Catatan Marchia

Helluuuuwww semuanya.

Author yang suka ngilang ini kembali lagi membawa sebuah cerita.

Seharusnya sy melanjutkan FF, tapi apa daya sy gak kuat nolak godaan untuk menulis ini. Ini bukan sebuah FF, tapi ini hanya sepenggal kisah dari cerita hidup sy. Dipersilahkan bagi yang berminat mengintip kisah ini.

Mungkin ada yang bertanya-tanya, ke mana hilangnya si Marchia selama berminggu-minggu lalu? Waktu posting Drama part 4, sy sempat bilang kalau bakalan lama ngilang. Yang pasti, sy bukannya kesasar karena sibuk nyari2 alamat palsu haghaghag. Gini nih ceritanya…

Minggu, 05 April sy ke Manado bareng ponakan sy si Tian yang gantengnya sealam semesta, tapi nakalnya dua alam semesta. Seharusnya, hari minggu itu hanya sy yang berangkat (minus ponakan) karena setau sy nih; Tian, emak dan om (adik bungsu emak) udah sampai di Manado, sementara sy masih di tempat kerja.

Tapi, apa yang terjadi? Waktu tanya ke adek sy, Miss Cengeng (nama asli sengaja disamarkan, tapi kalo ada yang mau tau, namanya Titi) katanya Tian lagi main2 di rumah. What? Shock!

Intinya, Tian ketakutan waktu mau naik kapal laut karena tangganya goyang2, dia hampir pipis celana, trus dia minta turun saja dan akhirnya dibawa pulang si bapak. Sy heran, ini anak nakalnya luar biasa, tapi nyalinya melempem kayak kerupuk yang keanginan 😀

Ya sudahlah, apa boleh buat? Melayang sudah uang 200 ribu lebih, nyaris 300 ribu tuh buat beli tiketnya Tian. Kan lumayan kalo dipake makan bakso bisa sampai muntaber atau sekedar minta kepala dipijat mbag2 di salon sono.

Selamat tinggal Tian, jagalah Kota Sorong dengan baik ya Nak.

Iya, tadinya itu kalimat sy buat Tian, tapi begitu sampai di rumah hari Sabtu, Tian berubah. Kepribadiannya bertolak 180° yang tadinya periang, nakal, ceria, cerewet tapi jadi pendiam, suka merenung, gak punya senyum, ekspresinya tertekan banget kayak lagi mikir gimana caranya agar semua penduduk Indonesia jadi konglomerat. Gilak, itu anak 4,5 taon tapi udah akrab dengan yang namanya GALAU.

Sy hanya disambut dengan tatapan matanya yang berkaca-kaca. Padahal, biasanya nih kalo sy pulang Tian langsung peluk2 trus bergelantungan mirip monyet. Yah, mungkin dikiranya sy ini pohon. Memang sih, dengan kondisi badan yang kurus mungkin saja sy disalahpahami sebagai pohon kering *meringis*

Singkat kata, karena terbujuk dengan bisikan hati nurani sy yang sepertinya terlalu amat sangat lembut mengalahkan gulali, apalagi ditambah Tian pintar mengolah ekspresi wajah, maka sy putuskan untuk memesan 2 tiket pesawat sambil tak putus2nya sy kasih WARNING! Dilarang minta turun atau pulang begitu tiba di pesawat. Ini bukan tiket kapal Nak, yang kemarin dengan seenak jidat dibatalin dan sy masih bisa terima, tapi ini tiket pesawat kalo di-cancel? T_T *banjir air mata*

Sebelum naik pesawat, sy juga diwanti2 orang rumah; kalo di pesawat tolong perhatikan Tian (ya iyalah, kan gak mungkin sy biarin dia maen bola di pesawat). Katanya juga, kalo bisa dadanya Tian ditekan, itu anak lemah jantung (masa sih? Nakalnya gak ketulungan gitu, kok masih sempat2nya lemah jantung?).

Diluar perkiraan, Tian gak takut sama sekali. Hebatnya sodara2, selama 1 jam perjalanan Sorong-Manado, mulut Tian gak berhenti berkicau (gak tau ya kalo tantenya pengen bobo syantik?) dia malah nanya ini dan itu, dimulai dari pertanyaan yang bisa dijawab sambil nyengir2 enteng sampai pada pertanyaan yang membuat sy bungkam & berpikir untuk mendatangkan Bpk Habibie demi menjawab pertanyaan Tian huhuhu.

Sampailah di Manado, kota kelahiran sy. Di sana kami tinggal di rumah sepupunya si emak di Poli. Hari pertama, malamnya sy dibawa keliling Kota Manado oleh Iver, sepupu sy yang cakep tapi telah menunjukkan tanda2 kebotakan dini.

Hari kedua (Senin) jalan2nya ke rumah teman emak semasa SMA dan mulailah mereka bernostalagia mengenang masa2 ABG mereka saat masih di kampung halaman. Sy dan Tian cuma manyun2 bebek, mulai bosan. Emak2 kalo udah ngobrol suka lupa diri. Setelah puas masa nostalagia, perjalanan di lanjutkan ke rumah opanya Tian (adek dari bapaknya kakak ipar sy…pusing kan penjelasannya? hihihi). Selanjutnya tujuan perjalanan kami adalah Kema, ke rumahnya sepupu emak juga. Yah, maklumlah keluarga besar jadi anggota keluarganya tersebar ke seantero negeri 😀

Hari ketiga (Selasa) yang lumayan cetar. Meluncur ke Tomohon, mau ke rumahnya sepupu emak juga.

Setelah melewati jalanan yang dikelilingi oleh pepohonan yang sejuk dan asri akhirnya nyampe juga di Tomohon. Yak, seri nostalagiia keluarga dimulai, kami anak2 (haahh? Anak2? Dulu sy juga kan pernah jadi anak2 hehe) cuma jadi pendengar yang baik.

01

Sepupu2 & ponakan di kebun poki2/terong

Masih di hari yang sama, perjalanan dilanjutkan ke Bukit Doa Kanonang yang jarak tempuhnya butuh kesabaran. Jauuuuhh. Melewati beberapa kampung dan yang paling sy ingat cuma Kawangkoan, itu pun karena kampung itu terkenal dengan kacang tanahnya.

Dlm perjalanan ke Bukit Doa Kanonang. Bukit doanya kelihatan tuh di belakang sono ^^

Dlm perjalanan ke Bukit Doa Kanonang. Bukit doanya kelihatan tuh di belakang sono ^^

Nanjakin anak tangga di bukit doa sambil jepret kiri jepret kanan. Oke, setengah 6 sore kami beranjak pulang dan baru sampai di rumah jam 9 malam. Pegal lho chyn.

Di Bukit Doa

Bukit Doa Kanonang, Manado

Hari keempat (Rabu) lebih dihabiskan dengan berpanas-panas ria di kota, dan nyari tiket kapal buat ke kampung halaman.

Nah, baru di hari Kamis, kami (sy, Tian, emak, om) dengan menggunakan jasa kapal cepat ‘Majestic II’ segera cuussss ke Sanger.

Tian narsis di kapal cepat Majestic II

Narsis di kapal cepat

Majestic II berangkat dari pelabuhan Manado jam 10 pagi. Kurang-lebih jam 12 kapal sampai di pelabuhan Tagulandang, transit bentar doang. Kesempatan transit dipergunakan sebaik2nya oleh penduduk setempat untuk menjajakan dagangan mereka di kapal (nah, yang saya beli waktu itu kue epu atau panada ubi, kue tradisional yang terbuat dari singkong yang diparut, terus diisi ikan dan dibentuk kayak panada lalu digoreng…nyam nyam nyam).

Kapal kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya : pelabuhan Siau yang memakan waktu perjalanan kurang-lebih sejam dari Tagulandang. Transit juga di Siau, tapi bedanya di Siau ini gak ada satu pun penduduk yang berjualan di pelabuhan. Gak tau deh kenapa. Hanya mereka dan Tuhan yang tau alasannya.

Kapal kembali melanjutkan perjalanan ke pelabuhan terakhir, sekaligus tempat tujuan kami. Pelabuhan Tahuna. Jam 4 sore udah nyampe Tahuna, dari jendela kelihatan tuh orang2 di pelabuhan, termasuk papa akang alias om alias salah satu adek mama yang udah nongkrong di pelabuhan, mau jemput kami.

Akhirnya Sodara2, setelah 20 taon karatan, jamuran sampe berlumut di Sorong, Papua Barat—sy bisa menginjakkan kaki di sanger *terharu*

Sekilas info, saya aslinya dari Sangihe-Talaud. Bapak sy orang Kalongan, Talaud. Lalu si emak dari sanger besar alias sanger daratan, lebih tepatnya dari Kampung Kaluwatu, Kecamatan Manganitu Selatan.

Bukannya langsung ke Kaluwatu, tapi kami pergi ke Tariang. Itu tuh, tempat tinggal si om yang jemput kami. Dia kesasar di Tariang karena nikah sama orang kampung itu.

Katanya sih tanggung kalo semisalnya kita langsung ke Kaluwatu, trus main2 ke Tariang, kan jauh jaraknya, belum lagi dua tempat itu jalannya gak searah.

Kesan pertama sy di Sanger, jalanannya mulus dan bersih.

Ouw! Sy agak ngeri sih sama jalannya, kan sanger itu daerahnya bergunung2 dan waktu ke Tariang tanjakannya meliuk-liuk, kalo pas turun yo menukik tajam dan satu hal lagi, jembatannya banyak lho. Sy bisa lihat kuala/kali/sungai waktu melintasi jembatan, tapi banyak juga yang kelihatan dari jembatan cuma pohon. Malahan nih, ada satu jembatan yang kayak digantung saking tingginya. Bayangkan aja, pohon2 yang menjulang nyata dan super tinggi itu tapi puncaknya masih di bawah jembatan…gilak, kebayang kalo jembatan nan kukuh itu ambrol, maka Marchia harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia.

Begitu sampai di Tariang hari sudah mulai gelap, disambut oleh si tante. Dari rumah kedengaran suara ombak, ternyata di belakang rumah ada pantai. Tian udah kegatelan pengen mandi di laut, tapi setelah dibujuk rayu, barulah dia angguk2 asoy tanda setuju kalo mandi di lautnya besok saja.

Benar sodara2, sy belum bangun, Tian udah nongkrong di pantai. Si emak bangunin, suruh ke pantai sekalian ngeliatin Tian (padahal itu modus, maksudnya supaya sy fotoin Tian waktu di pantai). Banguninnya pake jurus maksa, gak ngerti kalo anaknya kecapekan. Terpaksa sy turuti, ke pantailah sy. Tian harus mengubur impiannya untuk mandi di laut, ombaknya lagi gede hehe.

Pantai Tariang beda dengan pantai yang sering sy temui, bukannya berpasir mulus tapi berbatu bulat mirip telor, ada yang pipih, agak lonjong tapi bebatuannya tuh halus banget, cantik.

Tian di pantai Tariang Lama

Pantai Tariang Lama

Kami cuma nginap semalam di Tariang, jam 10 pagi langsung cussss again. Tujuannya tentu saja kampung halaman daku yang tercinto, Kaluwatu.

Perjalanan sejam ada mungkin ya dari Tariang ke Tahuna? (kok malah nanya hihihi?), nyampe Tahuna, ganti mobil, tetap sih naeknya Avansa dan sebangsanya. Di Tahuna sempat lewat tempat yang dulunya cuma dilihat di video lagu2 daerah Sangihe. Aduh, apa ya namanya? Si emak selalu jelaskan setiap kali melewati sebuah daerah, tp dasar otak dodol, gak ingat lg. Itu lho, jembatan yang dibawahnya itu ada semacam sungai tapi nyaris gak ada airnya, itu jalurnya lahar dari Gunung Awu kalo itu gunung meletus. Di Tahuna, mampir juga ke pelabuhan lama pas banget di belakang Megaria (semacam supermarket) jadi bisa beli ini dan itu di Megaria dan tentu saja sesi foto yang tidak bisa dilewatkan.

Pelabuhan lama Tahuna. Abaikan sepotong kayu yg numpang eksis :D

Pelabuhan lama Tahuna. Abaikan sepotong kayu yg numpang eksis 😀

Di sepanjang pelabuhan lama ini banyak yang nongkrong kalo sore2, ada yang jualan juga jadi ngingatin sy pada Kota Sorong, ada tempat yang mirip2 kayak gitu yang jadi tempat tongkrongan anak2 muda, tapi bedanya di Tahuna bersiiiiihhhh!

Pelabuhan lama Tahuna

Pelabuhan lama Tahuna

Akhirnya kita on the way to Kaluwatu. Gak jauh beda dengan jalanan ke Tariang, jalan ke Kaluwatu juga bergunung2, lebih ekstrim malah, tapi hebatnya jalanan di sana muluuuss, kebayang kalo jalan rusak dengan medannya yang horor kayak gitu, hiiiiii. Jurang di mana2, view Kota Tahuna dari sepanjang jalan yang kami lalui pun nampak kecil. Selat Tahuna pun beberapa kali nongol dari balik rimbunan pepohonan.

Bodo’ amat dengan jurang, sy sangat menikmati sepanjang perjalanan sy. Pohon2 yang memagari jalan didominasi oleh pala dan cengkeh. Palanya udah berbuah lho jadi bikin sy keingat si manisan pala (ketahuan isi otaknya makanan doang). Waktu tempuh dari Tahuna ke Kaluwatu kurang-lebih 1,5 sampai 2 jam.

Tikungan memasuki wilayah Kaluwatu yang amat kurindukan, dan tadaaa…sampai deh. Hore! Berhasil..berhasil..horee!! (nyanyi bareng Dora)

Inikah tempat sy bersekolah TK? Tempat sy mengawali masa SD sebelum ditendang ke Sorong (pindah maksudnya)? Kok kelihatan jadi kecil ya? Apa karena dulu sy masih kecil jadi ngeliatnya lebih besar, atau karena dulu belum sepadat itu? Ah, whatever, yang penting : Hi Kaluwatu, it’s me. I’m back! (sambil ngelap air mata haru).

Keluarga pada berdatangan begitu dengar orang dari Papua datang, temu kangenlah. Selama di sana, kesempatan buat bersihin kubur Opa trus jalan2 ke rumah keluarga (namanya juga keluarga besar, Seredei-Petonengan).

Trus nih, kalo jalan2 di Kaluwatu dan begitu ketemu orang2, si emak langsung nyeletuk kalo itu keluarga dan dibarengi penjelasan silsilah keluarga. Untuk menghormati kerelaan emak karena menjelaskan silsilah yang ribet itu, sy merespon dengan angguk2 sok antusias atau sekedar ber-oh-ria, padahal gak ngarti & gak connect dengan otak. Untungnya dari penjelasan panjang emak, sy dapat menarik sebuah kesimpulan : “Satu kampung isinya torang samua basudara.” *lebay kumat* 😀

Di rumah om, kami diperlakukan layaknya raja & ratu hahaha, kasihan juga sama sepupu2 yang terusir paksa karena kamarnya dirampas kite2 wkwkwk (kasihan, tapi malah ketawa! Kejam).

Trus2 gini ya jeung (niruin gaya bicara ibu2 yang suka ngerumpi), kalo sy memutuskan untuk memberikan sedikit bantuan (akibat bisikan malaikat, itu pun setelah bisikan malaikat keseratus) seperti nyuci piring…ealah, si tante dan Kak Ernie malah melarang-larang. Gak usah katanya, kasihan masih panas. Atau; baru abis makan jadi istirahat saja (bicaranya pun dengan ekspresi penuh simpati).

Aduh nyai, duhai biyung…seandainya saja kalo di rumah trus pas kerja tiba2 si emak bilang (sekalipun sebenarnya si emak hanya khilaf) : jangan kerja Nak, gak usah, Marchia istirahat aja.

Kalo sampai kejadian kayak gitu, syukuran deh 7 hari 7 malam, potong tumpeng sekalian.

Boro2 nyuci piring, boro2 juga si emak…adek sy yang paling bontot nih, jiwanya lebih emak2 dibandingkan emak sy. Kak tolong ini ya, tolong itu ya, ntar kita nyuci ya bla bla bla.

Kalo kata si bapak, orang malas gak boleh makan -_- oh pirua. Atau; dulu…(si bapak mulai mengenang) waktu bapak masih sekolah itu tinggal di rumah orang (ya iyalah pak, masa tinggal di rumah hewan) maksudnya bapak jadi perantau, jadi malu hati kalo gak kerja sekalipun tinggal di rumah keluarga. Tapi, kalian ini di jaman yang udah serba dan kalian masih aja bla bla bla (well, ceramah pra nikah dimulai. Istilah kami kakak-beradik, kalo si bapak dan emak udah mulai mengais2 kenangan tempoe doloe & dibarengi dengan nasihat2 tanpa menyadari kalo dibalik wajah serius anak2nya yang tertunduk penuh penyesalan, anak2 itu justru saling sikut-menyikut, berusaha menahan cengiran tajam di wajah mereka).

Back to the topic…

Selama di Kaluwatu, kerjaannya mandi di kuala (sungai), bebatuannya oke lho. Tian juga jadi candu banget, tiap hari harus ke kuala. Si emak juga, kalo mau nyuci pakaian ke sana. Kan asik, pakaiannya biar banyak tapi kalo nyucinya di kuala it’s okay’lah. Gak jauh juga dari rumah. Trus airnya dingiiiiiin. Segar.

Tian di kuala, Kaluwatu. Jarang2 mau difoto seksi :D

Kuala/Sungai di Kaluwatu. Jarang2 Tian mau difoto seksi 😀

By the way, ada pengalaman yang rasanya tidak akan sy lupakan seumur hidup sy. Sy ingat sekali, waktu itu hari Rabu, tgl. 15 April. Pagi itu sy lihat Kak Deny lagi siap2, parangnya juga udah disiapin. Biasanya kalo kayak gitu pasti mau ke kebun.

Nah, isenglah sy bertanya; Kak Deny mau ke mana?

Jawabannya sesuai dugaan sy, mau ke kebun.

Si emak langsung nanya ke sy; ngana suka mo iko? (kau mau ikut?)

Sodara2, dengan semangat 45 sy menangguk antusias sambil bilang: IYAAA. Maklumlah, sy gak pernah ke kebun, pengen tau (sedikit terinspirasi dari tayangan jejak petualang di tv). Tapi sy sempat nanya; emang kebunnya jauh? Kata Kak Deny sih, lumayanlah.

Lumayan? Lumayan itu berapa kilo meter Kak? Ah, palingan gak jauh2 amat. Waktu SD dulu sy bahkan pernah diajak kakak sy jalan kaki dari pasar sentral ke rumah yang jaraknya berkilo-kilo meter, jauuuh. Jalan kaki bukan karena gak ada duit, tapi kata kakak, kita jalan aja trus duitnya kita pake beli es krim di perjalanan. Dengan lugunya sy menyetujui ajakan sesat kakak sy (sekarang sy sadar, betapa tipisnya perbedaan kata lugu dan dungu).

Masih mencoba mengukur jarak kebun di dalam hati sy; sy masih sempat2nya membanggakan diri. Kurus2 gini, waktu jaman SMP, sy pernah beberapa kali ikut semacam lintas alam bareng tim pramuka. Ceh ileh, paling jarak kebun gak seberapa (pukul2 dada ala king-kong).

“Ngana nyanda mo bawa handuk for seka2 suar?”

Itu pertanyaan emak sebelum sy pergi, yang artinya : kau tidak bawa handuk untuk ngelap keringat?

Respon sy secara refleks : Hahh? Emang ntar keringatan ya? (pertanyaan terbodoh yang pernah sy lontarkan). Kak Deny cuma senyam-senyum gaje, paling dalam hatinya, belagu banget nih cewek hahaha.

Tapi coba deh dipikir, bawa handuk cuma buat ngelap keringat? Ya elah maaakkk, mentang2 dulu kuliahnya sastra Indonesia, trus sok2an pake majas hiperbola gitu? Oh come on, sy bukannya mau ke kuala mak, tapi ke kebun. Gak perlulah pake acara bawa handuk segala. Kalo pun keringat ya ngelapnya pake kaos yang dipake aja.

Akhirnya, berangkatlah kami ke kebun. Di jalan sy lebih banyak diam sambil memperhatikan sekeliling, ngeliatin rumah2 di pinggir jalan, ngeliatin pohon2 gede, kadang nanya ini dan itu. Kak Deny sempat mengulang pernyataan sebelumnya kalo jarak ke kebun lumayan. Sy sih cuma bilang dengan nada sangat optimis; gak apa2 kak.

Sy sangat bersemangat, apalagi jalannya juga bagus. Belum ada tanda2 capek padahal udah lumayan jauh. Tuh kan, sy bilang juga apa—lumayannya gak seberapa (pernyataan yang kelak akan sy sesali).

Dan….apa itu? Sempat kedip pake efek slow motion begitu melihat jalan di hadapan sy. Itu tanjakan apa gunung? Tinggi amat, jauh ke atas pula. Okay, gunung pasti berlalu.

Nanjaklah kami. Diam. Menghayati tanjakan ekstrim itu, jalan pun gak bisa tegak, badan jadi condong ke depan. Akhirnya ketemu jalan rata, trus Kak Deny nunjukin sebuah rumah kalo itu rumah Kak Betty (sodara sy) dan sy teringat kata2 Embo Max (om sy, adek bungsu emak) kalo mau mandi di kuala, tempat yang bagus itu di belakang rumahnya Kak Betty. Oh helluuw…setelah menyaksikan langsung perjuangan ke tempat yang dimaksud, maka sangat bijak sekali saat itu sy bilang : No, thanks. Yang dekat2 aja.

Sodara2, ternyata tanjakan tadi hanya permulaan hiiikkksss. Setelah itu gak ada jalan rata, jalannya terus menanjak, meliuk-liuk kayak ular. Napas sy udah memburu, lutut sy udah terasa longgar. Nanjak sampe kaki gempor. Mulai gemetar chyn~

“Kak, masih jauh ya?” (nanyanya sok cool, padahal dalam hati udah was2)

“Nyanda, sedikit lagi sampe.”

Sedikit lagi sampai? Udah jalan beberapa lama tapi kok gak nyampe2? Tanjakannya makin ekstrim? Kenapa gak ada jalan rata? Sy gak bisa dengar suara lain selain suara jantung sy yang rasanya mau jebolin dada. Gaya jalan gagah sy mendadak berubah terseok-seok, tapi sy sok2an jalan dengan tabah + senyum sandiwara (soundtrack adegan ini pake lagu Panggung Sandiwara by Nicky Astria..LOL).

Pengen balik, tapi udah jauh. Pengen balik, tapi gengsi. Harga diri tinggi. Dan akhirnya, sy merangkak pake bantuan tangan. Terakhir, sy nyerah (lambai2 bendera putih).

“Kak, tunggu.. istirahat dulu. Gak kuat!!!”

Sy putuskan untuk membuang harga diri sy yang teramat sangat sy banggakan tadi hiiikkkss. Sy langsung tepar di tengah jalan. Duduk selonjoran, pasrah sama nasib. Keringatan. Mau ngelap keringat, tapi baju sy kayak habis direndam. Okay, jangan pernah menganggap remeh apa kata orang tua (teringat pada emak & handuk di rumah).

Setelah istirahat beberapa menit, rasanya gak ada perubahan, tapi karena gengsi kalo minta pulang akhirnya sy mengambil inisiatif untuk melanjutkan perjalanan. Sambil nanya, masih jauh gak? Jawaban si Kakak selalu sama, udah mau sampai. Tapi gak nyampe2 huhuhuhu (rasanya pengen buang diri ke jurang).

Gak lama jalan, sy nanya lagi…masih jauh gak kak? Tetap senyum sih, meskipun sy yakin muka sy pasti pucat. Deg2an tau gak nunggu jawabannya Kak Deny. Rasanya tuh pengen rampas parang yang dibawa Kak Deny, trus langsung arahkan parang ke leher sy sambil ngomong : “kalo kakak bilang masih jauh, mending sy gorok batang leher ini! Apa gunanya sy hidup kalo harus menderita seperti ini?” (ngancam gitu, ala adegan di drama2 Korea bergenre kolosal/saeguk) hahaha, pengaruh capek jd mulai berhalusinasi liar LOL. Untungnya si kakak nunjukin sebuah belokan, katanya kalo udah belok situ berarti udah mau nyampe.

Akhirnya keluarlah kami dari jalan utama, belok kanan, beralih ke jalan cor. Di situ sy merasa sedikit lega karena jalannya justru menurun, terus menurun, tapi dalam hati mulai membayangkan kalo pas baliknya ini bakalan jadi tanjakan tajam hahaha (ketawa sedih).

Sy metik2 daun cengkeh trus diendus-endus, sok cool tapi anggun jadi kelihatannya mirip2 iklan cewe yang metik daun teh lalu diendus. Padahal itu kamuflase, nyium bau cengkeh supaya roh sy yang mulai ilang kembali ke raga.

Guys, sy memang sudah memperkirakan kalo perjalanan bakal panjang. Remember? Tapi sy tidak memperkirakan kalo kondisi jalannya yang terus menanjak ekstrim sambil meliuk-liuk itu. Kalo jalan jauh tapi rata kayak di Sorong (pengalaman SD & SMP) pasti sy gak kewalahan.

Tunggu dulu! Perasaan kata Kak Deny tadi udah mau nyampe, tp kok? Sebenarnya sy pengen nanya kapan sampainya tapi takut kalo nanya lagi bisa2 sy diceburin ke sungai hahahaha. Bosan tau dengar pertanyaan yang sama.

Nah, begitu sampai di jembatan, kami bertemu beberapa orang (sy menganggap mereka sebagai malaikat penolong) karena Kak Deny cukup lama ngobrol dengan mereka. Palingan si kakak juga tau isi hati sy yang pengen tiduran di jembatan, tapi karena dengan alasan yang sama (gengsi), sy hanya duduk2 aja sambil ngeliatin kuala alias sungai yang jernih banget + batu2 gedenya.

Uh, sayang sekali sy gak bisa memamerkan perjuangan sy menempuh si jalan gila. Gak kepikiran buat foto2 jalan nanjak itu karena sy sibuk memikirkan nasib sy yang sepertinya akan berakhir mengenaskan dalam perjalanan haha.

Kuala ini lebih didominasi bebatuan gede tp airnya dingiiiiin (difoto saat istirahat di atas jembatan, dlm perjalanan ke kebun.)

Kak Deny ngasih kode, perjalanan dilanjutkan. Sy sudah pasrah kalo mau putus napas di tengah jalan. Masalahnya di depan mata sy itu ada tanjakan yang lagi2 ekstrim T_T, dengan sisa2 tenaga sy mengayunkan kaki, tapi untungnya Kak Deny bilang, udah sampai. Puji Tuhan (rasanya tuh pengen nangis sambil meluk batang pohon saking terharunya).

Oalah, ternyata kebunnya berbatasan dengan tepian sungai tadi. Kalo ngelanjutin perjalanan, katanya di atas sana ada Desa Pindang. Boro2 ke Pindang, ke kebun aja berasa diikutin malaikat maut (hampir putus napas eyke di tengah jalan).

Mulailah Kak Deny manjat pohon kelapa. Astaga, lincah banget manjat pohonnya—tau2 aja udah nyampe di atas sono, sy terkesima—kakak mungkin sebangsa dengan si monyet gunung, Eunhyuk. Atau bisa jadi dia itu titisannya Sun-Go-Kong *Plak!!!  aaampuuunn kak 😥

Ketemu air kelapa muda rasanya itu…sesuatu banget. Nyawa sy tertolong. Ke kebun ternyata buat ngambilin kelapa muda. Ya elah, perjuangan sehidup-semati seorang Marchia ke kebun, ternyata demi es kelapa muda. Kan bisa beli aja? Eh, tapi kalo ada yang gratisan ngapain beli yak? Lagian, kalo beli, sy gak bakal mengalami perjalanan luar biasa kayak gitu.

Tenaga sy udah terkumpul, pulang dari kebun sih gak semampus waktu perginya. Cuma satu aja tanjakan (si jalan menurun tadi yang berpotensi jadi tanjakan tajam kalo balik dari kebun) dan selebihnya…turun terus kiteee.

Saat itu juga, sy berjanji bahwa sy tidak akan mengulang perjalanan gila itu, sy gak akan ke kebun itu lagi. Titik.

Ternyata sekarang sy rindu jalanan mengerikan itu, sy rindu untuk kembali merasakan betapa sy hampir mampus di jalan (mulai tidak waras) dan sy pasti akan melakukan perjalanan yang sama kalau suatu saat nanti sy pulang ke Kaluwatu. Pada akhirnya sy memutuskan untuk berjanji bahwa sy tidak akan pernah berjanji lagi hehehe.

Malamnya, adek sy Rolly nawarin kalo besok mau ke batu mawira (batu putih). Dengan entengnya sy bilang: IYAAA.

Helloooww, Marchia, lo masih waras kan? Itu batu mawira lho, masa sih dirimu gak ingat gimana terseok-seoknya dirimu waktu ke kebun tadi? Ke batu mawira itu pasti lebih ekstrim lho chyn~ naikin gunung. Walau gak setinggi Gunung Awu, tapi tetap aja itu sebangsa GUNUNG, kalo jatuh dari atas sono, dirimu bakalan tinggal kenangan.

Tapi tetap saja sy mengabaikan bisikan hati nurani sy. Lagian batu mawira kan cuma di belakang rumah, iya memang ‘cuma’ tp naikinnya yg wah…sesuatu 😀 😀 . Kan sy teringat kata2 om, kalo ke Kaluwatu tapi belum sampai ke batu mawira, itu belum ke Kaluwatu namanya. Trus kalo orang Kaluwatu tapi gak pernah injak batu mawira, bukan orang Kaluwatu namanya (pernyatan yang ekstrim, seekstrim jalan ke batu mawira. Itam2 gini darah Kaluwatu ngalir di tubuh sy lho. Emak sy orang Kaluwatu lho).

Demi menyandang status sebagai ‘Orang Kaluwatu’ maka sy bersikeras harus ke batu mawira. Sy bahkan sok amnesia dengan betis sy yang rasanya berat, susah digerakkan. Trus kalo besok ke batu mawira, apa yang akan terjadi pd sy? :/

Besoknya, Embo Max (adek bungsu emak), sy dan sepupu2 gokil menuju batu mawira. Oh ya, si Tian juga ikut lho. Sy sempat marah2, dan ngelarang. Gila, ini mau mendaki masa bawa anak kecil? Ntar kalo dia gak kuat gimana? Dibujuk baik2 sampai dimarah supaya tinggal, si Tian ngotot ikut. Apa boleh buat? Tian kalo ikut harus jalan sendiri, gak boleh minta gendong. Kalo gak kuat itu urusanmu Nak.

Naiklah kami. Awal2nya sih sy masih aman2, tapi sodara2…benar, beberapa menit berselang, kejadian ke kebun terulang. Keringat sy mirip air keran (lebay), napas satu2. Sejuk pepohonan mendadak hilang, badan sy rasanya panas, sy mulai dehidrasi. Satu2nya yang mau pingsan mungkin sy seorang huhuhu. Ngelirik yang lain, mereka pada enjoy2 aja tuh, cengengesan, becandaan. Boro2 bercanda, sy sibuk narik oksigen dalam2. Sibuk memikirkan cara agar sy tidak berakhir sebagai penunggu kawasan itu dengan sebutan ‘Marchia Ngesot’. Ini benar-benar mendaki, jauh lebih ekstrim dari perjalanan kemarin (ya iyalah bego, dirimu lagi naikin gunung). 😛

Dua sampai tiga kali sy minta istirahat, tapi kalian tau apa? Tian gak pake istirahat, dia ketawa sepanjang jalan, becandaan sama kawan2nya yang umur terpaut jauh alias 17 tahun keatas. Tian, mendakinya lebih cepat dari sy (itu anak manusia apa robot? Masa dia gak capek?). Iya, Tian ponakan sy yang umurnya baru 4,5 taon, yang tadinya sy larang ikut karena kalo gak kuat ntar gak ada yang gendong! Dan sepertinya sy yang bakalan digendong hahahaha. Kaki eyke dah gempor rasanya 😥

Okay, entah mau dibilang lebay atau apalah itu, bodo’ amat. Orang2 di sana itu udah terbiasa dan fisik mereka pun menyesuaikan dengan lingkungan tempat tinggal mereka, gak kayak sy yang sejak kecil tinggal di daerah yang rataaaa, gak bergunung2 trus kemana-mana pake angkot, jarang sekali yang namanya jalan kaki. Jadi, begitu diperhadapkan dengan situasi semacam itu…ulala, cetaaaar deh hehe.

Tapi begitu sampai di batu mawira, rasa lelah sy terbayar tuntas. Gosh! Amazing. Wonderful time. View-nya luar biasa. Kaluwatu nampak di mata sy dihiasi oleh hijaunya rimbunan pepohonan, trus laut juga terlihat, dermaga Dagho juga kelihatan dari situ (sy nyesal gak sempat ke dermaga Dhago, itu desa di sebelah Kaluwatu. Viewnya bagus, apalagi kalo sore2 pasti mantap), Pulau Kalama juga nampak di kejauhan. Sungguh pemandangan yang menyejukkan hati. Sy benar2 cinta dengan tempat itu dan sy berharap suatu saat sy bisa menginjakkan kaki di tempat itu lagi (so lupa dang kalo hampir mati waktu naik ke batu mawira xixixi). Sy bangga bahwa itu adalah kampung halaman sy.

Batu mawira. ceritanya lg mandangin Kaluwatu di bawah sana hehe

Batu mawira. ceritanya lg mandangin Kaluwatu di bawah sana hehe

Masih di lokasi yg sama, batu mawira tp kali ini menghadap ke sisi yg berbeda

Masih di lokasi yg sama, batu mawira tp kali ini menghadap ke sisi yg berbeda

Abaikan 2 foto sy yang hanya tampak belakang di atas, kelihatan kayak lg menyendiri atau apalah itu, padahal sebenarnya nih…

Aslinya rame2, malah gak semua terfoto hehehehe.. kulit sy yg udah hitam, makin gosong terpapar sinar matahari… waktu itu terik bgt lho 😀

Besoknya kami sudah harus kembali ke Manado, masa cuti sy akan segera berakhir. Sebetulnya, sy masih ingin berlama-lama, tapi apa daya. Di perjalanan Kaluwatu – Tahuna, serasa ada yang hilang, mendadak sy belum rela untuk meninggalkan tempat itu. Sy masih ingin mendengar canda tawa keluarga sy di sana, sy masih ingin menyusuri jalan2 Kaluwatu.

Sy nyesal banget, kenapa selama di Kaluwatu sy menghabiskan banyak waktu sy dengan tidur siang? Kalo ngeliat kasur memang bawaannya pengen bobo, tapi kan bobo siangnya bisa di Sorong aja. Akhirnya sy gak sempat ke lain tempat, ke Laine (kata emak, banyak keluarga juga di sana), gak sempat ke Dagho, pokoke gak kemana2, cuma di Kaluwatu dan di Kaluwatu pun sy belum puas.

Eh, hampir kelupaan…sebelum kembali ke Manado, diajaklah kami ke puncak, Lenganeng. Kebetulan kami berangkatnya pake kapal malam dan kami nyampe di Tahuna sekitar jam 4 sore jadi masih punya waktu untuk jalan2 & ini beberapa foto yang diambil waktu di puncak (lagi2 jalan ke sananya bikin persendian lemas—tinggi chyn).

Puncak lenganeng, diselimuti kabut...bbrrrr...

Puncak lenganeng, diselimuti kabut…bbrrrr…

Nah, begitu kabut ilang, mulai deh kelihatan gunung2...ada laut jg di sana, tp gak ke foto & jg masih ada kabut tipis

Nah, begitu kabut ilang, mulai deh kelihatan yg ijo2 😀 laut jg terlihat dr situ, tp gak ke foto; apalagi masih ada kabut tipis

Kak Ocong & Embo Max (adek bungsu emak).. ini masih di puncak, lenganeng.. view dibawah sana adalah Kota Kab. Tahuna

Kak Ocong & Embo Max (adek bungsu emak).. ini masih di puncak, lenganeng.. view di bawah sana adalah Kota Kab. Tahuna

Sekarang, sy sangat merindukan kampung halaman sy. Mengetik cerita perjalanan sy ini, sebetulnya sy sedang mencoba mengenang, sekedar untuk mengobati rasa rindu sy. Sy bertekad, kalau umur panjang, kalau Tuhan masih berkehendak, sy akan kembali ke sana—as soon as possible.

Sy memang mengagumi beberapa negara dan berharap jika suatu saat sy bisa menginjakkan kaki di sana, tapi ternyata seberapa besar pun kekaguman sy terhadap mereka, tak bisa mengalahkan kecintaan sy terhadap negara sy sendiri.

Negara2 itu boleh saja memiliki banyak tempat yang bagus & menarik, atau memiliki perekonomian yang jauh lebih baik dibandingkan Indonesia, tapi tempat seperti Kaluwatu tidak akan mungkin sy temukan di sana.

Sekian kisah perjalanan sy.

Iklan

48 thoughts on “Catatan Marchia

  1. Sheepptii saptyaNG berkata:

    Foto yang dibukit doa kanonang paling belakang itu beneran monyet?

    Mendaki gunung lewati lembah.. Jejak petualang versi marchia hihihihi

    tapi pemandangannya beneran bagus loooooh..

    Sebenarnya penasaran sama jalannya ke kebun seperti apa sih semenanjaknya dan turunannya sampe malaikat maut aja ngikutin dibelakang hihihi.

    • marchiafanfiction berkata:

      itu bukan monyet dek, tp burung hantu.. hidup hehe
      disewakan kalo mau ada yg foto bareng burung hantunya.

      iya, sy emg gak sempat foto jalan ke kebun, jalannya memang bagus tp nanjak ampe kaki gempor…gmn mau foto, wong sy lg sekarat…fotonya cuma pas di jembatan (foto sungai)

  2. liyahseull berkata:

    Ah banyak2 lah bersyukur kau kak 😭😭😭😭 bahagia nya bareng2 keluarga itu ga ada yg nandingin……
    Aku jadi pengen……

    Bagus banget ya… Jadi inget kampungnya ayah..

    • marchiafanfiction berkata:

      iya, sesuatu yg sgt2 luar biasa.. bisa kumpul dgn keluarga, gak rela pulang tp apa daya haha

      emang kampung ayahnya dimana? pulang aja sekali2, temu kangenlah sama keluarga

  3. fizha berkata:

    perjalanannya seru!
    aku kyk bisa ngerasain gmn susahnya kak Marchia waktu k kebun
    soalnya q jg pernah k panta kapal d bintuni Papua barat
    jlnannya tu naik” tp gg jauh” bgt
    waktu itu aja q jg janji gg mw k situ lagi,
    aduuhh, pokoknya cape bgt. sampe mw nyerah d tengah jln.
    waktu itu qta masih SMP kls 3
    trus waktu plg hampir masuk RS ‘cuz aku sesak napas
    aduuuhh, pokoknya itu pengalaman yg paliiiiiiinngg bgt deh

    • marchiafanfiction berkata:

      fizha..iya, seru sekali lho
      wah..wah..agak trauma dengar jalan nanjak, tp skrg sy kangen kok sm jalan setan itu hahaha..dan kalo suatu saat kembali ke sana, kemungkinan besar sy akan nyeret sodara2 sy supaya kita ber-capek-ria atau ber-gempor-ria ke kebun haha

  4. salsakyu berkata:

    Keren keren banget tempatnya.. Jadi pengen kesana!! Tapi boro boro kesana, beranjak dari Nunukan aja saya belom pernah *curhat deh* 😀 hehe

  5. dama berkata:

    yaaampun kaaak aku ga ngira kakak tinggalnya di sorong. jauh banget kaaaak, aku dibarat kakak di timur wkwk
    ngomong” view nya bagus” banget sih kak, di jakarta mana ada yang kayak gitu. Waktu baca kakak naik turun bukit waktu pulang kampung waaaaah. Aku aja baru sekali nyobain naik gunung tapi susah pengen naik gunubg lagi, kakak enak banget kayaknya kampungnya masih kayak giu envy kaaaak

    • marchiafanfiction berkata:

      dama.. jd selama ini kiranya sy tinggal dimana? heheheiyaaa..berhubung di sorong itu daerahnya rata, jd begitu ketemu yg berbukit dikit aja udah rasanya pengen lambai2 bendera putihtapi seru kok, seruuuu banget!dan akhirnya sy jadi ketagihan utk pulkam, dah planning pokoke harus balik lagi.

  6. kimseok berkata:

    abeuhhh ini crta pnjang binggo,, bnrkn dugaan q marchia sibuk traveling 🙂 btw perjalanan ke kebun brpa jam? kya’a ko jauh bnr ikut ngos2an bca’a… mndadak jdi ank gunung 🙂 gtuh.. cepek nya kbyr ama pemandangan bgus,,

  7. vita berkata:

    Haiii marchia akhir nya bisa liat kamu juga he he salam kenall lagi yaa. Btw,baca catatan kamu rasa nyaseperti aku yg berpetualang sendiri di sana, ngebayangin indah nya perjalanan kamu ke kampung halaman mu,serasa ikut menikmati pemandangan alam nya yg pasti sangat indah. Emang benerrr indonesia tu memiliki tempat2 indah yg gk kalah drinegara lain

  8. HUGLOOMS berkata:

    Gapapa Kak Marchia,

    Baru juga menghilang selama berminggu-minggu, bukan bertahun-tahun kek aku (yang hampir dua tahun dan blog jadi sepi). Hahaha~
    Aku pakai username baru jadi mungkin message ini masuk ke moderate. Aku Ikha, Kak. Temen ngerusuh bareng Chocolia. Masih ingat?
    Sepertinya aku udah melewatkan beberapa fanfiction kakak jadi nanti aku mau visit-visit juga disini. Selamat hari Minggu dan keep fighting!

    Salam
    Huglooms

  9. jun_kyu berkata:

    kereeeeeeen . . sumpah kereeen bgt foto2 alam disana nya. sungainya jernih banget. ga kaya di kota udah dekil kaya baju tukang gali kubur #efekKemarenLiatDiMakamNguburinNenek (sempet2nya merhatiin) kkekeke.

    perjalanan & pengalaman yg ga kan pernah dilupain yaaa chia. greatest moment bgt kalo pulkam (pulang kampung) 😀

  10. yulianti0488 berkata:

    Annyeong aku reader baru,yuli imnida…baru nemuin blog ini pas buka aku langsung baca postingan ini,,,petualanganya seru ya tapi aku baca sambil ketawa kepingkal-pingkal ndak bisa ngerem akhirnya aku ngajak adik ku buat baca bersama curhatan kamu ini,,jadilah kita kepingkal-pingkal bersama…..
    Sumpah curhatan ini lucu banget,apalagi pas perjalanan ke kebun sampai sesak nafas aku ndak bisa nahan tawa..
    Oiya aku ijin baca ff nya ya….gamsahamnida…

  11. dya berkata:

    berasa capek juga pas baca
    tapi terobati liat hasil foto yg bagus..
    aq jadi ngiri punya keluarga yg banyak tapi tetep kompak..
    aah kak rasanya dah lama q gak kesini, kehilangan orang penting dalam hidup memang banyak merubah kebiasaanq…

  12. xivoneunike berkata:

    Kak Marchia… z kira d Kanonang itu bukit Kasih, n d Tomohon yg bukit Doa…
    so ad Bukit doa lg dg di Kanonang??? Br tau sy…
    astaga, Titi jd Miss Cengeng.. bisa tuh… hahaha

    • marchiafanfiction berkata:

      ivone,iyo dek, bukit doa kanonang, menurut info dr sodara2 yg pergi bareng, mereka bilangnya itu bukit doa dan juga di salah satu gapura yg sy ba foto ditulis “selamat datang di bukit doa GMIM Bukit Sion Kanonang” kalo yg di tomohon nda tau sy, nda sempat ke situ, kalo yg di tomohon juga ada tempat ibadah untuk 5 agama juga ya?

  13. zahelfishy berkata:

    baru buka lagi blog kak marchia, ternyata saya sudah ketinggalan banyak… baca petualangan kak marchia tuu saya jadi pengen ke sana… tapi baca perjuangan kak marchia, saya ketawa hhahaa…a #peace
    bener kata kak marchia, seberapa inginnya lihat keindahan negeri orang, tetap lebih membanggakan lihat keindahan negeri sendiri…

  14. Esaa berkata:

    Kakak long time no see!
    Ragu kak Marchia masìh inget readers yang setahun lebih ga nongol ini, hihi. . .
    Pengalaman kakak its amazing, wah di tasikmalaya mana ada yang begituan .

    • marchiafanfiction berkata:

      Karena banyaknya teman2 di sini, sy tidak mungkin ingat satu per satu…tapi selama kalian tidak mengganti ID, sy selalu familiar dgn teman2 yg selalu komen di sini, termasuk dengan ID Esaa…hehe welcome back iya, itu perjalanan yg sangat menyenangkan

  15. @indahRyeo berkata:

    Wahh kemanado?? Daku mah tingal dimanado diLApangan lumayan dkat dari Poli loh xD
    Annyeong indah imnida new readers ijin obek2 ff mu yah thor

  16. vannyvunny berkata:

    chingu boleh minta pw.y I feel in love, my trouble maker girl part 10 gk…
    qUe dach kirim imail tpi gk bisa: ‘)

  17. caca berkata:

    Hallo marchia slam kenal yaaa….., klo omgin daerah timur aq jdi kangen sma ambon, teringat hdup dsna 3 taon tnp da sodara, d ambon pemandangannya keren bangetttt……..

      • caca berkata:

        Klo jdi k ambon jgan lupa share dsni yaaaa, biar aq bsa liat kota ambon manise lgi hehehe……, jgan lupa foto d depan benteng victoria ya dstu dlu wktu aq tggal d ambon, ankq udah umur 6taon skr, jdi 3taon yg lalu aq bru pindah k amhon blik k jawa, d tggu ya marchia petualangan menjelajahnya lgi hehehe…….

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s