Drama (Part 3)

Drama

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Di sudut kafe, Han Jin Ae tengah duduk tenang. Ia terlihat sedikit melamun sambil mengaduk-aduk vanilla cream di hadapannya, mengamati Mi Rae yang sibuk melayani pelanggan. Mi Rae menghampirinya setelah beberapa saat.

“Maaf, kau jadi harus menunggu lebih lama,” Mi Rae mencoba mengatur pernafasannya. Ia dan Jin Ae telah sepakat untuk mengerjakan tugas bersama, tapi ternyata rekan sekerja Mi Rae yang seharusnya bergantian shift dengan Mi Rae datang lebih terlambat karena urusan mendadak.

“Hmm—setidaknya kau mentraktirku ini,” Jin Ae meneguk vanilla cream kesukaannya. “Pelanggan hari ini jauh lebih banyak. Kembalilah bekerja atau kau diberhentikan tanpa upah oleh managermu.”

Mi Rae mengangguk dan berlalu. Jin Ae sedikit berdecak melihat keteledoran Mi Rae yang secara tidak sengaja meninggalkan ponsel di atas meja ketika sedang berbicara dengan Jin Ae tadi. Tanpa ragu-ragu, Jin Ae mengambil ponsel Mi Rae dan mulai sibuk dengan ponsel itu. Ia bahkan tak menganggap ada ruang privasi bagi Mi Rae yang tidak seharusnya diketahui oleh orang lain, termasuk dirinya.

“Ck, hidup Mi Rae pasti terasa membosankan,” erangan kecil terdengar dari mulut Jin Ae. Ia tidak mendapati satu pun hal menarik yang tersimpan di ponsel Mi Rae. Kotak pesan Mi Rae selalu kosong. Gadis itu terbiasa menghapus pesan-pesan yang diterima, daftar panggilannya pun bersih. Galeri fotonya tidak banyak, ia tidak memiliki foto selfie yang belakangan ini sedang populer. Foto yang tersimpan di galeri Mi Rae adalah foto dirinya bersama ibunya, foto kawanan dandelion yang terkadang tumbuh di pekarangan rumahnya dan selebihnya adalah foto dari lembaran buku yang kerap kali ia baca di perpustakaan kampus—Mi Rae selalu mengambil gambar dari catatan-catatan penting dalam buku yang dibacanya. Di jaman modern dimana semua orang begitu aktif di jejaring sosial, Baek Mi Rae justru tidak memiliki satu pun akun SNS. “Benar-benar mayat hidup,” kali ini kepala Jin Ae yang menggeleng prihatin. Meskipun begitu, Jin Ae tetap sibuk mengotak-atik ponsel Mi Rae.

Mi Rae akhirnya bisa menyudahi jam kerjanya. Setelah berganti pakaian, ia bergegas menemui Jin Ae.

“Syukurlah, kupikir kau akan mengajakku menginap di sini,” celoteh Jin Ae seraya berdiri. Mi Rae hanya tersenyum tipis. “Ponselmu,” Jin Ae lalu menyodorkan ponsel pada Mi Rae. “Kau bahkan tidak menyadari jika benda itu tidak bersamamu selama 47 menit terakhir,” katanya lagi sambil melirik pada jarum jam yang melekat di salah satu sisi dinding kafe.

“Kau tidak sedang meminta aku berterima kasih padamu, bukan?”

Jin Ae hanya menghembuskan nafas kasar, yang dilakukannya kemudian adalah menarik tangan Mi Rae, mereka meninggalkan kafe.

***

Baek Mi Rae tak pernah melewatkan jadwal kuliahnya. Derap langkah pastinya menyusuri jalanan di area kampus. Hari itu, ada hal lain yang tidak biasanya terjadi. Tidak sedikit mahasiswa mengekori Mi Rae dengan tatapan mereka. Baek Mi Rae yang selalu luput dari perhatian, mendadak diperhatikan dengan alasan yang misterius. Bukan Baek Mi Rae namanya, jika gadis berwajah canggung itu merasa penasaran dengan perubahan atmosfer di sekitarnya. Hormon malas tahunya telah bekerja sempurna.

“Baek Mi Rae!” teriakan melengking Han Jin Ae menyambut kehadiran Mi Rae di dalam ruang kelas.

“Aku tak tuli,” Mi Rae meletakkan buku-bukunya di atas meja. Sudah tentu tak menunggu lama ketika ia membuka sebuah buku.

Jin Ae tak bergeming, memang sulit jika harus berinteraksi dengan Mi Rae. Jin Ae bahkan mulai beranggapan jika Mi Rae menderita kelainan. “Bagaimana hari-harimu?” pertanyaan Jin Ae hanya dijawab dengan tatapan mata datar Mi Rae. “Kau merasa tak ada yang berubah?”

“Tidak,” jawab Mi Rae cepat.

“Benarkah? Sama sekali tak ada?”

“Hmm,” Mi Rae mengangguk pelan.

“Mustahil,” Jin Ae merasa tidak yakin dengan pengakuan Mi Rae. Ia menatapi Mi Rae lekat, “Kau tak merasakan sesuatu yang aneh ketika menginjakkan kaki di kampus?”

Mi Rae menutup bukunya, ia memajukan kepala hingga lebih mendekat ke Jin Ae, “Han Jin Ae, apa yang telah kau lakukan?”

Jin Ae tersenyum sumringah, “Kau benar-benar tak memeriksa ponselmu?”

Dahi Mi Rae berkerut tipis, ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya. Ia segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Mengamati ponsel sepersekian detik.

“Kau tidak melihatnya?” Jin Ae sangat penasaran karena tidak melihat perubahan berarti dari ekspresi Mi Rae.

“Kau tidak membantuku. Sama sekali tidak.”

Jin Ae cepat-cepat merampas ponsel di tangan Mi Rae, “Hei! Jangan coba-coba lakukan itu! Jika kau menghapusnya maka itu artinya kau menghapus persahabatan kita!”

“Kau sedang mengancamku?”

“Aku serius!”

Baek Mi Rae terdiam, ia lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya lesuh, “Tidak memiliki akun SNS bukan berarti aku tak bisa bersosialisasi.”

“Ck, bukankah kau memang tak bisa bersosialisasi?” batin Jin Ae berkecamuk. “Apa kau tahu seberapa menyedihkannya dirimu? Baek Mi Rae, nikmatilah masa mudamu.”

Ketika sedang menunggu Mi Rae di kafe, Jin Ae memang telah melakukan sesuatu dengan ponsel Mi Rae yang tertinggal di atas meja. Ia membuat sebuah akun di salah satu SNS dengan menggunakan nama Mi Rae. Tidak sampai disitu, Jin Ae juga mengundang sejumlah orang di kampus untuk berteman dengan akun Mi Rae.

Mi Rae sibuk mengamati apa yang terlihat di layar ponselnya, “Aku tidak mengerti apa yang ada di kepala kalian,” keluh Mi Rae. “Perlukah mengumbar segala sesuatu yang terjadi ke media sosial? Mengapa harus menjadikan semua itu sebagai konsumsi publik? Memangnya siapa yang peduli dengan apa yang kau alami dan rasakan?”

“Mi Rae—”

Tuhan, lindungi dia. Bantu aku menyampaikan perasaanku padanya,” Mi Rae membaca kalimat yang ditulis oleh salah satu akun, “Cih, apa dia sudah gila?”

“Kau yang gila! Apakah ada larangan untuk mengeluarkan kata-kata seperti itu? Dia hanya menyampaikan isi hatinya,” kesal Jin Ae.

“Tidak ada larangan, tapi itu tidak pada tempatnya. Kau tahu apa yang kupikirkan setelah membaca sederet kalimat itu? Dia sedang berharap agar orang yang dia suka membaca tulisannya. Mengapa tidak katakan langsung pada orang itu? Perlukah dunia tahu? Hidup itu terasa lebih berwarna ketika kita memiliki sesuatu yang hanya diketahui oleh diri kita sendiri.”

“Baek Mi Rae!”

“Ah, ataukah dia sedang berdoa? Han Jin Ae! Tuhan punya akun SNS hingga kita perlu berdoa di jejaring sosial seperti itu? Kau tahu akun SNS Tuhan? Jika kau tahu, katakan padaku sekarang juga, banyak hal yang ingin aku bicarakan langsung dengan-Nya dan butuh jawaban cepat,” Mi Rae selalu menjadi sosok yang banyak berbicara ketika menyangkutpautkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan pola pikirnya. “Aku mungkin bukan umat yang paling taat beragama, tapi aku tahu bahwa doa itu adalah antara aku dan Tuhan. Dunia tidak perlu tahu apa yang aku katakan pada Tuhan. Jika seseorang mengutarakan sesuatu yang terlihat seperti ‘doa’ di jejaring sosial, apa dia memiliki motivasi yang benar terhadap doa itu? Kurasa tidak!” Jin Ae mendadak bungkam. “Memang tidak ada larangan untuk mempublikasikan sesuatu. Semua orang bebas berekspresi, tapi selalu ada batas wajar yang perlu ditekankan. Aku heran dengan orang yang berkali-kali mengumumkan segala hal di SNS dalam kurun waktu yang cukup singkat; katakan saja, tak sampai lima menit, dia bisa empat kali memposting sesuatu atau bahkan lebih—tak adakah hal lain yang bisa dia kerjakan? Menurutku, sadar atau tidak tapi mereka yang terlalu sering mengutarakan segala sesuatunya di media sosial adalah mereka yang sedang berusaha untuk mencari perhatian. Kesimpulannya, orang yang butuh perhatian adalah orang yang kesepian.”

Jin Ae sudah tidak dapat berkutik, Mi Rae memberikan ceramah panjang lebar yang membuat Jin Ae seakan tak sanggup menggerakkan mulutnya. “Kau tak bisa menyamakan isi kepalamu dengan orang lain. Memang terkadang tidak pada norma dan etika, tapi apa yang bisa kau perbuat? Masing-masing yang memutuskan serta menilai baik dan buruknya,” Jin Ae mendesah pelan.

“Lee Jin Hyo?” Mi Rae mengamati sebuah foto yang di-upload oleh teman sekelasnya, “Ini benar-benar dia? Aku baru saja berpapasan dengannya tadi, tapi kurasa dia tidak secantik dalam foto ini,” sepertinya Mi Rae belum berniat menghentikan aksi protesnya dan Jin Ae harus menahan lebih lama kesabarannya. Mi Rae beralih ke foto lainnya, “Ck, pose apa ini? Sudahlah, kau tak mungkin seimut ini,” Mi Rae mengamati foto yang di-upload oleh Jin Ae.

Tanpa banyak bicara, Jin Ae mengambil ponsel Mi Rae. Raut wajahnya benar-benar terlihat seperti bunga yang layu di pagi hari, “Baiklah, aku akan menghapus akun SNS-mu,” Han Jin Ae, untuk pertama kalinya merasakan penyesalan luar biasa dalam hidupnya. Ia menyesali keputusannya untuk membuat akun SNS Mi Rae.

“Tidak perlu,” Mi Rae mengambil kembali ponselnya, “Menghapusnya, sama saja dengan menghapus persahabatan. Jika aku jadi kau, aku tak akan menelan kembali apa yang telah aku muntahkan,” ia berkata santai sambil memasukkan ponsel ke dalam tas. Mi Rae tak bersimpati sedikit pun pada Jin Ae telah kehilangan semangat hidup setelah mendengar colotehnya yang panjang lebar tadi.

***

“Akun SNS Mi Rae menjadi trending topic,” Lee Hyukjae masih menanamkan pandangan pada layar ponselnya. “Kau juga berteman dengannya?” ia menoleh pada Kyuhyun.

“Hmm,” Kyuhyun mengangguk.

“Seorang Baek Mi Rae yang flat, tiba-tiba memiliki akun SNS—luar biasa,” Hyukjae berdecak kagum bercampur heran. “Meskipun dia tak memposting apa-apa, tapi ini sebuah kemajuan pesat baginya.”

Cho Kyuhyun kembali mengangguk. Mereka tak tahu jika akun itu karena perbuatan Jin Ae, tapi apapun itu—Baek Mi Rae telah menjadi bahan pembicaraan di kampus, terutama di fakultas mereka.

“Hari ini kau part time?” Hyukjae bertanya setelah menyadari jika sejak tadi Kyuhyun terus menempelinya.

Another time,” Kyuhyun terlihat lesuh. “Semalam aku hampir saja tertangkap,” pernyataan itu membuat Hyukjae berpaling seketika padanya. “Aku yakin hari ini mereka masih akan mencariku,” kata Kyuhyun lagi. Kyuhyun terdiam, ia menoleh—memandang ke rumpun tanaman pagar yang menghiasi taman di sekitar situ.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa,” jawab Kyuhyun. Kedua orang itu lalu menghilang di dalam sebuah bangunan bertingkat yang tampak kokoh dan megah.

“Kau hampir saja membuat kita ketahuan,” Jin Ae sontak menerjang Mi Rae dengan tatapannya yang cukup mematikan.

Mi Rae mencibir, ia segera berdiri setelah merasakan kakinya yang kesemutan karena harus berjongkok di balik bunga-bunga itu. “Mengapa kita harus melakukan hal bodoh ini?” erangnya karena tak punya kuasa menolak ajakan Jin Ae. Kesadarannya datang sangat terlambat; ia telah mengikuti kehendak Jin Ae yang secara paksa menyeretnya melakukan pengintaian.

“Kau percaya dengan pengakuan Kyuhyun?” Jin Ae, entah kenapa terlihat sangat antusias menyelidiki Kyuhyun. Sementara Mi Rae tak terlihat bersemangat mengikuti permainan detektif Jin Ae. “Aku rasa dia sedang menyembunyikan sesuatu.”

Mi Rae menatap prihatin pada Jin Ae, “Terimalah kenyataan bahwa dia bukan pangeran.”

“Oke—dia memang bekerja part time. Hanya saja, wajah tampannya itu tak cocok menyandang gelar pemuda biasa,” Jin Ae mencoba menerangkan isi kepalanya. “Kau tahu berapa harga sebuah apartemen di daerah ini?” Mi Rae hanya mampu menggeleng atas pertanyaan Jin Ae. Mi Rae bahkan tak berpikir untuk mencari tahu berapa harga sebuah hunian di kawasan kelas atas Seoul tersebut. “Kudengar satu buah apartemen dalam gedung ini harganya 1,2 milyar won.”

Mi Rae sedikit terperanjat mendengar nominal yang disebut Jin Ae, “Apa semua itu adalah uang?” tanpa sadar sebuah pertanyaan polos keluar dari mulut Mi Rae.

Jin Ae tersenyum, “Tentu. Bahkan di dalam bangunan yang sama, harga cukup beragam. 1,2 milyar won adalah harga termurah dari apartemen di gedung ini,” Jin Ae mencoba menangkap keseluruhan bangunan bertingkat itu dengan matanya. “Untuk mengingatkanmu kembali, Cho Kyuhyun baru saja masuk ke gedung apartemen dengan harga selangit itu. Kau tahu apa artinya?”

“Kyuhyun—berasal dari keluarga kaya?”

Jin Ae mengangguk pasti, “Bingo! Seseorang yang bekerja part time tidak mungkin mampu membeli apartemen mewah seperti ini. Aku rasa apa yang dia lakukan hanyalah bentuk dari sebuah kamuflase,” mata Jin Ae memicing karena mencoba menganalisa benang-benang kusut di kepalanya.

“Lalu, jika orang lain melihatku memasuki gedung ini—apa itu artinya aku seorang gadis kaya?”

Jin Ae terkekeh, “Eih, mana mungkin,” tepisnya lagi.

“Tepat sekali,” senyum kemenangan telah terlukis di wajah Mi Rae. “Kau hanya melihatnya memasuki gedung itu dan kau sudah menarik sebuah kesimpulan dengan cara berpikirmu yang begitu dangkal. Mengapa kau sangat naif, Jin Ae?”

“Sudahlah! Kita harus mencari tahu!” Jin Ae berjalan meninggalkan Mi Rae sambil menghentak-hentakkan kakinya. Kesal.

“Kita?” Mi Rae menggeleng, namun kaki pun akhirnya berjalan menyusuli Jin Ae, “Di mana kewarasanku?” erang Mi Rae karena sadar ia telah melakukan pengintaian tak masuk akal itu.

Mereka memasuki gedung apartemen mewah tersebut, namun tidak semudah yang dibayangkan sebab mereka masih harus berhadapan dengan petugas keamaan dan receptionist yang berjaga di lobi. Mi Rae menghampiri Jin Ae yang sedang mengutarakan berbagai macam alasan pada sang receptionist.

“Aku benar-benar memiliki sesuatu yang penting. Dua orang pemuda tadi adalah temanku.”

“Maaf Nona, kami harus menghubungi pemilik apartemen sebelum mengijinkan Anda menghampirinya. Anda tahu di apartemen nomor berapa teman Anda tinggal?”

“Aish, aku belum pernah ke sini sebelumnya. Kau mungkin bisa menghubunginya, silahkan diperiksa. Apartemen atas nama Cho Kyuhyun.”

Wanita muda penerima tamu itu segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Jin Ae, dia terlihat sibuk sekian detik dengan komputer di hadapannya.

“Nona—tidak ada satu pun apartemen di dalam gedung ini yang terdaftar atas nama tersebut.”

Jin Ae tersentak, “Kau serius? Jelas-jelas aku melihatnya memasuki gedung ini. Kau bisa menanyakannya pada sahabatku ini,” Jin Ae menarik pergelengan tangan Mi Rae hingga membuat Mi Rae berdiri rapat di sisinya.

“Han Jin Ae, menyerahlah,” Mi Rae sudah merasa mengantuk karena harus melewatkan jam istirahatnya.

“Bisa saja dia menggunakan nama orang tuanya,” Jin Ae terlihat berpiir. Ia kembali memandangi si receptionist, “Dapatkah kau mengecek sekali lagi—mungkin saja ada seseorang bermarga Cho yang tinggal di apartemen ini?”

“Aku ingin pulang!”

“Baek Mi Rae!” Jin Ae menahan tangan Mi Rae. Ia benar-benar belum menyerah terhadap penyelidikannya. “Please,” katanya lagi dengan penuh permohonan pada receptionist.

Wanita itu sebenarnya sudah kesal, tapi ia harus menahan kesabarannya. Ia kembali melakukan permintaan Jin Ae, namun dering telepon membuat kegiatannya terhenti. Dia menerima telepon itu, berbicara namun matanya sesekali mengawasi Jin Ae dan Mi Rae. Tak berselang lama, pembicaraannya dengan si penelepon berakhir.

“Maaf, Nona Han Jin Ae?”

Jin Ae terkejut, “Ya?” katanya sambil mengacungkan tangan.

“Pemilik apartemen nomor 503 meminta Anda menemuinya.”

“Aku?” Jin Ae kembali dibuat terperanjat.

“Mungkin saja dia adalah orang yang Anda cari.”

“Hei, apakah itu artinya kita sudah ketahuan?” ia berbisik pelan pada Mi Rae. Mi Rae mengangguk sekali. “Lalu bagaimana dengan sahabatku ini?” Jin Ae bertanya lagi pada receptionist.

“Hanya nama Anda yang disebutkan,” ujar wanita itu. Ia mengalihkan pandangannya pada Mi Rae, “Nona bisa menunggu di lobi,” katanya.

“Bukankah itu kemauanmu?” Mi Rae berkata santai, ia melangkah menuju salah satu sofa yang berada di lobi. Jin Ae menarik nafas panjang, ia lalu berjalan menuju lift. Setelah menekan angka lima, pintu lift yang tertutup seakan menelan Jin Ae di dalamnya.

Ting!

Lift terbuka, Jin Ae keluar dan menjejaki lantai lima bangunan itu. Ia berjalan pelan mencari apartemen yang dimaksud receptionist tadi. Dadanya mendadak bergemuruh, kepalanya mulai berpikir. Ia harus mencari alasan yang tepat jika bertemu dengan Kyuhyun. Apartemen nomor 503 sudah ada di depan mata Jin Ae. Gadis itu terdiam cukup lama di depan pintu, ia sedang menimbang baik-buruknya; apakah ia harus tetap menekan bel apartemen? Ataukah ia harus pergi dari situ? Ah—tidak ada gunanya, toh mereka sudah ketahuan. Jin Ae mengangguk pasti, berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Telunjuk Jin Ae akhirnya menekan bel apartemen. Satu menit berlalu, namun tak ada pergerakan. Ia kembali menekan bel untuk kedua kalinya. Tidak membutuhkan waktu yang lebih lama dari sebelumnya ketika pintu terbuka. Jin Ae lagi-lagi mengatur nafasnya. Sosok pemuda yang berdiri di ambang pintu membuat bola mata Jin Ae sedikit melebar.

Sementara itu, di lobi, Mi Rae sudah bergulat dengan buku yang dikeluarkan dari dalam tas. Ia bahkan tak menyadari ketika seseorang tengah berjalan menghampirinya.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

Mi Rae mendongak begitu mendengar ada yang sedang mengajaknya bicara.

Tak berbeda dengan Mi Rae; Jin Ae belum bergeming, “Lee Hyukjae?” Ia memandangi sosok yang kini berdiri di hadapannya. “Apa yang kau—ah, tidak, tidak…,” Jin Ae tahu, jika pertanyaannya akan salah.

“Han Jin Ae?”

Mendadak semua kata-kata yang telah tersusun hilang begitu saja, yang Jin Ae lakukan hanyalah menundukkan kepalanya dalam, “Aku diminta ke sini,” ia bergumam pelan. Malu.

“Siapa yang ingin kau temui? Aku?” tanya Hyukjae. “Atau Cho Kyuhyun?” tanyanya lagi. Jin Ae tak menjawab, “Ah, rupanya begitu. Dia sudah pergi.”

Jin Ae mengangguk pelan, “Lalu, apa yang kau lakukan di sini?” ia akhirnya mengeluarkan kalimat tanya yang ingin diutarakan sebelumnya.

“Aku?” Hyukjae keheranan mendengar pertanyaan yang dilontarkan Jin Ae. “Aku tinggal di sini.”

“Kau tinggal bersama Kyuhyun?”

“Tidak. Ini apartemenku.”

“Benarkah?” Jin Ae tersentak. Terlihat tak percaya.

Hyukjae menarik nafas panjang, “Masuklah,” katanya lagi. Jin Ae masih tak bergerak, rasanya kaki itu sulit beranjak dari tempatnya berpijak.

“Uhm, tapi sebaiknya aku kembali. Mi Rae sedang menungguku,” tolak Jin Ae. “Maaf sudah mengganggumu,” ia membungkukkan tubuhnya dan berpaling hendak meninggalkan tempat itu.

“Kau tidak akan menemukan Baek Mi Rae,” perkataan Hyukjae membuat langkah Jin Ae terhenti. Jin Ae membalikkan tubuh, tatapannya tertuju pada Hyukjae. “Percaya saja padaku,” ia mencoba meyakinkan Jin Ae. “Karena kau sudah di sini, mengapa tidak mampir dan menikmati wine,” Hyukjae memberikan penawarannya. “Ah, atau mungkin secangkir teh,” ralatnya setelah menduga jika mungkin saja Jin Ae tidak mengkonsumsi minuman beralkohol.

Jin Ae masih terdiam beberapa saat. “Wine, bukan ide yang buruk,” katanya lagi lalu melenggang masuk ke dalam apartemen Hyukjae.

Hyukjae tersenyum tipis, ia menutup pintu dan berjalan di belakang Jin Ae. Ia memandangi Jin Ae yang sedang mengawasi isi apartemennya. Hyukjae menarik nafas sangat panjang, lalu tangannya mulai menggerayangi saku-saku celananya. “Di mana kunci mobilku?” ia terlihat kebingungan. Gerakan tangannya melambat. Ia berpikir sejenak dan kemudian mendesis sangat hebat. “Cho Kyuhyun brengsek! Awas saja kau,” geramnya dalam hati.

“Apa kau bilang? Kita sedang diikuti?” Hyukjae ikut mengawasi keadaan di sekeliling mereka. “Jika kau sedang diikuti tidak seharusnya kau berlari ke tempatku. Bagaimana jika mereka berbalik menerorku? Cho Kyuhyun! Aku tidak ingin terlibat dengan masalahmu,” Hyukjae mencoba memperingatkan Kyuhyun.

“Jangan cemas, itu bukan mereka—tapi,” Kyuhyun tersenyum tipis. Hyukjae mengikuti ke mana mata Kyuhyun memandang.

“Han Jin Ae? Baek Mi Rae?” Ia terperangah melihat Jin Ae yang sedang membujuk receptionist, juga Mi Rae yang berdiri tenang di sisi Jin Ae. “Apa yang sedang mereka lakukan?”

Kyuhyun hanya mengangkat bahunya. Kedua orang itu terus mengawasi Jin Ae dan Mi Rae. Lama kelamaan, senyuman di wajah Kyuhyun semakin terlihat jelas. Hyukjae keheranan melihat reaksi Kyuhyun, “Sekarang kau sedang bahagia, benarkah?”

“Aku? Ah—apa terlihat jelas?” Kyuhyun menyengir.

“Kau sedang diikuti dan kau masih sempat merasa bahagia?” Hyukjae keheranan dengan isi kepala Kyuhyun yang benar-benar sulit ditebak.

“Lee Hyukjae, tidakkah kau lihat siapa yang sedang mengikutiku? Aku rasa itu pertanda baik.”

“Ya, ya, ya. Gadis dramamu,” jawab Hyukjae spontan. “Sudahlah, sebaiknya kita pergi,” Hyukjae mengayunkan kakinya, namun ia berhenti karena Kyuhyun belum juga beranjak. “Kau tak ingin menginap di apartemenku?”

“Hyukjae, bisakah kau melakukan sesuatu untukku?”

“Kau ingin aku mengusir mereka berdua?” tanya Hyukjae, namun Kyuhyun tak menjawab. Pemuda itu justru tersenyum dengan sejuta arti yang sulit dimengerti oleh Hyukjae.

“Kau masih belum menjawab pertanyaanku, Nona Drama?” pertanyaan Kyuhyun membuyarkan lamunan Mi Rae.

“Aku?” Mi Rae memandang sekeliling, ia terlihat kebingungan harus mengatakan apa, “Aku—”

Mi Rae belum menyelesaikan penjelasannya ketika Kyuhyun menggenggam pergelangan tangan Mi Rae, membuat gadis itu semakin kebingungan, “Ikut denganku,” Kyuhyun menarik Mi Rae, membawa gadis itu melangkah keluar dari apartemen. Mi Rae berhenti.

“Han Jin Ae. Aku sedang bersama Jin Ae,” Mi Rae berkata datar.

“Jangan cemas, Jin Ae tidak akan mencarimu,” Kyuhyun kembali mengayunkan kakinya dan otomatis membuat Mi Rae melakukan hal yang sama. Mereka berhenti tepat di sisi mobilsport berwarna biru metalik yang sedang terparkir.

“Apa yang kau lakukan?” Mi Rae kembali terhenti. Seharusnya ia bertanya itu sejak awal, namun perlakuan Kyuhyun membuatnya menjadi bodoh.

Kyuhyun tidak mengatakan apapun, ia justru membuka pintu mobil dan sedikit memaksa Mi Rae masuk ke dalam mobil itu. “Aku sedang meminjammu,” kata Kyuhyun setelah ia duduk di belakang kemudi mobil. Pemuda itu tersenyum tipis dan langsung menancap gas mobil. Mi Rae tak bersuara, ia memandangi jalanan mulus Distrik Gangnam yang sedang dilalui—memandang lurus, lalu ia menoleh pada Kyuhyun. “Oke, aku memang mencuri mobil ini. Jangan cemas, aku akan mengembalikannya,” Kyuhyun berujar tenang tanpa kehilangan konsentrasi dan tetap fokus mengemudi.

Perjalanan yang mereka tempuh hanya dilalui dalam kebisuan. Masing-masing hanya bercengkrama dengan apa yang mereka pikirkan. Baek Mi Rae yang selalu berekspresi datar itu terus memandang keluar jendela mobil, ekor matanya bahkan mengabaikan pemuda setampan Cho Kyuhyun yang sedang duduk di sisinya. Mobil yang mereka tumpangi tiba di suatu tempat. Kyuhyun turun terlebih dahulu, ia lalu berjalan ke sisi pintu mobil satunya lagi dan membuka pintu itu. Tatapan Kyuhyun yang memberikan komando membuat Mi Rae malas-malasan keluar dari dalam mobil.

Mi Rae masih belum melangkah dari pijakannya padahal Kyuhyun telah mendahuluinya beberapa langkah di depan sana. Di perjalanan Mi Rae sebenarnya sibuk menerka-nerka apa yang sedang ia lakukan bersama Kyuhyun? Tak mengerti bagaimana ceritanya hingga mereka tiba-tiba harus berada di dalam mobil yang sama. Mi Rae masih tak paham, mengapa Kyuhyun membawanya ke ruang bawah tanah Gwanghwamun.

“Kemarilah, Baek Mi Rae!”

Mi Rae tersentak. Cho Kyuhyun sedang menuntutnya untuk bergegas. Pemuda itu terpaksa harus memberikan perintah secara langsung setelah sekian detik melihat Mi Rae yang masih berdiri kebingungan. Tidak terburu-buru namun tidak juga terlihat santai saat Mi Rae menghampiri Kyuhyun.

“Apa yang kita lakukan di sini?”

Kyuhyun hanya tersenyum mendengar pertanyaan Mi Rae. Ia justru terus melangkah, membiarkan Mi Rae mengikutinya.

“Dan—mengapa kita harus melakukan ini?”

Mi Rae kembali bertanya sesaat setelah Kyuhyun membeli dua buah tiket. Mereka sedang berada di Cinecube, sebuah bioskop yang berada di ruang bawah tanah Gwanghwamun.

“Mungkin ini yang disebut dengan berkencan,” jawaban spontan Kyuhyun membuat Mi Rae tertegun. “Tidak apa-apa jika kau tidak berpikir begitu,” Kyuhyun tertawa setelah Mi Rae menghujaninya dengan tatapan skeptis.

“Lalu mengapa kita tidak pulang saja?”

“Jadi, kau tidak suka menonton film?”

Keduanya terdiam lagi. Kyuhyun memandangi tiket dalam genggamannya, sorot matanya memang sulit untuk dimengerti.

“Baiklah,” Mi Rae mendesah sambil mengambil sebuah tiket dari tangan Kyuhyun. “Setelah ini, aku ingin pulang,” katanya lagi. Ia berjalan meninggalkan Kyuhyun yang belum juga beranjak. Kyuhyun tersenyum lagi dan segera menyusuli Mi Rae. Mereka bersama-sama masuk ke dalam bioskop.

Di dalam ruangan tampak gelap dan hanya terjamah oleh jangkauan cahaya dari proyektor di bagian depan. Kyuhyun dan Mi Rae duduk di barisan tengah di dalam bioskop. Beberapa orang masih terlihat memasuki ruang bioskop, sementara film yang diputar telah tayang kurang-lebih 10 menit.

Suasana mencekam mulai tercipta. Horor adalah tema dari film yang sedang mereka saksikan. Nafas yang tertahankan, jantung yang berdebar kian kencang lalu jeritan mulai terdengar manakala di layar itu menampilkan adegan-adegan yang cukup memacu adrenalin. Sesekali Kyuhyun menoleh pada Mi Rae yang duduk di sisi kirinya, meskipun ketegangan terpancar cukup jelas dari raut wajah gadis itu namun bibirnya tetap terkatup rapat, matanya pun hanya sesekali mengedip—padahal menyaksikan film horor merupakan moment yang cukup dinikmati oleh hampir sebagian besar pasangan muda-mudi. Entah itu modus atau memang murni karena ketakutan, namun gadis-gadis selalu membenamkan wajah mereka mereka di bahu orang yang duduk di sisi mereka.

Orang-orang mulai meninggalkan ruangan ketika film usai. Kyuhyun dan Mi Rae berjalan beriringan, belum ada percakapan yang tercipta di antara mereka. Rasa hening yang tercipta mengalir dengan harmonis.

“Selamat tinggal,” Mi Rae membuyarkan keheningan yang berlangsung sejak mereka memasuki bioskop dua jam lalu. Kyuhyun memandangi Mi Rae yang berjalan memunggunginya, ia pun mengayunkan kaki, melangkah panjang hingga ia melewati Mi Rae lalu berhenti dan berbalik, menghadang Mi Rae.

“Baek Mi Rae. Mengapa membuatku tampak seperti seorang lelaki brengsek?” Mi Rae mengernyit. Kyuhyun lalu tersenyum, “Di mana sopan santunku jika membiarkan seorang gadis pulang sendiri?”

“Kau salah paham,” elak Mi Rae. “Aku tidak menganggapmu seperti itu, jadi jangan cemas. Kau tak perlu mengantarku.”

“Apa yang akan kau lakukan, jika aku mengatakan bahwa aku sedang memaksamu?” senyuman Kyuhyun tak memudar. Mi Rae bungkam, otaknya sedang berpikir dan ia mulai mengira-ngira, orang seperti apa pemuda yang berdiri di hadapannya itu. “Kau punya dua pilihan. Berjalan secara suka rela ke tempat mobil biru itu terparkir, atau aku harus menuntunmu?” kalimat yang dilontarkan Kyuhyun membuat Mi Rae menarik sebuah kesimpulan dari apa yang dia pikirkan sebelumnya. Cho Kyuhyun sangat egois.

Opsi pertama, sudah tentu itu yang akan dipilih Mi Rae. Kyuhyun tersenyum lebih lebar. Mobil pun meninggalkan tempat itu.

“Kau terlihat cukup menikmati film tadi. Aku sengaja memilih film horor dibandingkan film yang mungkin berbau drama. Kau pasti sangat membenci itu,” Kyuhyun mencoba mengajak Mi Rae bicara. Jika Kyuhyun tak melakukan itu, Mi Rae akan tetap memandang datar lurus ke depan atau sesekali memandang keluar dari jendela di sisinya dan sudah pasti mereka akan menghabiskan perjalanan dalam kebisuan.

“Aku lebih suka menonton drama,” Mi Rae berujar tanpa beban. Cukup untuk membuat Kyuhyun menoleh padanya. Mi Rae memang unik, Kyuhyun mulai membatin. “Setidaknya ada hal yang bisa dipelajari dari drama, dibandingkan film horor tadi,” Mi Rae mengutarakan pendapatnya.

Kyuhyun tertawa kaku, ia merasa aneh mendengar penuturan Mi Rae. Jelas-jelas semua orang tahu betapa bencinya seorang Baek Mi Rae pada drama, lalu mendengar dia berkata seperti itu, Kyuhyun hanya mampu menggeleng heran.

“Kau menyukai film-film horor seperti itu?”

“Tidak. Aku hanya menyukai sensasinya. Aku bahkan tidak percaya jika di dunia ini ada hantu.”

“Kau salah!” kembali Kyuhyun menoleh karena penuturan tegas Mi Rae. “Aku mungkin terlihat sangat realistis, tapi aku yakin di dunia ini kita tidak sendirian. Jika kau percaya surga itu ada, sudah tentu neraka pasti ada. Sama seperti yin dan yang, siang dan malam, gelap dan terang, baik dan jahat. Semua harus seimbang. Tidak terlihat, bukan berarti tidak ada,” ungkap Mi Rae blak-blakan.

“Dengan kata lain, hantu itu ada. Lalu mengapa kau tidak menyukai film horor?” Kyuhyun tetap berusaha untuk fokus pada jalanan agar tiba dengan selamat di alamat yang disebutkan Mi Rae.

“Karena apa yang digambarkan pada kebanyakan film horor tidak bisa aku nalar. Film-film yang disuguhkan memang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang haus hiburan. Baik sutradara maupun produser selalu memikirkan banyak cara untuk menarik penonton, tapi semua demi meraup keuntungan dan mereka lupa menyuguhkan tontonan yang berkualitas dan mendidik. Yang terjadi pada masyarakat modern, mereka justru tertarik dengan film-film tidak masuk akal seperti itu. Mereka tidak sadar jika mereka sedang dibodohi.”

Satu hal yang terlintas di kepala Kyuhyun; masuk akal. Ia sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mi Rae.

“Seseorang yang meninggal dalam ketidakadilan, rohnya menuntut pembalasan atas apa yang terjadi padanya,” Mi Rae memberikan sedikit gambaran jalan cerita yang sering dijumpai pada film bertema horor. “Dunia ini hanya persinggahan sementara, di sinilah selama hidupnya, seseorang akan menentukan tiket ke mana yang akan dipilihnya, surga atau neraka. Setelah meninggal, roh orang itu tidak ada lagi di dunia. Hanya dua tempat yang akan dia tuju—surga atau neraka. Dan semua urusan di dunia ini putus. Jadi, tidak masuk akal jika orang yang sudah meninggal masih memikirkan cara untuk balas dendam.”

Mi Rae memang bukan gadis biasa, setidaknya itulah yang Kyuhyun pikirkan setelah mendengarkan penuturan Mi Rae. Kyuhyun tidak menduga akan mendengar Mi Rae berbicara begitu panjang lebar seperti itu.

“Tidak terlihat, bukan berarti tidak ada. Bagaimana kau menjelaskan itu? Kau sendiri yang mengatakan jika kita tidak sendirian hidup di bumi?” tanya Kyuhyun. “Seorang teman berkata padaku, dia didatangi oleh ibunya yang sudah meninggal. Ah—jangan salah paham, aku pun tidak percaya dengan ceritanya, tapi kebanyakan orang mengatakan hal seperti itu. Mereka pernah melihat kerabat mereka yang sudah meninggal masih berkeliaran di sekitar mereka.”

“Bagiku, hanya ada dua hal yang memungkinkan itu terjadi,” Mi Rae menjawab antusias. “Halusinasi atau ganggunan persepsi yang bisa berupa pendengaran, penglihatan atau perabaan. Ada saatnya ketika seseorang memikirkan orang yang sudah tiada. Bisa saja muncul rasa rindu, atau kebanyakan adalah rasa takut. Orang yang mengalami hal seperti itu, matanya akan memaksa melihat apa yang sedang dipikirkannya. Misalnya, dia mengatakan melihat seseorang berdiri dalam kegelapan, tapi bisa saja itu hanya sebuah batang pohon. Atau saat membuka mata, dia melihat seseorang sedang berdiri di pintu—padahal itu adalah pakaian yang di gantung di balik pintu. Lalu bagaimana jika seseorang mengatakan mendengar suara-suara aneh? Salah satu penyebab ilmiahnya adalah efek infrasonik yang sering terjadi di alam bebas atau di dalam ruangan. Suara infrasonik yang sejatinya tidak dapat didengar oleh manusia, sering kali muncul akibat badai, angin atau perubahan cuaca.”

Mi Rae memang bisa berubah menjadi sosok yang berbeda jika sudah berbicara tentang apa yang dipikirkannya dan itu membuat Kyuhyun sangat tertarik menyimak penuturan gadis itu.

“Meskipun halusinasi merupakan salah satu gejala signifikan terhadap gangguan kejiwaan, kau tahukan—skizofrenia? Tapi skizofrenia tidak selalu menjadi penyebabnya. Salah satu contoh sudah kujelaskan sebelumnya, tentang suara infrasonik itu,” Mi Rae berkata tenang, ia terlihat mencari ponsel di dalam tas dan jari-jarinya mulai beraktivitas pada ponsel namun penjelasannya masih terus berlanjut. “Seseorang kadang berhalusinasi secara berlebihan. Bahkan sudah pada tahap cukup parah namun dia tidak menyadari itu. Jika imajinasi sudah melampaui batas antara nyata dan tidak nyata, perlu dicurigai. Gangguan di otak seperti trauma kepala akibat kecelakaan, tumor di otak, gangguan infeksi otak atau di bagian tubuh lain juga bisa mengakibatkan gejala halusinasi. Apalagi jika sebelumnya tidak ada riwayat gangguan jiwa maka halusinasi itu akibat kondisi medis umum. Itulah sebabnya beberapa orang setelah mengalami kecelakaan hebat mendadak dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat orang lain. Bukankah sebaiknya dia menemui psikiater?” celetukan Mi Rae terdengar sangat datar, tanpa emosi.

Mi Rae tidak menyadari jika Kyuhyun sedang tersenyum dan bahkan berharap jika Mi Rae tidak berhenti berbicara selama perjalanan mereka. Moment yang sangat langka bagi Kyuhyun untuk mendengar Mi Rae berbicara seperti itu apalagi raut wajah datarnya masih melekat, “Lalu, apa alasan yang kedua seseorang merasa pernah melihat hantu?”

“Iblis!”

“Iblis?”

“Otakmu sangat cemerlang untuk mengingat apa yang aku katakan sebelumnya. Sesuatu yang tidak kita lihat—jika surga ada, maka neraka ada. Kau percaya pada Tuhan, tapi kau harus ingat iblis pun berkeliaran di sekitarmu,” Mi Rae meneguk air dari dalam botol mineral yang baru saja dikeluarkan dari dalam tas. Ia menyimpan botol itu ke tempat semula. “Jika kau melihat orang yang sudah meninggal, tapi kau merasa itu bukan halusinasi—maka alasan yang tersisa adalah perbuatan iblis. Iblis menyerupai wujud orang yang sudah meninggal, dia selalu mencari cara untuk menggoda manusia, dan dia bermaksud menggoyahkan iman manusia. Percayalah, roh mereka yang sudah meninggal tidak akan ada lagi di dunia ini. Satu-satunya yang tersisa dari mereka adalah kenangan.”

“Aku tidak mengira kau sangat religius,” Kyuhyun berdecak.

“Entahlah, tapi kau terdengar seperti sedang mengejekku,” Mi Rae menoleh pada Kyuhyun. “Tidak masalah! Aku tidak perlu menjelaskan padamu, orang seperti apa aku ini. Hubungan kita tidak sedekat itu. Kau juga tak perlu khawatir, aku tidak akan salah paham terhadap perlakuanmu hanya karena apa yang kita lalui hari ini,” Mi Rae tetap santai, kata-kata yang keluar dari mulutnya seakan tidak melalui tahap penyaringan di otaknya.

Kyuhyun tertawa. Sikap Mi Rae selalu mengundang senyum Kyuhyun. “Mi Rae, kau suka menonton drama, tapi di sisi lain kau begitu membenci drama. Mengapa?”

Bungkam. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Mi Rae. Tatapan kosongnya seakan mencoba menceritakan alasan mengapa ia sangat membenci drama. “Sudah sampai,” hanya itu yang terucap darinya.

Mereka sudah sampai di alamat yang disebutkan oleh Mi Rae. Hujan lebat telah mengguyur Seoul. Mi Rae membuka tas, tapi payung yang dibutuhkan tidak ada di dalam situ. Kyuhyun lalu melepas jaket yang membalut tubuhnya.

“Rumahku tidak begitu jauh dari sini. Kau masih bersikeras mengantarku ke rumah?

“Eh?”

“Hujan cukup deras. Kau tidak mungkin berniat memayungi kita berdua dengan jaket itukan?” tatapan menghakimi Mi Rae terlihat jelas. “Alih-alih melindungi sang gadis dari hujan, melakukan hal seperti itu justru membuat gadis itu basah kuyup. Jika si pemuda benar-benar berniat melindungi gadis itu, dia tidak perlu pura-pura berbaik hati melindungi kepala mereka berdua dengan jaket dan berlari-lari di tengah hujan hanya demi menciptakan sentuhan-sentuhan aneh yang terlalu dipaksakan. Bukankah lebih baik jika dia menyerahkan jaket dan membiarkan gadis itu melindungi kepalanya sendiri?”

Kyuhyun tak berkedip, “Mi Rae,” sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan gadis itu.

“Adegan yang sering dijumpai dalam drama,” Mi Rae menuntaskan perkataannya yang sempat di sela oleh Kyuhyun. “Kau tidak perlu melakukan hal-hal bodoh seperti itu. Terima kasih sudah mengantarku,” setelah berkata demikian, Mi Rae turun dari mobil tanpa sempat dicegah oleh Kyuhyun.

Kyuhyun masih mematung. Ia hanya mampu memandangi Mi Rae yang berlari menaiki anak tangga sambil melindungi kepalanya dari guyuran air hujan dengan menggunakan tas. Kyuhyun bersandar. Ia tersenyum dan senyum itu makin terlihat jelas. Lalu tawa Kyuhyun sudah tidak dapat dibendung lagi. Di matanya, Baek Mi Rae terlalu ajaib.

***

“Kemarin kau bersamanya, bukan?”

“Jika kau tidak berambisi melakukan penyelidikan konyolmu, itu tidak akan terjadi. Jangan menuntut aku menceritakan apa pun!”

“Kau sedang menyalahkanku?”

“Bagus. Akhirnya ada yang bisa kau pahami.”

Jin Ae mendengus. Sangat sulit bagi Jin Ae untuk membuat Mi Rae membuka mulut, menceritakan apa yang Mi Rae lakukan bersama Kyuhyun.

“Tapi—aku justru tidak mengira jika Lee Hyukjae sekaya itu,” suara Jin Ae memelan. Ia terdengar lesuh, sepertinya masih kecewa karena pemikirannya tentang Kyuhyun meleset. Melihat Mi Rae yang mengemasi buku-buku di atas bangku taman, cepat-cepat Jin Ae melakukan hal yang sama. Mereka berjalan bersama-sama menuju ruang kelas.

“Jin Ae, sikapmu yang begitu ingin tahu tentang kehidupan orang lain—itu sangat buruk.”

“Aku mengerti,” Jin Ae mendesah lagi. “Mi Rae, mengapa tidak kau katakan sedikit saja padaku?”

“Lupakan itu!” Mi Rae menolak mentah-mentah bujuk rayu Jin Ae.

“Pasti ada sesuatu yang telah terjadi di antara kalian berdua,” Jin Ae memandang curiga. “Kalian pergi begitu lama. Hei~ aku bisa membayangkan adegan-adegan yang terjadi dalam drama.”

“Omong kosong. Lupakan drama dan hiduplah di dunia nyata.”

“Kau sangat mencurigakan. Kebencianmu terhadap drama itu terlalu berlebihan, dan anehnya—kau selalu mengisi waktu luangmu selain belajar dan bekerja part time yaitu dengan menonton drama.”

“Kau ingin tahu alasannya?” Mi Rae menghentikan langkahnya. Ia memandang kesal pada Jin Ae. “Agar aku tidak terjebak dalam tipu muslihat drama, itulah mengapa aku harus melihat itu. Dengan begitu, aku dapat membedakan mana drama dan mana nyata,” Mi Rae mengayunkan kakinya kemudian.

Jin Ae berlari-lari kecil mengejar Mi Rae, “Tapi tetap saja, itu tidak masuk akal!”

“Aku tidak memintamu untuk mempercayai semua yang aku katakan,” dengus Mi Rae kesal. “Sebaiknya kau—”

Bugh!

Terlalu tergesa-gesa dan sibuk mengomeli Jin Ae; tampaknya Mi Rae mendapat masalah baru. Lagi-lagi dia bertabrakan dengan seseorang, tentu saja secara tidak sengaja. Untung saja tidak sampai membuat buku di tangan Mi Rae terhempas.

“Kau?”

Orang yang berdiri di hadapan Mi Rae cukup terkejut melihat Mi Rae. Orang itu—dia tampan, dan itu cukup menjelaskan mengapa kedipan mata Jin Ae melambat manakala menyaksikan sosok itu.

“Baek Mi Rae?”

Mi Rae terpaku. Retina Mi Rae bermain di wilayah ketampanan si pemuda yang juga sedang memandanginya. Mata Mi Rae berkedip sekali, sulit mempercayai apa yang ia lihat. Satu hal yang Mi Rae rasakan adalah dadanya yang bergemuruh hebat.

~bersambung~

Bagaimana dengan part ini? Semoga memuaskan ^0^

Diharapkan bantuan kritik dan saran dari pembaca di blog ini.

Terima kasih dan sampai jumpa di part selanjutnya.

Iklan

342 thoughts on “Drama (Part 3)

  1. fiafathin berkata:

    aaa siapa yg bikin dada mi rae bergemuruhh😲
    jgn sampai mi rae jatuh cinta sma pria lain, kasian kyuhyun😢
    aku like bngt kata” mi rae ttg jejaring sosial👍logika bnget sihh kkkk

  2. Hana Choi berkata:

    Siapa sih yg di tabrak mi rae aoa temannya mi rae atau Cinta pertamanya mi rae? Terus gimana sama kyuhyun dong makin penasaran sama kyuhyun juga di itu sebernya orang kaya apa bukan sih

  3. My labila berkata:

    suka sama karakter kyuhyun di ff ini, siapa yang di tabrak mirae #Penasaran…..
    mana ganteng lagi jin ae aja sampai seperti itu…

  4. ina berkata:

    woahhhh siapa tuh..
    lelaki masa lalu mi rae kah??
    mmm… entah hubungan mi rae dan kyuhyun udah ada kemajuan apa blum .. bingung juga dengan sikap mi rae antara menerima menolak dan pasrah

  5. JaemiJhe berkata:

    Wow..
    Mirae bener-bener realistis banget…
    Kadang-kadang ga nalar..
    Wkwkwk

    Good…

    Woww, apa kehidupan mirae akan seperti drama… Hahaha

  6. sung hye jin berkata:

    wah mirae ga nyangka perkataan mu membuat semua yg d dekat mu merasa takjub maantrb dan siapa kira2 laki2 yg d tabrak mirae sampe2 janntungg mirae berdegub kencang ??

  7. Yoon berkata:

    Adakah orang kayak mi rae?aq juga pngen gitu gak terlena karena banyak nonton drama pdhal kenyaatannya dikehidupan nyata ini gak semudah seindah seperti yg dilihat di drama2😕

  8. whitedear berkata:

    harus ekstra sabar punya sahabat kayak mi rae tapi harus ekstra sabar juga punya sahabat kayak jin ae yg super cerewet gitu wkwkwk

    tuh kn ketahuan mereka nguntit kyuhyun, tapi itu beneran apartemen eunhyuk nggak yaa apa cuman akal akalan mereka ber2 aja ini hehehe

  9. Clara putri berkata:

    WOW mirae bener bener perempuan yg sangat realistis hidupnya, jarang loh perempuan punya jiwa realistis karena terkadang kalah sama hati… pensaran kenapa mirae punya sikap kaya gitu…
    Dan bodornya kyuhyun malah tertarik wkwkwkwk bener bener kyuhyun suka sama mirae yg ajaib:))
    Siapatuh diakhirnyaaa buat mirae degdegan wkwkw

  10. noebita berkata:

    Mi rae jadi orang terlanjur kaku. Mungkinkah orang dari masa lalunya mi rae datang. Kyu siap2 buat dapat saingan

  11. aulia fitri berkata:

    Sebenarnya yang ngikutin kyuhyun itu siapa ya sampai kyuhyun harus bersembunyi segala jadi penasaran. siap pria yang ketemu mi rae smpi di terkejut gitu? Saya suka sma karakter ji ae dan hyukjae mereka pada lucu haha
    👍

  12. Chokyuangel berkata:

    Mirae datar bener ya hidupnya…apa mirae pernah ada masa lalu yg membuat dia kaya gtu?nah loh siapa tu?saingan kyu kah?

  13. Cc berkata:

    salut sama kak marchia, materi ff nya nggak ecek2 gtu, ada aja bahasan menarik di ffnya,

    mi rae realistis bgt, penjelasannya masuk akal, bikin kyuhyun cengo, wkwkwk

  14. Lala berkata:

    Wkwkkw… mirae sekalinya ngomong lgsg panjang gitu ya
    Yg diomongin juga berat bgt
    Wkkw
    Trs sapa tuh yg ditabrak kak? Jd penasaran

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s