Drama (Part 5)

Drama (Part 4)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Laboratorium anatomi sudah dicap oleh kebanyakan mahasiswa kedokteran sebagai tempat paling sakral di kampus. Professor Kang, sedang memberikan pengarahan kepada mahasiswa. Seperti biasanya, mereka akan melakukan pembedahan pada mayat.

Disela-sela penjelasannya yang agak nyentrik, Professor Kang mencomot sebuah permen lolipop. Sedetik, permen itu langsung memenuhi rongga mulutnya. Suaranya pun terdengar berbeda karenanya. Ia tak peduli ketika pandangan yang ditujukan padanya nyaris terkesan jijik. Bagaimana mungkin tidak, ketika ia menerima telepon beberapa saat lalu, meskipun belum sempat dikulum, lolipop yang sudah terbuka itu ia letakkan di atas meja tempat terbaringnya cadaver yang telah melalui beberapa tahap praktikum anatomi, sudah pasti kondisi si cadaver tak bisa lagi disebut sebagai mayat utuh. Sadar atau tidak—Professor Kang telah berhasil membuat sebagian besar mahasiswa kehilangan selera makan.

“Tegar dan tidak mudah jijik adalah hal penting yang harus dilatih dan tanamkan dalam diri kalian saat kalian memutuskan menjadi seorang dokter,” ucapan itu terlontar ketika ia melihat ekspresi ganjil di wajah para mahasiswanya.

Yah, apa pun yang ada di kepalanya dapat ia ungkapkan. Toh, para mahasiswa itu tak bisa—mungkin tak sempat—membalas perkataan dosen yang digelari sebagai dosen tergila di Fakultas Kedokteran.

Lincah dan nyaris berkeliaran di depan mahasiswa, begitulah cara Professor Kang memberikan materi. Langkah pria itu tertahan, di antara puluhan pasang mata yang begitu serius mengawasinya—ada seseorang yang sepertinya tidak sedang berada pada frekuensi yang sama.

“Baek Mi Rae!”

Mi Rae tercekat saat dengan lantang namanya diteriakkan Professor Kang. Ia mungkin bisa terjengkang jika tidak mencengkram lengan Jin Ae sebagai sebuah bentuk kamuflase demi mempertahankan keseimbangan tubuhnya.

“Kau baik-baik saja?” Mata Professor Kang kian menyipit, apalagi gelagat Mi Rae barusan membuatnya semakin curiga. “Kau bisa beristirahat jika tidak sedang enak badan,” katanya yang mengundang rasa iri para mahasiswa. Bagaimanapun, Baek Mi Rae masih termasuk dalam daftar mahasiswa yang ia perhitungkan.

Mi Rae menggeleng, “Aku baik-baik saja,” jawabnya dan terdengar sangat klise, tapi itulah jawaban terbaik yang dimiliki olehnya.

Meski masih terlihat meragukan penyangkalan Mi Rae, pria itu hanya mengangguk pelan, “Tugas dokter adalah melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan pasien, tapi dokter juga manusia, dokter pun berhak untuk sakit—bukan begitu?” pernyataannya disambut dengan derai tawa yang memenuhi ruang laboratorium.

*

Begitu keluar dari laboratorium, Han Jin Ae mengayunkan kakinya lebih cepat. Ia bergegas menyusuli Mi Rae yang sudah berada beberapa meter di depannya.

“Dia sakit,” lontar Jin Ae ketika berhasil menyamai langkah kakinya dengan Mi Rae, “Aku tidak sengaja mendengarnya dari Hyukjae ketika mereka berbicara lewat sambungan telepon,” tukasnya lagi setelah melihat Mi Rae mengedik, bingung.

“Apa?”

“Ck,” decak Jin Ae, ia tertawa heran. Heran dengan pertanyaan yang dilontarkan Mi Rae, “Cho Kyuhyun,” ia menarik napas dan membalas tarikan itu dengan sebuah tiupan hingga mempermainkan poni di dahinya. “Sadar atau tidak, matamu selalu mencarinya di tempat duduk kosong itu.”

“Bukankah itu artinya kau lebih sering melirik ke tempat favoritnya? Mengapa harus aku yang kau jadikan alasan?”

“Baek Mi Rae, kau tidak mungkin lupa dengan kejadian di lab tadi, kan? Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lamunkan? Bodohnya, si gila Kang justru menanggapinya berbeda. Kau sakit? Huhh!” Jin Ae mengomel tak jelas dan kemudian tertawa kaku. “Ayolah, aku sudah memperhatikanmu sejak tiga hari belakangan ini.”

Really?” Mi Rae terlihat takjub, menatap lebih dalam pada Jin Ae yang sumbu kesabarannya mulai terbakar, “Kau bahkan sudah repot-repot mengawasiku? Terima kasih, kau sangat baik Nona Han.”

“Sulit sekali bagi seorang Baek Mi Rae untuk mengakui itu,” Jin Ae menggeleng pelan, tak habis pikir. “Sudahlah, tapi tiga hari tak ke kampus, mungkin sakitnya cukup serius,” Jin Ae bergumam lagi, namun ekor matanya mencoba untuk menangkap ekspresi Mi Rae. Siapa tahu jika berpura-pura tidak melihat, mungkin saja Mi Rae dapat lebih leluasa untuk berekspresi, tapi rupanya Mi Rae memang sudah terlatih untuk menjadi seorang gadis yang datar. Jin Ae pun meringis dan desisannya terdengar hingga ke telinga Mi Rae, “Kau gadis menyebalkan!” teriaknya kesal sambil melangkah lebih cepat meninggalkan Mi Rae yang justru kebingungan karena tingkah Jin Ae. Meski Mi Rae tak tahu alasan sebenarnya mengapa Jin Ae merasa kesal, tapi bagi Mi Rae, sahabatnya itu memang selalu kesal padanya.

Mi Rae yang sempat terhenti karena memikirkan betapa labilnya emosi Jin Ae, justru terdiam lebih lama lagi. Tiba-tiba saja ia memikirkan sosok pemuda yang akhir-akhir ini mencoba mengusik pertahanan hatinya. Ya, Cho Kyuhyun memang sudah tidak terlihat di mata Mi Rae sejak tiga hari belakangan ini. Hari dimana Kyuhyun membawanya ke kafe hingga mereka harus melarikan diri dari kumpulan pria berpakaian hitam dan berakhir di rumah Mi Rae, itu adalah terakhir kalinya mereka bertemu.

Pelan sekali kaki Mi Rae mulai melangkah, perkataan Jin Ae bahwa mungkin saja keadaan Kyuhyun sangat serius kembali melintas di kepala Mi Rae. Gadis itu merasa jika ia bisa sedikit mempercayai Jin Ae, apalagi ia tahu jika Kyuhyun sedang dikejar-kejar oleh mereka—yang mungkin saja—adalah organisasi berbahaya. Bagaimana jika mereka telah melakukan sesuatu pada Kyuhyun?

Mendadak langkah Mi Rae tertahan. Apakah Kyuhyun benar-benar telah tertangkap? Sebenarnya siapa orang-orang itu? Lebih penting lagi—apa yang telah dilakukan Kyuhyun sehingga ia harus hidup seperti seorang buronan?

Cepat-cepat Mi Rae mengacak-acak isi tasnya. Ia meraih ponsel dan mulai sibuk dengan benda tersebut.

Apa kau baik-baik saja?

Belum sempat pesan itu terkirim, namun Mi Rae justru menghapusnya. Pertanyaan itu terlalu klise, pikirnya. Apa kata dunia jika pesan itu sampai diterima Kyuhyun? Kyuhyun pasti akan mengira kalau itu hanya sebuah alasan, lalu apa bedanya ia dengan gadis-gadis yang selalu mencari banyak cara demi mendekati Kyuhyun? Baek Mi Rae sontak menggeleng kasar dan kemudian mengetik kalimat lain.

Hei! Banyak tugas menunggumu!

Yang benar saja? Cho Kyuhyun orang yang sejenis dengan Einstein, Thomas Alfa Edison, Leonardo Davinci dan sebagainya. Pertanyaan itu terlihat lebih konyol daripada—apa kau baik-baik saja?—Mi Rae lantas membersihkan layar ponselnya. Atau mungkin ia harus mengatakan…

Semoga harimu menyenangkan.

Bahkan Mi Rae tak sanggup membaca kalimat itu untuk kedua kalinya. Seorang Baek Mi Rae yang hampir tak pernah memperlihatkan ketertarikan terhadap urusan orang lain, lalu tiba-tiba saja ia mengirimkan pesan yang tampaknya seperti sebuah pesan yang ditulis oleh seorang motivator. Oh come on, Kyuhyun pasti akan jatuh pingsan sesaat setelah membaca pesan itu.

Tangan Mi Rae masih begitu lincah merangkai kalimat-kalimat yang terlintas di kepalanya, lalu dengan sendirinya ia akan menghapus itu setelah merasa tak pantas. Ia memiliki begitu banyak pertimbangan, bahkan hanya untuk mengirim sebuah pesan singkat pun nampaknya menjadi sebuah pekerjaan besar baginya. Alasan yang sangat sepeleh untuk membuatnya frustasi.

Mi Rae lantas menggaruk kasar rambut di kepalanya karena tak kunjung menemukan kalimat yang tepat. Ia terdiam beberapa saat, memajukan wajahnya dan menatap lebih lekat lagi pada layar ponsel di depan matanya. Terkejut. Lebih terkejut lagi saat ia berusaha menghapus kalimat yang terbaca, namun tak berhasil dilakukan. Baek Mi Rae tercekat. Jantungnya berdentam kuat dan menghantam kasar dadanya. Ia tidak sedang bermimpi, tapi kalimat itu telah sukses terkirim. Ya, ia tanpa sadar melakukan itu dan jika ia tidak sedang sial beruntun, saat ini Cho Kyuhyun mungkin saja sedang membaca pesan tersebut.

“Ya Tuhan!” Mi Rae menjerit histeris. Panik adalah hal yang mampu ia lakukan. “Apa yang telah aku lakukan? Astaga!”

Mi Rae berjalan mondar-mandir di sekitar tempatnya berpijak sambil meremas-remas ponsel. Ia tak mempedulikan keheranan mereka yang kebetulan melintas, mereka yang baru pertama kali melihat Mi Rae berekspresi seheboh itu.

“Bagaimana ini?” Ia mengumpat pada salah satu pilar besar penopang bangunan yang menaunginya, hampir setengah memeluk pilar itu. “Aku pasti sudah gila,” katanya sambil mengetuk-ngetuk dahinya pada permukaan pilar. Ia melakukan itu berkali-kali. Rasanya ingin menangis, memikirkan apa yang akan ia katakan jika bertemu Kyuhyun. Mi Rae mendadak merasa jika tidak ada yang lebih baik daripada mati.

“Kau mengakuinya?”

Suara yang menyambangi telinga Mi Rae membuat jantungnya lumpuh sesaat. Ia tak mungkin salah mengenali suara bas itu. Semakin jelas keterkejutan Mi Rae ketika menoleh dan mendapati pemuda yang sedang memamerkan senyum sumringahnya yang begitu mekar.

“Jika kau mulai menggila?”

Mi Rae sudah tak mampu berkutik, bahkan mengatakan sepatah dua patah pada Kyuhyun pun lidahnya terasa kelu.

“Karena aku?”

Lagi-lagi Kyuhyun bertanya. Senyumnya kian lebar hingga deretan giginya mulai terlihat jelas. Baek Mi Rae tak mengerti arti senyuman Kyuhyun. Apakah Kyuhyun telah membaca pesan itu? Tapi Kyuhyun tak memberikan reaksi yang berkaitan dengan pesan singkat Mi Rae beberapa saat lalu.

Kyuhyun mengebaskan tangannya di depan wajah Mi Rae, “Baek Mi Rae, kau masih di situ?” tanya Kyuhyun setengah meledek.

“Di mana ponselmu?” tanya Mi Rae blak-blakan.

“Ponselku?” Kyuhyun mengulangi pertanyaan Mi Rae. “Kenapa?” tanyanya lagi, ia menatapi Mi Rae yang kesulitan berkata-kata, gadis itu sedang mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Kyuhyun. Sorot mata Kyuhyun mulai berubah, “Hei~ apa kau tidak percaya padaku? Kau pasti ingin memeriksa dengan siapa saja aku berhubungan,” goda Kyuhyun.

Terdiam. Mi Rae tak bisa berkutik lagi. Entah itu serius atau tidak, tapi guyonan Kyuhyun terasa ganjil di telinga Mi Rae. Seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih.

“Bukan begitu,” Mi Rae mengelak. Ah, mengelak? Mengapa ia harus repot-repot mengelak? Toh, tidak ada yang spesial dengan hubungan mereka. “Ke mana saja kau tiga hari ini?” detik selanjutnya Mi Rae tersedak. Ia tak percaya dengan pertanyaan terakhirnya. Bukankah itu artinya ia sedikit membenarkan bahwa hubungan mereka lebih dari sekedar teman? Dan kini ia terlihat seperti seorang gadis yang sedang kesal karena tidak diberi kabar oleh kekasih hatinya. “Mengapa, mengapa kau tersenyum?” Mi Rae gelagapan.

“Aku senang,” jawab Kyuhyun singkat. “Baek Mi Rae sedang mengkhawatirkanku,” senyumannya yang tulus dan lembut mampu membungkam mulut Mi Rae. “Jangan cemas, aku tidak akan tertangkap oleh mereka. Aku hanya demam—dan lagi, sepertinya aku melupakan ponsel di rumah,” ia tetap melanjutkan penjelasannya, tak peduli jika Mi Rae mau atau tidak mendengar itu. Kyuhyun memang terlihat lebih pucat dari biasanya.

***

Keesokan harinya barulah terjadi kegemparan, lebih tepatnya kegemparan yang ditimbulkan oleh Jin Ae. Jin Ae yang baru saja tiba di kampus, langsung memberondong Mi Rae dengan pertanyaan yang kemudian dijawabnya sendiri dengan analisis-analisisnya.

“Itu sangat aneh,” dahi Jin Ae berkerut. “Kau sendiri melihatnya, kan?” ia menatap lekat Mi Rae. Sorot matanya sedang meminta Mi Rae untuk mengangguk. Jangankan mengangguk, Mi Rae lebih memilih untuk membaca buku—yah, alasan yang selalu sama—ia sepertinya sedang menghindari pertanyaan-pertanyaan Jin Ae.

Jin Ae dan banyak gadis menjadi gempar karena sesuatu yang di-posting Kyuhyun di SNS.

“Kyuhyun meng-upload sebuah foto, itu adalah sebuah pesan yang di screenshot,” Jin Ae mengawasi layar ponselnya. Ia melihat apa yang di-posting Kyuhyun di akun media sosial pemuda itu. “Orang gila siapa yang melayangkan pertanyaan seperti itu?” Jin Ae mendadak emosi.

“Aku tak tahu,” jawab Mi Rae. Ia berusaha untuk menyembunyikan kegugupan dari nada bicara.

Kau masih hidup?” kalimat yang dibacakan Jin Ae membuat kepala Mi Rae langsung tertunduk lemas. Tidak mungkin ia mengatakan pada Jin Ae bahwa itu adalah kalimat yang secara tidak sengaja ia kirimkan pada Kyuhyun. “Segila-gilanya si pengirim pesan itu, tapi aku rasa Cho Kyuhyun jauh lebih gila darinya. Mengomentari foto yang di-upload­-nya hanya sebuah karakter? Dia pasti sudah tidak waras,” celoteh Jin Ae, sementara Mi Rae semakin menundukkan kepalanya. Jin Ae yang sejak tadi mengawasi Mi Rae mendadak curiga dengan gelagat aneh gadis itu. “Baek Mi Rae,” alis Jin Ae saling bertaut. Otak sok detektifnya sedang bekerja, “Pesan itu, jangan-jangan—”

Mi Rae yang menghebuskan napas berat disertai dengan bahasa tubuhnya yang begitu lunglai dan itu segera membelalakkan mata Jin Ae.

“Jadi, benar kau yang mengirimkan pes—hmmppp!!”

Tanpa ampun, Mi Rae membekap mulut Jin Ae sebelum telinga-telinga lain mendengarnya. Ia harus berhati-hati, bukankah tembok pun bertelinga?

“Hmmppp..!!”

Jin Ae memberi kode pada Mi Rae agar melepaskan bekapannya. Mi Rae terlihat ragu jika Jin Ae masih akan berteriak heboh, namun Jin Ae berhasil meyakinkan Mi Rae dengan menggeleng. Ia berjanji tidak akan melakukan itu.

“Jadi—” Jin Ae berusaha mengatur pernapasannya yang terganggu, sirkulasi udara di dalam tubuhnya berantakan. “Apa-apaan pertanyaanmu itu?”

“Aku tidak bermaksud begitu.”

“Aku tahu kau tidak pandai dalam hal asmara, seharusnya kau meminta bantuanku.”

“Aku bahkan tak berniat untuk mengiriminya pesan.”

“Kau masih bisa mengelak? Apakah hatimu juga sejalan dengan bibirmu?”

“Ah, sudahlah. Aku malas beradu argumen denganmu,” kesal Mi Rae. “Bagaimana kau tahu itu aku?”

“Karena karakter hati yang diselipkan Kyuhyun pada postingannya itu,” ungkap Jin Ae. Cho Kyuhyun memang tidak menuliskan apa-apa, ia hanya menyertakan karakter ♥ pada screenshot pesan Mi Rae yang ia upload di akun SNSnya.

“Kau bercanda,” Mi Rae sama sekali tak meyakini analisa Jin Ae. Ia merasa jawaban Jin Ae sangat konyol.

“Cho Kyuhyun telah memberikan pernyataan resmi bahwa gadis yang dia sukai adalah dirimu,” perkataan Jin Ae yang dinilai Mi Rae terlalu over membuat Mi Rae memutar bola matanya. “Jika dia sampai memposting sesuatu yang menjelaskan bahwa dia sedang kasmaran—kau pikir siapa lagi yang akan aku pikirkan jika bukan kau?”

“Dia tidak benar-benar serius dengan itu.”

“Mi Rae, memang benar jika antara hati dan mulutmu tidak ada yang sejalan. Kau mulai bermasalah dengan kejiwaan. Apa kau tidak cemas?”

Whatever,” Mi Rae mencibir dan kembali menatapi tulisan yang tertera di permukaan lembaran buku terbuka di hadapannya. Han Jin Ae yang sedang menyapu dada tak menyadari jika sorot mata Mi Rae tak sepenuhnya menangkap jelas maksud tulisan dari buku yang dibacanya, pikirannya telah berkelana.

“Bolehkah aku bergabung dengan kalian?”

Jin Ae yang begitu mengagumi makhluk-makhluk tampan menjadi begitu tersipu ketika Siwon menghampiri mereka di dalam ruang perkuliahan yang belum begitu ramai.

“Aku mau ke perpustakaan,” Mi Rae berkata tanpa melihat Siwon, “Jangan tanya kenapa! Kau tak ingat dengan tugas menumpuk itu?” ia membalas tatapan mata Jin Ae, sepertinya tahu apa yang hendak ditanya oleh Jin Ae.

“Mi Rae,” Siwon menghadang langkah kaki Mi Rae. “Bagaimana jika kita mengerjakan tugas bersama?”

“Tidak, terima kasih.”

“Kalau begitu, aku hanya akan menemanimu.”

“Kau akan membuang waktumu.”

“Tidak mungkin itu termasuk dalam pemborosan waktu,” Siwon tersenyum, “Aku ingin menghabiskan banyak waktu denganmu.”

“Tapi aku tidak!”

Siwon tertegun. Sorot mata Mi Rae serasa mengunci tubuhnya. Gadis itu sangat tidak bersahabat. Begitu sulit untuk didekati.

“Aku minta maaf.”

Mi Rae menatap tajam pada Siwon yang justru menunduk. Pemuda itu perlahan mengangkat wajahnya, kini tatapannya dan Mi Rae saling bertemu.

“Baek Mi Rae, maafkan aku.”

Mereka berdua terdiam cukup lama. Mulut Mi Rae masih terkatup rapat.

“Katakanlah sesuatu, apa pun itu.”

“Kau begitu menginginkan pengampunan dariku?” Mi Rae bertanya datar. “Mengapa? Kau merasa bersalah padaku? Kau menghabiskan tujuh tahun hidupmu dalam penyesalan? Bisakah aku bisa mempercayai itu?” ia menyerang Siwon dengan pertanyaan beruntun, namun tak memberikan kesempatan pada Siwon untuk sekedar menjawab salah satu dari pertanyaan-pertanyaannya. “Baiklah. Kau mendapatkannya!”

Mi Rae melangkah dan sedikit mendorong tubuh Siwon agar bergeser dari pandangan matanya. Siwon tampaknya belum puas, ia mengejar Mi Rae dan melakukan hal yang sama. Berdiri di hadapan gadis itu.

“Aku sudah mengatakan apa yang ingin kau dengar,” ungkap Mi Rae, namun Siwon belum juga beranjak. “Kau masih tak mengerti? Aku memaafkanmu.”

“Kau tidak sepenuhnya memaafkanku.”

Baek Mi Rae menarik napas kesal. Ia lalu meletakkan tangannya di atas kepala Siwon, “Choi Siwon, aku memaafkanmu,” ungkapnya dan itu membuat Siwon bergeming. “Jadi, bolehkah kau membiarkanku pergi?”

Mi Rae tak menunggu respon Siwon untuk membiarkan kakinya melangkah. Siwon menyentuh kepalanya, dadanya bahkan berdebar-debar karena sentuhan Mi Rae masih membekas. Ia membalikkan tubuhnya, menatapi Mi Rae yang berjalan kian menjauh dan segaris senyum tipis mulai tergurat dari bibirnya.

Perpustakaan? Baek Mi Rae bahkan tidak mengarahkan kakinya ke tempat itu berada. Ia justru berjalan melintas di salah satu bagian taman di area kampus. Mi Rae tiba di sebuah gedung besar, ia melangkahkan kakinya memasuki gedung tersebut hingga tiba di sebuah hall. Hall tersebut adalah lapangan basket indoor, tumben sekali lapangan full court itu begitu sepi, padahal biasanya di situ ramai oleh aktivitas club basket.

Mi Rae menjajaki lantai kayu parkit di arena basket yang berukuran standar FIBA. Ia berjalan hingga ke tribune dan duduk di salah satu seat yang ada di tribune hall basket tersebut. Gadis itu menengadahkan kepala. Tangannya yang lunglai seakan jatuh begitu saja.

“Baek Mi Rae!”

Jin Ae memegangi lutut dengan kedua tangannya, meletakkan beban tubuhnya di sana.

“Kau siluman?”

Jeritnya lagi, dadanya naik-turun karena napas yang tidak beraturan. Ia seperti seseorang yang terlihat baru saja menyelesaikan lari maraton.

“Mengapa sulit sekali untuk sendirian?” Mi Rae mendesah kasar lalu membuang pandangannya pada Jin Ae yang kini sedang menghampirinya.

“Kau masih tak mau mengatakan apa pun padaku?” tanya Jin Ae, begitu ia duduk di sebelah Mi Rae.

“Dan kau berlari ke sini hanya untuk itu?”

“Rasanya aku akan mati penasaran karenamu,” lototan tajam mata Jin Ae seakan ia telah berniat untuk menelan Mi Rae hidup-hidup. “Kau tahu, kau selalu saja membuatku kesal. Mengapa kau tidak sedikit pun berbicara tentang Siwon? Aku sungguh akan—”

“Aku menyukainya.”

Jin Ae hening begitu mendengar perkataan Mi Rae yang terdengar sangat ringan. Ia menatap Mi Rae intens, seakan tak percaya dengan apa yang didengar barusan. Mi Rae bersandar, ia tersenyum tipis pada Jin Ae yang bahkan belum berkedip sejak pernyataannya tadi.

“Kau tidak salah dengar, Jin Ae,” Mi Rae tetap tenang, berbeda dengan Jin Ae yang jantungnya pasti berdentam hebat. “Aku memang pernah sangat menyukai orang itu.”

Sorot mata Mi Rae mendadak begitu kosong. Senyum tawarnya bermakna sejuta arti yang rasanya sulit dikuak oleh otak Jin Ae. Han Jin Ae tak mampu menggerakkan mulutnya. Sebenarnya, penuturan Mi Rae membuatnya semakin ingin banyak bertanya, tapi entah kenapa ia justru tak dapat mengatakan apa pun. Melihat tatapan dan ekspresi Mi Rae, ia tahu jika ada sesuatu yang sangat membekas di hati Mi Rae. Luka bisa disembuhkan, tapi bukan berarti luka itu tidak meninggalkan bekas.

Jin Ae terdiam di sisi Mi Rae yang masih menerawang jauh. Jin Ae tak bisa menerka persis apa yang dipikirkan oleh Mi Rae, tapi Jin Ae tahu jika itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan seorang pemuda yang bernama Choi Siwon.

“Kau tahukan jika hari ini adalah ulang tahunku?”

“Iya, selamat ulang—”

“Simpan ucapanmu untuk nanti.”

“Siwon, aku—”

“Jangan pikirkan apa yang akan kau kenakan. Aku sangat berharap, aku akan melihatmu di pesta nanti. Salah, kau memang harus datang.”

“Aku hanya merasa bahwa tidak seharusnya aku berada di situ.”

“Pesta itu tidak akan ada artinya jika tak ada kau. Nanti malam, ada sesuatu yang akan aku katakan padamu. Baek Mi Rae, kau harus datang!”

***

Mi Rae sedang bersiap-siap ke kampus ketika pintu kamarnya terbuka. Ibunya tiba-tiba saja masuk sambil memeluk boneka beruang coklat yang hampir tidak pernah dilepaskannya.

Eonni—kau mau ke mana?”

“Aku harus kuliah, Bu,” jawab Mi Rae sambil mengancing kenop kemeja putih yang sedang ia kenakan.

“Apakah kau harus pergi?” pertanyaan itu dijawab dengan anggukan yang disertai oleh senyum tipis Mi Rae. “Ah, bagaimana jika kau tidak pergi hari ini? Kau akan dihukum?”

“Ibu, ada apa? Ibu takut sendirian?” Mi Rae menghampiri ibunya, menuntun wanita itu untuk duduk di sebuah kursi. Ia berlutut di hadapan ibunya, “Tidak lama lagi Bibi Jung akan datang. Riri pun akan menemani Ibu,” Mi Rae tersenyum sambil membelai kepala boneka beruang dalam dekapan ibunya.

“Bukan, bukan itu,” ia menggeleng. “Akan lebih naik jika hari ini Eonni tetap di sisiku, aku takut jika kita tidak bertemu.”

“Ibu, aku tidak ingin meninggalkanmu sendiri, tapi hari ini aku harus pergi. Hanya sementara, Bu.”

Mi Rae tersenyum hangat, mencoba untuk mengurangi kegelisahan yang dialami ibunya.

“Tapi,” wanita itu terdiam, “Pulanglah lebih cepat.”

“Baiklah, hari ini aku tidak akan kerja sambilan.”

Eonni, kau harus menepati janjimu,” katanya sambil mengacungkan jari kelingking.

Mi Rae menyambut itu dengan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking ibunya, lalu mereka saling menepelkan ibu jari. “Janji,” Mi Rae tersenyum mekar.

Meski terlihat berat hati, namun wanita itu tetap membiarkan Mi Rae pergi. Beruntung Bibi Jung segera tiba sehingga Mi Rae bisa lebih tenang meninggalkan ibunya yang mendadak bertingkah aneh. Ibunya memang kerap kali bersikap manja, tapi tidak pernah ia memaksa Mi Rae untuk tetap menemaninya.

Dengan jasa bus, Mi Rae akhirnya tiba di kampus. Ia berbaur bersama dengan mahasiswa lainnya. Ponsel yang bergetar di dalam tas membuat Mi Rae merogoh isi tas dengan tangan kanannya. Orang yang meneleponnya adalah Cho Kyuhyun. Mi Rae baru saja hendak menerima panggilan masuk itu ketika melihat Siwon berjalan secara sengaja menghampirinya. Mi Rae berhenti ketika Siwon telah berdiri di hadapannya, seolah memonopoli seluruh area di situ dan Mi Rae tidak diperkenankan untuk melewatinya. Ya, Mi Rae pun tahu jika pemuda yang sedang memamerkan lesung pipinya itu adalah anak dari—boleh dibilang—pemilik kampus, tapi tetap saja ia tidak berhak menghalang-halangi langkah Mi Rae seperti yang ia lakukan saat ini.

“Apa lagi?” Mi Rae mulai bosan dengan situasi seperti itu.

“Aku ingin memulainya lagi denganmu.”

Apa yang dikatakan Siwon kontan saja merubah raut wajah Mi Rae. Ia terdiam, begitu pun dengan Siwon. Ada aliran aneh yang terpancar dari tatapan mata mereka.

“Mengapa?” Mi Rae bertanya kaku. Kini ia terlihat jauh lebih dingin dari sebelumnya.

“Mungkin kau tidak percaya, tapi sejak kejadian itu aku menghabiskan banyak waktu memikirkanmu. Ketika kau mulai berubah dan perlahan menjauhiku, aku menjadi sangat kesal. Aku tidak bisa melupakan sorot matamu yang begitu terluka. Kita tidak pernah lagi saling bicara sampai pada hari kelulusan,” Siwon berbicara panjang lebar, ia sangat serius. “Aku ingin memperbaiki hubungan kita.”

“Choi Siwon, mungkin kau keliru atau lupa—tapi, saat itu kita hanya berteman, bukan begitu? Ah, kita bahkan tidak benar-benar berteman. Aku hanya sangat beruntung karena aku tiba-tiba saja menjadi begitu dekat denganmu. Lalu hubungan seperti apa yang kau inginkan dariku?”

“Aku menyukaimu, Mi Rae.”

Mi Rae terdiam, ia lalu tersenyum tipis, “Ya, dulu aku mengira kau menyukaiku.”

“Saat ini pun aku menyukaimu. Kau yang periang dan sangat bersemangat.”

Tubuh Mi Rae berguncang karena menahan tawa. Ia membuat Siwon terpaku karena tiba-tiba tertawa seperti baru saja menyaksikan sesuatu yang mengocok perut. Tawa yang tak berlangsung lama itu tergantikan dengan raut datar wajah Mi Rae. Siwon bahkan bergidik melihat perubahan ekspresi gadis itu.

“Periang dan bersemangat?” Mi Rae bergumam, ia lalu menatap langsung ke manik mata Siwon. “Hei~ kau tahu seperti apa mereka menyebutku sekarang?” ia bertanya dan sorot matanya mendadak terasa seperti pisau yang menembus jantung Siwon. “Baek Mi Rae, si gadis datar. Baek Mi Rae, si gadis kaku. Baek Mi Rae, si gadis misterius. Baek Mi Rae, si gadis menyebalkan. Oh ya, aku bahkan adalah Baek Mi Rae, si gadis drama. Kedengarannya lucu, benar?” Mi Rae membuat Siwon semakin tak bisa berkata-kata. Siwon tak tahu harus memulainya dari mana. “Perhatikan sekelilingmu. Jika kau terus mengejarku, maka tak lama lagi aku akan menjadi Baek Mi Rae, si gadis pengganggu.”

Ya, bukan tidak mungkin jika Mi Rae akan dicap sebagai pengganggu. Para gadis di kampus tak lupa jika Cho Kyuhyun menolak mereka karena Mi Rae. Kini Siwon melakukan hal yang sama, Mi Rae yakin gadis-gadis itu tak akan senang. Masa bodoh dengan gadis-gadis itu, Mi Rae hanya ingin hidupnya tenang.

“Kim Yoo Jo, bagaimana kabarnya?”

“Mi Rae—”

“Aku memaafkanmu, tapi bukan berarti aku ingin menata ulang hubungan kita,” Mi Rae berbalik dan berjalan meninggalkan Siwon di belakangnya. Pemuda itu menarik napas dalam dan menghembuskan kasar napas yang ia kumpulkan di rongga dadanya tadi.

*

Siang harinya, Choi Siwon sedang berada di perpustakaan. Ia melangkah pelan di antara rak-rak buku yang berjejer. Matanya terus menyimak judul yang terpampang pada buku yang berbaris rapi ditiap rak. Lengkungan bibirnya yang tersenyum hingga turut serta memamerkan lesung dikedua belah pipinya tampak jelas ketika ia menemukan apa yang ia cari. Setelah menarik sebuah buku dari rak, Siwon segera beranjak. Ia berjalan ke sebuah tempat, meletakkan buku di atas meja sambil duduk dan kemudian ia mulai membuka buku demi mengulas lebih lanjut isi buku tersebut.

“Hoaahh, tugas sebanyak ini—di mana otak mereka?”

Keluhan itu terdengar setelah beberapa menit ketika Siwon mendekam di sudut ruang perpustakaan, tepat di sisi jendela yang membingkai jelas view dari lantai 3 tempat perpustakaan itu berada. Siwon mengumbar senyum tipisnya. Memang benar, para dosen sepertinya sangat bahagia melihat mereka tersiksa dengan segudang tugas yang diberikan.

“Kedokteran memang sangat mengerikan, bukan begitu?”

Siwon yang sejak semula hanya fokus pada buku akhirnya mengangkat kepala. Ia menoleh ke kiri dan kanan, kebanyakan mahasiswa di dalam perpustakaan duduk menyendiri. Siwon lalu menoleh pada pemuda yang duduk di hadapannya, pemuda yang tadi seolah sedang mengajaknya berbicara.

Pemuda itu, Cho Kyuhyun hanya tenang membolak-balik buku tanpa disertai minat untuk meneliti buku itu—terlebih earphone yang menyumbat telinganya membuat dahi Siwon sedikit berkerut. Di mata Siwon, orang itu tak terlihat serius belajar.

“Mungkin sebaiknya sejak awal aku memilih seni,” keluh Kyuhyun, masih mengomel pada lembaran halaman buku. Tangannya terhenti, ia seakan tersadar lalu melirik pada Siwon yang masih memamerkan kerutan tipis di dahi, ditambah lagi sebelah alis Siwon terlihat lebih tinggi dari alis yang satunya. “Ah, maaf. Aku hanya sedang kesal,” senyum simpul Kyuhyun.

“Aku tahu,” Siwon tertawa pelan. Jelas ia paham dengan apa yang sedang dikesalkan Kyuhyun. Siwon yang telah mengumpulkan konsentrasinya pada buku, mulai merasa terganggu. Benar saja, ketika ia mengangkat kepala—Kyuhyun justru sedang mengawasinya lekat. “Ada apa?” Siwon bertanya, ia merasa janggal dengan tatapan Kyuhyun.

“Benar. Kau orangnya,” Kyuhyun mengangguk-angguk seolah sedang membenarkan sesuatu yang awalnya tampak samar di dalam kepalanya.

Siwon mengarahkan telunjuk pada dirinya sendiri, “Aku? Kau mengenalku?”

Kyuhyun tersenyum tipis, “Mengapa kau selalu berada di sekitar Baek Mi Rae?” pertanyaan yang dilontarkan secara lugas dan ringan itu cukup mengejutkan Siwon. Belum sempat ia membalas perkataan Kyuhyun saat Kyuhyun kembali berkata, “Bisakah kau berhenti melakukan itu?”

Siwon bergeming. Ia memandang lurus pada Kyuhyun yang tetap terlihat tenang. Otaknya mulai bekerja dan ia menyadari jika pemuda yang duduk di hadapannya adalah orang yang saat itu—entah secara sengaja atau tidak—pernah menengahi saat ia berbicara dengan Mi Rae.

“Apa hubunganmu dengan Mi Rae?” Siwon bertanya. Ia merasa tak nyaman sekalipun Kyuhyun hanya memamerkan sikap santai. “Apa kau tahu jika aku dan Mi Rae—”

“Aku tidak peduli masa lalu seperti apa yang kau miliki dengan Mi Rae,” sangat cepat, Kyuhyun memotong perkataan Siwon. “Tapi saat ini, Mi Rae sepertinya tidak ingin terlibat denganmu. Sebagai seorang pria, bisakah kau menghormati keputusannya?” kedua orang itu kembali saling bertatapan dengan durasi yang cukup lama. Kyuhyun menutup buku lalu beranjak, “Maaf, aku hampir lupa. Aku Cho Kyuhyun. Senang berkenalan denganmu, Choi Siwon, kan? Semoga kita bisa bersahabat,” Kyuhyun tersenyum lagi dan pergi, membiarkan Siwon sendiri dalam kebisuan.

Tepat sekali, saat Kyuhyun baru saja menutup pintu perpustakaan, Baek Mi Rae melintas tak jauh di depannya. Kyuhyun tersenyum lebar. Sambil berlari kecil, ia menghampiri Mi Rae dan berjalan di sisi gadis itu. Mi Rae hanya menoleh sebentar dan kembali menatap lurus ke depan.

“Mengapa kau terus mengekoriku?” Mi Rae akhirnya membuka mulutnya. Ia merasa terganggu karena Kyuhyun masih mengikuti langkah kakinya.

“Ah, Baek Mi Rae. Di sini kau rupanya? Kupikir aku sedang berjalan sendiri,” kilah Kyuhyun. Mi Rae tahu jika pemuda itu sedang meledeknya. Pasalnya, mereka berdua terus berdiam diri. “Hei, aku mengira mungkin saja kau masih penasaran,” ia tersenyum. “Kau lihat? Aku masih hidup,” senyumnya lebih lebar lagi, ia sedang menggoda Mi Rae dan dibalas dengan tatapan kesal gadis tersebut.

“Baiklah,” Mi Rae berhenti dan langsung menghadap Kyuhyun, “Aku memang tidak sengaja mengirim pesan itu dan aku akui, aku sangat malu karenanya. Jadi, bisakah kita tidak mengungkit itu lagi?”

Kyuhyun tersenyum. Ia lalu meletakkan kedua tangannya di depan perut dan kemudian ia membungkukkan tubuhnya, “Whatever you want, Your Majesty.”

Mi Rae segera mengayunkan kakinya. Ia berharap Kyuhyun berhenti mengikutinya, tapi ia akhirnya pasrah. Cho Kyuhyun masih setia berjalan di sisinya.

So, ke mana kita hari ini?”

“Kita?” Mi Rae sekejap menoleh pada Kyuhyun. Pemuda itu mengangguk. “Pulang,” lanjut Mi Rae, singkat.

“Kau tidak tahu hari apa ini?” pertanyaan itu membuat Mi Rae kembali menatapi Kyuhyun. Pandangannya sedang berkata—ayolah, kau tidak sedang bercanda, kan?—namun Kyuhyun hanya menunjukkan keseriusannya. “Semua orang tidak akan melewatkannya.”

“Pengecualian aku. Aku akan tetap pulang.”

“Baiklah. Maafkan aku.”

“Untuk apa?”

Kyuhyun tak menjawab Mi Rae, ia hanya tersenyum lebar dan langsung memegang pergelangan tangan Mi Rae.

“Apa maumu?” gadis itu kebingungan dan berusaha untuk membebaskan dirinya. “Cho Kyuhyun!” tapi Kyuhyun tidak memberikan cela sedikit pun padanya. Kyuhyun terus menariknya, membawanya ke parkiran. Kyuhyun membuka mobil berwarna biru milik Hyukjae, memaksa Mi Rae masuk ke dalam mobil dan kemudian ia pun masuk ke mobil itu.

“Sayang sekali, kau sulit sekali diajak secara baik-baik,” kata Kyuhyun, sesekali menoleh pada Mi Rae yang sedang mempertontonkan ketidaksenangannya, “Aku sudah meminta maaf terlebih dahulu.”

“Apa yang sedang kau lakukan? Kau akan meminjamku lagi? Kau pikir aku—”

“Aku sedang menculikmu,” Kyuhyun mengulas senyum simpul.

“Cho Kyuhyun, sebaiknya turunkan aku sekarang juga!”

“Nona Drama, aku adalah pencuri yang baik hati. Jangan cemas, setelah ini aku akan mengantarmu pulang.”

“Tapi aku—”

“Tidak!” Kyuhyun lebih dulu menolak sebelum Mi Rae menuntaskan perkataannya.

Baek Mi Rae sangat kesal, ia menghempas kasar tubuhnya ke jok yang ia duduki. Rasanya ingin sekali menghajar pemuda yang duduk di sampingnya itu. Kyuhyun hanya bersiul pelan, seakan ia tak peduli pada kemarahan Mi Rae.

Kyuhyun mendekati Mi Rae dan dibalas dengan Mi Rae yang menjauhkan wajahnya karena betapa tipisnya jarak di antara mereka. Kyuhyun tersenyum, lalu memasang sabuk pengaman Mi Rae dan setelah memasang sabuk pengamannya sendiri, ia pun mulai mengemudikan mobil itu.

“Kenapa kau tadi?” tanya Kyuhyun setelah mereka meninggalkan area kampus.

“Kupikir kau akan menciumku.”

Jawaban ringan Mi Rae yang terdengar blak-blakan sungguh mengejutkan Kyuhyun. Ia tertawa terpingkal-pingkal.

“Baek Mi Rae, kau pikir aku akan menerkammu seperti hewan buas?” Kyuhyun masih saja tertawa, Mi Rae memang sangat unik. Orang lain tidak akan mungkin mengatakan jawaban seperti itu dengan cara yang terdengar mudah bahkan tak ada beban sama sekali. “Mengapa kau bisa berpikiran begitu?”

“Kau tahu? Aku tadi terkejut karena kau menyeretku paksa, dan itu alasan mengapa aku bahkan tak bisa memakai sabuk pengamanku sendiri,” ujar Mi Rae. “Tapi, yang perlu kau lakukan adalah menyuruhku untuk memakai sabuk pengaman. Kau tidak perlu repot-repot membantuku.”

Tawa Kyuhyun semakin memekak telinga, “Apa salahnya jika aku membantumu, Nona Drama? Mi Rae, aku hanya bermaksud membantumu, tapi kau beranggapan bahwa aku akan menciummu. Aku berani bertaruh jika kau pernah melihat adegan seperti itu dalam drama.”

“Jangan menertawakanku! Tetap saja itu terlihat aneh. Jika hanya untuk memasangkan sabuk pengaman, kau tak perlu menatapku apalagi dengan jarak yang sangat tipis.”

“Setelah mendengarmu mengatakan itu, mendadak aku ingin mengulangi adegan tadi.”

“Apa?”

“Memasang sabuk itu dan kemudian menciummu,” Kyuhyun tersenyum jail. Mi Rae mendengus tak senang. “Mi Rae, apa kau sadar? Jika kau terus-terusan seperti ini, suatu hari mungkin saja aku akan menciummu.”

“Jika itu terjadi—itu artinya kau telah menjadi suamiku, dan itu tidak akan pernah terjadi.”

Kyuhyun terperanjat, “Kau hanya akan mencium suamimu? Jadi, sampai saat ini kau belum pernah mencium seseorang?” Mi Rae tak menjawab tapi tidak juga menyangkali kesimpulan Kyuhyun. “Tidakkah kau pernah menyukai seseorang? Berpacaran dengan seseorang?”

“Cho Kyuhyun! Aku tahu jika aku dipandang aneh, tapi bukan berarti aku tak normal,” Mi Rae menghela napas, ia kesal. “Saat ini aku tidak tertarik untuk berpacaran, tapi bukan berarti aku tidak pernah menyukai lawan jenis. Dan sekalipun aku berpacaran, aku tidak berkewajiban untuk melakukan hal itu dengan pacarku. Pacar bukan suami!” Mi Rae sangat tegas mengutarakan pendapatnya. Ia memang seseorang yang sangat berpendirian.

“Orang yang saling mencintai, bukankah mereka selalu melakukan itu?”

“Ciuman bukan satu-satunya cara untuk mengungkapkan perasaan,” tukas Mi Rae tajam. “Tidak ada yang dapat menjamin jika kau akan menikahi orang yang kau cintai saat ini. Logikanya, kau akan beberapa kali jatuh cinta dalam hidupmu. Jika kau selalu melakukan itu dengan alasan saling mencintai, dan ketika kau menikah, maka ciuman hanya akan menjadi hal yang biasa—tidak lebih dari kebiasaan tanpa arti, atau semacam ritual dua orang yang katanya saling mencintai.”

Kyuhyun terdiam, Mi Rae memang selalu memikirkan banyak hal sebelum ia melakukan sesuatu. Ia selalu mempertimbangkan sebab dan akibatnya.

“Mungkin pemikiranku tidak sesuai dengan pola pikir orang-orang masa kini dan aku tidak berkeberatan jika mereka mengatakan aku orang yang terlalu kaku, tapi bagiku—ciuman adalah sesuatu yang spesial, sesuatu yang hanya akan aku lakukan dengan orang yang tepat dan itu sudah menjadi prinsip hidupku. Aku tidak memaksakan orang lain untuk menganut prinsip hidupku, tidak juga padamu—jadi kau tak perlu pusing memikirkan betapa kunonya seorang Baek Mi Rae.”

Senyuman Kyuhyun mulai mengembang, “Baek Mi Rae, karena itulah aku sangat mengagumimu,” ujar Kyuhyun. “Ah—jika kau hanya akan mencium suamimu, sepertinya aku harus bekerja lebih keras lagi agar bisa menikahimu. Kau mempertimbangkan aku?” Kyuhyun mengerling dan ia tertawa lagi melihat Mi Rae memamerkan wajah masamnya.

Mobil yang mereka tumpangi berhenti di kawasan Seoul City Hall. Keramaian terlihat jelas di situ. Hari-hari biasa tempat tersebut sudah ramai dikunjungi, tapi ini jauh lebih ramai daripada biasanya. Bahkan hiruk pikuk yang berbeda telah menyentuh Seoul.

Hi Seoul Festival adalah penyebab masyarakat yang membludak di titik-titik tertentu di Seoul. Festival yang diperuntukkan bagi orang-orang yang tinggal di Seoul, atau juga disebut Seoul Special City. Sebuah festival yang biasanya dihelat selama beberapa hari pada musim semi. Kota Seoul menjadi sangat meriah dengan pertunjukkan lampu yang digelar sekaligus di beberapa sudut kota. Belum lagi adanya parade, pertunjukkan drama, pameran makanan maupun beragam jenis pameran lainnya, upacara adat, dan sebagainya.

Kyuhyun menggenggam tangan Mi Rae. Ia berusaha menerobos padatnya manusia di sepanjang jalan. Mereka harus berdesak-desakan dengan ribuan manusia yang tumpah di ruas-ruas jalan.

Sementara itu di rumah Mi Rae yang berada salah satu sudut Kota Seoul, Nyonya Baek, ibu Mi Rae yang menderita alzheimer terlihat gelisah. Ia terus-terusan menatap jam yang bergelayut di dinding.

“Mengapa Eonni belum pulang?”

Bibi Jung, tetangga yang membantu mengurusi wanita itu hanya tersenyum. Nyonya Baek memang sudah terlihat tidak sabaran sejak beberapa jam lalu.

“Mi Rae sebentar lagi akan pulang,” katanya sambil mengaduk-aduk bubur yang sedang ia masak.

Nyonya Baek terdiam, ia meremas-remas jarinya. “Tapi Eonni, sudah berjanji untuk pulang cepat. Hari sudah gelap, Eonni mungkin saja tersesat. Ajumma, kita harus mencari Eonni.”

“Mi Rae bukan anak kecil, dia tidak akan tersesat. Jangan cemas,” ungkap Bibi Jung sembari menyicip bubur. Ia mendesis pelan ketika lidahnya mengecap rasa yang tidak sesuai kenginan dan kemudian ia menambahkan sedikit garam lagi ke dalam bubur.

Nyonya Baek tetap tidak tenang, ia terus mengawasi jam dinding seakan takut jika jam itu akan melarikan diri jika terlepas dari pengawasannya.

“Aneh, mengapa aku tak merasakan apa-apa? Ini pasti karena teh sialan itu,” keluh Bibi Jung yang kesal indra perasanya lumpuh akibat teh yang ia teguk dengan terburu-buru pagi tadi di rumahnya dan ia tak mengetahui jika teh itu terlalu panas untuk lidahnya. “Tunggulah sebentar, bubur ini akan segera masak,” katanya lagi dan ia masih berbicara, akan tetapi ia tidak menyadari jika Nyonya Baek sudah tidak berada di tempat duduknya.

Di lain tempat, kemeriahan masih berlangsung. Di antara ribuan manusia yang memenuhi area Seoul City Hall, Kyuhyun dan Mi Rae termasuk didalamnya. Dua orang itu begitu antusias menyaksikan parade yang sedang berlangsung. Baek Mi Rae telah lupa dengan rasa marahnya pada Kyuhyun beberapa saat yang lalu. Kyuhyun sendiri sudah tidak dapat membendung seringaiannya karena melihat Mi Rae yang berkali-kali memamerkan rona terkesima di raut wajahnya dan tentu saja disertai seulas senyum tipis. Gadis itu akan bertepuk tangan ketika melihat pertunjukan-pertunjukan yang membuatnya takjub. Budaya dan kesenian Korea Selatan memanjakan siapa pun yang menyaksikan festival itu.

Satu jam kemudian, Mi Rae terlihat merogoh tas dan mengeluarkan ponsel. Dahinya berkerut ketika melihat 53 panggilan tak terjawab dari Bibi Jung. Mi Rae mulai merasa sesuatu telah terjadi. Bibi Jung biasanya akan menelepon jika ibunya menghilang dari rumah atau melakukan hal-hal yang mencemaskan. Dalam situasi seperti saat ini, siapa pun tak akan mendengar dering ponsel yang bunyinya tak bisa dibandingkan dengan keraiaman yang melingkupi tempat tersebut.

Buru-buru Mi Rae menghubungi balik, tapi belum sempat panggilan itu tersambung saat nama Bibi Jung kembali tertera di layar ponsel.

“Hallo,” sapa Mi Rae. “Ada apa Bi? Kenapa? Aku tidak begitu jelas mendengar suaramu,” Mi Rae nyaris berteriak untuk mengimbangi suara bising. Ia bahkan menutup sebelah telinganya dan berjalan menjauh, mencoba mencari tempat yang lebih baik—meskipun efek dari keramaian itu akan terasa di sudut manapun ia berdiri.

Kyuhyun baru menyadari jika Mi Rae tidak berada di sisinya. Ia memutar kepala, menoleh ke sana ke mari demi mencari sosok Mi Rae. Ia pun meninggalkan tempat pijakannya. Barulah ia merasa lega saat retinanya menangkap Mi Rae yang sedang berdiri di trotoar, tepat di bawah sebuah pohon. Kyuhyun mendekati Mi Rae. Ponsel masih menempel di telinga Mi Rae, namun gadis itu hanya berdiri, mematung.

“Mi Rae?” Kyuhyun merasakan keanehan dari ekspresi Mi Rae. Tangan Mi Rae langsung terkulai lemas, jatuh seakan tak ada tenaga hingga membuat ponsel dalam genggamannya pun meluncur mulus di atas trotoar.

*

Baek Mi Rae berlari memasuki UGD Rumah Sakit Universitas Anam. Kyuhyun terlihat bersamanya dan mereka segera menghampiri seorang perawat yang berjaga.

“Di mana Ibuku?” tanya Mi Rae, “Bagaimana keadaan Ibuku?” ia bertanya lagi, namun ia tak menunggu jawaban sang perawat.

Mi Rae berbalik dan berjalan tergesa-gesa mencari ibunya di antara pasien yang berada di UGD. Ia tidak mempedulikan panggilan perawat tadi yang hendak bertanya ia wali dari pasien bernama siapa. Mi Rae sangat kebingungan.

“Kau melihat Ibuku?”

“Mi Rae, sebaiknya kita bertanya pada dokter yang bertugas,” Kyuhyun berusaha untuk menenangkan gadis itu.

Mi Rae berlari lagi menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.

“Dokter, bagaimana keadaan Ibuku?”

“Nona, tenanglah.”

“Apakah Ibuku baik-baik saja?”

“Mi Rae!” Bibi Jung berlari menghampiri Mi Rae dan langsung memeluk gadis itu.

“Di mana Ibu?” Mi Rae bertanya pada Bibi Jung.

Bibi Jung hanya terisak. Lalu mata Mi Rae tertuju ke satu tempat di mana ada sekitar tiga orang dokter dan dua orang perawat sedang mengelilingi seorang pasien. Seorang dokter sedang melakukan CPR pada pasien tersebut, sementara yang lainnya hanya memandang kosong. Mereka kelelahan dan berkeringat. Mi Rae melangkah pelan mendekati pasien yang tak lain adalah ibunya.

“Dokter Shin,” seorang dokter memegangi pundak dokter yang masih melakukan CPR.

“Kumohon! Kembalilah!” teriak Dokter Shin sambil terus memompa dada Nyonya Baek. Ia memandangi layar monitor yang memantau detak jantung wanita itu. Layar itu telah menunjukkan garis lurus.

“Hentikan Dokter Shin! Kau sudah 20 menit melakukan CPR,” teriak dokter lainnya.

Gerakan Dokter Shin melambat, dan akhirnya berhenti. Baek Mi Rae sudah tak mampu menggerakkan tubuh ketika melihat Dokter Shin mengangkat tangannya yang gemetar dari dada wanita yang terbaring itu. Bola mata Mi Rae yang bulat mulai berkaca-kaca.

Dokter Shin menarik napas dalam. Ia menatap wajah Nyonya Baek yang mulai pucat, “Pasien Baek Hye Seon, waktu kematian pukul 18.42.”

Air mata Mi Rae menetes begitu saja. Tangis Bibi Jung pun pecah, ia mendekap Mi Rae yang masih tak bisa menggerakkan tubuhnya. Kyuhyun yang berdiri tak jauh dari situ hanya mematung setelah mendengar dokter mengumumkan kematian Nyonya Baek.

 

~bersambung~

Helluuuw…

Adakah yang bertanya2 kemana hilangnya Marchia? Dia memang suka ngilang begitu saja.

Sy menghilang lama karena satu dan lain hal (nanti akan sy ceritakan pada episode-episode mendatang -_-)

Sebenarnya sy sudah pesimis, jika tidak bisa memposting drama part 5 diminggu-minggu ini, karena setelah ngilang n’tah ke mana dan begitu balik ke tempat kerja, sy langsung dilempar dengan dokumen2 kerjaan yang luar biasa bisa membinasakan hahaha.

Tapi Puji Tuhan, ternyata sy bisa sedikit mengobati rasa penasaran teman2 tentang cerita ini (Hahh? Penasaran? PD kumat).

Semoga teman2 terhibur dan jika ada yang keliru mohon untuk dikoreksi dan dimaafkan tentunya.

Oh ya, mohon maaf semuanya karena sy tidak sempat membalas banyak komen kalian, terutama di ff drama part 1 – 4.

Okay, tak jemu2 sy memohon bantuan teman2 untuk berbaik hati memberikan kritik dan saran. Makasih. Muuuaccchh!

Iklan

267 thoughts on “Drama (Part 5)

  1. jangmikim berkata:

    Huhu kakak… Beliin tissu.. Nangis bombay ini…
    Paling ga tega kalo ada cerita ortu meninggal. Selalu aja nangis. Ga tahan.
    Dari adegan yg mirae mw berangkat itu aku udah ngerasa ada sesuatu yg ga beres ini. Dn ternyata… Terbukti kan?

  2. AzaleaFishyHae berkata:

    Huaaaa…. Eonni, nyesek dah…. kasihan si Mi Rae. Dia jd sebatang kara kah???
    Part ini plg suka sama omongan Mi Rae “Aku memaafkanmu, tapi bukan berarti aku ingin menata ulang hubungan kita.” Itu ngena banget… suka sama karakter Mi Rae yg berprinsip.

  3. Yiatri2499 berkata:

    Huwaaa…
    Eonni-ya aku baru tau kau ternyata kejam juga dalam membuat cerita…
    Ini bahkan masih awal cerita tpi eonni sudah membunuh(?) eomma mirae….
    Trus gimana ntar dengan cita2 dan harapan2 mirae…?? Masihkah sama???

  4. aernis berkata:

    kau masih hidup?
    haha ini pertanyaan penuh harga diri haha

    woahh sang mantan si siwon rupanya.
    jadi gimana masa lalu mereka??

    cpr 20 menit????
    kuat banget dokternya.

    setelah ini apa mirae bakal menyalahkan kyuhyun atau tetap mengedepankan logikanya??

  5. reni oktaviani berkata:

    ibu mirae meninggal.. kasian dong dia jd sebatang kara hidupnya…
    masih buram tentang pesan yng mirae kirim k kyuhyun.. dan tentang masa lalu mirae dengan siwon masih remang – remang…

  6. anianiya berkata:

    Apa ibu mirae udah punya firasat ya makanya dia minta mirae tinggal di rumah?
    Apa karena kejadian ini mirae marah sama kyuhyun, kareana secara tidak langsung kan kyuhyun yang buat mirae lama pulangnya?

  7. Widya Choi berkata:

    Msh pnsran am hubngny mirae n siwon?.. sbnrny ap yg tjdi d antra mrk ber 2?.. ap yg d lakuin siwon smpe mirae kykny g suka d dktin siwon lg?..aduh q bnyk nnya y… mklum kk pnsrn hihihi.
    Omo.. eomma ny mninggal. Ksian bgt mirae 😢😢

  8. afwi berkata:

    profesor kang patut d puji. Aah kyuhyun udh cinta sama mirae, sms bgitu d kasih karakter hati. Kkkk. Udh ngerasa gk enak sjk ibu mirae ngelarang pergi, dan bener kaan. Mirae yg malang.

  9. kyunara berkata:

    entah kenapa aku pengen nyalahin kyuhyun…
    kenapa tadi dia gx mau dengerin mi rae..
    gx tau gimana sikap mi rae nanti..

  10. zamadia berkata:

    ini semua gara2 kyu. coba aja dia ga seret mi rae buat ikut dia, psti ini semua ga akan trjd. mi rae jg salah. knp dia bisa lupa sma janjinya ke ny.baek ? ih kesel.

  11. Eka puspita elf berkata:

    Astaga apa”an mirae ngririm pesan buat kyu “kau masih hidup?:-/ cengo aku kirain dia salah kirim nanyain kbr nya kyt eh malah kya gitu, dan lagi sebener nya siwon sama mirai pernah ada masalah apa si? Jadi makin penasaran, kok ibu mirae meninggal?;-(

  12. nae.ratna berkata:

    ya ampun mirae kehilangan satu orang lagi yg dia sayang n sekarang sebatang kara huhuhu
    nyesek banget mirae yg tabah yah
    mudah2an dia ga menyalahkan diri.a sendiri or kyuhyun
    mirae semangat

  13. cha eunna berkata:

    huwwaa😭😭 eomma mi rae meninggalT_T kasian mi rae

    mi rae bakal nyalahin kyu ga ya? karena kyu maksa mi rae buat ikut ama dia, membuat mi rae plng telat dan ibu nya udh khawatir ama mi rae yg ga plng2, trs nyariin mi rae dan akhirnya…

    ijin baca next part nya yaa😉

    SEMANGAT KAK!!^^

  14. Rrin'sLove berkata:

    Aih alasan Mi Rae jadi dokter adalah ibunya
    demi menyembuhkan ibunya dia mati2an belajar
    tapi ibunya malah pergi
    apa itu alasan knpa dia meminta Mi Rae gak usah ngampus dulu
    aigooooo
    Kyuhyun merasa bersalah tu mngkin hmm

  15. Leah berkata:

    Ya Tuhan, kasian banget Mirae, padahal tadi dia lagi seneng seneng liat parade, eh ada aja musibah yg datang. Kayanya dari awal —sebelum berangkat kuliah, emang udah firasat pas ibunya minta mirae untuk ga masuk kuliah

  16. AeriLyz77_ berkata:

    Ibu Baek gak ada mngkin krena dia lgi nyariin Mi Rae.. Klo Cho gak mksa Mi Rae buat ikut dia ke festival dn Mi Rae lngsung plang cpet pasti gak bkalan cem gni 😥 ku takut nnti Mi Rae mmbenci Cho dn mnjauh dri Cho

  17. Hana Choi berkata:

    Kasian mi rae jadi sebatang kara, padahal motivasi mi rae jadi dokter adalah eommanya sendiri karena dia pengen nyembuhin penyakit eommanya.
    Kayanya eommanya mi rae udh punya firasat duluan deh,….
    Terus gimana hubungan mi rae sama kyuhyun yah di tambah sekarang si won ngejar” mi rae lagi

  18. jungsoo berkata:

    nysekny jd mirae
    eommany meninggl
    pdhl mirae berjuang bngt buat bsa mnjd seirng dokter untuk mnymbkn pnykit sang ibu
    tpi tkdir brkt lain
    itu knp mirae ssah bngt memaafkn siwon
    mngknkh kslhn siwon klwr fatal kkk
    itu kyuhyun sking gmbirny sampe di post ke SNS pesn dri mirae kkk

  19. My labila berkata:

    kyuhyun pesan dari mirae aja sampai di posting lucu wkwk… tapi sedih mulu kalau baca cerita mi rae sm ibunya, ibunya mirae meninggal….
    penasaran juga sm masa lalunya mirae sm siwon walaupun sedikit-sedikit ada pencerahan

  20. My labila berkata:

    kyuhyun pesan dari mirae aja sampai di posting lucu wkwk… tapi sedih mulu kalau baca cerita mi rae sm ibunya, ibunya mirae meninggal….
    penasaran juga sm masa lalunya mirae sm siwon walaupun sedikit-sedikit ada pencerahan…kyuhyun pasti merasa bersalah.

  21. ina berkata:

    awal nya lucu… ketawa-ketawa.. senyam-senyum sendiri..
    tapi bagian akhirnya… :’ ‘:
    semoga ga ber efek dengan hubungannya mi rae dan kyu yah…. please….

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s