Drama (Part 2)

Drama (Part 2)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae (OC)

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

“Berkencanlah denganku.”

Kalimat yang terlontar dari mulut Kyuhyun sukses membuat Lee Hyukjae berdiri dari tempat duduknya. Kwon Hae Yoon terperanjat dengan bola mata yang melebar perlahan hingga berada di batas maksimal ukuran lebar bola matanya. Pekikan Jin Ae tertahan, ia bergantian memandangi Kyuhyun dan Mi Rae dengan mulut yang menganga lebar—Jin Ae lalu membekap mulutnya, namun tatapan matanya masih tetap berpindah-pindah. Dibandingkan ekspresi semua orang di dalam ruangan; hanya Kyuhyun dan Mi Rae yang begitu konsisten. Kyuhyun tetap menghadiahi Mi Rae dengan sorot mata yang tenang. Sementara Mi Rae masih memandangi Kyuhyun, tentu saja dengan eskpresi datarnya.

Sekian detik tak ada reaksi berarti dari wajah Mi Rae. Kyuhyun tak begitu mempermasalahkan tanggapan Mi Rae, ia justru mengambil alih ponsel di tangan Mi Rae. Setelah melakukan sesuatu, Kyuhyun segera mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya.

“Aku akan menghubungimu,” pungkas Kyuhyun. Ia berpaling dari hadapan Mi Rae dan Jin Ae. Kyuhyun mengambil tas di atas meja, ia menatap sekilas pada Hae Yoon yang masih mematung, dan sebuah senyuman kembali dipamerkan pada Hae Yoon sebelum ia berlalu meninggalkan ruangan diikuti oleh Hyukjae yang telah bersiap memberondongnya dengan pertanyaan.

***

Malam ini Mi Rae tidak melakukan pekerjaan part time-nya. Jin Ae yang menyadari kesempatan langka yang jarang sekali terjadi itu segera memanfaatkan dengan baik. Jin Ae berhasil menyeret Mi Rae keluar dari zona aman dan untuk alasan itulah mengapa kedua gadis itu kini tengah menyusuri keramaian Myeongdong.

Myeongdong merupakan kawasan di Seoul yang menjadi salah satu distrik pusat perbelanjaan dan wisata utama di Kota Seoul, merupakan tempat yang populer bagi wisatawan manca negara sebagai surga belanja dan pusat fashion yang menjual aneka fashion item—mulai dari produk lokal hingga barang-barang bermerk internasional. Selain itu, tempat hiburan seperti bioskop dan teater banyak dijumpai sehingga menjadikan Myeongong populer di kalangan anak muda Seoul.

Mi Rae tak dapat melakukan apa-apa ketika Jin Ae menyeretnya dan mampir dibeberapa tempat perbelanjaan. “Bagaimana menurutmu?” Jin Ae bertanya antusias ketika keluar dari ruang ganti, ia memutar tubuh bergaya bak seorang model sambil memamerkan sebuah coat berwarna merah yang membaluti tubuhnya.

“Bagus,” satu kata yang selalu sama keluar dari mulut Mi Rae ketika Jin Ae meminta pendapat tentang benda-benda yang akan dibeli Jin Ae.

“Tak ada yang ingin kau beli?” Jin Ae bertanya lagi. Mi Rae tak terlihat seantusias dirinya ketika melihat produk-produk menarik yang selalu memanjakan mata serta menggoda iman kaum hawa.

Mi Rae menggeleng pelan, “Aku masih punya banyak pakaian yang menumpuk di lemari. Pakaian-pakaian itu tak akan habis terpakai,” jawaban santai Mi Rae membuat Jin Ae berdecak. Jin Ae berasal dari keluarga kaya, itulah sebabnya ia tak begitu mempermasalahkan lembaran uang yang keluar karena kebiasaannya yang suka berbelanja.

Berbeda dengan Mi Rae yang selalu memperhitungkan banyak hal sebelum melakukan segala sesuatu—termasuk berbelanja. Mi Rae tahu betapa sulitnya biaya hidup di kota besar seperti Seoul. Ia tak bisa sepenuhnya bergantung pada beasiswa untuk membiayai kuliahnya, alasan yang membuatnya harus melakukan pekerjaan part time.

Setelah puas berbelanja, Jin Ae dan Mi Rae kembali berbaur dengan para pejalan kaki. Meskipun terlihat ramai dan sesak, jalanan di kawasan itu tetap leluasa untuk ditelusuri karena jalan utama dan gang-gang diperuntukkan bagi pejalan kaki. Jin Ae kini menyeret Mi Rae masuk ke sebuah kafe. Kawasan Myeongdong selain dikenal sebagai surga belanja juga dikenal sebagai tempat wisata kuliner. Banyak sekali restaurant dan kafe di sepanjang jalan di area tersebut.

Jin Ae terlihat bingung dengan menu yang akan dipilih, ia membutuhkan beberapa saat sebelum memutuskan apa yang akan dimakannya. “Kau ingin makan apa?” tanya Jin Ae.

“Samakan saja denganmu,” Mi Rae tak ingin membuang waktunya hanya untuk kebingungan memilih makanan.

Setelah menyebutkan jenis makanan yang ada dalam list pada pelayan, fokus Jin Ae tertuju pada Mi Rae. “Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Cho Kyuhyun?”

“Aku? Kyuhyun?” alis Mi Rae saling bertaut. Ia mencoba memahami pertanyaan Jin Ae.

“Eih~ jangan berpura-pura terhadapku. Dia mengajakmu berkencan,” Jin Ae tersenyum nakal, ia sedang menggoda Mi Rae. “Dia menghubungimu?”

“Mengapa dia harus melakukan itu?” Mi Rae justru bertanya.

“Dia secara terbuka mengajakmu berkencan!” Jin Ae mencoba mengingatkan Mi Rae pada apa yang terjadi beberapa hari lalu. “Tunggu! Ini sudah hari keempat dan dia benar-benar tidak menghubungimu?” begitu serius Jin Ae bertanya sehingga membuat Mi Rae yang kebingungan hanya menggeleng. “Hoaahh! Luar biasa! Dia bahkan mengambil nomor ponselmu dan dia justru mendiamkanmu begitu saja? Apa maksudnya berlaku seperti itu?”

Mata Mi Rae tak berpindah tempat. Alisnya kembali bertaut. Ia kebingungan melihat Jin Ae yang emosi dan mencercanya dengan beberapa pertanyaan secara menggebu-gebu. Tanpa sadar Mi Rae menyentuh punggung tangannya di dahi Jin Ae, “Han Jin Ae. Kau baik-baik saja, bukan?”

“Baek Mi Rae!” Jin Ae menghardik kesal, “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu?”

“Apa kau tidak terlalu berlebihan? Jin Ae, jangan boros dengan ekspresimu,” desah Mi Rae. “Lihat bola matamu, kau bisa membuatnya melompat keluar,” Mi Rae berdecak hebat.

Jin menyapu kasar wajahnya, “Ya Tuhan. Ada apa dengan otak gadis ini?” ia menggeleng-geleng prihatin. “Cho Kyuhyun tidak menghubungimu?” rasa penasaran masih tetap tertinggal di kepala Jin Ae.

“Mengapa aku harus menjawab pertanyaan yang sama? Jin Ae, tidak ada alasan baginya untuk menghubungiku. Dia tidak punya kewajiban seperti itu terhadapku.”

“Tapi saat itu dia—” Jin Ae terlihat berpikir keras, “Lalu apa maksudnya berkata seperti itu?”

“Jin Ae, dibanding aku, kau yang paling tahu tentang orang itu. Kau sendiri yang mengatakan padaku jika dia selalu menolak setiap gadis yang mendekatinya. Lalu mengapa dia tiba-tiba mengajakku berkencan? Pikirkanlah itu,” Mi Rae mencoba mengajak otak Jin Ae untuk berpikir. “Aku rasa, tidak sedikit gadis yang mengejarnya. Mereka jauh lebih baik dariku. Jadi, mengapa harus aku yang berkencan dengannya?”

Raut wajah Jin Ae terlihat sangat serius. Ia terdiam, lalu pandangannya kembali tertanam di wajah tenang Mi Rae. “Memangnya apa yang terjadi?”

“Ck, fungsikan otakmu!” Mi Rae menghela nafas panjang. “Kyuhyun tidak benar-benar serius saat mengatakan itu padaku. Baginya, aku adalah tameng.”

“Hey! Itu artinya, saat itu kau hanya sebuah tiket baginya agar terbebas dari Hae Yoon? Dan—kau tak marah diperlakukan seperti itu?” suara Jin Ae naik satu oktaf. Entah mengapa justru Jin Ae yang mendadak emosi karena perlakuan Kyuhyun terhadap Mi Rae.

“Sampai saat ini tidak ada yang berkurang dari hidupku, semua berjalan seperti biasanya. Selama aku tidak dirugikan, maka tidak ada alasan bagiku untuk marah. Jin Ae, cobalah untuk bersikap realistis!”

Seorang pelayan datang mengantar makanan ke meja Jin Ae dan Mi Rae. Keduanya tersenyum ketika pelayan wanita itu dengan ramah mempersilahkan mereka untuk menyantap makanan yang telah terhidang di atas meja.

“Kau memang hebat. Sangat hebat,” Jin Ae masih sempat berdecak heran karena sikap Mi Rae. Sementara Mi Rae lebih memilih mengisi perutnya yang telah bersenandung riang sejak tadi. Tak berkata apa-apa lagi, Jin Ae pun mulai mengunyah makanannya.

Bunyi alat musik dan microphone yang sedang diuji mengalihkan perhatian Jin Ae. Ia memandangi sekelompok pemuda yang berada di sebuah tempat di dalam kafe—tempat yang membuat mereka dapat dijangkau oleh retina setiap orang yang berada di dalam kafe. Mereka adalah penyanyi kafe yang biasanya menghibur pengunjung kafe dan mereka sedang mempersiapkan diri untuk memulai aktivitasnya. Masing-masing telah bersiap dengan alat musik yang akan dimainkan.

“Eh!” Jin Ae sedikit terperanjat ketika melihat salah seorang dari pemuda-pemuda itu. “Bukankah itu—Cho Kyuhyun?” Jin Ae memaksa Mi Rae untuk melihat ke mana telunjuknya mengarah.

Mi Rae mencoba mengenali sosok pemuda yang ditunjuk Jin Ae. Pemuda yang memakai kaos putih dan dilapisi oleh jaket hitam, rambut coklatnya terlihat sedikit berantakan namun tidak mengurangi ketampanannya. Pemuda itu sedang mengecek microphone di tangannya. “Ya, itu dia,” jawab Mi Rae dan kembali menatapi isi piringnya.

“Apa yang dia lakukan?”

“Dia akan menyanyi!”

“Maksudmu?”

“Dia pasti vokalis band itu. Kupikir hanya otakmu yang bermasalah—sebaiknya kau memeriksakan matamu.”

“Dasar kejam!”

Telinga Mi Rae sepertinya telah dipasang penghalang yang dapat menghalau cercaan Jin Ae. Mi Rae justru tersenyum, “Habiskan saja makananmu!” katanya dengan senyum yang masih melekat. Sedetik berlalu dan tak ada senyuman di wajah Mi Rae, ia kembali menyuapi makanan ke dalam mulutnya.

Musik mulai mengalun lembut, tidak berisik namun terdengar pas memenuhi ruangan. Mi Rae melirik sekilas pada Jin Ae dan ia menggeleng pelan melihat Jin Ae yang sedang memandangi Kyuhyun dengan ekspresi yang menurut Mi Rae terlalu berlebihan, apalagi saat Jin Ae memposisikan jari-jari tangannya yang saling bertaut tepat di bawah dagu. Lalu suara lembut itu terdengar, aktivitas Mi Rae terhadap peralatan makan di tangannya terhenti. Ia menoleh ke arah band dan benar saja, itu suara Cho Kyuhyun. Meski tak memberikan ekspresi yang berlebihan seperti Jin Ae, namun sempat terlihat sedikit perubahan di raut wajahnya. Tanpa sadar, Mi Rae tak mempedulikan isi piringnya.

“Aku tak mengira jika dia memiliki suara seindah itu. Dia benar-benar perfect,” decak Jin Ae.

Mi Rae lalu memandangi Jin Ae, “Ya, suaranya bagus, tapi bukan berarti dia sempurna,” tetap saja Mi Rae selalu mengandalkan logikanya ketika berbicara.

“Dasar menyebalkan!” cicit Jin Ae yang kesal dengan sikap cuek Mi Rae yang telah over dosis.

“Mata bisa menipu jadi jangan terlalu percaya pada apa yang kau lihat. Dia mungkin terlihat sempurna, tapi pasti ada sisi-sisi tentangnya yang tidak kalian ketahui. Intinya—di dunia ini, tidak ada satu pun yang sempurna,” Mi Rae kembali mengemukakan isi kepalanya yang selalu realistis dan sesaat kemudian ia terperanjat ketika menyadari bahwa ia telah mengabaikan makanannya sekian menit. Jin Ae hanya mampu menarik nafas dalam-dalam.

Lagu yang dibawakan oleh mereka selesai. Kyuhyun meletakkan microphone, ia lalu berjalan menghampiri Jin Ae dan Mi Rae. Menyadari kedatangan Kyuhyun, secara refleks Jin Ae menendang kaki Mi Rae.

“Kau gila?” geram Mi Rae yang masih kesakitan.

“Dia datang!”

“Siapa?”

“Aku tak mengira akan bertemu kalian di sini,” ucapan Kyuhyun mendahului Jin Ae. Mi Rae menoleh pada Kyuhyun yang kini berdiri di hadapan mereka.

“Aku juga tak mengira kau memiliki suara semerdu itu,” Jin Ae tersenyum. “Lalu—apa yang kau lakukan di sini?” pertanyaan Jin Ae justru dibalas dengan sorot mata keprihatinan Mi Rae. Jelas-jelas Kyuhyun tadi sedang menyanyi, “Maksudku—”

“Ah,” Kyuhyun cepat sekali menanggapi isi kepala Jin Ae. “Inilah kegiatanku setiap malam,” jawab Kyuhyun, ia kemudian kembali menambahkan ketika melihat Jin Ae justru menautkan alis. “Selain kafe ini, ada beberapa tempat yang menawari kami untuk menyanyi di sana. Ini adalah pekerjaan part time-ku,” terang Kyuhyun.

“Kau—bekerja part time?” Jin Ae terperanjat. Kyuhyun justru tertawa geli melihat ekspresi Jin Ae.

“Mengapa kau sangat terkejut?” tanya Kyuhyun. “Bukankah akan jauh lebih mengejutkan jika aku berakhir sebagai gelandangan? Bagaimanapun—pekerjaan ini sangat membantu.”

“Tapi—mereka mengatakan jika kau—” Jin Ae tiba-tiba ragu mengemukakan apa yang bersarang di kepalanya selama ini. “Kaya raya?” akhirnya Jin Ae menuntaskan pertanyaannya di dalam hati.

Mi Rae menyunggingkan senyuman kemenangan di sudut bibirnya, ia puas melihat keterkejutan Jin Ae yang menyadari jika Cho Kyuhyun tidak seperti apa yang mereka bayangkan. Mi Rae terus menyengir memikirkan betapa bodohnya Jin Ae dan gadis-gadis yang selau beranggapan jika lelaki yang sedang tersenyum di hadapan mereka kini adalah sosok yang sempurna. Cho Kyuhyun tidak sesempurna pikiran mereka. Sama seperti Mi Rae yang harus bekerja keras untuk bertahan hidup, Kyuhyun juga menempuh jalan yang sama.

Seseorang melambaikan tangan pada Kyuhyun, mereka harus kembali bermusik. Kyuhyun mengangguk sebagai jawaban, “Maaf, aku harus kembali ke sana,” katanya. Jin Ae mengangguk pelan. Pandangan Kyuhyun bergeser pada Mi Rae yang sejak tadi masih sibuk dengan dunianya sendiri, bahkan senyuman kemenangan yang lebih mirip seringaian tipis itu belum pudar dari wajahnya. “Lalu kau—sepertinya kau sangat menyukai makanan di sini, Nona Drama,” Kyuhyun menyeringai lebar ketika memandangi piring bersih Mi Rae, tidak ada makanan yang tersisa di situ.

Mi Rae masih kebingungan, matanya terus menatap punggung Kyuhyun yang berjalan menjauh. Mi Rae lalu bergantian memandangi Jin Ae, “Mengapa dia memanggilku seperti itu? Seharusnya itu adalah julukanmu.”

“Aku rasa itu karena—kau justru membenci drama dan kau selalu berkoar-koar tentang pandangan negatifmu terhadap drama. Tentu saja semua orang tahu pikiranmu yang sangat kuno dan kaku itu.”

“Bukan begitu. Aku hanya—”

“Realistis,” Jin Ae yang muak segera memotong perkataan Mi Rae.

***

“Sistem uropoetika adalah sistem yang digunakan untuk mengontrol volume dan komposisi cairan dalam tubuh,” suara lantang sang professor terdengar memenuhi ruang perkuliahan. “Pada sistem uropoetika, beberapa organ tubuh ikut berperan dalam pembentukan urine. Yang pertama yang akan kita bahas adalah ginjal. Pertumbuhan ginjal menempuh tiga tahap yaitu; pertama, pronephros atau ginjal primitif. Kedua, mesonephros yaitu ginjal transisi dan yang terakhir, metanephros—ginjal definitif.”

Semua mahasiswa yang berada di dalam ruangan terlihat sangat serius menyimak materi yang diberikan oleh professor wanita itu. Hyukjae tampaknya sibuk sendiri, Tak tahu mengapa ia terlihat cemas dan putus asa.

“Ada apa?” Kyuhyun yang merasa terganggu sekaligus penasaran memutuskan untuk bertanya.

“Kau punya pena?”

“Ck,” Kyuhyun berdecak. Ini bukan kali pertama Hyukjae bertingkah seperti itu hanya karena tak membawa pena. Kyuhyun lalu menyodorkan penanya pada Hyukjae.

“Terima kasih,” Hyukjae terkekeh. “Benda ini di tanganmu pun akan mubazir,” celoteh Hyukjae. Ia tahu kemampuan otak Kyuhyun dan mungkin karena itulah Kyuhyun jarang sekali terlihat mencatat materi yang diberikan.

Setelah mendapatkan pena, Hyukjae kembali fokus. Begitu juga dengan Kyuhyun, ia sangat serius memperhatikan penjelasan Professor Seo. Beberapa saat berlalu hingga fokus Kyuhyun berubah. Ia memandangi punggung Mi Rae. Di dalam ruang kuliah yang berbentuk tribune, posisi duduk Mi Rae berjarak tiga deret kursi dari deretan Kyuhyun. Mi Rae memang selalu memilih duduk di depan. Sejak tadi kepala Mi Rae kehilangan tenaga, mematah ke kiri juga ke kanan bahkan terkadang hampir terantuk di atas meja. Mi Rae pasti tidak dapat menahan rasa kantuknya.

Kyuhyun menarik buku Hyukjae, merobek selembar kertas dan mengembalikan buku itu pada Hyukjae yang sedang menatapnya, keheranan. “Tidak ada yang kau dapatkan dengan menghadiahiku tatapan itu. Sebaliknya, kau telah ketinggalan beberapa point penting yang baru saja disampaikan oleh Professor Seo,” perkataan Kyuhyun sangat manjur. Terbukti karena Hyukjae telah memfokuskan diri dengan keseriusan tingkat tinggi pada materi yang sedang diterangkan.

Kertas di tangan Kyuhyun diremas hingga membentuk bola kertas. Dia mengarahkan tangannya ke sasaran lalu melempar kertas tersebut—tepat mengenai kepala Mi Rae. Kyuhyun tersenyum melihat Mi Rae yang tersentak. Gadis itu menoleh ke sekitarnya untuk mencari siapa yang telah melemparinya. Namun itu tak berlangsung lama, rasa kantuk Mi Rae sudah diluar batas. Senyuman Kyuhyun perlahan surut saat melihat kepala Mi Rae yang kembali bergerak mematah hampir ke segala arah.

“Intake air, temperatur, diet, keadaan mental dan fisik, serta aktivitas adalah faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah urin,” perkuliahan masih berlangsung. Professor Seo menuntut semua mahasiswa untuk fokus pada tampilan proyektor di hadapan mereka. “Lalu, bagaimana dengan urin normal?” Professor Seo memandangi wajah-wajah di ruangan itu. “Urin normal mengandung ureum yang merupakan senyawa hasil akhir metabolisme protein pada mamalia. Ammonia—hanya terdapat sedikit pada urin tapi itulah yang membuat urin berbau. Creatin dan creatinin, adalah hasil pemecahan caratin. Asam urat yang merupakan hasil akhir dari oksidasi urin di dalam tubuh. Lalu yang paling terakhir adalah—”

Kkrriikk! Kkrriikk!

Bunyi yang terdengar seperti suara jangkrik tiba-tiba mengalihkan perhatian seisi kelas. Baek Mi Rae tersentak. Rohnya yang semula berpencar kemana-mana mendadak terkumpul. Terburu-buru Mi Rae mengais isi tas hingga tangannya bersentuhan dengan benda yang dicarinya—ponsel. Mi Rae segera mengakhiri bunyi aneh yang bersumber dari ponselnya. Gadis itu lalu berdiri dan berkali-kali menundukkan kepala sebagai permohonan maaf pada semua orang yang terganggu karena bunyi ponselnya. Professor Seo hanya menggeleng kesal dan kembali melanjutkan materi.

Mi Rae terduduk sambil menarik nafas panjang. Ia mengamati ponselnya, sebuah panggilan dari nomor baru—nomor yang tidak terdaftar di daftar kontak Mi Rae. Jin Ae menoleh, “Siapa yang menghubungimu?” Mi Rae hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaan Jin Ae.

Layar ponsel Mi Rae terlihat menyala, bukan sebuah panggilan melainkan sebuah pesan masuk. Mi Rae kembali menarik nafas lega, setidaknya ia telah mengganti mode silent pada ponselnya sehingga ia tak perlu memohon maaf karena kesalahan yang sama.

-Apa tidurmu nyenyak?-

Sebaris kalimat yang membentuk sebuah pertanyaan adalah isi pesan yang baru diterima Mi Rae. Dahi Mi Rae sedikit berkerut, entah apa maksud pertanyaan itu namun sedetik kemudian ia tersentak setelah menyadari bahwa pesan itu dikirim oleh nomor yang beberapa waktu lalu membuatnya menjadi sorotan utama di ruang perkualiahan. Mi Rae meletakkan ponsel di atas meja, ia tak berniat meladeni si pengirim pesan, namun beberapa menit kemudian sebuah pesan kembali diterima Mi Rae.

Mengapa tak menjawab pertanyaanku?-

“Cih!” Mi Rae mendesis, mengapa ia harus repot-repot menjawab pertanyaan dari orang tidak jelas itu? Terlebih lagi orang itu seakan sedang menuntut Mi Rae untuk menjawab pertanyaannya. Mi Rae baru saja hendak meng-non-aktifkan ponselnya ketika pemberitahuan pesan baru terlihat di layar ponsel.

Jika kau tak membalas pesanku, maka aku akan meneleponmu lagi.-

“Wah, apa orang ini sedang mengancamku?”

“Siapa yang mengancammu?”

“Tidak. Tidak ada,” Mi Rae menjawab pertanyaan Jin Ae. “Tunggu—tapi, mengapa aku harus merasa terancam?” Mi Rae terdiam. Ia sadar bahwa ia merasa terancam karena sebelumnya orang itu menelepon dan membuatnya menjadi sumber keributan. Mi Rae tak ingin hal yang sama terjadi, itulah sebabnya ia merasa pesan itu sebagai ancaman—sementara si pengirim pesan pasti tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada Mi Rae karena panggilan masuk itu. Jadi, Mi Rae menyimpulkan bahwa ia tidak bisa menyalahkan si pengirim pesan misterius.

Mi Rae memutuskan untuk mengirim pesan; –Jangan menghubungiku. Kau salah orang!-

Hanya lima detik setelah itu…

Salah orang? Kau bukan sedang beralasan karena ingin tidur lagi, benar begitu? Jelas-jelas aku melihatmu kelabakan karena bunyi ponselmu yang aneh tadi.-

Mi Rae tersentak. Bagaimana orang itu tahu? Menyadari sesuatu, Mi Rae segera mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Ia tidak mendapati hal-hal yang mencurigakan. Jari-jari Mi Rae baru saja hendak menggerayangi layar sentuh ponselnya ketika sebuah pesan kembali diterima.

-Mengapa? Kau baru berniat ingin bertanya siapa aku?-

“Orang ini,” Mi Rae menggeram hebat. Jin Ae yang merasa aneh karena gelagat Mi Rae kembali menoleh, “Aku tidak apa-apa,” Mi Rae mencoba mengelak dari sorot mata Jin Ae yang penuh dengan segudang tanya. Mulut Mi Rae mulai komat-kamit, “Siapa pun kau, itu bukan urusanku. Tolong jangan menghubungiku lagi!” ia mengetik kalimat yang disebutkan dan langsung mengirim pesan itu.

“Kau tidak terlihat baik-baik saja?” Jin Ae kembali bertanya.

“Han Jin Ae! Tolong fokus saja pada materinya!” Mi Rae yang emosi karena pesan itu mendadak menumpahkan kekesalannya pada Jin Ae. Sambil memangku kedua tangannya, Mi Rae menoleh pada Jin Ae yang masih terpaku, “Kenapa?” tanyanya lagi. Mi Rae tak perlu menunggu jawaban Jin Ae ketika ia menyadari bahwa kini semua mata sedang mengawasinya. Suaranya yang meninggi tadi sampai ke telinga semua orang.

“Baek Mi Rae! Kaulah yang membuat fokus kami terganggu!” Professor Seo memperlihatkan wajah kesalnya pada Mi Rae.

Dan lagi—untuk kedua kalinya, Mi Rae harus meminta maaf pada seisi ruangan karena keributan yang ia timbulkan. “Jangan bertanya lagi!” Mi Rae mendesah karena Jin Ae terus mengawasinya. Jin Ae mengangguk pelan dan kembali memperhatikan materi yang diterangkan oleh Professor Seo.

Sebuah pesan diterima Mi Rae. Gadis itu kontan saja memamerkan wajah masamnya.

Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu lagi, Nona Drama.-

“Nona Drama?” ada kerutan tipis di dahi Mi Rae. Beberapa detik kemudian bola mata Mi Rae melebar, sebuah ekspresi yang jarang terjadi di permukaan wajah Mi Rae. Dengan sangat kasar ketika Mi Rae menolehkan kepala. Ia langsung menghujani tatapannya pada sosok pemuda yang duduk beberapa deret di belakangnya. Cho Kyuhyun sedang memamerkan senyum lebarnya, ia bahkan mengedipkan sebelah matanya pada Mi Rae.

“Menurut Sherwood, sistem uropoetika memegang peran penting dalam mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh dan mempertahankan keseimbangan asam basa darah. Sedangkan, kelangsungan hidup dan berfungsinya sel secara normal bergantung pada pemeliharaan konsentrasi cairan, garam, elektrolit, serta asam basa yang ada di dalam tubuh.”

Meskipun masih ingin menghujani Kyuhyun dengan tatapan kesalnya namun perkataan lantang Professor Seo membuat Mi Rae harus kembali fokus ke depan. Ia tak ingin diusir dari kelas karena mengganggu ketenangan dan konsentrasi semua orang di dalam ruangan itu.

“Cho Kyuhyun!” Kyuhyun sedikit beringsut ketika Professor Seo menyebut namanya, “Aku ingin mendengar kesimpulanmu.”

Kyuhyun telah bersikap tenang dan ia mulai berbicara. “Berdasarkan materi yang telah dibahas, ada dua hal yang dapat disimpulkan. Pertama; kebiasaan buruk seperti menahan kencing harus diminimalisir karena berdampak negatif terhadap sistem uropoetika yaitu infeksi saluran kencing dan pembentukan batu ginjal,” Kyuhyun berkata mantap, “Dan yang kedua adalah hubungan sistem uropoetika dengan homeostasis dapat dilihat dari mekanisme pengeluaran zat-zat yang berlebihan dalam tubuh. Seperti yang diketahui bahwa tubuh hanya memerlukan zat-zat yang dibutuhkan dalam jumlah yang normal.”

Professor Seo terlihat sangat puas dengan kesimpulan yang diberikan oleh Cho Kyuhyun. Tatapan Professor Seo kini beralih pada Mi Rae, sorot matanya masih memendam kekesalan pada Mi Rae. “Tak biasanya kau mengacau di kelas. Aku harap kau tidak mengulanginya lagi.”

“Iya, Professor Seo!” jawab Mi Rae. Di dalam hati ia sedang memaki Cho Kyuhyun.

“Berdasarkan kesimpulan yang diberikan Kyuhyun—lalu apa yang dapat kau sarankan, Baek Mi Rae?”

“Aku?” Mi Rae tersentak.

“Kau ingin aku mengulang pertanyaan yang sama?” mata Professor Seo sedikit memicing ketika memandangi Mi Rae.

“Tidak Professor!” Mi Rae hanya tidak memprediksi bahwa Professor Seo akan bertanya padanya. Ia menarik nafas, “Menahan kencing bukan hanya perlu diminimalisir, melainkan dihilangkan karena jika ada toleransi terhadap kebiasaan buruk seperti menahan kencing maka suatu saat akan berdampak buruk bagi kesehatan. Sebisa mungkin hindari makan atau minum dalam jumlah yang berlebih. Makan dan minumlah dengan ukuran normal seperti yang dibutuhkan tubuh. Yang terakhir dan tak kalah penting, jangan mengkonsumsi makanan dan minuman yang dapat merusak sistem-sistem tubuh, terutama pada bahasan kali ini yaitu sistem uropoetika. Sangat dianjurkan untuk selalu mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat.”

Mi Rae mengakhiri saran yang ia berikan. Ia cukup was-was sambil memandangi raut wajah Professor Seo. Mi Rae mulai merasa lega setelah Professor Seo mengangguk pelan—tandanya professor setuju dengan saran yang diberikan oleh Mi Rae.

***

“Jadi—apa sebenarnya penilaianmu terhadap wanita?”

Setelah sekian lama memandangi gadis-gadis yang berkeliaran di hadapan mereka, Hyukjae akhirnya bersuara. Ia menoleh pada Kyuhyun yang duduk di sisinya. Mereka sedang berada di sebuah taman di lingkungan kampus.

“Kau sedang berbicara padaku?” Kyuhyun justru bertanya, ia melepas ear phone yang sejak tadi menyumbat telinganya setelah melihat mulut Hyukjae bergerak.

“Lupakan saja!”

“Baiklah.”

“Cho Kyuhyun!” Hyukjae mencegah Kyuhyun memasang kembali ear phone. Hyukjae tak bisa menyembunyikan kekesalannya, meskipun ia berhasil mengatasi itu. Tak ada gunanya jika harus berdebat dengan Kyuhyun. “Kau lihat mereka?” Hyukjae mengajak Kyuhyun untuk mengawasi gadis-gadis yang kerap lalu-lalang di hadapan mereka. Kyuhyun mengangguk. “Bukankah begitu banyak gadis cantik di kampus ini?”

“Ya,” jawab Kyuhyun.

“Dan—juga mereka sangat menarik. Kau setuju?”

“Benar.”

“Lalu mengapa kau tak terlihat tertarik pada salah satu dari mereka?”

“Aku?”

“Ya, kau!” tegas Hyukjae. “Seperti apa penilaianmu terhadap wanita?” Hyukjae sangat penasaran dengan kehidupan asmara Kyuhyun.

“Cantik, memiliki tubuh proposional, pintar—aku rasa seksi juga termasuk dalam penilaian,” Kyuhyun menjawab begitu spontan. Ia lalu menatap Hyukjae, “Bukankah pria normal akan berkata seperti itu?”

“Kau tidak termasuk dalam kategori pria normal?” mata Hyukjae terlihat lebih sipit dari biasanya, ia sedang berusaha menerawangi isi kepala Kyuhyun. Rasa curiganya tiba-tiba saja jatuh pada Kyuhyun.

Kyuhyun mendorong kasar kepala Hyukjae dengan tangannya dan hampir membuat Hyukjae terjerembab ke tanah. “Jangan cemas, aku belum jatuh cinta padamu,” erang Kyuhyun.

Hyukjae mengerang lebih hebat karena suara Kyuhyun yang cukup keras dan jika didengar orang lain maka akan menimbulkan gosip terpanas di kampus. “Kyu, aku tahu jika pesonaku terlalu menyilaukan tapi kumohon padamu—tolong bunuh bibit cinta di hatimu terhadapku.”

Perkataan Hyukjae mampu memecah tawa Kyuhyun, ia selalu menyukai saat-saat Hyukjae bertingkah konyol dan melucu seperti itu. Hyukjae ikut tertawa.

“Aku rasa kau sependapat denganku. Semua pria akan berpikiran sama tentang wanita,” Kyuhyun menyembunyikan kedua tangannya di balik saku jaket. “Penampilan memang salah satu point penting untuk menilai seseorang. Sebuah kebohongan jika aku berkata bahwa mataku tak pernah terpedaya karena kecantikan atau kemolekan seseorang, tapi sebenarnya ada hal-hal yang mungkin sulit diterima oleh pikiran orang lain—terutama orang sepertimu,” Kyuhyun tiba-tiba saja menatap tegas pada Hyukjae.

“Hey! Apa maksud tatapanmu?” desis Hyukjae.

“Lee Hyukjae, apa kau selalu menilai seseorang berdasarkan penampilan fisik?” pertanyaan Kyuhyun mampu membius Hyukjae. “Pernahkah kau berpikir seseorang bisa saja terlihat sangat menarik di matamu, bahkan ketika kau sadar bahwa gadis itu tidak dapat disandingkan dengan gadis-gadis cantik dan menarik yang sering kau jumpai? Tapi tetap saja, kau lebih menyukai gadis itu, gadis yang di mata kebanyakan orang nyaris tak memiliki pesona.”

“Uhm—entahlah, terlalu banyak gadis cantik yang berseliweran di sekitarku, dan aku belum mempertimbangkan tentang gadis tak mempesona seperti yang kau gambarkan barusan,” Hyukjae menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan gamblang, segamblang otaknya. Kyuhyun hanya tertawa. “Jika begitu banyak gadis cantik di dunia ini, mengapa aku harus mengejar gadis biasa? Bukankah kita harus mencari yang terbaik?” pikir Hyukjae.

“Tentu, tapi apa yang menjadi tolok ukurmu untuk menghadiahi seseorang dengan sebutan yang terbaik?” kembali Hyukjae bungkam karena pertanyaan Kyuhyun. “Pengalamanku mungkin tidak sehebat kau yang seorang casanova, tapi setidaknya aku mengerti bagaimana rasanya kecewa karena perasaan yang tak berbalas, sakit hati karena putus cinta bahkan ketika perasaan seperti itu berujung pada mencari seseorang untuk disalahkan, termasuk menyalahkan Tuhan. Menurutku Tuhan tidak pernah salah ketika menempatkan seseorang di sisi kita.”

“Kyu, jarang sekali kau berbicara tentang Tuhan!” Hyukjae begitu takjub.

“Jangan menghinaku!” desis Kyuhyun. Ia kembali pada topik yang sedang mereka bahas, “Dipertemukan dengan orang yang salah, agar kita bisa belajar setidaknya untuk menjadi lebih benar, mungkin juga belajar untuk lebih menghargai dan mensyukuri. Tanpa disadari, apa yang terjadi pada kita justru sedang mengajari kita. Aku yakin Tuhan tidak pernah keliru. Sebenarnya aku pernah bertanya pada diriku sendiri, bagaimana aku tahu jika orang itu adalah orang yang tepat?”

“Sudahkah kau tahu jawabannya?”

Kyuhyun menggeleng pelan, “Tidak ada jawaban yang paling tepat karena masing-masing orang memiliki pemikiran yang berbeda, jadi jawaban yang muncul pun selalu beragam. Jika kau menyukai seseorang karena kecantikannya, kau mungkin akan meninggalkan orang itu setelah bertemu orang yang lebih cantik. Kau menyukai seseorang karena harta, bisa saja suatu saat kau berpaling karena tergiur harta yang lebih banyak lagi,” Kyuhyun berkata santai. “Hatimu yang lebih tahu apa yang kau inginkan, tapi Tuhan jauh lebih tahu apa yang kau butuhkan.”

“Ck, ada apa denganmu hari ini?” Hyukjae berdecak lagi, “ Mendadak aku melihat kita di kelilingi malaikat. Sudah empat kali kau menyebut kata Tuhan!” perkataan Hyukjae hampir saja dihadiahi oleh tendangan Kyuhyun di tulang kering kaki Hyukjae jika saja Hyukjae tidak segera menghindar. “Kau benar, hati menentukan siapa yang kita inginkan!”

“Kau paham itu, tapi jangan terlalu sering mempermainkan wanita. Perilakumu bisa menjeratmu. Kau menginginkan yang terbaik, tapi kau harus tahu jika sikapmu yang akan menentukan semuanya!”

“Mungkin sebaiknya kau menjadi seorang motivator saja, Kyu,” Hyukjae menggeleng-geleng. “Kau belum menjawab pertanyaanku!”

“Tentang apa?”

“Bagaimana kau tahu jika kau bertemu orang yang tepat?”

“Kau tidak menyimak perkataanku sepertinya. Sudah kukatakan, tidak ada jawaban yang pasti. Tapi—untukku…,” Kyuhyun berpikir, “Bertemu dengan seseorang yang membuatku merasa nyaman.”

“Hanya seperti itu?”

“Terlepas dari siapa pun dia, tapi jika dia membuatku merasa nyaman meskipun kami bukan sepasang kekasih atau yang paling ekstrim adalah aku hampir tidak pernah berbicara dengannya tapi dia justru membuatku merasa nyaman—entahlah, memang terdengar tidak logis, tapi aku rasa itu adalah sebuah pertanda bahwa mungkin saja dia adalah pasangan hidupku, kelak. Bukankah masa depan itu adalah sebuah perjalanan? Kau akan tahu apa yang tersembunyi di ujung jalan itu hanya jika setelah kau tiba di ruas jalan tersebut.”

Hyukjae hanya mengangguk-angguk paham, perumpamaan yang diberikan Kyuhyun lebih mudah ia cerna. “Kata-katamu tadi, seolah kau sudah bertemu dengan si ‘dia’ yang kau gambarkan dalam penjelasanmu,” gumam Hyukjae. Ia terdiam dan detik selanjutnya secara tiba-tiba langsung menghujani Kyuhyun dengan tatapan penuh kecurigaan, “Jangan-jangan kau memang sudah bertemu dengan gadis yang membuatmu merasakan hal itu?”

Bragh!

Perhatian Kyuhyun dan Hyukjae teralih begitu saja karena bunyi itu. Seorang pemuda yang tergesa-gesa menabrak tubuh Mi Rae hingga membuat buku-buku Mi Rae jatuh berserakan.

“Eishh! Aku tahu Mi Rae sangat membosankan dan terlalu kaku untuk dijadikan teman, tapi orang itu keterlaluan. Apa dia tidak memiliki sopan santun?” Hyukjae protes setelah melihat si penabrak itu justru berlalu tanpa meminta maaf pada Mi Rae, apalagi membantu Mi Rae mengemasi buku-bukunya yang jatuh. Sementara Kyuhyun yang teringat sesuatu mendadak tersenyum lebar, lalu ia mulai tertawa, “Kau tertawa? Aku tidak mengira kau orang yang seperti itu!” Hyukjae berdecak prihatin karena merasa Kyuhyun sedang menertawakan kemalangan Mi Rae.

“Kau tahu, aku pernah mengalami hal yang sama,” Kyuhyun berusaha menenangkan diri. “Kejadian itu sudah cukup lama, kurang-lebih dua atau tiga bulan selepas kita menjadi mahasiswa di sini. Sama seperti pemuda tadi, aku tidak sengaja menabrak Mi Rae. Oh ya, setelah aku ingat-ingat, pernyataan tentang Mi Rae yang tak pernah terpisah dari buku-buku dalam genggamannya itu adalah fakta. Saat itu pun, aku membuat buku-bukunya terhempas dan berserakan di lantai.”

“Aku tidak sedang ingin mendengar fakta atau apalah itu tentang Mi Rae,” Hyukjae mengerang kesal karena Kyuhyun tiba-tiba saja membelokkan cerita. Hyukjae lebih penasaran dengan cerita Kyuhyun setelah insiden tabrakan itu.

Kyuhyun menyengir, ia kemudian melanjutkan ceritanya, “Kami sama-sama terdiam dan kebingungan, bahkan tak ada satu pun di antara kami yang berusaha memberi perhatian pada buku-buku malang itu. Entahlah, satu atau dua menit dalam keadaan seperti itu lalu Mi Rae tiba-tiba berkata padaku,” Kyuhyun mengambil jeda. Ia berbatuk kecil dan ekspresi wajahnya mulai berubah, “Siapa yang akan memunguti buku-buku itu? Kau atau aku?” ujar Kyuhyun yang menirukan gaya bicara lengkap dengan raut wajah datar Mi Rae.

“Mi Rae bertanya seperti itu padamu?” Hyukjae yang keheranan lantas bertanya pada Kyuhyun dan dijawab dengan anggukan kepala Kyuhyun. “Apa maksudnya?”

“Sama sepertimu, aku juga bertanya begitu pada Mi Rae; apa maksudmu?” terang Kyuhyun, ia kembali meniru ekspresi Mi Rae. “Seorang pemuda yang entah itu sengaja atau tidak disengaja bersenggolan dengan seorang gadis sehingga buku-buku di tangan sang gadis berhamburan di tanah. Setelah saling tatap menatap dengan durasi yang cukup lama, mereka seakan tersadar dan ketika si gadis berusaha memunguti buku-bukunya, pemuda itu pun secara refleks melakukan hal yang sama. Di antara sekian jumlah buku yang berserakan, mereka justru mengambil buku yang sama. Tangan mereka pun bersentuhan dan keduanya kembali saling pandang dengan durasi yang jauh lebih lama dari sebelumnya. Lalu, jantung mereka mulai berdetak lebih cepat. Apa yang terjadi selanjutnya? Bisa dipastikan benih-benih cinta mulai bersemi di hati kedua orang itu.

Hyukjae masih melongo hebat, “Kau bicara apa?”

Tanpa merubah ekspresi dan gaya bicaranya, Kyuhyun kembali berujar, “Apakah menurutmu kejadian seperti itu sangat familiar? Tentu saja! Kejadian-kejadian yang sering terlihat dalam drama. Pertemuan yang menjadi permulaan kisah cinta seperti itu terlalu klise, dan tidak pernah ada di dunia nyata. Demi menghindari potensi kesalahpahaman seperti itu maka tolong putuskan sekarang juga! Kau akan memunguti buku itu? Atau aku?

Seperti orang bodoh, Hyukjae memandangi Kyuhyun, “Cho Kyuhyun, apa yang terjadi padamu?” pertanyaan Hyukjae dijawab dengan tawa jenaka Kyuhyun.

“Aku rasa ekspresiku saat itu tidak jauh berbeda denganmu,” Kyuhyun tersenyum lebar.

“Benarkah? Baek Mi Rae benar-benar berkata seperti itu padamu?”

“Hmm,” Kyuhyun mengangguk antusias seperti seorang anak kecil. “Dia berbicara tanpa henti dan sepertinya dituntaskan dalam sekali helaan nafas. Aku benar-benar kehilangan kata-kata, seperti orang bodoh. Persis ekspresimu tadi,” kemudian tawa Kyuhyun kembali menggelegar. “Dia bahkan tak mempedulikanku, tak juga menunggu jawabanku, dia lalu memunguti sendiri buku itu, berjalan meninggalkanku yang masih setengah sadar. Aku terlalu terkejut dibuatnya.”

“Ck, luar biasa. Fakta berikutnya yang dapat disimpulkan dari seorang Baek Mi Rae adalah dia sangat membenci drama,” Hyukjae mengangguk-angguk mencoba memahami sesuatu, ia kemudian kembali memandangi Kyuhyun. “Mengapa kau terus tersenyum?”

“Bukankah dia sangat menarik?”

Hyukjae terkejut dan spontan merabah dahi Kyuhyun, hari ini sudah berkali-kali ia melakukan hal yang sama pada Kyuhyun, “Kyu, katakan padaku—di sebelah mana kau terbentur?”

Kyuhyun menyingkirkan tangan Hyukjae, “Aku sering menjumpai gadis-gadis cantik dengan kepribadian yang baik, tapi makhluk seperti Mi Rae adalah pertama kali aku jumpai,” Kyuhyun terlihat begitu antusias mengemukakan isi kepalanya.

Hyukjae menarik nafas takut-takut, “Cho Kyuhyun, apa pendapatmu tentang Baek Mi Rae?”

Pertanyaan Hyukjae tidak dijawab Kyuhyun. Pemuda itu justru terdiam, entah apa yang sedang ia pikirkan, ia hanya tersenyum. Senyuman Kyuhyun kian mengembang, ia bahkan tertawa memamerkan deretan giginya meskipun tak ada suara yang terdengar dari mulutnya. Kyuhyun memijit pelan dahinya—ekspresi yang ditunjukkan seolah ia merasa malu karena tertangkap basah melakukan sesuatu. Tawa di wajah Kyuhyun tetap bertahan.

“Alasan—alasan yang selalu kau buat saat menolak para gadis,” Hyukjae sedikit terbata.

Kyuhyun menoleh pada Hyukjae, “Kenapa dengan ekspresimu?” ia tersenyum tipis.

“Kau, kau sungguh menyukai gadis itu? Baek Mi Rae?” Hyukjae bertanya dengan mimik yang jauh lebih terkejut.

Dua pemuda itu sama-sama terdiam. Raut wajah Kyuhyun mendadak begitu serius, ia memandangi Hyukjae cukup lama lalu akhirnya ia menangkap kedua tangan Hyukjae, menggenggam erat tangan itu hingga membuat Hyukjae kembali terkejut, “Lee Hyukjae, kau satu-satunya yang paling mengerti isi hatiku,” Kyuhyun berkata dengan sangat serius dan Hyukjae mulai memandanginya takut-takut, “Dikehidupan mendatang, jadilah kekasihku!”

Kontan saja Hyukjae menghempas kasar tangan Kyuhyun, “Cho Kyuhyun! Kau sudah gila?” pemuda itu mempertanyakan kewarasan Kyuhyun, ia segera berdiri dan cepat-cepat meninggalkan Kyuhyun.

“Hyukjae! Ingatlah, jangan mengkhianatiku!” seru Kyuhyun, “Lee Hyukjae! Kau harus terlahir kembali sebagai seorang perempuan!”

“Cho Kyuhyun brengsek! Hentikan guyonanmu sekarang juga! Atau kubunuh kau!” teriak Hyukjae tanpa memalingkan wajahnya. Ia terus berjalan menjauh. Tak peduli pada Kyuhyun yang tersenyum jenaka.

“Lee Hyukjae! Mau ke mana kau? Tega sekali meninggalkanku sendiri! Baiklah, pergilah kemanapun kau mau, tapi dikehidupan mendatang kita tidak akan terpisahkan!” Kyuhyun lebih mengeraskan suaranya. Hyukjae semakin mempercepat langkah kakinya—ia nyaris setengah berlari. Kyuhyun memandangi punggung Hyukjae yang semakin menjauh. Tawa Kyuhyun yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah.

 

~bersambung~

Apakah saya membuat kalian lumutan?

Semoga tidak ^^

Berhubung kemampuan saya sangat terbatas, tapi ingin menghadirkan cerita yang semoga saja bisa memuaskan. Saya selalu melakukan riset untuk menunjang sebuah cerita. Meskipun sebenarnya mungkin ada beberapa hal yang saya tahu, tapi kalau tidak yakin maka akan lebih aman jika melakukan riset agar apa yang disampaikan tidak asal-asalan. Oleh karena itu, dengan segenap hati saya berterima kasih kepada artikel yang sudah membantu saya untuk memahami dan belajar hal-hal baru yang sebenarnya sangat asing bagi saya, dalam cerita ini riset yang saya lakukan adalah tentang dunia kedokteran. Saya berharap, bukan hanya saya tapi kalian juga mendapat pengetahuan baru. Kita sama-sama belajar.

Jadi, mungkin jika kebetulan ada teman-teman yang jauh lebih tahu dan ada yang perlu dikoreksi, mohon bantuannya dan mohon maaf karena kesalahan atau ketidaknyamanan yang terjadi.

Saya masih mengharapkan kritik dan saran, mohon kerja sama teman-teman.

Terima kasih.

Iklan

379 thoughts on “Drama (Part 2)

  1. AzaleaFishyHae berkata:

    Ff eonni selalu keren…. part ini banyak kata2 mutiara yg bisa diambil pelajaran…
    Hyukjae, I know your feeling :v gmna rasanya punya sobat yg rada2 gila dn tukang malu2in :v

  2. Yiatri2499 berkata:

    Annyeong eonni;)
    seperti biasa ff eonni benar-benar DAEBAK!!!!!!
    gak cuman pelajaran pengetahuan, tpi pelajaran hidup juga bisa di petik dari ff ini….
    Suka bnget moment waktu kyu jahilin hyukjae…
    Sering2 yah eon buat moment seperti itu..;)
    fighting!!!

  3. aernis berkata:

    hahaha hyukjae dikerjain kyuhyun XD

    pembenci drama. karna drama terlalu banyak kebohongan. diliat dari sudut pandang orang lain kehidupan mi rae datar…
    tapi kalo dari sudut pandang mi rae sendiri memang kenyataannya seperti itu

  4. reni oktaviani berkata:

    eonni daebakk.. aku suka banget sama ff ini…
    love – love deh sama ff nya termasuk eonni nya..hehe
    alurnya ngalir gitu aja, ga kecepetan.. aku suka karakter kyuhyun dan mirae disini..

  5. willdazzle berkata:

    iri deh sama persahabatan Kyuhyun-Hyukjae. Kak Marchia emang top dah kalau bikin cerita, bisa ngebuat reader terhanyut. Keep your great work, Kak^^

  6. anianiya berkata:

    Mungkinkah karena perkataan mi rae saat bertemu kyuhyun itu yang akhirnay kyuhyun bilang kalu mirae itu ratu drama…
    Mirae itu benci drama tapi dia tau semua yang berhubungan dengan drama kan aneh dianya?

  7. choya berkata:

    Hallo ka… Aku reader baru.
    Aku suka sekali dg ff kakak. Bnyk sekali yg aku dpt dr ff ini. Kalau d ff yg seringku baca, yg ku dapat hanya hiburan. Tp di ff ini aku dpt hiburan+pengetahuan+petuah. Pokokny komplit ^^
    Salam kenal ka 🙂

  8. PhoenixaKeynes berkata:

    duuhh ngakak bgt ya ampuuun kyuhyuun otaknya kebentur kayaknya.. malangbgt si hyukjae wkwkwk

  9. Widya Choi berkata:

    Wawww jd nambah pngtahuan ini. Bgus kk. Betul.. nahan kencing itu sakittttt hihihihi.
    Q kok pngen ngakak trs y liat kyu am eunhyuk hahaha.. ayo oppa d khidupn mndatang hrs jd prempuan loh. Udh ad yg ngguin tuh 😂😂😂😂..
    Tp mnurut q bner sih ap pndpt ny mirae. Dy kykny tkesan datar2 aj gt y hidupny. Pikiran dy mah lebih yg logis2 aj.. slebih ny kyk yg drama2 gt emg kdg byk boong sih..krn ap yg qt alami g pnh seindah yg ad d drama2. Jd y slow aj lah.. nikmati hidup ap ad ny 😊

  10. Hima berkata:

    Di part ini sedikit menjelaskan mengapa judul ff ini drama. Awalnya akupun bingung mengapa judulnya drama.

    Kak itu ada typo ,kata ‘tolok’ menjadi ‘tolak’.
    Aku suka ceritanya.
    Terus semangat ka☺

    • marchiafanfiction berkata:

      Iya dek..makasih ya. Di draft ff format word udah sy koreksi, tp di blog…sama sekali blm sy koreksi termasuk kesalahan2 lainnya. Gak sempat hehehe

      Terkirim dari Samsung Mobile

  11. anie berkata:

    hai kak slm kenal,,,, bgus banget ff ny,,,, apalagi pas mirae ngomong”siapa yang akan mungutinbuku itu,kou atau aku”jdi ketawa sendiri ngebayangin ekspresi kyuhyun

  12. afwi berkata:

    suka karakter kyuhyun yaa mungkin sdikit gila juga, mirae pasti ahli drama paham bgt dia sama drama… Tpi aq suka nonton drama, cuma gk suka nnton sinetron aja, hehe

  13. tifanyseptiany berkata:

    “hatimu yang lebih tau apa yang kau inginkan, tapi tuhan jauh lebih tau apa yang kau butuhkan”

    ini adalah kata2 yang paliiing aku suka.. ^^
    rasanya ngena aja gtu ya…

    dan aku ngebayangin kyuhyun yang tersenyum sambil megangin dahinya saat dia inget sama baek mi rae…
    apa itu artinya cwek yg kyu suka selama ini itu emang mi rae?

  14. arrashcho berkata:

    Salaam kenal.
    AQ reader bru nih.
    Sorry baru comment d part 2 habis langsung penasaran sih.
    Ffnya buat Mata g bisa berkedip sekaligus buat peyut sakit nahan tawa Karena bcanya tngah mlm gni.
    Ya ampun DRI part 1 dah ngakak eh k part dua lebih ngakak lagi.
    Bru nemu ff yg kayak gni . kocak bngt deh.
    Buat author nya daebak.
    Izin baca ya Thor.

  15. kyunara berkata:

    ending scene.nya kocak bgt sampe nangis aku ketawa.nya.
    kebayang wajah kyuhyun pas ngomong sana hyukjae dgn mimik memohon…hahaha…

  16. Elie Park berkata:

    Wah wah, aku sering banget nahan kencing. Iya sih emang ga boleh.

    Hahaha gokil banget sih Kyuhyun sama Hyukjae. Ya ampun, hahhaa

    Kalo kata Selena Gomez mah the heart wants what it wants…eaaaaa

  17. nae.ratna berkata:

    wah kyuhyun kesambet apa tuh dah ngalahin mario bros *eh salah mario teguh kkkk
    ajaib banget tuh c kyu sama hyukjae kkk nyukjae sampe ngibrit jalan.a kkk

  18. cha eunna berkata:

    jadi mi rae di bilang nona drama gara2 insiden tabrakan itu.
    kyu beneran suka ama mi rae ya?
    ijin baca part 3 nya ya..😉

    SEMANGAT KAK!!^^

  19. Rrin'sLove berkata:

    BAHAHAHAHAHA
    ANJUUUUU
    SAKIT PERUT AKUUU
    KAKAK NIIIII
    PANDAI KALI BIKIN CERITA YG NGOCOK PERUT bahahahaha
    suka akuuuuu
    astagaaaaa
    puhahaahahahaha
    aku bisa bayangin ekspresi jenaka Kyuhhyun dan ekspresi ketakutan Hyuk
    astagaaaa
    demi kolor Kyuuu ini menarik hahahaha
    KyuHyuk gilaaaa
    aigooooo
    sakit rahangku
    gak bisa berhenti senyum2 gara KyuHyuk yg tiba2 jadi mnjijikkan gtu puhahahaha

  20. ddianshi berkata:

    Wkwkwk dasar kau kyuhyun suka sekali menggoda hyukjae 😀 oh pantesan aja kenapa mi rae disebut “drama” sama kyuhyun karena alesan itu kkk
    Harusnya mi rae berterimakasih karena sudah dibantu untuk tidak ketiduran dikelas kkk coba deh mi rae gk monoton bgt huuuffftt

  21. Leah berkata:

    Baca ff ini tuh, selain menghibur juga dapet pelajaran. Meskipun saya bukan anak kedokteran, tapi ilmu ini sangat bermanfaat.
    Hyukjae, I know what you fell, tau kok. Gimana jengkelnya kalau punya temen semacam cho Kyuhyun, yg suka malu maluin, meski pun punya tampang kece dan pinter, tapi kalo rada sengklek?? 😂😂
    Ya ampun, ya ampun. Mirae, si nona drama. Kenapa sih kayanya ga suka banget sama drama. What happen with you?

  22. Shatia berkata:

    Geli banget deh sama kejailan kyu terhadap hyukjae..bikin merinding disko..
    Klo dillihat dari pernyataan kyuhyun tentang pertemuan pertamanya dengan mi rae, sepertinya kyu terpesona terhadap sikap mi rae yg berbeda dengan gadis yg lainnya, benar2 langka..

  23. fiafathin berkata:

    kyuhyun jail bnget godain mi rae yg lg tidur.. tp sweet sihh😜
    jd kyu jatuh cinta beneran sma mi rae?
    gk nyangka kyu bisa religius juga kkkk~

  24. AeriLyz77_ berkata:

    Mi Rae membnci drama dn berpikir realistis itu krena Hidup tak seindah Drama Korea.. *eakkk/ kobam iklan cak lontong ckckckckck

  25. safitridm berkata:

    “Siapa yang akan memunguti buku-buku itu? Kau atau aku?”
    Wkk paling seneng sma dialog itu, ngebayangin gimana ekspresinya kyurae
    Baru kali ini nemu ff temanya kesehatan daann gimana ya ngomongnya, aku bingung sendiri, wkk, yg pasti the best lah bwt ff drama ini

  26. Hana Choi berkata:

    Aku suka ff ini jalan cerita seru dan lucu, tapi masih penasaran apa kyuhyun beneran suka sama mi rae? Hmm masih teka teki deh dan aku juga suka karena di ff ini ilmu kedokterannya keluar meskipun agak ga ngerti tapi boleh lah buat dijadikan sebagai informasi juga.
    Mi rae ga suka drama tapi dia hapal banget yah sama kejadian romance di drama entah mi rae terlalu takut akan ekspetasi dari kenyataan dimana kalau di drama akan terlihat Indah tapi kalau di kenyataan ga seindah kaya di drama mungkin itu salah satunya karena mi rae ga mau kecewa. Pokoknya seruu

  27. lvraz berkata:

    Karakter kyuhyun di sini beda banget ama FF yg lain, disini dia Gak dingin, tapi Gak tau kenapa Tetep menarik. Apa Karena itu Kyuhyun? Mirae Mirae, jadi Cewek Jangan terlalu datar Napa, berekspresi sedikit, bener2 miss (hate) drama

  28. liyahseull berkata:

    Ahhh… awal2 ff ini lucu bgtttttt :(((((((( sayang aku udah denger2 dikit cerita kesananya dr tmn.

    Ahhh tapi jd excited lagi aja bacanya masa 😅😅😅 ayoooo mulaiiii

  29. My labila berkata:

    Muka kaku tapi kata-kata mirae lucu juga wkwk… dia gak suka drama, tp selalu bandingin drama dan dunia nyata di kehidupan sehari-hari #KomenNgaco

  30. ina berkata:

    fanfiction yang selalu sangat menarik !!! jjang!!!
    karakter mi rae masih sangat penasaran sama dia…
    wkwkwkwk baca cerita kyuhyun tentang mi rae kocak banget…
    agak heran sih dengan pandangan mi rae .. kesannya dia ada masalah tertentu gitu.. mmm.. tapi masih masuk akal juga… hehehe
    da kocak ngakak kyu dan hyuk… wkwkwkwk…

  31. Ira berkata:

    Aku juga termasuk orang yang gak terlalu percaya dengan cerita” yang ada di drama atau novel”
    Walopun aku sendiri suka banget dengan kedua hal tersebut
    Tapi kayak katanya mi rae, kita harus “realistis”
    Banyak pelajaran yang bisa diambil dari chap ini
    Tentang kehidupan dan juga ilmu pengetahuan

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s