Drama (Part 4)

Drama (Part 4)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

“Baek Mi Rae.”

“Aku?”

“Namamu—Baek Mi Rae, bukan?”

Suara gesekan kaki kursi di atas ubin kafe membuyarkan lamunan yang membawa Mi Rae ke masa beberapa tahun yang lalu. Ia memperhatikan Han Jin Ae yang baru saja duduk di hadapannya sambil membuka sebuah buku besar di atas meja.

“Aishh! Mengapa Professor Kang sangat menyebalkan?”

Jin Ae mengeluhkan tugas-tugas selangit yang diberikan oleh salah satu pengajar mereka. Mi Rae yang biasanya antusias menanggapi celoteh-celoteh Jin Ae memilih diam. Matanya memang tak bergeser dari atlas anatomi yang terbentang di hadapannya, namun ia bahkan tak bisa mencerna apa yang ia baca. Jin Ae menyadari kejanggalan itu, setelah sekian menit terus mengawasi Mi Rae yang mendadak menjadi seorang pelamun—Jin Ae mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Mi Rae.

“Ada apa?” tanya Mi Rae sambil menyingkirkan tangan Jin Ae yang mengganggu jarak pandangnya.

“Seharusnya itu adalah pertanyaanku,” Jin Ae berdecak. “Kau baik-baik saja?”

“Apakah aku terlihat sakit?”

“Ya Tuhan, terbuat dari apa si gila ini?”

“Kau selalu berbelit-belit. Jika ada yang ingin kau tanyakan, katakan langsung pada intinya? Kau selalu menyelubungi niatmu dengan pertanyaan-pertanyaan klise seperti itu.”

Han Jin Ae lesuh. Ia tak menyangka jika Baek Mi Rae masih memberikan kuliah tambahan padanya.

“Aku tahu!” kesal Jin Ae sambil menggigit bibirnya. “Apa yang kau pikirkan?”

“Tidak ada.”

Jawaban singkat Mi Rae membuat Jin Ae tertawa kaku sambil menatapi langit-langit kafe.

“Tak ada gunanya aku bertanya padamu,” Jin Ae menghujani Mi Rae dengan kekesalannya yang mulai meluap-luap. “Baek Mi Rae, bahkan jika aku bertanya pada Tuhan, Dia tidak akan menjawabku seperti yang kau lakukan.”

Mi Rae hanya tersenyum kecut dan hal itu justru semakin membuat Jin Ae harus sedemikian rupa mengolah sisa-sisa kesabaran yang masih melekat dalam dirinya.

“Kau menjadi aneh,” sorot mata tajam Jin Ae sedang berusaha untuk melucuti pertahanan Mi Rae. “Ah—kau memang sudah terlahir aneh, tapi keanehanmu bertambah sejak bertemu dengan orang itu,” Jin Ae memberikan koreksi terhadap kalimat sebelumnya. “Siapa dia?”

Pertanyaan Jin Ae membuat Mi Rae menarik napas berat, “Han Jin Ae, mengapa kau bertanya padaku? Bukankah kau adalah majalah berjalan? Kau bahkan lebih mirip cenayang,” ujar Mi Rae santai sambil berpindah ke lembar selanjutnya dari atlas anatomi di hadapannya. Jin Ae memang orang yang paling cepat mendapatkan informasi terbaru tentang apa pun itu.

Jin Ae mendesis persis seperti ular. Ia bersandar sambil memangku tangan. “Orang itu adalah putra pemilik Universitas Anam sekaligus pemilik Rumah Sakit Universitas Anam,” Jin Ae mulai menerawang. “Jika dia adalah calon penerus seluruh aset kampus kita, berarti dia kaya raya,” katanya lagi sambil berdecak. “Kita akan sering bertemu dengannya. Dia Mahasiswa pindahan dari Inggris dan sekarang adalah senior kita di Fakultas Kedokteran.”

“Kau memang luar biasa,” Mi Rae bergumam, ia tak meragukan julukan Jin Ae sebagai majalah berjalan.

“Jadi, apa hubunganmu dengan Choi Siwon?”

“Choi—Siwon?”

“Sudahlah. Jangan berlagak bodoh. Aku yakin kalian saling mengenal.”

“Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu.”

Han Jin Ae menggigit bibirnya kesal, namun ia tak bisa melakukan apa-apa dan hanya memandangi Mi Rae yang memfokuskan diri pada atlas anatomi meskipun Jin Ae tahu Mi Rae belum bisa mencerna apa yang dibacanya itu. Jin Ae yakin jika kedatangan seseorang yang bernama Choi Siwon telah menimbulkan beberapa perubahan pada Mi Rae dan Jin Ae sangat yakin jika kedua orang itu telah saling mengenal sebelumnya.

“Kita taruhan!”

Begitu mendengar kalimat itu, Mi Rae menatap Jin Ae. “Taruhan?”

“Jika aku menang, kau harus menceritakan semua tentang Choi Siwon—tanpa terkecuali.”

“Kau serius?” Mi Rae bahkan tak bisa mempercayai Jin Ae yang sepertinya sangat berniat untuk mengupas tuntas hal-hal yang disembunyikan Mi Rae. Jin Ae memberikan jawaban dengan sebuah anggukan kepala, ia terlihat sangat serius dengan perkataannya. “Apa yang harus kita lakukan?” tanya Mi Rae kemudian.

“Lomba lari,” jawaban singkat Jin Ae semakin membuat Mi Rae penasaran. “Jika aku lebih dulu tiba di lab anatomi, maka kau harus menjawab semua pertanyaanku.”

“Aku bahkan belum menjadi seorang selebritis, tapi kau sudah begitu bersemangat dalam urusan pribadiku,” Mi Rae kembali menyandarkan tubuhnya. Ia tak terlihat berminat dengan taruhan itu. “Nona Han, aku yakin kau tak akan bisa mengalahkanku jadi kau tak perlu melakukan sesuatu yang sia-sia, tapi jika yang kau maksudkan adalah lomba lari dari kenyataan—maka kaulah pemenangnya,” Mi Rae tersenyum mengejek. Han Jin Ae memilih mengurung rapat-rapat suaranya di dalam mulut sebelum pembulu darahnya pecah karena peningkatan tekanan darah.

***

Baek Mi Rae belum beranjak dari dalam ruang perkuliahan yang sudah senyap. Tidak ada hal lain yang dilakukan Mi Rae ketika ia sedang senggang selain membaca buku, orang lain akan berpikir bahwa gadis itu telah menjadi candu karena buku. Sesekali ekor matanya melirik ke kiri, sesuatu yang membuat konsentrasinya sedikit berkurang.

“Kau tak akan pergi?” Mi Rae akhirnya memutuskan bertanya pada Cho Kyuhyun yang entah sudah berapa lama duduk di situ. Hanya tersisa mereka berdua di dalam ruangan. Kyuhyun hanya sibuk dengan ponsel di tangannya dan sesekali akan tersenyum lebar seperti orang gila.

“Apakah itu mengganggumu?” tanya Kyuhyun.

“Tidak,” Mi Rae menjawab cepat.

Kyuhyun meletakkan ponsel. Ia menopang dagu dengan tangan kiri lalu memiringkan kepalanya, tatapannya tertuju pada Mi Rae yang duduk di sisi kanan dengan jarak yang tidak begitu jauh darinya. Gadis itu masih saja sibuk dengan dunianya sendiri. Kyuhyun terus mengawasi Mi Rae dan ia tahu dibalik ketenangan itu, Mi Rae sedang menyembunyikan kegelisahannya.

“Mi Rae, kau merasa ini terlihat seperti di dalam drama-drama yang kau benci itu bukan?”

Pertanyaan itu membuat Mi Rae menoleh. Kyuhyun sedang tersenyum. “Apa maksudmu?”

“Situasi saat ini sangat jelas bagimu. Di ruangan yang sepi, hanya ada kau dan aku. Kau menyibukkan dirimu, mencoba untuk bersikap tenang padahal kau cukup terganggu. Kau sedang memikirkan alasan keberadaanku di sini. Sementara aku? Hmm—aku hanya orang yang sedang memperhatikan seorang gadis berperangai paling unik yang pernah aku jumpai dalam hidupku dan keberadaanku di sini adalah mencoba peruntunganku untuk sedikit saja menarik perhatian gadis itu. Kau sering melihat adegan ini di dalam drama, benar begitu?”

Kyuhyun tersenyum semakin lebar pada Mi Rae yang telah mengabaikan buku demi mendengar kelanjutan perkataannya.

“Kau tidak merencanakan semua ini. Aku pun demikian. Meskipun kau menonton drama, tapi kau membenci itu. Lalu aku, aku tidak membenci drama tapi aku bukan tipe orang yang suka menyaksikan drama. Jadi situasi yang kita alami saat ini bukan karena kau dan aku secara sengaja mengulang adegan dalam drama. Alasannya adalah, apa yang kau lihat dalam drama adalah hal-hal yang diadopsi dari dunia nyata—hanya saja bumbu yang mereka tambahkan dalam drama kadang terlalu berlebihan,” senyuman Kyuhyun terlihat lebih lembut. Kehangatan terpancar dari sorot matanya.

“Itu—” Mi Rae tidak dapat menemukan kata yang tepat untuk menanggapi perkataan Kyuhyun. Di kepalanya tiba-tiba saja timbul rasa toleransi terhadap pendapat sesama umat manusia.

“Ah ya, tapi saat aku berbicara panjang lebar seperti tadi, kau mungkin mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti—uhm, entahlah, mungkin hatimu sedikit berdebar lalu kau akan mulai memikirkan aku dan pada akhirnya kau jatuh cinta padaku,” Kyuhyun membuat Mi Rae menatapnya semakin intens. “Pernahkah kau jumpai adegan seperti itu dalam drama?” Kyuhyun bertanya secara gamblang dan ia kemudian terkekeh pelan setelah melihat ekspresi datar Mi Rae.

“Cho Kyuhyun, kau benar-benar menyukaiku?”

“Jika aku menjawab pertanyaanmu; akankah kau memikirkannya?”

Suasana menjadi lebih senyap. Mi Rae masih menatap Kyuhyun yang bersikap tenang seperti biasa. Pemuda itu lalu memekarkan senyum di wajahnya. Ada ketulusan yang tergurat dari senyuman itu.

“Alzheimer?” Kyuhyun memandangi buku yang sedang dibaca oleh Mi Rae. Ucapannya memecah keheningan aneh yang berlangsung sebelumnya. “Kau sepertinya sangat tertarik dengan itu?” ungkap Kyuhyun setengah bergumam. Barangkali Mi Rae berencana melakukan penelitian tentang alzheimer, begitu pikir Kyuhyun.

“Aku hanya berpikir; apakah mungkin ada metode penyembuhan yang tepat untuk penyakit ini?” Mi Rae berkata pelan, ia terdiam sejenak dan kembali melanjutkan perkataannya. “Saat ini hanya terdapat sedikit obat untuk alzheimer, tapi efeknya hanya sementara.”

Alzheimer adalah kondisi neurologis yang ditandai dengan penurunan daya ingat dan penilaian secara bertahap yang biasanya disertai dengan perubahan kepribadian dan kemampuan untuk mengekspresikan diri. Orang lebih banyak mengetahui alzheimer sebagai suatu gangguan otak atau demensia (pikun) yang menahun, terus berlanjut dan penderitanya tidak akan kembali seperti semula.

“Kau benar. Tidak ada penyebab yang pasti dan tidak ada pengobatan yang tepat. Sampai saat ini tidak ada obat yang dapat diharapkan,” Kyuhyun melepas topangan dagunya. Ia bersandar di tempat duduknya, ikut memikirkan apa yang ada di kepala Mi Rae. “Kemungkinan yang paling mendekati dari penyebab munculnya penyakit alzheimer adalah peran plak yang terbentuk dari protein yang secara normal tidak berbahaya, disebut beta amyloid. Meskipun penyebab utama kematian sel saraf pada penderita alzheimer tidak diketahui, tapi bukti-bukti menunjukkan bahwa pembentukan protein beta amyloid merupakan penyebab alzheimer.”

“Ada dua kemungkinan lain penyebab alzheimer. Peran neurofibrillary tangles, pendukung internal struktur sel saraf otak tergantung pada fungsi normal dari protein yang disebut tau. Pada orang yang mengidap alzheimer, benang-benang protein tau mengalami perubahan yang menyebabkan saraf terpelintir menjadi simpul. Kondisi itu merusak sel saraf secara serius dan sel saraf menjadi mati,” Mi Rae menambahkan perkataan Kyuhyun.

Getar ponsel Kyuhyun di atas meja sedikit mengalihkan perhatian, namun Kyuhyun mengabaikan itu setelah melihat nama Hyukjae tertera di layar ponsel. Ia kembali menatap Mi Rae yang belum selesai mengungkapkan isi kepalanya.

“Kemungkinan berikutnya adalah inflamasi. Adanya inflamasi pada otak penderita alzheimer. Inflamasi di dalam tubuh adalah respon terhadap luka atau infeksi dan merupakan bagian alami dari proses penyembuhan. Plak beta amyloid berkembang di ruang antar sel saraf, padahal sel imun bekerja untuk membuang sel mati dan produk buangan lain dari otak. Peneliti beranggapan bahwa inflamasi mungkin terjadi sebelum plak benar-benar terbentuk dan mereka masih berdebat apakah inflamasi memiliki efek merusak sel saraf atau justru membersihkan serta membuang plak,” Mi Rae menyelesaikan perkataannya.

Kyuhyun sangat serius mengawasi wajah datar Mi Rae. Tiba-tiba saja Kyuhyun terperanjat, “Baek Mi Rae—kau…,” entah apa maksud Kyuhyun untuk berekspresi seheboh itu.

Mi Rae menghela napas, tampaknya ia mengerti apa yang sedang menari-nari di kepala Kyuhyun. “Gangguan memori yang memengaruhi keterampilan pekerjaan. Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan. Kesulitan berbicara dan berbahasa. Disorientasi waktu, tempat dan orang. Kesulitan mengambil keputusan yang tepat. Kesulitan berpikir abstrak. Salah meletakkan barang. Perubahan mood dan perilaku. Perubahan kepribadian. Hilangnya minat dan inisiatif,” Mi Rae menuntaskan perkataannya dalam sekali helaan napas. Ia membalas tatapan Kyuhyun dengan ekspresi datarnya yang selalu monoton. “Apakah kau menemukan gejala alzheimer seperti yang aku sebutkan tadi pada diriku?”

Tawa Kyuhyun pecah begitu saja, “Hei, aku hanya bercanda. Mengapa kau menjadi seserius itu?” Kyuhyun tersenyum jenaka. “Tapi berhati-hatilah Mi Rae, potensi wanita terserang alzheimer lebih besar dibandingkan pria.”

“Hanya karena penderita alzheimer lebih banyak wanita daripada pria; lantas kau berkata begitu?” Mi Rae berdecak. “Semua karena faktor risiko. Orang-orang yang berisiko terserang alzheimer adalah pengidap hipertensi usia 40 tahun ke atas, pengidap kencing manis, orang yang kurang berolahraga, orang yang memiliki kolesterol yang tinggi dan—” Mi Rae tiba-tiba saja terdiam beberapa detik, “Faktor keturunan,” pungkasnya. Ia kembali bungkam. Tidak jelas apa yang sedang menderanya.

“Hei~ Mi Rae, kau marah?” Kyuhyun merasakan perubahan atmosfer di sekitar mereka.

Mi Rae tetap bergeming. Tak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya, ia beranjak dari tempat duduk dan berlalu dari hadapan Kyuhyun. Kyuhyun mengambil ponsel yang sebelumnya ia letakkan di atas meja, ia lalu berjalan cepat menyusuli Mi Rae.

“Kau benar-benar marah padaku?” Kyuhyun yang berjalan di sisi Mi Rae kembali bertanya. Ia menyamai langkah kaki Mi Rae yang tergesa-gesa. Gadis itu seakan mencoba menghindar dari Kyuhyun. “Baiklah. Maafkan aku, Mi Rae,” meskipun tak mengerti mengapa tiba-tiba saja Mi Rae bertingkah seperti itu, Kyuhyun memutuskan untuk meminta maaf.

Mi Rae tidak merespon. Ia justru mengayunkan kakinya lebih cepat, nyaris setengah berlari. Mi Rae tiba-tiba saja berhenti, bahkan Kyuhyun hampir menabraknya. Mi Rae memandangi pemuda yang berdiri tepat di hadapannya. Choi Siwon.

“Sudah cukup lama kita tidak bertemu,” Siwon tersenyum lembut memamerkan kehangatannya.

Mi Rae hanya mempertontonkan kesan tidak bersahabat dari raut wajahnya. Ia berlalu dari hadapan Siwon, tetap dengan mulut yang terkunci. Kyuhyun belum beranjak, ia memandangi Siwon. Tatapan kedua orang itu saling bertemu dan itu berlangsung beberapa saat sebelum akhirnya Kyuhyun mengejar Mi Rae.

“Siapa dia?” Kyuhyun bertanya, namun Mi Rae masih bertahan. Gadis itu sepertinya telah melakukan aksi mogok bicara, mengabaikan Kyuhyun bahkan Siwon yang masih mematung di belakang sana sambil terus menatapinya dan Kyuhyun yang kian menjauh.

***

Hari berikutnya, Choi Siwon secara sengaja menghampiri Mi Rae yang sedang duduk disebuah kursi panjang tepat di bawah rindangnya pepohonan di taman kampus. Mi Rae sedang bersama Jin Ae. Kedatangan Siwon membuat Mi Rae segera mengemasi buku-buku, ia bermaksud pergi tetapi pemuda itu menghadang langkahnya.

“Mengapa sangat sulit untuk berbicara denganmu?”

“Maaf, aku sedang sibuk.”

“Mi Rae,” Siwon menangkap pergelangan tangan Mi Rae saat gadis itu berniat pergi. Jin Ae hanya mengawasi penuh tanya. “Ada apa denganmu?”

Begitu mendengar pertanyaan Siwon, seketika Mi Rae menatap pemuda itu. Kekesalan tampak dari tatapan dingin Mi Rae, “Aku tidak apa-apa,” jawabnya datar dan berlalu begitu saja. Jin Ae mengejar Mi Rae sambil beberapa kali menengok pada Siwon yang belum berkutik.

“Sampai kapan kau akan menutup rapat mulutmu?” Jin Ae sudah tak dapat menahan rasa penasarannya. “Apakah terjadi sesuatu antara kau dan Siwon Sunbae?”

Belum sempat Mi Rae menjawab pertanyaan Jin Ae saat pergelangan tangan Mi Rae kembali dicengkeram.

“Mengapa kau terus menghindariku?”

Mi Rae dan Jin Ae sama terkejutnya melihat Siwon yang belum berniat melepaskan tangan Mi Rae. Tatapan mata Siwon terlihat sangat serius. Mereka tidak menyadari jika Siwon menyusul, ia terlihat suntuk dengan benang-benang kusut di dalam kepalanya.

“Apakah aku punya alasan untuk tidak melakukan itu?” bola mata Mi Rae melebar. Kemarahannya yang dipendam sudah terlihat jelas.

“Kau masih mengingat kejadian itu?” Siwon menatap tak percaya pada Mi Rae, ia mendesah, “Baek Mi Rae. Sudah tujuh tahun berlalu dan kau masih belum memaafkanku?”

“Lepas,” bibir Mi Rae terlihat bergetar. Ia sedang menahan gemuruh yang tiba-tiba saja menggelora di dalam dadanya. “Lepaskan aku,” bisiknya lemah. Seolah tidak ada tenaga yang tersisa untuk membuat pemuda bernama Choi Siwon itu menghilang dari jarak pandangnya.

“Mi Rae, aku—”

Hempasan sebuah buku tebal memutuskan cengkeraman Siwon pada pergelangan tangan Mi Rae. Mereka memandangi Kyuhyun yang berdiri tenang. Ia mengambil tangan Mi Rae dan meletakkan buku tersebut di telapak tangan Mi Rae.

“Kau meninggalkannya di kursi taman,” Kyuhyun tersenyum pada Mi Rae ketika mengatakan itu.

Mi Rae tetap diam, ia hanya memandangi Kyuhyun yang masih tersenyum hangat. Sementara Jin Ae dan Siwon juga sudah memandangi mereka dengan pemikiran masing-masing. Mi Rae berlalu, kali ini ia berharap tidak seorang pun yang mengikutinya.

Kyuhyun memunguti sebuah benda yang secara tidak sengaja dijatuhkan oleh Mi Rae. Setelah mengawasi sekian detik, ada keterkejutan yang tersirat dari ekspresi Kyuhyun. Ia menoleh ke arah Mi Rae berlalu tadi dan tak mengatakan apa pun, ia menuju ke arah tersebut—tak peduli pada dua orang lainnya yang masih mematung.

Mata Kyuhyun menyisir apa saja yang tertangkap oleh retinanya. Ia mencari sosok Mi Rae sambil terus mempercepat langkah kakinya, ia bahkan sudah berlari-lari kecil demi menemukan gadis itu. Ia baru berhenti berlari saat melihat Baek Mi Rae sedang berdiri mematung di balik batang pohon ginko yang tumbuh di pekarangan kampus. Ia memandangi Mi Rae yang mengelap kedua belah pipinya dengan tangan. Kyuhyun berjalan santai saat menghampiri Mi Rae.

“Mi Rae,” panggil Kyuhyun. Mi Rae menoleh sehingga mata sembabnya terlihat oleh Kyuhyun. Pemuda itu memegang pergelangan tangan Mi Rae, lalu menautkan jari-jarinya di antara jari-jari Mi Rae—menggenggam lembut tangan itu. “Boleh aku meminjammu—lagi?” senyum di wajahnya seakan tak lekang oleh waktu.

*

Mi Rae dibawa Kyuhyun ke sebuah kafe di kawasan Apgujeong. Ia hanya duduk termenung memandangi Kyuhyun yang tampaknya mengenal orang-orang yang bekerja di kafe itu. Sesekali mereka memandang kepada Mi Rae lalu mengatakan sesuatu sehingga membuat Kyuhyun hanya tertawa—ia terlihat sangat senang. Beberapa orang pemuda baru tiba di kafe dan Mi Rae langsung mengenali mereka. Ya, mereka adalah orang-orang yang satu band dengan Kyuhyun. Mi Rae mulai berpikir jika mungkin saja hari ini mereka memiliki jadwal menyanyi di kafe tersebut.

Saat mereka mulai mengatur peralatan musik, Mi Rae sudah seratus persen yakin bahwa mereka memang akan menyanyi di kafe. Apalagi suara alat-alat musik dan microphone yang sedang diperiksa. Pengunjung kafe juga mulai tertarik mengawasi kumpulan pemuda itu. Ada yang terlihat sudah tidak sabar untuk menyaksikan pertunjukan mereka. Ada juga yang terlihat penasaran—mungkin saja mereka belum pernah melihat aksi panggung pemuda-pemuda itu.

Pandangan Mi Rae masih tertuju pada pengunjung kafe yang didominasi oleh kaum wanita; entah kenapa Mi Rae yakin jika keberadaan mereka di kafe itu sudah terjadwal dan ia yakin bahwa kebanyakan dari mereka mengidolakan Kyuhyun dan kawa-kawannya. Benar saja, ketika Kyuhyun mulai memegang microphone, Mi Rae dapat melihat tatapan antusias mereka.

Musik pun mulai mengalun merdu dan terdengar sampai ke setiap jengkal ruangan kafe.

♫♪

Aku tertawa seperti orang bodoh ketika teringat padamu

Mungkin seperti kebetulan, tapi aku memang sedang memikirkanmu

Jika kau menyadari, aku telah mengamatimu dari jauh
Sejak awal aku ingin menyapamu

Tapi ketika tersadar bahwa ternyata aku hanya berdiri di tempat

Dan lagi-lagi berbicara pada diri sendiri

Ini kali kedua Mi Rae mendengar suara Kyuhyun. Ia bahkan berekspresi seperti baru pertama kali mendengar suara merdu itu. Mi Rae sudah tidak memperhatikan gadis-gadis yang mulai terhanyut, matanya tidak bisa bergeser dari objek yang dipandangnya.

♫♪

Aku merasa canggung dan berjalan melewatimu

Namun aku berbalik lagi karena aku merindukanmu
Di dalam hati, aku berteriak keras

Bahkan ketika kau berada di sisiku, aku tak bisa mengatakan kata-kata ini

Aku telah jatuh dalam pesonamu

Hatiku begitu menginginkanmu, kau yang seperti takdir bagiku

Aku mencintaimu

Ya. Nyanyian itu memang mengalun sangat merdu, menghanyutkan siapa saja yang mendengar simponinya. Di dalam hati, Baek Mi Rae mengagumi suara Kyuhyun. Mi Rae tersadar dari lamunannya saat mendengar suara tepuk tangan. Lagu indah itu telah usai dinyanyikan. Cho Kyuhyun dan kawan-kawannya terlihat membungkukkan tubuh sebagai ucapan terima kasih kepada semua pendengar.

Kyuhyun lalu menghampiri Mi Rae, “Suasana hatimu sudah jauh lebih baik?”

“Aku,” Mi Rae tertegun sesaat, ia mengangguk.

Kesunyian terjadi selama kurang-lebih satu menit, sampai akhirnya Kyuhyun meletakkan sesuatu di atas meja dan mendorong benda itu hingga berhenti tepat di hadapan Mi Rae. Gadis itu cukup terkejut melihat botol obat yang disodorkan Kyuhyun.

“Memantine,” Kyuhyun menyebutkan jenis obat tersebut. “Saat membicarakan alzheimer, tiba-tiba saja kau menjadi begitu marah. Aku terus berpikir, mengapa kau sangat marah? Pasti ada alasan yang membuatmu bersikap seperti itu,” ia terus mengawasi wajah tenang Mi Rae. “Jika kau tidak keberatan, maukah kau menceritakannya padaku?”

Mi Rae terhenyak. Tadinya Mi Rae mengira bahwa pertanyaan yang akan dilontarkan Kyuhyun adalah tentang Siwon, tapi ternyata tidak seperti yang dipikirkan Mi Rae. Kyuhyun masih menatapnya tenang, ia terlihat begitu sabar menanti tanggapan Mi Rae. Memantine yang secara tidak sengaja dijatuhkan Mi Rae adalah jenis obat yang diminum untuk mengobati penyakit alzheimer stadium sedang sampai berat.

“Itu—” Mi Rae merenung, ia tidak begitu yakin untuk mengabulkan permintaan Kyuhyun.

“Tidak apa-apa, aku tidak memaksamu.”

Mi Rae mengangguk pelan. Ia kembali menatap Kyuhyun, “Mengapa kau ingin menjadi dokter?” sebuah pertanyaan untuk membelokkan pembicaraan sebelumnya.

Kyuhyun terhenyak, menatap lebih dalam lagi wajah tenang Mi Rae. Kyuhyun sudah menyangka jika suatu saat ia akan menerima pertanyaan semacam itu, tapi ia sama sekali tak menduga jika pertanyaan itu ia terima dari Baek Mi Rae—seorang gadis yang tidak pernah mengambil pusing terhadap urusan orang lain.

“Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa tidak ada harapan untuk orang seperti aku, bahkan jika masa depan itu ada; hal itu tidak akan berlaku bagiku. Jadi, sebaiknya aku hanya berdiam diri di rumah, sebab apa pun yang aku lakukan tidak akan berhasil. Mereka menjatuhkan vonis kejam seperti itu hanya karena aku tidak cantik, tidak menarik, bodoh dan terlahir dari keluarga miskin.”

Keadaan hening sesaat, lalu Mi Rae tertawa kaku ketika ingatannya membawa ia pada kenangan menyakitkan itu. Matanya menatap kosong, ia tersenyum tipis, namun senyuman itu terlihat penuh luka.

“Tidak ada yang terjadi secara kebetulan di dalam hidup ini, semua punya maksud dan tujuan tertentu. Aku tidak mengerti mengapa mereka berlaku sekejam itu, tapi aku mengerti mengapa aku harus mengalaminya. Mereka adalah orang-orang yang mendorongku sampai sejauh ini—dan aku berterima kasih pada mereka,” Mi Rae menarik napas panjang. “Dokter adalah sebuah profesi yang saat itu jika dipikir bagaimanapun adalah sesuatu yang paling mustahil bagiku. Untuk seorang yang bodoh dan miskin, aku tidak berani bermimpi menjadi dokter, tapi karena perkataan mereka, aku melakukan hal paling sulit bagiku. Aku memutuskan untuk mengalahkan ketakutanku akan sebuah ketidakmampuan.”

Kyuhyun tak mencoba untuk menyela. Ini pertama kalinya Mi Rae berbicara secara terbuka—apalagi ia mengatakan itu secara sadar dan tanpa paksaan.

“Aku memikirkan banyak hal dan melakukan banyak cara untuk membuktikan pada mereka, tapi ketika malam tiba, di pembaringan aku tersadar bahwa yang aku lakukan hanya belajar, belajar dan belajar. Orang bodoh memang harus mengambil porsi belajar yang jauh lebih banyak. Untuk jenius sepertimu, kau tidak akan mengerti kengerian yang aku lalui,” Mi Rae terlihat sangat tegar. “Aku menghabiskan hidupku dengan belajar, tapi aku merasa itu belum cukup. Jadi—haruskah aku harus berhenti melakukan pekerjaan part time? Tapi, jika begitu maka tidak ada gunanya aku belajar—aku tidak bisa hanya mengandalkan beasiswa. Kuliah kedokteran sangat mahal, bukan begitu?” Mi Rae tersenyum lagi sambil memandangi Kyuhyun.

Penjelasan Mi Rae membuka mata Kyuhyun. Alasan mengapa Mi Rae tidak terlihat seperti kebanyakan gadis pada umumnya. Kyuhyun mulai mengerti, mengapa hal yang paling dicintai Mi Rae adalah buku. Baek Mi Rae adalah seseorang yang sangat menyadari ketidakmampuannya, namun ia berani menghadapi itu. Sikap realistis Mi Rae yang terlalu berlebihan semata-mata hanyalah bentuk dari sebuah perlindungan diri.

“Terima kasih.”

Mi Rae tertegun, hanya dua kata itu yang terlontar dari mulut Kyuhyun.

“Untuk apa?”

Kyuhyun tersenyum, “Tidak. Hanya ingin mengatakan itu,” katanya lagi. Kyuhyun tahu jika Mi Rae sangat penasaran meskipun gadis itu tidak lagi bertanya, itu terlihat jelas dari sorot mata Mi Rae.

Kyuhyun merasa sangat senang. Ia tahu jika tidak mudah bagi seorang Baek Mi Rae untuk mengungkapkan itu semua dan Kyuhyun bersyukur karena orang yang mendengar semua cerita Mi Rae adalah dirinya. Baginya, Baek Mi Rae tetap menjadi gadis terunik yang pernah ia temui. Kyuhyun tidak pernah meragukan instingnya ketika mengagumi seseorang.

Senyuman hangat yang diberikan Kyuhyun, tanpa sadar ikut melukiskan senyum di wajah Mi Rae. Walaupun senyum itu sangat tipis, tapi mampu membuat Kyuhyun tertegun sesaat, sebab senyuman Mi Rae yang dilihatnya tampak sangat tulus.

Kedamaian tersebut tidak berlangsung lama. Kyuhyun menjadi salah tingkah saat matanya tertuju pada beberapa orang pria. Mi Rae ikut menoleh setelah menyadari perubahan sikap Kyuhyun. Pria-pria itu baru saja masuk ke dalam kafe. Pakaian mereka sangat rapi—setelan jas hitam dan juga dasi hitam. Mereka terlihat mencari sesuatu. Kyuhyun langsung menundukkan kepalanya ketika pandangan mereka tertuju ke arahnya.

“Kau mengenal orang-orang itu?” tanya Mi Rae karena melihat Kyuhyun yang mencoba bersembunyi.

“Ssstt…!” Kyuhyun meletakkan telunjuk di permukaan bibirnya, meminta Mi Rae untuk tenang sementara itu terus mengawasi orang-orang itu. “Kita harus pergi!” Kyuhyun memegang pergelangan tangan Mi Rae. Ia mengajak Mi Rae berjalan dengan tergesa-gesa, masih terus berusaha untuk bersembunyi. Mereka tidak melewati pintu depan sebab orang-orang berjaga-jaga di sana.

Kyuhyun dan Mi Rae keluar dari pintu lain yang membawa mereka tiba di bagian belakang bangunan kafe.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.”

Mi Rae masih menuntut jawaban Kyuhyun. Pemuda itu kebingunan harus memulai dari mana.

“Mi Rae, itu—”

Belum juga Kyuhyun menuntaskan perkataannya ketika orang-orang itu telah tampak di depan mata mereka. Kontan saja Kyuhyun menggenggam tangan Mi Rae dan berlari. Ia menarik Mi Rae. Berlari lebih cepat. Mereka terus menengok ke belakang, orang-orang itu sedang mengejar mereka. Mi Rae kebingungan, mengapa ia tiba-tiba harus ikut berlari.

Mereka berlari tiada henti selama beberapa menit. Kyuhyun lalu menghentikan sebuah taksi dan ia memaksa Mi Rae masuk, lalu kemudian melakukan hal yang sama. Kyuhyun menyuruh sopir untuk bergegas meninggalkan tempat itu sambil terus menengok ke belakang. Orang-orang itu masih berusaha mengejar dan ketika jarak sudah semakin jauh, mereka hanya mendesis sangat kesal. Marah karena tidak bisa menangkap Kyuhyun. Kyuhyun bersandar lemas di jok mobil. Ia tertawa pelan disela-sela kelelahannya, tawanya kian keras dan itu semakin membingungkan Mi Rae.

“Kau masih bisa tertawa?” Mi Rae mulai mempertanyakan kewarasan Kyuhyun. “Siapa mereka? Dan mengapa mereka mengejarmu?” kesabaran Mi Rae sedikit berkurang, ia sangat penasaran.

Kyuhyun memandangi Mi Rae. Sorot tajam mata Mi Rae sedang menuntutnya untuk memberikan jawaban secepatnya. Kyuhyun terdiam—ia jelas sedang kebingungan, lebih tepatnya tak tahu harus mengatakan apa. Perasaan Mi Rae menjadi tidak enak setelah melihat reaksi Kyuhyun.

“Mi Rae,” Kyuhyun menarik napas. Ia berhenti berbicara, menyisir rambut dengan jari-jari tangannya. Ia tampak mulai frustasi. “Sebenarnya aku—” ia terdiam lagi. Kepanikan mulai terlihat dari raut wajahnya.

“Apa?”

“Jika aku mengatakan padamu, kau mungkin tidak akan menemuiku lagi. Beri aku waktu sampai aku siap untuk menerima segala risiko yang akan terjadi,” Kyuhyun mencoba bersikap tenang. Ia sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Mi Rae, lalu membungkuk, “Aku minta maaf, aku mungkin telah membuatmu ikut terlibat dalam masalahku,” Kyuhyun berkata mantap, masih dengan kepala yang menunduk sebagai permohonan maafnya.

Bungkam adalah hal yang dilakukan Mi Rae. Entahlah, tapi ia memang merasa banyak hal yang disembunyikan Kyuhyun. Tiba-tiba saja ketakutan mulai menjamah pikirannya, misteri tentang Kyuhyun dan orang-orang itu sangat mengganggu Mi Rae sebab mereka terlihat seperti gangster. Jika Kyuhyun sampai terlibat dengan gangster, sebenarnya apa yang sudah dilakukan oleh pemuda itu?

Laju mobil mulai melambat dan berhenti. Kyuhyun menoleh pada Mi Rae, “Kita sudah sampai,” katanya membuyarkan lamunan panjang Mi Rae. Mi rae memandang keluar jendela mobil, mereka sudah berada di daerah tempat tinggal Mi Rae. Ia membuka pintu mobil dan keluar.

Tarikan napas dalam yang dibalas dengan hebusan napas kasar terdengar dari Mi Rae. Ia mengawasi sekitarnya, ia menoleh dan mendapati Kyuhyun juga ikut turun dari mobil, pemuda itu terlihat menyerahkan sejumlah uang kepada sopir. Mi Rae memandang bingung pada mobil yang suara mesinnya mulai menderu, bergantian ia menatapi Kyuhyun.

“Kau tak pulang?” Mi Rae mengarahkan telunjuknya pada mobil yang telah menjauh.

“Ah—iya,” Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia tersenyum malu. “Kalau begitu aku pamit,” katanya lagi sambil berbalik. Kyuhyun berjalan gontai. Banyak hal yang sedang dipikirkan Kyuhyun sejak insiden kejar-kejaran tadi, ia tampak seperti orang ling-lung.

“Hei! Cho Kyuhyun!” panggilan Mi Rae membuat Kyuhyun berhenti dan membalik tubuh—menghadap Mi Rae. Gadis itu sedang memamerkan ekspresi tak berdaya, tak ketinggalan dengan tarikan napas beratnya.

*

“Aku pulang!”

Mi Rae membuka pintu rumahnya. Ia melangkah masuk, melepas sepatu lalu menggantinya dengan sendal. Ia lalu menyimpan sepatu pada rak yang terdapat di dekat pintu masuk rumah.

“Masuklah,” Mi Rae menoleh ke arah pintu dan tak lama kemudian Kyuhyun melangkahkan kakinya memasuki rumah sederhana Mi Rae.

Seorang wanita berjalan tergesa-gesa menghampiri Mi Rae, “Kau sudah pulang?”

“Iya,” Mi Rae mengangguk.

Tatapan wanita itu beralih pada pemuda tampan di sisi Mi Rae. Cho Kyuhyun sedang menyisir rumah Mi Rae dengan matanya. Cepat-cepat Kyuhyun membungkuk seraya memberi salam.

“Apa kabar? Aku Cho Kyuhyun,” ia memperkenalkan dirinya.

“Ah, kau membawa pacarmu?”

“Kami—”

“Belum berpacaran,” Kyuhyun memotong perkataan Mi Rae. Refleks Mi Rae menoleh. Sorot matanya seolah sedang berkata –bukan belum, tapi tidak– Kyuhyun hanya tersenyum lebar sambil mengangkat kedua bahunya.

“Begitu rupanya, aku mengira dia adalah pacarmu. Ini pertama kalinya kau mengajak seorang pemuda ke rumah.”

Kyuhyun menoleh, menatap lebih lekat wajah Mi Rae, “Jadi—aku yang pertama?” senyuman pemuda itu terlihat lebih lebar.

“Diamlah, sebelum kau kuusir sekarang juga!” kesal Mi Rae. Ia menyesal telah mengajak Kyuhyun ke rumahnya. Ia menyesali rasa kemanusiaannya yang timbul secara tiba-tiba setelah melihat Kyuhyun tadi. Mi Rae meyakini Kyuhyun tidak ingin pulang, karena orang-orang itu mungkin akan mengejarnya ke sana.

“Mi Rae, sebaiknya aku kembali. Ibumu sudah tertidur. Oh ya, seharian ini dia terus mencarimu.”

“Terima kasih,” Mi Rae mengantar wanita itu hingga di depan pintu. Ia lalu menutup kembali pintu itu.

“Aku pikir wanita itu adalah Ibumu.”

“Bukan, dia adalah tetanggaku,” jawab Mi Rae sambil meletakkan tas di atas meja.

Suara gesekan pintu mengalihkan perhatian Kyuhyun dan Mi Rae. Seorang wanita paruh baya sudah terlihat berdiri di ambang pintu. Wanita itu segera berlari dan langsung memeluk Mi Rae.

“Kau sudah pulang?” ia memeluk Mi Rae lebih kuat, seperti orang yang sedang ketakutan. “Syukurlah, Eonni—aku pikir kau sudah meninggalkanku!” pelukannya lebih kencang. Sikap posesif yang takut kehilangan. “Eonni, jangan tinggalkan aku lagi, hmm?” tuntutnya.

“Aku tidak akan melakukan itu, jangan takut, Ibu,” Mi Rae membelai rambut wanita itu.

“Tapi—siapa Oppa tampan ini?” wanita itu, Ibu Mi Rae memandangi Kyuhyun. “Apakah Oppa tampan akan membawamu pergi? Tidak! Kau tidak boleh membawa Eonni pergi!”

“Ibu, dia adalah temanku. Namanya Cho Kyuhyun,” Mi Rae mencoba untuk memberi pengertian pada ibunya.

“Benarkah?” ia masih menatap tak percaya pada Kyuhyun, namun Mi Rae mengangguk demi meyakinkan ibunya. Wanita itu pun tersenyum lebar, “Kalau begitu, Oppa kau harus menjaga Eonni-ku,” katanya lagi. Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum.

Cho Kyuhyun masih membungkam. Apa yang ia saksikan membuatnya tertegun. Wanita yang bertingkah seperti seorang anak kecil itu adalah ibu Mi Rae. Mi Rae terlihat begitu lembut ketika memeluk ibunya, ia tersenyum. Ada kehangatan yang terbaca dari perlakuan Mi Rae dan itu berbeda dengan apa yang dilihat Kyuhyun selama ini. Sosok Mi Rae yang berdiri di hadapannya seperti sosok seorang ibu yang sedang merangkul anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Ibu, mengapa tidak tidur? Ini sudah larut?”

“Tidak! Aku tidak bisa tidur. Aku harus menunggu Eonni.

“Aku sudah pulang,” Mi Rae berkata lembut. “Mau kutemani tidur?” tawarannya dijawab dengan anggukan kepala antusias. Mi Rae menoleh pada Kyuhyun, “Maaf, aku harus menenangkan Ibuku. Bisakah kau menunggu?”

“Jangan cemaskan aku.”

Selepas itu, Mi Rae menuntun ibunya ke dalam kamar. Kyuhyun mulai mengitari ruang sederhana di dalam rumah Mi Rae. Tidak banyak benda di dalam rungan tersebut. Kyuhyun mendekati sebuah lemari, isi lemari tertata rapi di masing-masing rak. Ada beberapa foto yang terpajang di dalam pigura, foto ibu Mi Rae, foto seorang pria yang diyakini Kyuhyun adalah foto ayah Mi Rae. Kyuhyun tersenyum ketika melihat foto masa kecil Mi Rae. Beberapa menit berlalu dan Kyuhyun memutuskan untuk duduk bersila di hadapan sebuah meja. Ia membuka buku yang diambilnya dari tumpukan buku yang tertata rapi di sebuah rak kecil, tepat di pojok ruangan. Mi Rae memang sangat mencintai buku. Banyak sekali buku di dalam rumah itu.

Lima belas menit berselang, Mi Rae keluar dari kamar. Ia mendapati Kyuhyun yang sedang menopang dagu dengan sebelah tangannya yang di tumpu di atas permukaan meja. Ada sebuah buku yang terbentang di hadapan Kyuhyun, namun mata pemuda itu telah terpejam. Mi Rae melangkah pelan dan duduk di hadapan Kyuhyun. Sama seperti yang dilakukan Kyuhyun, Mi Rae menopang dagunya. Ia terus mengawasi wajah tampan Kyuhyun.

Mi Rae melepas topangan tangan di wajahnya, kedua tangannya kini memegang tepian meja. Ia membawa tubuhnya lebih mendekat kepada Kyuhyun. Jarak wajahnya dan wajah Kyuhyun sangat tipis, ia dapat melihat lebih jelas wajah tampan Kyuhyun yang terlihat begitu damai.

Kelopak mata Kyuhyun bergerak, perlahan kedua matanya mulai terbuka. Ia mengedip sekali dengan durasi yang cukup lama, lalu kembali mengedipkan matanya—nampaknya ia masih mengumpulkan kesadarannya. Detik selanjutnya Kyuhyun tersentak kaget ketika yang dilihat di hadapannya dengan jarak yang nyaris nihil itu adalah wajah Mi Rae. Kyuhyun hampir terpental ke belakang jika ia tidak bertopangan pada lantai.

“Kau lapar?” Mi Rae bertanya datar. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan. Melihat wajah tanpa ekspresi milik Mi Rae dalam posisi setengah sadar, Kyuhyun pasti sangat terkejut. Tak mengatakan apa-apa lagi, Mi Rae melesat ke dapur meninggalkan Kyuhyun yang masih berusaha untuk mengontrol permainan jantungnya.

Beberapa saat kemudian…

“Aku lupa berbelanja,” Mi Rae menatap lesuh pada ramyeon yang telah terhidang di atas meja.

Kyuhyun menarik mangkuknya, “Terima kasih,” ia langsung meraup ramyeon yang asapnya masih mengepul. “Kau tidak makan?” tanyanya setelah beberapa saat berlalu ia menyadari jika Mi Rae masih berdiam diri dan hanya menontonnya. Mi Rae pun mengambil sumpit dan mulai menelan ramyeon miliknya.

Bergantian Kyuhyun yang menatap Mi Rae, ia bahkan mulai mengabaikan ramyeon-nya, “Memantine itu milik Ibumu, bukan?”

“Hmm,” angguk Mi Rae sambil menelan ramyeon. Iya membenarkan dugaan Kyuhyun. Ibunya memang seorang penderita alzheimer. Mi Rae meletakkan sumpit, “Demi membuktikan pada mereka, aku berusaha keras untuk menjadi dokter. Masa depanku sungguh ada dan harapanku tak akan hilang—bukankah Tuhan selalu mendengar doa setiap umatnya? Dia punya cara tersendiri untuk menjawab doaku,” Mi Rae tersenyum tipis. “Melihat Ibuku menderita karena alzheimer, aku ingin Ibu sembuh. Setelah kupikir kembali, aku bahkan telah melupakan niat awalku memilih jalan ini. Mereka tidak begitu penting dan aku tidak berkewajiban untuk menunjukkan pada mereka, siapa aku sebenarnya. Aku sungguh ingin menolong orang-orang yang menderita seperti Ibuku, aku ingin mengurangi penderitaan mereka dan melihat mereka tersenyum kembali karena itu…karena itu, aku harus menjadi seorang dokter yang sesungguhnya.”

Untuk kesekian kalinya, Kyuhyun dapat melihat ketulusan Mi Rae. Niatnya begitu menyala-nyala untuk menolong orang lain.

“Meskipun terlambat menyadarinya, tapi inilah alasanku yang sebenarnya. Alasan mengapa aku ingin menjadi dokter,” Mi Rae tersenyum. Dibalik kekakuan Mi Rae yang berlebihan, ia justru menyimpan rasa peduli dan sebuah tanggung jawab yang sangat besar terhadap orang lain. Kyuhyun pun tersenyum, membalas senyuman Mi Rae.

 

~bersambung~

Ada beberapa hal yang mau saya sampaikan di sini.

Pertama-tama adalah ucapan terima kasih kepada Sophiemorore yang tiba-tiba saja memberikan kejutan. Apa itu? Kalian lihat poster ff ini? Jreeeengg…itu adalah hadiah dari Sophie. Muaaccchhhh!

Kedua. Mungkin lebih ke curcol – saya sangat yakin banyak dari kalian yang pasti pening baca percakapan Mi Rae & Kyuhyun waktu membahas masalah alzheimer. Sama sodara-sodara, saya juga mengalami hal itu. Mempelajari sesuatu yang bukan bidang saya, mencari perbandingan serta mencocokkan antara satu artikel dengan artikel lainnya. Wuiihhh, berasa lagi persiapan ujian. Jadi, mohon maaf kalau ada kekeliruan—harap dimaklumi -_-

Ketiga. Nah, ini nih.. haha tarik napas dalam-dalam. Karena satu dan lain hal selain saya belum melanjutkan part 5 (baru nulis sampai di kalimat sebelum kata bersambung), saya tidak bisa memposting ‘Drama Part 5’ dalam waktu dekat. Mungkin selama tiga atau empat minggu ke depan (bisa lebih) saya akan menghilang dari blog hehehe dan selama itu juga saya mungkin tidak membuka email, jadi mohon maaf kepada teman-teman yang jika dalam kurun waktu tersebut mengirim permintaan password by email. Bukan sesuatu yang disengaja, tapi saya pasti akan membalas email-email masuk begitu saya kembali aktif di dunia maya cieeee 😀

Yang terakhir. Seperti biasanya, saya meminta bantuan teman-teman untuk mengoreksi, memberikan kritik dan saran yang membangun. Oke, sekian dan terima kasih. Sampai jumpa di episode mendatang *lambai2*

Iklan

295 thoughts on “Drama (Part 4)

  1. My labila berkata:

    penasaran sama masalalunya mirae yang aa sangkut pautnya sama siwon. benar2 sedih baca part ini tidak terbendung lagi air mataku yang menetes #BahasaApaaIni wkwk…. nextt

  2. My labila berkata:

    penasaran sama masalalunya mirae yang ada sangkut pautnya sama siwon. benar2 sedih baca part ini tidak terbendung lagi air mataku yang menetes #BahasaApaaIni wkwk…. nextt

  3. ina berkata:

    kerennnnnn ternyata semua ini menyangkut alzheimer..
    pas smk saya pernah mempresentasikan tentang penyakit ini.., dan tentang penyembuhannya memang masih misterius, belum ditemukan, ada pengobatannya.. tapi itu hanya memperlambat perkembangan penyakit itu aja.. yang pasti itupun sangat di syukuri..
    mmm… apa jangan2 yang ngomong kasar sama mi rae itu ‘salah satunya’ siwon yah?? (so tau) hehe
    keren !!! serasa lagi nonton drama.. penjelasan nya rinci, ga hanya sekedar membuat fanfiction

  4. Ira berkata:

    Apa hubungan mirae dan siwon
    Penasaran jadinya

    Ngomong” sedikit pusing tentang penjelasan soal ilmu kedokteran
    Maklum bukan orang kedokteran
    Hehehe

  5. JaemiJhe berkata:

    Jadi itu alasan sebenarnya mirae..
    Kasian dia..
    Semoga aja dia nanti nya ga kaya ibunya..
    Apalagi faktor keturunan bisa aja..

  6. lenara berkata:

    nah itu udah terbuka satu persatu teka teki pantas ibu min rae aneh haha. . ijin bca next nya ya kx

  7. Clara Putri berkata:

    Wihh jadi itu alasan mirae, mulia sekali. tapi kasian ibunya ternyata yg terkena penyakit:(( terus alesan kyuhyun juga dikejar kejar kenapa yaaa?? Emang anggota mafia kah? Wkwkwkwk makin penasaran

  8. mencho berkata:

    Gue penasaran,sebernanya kyuhyun itu siapa???
    Jangan2 dia kabur dari rumag terus orang2 yang ngejar dia bodyguardnya lagi yang di suruh ayahnya buat bawa kyuhyun pulang… *asal nebak*

  9. noebita berkata:

    Apa mungkin kyu dikejar2 orang suruhan keluarganya? Siwon apa dia pacarnya mi rae ? Trus mereka putus gara2 ibu mi rae mengidap penyakit dan gak direstui ma keluarga siwon? Mungkinkah jalan ceritanya seperti itu ??

  10. aulia fitri berkata:

    Serius ibunya mi rae alzeimer kemungkinan mirae kena juga ada dong?? Hahhhh jdi penasaran sma yang ngejar ngejqr kyuhyun
    👍

  11. Chokyuangel berkata:

    Ada hub apa antara mirae dgn siwon ya?semangat trus da mirae semoga jd dokter yg hebat….

  12. Cc berkata:

    sedih bgt hidupnya mi rae,,,, hiks,,, hiks,,,,,
    kirain tadinya mi rae yg alzheimer , tau nya ibunya,….
    jd penasaran baca lanjutannya

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s