menangisi dirimu yang menjadi bodoh karena menghabiskan banyak waktumu untuk orang seperti Ji Hoon.”

“Eishh—kau tak tahu rasa di dalam sini,” Jin Ae memukul-mukul dadanya. “Kau berkata seperti itu karena kau tak pernah merasakan apa yang aku rasakan,” Jin Ae mendesis.

Mi Rae terdiam beberapa saat, ia lalu memandangi Jin Ae, “Apa yang kau lihat dalam drama hanyalah tipuan untuk menarik minat penonton. Hal-hal yang selalu terlihat baik itu tak pernah ada. Untuk mendapatkan yang terbaik dan menjadi yang terbaik, ada harga yang harus kau bayar. Kerja keras,” Mi Rae mendesah. “Kau tak perlu menangisi keadaanmu ketika segala sesuatu tampak buruk. Jin Ae, kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Kerjakan saja yang seharusnya kau kerjakan, jangan berpikir terlalu berat. Aku sudah mengatakan padamu, jangan menangisi seseorang seperti Ji Hoon. Tuhan itu adil, Dia telah menyisihkan satu pria terbaik untukmu. Jadi, berhentilah untuk cemas.”

“Hmm—kau benar juga,” Jin Ae berpikir sejenak, “Tapi—Baek Mi Rae, di luar sana banyak gadis yang berlomba untuk seorang ‘pria terbaik’ itu, persaingan semakin sulit. Bukankah itu artinya aku harus semakin giat berusaha untuk mendapatnya?”

“Haishh, tak ada gunanya bicara denganmu.”

“Dan juga, apa karena itu kau selalu bersikap acuh tak acuh? Kau tak khawatir sedikit pun? Hey~ Tuhan memang sudah menyiapkan segala sesuatunya, tapi jika kau tak mencarinya maka…”

“Han Jin Ae! Itulah sebabnya otakmu terlalu complicated. Sudah kubilang, jangan mencoba memikirkan sesuatu yang tidak bisa kau tanggung. Jalani saja hidupmu!” Mi Rae tak dapat menyembunyikan kekesalannya. “Kau minum saja!” lanjutnya lagi. Sepertinya Mi Rae terlalu kesal.

***

“Jam kuliah hari ini selesai.”

Kalimat penutup dari dosen mampu mengubah raut wajah para mahasiswa. Begitu dosen keluar, ruangan itu mulai dipenuhi oleh berbagai macam suara seperti bisikan buku yang bersentuhan dengan meja, langkah kaki yang saling bersahutan dan juga canda tawa.

“Oh leherku,” Jin Ae memegangi lehernya yang terasa pegal. Ia menoleh pada Mi Rae yang sedang mengemasi buku-buku, “Kau punya rencana hari ini?”

“Hmm,” Mi Rae hanya memberikan gumaman kecil sebagai sebuah jawaban.

Part time lagi?” Jin Ae sedikit mendengus jengah, “Aku mau pergi ke klub malam, sepertinya sudah sangat lama bakat menariku tidak tersalurkan. Kau mau ikut?”

“Kau bersedia membayar biaya kuliahku?” Mi Rae justru bertanya, ia tak menatap Jin Ae. “Kalau begitu jawabanku—tidak. Aku tidak akan pergi denganmu,” ungkapnya lagi setelah menoleh dan mendapati Jin Ae hanya mendengus.

“Cho Kyuhyun Sunbae.”

Sapa seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam ruangan perkuliahan itu, ia lalu berdiri di hadapan Kyuhyun. Keberadaannya membuat Kyuhyun harus menghentikan percakapannya dengan Hyukjae. Kwon Hae Yoon adalah mahasiswi yang cukup populer di Fakultas Kedokteran, dia cantik dan dia juga pintar.

“Terima kasih atas pinjaman bukunya,” Hae Yoon menyerahkan sebuah buku yang baru saja dikeluarkan dari dalam tas.

“Ck,” Jin Ae mendengus. “Berpura-pura meminjam buku adalah alasan yang terlalu klise. Dia hanya sedang berusaha menarik perhatian Kyuhyun,” ujar Jin Ae setelah ia dihujani tatapan heran Mi Rae.

“Selama itu tak merugikanmu, biarkan saja,” Mi Rae memberikan tanggapannya yang selalu membuat Jin Ae melatih kesabaran.

Kyuhyun memandangi Hae Yoon, lalu pandangannya turun pada buku yang disodorkan oleh gadis itu, “Bukankah aku sudah memberikan buku ini padamu?”

“Aku hanya meminjam, bukan meminta,” Hae Yoon memberikan pernyataannya.

“Baiklah,” Kyuhyun segera meraih buku yang disodorkan Hae Yoon.

Sunbae, kau mau dinner denganku?”

Jin Ae menjentikkan jarinya ketika apa yang dipikirkannya benar, “Sudah kubilang—dia hanya sedang beralasan.”

“Han Jin Ae, fokuslah pada hidupmu,” Mi Rae menggeleng prihatin.

“Aku tidak tahu apa yang salah dengan otakmu, tapi tolong jangan berusaha menjadikanku robot sepertimu,” desis Jin Ae. Ia kembali mengawasi Hae Yoon dan Kyuhyun. “Aku berani bertaruh. Kyuhyun pasti akan menolaknya!”

“Kau sangat menyedihkan.”

“Kyuhyun selalu menolak gadis-gadis yang mendekatinya,” Jin Ae mencoba untuk tidak mempedulikan ejekan Mi Rae. Ia lebih suka menyuarakan isi kepalanya.

Lee Hyukjae sedikit memajukan tubuhnya ke arah Kyuhyun, “Kyu, tanyakan padanya, bisakah aku dinner bersama kalian? Hae Yoon pasti tidak keberatan,” bisik Hyukjae.

“Mengapa?” Kyuhyun menatap Hae Yoon. Hyukjae kesal ketika Kyuhyun justru melontarkan pertanyaan lain.

Hae Yoon tersenyum manis, “Sunbae, apa yang kau pikirkan?” tanyanya. Ia kemudian tertawa, “Anggap saja tawaran itu sebagai bentuk ucapan terima kasihku padamu.”

“Jika kau memintaku beranggapan seperti itu, bukankah itu artinya kau tidak tulus berterima kasih? Dengan kata lain, dinner hanyalah modus.”

Mereka terdiam. Hae Yoon kembali tertawa, “Sunbaenim, kau memang berbeda. Baiklah, kau benar. Itu hanyalah modus,” Hae Yoon akhirnya mengakui analisa Kyuhyun. “Cho Kyuhyun Sunbae, aku tertarik padamu. Aku sedang berusaha untuk mendekatimu. Bisakah kau berpura-pura tak menyadari itu? Anggaplah kau hanya sedang menerima rasa terima kasihku.”

Kyuhyun terdiam, ia menatap Hae Yoon lebih intens. Senyuman mulai terukir di bibir Kyuhyun, “Kwon Hae Yoon, aku tak bisa membalas perasaanmu.”

Bingo!” Jin Ae terpekik girang. Tebakannya tidak meleset. Mi Rae kembali menggeleng-geleng pelan, sejurus kemudian ia sudah fokus pada ponsel di tangannya.

“Kenapa?” tanya Hae Yoon, “Ah—karena gadis yang kau sukai itu?” Hae Yoon melontarkan pertanyaan kedua. Ia tetap terlihat tenang sekalipun perasaan telah ditolak.

Raut wajah Kyuhyun berubah, ia menatap Hae Yoon lebih seksama. “Bagaimana kau tahu?” tanya Kyuhyun.

Sunbae, kau menolak semua gadis yang mendekatimu dengan alasan yang sama,” jawab Hae Yoon. Gadis itu memajukan kepalanya mendekati Kyuhyun membuat Kyuhyun menyandarkan punggungnya di sandaran tempat duduk. “Tapi aku tak percaya sama sekali dengan kata-katamu,” sorot mata Hae Yoon memancarkan kecurigaan.

Kyuhyun menarik nafas, ia lalu memajukan wajahnya hingga jarak diantaranya dan Hae Yoon begitu sedikit, “Ada gadis yang benar-benar aku sukai.”

Sunbaenim, kau tak bisa membohongiku.”

Kyuhyun kembali menyandarkan punggungnya di sandaran tempat duduk. Ia menatap frustasi pada Hae Yoon, “Kwon Hae Yoon. Mengapa kau tak membiarkanku sendiri? Aku tidak ingin disalahpahami.”

“Tidak. Kau tak perlu berbohong padaku,” Hae Yoon tersenyum. “Sunbae, mengapa kau tak mencobanya denganku?” senyuman Hae Yoon terlihat lebih lebar lagi.

Kyuhyun menarik nafas panjang lalu membuang kasar semua oksigen yang diraupnya tadi. Ia terdiam, wajahnya tak tenang ketika memandangi Hae Yoon yang tampaknya bukan tipe gadis yang mudah menyerah. Kyuhyun beranjak dari tempat duduk, namun tak membuatnya mengalihkan tatapannya dari Hae Yoon yang terus tersenyum sumringah.

Pandangan Kyuhyun berubah arah. Kini ia sedang memandangi Jin Ae yang mendadak kikuk setelah menerima sorot mata elang Kyuhyun. Lee Hyukjae yang meskipun kebingungan, namun tak sempat bertanya saat melihat Kyuhyun menghampiri Jin Ae dan Mi Rae. Jin Ae menelan ludah kasar, Kyuhyun berdiri tepat di hadapan mereka. Tatapan Kyuhyun beralih pada Mi Rae yang duduk di sisi Jin Ae. Sepertinya Mi Rae tak mengubris keberadaan Kyuhyun. Gadis itu masih bermain lincah dengan ponselnya.

“Baek Mi Rae.”

Jari-jari Mi Rae yang sejak tadi sibuk bercengkrama dengan ponsel mendadak terhenti mendengar suara berat Kyuhyun menyebut namanya. Mi Rae mengangkat wajahnya, memandang pada sosok tampan itu. Mi Rae menoleh pada Jin Ae dengan tatapan—‘apa yang telah aku lewatkan?’ Jin Ae hanya menggeleng antusias. Tak mendapat jawaban, Mi Rae kembali memandangi Kyuhyun. Tatapan mata mereka bertemu.

“Berkencanlah denganku.”

~bersambung~

HAPPY BIRTHDAY CHO KYUHYUN! Wish the best for you lah ^^

Ehm, halloooo kakak2, adik2, dan teman2 semua. Apa kabar?

Sudah lama gak update. Ini semua berkat ultah abang Kyu jadi pengen nulis sesuatu dan terjadilah ff ini. Sy tidak bisa janji kelanjutannya dalam beberapa hari, kemungkinan minggu depan, atau bisa jadi dua minggu depan karena ff ini baru ditulis sampai di kalimat penutup di atas *tunjuk2* tapi akan saya usahakan tidak membuat kalian semua jamuran hingga berbulan-bulan.

Sy minta maaf untuk Lovely Piggy, sy belum sempat melanjutkan cerita itu, tapi pasti akan sy lanjutkan kembali suatu hari nanti -__-

Oke, masih adakah yang bersedia memberikan tanggapan?

Mohon bantuannya utk kritik dan juga saran, mohon maaf jika ada kesalahan.

Iklan

449 thoughts on “Drama (Part 1)

  1. tiffanyseptiany berkata:

    annyeong… udah lamaaaaaaaaaaaaaaa banget aku ga main ke blognya eonni… dan begitu buka ternyata udah banyak anyar ff baru… walaupun ternyata lovely piggy nya belum di lanjut T_T

    karena di posternya ceweknya di gambarin foto moon chae woon, aku berasa lagi ngeliat dia pas d drama nice guy dech, sama2 dingin dan agak2 sadis gitu ya… jin ae aja harus sabar banget kyknya ngadepinnya… hoho #ketawabanrenghyuk

    dan aku ngakak pas bagian mi rae bilang “gluteus maximus” sama ah young… wkwkwk

    dan, ini apa ini TBC nya kenapa mesti nongol???!!!
    kira2 reaksi mi rae apa ya?

    next dluuu

  2. Vhicha azhari berkata:

    Wah wahh,, kayaknya ffnya seru dh,ada kyuhyun,hihi meskipun gk ada kyuhyun ffnya eonni tetap seru”.. Tapii hehe inilah jiwa seorang sparkyu eonn 😀 izin baca ffnya yah eonni..

  3. kyunara berkata:

    cho kyuhyun ..kau sungguh tega…pasti mi rae cuma buat tameng kan.
    dia gx bener” suka sama mi rae

  4. aureg berkata:

    Anyeong haseyo eonni
    Aku reader baru disini
    Aku br baca 1 ff ini dan aku tertarik untuk teeus baca lagi hehehe
    Biasanya aku gk begitu suka genre anak sekolah/kuliahan tapi aku baca 1 part ini aja udah seneng deh
    Lanjut baca ya
    Fighting eonni ^^

  5. Eka puspita elf berkata:

    Ngakak pas bagian mirae ngatain senior nya cantik dalam arti lain pantat haha:-D dan apalagi itu kyuhyun minta kencan?

  6. nae.ratna berkata:

    weh kyuhyun nagajak mi rae kencan…
    jangan bilang gadis yg kyuhyun suka itu mi rae(?)
    wah gimana tanggepan mi rae yah kkk

  7. cha eunna berkata:

    hai kak.. aku ijin baca ff ini ya..sambil nunggu pianist’s melody nih.

    mi rae bakal nerima ajakan kyuhyun ga ya?? penasaran nih.ijin baca part 2 nya ya
    SEMANGAT KAK!!

  8. Rrin'sLove berkata:

    KAKAK AKU BACA INII
    AKU BACA INI
    DAN HAHAHAHAHA YA TUHAN
    sakit perut ku diawal2
    apalagi bagian ini

    “TIDAK!” jawab serentak para mahasiswa yang merasa terintimidasi oleh tatapan dingin Professor Kang. Jawaban paling pelan keluar dari mulut Hyukjae.

    aku bisa bayangin gimana bercicitnya Hyuk Oppa bilang ttidak sambil mengkeret puhahahaha

    astagaaaa
    kak Gluteus Maximus
    wakakakaka
    malah tersipu pula si cewek itu
    ngakak lah hahaha

    aduuuuh
    si Baek Mi Rae hidupnya datar sekalii
    ahahahaha
    si Kyuhyun memang laaah

  9. Lee Bo Na berkata:

    wkwkwkw… hanjir bgt nih ff… pertama” ga ada feel… pas akhirnya malah #boom…
    di part ini menurutku terlalu lambat.. eh(?) apa akunya yang kagak sabaran… #mian….. -__-
    tapi ffnya oke… lanjuttt

  10. ddianshi berkata:

    Wow daebak ❤ Akhirnya kyu mengakui kalo selama ini kyu menyukai baek mi rae? Jinja? 😀 kasian juga kehidupan mi rae yang selalu datar dan monoton 😦 😥

  11. Leah berkata:

    Wkwk hanjir—— Baek Mirae itu emang sesuatu sekali. Polos banget dia, lagi matkul anatomi dan ngubek ngubek daleman manusia, sempet ya dia makan. Gila. Keren dia.. apalagi pas bilang Gluteus Maximus ke si Ah young. Pantat. Dan dia ngomongnya dengan ekspresi datar kebanggaannya.
    Kocak banget ini.
    Itu, yg pas terakhir sumpah bikin senyum senyum sendiri, ntah kenapa. Awww cuyun

  12. nurul berkata:

    wkwkwk, mi rae parah bahasa kedokteran untuk memuji orang yg lagi kesal.
    masih penasaran siapa yg disukai kyuhyun ? apa cuama alasan untuk nolak??
    kyuhyun sesuatu deh

  13. Anonim berkata:

    OMG…gara-gara tingkah kyu yang mengajak mi rae berkencan, pasti akan membuat kehidupan mi rae berubah…kasian..

  14. Shatia berkata:

    OMG…kehidupan mi rae bakalan berubah gara-gara sikap kyu yang seenaknya..bakalan ada yg membully mi rae…

  15. sulistyowatifitria berkata:

    Hoho kyuhyun tetep casanova :v
    Akhirnya mood buat baca ff balik juga setelah berminggu2 ngilang entah kemana. :v
    Sumpah pas bagian kyuhyun buka isi perut mayat, serasa pengen keluarin isi perut beneran T.T
    Tapi bener2 lucu hoho ^0^

  16. fiafathin berkata:

    kyuhyun ngajak kencan mi rae???
    itu modus atau serius kkkkk~
    kira” bakal d trima gk ya.. mi rae aja lempeng kya gitu hhhh

  17. lvraz berkata:

    Hyuk jae is medical student, unbelievable. Biasanyakan dia jadi yg konyol, Lumayan Bodohnya, tapi sekaranggg. Gak peduli di FF mana pun, kyuhyun emang selalu digambarkan sebagai sosok yg sempurna. Mi rae, unik sih wataknya. Ohh Iya sama reader baru, izin baca ya

  18. jungsoo berkata:

    slam knl kakak 😊
    ijin baca ya 😊
    ekh ciee mirae di ajk kencn kyuhyun namja idmn gadis skampus 😆😆
    hyuk bkin grgrt pngn ngjwer wkwk

  19. liyahseull berkata:

    Halo kak Marchiaaa 😀 udah lama jd following blog ini taoi baru mampir lagi sekarang. Hehehe. Dulu baca drama dr awal drama masih on going part 1. Eh sekarang udah bejibun aja 😅

    Inget dulu ngikik aja baca ini.

    Kangen Kyuhyunnnnn

  20. My labila berkata:

    Mau dong di ajak kencan sm bang kyu #KapanYa #KhayalanKu
    kira-kira mirae bakal nerima gak ya…. penasaran !!!!!!!

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s