Drama (Part 6)

Drama (Part 4)

By. Lauditta Marchia Tulis

Main Cast : Cho Kyuhyun || Baek Mi Rae

~Kesamaan karakter ataupun jalan cerita hanyalah faktor ketidaksengajaan. Dilarang keras melakukan aksi Plagiat! Jika teman2 menemukan sesuatu yang mencurigakan, harap segera dilaporkan kepada saya. Say no to plagiat!~

***

Rumah Duka RS Universitas Anam.

Baek Mi Rae dengan hanbok hitam yang melekat di tubuhnya, gadis itu terus merapatkan bibirnya. Matanya memandang kosong. Ia hanya menerima ucapan belasungkawa dari pelayat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir pucatnya yang terkatup rapat. Meskipun ekspresi wajah datarnya terlihat sangat terpukul, tapi tak ada air mata yang menyeruak dari bola matanya yang memancarkan sorot dingin. Bahkan ketika Han Jin Ae yang baru saja tiba dan langsung memeluk Mi Rae sambil menangis sesegukan, Mi Rae tetap terlihat tenang. Bibi Jung adalah orang yang paling sibuk melayani para pelayat yang datang.

Sambil mengeringkan air mata, Jin Ae sesekali menoleh pada Mi Rae yang duduk di sisinya. Jin Ae paling tidak tahan melihat keadaan Mi Rae yang kini hidup sebatang kara. Mereka duduk melantai di dekat altar, tempat di mana orang-orang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah. Bunga-bunga berjejer rapi menghiasi altar, karangan-karangan bunga pun nampak di sana, sebuah foto Nyonya Baek berukuran besar yang dibingkai oleh bunga krisan putih dan juga ada sebuah papan nama yang berdiri di depan foto, papan itu mengukir nama Nyonya Baek. Mi Rae terus menatapi foto ibunya yang sedang tersenyum.

“Mi Rae.”

Suara bas yang menyambangi telinga Mi Rae membuyarkan lamunannya. Ia mengangkat kepalanya, memandangi pria yang kini sedang berdiri di hadapannya. Tak ada ekspresi apa pun di wajah datar Mi Rae. Cho Kyuhyun dengan setelah jas hitam yang dipakainya dan itu membuat Jin Ae sempat berdecak kagum di dalam hati—meskipun suasana seperti itu rasanya tidak begitu mendukung untuk mengagumi ketampanan Kyuhyun.

Mi Rae berusaha untuk berdiri, ia hampir terkulai jika Jin Ae tidak segera memegangi tubuhnya. Kyuhyun tampak cemas melihat kondisi Mi Rae. Jin Ae tidak sedikit pun menggeserkan sorot matanya dari wajah Kyuhyun. Pemuda tampan itu mencoba bersikap tenang, namun bola matanya sedang menceritakan banyak kesedihan dan rasa berduka.

“Pergi.”

Suara lemah yang keluar dari mulut Mi Rae membuat Kyuhyun tertegun. Jin Ae pun tanpa sadar ikut menoleh pada Mi Rae, ia merasa tidak yakin dengan apa yang baru saja ditangkap oleh telinganya.

“Mi Rae.”

Kyuhyun masih mematung, kini yang terlihat di hadapannya adalah Mi Rae yang sedang menghujaninya dengan sebuah tatapan yang jika diibaratkan terasa seperti sebuah belati yang mengiris jantung Kyuhyun.

“Baek Mi Rae, aku—”

PLAAKK!!

Sebuah tamparan keras yang tidak hanya menghentikan Kyuhyun, akan tapi membuat mereka menjadi sumber perhatian semua mata yang ikut melihat kejadian itu.

“Baek Mi Rae?” Jin Ae tanpa sadar membekap mulutnya sendiri setelah menyaksikan tamparan keras yang dilayangkan Mi Rae ke wajah Kyuhyun.

Cho Kyuhyun bergeming, ia telah kehilangan kinerja otot-otot di seluruh tubuhnya—seperti sebuah patung yang hanya berdiri kaku. Ia tak lagi merasakan perih di pipinya yang kini meninggalkan jejak kemerahan.

“Seharusnya kau pergi saat pertama kali aku memintamu,” Mi Rae berujar pelan, ia sedang menahan gertakan giginya. “Kau tahu?” Mi Rae menyeringai dingin, bola matanya mulai memerah dan berkaca-kaca. “Setidaknya, tiga sampai lima belas tahun adalah waktu yang dibutuhkan seorang penderita Alzheimer untuk bertahan hidup. Ibu—Ibuku…seharusnya dia baik-baik saja saat ini,” air mata yang ditahan Mi Rae pun menyeruak paksa keluar dari persembunyian. “Mengapa kau lakukan itu padaku? MENGAPA?” Mi Rae berteriak histeris dan ia telah kehilangan kendali.

Kyuhyun sungguh tak mampu menggerakkan mulutnya. Melihat Mi Rae yang terluka justru membuatnya ikut merasakan luka yang sama. Melihat air mata Mi Rae, seperti ribuan jarum yang menembus hatinya. Perih. Rasanya tidak ada hal yang pantas ia katakan meskipun itu adalah sebuah kata maaf.

“Mi Rae, aku—”

Seseorang mencengkeram lengan Kyuhyun ketika Kyuhyun yang tanpa sadar berusaha maju selangkah lebih dekat pada Mi Rae.

“Apa kau tidak mendengarnya?” Siwon berujar dingin tanpa melepaskan tangannya, “Mi Rae memintamu pergi. Sebagai seorang pria, bisakah kau menghormati keputusannya?” Siwon membalikkan kata-kata yang pernah dilontarkan Kyuhyun kepadanya dulu.

Cho Kyuhyun memang tidak mampu melakukan apa pun. Tak ada yang bisa Kyuhyun lakukan selain memandangi Siwon yang merangkul Mi Rae ke dalam pelukannya. Melihat Mi Rae yang menangis dalam pelukan Siwon seolah menyadarkan Kyuhyun akan sebuah kenyataan yang harus ia hadapi. Ia berpaling dan melangkah gontai meninggalkan mereka di belakangnya.

***

Derak suara pintu yang dibuka memecah kesunyian, diikuti dengan lampu yang menyala. Cahaya memenuhi setiap sudut ruangan yang bisa dijangkau olehnya. Mi Rae masih berdiri di ambang pintu. Memandang kosong pada seisi kamar yang begitu lengang. Ia tidak akan pernah lagi melihat ibunya tergolek di atas kasur itu.

Mi Rae melangkah pelan, ia membiarkan pintu kamar sedikit terbuka. Ia berjalan ke sebuah meja rias, tangannya mengambil sebuah pigura yang terletak di atas meja itu. Melihat senyum ibunya di dalam foto membuat Mi Rae kembali meletakkan pigura itu pada tempat semula, rasanya ia tak mampu berlama-lama memandangi foto ibunya. Mi Rae bergeser dan duduk di tepian tempat tidur. Matanya tertuju pada boneka beruang coklat kesayangan ibunya yang tersandar di kepala tempat tidur. Ia lalu mengambil boneka itu, memandangi bola mata hitam boneka tersebut.

“Riri,” gumam Mi Rae, menyebutkan nama si boneka beruang. “Kau pasti kesepian. Tidak Riri, jangan bertanya di mana Ibu,” Mi Rae tersenyum tipis. Bola matanya kembali menyisiri seisi ruang kamar dan dadanya mendadak sesak, semua yang ia lihat hanya mengingatkannya pada ibunya. Ia belum sepenuhnya yakin bahwa wanita itu telah pergi. “Kau tidak merindukan Ibu?” tatapnya pada Riri, “Apakah hanya aku yang merindukannya?” tanyanya lagi. Air mata mengalir di pipi Mi Rae. Ia mendekap Riri dalam pelukannya.

Tangisan Mi Rae pun pecah. Dadanya sangat sakit. Kehilangan orang yang sangat disayangi, Mi Rae belum siap dengan semua itu. Tangannya memukul-mukul boneka dalam dekapannya, ia menghempas kasar tubuhnya di atas kasur dan tangisannya kian keras.

Mi Rae marah pada Kyuhyun, tapi ia lebih marah pada dirinya sendiri. Jika saja ia tetap bersikeras menolak ajakan Kyuhyun, ibunya tidak akan pergi mencarinya dan terserempet seorang pengendara motor yang ugal-ugalan di jalan. Tangisan Mi Rae kian menjadi-jadi, ia menyesali bahwa sampai saat terakhir ia tidak dapat menepati janji pada ibunya. Mi Rae sangat membenci kebodohannya.

***

“Ada apa?” Mi Rae bertanya pada Jin Ae yang terus menatapinya heran sejak kedatangannya di kampus.

“Mi Rae—kau baik-baik saja?”

“Hm.”

Jin Ae tak habis pikir, padahal baru dua hari lalu mereka menghadiri pemakaman ibunya Mi Rae. Walau Mi Rae mengangguk mengiyakan pertanyaan Jin Ae, tapi Jin Ae menyangsikan jawaban gadis itu.

“Rasanya sangat aneh seorang diri di rumah,” Mi Rae tersenyum tipis. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan Ji Ae. Mi Rae kembali tersenyum ketika Jin Ae meraih lembut jemari tangannya—menyelipkan sebuah ketulusan dalam remasan tangan Jin Ae.

Kemunculan Kyuhyun dan Hyukjae di kelas menciptakan perubahan di raut wajah Mi Rae. Langkah Kyuhyun pun terhenti saat matanya bertemu dengan mata Mi Rae. Mereka saling pandang dengan durasi yang cukup lama. Kyuhyun menarik napas panjang dan kembali mengayunkan kakinya, ia bermaksud menghampiri Mi Rae namun langkahnya lagi-lagi terhenti saat Mi Rae buru-buru meninggalkan ruangan. Jin Ae menyusuli Mi Rae. Ia terhenti di depan Kyuhyun.

“Jangan terlalu membencinya. Dia hanya sedang bersedih,” tukas Jin Ae sebelum kembali mengejar Mi Rae.

Kyuhyun melangkah gontai ke tempat duduk dan langsung bersandar lemas. Hyukjae menarik sebuah kursi agar lebih dekat pada Kyuhyun. Ia lantas duduk di kursi itu.

“Kalau saja aku tidak memaksanya saat itu,” Kyuhyun berujar lemah. Ia sangat menyesal.

“Jangan terus menyalahkan dirimu.”

“Aku tak bisa melupakan tatapan matanya saat itu.”

“Kyu.”

“Entahlah, tapi aku memang pantas menerima perlakuan ini darinya.”

“Tidak perlu terlalu dipikirkan. Suatu waktu, Mi Rae akan memahaminya.”

“Semoga kau benar,” Kyuhyun tersenyum tipis. Sangat tipis dan nyaris tak terlihat. Ia kemudian menarik napas panjang.

Sementara itu, Jin Ae tampak kesulitan menyamakan langkah kaki Mi Rae. Gadis itu sepertinya benar-benar tidak ingin bertemu Kyuhyun.

“Mi Rae—bisakah kita berjalan lebih santai?”

“Dia mengejarku?”

“Siapa? Kyuhyun? Kau berharap dia mengejarmu?”

Mi Rae berhenti tiba-tiba, “Tidak,” jawabnya, kemudian ia mengayunkan kakinya dengan tempo yang sedang.

“Kau menyalahkan Kyuhyun atas kematian Ibumu?”

Jin Ae bertanya dan hal itu secara tiba-tiba menghentikan langkah kaki Mi Rae. Ia menoleh pada Jin Ae.

“Kenapa? Jadi kau sedang menghukumnya?”

Pertanyaan beruntun Jin Ae hanya dibalas dengan tatapan lebar Mi Rae. Dadanya mulai bergemuruh dan wajahnya terasa memanas.

***

Mi Rae merengut malas di balik selimut yang memeluk hangat seluruh tubuhnya. Ia tak bisa memejamkan matanya padahal jam mungil yang berdiri kokoh di atas meja tepat di sisi tempat tidurnya telah menunjukkan pukul sebelas malam. Senandung ringan dari perut adalah salah satu penyebab ia tak bisa tertidur. Mie instan memang bukan solusi yang baik bagi kelangsungan hidupnya, tapi sudah lebih dari sembilan hari ia sangat akrab dengan semua makanan serba instan. Sembilan hari sejak kepergian ibunya, memasak tidak lagi menjadi hal yang menyenangkan baginya.

Getaran kasar ponsel dalam genggaman Mi Rae membuat gadis itu melupakan sejenak rasa laparnya. Ia menatap jengah dan mendengus pelan. Nama yang tertera di layar ponsel membuatnya berpikir beberapa kali lipat untuk menerima panggilan itu. Mi Rae belum bisa memantapkan hatinya untuk berhadapan dengan Cho Kyuhyun. Ia tak tahu mengapa bisa menjadi begitu sensitif pada pemuda tersebut.

“Aku ikut berduka atas kepergian Bibi, tapi aku tidak mengira jika kau akan menyalahkan Kyuhyun. Kehidupan dan kematian adalah sesuatu yang tidak dapat diakali dan berada diluar kendali kita. Kita tidak akan pernah tahu di mana, kapan dan bagaimana kita mati.”

Perkataan Han Jin Ae beberapa hari yang lalu terus bergelayut di pikiran Mi Rae. Kata-kata yang rasanya tak mau keluar dari dalam kepala Mi Rae.

“Kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa tidak ada yang terjadi secara kebetulan dalam hidup ini—semua punya maksud dan tujuan. Aku tidak sedang menyudutkanmu karena pikiranmu yang terlampau realistis. Terkadang, ada hal-hal tentang kehidupan dan kematian yang tidak harus kau nalar dengan logikamu. Mi Rae, apa yang kau alami bukan sebuah hukuman, Tuhan punya maksud yang indah dalam hidupmu. Inilah proses hidup, ikuti saja arusnya, sebab kau, aku—kita sedang dibentuk oleh-Nya. Kau dan aku masih harus belajar untuk memahami dan mensyukuri apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup kita.”

Mi Rae membalikkan tubuh, ia mendekap erat sebuah guling. Semua yang dikatakan Jin Ae benar. Menyalahkan Kyuhyun, tidak seharusnya ia lakukan itu. Mi Rae tak mengerti mengapa kakinya masih terus berlari ketika mendeteksi kehadiran Cho Kyuhyun. Sangat memalukan baginya, dan ia tak mampu bertatapan langsung dengan Kyuhyun—ia menyesal, tapi tidak memiliki cukup keberanian untuk memperbaiki kesalahan yang ia lakukan pada Kyuhyun.

Han Jin Ae mungkin tidak pernah mengira jika Baek Mi Rae yang selama ini terlampau sering mengguruinya, justru menyimpan sebuah kekaguman terhadap Jin Ae di dalam hatinya. Mi Rae merasa alangkah baiknya jika ia bisa bersikap sesantai Jin Ae. Adakalanya Mi Rae berpikir jika sesekali melakukan sebuah keteledoran atau keluar dari aturan hidupnya, mungkin akan sangat menyenangkan—seperti halnya Jin Ae yang membiarkan dirinya mengikuti arus tanpa sebuah perlawanan tapi tidak membiarkan arus itu menenggelamkannya. Jin Ae terlihat sangat menikmati hidupnya, begitu pikir Mi Rae.

Senyuman di sudut bibir Mi Rae mengembang ketika ia mengingat kembali ekspresi Jin Ae setelah memberikan kuliah singkat tentang hidup padanya. Han Jin Ae yang saat itu tercekat dengan mata yang membulat sempurna. Jin Ae bahkan terpekik, nyaris menjerit namun suaranya seolah sengaja ia tahan agar tetap terkurung di dalam mulutnya. Mi Rae yang semula bungkam karena penuturan-penuturan Jin Ae, ikut keheranan karena aksi Jin Ae apalagi saat Jin Ae meraba dahinya sendiri.

“Astaga! Han Jin Ae! Kau yakin kepalamu tidak pernah terbentur? Bukankah yang kau ucapkan tadi seharusnya menjadi dialog sahabatmu, Baek Mi Rae? Hei, Mi Rae—tadi kau yang merasukiku, kan?”

Kali ini tawa Mi Rae pecah mengingat betapa konyolnya ekspresi Jin Ae saat itu. Jin Ae yang merasa takjub pada dirinya sendiri karena mampu mengeluarkan kata-kata penuh makna. Jin Ae yang bahkan tidak menyadari jika ia telah mengajari orang lain satu dari sejuta makna yang terselip dalam kamus hidup—ya, itulah sosok seorang sahabat yang dikagumi Mi Rae.

Guling di pelukan Mi Rae didekap lebih dalam lagi. Mi Rae memejamkan matanya. Rasa lelah yang menghimpit, kesedihan yang masih membayang, beban yang seakan enggan beranjak dari pundaknya—Mi Rae ingin melupakan semua itu sejenak. Sebuah harapan baru mulai bertumbuh di dalam hatinya. Jika besok Tuhan masih mengijinkannya melihat matahari Seoul, maka Tuhan sedang memberinya kesempatan untuk kembali menata hidupnya.

Perut yang terasa benar-benar kosong membuat Mi Rae membuka kelopak matanya yang saling merekat. Tadinya ia mengira jika rasa lapar merampas paksa tidur nyenyaknya sampai ia tersadar jika jarum jam telah menunjukkan pukul empat dini hari. Artinya ia telah tertidur selama beberapa jam. Mi Rae menyingkap selimut dan kakinya mulai meraba-raba sendal di lantai parkit. Ia memilih mengesampingkan urusan mata yang rasanya selalu ingin terpejam ketimbang mati karena kelaparan, bukan karena tidak ada makanan tapi karena malas bergeser dari selimut hangatnya.

Tangannya meraih ponsel yang tergolek di atas kasur. 23 panggilan tak terjawab membuat bola matanya sedikit melebar dan ketika melihat bahwa Kyuhyunlah yang menyerangnya dengan panggilan bertubi-tubi itu, mendadak kantuk Mi Rae terengut—hilang tak berbekas. Mi Rae pasti tidur seperti orang mati, bagaimana mungkin ia tidak merasakan getar ponselnya?

-Mi Rae, kau baik-baik saja?-

Sebaris pesan singkat dari Kyuhyun membuat Mi Rae sedikit terhenyak. Apakah Kyuhyun sedang mencemaskannya? Setelah perlakuan kasarnya, masihkah Kyuhyun menaruh rasa cemas terhadapnya? Mi Rae menghela napas panjang. Ia menegakkan tubuhnya, beranjak dari kamar tapi bukan menuju dapur. Ia justru melangkah keluar rumah.

Mi Rae menjajak pelan kakinya di pekarangan mungil di depan rumahnya. Seoul masih diselimuti oleh kegelapan, udara dingin terasa kian nyata menusuk hingga ke tulang-tulang Mi Rae. Gadis itu merapatkan kedua tangannya, memeluk tubuhnya sendiri. Ia mendongakkan kepala, memandangi langit yang menaunginya. Langit tak begitu cerah, padahal biasanya ia masih bisa menikmati kerlap-kerlip bintang dari pekarangan rumahnya itu.

Udara dingin yang berhembus seolah sedang memerintahkan Mi Rae untuk kembali ke dalam rumah. Ketika ia berbalik, alangkah terkejutnya ia melihat pemandangan yang luar biasa ganjil. Mi Rae terpekik ketika dalam remang-remang cahaya matanya terpana pada seseorang yang sedang duduk di tanah dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding, tak jauh dari pintu masuk rumah. Mi Rae mengambil sebuah kayu yang hampir mencium ujung sendalnya. Dadanya berdegub cepat ketika ia menghampiri sosok itu penuh kehati-hatian.

Kayu dalam genggaman Mi Rae terlepas ketika ia sampai di hadapan sosok yang tampaknya tengah tertidur. Pulas.

“Cho Kyuhyun?”

Jantung Mi Rae terdentam hebat. Ia maju dua langkah lagi hingga jaraknya dari Kyuhyun semakin dekat lalu ia berjongkok di hadapan Kyuhyun. Apakah Kyuhyun mabuk? Tapi tidak ada bau alkohol yang terhendus hidung Mi Rae. Lalu apa yang Kyuhyun lakukan di situ? Tidur di halaman Mi Rae di waktu-waktu yang tak normal.

Wajah Kyuhyun yang memenuhi retina Mi Rae membuat gadis itu bergeming. Alis yang tebal, hidung mancung, bibir yang merekah dan tampak begitu sehat, kulit putihnya sedikit pucat. Orang itu memang tampan. Mata Kyuhyun bergerak dan ia mengerjap pelan. Secara refleks Mi Rae berdiri, menegakkan tubuhnya. Ia menjadi salah tingkah.

“Mi Rae?”

Kyuhyun mungkin lebih terkejut karena aksinya tertangkap basah oleh Mi Rae, segera ia berdiri. Untuk beberapa saat kedua orang itu seperti patung hidup. Mereka hanya terdiam dalam kecanggungan.

“Kau—”

Lalu bersama-sama mereka memecah kesunyian. Kyuhyun diam, memberikan kesempatan pada Mi Rae untuk berbicara lebih dahulu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Mi Rae bertanya. Ia berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikan kegugupannya.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun justru mengulangi pertanyaan yang sama seperti isi sms yang ia kirim pada Mi Rae semalam. Keduanya kembali bungkam.

“Aku tahu kau sangat membenciku, tapi aku tidak bisa untuk tidak mencemaskanmu.”

“Sejak kapan kau di sini?”

“Kau tak menjawab panggilanku, karena itu aku—” Kyuhyun mengurungkan perkataannya. Ia tak ingin mengatakan pada Mi Rae jika ia terburu-buru ke rumah Mi Rae karena gadis itu tak menjawab telepon darinya. Kyuhyun tersenyum tipis, “Kau mungkin sedang menangis,” terselip kecemasan dari senyum getirnya.

Perkataan Kyuhyun semakin membungkam Mi Rae. Alasan Kyuhyun berada di rumah Mi Rae—sangat jelas, dibandingkan dirinya sendiri, ia lebih mencemaskan Mi Rae. Mi Rae tertegun sebab itu artinya Kyuhyun telah melewati sepanjang malam dengan udara yang begitu dingin di luar rumah Mi Rae.

“Begitu sampai di sini, kau tampaknya sudah tertidur. Belakangan ini kau terlihat kurang beristirahat,” Kyuhyun mengawasi kantung mata Mi Rae yang terlihat jelas. “Aku tak ingin membangunkanmu, tapi juga tak berniat beranjak dari tempat ini.”

Mi Rae sudah tak tahu harus melakukan apa, ia sungguh semakin salah tingkah dibuat Kyuhyun. “Jadi. Jadi—katakan, kau mau apa sebenarnya?”

“Kau mungkin akan semakin membenciku,” sesaat setelah berkata begitu, Kyuhyun mendekati Mi Rae dan dengan lembut ia membawa Mi Rae ke dalam dekapannya. “Sesuatu yang tidak dapat aku lakukan pada saat pemakaman Ibumu,” Mi Rae merasa jantung seolah berhenti sesaat, ia seperti terbius karena Kyuhyun memeluknya lebih erat lagi. “Jangan menangis seorang diri,” dan perkataan itu justru melelehkan air mata Mi Rae. “Aku minta maaf. Membiarkanmu melalui masa sulit sendirian, maafkan aku—Baek Mi Rae.”

Kehangatan Kyuhyun tersampaikan hingga ke hati Mi Rae, jelas mencengkeram hatinya yang seperti terhimpit oleh perasaan aneh yang sama sekali tidak bisa ia pahami. Tangan Mi Rae yang entah sejak kapan terkulai lemas akhir tampak mulai bergerak. Ia membalas pelan pelukan Kyuhyun.

*

“Kau selalu makan makanan seperti ini?”

Kyuhyun memandangi semangkuk ramyeon dengan asap yang masih mengepul yang baru saja di letakkan Mi Rae di atas meja, tepat di hadapannya.

“Aku tidak sempat berbelanja.”

Kyuhyun hanya melongo setelah mendengar jawaban Mi Rae. Ia masih mengingat jelas bahwa itu adalah alasan yang sama persis yang keluar dari mulut Mi Rae saat ia disuguhi makanan yang sama ketika berkunjung ke rumah Mi Rae sebelumnya.

“Lain kali aku akan memberikanmu makanan yang lebih baik.”

Kyuhyun terperanjat. Ia menatap Mi Rae dan bola mata coklatnya terlihat berbinar-binar. Senang. Lain kali?

“Jadi, kau masih mengijinkanku datang ke sini lagi, kan?”

“Bisakah kita makan sekarang?”

Senyuman lebar tersungging di sudut bibir Kyuhyun. Beberapa saat ia hanya melewatkan detik demi detik dengan terpaku menonton Mi Rae yang begitu lahap menelan ramyeon. Kyuhyun baru mulai menarik sumpitnya saat Mi Rae menatapnya dan kemudian melengos dengan eskpresi datar.

***

“Terima kasih.”

Mi Rae membungkuk pada manager di kafe tempatnya bekerja. Ia telah menyudahi jam kerjanya dan segera menuju kamar ganti. Mi Rae membuka loker dan ia mulai menukar pakaian kerjanya. Ia mengawasi wajahnya dari cermin yang terletak tepat di balik pintu loker, tangannya mengoles bibir pucatnya dengan lipgloss, lalu menggulung rambutnya. Setelah semua dirasa beres, Mi Rae lantas menutup kembali loker miliknya dan bergegas meninggalkan tempat itu.

Begitu keluar dari bangunan kafe, ia melihat seorang pemuda yang sedang bersandar manis di mobil merah maroon mewah sambil memainkan kunci mobil di tangannya. Entah sadar atau tidak, Choi Siwon tak terlihat mempedulikan gadis-gadis yang bertingkah aneh ketika melihatnya, apalagi saat Siwon melambaikan tangan pada Mi Rae sambil memamerkan lesung pipinya, gadis-gadis itu menahan pekikan mereka. Baek Mi Rae justru melengos kesal melihat Siwon yang sedang berjalan menghampirinya.

“Apa?”

Mi Rae semakin kesal karena gadis-gadis yang kini sedang melayangkan tatapan iri padanya. Seolah Mi Rae adalah gadis paling beruntung se-Korea Selatan. Sorot mata mereka membuat Mi Rae muak. Siwon tak menjawab, ia justru memegang pergelangan tangan Mi Rae dan mengajak Mi Rae beranjak. Mi Rae menghempas pelan tangan Siwon. Pemuda itu berbalik, menoleh padanya.

“Kau tak menjawabku.”

“Aku akan mengantarmu pulang.”

Tak menunggu lama untuk membuat Mi Rae berbalik arah dan berjalan menyusuri trotoar di tepian jalan beraspal. Siwon berlari kecil menyusulinya.

“Kau tampaknya sangat membenciku.”

“Aku memang sempat membencimu.”

“Sempat? Jadi maksudmu—sekarang tidak lagi?”

Mi Rae menghentikan langkahnya, ia menoleh pada Siwon, “Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya, bukan? Aku sudah memaafkanmu, tapi jika kau bertingkah seperti ini, kau sedang memaksaku untuk kembali membencimu.”

“Baiklah, baiklah,” Siwon terkekeh pelan. “Aku tidak akan memaksakan perasaanmu padaku. Tentang apa yang aku rasakan saat ini—biar aku yang mengatasinya.”

“Ide yang bagus,” Mi Rae mengangguk-angguk tanda setuju.

“Sebagai seorang teman, tidak bisakah kau mempercayaiku?”

“Apa?”

“Ijinkan aku mengantarmu,” ujar Siwon. “Ayolah, bukankah kita berteman?” Siwon menautkan jari-jari tangannya sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya. Ekspresinya yang lucu sontak membuat Mi Rae tertawa. Siwon pun tertawa, ia sangat senang melihat Mi Rae bisa tertawa seperti itu. “Baiklah Nona, temanmu ini akan mengantarmu dengan selamat,” katanya sambil merangkul pundak Mi Rae, menuntunnya menuju mobil. Baek Mi Rae menepuk tangan Siwon membuat pemuda itu terkekeh sambil menyingkirkan tangannya dari pundak Mi Rae. Bergegas Siwon mendahului Mi Rae, ia membuka pintu mobil dan mempersilahkan Mi Rae untuk masuk ke dalam mobil dengan sikapnya yang sangat sopan dan tentu saja hal itu membuat gadis-gadis yang duduk di dalam kafe semakin terkesima melihat adegan tersebut.

***

Buku-buku yang menumpuk di atas meja membuat Mi Rae menghela napas berat. Tugas yang semakin banyak rasanya akan membuat ia berakhir di rumah sakit jiwa. Sudah sejak siang hari ia duduk berkutat di depan laptop tua miliknya dan sejumlah buku yang sebagiannya telah berserakan di lantai. Mi Rae mendorong tubuhnya ke belakang dan meletakkan beban tubuhnya pada tangan kiri yang bertumpu di atas lantai yang ia duduki, sementara tangan kanannya sibuk memukul-mukul pundaknya yang terasa pegal dan remuk.

Bel yang berbunyi mengalihkan perhatian Mi Rae. Bel kembali berbunyi. Mi Rae beranjak, namun kepalanya dipenuhi dengan tanda tanya. Ia tak habis pikir, siapa yang akan membunyikan bel rumah seseorang ketika jarum jam telah menunjukkan pukul 22.13 malam. Mi Rae membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat Jin Ae melompat dari balik pintu.

“Kau tidak sedang berniat membunuhku, bukan?”

“Aishh, kau ini!”

“Jangan katakan, jika kau ingin membombardirku dengan keluh kesahmu?”

“Mi Rae—apakah aku terlihat seperti itu di matamu?”

“Jadi—apa lagi alasan yang membuatmu nekat ke rumahku pada jam-jam seperti itu?”

Jin Ae menyengir tajam. Ia mengangkat sebuah kotak yang ditenteng di tangan kanannya. “Happy birthday!

Mi Rae tertegun, “Aku?” tanyanya tak yakin.

“Kau tidak mungkin melupakan ulang tahunmu sendiri, kan?” Jin Ae justru mendelik. “Ck, mengapa sahabatku sangat memprihatinkan?” decaknya tenang dan menerobos Mi Rae yang berdiri di pintu membuat tubuh Mi Rae sedikit terdorong.

Setelah menutup pintu, Mi Rae menyusuli Jin Ae. Ia hanya berdiam diri menyaksikan Jin Ae yang telah menyingkirkan laptop dan buku-buku di atas meja, lalu mendorong buku yang berserakan di lantai dengan kakinya. Jin Ae meletakkan kotak kue yang dibawanya di atas meja, juga kantong plastik yang berisi minuman.

“Ah—jadi, aku sedang berulang tahun,” gumam Mi Rae. Ia tak menyangka bisa melupakan hari lahirnya.

“Kemarilah!” perintah Jin Ae yang telah menyalakan lilin yang ditancapkan di atas kue tart. Mi Rae menuruti apa yang dikatakan Jin Ae. Ia duduk di hadapan kue itu. “Tiuplah lilinnya, dan jangan lupa—kau harus mengucapkan permohonanmu di dalam hati.”

Mi Rae mengangguk pelan, ia lalu meniup lilin-lilin di atas kue hingga semuanya padam. “Terima kasih,” katanya pada Jin Ae yang justru memeluknya. Sejak kepergian ibunya, Mi Rae merasa tidak ada yang istimewa dengan hari-hari yang dilaluinya. Itulah sebabnya ia bahkan secara tidak sadar melupakan hari penting itu.

30 menit kemudian…

Mi Rae menatapi Jin Ae yang meneguk isi minuman kaleng beralkohol dalam sekali teguk. Kue ulang tahun sudah tidak terlihat utuh. Mi Rae mendengus, sebal rasanya melihat Jin Ae yang mabuk. Bel di rumah Mi Rae kembali berbunyi, berbunyi dan berbunyi lagi. Siapa pun yang membunyikannya, orang itu sudah pasti tidak sabar menunggu pintu dibuka. Mi Rae bergegas membuka pintu dan seketika itu juga ia melongo saat matanya melihat dua orang yang sedang berdiri di hadapannya.

Kyuhyun melipat tangan di depan dada, sepertinya ia telah siap memarahi Mi Rae, “Mengapa lama sekali membuka pintu?” dengusnya kesal. Kyuhyun tak menunggu jawaban Mi Rae, ia segera menerobos masuk, bahkan mendorong tubuh Mi Rae sedikit lebih kasar daripada yang dilakukan Jin Ae sebelumnya.

Mi Rae menoleh tak percaya pada Kyuhyun yang telah melenggang ke dalam rumah. Bahkan tidak sampai semenit, Mi Rae telah membukakan pintu. Lama sekali katanya? Mi Rae meniup kasar poni yang berserakan di dahinya. Tatapan Mi Rae beralih pada Hyukjae yang kini tengah memamerkan gusi-gusinya.

“Oh ya, selamat ulang tahun.”

“Tunggu—bagaimana kalian…,” Mi Rae tersentak dan Hyukjae tak menghiraukan keheranan Mi Rae. Pemuda itu sudah terlihat tidak sabaran dan ia pun terburu-buru masuk ke dalam rumah Mi Rae. “Han Jin Ae sialan!” Mi Rae mengepal tangannya, ia sudah menyadari jika Jin Ae yang mengatakan dua pemuda tak tahu diri yang baru saja melenggang masuk ke dalam rumahnya sebelum dipersilahkan terlebih dahulu olehnya. Mi Rae menutup pintu.

Kyuhyun dan Hyukjae telah bergabung dengan Jin Ae. Mereka duduk bersimpuh di hadapan meja yang di atasnya telah berserakan berbagai jenis jajanan khas Korea. Jin Ae sedang menepuk-nepuk pundak Kyuhyun sambil tertawa lebar, ia benar-benar mabuk. Sementara Kyuhyun memilih menghindar dari Jin Ae, ia pun mulai asyik melempari sisa-sisa buku yang membatasi ruang geraknya ke tumpukan buku lainnya yang telah terlebih dahulu disingkirkan Jin Ae di pojok ruangan. Lee Hyukjae lebih fokus pada kegiatan lain, ia melahap makan, tampak seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari. Mereka tidak peduli pada Baek Mi Rae yang rahangnya seakan tertarik oleh gravitasi bumi.

“Siapa mereka?” Mi Rae seperti orang ling-lung. Ia terburu-buru menarik buku di tangan Kyuhyun sebelum pemuda itu melempar buku tersebut. “Kalian ingin menghancurkan rumahku?”

“Ah—Mi Rae, selamat ulang tahun,” Kyuhyun yang hendak memberikan pelukan hangat justru mendapat pukulan di puncak kepalanya sehingga ia meringis sambil mengusap-ngusap kepalanya. “Kau sangat kejam,” desis Kyuhyun.

“Mengapa kalian tidak pulang saja?” kesal Mi Rae.

“Tidak, kita baru saja mulai berpesta. Bukan begitu?”

Kyuhyun dan Hyukjae mengangguk-angguk antusias menyetujui perkataan Jin Ae. Mereka lalu menarik minuman masing-masing dan mulai bersulang. Mi Rae menatap langit-langit rumahnya. Pasrah.

“Kalian…makhluk brengsek!”

Han Jin Ae telah mabuk berat dan mulai menunjuk-nunjuk wajah Hyukjae dan Kyuhyun. Keduanya hanya saling pandang dan kembali meneguk isi kaleng minuman mereka. Santai.

“Mau kalian itu apa, hahh?” Jin Ae mendorong kasar kepala Hyukjae membuat minuman di mulut pemuda itu tertelan paksa. Hyukjae tersedak.

“Han Jin Ae!” Hyukjae mendesis kasar sambil menyeka sisa minuman di wajahnya.

“Dia benar-benar mabuk,” Mi Rae mendesis, “Jin Ae, bagaimana jika aku panggilkan taksi?”

“Tidak!” tolak Jin Ae. “Tidak, tidak, tidak,” ia menggeleng berkali-kali. “Aku harus memberi pelajaran pada makhluk-makhluk berekor depan ini,” ia menghujani Hyukjae dan Kyuhyun dengan tatapan bengisnya.

“Ya Tuhan. Han Jin Ae, apa susahnya kau menyebut kami laki-laki?” Hyukjae menganga lebar.

“Jin Ae, jangan merusak pesta,” ucap Kyuhyun tenang, ia menyendoki kue tart dan langsung menjejalkan kue tersebut ke dalam mulutnya.

“Tidak ada gunanya, tidak ada yang bisa kita perbuat. Abaikan saja dia,” Mi Rae sangat mengetahui tabiat buruk Jin Ae jika sedang mabuk, Jin Ae tidak terhentikan.

Jin Ae mulai menangis tersedu-sedu, ia mencoba meraih kaleng minuman namun dicegah oleh Mi Rae.

“Kalian tahu, Ji Hoon—Park Ji Hoon. Ah, kalian pasti tidak tahu?” Jin Ae menatapi Kyuhyun dan Hyukjae.

Mi Rae mendengus, ia sudah menduga jika terjadi sesuatu. Jin Ae akan bereaksi seheboh itu jika menyangkut tentang Ji Hoon, mantan pacarnya.

“Ji Hoon…dia adalah kekasihku yang paling tampan, baik hati…kekasih yang mampu membuatku bahagia—Ji Hoon….ah, tapi dia bukan kekasihku lagi,” Jin Ae menangis lagi sambil merampas minuman di tangan Hyukjae. “Aku sangat mencintaimu, tapi kau tahu—” lagi-lagi ia menoleh pada Hyukjae yang duduk di sisinya. Sementara Kyuhyun memilih untuk semakin menjauh dari zona bahaya, ia tak ingin menjadi korban keganasan Jin Ae. “Dia memutuskanku hanya karena bertemu dengan gadis lain, katanya aku tidak lagi membuatnya berdebar.”

“Jadi mengapa kau menangisi laki-laki sepertinya?”

Jin Ae justru memeluk Hyukjae, “Dia memang brengsek, kau benar,” isak Jin Ae. Hyukjae menepuk-nepuk punggung Jin Ae. “Kau tahu?” Jin Ae melepas pelukannya dan kembali menatapi Hyukjae, “Tiba-tiba saja dia menghubungiku.”

“Menghubungimu?” Hyukjae mulai mengikuti alur Jin Ae. Ia tampaknya cukup menikmati menjadi korban Jin Ae.

Jin Ae mengangguk, “Dia ingin kembali padaku. Aku yakin pasti gadis yang dibangga-banggakannya itu telah meninggalkannya.”

“Lalu—kau jawab apa padanya?”

“Entahlah.”

“Jin Ae, jika kau tahu dia menghubungimu setelah putus dari gadis yang membuatnya meninggalkanmu—apakah kau masih berniat memberinya kesempatan?”

“Percuma saja jika kau berbicara padanya,” Mi Rae berdecak, takjub melihat Hyukjae yang rela mengeluarkan pendapatnya pada gadis mabuk itu.

“Dia benar-benar brengsek, setelah aku berhasil melupakannya, tiba-tiba saja dia datang. Bagaimana jika hatiku goyah?”

“Han Jin Ae. Kau tidak boleh terpengaruh padanya. Di dunia ini, laki-laki bukan cuma Ji Hoon. Masih banyak yang jauh lebih baik darinya.”

Jin Ae terdiam, “Benarkah? Siapa?” tanya sambil menyeka ingus membuat Hyukjae mendelik, jijik. “Kau lebih baik daripada Ji Hoon?” pertanyaan yang membuat Hyukjae tersedak.

“Aku?”

“Atau kau sama brengseknya dengan dia?” Jin Ae memicingkan matanya. Ia menangkap kerah kemeja Hyukjae, “Katakan! Kau juga makhluk berekor depan yang sebrengsek Ji Hoon?” ia mengguncang-guncangkan tubuh Hyukjae.

“Laki-laki! Laki-laki, Han Jin Ae, astaga leherku,” Hyukjae memegangi belakang lehernya yang menegang, dan rasanya lehernya akan patah karena Jin Ae, “Jin Ae hentikan, kau bisa membuatku mati!”

“Kau pasti seperti Ji Hoon. Mengapa kau tak menjawabku?” Jin Ae semakin kuat mencengkeram kemeja Hyukjae.

Hyukjae menoleh pada Mi Rae, ia berharap Mi Rae dapat memisahkan Jin Ae darinya tapi yang dilakukan Mi Rae adalah berdecak. Entah itu decakan akibat prihatin pada Jin Ae yang seperti orang gila, atau pada Hyukjae yang menjadi korban keganasan Jin Ae. Tatapan Hyukjae beralih pada Kyuhyun yang lebih tertarik dengan kue tart di meja. Kyuhyun menatap sekilas pada Hyukjae lalu berkata, “Semangat!” sedetik kemudian ia kembali menyuapi kue dengan potongan besar ke dalam mulutnya.

Hyukjae meringis tajam dan selanjutnya menarik napas dalam, tampaknya tidak ada pilihan lain, ia tak ingin mati di tangan Jin Ae, “Tentu saja, aku Lee Hyukjae, bukan Park Ji Ji Hoon dan aku bukan orang seperti itu.”

Cengkeraman Jin Ae melemah, ia menatap Hyukjae dengan bola mata yang berkaca-kaca, terharu, “Syukurlah, kau harus menjadi orang yang baik. Jangan seperti Ji Hoon. Jika kau membuat seorang gadis menangis, akan kubunuh kau,” katanya dan kembali memeluk Hyukjae. Pemuda itu hanya tertawa dengan ekspresi sedih.

“Aku akan membeli minuman,” Kyuhyun membalikkan kaleng di tangannya, sudah tidak ada isi yang keluar dari mulut kaleng, sementara kaleng-kaleng yang berserakan di atas meja pun sudah kosong.

“Kalian tidak benar-benar ingin menginap di sini, kan?”

Kyuhyun hanya tertawa, tak menjawab pertanyaan Mi Rae, ia beranjak lalu meninggalkan mereka semua.

*

Kyuhyun tertegun saat sekembali dari membeli minuman, di rumah itu hanya terdapat Mi Rae yang terkantuk-kantuk dan tentu saja kaleng-kaleng juga sisa-sisa makanan yang berantakan.

“Di mana mereka?” Kyuhyun menghampiri Mi Rae. Ia meletakkan kantong berisi minuman di atas meja.

“Pulang.”

“Pulang?”

“Hm,” gumam Mi Rae. “Jin Ae mengatakan jika pemuda baik hati itu harus mengantarnya pulang—memaksa,” jawab Mi Rae.

“Begitu ya,” Kyuhyun duduk di sebelah Jin Ae.

“Mengapa kau juga tidak pulang?”

“Kau mengusirku?”

“Ini sudah hampir tengah malam.”

“Baiklah, sepuluh menit lagi aku akan pulang.”

“Sepuluh menit? Kenapa?”

“Sepuluh menit ke depan masih hari ulang tahunmu,” Kyuhyun tersenyum, ia memandangi jam, jarum pendeknya sebentar lagi akan berada di angka 12, “Tinggal sembilan menit lagi. Kau tidak keberatan, kan?”

“Kau harus benar-benar pulang setelah itu.”

“Iya.”

Kepala Mi Rae mulai mematah ke segala arah dan itu membuat Kyuhyun tersenyum. Ia hanya mengawasi Mi Rae yang kini meletakkan dagunya di atas tangan yang bertopang di atas meja, tapi kepalanya masih saja terantuk. Gadis itu lalu merebahkan kepalanya di atas meja. Kyuhyun melakukan hal yang sama, menyandarkan kepala di meja, memiringkan wajahnya hingga menghadap pada Mi Rae. Ia memandangi wajah Mi Rae.

Tepat jam 24.00, Kyuhyun menegakkan tubuh. Ia meraih jaketnya. Ia menoleh lagi pada Mi Rae yang sudah terlelap. Kyuhyun meletakkan kembali jaket di atas meja. Pelan-pelan itu memegangi Mi Rae, mengangkat dengan hati-hati dan membopong tubuh Mi Rae. Kyuhyun melangkah pelan, ia berusaha keras agar tidak membangunkan Mi Rae. Ia bernit memindahkan Mi Rae ke kamar sebelum ia pulang.

“Bagaimana—”

Langkah Kyuhyun tertahan mendengar suara Mi Rae. Ia tersenyum, “Ck, kau mengigau rupanya,” katanya lagi dan menggerakkan kakinya.

“Bagaimana bisa, hal seperti ini terjadi padaku?”

Untuk kedua kalinya Kyuhyun terhenti setelah mendengar Mi Rae berbicara. Ia memandangi Mi Rae, gadis itu masih memejamkan matanya. Masih terlihat pulas seperti sebelumnya. Kau tertawa pelan, hal itu cukup menggelitiknya.

“Melihat sang gadis yang tertidur, si pemuda lalu mengangkat tubuh gadis itu, berniat memindahkannya ke tempat tidur.”

“Apa?” Kyuhyun tersentak. Bola matanya membulat sempurna, “Mi Rae, kau masih mengigau?”

Mi Rae membuka matanya, “Kau pikir aku seperti Jin Ae yang suka berbicara tidak jelas?”

“Kau tidak tidur?”

“Aku tertidur dan sangat pulas, setidaknya sampai kau mengangkat tubuhku.”

“Mi Rae, aku hanya ingin membantumu.”

“Adegan seperti ini terlalu sering dijumpai dalam drama,” ia menatap Kyuhyun yang masih tertegun. “Apakah masuk akal, sang gadis tidak terbangun saat si pemuda menggendongnya? Kecuali dia sedang memerankan orang mati, mungkin masih bisa diterima otakku.”

“Mungkin saja gadis itu sangat mengantuk hingga tidak merasakan apa pun.”

“Omong kosong. Jika nyamuk berkeliaran di sekitarku atau seekor lalat bertengger di atas kulitku, aku akan terbangun. Bagaimana mungkin gadis itu bisa tidak terbangun saat seseorang sedang memindahkan tubuhnya?”

“Bagaimana jika gadis itu mabuk? Dia pasti tidak tahu apa-apa.”

“Lalu menurutmu, aku tidak sedang mabuk?”

“Baek Mi Rae, apakah ini waktunya untuk berdebat?” Kyuhyun mendesah, mereka belum beranjak dan bahkan masih dalam posisi yang sama, Mi Rae dalam gendongan.

“Turunkan aku!”

“Mengapa tidak kau biarkan aku menyelesaikan apa yang sudah kumulai?” Kyuhyun mengerling sambil menyengir tajam.

“Turunkan aku sekarang juga, atau aku akan—”

Mi Rae tak sempat melanjutkan ancamannya. Yang terdengar hanya bedebam keras yang disusul dengan jeritan Mi Rae yang meringis saat tubuhnya membentur lantai.

Mi Rae berusaha untuk duduk, ruangan itu sudah kosong. Matanya tertuju pada pintu yang baru saja tertutup, “CHO KYUHYUN!” teriakan Mi Rae memecah keheningan malam. Cepat sekali Kyuhyun menghilang dari jarak pandangnya. “Aaaahh…,” ia kembali meringis, berteriak membuatnya semakin kesakitan.

***

Keeseokan harinya. Mi Rae dan Jin Ae bertemu di kampus.

Jin Ae memegangi kepalanya, “Ah, kepalaku sedikit pusing,” katanya pada Mi Rae saat mereka bertemu di kampus. Mereka berjalan santai menuju ruang perkuliahan.

“Tentu saja, semalam kau minum seperti orang gila.”

“Aku pasti sangat mabuk,” Jin Ae terkekeh pelan. “Tapi aku berhasil tiba di rumah dengan selamat. Hebat bukan?”

“Kau tidak ingat apa-apa?” Mi Rae serius menatapi Jin Ae, gadis itu sepertinya tidak ingat bagaimana caranya ia sampai di rumah. Jin Ae hanya tertawa, lalu menggeleng. “Sudahlah, abaikan saja,” Mi Rae mendesah, ia memijat belakang lehernya.

Jin Ae sedari tadi telah memperhatikan Mi Rae yang terus memegangi leher, terkadang ia memukul punggungnya sendiri. “Kau kenapa?”

“Sebaiknya kau tidak bertanya, kau bisa membuatku ingin membunuh seseorang.”

“Cho Kyuhyun?” selidik Jin Ae. “Apa yang ia lakukan padamu?” tanyanya lagi, namun Mi Rae tak menjawab, ia sibuk memamerkan wajah letihnya. Mata Jin Ae membulat, ia memekik, lalu membekap mulutnya, menatap tak percaya pada Mi Rae.

“Apa?” tanya Mi Rae heran. “Ada apa dengan sorot matamu itu?”

“Mi Rae, kau,” Jin Ae justru kembali membekap mulutnya. “Benarkah?”

“Apa?”

“Kau dan Kyuhyun…,” Jin Ae menarik napas, dadanya berdebar tak beraturan. “Kalian?”

“Han Jin Ae, hentikan!” Mi Rae sepertinya sudah menebak apa yang terjebak di otak tumpul Jin Ae. “Kau pikir aku sudah gila?”

“Jadi, kalian berdua batal tidur bersama?”

Kontan saja Mi Rae menghadiahi tamparan keras di puncak kepala Jin Ae. “Aishh!” Cho Kyuhyun, aku benar-benar ingin menyingkirkannya!” ia menggeram sambil mengepal kedua tangannya.

Sementara itu di lain tempat Cho Kyuhyun sedang bergidik. Bulu kuduknya meremang.

“Kenapa?”

Kyuhyun menoleh pada Hyukjae, “Entahlah, aku merasa keselamatanku terancam,” Kyuhyun kembali bergidik ngeri. “Oh ya, semalam kau benar-benar mengantar Jin Ae?”

“Hei, apa maksud pertanyaanmu?”

“Bukankah kau lebih tahu?”

“Tentu saja, aku melakukannya. Aku bahkan harus menerima omelan kedua orang tuanya,” jawaban Hyukjae justru membuat Kyuhyun mengulum senyum aneh. Hyukjae berkacak pinggang, ia mendesah, “Cho Kyuhyun!” katanya sambil menunjuk-nunjuk wajah Kyuhyun, “Kau pikir aku binatang?”

Kyuhyun memamerkan senyum bijaksananya, “Kau bukan binatang, kau hanyalah seseorang yang jika tersenyum maka seluruh gusimu yang terlampau merah itu akan terpantau sempurna dan itu mengingatkanku pada monyet. Selain itu kau adalah seseorang dengan kadar kemesuman di atas rata-rata jadi gelarmu adalah monyet mesum,” Kyuhyun mengelus-elus dagunya. “Mari kita luruskan sesuatu, monyet adalah hewan. Bukankah hewan dan binatang itu sama?”

“Si brengsek ini!” Hyukjae mulai kehabisan kesabaran hingga berujung pada kehabisan kata-kata. Sulit rasanya meladeni Kyuhyun.

“Ah, maaf. Aku lupa, Han Jin Ae menganggapmu pemuda baik. Aku sangat terharu,” Kyuhyun memamerkan evil smirk-nya. Cepat-cepat ia bergegas meninggalkan Hyukjae yang tak lama lagi akan meledak.

Kyuhyun tertawa nyaring membiarkan Hyukjae mengejarnya sambil mengusungkan tangan tinggi-tinggi. Tawa Kyuhyun hilang seketika. Beberapa meter di depannya, tampak pria-pria berjas hitam. Mereka kini berada di kampus, Kyuhyun dapat melihat mereka saling berkomunikasi sambil membetulkan alat yang terletak di telinga mereka. Tanpa banyak berpikir, Kyuhyun berbalik 180°.

“Syukurlah jika kau memilih menyerah,” Hyukjae tersenyum sumringah melihat Kyuhyun menghampirinya.

“Aku lebih baik mati di tanganmu daripada di tangan mereka.”

“Siapa?”

Kyuhyun mengarahkan tatapannya pada orang-orang yang sedang mencarinya. “Sial!” umpat Kyuhyun saat seseorang dari mereka melihatnya. Kyuhyun langsung berlari meninggalkan Hyukjae begitu saja. Mereka pun lantas mengejarnya.

Sambil terus berlari, Kyuhyun sesekali menengok ke belakang. Mereka berlari begitu cepat, jika Kyuhyun tidak berhati-hati, ia bisa tertangkap.

“Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun hampir terjungkal saat Mi Rae tiba-tiba saja muncul di hadapannya.

“Mi Rae?” Mi Rae menatap dingin, ia bungkam sambil menyelidiki Kyuhyun. “Ada apa?” Kyuhyun terlihat cemas. Ia terus menoleh ke belakang.

“Ada apa?” Mi Rae tertawa kaku. “Setelah yang kau lakukan padaku semalam dan kau masih bertanya ada apa?” ia memamerkan ekspresi paling datar yang pernah dimilikinya.

“Mi Rae, aku tidak punya waktu untuk meladenimu.”

“Apa?”

“Bisakah kau membiarkan aku pergi sekarang? Aku sedang terburu-buru!”

“Kau sedang bernegosiasi?”

“Mi Rae, aku janji akan menerima apa pun hukuman yang kau berikan, tapi untuk saat ini aku harus pergi!”

“Aku tidak suka mengulur-ulur waktu. Kita selesaikan sekarang!” Mi Rae menghalangi Kyuhyun.

“Mi Rae, aku serius. Aku harus pergi sekarang juga atau,” Kyuhyun tercekat, di belakangnya orang-orang itu terlihat. “Sial!” ia berlari menerobos Mi Rae.

“Cho Kyuhyun!” teriak Mi Rae kesal. Ia justru mengejar Kyuhyun.

“Mi Rae, ada apa denganmu? Kau bukannya seseorang yang peduli dengan permasalahan orang lain, lalu sekarang kau justru memburuku?” Kyuhyun terlihat sangat bingung, Mi Rae bukan orang yang seperti itu. Mi Rae tidak akan suka berdiri di dekat orang lain demi mendengar gossip, dan kini Mi Rae yang tertangkap matanya justru sedang berlari mengejarnya. “Ah, Mi Rae, maafkan aku—semalam, kepalamu pasti terbentur keras,” sesal Kyuhyun yang bahkan masih sempat mengira Mi Rae mengalami geger otak.

“Selama itu tidak berdampak bagi hidupku, aku tidak peduli dengan permasalahan orang lain,” ralat Mi Rae, “Kau jelas sudah merugikanku! Kesehatanku terganggu dan aku tidak bisa menerima materi kuliah dengan baik!” teriak Mi Rae dari belakang Kyuhyun.

“Ini bukan waktunya bagimu menuntutku!”

“Jangan bercanda! Berhenti berlari dan hadapi aku!”

Kyuhyun yang kesal lalu berbalik arah pada Mi Rae dan menarik tangan Mi Rae dan mereka mulai berlari bersama-sama, “Tidak bisakah kau mengerti situasi saat ini?”

“Apa?”

“Kau tidak melihat mereka?”

Mi Rae berbalik dan ia tercekat, pria-pria berwajah datar—melebihi kedataran ekspresinya sedang mengejar mereka di belakang.

“Mereka sedang mengejarmu?”

“Hahh! Hebat!” Kyuhyun menoleh dan mendengus tak percaya pada Mi Rae, “Jadi kau pikir kita sedang bermain kejar-kejaran?”

“Mengapa tidak kau katakan padaku?”

“Mengapa otakmu sangat lambat?”

Mi Rae dan Kyuhyun saling melempar tatapan sengit, mereka justru masih sempat beradu mulut di dalam pelarian mereka.

“Lalu mengapa aku harus ikut berlari denganmu?”

“Siapa suruh kau mengejarku? Sudahlah,” Kyuhyun mempererat pegangan tangannya dan menarik Mi Rae, memaksa gadis itu berlari lebih cepat.

Mereka mulai kelelahan karena menaiki anak tangga di salah satu bangunan di fakultas mereka. Keduanya lalu memasuki sebuah ruangan, “Ya Tuhan, dari sekian banyak ruangan—mengapa harus tempat ini?” dengus Kyuhyun.

Meskipun lampu belum dinyalakan, namun aroma formalin yang menyengat membuat mereka tahu bahwa ruangan itu adalah laboratorium anatomi. Keduanya bersembunyi di balik sebuah meja yang di atas masih terbaring cadaver. Lampu yang tidak dinyalakan membuat ruangan itu terasa sangat mencekam. Mi Rae dan Kyuhyun sama-sama kelelahan, dada mereka naik-turun karena napas yang belum beraturan.

“Sial! Mengapa mereka bisa ke kampus?” Kyuhyun bersandar lemas.

“Apa sedang kau lakukan?” Mi Rae bertanya, ia kemudian menggeleng, “Tidak, apa yang telah kau lakukan?” ralatnya. Ini bukan kali pertama Mi Rae menyaksikan Kyuhyun dikejar-kejar oleh para pria misterius berjas hitam itu.

Suara pintu yang dibuka membuat keduanya terdiam. Kyuhyun mengintip. Orang-orang itu sedang memasuki lab anatomi. Seseorang menyalakan lampu, ada suara desisan yang terdengar, mereka pasti sangat terkejut melihat cadaver-cadaver yang kondisinya sangat mengerikan sedang terbaring di meja. Kyuhyun semakin menundukkan kepalanya, ia menekan kepala Mi Rae agar ikut menunduk. Mi Rae hanya merengut kesal.

Langkah kaki yang terdengar sedang memberitahukan Mi Rae dan Kyuhyun bahwa mereka semakin mendekati tempat persembunyian keduanya. Kyuhyun dan Mi Rae sama-sama menahan napas. Mereka takut jika napas mereka terdengar.

“Siapa kalian?”

Suara yang terdengar, mengurungkan langkah mereka. Professor Kang telah berdiri di ambang pintu lab. Ia menatap curiga pada pria-pria aneh yang tidak seharusnya berada di ruangan tersebut.

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

“Kami sedang mencari seseorang.”

“Tidak ada yang bisa kalian temukan di sini. Atau jangan-jangan yang kalian cari adalah—” Professor Kang terdiam, “Ah, cadaver-cadaver di sini sudah melalui prosedur sebagaimana mestinya. Mereka adalah jenazah yang tidak memiliki identitas dan juga jenazah yang sebelumnya telah disumbangkan keluarga bagi kepentingan ilmu kedokteran. Jadi, siapa yang kalian cari?”

Mereka terdiam. Tampak saling pandang.

“Kalau begitu, mengapa kalian tidak keluar dari tempat ini? Atau kupastikan besok kalianlah yang akan menggantikan cadaver-cadaver itu?”

Tak menunggu lama, pria-pria itu bergegas keluar, tampaknya ancaman Professor Kang membuat nyali mereka ciut—apalagi dengan tatapan bengis dengan mata sipitnya itu. Professor Kang lalu menutup kembali pintu lab.

“Aku tak heran mengapa mereka menyebutnya si Gila Kang,” Kyuhyun berdecak. Ia tertawa, namun tawanya reda melihat Mi Rae yang sedang menghujaninya dengan tatapan dingin.

“Mengapa kau selalu tertawa dalam situasi seperti ini?”

“Ah, maaf,” Kyuhyun menggaruk kepalanya, “Jadi, apa yang harus aku lakukan untuk meredakan kemarahanmu?”

“Mengapa kau selalu dikejar-kejar oleh mereka?”

Tampaknya hukuman tidak lagi menjadi sesuatu yang penting setelah kejadian yang mereka alami tadi. Kyuhyun terdiam. Mi Rae tidak sedang main-main, sorot matanya yang tajam sedang menuntut Kyuhyun untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.

“Bukankah kau bilang, bahwa secara tidak sengaja kau telah menyeretku dalam masalahmu?”

“Mi Rae.”

“Aku harus tahu!”

“Baek Mi Rae, aku—”

“Cho Kyuhyun, siapa orang-orang itu?”

Kyuhyun terdiam, ia dan Mi Rae saling bertatapan. Kyuhyun menarik napas berat, “Mereka—”

 

~bersambung~

Hai *lambai2 anggun ala bangsawan*

Akhirnya bisa update lagi. Semoga bisa menghibur.

Mohon untuk dapat memberikan masukan, entah itu berupa saran atau kritik.

Selamat membaca dan selamat menanti episode drama yang akan datang hohohoho. Terima kasih.

Iklan

254 thoughts on “Drama (Part 6)

  1. tifanyseptiany berkata:

    dan aku masih ga habis fikir… knp bisa2 nya mi rae kasih julukan utk seorang laki2 itu “makhluk berekor depan??!!” sumpah… ini masih bikin aku ngakak… apalagi mi rae ngomong gtu dengan ekspresinya yg datar… wkwk

    dan TBC nya muncul pada saat yg engga pas bangettt T_T

  2. kyunara berkata:

    bodyguard ya… disuruh nangkep kyuhyun karna kyuhyun kabur dr rumah.
    gx mungkin mereka suruhan rentenir kan..?

  3. nae.ratna berkata:

    akhir.a mirae sadar bahwa sudah takdir ibu.a begitu n dah ga usah mengalahkan diri sendiri n kyuhyun
    bener kata jin ae ikuti arus tetapi jangan sampai tenggelam
    wah c jin ae kesambet apa tuh bisa bijak banget kkk
    kaya.a kyuhyun dikejer sama bodyguard dari bapak.a tuh v ga tau juga c kkkk

  4. Rrin'sLove berkata:

    SOMPLAAAAAK
    PART INI BIKIN SAKIT PERUT

    INI INI
    Kyuhyun memamerkan senyum bijaksananya, “Kau bukan binatang, kau hanyalah seseorang yang jika tersenyum maka seluruh gusimu yang terlampau merah itu akan terpantau sempurna dan itu mengingatkanku pada monyet. Selain itu kau adalah seseorang dengan kadar kemesuman di atas rata-rata jadi gelarmu adalah monyet mesum,” Kyuhyun mengelus-elus dagunya. “Mari kita luruskan sesuatu, monyet adalah hewan. Bukankah hewan dan binatang itu sama?”

    GILAAAA
    AKU NGAKAK BACA PART INI
    KAK, LU BIKIN GUE SAKIT JIWA HAHAHAHA
    Kyuhyun disini misterius tapi dia masih bisa bercanda2

    pesta ulang tahun Mi Rae isinya curhatan Jin Ae kkkk
    si Kyuhyun mah kalau liat makanan lupa segalanya kkk

    sinting gue lama2 baca ff iini
    sukses bikin aku muter otak dengan kata2 nya dan muter perut karena kebanyakan ngakak hahaha

  5. Rrin'sLove berkata:

    jangan RSJ lah kak
    cukup kirim aku ke kamr Kyuhyun hahahaha

    yap humoris kebangetan
    misteriusnya juga
    sinting lah KyuHyuk disini
    suka suka suka kak kkkkkk

  6. Leah berkata:

    Wkwk apa-apaan itu? Pesta uoang tahun yang berubah jadi tempat curhatan Jin Ae.
    Syukurlah ada yang nganggep hyukjae laki laki baik haha. Untung pas Kyuhyun gendong mirae dia ga langsung lempar badan mirae, lagi tidur pas diangkat tiba2 aja ngomong kaya gitu, emang non drama sekali dia itu.
    Eh serius deh aku penasaran banget sama Kyuhyun. Itu sebenernya siapa sih yg ngejar2 dia? Rentenir ya? Wah cho Kyuhyun kayanya banyak utang tuh orang. Dia mah, lagi dia kejar kejar juga masih aja sempet bercanda ya

  7. Hana Choi berkata:

    Akhirnya aku kira mi rae bakalan ngebenci kyuhyun lama tapi syukurlah mirae akhirnya sadar juga kalau semua itu udh takdir.
    Penasaran sebenernya kyuhyun itu anak orang kaya atau bukan sih hmmm
    Kayanya hyukjae cocok buat ngengantiin posisi ji hoon di hati jin ae hahaha mereka serasi

  8. jungsoo berkata:

    part ini bkin grgt
    bolh tuh hyuk jae gntiin posisi mntn shbt mirae kkk
    itu apa kyuhyun mnjuthkn mirae dan kyu lngsng prg sjha duh kelkuan kyuhyun mirae bkin grgt

  9. My labila berkata:

    Mi Rae akhirnya maafin kyuhyun juga, senanga rasanya, jin ae ada-ada aja ngasih julukan wkwk…… aku juga penasaran sebenarnya kyuhyun itu siapa ?

  10. ina berkata:

    syukur deh mi rae maafin kyuhyun… saya kira bakal lama baikannya..
    wkwkwk kocak pas kyu jatuhin mi rae wkwkwk
    kyu romantis banget… pas meluk mi rae di depan rumah mi rae… …
    ahhh penasaran banget siapa kyuhyun dan kenapa kyuhyun selalu dikejar-kejar ..
    kalo tebak saya sih… kyu orang kaya yang lagi kabur…. (sok tau)hehe

  11. noebita berkata:

    Jin ae somplak, mahkluk berekor depan. Hahaha kasian hyukjae jadi mangsa jin ae. Ngakak deh saat kyu ma mi rae debat sambil lari2an. Hatinya mirae udah mulai luluh ma kyu

  12. aulia fitri berkata:

    Hah,,, ga nyangka kalo ibunya mi rae bakal ngilang gitu huhu, kasian sma baek mi jjyanya dia jdi sebatang kara. Akhir part ini bikin deg deg an siapa sebenarnya yg ngejar kyuhyun
    👍❤

  13. shin naya berkata:

    sebenarnya aq mikir pas jin ae bilang ”makhluk berekor depan”( apa’an itu) tp lama² ngkakak juga sumpah baru kepikiran kekkekkekkekk….
    mirae ituuuu waktu digendong kyu knp g nerima aja Sich ????( klo aq pasti seneng banget hehehehhh..ngarep) kan g sampe dijatuhin gitu..tp lucu juga pas si kyu lari setelah jatuhin…

  14. Cc berkata:

    di awal2 masih kebawa sedihnya mi rae ditinggal sang ibu, tp di akhir malah bisa ketawa baca kondisi kyu n mi rae, wkwkwk,
    ayoo, kyuhyun makin terdesak, ntar klo terbongkar “mereka”nya spa, bakal jd masalah baru lagi nggak ya????

Mohon Saran dan Kritikannya

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s